Metodika - Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah

pdkjateng.go.id

Metodika - Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah

VOLUME 1, NOMOR 3, NOVEMBER 2011 ISSN: 2088-5016SUSUNAN REDAKSIMETODIKAJurnal Pendidikan DasarVolume 1, Nomor 3November 2011ISSN 2088-5016Diterbitkan oleh:Dinas Pendidikan PemerintahProvinsi Jawa TengahAlamat Redaksi:Dinas Pendidikan PemerintahProvinsi Jawa TengahJl. Pemuda No. 134Semarang 50132Terbit empat kali dalam setahun pada bulan Februari,Mei, Agustus, dan November.Berisi artikel yang diangkat dari hasil penelitian maupungagasan pemikiran dalam rangka pengembanganpendidikan dan pengajaran di pendidikan dasar,pendidikan menengah, maupun di satuan, jalur, dan jenispendidikan lain.Redaksi menerima artikel dari para penulis yangartikelnya belum pernah dimuat di media lain.Petunjuk penulisan artikel dapat dilihat padahalaman belakang.Pelindung:Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa TengahPengarah:Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa TengahPenangung Jawab:Kepala Bidang PPTKDewan RedaksiKetua:Kepala Bidang Pendidikan DasarSekretaris:Kasi PPTK Dikdas Bidang PPTKAnggota:Prof. Dr. Slameto, M.Pd.Dr. Subyantoro, M.Hum.Dr. Mulyadi HP, M.Pd.Drs. Tri Handoyo, M.Pd.Drs. Indiarto Edi Cahyono, M.Pd.Staf Redaksi:Drs. Hari Waluyo, M.Pd.Munari, S.PdEris Junianto, S.Pd., M.PdDrs. Sugeng AlalSapto Budi Santoso, S.Pd.Masrokhan, A.Md.Tata Letak:Suparjo, SHDesain Sampul:Adi NawangjatiSirkulasi dan Distribusi:Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinpendik Provinsi Jawa TengahCendanawangi, S.Pd., M.M.Setyo Edi PurnomoDewa Ayu Putu PadmiatiSuhartoyoHomepage :Septi Wulandari, SEMonitoring dan Evaluasi:Kasubag Program Sekret Dinpendik Provinsi Jawa TengahKasi PPTK PNF Bidang PPTKKasi PPTK Dikmen Bidang PPTKMitra Bestari:Prof. Dr. Rustono, M.Pd.Prof. Dr. Achmad Slamet, M.Pd.Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd.Prof. Wiyanto, M.SiProf. Tandio Rahayu, M.PdPenyunting Bahasa:Dr. Rudi Hartono, M.Hum.Dr. Rohmadi, M.Hum.Dra. Mintarsih Arbarini, M.Pd.Muhammad Abdul Wahid, S.Pd.Drs. Umar Samadi, M.Hum.


VOLUME 1, NOMOR 3, NOVEMBER 2011 ISSN: 2088-5016PRAKATAPada edisi ini, Metodika hadir dengan menyajikan 15 judul artikel. Ditinjau dari latarbelakang Institusi penulisnya, semua artikel berasal dari para guru di Jawa Tengah.Kelima belas artikel tersebut secara berturut-turut adalah Pertama, Muflih Nurshiyammenulis “Peningkatan Keterampilan Membaca Teks Exposition melalui StrategiMotivasionalarcs Menggunakan Crossword Puzzle pada Siswa Kelas VIII.3 SMP Negeri 1Slawi Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011”. Kedua, Sri Untari menulis “PenerapanModel Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICT untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswapada Mata Pelajaran PKn di SMP Negeri 1 Sayung”. Ketiga, Nanik Purwanti menulisPeningkatan Prestasi Belajar Sifat Sudut melalui Metode Stad pada Siswa Kelas VIIB SMPNegeri 1 Batuwarno Semester Genap Tahun 2010/2011”. Keempat, Eko Winarno menulis“Peningkatkan Kemampuan Mengemukakan Pendapat pada Mata Pelajaran PendidikanKewarganegaraan dengan Menggunakan Model Cooperatif Think-Pair-Shar dan TimeToken di Kelas VII B SMP Negeri 7 Tegal Tahun Pelajaran 2010/2011”. Kelima, Sumarnomenulis “Peningkatan Kompetensi Menghitung Luas Sisi dan Volume Bangun Ruang melaluiStrategi Pemecahan Masalah Ideal dengan Pemodelan pada Siswa Kelas VIII.1 SMPNegeri 1 Slawi Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011”. Keenam, Puji Rahayumenulis “Peningkatan Pemahaman Menghitung Keliling dan Luas Segi Empat melaluiPembelajaran Kooperatif TGT pada Siswa Kelas VII SMP N 2 Klaten Tahun 2010/2011”.Ketujuh, Retno Triastuti menulis “Peningkatan Kemampuan Meringkas Isi Buku melaluiModel TTW pada Siswa Kelas V SDN I Kedungombo Semester 2 Tahun Pelajaran2010/2011”. Kedelapan, Rahayu Setyati menulis “Peningkatan Aktivitas dan Hasil BelajarKalor melalui Pendekatan Kontekstual Berbantuan Concept Cartoon bagi Siswa Kelas VII.6SMP 2 Blora Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011”. Kesembilan, Suranto menulis“Peningkatan Penguasan Materi Bangun Datar Berbahasa Inggris dengan ModelPembelajaran Team Games Tournament (TGT) dan Media Kartu Permainan MatematikaSiswa Kelas 7F SMP Negeri 2 Kendal Semester II Tahun Pelajaran 2010/2011”. Kesepuluh,Romdonah menulis “Peningkatan Keterampilan Menulis Kalimat Berhuruf Jawa melaluiMedia Kartalogi Pasangan pada Siswa Kelas VII G SMP Negeri 1 Weleri pada SemesterGenap Tahun Ajaran 2010/2011”. Kesebelas, Teguh Priyadi menulis PENINGKATANKemampuan Menulis Naskah Drama dengan Media Film Drama dan Strategi EpisodeKhayal pada Siswa Kelas IX F SMP Negeri 3 Purworejo Semester 2 Tahun Pelajaran2010/2011”. Kedua belas, Dwi Lestasi menulis Peningkatan Penguasaan KonsepKompetensi Kedaulatan Rakyat melalui Pembelajaran Kooperatif Model Make A Match padaSiswa Kelas VIII B SMP Negeri 2 Pekalongan Semester Genap Tahun Pelajaran2010/2011”. Ketiga belas, Wien Murniati menulis Peningkatan Kompetensi MateriPerusahaan dan Badan Usaha melalui Concept Mapping pada Siswa Kelas VII.5 SMP 1Wiradesa Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011”. Keempat belas, Watminah menulis“Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Pokok Bahasan Sifat-Sifat Zat melalui PembelajaranKooperatif Model Jigsaw pada Siswa Kelas 7C UPTD SMP 7 Tegal Semester 2 Tahuni


VOLUME 1, NOMOR 3, NOVEMBER 2011 ISSN: 2088-5016Pelajaran 2010/2011”. Kelima belas, Yuliyanto menulis “Penggunaan Metode PenemuanTerbimbing (Guided Discovery) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika bagi PesertaDidik Kelas VIII-B SMP Negeri 1 Muntilan Semester 2 Tahun Pelajaran 2010/2011”.Kiranya artikel-artikel yang terbit pada edisi ini dapat memberikan inspirasi perbaikanpembelajaran di kelas, serta menambah wawasan bagi para pembaca semua. Selamatmembaca!Redaksiii


VOLUME 1, NOMOR 3, NOVEMBER 2011 ISSN: 2088-5016DAFTAR ISIPENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA TEKS EXPOSITION MELALUI STRATEGIMOTIVASIONALARCS MENGGUNAKAN CROSSWORD PUZZLE PADA SISWA KELASVIII.3 SMP NEGERI 1 SLAWI SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2010/2011Muflih Nurshiyam 1 - 11PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN OLIMPIADE BERBASIS ICT UNTUK MENING-KATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PKn DI SMP NEGERI 1SAYUNGSri Untari 13 - 25PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SIFAT SUDUT MELALUI METODE STAD PADASISWA KELAS VIIB SMP NEGERI 1 BATUWARNO SEMESTER GENAP TAHUN 2010/2011Nanik Purwanti 27 - 34PENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT PADA MATA PELAJAR-AN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL COOPERA-TIF THINK-PAIR-SHAR DAN TIME TOKEN DI KELAS VII B SMP NEGERI 7 TEGALTAHUN PELAJARAN 2010/2011Eko Winarno 35 - 44PENINGKATAN KOMPETENSI MENGHITUNG LUAS SISI DAN VOLUME BANGUNRUANG MELALUI STRATEGI PEMECAHAN MASALAH IDEAL DENGAN PEMODELANPADA SISWA KELAS VIII.1 SMP NEGERI 1 SLAWI SEMESTER GENAP TAHUNPELAJARAN 2010/2011Sumarno 45 - 55


VOLUME 1, NOMOR 3, NOVEMBER 2011 ISSN: 2088-5016PENINGKATAN PEMAHAMAN MENGHITUNG KELILING DAN LUAS SEGI EMPATMELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TGT PADA SISWA KELAS VII SMP N 2KLATEN TAHUN 2010/2011Puji Rahayu 57 - 64PENINGKATAN KEMAMPUAN MERINGKAS ISI BUKU MELALUI MODEL TTW PADASISWA KELAS V SDN I KEDUNGOMBO SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2010/2011Retno Triastuti 65 - 69PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR KALOR MELALUI PENDEKATANKONTEKSTUAL BERBANTUAN CONCEPT CARTOON BAGI SISWA KELAS VII.6 SMP 2BLORA SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2010/2011Rahayu Setyati 71 - 77PENINGKATAN PENGUASAN MATERI BANGUN DATAR BERBAHASA INGGRISDENGAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) DAN MEDIAKARTU PERMAINAN MATEMATIKA SISWA KELAS 7F SMP NEGERI 2 KENDALSEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2010/2011Suranto 79 - 90PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KALIMAT BERHURUF JAWA MELALUIMEDIA KARTALOGI PASANGAN PADA SISWA KELAS VII G SMP NEGERI 1 WELERIPADA SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2010/2011Romdonah 91 - 102


PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA TEKS EXPOSITIONMELALUI STRATEGI MOTIVASIONALARCS MENGGUNAKAN CROSSWORD PUZZLEPADA SISWA KELAS VIII.3 SMP NEGERI 1 SLAWI SEMESTER GENAPTAHUN PELAJARAN 2010/2011Muflih Nurshiyam *)Abstrak: Kurangnya keterampilan membaca siswa kelas VIII.3 SMPN 1 Slawi dapat diatasidengan strategi motivasional ARCS, yakni menggunakan crosswords puzzle. Penelitian inibertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan membaca teks exposition,kualitas pembelajaran, dan perubahan perilaku peserta didik. Penelitian ini menggunakandua tahap (siklus I dan siklus II). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan rerata nilai(78,02 pada siklus I dan 79.81 pada siklus II), ketuntasan meningkat (75% pada siklus I, 79dan 17% pada siklus II). Peningkatan ini diiikuti dengan peningkatan kualitas pembelajarandan perubahan perilaku peserta didik ke arah positif.Kata kunci: membaca, teks exposition, strategi motivasional ARCS, crosswords puzzlePENDAHULUANKeterampilan membaca (reading) adalah salahsatu kompetensi yang harus dikuasai oleh pesertadidik dalam belajar bahasa Inggris, selain menyimak(listening), berbicara (speaking), dan menulis(writing). Salah satu keterampilan (skill) yang tertuangdalam Standar Kompetensi Lulusan adalahketerampilan membaca sehingga keterampilanmembaca sangat dibutuhkan peserta didik untukdapat menyelesaikan pendidikannya di sekolah.Sementara itu, keterampilan membaca padapeserta didik kelas 8.3 SMP Negeri 1 Slawi masihrendah. Hal ini dapat dilihat dari nilai ulangan, yaitubaru 62,50% peserta didik yang telah mencapai KriteriaKetuntasan Minimal 75. Nilai rara-rata kelaspun baru mencapai 73,63 masih kurang 1,37 dariKriteria Ketuntasan Minimal (KKM).Berdasarkan hasil angket yang disebarkankepada peserta didik, komponen tugas yang diberikanternyata kurang menarik, meski cukup relevandengan kebutuhan peserta didik dan cukup membuatmereka percaya diri dan cukup puas mengerjakannya.Untuk komponen lain seperti media ataualat pembelajaran, dan kegiatannya sendiri belumbisa membuat peserta didik tertarik,merasa percayadiri dan puas dengan pencapaian hasil belajarnya.Rendahnya keterampilan membaca padakelas tersebut juga disebabkan oleh rendahnya motivasibelajar peseta didik yang kurang. Kesimpulanrendahnya motivasi tersebut diambil berdasarkanpengamatan terhadap empat variabel motivasi menurutVisser dan Keller dalam Wena (2009), yaitu:1) seberapa jauh perhatian peserta didik dalammengikuti pelajaran; 2) seberapa jauh peserta didikmerasakan ada keterkaitan atau relevansi isi pelajarandengan kebutuhannya; 3) seberapa jauh pesertadidik merasa yakin terhadap kemampuannyadalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran; 4)seberapa jauh peserta didik merasa puas terhadapkegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Dariangket pembelajaran teks exposition sebelumtindakan diperoleh data skor perhatian hanya 3,20,relevansi 3,17, kepercayaan diri 3,12 dan kepuasan3,06. Keempat aspek tersebut masih berada padatingkat cukup.Materi yang dibahas adalah teks expositionyang dalam Standar Nasional Pendidikan merupakanmateri SMA namun, pada sekolah RSBI materitersebut harus disampaikan di kelas VIII. Dengandemikian, maka materi ini mempunyai tingkat kesulitanyang lebih.Dalam upaya untuk meningkatkan keterampilanmembaca (reading) digunakan Startegi MotivasionalARCS (Attention, Relevance, Confidence,and Satisfaction). Peneliti memilih strategi ini kare-* ) Guru Bahasa Inggris SMPN 1 Slawi Kabupaten Tegal


2 METODIKA Volume 1 Nomor 3na strategi tersebut mengharuskan peneliti untukmendesain semua komponen pembelajaran sedemikianrupa sehingga dapat meningkatkan perhatian,relevansi dengan kebutuhan, kepercaan diri,dan kepuasan peserta didik. Teknik yang digunakandalam penelitian ini adalah pembelajaran dengangame,dalam hal ini Crossword Puzzle. Denganteknik ini diharapkan akan tercipta suasana yangberbeda dan menyenangkan bagi peserta didik danmeningkatkan motivasi mereka. Dengan motivasibelajar yang baik maka pada akhirnya mereka akanmencapai keterampilan membaca yang baik pula.Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikanpeningkatan keterampilan membaca teksexposition peserta didik kelas VIII.3 SMP 1 Slawisetelah mengikuti pembelajaran membaca melaluistrategi motivasi ARCS menggunakan crosswordpuzzle; 2) mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaranmembaca teks exposition peserta didik kelasVIII.3 SMP Negeri 1 Slawi melalui strategi motivasiARCS dengan menggunakan crossword puzzle; 3)Mendeskripsikan peningkatan motivasi membacamembaca teks exposition peserta didik kelas VIII. 3SMP Negeri 1 Slawi setelah mengikuti pembelajaranmembaca melalui strategi motivasi ARCSmenggunakan crossword puzzle.Dalam penelitian rumusan masalahnya adalahsebagai berikut: 1) sejauh mana peningkatanketerampilan membaca teks exposition peserta didikkelas VIII.3 SMP 1 Slawi setelah mengikuti pembelajaranmembaca teks exposition melalui strategimotivasi ARCS menggunakan crossword puzzle, 2)Bagaimanakah proses pelaksanaan pembelajaranmembaca teks exposition melalui Strategi MotivasionalARCS menggunakan crossword puzzle. 3)Sejauh mana peningkatan motivasi belajar membacateks exposition peserta didik kelas VIII.3 SMP 1Slawi setelah mengikuti pembelajaran membacamelalui Strategi Motivasional ARCS menggunakancrossword puzzle.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDA-KANPenelitian mengenai penerapan StrategiMotivasional ARCS dan Penggunaan crosswordspuzzle dalam pembelajaran telah banyak dilakukanoleh guru maupun mahasiswa baik yang disusundalam bentuk tesis, skripsi, atau pun laporan PenelitianTindakan Kelas.Penelitian pertama yang berkaitan denganpenelitian ini adalah penelitian yang dilakukan Seputri(2009) yang berjudul Penerapan PembelajaranModel ARCS untuk Meningkatkan Motivasi dan HasilBelajar Sistem Persamaan Linier dan KuadratDua Variabel Peserta didik SMU Laboratorium UMKelas X Semester I. Berdasarkan data tes dan nontesterbukti adanya peningkatan rerata kelas darihasil evaluasi di setiap siklus juga mengalami peningkatan,sebelum tindakan sebesar 35.04 dan hasilbelajar setelah tindakan sebesar 82,05 denganpeningkatan sebesar 47,01. Ketuntasan belajar secaraklasikal pada siklus I sebesar 76,1% dan padasiklus II meningkat menjadi 100%. Jadi, ketuntasanbelajar mengalami peningkatan sebesar 23,09%.Dalam penelitian tersebut juga dilaporkan bahwamotivasi belajar peserta didik pada siklus II menunjukkanpeningkatan dibandingkan siklus I. Peningkatanskor motivasi rata-rata angket sebelum pelaksanaantindakan dengan rata-rata skor pesertadidik sebesar 3,99 meningkat menjadi 4,05 sesudahpelaksanaan tindakan.Berdasarkan hasil penelitianguru dapat menerapkan model ARCS dalam prosespembelajaran sebagai variasi pembelajaranMatematika yang dapat meningkatkan prestasibelajar dan motivasi peserta didik.Penelitian selanjutnya yang relevan denganpenelitian ini adalah penelitian yang dilakukan olehKusmiyati (2009) yang berjudul Peningkatan KeterampilanMenulis Karangan Berdasarkan PengalamanPribadi Melalui Media Foto Dengan ModelPembelajaran ARCS Pada Peserta didik Kelas V MIAL-Islam Mangunsari 02 Semarang. Dalam penelitiantersebut dipaparkan bahwa penggunana ModelPembelajaran ARCS pada peserta didik Kelas V MIAL-Islam Mangunsari 02 Semarang berhasil meningkatkannilai rata-rata menulis karangan. Darinilai rata-rata 53,80 pada siklus I terjadi peningkatanmenjadi 68,45 atau meningkat sebesar 14,65%.Kemudian pada siklus II diperoleh nilai rata-rata se-


Strategi Motivasionalarcs 3besar 80,91 atau meningkat sebesar 12,46% darinilai yang diperoleh dari siklus I.Penelitian berikutnya yang berkaitan denganpenelitian ini adalah penelitian Fajari (2009) yangberjudul Penerapan Pemberian Motivasi ModelARCS ke dalam Pembelajaran untuk MeningkatkanMotivasi dan Hasil Belajar Biologi Peserta didikKelas XI MA Muhammadiyah 2 Malang. Dalam penelitiantersebut dilaporkan bahwa terjadi peningkatanhasil dan motivasi belajar peserta didik kelasXI MA Muhammadiyah 2 Malang. Prosentasi pesertadidik yang telah mencapai Kriteria KetuntasanMinimal (KKM) ≥ 65 sebelum dilaksanakan tindakanadalah 54,54% .Penyebab rendahnya hasilbelajar tersebut adalah karena media yang digunakandan cara mengajaar guru yang monoton. Setelahdilaksanakan tindakan maka pada siklus I terjadipeningkatan nilai rata-rata menjadi 81,82% danpada siklus II menjadi 90,91%. Dalam penelitiantersebut juaga dilaporkan bahwa motivasi belajarpeserta didik pada siklus II menunjukkan peningkatanjika dibandingkan dengan siklus I. Peningkatanpersentase masing-masing indikator, yaituindikator Attention sebesar 18,19%, indikator Relevancesebesar 20,01%, indikator Confidence sebesar9,09%, dan indikator Satisfaction sebesar 25%.Skor motivasi rata-rata angket sebelum tindakanadalah 3,06 dan meningkat menjadi 3,22 setelahpelaksanaan tindakan.Penelitian selajutnya adalah penelitian yangberkaitan dengan penggunaan crosswords puzzledalam pembelajaran. Uma (2009) melakukan penelitianyang berjudul Implementasi CooperativeLearning Melalui Strategi Crossword Puzzle DalamMeningkatkan Motivasi Belajar Asmaul Husna padaPeserta didik Kelas IV A MI Sunan Kalijogo diMalan. Dalam penelitian tersebut dipaparkan bahwaterjadi peningkatan hasil belajar peserta didik haltersebut ditunjukkan oleh adanya peningkatan padamateri Asmaul Husna yang semula nilai rata-ratapretes sebesar 64,8, pada siklus I sebesar 72,4dan pada siklus II sebesar 78.Selain mendasarkan kepada penelitian yangtelah dilakukan, peneliti juga mendasarkan padalandasan teoretis yang meliputi 1) keterampilanmembaca, 2) teks exposition, 3) motivasi, 4) motivasibelajar 5) Strategi Motivasional ARCS dan 6)crossword puzzle. Berikut adalah uraian landasanteoretis tersebut.Membaca merupakan salah satu keterampilan(skill) yang harus dikuasai peserta didik dalampembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlakupada saat ini di Indonesia, yaitu Kurikulum TingkatSatuan Pendidikan yang merupakan pengembangandari Kurikulum Berbasis Kompetensi (CompetenceBased Curriculum). Dalam kurikulum tersebut,kurikulum bahasa Inggris yang diterapkanmerupakan kurikulum model kompetensi komunikatif(communicative competence) yang dibangunoleh Celce-Murcia dkk.,(Agustien dkk.2004).Dalam model kompetensi komunikatif adalima kompetensi yang harus dikuasai peserta didik,yaitu 1) kompetensi wacana (discourse competence);2) kompetensi tindak bahasa (actional competence);3) kompetensi kebahasaan (linguisticcompetence); 4) kompetensi sosiokultural (socioculturalcompetence); dan 5) kompetensi strategi(strategic competence). Di Indonesia sendiri dalampengajaran bahasa Inggris, actional competencelahyang mendapatkan penekanan karena kompetensitersebutlah merupakan aktualisasi kompetensi-kompetensiyang lain. Kompetensi Tindak bahasa(actional competence) meliputi empat keterampilan(skill) atau aspek, yaitu listening (menyimak),speaking (berbicara), reading (membaca),dan writing (menulis). Kompetensi yang harus dikuasaipeserta didik pada aspek membaca meliputireading aloud (membaca keras) dan reading comprehension(membaca pemahaman), yaitu membacauntuk memahami infomasi tersurat dan tersirat didalam teks. Untuk itu, peserta didik dituntut untukmampu membaca dengan intonasi dan lafal yangberterima daan mampu menemukan informasi tersuratdan tersirat dalam teks. Selain itu, pesertadidik juga harus mampu memahami makna kata(vocabulary) berdasarkan konteks yang ada di dalamteks.Teks yang diajarkan dalam penelitian iniadalah teks exposition. Konsep teks eksposisi(exposition) dalam pengajaran bahasa Indonesia


4 METODIKA Volume 1 Nomor 3berbeda dengan teks tersebut dalam pengajaranbahasa Inggris.Oleh karena itu, dalam penelitian inipeneliti menuliskan teks eksposisi dengan ejaanbahasa Inggris, yaitu exposition untuk menggarisbawahiperbedaan konsep tersebut.Menurut Gerot dan Wignell (1994) Teks eksposisidibedakan menjadi dua, yaitu hortatory expositiondan analitical exposition. Hortatory expositionadalah teks yang bertujuan untuk mempengaruhipembaca atau pendengar bahwa sesuatu mestinyaatau tidak semestinya terjadi/dilakukan. Analiticalexposition adalah jenis teks (genre) yang mempunyaifungsi social yang bertujuan untuk mempengaruhipembaca atau pendengar bahwa sesuatumestinya/ tidak semestinya demikian.Hal lain yang sangat berpengaruh dalampembelajaran adalah motivasi. Menurut Martin danBriggs (Wena 2009:32), motivasi adalah kondisiinternal dan eksternal yang mempengaruhi bangkitnyaarah serta tetap berlangsungnya suatu kegiatanatau tingkah laku. Dalam belajar yang dibutuhkanadalah motivasi belajar, yaitu suatu dorongan, baikyang bersifat internal maupun eksternal yang membuatpeserta didik bergerak, bersemangat, dan senangbelajar secara terus-menerus selama kegiatanproses belajar.Menurut Suzuki dan Keller (1996), ada limaaspek yang mempengaruhi proses pembelajaran,yaitu tanggapan peserta didik atas tugas yangharus dikerjakan, kondisi peserta didik, tanggapanpeserta didik atas media yang dipakai, karakteristikmateri, dan kegiatan Pembelajaran. Dalam penerapanmodel ARCS kelima aspek tersebut dihubungkandengan keempat aspek model ARCS,yaitu perhatian (attention), relevansi dengan kebutuhanpeserta didik (relevance), rasa percaya diri(confidence), dan kepuasan (satisfaction). Oleh karenaitu, peneliti menggunakan crosswordss puzzlesebagai media untuk meningkatkan tingkat keempataspek model ARCS.Crossword puzzle dalam bahasa Indonesiaadalah teka-teki silang (TTS). Dalam TTS disediakansejumlah pertanyaan, pernyataan, atau kata/frase sebagi kunci untuk mengisi serangkaian kotak-kotakkosong yang didesain sedemikian rupa.Zaini dkk., (2008:71) menyatakan bahwa teka-tekidapat digunakan sebagai strategi pembelajaranyang baik dan menyenangkan tanpa kehilanganesensi belajar yang sedang berlangsung. Bahkanstrategi ini dapat melibatkan partisipasi pesertadidik secara aktif sejak awal.Berdasarkan pengamatan peneliti, hasil refleksipada akhir pelajaran, dan angket disimpulkanbahwa faktor penyebab rendahnya pencapaian hasilbelajar peserta didik adalah motivasi belajar pesertadidik yang kurang. Untuk itulah maka dalampenelitian ini digunakan strategi motivasionalARCS. Strategi Motivasional ARCS adalah sebuahModel Pembelajaran dimana materi pembelajaran,media pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran dirancangsedemikan rupa sehingga dapat meningkatkanperhatian peserta didik, meningkatkan rasamembutuhkan materi dan bahan pembelajaran, meningkatkanrasa percaaya diri peserta didik dalamberinteraksi dengan materi dan menjalani prosespembelajaran, serta meningkatkan kepuasan pesertadidik atas hasil belajarnya. Kondisi yang demikianlebih memudahkan peserta didik meningkatkanketerampilan membacanya.Penerapan strategi motivational ARCS inimenggunakan crossword puzzle dalam pembelajaranteks exposition pada peserta didik kelas VII.3SMP Negeri 1 Slawi diharapkan 1) kompetensimembaca teks exposition peserta didik meningkatditandai dengan naiknya jumlah peserta didik yangmemperoleh nilai mencapai KKM; 2) kualitas pembelajaranteks exposition di kelas tersebut meningkatditandai dengan meningkatnya tingkat perhatian,penilaian relevansi komponen pembelajarandengan kebutuhan, kepercayaan diri dan kepuasanpeserta didik; 3) keaktifan dan motivasi peserta didikmeningkat ditandai dengan peningkatan rasapercaya diri peserta didik dalam berinteraksidengan teks, adanya perasaan senang peserta didikmengikuti kegiatan pembelajaran, dan meningkatnyarasa puas peserta didik atas perolehan hasilbelajarnya.METODE PENELITIAN


Strategi Motivasionalarcs 5Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1Slawi kabupaten Tegal mulai bulan April sampai denganbulan Oktober 2011 dengan subjek penelitiannyaadalah keterampilan membaca teks expositiondan sumber datanya adalah peserta didikkelas VIII.3 SMP Negeri1 Slawi pada tahun pelajaran2010/ 2011 semester genap sejumlah 24 pesertadidik, yaitu 11 peserta didik laki-laki dan 13peserta didik perempuan.Penelitian ini dilaksanakan sebagai Penelitiantindakan Kelas dengan dua siklus, yaitu prosestindakan pada siklus I dan proses tindakanpada siklus II. Siklus I bertujuan mengetahui peningkatanketerampilan membaca peserta didik.Hasil obsevasi dan refleksi pasa siklus I menjadilandasan untuk merencanakan tindakan pada siklusII. Proses pembelajaran membaca teks expositionmelalui strategi motivasional ARCS menggunakancrosswords puzzle siklus I meliputi empat komponenyang mempengaruhi proses pembelajarandan motivasi belajar peserta didik, yaitu 1) tugasmembaca teks exposition menggunakan crosswordspuzzle; 2) penggunaan crosswords puzzledalam pembelajaran membaca teks exposition; 3)pemilihan tema teks dalam pembelajaran membacateks exposition; dan 4) pemilihan kegiatan dalampembelajaran membaca teks exposition melaluistrategi motivasional ARCS menggunakan crosswordspuzzle. Ketepatan pemilihan keempat komponentersebut akan mencipakan suasana pembelajaranyang menyenangkan bagi peserta didik, menambahrasa percaya diri peserta didik dalam melaksanakankegiatan pembelajaran, menambah semangatbelajar peserta didik karena keterkaitannyadengan pemenuhan kebutuhan mereka, serta menambahkepuasan atas pencapaian hasil belajarmereka.Instrumen penelitian yang digunakan meliputiinstrumen tes dan nontes. Instrumen tes digunakanuntuk memperoleh data berkenaan denganketerampilan membaca teks exposition dalambentuk tes essay guna menjawab pertanyaanbacaan. Instrumen nontes digunakan untuk mengungkapkanperubahan perilaku yang mencakup sejauhmana perhatian (attention) peserta didik, relevansi(relevance) materi dan kegiatan dengan kebutuhanpeserta didik, kepercayaan diri (confidence)peserta didik dalam melaksanakan tugas-tugaspembelajaran, serta kepuasan (satisfaction) pesertadidik atas pencapaian hasil belajarnya. Instrumennontes tersebut berupa catatan harian guru danpeserta didik, angket model ARCS, lembar observasi,foto-foto selama kegiatan pembelajaran.Catatan harian guru berisi uraian pendapatguru atas seluruh kegiatan yang dilihat dan dirasakanguru pengampu selama proses pembelajaranberlangsung, yang meliputi (1) keaktifan anak dalampembelajaran membaca teks exposition menggunakancrossword puzzle hari itu; (2) tingkah lakupeserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung;(3) respon peserta didik terhadap kegiatanpembelajaran yang berlangsung; (4) suasanapembelajaran; dan (5) crossword puzzle yangdigunakan dalam pembelajaran membaca teks exposition.Catatan harian peserta didik memuat antaralain 1) bagaimana perasaan peserta didik selamamengikuti pembelajaran membaca teks expositionhari ini; 2) apa kesulitan yang peserta didik alamidalam membaca teks exposition; 3) bagaiman tanggapanpeserta didik atas media crossword puzzleyang digunakan; 4) bagaiman tanggapan pesertadidik atas gaya mengajar yang dilakukan oleh guru;dan 5) saran apa yang peserta didik berikam untukpembelajaran membaca teks exposition dengancrossword puzzle.Angket model ARCS memuat 29 pernyataan.Peserta didik diminta memilih jawaban yang benar-benarcocok dengan pilihannya. Setiap pernyataanmerupakan pernyataan yang terpisah danjawaban tidak dipengaruhi oleh jawaban terhadappernyataan lain. Pernyataan yang terdapat di dalamangket terbagi menjadi empat kategori sepertitergambar pada Tabel berikut berikut.Tabel 1. Penggolongan Pernyataan dalam Angket Berdasarkan Aspek


6 METODIKA Volume 1 Nomor 3Aspek Perhatian Relevansi Percaya Diri KepuasanTugas (Membaca dengan TTS) 6a,6b,6c 7,8 6c 9,10Peserta didik (kelas 8.3) 11,12 13,15 14Media (TTS) 16,17 18 19 20Materi (exposition) 1,2 3 4 5KBM 21,22 23,24,25,26 27,28 29Rekap skor yang diberikan peserta didik terhadappernyataan-pernyataan dalam Angket Minat Pesertadidik dan Angket Motivasi Peserta didik dibuat denganketentuan sebagai berikut: a) Nilai skor 1 = sangat tidaksetuju, 2 = tidak setuju, 3 = ragu-ragu, 4 = setuju, dan5 = sangat setuju; b) Menghitung skor rata-rata denganketentuan skor rata-rata 1,00-1,49 = tidak baik, 1,50-2,49= kurang baik, 2,50-3,49 = cukup baik, 3,50-4,49 = baik,dan 4,50-5,00 = sangat baik.Lembar observasi memuat kegiatan pesertadidik yang diamati, meliputi: 1) bertanya kepada guru;2) bertanya kepada teman; 3) berpendapat; 4)membuka kamus; 5) menunjukkan rasa puas; 6)menunjukkan rasa gembira; 7) aktif berdiskusi; 8)antusias menjawab pertanyaan. Penskoran untuklembar observasi adalah: (1) skor 1 = sangat rendah(0 – 2 anak); (2) skor 2 = rendah (3 – 4 anak);(3) skor 3 = cukup (5 – 6 anak); (4) skor 4 = tinggi (7 – 8 anak); (5) skor 5 = sangat tinggi ( lebih dari 8anak). Sedangkan observasi terhadap gurumeliputi: (1) cara guru menyampaikan tujuanpembelajaran; (2) cara guru penyampaian materi;(3) kejelasan isi materi; (4) pembimbingan dalampengerjaan crossword puzzle.Instrumen lainnya adalah dokumentasi fotoyang memuat kegiatan-kegiatan sebagai berikut: 1)gambar yang digunakan sebagai apersepsi dengansuasana kelasnya; 2) guru yang sedang memberikanpenjelasan; 3) suasana kelas ketika gurumemberikan penjelasan; 4) peserta didik yang sedangberdiskusi kelompok mengerjakan crosswordpuzzle; 5) peserta didik yang sedang memberikanpendapat/jawaban dalam diskusi kelas.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYAPrasiklusDari hasil tes prasiklus sebelum mendapattindakan diketahui bahwa 9 ketuntasan baru 62,5%.Rerata nilai tes membaca teks exposition pun baru73,62 masih di bawah kriteria ketuntasan minimal,yaitu 75. Tingkat motivasi peserta didik adalah 3,14(cukup). Aspek perhatian peserta didik hanya beradapada tingkat cukup dengan skor 3,20. Komponen-komponanpembelajaran pun dinilai pesertadidik hanya mempunyai tingkat relevansi yangcukup dengan kebutuhan mereka dengan skor3,17. Tingkat kepercayaan diri mereka hanyaberada juga pada tingkat cukup 3,12. Tingkatkepuasan pun masih berada pada tingkat cukupdengan skor 3,06. Sehingga dapat disimpulkanbahwa motivasi peserta didik belum baik. Oleh karenaitu perlu diciptakan suasana, tugas-tugas,materi, dan alat pembelajaran yang dapat meningkatkanmotivasi peserta didik dan meningkatkan keterampilanmembaca teks exposition mereka.Siklus IDari hasil tes siklus I diketahui bahwa setelahpelaksanaan pembelajaran teks expositionmelalui strategi moivational ARCS dengan menggunakancrosswords puzzle 6 orang peserta didik(25%) belum mencapai Kitreria Ketuntasan Minimal,yaitu 75 dan hanya 18 orang peserta didik (75%)yang telah tuntas KKM. Rerata nilai tes membacateks exposition sudah cukup baik karena telah mencapaiKriteria Ketuntasan Minimal, yaitu 75. Dibandingkandengan hasil pada prasiklus maka jumlahpeserta didik yang mencapai tuntas KKM padasiklus I terdapat peningkatan dari 62,50% menjadi75% atau ada peningkatan sebesar 12,50%. Untukrerata nilai tes siklus I juga ada peningkatan dibandingkanperolehan nilai tes pada prasiklus sebe-


Strategi Motivasionalarcs 7sar 4,39, yaitu dari 73,63 pada siklus I menjadi78,02.Hasil proses pembelajaran membaca teksexposition melalui strategi motivasional ARCS denganmenggunakan crosswords puzzle siklus I meliputiempat komponen yang mempengaruhi prosespembelajaran dan motivasi belajar peserta didik,yaitu (1) tugas membaca teks exposition denganmenggunakan crosswords puzzle; (2) penggunaancrosswords puzzle dalam pembelajaran membacateks exposition: (3) pemilihan teks smoking dalampembelajaran membaca teks exposition; dan (4)pemilihan kegiatan dalam pembelajaran membacateks exposition melalui strategi motivasional ARCSmenggunakan crosswords puzzle. Ketepatan pemilihankeempat komponen tersebut akan menciptakansuasana pembelajaran yang menyenangkanbagi peserta didik, menambah rasa percaya diripeserta didik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran,menambah semangat belajar pesertadidik karena keterkaitannya dengan pemenuhan kebutuhanmereka, serta menambah kepuasan ataspencapaian hasil belajar mereka.Dari analisis hasil angket diketahui bahwatugas membaca dengan crossword puzzle meskipunbelum secara baik, namun telah cukup menarikperhatian peserta didik dengan skor 3,43. Kegiatantersebut juga mempunyai relevansi yang baik dengankebutuhan peserta didik, yaitu sebesar 4,02.Kepercayaan diri peserta didik juga baik dalam mengerjakantugas tersebut dengan skor 4,00.Tugasyang diberikan meskipun belum secara baik namuntelah cukup membuat peserta didik puas denganskor 3,19. Secara umum, tugas yang diberikandalam pembelajaran membaca teks exposition melaluistartegi motivasional ARCS menggunakancrosswords puzzle secara baik telah memberikanmotivasi kepada peserta didik, yaitu sebesar 3,66.Dalam hal penggunaan crossword puzzledalam pembelajaran membaca teks exposition,berdasarkan analisis data, sudah menarik perhatianpeserta didik dengan skor 4,00. Crosswords puzzlejuga mempunyai relevansi yang baik dengan kebutuhanpeserta didik yaitu sebesar 3,96. Kepercayaandiri peserta didik juga baik dalam mengerjakantugas menggunakan crosswords puzzle denganskor 4,00. Crosswords puzzle yang diberikan jugatelah membuat peserta didik puas dengan skor3,92. Secara umum, crosswords puzzle yang diberikandalam pembelajaran membaca teks expositionmelalui startegi motivasional ARCS secara baiktelah memberikan motivasi kepada peserta didik,yaitu sebesar 3,97.Dari analisis data juga diketahui bahwapenggunaan teks smoking dalam pembelajaranmembaca teks exposition belum begitu menarikperhatian peserta didik, skornya hanya 3,15 sehinggahanya pada tingkat cukup. Namun demikian,teks tersebut mempunyai relevansi yang baik dengankebutuhan peserta didik, yaitu sebesar 3,75.Dalam hal kepercayaan diri peserta didik, teks tersebutbaru sampai pada taraf cukup membuat pesertadidik merasa percaya diri dengan skor 2,71.Namun, teks tersebut telah membuat peserta didikpuas dengan skor 4,13. Secara umum, tekssmoking yang diberikan dalam pembelajaran membacateks exposition melalui strategi motivasionalARCS cukup memberikan motivasi kepada pesertadidik, yaitu sebesar 3,43.Dari analisis data diketahui bahwa pengaruhpenerapan rancangan kegiatan pembelajaran tersebutdalam pembelajaran membaca teks expositionmenarik perhatian peserta didik dengan skor3,67 artinya berada pada tingkat baik. Penerapanrancangan kegiatan pembelajaran tersebut dalampembelajaran membaca teks exposition juga mempunyairelevansi yang baik dengan kebutuhan pesertadidik, yaitu sebesar 3,56. Dalam hal kepercayaandiri peserta didik penerapan rancangan kegiatanpembelajaran tersebut juga membuat pesertadidik merasa percaya diri dengan skor 3,85. Rancangankegiatan pembelajaran yang diterapkan tersebutdalam pembelajaran tersebut juga telahmembuat peserta didik puas dengan skor 3,67. Secaraumum, penerapan rancangan kegiatan pembelajarantersebut dalam pembelajaran membacateks exposition melalui strategi motivasional ARCScukup memberikan motivasi kepada peserta didik,yaitu sebesar 3,69. Dengan demikian, dapat disimpulkankualitas pembelajaran meningkat dari 3,19


8 METODIKA Volume 1 Nomor 3(cukup) pada prasiklus menjadi 3,53 (baik) padasiklus I.Secara umum, tingkat keaktifan peserta didikpada pertemuan pertama siklus I adalah cukupdengan skor 3,33 dan pada pertemuan kedua meningkatmenjadi tinggi dengan skor 4,08. Dengandemikian, dapat disimpulkan bahwa keaktifanpeserta didik pada siklus I adalah cukup denganskor rata-rata 3,71.Dalam hal motivasi, keadaan motivasi pesertadidik terjadi peningkatan menjadi baik denganskor 3,54 pada siklus I dari tingkat cukup denganskor 3,14 pada kondisi awal sebelum diimplementasikannyapembelajaran teks exposition melaluistrategi motivasional ARCS menggunakan crosswordspuzzle. Namun demikian, tingkat kepercayaandiri peserta didik masih harus ditingkatkankarena masih pada tingkat cukup meski sudah adapeningkatan dari skor 3,12 pada saat prasiklusmenjadi 3,44 pada siklus I.Siklus IIKegiatan siklus II merupakan tindak lanjutdari perolehan data-data pada kegiatan siklus I.Dalam siklus II diuraikan data tes dan nontes sebagaigambaran pelaksanaan peningkatan keterampilanmembaca teks exposition melalui strategi motivasionalARCS menggunakan crosswords puzzle.Data tes berupa hasil tes membaca teks expositionyang dilakukan setelah pelaksanaan siklus II. Datanontes berupa uraian proses pembelajaran sertakeaktifan dan motivasi peserta didik dalam prosespembelajaran. Pada kegiatan siklus II, kegiatanpembelajaran sama dengan kegiatan pada siklus Idengan sedikit perubahan, yaitu pada isi teks yangdiberikan, alokasi waktu untuk mengerjakan masing-masingtugas dan pembagian kelompok pesertadidik.Dari analisis hasil tes siklus II diketahuibahwa setelah pelaksanaan pembelajaran teksexpostition melalui strategi moivational ARCSmenggunakan crosswords puzzle siklus II terdapat5 orang peserta didik (20,83%) belum mencapaiKriteria Ketuntasan Minimal, yaitu 75 dan 19 orangpeserta didik (79,17%) telah tuntas KKM. Rerata nilaites membaca teks exposition sudah cukup baikkarena telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal,yaitu 75. Dibandingkan dengan hasil pada siklusI maka jumlah peserta didik yang mencapai tuntasKKM terdapat peningkatan dari 75% menjadi79,17% atau ada peningkatan sebesar 4,17%.Untuk rerata nilai tes siklus II juga ada peningkatandibandingkan perolehan nilai tes pada siklus Isebesar 1,79, yaitu dari 78,02 pada siklus I menjadi79,81.Dalam hal proses pembelajaran, terdapatperbedaan pada siklus II dengan pelaksanaan padasiklus I, yang meliputi (1) teks exposition yang dibahasadalah tentang helmet sedangkan padasiklus I adalah tentang smoking; (2) alokasi waktuuntuk mengerjakan tugas/ kegiatan 2 pada prereadingsiklus II, yaitu menerapkan kata-kata kunciuntuk melengkapi kalimat ditambah; (3) alokasiwaktu untuk mengerjakan tugas/kegiatan 1 padasiklus dua dikurangi. Pertimbangannya adalah padasaat siklus I hasil pengerjaan tugas 2 masih rendah,dimana berdasarkan hasil refleksi pada akhir kegiatansalah satu faktor penyebabnya adalah kurangnyawaktu di samping memang ada kalimatkalimatyang belum dapat dipahami peserta didik,namun mereka belum aktif untuk menanyakan kepadaguru atau teman. Analisis data komponenpembelajaran dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:Tabel 2. Hasil Motivasi dalam Pembelajaran MembacaTeks Exposition Melalui Strategi MotivasionalARCS dengan Menggunakan Crosswords puzzleNO KOMPONEN PBM SIKLUSPRA I II1 TUGAS 3.13 3.66 3.912 PESERTA DIDIK 2.91 3.12 3.323 MEDIA 3.29 3.81 4.034 MATERI 3.33 3.39 3.655 PBM 3.30 3.69 4.08RERATA 3.19 3.53 3.80Dari data pada Tabel 2, dapat dilihat bahwatugas yang diberikan pada siklus I mempunyai pengaruhyang lebih baik dibandingkan tugas yang diberikanpada saat prasiklus, yakni dari 3,13 pada


Strategi Motivasionalarcs 9prasiklus menjadi 3,66 siklus I, dan siklus II lebihbaik lagi yakni 3,91. Komponen media pada siklus Ijuga lebih baik dari pada saat prasiklus dan mediapada siklus II lebih baik dari pada siklus I. Hal tersebuttergambar dari skor prasiklus 3,29 menjadi 3,81pada siklus I dan 4,03 pada siklus II. Komponenmateri juga demikian dari skor 3,33 pada prasiklusmenjadi 3,39 pasa siklus I dan 3,65 pada siklus II.Pengelolaan pembelajaran pada silkus I dan II jugalebih baik dibandingkan pengelolaan pembelajaranprasiklus, yakni 3,69 pada siklus I dan 4,08 padasiklus II dibanding 3,30 pada prasiklus.Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwakomponen-komponen pembelajaran yang meliputitugas, media, materi, dan rancangan pembelajarandalam yang diberikan pada siklus II telah membuatmotivasi peserta didik meningkat. Motivasi pesertadidik terlihat dari tingkat perhatian peserta didik,tingkat relevansi tugas dengan kebutuhan pesertadidik, kepercayaan diri, dan kepuasan peserta didikmeningkat menjadi lebih baik dibandingkan dengantugas yang di berikan pada saat prasiklus dansiklus I. Media (crosswords puzzle) yang di gunakandalam pembelajaran juga telah membuat perhatianpeserta didik, tingkat relevansi tugas dengankebutuhan peserta didik, kepercayaan diri, dan kepuasanpeserta didik meningkat menjadi lebih baikdibandingkan dengan media yang di berikan padasaat prasiklus dan siklus I. Materi teks expositionyang diberikan pada siklus II pun telah meningkatkanperhatian peserta didik, tingkat relevansitugas dengan kebutuhan peserta didik, kepercayaandiri, dan kepuasan peserta didik meningkat menjadilebih baik dibandingkan dengan materi teks expositionyang di berikan pada saat prasiklus dansiklus I. Demikian pula dengan rancangan kegiatanpembelajaran pun telah membuat perhatian pesertadidik, tingkat relevansi tugas dengan kebutuhan pesertadidik, kepercayaan diri, dan kepuasan pesertadidik meningkat menjadi lebih baik dibandingkandengan rancangan kegiatan pembelajaran yang diberikan pada saat prasiklus dan siklus I. Dengandemikan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaranmembaca teks exposition melalui strategi ARCSmenggunakan crosswwords puzzle telah meningkatkankualitas proses pembelajaran.Jika dibandingkan dengan proses pembelajaranyang diberikan pada siklus I, maka secaraumum komponen-komponnen Proses Pembelajaranpada siklus II ini telah meningkatkan perhatianpeserta didik sebesar 0,37 dari 3,67 menjadi 4,04atau pada tingkat baik. Tingkat relevansi prosespembelajaran juga meningkat dari 3,56 pada siklusI menjadi 4,01 pada siklus II atau terjadi peningkatansebesar 0,45. Proses pembelajaran tersebutjuga telah meningkatkan rasa percaya diri pesertadidik sebesar 0,36 dari 3,85 pada siklus I menjadi4,21 pada siklus II. Tingkat kepuasan peserta didikatas proses pembelajaran yang diberikan jugameningkat sebesar 0,37 dari 3,67 pada siklus Imenjadi 4,04 pada siklus II. Secara keseluruhan,kualitas proses pembelajaran yang diberikan telahmeningkatkan sebesar 0,22 dari 3,53 pada siklus Imenjadi 3,80 (baik) pada siklus II.Berdasarkan hasil observasi, keaktifan pesertadidik pada siklus I dan siklus II lebih tinggi dibandingkanpada kondisi awal. Hasil pengamatantentang keaktifan peserta didik dalam proses pembelajarandapat dilihat pada Tabel berikut:Tabel 3. Tingkat keaktifan Peserta Didik dalam Pembelajaran Membaca Teks Exposition Melalui StrategiMotivasional ARCS dengan Menggunakan Crosswords puzzleNO AKTIVITASSIKLUS I SIKLUS II RERATAP.1 P.2 P.1 P.2 S.I S. II1Keaktifan peserta didik bertanya kepadaguru2.00 4.00 5.00 5.00 3.00 5.002 Peserta didik bertanya kepada teman 3.00 4.00 5.00 5.00 3.50 5.003 Peserta didik berpendapat 2.00 4.67 4.33 5.00 3.33 4.67


10 METODIKA Volume 1 Nomor 34 Peserta didik membuka kamus 5.00 2.67 5.00 2.33 3.83 3.675Wajah peserta didik menunjukkan rasapuas3.00 3.67 5.00 5.00 3.33 5.006Wajah peserta didik menunjukkan rasagembira5.00 4.67 4.67 5.00 4.83 4.837 Peserta didik aktif berdiskusi 4.67 5.00 4.67 5.00 4.83 4.838Peserta didik antusias menjawabpertanyaan2.00 4.00 4.67 5.00 3.00 4.83TINGKAT KEAKTIFAN 3.33 4.08 4.79 4.67 3.71 4.73Berdasarkan data-data tentang keaktifan pesertadidik, dapat diketahui bahwa keaktifan pesertadidik bertanya kepada guru, keaktifan peserta didikbetanya kepada teman, keaktifan peserta didik berpendapat,keaktifan peserta didik menunjukkan rasapuas, keaktifan peserta didik menunjukkan rasagembira,keaktifan peserta didik berdiskusi,dan keaktifanpeserta didik antusias menjawab pertanyaanmeningkat. Meskipun keaktifan peserta didik membukakamus menurun dan aktivitas berdiskusi tidakmengalami peningkatan, namun secara keseluruhankeaktifan peserta didik meningkat pada siklus IIdengan skor 4,73 dibandingkan dengan siklus Iyang hanya 3,71.Keadaan motivasi peserta didik dengan diimplementasikannyapembelajaran teks expositionmelalui strategi motivasional ARCS menggunakancrosswords puzzle lebih baik dibandingkan keadaanmotivasi peserta didik pada kondisi awal. Keadaanmotivasi peserta didik tersebut dipresentasikandalam Tabel pada halaman berikut.Tabel 4. Tingkat Motivasi Peserta Didik ModelARCS Pada Pembelajaran Teks Exposition melaluiStrategi Motivasional ARCS Menggunakan CrosswordspuzzleSiklusNo AspekPraI IIsiklus1 Attention (Perhatian) 3.20 3.50 3.72Relevantion23.17 3.61 3.81(Relevansi)Confidence33.12 3.44 3.64(Percaya Diri)Satisfaction43.06 3.62 4.01(Kepuasan)Rerata 3.14 3.54 3.80Dari Tabel 4 di atas, diketahui bahwa tingkatperhatian peserta didik pada kondisi awal adalahcukup dengan penerapan pembelajaran membacateks exposition melalui strategi ARCS denganmenggunakan crosswwords puzzle maka tingkatperhatian peserta didik meningkat menjadi baikdengan skor 3,50 dan meningkat lagi pada siklus IIdengan skor 3,72. Tingkat relevansi kegiatan pembelajarandengan segala komponennya pada kondisiawal adalah cukup dengan skor 3,17 sedangkanhasil pada siklus I meningkat menjadi baikdengan skor 3,61 dan 3,81 pada siklus II. Tingkatkepercayaan diri peserta didik pada kondisi awaljuga belum baik dengan skor 3,12 tetapai mengalamipeningkatan menjadi 3,44 pada siklus I dan3,64 pada siklus II. Perasaan puas peserta didikpada kondisi awal baru para tingkat cukup denganskkor 3,06 dan meningkat pada siklus I menjadi3,62 dan pada siklus II 4,01. Secara keseluruhanpenerapan pembelajaran membaca teks expositionmelalui strategi ARCS menggunakan crosswwordspuzzle telah meningkatkan motivasi peserta didikdari 3,14 pada kondisi awal menjadi 3,54 pad siklusI dan 3,80 pada silkus II.SIMPULAN DAN SARAN


Strategi Motivasionalarcs 11Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwapembelajaran membaca teks exposition melaluistrategi ARCS dengan menggunakan crosswwordspuzzle telah meningkatkan keterampilan membacateks exposition peseta didik, kualitas pembelajaran,keaktifan, dan motivasi peserta didik dalamkegiatan pembelajaran.Saran yang dapat diberikan peneliti berdasarkansimpulan hasil penelitian sebagai berikut. 1)Para guru bahasa Inggris seyogyanya merancangkomponen-komponen pembelajaran sedemikianrupa sehingga dapat lebih meningkatkan perhatian(attention) peserta didik, mempunyai tingkatrelevansi (relevance) yang lebih tinggi dengan kebutuhanpeserta didik, lebih meningkatkan kepercayaandiri (confidence), dan kepuasan (satisfaction)peserta didik. Dengan begitu, siswa lebih antusiasdan bersemangat mengikuti proses pembelajaran.Hal ini akan membantu siswa untuk mencapaikompetensi belajar yang diharapkan. 2) Parasiswa hendaknya selalu memotivasi diri mereka untukaktif menemukan hal baru secara individu maupunsaling bekerja sama dalam kelompok. Hal iniakan membantu mereka memahami materi sulit sepertimembaca teks exposition. 3) Para peneliti hendaknyadapat melakukan penelitian lebih lanjut mengenaihal serupa dengan memilih tindakan yangberbeda dan lebih bervariasi serta mengena padatujuan pembelajaran. Dengan begitu, akan diperolehberbagai alternatif baru untuk mengatasi masalahdalam pembelajaran membaca teks exposition.DAFTAR PUSTAKAAgustien, Helena I.R, dkk., 2004. Materi PelatihanTerintegrasi Bahasa Inggris Buku 1. Jakarta:Depdiknas.Fajari, Nurul. 2009. Penerapan Pemberian MotivasiModel ARCS ke dalamPembelajaran untuk Meningkatkan Motivasidan Hasil Belajar BiologiSiswa Kelas XI MA Muhammadiyah 2Malang http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/biologi/article/view/6633 (Diunduhpada tanggal 30 Maret 2011)Keller John M.2006.What is Motivational Design.http://www.arcsmodel.com/pdf/Motivational%20Design%20Rev%20060620.pdf (Diunduh pada tanggal 10 Maret 2011)Kusmiyati. 2009. Peningkatan KeterampilanMenulis Karangan Berdasarkan PengalamanPribadi Melalui Media Foto Dengan ModelPembelajaran ARCS Pada Peserta didikKelas V MI AL-Islam Mangunsari 02Semarang. http://lib.unnes.ac.id/128/(Diunduh pada tanggal 29 Maret 2011)Seputri, Resti Switaning Edy. 2010. PenerapanPembelajaran Model ARCS UntukMeningkatkan Motivasi Dan Hasil BelajarMatematika Peserta didik SMU LaboratoriumUM Kelas X Semester I.http://karyailmiah.um.ac.id/index.php/matematika/article/view/7672(Diunduh padatanggal 29 Maret 2011)Suzuki, Katsuaki dan John M.Keller. 1996. Creationand Cross Cultural Validation of an ARCSMotivational Design Matrix.http://mailer.fsu.edu/~jkeller/Articles/Suzuki%20Keller%201996%20Validation%20of%20Matrix.pdf (Diunduh padatanggal 17 Maret 2011)Uma, Cicik Rohmatul. 2009. ImplementasiCooperative Learning Melalui StrategiCrossword Puzzle dalam MeningkatkanMotivasi Belajar Asmaul Husna pada SiswaKelas IV A MI Sunan Kalijogo di Malang.http://www.lib.uinmalang.ac.id/?mod=th_detail&id=07140069(Diunduh pada tanggal 2 April 2011)Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran InovatifKontemporer Suatu Tinjauan KonseptualOperasional.Jakarta: Bumi Aksara.Wignell, Gerot. 1994. Making Sense of FunctionalGrammar an Introductory Workbook.Cammeray New South Wales: AntipodeanEducational Enterprises.Zaini, Hisyam. dkk., 2008. Strategi PembelajaranAktif. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.


PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN OLIMPIADE BERBASIS ICTUNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWAPADA MATA PELAJARAN PKn DI SMP NEGERI 1 SAYUNGSri Untari *)Abstrak: Permasalahan penelitian ini adalah rendahnya motivasi belajar siswa pada matapelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Oleh karena itu, perlu diterapkan pembelajaranyang sesuai dengan kehidupan nyata siswa (contextual) sehingga mendorong siswa aktifdan menyenangkan (PAKEM), karena termotivasi untuk belajar. Untuk itu dalam penelitianini, diterapkan pembelajaran olimpiade berbasis ICT untuk meningkatkan motivasi belajarsiswa pada mata pelajaran PKN. Metode penelitian iniadalah Penelitian Tindakan Kelas(Classroom Action Research) yang dilaksanakan dalam dalam 2 siklus, mencakupi 4 tahap,yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) evaluasi-refleksi,dalam setiap siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VIIA SMP Negeri 1 Sayungtahun pembelajaran 2008/2009, terdiri dari 19 siswa dan 20 siswi.Hasil penelitianmenunjukkan adanya peningkatan aktivitas siswa dari kondisi awal dari 3% ke 54% padasiklus I, dan 82% pada siklus II. Refleksi siswa menunjukkan 100% menyatakanpembelajaran olimpiade berbasis ICT sangat menarik dan memotivasi mereka untuk belajar.Peningkatan aktivitas dan motivasi belajar siswa didorong oleh efektivitas pembelajaranolimpiade berbasis ICT yang menerapkan prinsip-prinsip motivasi, melayani tiga gayabelajar siswa, menarik, dan memperoleh kebermaknaan dalam belajar.Kata kunci: motivasi, olimpiade, ICTPENDAHULUANPasal 19 ayat 1 Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikanmenegaskan bahwa proses pembelajaran padasatuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasipeserta didik untuk berpartisipasi aktif, sertamemberikan ruang lingkup yang cukup bagi prakarsa,kreativitas dan kemandirian sesuai denganbakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologispeserta didik. Implikasi dari prinsip ini adalahpergeseran paradigma proses pendidikan, yaitudari paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran.Pembelajaran adalah proses interaksipeserta didik dengan guru dan sumber belajar padasuatu lingkungan belajar.Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan,ada kecenderungan dalam dunia pendidikanuntuk kembali kepada pemikiran bahwa anakakan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakansecara alamiah. Belajar lebih bermakna jika anak“mangalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan“mengetahuinya”. Pembelajaran yang berorientasitarget penguasaan materi terbukti berhasil berhasildalam hal “mengingat” jangka pendek, namun gagaldalam hal membekali anak untuk memecahkan persoalanyang dihadapi dalam kehidupan jangka panjang.Oleh karenanya, pendekatan pembelajarankontekstual (CTL) menjadi tumpuan untuk “menghidupkan“kelas secara maksimal, sehingga siswamampu mengimbangi perubahan di luar sekolahyang demikian cepat.Sejalan dengan pemikiran di atas, maka prosespembelajaran dilaksanakan secara aktif, inovatif,kreatif, dan menyenangkan (PAKEM). Pembelajaranini merupakan pembelajaran aktif yangmenekankan pada keterlibatan siswa secara aktifuntuk mengalami sendiri, menemukan, memecahkanmasalah, sehingga sesuai potensi mereka berkembangsecara optimal. Pembelajaran PAKEMmemiliki karakteristik sebagai berikut. 1) pembelajaranberpusat pada siswa; 2) pembelajaran terkaitdengan dunia nyata; 3) pembelajaran mendoronganak untuk berpikir tingkat tinggi; 4) pembelajaranmelayani gaya belajar anak yang berbedabeda;5) pembelajaran mendorong anak untuk berinteraksimulti arah (siswa-siswa-guru); 6) pembe-*) Guru PKn SMP Negeri 1 Sayung


14 METODIKA Volume 1 Nomor 3lajaran menggunakan lingkungan sebagai media/sumber belajar; 7) penataan lingkungan belajarmemudahkan siswa untuk melakkan kegiatan belajar;8) guru mementau proses belajar siswa; 9)guru memberikan umpan balik terhadap hasil kerjaanak (DBE2 USAID, 2009:12).Namun demikian, kondisi yang diharapkantersebut di atas belum sepenuhnya dapat penulislakukan dalam pembelajaran PKn di SMP Negeri 1Sayung selama ini. Dalam pembelajaran kompetensidasar ini yang telah dilaksanakan sebelumnyasiswa terlihat pasif dan kurang antusias mengikutipembelajaran. Apabila diberi kesempatan bertanyaatau mengemukakan pendapat sebagian siswacenderung diam. Setelah mengikuti PendidikanProfesi Guru (PPG) dan beberapa kali melaksanakanpenelitian sebelumnya, penulis memiliki beberapapengalaman praktik pembelajaran inovatifyang berbasis CTL, PAKEM, dan ICT.Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulismencoba penerapan Model Pembelajaran Olimpiadeberbasis ICT. Melalui Model PembelajaranOlimpiade berbasis ICT, siswa dapat belajar sesuaidengan gaya belajarnya masing-masing, menemukanpengetahuan sendiri, serta mengkomunikasikannyakepada siswa lainnya. Dalam model pembelajaranini siswa harus berkompetisi, sehinggaakan termotivasi untuk memenangkannya sekaligusmengikuti pelajaran secara aktif.Penerapan Model Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT dalam penelitian ini dilakukanpada Standar Kompetensi “Menampilkan SikapPositif Terhadap Perlindungan dan PenegakanHAM” di Kelas VII Semester 2.Permasalahan yang diangkat apakah penerapanPembelajaran Olimpiade Berbasis ICT padamata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan inidapat meningkatkan motivasi siswa dalam mengikutipembelajaran.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatkanmotivasi belajar siswa pada Mata PelajaranPendidikan Kewarganegaraan (PKn) diSMP Negeri 1 Sayung melalui Model PembelajaranOlimpiade Berbasis ICT.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDA-KANMotivasi belajarMotivasi belajar siswa sangat berpengaruhterhadap proses pembelajaran. Pembelajaran berpusatpada siswa (student centered learning) danpembelajaran yang bermakna sebagai karakteristikmodel pembelajaran PKn menuntut motivasi belajardari siswa. Tanpa motivasi belajar, sangat sulitdiharapkan siswa berpartisipasi secara aktif dalamproses pembelajaran. Pembelajaran PKn lebihmenuntut unjuk kerja, bukan kegiatan menghafal,sehingga keaktifan, ketekunan, dan partisipasi siswasangat diharapkan terjadi. Hal itu sejalan denganteori motivasi McClellan, bahwa dalam prosesbelajar, motivasi seseorang tercermin melalui intensitasunjuk kerja dalam melakukan suatu tugas.McClelland menunjukkan bahwa motivasi berprestasi(achievement motivation) mempunyai kontribusisampai 64 persen terhadap prestasi belajar (Sidjabat,1993).Menurut Mc. Donald dalam Sardiman A.M(2010:74), motivasi adalah perubahan energi dalamdiri seseorang yang ditandai dengan munculnya“felling” dan didahului dengan tanggapan terhadapadanya tujuan. Sependapat dengan hal tersebut,Sutikno (2006) berpandapat, pada intinya bahwamotivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorongseseorang untuk melakukan sesuatu.Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakansebagai keseluruhan daya penggerak di dalam dirisiswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungandan memberikan arah kegiatan belajar sehinggadiharapkan tujuan yang dikehendaki subyek belajaritu dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasisangat diperlukan, sebab seseorang yang tidakmempunyai motivasi dalam belajar, tidak akanmungkin melakukan aktivitas belajar.Keller (1983) telah menyusun seperangkatprinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalamproses pembelajaran yang disebut sebagaimodel ARCS (attention, relevance, confidence, dansatisfaction). 1 Attention (perhatian) peserta didikmuncul karena didorong rasa ingin tahu; 2.


Model Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICT 15Relevance (relevansi) menunjukkan adanya hubunganmateri pembelajaran dengan kebutuhan dankondisi peserta didik; 3. Confidence (percaya diri),yakni merasa diri kompeten atau mampu, merupakanpotensi untuk dapat berinteraksi secarapositif dengan lingkungan; dan 4. Satisfaction (kepuasan),yakni bahwa keberhasilan dalam mencapaisuatu tujuan akan menghasilkan kepuasan.Pembelajaran OlimpiadeModel Pembelajaran Olimpiade sebenarnyahampir sama dengan Pembelajaran Kooperatif TipeTeams-Games Tournaments (TGT) yang ditetapkanoleh Slavin (1995), namun dalam hal turnamenlebih disederhanakan. Langkah-langkah pembelajarandalam Model Pembelajaran Olimpiade secaragaris besar sama dengan langkah-langkahPembelajaran Kooperatif Tipe Teams-Games Tournaments(TGT), yaitu, (1). Mengajar (teach); (2).Belajar kelompok (team study); (3). Permainan (gametournament); dan (4) penghargaan kelompok(team recognition). Model Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT merupakan kombinasi antara PembelajaranKooperatif Tipe Teams-Games Tournaments(TGT) dan Model Pembelajaran BerbasisICT (Information and Communication Technologies).Langkah-langkah Model Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT adalah sebagai berikut: (1) gurumengajar (teach), yaitu mempresentasikan ataumenyajikan materi dengan media elektronik, menyampaikantujuan, dan memberikan motivasi; (2)belajar kelompok (team study), yaitu siswa bekerjasecara individual sesuai dengan Lembar Kerja Siswa,kemudian mendiskusikannya dalam kelompok;(3) permainan (game), yaitu masing-masing kelompokberadu kecepatan dalam menyelesaikan tugaskelompoknya, untuk mendapatkan skor ranking tercepatdan kesempatan mempresentasikan hasilkerjanya lebih awal dari kelompok yang lain. Penentuanpemenang berdasarkan kecepatan waktudan banyaknya jawaban yang benar. Tujuan dariolimpiade ini adalah untuk memotivasi siswasupaya mengikuti pembelajaran dengan baik; dan(4) penghargaan kelompok (team recognition), yaitupenghargaan terhadap kelompok yang memperolahskor terbanyak.Pembelajaranberbasis ICTPembelajaran dengan menggunakan sumberbelajar berbasis ICT (Information and CommunicationTecnology) adalah pembelajaran yangmenggunakan sumber belajar berupa alat-alat elektronik,diantaranya: siaran televisi,artikel ilmiah,buku referensi elektronik,ensiklopedia elektronik,koran dan majalah elektronik, (Error! Hyperlinkreference not valid.). Menurut peneliti, lagu danfilm yang diputar dengan menggunakan alatelektronik termasuk sumber belajar elektronik.Pembelajaran yang Melayani Gaya Belajar SiswaSalah satu prinsip dari pengembangan kurikulumadalah beragam dan terpadu, artinya kurikulumdikembangkan dengan memperhatikan keragamankarakteristik peserta didik, kondisi daerah,jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dantidak diskriminatif terhadap perbedaan agama,suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi,dan jender. Oleh karenanya, pelaksanaan pembelajaranharus dapat melayani gaya belajar siswayang beraneka ragam.Gaya belajar merupakan cara setiap pembelajarmulai berkonsentrasi, memproses, dan menyimpaninformasi yang baru dan sulit. Ada beberapagaya belajar yang biasa ditemukan: (1) pembelajartipe auditory (belajar dengan mendengar); (2)pembelajar tipe visual ((belajar dengan melihat); (3)pembelajar tipe kinestetik (belajar dengan melakukansesuatu) (DBE USAID, 2009:36-37).Temuan Hasil Penelitian yang RelevanHasil penelitian tindakan kelas yang dilakukanSri Untari (2007), dengan penggunaan modelpembelajaran berbasis berita (News based teaching)menghasilkan temuan-temuan menarik sebagaiberikut: (1) suasana belajar dan proses pembelajaranberlangsung tidak begitu formal, dimana siswamemiliki kebebasan untuk beraktivitas dalam kelompoknya.Hal ini menyebabkan antusiasme belajarmenjadi meningkat; (2) siswa memperoleh bebe-


16 METODIKA Volume 1 Nomor 3rapa pengalaman belajar yang sangat bermakna,diantaranya pengalaman sosial dalam kerja kelompok(cooperative learning); pengalaman akademikmelalui pemecahan masalah (problem solving);menyusun skenario sosiodrama dan mensimulasikannya(life skills); dan (3) siswa mampu merefleksikanhasil belajarnya dalam bentuk tanggapandan koreksi atas penyajian kelompok sebaya.Mereka dapat mengukur sejauhmana penguasaanmateri pembelajaran dan penggunaannya untukmemecahkan masalah-masalah masyarakat, bangsa,dan negaranya.Hasil penelitian tindakan kelas yang lainyang dilakukan Sri Untari (2009), melalui PembelajaranKooperatif tipe Kepala Bernomor (NumberedHeads Together) pada mata pelajaran PKn,kurangnya motivasi siswa dapat teratasi. Hal inidibuktikan dari hasil angket refleksi menunjukkan100% siswa menyatakan sangat tertarik dan termotivasibelajar dengan pembelajaran kooperatiftipe Kepala Bermomor (Numbered Heads Together).Hasil observasi juga menunjukkan adanyapeningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran.Sebelum pelaksanaan tindakan, jumlah siswa yangaktif sejumlah 5 anak (13%), rerata prosentasekeaktifan siswa pada siklus I sebesar 19% sedangkanpada siklus II sebesar 38%. Hal yang lebihmemuaskan lagi bahwa keaktifan siswa dalam melakukanpresentasi pada siklus II tidak lagi ataspenunjukan dari guru, namun atas inisiatif sendiri.Berdasarkan dua penelitian tersebut dapat diambilsebagai acuan bahwa siswa pada umumnyamenghendaki pembelajaran yang tidak terlalu formaldan mengaitkan antara teori atau konsep yangdipelajari dengan kehidupan nyata, sehingga adakebermaknaan belajar. Dalam refleksi siswa dalampenelitian Sri Untari, bahwa siswa seratus persen(100%) menyatakan tertarik dan termotivasi untukbelajar PKn dengan pembelajaran baru yang digunakantersebut.Kerangka BerpikirBerdasarkan kajian teori diatas, dalam belajarPKn diperlukan model pembelajaran yang aktifdan menyenangkan, bermakna, dan dapat memenuhigaya belajar siswa, sehingga dapat meningkatkanmotivasi belajar siswa. Melalui Model PembelajaranOlimpiade berbasis ICT, siswa dapatbelajar sesuai dengan gaya belajarnya masingmasing,menemukan pengetahuan sendiri, sertamengkomunikasikannya kepada siswa lainnya sehinggasiswa menemukan kebermaknaan belajar.Dalam model pembelajaran ini siswa harus berkompetisi,sehingga akan termotivasi untuk memenangkannya,sekaligus mengikuti pelajaran secaraaktif.Hipotesis TindakanHipotesis tindakan dalam penelitian ini adalahPembelajaran Olimpiade Berbasis ICT dapatmeningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pelajaranPKn.METODE PENELITIANPenelitian ini menggunakan metode PenelitianTindakan Kelas (Classroom Action Research).Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakanpada Semester Genap 2008/2009, dengan StandarKompetensi “Menampilkan sikap positif terhadapperlindungan dan penegakan HAM”. Adapun subjekpenelitian ini adalah siswa Kelas VIIA SMP Negeri 1Sayung tahun pembelajaran 2008/2009, terdiri dari19 siswa dan 20 siswi. Penelitian ini dilaksanakanpada bulan Januari 2009. Lokasi penelitian adalahSMP Negeri 1 Sayung Jalan Raya Sayung 33 KabupatenDemak.Prosedur (Desain) PenelitianPenelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakandalam 2 siklus. Langkah-langkah penelitian tindakanyang ditempuh dalam setiap siklus mencakup 4tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan,(3) pengamatan, dan (4) evaluasi-refleksi.Siklus IPeneliti membuat perencanaan sebagai berikut:(1) menyusun Rencana Pembelajaran sesuaianalisis kebutuhan, (2) menyusun Lembar KerjaSiswa, (3) mempersiapkan sarana dan prasaranayang diperlukan,(4) menyusun lembar pengamatan.


Model Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICT 17Pelaksanaan tindakan dilakukan OlimpiadeBerbasis ICT melalui tahap-tahap berikut, (1) melaksanakantahap orientasi (kegiatan awal), (2) kegiataninti (eksplorasi), (3) kegiatan olimpiade, (4)kegiatan konfirmasi.Hal –hal yang harus dicermati guru dalamkegiatan observasi dan refleksi adalah keaktifansiswa yang mencerminkan motivasi belajar PendidikanKewarganegaraan, dan kendala-kendalayang menghambat, faktor-faktor yang menjadi pendorong,dan alternatif solusinya. Dalam penelitianini secara teknis, refleksi dilakukan melalui analisisdan sintesis dengan pola berpikir deduktif dan induktifsebagaimana yang dikembangkan olehMuhajir (1977) dan Simbolon, et all (1999).Siklus IIBerdasarkan hasil refleksi pada siklus I,maka diadakan perencanaan ulang. Rencana yangdibuat pada prinsipnya sama dengan rencana padasiklus I. Hal itu disebabkan karena siklus II merupakanperbaikan proses belajar pada siklus I.Pada tahap ini dilakukan langkah-langkah sebagaiberikut; (1) menyusun Rencana Pembelajaran, (2)menyusun Lembar Kerja Siswa, (3) mempersiapkansarana dan prasarana yang diperlukan, (4) menyusunlembar pengamatan untuk melihat kondisiselama proses pembelajaran berlangsung, (5) menyusunangket refleksi siswa terhadap pembelajaranPelaksanaan tindakan dilakukan OlimpiadeBerbasis ICT melalui tahap-tahap berikut, (1) melaksanakantahap orientasi (kegiatan awal), (2) kegiataninti (eksplorasi), (3) kegiatan olimpiade, (4)kegiatan konfirmasi.Hasil evaluasi-refleksi pada tahapan ini merupakananalisis dari hasil observasisiklus II. Hasilevaluasi-refleksi pada siklus 2 ini digunakan untukmenarik kesimpulan apakah penelitian yang dilakukansudah mencapai indikator yang ditetapkan.Instrumen PenelitianInstrumen penelitian ini, yaitu instrumen untuksiswa berupa lembar pengamatan aktivitas siswadalam proses pembelajaran, dan angket refleksisiswa terhadap pembelajaran.Metode Pengumpulan DataSumber data penelitian adalah siswadengan semua aktivitasnya, yakni data mengenaiaktivitas siswa selama pembelajaran, dan datamengenai tanggapan siswa terhadap pembelajaran.Alat pengumpulan data berupa lembar observasiaktivitas siswa dan lembar angket refleksi siswa terhadappembelajaran. Cara Pengambilan Data dilakukansebagai berikut. (1) data mengenai aktivitassiswa dalam pembelajaran diambil dengan menggunakanlembar observasi, (2) data mengenai tanggapansiswa terhadap pembelajaran dengan menggunakanangket refleksi siswa terhadap pembelajaran.Indikator KeberhasilanIndikator kinerja yang digunakan untuk mengukurkeberhasilan dalam penelitian tindakankelas ini adalah jumlah siswa yang aktif dalam pembelajaranminimal 80% dari seluruh siswa denganmelihat lembar observasi siswa.Analisis DataData yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisissecara kualitatif. Prosedur analisis data dilakukanberdasarkan model analisis interaktif, yaknianalisis yang dilakukan melalui empat komponenanalisis: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan,dan verifikasi yang dilakukan secarasimultan (Miles dan Huberman, 1992).HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYAHasil penelitianSiklus PertamaDalam tahap perencanaan Model PembelajaranOlimpiade berbais ICT telah disusun persiapansebagai berikut: (1) RPP dengan KompetensiDasar ”Menguraikan hakikat, hukum, dan kelembagaanHAM”.Sumber belajar berupa sebuahlagu berjudul “Negara “ karya Iwan fals, (2) Lembar


18 METODIKA Volume 1 Nomor 3Kerja Siswa (LKS) yang merupakan panduan siswadalam melaksanakan pengkajian materi (sumberbelajar), terdiri dari lembar kerja individual maupunlembar kerja kelompok, memuat petunjuk siswauntuk menemukan bermacam-macam hak asasimanusia, (3) Instrumen pengamatan aktivitas siswadalam pembelajaran. Instrumen ini memuat aspek:(1) aktivitas dalam bekerja individual, (2) aktivitasdalam bekerja kelompok, dan (3) aktivitas dalampresentasi.Pada tahap pelaksanaan tindakan padaSiklus I, dilakukan Model Pembelajaran Olimpiadeberbasis ICT. Dalam mengawali pembelajaran,untuk memusatkan perhatian siswa, guru memerintahkankepada siswa untuk menyusun 3 buahkartu huruf menjadi sebuah kata yang bermakna.Kata yang dimaksud adalah HAM, tema pembelajaranyang akan dilaksanakan. Selanjutnya gurumenyampaikan informasi tujuan pembelajaran yangakan dicapai, serta informasi mengenai langkahlangkahyang akan dilaksanakan pada Model PembelajaranOlimpiade Berbais ICTTahapan selanjutnya, guru membagi siswake dalam 10 kelompok, masing-masing terdiri atas4 siswa, yaitu 2 siswa dan 2 siswi. Khusus untukkelompok 10 terdiri dari 2 siswi dan 1 siswa. Setiapkelompok menerima Lembar Kerja Siswa sejumlahanggota kelompoknya sebagai pedoman dalam bekerjasecara individual.Guru memutar lagu ciptaan Iwal Fals yangberjudul “Negara”. Lagu tersebut berisi kewajibannegara untuk membebaskan biaya pendidikan,membebaskan biaya kesehatan, memberi rasaaman, menghormati setiap keyakinan dan sebagainya.Jika dilihat dari sisi warga negara, maka kewajibannegara merupakan hak rakyat, yaitu HakAsasi Manusia. Selanjutnya guru mempersilakansiswa untuk bekerja secara individual sesuai LembarKerja yang diterimanya. Setelah selesai bekerjasecara individual, siswa diminta mendiskusikanhasil kerjanya di dalam kelompok. Selama pelaksanaandiskusi kelompok guru senantiasa memberipengarahan dan membimbing siswa terutama untukkelompok yang menemui kesulitan.Langkah selanjutnya adalah pelaksanaanolimpiade, yaitu kegiatan perlombaan menganalisiswacana untuk menemukan contoh macam-macamHak Asasi Manusia, dengan kriteria kecepatan danbanyaknya jawaban yang benar. Guru mengingatkansemua kelompok agar segera beradu kecepatanuntuk menempelkan hasill kerja kelompoknyadi papan tulis, serta mengambil nomor yangmenunjukkan urutan juara tercepat.Guru memberi kesempatan kepada kelompoktercepat pertama untuk mempresentasikanhasil kerja kelompoknya. Siswa dari kelompok laindiminta mengoreksi dan memberi skor. Kegiatantersebut diberlakukan juga terhadap semua kelompoksesuai nomor urutan tercepat, sehingga ditemukanjuaranya.Pembelajaran diakhiri dengan pengajuanpertanyaan-pertanyaan dari guru untuk menggiringsiswa mendapatkan simpulan.Selama proses pembelajaran berlangsung,pengamatan dilakukan dengan menggunakanlembar pengamatan. Pengamatan dilakukan terhadapkegiatan siswa. Hasilnya, 60% siswa aktifmencermati wacana, 100% siswa aktif melaksanakankerja individual, siswa aktif 51% siswa aktif diskusikelompok, 19% siswa aktif presentasi danpemberian skor, 5% siswa aktif membuat simpulan.Rata-rata keaktifan siswa sebesar 54%.Berdasarkan hasil penelitian siklus I di atas,kegiatan siswa selama mengikuti pembelajaran secaraumum dapat dikategorikan cukup baik, namunmasih terdapat kekurangan dalam kualitasnya. Halini dapat dijelaskan seperti berikut. 1) Aktivitas siswadalam mendengarkan wacana dari sebuah laguuntuk anak-anak tertentu masih kurang. Hasil pengamatanmenunjukkan jumlah siswa yang aktifmendengarkan wacana hanya 26 anak (67%). Halini disebabkan, siswa belum terbiasa mengikuti pelajarandengan model seperti ini sehingga belummerasa begitu tertarik. 2) Dalam melaksanakankerja secara individual, semua siswa (100%) telahmelaksanakannya, namun beberapa siswa terlihatmeniru/mencontek dari temannya. 3) Terlihat beberapasiswa kurang aktif ketika melaksanakan diskusidan kerja kelompok, dari 39 siswa hanya 20


Model Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICT 19anak (51%) yang aktif, hal ini disebabkan merekamerasa kurang mampu dan kurang percaya diri,mereka mempercayakan sepenuhnya tugas tersebutkepada siswa yang dipandang lebih mampu. 4)Dalam menempelkan hasil kerja kelompok, ada 10anak yang mewakili kelompoknya, namun semangatuntuk menjadi juara tercepat masih kurang,terbukti mereka menempelkan hasil kerja kelompoknyasecara lamban, seolah-olah menunggu giliran.5) Dalam pelaksanaan presentasi, koreksi danpemberian skor terdapat 19 (48%) orang siswayang aktif, 10 orang anak diantaranya sebagai presenteryang mewakili kelompoknya. 6) Dalammembuat simpulan, terdapat 2 anak (5%) yang beranimenjawab pertanyaan dari guru.Tahap evaluasi–refleksi, didasarkan padahasil pengamatan yang dilakukan terhadap berbagaikegiatan siswa, ditemukan berbagai kelemahandan kendala yang perlu diatasi agar pembelajarandapat mencapai hasil yang menggembirakan.Rencana perbaikan tersebut meliputi halhalseperti berikut ini. 1) Untuk mengatasi kurangnyaaktivitas siswa dalam mencermati wacana darisebuah lagu, perlu dicari media yang lain sehinggaseluruh siswa dalam kelompok lebih tertarik untukmengikutinya. 2) Untuk mengatasi siswa yang masihmenyontek/meniru jawaban teman dalam kerjasecara individual, perlu diberikan motivasi supayamereka lebih percaya pada diri sendiri, misalnyadengan menyadarkan pada siswa jika mereka menirujawaban temannya maka jumlah jawaban akansangat terbatas dan tidak perlu didiskusikan karenasemua jawabannya sama.3) Untuk mengatasi siswayang kurang aktif dalam berdiskusi kelompok, perludiberikan motivasi, misalnya dengan mengingatkankembali bahwa setiap siswa semakin cepat dalamberdiskusi dengan jumlah jawaban yang benar palingbesar tentu akan menjadi pemenang dan akanmendapatkan hadiah. 4) Untuk mengatasi lambannyasiswa dalam menempelkan hasil diskusi kelompok,perlu diberi motivasi agar mereka yang cepatpasti dapat. 5) Untuk meningkatkan aktivitas siswadalam melakukan presentasi, koreksi, dan pemberianskor perlu diberikan motivasi, yaitu dengan menegaskanbahwa siswa yang lebih banyak berpartisipasitentu akan memperoleh pengetahuanyang lebih banyak dan menigkatkan pemahamanmereka. 6) Untuk membangkitkan keberanian dalammembuat kesimpulan, perlu diberi motivasi berupahadiah untuk pribadinya.Rencana perbaikan yang telah disusun tersebutdilaksanakan pada siklus II, dengan KompetensiDasar maupun media yang berbeda.Siklus KeduaBerdasarkan hasil refleksi pada siklus I,maka diadakan perencanaan ulang. Rencana yangdibuat pada prinsipnya sama dengan rencana padasiklus I, termasuk pada pembentukan kelompok.Hal itu disebabkan siklus II merupakan kelanjutanproses belajar dari siklus I.Dalam tahap perencanaan ini, berhasil disusunperangkat pembelajaran seperti berikut. 1)Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP). RPP disusun sebagai panduan pelaksanaanModel Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICT,dengan Kompetensi Dasar ”Mendeskripsikan kasuspelanggaran HAM dan upaya penegakan HAM”.Sumber belajar berupa sebuah film yang diputardengan media laptop dan diperbesar dengan LCDproyektor. 2) Penyusunan Lembar Kerja Siswa untukkerja individual maupunkerja kelompok. 3) Penyediaansarana dan prasarana yang diperlukan,yaitu Laptop, LCD Proyektor, Speaker Aktif, CDfilm. 4) Instrumen pengamatan aktivitas siswa dalampembelajaran, yaitu instrumen untuk mengamatiseluruh aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran.Aktivitas yang diamati terdiri dari aktivitasmencermati wacana, kerja kelompok, diskusi kelompok,presentasi dan pemberian skor, sertamembuat simpulan. 5) Angket refleski siswa terhadappembelajaran, yaitu tangapan siswa setelahmengikuti keseluruhan kegiatan PembelajaranOlimpiade Berbasisi ICT.Pembelajaran pada siklus II diawali dengantanya jawab mengenai materi pelajaran pada pertemuansebelumnya. Selanjutnya guru menyampaikaninformasi tujuan pembelajaran yang akan dicapai,serta informasi mengenai langkah-langkah


20 METODIKA Volume 1 Nomor 3yang akan dilaksanakan pada Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT.Selanjutnya, guru mempersilakan siswauntuk duduk sesuai dengan kelompok masing-masing.Setiap kelompok menerima Lembar Kerja Siswasejumlah anggota kelompoknya sebagai pedomandalam bekerja secara individual.Guru memutar film yang ditulis oleh HarunYahya yang berjudul “Komunisme”. Dalam film tersebutdigambarkan betapa kejamnya komunis yangmenanggap manusia tidak ada bedanya dengan binatang,sehingga bisa diperlakukan seenaknya sendiri.Penyiksaan dan pembunuhan terhadap orangorangyang dianggap menghalangi jalannya pemerintahankomunis terjadi di mana-mana. Untuk mencapaitujuannya, kerja paksa dijalankan terhadaprakyat, bahkan anak-anak dipaksa meninggalkanbangku sekolah untuk bekerja. Para guru dan dosenmendapat penyiksaan dan penghinaan yangsangat memalukan di depan umum. Bentuk lain daripelanggaran HAM juga digambarkan dalam filmtersebut misalnya pelanggaran hak untuk melaksanakanibadah.Selanjutnya guru mempersilakan siswa untukbekerja secara individual sesuai Lembar Kerjayang diterimanya. Setelah selesai bekerja secaraindividual, siswa diminta mendiskusikan hasil kerjanyadi dalam kelompok. Selama pelaksanaan diskusikelompok guru senantiasa memberi pengarahandan membimbing siswa terutama untuk kelompokyang menemui kesulitan. Guru mengingatkankepada seluruh siswa bahwa semua anggotakelompok dipastikan menguasai hasil kerja kelompoknya.Langkah selanjutnya adalah pelaksanaanolimpiade, yaitu kegiatan perlombaan menganalisiswacana untuk menemukan contoh macam-macampelanggaran Hak Asasi Manusia, dengan kriteriakecepatan dan banyaknya jawaban yang benar.Guru mengingtkan untuk semua kelompok agar segeraberadu kecepatan untuk menempelkan hasilkerja kelompoknya di papan tulis, serta mengambilnomor yang menunjukkan urutan juara tercepat.Pada olimpiade ini yang berrhasil meraih peringkattercepat pertama adalah kelompok 5.Guru memberi kesempatan kepada kelompoktercepat pertama, yaitu kelompok 5 untuk mempresentasikanhasil kerja kelompoknya. Siswa kelompoklain diminta mengoreksi dan memberi skor.Kegiatan tersebut diberlakukan juga terhadap semuakelompok sesuai nomor urutan tercepat, sehinggaditemukan juaranya. Juara pertama, keduadan ketiga diberikan hadiah. Pembelajaran diakhiridengan pengajuan pertanyaan-pertanyaan dari guruuntuk menggiring siswa mendapatkan kesimpulan.Selama proses pembelajaran berlangsung,pengamatan dilakukan dengan menggunakan lembarpengamatan. Pengamatan dilakukan terhadapkegiatan siswa. Berikut ini hasil pengamatan terhadapkegiatan siswa mengikuti Model PembelajaranOlimpiade Berbasis ICT. Hasilnya, 100%siswa aktif mencermati wacana, 100% siswa aktifmelaksanakan kerja individual, siswa aktif 100%siswa aktif diskusi kelompok, 95% siswa aktif presentasidan pemberian skor, 13% siswa aktif membuatsimpulan. Rata-rata keaktifan siswa sebesar82%.Kegiatan siswa selama mengikuti pembelajaransecara umum dapat dikategorikan baik, hal


Model Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICT 21ini dapat dijelaskan seperti berikut. 1) Aktivitas siswadalam mencerrmati wacana mengalami peningkatanyang sangat signifikan. Hasil pengamatanmenunjukkan jumlah siswa yang aktif mendengarkanwacana hanya 26 anak (67%) menjadi39 anak (100%).2) Dalam melaksanakan kerja secaraindividual, semua siswa (100%) telah melaksanakannya,dengan percaya pada diri sensiri,tanpa meniru temannya. 3) Saat melaksanakan diskusikelompok, seluruh siswa (100%) terlihat aktifdan terkesan sedikit kurang tertib sebab merekatergesa-gesa ingin menyelesaikan tugasnya supayadapat mencapai juara.4) Dalam menempelkan hasilkerja kelompok, ada 10 anak yang mewakili kelompoknya.Mereka sangat bersemangat untukmenjadi juara sehingga mereka harus berlari beradukecepatan. 5) Dalam pelaksanaan presentasi,koreksi dan pemberian skor terdapat peningkatandari 35 orang siswa (89%) menjadi 37 (95%) orangsiswa yang aktif, 10 orang anak diantaranya sebagaipresenter yang mewakili kelompoknya. 6) Dalammembuat simpulan, terdapat 5 anak (13%)yang berani menjawab pertanyaan dari guru, merekatertarik untuk mendapatkan hadiah untuk pribadinya.Hasil observasi yang dilakukan terhadap aktivitasguru dan siswa selama pembelajaran berlangsungpada siklus II diperoleh gambaran sebagaiberikut. 1) Dengan penayangan sebuah film,perhatian, aktivitas, dan antusiasme seluruh siswadalam mencermati wacana semakin meningkat dari67% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II. Halini disebabkan dengan peralatan audio-visual yangcukup bagus seluruh siswa tertarik untuk mengikutinyasehingga dapat lebih memahami isinya.2) Adanya anak-anak yang meniru jawaban temannya,dapat diminimalisir dengan pemberian motivasisupaya mereka lebih percaya diri sendiri sehinggahasil kerja kelompok mereka semakin bagus dankemungkinan berhasil sebagai juara. 3) Setelah diberikanmotivasi dengan mengingatkan kembalibahwa semakin cepat dalam berdiskusi denganjumlah jawaban yang benar paling besar tentu akanmenjadi pemenang dan akan mendapatkan hadiah,adanya siswa yang kurang aktif dalam berdiskusikelompok dapat diminimalisir. 4) Pemberian hadiahdapat mengatasi lambannya siswa dalam menempelkanhasil diskusi kelompok, sebab merekatermotivasi untuk mendapatkannya. 5) Dengan menegaskanbahwa siswa yang lebih banyak berpartisipasitentu akan memperoleh pengetahuanyang lebih banyak dan menigkatkan pemahamanmereka, aktivitas siswa dalam melakukan presentasi,koreksi, dan pemberian skor semakin meningkat.6) Pemberian hadiah untuk pribadi dapatmembangkitkan keberanian siswa dalam membuatkesimpulan, terdapat peningkatan dari 2 (5%) menjadi5 (13)% anak. 7) Angket refleksi siswa terhadappembelajaran, diperoleh gambaran bahwa seluruhsiswa (100%) menyatakan Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT sangat menarik dan memotivasi untukbelajar.Hasil pengamatan sesuai lembar pengamatan,hasil pengamatan diluar lembar pengamatan,maupun hasil dari angket refleksi siswa terhadappembelajaran menunjukkan rerata keaktifansiswa sebesar 82% sehingga dapat dikatakan bahwapenelitian ini telah memenuhi indikator keberhasilan.PembahasanMotivasi Belajar Siswa dalam PembelajaranOlimpiade Berbasis ICTMenurut teori motivasi McClellan dalamSidjabat (1993), bahwa dalam proses belajar, motivasiseseorang tercermin melalui intensitas unjukkerja dalam melakukan suatu tugas. McClellandmenunjukkan bahwa motivasi berprestasi (achievementmotivation) mempunyai kontribusi sampai 64persen terhadap prestasi belajar.Melalui Pembelajaran Olimpiade BerbasisICT kurangnya motivasi siswa pada mata pelajaranPendidikan Kewarganegaraan (PKn) dapat teratasi.Hal ini dibuktikan dari hasil observasi yang menunjukkanadanya peningkatan aktivitas siswa dalampembelajaran. Pada siklus I rerata keaktifan siswadalam pembelajaran sebesar 54%, sedangkan padasiklus II sebesar 82%.


22 METODIKA Volume 1 Nomor 3Peningkatan aktivitas yang sangat mencolokdisebabkan pada Pembelajaran Olimpiade BerbasisICT menerapkan prinsip-prinsip motivasi yang olehKeller (1983) disebut sebagai model ARCS (attention,relevance, confidence, dan satisfaction).Attention (perhatian), perhatian peserta didikmuncul karena didorong rasa ingin tahu. Rasa ingintahu dalam Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICTdapat dirangsang melalui penggunaan metodepembelajaran yang baru, ditunjang dengan menggunakanisumber dan media pembelajaran yangbervariasi.Relevance (relevansi) menunjukkan adanyahubungan materi pembelajaran dengan kebutuhandan kondisi peserta didik. Dalam PembelajaranOlimpiade Berbasis ICT, motivasi peserta didik dipeliharadengan memberikan materi yang dapatmemenuhi kebutuhan pribadi atau bermanfaat dansesuai dengan nilai yang dipegang. Materi tersebutberupa berita-berita aktual yang ada dalam masyarakatdikaitkan dengan teori-teori dan konsep--konsep dalam Pendidikan Kewarganegaraan sehinggamenjadi pelajaran yang bermakna.Confidence (percaya diri), yakni merasa dirikompeten atau mampu. Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT membangun kepercayaan diri siswadengan diberikannya motivasi untuk kemenangankelompoknya.Satisfaction (kepuasan), yakni bahwa keberhasilandalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkankepuasan. Dalam Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT untuk meningkatkan dan memeliharamotivasi peserta didik menggunakan pemberianpenguatan (reinforcement) berupa pujian danpemberian hadiah.Karakteristik Pembelajaran Olimpiade BerbasisICTAngket refleksi siswa terhadap pembelajarannenggambarkan bahwa Mata pelajaran PendidikanKewarganegaraan (PKn) tidak lagi terkesan sebagaimata pelajaran yang tidak menarik, monoton,dan membosankan bagi siswa. Melalui PembelajaranOlimpiade Berbasis ICT proses pembelajaranmata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraanberlangsung dengan menantang, menyenangkan,dan memotivasi siswa. Seperti yang dipersyaratkanoleh standar nasional pendidikan, bahwaproses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif,inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasipeserta didik untuk berpartisipasi aktif, sertamemberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat,dan perkembangan fisik dan psikologis pesertadidik (pasal 19 PP No. 19 Tahun 2005).Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICT ternyatacukup menantang dan menyenangkan danmemotivasi siswa. Hal ini dibuktikan dengan catatanrefleksi siswa, 100% menyatakan bahwa pembelajaranPKn melalui Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT sangat menarik dan menantang sertamemotivasi siswa untuk belajar. Pendapat siswayang demikian itu adalah wajar, karena PembelajaranOlimpiade Berbasis ICT merupakan perlombaanyang menarik siswa untuk dapat memenangkannya.Langkah-langkah Model Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT adalah sebagai berikut. 1) Gurumengajar (teach), yaitu mempresentasikan ataumenyajikan materi dengan media elektronik, menyampaikantujuan, dan memberikan motivasi. 2)Belajar kelompok (team study), yaitu siswa bekerjasecara individual sesuai dengan Lembar KerjaSiswa, kemudian mendiskusikannya dalam kelompok.3) Permainan (game), yaitu masing-masing kelompokberadu kecepatan dalam menyelesaikantugas kelompoknya. Penentuan pemenang berdasarkankecepatan waktu dan banyaknya jawabanyang benar. 4) Penghargaan kelompok (team recognition),yaitu penghargaan terhadap kelompokyang memperolah skor terbanyak.Dengan kegiatan-kegiatan belajar tersebut diatas, guru dengan model pembelajarannya tidaklagi dominan, karena melalui Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT justru siswa mendapatkanruang yang cukup luas untuk berapresiasi dan menunjukkankredibilitasnya terhadap materi pelajaran.Dengan demikian, kegiatan-kegiatan dalamPembelajaran Olimpiade Berbasis ICT memberikantantangan belajar tersendiri bagi siswa dan me-


Model Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICT 23nyebabkan motivasi belajar siswa menjadi meningkat.Hal itu ditunjukkan dengan meningkatnyaketerlibatan siswa, mencari, mengalami, berinteraksi,berkomunikasi, dan menemukan kebermaknaandalam belajar. Hal ini senada denganpendapat Sanjaya (2006: 133) yang menyatakanbahwa sistem pembelajaran menempatkan siswasebagai subjek belajar. Dengan kata lain, pembelajaranditekankan atau berorientasi kepada aktivitassiswa (PBAS).Pelayanan Gaya Belajar Siswa pada PembelajaranOlimpiade Berbasis ICTSalah satu prinsip dari pengembangan kurikulumadalah beragam dan terpadu, artinya kurikulumdikembangkan dengan memperhatikan keragamankarakteristik peserta didik. Oleh karenanya,pelaksanaan pembelajaran harus dapat melayanigaya belajar siswa yang beraneka ragam, sehinggasiswa lebih termotivasi untuk mengikuti pelajaran.Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICT dapatmemenuhi hal tersebut.Pertama, pembelajar tipe auditory (belajardengan mendengar). Mereka dapat belajar denganbaik melalui pembelajaran lisan, diskusi, membicarakansesuatu dan mendengar apa yang dikatakanorang lain. Pembelajar tipe ini menafsirkanmakna dari ucapan melalui nada suara, tinggi nada,kecepatan berbicara dan perbedaan-perbedaankecil lainnya. Informasi tertulis tidak begitu bermaknakecuali kalau sudah diperdengarkan. Pembelajartipe ini sering mendapatkan manfaat darimembaca teks dengan keras serta menggunakantape recorder. Dalam pembelajaran Olimpiade BerbasisICT, pembelajar tipe ini terlayani dengan diperdengarkansebuah lagu.Kedua, pembelajar tipe visual (belajar denganmelihat). Pembelajar tipe ini perlu melihatbahasa tubuh dan ekspresi wajah guru agar dapatbenar-benar memahami isi pelajaran. Mereka biasaduduk di bangku barisan depan agar terhindar darisesuatu yang mengganggu penglihatan mereka(misalnya kepala siswa lainnya). Mereka mungkinberpikir dalam bentuk gambar dan cara terbaikuntuk belajar adalah dengan melihat tampilanseperti diagram, buku teks yang bergambar, transparansiOHP, video, flipcharts dan materi yang dibagikan(hand-outs). Selama pembelajaran ataupundiskusi kelas, pembelajar tipe ini biasanya mencatathal-hal detail untuk dapat menyerap informasi (DBEUSAID, 2009:38). Dalam Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT, tipe pembelajar seperti ini terlayanidengan ditayangkannya sebuah film.Ketiga, pembelajar tipe kinesthetic/tactile(belajar dengan gerakan, melakukan, dan menyentuh).Pembelajar tipe kinesthetic/tactile dapat belajardengan baik melalui pendekatan langsung secarapraktek, melakukan kegiatan fisik dunia sekitarnya.Sulit bagi mereka untuk duduk berlama-lama,dan mereka dapat beralih perhatiannya karena timbulnyakebutuhan dan aktivitas gerak dan eksplorasi.Dalam Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICT,tipe pembelajar seperti ini terlayani dengan adanyakegiatan diskusi, presentasi, dan lomba (olimpiade).Penggunaan Teknologi Sederhana dalam PembelajaranPembelajaran Olimpiade Berbasis ICTmenggunakan alat berupa Laptop untuk memutarlagu dan speaker aktif untuk memperbesar volumesuara. Disamping itu, pembelajaran ini juga menggunakanlaptop untuk memutar film, dan LCD Proyektoruntuk memperbesar gambar.Laptop, spiekeraktif, dan LCD proyektor merupakan bentuk teknologisederhana yang sudah dikenal siswa. Denganmenggunakan lagu dan film yang diputar denganalat-alat teknologi sederhana tersebut, ternyatamampu meningkatkan motivasi siswa dalam mengikutipembelajaran, sebab mereka merasa lebihdapat memahami materi pelajaran dan dapat mengingatlebih lama. Penggunaan teknologi dalam pembelajaranini sesuai dengan kebijakan pemerintahbahwa dalam penyusunan kurikulum harus tanggapterhadap perkembangan ilmu pengetahuan danteknologi.Pembelajaran BermaknaSalah satu kegiatan dalam PembelajaranOlimpiade Berbasis ICT adalah siswa menganalisisdari sebuah lagu maupun film untuk menemukan


24 METODIKA Volume 1 Nomor 3materi yang sedang dipelajarinya. Mereka dapatmembuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinyaitu dengan penerapannya dalam kehidupansehari-hari, sehingga pembelajaran lebih bermaknabagi siswa dan meningkatkan motivasi belajarsiswa.Selain itu, kegiatan yang harus dilakukandalam pembelajaran ini adalah diskusi kelompok,sehingga terciptalah masyarakat belajar. Hasil belajardiperoleh berkat adanya kerjasama denganorang lain, mereka saling menerima dan memberiinformasi. Hal demikian merupakan pengalamanuntuk latihan hidup bermasyarakat, yang sangatberguna untuk bekal dalam kehidupannya nanti.Dengan demikian, pembelajaran akan lebih bermaknabagi siswa.SIMPULAN DAN SARANSimpulanBerdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,maka dapat disimpulkan seperti berikut ini. 1)Melalui Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICTmotivasi belajar siswa pada mata pelajaran PKndapat ditingkatkan. Hal ini disebabkan oleh penerapanPembelajaran Olimpiade Berbasis ICT menggunakanprinsip-prinsip motivasi sebagai modelARCS. Attention (perhatian), perhatian peserta didikmuncul karena didorong rasa ingin tahu; relevance(relevansi) menunjukkan adanya hubungan materipembelajaran dengan kebutuhan dan kondisi pesertadidik; confidence (percaya diri), yakni merasadiri kompeten atau mampu; dan satisfaction (kepuasan),yakni bahwa keberhasilan dalam mencapaisuatu tujuan akan menghasilkan kepuasan. 2) Denganpenerapan Pembelajaran Olimpiade BerbasisICT, proses pembelajaran mata pelajaran PendidikanKewarganegaraan berlangsung dengan menantang,menyenangkan, dan memotivasi siswa.Hal ini terbukti dari angket refleksi siwa bahwa100% diantara mereka menyatakan hal itu. Darihasil observasi diperoleh gambaran bahwa rerataaktivitas siswa mengalami peningkatan dari 54%pada siklus I menjadi 82% pada siklus II, hal ini jugamembuktikan bahwa penerapan PembelajaranOlimpiade Berbasis ICT dapat meningkatkanmotivasi belajar siswa. 3) Pembelajaran OlimpiadeBerbasis ICT melayani gaya belajar siswa sehinggadapatmeningkatkan motivasi belajar siswa padamata pelajaran PKn. Pembelajar tipe auditoristerlayani dengan diputarnya sebuah lagu, pembelajartipe visual dapat terlayani dengan diputarnyasebuah film, sedangkan pembelajar tipe kinestheticterlayani dengan kegiatan diskusi, presentasi maupunlomba (olimpiade). 4) Dengan menggunakanlagu dan film yang diputar dengan alat-alat teknologisederhana tersebut, ternyata mampu meningkatkanmotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran,sebab mereka merasa lebih dapat memahamimateri pelajaran dan dapat mengingat lebihlama. Penggunaan teknologi dalam pembelajaranini sesuai dengan kebijakan pemerintah bahwadalam penyusunan kurikulum harus tanggap terhadapperkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.5) Dengan adanya kegiatan inkuiri (menemukansendiri) dan berdiskusi (masyarakat belajar),pembelajaran akan lebih bermakna sehingga memotivasisiswa untuk belajar. Sebab kegiatan menganalisismateri dari sumber belajar dan latihan hidupbermasyarakat dalam kegiatan berdiskusi m-erupakan pengalaman berharga yang berguna bagikehidupannya kelak.SaranBerdasarkan simpulan hasil penelitian tersebutdi atas, disarankan bagi guru yang mengampumata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan ilmuilmusosial lainnya disarankan mencoba penggunaanPembelajaran Olimpiade Berbasis ICT ini. Denganmempertimbangkan suatu modifikasi tertentu yangsesuai dengan sifat dan karakteristik keilmuannya,terutama guru yang mengalami kesulitan dalammembangkitkan motivasi belajar siswa dapat mencobamodel pembelajaran ini.DAFTAR PUSTAKADBE2 USAID, 2009. Pembelajaran Aktif di Sekolahdan Kunjungan Sekolah. Paket PelatihanPembelajaran Aktif untuk PerguruanTinggi. Jakarta.


Model Pembelajaran Olimpiade Berbasis ICT 25Miles, Matthew B. Dan A. Michael Huberman. 1992.Qualitative Data Analysis. TerjemahanTjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta:Universitas Indonesia.Muhajir, Noeng. 1977. Analisis dan Refleksi dalamPenelitian Tindakan Kelas. Jakarta:BP3SD Dirjen Dikti Depdikbud.Nurhadi dan Agus Gerrad Senduk, 2003.Pembelajaran Kontekstual danPenerapannya dalam KBK. Malang:Penerbit Universitas Negeri Malang.Sanjaya, 2006. Strategi Pembelajaran BerorientasiStandar Proses Pendidikan. Jakarta:Kencana Prenada Media.Sardiman A.M, 2010. Motivasi dan Interaksi Belajar.Jakarta: Rajawali Grasindo Persada.Sidjabat, B. Samuel, 1993. “Menjadi GuruProfesional Sebuah Perspektif Kristiani”dalam Bab Masalah Motivasi Belajar,halaman 109 – 112. Bandung: YayasanKalam Hidup.Slavin, 1995. Pembelajara Kooperatif Tipe TipeTeams-Games-Tournamens (TGT).ipotes.wordpress.com/2008/05/11.Sri Untari, 2007. “Peningkatan Kualitas Proses danHasil Belajar PKn Melalui PembelajaranBerbasis Berita (News Based Teaching)pada SMP N 1 Sayung.”Hasil Penelitian,KTI Online. Tidak dipublikasikan.Sri Untari, 2009.Upaya Peningkatan MotivasiBelajar Siswa Pada Mata PelajaranPendidikan Kewarganrgaraan melaliuPembelajaraan Kooperatif Tipe NHT (Numbered Heads together) di SMP Negeri1 Sayung. PTK dipublikasikan dalamJurnal Integralistik No.1 / TH. XX/2009 Juli– Desember 2009.Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang StandarIsiPeraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentangStandar Nasional Pendidikan.


PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SIFAT SUDUT MELALUI METODE STADPADA SISWA KELAS VIIB SMP NEGERI 1 BATUWARNOSEMESTER GENAP TAHUN 2010/2011Nanik Purwanti *)Abstrak: Rata-rata ketuntasan prestasi belajar Sifat Sudut siswa kelas VII B hanyamencapai 13 siswa. Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan Metode STAD dengan duasiklus. Subyek penelitiannya adalah siswa SMP Negeri 1 Batuwarno, Wonogiri, Kelas VII Byang berjumlah 27 siswa. Nilai rata-rata dari Tindakan I dari 59 menjadi 70; ketuntasanbelajar dari 45% menjadi 74.1%. Nilai rata-rata dari Tindakan II dari 70 menjadi 77; danketuntasan belajar dari 74.1% menjadi 96.3%. Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakanbahwa metode STAD mampu meningkatkan prestasi belajar materi sifat sudut.Kata kunci: prestasi belajar, sifat sudut, metode STADPENDAHULUANPeningkatan kualitas hasil pembelajaran merupakanhal yang utama di bidang pendidikan. Salahsatu materi matematika yang penguasaan siswarendah adalah pada Kompetensi Dasar Sifat Sudut,seperti yang dialami oleh siswa Kelas VII B SMP N1 Batuwarno hasil ulangan harian pada KD SifatSudut yang dapat mencapai nilai tuntas hanya 13siswa (45%) dari 27 siswa sedangkan yang mendapatnilai kurang dari 63 ada 14 siswa dengan nilairata-rata klasikal 59 padahal KKMnya 63. Dari surveipendahuluan itu dapat diketahui hal ini didugakarena motivasi belajar anak yang masih kurang,siswa kurang aktif dalam keterlibatan kegiatan pembelajaran,pembelajaran cenderung didominasi olehguru pengajar, model pembelajaran yang kurangbervariasi.Bertolak dari latar belakang masalah di ataspermasalahan yang akan diteliti dalam penelitiantindakan kelas ini adalah “Bagaimana metode pembelajaranSTAD mampu meningkatkan prestasi belajarsifat sudut pada siswa kelas VII B SMP Negeri1 Batuwarno?Berdasarkan uraian di atas penulis inginmendeskripsikan dan menganalisis bahwa metodepembelajaran STAD mampu meningkatkan prestasibelajar sifat sudut pada siswa kelas VII B SMP Negeri1 Batuwarno.Dalam penelitian ini diharapkan dapat mendatangkanmanfaat, yaitu Bagi guru, dapat menambahtingkat pemahaman metode pembelajaran, sehinggadapat meningkatkan dan memperbaiki sistempembelajaran di kelas, bagi siswa dapat meningkatkanaktivitas dalam proses pembelajarandan meningkatkan hasil belajar Matematika siswakhususnya pada sifat sudut.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDA-KANLandasan Teoretis dalam penelitian ini mencakupbanyak hal, antara lain: Penelitian yang relevan,Prestasi belajar, Sifat Sudut, Pembelajarankooperatif type STADPenelitian Yang RelevanSuatu penelitian memerlukan dasar dari penelitiansebelumnya. Pustaka yang mendasari penelitianini adalah beberapa hasil penelitian yangsudah ada dan relevan, ditulis oleh (Heri Wibowo:2009) tentang upaya meningkatkan prestasi belajarmatematika pada konsep bangun datar melaluimodel pembelajaran kooperatif type STAD, (NurrokhmatTeguh Prasetyo:2010) tentang peningkatankeaktifan dan hasil belajar pada konsepBangun Ruang Sisi Lengkung melalui model pembelajarankooperatif type STAD, sama-sama memilikitujuan untuk meningkatkan prestasi belajarsiswa.Prestasi Belajar*) Guru Matematika SMP Negeri 1 Batuwarno, Kabupaten Wonogiri


28 METODIKA Volume 1 Nomor 3Prestasi belajar merupakan hasil jerih payahsiswa dalam proses belajar. Winkel (1987:162) berpendapatbahwa “Prestasi adalah bukti keberhasilanyang dicapai”. Sedangkan menurut pendapatPeter Salim (1991: 19) “Prestasi belajar adalah penguasaanpengetahuan ketrampilan terhadap matapelajaran yang dibuktikan melelui hasil tes.Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkanbahwa prestasi belajar adalah bukti keberhasilanyang maksimal dan dapat dibuktikan melaluites yang diberikan oleh pendidik atau guru.Sifat SudutApa itu sifat sudut? Untuk menjawab pertanyaanitu akan peneliti sampaikan dulu tentangpengertian sudut. Sudut adalah daerah yang terbentukdari dua sinar garis yang berpotongan di titikpangkal, Ada beberapa macam sudut yang terbentukdari dua garis sejajar yang dipotong olehgaris lain, diantaranya ada pasangan sudut-sudutyang saling: 1) sehadap, 2) dalam berseberangan,3) luar berseberangan, 4) dalam sepihak dan 5) luarsepihak. Adapun dari beberapa macam sudut itumempunyai sifat yang berbeda. Sifat-sifat yangdimiliki pasangan sudut akibat dari dua garis sejajardipotong oleh garis lain antara lain: a) pasangansudut yang sama besar, yaitu jika sehadap, dalamberseberangan dan luar berseberangan b)pasangan sudut yang jumlahnya 180 0 , yaitu jikamerupakan pasangan dalam sepihak, luar sepihak.Pembelajaran Kooperatif Type STADBagaimana cara yang tepat untuk melaksanakanpembelajaran sifat sudut? Dalam penelitiantindakan kelas KD 5.2 tentang sifat sudut penelitiyakin bahwa dengan menerapkan metode STADhasil belajar yang dicapai oleh siswa pasti lebihbaik. Pembelajaran kooperatif type STAD dikembangkanoleh Robert Slavin dari Universitas JohnHopkin USA. Model pembelajaran kooperatif tipeSTAD merupakan model pembelajaran kooperatifyang paling sederhana. Menurut Wena (2009:192-193) secara umum penerapan model STAD adalahsebagai berikut: a) Kelas dibagi dalam beberapakelompok, b) Tiap kelompok siswa terdiri atas 4-5orang yang heterogen, baik dari segi kemampuan,jenis kelamin, budaya dan sebagainya, c ) Tiapkelompok diberi bahan ajar dan tugas-tugas pembelajaranyang harus dikerjakan, d) Tiap kelompokdidorong untuk mempelajari bahan ajar dan mengerjakantugas-tugas pembelajaran melalui diskusikelompok, e) Selama proses pembelajaran kelompok,guru berperan sebagai fasilitator dan motivator,f) Tiap minggu atau dua minggu, guru melaksanakanevaluasi, baik secara kelompok maupunindividu untuk mengetahui kemajuan belajar siswa,g) bagi siswa dan kelompok siswa yang memperolehnilai hasil belajar yang sempurna diberi penghargaan.Demikian pula jika semua kelompok memperolehnilai hasil belajar yang sempurna, makasemua kelompok tersebut wajib diberi penghargaan.Pendapat senada secara lebih rinci dikemukakanoleh Widyantini (2008:7) langkah-langkah penerapanpembelajaran kooperatif tipe STAD adalahsebagai berikut: 1) Guru menyampaikan materipembelajaran kepada siswa sesuai kompetensidasar yang akan dicapai, 2) Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu sehinggaakan diperoleh hasil tes awal kemampuan siswa, 3)Guru membentuk beberapa kelompok, setiap kelompokterdiri dari 4-5 siswa yang heterogen, 4)Guru memberikan tugas kepada kelompok berkaitandengan materi yang telah disampaikan, mendiskusikannyasecara bersama-sama, saling membantuantar anggota lain serta membahas jawabantugas yang diberikan oleh guru. Tujuan utamanyaadalah memastikan bahwa setiap kelompok dapatmenguasai konsep dan materi, 5) Guru memberikantes/kuis kepada setiap siswa secara individu, 6)Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman,mengarahkan dan memberikan penegasanpada materi pembelajaran yang telah dipelajari, 7)Guru memberikan penghargaan kepada kelompokberdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajarindividual dari nilai awal ke nilai kuis berikutnya.Kerangka BerpikirUntuk membahas permasalahan dalam penelitianini perlu kerangka berfikir yang runtut dan


Metode Stad 29sistematis. Penelitian ini dimulai dengan kajian teori(kepustakaan), kemudian dipadukan dengan pengalamanpenulis sejak berprofesi sebagai guru.Penerapan metode STAD sebagai alternative untukmeningkatkan prestasi belajar siswa didasarkanpada kondisi awal siswa yang prestasi belajarnyamasih rendah sekali. Penulis memcoba merefleksikegiatan belajar mengajar termasuk metode yangdigunakan, yang pada akhirnya terjadi interaksiyang dinamis antara guru dengan siswa, siswadengan siswa dan siswa dengan sumber belajar.Penerapan metode STAD yang harus dilakukanoleh guru adalah sebagai berikut: 1) Guru menyampaikanmateri pembelajaran kepada siswa sesuaikompetensi dasar yang akan dicapai, 2) Tiapkelompok siswa terdiri atas 4-5 orang yang heterogen,3) Tiap kelompok diberi bahan ajar dan tugas-tugaspembelajaran yang harus dikerjakan, 4)Tiap kelompok didorong untuk mempelajari bahanajar dan mengerjakan tugas-tugas pembelajaranmelalui diskusi kelompok, 5) Selama proses pembelajarankelompok, guru berperan sebagai fasilitatordan motivator, 6) Tiap minggu atau dua minggu,guru melaksanakan evaluasi, baik secara kelompokmaupun individu untuk mengetahui kemajuanbelajar siswa, 7) Bagi siswa dan kelompok siswayang memperoleh nilai hasil belajar yang sempurnadiberi penghargaan.Hipotesis TindakanBerdasarkan kajian refleksif yang didasarkansharing ide antar guru dan kajian teori dalam penelitiantindakan kelas ini ditetapkan bahwa ”Prosespembelajaran Sifat Sudut melalui metode STADdapat meningkatkan prestasi belajar siswa KelasVII B SMP Negeri 1 Batuwarno Tahun 2010/2011.Subyek penelitian ini adalah Siswa KelasVII B yang jumlahnya sebanyak 27 orang terdiridari laki-laki 12 orang dan perempuan 15 orang, dengankemampuan yang heterogen.Teknik Pengumpulan dataObservasiDalam penelitian ini pengamatan dilakukanterhadap permasalahan yang terjadi dalam prosespembelajaran Observasi dilakukan terhadap perilakuguru yang melaksanakan proses belajar mengajar.Pengamatan dilakukan pada saat aktivitas pembelajaranberlangsung. Sementara tindakan diterapkan,dilakukan observasi terhadap siswa yang mengikutipemberian tindakan. Selain itu, pada awalpemberian tindakan siswa diberikan informasi agarsambil mengikuti pemberian tindakan mereka jugamencatat hal-hal yang terjadi dan dirasakan selamapemberian tindakan dalam bentuk jurnal. Setelahpemberian tindakan berakhir, hasil siswa mengikutitindakan, yang berupa tulisan, diberi skor denganskala penilaian yang telah dipersiapkan. Dalampenelitian ini peneliti minta bantuan pada temansejawat, adapun teman sejawat yang penulis ajakadalah Heri Wibowo, S.Pd dan Siti Sumsih, S.Pd.WawancaraDalam wawancara ini peneliti bertanya kepadasiswa mengenai hal-hal yang dirasakan selamapemberian tindakan, ditanya tentang metode yangdigunakan pada saat pembelajaran berlangsung,media yang digunakan oleh guru, cara guru menyampaikanmateri. Siswa yang diwawancarai adalahsiswa yang mempunyai nilai tertinggi, sedangdan terendah.METODE PENELITIANPenelitian ini dilakukan di Sekolah MenengahPertama Negeri 1 Batuwarno. Pendekatanyang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatanpenelitian tindakan kelas, dengan dua siklus.Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan, yaituMaret sampai dengan Mei 2011 atau pada semestergenap Tahun 2010/2011.DokumenDokumen dalam penelitian ini adalah berupaBuku pedoman tentang Standar Isi, foto-foto saatpelaksanaan tindakan, rencana pembelajaran, lembarobservasi siswa, lembar observasi guru pelakutindakan, lembar evaluasi, daftar nilai siswa.Tes


30 METODIKA Volume 1 Nomor 3Tes dilakukan setelah tiap-tiap siklus berakhir.Materi tes siklus 1 adalah menentukan besarsudut akibat dari dua garis sejajar dipotong oleh garislain dan mengidentifikasi pasangan sudut yangsama besar dan pasangan sudut yang jumlahnya180 0, untuk tes siklus 2 adalah 1 nomor sama dengansoal siklus 1 dan 3 nomor yang lain divariasikandengan bentuk aljabar karena 3 nomor soalsiklus 1 hasil belajar yang dicapai siswa sudah sesuaidengan indikator kinerja, sehingga soal ditambahyang lebih bervariasi.Prosedur PenelitianProsedur penelitian tindakan kelas ini terdiridari dua siklus penelitian. Tiap-tiap siklus terdiri dariempat tahap, yaitu tahap perencanaan (planning),tindakan (acting), pengamatan (observing), danrefleksi (reflecting).Siklus ITahap PerencanaanBerdasarkan pengetahuan tentang penyebabmunculnya masalah yang diperoleh, disusunlahperencanaan penelitian. Perencanaan dilakukan secarapartisipatif kolaboratif dengan pelibatan temansejawat sebagai kolaborator. Kegiatan yang dilakukanpada tahap ini adalah: a) merencanakanpembelajaran yang akan diterapkan dalam PBM, b)menentukan pokok bahasan, c) mengembangkanskenario pembelajaran, d) menyusun LKS, e) menyiapkansumber belajar, e) mengembangkan formatevaluasi, f) mengembangkan format observasipembelajaran, g) menyusun pedoman pengamatandan monitoring (aspek-aspek yang akan diobservasi,wawancara, dan jurnal siswa); dan i) menyusunrancangan evaluasi program.Tahap Implementasi TindakanTindakan untuk mengatasi masalah yang dihadapiadalah menerapkan model pembelajarandengan metode STAD, dengan langkah-langkah: a)Memberikan apersepsi tentang pentingnya mempelajarisifat sudut; b) menginformasikan tujuanpembelajaran yang hendak dicapai dan manfaatyang diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran;c) menjelaskan secara garis besar tentangsudut-sudut yang terjadi akibat dari dua garissejajar dipotong oleh garis lain.; d) mendistribusikanLK yang harus dikerjakan siswa secara individu,untuk memperoleh kondisi awal; e) siswa dibagimenjadi beberapa kelompok yang setiap kelompoknyaterdiri dari 4-5 orang yang heterogen; f)mendistribusikan tugas yang sudah disusun olehguru untuk dibahas dalam kelompok masingmasing;g) meminta setiap kelompok untuk mempresentasikanhasil diskusi; h) mendistribusikansoal evaluasi yang harus dikerjakan siswa secaraindividu; i) mengoreksi hasil pekerjaan siswa; j) mengumumkanhasil pekerjaan siswa; k) memberipenghargaan pada siswa dan kelompok yangberprestasi.Tahap Pengamatan Terhadap TindakanSelama penelitian berlangsung, penelitimelakukan pengamatan terhadap kegiatan siswadalam kegiatan pembelajaran. Melalui lembar observasi,peneliti mengamati tingkah laku siswa.Aspek yang dinilai adalah hasil evaluasi dan tingkahlaku siswa selama mengikuti pembelajaran. Selainmenggunakan lembar observasi, peneliti juga melakukanpemotretan selama pembelajaran berlangsung.Pengamatan dalam kegiatan ini adalah:a) Melakukan observasi dengan memakai formatobservasi, b) Menilai hasil tindakan dengan menggunakanformat LKS.Setelah kegiatan pembelajaran selesai, penelitimembagikan lembar jurnal siswa untuk mengetahuitanggapan, kesan, dan pesan siswa terhadapmateri, proses pembelajaran, dan teknikyang digunakan guru dalam tindakan ini, sehinggadapat digunakan untuk memperbaiki pada siklusberikutnya.Refleksi Terhadap TindakanKegiatan yang dilakukan pada tahap refleksiini adalah: (a) Melakukan evaluasi tindakan yangtelah dilakukan, meliputi evaluasi mutu, jurnal siswadan hasil wawancara dari setiap macam tindakan(b) Melakukan pertemuan untuk membahas hasil


Metode Stad 31evaluasi tentang skenario, LKS, (c) Memperbaikipelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untukdigunakan pada siklus berikutnya. (d) Evaluasi tindakanISiklus IITahap PerencanaanKegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:a)identifikasi masalah dan penetapan alternatifpemecahan masalah, b) pengembangan programtindakan II.Tahap Implementasi TindakanSebelum melakukan Tindakan yang direncanakanpada siklus II peneliti menjelaskan terlebihdahulu kesalahan-kesalahan pada hasil tes siklus I.Peneliti menanyakan kesulitan yang dihadapi olehsiswa, kemudian menerapkan model pembelajarandengan metode STAD, dengan langkah-langkah:a)Memberikan apersepsi tentang pentingnya mempelajarisifat sudut; b) menginformasikan tujuan pembelajaranyang hendak dicapai dan manfaat yangdiperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran; c)memilih media yang tepat; d) menjelaskan secaragaris besar tentang sifat-sifat sudut yang terbentukdari dua garis sejajar dipotong oleh garis lain: e)mendistribusikan LK yang harus dikerjakan siswasecara individu, untuk memperoleh kondisi awal; f)siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yangsetiap kelompoknya terdiri dari 4-5 orang yangheterogen; g) mendistribusikan tugas yang sudahdisusun oleh guru untuk dibahas dalam kelompokmasing-masing; h) meminta setiap kelompok untukmempresentasikan hasil diskusi, dengan menggunakanmedia yang ada; i) mendistribusikan soalevaluasi yang harus dikerjakan siswa secara individu;j) mengoreksi hasil pekerjaan siswa; k) mengumumkanhasil pekerjaan siswa; l) memberipenghargaan pada siswa dan kelompok yang berprestasi.Tahap Pengamatan terhadap tindakanPada siklus II ini dilihat peningkatan hasil tesdan perilaku siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran,yang meliputi keaktifan siswa dalam mengerjakantugas, dan keaktifan siswa dalam kelompoknya.Refleksi Terhadap TindakanPada siklus II, refleksi dilakukan untuk mengetahuipeningkatan hasil prestasi belajar siswadan perubahan tingkah laku siswa setelah mengikutikegiatan pembelajaran.Data dan Cara Pengumpulannya.Sumber DataSumber data dari penelitian ini berasal dariguru peneliti, dan siswa yang melaksanakan prosespembelajaran KD 5.2, yaitu Sifat Sudut dengan MetodeSTAD.Jenis DataJenis data yang didapatkan dari penelitianini adalah data kuantitatif dan data kualitatif. Datakuantitatif hasil evaluasi siswa dengan skor 10-100.Data kualitatif berupa diskripsi hasil observasi, jurnalsiswa, dan wawancara yang telah dikelompokkanberdasarkan aspek-aspek yang diobservasi, dituliskandalam jurnal siswa, dan diperoleh dari wawancara.Teknik Pengambilan DataTeknik pengambilan data berupa teknik tesdan non tes. Teknik tes digunakan untuk mendapatkanskor yang diperoleh tiap-tiap siswa, baik hasiltes siklus I maupun hasil tes siklus II. Teknik nontesdengan menggunakan observasi, jurnal siswa, danwawancara. Observasi dilakukan terhadap perilakuguru yang melaksanakan proses belajar mengajar.Teknik Analisis DataAnalisis yang digunakan adalah teknik deskriptifanalitik, dengan penjelasan sebagai berikut:1) Data kuantitatif diolah dengan menggunakandeskriptif persentase, 2) Data kualitatif yang berasaldari observasi, jurnal, dan wawancara diklasifikasiberdasar aspek-aspek yang dijadikan fokus analisis.


32 METODIKA Volume 1 Nomor 3Indikator KinerjaTolok ukur keberhasilan dalam penelitian iniadalah: (a) Apabila hasil ulangan siswa nilai rataratakelas mencapai 69 (b) Meningkatnya persentaseketuntasan belajar siswa minimal 85% (c)Meningkatnya rata-rata aktivitas dalam pembelajaranmencapai minimal 85% .HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYATindakan Siklus IMonitoring terhadap tindakan siswa dilakukanterhadap aspek aktivitas siswa dalam mengikutipalajaran. Hasil monitoring (observasi) terhadapsiswa pada siklus 1: Siswa yang aktif dalam kelompokbelajar 100%, Siswa yang senang bekerja mandiri44,44%, Siswa yang gigih mempertahankanpendapat 33,33%, Siswa yang senang membantusiswa lain 25,93%, Siswa yang mengerjakan tugasdengan benar 55,56% siswa. Dari hasil belajarsiswa pada siklus 1 menunjukkan nilai rata-ratamencapai 70 dengan nilai terendah 55 dan tertinggi100. Terdapat 20 anak yang telah tuntas belajarnya( 74,1%) dan terdapat 7 siswa yang belum tuntas.Karena belum dapat mencapai target yangdikehendaki maka diadakan Siklus 2.Tabel 1. Hasil tindakan siswa pada siklus 1No Butir Pengamatan Jumlah Prosentase1Siswa yang aktif dalam kelompok belajar27100,00%2Siswa yang senang bekerja mandiri1244,44%3Siswa yang gigih mempertahankan pendapat933,33%4Siswa yang senang membantu siswa lain725,93%5Siswa yang mengerjakan tugas dengan benar1555.56%Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki olehguru, yaitu 1) guru hendaknya lebih intens dalammemberikan motivasi kepada siswa, 2) guru dalammenerapkan metode STAD harus kreatif dan variatif,3) pada waktu siswa menyelesaikan tugasguru hendaknya berkeliling memperhatikan setiapsiswa, tidak hanya kepada siswa yang bertanya, 4)dalam pembahasan tugas guru hendaknya memberikankesempatan kepada siswa yang pekerjaannyabenar untuk mempresentasikan sekaligusmemberi kesempatan siswa lain untuk siswa yangmendapatkan nilai tertinggi.Untuk siswa masih perlu ditingkatkan motivasidan partisipasinya dalam kegiatan belajar mengajar.Sedangkan dari hasil diharapkan siswa dapatmengerjakan seluruh tugas dengan hasil benarseluruhnya.Hasil Tindakan Siklus 2Hasil monitoring (observasi) terhadap siswapada siklus kedua menunjukan hasil yang meningkat(terutama pada aktivitas belajar dan hasilbelajar). ada 5 jenis aktivitas yang muncul. Ada 27siswa yang aktif dalam kelompok belajar, 17 siswasuka bekerja mandiri (62,9%), 13 Siswa (48,1%) yanggigih mempertahankan pendapat, 11 siswa(40,7%) senang membantu siswa lain, yang mengerjakantugas dengan benar 15 siswa (55,56%).Tabel 2. Hasil tindakan siswa pada siklus 2No Butir Pengamatan Jumlah Prosentase1 Siswa yang aktif dalamkelompok belajar27 100,00%2 Siswa yang senang 17 62,90%bekerja mandiri3 Siswa yang gigih 13 48,10%mempertahankanpendapat4 Siswa yang senang 11 40,70%membantu siswa lain5 Siswayang 15 55.56%mengerjakan tugasdengan benar


Metode Stad 33Hasil monitoring (observasi) terhadap gurupada tindakan siklus kedua ada peningkatan (sesuaidengan yang direncanakan ).Dari proses pembelajaran dan hasil perolehannilai prestasi belajar siswa dengan menggunakanmetode STAD sebagaimana pada Bab III,mulai dari siklus I sampai dengan siklus II terdapatperubahan proses pembelajaran yang semakinmeningkat (baik). Hal ini terlihat pada aktivitas belajarsiswa yang semakin meningkat dari siklus Isampai dengan siklus II. Dengan adanya upayaupayayang dilakukan guru pembimbing untuk meningkatkankualitas proses pembelajaran akan berimplikasipada hasil belajarnya. Siswa yang aktif dalambelajar akan menunjukkan peningkatan prestasiyang cukup besar.Pembahasan Hasil PenelitianGambar 1. Grafik Perbandingan Rata-rataPrestasi Pada Siklus I, IIKeterangan:1. Ketuntasan belajar pada siklus I = 74.1%2. Ketuntasan belajar pada siklus II = 96.3%Melihat grafik Ketuntasan belajar siswa padaSiklus I dan Siklus II akibat dari Tindakan penelitiankelas dengan metode STAD terjadi peningkatanyang cukup signifikan, yaitu dari ketuntasanawal 45% setelah Siklus I menjadi 74,1% dan setelahSiklus II menjadi 96,3%.Kesulitan Siswa Dalam Mempelajari Sifat SudutKesulitan-kesulitan dalam belajar Sifat Sudutantara lain: Menentukan pasangan sudut dalamsehadap, membedakan pasangan luar berseberangandengan luar sepihak. Kesulitan-kesulitan tersebutdapat dihindari dengan banyak melakukan latihansoal-soal.Keterangan:1. Nilai rata-rata siklus I = 702. Nilai Rata-rata siklus II = 77Melihat grafik nilai rata-rata klasikal padaSiklus I dan Siklus II akibat dari Tindakan penelitiankelas dengan metode STAD terjadi peningkatanyang cukup signifikan, yaitu dari rata-rataawal 59 setelah Siklus I menjadi 70 dan setelahSiklus II menjadi 77.Gambar 2.Grafik Perbandingan PersentaseKetuntasan Belajar Pada Siklus I, II.Kegiatan Belajar Kelompok sebagai alternative .Belajar matematika memang tidak banyakyang dihafalkan, namun untuk memahami materimatematika perlu banyak latihan soal yang membutuhkanwaktu cukup banyak, untuk itu denganbelajar berkelompok akan memberi peluang padasiswa untuk selalu aktif, apabila ada kesulitan akanlebih leluasa untuk bertanya pada teman satukelompoknya karena kadang-kadang para siswayang daya pikirnya lamban ada hal yang kurangjelas mau bertanya pada guru tidak berani. Berawaldari keberanian bertanya pada teman akan membiasakanberani juga bertanya pada guru.


34 METODIKA Volume 1 Nomor 3Model Pembelajaran STAD merupakan solusiterbaik dalam mempelajari Sifat SudutPembelajaran dengan metode STAD akanmenempatkan siswa sebagai subyek yang benarbenarakan melakukan proses pembelajaran. Mulaidari siklus I hingga siklus II terlihat adanya hasilyang cukup berarti bagi pengembangan ketuntasanbelajar dan prestasi belajar siswa. Pada siklus Isiswa yang rendah pemikirannya masih canggunguntuk bertanya pada teman kelompoknya dan memilihdiam, sehingga guru masih berperan aktifuntuk melakukan pembibingan pada kelompok-kelompokutamanya pada siswa yang masih belumjelas.Pada siklus II peran aktif siswa dalam kelompokbelajarnya Nampak jelas sekali, siswa yangrendah kemampuannya sudah tidak canggung lagiuntuk bertanya pada kelompoknya dan siswa yangpandai tidak ragu-ragu lagi menjelaskan pada temannyayang belum jelas, sehingga tiap-tiap kelompoksudah kelihatan aktif.Dari hasil penelitian, ternyata model pembelajarandengan metode STAD mampu meningkatkanprestasi siswa dalam memahami sifat Sudut.PENUTUPSimpulanBerdasarkan hasil tindakan yang telah dilaksanakandengan model pembelajaran MetodeSTAD, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:1) Peningkatan prestasi belajar Sifat Sudutdapat dilakukan melalui model pembelajaran denganMetode STAD, 2) Dengan optimalisasi pembelajaranSifat Sudut melalui model pembelajarandengan Metode STAD mampu mengarahkanperhatian siswa terhadap aktivitas belajar dansebagai implikasi tindakan tercermin pada peningkatanprestasi belajar siswa, 3) Dengan penerapanmodel pembelajaran Metode STAD tercipta pembelajaranyang efektif dan efisien.SaranBerdasarkan hasil penelitian tindakan yangtelah dipaparkan di atas dapat dikemukakan saransaransebagai berikut: 1) Agar siswa mau meningkatkanaktivitas belajar Sifat Sudut maka perluditambah sarana penunjang seperti buku referensi,model-model garis, 2) Agar prestasi belajar siswadalam Sifat Sudut selalu mengalami peningkatan,maka guru Pendidikan matematika diharapkanmemiliki kinerja yang tinggi dan lebih mengoptimalkanaktivitas belajar siswa melalui modelpembelajaran yang bervariasi dan menarik parasiswa, 3) Mengingat penelitian tindakan kelas inibaru di beberapa sekolah, maka perlu dilakukanpersebaran penelitian dan berkelanjutan untukmenemukan model pembelajaran dengan metodeSTAD yang tepat untuk tingkat SMP.DAFTAR PUSTAKAArikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian.Jakarta:Rinneka Cipta.Hamalik, Oemar. 2005. Proses Belajar Mengajar .Jakarta Bumi Aksara.Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning(Mempraktikkan Cooperative Learning diRuang-ruang Kelas).Jakarta: PT GramediaWidiasarana Indonesia.Slavin. 1995. Cooperative Learning TheoryResearch and Practice. London: Allyn andBacon.Teguh Prasetyo,Nurokhmat. Th. .2010) tentangpeningkatan keaktifan dan hasil belajar padakonsep Bangun Ruang Sisi Lengkungmelalui model pembelajaran kooperatif typeSTADWena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran InovatifKontemporer. Jakarta: Bumi AksaraWibowo, Heri. Th. 2009) tentang upayameningkatkan prestasi belajar matematikapada konsep datar melalui modelpembelajaran kooperatif type STAD.


PENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGEMUKAKAN PENDAPATPADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAANDENGAN MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIF THINK-PAIR-SHARDAN TIME TOKEN DI KELAS VII B SMP NEGERI 7 TEGALTAHUN PELAJARAN 2010/2011Eko Winarno *)Abstrak: Kemampuan mengemukakan pendapat siswa masih rendah karena hanyamencapai 12% (3 siswa) pada proses pembelajaran sebelum dilakukan penelitian ini. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembelajaran, mendeskripsikan peningkatanhasil belajar setelah mengikuti pembelajaran, mengetahui peningkatan keberanian dalammengemukakan pendapat siswa kelas VIIB SMP Negeri 7 Tegal setelah mengikutipembelajaran pada kompetensi dasar mengaktualisasikan kemerdekaan mengeluarkanpendapat secara bebas dan bertanggungjawab melalui model pembelajaran think-pair-sharedan time token. PTK ini dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil tes tulis siklus 1 adalah nilairata-rata 76,25 dan pada siklus II, nilai rata-rata mencapai 87,50. Pada siklus 1, terjadipeningkatan keberanian mengemukakan pendapat siswa, yaitu 8 siswa (33,33%)(berkategori tinggi), 7 siswa (29,17%) (berkategori sedang), dan 9 siswa (37,50%)(berkategori rendah). Pada siklus II lebih banyak lagi siswa yang berani mengemukakanpendapat mereka, yaitu 15 siswa (62,50%) (berkategori tinggi), 7 siswa (29,17%)(berkategori sedang), dan 2 siswa (8,33%) (berkategori rendah). Hasil penggunaan modelpembelajaran cooperative think-pair-share dan time token dapat meningkatkan hasil belajarsiswa dan menggugah keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat.Kata kunci: mengemukakan pendapat, kooperatif, think-pair-share dan time tokenPENDAHULUANKemampuan dalam mengemukakan pendapatadalah salah satu kompetensi siswa yang menjadibagian dari tujuan mata pelajaran PendidikanKewarganegaraan. Keterampilan dan keberanianmengemukakan pendapat adalah sebuah potensisiswa yang harus terus digali oleh guru dalamproses pembelajaran. Dalam Peraturan MenteriPendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikandisebutkan bahwa mata pelajaran PendidikanKewarganegaraan bertujuan agar pesertadidik memiliki kemampuan berpartisipasi secaraaktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secaracerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsadan bernegara, serta anti korupsi.Menurut John Holt (1967) dalam Melvin L.Silberman (2009) bahwa proses belajar akan meningkatjika siswa diminta untuk melakukan beberapahal berikut ini: (1) mengemukakan kembaliinformasi dengan kata-kata mereka sendiri; (2)memberikan contohnya; (3) mengenalinya dalambermacam bentuk dan situasi; (4) melihat kaitan antarainformasi itu dengan fakta atau gagasan lain ;(5) menggunakannya dengan beragam cara; (6)memprediksikan sejumlah konsekuensinya; (7) menyebutkanlawan atau kebalikannya.Secara empiris selama menjadi guru PKn,peserta didik kurang memiliki kemampuan dalammengemukakan pendapat pada saat mengikuti pelajaranPKn. Faktor-faktor penyebab rendahnya keberanianmengemukakan pendapat siswa kelasVIIB SMP Negeri 7 Tegal tidak lepas dari faktorsiswa. Faktor tersebut antara lain rendahnya minatsiswa terhadap pembelajaran khususnya padaranah psikomotor atau kemampuan mengemukakanpendapat. Terlebih penguasaan materi dankepercayaan diri yang belum tinggi serta belumterbiasanya mereka menyampaikan pendapat dimuka umum. Faktor lain yang menyebabkan rendahnyakeberanian dan keterampilan mengemukakanpendapat di muka umum adalah faktordari guru. Guru belum secara optimal meng-*) Guru Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 7 Tegal


36 METODIKA Volume 1 Nomor 3gunakan variasi model pembelajaran yang menyentuhaspek motivasi, kompetisi dan pembiasaankeberanian mengemukakan pendapat. Faktor ketepatanguru dalam memilih strategi pembelajaran,baik itu dalam pemilihan teknik, metode, maupunmedia pembelajaran juga sangat penting dalampencapaian komoetensi siswa. Walaupun sudahberusaha menerapkan berbagai model pembelajaran,namun masih belum menemukan model yangefektif untuk mencapai kompetensi dasar yang bersifatmotivatif, aplikatif khususnya keterampilanmengemukakan pendapat di muka umum. Pemilihanmodel pembelajaran yang berorientasi padabanyaknya aktivitas siswa dalam berkomunikasimemecahkan masalah atau materi pembelajaranseperti model Think-Pair-Share ( TPS ) atau berpikir,berpasangan dan berbagi adalah merupakanjenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untukmempengaruhi pola interaksi siswa. Sehinggasiswa akan berani menyampaikan gagasan dan idenyadalam kelompoknya, untuk kemudian dikomunikasikandan disampaikan baik kepada temandiskusinya, maupun kepada teman di kelasnya. Penulismemilih model pembelajaran ini karena modelini memadukan kompetensi ketiga aspek kompetensi,yaitu aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan(khususnya keterampilan mengemukakanpendapat). Model ini juga dikombinasikandengan model time token (kupon bicara). Siswaberkompetisi untuk menggunakan kupon bicarayang dipegangnya.Permasalahan yang diangkat dalam penelitianini bagaimana proses pembelajaran padakompetensi dasar mengaktualisasikan kemerdekaanmengeluarkan pendapat secara bebas danbertanggungjawab dengan menggunakan modelthink-pair-share dan time token,bagaimana peningkatanhasil belajar setelah mengikuti pembelajaranpada kompetensi dasar mengaktualisasikankemerdekaan mengeluarkan pendapat secara bebasdan bertanggungjawab melalui model pembelajaranthink-pair-share dan time token, bagaimanapeningkatan keberanian mengemukakan pendapatsiswa kelas VIIB SMP Negeri 7 Tegal. Tujuan PTKini adalah mendeskripsikan proses pembelajaranpada kompetensi dasar mengaktualisasikan kemerdekaanmengeluarkan pendapat secara bebas danbertanggungjawab, mendeskripsikan peningkatanhasil belajar, mendeskripsikan peningkatan keberanianmengemukakan pendapat siswa kelas VIIBSMP Negeri 7 Tegal melalui model pembelajaranthink-pair-share dan time token. Manfaatnya adalahuntuk terus menumbuhkan keberanian menyampaikanpendapat, aktif dan kreatif dalam pembelajaran,memiliki rasa setia kawan, kerja samadan tanggung jawab, meningkatkan hasil pembelajaran.Bagi Guru dapat meningkatkan kreativitasdan kinerja. Bagi Sekolah dapat meningkatkanmutu pendidikan.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESISTINDAKANPenelitian tentang keterampilan atau keberanianmengemukakan pendapat dan model pembelajarancooperatif (cooperative Learning) telahbanyak dilakukan, diantaranya Rusmayadi (2009)dan Sumarno (2011). Hasil penelitian tersebut menunjukkanbahwa terjadi peningkatan hasil belajardan tingkat keberanian dalam mengemukakanpendapat siswa dengan menggunakan model kartubertanya (question card) oleh Rusmayadi (2009)dan melalui Pendekatan Team Game Tournamentoleh Sumarno (2011). Kedua penelitian tersebutadalah pada upaya meningkatkan keberanianmengemukakan pendapat. Pembelajaran menggunakanmodel think-pair-share dan time token lebihmenekankan pada banyaknya aktivitas siwa dalampembelajaran khususnya tampil di depan kelasuntuk mengemukakan pendapat. Dengan think-pairsharedan time token, hampir seluruh kegiatanpembelajaran didominasi oleh aktivitas siswa.Hakikat Pembelajaran Kooperatif Think-Pair-Share dan Time TokenParadigma pembelajaran lama (konservatif)memandang peserta didik sebagai sekelompokanak yang memiliki otak yang masih kosong,sehingga diperlakukan sebagai objek dalam kegiatanpembelajaran. Karena posisinya sebagaiobjek, maka ia berperan sebagai penerima dari


Model Cooperatif Think-Pair-Shar dan Time Token 37perpindahan pengetahuan dari guru, akibatnyakreativitasnya terbelenggu oleh kungkungan budayaprimordial yang menempatkan guru sebagai penguasadi kelas dan pemegang kebenaran tunggalyang harus ditelan oleh peserta didik tanpa melaluiproses penerimaan yang kritis dan analitis sebagaiproduk dari pengalaman belajar mereka. Secaranormatif paradigma baru telah dirumuskan dalamUndang-Undang Tentang Sistem Pendidikan NasionalNo. 20 tahun 2003 bahwa pendidikan adalahusaha sadar dan terencana untuk mewujudkansuasana belajar dan proses pembelajaran agar pesertadidik secara aktif mengembangkan potensidirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaanpengembangan diri, kepribadian akhlak mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan negara.Model Pembelajaran Think-Pair-Share pertamakali dikembangkan oleh Frang Lyman dan koleganyadi Universitas Maryland sesuai yang dikutipArends (1997) dalam Trianto (2007). Mereka menyatakanbahwa think-pair-share merupakan suatucara yang efektif untuk membuat variasi suasanapola diskusi kelas.Menurut Arends (1997) yang disadur olehTjokrodihardjo (2003) dalam Trianto (2007) mengemukakantiga langkah pembelajaran denganmodel kooperatif tipe think-pair-share Langkahpertama: berpikir (thinking), pada langkah ini gurumengajukan suatu pertanyaan atau masalah yangdikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswamenggunakan waktu beberapa menit untuk berpikirsendiri jawaban atau masalah. Langkah kedua:berpasangan (pairing), guru meminta siswa untukberpasangan dan mendiskusikan apa yang merekaperoleh. Interaksi selama waktu yang disediakandapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaanyang diajukan atau menyatukan gagasan apabilasuatu masalah khusus yang diidentifikasi. Langkahketiga: berbagi (sharing), pada langkah ini gurumeminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengankeseluruhan siswa di kelas dari materi yangtelah dikerjakan dan disiskusikan dengan pasangannya.Model Pembelajaran Time Token (Arends,1998) merupakan model pembelajaran yang bertujuanagar masing-masing anggota kelompok diskusimendapatkan kesempatan untuk memberikankonstribusi mereka dan mendengarkan pandanganserta pemikiran anggota lain. Model ini memilikistruktur pengajaran yang sangat cocok digunakanuntuk mengajarkan keterampilan sosial, serta untukmenghindari siswa mendominasi pembicaraan atausiswa diam sama sekali. Kelebihan model pembelajaranini adalah semua siswa aktif dalam mengeluarkanpendapatnya dan berpartisipasi dalamdiskusi,dapat menumbuhkan dan melatih keberaniansiswa dalam berpendapat bagi siswa yangpemalu dan sukar berbicara, semua siswa mendapatkanwaktu bicara (“kupon bicara“) yang samasehingga tidak akan terjadi pendominasian pembicaraandalam berlangsungnya diskusi atau tampilbicara.Mengemukakan PendapatPendapat secara umum diartikan sebagaibuah gagasan atau buah pikiran. Mengemukakanpendapat (Priyanto, 2008) berarti mengemukakangagasan atau mengeluarkan pikiran.Dalam kehidupan negara Indonesia, seseorangyang mengemukakan pendapatnya ataumengeluarkan pikirannya dijamin secara konstitusional.Hal itu dinyatakan dalam UUD 1945, Pasal28, bahwa kemerdekaan berserikat dan berkumpul,mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dansebagainya ditetapkan dengan undang-undang.Lebih lanjut pengertian pengertian kemerdekaanmengemukakan pendapat dinyatakan dalamPasal 1 (1) UU No. 9 Tahun 1998, bahwa kemerdekaanmenyampaikan pendapat adalah hak setiapwarga negara untuk menyampaikan pikiran denganlisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas danbertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturanperundang-undangan yang berlaku.Undang-undang yang mengatur kemerdekaanmengemukakan pendapat antara lain diaturdengan Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentangKemerdekaan Menyampaikan Pendapat di MukaUmum. Pengertian di muka umum adalah di ha-


38 METODIKA Volume 1 Nomor 3dapan orang banyak atau orang lain, termasuktempat yang dapat didatangi dan/atau dilihat setiaporang. Mengemukakan pendapat di muka umumberarti menyampaikan pendapat di hadapan orangbanyak atau orang lain, termasuk tempat yang dapatdidatangi dan/atau dilihat setiap orang.Adapun cara-cara mengemukakan pendapatdapat dilakukan dengan cara:1) Lisan, contohnya pidato, ceramah, berdialog,berdiskusi, rapat umum.2) Tulisan, contohnya poster, spanduk, artikel, surat.Cara lain, contohnya foto, film, demonstrasi (unjukrasa), mogok makan.menit siswa berkompetisi untuk berani tampil didepan kelas menyampaikan pendapatnya secaralebih terbuka. Dengan model pembelajaran aktifyang demikian maka proses pembiasaan dan peningkatankeberanian mengemukakn pendapat berubahkearah yang positif.Hipotesis TindakanDengan menerapkan model pembelajaranthink-pair-share dan time token pada mata pelajaranPendidikan Kewarganegaraan maka akanada peningkatan hasil belajar dan kemampuandalam mengemukakan pendapat di depan kelasdalam pembelajaran.Kerangka BerpikirKeterampilan dan keberanian mengemukakanpendapat adalah sebuah potensi siswa yangharus terus digali oleh guru dalam proses pembelajaran.Siswa yang sudah terbiasa berani mengemukakanpendapatnya dalam pembelajaran,maka akan mampu menyampaikan ide dan gagasanataupun menjawab pertanyaan dari guru ataudalam diskusi kelompok. Rendahnya kemampuansiswa dalam mengemukakan pendapat harus segeradiatasi dengan berbagai pendekatan danmodel pembelajaran yang mampu membiasakandan merangsang siswa untuk berani menyampaikanpendapat.Salah satu model pembelajaran yang mampumeningkatkan keberanian mengemukakan pendapatdi muka umum adalah model think-pair-sharedan dikolaborasikan dengan model time token.Pembelajaran dengan menggunakan model thinkakan mampu memecahkan masalah atau soal yangdiberikan kepada siswa. Masalah yang telah dipikirkandalam tahapan pembelajaran think selanjutnyadikomunikasikan dan diutarakan kepada temanpasangan belajarnya. Setelah siswa beranimenyampaikan pendapatnya kepada pasangan belajarnya,maka lebih luas lagi pendapat itu diutarakankepada teman dalam jumlah yang lebih besaratau dalam kelompok dengan model pembelajaranshare. Tahapan terakhir adalah dengan memanfaatkankupon bicara tiga puluh detik atau satuMETODE PENELITIANPenelitian ini dilaksanakan dengan menggunakandesain penelitian tindakan kelas (Arikunto,2006). Subjek penelitian ini adalah kemampuanmengemukakan pendapat dan hasil belajar siswakelas VII B SMP Negeri 7 Tegal tahun pelajaran2010/2011 yang berjumlah 24 siswa. Alasan dipilihnyasiswa kelas VIIB SMP Negeri 7 Tegal sebagaisubjek penelitian didasarkan atas pertimbanganbahwa keberanian dan keterampilan siswadalam mengemukakan pendapat masih sangat rendah,walaupun pencapaian hasil berbagai tes sudahbaik. Kemampuan mengemukan pendapat akansangat penting dalam mendukung prestasi siswadan membekali mereka pada kehidupan di keluargadan masyarakat. Adapun prosedur penelitian baikpada siklus I dan II adalah melalui tahapanperencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.Teknik Pengumpulan Data dalam penelitianini adalah dengan melalui Observasi yang dipergunakanuntuk mengumpulkan data tentang aktifitassiswa dalam PBM dan implementasi pembelajarankooperatif model pembelajaran CooperatifThink-Pair-Share dan Time Token, wawancara untukmendapatkan data tentang tingkat keberhasilanimplementasi pembelajaran kooperatif model modelpembelajaran Cooperatif Think-Pair-Share danTime Token. Diskusi antara peneliti dan kolaboratoruntuk refleksi hasil siklus PTK, instrument tes untukmengetahui hasil prestasi belajar yang telah dicapai


Model Cooperatif Think-Pair-Shar dan Time Token 39siswa selama siklus satu dan siklus dua, catatanharian siswa untuk mendapatkan data tentangpendapat siswa terhadap pelaksanaan pembelajaranmata pelajaran PKn.Teknik analisis data yang digunakan dalamPTK ini adalah deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif.Data kualitatif diperoleh dengan mengamatiaktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran khususnyaantusias siswa dalam berdiskusi dengan penerapanmodel model pembelajaran CooperatifThink-Pair-Share dan Time Token. Sedangkan datakuantitatif diperoleh dari hasil tes tertulis kepadasiswa.Indikator kinerja pada penelitian ini ada dua,yaitu indikator data kuantitatif dan indikator data kualitatif.Indikator data kuantitatif penelitian ini adalahadanya perubahan nilai hasil tes tulis dengan KriteriaKetuntasan Minimal (KKM) sebesar 75. Indikatordata kualitatif pada penelitian ini adanya peningkatankeberanian siswa tampil di depan kelasmengemukakan pendapatnya.Pelaksanaan tindakan dalam pembelajaranterbagi menjadi dua siklus, siklus I dalam tindakansesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaranyaitu terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiataninti dan penutup. Berbagai kelemahan danketidaksempurnaan pada siklus I direfleksikan untukdilakukan perbaikan pada perencanaan di siklusII. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II adalahhasil perbaikan sesuai perencanaan yang dilakukan.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYADeskripsi Kondisi AwalPada semester genap tahun pelajaran 2010/2011 ini, kelas VII yang terdiri dari lima kelas, kelasVII B mendapatkan perhatian khusus dari penelitikarena diantara kelas yang lain, keterampilan dankeberanian siswa di kelas VIIB dalam mengemukakanpendapat mereka masih rendah. Sebagaicontoh, pada kegiatan pembelajaran pertemuanpertama pada tanggal 5 Januari 2011, ketika gurumemberikan pertanyaan, tidak ada siswa yangberani menjawab. Kemudian pada pertemuan kedua,pada tanggal 12 Januari 2011, guru menerapkanmodel kooperatif diskusi kelompok, makaketika diminta presentasi, hanya 3 siswa yang beraniuntuk mempresentasikan hasil diskusi merekadengan sukarela, sedangkan kelompok lain harusdipaksa oleh guru. Pada pertemuan ketiga, padatanggal 19 Januari 2011, guru lebih keras dalammemberikan motivasi kepada siswa dengan menggunakanmodel pembelajaran berbantuan tayanganLCD dan cooperatif script. Setelah selesai tayangandan dibuka pertanyaan, hanya lima siswa yangberani mengomentari tayangan dan hanya satusiswa berani mengajukan pertanyaan. Suasanaproses pembelajaran juga relatif tidak bergairah,khususnya ketika mereka melaksanakan diskusidan presentasi. Berdasarkan diskusi dan dialogdengan wali kelas dan beberapa orang guru, fenomenayang dialami peneliti relatif sama denganyang dialami para guru. Data nilai ulangan hariansiswa kelas 7b lebih baik jika dibandingkan dengankelas 7d dan 7e, tetapi partisipasi dalam mengemukakanpendapat masih lebih rendah jika dibandingkandengan kelas 7d dan 7e yang nilai ulangan hariannyadi bawah kelas 7b. Faktor hasil nilai ulanganharian ternyata tidak signifikan (sama) denganpartisipasi siswa dalam mengemukakan pendapat.Hasil Siklus ISetelah dilakukan tindakan pada siklus Idengan tahapan kegiatan pendahuluan yaitu gurumemberikan motivasi, menjelaskan skenario pembelajarandan menginformasikan tujuan. Kegiataninti yaitu think (berpikir), memikirkan Materi Pelajarandan Soal yang ada pada Lembar KegiatanSiswa. Selanjutnya kegiatan Pair (berpasangan),dengan pasangannya siswa saling mengemukakanpendapat dan jawaban atas materi dan soal yangterdapat pada LKS. Kegiatan selanjutnya adalahshare, hasil kegiatan think dan pair dikomunikasikandan dibagikan secara lisan kepada kelompokpada barisan tempat duduk yang lain. Kegiatanterakhir adalah time token, guru membagikan“kupon berbicara” selama maksimal 30 detik kepadasemua siswa, kemudian satu per satu siswa


40 METODIKA Volume 1 Nomor 3maju ke depan kelas dan memanfaatkan kupon berbicaratersebut. Selanjutnya, pada akhir pertemuankedua siswa diberikan soal tes untuk mengetahuipenyerapan materi dan pengetahuan yang diperolehsiswa.Adapun hasil belajar pada siklus I dapat dilihatpada Tabel 1 dan Tabel 2 berikut.Tabel 1. Hasil Tes Tulis Siklus IN0 Rentang Frekuensi %1 85 – 100 5 20.83%2 75 – 84 11 45.83%3 55 – 74 8 33.33%4 0 - 54 0 0Jumlah 24 100%Rerata 76,25Nilai Tertinggi 90Nilai Terendah 65Tabel 2. Peserta Didik yang Berani Mengemukakan Pendapat di Akhir Kegiatan Pembelajaran pada Siklus IJumlah Peserta didik yang berani mengemukakan pendapatPada Akhir Kegiatan PembelajaranJumlah siswaSebelumyang beraniKATEGORImenggunakanmenggunakanmodel Think- Tinggi Sedang Rendah kupon bicaraPair-Share danTime Tokensesuai alokasiwaktu3 (12%) 8 (33,33%) 7 ( 29,17% ) 9 (37,50%) 15 ( 62,50%)Data pada Tabel 1 di atas menunjukkanbahwa pengetahuan dan pemahaman siswa dalammenjawab sepuluh soal essay pada tes di siklus Idapat diuraikan bahwa siswa yang mendapatkankategori sangat baik dengan rentang nilai antara85-100 diperoleh oleh lima orang siswa atau20.83%. Sedangkan untuk kategori baik denganrentang nilai antara 75-84 diperoleh oleh 11 siswaatau 45.83% dan untuk siswa yang belum tuntas(KKM 75) masih ada 8 siswa atau 33.33% denganrentang nilai antara 55–74.Jika dicermati pada Tabel 2 di atas, makapersentase di atas masih terlihat rendahnya partisipasipeserta didik dalam keberanian mengemukakanpendapat di depan kelas karena masih ada 9siswa yang belum berani menggunakan kupon berbicaramereka sampai alokasi waktu yang ditentukan.Hasil Siklus IIKekurangan, kelemahan, dan ketidaksempurnaanyang ada pada siklus I diperbaiki padaSiklus II. Adapun hasil tindakan siklus II adalah sebagaimanatergambar pada Tabel 3 berikut.Tabel 3 . Hasil Tes Tulis Siklus IINo Rentang Frekuensi %1 85 – 100 16 80%2 75 – 84 3 15%3 55 – 74 1 5%4 0 – 545 Tidak ikut 4Jumlah siswa 20 100%yang mengikutitesRerata 87,50Nilai Tertinggi 100Nilai Terendah 70Data pada Tabel 3 di atas menunjukkanbahwa pengetahuan dan pemahaman siswa dalammenjawab soal essay pada tes di siklus II dapat diuraikanbahwa siswa yang mendapatkan kategogisangat baik dengan rentang nilai antara 85–100 diperoleholeh 16 orang siswa atau 80%. Sedangkanuntuk kategori baik dengan rentang nilai antara 75-84 diperoleh oleh 3 siswa atau 15% dan untuk siswayang belum tuntas ( KKM 75 ) masih ada 1siswa atau 5% dengan rentang nilai antara 55–74.Secara keseluruhan, pengetahuan dan pemahamansiswa pada pembelajaran siklus II dalammenjawab soal dari indikator pada kompetensidasar tersebut dikategorikan baik. Sudah ada peningkatanrerata kelas dari 76,25 menjadi 87,50.


Model Cooperatif Think-Pair-Shar dan Time Token 41Ada 2 orang siswa yang mendapatkan nilai sempurna(100) sebagai nilai tertinggi, dan nilai terendahadalah 70 ( satu siswa ). Dari 20 siswa yangmengikuti tes, hanya 1 siswa yang belum tuntas.Tetapi ada 4 siswa yang tidak mengikuti tes dikarenakanizin. Peningkatan perolehan hasil tes siswamenunjukkan bahwa siswa merasakan manfaatpembelajaran dengan menggunakan model thinkpair-sharedan token. Hal itu tampak pada Tabel 4berikut.Tabel 4. Siswa yang Berani Bengemukakan Pendapat di Akhir Kegiatan Pembelajaran pada Siklus IIJumlah peserta didik yang berani mengemukakan pendapatpada akhir kegiatan pembelajaranSebelummenggunakanKATEGORImodel Think-Pair-Share danTime TokenTinggi Sedang Rendah3 (12 %) 15 (62,50%) 7 (29,17%) 2 (8,33%) 22 ( 91%)Jumlah siswa yangberanimenggunakankupon bicara sesuaialokasi waktuBerdasarkan Tabel 6 di atas, terjadi peningkatanpersentase yang signifikan. Sudah 22 dari 24siswa yang berani menggunakan kupon bicara untuktampil di depan kelas sesuai alokasi waktu yangditentukan. Dua siswa akhirnya juga berani tampil didepan kelas, sehingga semua siswa berani tampildi depan kelas.Dari hasil observasi atau pengamatan selamapembelajaran pada kegiatan think-pair-sharedan time token baik pada siklus I dan II, secaraumum, kegiatan berjalan dengan baik. Sebaliknya,dari hasil catatan harian siswa dan wawancara dapatdideskripsikan bahwa berdasarkan hasil wawancaradan catatan harian siswa, ketika ditanyakanbagian manakah yang paling sulit atau adakendala dalam pembelajaran menggunakan modelthink, pair, share dan time token, sebagian besarsiswa menyatakan bahwa yang paling sulit adalahpada kegiatan TIME TOKEN (dinyatakan oleh 20siswa atau 83% ) dengan alasan “grogi” untuk maju,takut salah, malu, belum menguasai materi dan belumterbiasa. Jadi, alasan mereka adalah faktormental kepribadian. Ada 1 siswa yang menyatakantidak menemukan kesulitan apapun dalam melaksanakanpembelajaran. 2 siswa menyatakan mengalamikesulitan pada kegiatan THINK dengan alasanwaktu yang terlalu pendek (10 menit). Jadi,belum menguasai betul materi atau pertanyaanyang ditentukan. Pertanyaan dan permintaan untukmenuliskan perasaan siswa selama mengikuti pembelajaranmenggunakan model think, pair, sharedan time token, maka ada 18 atau 75% siswa menyatakansenang dan merasa terbantu dalam memahamimateri khususnya melatih keberanian mengemukakanpendapat di depan kelas. Ada 6 atau25% siswa yang menyatakan hanya agak senangdalam mengikuti kegiatan pembelajaran denganmodel ini, alasan mereka adalah karena harus dipaksauntuk tampil ke depan berani mengemukakanpendapat, hal ini menurut mereka membuatperasaan menjadi tegang dan perlu pembiasaan.Jawaban siswa ketika diminta menuliskanmasukan yang membangun untuk penyempurnaanpembelajaran dengan model think, pair, share dantime token, maka sebagian besar siswa menyatakanbahwa pembelajaran dengan model ini baik,tetapi mohon untuk diselingi dengan “sesuatu” agartidak tegang, khususnya pada saat time token. Menyikapihal ini, pada pembelajaran siklus II, penelitimemasukkan “selingan game“ dalam pembelajarandan hasilnya cukup membantu dalam mencairkansuasana.Jawaban siswa hampir sama ketika ditanyakanapakah pembelajaran dengan menggunakanmodel think, pair, share dan time token dapat meningkatkanpenguasaan materi dan keterampilan/keberanian mengemukakan pendapat, semua siswamenyatakan bahwa yang paling dirasakan adalahadanya peningkatan keberanian untuk mengemukakanpendapat di hadapan teman-teman di


Model Cooperatif Think-Pair-Shar dan Time Token 43Terjadi kenaikan yang cukup berarti baikhasil belajar maupun tingkat keberanian siswa mengemukakanpendapat di depan teman-temannya.Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa pembelajarandengan menggunakan model think-pairsharedan time token bisa menjadi alternatif solusiatas permasalahan keberanian siswa yang masihrendah pada kemampuannya mengemukakan pendapatdi depan umum.PENUTUPSimpulanBerdasarkan hasil penelitian dan pembahasan,dapat disimpulkan bahwa pembelajaran denganmenggunakan model think-pair-share dantime token dapat dilaksanakan dengan mudah dandapat meningkatkan minat serta gairah siswa untuksecara aktif mengikuti pembelajaran. Pembelajaranpada kompetensi dasar mengaktualisasikan kemerdekaanmengeluarkan pendapat secara bebas danbertanggungjawab di kelas VII B SMP Negeri 7Tegal menggunakan model think-pair-share dantime token dapat meningkatkan hasil belajar siswa.Peningkatan perilaku siswa, khususnya keberaniansiswa tampil di depan kelas, sudah mulai Tampak,ada peningkatan yang signifikan pada perubahantingkah laku siswa, khususnya keberaniannyadalam mengemukakan pendapat di muka umum.SaranSaran yang dapat diberikan peneliti berdasarkansimpulan hasil penelitian adalah kepadapara siswa hendaknya terus menumbuhkan keberanianmenyampaikan pendapat, aktif dan kreatifdalam pembelajaran, memiliki rasa setia kawan,kerja sama dan tanggung jawab, meningkatkanhasil pembelajaran dan berprestasi tinggi. ParaGuru di Indonesia hendaknya terus meningkatkankreativitas dan kinerjanya, menciptakan suasanayang kondusif dan menyenangkan dalam pembelajarandan mendukung tercapainya tujuan pembelajaranyang telah di rencanakan. Pembelajarandengan menggunakan model think-pair-share dantime token bisa dijadikan alternatif untuk melaksanakanpembelajaran sesuai tujuan yang direncanakan.Sekolah di Indonesia terus dapat meningkatkanmutu pendidikan dan layanannya, hasil penelitianini dapat dijadikan acuan dalam menentukankebijakan tentang peningkatan kualitas pembelajarandi sekolah.DAFTAR PUSTAKAArikunto, Suharsimi, dkk., 2006. PenulisanTindakan Kelas. Jakarta : PT Bumi AksaraDepdiknas RI. 2005. Materi Pelatihan TerintegrasiPendidikan Kewarganegaraan. Jakarta:Dirjen DikdasmenMajelis Permusyawaratan Rakyat. 2007. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia1945. Jakarta. Sekretariat Jenderal MPR RI.Peraturan Menteri Pendidikan Nasional N0 22Tahun 2006 tentang Standar Isi untukSatuan Pendidikan Dasar dan Menengah.Prijanto Sugeng dkk., 2008. PendidikanKewarganegaraan. Jakarta: Aneka IlmuRusmayadi Asep. 2009. Menumbuhkan KeberanianBertanya/BerpendapatdenganMenggunakan Model Kartu Bertanya(Question Card) di Kelas VIII C SMP Negeri12 Surabaya Tahun Pelajaran 2008 / 2009.Surabaya: Perpustakaan Jurusan PMP-KNUnnesa.Silberman Melvin. 1996. Active Learning 101 CaraBelajar Siswa Aktif. Terjemahan dari “ActiveLearning: 101 Strategies to Teach AnySubject” (1996). Boston: Allyn and Bacon.Sumarno, 2011. Peningkatan KeberanianMengemukakan Pendapat melaluiPendekatan Team Game Tournament PadaPembelajaran Hakikatdan ArtiPenting Hukum Mata Pelajaran PendidikanKewarganegaraan Kelas VII SMP Negeri 1Slawi Kabupaten Tegal Tahun 2010/ 2011, Pedagogik Jurnal Pendidikan DasardanMenengah, Volume 5 Nomor1, Januari 2011. Laboratorium BacaTulis Universitas Negeri Semarang.Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran InovatifBerorientasiKonstruktivistik.Surabaya: Prestasi Pustaka Publisher.Undang-undang tentang Sistem PendidikanNasional. Bandung: Nuansa AuliaUndang-Undang Tentang MengemukakanPendapat di depan Umum. Jakarta.DEPHUMKAM RI.


44 METODIKA Volume 1 Nomor 3Yuanita, Eva. 1998. Model Pembelajaran TimeToken Arends. http://rhum4hnd3soq.blogspot.com. (diunduh pada tanggal 27Januari 2011)


PENINGKATAN KOMPETENSI MENGHITUNG LUAS SISI DAN VOLUMEBANGUN RUANG MELALUI STRATEGI PEMECAHAN MASALAH IDEALDENGAN PEMODELAN PADA SISWA KELAS VIII.1 SMP NEGERI 1 SLAWISEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2010/2011Sumarno*)Abstrak: Dengan pemodelan bangun ruang, rendahnya pemahaman terhadap prisma danlimas, motivasi belajar, dan aktivitas siswa diselesaikan melalui strategi pemecahan masalahIDEAL (Identify, Define, Explore, Act on the Strategy, Look Back and Evaluate). Tujuanpenelitian ini untuk meningkatkan kemampuan menghitung luas sisi, volume prisma danlimas, motivasi dan keaktivan siswa. Penelitian ini menggunakan dua siklus, tiap siklusterdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Rata-rata hasil tes pada siklus Iadalah 66,80 (ketuntasan 52,00%), meningkat menjadi 87,68 (ketuntasan 91,67%).Kata kunci: strategi pemecahan masalah IDEAL, pemodelan, kerja kelompokPENDAHULUANMata pelajaran matematika adalah salahsatu isi muatan kurikulum wajib pada jenjang pendidikandasar sampai pendidikan tinggi, bahkan sejakTaman Kanak-kanak (TK) seseorang siswa telah dikenalkansimbol-simbol obyek matematika berupalambang-lambang bilangan yang berhubungan eratdengan kegiatan sehari-hari. Konsep-konsep dasaroperasi matematika mulai dikenalkan pada usia itu.Tanpa kita sadari ternyata kita sudah mengenalkanoperasi dasar pada matematika kepada anak-anakkita. Walaupun konsep-konsep dasar matematikatersebut sudah kita kenalkan kepada anak-anak kitasejak usia dini, tetapi ternyata hal itu belum menghasilkanpencapaian pemahaman konsep matematikayang baik serta siswa belum terampil secaramaksimal dalam memecahkan masalah matematika.Ternyata matematika sampai saat ini masihmenjadi mata pelajaran yang kurang diminati, bahkancenderung ditakuti oleh siswa.Permasalahan pembelajaran mata pelajaranmatematika berpengaruh pada mata pelajaran IlmuPengetahuan Alam dan mata pelajaran lainnya.Matematika adalah ratu dan pelayan ilmu, berartibahwa ilmu matematika mendasari perkembanganilmu pengetahuan lain. Perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi suatu bangsa tidak akan tercapaidengan baik apabila ilmu matematika kurangdiminati dan difahami warga bangsa tersebut. Olehkarena itu permasalahan pembelajaran matematikasangat mendesak untuk dicari penyelesaiannya.Salah satu materi yang membuat siswasulit memahaminya adalah materi bangun ruangpada pelajaran matematika SMP kelas VIII semestergenap. Dalam materi geometri ini siswa diharapkanuntuk membayangkan bangun ruang danmemecahkan masalah yang ada. Dari hasil nilai rata-rataulangan harian matematika di kelas VIIISMP Negeri 1 Slawi pada kompetensi dasar menghitungluas sisi, volume prisma dan limas tahun sebelumnyaadalah 71,80, ada 14 peserta didik masihdi bawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)yang ditetapkan, yaitu 75.00. Dengan data ini tentunyadapat dijadikan bahan evaluasi kegiatan pembelajaranoleh sekolah dan utamanya oleh gurubahwa pembelajaran pada kompetensi dasar itumasih ada masalah yang harus diselesaikan.Beberapa faktor mempengaruhi rendahnyakemampuan siswa dalam memahami konsep-konsepdasar bangun ruang. Faktor-faktor itu diantaranya,lemahnya abstraksi siswa dalam mengamatibangun datar dan bangun ruang, suasana kelasyang membosankan, kurang variasinya metodepembelajaran matematika, dan faktor lain yanglebih komplek. Hal itu berdampak pada rendahnyamotivasi siswa dalam belajar, rendahnya keaktifansiswa dalam pembelajaran matematika. Oleh karenaitu guru wajib berusaha secara optimal menciptakanpola pembelajaran yang baik, sehinggadengan usaha itu karakteristik dan konsep-konsepmatematika dapat difahami oleh siswa.*) Guru Matematika SMPN 1 Slawi Kabupaten Tegal


Strategi Pemecahan Masalah IDEAL 47siswa. Penelitian ini relevan dengan penelitian yangsedang diusulkan karena sama-sama menggunakanstrategi pemecahan masalah pada materi geometri.Suhariyanto (2007, 22) pembelajaran menggunakanmedia benda benda kongkrit dan lembarkegiatan siswa dapat meningkatan aktivitas siswadalam belajar, meningkatkan pemahaman konsepgeometri dan meningkatkan hasil belajar siswa.Penelitian ini juga relevan dengan penelitian inikarena membangun pemahaman siswa denganpraktek nyata pada bangun geometri tersebut.Dalam Permendiknas No.41 tahun 2007 disebutkanbahwa kompetensi dasar adalah sejumlahkemampuan yang harus dikuasai peserta didikdalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunanindikator kompetensi dalam suatu pelajaran.Sehingga peningkatan kompetensi menghitungadalah suatu proses, cara, usaha, atau kegiatanuntuk meningkatkan kemampuan pesertadidik dalam mencari jumlah, tambah, kali, bagi daribeberapa bilangan yang diketahui.Jaggy (2005,184) menyatakan bahwa “Prismis a solid, usually made of a glass, having congruentparallel faces (called bases) and a set of rectangles(called lateral faces) formed by a joiningcorresponding vertices of bases”. Prisma adalahsebuah bangun ruang, biasanya terbuat dari kaca,mempunyai sisi sama dan sebangun yang sejajar(disebut alas) dan sebuah himpunan persegi panjang(disebut sisi tegak) dibentuk oleh hubunganyang sesuai dari titik sudut alas. Selanjutnya menurutJaggy (2005,188) bahwa “Pyramid is a solidwith base as polygon and other face are triangleswith common vertex”. Limas adalah sebuah bangunruang dengan alas berbentuk segi banyak dan sisilainnya berbentuk triangle yang bertemu pada satutitik sudut.Menurut Polya dalam TIM MKBM UI(2001,115) bahwa ada 4 langkah pemecahan masalahmatematika: (1) memahami masalah, (2) merencanakanpenyelesaian, (3) menyelesaikan masalah,dan (4) memeriksa kembali. Polya adalahtokoh strategi pemecahan masalah dalam pembelajaranmatematika. Setiap langkah pemecahanmasalah maka senantiasa menggunakan garisbesar konsep strategi pemecahan masalah Polya.Krismanto (2003,6) menyatakan bahwa adabeberapa strategi yang sering digunakan dalam pemecahanmasalah: (1) membuat Diagram, (2) mencobakanpada soal yang lebih sederhana, memecahtujuan dll. Cara-cara yang sering digunakanuntuk memecahkan masalah dan kemudian masalahtersebut dapat di selesaikan dinamakan strategipemecahan masalah. Ada beberapa strategi pemecahanmasalah matematika diantaranya: strategibelajar berbasis masalah, strategi pembelajaraninquiri, strategi pemecahan masalah IDEAL danlainnya.Selanjutnya menurut Wena (2008,88) bahwaStrategi pemecahan masalah berisikan langkahlangkahIdentify the Problem, Define the problem,Explore Solution, Act on the strategy, Look the backand evaluate the effect (IDEAL). Strategi pemecahanmasalah IDEAL adalah bahwa dalam menyelesaikanmasalah dapat melakukan strategi inisecara urut (identifikasi masalah, menemukan/ memahamimasalah, mencari cara-cara penyelesaiannyayang mungkin, melakukan penyelesaianmasalah dan melihat kembali untuk mengevaluasijawaban sebelumnya). Pembelajaran geometri padamata pelajaran matematika diantaranya banyakmelibatkan bangun-bangun ruang yang membutuhkankemampuan siswa untuk membayangkanbenda nyatanya. Oleh karena itu pemanfaatan mediaberupa model bangun ruang sangat dibutuhkandalam pembelajaran materi ini untuk meningkatkanpemahaman siswa tentang konsep bangun ruang.Dengan memahami konsep-konsep bangun ruangmaka siswa kan mudah dalam pemecahan masalahbangun ruang.Smith (2010,117) menyatakan bahwa adatiga tahapan Teori Belajar Bruner, yaitu (1) Enactif,(2) Iconik, dan (3) Symbolic. Tiga tahapan tersebuttersebut tentunya bersesuaian dengan perkembangankognitif siswa. Penggunaan alat peragaberupa model-model bangun ruang akan sangat dibutuhkanbagi siswa yang belum sampai pada tahapansymbolic. Dengan model tersebut akan me-


48 METODIKA Volume 1 Nomor 3nambah kecepatan siswa dalam memahami soaldalam pembelajaran bangun ruang.Hal senada juga disampaikan Pike dalamSilberman (2009,3) bahwa dengan menambahkanmedia visual pada pembelajaran akan menaikkaningatan dari 14% menjadi 38%. Disampaikan puladalam penelitiannya bahwa waktu yang digunakandalam pembelajaran berkurang 40%. Denganmengaktifkan berbagai panca indra maka akan bertambahpemahaman siswa tentang materi yangsedang dipelajari.John (2006) menyatakan bahwa aspekaspekmotivasi belajar siswa terhadap pembelajaran,yaitu (1) Perhatian (Attention), (2) Relevansi(Relevance), (3) Percaya Diri (Confidence), (4) Kepuasan(Satisfaction). Motivasi belajar siswa perlu ditingkatkandalam rangka memaksimalkan keterlibatansiswa dalam pembelajaran dalam rangkamembangun pemahaman materi geometri.Kerangka berpikir peneliti tentang penelitianini bahwa kurangnya ketrampilan siswa dalam memecahkanmasalah menghitung luas sisi dan volumebangun ruang adalah akibat dari rendahnya kemampuanmembayangkan konsep bangun ruang.Bangun ruang yang hanya diajarkan dengan lisandan cenderung hafalan tidak akan menghasilkanpemahaman yang maksimal. Berdasarkan teoriteoriyang tertulis di kajian teoretis, maka peningkatankompetensi siswa dalam menghitung luas sisidan volume bangun ruang prisma dan limas dapatditingkatkan dengan menggunakan media atau alatbantu dalam rangka menambah pemahaman siswa.Pemodelan bangun ruang prisma dan limas secaraberjenjang akan sangat dibutuhkan sebelum pemecahanmasalah secara sistematis dengan strategipemecahan masalah IDEAL.Sementara itu, pembelajaran kelompok dalampenyelesaian masalah akan menambah keberaniansiswa untuk bertanya kepada temannya tentangmateri yang tidak diketahuinya. Siswa dalamkelompok dapat berlatih komunikasi dan berlatihberdiskusi di dalam kelompok. Siswa akan lebihaktif berpartisipasi dalam pembelajaran dan tumbuhmotivasi belajar, sehingga diharapkan pemahamantentang materi yang sedang ia pelajari akan meningkatdan hasil belajar akan meningkat pula.Hipotesis dalam penelitian ini adalah berdasarkantinjauan pustaka diatas, dirumuskanlahhipotesis tindakan sebagai berikut: “Melalui strategipemecahan masalah IDEAL dengan pemodelan bangunruang akan meningkatkan kompetensi menghitungluas sisi dan volume bangun ruang prismadan limas”METODE PENELITIANSubjek dalam penelitian tindakan kelas iniadalah kompetensi menghitung luas sisi dan volumebangun ruang siswa kelas VIII. Adapun sumberdata siswa kelas VIII.1 dengan jumlah siswa 25siswa, yaitu 13 siswa perempuan dan 12 siswa lakilaki.Kelas ini merupakan salah satu dari delapankelas VII di SMP Negeri 1 Slawi Kabupaten Tegal.Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakandalam dua siklus, yaitu tindakan pada siklus I danpada siklus II. Masing-masing siklus terdiri atasempat tahap, yaitu perencanaan (planing), tindakan(doing), pengamatan (observation), dan refleksi(reflection). Pembelajaran pada siklus II merupakanperbaikan pembelajaran hasil dari refleksi pembelajaranpada siklus I.Instrumen yang digunakan dalam penelitianini terdiri dari dua jenis, yaitu instrument tes dannontes. Instrumen tes yang digunakan dalam penelitianini adalah tes kuis yang dilakukan pada setiapakhir pertemuan dalam pada siklus pembelajaran.Penskoran terhadap jawaban siswa dalam tes kuisdengan memperhatikan langkah-langkah kerja siswadalam menyelesaikan soal sesuai dengan langkah-langkahstrategi pemecahan masalah IDEALdengan pemodelan bangun ruang secara berjenjang.Adapun instrumen nontes merupakan alatpengumpul data untuk mendukung data tes agarlebih valid. Instrumen nontes ini untuk mengetahuitingkah laku siswa selama pembelajaran berlangsung.Instrumen nontes yang digunakan dalampenelitian ini adalah (1) angket aktivitas siswa dalamkelompok, (2) angket aktivitas siswa dalamkelas, (3) angket motivasi siswa terhadap prosespembelajaran, (4) catatan harian siswa dan guru


Strategi Pemecahan Masalah IDEAL 49untuk mengungkapkan kesan dan segala hal yangdirasakan oleh siswa dan guru selama mengikutipembelajaran, (5) wawancara yang digunakanuntuk mengetahui hal-hal yang dirasakan siswa selamapembelajaran dilaksanakan, dan (6) dokumentasifoto yang digunakan sebagai laporan yangmenggambarkan aktivitas siswa selama mengikutipembelajaran.Kegiatan pembuatan model bangun ruangprisma dan limas dari kertas karton dilakukan padakegiatan awal (prasiklus). Tujuan kegiatan awal iniadalah untuk mengurangi rendahnya imajinasisiswa dalam melihat permasalahan bangun ruang.Kegiatan lain pada prasiklus ini adalah mempersiapkansiswa siap melakukan kegiatan mengerjakantugas dalam kelompok kecil. Pemilihanteman dalam satu kelompok yang sesuai dengankeinginan siswa perlu dilakukan untuk menjadikansiswa lebih nyaman dalam kerja kelompok.Pada siklus I, kegiatan pembelajaran diarahkanoleh guru agar siswa melakukan kegiatanpemecahan masalah dengan strategi pemecahanmasalah IDEAL (Identify the problem, Define theproblem, Explore solution, Act on the strategy, Lookthe back and evaluate the effect). Pemecahanmasalah tersebut dibantu pemecahannnya denganpemodelan bangun ruang secara berjenjang, yaitudengan (1) membuat bangun ruang dengan menggambardi buku tulis, (2) menggambar bagian bangunruang tersebut menjadi bagian-bagian lebihkecil, (3) menggambar bagian bangun ruang tersebutmenjadi bagian-bagian lebih kecil lagi apabilapermasalahan soal tersebut masih membutuhkanpemecahan bagian yang lebih kecil, (4) membuatmodel bangun ruang dan jaring-jaringnya denganmenggunakan kertas karton atau bahan lainnya.Setelah siswa diberikan pengarahan langkah penyelesaianmasalah, siswa berkelompok sesuai kelompoknya.Siswa diberi penjelasan pengisianformat pengamatan aktivitas temannya dalam kelompok.Lima menit di akhir pembelajaran padasiklus I pertemuan ke-1 dan ke-2, siswa diberikantes kuis untuk mengukur kemampuan menghitungluas sisi, volume prisma dan limas.Kegiatan selanjutnya pengumpulan angketmotivasi siswa, catatan harian siswa dan wawancarauntuk direfleksikan hasilnya. Refleksi dari pembelajaranpada siklus I, bahwa masih ada beberapasiswa mengalami kesulitan menentukan bagian-bagianbangun ruang yang berbentuk bangun datar.Dari data hasil pada siklus I diketahui bahwa masihbanyak siswa yang kurang dapat memaksimalkanstrategi ini, siswa yang belum berusaha mengidentifikasibagian bangun ruang itu dan membuatmodel bagian kecil dari bangun ruang tersebut agarlebih mudah mereka fahami. Masih ada sebagiankecil siswa yang menutup diri dan tidak mau tanyakepada temannya, hal ini dapat diamati guru penelitidari pengamatan guru, sosiometri siswa dantulisan jawaban mereka yang tidak relevan dengansoal.Pada siklus II, guru peneliti melakukan tindakanmenekankan penggunaan strategi pemecahanmasalah IDEAL dengan pemodelan bangunruang. Guru lebih intensif memberikan bantuan kepadasetiap kelompok dalam strategi ini, mengharapkandan bahkan mengharuskan siswa menggambarjaring-jaring bangun ruang prisma danlimas agar lebih mudah memahami bangun ruangtersebut dan agar setiap kelompok lebih aktifdalam pembahasan soal dikelompoknya. Lima menitdi akhir pembelajaran pada siklus II pertemuanke 1 dan ke 2, siswa diberikan tes kuis untukmengukur kemampuan menghitung luas sisi, volumeprisma dan limas. Kegiatan selanjutnya pengumpulanangket motivasi siswa, catatan hariansiswa dan wawancara untuk direfleksikan hasilnya.Secara umum pada kegiatan pembelajaran Padasiklus II, siswa sudah mulai maksimal memusatkanperhatian pada kegiatan pembelajaran. Hal ini terlihatantusias dalam mencari solusi dan mengerjakansoal.Teknik tes digunakan untuk analisis datanilai tes yang dilaksanakan di akhir pertemuan.Jumlah soal ada 2 buah setiap pertemuan danpenskoran nilai jawaban siswa dengan skor 5 padamasing-masing butir soal. Hasil penilaian tes kuisdicatat pada tiap-tiap pertemuan pada siklus I danII, dan selanjutnya dianalisis, serta tindak lanjut.


50 METODIKA Volume 1 Nomor 3Teknik non tes digunakan untuk mengetahui perilakusiswa selama mengikuti pembelajaran. Teknikdiskripsi perilaku ekologis siswa berfungsi untukmengolah data nontes. Instrumen yang digunakanadalah lembar observasi siswa oleh guru kolaborator.Pengambilan data perilaku ekologis siswadilakukan pada saat pembelajaran berlangsung,guru kolaborator mencatat hasil pengamatannya kedalam lembar observasi sebagai bahan refleksi.Sosiometri merupakan instrumen yang digunakanuntuk mengetahui hubungan siswa dalam kelompoknya.Pengisian lembar aktivitas siswa olehsiswa sendiri dianggap lebih valid karena siswayang melakukan sendiri kegiatan diskusi kelompoknyasedangkan guru peneliti dan guru kolaboratorhanya mengamati dari luar kelompoknya.Teknik pengambilan data motivasi siswa terhadapproses pembelajaran. Pengambilan data dilakukanpada akhir setiap pembelajaran, dengancara siswa mengisi sejumlah angket pertanyaanyang berhubungan dengan motivasi siswa. Sedangkanpengisian lembar catatan guru dan siswa jugadilakukan di akhir pembelajaran. Teknik pelaksanaanwawancara terhadap kegiatan pembelajarandilakukan pada akhir siklus I dan siklus II. Wawancaradilakukan terhadap 10 siswa, yang terdiri darisiswa berkemampuan tinggi, sedang dan rendahdengan pemilihan secara acak. Data wawancara dicatatoleh peneliti dan kemudian dideskripsikanpada akhir penelitian. Teknik pengambilan dokumentasifoto adalah dengan melakukan pengambilangambar pada saat-saat pembelajaran berlangsung,yaitu (1) saat siswa bekerja di kelompoknya,(2) saat siswa mempresentasikan hasil kerja kelompokke kelas, (3) saat tes singkat/ kuis. Pengambilandokumentasi foto ini dilakukan oleh guru kolaboratorsehingga tidak menganggu pelaksanaanpembelajaran.Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisisdata kuantitatif yang berupa data tes kuis.Hasil tes dihitung secara persentase kemudian dibandingkandengan KKM yang ditetapkan dan perbandinganhasil nilai antara siklus I dan siklus II.Hasil pembandingan ini akan memberikan diskripsipersentase peningkatan rata-rata hasil tes danketuntasan setiap siklusnya. Teknik analisis kualitatifdigunakan untuk menganalisis data nontesseperti deskripsi perilaku ekologis, aktivitas siswadalam kelompok/ sosiometri, motivasi siswa, catatanharian siswa dan guru, wawancara terhadapsiswa dan guru, dan dokumentasi foto untuk mengetahuiperubahan perilaku siswa pada siklus Idan siklus II.Indikator kinerja dalam penelitian ini ada duaaspek, yaitu indicator kuantitatif dan kualitatif. Indikatorkuantitatif penelitian ini, yaitu penelitian dikatakanberhasil apabila telah mencapai nilai ratarataklasikal lebih atau sama dengan 75. Indikatorkualitatif untuk pembelajaran adalah adanya perubahanperilaku ke arah positif, yaitu (1) motivasi siswa,(2) keaktifan siswa dalam kelompok, (3) keaktifansiswa dalam kelas.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYAHasil penelitianDalam kegiatan pembelajaran pada siklus Ipertemuan ke-1 dan pertemuan ke-2, peneliti berusahamemaksimalkan pemahaman siswa tentangbangun ruang prisma dan limas. Cara yang ditempuhdiantaranya melalui strategi pemecahanmasalah IDEAL, yaitu berusaha agar sisi dapatmengidentifikasi masalah, mendefinisikan masalah,mencari cara pemecahan masalah, melaksanakanstrategi, dan melihat kembali dan mengevaluasihasil yang diperoleh. Cara berikutnya adalah denganberusaha membuka pemahaman siswa tentangbagian-bagian bangun ruang prisma dan limas,dengan cara membongkar dan menggambarbagian-bagian kecil dari bagun tersebut sehinggamudah untuk difahami. Cara lain yang dilakukanoleh guru peneliti adalah berusaha memberdayakansiswa yang telah mempunyai kemampuan tinggidalam memahami permasalahan matematika untukmembagikan ilmunya kepada teman-temannyadalam kelompok kecil. Usaha ini juga dimaksudkanagar siswa yang memiliki kemampuan kurangdalam pemahaman permasalahan matematika dankurang berani bertanya kepada guru dapat bertanyakepada temannya yang lebih mampu. Harapan


Strategi Pemecahan Masalah IDEAL 51usaha guru peneliti ternyata cukup ampuh untukmerubah pemahaman dan kompetensi siswa dalammenghitung luas sisi, volume bangun ruang prismadan limas. Perubahan hasil tes kuis dalam kegiatanpembelajaran pada siklus I dan II sebagai berikut:Tabel 1. Peningkatan Kemampuan Menghitung Luas Sisi dan VolumeBangun Ruang Prisma dan LimasRata-rata Nilai pada siklus I Rata-rata Nilai pada siklus II PeningkatanPert. ke-1 Pert. ke-2 Pert. ke-1 Pert. ke-2 Siklus I ke II58.2 75.4 81,40 93,96 31,3%66.8 87,68 31,3%Dari Tabel 1 tentang Peningkatan KemampuanMenghitung Luas Sisi dan Volume BangunRuang Prisma dan Limas, dapat dilihat bahwa hasiltes kuis dalam kegiatan pembelajaran kompetensimenghitung luas sisi, volume bangun ruang prismadan limas pada siklus I pertemuan ke-1 dan pertemuanke-2 dan dilanjutkan pembelajaran pada siklusII pertemuan ke-1 dan pertemuan ke-2 telahmenghasilkan perubahan nilai tes kuis yang berarti.Nilai rata-rata pada siklus I pertemuan ke-1 sebesar58,2 dengan ketuntasan 32,00% dan masih ada 17siswa belum memenuhi nilai KKM. Nilai rata-ratapada siklus I pertemuan ke-2 sebesar 75,4 denganketuntasan 52,00% dan masih ada 12 siswa belummemenuhi nilai KKM. Nilai rata-rata pada siklus IIpertemuan ke-1 sebesar 81,4 dengan ketuntasan68,00% dan masih ada 8 siswa belum memenuhinilai KKM dan nilai rata-rata pada siklus II pertemuanke-2 sebesar 93,96 dengan ketuntasan91,67% dan masih ada 2 siswa belum memenuhinilai KKM.Peningkatan perubahan perilaku siswa kearah yang positif dari siklus I ke siklus II. Hal tersebutditunjukkan dari hasil nontes yang meliputi: perubahanperilaku ekologis, perubahan aktivitas siswadalam kelompoknya (sosiometri), catatan hariansiswa, dan hasil wawancara. Berikut ditunjukkanperubahan tingkah laku ekologis siswa selama kegiatanpembelajaran pada siklus I dan siklus II.Tabel 2. Perubahan Tingkah Laku Positif Berkaitan denganPerilaku Ekologis SiswaPERILAKU POSITIFPeningkatanPADA PADAPada siklus I ke PadaSIKLUS I SIKLUS IIsiklus IIAntusias 80% 100% 20%Aktif dalam Kelompok 90% 100% 10%Respon Positif 80% 90% 10%Aktif Tanya/Jawab 70% 90% 20%Menggunakan Strategidengan Baik70% 80% 10%Rata-rata 78% 92% 14%Dari data Tabel 2 tentang Perubahan TingkahLaku Positif berkaitan dengan Motivasi Siswa,tercatat perubahan perilaku positif siswa dari kegiatanpembelajaran pada siklus I sebesar 78% darikeseluruhan siswa berperilaku positif menjadi 92%dari keseluruhan siswa berperilaku positif pada kegiatanpembelajaran pada siklus II. Hal ini berartiada peningkatan perilaku positif sebesar 14% seba-


52 METODIKA Volume 1 Nomor 3negatif siswa dari kegiatan pembelajaran padasiklus I sebesar 44% dari keseluruhan siswa berperilakunegatif menjadi 38% dari keseluruhan siswaberperilaku positif pada kegiatan pembelajaranpada siklus II.gai dampak guru menggunakan strategi pemecahanmasalah IDEAL dengan pemodelan bangunruang prisma dan limas.Perubahan Tingkah Laku Negatif berkaitandengan Perilaku Ekologis Siswa, terlihat dalam Tabel3 dan Diagram 3. Tercatat perubahan perilakuTabel 3. Perubahan Tingkah Laku Negatif Berkaitan denganPerilaku Ekologis SiswaPenurunanPERILAKU NEGATIF SIKLUS I SIKLUS II siklus I ke Padasiklus IITidak Memperhatikan 50% 30% 20%Pasif dalam Kelompok 50% 30% 20%Respon Negatif 40% 40% 0%Tidak Aktif Tanya/Jawab 40% 40% 0%Melakukan Kegiatan Sia-sia 40% 50% -10%Rata-rata 44% 38% 6%Diagram 3. Perubahan Tingkah Laku Negatif berkaitanDengan Motivasi SiswaDalam mengamati aktivitas siswa dalam kelompokkerjanya, guru peneliti memberdayakansiswa untuk berusaha mengamati dan mencatat aktivitasdua temannya. Cara ini cukup efektif daripadaguru peneliti mengamati dan mencatat aktivitasdalam kelompok mereka. Di samping itu, guru bisamengoptimalkan pemberian bimbingan ke seluruhkelompok kerja, guru juga tidak direpotkan kegiatantersebut dalam pembelajaran. Cara ini memotivasisiswa untuk berusaha aktif dalam pembelajaran.Berikut ini ditampilkan hasil rekap rata-rata aktivitassiswa dalam kelompok kerjanya.Diagram 4. Perubahan Tingkat Aktivitas Siswa dalam Kelompok


Strategi Pemecahan Masalah IDEAL 53Dari Diagram 4 tentang Perubahan TingkatAktivitas Siswa dalam Kelompok dapat diperolehinformasi bahwa ada perubahan rata-rata tingkataktivitas siswa dalam kelompoknya, pada siklus Isebesar 41,4% dari seluruh siswa aktif dalamkelompoknya menjadi 51,0% dari seluruh siswaaktif dalam kelompoknya pada siklus II. Peningkatanaktivitas siswa dalam kelompoknya darisiklus I ke siklus II sebesar 9,6%.Aktivitas siswa ini masih perlu ditingkatkan karenamasih dalam kategori cukup. Aktivitas ini tentunyaterbentuk sebagai dampak dari motivasi yang tinggidari siswa dan pengelolaan guru.Dalam rangka merekam seberapa tinggimotivasi belajar siswa dilakukan pengisian lembarangket motivasi siswa terhadap materi dan kegiatanpembelajaran yang dilaksanakan. Dari hasil isianlembar motivasi siswa diperoleh data sebagaiberikut.Diagram 5. Perubahan Tingkat Motivasi SiswaDari data Diagram 5 tentang PerubahanTingkat Motivasi Siswa, terlihat Dengan melihatDiagram 5 tersebut ada perubahan tingkat motivasisiswa terhadap kegiatan pembelajaran kompetensimenghitung luas sisi dan volume bangun ruangprisma dan limas melalui strategi pemecahan masalahIDEAL dengan pemodelan bangun ruang secaraberjenjang pada siswa kelas VIII.1. Tercatattingkat rata-rata motivasi siswa yang terdiri dari (1)Perhatian (Attention), (2) Relevansi (Relevance), (3)Percaya Diri (Confidence), (4) Kepuasan (Satisfaction),pada siklus I sebesar 79,3% menjadi 79,9%pada siklus II.Data tersebut perlu mendapatkan evaluasidan tindak lanjut guru mata pelajaran untuk meningkatkanmotivasi siswa untuk meningkatkan perhatiansiswa, membuat relevansi materi dengan lingkungan,membentuk siswa agar percaya diri dan


54 METODIKA Volume 1 Nomor 3membangun kepuasan siswa. Cara-cara kreatifguru perlu dicobakan untuk meningkatkan motivasidan pada akhirnya berdampak pada meningkatnyaaktivitas siswa dalam pembelajaran serta meningkatkanprestasi dan ketuntasan belajar siswa.Perubahan-perubahan lain dari kegiatanpembelajaran ini dapat dilihat dari hasil catatanharian siswa dan wawancara. Dalam data catatanharian siswa dan hasil wawancara tercatat bahwasebagian besar siswa sudah tertarik dengan penggunaanstrategi pemecahan masalah IDEAL denganpemodelan dan mengharapkan strategi inidapat dikembangkan pada materi-materi lain. Kesulitan-kesulitanyang dihadapi siswa ternyata sebagianberasal dari kurang jelasnya siswa dalammemahami soal yang mereka hadapi. Oleh karenaitu usaha untuk meningkatkan pemahaman siswaperlu dilakukan. Harapan agar strategi pemecahanmasalah dengan bermain game dan suasanamenyenangkan perlu dilkukan oleh guru dalamrangka menjadikan matematika sebagi mata pelajaranyang diminati dan disenangi siswa.PENUTUPSimpulanSimpulan dari penelitian ini adalah sebagaiberikut: (1) kompetensi siswa terhadap materi pembelajaranmeningkat setelah mengikuti pembelajaranmelalui strategi pemecahan masalah IDEALdengan pemodelan bangun ruang secara berjenjang,terlihat dari nilai rata-rata pada siklus I sebesar66,8 dalam kategori kurang meningkat 20,88menjadi 87,68 pada siklus II dalam kategori baikdengan ketuntasan belajar siswa dari siklus Isebesar 52,00% meningkat 39,67% menjadi91,67%; (2) perubahan perilaku ekologis siswaselama pembelajaran terjadi peningkatan untuktingkah laku positif, dari rata-rata berperilaku positifpada siklus I sebesar 78% meningkat 14% menjadi92% pada siklus II, sedangkan penurunan tingkahlaku negatif tercatat pada siklus I sebesar 44%turun 6% menjadi 38%; (3) perubahan aktivitassiswa dalam kelompok (sosiometri), dari rata-rataaktivitas siswa dalam kelompok pada siklus Isebesar 41,40% meningkat 9,6% menjadi 51,00%pada siklus II; (4) motivasi siswa terhadap kegiatanpembelajaran materi menghitung luas sisi danvolume prisma dan limas terjadi peningkatan, dari79,3% meningkat 0,6% menjadi 79,8%.SaranSaran yang dapat diberikan penelitiberdasarkan simpulan hasil penelitian sebagaiberikut: (1) para guru matematika khususnya dalampembelajaran pemecahan masalah matematikasebaiknya menggunakan strategi pemecahanmasalah IDEAL yang didukung dengan pemodelanbangun ruang secara berjenjang; (2) guru penelitibidang pendidikan matematika hendaklah selalumengedepankan dalam pemahaman siswa tentangmateri yang mereka pelajari, membaca pikiransiswa dari jawaban yang ditulisnya serta tidakhanya sekedar memvonis siswa dengan vonis yangmenyakitkannya, seperti siswa bodoh, siswa malasdan sebagainya; (3) para peneliti dari pendidikanmatematika hendaknya dapat melakukan penelitianlebih lanjut mengenai masalah yang serupa denganmemilih tindakan yang berbeda dan lebih bervariasiserta mengena pada tujuan pembelajaran agardiperoleh berbagai alternatif baru untuk mengatasimasalah dalam pembelajaran matematika.DAFTAR PUSTAKAAstiti, Fitri Yuni. 2007. Penerapan ModelPembelajaran Berbasis Masalah untukMeningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIIISemester II SMPN 5 Semarang PokokBahasan Bangun Ruang Sisi Datar TahunPelajaran 2006/2007.http://digilib.unnes.ac.id. Diunduh padatanggal 30 Maret 2011.Jaggy, V.P. (2005). Dictionary of Mathematics. NewDelhi: Academic (India) Publisers.Krismanto, Al. (2003). Teknik, Model dan StrategiPembelajaran Matematika. Jogyakarta:P4TK Matematika.Permendiknas No.41 Tahun 2007 tentang StandarProses untuk satuan Pendidikan Dasar danMenengah. Jakarta: Biro Hukum danOrganisasi Depdiknas.


Strategi Pemecahan Masalah IDEAL 55Silberman, Mel. 2009. Active Learning,101 StrategiPembelajaran Aktif. Yogyakarta: InsanMadani.Smith, Mark K. 2002010. Teori Pembelajaran danPengajaran. Jogyakarta: Mirza MediaPustaka.Suhariyanto. 2007. Peningkatan PemahamanKonsep Geometri Melalui PembelajaranKooperatif Menggunakan Media BendaKongkret Dan Lembar Kerja Siswa.blog.unila.ac.id/imadesulatra/files/2009/09/ptk. Diunduh pada tanggal 31 Maret 2011.Supandi. 2009. Optimalisasi Alat Peraga ModelBangun Ruang untuk Meningkatkan HasilBelajar Matematika Tentang Luas BangunRuang Bagi Siswa Kelas 8A SMP Negeri 5Surakarta Semester Genap Tahun2008/2009. http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/26098287.pdf.Diunduh pada tanggal 30 Maret 2011Tim MKPBM Jurusan Matematika UPI. 2001.Strategi Pembelajaran MatematikaKontemporer. JICA UPI Bandung.Wena, Made. 2008. Strategi Pebelajaran InovatifKontemporer suatu Tinjauan KonseptualOperasional. Jakarta: Bumi Aksara.Keller John M. 2006. What is Motivational Design?http:/www.arcmodel. com/pdf. Diunduh padatanggal 10 Maret 2010.


PENINGKATAN PEMAHAMAN MENGHITUNG KELILING DAN LUAS SEGI EMPATMELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TGTPADA SISWA KELAS VII SMP N 2 KLATEN TAHUN 2010/2011Puji Rahayu *)Abstrak: Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bahwa dengan pembelajarankooperatif TGT dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam menghitung keliling dan luassegi empat. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan dua siklus. Subyek penelitiannyaadalah siswa SMP N 2 Klaten kelas VIIE Tahun Pelajaran 2010/2011. Data diambil dari testkognitif, dokumen, angket, pangamatan, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkanpemahaman siswa dalam menghitung keliling dan luas segi empat melalui pembelajarankooperatif TGT meningkat dari 75,00 menjadi 76,67 pada siklus1 dan 79,33 pada siklus2.Ketuntasan klasikal meningkat dari 73,3% menjadi 76,7% pada siklus ke-1 dan 86,7% padasiklus ke-2.Kata kunci: pembelajaran kooperatif, team game tournament (tgt), segi empat.PENDAHULUANMateri Bangun Datar Segiempat merupakanmateri kelas VII semester 2 yang sangat esensialkarena merupakan materi prasyarat untuk materiBangun Ruang Sisi Datar pada kelas VIII danBangun Ruang Sisi Lengkung pada kelas IX. Keberhasilansiswa menguasai kompetensi materi iniakan sangat mendukung keberhasilannya menguasaikompetensi materi Geometri berikutnya. Begitujuga sebaliknya, jika siswa kurang menguasai materiini maka ia akan mengalami kesulitan menguasaikompetensi materi Geometri di kelas VIII dan kelasIX serta pada jenjang pendidikan selanjutnya.Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)Negeri 2 Klaten sebagian besar menganggap bahwamata pelajaran matematika merupakan salahsatu mata pelajaran yang sulit dan kurang menarik.Hal ini diperoleh dari hasil wawancara siswa danditandai dengan rata-rata nilai akhir semester seringmenduduki rangking bawah diantara mata pelajaranyang lain. Hal itu terjadi mungkin karena selama iniproses pembelajaran di kelas dilaksanakan menggunakanmetode konvensional yang monoton, yaitumetode terangkan, catat, & latihan.Model pembelajaran Cooperative Learning(CL) sangat menarik untuk diterapkan, karena memilikibanyak kelebihan. Model CL berbasis kerjasamadan saling ketergantungan antar individu dalamkelompok, ini selaras dengan Empat Pilar Pendidikandari UNESCO yang salah satunya “Howlearn to live together”. Model CL juga dapat memberikanpengalaman belajar dan kecakapan hidup(life skill) karena terbukti mampu meningkatkan kemampuankognitif siswa secara individual danmembangun kerjasama antar anggota dalamkelompok. Bila para siswa belajar secara kooperatif,mereka menjadi pelajar yang bermotivasi danantisias. (Wahyudin 2008:60)Pelaksanaan model pembelajaran kooperatifTGT, sangat cocok untuk mengaktifkan siswadalam pembelajaran, juga sekaligus melatih siswamenyelesaikan soal-soal dengan tepat. Pada saatdiskusi kelompok akan tercipta semangat kerjasamadan saling tutor antar teman dalam satu kelompok.Suasana turnamen akan menumbuhkanberbagai karakter positif, diantaranya sportifitas,kejujuran, ketelitian, dan semangat mencapai hasilterbaik.Melihat keunggulan model pembelajarankooperatif TGT dan masih rendahnya pencapaianhasil belajar matematika materi bangun datar segiempat pada kelas VII padahal merupakan materiyang sangat esensial yang akan digunakan padamateri selanjutnya maka peneliti tertarik menggunakanpembelajaran kooperatif tipe TGT padapembelajaran materi bangun datar segi empat padakelas VII.*) Guru Matematika SMP Negeri 2 Klaten


58 METODIKA Volume 1 Nomor 3Rumusan masalah pada penelitian iniadalah: Apakah penerapan pembelajaran kooperatiftipe TGT (Team Game Tournament) dapat meningkatkanpemahaman menghitung keliling dan luassegi empat pada siswa kelas VII F SMP Negeri 2Klaten tahun pelajaran 2010/2011.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuibahwa dengan pembelajaran kooperatif TGT,pemahaman siswa dalam menghitung keliling danluas segi empat pada siswa kelas VIIE SMP N 2Klaten tahun pelajaran 2010/2011 akan meningkat.Mulai siklus pertama, pemahaman siswa akan meningkat,sehingga pada akhir siklus ke dua dapatmencapai KKM, yaitu 75 dengan ketuntasan lebihdari 85 persen.Manfaat penelitian ini bagi siswa diantaranya1) meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikutipembelajaran matematika, 2) meningkatkan motivasibelajar siswa dan 3) meningkatkan prestasibelajar matematika khususnya materi segi empat.Manfaat bagi guru diantaranya: 1) meningkatnyaketerampilan dan kreatifitas dalam menggunakanmodel pembelajaran yang variatif, 2) untuk memperolehumpan balik pembelajaran terutama untukmengetahui kesulitan siswa dan 3) meningkatnyagairah dan motivasi dalam melaksanakan pembelajaranyang efektif dan efesien.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDA-KANPenelitian sebelumnyaDari hasil penelitian yang dilakukan olehDiyanto, mahasiswa Pendidikan Matematika S1UNNES dalam skripsinya, diperoleh simpulan: 1)Dengan penerapan cooperatif learning tipe TGTpada siswa MTs Filial Al Iman Adiwerna Tegal tahunpelajaran 2005/2006 motivasi dan hasil belajardapat meningkatkan yang ditunjukkan dengankenaikan ketuntasan belajar dari 76,6% menjadi85,3% pada siklus pertama, bahkan menjadi 87,6%pada siklus kedua. 2) Dengan penerapan cooperatiflearning type TGT aktifitas belajar siswa meningkatdan pola pikir anak terbentuk dalam menyelesaikansuatu permainan matematika. Hasil yang hampirsama disimpulkan pula dari penelitian tindakankelas oleh Irham Junaidi yang berjudul “PenerapanStrategi Pembelajaran TGT untuk meningkatkanhasil Belajar Konsep Klasifikasi Invertebrata BagiSiswa Kelas X SMA Negeri Kesasi Tahun Pelajaran2006/2007” dalam jurnal Widyatama edisi 6 tahun2007.Pembelajaran KooperatifPembelajaran kooperatif merupakan strategibelajar dengan sejumlah siswa sebagai anggotakelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda.Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiapsiswa anggota kelompok harus saling bekerjasama dan saling membantu untuk memahamimateri pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif,belajar dikatakan belum selesai jika salah satuteman dalam kelompok belum menguasai bahanpelajaran. Tujuan dari pembelajaran kooperatif adalahmenciptakan situasi di mana keberhasilan individuditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilankelompoknya. (Wahyudin, 2006:60).Dalam pembelajaran kooperatif siswa belajarbersama dalam kelompok-kelompok kecil yangsaling membantu satu sama lain. Kelas disusundalam kelompok yang terdiri dari 3 atau 5 orangsiswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksudkelompok heterogen adalah terdiri dari campurankemampuan siswa, jenis kelamin, dan suku.Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerimaperbedaan dan bekerja dengan teman yang berbedalatar belakangnya. Pada pembelajaran kooperatifdiajarkan keterampilan-keterampilan khususagar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya,seperti menjadi pendengar yang baik,siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaanatau tugas yang direncanakan untuk diajarkan.Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompokadalah mencapai ketuntasan.Beberapa ciri dari pembelajaran kooperatifadalah: 1) setiap anggota memiliki peran, 2) terjadihubungan interaksi langsung di antara siswa, 3) setiapanggota kelompok bertanggung jawab atasbelajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya,4) guru membantu mengembangkan keterampilan-


Pembelajaran Kooperatif TGT 59keterampilan interpersonal kelompok, 5) guru hanyaberinteraksi dengan kelompok saat diperlukan. Tigakonsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajarankooperatif, yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawabanindividu, dan kesempatan yangsama untuk berhasil.Pembelajaran Kooperatif TGTDari makalah model-model pembelajaranoleh tim instruktur LPMP jawa tengah yang disampaikanpada ToT guru pemandu, model pembelajarankooperatif melalui turnamen, lebih banyakdipilih karena waktu relatif lebih singkat dan caramelakukanya relatif lebih mudah dibanding STADdan jigsaw. Untuk kelas-kelas di indonesia, fasefaseTGT dikembangkan dari empat menjadi delapan,yaitu: 1) penjelasan guru ( Teacher presentation),2) pembagian kelompok, yaitu guru membagikelas menjadi kelompok-kelompok berdasarkankriteria kemampuan (prestasi) siswa dari pretes/ulanganharian sebelumnya, jenis kelamin, etnikdan ras. Tiap kelompok beranggotakan 2-4 orang,3) kerja kelompok ( Team study ) Setelah menerimaLKS dari guru, siswa berkerjasama dalam kelompokmasing-masing, diskusi, praktikum atau menjawabsoal-soal pada LKS. 4) bimbingan kelompok/klas(Scafolding), yaitu guru membimbing kerja kelompok,mengamati psikomotorik dan sikap siswa secaraindividual dalam kerja kelompok. 5) Tournament(Quizzes), Guru membagikan kartu soalTournament (Quizzes). Jumlah soal turnamen antara10-20 butir soal. 6) validatio, guru melakukanvalidasi, penjelasan tentang soal dan kunci jalabankuis. Tujuannya memperkuat pemahaman siswaterhadap materi pembelajaran. 7) penghargaan kelompok(Team Recognition )Setelah diperoleh skortiap anggota masing-masing kelompok, kemudiandiadakan rekapitulasi skor dan ditentukan skor kelompok,dan 8) evaluasi oleh guru.Berdasaarkan paparan di atas pembelajarankooperatif tipe TGT merupakan pembelajaran kelompokyang diakhiri dangan permainan danpenghargaan kelompok.Hasil BelajarHasil belajar menurut Abadi (2005:2) adalahperubahan-perubahan prilaku yang diperoleh dariproses belajar, yaitu aktifitas mental yang berlangsungdalam interaksi aktif dengan lingkungandan menghasilkan peubahan-perubahan yangrelatif konstan dan berbekas.Bloom, dalam Abadi (2005:2) mengklasifikasikanhasil belajar menjadi tiga ranah, yaitu ranahkognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah kognitifberorientasi pada kemampuan berfikir. Ranah afektifberhubungan dengan perasaan, emosi, sistemnilai, dan sikap hati yang menunjukkan penerimaanatau penolakan terhadap sesuatu. Sedang ranahpsikomotorik berorientasi pada ketrampilan motorikyang berhubungan dengan anggota tubuh, atautindakan (action) yang memerlukan koordinasi syarafdan otot. Ketiga hasil belajar tersebut dalam dirisiswa tidak berdiri sendiri melainkan merupakansatu kesatuan.Setiap jenis belajar mencakup jenis perilakutertentu, misalnya belajar informasi verbal secarapsikologis berbeda dengan belajar kemahiran intelektual,juga berbeda dengan belajar bidang kognitiflainnya. Demikian pula hasil perbuatan belajardapat dinyatakan dalam berbagai bentuk. Sebagaicontoh ada yang berbentuk keterampilan, sikap dansebagainya.Menurut Gagne’ dalam Abadi (2005:3) adalima kategori hasil belajar, yaitu hasil belajar informasiverbal, hasil belajar kemahiran intelektual, hasilbelajar pengaturan kegiatan kognitif, hasil belajarketerampilan motorik dan hasil belajar sikap.Jadi, hasil belajar merupakan perubahanperubahanperilaku yang diperoleh dari prosesbelajar, yaitu aktifitas mental yang berlangsung dalaminteraksi aktif dengan lingkungan. Peran gurudalam pembelajaran adalah merancang pembelajaranagar siswa dapat berinteraksi aktif dalamproses pembelajaran sehingga memperoleh hasilbelajar yang bermakna dan optimal.Matematika adalah suatu bidang ilmu yangmerupakan alat berfikir, berkomunikasi, alat untukmemecahkan berbagai persoalan praktis, yang unsur-unsurnyalogika dan intuisi, analisis dan konstruksi,generalisasi dan indidualitas, serta mem-


60 METODIKA Volume 1 Nomor 3punyai cabang-cabang antara lain aritmatika, aljabar,geometri, dan analisis (Hamzah B Uno.2007:129-130).Dalam sebuah buku hasil karya Prof. Dr. H.Hamzah B Uno yang berjudul Model PembelajaranMenciptakan Proses Belajar Mengajar yang Aktifdan Kreatif, belajar matematika dalam konsep“matematika” tidak dapat dilakukan secara parsial,tetapi memerlukan pemahaman yang holistik dariberbagai unut yang ada dalam matematika. Materimatematika merupakan materi yang abstrak sehinggadalam mempelajarinya menuntut kemampuanpenalaran.empat dalam 2 siklus. Sehingga setelah siklus 2pemahaman siswa meningkat.Hipotesis TindakanHipotesis tindakan dapat diartikan sebagaijawaban sementara terhadap penelitian sampai terbuktimeleui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto,2006,62) Hipotesis yang diajukan adalah:Penerapan pembelajaran kooperatif tipe TGT(Team Game Tournament) dapat meningkatkan pemahamansiswa dalam menghitung keliling danluas segi empat pada siswa kelas VII E SMP Negeri2 Klaten tahun 2010/2011.Keliling dan Luas Segi EmpatDalam stándar isi 2006 bidang studi matematikatingkat SMP/MTs kelas VII materi kelilingdan luas segi empat ada pada stándar kompetensi6. Memahami konsep segi empat dan segitiga sertamenentukan ukurannya, yaitu 6.3 Menghitung kelilingdan luas bangun segitiga dan segi empat sertamenggunakannya dalam pemecahan masalah.Keliling dan luas segi empat merupakan materiyang sudah pernah siswa terima pada saatbelajar di SD. Jadi, siswa sebenarnya sudah mempunyaigambaran tentang konsep ini. Memahamikonsep segi empat dan segitiga serta menentukanukurannya merupakan materi prasarat pada KD 3tentang teorema phytagoras dan KD 5 tentangvolum dan luas sis bangun ruang di kelas VIII. Jadimateri ini penting untuk benar-benar dikuasai siswa.Kerangka BerpikirPada kondisi awal peneliti belum menggunakanpembelajaran kooperatif TGT. Kegiatanpembelajaran selalu menggunakan metode terangkan,catat dan latihan. Hasil belajar siswa rendahatau kurang optimal. Hal ini mungkin disebabkankarena keaktifan siswa dalam pembelajaran jugakurang. Pembelajaran kooperatif TGT dapat membuatsiswa lebih aktif dalam pembelajaran, mengembangkankerjasama antar siswa, dan menumbuhkansemangat berkompetisi. Untuk itu penelitimenggunakan pembelajaran koopertif TGTpada pembelajaran materi keliling dan luas segiMETODE PENELITIANPenelitian ini merupakan penelitian tindakankelas, yang dilakukan dalam dua siklus pada siswaSMP N 2 kelas VIIE yang berjumlah 30 siswa.Masing-masing siklus terdiri dari kegiatan persiapan,pelaksanaan tindakan, pengamatan/ observasidan refleksi.Instrumen pengambilan data dalam penelitianini berupa: lembar observasi pembelajaran,pedoman wawncara, dan soal test. Teknik pengambilandata dengan observasi, wawancara, dokumendan tes tertulis. Data-data yang terkumpul dianalisissecara diskriptif, direduksi, diklasifikasikan, diinterpretasikandan dideskripsikan ke dalam bahasaverbal untuk penarikan kesimpulan.Siklus 1, kegiatan perencanaan meliputi:membuat perangkat pembelajaran (RPP dan media),membuat instrument penelitian yang meliputikartu soal dan katu kunci, alat evaluasi berupa tesdisertai jawaban dan panduan penskoran sertalembar observasi. Pelaksanaan tindakan disesuaikandengan rancangan pada RPP. Dilaksanakanproses observasi terhadap pelaksanaan tindakanbaik yang dilakukan guru maupun siswa, denganmenggunakan lembar observasi dan dilakukan evaluasihasil belajar siswa setelah dilakukan tindakan.Pada akhir siklus 1 hasil yang diperoleh pada tahapobservasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisa.Dari hasil tersebut akan dilihat apakah telah memenuhitarget yang ditetapkan pada indikator kerja.Jika belum memenuhi target, maka penelitian dilan-


Pembelajaran Kooperatif TGT 61jutkan ke siklus berikutnya dengan memperbaiki kelemahanpada siklus sebelumnya.Siklus 2 dimulai dengan menyusun kembaliRPP hasil perbaikan dari pelaksanaan siklus 1 besertaperlengkapannya, dilanjutkan pelaksanaanpembelajaran dan observasi. Diharapkan setelahsiklus 2 pemahaman siswa meningkat, yang ditunjukkandari hasil test kognitif dan capaian ketuntasanklasikal.Tolok ukur keberhasilan penelitian ini adalahpemahaman siswa dalam menghitung keliling danluas segi empat akan meningkat sehingga padaakhir siklus ke dua dapat mencapai KKM, yaitu 75dengan ketuntasan lebih dari 85 persen.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYAKondisi awalPada kondisi awal peneliti menyampaikanmateri tentang bangun pesegi, persegi panjangdan jajar genjang serta sifat-sifatnya dengan metodeceramah. Setelah selesai menjelaskan materipembelajaran guru memberi kesempatan bertanyapada para siswa. Tetapi kesempatan itu tidak adasatupun siswa yang bertanya atau memberi komentartentang materi. Mungkin karena materi inisudah pernah mereka pelajari di Sekolah Dasar.Kemudian guru memberi latihan soal dari bukupaket untuk dikerjakan siswa. Ada sebagian yangmengerjakan dengan tekun sementara ada sebagianlagi yang belum mengerjakan dan malah berguraudengan teman sebangkunya.Kesimpulan yang dapat ditarik dari dua pertemuanini adalah kurang maksimalnya prosesbelajar mengajar, hal ini bisa dilihat dengan motivasibelajar siswa kurang, kurangnya perhatian terhadapmateri pelajaran dengan banyak mengobrol,bergurau saat guru menyampaikan materi dan kurangbersemangat dalam mengerjakan soal latihan.Sikap siswa yang kurang berminat dalam mengikutipembelajaran matematika mempengaruhi hasilbelajarnya. Pada kondisi awal, guru masih menggunakanmetode konvensional, yaitu ceramah danpemberian tugas.Pada akhir pertemuan berikutnya penelitimengadakan test, diperoleh hasil rerata nilai 75,00dan siswa yang belum mencapai ketuntasan minimal75 ada 8 siswa. Kondisi awal sebenarnya sudahcukup bagus, tetapi peneliti merasa bahwa hasilbelajar siswa belum optimal. Sebenarnya siswabisa mencapai lebih dari nilai itu jika ada cara ataumetode yang dapat memberdayakan potensi siswaagar optimal. Metode yang membuat siswa menjadisubyek pembelajaran, metode yang mampu membuatsiswa dapat mengonstruksikan pengetahuansendiri. Sehingga jika hal ini bisa dilaksanakandiharapkan siswa lebih bersemangat dalam belajarmatematika yang akhirnya diharapkan hasil belajarnyabisa meningkat.Siklus 1Perencanaan diawali dengan membuat silabusdan RPP, menyiapkan lembar kerja, membuatinstrumen TGT berupa kartu-kartu soal dankartu kunci jawaban, instrumen lembar pengamatandan soal test untuk mengukur kertercapaian tujuanpada siklus 1.Pelaksanaan model TGT dimulai denganmembagi siswa dalam 10 kelompok yang masingmasingberanggotakan 3 siswa dan setiap kelompokdiberikan lembar kerja yang berupa informasitentang keliling dan luas persegi dan persegipanjang serta 4 soal yang harus diselesaikan secarakelompok dalam waktu 15 menit. Selamasiswa berdiskusi guru membimbing kelompok yangmengalami masalah dalam menyelesaikan soalpada lembar kerja dan mengamati sikap siswa secaraindividual dalam kerja kelompok.Setelah jawaban soal diskusi diklarifikasi,kagiatan pembelajaran berikutnya guru menjelaskantentang aturan permainan pada game, yaitusetiap anggota kelompok menempati meja turnamenuntuk bertemu dengan anggota kelompokyang lain. Dari kelompok 1 sampai 5 dibuat 3 mejaturnamen yang terdiri 5 siswa dan dari kelompok 6sampai 10 dibuat pula 3 meja turnamen yang terdiri5 siswa. Setiap meja turnamen disediakan seperangkatwadah yang berisi kartu soal, kartu kuncijawaban dan lembar pencatat skor.Siswa melakukan permainan sesuai aturan.Aturan main turnamen model TGT adalah sebagai


62 METODIKA Volume 1 Nomor 3berikut: a) Setiap kelompok menentukan salah satuanggota sebagai Reader (pembaca soal kuisturnamen) pertama dan pembaca kunci jawaban.Pembaca soal ke dua, ke tiga,dan seterusnya digilirberurutan searah putaran jarum jam. Pembacakunci jawaban adalah siswa yang posisi duduknyadi sebelah kanan reader. b) Kesempatan pertamamenjawab soal kuis turnamen diberikan kepadareader, giliran menjawab bagi anggota kelompokyang lain searah putaran jarum jam. c) Jika semuaanggota kelompok menjawab benar, siswa yangmemperoleh poin adalah siswa pertama yang menjawabbenar. d) Turnamen berlanjut sampai semuasoal dibacakan. Kemudian perolehan skor masingmasinganggota dihitung berdasarkan jumlah jawabanbenar sekaligus untuk perhitungan skorkelompok.Peneliti memperkirakan waktu untuk menyelesaikangame ini 30 menit. Pengamat dan penelitimengamati jalannya game sambil melakukan penilaianterhadap sikap siswa. Pertemuan diakhirisetelah diumumkan kelompok terbaik berdasarkanskor kelompok.Pertemuan kedua siklus 1 kegiatan pembelajarandilakukan dengan metode yang samauntuk materi keliling dan luas jajar genjang. Padapertemuan ini diakhiri dengan test individual untukmengukur pencapaian hasil belajar siswa.Dari dua pertemuan pada siklus 1 ini penelitidan pengamat bisa melihat ada perubahan positifpada siswa. Tampak mereka tetap bersemangatdan antusias mengikuti pelajaran walaupunpembelajaran pertemuan ke dua berlangsung padajam ke 5 dan 6.Peran guru dalam pembelajaran ini tidak lagimenjelaskan materi dan memberi contoh menyelesaikansoal-soal. Peran guru juga tidak mendominasidalam pembelajaran, siswalah yang aktif melakukankegiatan yang telah dirancang guru.Perubahan minat dan keaktifan siswa dalammengikuti pembelajaran pada silkus 1 ini ternyatamemberikan perubahan terhadap hasil belajar mereka.Hasil tes menunjukkan terjadi peningkatanhasil belajar. Capaian rata-rata setelah siklus 1 adalah76,67. Dengan KKM 75 ada 7 siswa yang belumtuntas.Namun demikian beberapa siswa yang belumaktif dalam diskusi, perlu mendapat motivasiagar lebih aktif pada siklus berikutnya.Siklus 2Berangkat dari hal-hal yang masih kurangdalam siklus 1 maka peneliti dan pengamat sepakatuntuk mengadakan perubahan-perubahan padasiklus 2. Perubahan yang akan dilakukan menyangkutpembuatan RPP terutama dari pembagian alokasiwaktu. Perlu diadakan waktu untuk pembahasanhasil diskusi demi memantapkan pemahamansiswa. Perlu juga menyiapkan penyelesaiansoal diskusi maupun soal kuis.Seperti pada siklus 1 mula-mula penelitimemberikan informasi pada siswa materi yang akandipelajari, yaitu keliling dan luas belah ketupat danlayang-layang. Diberitahukan juga pada siswabahwa kegiatan pada pembelajaran kali ini berupadiskusi dan game/ turnamen seperti pertemuansebelumnya.Kemudian membagi siswa dalam 10 kelompokyang masing-masing beranggotakan 3 siswadan setiap kelompok diberikan lembar kerja yangberupa informasi tentang keliling dan luas belahketupat dan layang-layang serta 4 soal yang harusdiselesaikan secara kelompok dalam waktu 15menit. Selama siswa berdiskusi guru membimbingkelompok yang mengalami masalah dalam menyelesaikansoal pada lembar kerja dan mengamatisikap siswa secara individual dalam kerja kelompok.Selama diskusi tampak setiap kelompokberusaha menyelesaikan soal pada lembar kerja.Interaksi antar anggota kelompok terlihat lebih aktifdimana ada beberapa siswa yang sudah bisamengerjakan menerangkan pada anggota kelompoknyayang belum bisa.Setelah didkusi selesai setiap siswa segeramengatur diri untuk mengikuti turnamen. Turnamenberlanjut sampai semua soal dibacakan. Dalamturnamen siswa tampak saling mengklarifikasi


Pembelajaran Kooperatif TGT 63jawaban mereka, sehingga terlihat kejujuran dansportifitas diantara mereka.Pada siklus 2 setelah game berakhir diadakanpembahasan sol-soal yang sulit pada gameatau soal sulit lainnya yang ditanyakan siswa, sebagaipemantapan. Kemudian dilakukan test akhiruntuk mengukur ketercapaian hasil belajar siswa.Pada siklus 2 ini siswa sudah lebih terbiasadengan model pembelajarannya sehingga bisalebih cepat dalam pengaturan tempat dan pengaturanposisi siswa dalam turnamen.Setelah turnamen berakhir dan diumumkankelompok terbaik hari itu, yaitu kelompok “PersegiPanjang”, tampak mereka lebih lepas menunjukkankeceriaan dan kegembiraanya.Perubahan keaktifan dan keceriaan siswadalam mengikuti pembelajaran pada silkus 2 initernyata memberikan perubahan terhadap hasilbelajar mereka. Hasil tes menunjukkan terjadi peningkatanhasil belajar. Capaian rata-rata setelahsiklus 2 adalah 79,33 Dengan KKM 75 ada 26siswa tuntas dan 4 siswa yang belum tuntas. Jadiketuntasan kelas mencapai 86,7%.Pembahasan hasil penelitianPeningkatan ini tentu tidak lepas dari keaktifansiswa dalam mengikuti pembelajaran yang dirancangoleh guru dengan menggunakan modelpembelajaran TGT. Berikut adalah tabel pencapaianhasil belajar siswa pada materi menghitungkeliling dan luas segi empat dari kondisi awal (prasiklus) hingga akhir siklus 2.Tabel 1. Kinerja dan Hasil Belajar Siswa Sebelum dan Sesudah SiklusNo.AspekPraSiklusSiklus1Siklus21.2.3.Rata-ratatest kognitifPersentaseketuntasanklasikalRata-rataKinerjaSiswa75,00 76,67 79,3373,3% 76,7% 86,7%65% 87% 95%Peningkatan kinerja siswa yang tertinggipada aspek sikap antusias dan senang terhadappembelajaran. Hampir seluruh siswa menunjukkansikap antusias, senang, terhadap pembelajaarandengan model TGT. Hal ini mungkin karena setelahdiskusi kelompok dilanjutkan turnamen, sehinggamereka terdorong untuk bersaing antar kelompokuntuk mendapatkan skor. Namun demikian peningkatankeaktifan siswa dalam menjawab atau bertanyapenulis merasa belum optimal dam masihdapat ditingkatkan.PENUTUPSimpulanDari penelitian yang telah dilakukan diperolehhasil bahwa Penerapan pembelajaran kooperatiftipe TGT (Team Game Tournament) dapatmeningkatkan pemahaman menghitung keliling danluas segi empat pada siswa kelas VII. Besar peningkatanpemahaman siswa pada materi SegiEmpat ini dapat dilihat dari peningkatan nilai rataratates, yaitu 75,00 sebelum siklus menjadi 76,67pada siklus 1 dan 79,33 siklus 2. Persentase capaianketuntasan mimimal meningkat, yaitu 73,3% sebelumsiklus menjadi 76,7% pada siklus 1 dan86,7% pada siklus 2.


64 METODIKA Volume 1 Nomor 3SaranDalam penerapan pembelajaran kooperatiftipe TGT guru disarankan memperhatikan faktorfaktoryang dapat mempengaruhi efektifitas pembelajaranmisalnya materi, pengetahuan prasarat,dan kondisi siswa.Penelitimenyarankan agar menerapkanmodel pembelajaran TGT pada materi pelajaranmatematika pada Kompetensi Dasar (KD) yang lain,atau bahkan pada mata pelajaran yang lain.DAFTAR PUSTAKAAbadi. 2005. Psikologi Pendidikan DalamPembelajaran. Semarang: Depdiknas.Departeman Pendidikan Nasional. 2006. Kurikulum2006: Standard Kompetensi MatematikaSekolah Menengah Pertama dan MadrasahTsanawiyah. Jakarta: Depdiknas.Diyanto. 2006.“Penerapan Model PembelajaranCooperative Learning Melalui Tipe TGT(Teams Games Tournaments) dalam UpayaMeningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VI6MTs. Filial Al Iman Adiwerna Tegal padaPokokBahasan Bilangan Bulat”. Skripsi.Semarang, FMIPA, Program StudiPendidikan Matematika, UNNES.Hamzah B Uno. 2007. Model PembelajaranMenciptakan Proses Belajar Mengajar yangAktif dan Kreatif. Jakarta: Bumi Aksara.Irham Junaidi. 2007. Penerapan StategiPembelajaran TGT untuk meningkatkanhasil Belajar Konsep Klasifikasi InvertebrataBagi Siswa Kelas X SMA Negeri KesasiTahun Pelajaran 2006/2007, Widyatama, 6:61-66.Subiyantoro. 2009. Penelitian Tindakan Kelas: EdisiRevisi. Semarang: CV. Widya Karya.Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi. 2006.Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: BumiAksara.TIM Instruktur LPMP Semarang. 2006. ModelmodelPembelajaran Kooperatif: Makalah.Wahyudin. 2008. Pembelajaran dan Model-modelPembelajaran (Pelengkap untukMeningkatkan Kompetensi Pedagogis paraGuru dan Calon Guru Profesional).Jakarta:CV. Ipa Abong.


PENINGKATAN KEMAMPUAN MERINGKAS ISI BUKU MELALUI MODEL TTWPADA SISWA KELAS V SDN I KEDUNGOMBO SEMESTER 2TAHUN PELAJARAN 2010/2011Retno Triastuti *)Abstrak: Keterampilan menulis siswa masih rendah, khususnya dalam meringkas isi buku.Hal tersebut disebabkan karena guru masih sering menggunakan metode pembelajaranceramah. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana meningkatkanketerampilan meringkas isi buku siswa dengan menggunakan model Think Talk Write atauTTW? Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Berdasarkan hasilpenelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model TTW dapatmeningkatkan kemampuan meringkas isi buku siswa kelas V SDN I Kedungombo.Kata Kunci: keterampilan menulis, meringkas isi buku, model pembelajaran TTWPENDAHULUANSelama ini pembelajaran Bahasa Indonesiadi SD Negeri I Kedungombo masih menggunakanmetode yang monoton yaitu ceramah, metode inimasih berpusat pada guru atau teacher centre.Akibat dari pembelajaran tersebut pada tahunpelajaran 2010/2011 dari 22 siswa kelas V, terdapat16 siswa yang belum mencapai ketuntasan belajardalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal inidisebabkan karena keterampilan menulis siswamasih rendah. Rendahnya keterampilan menulisterlihat dari hasil tulisan, catatan dan ringkasansiswa. Dari 16 siswa terdapat 6 siswa yang belummampu menggunakan ejaan dengan tepat dan 10siswa belum mampu menggunakan tanda bacadengan tepat. Padahal di SD Negeri I Kedungombotelah ditetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas Vdengan kompetensi dasar meringkas adalah 70.Salah satu model pembelajaran yang sesuaiditerapkan dalam pembelajaran menulis adalahmodel Think Talk Write (TTW). Model TTW ini padadasarnya dibangun dari berpikir, berbicara, danmenulis. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menerapkanmodel Think Talk Write (TTW).Selama ini peneliti belum pernah menggunakanmodel TTW di dalam pembelajaran BahasaIndonesia khususnya untuk meningkatkan kemampuanmeringkas isi buku. Berdasarkan penelitianyang dilakukan Tabavmolo Roswita peneliti termotivasiuntuk menggunakan model TTW.Selama ini proses pembelajaran BahasaIndonesia kelas V di SD Negeri I Kedungombobelum menggunakan model pembelajaran TTW, sehinggakemampuan meringkas isi buku siswarendah. Dengan penelitian ini dilakukan dengan harapandapat menghasilkan konsep mengenai kemampuanmeringkas isi buku melalui model TTW.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalahapakah melalui model TTW dapat meningkatkankemampuan meringkas isi buku pada siswa kelas VSD Negeri I Kedungombo semester II tahun pelajaran2010/2011?Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikanpeningkatan kemampuan meringkas isi bukumelalui model TTW pada siswa kelas V SD Negeri IKedungombo.Diharapkan penelitian ini memiliki manfaatbagi siswa dan guru. Siswa mampu meningkatkankreativitas menulis, meningkatkan kemampuanmeringkas isi buku, sehingga dapat menguasaikompetensi dasar yang telah ditetapkan denganbaik. Bagi guru diharapkan dapat memperoleh pemecahanmasalah dalam penelitian ini yaitu modelpembelajaran TTW dapat meningkatkan kemampuansiswa dalam meringkas isi buku, memberiacuan untuk dapat mengubah pola dan sikap mengajar,dari hanya sebagai pengajar (pemberiinformasi) berubah menjadi fasilitator dan mediatoryang baik dalam proses pembelajaran, dapatmemperoleh pemecahan masalah dalam penelitianini yaitu model pembelajaran TTW dapat meningkatkanketerampilan menulis siswa.*) Guru SDN I Kedungombo, Baturetno, Kabupaten Wonogiri


66 METODIKA Volume 1 Nomor 3LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDA-KANMeringkasMeringkas merupakan kegiatan penyajiansingkat dari suatu karangan asli tetapi tetap mempertahankanurutan isi dan sudut pandang pengarangasli. Dengan kata lain, ringkasan adalah suatucara yang efektif untuk menyajikan suatu karanganyang panjang dalam bentuk singkat.Meringkas yang baik memiliki ciri-ciri: 1) ditulisdengan kata-kata sendiri, 2) bahasanya singkatdan padat, tetapi jelas, 3) mudah dimengertiorang lain, 4) memuat hal-hal pokok saja, tetapi dapatmewakili (representatif). Meringkas isi buku bagikelas V SD juga harus memperhatikan ejaan dantanda baca yang tepat.Gorys Keraf (dalam Sukmana:2005) mengemukakanbahwa membuat ringkasan dapat bergunauntuk mengembangkan ekspresi serta penghematankata. Latihan membuat ringkasan, menurutdia, akan mempertajam daya kreasi dan konsentrasisi penulis ringkasan tersebut. Penulis ringkasandapat memahami dan mengetahui denganmudah isi karangan aslinya, baik dalam penyusunankarangan, cara penyampaian gagasannyadalam bahasa dan susunan yang baik, cara pemecahansuatu masalah, dan lain sebagainya.Model pembelajaran merupakan kerangkakonseptual yang melukiskan prosedur yang sistematikdalam mengorganisasikan pengalaman belajaruntuk mencapai tujuan belajar tertentu danberfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajarandan para guru dalam merencanakan danmelaksanakan aktivitas belajar mengajar.Penerapan metode pembelajaran pada hakikatnyamerupakan penerapan prinsip-prinsip psikologidan prinspi-prinsip pendidikan bagi perkembangananak didik. Metodologi yang bersifat interaktifedukatif selalu bermaksud mempertinggi kualitashasil pendidikan dan pengajaran di sekolah(Suryosubroto, 2002:149).Model pembelajaran TTW termasuk kedalam pendekatan yang berpusat pada siswakarena dalam strategi ini siswa terlibat langsungdalam pembelajaran, sedangkan guru berperan sebagaifasilitator pembelajaran. Dalam pembelajaranyang menggunakan kelompok, maka pembelajaranTTW juga mengacu pada pembelajaran kooperatifyang dapat mengkonstruksi penguasaan konsepsiswa.Model pembelajaran Think Talk Write (TTW)diperkenalkan oleh Huinker dan Laughin (dalamskripsi Rosita Tabavmolo:2010). Model ini padadasarnya dibangun dari berpikir, berbicara, dan menulis.Alur TTW dimulai dari keterlibatan siswadalam berpikir atau berdialog dengan dirinya sendirisetelah proses membaca, selanjutnya berbicaradan membagi ide dengan temannya sebelum menulis.Think-talk-write dikembangkan dari pendekatankooperatif sehingga suasana ini lebih efektifbila diterapkan dalam kelompok heterogen yangterdiri 3-5 siswa. Dalam kelompok ini siswa dimintamembaca, membuat catatan kecil, menjelaskan,mendengar, dan membagi ide sesama teman kemudianmengungkapkan melalui tulisan.Dengan model pembelajaran TTW, akan terjalinsuasana belajar yang saling menunjang, menyenangkan,tidak membosankan, belajar denganbergairah, aktivitas komunikasi dapat terbangun secaramenarik.METODE PENELITIANLokasi penelitian ini dilaksanakan di SDNegeri I Kedungombo yang terletak di Jalan Jerapah,Dusun Nayu, Desa Kedungombo, KecamatanBaturetno, Kabupaten Wonogiri, dengan subjeksiswa kelas V semester 2 tahun pelajaran 2010/-2011. Waktu penelitian dilaksanakan selama 8 bulandari bulan Maret sampai dengan November2011.Pendekatan yang digunakan dalam penelitianyang berjudul peningkatan kemampuan meringkasisi buku melalui model TTW siswa kelas VSD Negeri I Kedungombo adalah pendekatan penelitiantindakan kelas. Penelitian tindakan kelas inidilakukan dalam 2 siklus, masing-masing siklusdengan tahap perencanaan, pelaksanaan, penga-


Model TTW 67matan, dan refleksi. Siklus I bertujuan untuk mengetahuipeningkatan kemampuan meringkas isi bukusiswa kelas V, setelah refleksi dapat dijadikan acuandalam melaksanakan siklus II.Adapun desain penelitian untuk memperjelaspelaksanaan penelitian tindakan kelas inidapat digambarkan sebagai berikut.Instrumen Pengumpulan DataPengumpulan data diperoleh dari: 1) observasi.Dalam penelitian ini pengamatan dilakukanterhadap permasalahan-permasalahan yang terjadidalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia. Pengamatandilakukan pada saat aktivitas membaca,berdiskusi, menulis; 2) wawancara. Dalam wawancaraini peneliti bertanya kepada siswa mengenaiproses pembelajaran dengan model TTW yangdilakukan. Peneliti juga menanyakan pengaruh daripembelajaran dengan menggunakan model pembelajaranTTW. Misalnya a)minat dengan pembelajaranmeringkas buku, b) pendapat siswa tentangproses pembelajaran meringkas buku, c) kesulitanapa yang kamu temui saat pembelajaran meringkasbuku, d) pendapat siswa tentang pembelajaranmeringkas buku dengan menggunakan model TTW,e) harapan siswa mengenai pembelajaran meringkasbuku dengan menggunakan model TTW; 3) dokumen.Dokumen dalam penelitian ini adalahstandar isi, hasil ringkasan siswa dan nilai siswadalam meringkas isi buku serta hasil observasiyang dilakukan peneliti dan observer; 4) Tes. Tesselama proses pembelajaran dan pada akhirpembelajaran. Selama proses pembelajaran hal-halyang dinilai seperti keaktifan dalam membaca danberdiskusi. Setelah tiap-tiap siklus berakhir juga diadakantes. Materi tes siklus 1 adalah meringkas isibuku dengan judul yang sama setelah dibahasdalam kelompok, untuk tes siklus 2 adalah meringkasisi buku dengan judul yang berbeda antarakelompok yang satu dengan yang lain.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYADeskripsi Kondisi AwalPembelajaran Bahasa Indonesia di SD NegeriI Kedungombo selama ini sering diabaikansiswa. Siswa kurang tertarik pada pelajaran BahasaIndonesia. Siswa juga bosan dengan penyampaianpembelajaran. Bahasa Indonesia yang dilaksanaknguru. Sebagian besar siswa masih kurang mampumeringkas isi buku. Mereka sulit memahami isibuku, sehingga kurang mampu menuliskan kembaliisi buku.Banyak siswa yang belum mampu menulissesuai ejaan yang disempurnakan. Sebagian siswamasih sering bingung saat diberi tugas merangkumisi buku. Bahkan ada juga siswa yang mengulangmenulis sebagian besar kalimat yang ada di buku.Mereka belum mampu menyusun kalimat denganruntut.Evaluasi dilakukan untuk mengetahui penguasaanmateri siswa, setelah dilaksanakan pembelajaran.Berdasarkan hasil evaluasi, penulismemperoleh data sebagai berikut: 1) Siswa yangmendapat nilai 60 ada 16 anak atau 72.73%; 2)Siswa yang mendapat nilai 70 ada 4 anak atau18.18%; 3.) Siswa yang mendapat nilai 80 ada 2anak atau 09.09%. Hasil evaluasi tersebut dapat dilihatpada grafik berikut:Grafik I: Grafik Hasil Evaluasi Sebelum PerbaikanPembelajaran Bahasa Indonesia.Pelaksanaan Tindakan KelasSiklus pertama


68 METODIKA Volume 1 Nomor 3Pada pelaksanaan tindakan siklus 1, terlihatada perubahan dalam proses pembelajaran. Daridata yang diperoleh peneliti saat pelaksanakan tindakanperbaikan siklus I yang dilaksanakan padabulan Mei 2011, diperoleh hasil sebagai berikut: 1)siswa yang mendapat nilai 60 ada 14 anak atau63.63%; 2) siswa yang mendapat nilai 70 ada 5anak atau 22.73%; 3) siswa yang mendapat nilai 80ada 3 anak atau 13.64%. Dari data tadi dapat dilihatadanya peningkatan, meskipun ketuntasan barumencapai 36.37%. Rata-rata kelas mencapai 65.00.Gambar 2. Tindakan dalam siklus IDeskripsi siklus IIDari data yang diperoleh pada TindakanSiklus I, peneliti melaksanakan tindakan perbaikan.Tindakan siklus II dilaksanakan pada bulan Juni2011. Hasil yang diperoleh dalam tahap observasidikumpulkan untuk dilakukan analisis dan membuatpenafsiran. Hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:1) siswa yang mendapat nilai 60 ada 2 anakatau 09.09%; 2) siswa yang mendapat nilai 70 ada9 anak atau 40.91%; 3) siswa yang mendapat nilai80 ada 7 anak atau 31.82%; 4) siswa yang mendapatnilai 90 ada 4 anak atau 18.18%. Rata-ratakelas mencapai 75.91.Sebelum diadakan perbaikan siswa yangmendapat nilai kurang dari 70 berjumlah 16 anak,yang mendapat nilai 70 ke atas hanya 6 anak, rataratakelas 64.64. Sesudah diadakan perbaikan siklusI, siswa yang mendapat nilai di bawah 70 berkurangmenjadi 14 anak, 8 siswa sudah mendapatnilai 70 lebih, rata-rata kelas 65. Setelah diadakanperbaikan (siklus II), sebanyak 20 siswa mendapatnilai 70 ke atas, dan hanya 2 siswa yang mendapatnilai 60, rata-rata kelas 75.91. Hasil ini dapat terlihatpada grafik berikut:Grafik IV: Grafik Hasil Evaluasi Sebelum dan Sesudah Diadakan Perbaikan Pembelajaran


Model TTW 69SIMPULAN DAN SARANSimpulanMengacu pada hasil perbaikan pembelajaranBahasa Indonesia yang telah dilaksanakandapat disimpulkan sebagai berikut: 1) denganmenggunakan model pembelajaran yang bervariasi,akan meningkatkan perhatian dan motivasi siswadalam belajar. 2) dengan model pembelajaranTTW, siswa akan lebih mudah dalam memahamimateri sehingga hasil belajar siswa meningkat. Sebelumdilaksanakan perbaikan nilai rata-rata kelas64,64, dengan ketuntasan klasikal 27,27. Setelahdilakukan pembelajaran dengan model TTW padatindakan siklus I, nilai rata-rata 65.00, dan setelahdilaksanakan siklus II nilai rata-rata kelas mencapai75.91.SaranBerpijak dari kesimpulan di atas, ada beberapahal yang sebaiknya dilakukan oleh guru dalammeningkatkan pembelajaran siswa, diantaranyaadalah 1) guru menjelaskan materi dengan bahasayang mudah dipahami siswa; 2). guru menggunakanmodel pembelajaran yang bervariasi, agarsiswa tidak bosan; 3) guru menggunakan modelpembelajaran yang relevan dengan pokok pembahasan;4) guru lebih memberikan kesempatan bagisiswa untuk aktif dalam pembelajaran.DAFTAR PUSTAKABadudu J.S. 1985. Cakrawala Bahasa Indonesia.Jakarta:Gramedia.BNSP. 2006. Standar Isi Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP). Jakarata:BSNP.Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi danKompetensi Dasar Mata Pelajaran BahasaIndonesia. Jakarta:Depdiknas.Purnamasari, Gini. 2010. Penerapan ModelPembelajaran Think-Talk-Writw (TTW)Untuk Meningkatkan Keterampilan MenulisKarangan NarasiPada Siswa SMA Pasundan Kota Sukabumi.Jakarta:UPI.Santosa, Puji, dkk. 2007. Materi dan PembelajaranBahasa Indonesia SD. Jakarta:UniversitasTerbuka.Sukmana. 2005. Menumbuhkan Budaya Menulis diKalangan Siswa. Buletin Pusat Perbukuan,Volume 11, Januari-Juni 2005,Jakarta:Pusat Perbukuan.Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar diSekolah. Jakarta:PT Rineka Cipta.Tabavmolo, Roswita. 2010. PeningkatanKeterampilan Menulis Deskripsi MelaluiModel Think-Talk-Write (TTW) di Kelas IVSDN Ranggeh Kecamatan GondangwetanKabupaten Pasuruan. Malang:UniversitasNegeri Malang.


PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR KALORMELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN CONCEPT CARTOONBAGI SISWA KELAS VII.6 SMP 2 BLORA SEMESTER GENAPTAHUN PELAJARAN 2010/2011Rahayu Setyati *)Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswamelalui pendekatan kontekstual berbantuan concept cartoon pada materi kalor bagi siswakelas VII.6 semester 2 SMP 2 Blora tahun pelajaran 2010/2011. Penelitian tindakan kelas inidilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus diawali dengan observasi awal, perencanaan yangberupa penyusunan rencana dengan pendekatan kontekstual berbantuan concept cartoon,dilanjukan tindakan, observasi, dan refleksi. Data diperoleh melalui pengamatan, wawancaradengan guru, angket, dan tes. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptifkualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan kontekstualberbantuan concept cartoon dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kalor. Aktivitasbelajar meningkat sebesar 78%, hasil belajar ranah kognitif meningkat sebesar 74%, hasilbelajar ranah afektif meningkat sebesar 65%, dan hasil belajar ranah psikomotorikmeningkat sebesar 13%.Kata Kunci: pendekatan kontekstual, concept cartoon, kalorPENDAHULUANMata pelajaran IPA terutama fisika merupakanmata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa.Banyak siswa yang mengatakan bahwa mata pelajaranIPA fisika merupakan kumpulan konsep danrumus. Belajar IPA dianggap beban berat sebagianbesar siswa karena banyak materi yang harus dihafal,sehingga siswa merasa kesulitan untuk menerapkankonsep fisika dalam kehidupan seharihari.Dalam pengembangan SI dan SKL IPA SMP-SBI menyebutkan bahwa dengan pembelajaran IPAsiswa diharapkan mampu mengembangkan keterampilanproses sains, penguasaan berbagai konsep-prinsip- hukum IPA, dan sikap ilmiah sehinggatimbul apresiasinya terhadap kelestarian alamsebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Pembelajaranmemanfaatkan fenomena alam di lingkungansekitar siswa dilanjutkan dengan pemanfaatan ICTuntuk menambah informasi dan memvisualisasikanproses-proses alam yang kompleks agar mudahdipahami siswa(Depdiknas, 2007). Dengan belajarIPA, siswa diharapkan mampu memecahkan masalahyang ada di lingkungan siswa, sehingga pembelajaranmenjadi bermakna dan siswa dapat mengaitkanpengetahuan yang dimiliki dengan kehidupannyata.Dalam praktiknya, masih banyak guru yangdalam pembelajaran IPA Kecenderungan guru hanyamenekankan pada hakekat IPA sebagai produk,melalui cara menghafal konsep, teori danhukum serta berorientasi pada tes. Aktivitas siswabelum dilibatkan secara efektif selama proses pembelajaran.Siswa kesulitan bila harus mengkaitkankonsep yang dimiliki dengan masalah yang ada dilingkungan siswa. Hal itu terjadi karena guru tidakterbiasa mengajak siswa untuk menyelesaikan masalahyang ada disekitar lingkungan siswa danbelum memanfaatkan fenomena alam di lingkungansekitar siswaPembelajaran kontekstual (Nurhadi, 2003)merupakan konsep belajar yang mendorong guruuntuk menghubungkan antar materi yang diajarkandengan situasi nyata peserta didik. Pembelajarankontekstual menekankan pada proses keaktifanbelajar siswa, yang difokuskan pada penerapan pengetahuandalam kehidupan siswa sehingga pembelajaranlebih bermakna bagi diri siswa. Untuk meningkatkanaktivitas belajar dan pemahaman konsepkalor diperlukan bantuan media pembelajaranyang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatiandan minat siswa. Media pembelajaran ini diharapkandapat membantu siswa menerapkan pengetahuanyang dimiliki dengan kehidupan nyata siswa.*) Guru IPA SMP Negeri 2 Blora


72 METODIKA Volume 1 Nomor 3Media pembelajaran concept cartoon merupakanmedia grafis yang berupa gambar.Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikandi atas, rumusan masalah dalam penelitianini adalah 1) apakah melalui pendekatan kontekstualberbantuan concept cartoon dapat meningkatkanaktivitas belajar kalor bagi kelas VII.6 semestergenap SMP Negeri 2 Blora Tahun Pelajaran2010/2 011?; 2) apakah melalui pendekatan kontekstualberbantuan concept cartoon dapat meningkatkanhasil belajar kalor bagi kelas VII.6 semestergenap SMP Negeri 2 Blora Tahun Pelajaran2010/2011?Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) meningkatkanaktivitas belajar pada materi kalor bagisiswa kelas VII.6 SMP 2 Blora semester genap tahunpelajaran 2010 / 2011 melalui pembelajarankontekstual berbantuan concept cartoon, 2) meningkatkanhasil belajar IPA materi kalor bagi kelasbagi VII.6 RSBI SMP 2 Blora semester genap tahunpelajaran 2010 / 2011 melalui pembelajarankontekstual berbantuan concept cartoon.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDA-KANHakikat IPAIPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hariuntuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahanmasalah-masalah yang dapat diidentifikasikan.Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksanauntuk menjaga dan memelihara kelestarianlingkungan (Depdiknas, 2006).Hakikat BelajarWinkel (1996) mendefinisikan belajar sebagaisuatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsungdalam interaksi aktif dengan lingkungan yangmenghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan,pemahaman, keterampilan, nilai, dan sikap.Belajar merupakan usaha seseorang untuk membangunpengetahuan dalam dirinya. Dalam prosesbelajar terjadi perubahan dan peningkatan mutukemampuan, pengetahuan, dan keterampilan siswa,baik dari segi kognitif, psikomotor maupun afektif.Aktivitas Belajar SiswaAktivitas belajar siswa adalah sejumlah keterlibatansiswa selama kegiatan proses pembelajaran.Menurut Nasution (2004:88) “Pengajaranmodern mengutamakan aktivitas siswa. Dengandemikian, pembelajaran dapat memberikan hasilyang optimal,apabila siswa mempunyai aktivitasyang tinggi dalam mengikuti pembelajaran, sedangkanguru bertindak sebagai fasilitator.Hasil BelajarHasil belajar adalah hasil yang dicapaidari proses belajar mengajar sesuai dengan tujuanpendidikan. Belajar mengusahakan perubahan perilakudalam domain-domain tersebut sehingga hasilbelajar merupakan perubahan perilaku dalam domainkognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil belajarperlu dievaluasi. Menurut Purwanto (2010:47) evaluasidimaksudkan sebagai cermin untuk melihatkembali apakah tujuan yang ditetapkan telah tercapaidan apakah proses belajar mengajar telahberlangsung efektif untuk memperoleh hasil belajar.Pendekatan KontekstualPembelajaran dengan pendekatan kontekstualmerupakan konsep belajar yang membantuguru mengaitkan antara materi yang diajarkannyadengan situasi dunia nyata siswa dan mendorongsiswa membuat hubungan antara pengetahuanyang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupanmereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.Landasan filosofi pembelajaran denganpendekatan kontekstual adalah konstruktivisme,yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajartidak hanya sekedar menghafal. Siswa harusmengkonstruksikan pengetahuan dibenak siswasendiri. Dalam konteks itu, siswa perlu mengertiapa makna belajar, apa manfaatnya, dalam statusapa mereka, dan bagaimana mencapainya. Dalampembelajaran kontekstual, tugas guru adalah membantusiswa mencapai tujuan belajar.


Pendekatan Kontekstual Berbantuan Concept Cartoon 73Media Concept CartoonMedia Concept cartoon adalah suatupendekatan dalam pembelajaran. Concept cartoondipelopori oleh Brenda Keogh dan Stuart Naylorpada 1991. Media pembelajaran concept cartoonmerupakan media grafis yang berupa gambar.Media pembelajaran concept cartoon berupa filmkartun menggambarkan berbagai corak karakterberbeda. Yang menunjukan perdebatan tentangsuatu keadaan sehari-hari. pada siswa atau lingkungansiswa. Konsep yang diungkapkan dalammedia consept cartoon berhubungan dengan kejadianatau peristiwa yang mungkin terjadi. Mediaconcept cartoon didisain untuk bangkitkan minat,untuk menimbulkan konflik dan untuk merangsangpemikiran ilmiah.yaitu guru menggunakan pendekatan kontekstualberbantuan concept cartoon. Pada siklus 1 adalahdisajikan beberapa gambar kartun, siswa secarakelompok menganalisis setiap percakapan dalamgambar yang selalu berdebat. Siswa menentukanungkapan yang dianggap kurang tepat dan yangtepat sambil memberi penjelasan. Setelah menggunakanmedia concept cartoon diharapkan aktivitasdan hasil belajar meningkat. Pada siklus 2 siswasecara berkelompok diminta membuat rancanganpenerapan konsep kalor dalam kehidupan sehari-hari.Pada kondisi akhir diduga melalui pendekatankontekstual berbantuan media concept cartoon,aktivitas dan hasil belajar IPA pada materikalor bagi kelas VII.6 SMP 2 Blora semester 2tahun pelajaran 2010/2011 dapat meningkat.Hipotesis TindakanHipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah1) melalui pendekatan kontekstual berbantuanConcept cartoon dapat meningkatkan aktivitas belajarpada materi kalor bagi siswa kelas VII.6 SMP2 Blora semester genap tahun pelajaran 2010/2011dan 2) melalui pendekatan kontekstual berbantuanconcept cartoon dapat meningkatkan hasil belajarIPA materi kalor bagi kelas bagi VII.6 RSBI SMP2 Blora Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011.Gambar 1: Contoh Media Concept CartoonMata Pelajaran IPA SMP Materi Kalor (Heat)Materi Kalor di SMP diajarkan dikelas VII semester2 dengan Standar Kompetensi (3). Memahamiwujud zat dan perubahannya dan KompetensiDasar (3.4) Mendeskripsikan peran kalor dalam mengubahwujud zat dan suhu suatu benda serta penerapannyadalam kehidupan sehari-hari.Kerangka BerpikirPada kondisi awal guru belum menggunakanpendekatan kontekstual berbantuan conceptcartoon, aktivitas dan hasil belajar kalor rendah.Agar hasil belajar IPA materi kalor meningkat makadiperlukan adanya tindakan yang dilakukan guru,METODE PENELITIANPenelitian ini dilaksanakan selama 7 bulan,mulai bulan April 2011 sampai dengan September2011. Penelitian dilakukan di SMP 2 Blora. Subyekdalam penelitian ini adalah siswa kelas VII.6 TahunPelajaran 2010/2011, sebanyak 23 siswa yang terdiridari 12 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan.Penelitian ini dilakukan dengan metode PenelitianTindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus.Pada siklus I, pembelajaran dilakukan dengan pendekatankontekstual berbantuan concept cartoon.Siswa secara kelompok menganalisis setiap percakapandalam gambar yang selalu berdebat. Percakapandalam concept cartoon berkaitan dengan kalordalam peristiwa sehari-hari. Siswa menentukanungkapan yang dianggap kurang tepat dan yang


74 METODIKA Volume 1 Nomor 3tepat sambil memberi penjelasan, kemudian tiapkelompok mengkomunikasikan di depan kelas. Padasiklus II siswa merancang penerapan kalor dalamkehidupan sehari-hari dan tiap kelompok mengkomunikasikannyadi depan kelas. Variabel yang ditelitiadalah penggunaan pendekatan kontekstualberbantuan concept cartoon sebagai penyebab sertaaktivitas belajar dan hasil belajar sebagai akibat.Langkah-langkah dalam tiap siklus terdiri dari 1)membuat perencanaan tindakan, 2) melaksanakantindakan sesuai yang direncanakan, 3) melakukanpengamatan terhadap tindakan yang dilakukan, dan4) merefleksi deskriptif komparatif.Instrumen dalam penelitian ini terdiri dari 1).instrumen untuk mengukur aktivitas belajar siswadengan menggunakan lembar pengamatan atauobservasi, 2) instrumen untuk mengukur hasil belajarsiswa menggunakan angket untuk penilaiansikap, checklist untuk penilaian proyek dan tes.Untuk tehnik mengolah data, menggunakan 1) teknikdokumentasi yang digunakan untuk mencaridata kondisi awal aktivitas belajar IPA dan hasil belajarIPA, 2) teknik pengamatan atau observasidigunakan untuk memperoleh data aktivitas belajarkalor pada siklus I dan II, 3) teknik tes digunakanuntuk memperoleh data hasil belajar ranah kognitifmateri kalor pada siklus I dan II, 4) tehnik angketdan checklist digunakan untuk memperoleh datahasil belajar ranah afektif dan psikomotorik padamateri kalor pada siklus I dan II.Data aktivitas belajar IPA yang diperolehmelalui pengamatan divalidasi dengan bantuankolaborasi dengan teman sejawat (triangulasisumber antara peneliti, teman sejawat selaku kolaboratordan siswa). Data hasil belajar IPA supayavalid perlu dibuat kisi-kisi sebelum soal disusun.Validasi dilakukan terhadap instrumen penilaian testertulis berupa penyusunan kisi-kisi sehingga terpenuhivaliditas teoretik, khususnya content validity.Analisis data menggunakan deskriptif komparatifyang dilanjutkan re fleksi. Deskriptif komparatifdilakukan dengan membandingkan data kondisiawal, siklus I dan siklus II, baik untuk aktivitas belajardan hasil belajar.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYADeskripsi Kondisi AwalHasil pengamatan menunjukkan hanya terdapat3 siswa (13%) mencapai rerata skor lebihbesar dari 3 (kualifikasi baik). Hal ini menunjukkanaktivitas belajar IPA masih belum maksimal. Hasilulangan harian materi expension kelas VII.6menunjukan rata-rata 58 dengan 4 siswa (17%)yang tuntas dan 19 siswa (83%) tidak tuntas. Hal inimenunjukan hasil belajar IPA masih rendah. Hasilpenilaian pada ranah afektif materi expansion kelasVII.6 menunjukan sikap baik sebanyak 6 orang(26%), sikap kurang sebanyak 15 orang (65%) dansangat kurang sebanyak 2 orang (9%). Hasil ratarataskor kelas pada ranah afektif 25,2 (kategorikurang). Hal ini menunjukan sikap atau minat belajarsiswa terhadap mata pelajaran IPA masih kurang.Deskripsi Hasil Siklus 1Pada pembelajaran siklus 1 menggunakanmedia concept cartoon yang isi percakapan berkaitandengan fenomena dalam kehidupan seharihari.Siswa secara berkelompok memilih jawabanyang dianggap tepat. Aktivitas belajar IPA mengalamipeningkatan dibandingkan dengan kondisiawal. Jika dibandingkan dengan kondisi awal rataratakelas skor aktivitas meningkat sebesar 0,68yaitu dari 2,49 menjadi 3,17. Pada siklus I ini, jumlahsiswa yang memiliki rerata skor lebih besar dari3,00 ada 20 siswa (87%). Hasil belajar siswa padaranah kognitif mengalami peningkatan dibandingkandengan kondisi awal. Jika dibandingkan dengankondisi awal, nilai terendah naik yaitu dari 26menjadi 68. Nilai tertinggi naik yaitu dari 87 menjadi98. Rata-rata nilai naik sebesar 23% yaitu dari58 menjadi 81. Prosentase jumlah siswa yang telahtuntas belajar juga meningkat sebesar 66% yaitudari 17% menjadi 83%. Hasil belajar ranah afektifpada siklus 1 dibanding kondisi awal mengalamipeningkatan sebesar 0,69 yaitu dari Rata-rata skor2,52 menjadi 32,1(kategori sangat baik). Rerataskor kelas hasil belajar ranah psikomotorik adalah11 (kategori baik).


Pendekatan Kontekstual Berbantuan Concept Cartoon 75Deskripsi Hasil Siklus IIPada pembelajara siklus II, digunakan mediaconcept cartoon yang isi percakapan tentang fenomenadalam kehidupan sehari-hari yang berkaitandengan konsep heat Transfer. Kemudian siswamenerapkan pemanfaatan konsep Heat Transferdalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas belajar siswamengalami peningkatan dibanding dengan siklus 1.Jumlah siswa yang memiliki aktivitas baik dan sangatbaik mengalami peningkatan dari 87% menjadi91%. Hasil belajar siswa pada ranah kognitif mengalamipeningkatan dibandingkan dengan siklua I.Jika dibandingkan dengan siklus I, nilai terendahnaik yaitu dari 68 menjadi 73. Nilai tertinggi naikyaitu dari 98 menjadi 100. Rata-rata nilai naik yaitudari 81 menjadi 87. Persentase jumlah siswa yangtelah tuntas belajar juga meningkat sebesar 8%yaitu dari 83% menjadi 91%. Pada hasil belajarranah afektif menunjukan terdapat 21 (91%) siswamemiliki rerata diatas 3 (kualifikasi baik). Rata-rataskor kelas ranah afektif pada siklus II adalah 33,4(kategori sangat baik). Pada ranah psikomotorik,hasil belajar siklus II telah mencapai 100%.PembahasanRerata aktivitas belajar dari kondisi awal,siklus I, dan siklus II mengalami peningkatan. Padasiklus I nilai rerata naik 0,68 yaitu dari 2,49 menjadi3,17. Pada siklus II rerata naik 0,26 yaitu dari 3,17menjadi 3,43. Rerata aktivitas belajar meningkat darikondisi awal 2,49 menjadi 3,43 pada kondisiakhir. Prosentase siswa dengan aktivitas baik padakondisi awal 13%, pada siklus I meningkat menjadi87% dan pada siklus II meningkat menjadi 91%.Pada indikator kinerja penelitian, indikator keberhasilandirefleksikan dengan 70% siswa mencapairerata skor aktivitas belajar lebih besar dari 3,00(kualifikasi baik) pada siklus I dan 80% siswa mencapairerata skor aktivitas belajar lebih besar dari3,00 (kualifikasi baik) pada siklus II. Dengan melihataktivitas belajar maka pada siklus I dan II telahtercapai indikator tersebut. Melalui pendekatankontekstual berbantuan Concept cartoon dapat meningkatkanaktivitas belajar IPA bagi siswa kelasVII.6 dari kondisi awal 13% menjadi kondisi akhir91%.Gambar 2: Rata-rata aktivitas belajar IPAHasil belajar pada ranah afektif pada kondisiawal 26%, pada siklus I meningkat menjadi 87%dan pada siklus II meningkat menjadi 91%. Melaluipendekatan kontekstual berbantuan Concept cartoondapat meningkatkan hasil belajar IPA padaranah afektif bagi siswa kelas VII.6 sebesar 65%yaitu dari kondisi awal 26% menjadi kondisi akhir91%.Hasil belajar pada ranah psikomotorik menunjukanpeningkatan sebesar 17% yaitu dari siklusI yang memiliki rerata skor 3 (kualifikasi baik)sebesar 83% menjadi 100%. Hasil belajar Hasilbelajar IPA yang diperoleh dari nilai tes tertulismenunjukkan peningkatan dari kondisi awal, siklus Idan siklus II. Peningkatan hasil belajar siswa dapatdilihat pada Tabel berikut:Tabel 1. Perbandingan hasil belajar siswa pada ranah kognitifKondisiawalSiklus I Siklus II Refleksi dari kondisi awal kekondisi akhirNilai minimum 26 68 73 Nilai minimum naik 47Nilai maksimum 87 98 100 Nilai maksimum naik 13


76 METODIKA Volume 1 Nomor 3Rerata nilai 58 81 87 Rerata nilai naik 29Peningkatan hasil belajar pada ranah kognitif ditunjukan grafik berikutGambar 3. Perbandingan hasil belajar ranah kognitifKetuntasan hasil belajar IPA juga mengalamikenaikan. Dari kondisi awal 17%, pada siklus Iketuntasan naik menjadi 83% dan pada siklus II ketuntasannaik menjadi 91% pada siklus II. Pada indikatorkinerja penelitian, indikator keberhasilandirefleksikan 70% siswa memperoleh nilai hasil belajar≥ 75 pada siklus I dan 80% siswa memperolehnilai hasil belajar ≥ 75 pada siklus II. Nilai 75 adalahnilai ketuntasan minimal. Dengan melihat ketuntasanbelajar maka hasil dari siklus I dan siklus IItelah mencapai indikator tersebut. Dengan melihathasil belajar, maka pada siklus I dan II telah tercapaiindikator tersebut. Pendekatan kontekstualberbantuan concept cartoon ini dapat meningkatkanhasil belajar IPA materi Heat bagi siswa kelas VII.6SMP 2 Blora dari kondisi awal 17% menjadi kondisiakhir 96%.PENUTUPhun pelajaran 2010/2011, 2) melalui pendekatankontekstual berbantuan Concept cartoon dapat meningkatkanhasil belajar Heat bagi kelas VII.6 SMP2 Blora semester genap tahun pelajaran 2010/2011.SaranBerkaitan dengan simpulan, saran dari penulisadalah 1) pembelajaran dengan menggunakanpendekatan kontekstual berbantuan Conceptcartoon dapat dijadikan sebagai alternatif untuk melakukaninovasi pembelajaran di kelas, 2) pendekatankontekstuan berbantuan Concept cartoon dapatdikembangkan untuk pembelajaran lain yang sesuai,3) pendekatan kontekstual berbantuan Conceptcartoon merupakan tehnik pembelajaran yangmenyenangkan bagi siswa sehingga mampumenumbuhkan motivasi belajar siswa untuk ituperlu ditumbuh kembangkan pada semua siswa.SimpulanBerdasarkan pelaksanaan tindakan yang telahdilakukan, maka dapat ditarik simpulan 1) melaluipendekatan kontekstual berbantuan Conceptcartoon dapat meningkatkan aktivitas belajar Heatbagi kelas VII.6 SMP 2 Blora semester genap ta-DAFTAR PUSTAKAAnita, S. 2007. Model Pembelajaran Inovatif.Jakarta: Prestasi Pustaka.Aqib, Z., dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelasuntuk Guru SMP, SMA, SMK. Bandung:CV.Yrama Widya.


Pendekatan Kontekstual Berbantuan Concept Cartoon 77Arikunto Suharsimi.2010.Dasar-dasar EvaluasiPendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.Brenda Keogh and Stuart Naylor. 1991.Conceptcartoon in Sains.http://www.conceptcartoons.com/science/what_is_a_concept_cartoon.html. Diunduhpada tanggal 16 Maret 2011.Depdiknas. 2004. Materi Pelatihan TerintegrasiSains. Jakarta: Depdiknas.Littledyke, M. et al. 2005. Teaching PrimaryScience Cheltenham: University ofGloucestershire Dept of Educationhttp://www.ase.org.uk/scitutors/professional_issues/teaching_teaching/misconceptions.php. Diunduh padatanggal 16 maret 2011.Wiraatmadja,R..2008.Metode Penelitian TindakanKelas.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Zaibio.2009.Ranah Penilaian Afektif, Kognitif danPsikmotorik.http://zaifbio.wordpress.com/2009/11/15/ranah-penilaian-kognitif-afektif-danpsikomotorik.Diunduh pada tanggal 31 mei2011.


PENINGKATAN PENGUASAN MATERI BANGUN DATAR BERBAHASA INGGRISDENGAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM GAMES TOURNAMENT (TGT) DANMEDIA KARTU PERMAINAN MATEMATIKA SISWA KELAS 7F SMP NEGERI 2 KENDALSEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2010/2011Suranto *)Abstrak: Masalah dalan penelitian ini adalah 1) berapa besar peningkatan penguasaankonsep bangun datar berbahasa Inggris dengan model pembelajaran Team GameTournament (TGT) dan media kartu permainan matematika siswa kelas 7F SMP Negeri 2Kendal Semester II Tahun Pelajaran 2010/2011? dan 2) bagaimana perubahan perilakubelajar siswa dalam mencapai penguasaan konsep bangun datar berbahasa Inggris denganmodel pembelajaran Team Game Tournament (TGT) dan media kartu permainanmatematika?. Tujuan penelitian ini adalah 1) menentukan besaran peningkatan hasilbelajar matematika berbahasa Inggris konsep bangun datar dengan model pembelajaranTGT dan media kartu permainan matematika 2) memaparkan perubahan perilaku belajarsiswa dalam mencapai penguasaan konsep bangun datar berbahasa Inggris dengan modelpembelajaran Team Game Tournament (TGT) melalui media permainan kartu matematika.Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak 3 (tiga) siklus.Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, danrefleksi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas 7 F sebanyak 29 siswa. Data yangdiperoleh berupa hasil ulangan harian, lembar observasi kegiatan belajar mengajar aktivitassiswa dan guru. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalamipeningkatan dari Siklus I sampai Siklus III, yaitu Siklus I (65,51%), Siklus II (75,86%), danSiklus III (89,65%).Kata kunci: pembelajaran matematika berbahasa Inggris, model pembelajaran team gamestournament (TGT), media kartu permainan matematikaPENDAHULUANKondisi di SMP Negeri 2 Kendal dalam pengamatanpeneliti, siswa dalam mengikuti prosesbelajar mengajar masih kurang aktif, terutama jikaguru menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasapengantar, tampak sekali banyak siswa yang mengalamikesulitan untuk menerjemahkannya, sehinggaproses pengajaran hanya berlangsung sepihak.Jika guru meminta siswa untuk menerjemahkanteks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia,banyak siswa yang mengalami kesulitan. Hal ini dibuktikan dengan hasil tes semester gasal TahunPelajaran 2010/2011 baik dari provinsi maupunDirjen yang menggunakan bahasa Inggris rataratanyamasih berkisar 4,7 hanya ada 5 siswa yangmencapai KKM dan masih banyak kendala lainbaik yang berhubungan dengan sarana prasaranamaupun kompetensi guru dalam menggunakanfasilitas yang ada.Pembelajaran matematika tidak lagi mengutamakanpada penyerapan melalui pencapaianinformasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangankemampuan dan pemrosesaninformasi. Untuk itu aktivitas peserta didik perlu ditingkatkanmelalui latihan-latihan atau tugas matematikadengan bekerja kelompok kecil dan menjelaskanide-ide kepada orang lain (Hartoyo, 2000:24). Langkah-langkah tersebut memerlukan partisipasiaktif dari siswa. Untuk itu perlu ada metodepembelajaran yang melibatkan siswa secara langsungdalam pembelajaran. Adapun metode yangdimaksud adalah metode pembelajaan kooperatif.Pembelajaran kooperatif adalah suatu pengajaranyang melibatkan siswa bekerja dalam kelompok-kelompokuntuk menetapkan tujuan bersama (Felder,1994: 2).Pembelajaran kooperatif lebih menekankaninteraksi antar siswa. Dari sini siswa akan melakukankomunikasi aktif dengan sesama temannya.*) Guru Matematika SMP Negeri 2 Kendal


80 METODIKA Volume 1 Nomor 3Dengan komunikasi tersebut diharapkan siswadapat menguasai materi pelajaran dengan mudahkarena “siswa lebih mudah memahami penjelasandari kawannya dibanding penjelasan dari gurukarena taraf pengetahuan serta pemikiran merekalebih sejalan dan sepadan” (Sulaiman dalam Wahyuni,2001: 2). Penelitian lain menunjukkan bahwapembelajaran kooperatif memiliki dampak yangamat positif terhadap siswa yang rendah hasilbelajarnya (Nur, 1996: 2). Untuk mengatasi agarsiswa aktif dalam mengikuti kegiatan belajar baiksecara individu maupun dalam kelompok, makapeneliti menggunakan model pembelajaran kooperatiftipe Team Game Tournament (TGT). Agarpengusaan kosa kata dalam bahasa Inggris sangatbaik maka peneliti menggunakan media kartu permainanmatematika (Playing Mathematics cards).Atas dasar identifikasi penyebab masalahyang telah diuraikan pada latar belakang di atas,maka permasalahan dalam penelitian ini adalah 1)Berapa besar peningkatan penguasaan konsepbangun datar berbahasa Inggris dengan modelpembelajaran Team Game Tournament (TGT) danmedia kartu permainan matematika siswa kelas 7FSMP Negeri 2 Kendal Semester II Tahun Pelajaran2010/2011? 2) Bagaimana perubahan perilakubelajar siswa dalam mencapai penguasaan materibangun datar berbahasa Inggris dengan modelpembelajaran Team Game Tournament (TGT) danmedia kartu permainan matematikaTujuan penelitian ini adalah 1) menentukanbesaran peningkatan hasil belajar matematikaberbahasa Inggris materi bangun datardengan model pembelajaran TGT dan media kartupermainan matematika siswa kelas 7F SMP Negeri2 Kendal Semester II Tahun Pelajaran 2010/20112) memaparkan perubahan perilaku belajar siswakelas 7 F SMPN 2 Kendal dengan menerapkanmodel TGT dan kartu permainan matematika.Manfaat dari penelitian ini bagi siswa meningkatkankeaktifan siswa, peningkatan pengusaan kosa katabahasa Inggris dan pencapaian ketuntasan belajaruntuk memenuhi KKM., Hasil penelitian inidiharapakan dapat memberikan sumbangan dibidang pendidikan sebagai upaya meningkatkankeaktifan dan hasil belajar siswa.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDA-KANLandasan Teoretis salam penelitian inimencakup banyak hal, antara lain teori belajar Dienes,model pembelajaran TGT, kartu permaiananmatematika dan hasil belajar siswa.Teori belajar DienesZoltan P. Dienes adalah seorang matematikawanyang memusatkan perhatiannya pada caracarapengajaran terhadap siswa-siswa. Dasarteorinya bertumpu pada Piaget, dan pengembangannyadiorientasikan pada siswa-siswa, sedemikianrupa sehingga sistem yang dikembangkannyaitu menarik bagi siswa yang mempelajarinya. Perkembangankonsep matematika menurut Dienes(dalam Resnick, 1981) dapat dicapai melalui polaberkelanjutan, yang setiap seri dalam rangkaiankegiatan belajar dari kongkret ke simbolik. Tahapbelajar adalah interaksi yang direncanakan antarayang satu segmen struktur pengetahuan danbelajar aktif, yang dilakukan melalui mediamatematika yang disain secara khusus. MenurutDienes, permainan matematika sangat penting sebaboperasi matematika dalam permainan tersebutmenunjukkan aturan secara kongkret dan lebihmembimbing dan menajamkan pengertian matematikapada anak didik. Dapat dikatakan bahwaobjek-objek kongkret dalam bentuk permainanmempunyai peranan sangat penting dalam pembelajaranmatematika jika dimanipulasi denganbaik. Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1992:125-127), konsep-konsep matematika akan berhasiljika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu.Model Pembelajaran Team Game Tournament(TGT)Langkah-langkah dalam pembelajarankooperatif model Team Game Tournament (TGT)sebagai berikut.a. Kelompokkan siswa dengan masing-masingkelompok terdiri dari tiga sampai dengan lima


Model Pembelajaran Team Games Tournament (TGT) 81orang. Anggota-anggota kelompok dibuatheterogen meliputi karakteristik kecerdasan,kemampuan awal matematika, motivasi belajar,jenis kelamin, atupun latar belakang etnis yangberbeda.b. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan presentasiguru dalam menjelaskan pelajaran berupapaparan masalah, pemberian data, pemberiancontoh. Tujuan peresentasi adalah untukmengenalkan konsep dan mendorong rasaingin tahu siswa.c. Pemahan konsep dilakukan dengan cara siswadiberi tugas-tugas kelompok. Mereka bolehmengerjakan tugas-tugas tersebut secara serentakatau saling bergantian menanyakankepada temannya yang lain atau mendiskusikanmasalah dalam kelompok atau apa sajauntuk menguasai materi pelajaran tersebut.Para siswa tidak hanya dituntut untuk mengisilembar jawaban tetapi juga untuk mempelajarikonsepnya. Anggota kelompok diberitahu bahwamereka dianggap belum selesai mempelajarimateri sampai semua anggota kelompokmemahami materi pelajaran tersebut.d. Siswa memainkan pertandingan-pertandinganakademik dalam turnamen mingguan dan temansekelompoknya tidak boleh menolongsatu sama lain. Pertandingan individual ini bertujuanuntuk mengetahui tingkat penguasaaansiswa terhadap suatu konsep dengan cara siswadiberikan soal yang dapat diselesaikan dengancara menerapkan konsep yang dimiliki sebelumnya.e. Hasil pertandingan selanjutnya dibandingkandengan rata-rata sebelumnya dan poin akan diberikanberdasarkan tingkat keberhasilan siswamencapai atau melebihi kinerja sebelumnya.Poin ini selanjutnya dijumlahkan untuk membentukskor kelompok.f. Setelah itu guru memberikan pernghargaan kepadakelompok yang terbaik prestasinya atauyang telah memenuhi kriteria tertentu. Penghargaandisini dapat berupa hadiah, sertifikat,dan lain-lain.Gagasan utama model Team Game Tournament(TGT) adalah untuk memotivasi para siswauntuk mendorong dan membantu satu sama lainuntuk menguasai keterampilan-keterampilan yangdisajikan oleh guru. Jika para siswa menginginkanagar kelompok mereka memperoleh penghargaan,mereka harus membantu teman sekelompoknyamempelajari materi yang diberikan. Mereka harusmendorong teman meraka untuk melakukan yangterbaik dan menyatakan suatu norma bahwa belajaritu merupakan suatu yang penting, berharga danmenyenangkan.Permainan sebagai Suatu Strategi PembelajaranDalam keadaan-keadaan tertentu para gurudapat memanfaatkan permainan bersifat matematisdi ruang kelas. Permainan dapat dimanfaatkantidak saja untuk menimbulkan minat dan kesenangandalam program pembelajaran siswa, tetapijuga dapat membantu para siswa mencapai berbagaikompetensi mulai dari keterampilan-keterampilanintelektual dasar hingga problem solving(Wahyudin, 2008: 40).Beberapa alasan bagus yang mendukungpenggunaan strategi permainan sewaktu-waktu diruang kelas antara lain:a. Jika dirancang dengan tepat, permainan dapatbermanfaat bagi siswa-siswa yang mengalamimasalah belajar tertentu misalnya kelemahandalam berbahasa (keterampilan-keterampilanmembaca atau verbal).b. Permainan dapat digunakan untuk membantusiswa-siswa yang memperlihatkan masalah disiplinyang disebabkan kebosanan denganrutinitas ruang kelas.c. Permainan sangat sesuai di ruang kelas yangmenggunakan pendekatan laboratorium ataupusat belajar. Hal ini mungkin ketika permainandiatur sedemikian hingga berjalan terlepas darikendali guru secara langsung.d. Permainan memberi kesempatan kepada parasiswa untuk menerapkan kendali dan pengaruhterhadap lingkungan sosial mereka denganmemungkinkan pergeseran peran dari


82 METODIKA Volume 1 Nomor 3pengguna informasi yang pasif menjadi pembuatkeputusan yang aktif.e. Permainan dapat mengangkat interaksi-interaksisosial yang menguntungkan di antara sesamasiswa dengan mendorong terjadinya kerjasamadan diskusi.f. Permainan dapat menyediakan informasi diagnostikbagi guru, yang dapat digunakannyauntuk membantu para siswa memperbaiki miskonsepsidan mengisi celah dalam struktur belajarmereka.g. Permainan dapat digunakan untuk mengintegrasikanmatematika dengan bidang-bidangstudi lainnya dan dapat pula diarahkan sesuaidengan minat khusus siswa.Permainan Kartu MatematikaYang dimaksud dengan Permainan KartuMatematika dalam Penelitian Tindakan Kelas iniadalah:a. Kartu seukuran kartu bridge/ remi dengan ukuran6,4 cm x 8,9 cm.b. Kartu-kartu ini berisi (a) Gambar bangun datar;(b) Konsep matematika yang relevan; (c) RumusMatematika yang relevan; dan (d) Pilihanjawaban (pasangan kata). Contoh kartu matematikaterlampir.c. Kartu dibuat oleh siswa dengan ukuran sepertidi atas, kemudian siswa pada kartu-1 siswamembuat gambar bangun datar, kartu-2 siswamembuat konsep yang relevan, kartu-3 siswamembuat rumus yang relevan dan kartu ke-4,ke-5, ke-6, ke-7 siswa membuat jawabannya(pasangan kata).d. Gambar, konsep yang relevan, rumus yangrelevan dan pilihan jawaban pasangan katayang akan ditulis dalam kartu adalah hal-halyang sudah dipresentasikan siswa di depankelas.e. Aturan Permainan:1) Setiap pemain harus mengumpulkan 4kartu yang terdiri dari (a) Gambar Matematika;(b) Konsep Matematika yang relevan;(c) Rumus Matematika yang relevan;(d) Jawaban pasngan kata; dan (e)Membuat arti/terjemahan2) Pedoman Penskoran (terlampir)3) Pedoman penskoran digunakan untuk menentukannilai dari setiap siswa.Hasil Belajar SiswaMenurut Winkel (1991:42), hasil belajarmerupakan bukti keberhasilan yang telah dicapaisiswa di mana setiap kegiatan belajar dapat menimbulkansuatu perubahan yang khas. Dalam hal inihasil belajar meliputi (1) keaktifan, (2) keterampilanproses, (3) motivasi, dan (4) prestasi belajar. Prestasiadalah kemampuan seseorang dalam menyelesaikansuatu kegiatan, secara singkat dapatdikatakan prestasi adalah hasil usaha. Perbedaanhasil belajar dengan prestasi belajar, bahwapenilaian hasil belajar dilakukan sekali setelah suatukegiatan pembelajaran dilaksanakan, sementarapenilaian prestasi belajar dilakukan setelah beberapakali penilaian hasil belajar dan hasil belajaryang terakhir dianggap sebagai prestasi belajar karenadiharapkan merupakan hasil yang maksimal,tetapi kedua istilah tersebut dikatakan identik karenasama-sama merupakan hasil usaha, yaitubelajar.Penilaian hasil belajar adalah kegiatanyang bertujuan untuk mengetahui sejauh manaproses belajar dan pembelajaran telah berjalansecara efektif. Keefektifan pembelajaran tampakpada kemampuan siswa mencapai tujuan belajaryang telah ditetapkan. Dari segi guru, penilaianhasil belajar akan memberikan gambaran mengenaikeefektifan mengajarnya, apakah pendekatan danmedia yang digunakan mampu membantu siswamencapai tujuan belajar yang ditetapkan. Tes hasilbelajar yang dilakukan oleh setiap guru dapatmemberikan informasi sampai dimana penguasaandan kemampuan yang telah dicapai siswa dalammencapai tujuan pembelajaran tersebut.Keaktifan dalam Pembelajaran MatematikaMenurut Sunaryo (2003:27), untukmencapai aktivitas maksimal belajar siswa, dalampembelajaran harus ada komunikasi yang jelas


Model Pembelajaran Team Games Tournament (TGT) 83antara guru dengan siswa, sehingga kegiatanbelajar oleh siswa dapat berdaya guna dalammencapai tujuan pembelajaran. Aktivitas siswadalam pembelajaran bisa positif maupun negatif.Aktivitas siswa yang positif misalnya; mengajukanpendapat atau gagasan, mengerjakan tugas atausoal, komunikasi dengan guru secara aktif dalampemebelajaran dan komunikasi dengan sesamasiswa sehingga dapat memecahkan suatu permasalahanyang sedang dihadapi, sedangkanaktivitas siswa yang negatif, misalnya menganggusesama siswa pada saat proses belajar mengajar dikelas, melakukan kegiatan lain yang tidak sesuaidengan pelajaran yang sedang diajarkan oleh guru.Aktivitas belajar matematika adalah proseskomunikasi antara siswa dan guru dalam lingkungankelas baik proses akibat dari hasil interaksisiswa dan guru, siswa dengan siswa sehinggamenghasilkan perubahan akademik, sikap, tingkahlakudan keterampilan yang dapat diamatimelalui, perhatian siswa, kesungguhan siswa,kedisiplinan siswa, keterampilan bertanya/ menjawabsiswa.Kerangka BerpikirBerdasarkan permasalahan dan landasanteori di atas, kerangka berpikir dalam penelitian inidapat digambarkan sebagai berikut. Tujuan pembelajaranadalah tujuan yang akan dicapai siswasesuai kompetensi dasar bangun datar segi empatdan segitiga. Penguasaan key word adalahpenguasaan siswa tentang kata (vocab) yangdipakai pada kompetensi dasar bangun datar yangakan diajarkan. Model atau pendekatan yangdipakai dalam PBM adalah kooperatif tipe TeamGame Tournament (TGT) Media yang digunakanberupa kartu permainan matematika (PlayingMathematics Cards) Pembelajaran Bahasa Inggrisyang ditekankan adalah penguasaan kosa kata dankemampuan menerjemahkan Proses Belajar Mengajar(PBM) mata pelajaran matematika berbahasaInggris harus sesuai kompetensi dasar danpelaksanaannya meliputi lima komponen, yaitutujuan pembelajaran, bahan pelajaran, metodepembelajaran, media pembelajaran, dan penilaian.Aktivitas dan motivasi eksternal maupun motivasiinternal siswa perlu dibangkitkan agar semangatbelajarnya semakin tinggi. Prestasi akademik merupakantolok ukuran tingkat keberhasilan tujuanpembelajaran sesuai kompetensi dasar. Bagi siswayang belum mencapai ketuntasan diberi pembelajaranremidial (remidial teaching).Hipotesis TindakanHipotesis dalam penelitian ini adalah 1) Penguasaanmateri bangun datar berbahasa Inggrisdengan model pembelajaran Team Game Tournament(TGT) dan media kartu permainan matematikasiswa kelas 7F SMP Negeri 2 Kendal SemesterII Tahun Pelajaran 2010/20112 mengalamipeningkatan. 2) Perilaku belajar siswa dalam mencapaipenguasaan materi bangun datar berbahasaInggris dengan model pembelajaran Team GameTournament (TGT) dan media kartu permainan matematikaakan mengalami perubahan.Metode PenelitianLokasi penelitian tindakan kelas adalah SMPNegeri 2 Kendal Alamat sekolah Jalan Soekarno-Hatta 187 Kendal Jawa Tengah. Pihak yang terlibatdalam penelitian ini adalah Siswa kelas 7 F SMPNegeri 2 Kendal Tahun Pelajaran 2010/2011, Sejumlah29 siswa terdiri dari 12 siswa laki-laki dan17 siswa perempuan. Melibatkan dua guru sejawatmata pelajaran matematika sebagai pengamat.Penelitian dilaksanakan dalam kurun waktu 4 bulan.Variabel Penelitian.Variabel indikator yang diamati dan ditesdalam penelitian tindakan kelas ini adalah Keaktifansiswa dalam pembelajaran matematika dan ketuntasanbelajar siswa dalam pembelajaran matematika.Prosedur PenelitianProsedur penelitian ini dapat disampaikansebagai berikut.a. Peneliti bersama guru pengamat berkolaborasiuntuk menyiapkan materi pokok yang harus ditelitidan harus dipelajari siswa.


84 METODIKA Volume 1 Nomor 3b. Secara kolaborasi peneliti dan guru pengamatmembuat rancangan pembelajaran, media pembelajaran,instrumen evaluasi, skoring evaluasi.c. Sebelum pelaksanaan pembelajaran, siswa diberikankata-kata kunci dalam bahasa Inggris(Keyword) dalam kompetensi dasar yang akandi bahas. Siswa harus bisa menghafal kata-katakunci tersebut. Kemudian menyalinnya dalamkartu matematika dengan terdiri dari gambar,konsep/definisi yang relevan dengan gambar,rumus/formula yang relevan dengan gambar,jawaban disampaikan secara lesan. Kemudiansiswa dikelompok secara homogen untuk bermainkartu matematika sesuai aturan. Guru pengamatmencatat hasil pengamatan tentang keaktifansiswa dan keterampilan proses siswa,serta motivasi siswa.d. Pada pembelajaran berakhir guru memberikantes akhir untuk mengetahui kemampuan siswamenyelesaikan soal dengan mengerjakan soal10 (pilihan ganda) tetapi siswa harus menuliskancara penyelesaiannya pada lembar kerjasiswa yang telah disediakan peneliti.e. Kegiatan dirancang dengan Penelitian TindakanKelas. Kegiatan diterapkan dalam upaya untukmeningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaranmatematika dan prestasi belajar matematika.Tahapan langkah disusun dalam sikluspenelitian. Setiap siklus memiliki 4 tahapan,yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) pengamatan,dan (4) refleksi. Dalam Penelitian TindakanKelas ini dirancang dalam tiga siklus.Siklus IPerencanaana. Guru (peneliti) sebelum pertemuan memberi tugaskepada siswa untuk membawa kertas buffalo1 (satu) lembar berwarna merah muda,gunting, spidol hitam, penggaris, pensil dankaret penghapus, buku paket.b. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) dengan Standar Kompetensi mengidentifikasisifat-sifat segitiga berdasarkan sisidan sudutnya, dan bagian-bagiannya, serta menentukanukurannya.c. Peneliti bersama kolaborator, membuat 2 setkartu yang terkait dengan materi yang akan diberikandan ditulis pada kertas berukuran karturemi yang selanjutnya disebut kartu permainanmatematika (Playing Mathematics cards).d. Menyiapkan pembentukan kelompok yanghomogen sesuai dengan kemampuan siswadalam menguasai matematika (pengelompokkanberdasarkan nilai ulangan harian danpengamatan peneliti). Menetapkan bahwa penelitiuntuk mengajar dan yang lain sebagai pengamat.Tindakana. Guru (peneliti) menjelaskan materi pelajaran kepadapara siswa, untuk memperjelas konsepmenggunakan alat peraga kerangka segitigadan daerah segitiga.b. Guru memberikan latihan cara menggunakankartu matematika yang benar. secukupnya dandengan tanya jawab bersama-sama dibahas,pengamat menilai keaktifan siswa baik secaraindividu maupun kelompok pada lembar penilaiankeaktifan.c. Siswa diminta berkelompok sesuai dengankelompoknya, kemudian siswa diminta untukmelakukan permainan dengan kartu. Penelitibersama pengamat berkeliling untuk bimbingankhusus pada kelompok bawah dan menengah,sekaligus melakukan penilaian keaktifan danketerampilan proses.d. Secara acak, guru menyuruh siswa untuk mempresentasikandi depan kelas. Dalam hal ini,guru dapat menentukan siswa secara selektifberdasarkan kemampuan dan keaktifan siswa.e. Guru memberi contoh penggunaan permainankartu yang benar.f. Siswa diberi tugas secara individual untukmenghafal pasangan kartu yang benar.g. Siswa dikelompokkan secara homogen, karenadalam permainan kartu yang sudah mahir dilawankandengan yang sudah mahir, yang be-


Model Pembelajaran Team Games Tournament (TGT) 85lum mahir dilawankan dengan yang belummahir.h. Guru menjelaskan aturan main dan skor yangakan diperoleh dalam permainan kartu matematikayang akan dilakukan oleh siswa.i. Permainan pertama dibatasi dengan waktu 30menit, kemudian dilakukan penilaian sesuaidengan aturan permainan.j. Siswa yang berhasil memperoleh nilai tertinggi,tampil ke depan kelas untuk mempresentasikankemahirannya dan mendapat tambahan nilaidan hadiah dari guru.Pengamatana. Peneliti bersama kolaborator mengamati terjadinyapeningkatan aktivitas belajar siswa,yang ditandai dengan keberanian siswa bertanya,mengemukakan pendapat di depan kelas,aktif dalam permainan.b. Kolaborator mengamati fenomena menarik yangterjadi selama berlangsungya proses pembelajaran.c. Kolaborator mengamati cara menerapkan modelpembelajaran kooperatif Team Game Tournamentdengan permainan kartu matematika agardiperoleh cara penerapan yang kreatif, efektif,inovatif, dan menyenangkan.d. Mengamati peningkatan hasil belajar siswadengan menganalisis hasil pengamatan dan penilaianSiklus I.Refleksia. Pada prinsipnya, kegiatan refleksi adalah mengevaluasisemua aktivitas Siklus I yang sudahberjalan untuk memperbaiki kegiatan pada siklusberikutnya.b. Refleksi dilakukan secara kolaboratif oleh penelitidengan pengamat/observer. Hasil refleksidicatat pada lembar observasi untuk kelemahan-kelemahanpelaksanaan pembelajaranpada Siklus I.Siklus IIPada prinsipnya kegiatan pada Siklus IIsama degan kegiatan pada Siklus I. Kegiatan padaSiklus II merupakan kegiatan perbaikan semuakekurangan pada Siklus I. Perbaikan ini didasarkanatas kegiatan Refleksi pada Siklus I. Materi padaSiklus II melanjutkan materi pada Siklus I (materiberkelanjutan).Instrumen Pengambilan DataInstrumen yang digunakan dalam penelitianini terdiri dari:a. Silabus, yaitu seperangkat rencana dan pengaturantentang kegiatan pembelajaran pengelolahankelas, serta penilaian hasil belajar.b. Rencana Pelaksanaan Pelajaran (RPP), yaituperangkat pembelajaran yang digunakan sebagaipedoman guru dalam mengajar dan disusununtuk tiap putaran. Masing-masing RPP berisikompetensi dasar, indikator pencapaian hasilbelajar, tujuan pembelajaran khusus, dan kegiatanbelajar mengajar.c. Lembar Kegiatan Siswa (LKS), Lembar kegiatanini yang dipergunakan siswa untuk membantuproses pengumpulan data hasil eksperimen.d. Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar:Lembar observasi pengolahan pembelajarankooperatif model TGT untuk mengamatikemampuan guru dalam mengelola pembelajaran.e. Lembar Obsevasi Aktivitas Siswa dan Guru: Untukmengamati aktivitas siswa dan guru selamaproses pembelajaran.f. Ulangan Harian: Tes ini disusun berdasarkantujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakanuntuk mengukur kemampuan pemahamankonsep matematika materi pokok bangundatar. ulangan harian diberikan setiapakhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalahpilihan ganda (objektif).Metode Pengumpulan DataData-data yang diperlukan dalam penelitianini diperoleh melalui observasi pengolahan pembelajarankooperatif model TGT, observasi aktivitassiswa dan guru, angket motivasi siswa, dan ulanganharian.


86 METODIKA Volume 1 Nomor 3Teknik Analisis DataUntuk mengetahui keefektifan suatu metodedalam kegiatan pembelajaran perlu diadakananalisa data. Pada penelitian ini menggunakanteknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metodepenelitian yang bersifat menggambarkan kenyataanatau fakta sesuai dengan data yang diperolehdengan tujuan untuk mengetahui prestasibelajar yang dicapai siswa juga untuk memperolehrespon siswa terhadap kegiatan pembelajaran sertaaktivitas siswa selama proses pembelajaran.Untuk mengalisis tingkat keberhasilan ataupersentase keberhasilan siswa setelah proses belajarmengajar setiap putarannya dilakukan dengancara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulispada setiap akhir putaran.Indikator KinerjaTolok ukur atau indikator keberhasilan penelitiantindakan kelas ini sebagai berikut: 1) Keaktifansiswa dan guru dalam pembelajaran matematikamencapai minimal 75%. 2) Prestasi belajar siswadalam pembelajaran matematika mencapai minimal75%. 3) ketuntasan belajar klasikal mencapai 85%.4) terjadinya peningkatan aktivitas belajar siswa,yang ditandai dengan tidak ada kelompok bermainsiswa yang pasif serta tidak ada siswa dalamkelompok bermain yang pasif. 5) diperoleh cara menerapkanModel Pembelajaran Kooperatif TeamGame Tournament dengan Permainan Kartu Matematikayang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.HASIL DAN PEMBAHASANHasil PenelitianAnalisis data penelitian per siklus dapat disajikansebagai berikut.1. Siklus Ia. Tahap PerencanaanPada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkatpembelajaran yang terdiri dari rencana pelaksanaanpembelajaran 1, LKS 1, soal ulanganharian 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.Selain itu juga dipersiapkan lembar observasipengolahan metode pembelajaran kooperatif modelTGT, dan lembar observasi aktivitas guru dansiswa.b. Tahap Kegiatan dan PelaksanaanPelaksanaan kegiatan belajar mengajaruntuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 10, 12 dan14 Pebruari 2011 di kelas 7 F dengan jumlah siswa29 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagaiguru. Adapun proses belajar mengajar mengacupada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telahdipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakanbersamaan dengan pelaksaaan belajarmengajar dan dilakukan oleh dua pengamat dariteman sejawat guru matematika SMP Negeri 2Kendal.Pada akhir proses belajar mengajar siswadiberi ulangan harian I dengan tujuan untuk mengetahuitingkat keberhasilan siswa dalam prosesbelajar mengajar yang telah dilakukan.Rekapitulasi Hasil Ulangan Harian pada Siklus INo Uraian Hasil Siklus I1 Nilai rata-rata Ulangan 69,65Harian2 Jumlah siswa yang 19tuntas belajar3 Persentase ketuntasan 65,51belajarDari Tabel di atas dapat dijelaskan bahwadengan menerapkan metode pembelajaran kooperatifmodel TGT diperoleh nilai rata-rata prestasibelajar siswa adalah 69,65 dan ketuntasan belajarmencapai 65,5% atau ada 19 siswa dari 29 siswasudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkanbahwa pada siklus pertama secara klasikal siswabelum tuntas belajar, karena siswa yang memperolehnilai ≥ 65 hanya sebesar 67,5% lebih kecil daripersentase ketuntasan yang dikehendaki, yaitusebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswamasih merasa baru dan belum mengerti apa yang


Model Pembelajaran Team Games Tournament (TGT) 87dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkanmetode pembelajaran kooperatif modelTGT.c. RefleksiDalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajardiperoleh informasi dari hasil pengamatansebagai berikut.1) Guru kurang baik dalam memotivasi siswa dandalam menyampaikan tujuan pembelajaran.2) Guru kurang baik dalam pengelolaan waktu.3) Siswa kurang begitu antusias selamapembelajaran berlangsung.d. RevisiPelaksanaan kegiatan belajar mengajar padasiklus I ini masih terdapat kekurangan, sehinggaperlu adanya refisi untuk dilakukan pada siklusberikutnya.1) Guru perlu lebih terampil dalam memotivasisiswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuanpembelajaran. Dimana siswa diajak untukterlibat langsung dalam setiap kegiatan yangakan dilakukan.2) Guru perlu mendistribusikan waktu secara baikdengan menambahkan informasi-informasi yangdirasa perlu dan memberi catatan3) Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalammemotivasi siswa sehingga siswa bisa lebihantusias.2. Siklus IIa. Tahap PerencanaanPada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkatpembelajaran yang terdiri dari rencana pelaksanaanpembelajaran (RPP) II, LKS II, Soal ulanganharian II dan alat-alat pengajaran yang mendukung.Selain itu juga dipersiapkan lembar observasipengelolaan metode pembelajaran kooperatifmodel TGT dan lembar observasi aktivitas guru dansiswa.b. Tahap kegiatan dan pelaksanaanPelaksanaan kegiatan belajar mengajar untukSiklus II dilaksanakan pada tanggal 24, 26 dan28 Februari 2011 di kelas 7 F dengan jumlah siswa29 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagaiguru. Adapun proses belajar mengajar mengacupada rencana pelajaran dengan memperhatikanrefisi pada Siklus I, sehingga keslah atau kekuranganpada siklus I tidak terulang lagi pada Siklus II.Rekapitulasi Hasil Ulangan Harian pada Siklus IINo Uraian Hasil Siklus II1 Nilai rata-rata Ulangan 78,62Harian2 Jumlah siswa yang 22tuntas belajar3 Persentase ketuntasan 75,86belajarNilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah78,62 dan ketuntasan belajar mencapai 75,86%atau ada 22 siswa dari 29 siswa sudah tuntas belajar.Hasil ini menunjukkan bahwa pada Siklus II iniketuntasan belajar secara klasikal telah mengalamipeningkatan sedikit lebih baik dari Siklus I. Adanyapeningkatan hasil belajar siswa ini karena setelahguru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaranakan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuanberikutnya siswa lebih termotivasi untukbelajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengertiapa yang dimaksudkan dan diinginkan guru denganmenerapkan pembelajaran kooperatif model TGT.c. RefleksiDalam pelaksanaan kegiatan belajar diperolehinformasi dari hasil pengamatan sebagaiberikut.1) Memotivasi siswa2) Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep3) Pengelolaan waktud. Revisi RancanganPelaksanaan kegiatan belajar pada siklus IIini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Makaperlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada siklusII antara lain:1) Guru dalam memotivasi siswa hendaknya dapatmembuat siswa lebih termotivasi selama prosesbelajar mengajar berlangsung.


88 METODIKA Volume 1 Nomor 32) Guru harus lebih dekat dengan siswa sehinggatidak ada perasaan takut dalam diri siswa baikuntuk mengemukakan pendapat atau bertanya.3) Guru harus lebih sabar dalam membimbingsiswa merumuskan kesimpulan/ menemukankonsep.4) Guru harus mendistribusikan waktu secara baiksehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalansesuai dengan yang diharapkan.5) Guru sebaiknya menambah lebih banyak contohsoal dan memberi soal-soal latihan pda siswauntuk dikerjakan pada setiap kegiatan belajarmengajar.2. Siklus IIIa. Tahap PerencanaanPada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkatpembelajaran yang terdiri dari rencana pelaksanaanpembelajaran III, LKS III, Soal ulanganharian III dan alat-alat pengajaran yang mendukung.Selain itu juga dipersiapkan lembar observasipengelolaan pembelajaran kooperatif modelTGT dan lembar observasi aktivitas guru dan siswa.b. Tahap Kegiatan dan PengamatanPelaksanaan kegiatan belajar mengajaruntuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 10, 12dan 14 Maret 2011 di kelas 7F dengan jumlahsiswa 29 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindaksebagai guru. Adapun proses belajar mengajarmengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikanrefisi pada siklus II, sehingga kesalahanatau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagipada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakanbersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajardan dilakukan oleh seorang pengamat dariteman sejawat guru matematika SMP Negeri 2Kendal.Hasil Ulangan Harian Siswa pada Siklus IIINo Uraian Hasil Siklus III1 Nilai rata-rata Ulangan 82,06Harian2 Jumlah siswa yang 26tuntas belajar3 Persentase ketuntasan 89,65belajarBerdasarkan Tabel di atas diperoleh nilairata-rata Ulangan Harian sebesar 82,06 dan dari 29siswa yang telah tuntas sebanyak 26 siswa dan 3siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Makasecara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapaisebesar 89,65% (termasuk kategori tuntas).Hasil pada siklus III ini mengalami peningkatanlebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan hasilbelajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanyapeningkatan kemampuan guru dalam menerapkanmetode pembelajaran kooperatif model TGT membuatsiswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaranseperti ini sehingga siswa lebih mudahdalam memahami materi yang telah diberikan.c. RefleksiPada tahap ini akan dikaji apa yang telahterlaksana dengan baik maupun yang masih kurangbaik dalam proses belajar mengajar denganpenerapan pembelajaran kooperatif model TGT.Dari data-data yang telah diperoleh dapat duraikansebagai berikut.1) Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakansemua pembelajaran dengan baik.Meskipun ada beberapa aspek yang belumsempurna, tetapi persentase pelaksanaannyauntuk masing-masing aspek cukup besar.2) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahuibahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung.3) Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudahmengalami perbaikan dan peningkatan sehinggamenjadi lebih baik.4) Hasil belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan.d. Revisi PelaksanaanPada Siklus III guru telah menerapkan pembelajarankooperatif model TGT dengan baik dandilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswapelaksanaan proses belajar mengajar sudah ber-


Model Pembelajaran Team Games Tournament (TGT) 89jalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalubanyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuktindakan selanjutnya adalah memaksimalkan danmempertahankan apa yang telah ada dengan tujuanagar pada pelaksanaan proses belajar mengajarselanjutnya penerapan metode pembelajaran kooperatifmodel TGT dapat meningkatkan proses belajarmengajar sehingga tujuan pembelajaran dapattercapai.Pembahasan Hasil Penelitian1. Ketuntasan Hasil Belajar SiswaMelalui hasil penelitian ini menunjukkanbahwa pembelajaran kooperatif model TGT memilikidampak positif dalam meningkatkan prestasibelajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakinmantapnya pemahaman siswa terhadap materiyang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkatdari Siklus I, II, dan III), yaitu masing-masing65,51%, 75,86%, dan 89,65%. Pada siklus III,ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.Lebih jelasnya dapat dilihat pada diagrambatang berikut ini.Gambar 4.1 Ketuntasan Belajar Siswa pada Tiap-tiap Siklus2. Kemampuan Guru dalam Mengelola PembelajaranBerdasarkan analisis data, diperoleh aktivitassiswa dalam proses metode pembelajarankooperatif model TGT dalam setiap siklus mengalamipeningkatan. Hal ini berdampak positif terhadapprestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkandengan meningkatnya nilai rata-ratasiswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam PembelajaranBerdasarkan analisis data, diperoleh aktivitassiswa dalam proses pembelajaran matematikamateri pokok lingkaran dengan metode pembelajarankooperatif model TGT yang paling dominanadalah bekerja dengan menggunakan alat/ media,mendengarkan/ memperhatikan penjelasan guru,dan diskusi antar siswa/ antara siswa dengan guru.Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapatdikategorikan aktif.Adapun untuk aktivitas guru selama pembelajarantelah melaksanakan langkah-langkahpembelajaran kooperatif model TGT dengan baik.Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranyaaktivitas membimbing dan mengamatisiswa dalam mengerjakan kegiatan LKS/ menemukankonsep, menjelaskan materi yang sulit, memberiumpan balik/ evaluasi/ tanya jawab dimana prosentaseuntuk aktivitas di atas cukup besar.PENUTUPSimpulanDari hasil kegiatan pembelajaran yang telahdilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruhpembahasan serta analisis yang telah dilaku-


90 METODIKA Volume 1 Nomor 3kan dapat disimpulkan sebagai berikut. 1) Pembelajarandengan kooperatif model TGT memiliki dampakpositif dalam meningkatkan prestasi belajarsiswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasanbelajar siswa dalam setiap siklus, yaitu SiklusI (65,51%), Siklus II (75,86%), dan Siklus III(89,65%). 2) Penerapan pembelajaran kooperatifmodel TGT mempunyai pengaruh positif, yaitu dapatmengubah perilaku belajar siswa menjadi lebihaktif dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswayang ditunjukan dengan hasil observasi denganbeberapa siswa, rata-rata jawaban menyatakanbahwa siswa tertarik dan berminat dengan metodepembelajaran kooperatif model TGT sehinggamereka menjadi termotivasi untuk belajar.SaranDari hasil penelitian yang diperoleh dariuraian sebelumnya agar proses belajar mengajarmatematika lebih efektif dan lebih memberikan hasilyang optimal bagi siswa, maka disampaikan saransebagai berikut. 1) untuk melaksanakan metodepembelajaran kooperatif model TGT memerlukanpersiapan yang cukup matang, sehingga guru harusmampu menentukan atau memilih topik yang benarbenarbisa diterapkan dengan model kooperatifmodel TGT dalam proses belajar mengajar sehinggadiperoleh hasil yang optimal. 2) dalamrangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guruhendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagaimetode pembelajaran, walau dalam tarafyang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukanpengetahuan baru, memperoleh konsepdan keterampilan, sehingga siswa berhasil ataumampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.DAFTAR PUSTAKADepdiknas, 2004. Materi Pelatihan TerintegrasiMata Pelajaran Matematika. Jakarta:Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar danMenengah.Depdiknas, 2007. Panduan PenyelenggaraanRintisan Sekolah Bertaraf Internasionaluntuk Sekolah Menengah Pertama. Jakarta:Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar danMenengah.Farber, Barry (Alih bahasa oleh Mei Kurnianingsih).2005. Kiat Mempelajari Berbagai BahasaAsing. Semarang: Dahara Prize.Felder, Richard M. 1994. Cooperative Learning inTechnical Corse, (online),(Pcll\d\My%Document\Coop%20Report.Nur, Muhammad. 1996. Pembelajaran Kooperatif.Surabaya. Universitas Negeri Surabaya.Rochiati Wiriatmadja. 2008. Metode PenelitianTindakan Kelas. Bandung: RemajaRosdakarya.Ruseffendi. 1992. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: Bina Aksara.Sadirman A.M. 1986. Interaksi dan Motivasi BelajarMengajar. Jakarta: Rajawali Pers.Siswono. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:Rineksa Cipta.Soelaiman, Darwis A. 1989. Pengantar KepadaTeori dan Praktek Pengajaran. Semarang:IKIP Semarang Press.Sunaryo. 2003. Dasar-dasar Interaksi BelajarMengajar. Surabaya: Usaha Nasional.Suwarno. 2003. Peningkatan KemampuanMembuat Kalimat Bahasa Inggris. [On-Line](http://pakguruonline.pendidikan.net/Peningkatan Kemampuan Membuat Kalimat BahasaInggris.RTF, diunduh pada tanggal 1 April2008 pada 22.00).Wahyudin. 2008. Pembelajaran dan Model-modelPembelajaran (Pelengkap untukMeningkatkan Kompetensi Pedagogis ParaGuru dan Calon-calon Profesional) Seri 3.Bandung: CV Ipa Abong.Wahyuni, Dwi. 2001. Studi Tentang pembelajaranKooperatif Terhadap Hasil BelajarMatematika. Malang: Program SarjanaUniversitas Negeri Malang.Winkel. 1991. Tenik-teknik Belajar dan Mengajar.(Terjemahan) Bandung: Jemmars.


PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS KALIMAT BERHURUF JAWAMELALUI MEDIA KARTALOGI PASANGAN PADA SISWA KELAS VII GSMP NEGERI 1 WELERI PADA SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2010/2011Romdonah *)Abstrak: Salah satu penyebab rendahnya keterampilan menulis dalam bahasa Jawa karenamedia pembelajaran kurang menarik. Media kartalogi pasangan dapat dijadikan alternatifuntuk meningkatkan keterampilan tersebut. Permasalahan yang dikaji adalah peningkatanketerampilan menulis huruf Jawa dan perubahan perilaku belajar siswa setelah digunakanmedia kartalogi pasangan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil analisis datates siklus I terjadi peningkatan 13,06% dan siklus II 21,33%. Dari analisis data nontesdiperoleh hasil bahwa siswa tertarik menggunakan media kartalogi pasangan.Kata kunci: keterampilan menulis, huruf Jawa, media kartalogi pasanganPENDAHULUANMenulis huruf Jawa merupakan salah satuupaya untuk memahami dan melestarikan budayaJawa. Namun masih banyak siswa yang tidak bisamembaca huruf Jawa. Salah satu penyebab rendahnyaketerampilan menulis huruf Jawa tersebutkarena penggunaan media pembelajaran yang tidaktepat.Selain itu dari hasil wawancara dengan pesertadidik, penyebab rendahnya keterampilan menulishuruf Jawa, antara lain (1) siswa beranggapanbahwa mata pelajaran bahasa Jawa sulitterutama pada materi membaca dan menulis hurufJawa, 2) guru masih menggunakan cara lamadalam membimbing siswa untuk menghafal hurufJawa, sehingga mempengaruhi efisiensi waktupembelajaran.Jika hal-hal tersebut di atas tetap dilaksanakandan tanpa ada upaya menciptakan inovasipembelajaran baru, maka akan menimbulkan dampakdi antaranya (1) siswa semakin kurang berminatdan menganggap menulis huruf Jawa sangatsulit, (2) guru merasakan kurang efisien dalam memanfaatkanwaktu dalam pembelajaran.Menghafal bentuk pasangan huruf Jawa darimodel belajar konvensional dengan cara menghafalbentuk huruf secara urut ternyata memiliki kelemahan,yaitu memerlukan waktu yang lama. Darikelemahan tersebut sebenarnya dapat dialihkandalam cara baru, “menghafal dengan cara acakmenggunakan media kartu analogi bentuk huruf “.Dari kata kartu analogi tersebut selanjutnya akandisebut ”kartalogi” ternyata mempercepat hasilhafalan sehingga akan meningkatkan keterampilanmenulis kalimat berhuruf Jawa penerapan pasangan.Penyebab rendahnya ketrampilan menulishuruf Jawa pada siswa Kelas VII G SMP 1 Welerisetelah diidentifikasi ternyata ada dua faktor, yaitufaktor internal dan faktor eksternal. Faktor internalmuncul dari diri siswa, yaitu siswa kelas VII G yangmenempati kelas reguler tingkat kemampuan intelektuallebih rendah dibanding siswa di kelas RSBI.Sementara itu, faktor eksternal muncul dari kebiasaancara menghafal huruf Jawa dengan teknikkonvensional yang memerlukan waktu yang lama.Dari kedua faktor penyebab di atas, faktorteknik pembelajaran merupakan faktor yang menentukankeberhasilan dalam pembelajaran menulishuruf Jawa ini. Menurut Sri Anifah (2010:1), guruharus dapat memilih dan menggunakan mediapembelajaran sesuai dengan kompetensi dasar, pengalamanbelajar, serta materi yang telah disusun.Bertitik tolak dari pendapat tersebut, penggunaanmedia kartalogi dalam pembelajaran diharapkanmampu mengantisipasi kurang minatnya siswa sertamempercepat proses menghafal pasangan hurufJawa sehingga mampu meningkatkan keterampilanmenulis kalimat berhuruf Jawa pada siswa kelas VIIG.*) Guru Bahasa Jawa SMP 1 Weleri Kendal


92 METODIKA Volume 1 Nomor 3Berdasar latar belakang masalah, perumusanmasalah dalam penelitian ini meliputi: berapabesar peningkatan keterampilan menulis kalimatberhuruf Jawa penerapan pasangan dan bagaimanaperubahan perilaku belajar siswa kelas VII GSMP Negeri 1 Weleri setelah digunakan media kartalogipasangan.Sedangkan tujuan penelitian ini adalah menentukanbesaran peningkatan keterampilan menuliskalimat berhuruf Jawa penerapan pasangandan memaparkan perubahan perilaku belajar siswaVII G SMP Negeri 1 Weleri setelah digunakan mediakartalogi pasangan.Dari hasil penelitian ini diharapkan akanmemberi manfaat secara teoretis, yaitu ditemukanmedia baru untuk menghafal pasangan dan sebagaidasar untuk penelitian-penelitian selanjutnya.Secara praktik penelitian ini akan memberikanmanfaat bagi siswa agar mampu mempercepatproses dalam menghafal pasangan, sehingga diharapkanketerampilan menulis huruf Jawa siswaakan meningkat. Sedangkan manfaat praktis bagiguru diharapkan mampu memilih dan menggunakanmedia pembelajaran yang tepat dalam pembelajaranmenulis kalimat berhuruf Jawa sehinggamampu meningkatkan kinerja dan profesionalismenya.Di samping itu, bagi sekolah manfaat praktisyang dapat diperoleh dari penelitian ini diharapkanmampu meningkatkan prestasi siswa secara individudan klasikal.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESISTINDAKANMenulisSuyitno (1985:40), mengungkapkan bahwamenulis adalah keterampilan seseorang untukmengekspresikan pikiran, perasaan, dan sikapnyake dalam bahasa tulis. Dari pengertian tersebut,tampak bahwa menulis merupakan kegiatan yangcukup kompleks. Perwujudannya diperlukan sejumlahpersyaratan formal yang melibatkan berbagaifaktor yang saling berkait dan saling berpengaruh.Menulis dapat diartikan sebagai kegiatanmenurunkan atau melukiskan lambang-lambanggrafik yang menggambarkan satu bahasa yang dipahamioleh seseorang, sehingga orang lain dapatmembaca lambang grafik tersebut, apabila merekamemahami bahasa dan gambaran grafik tersebut.Menulis merupakan suatu representasi bagian darikesatuan-kesatuan ekspresi bahasa (Tarigan1987:21).KalimatMenurut Hardyanto (1999:1) agar dapatmembaca dan menulis huruf Jawa maka perlu diketahuitentang perangkat huruf Jawa yang meliputi:aksara Jawa Legena, pasangan, sandhangan,aksara murda, aksara swara, aksara rekan, angkaJawa, dan pada.Susunan kalimat yang digunakan dalam penelitianini adalah kalimat huruf latin yang terdiri darimaksimal 5 kata yang harus ditransliterasikan kedalam kalimat berhuruf Jawa penerapan pasangan.Kalimat berhuruf Jawa dalam penelitian ini disusundari kata-kata berhuruf Jawa yang terdiri dari (1)huruf Jawa Legena, (2) sandhangan swara danpanyigeg, ( 3) pasangan.Media KartalogiMedia atau medium adalah segala sesuatuyang teletak di tengah dalam bentuk jenjang ataualat apa saja yang digunakan sebagai perantaraatau penghubung dua pihak atau dua hal (SriAnifah, 2010:5). Sedangkan kata kartalogi sebenarnyaistilah baru dari peneliti yang merupakantemuan media baru dalam teknik menghafal bentukpasangan, yaitu suatu media menghafal bentukhuruf Jawa melalui kartu analogi bentuk.Analogi menurut Trianto (2007:93) adalahperbandingan yang dibuat untuk menunjukkan kesamaanantara ciri-ciri pokok suatu benda atau ideidedan seluruh ciri yang berbeda. Dari istilah kartudan analogi tersebut untuk selanjutnya peneliti memadukandengan istilah kartalogi. Media Kartalogipasangan adalah kartu sejumlah 20 lembar denganukuran 10x8 cm. Tiap kartu berisi tulisan pasanganhuruf Jawa. Adapun indikator kompetensinya ada-


Media Kartalogi Pasangan 93lah menghafal bentuk pasangan sebagai dasar menuliskalimat berhuruf Jawa penerapan pasangan.PasanganDalam Pedoman Penulisan Aksara Jawa(1996:1), pasangan adalah huruf pengganti di belakanghuruf mati selain ra, ha, dan nga. Menurutbentuknya, pasangan ada 2, yaitu berubah bentukdan yang tidak berubah bentuk dari huruf JawaLegena. Menurut posisinya, pasangan berada dibelakang huruf mati, yaitu pasangan ha, sa, pa dandi bawah huruf mati, yaitu pasangan selain pasanganha, sa, pa. Masing-masing huruf pasanganmempunyai ciri-ciri khusus yang pada dasarnyadapat dianalogi bentuknya.Menghafal Pasangan melalui Media KartalogipasanganMelalui media ini siswa diajak berlatihmenghafal bentuk pasangan dengan menganalogikanmasing-masing bentuk pasangan yang selanjutnyadisusun berdasarkan perubahan dan kemiripanbentuk pasangan. Adapun indikator kompetensinyaadalah menghafal bentuk pasangan sebagaidasar menulis kalimat berhuruf Jawa penerapanpasangan.Berikut adalah bentuk pasangan yang tersajidalam bentuk media kartalogi bentuk pasangan.…R= ra …Y= ya …G= ga …Z= nga…H= ha …S= sa …P= pa…K= ka …T= ta …L= la…B= ba …J= ja …C= ca…D= dha …Q= tha…M= ma …W= wa…N= na …V= nya…F= daKerangka BerpikirBerdasarkan permasalahan dan landasanteoretis tersebut, maka kerangka berpikir yangdapat digambarkan dalam penelitian ini meliputi (1)kondisi awal sebelum digunakan kartalogi pasanganmedia, keterampilan menulis kalimat berhurufJawa rendah, dan (2) penggunaan media kartalogipasangan mampu meningkatkan keterampilan menuliskalimat berhuruf Jawa penerapan pasangandan merubah perilaku siswa terhadap pembelajaranmenulis kalimat berhuruf Jawa.Hipotesis TindakanHipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah“Dengan penggunaan media kartalogi diharapkandapat meningkatkan keterampilan menulis kalimatberhuruf Jawa penerapan pasangan siswakelas VII G SMP Negeri 1 Weleri semester genaptahun ajaran 2010/2011”.METODE PENELITIANPenelitian ini dilaksanakan di SMP 1 Weleri,Kendal pada siswa kelas VII G semester genaptahun ajaran 2010/2011 yang berjumlah 32 siswa.Subjek yang digunakan adalah penggunaan mediakartalogi pasangan untuk meningkatkan keterampilanmenulis kalimat berhuruf Jawa pada siswakelas VII G SMP Negeri 1 Weleri semester genaptahun ajaran 2010/2011.Adapun prosedur penelitian yang digunakandalam penelitian ini mengacu pada desain PenelitianTindakan Kelas (PTK) yang meliputi penetapanfokus permasalahan, perencanaan tindakan,pelaksanaan tindakan yang disertai observasi daninterpretasi, analisis dan refleksi, serta apabila perluperencanaan tindak lanjut. Penelitian ini dilaksanakandalam dua siklus.Sumber pengambilan data pada penelitianini adalah siswa kelas VII G SMP 1 Weleri yangberjumlah 32 Siswa (18 siswa laki-laki dan 14 siswaperempuan) serta guru sebagai pengampu matapelajaran Bahasa Jawa kelas VII G (Peneliti) dan


94 METODIKA Volume 1 Nomor 3pengampu mata pelajaran Bahasa Jawa kelas VIII(Kolaborator).Adapun jenis data ada dua, yaitu data kuantitatifdan data kualitatif. Jenis data kuantitatif diperolehmelalui tes mentransliterasikan kalimat hurufLatin ke huruf Jawa. Data ini berupa nilai tes tiapsiklus. Sedangkan jenis data kualitatif diperoleh melaluinontes berupa sikap atau perilaku selama dansesudah proses pembelajaran, situasi, kondisi,serta perubahan yang terjadi. Selain itu data kualitatifjuga diperoleh dari peneliti dan rekan sejawatsebagai kolaborator.Teknik pengambilan data yang digunakanberbentuk tes dan nontes. Teknik tes berbentukbutir soal uraian sejumlah 5 soal untuk mengetahuiseberapa besar peningkatan keterampilan menuliskalimat berhuruf Jawa penerapan pasangan. Datayang diperoleh dari teknik ini adalah skor yangdicapai siswa dari hasil tes tiap siklusnya. Dari datatersebut kemudian dianalisis untuk menentukanpersentase ketuntasan, dan nilai rata-ratanya. Datayang telah dianalisis tiap siklus selanjutnya dibandingkanuntuk mengetahui peningkatan yang dicapai.Teknik nontes berbentuk observasi wawancara,telaah jurnal, dan perekaman untuk mengetahuiperubahan perilaku belajar siswa setelah digunakanmedia kartu analogi (kartalogi) pasangan.Analisis data dalam penelitian ini dilakukandengan cara kuantitatif dan kualitatif. Analisis datakuantitatif merupakan deskripsi nilai hasil belajarsiswa yang diukur dengan cara melakukan tes. Sedangkananalisis data kualitatif merupakan deskripsihasil nilai perkembangan perilaku siswa yangdiukur melalui teknik nontes berupa observasi, wawancara,telaah jurnal, dan perekaman.Keberhasilan penelitian ini dapat dilihat dariindikator kinerja yang meliputi: keterampilan menuliskalimat berhuruf Jawa pada siklus I secara klasikalsiswa yang tuntas minimal 70%. Sedangkanpada siklus II secara klasikal siswa yang tuntasminimal 75%Kondisi Awal (Prasiklus)Pada tahap prasiklus diperoleh datadengan nilai rata-rata kelas mencapai 62, 19, hanya15 (47%) siswa yang mencapai KKM sedangkan 17(53%) siswa lainnya belum mencapai KKM. Darihasil wawancara yang dilakukan kepada siswadiperoleh data bahwa siswa kurang tertarik terhadapmateri pembelajaran dan kurang pemahamanterhadap pembelajaran karena kendalatidak hafal bentuk huruf maupun pasangan.Sedangkan hasil perbincangan denganteman sejawat diperoleh data bahwa guru belummenggunakan media pembelajaran yang inovatifdan menarik dan pembelajaran masih berpusatpada guru. Pembelajaran yang kurang variatif initernyata mengakibatkan suasana pembelajaran kurangmenarik. Namun demikian tetap masih adasiswa yang aktif dalam pembelajaran Fenomenatersebut untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari hasilrekaman foto kegiatan prasiklus berikut ini.Aktif Mendengarkan Penjelasan GuruHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYAHasil PenelitianTidak Antusias dalam Pembelajaran


Media Kartalogi Pasangan 95Hasil Penelitian Siklus ISetelah dilakukan tes pada prasiklus, hasilnyabelum memenuhi KKM maka peneliti padasiklus I memberikan pembelajaran keterampilanmenulis kalimat berhuruf Jawa penerapan pasangandengan menggunakan media kartu analogi(kartalogi) pasangan. Hasil penelitian pada siklus Iini berupa hasil tes dan nontes.Hasil TesHasil tes siklus I merupakan hasil keterampilanmenulis kalimat berhuruf Jawa setelah siswamengikuti pembelajaran menggunakan media kartuanalogi (kartalogi) pasangan. Hasil tes siklus I setelahdianalisis dan dipersentase diperoleh databahwa siswa yang mencapai Kriteria KetuntasanMinimal (KKM) dalam siklus I ini ada 20 (62%)siswa, sedangkan 12 (37,5%) siswa dikategorikanbelum tuntas.Berdasarkan persentase ketuntasan menuruthasil tes siklus I, dapat diketahui bahwa siswayang mencapai atau melampaui KKM 75 sebanyak20 siswa dengan persentase 62,5%. Sedangkanyang belum berhasil mencapai KKM 75 sebanyak12 siswa dengan persentase 37,5%. Ini berartidalam siklus I terjadi peningkatan jumlah siswayang mencapai KKM 75 dibandingkan prasiklus.Dari hasil tes keterampilan menulis kalimatberhuruf Jawa pada prasiklus dan siklus I dapatdilihat adanya pengurangan jumlah siswa yangmasih di bawah KKM 75. Pada prasiklus jumlahsiswa yang berada di bawah KKM 75 sebanyak 17siswa, sedangkan pada siklus I berkurang menjadi12 siswa. Nilai rata-rata kelas juga terjadipeningkatan, pada prasiklus rata-rata kelas yangdicapai, yaitu 62,19. Sedangkan pada siklus I mengalamipeningkatan menjadi 70,31. Jumlah siswayang mencapai ketuntasan belajar juga mengalamikenaikan, dari 15 siswa menjadi 20 siswa.Hasil NontesObservasiHasil observasi yang dilakukan oleh observerterhadap guru menghasilkan skor perencanaanpembelajaran sejumlah 24 (85,7%) dari skor maksimal28 dan skor pelaksanaan pembelajaran sejumlah20 (83%) dari skor maksimal 24. Sedangkanhasil observasi terhadap siswa dari lima aspekpengamatan terhadap siswa yang memiliki persentaseterendah, yaitu keaktifan siswa menghafalpasangan dan menulis kalimat berhuruf Jawadiperoleh skor 73 dengan persentase 50,69%. Padasiklus I ini melalui observasi dapat dideskripsikanselama melakukan kegiatan pembelajaran tidaksemua siswa dapat mengikuti dengan baik. Penelitimenyadari hal tersebut, karena pola pembelajaranyang diterapkan peneliti merupakan teknikpembelajaran baru bagi siswa, sehingga perluproses untuk menyesuaikannya.WawancaraPada siklus I sasaran wawancara difokuskanpada siswa yang mendapat nilai tertinggi danterendah pada hasil tes menulis kalimat berhurufJawa penerapan pasangan. Perasaan senang dikemukakantidak hanya oleh siswa yang mendapatkannilai tinggi, namun siswa yang mendapatnilai terendah pun mengaku sangat senang. Siswamerasa senang karena mereka mendapatkan teknikbelajar baru dalam menghafal pasangan.Telaah Jurnal KelasDari catatan jurnal guru maupun siswadalam tahap siklus I diperoleh data berupa opinidari siswa maupun guru tentang jalannya prosespembelajaran. Hasil telaah jurnal siswa dapat dipaparkanbahwa (1) siswa yang merasakan senangselama mengikuti pembelajaran ada 28 siswa danyang merasa biasa-biasa saja ada 6 siswa, (2)siswa yang mengalami kesulitan selama mengikutipembelajaran ada 5 siswa sedangkan 2 menyatakantidak mengalami kesulitan, (3) tanggapansiswa terhadap media kartu analogi (kartalogi)pasangan sangat positif, (4) siswa terkesan terhadapgaya mengajar guru dalam hal penggunaanmedia baru, (5) siswa rata-rata memberi saranagar guru selalu menggunakan media dalam pem-


96 METODIKA Volume 1 Nomor 3belajaran untuk mempercepat proses pemahamanmateri pembelajaran. Sedangkan hasil telaah jurnalguru dapat dipaparkan bahwa (1) siswa menunjukkankeaktifan dalam pembelajaran, (2) tingkahlaku positif ditunjukkan pada siswa selama pembelajaranberlangsung, (3) respon siswa terhadappembelajaran sangat antusias, (4) suasana pembelajaranterasa lebih hidup, (5) peran media kartuanalogi (kartalogi) pasangan sangat membantuproses menghafal bentuk pasangan.Hasil PerekamanDari hasil perekaman berupa foto-foto kegiatandapat jalannya proses pembelajaran, yaitukegiatan lebih difokuskan kerjasama dalamkelompok untuk menghafal nentuk pasangan. Kegiatandilanjutkan pada kompetisi kelompok untukmenyusun dan melengkapi kartu analogi. Berikuthasil perekaman foto-foto kegiatan pada tahapsiklus I.Kegiatan Pembelajaran Siklus IMenyusun KartuKelompok yang BerhasilMelengkapi Susunan KartuRefleksi Siklus IBerdasarkan hasil tes dan nontes yangsudah dilakukan pada siklus I, peneliti belum puasdengan hasil yang dicapai karena rata-rata kelas dicapaihanya 70, 31 dan masih ada 12 siswa yangbelum mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal.Dibandingkan dengan hasil tes prasiklus, padasiklus I ini terjadi peningkatan sebanyak 13.06%dari nilai rata-rata prasiklus sebesar 62, 19 menjadi70,31.Pada hasil nontes diperoleh hasil pengamatanbahwa sebagaian besar siswa meresponpositif terhadap penggunaan kartu analogi (kartalogi)pasangan. Selain itu, masih ada kekurangankekuranganpada siklus I. Peneliti kurang optimaldalam memberikan penjelasan teknik menghafalbentuk pasangan dengan menggunakan mediakartu analogi (kartalogi) pasangan, sehingga sebagiansiswa kurang berhasil dalam mengahfal bentukpasangan. Oleh karena itu, peneliti akan memperbaikikekurangan siklus I pada siklus II. Di antaraperbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh penelitimeliputi (1) guru memposisikan dirinya tidak hanyaberada dalam kondisi klasikal saja dan harus memonitorsiswa secara perorangan, (2) guru untukmemotivasi siswa dalam menulis kalimat berhurufJawa melalui pemberian reward dan feedbackkepada siswa, misalnya berupa pujian (3) untukmengatasi siswa yang mengalami kesulitan dalammenghafal pasangan dan cenderung mengganggusiswa lain, maka siswa diberi motivasi untuk bekerjasama dengan teman yang lain yang sudahhafal (tutor sebaya).Beberapa kelemahan yang dimiliki oleh guruselama siklus I yang terlihat dalam kegiatan pem-


Media Kartalogi Pasangan 97belajaran meliputi (1) posisi guru kurang bisa mengontrolsiswa karena jumlah siswa banyak danmenyebar, dan (2) guru masih belum membangkitkansemangat siswa secara maksimal.Dari sisi kelemahan siswa selama siklus Idapat diidentifikasi beberapa kelemahan: (1) kekompakandalam kelompok belum terjalin ataumasih rendah, dan (2) masih ada siswa belum hafalhuruf Jawa Legena, pada hal huruf tersebut sebagaidasar untuk menghafal bentuk pasangan.Berdasarkan hasil pengamatan pada siklusI, pelaksanaan pembelajaran menulis kalimatberhuruf Jawa penerapan pasangan menggunakanmedia kartu analogi (kartalogi) pasanganternyata belum maksimal. Hal ini tampak pada saattes siklus I, masih ada siswa yang mengalami kebingungandalam menulis. Hal ini disebabkankarena tingkat kecepatan menghafal dan memahamimateri memang rendah, serta motivasi yangdimilikinya. Dari lima aspek pengamatan siswayang memiliki persentase terendah, yaitu keaktifansiswa menghafal pasangan dan menulis kalimatberhuruf Jawa penerapan pasangan masih ada 12siswa yang nilainya di bawah KKM 75. Berdasarkananalisis hasil tersebut di atas, maka tujuan yangingin dicapai dari kegiatan ini belum terpenuhi. Olehkarena itu kegiatan pembelajaran ini perlu dilanjutkanpada siklus berikutnya dengan mengkaji ulangrancangan pembelajaran yang dibuat oleh guru sesuaidengan permasalahan yang dihadapi padatahap siklus I.Hasil Penelitian Siklus IIHasil TesDari tes siklus II, diperoleh data jumlahsiswa yang mendapatkan nilai 81-100 atau kategoriA (sangat baik) sebanyak 20 siswa dengan persentase62,50%. Yang mendapat nilai 71-80 atau kategoriB (baik) sebanyak 6 siswa dengan persentase18,75%. Yang mendapat nilai 61-70 atau kategoriC (cukup) sebanyak 3 siswa dengan persentase9,37% Yang mendapatkan nilai 50-60 atau kategoriD (kurang) sebanyak 3 siswa dengan persentase9,37%. Sedangkan yang mendapat nilai kurang dari50 atau kategori E (kurang sekali) tidak ada atau0%. Siswa yang mencapai atau melampaui KKM 75sebanyak 26 siswa dengan persentase 81,25%.Sedangkan yang belum mencapai KKM 75 padasiklus II sebanyak 8 siswa dengan persentase18,75%.Berdasarkan hasil tes keterampilan menuliskalimat berhuruf Jawa penerapan pasangan padasiklus I dan siklus II dapat dilihat adanya penguranganjumlah siswa yang masih di bawah KKM 75.Pada siklus I jumlah siswa yang berada di bawahKKM 75 sebanyak 15 siswa, sedangkan pada siklusII berkurang menjadi 6 siswa. Nilai rata-rata kelasmeningkat dari 70, 31 menjadi 85, 31 berarti meningkatsebanyak 76,81%. Jumlah siswa yang mencapaiketuntasan belajar mengalami kenaikan, dari17 siswa menjadi 26 siswa yang berarti meningkatsebanyak 9 siswa. Hal ini menunjukkan bahwadengan digunakan media kartu analogi (kartalogi)pasangan keterampilan siswa dalam menulis kalimatberhuruf Jawa penerapan pasangan meningkat.Hasil NontesObservasiDari Observasi terhadap guru diperoleh data(1) guru telah melaksanakan pembelajaran padasiklus II sesuai dengan rencana yang telah ditentukan,(2) guru telah menciptakan suasana pembelajarandengan menggunakan media kartu analogi(kartalogi) pasangan, (3) guru berusaha menarikminat siswa, agar para siswa terlibat lebih aktifdalam pembelajaran dibanding dengan siklus sebelumnya,(4) guru lebih lebih dapat mengarahkansiswa karena pembelajaran terfokus pada kerjaindividu, (5) guru memberikan dorongan semangatberupa kata-kata pujian, (6) guru selalu mengingatkankepada siswa agar lebih giat berlatih menulishuruf Jawa. Adapun Skor yang dicapai berdasarkanhasil observasi yang dilakukan oleh observer terhadapguru persiapan guru dalam pembelajaranmenghasilkan skor sejumlah 25 (89,28%) dari skormaksimal 28. Sedangkan dari observasi terhadap


98 METODIKA Volume 1 Nomor 3pelaksanaan pembelajaran diperoleh skor 22(91,6%) dari skor maksimal 24.Adapun hasil observasi terhadap keaktifansiswa pada siklus II dilakukan oleh peneliti bersamakolaborator diperoleh data bahwa siswa lebih aktifdan lebih siap untuk menyusun kartu analogi pasangankarena di rumah telah diberi tugas untukmenghafal bentuk pasangan menggunakan mediatersebut. Peran masing-masing individu dalampembelajaran terlihat makin jelas, sehingga intensitasbelajar siswa lebih meningkat pada siklus II ini.Adapun Skor dari hasil observasi terhadap siswadalam pembelajaran ini diperoleh data (1) keaktifansiswa dalam mengikuti pembelajaran: 89,58%, (2)kemampuan siswa dalam merespon dan menjawab:68,75%, (3) keaktifan siswa dalam mendengarkanpenjelasan materi: 74,31%, (4) keaktifan siswa dalammenulis kalimat berhuruf Jawa: 74,31%, dan (5)keaktifan siswa pada saat diskusi dan tanya jawab:84,03%.WawancaraHasil wawancara diambil dari satu siswayang mendapat nilai tertinggi dan terendah diperolehdata bahwa perasaan senang dan tertarikkarena mereka mendapatkan model pembelajaranbaru dalam menulis kalimat berhuruf Jawa, yaitumedia kartu analogi (kartalogi) pasangan. Menurutsiswa, pembelajaran menulis kalimat berhuruf Jawamenggunakan media tersebut sangat menarik,menyenangkan, dan menantang. Siswa lebih mudahmemahami dan menambah semangat denganadanya kompetisi secara individu. Keduanyamengemukakan bahwa tidak ada kesulitan dalammemahami, hanya ada sedikit bagian tertentu yangbelum jelas.Dari beberapa jawaban siswa, dapat disimpulkanbahwa siswa tertarik dengan media kartuanalogi (kartalogi) pasangan yang digunakan penelitidalam pembelajaran . Mereka menyukai danmenikmati proses pembelajaran yang dilaksanakanoleh peneliti, karena pembelajaran menarik, menyenangkan,menantang, dan mudah dipahami.Telaah Jurnal KelasDari catatan jurnal guru maupun siswadalam siklus II diperoleh data berupa opini tentangjalannya proses pembelajaran. Hasil telaah jurnalsiswa dapat dipaparkan bahwa (1) siswa yang merasakansenang selama mengikuti pembelajaranyang semula ada 28 siswa pada siklus I, meningkatmenjadi 30 siswa. Sedangkan yang merasa biasabiasasaja ada 2 siswa, (2) siswa yang mengalamikesulitan mengikuti pembelajaran mengalami penurunanyang semula ada 5 siswa, menurun menjadi3 siswa. (3) tanggapan siswa terhadap mediakartu analogi (kartalogi) pasangan sangat positifkarena mereka menemukan hal yang baru dalammenghafal bentuk pasangan, (4) siswa terkesanterhadap gaya mengajar guru yang mengajak berkompetisimenyusun kartu analogi pasangan, (5)saran yang dapat siswa berikan untuk pembelajaranrata-rata tentang penggunaan media lainyang lebih menarik untuk mempercepat proses pemahamanmateri pembelajaran.Adapun dari jurnal yang telah diisi oleh gurusebagai responden berisi uraian pendapat seluruhkegiatan yang dilihat dan dirasakan selama prosespembelajaran, dapat dipaparkan bahwa (1) keaktifansiswa dalam pembelajaran meningkat dibandingsiklus I. Hal ini yang terlihat pada saatsiswa berkompetisi menyusun kartu analogi secaraindividu, (2) perilaku siswa selama pembelajaransemakin terfokus mengikuti pembelajaran karenamereka memiliki tanggung jawab tugas secaraindividu, (3) siswa semakin merespon jalannyapembelajaran. Hal ini terlihat pada saat merekaberebut untuk menyelesaikan tugas di depan kelas,(4) suasana pembelajaran semakin menyenangkan.Terlihat saat siswa bangga bisa menyelesaikantugasnya secara individu dalam menyusun kartu,(5) penggunaan media kartu analogi mampumenjadikan pembelajaran ke arah bermain yangmengasyikkan.Hasil PerekamanDari hasil perekaman berupa foto-foto kegiatandapat dilihat adanya perubahan skenarioatau jalannya proses pembelajaran, yaitu kegiatanlebih difokuskan tidak pada kelompok lagi namun


Media Kartalogi Pasangan 99ditingkatkan pada kegiatan individu. Hal ini bertujuanuntuk melatih tanggung jawab masingmasingsiswa meskipun kerja sama maupun diskusidengan teman masih diperlukan. Berikut hasil perekamanfoto-foto kegiatan pada tahap siklus II.Kegiatan Pembelajaran Siklus IIMasih ada siswa tidak antusiasTes Siklus IIKompetisi Menyusun KartuSiswa yang BerhasilMelengkapi Susunan KartuMenulis Huruf JawaRefleksi Siklus IIDari hasil tes dan nontes yang sudah dilakukanpada siklus II, peneliti sudah cukup puasdengan hasil yang dicapai karena siswa telah mencapainilai ketuntasan, yaitu 75,00 ada 26 siswa.Nilai rata-rata kelas klasikal mencapai 85,31. Padasiklus II ini sudah mengalami peningkatan darisiklus I, yaitu 21,33% dari rata-rata kelas padasiklus I 70. 31 menjadi 85.31 pada siklus II.Pada hasil nontes, pada siklus II ini diperolehdari hasil observasi bahwa sebagian besarsiswa merespon positif terhadap pembelajaranmenulis kalimat berhuruf Jawa penerapan pasangan.Sebagian besar siswa serius dalam mengikutipembelajaran, walaupun masih ada siswayang kurang serius atau meremehkan. Saat kompetisikelompok, siswa lebih semangat dibandingkantahap sebelumnya. Dari lima aspek pengamatansiswa yang memiliki persentase terendah68,75%, yaitu kemampuan siswa dalam merespondan menjawab pertanyaan. Berdasarkan analisishasil tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai darikegiatan ini sudah terpenuhi. Dengan demikiankegiatan pembelajaran ini tidak perlu dilanjutkanpada siklus berikutnya.Pembahasan


100 METODIKA Volume 1 Nomor 3Dari hasil pelaksanaan pada tahap prasiklus,siklus I, dan siklus II di atas secara ringkas dapat dipaparkanpembahasan sebagai berikut.Peningkatan besaran keterampilan menuliskalimat berhuruf Jawa penerapan pasangan.Peningkatan ini dapat dibandingkan melaluinilai rata-rata tes prasiklus sebesar 62,19, siklus Isebesar 70,31, dan siklus II sebesar 85,31. Untuklebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1perbandingan nilai tes antarsiklus berikut ini.Tabel 1. Perbandingan Nilai Tes AntarsiklusNo. Hasil (Angka) Hasil (Huruf) Kategori Prasiklus Siklus I Siklus II81-100 A Sangat 1. Baik 8 14 202. 71-80 B Baik 7 6 63. 61-70 C Cukup 2 3 34. 50-60 D Kurang 5 4 35. < 50 E Sangat Kurang 8 5 -Jumlah 32 32 32ini.Untuk memperjelas perbandingan nilai tes antarsiklus dapat dijelaskan melalui gambar Diagram1 berikutDiagram1. Perbandingan Nilai Tes AntarsiklusAdapun ketuntasan dan nilai rata-rata masing-masing siklus dapat dipaparkan dalam Tabel 2 berikut ini.Tabel 2. Perbandingan Ketuntasan dan Nilai Rata-rata AntarsiklusNo. Jenis Prasiklus Siklus I Siklus II1. Ketuntasan 49,00% 62,50% 81,25%2. Rata-rata 62,19 70,31 85, 31ntuk memperjelas perbandingan ketuntasan dan nilai rata-rata antarsiklus tersebut dapat diperjelas denganDiagram 2 berikut ini.U


Media Kartalogi Pasangan 101Diagram 2. Perbandingan Ketuntasan dan Rata-rata AntarsiklusDari data yang peneliti tampilkan di atasdapat dijelaskan bahwa: (1) pembelajaran denganmenggunakan media kartu analogi (kartalogi)pasangan menunjukkan tingkat efektivitas yang sangattinggi, (2) setelah digunakan media kartu analogipasangan, siswa merasakan lebih mudahdalam menghafal sehingga dapat meningkatkan keterampilanmenulis kalimat berhuruf Jawa. Haltersebut dapat dibuktikan dengan hasil tes yangmengalami peningkatan mulai dari prasiklus, siklusI, sampai dengan siklus II.Peningkatan perubahan perilaku belajar siswaHasil pengamatan pelaksanaan tahap prasiklus,siklus I, dan siklus II telah terjadi perubahanperilaku belajar siswa dalam pembelajaran. Perubahanperilaku belajar siswa tersebut dapat dilihatdari perbandingan hasil pengamatan terhadapaktivitas siswa dan pengamatan terhadap gurudalam pembelajaran yang mengalami peningkatanpada masing-masing siklus. Perbandingan peningkatantersebut dapat ditunjukkan pada Tabel 3berikut ini.Tabel 3. Peningkatan Perubahan Perilaku Belajar Siswa AntarsiklusNo. Jenis Prasiklus Siklus I Siklus II Jumlah Rata-rata1. Pengamatan terhadap aktivitas 66,09 69,95 76,87 212,89 70,96siswa2. Pengamatan terhadap Guru82,14 85,70 89,20 257,04 85,68,(Perencanaan Pembelajaran)3. Pengamatan terhadap Guru79,16 83,00 91,60 253,76 84,58(Pelaksanaan Pembelajaran)Jumlah 227,39 238,65 257,77 723,81Rata-Rata 75,80 79,55 85,89 241,24Untuk memperjelas data peningkatan perubahan perilaku belajar siswa pada antarsiklus dapat diperjelasdengan gambar Diagram 3 berikut ini.Diagram 3. Peningkatan Perubahan Perilaku Belajar Siswa AntarsiklusDari data tersebut dapat peneliti jelaskanbahwa (1) proses pembelajaran yang peneliti laksanakancenderung diminati siswa dan (2) siswadapat berfungsi sebagai subjek pembelajaran,sementara guru sebagai moderator, yang menjadijembatan penghubung dan pendamping dalampembelajaran.Keberhasilan penggunaan media kartuanalogi (kartalogi) pasangan dalam meningkatkankuantitas hasil dan kualitas proses pembelajaran inidapat dilihat dari indikator-indikator berikut: (1)


102 METODIKA Volume 1 Nomor 3waktu pembelajaran lebih efektif, (2) teknik kerjakelompok dapat meningkatkan keaktifan dalampembelajaran, dan (3) perencanaan pembelajaranyang direncanakan dengan baik, akan mencapaitujuan pembelajaran secara maksimal.PENUTUPSimpulanBerdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyimpulkanbahwa (1) pengunaan media kartu analogi(kartalogi) pasangan model pembelajaran ternyatamampu meningkatkan keterampilan menuliskalimat berhuruf Jawa yang dapat dilihat adanyapeningkatan jumlah siswa yang mengalami ketuntasanbelajar dari siklus I sampai dengan siklusII. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil keterampilansiswa menulis kalimat berhuruf siklus I mencapainilai rata-rata 70,31. Yang mencapai KKM 75persentasenya 62,50% (20 siswa dari 32 siswa).Pada siklus II nilai rata-rata mencapai 85,31. Yangmencapai KKM 75 persentasenya 81,25% (26siswa dari 32 siswa); (2) telah terjadi perubahanperilaku belajar siswa. Hal ini ditunjukkan denganadanya peningkatan keaktifan siswa dalam prosespembelajaran. Siklus I siswa yang aktif persentasenya69,95%, sedangkan siklus II terjadi peningkatan76,87%.SaranBerdasarkan simpulan penelitian, maka penelitimenyampaikan saran, siswa diharapkan dapatbekerja sama teman lain (tutor sebaya) dalam pembelajaranagar mempermudah proses pemahamandan aktif dan mau berpikir keras sehingga hasilyang didapat sesuai yang dikehendaki.Bagi Guru diharapkan dapat memonitor danmembimbing siswa yang mengalami kesulitandalam pembelajaran serta selalu berusaha menciptakanteknik dan media yang inovatif dalam pembelajaran.Sedangkan bagi Sekolah hendaknya selalumemberi motivasi kepada guru, antara lain memberipenghargaan kepada guru yang menunjukkankinerjanya dan berupaya untuk selalu menciptakaniklim kerja yang kondusif melalui suasana yang harmonistanpa mendiskriminasikan mata pelajaranmateri ujian nasional dengan mata pelajaran yangbukan materi Ujian Nasional.DAFTAR PUSTAKAAnifah Sri, 2010. Media Pembelajaran. Surakarta:Bina Pustaka.Hardyanto, 1999. Membaca dan Menulis HurufJawa. Semarang: FPBS IKIP Semarang.Kongres Bahasa Jawa IV. 1996 PedomanPenulisan Aksara Jawa, carakan(Abjad Jawa). Surabaya.Suyitno, 1985. Menulis III. Surakarta: UniversitasNegeri Surakarta.Tarigan, Henry Guntur. 1987. Menulis SuatuKeterampilan Berbahasa. Bandung:Angkasa.Trianto, 2007. Model-model Pembelajaran InovatifBerorientasi Kontruktivistik. Jakarta: PrestasiPustaka Publisher.


PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NASKAH DRAMADENGAN MEDIA FILM DRAMA DAN STRATEGI EPISODE KHAYALPADA SISWA KELAS IX F SMP NEGERI 3 PURWOREJO SEMESTER 2TAHUN PELAJARAN 2010/2011Teguh Priyadi *)Abstrak: Masalah penelitian ini adalah kurangnya minat, perhatian, dan rendahnyakemampuan siswa dalam menulis naskah drama. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkankemampuan siswa dalam menulis naskah drama. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus.Setiap siklus dilaksanakan dalam dua pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan adanyapeningkatan nilai dari 78,60 pada siklus I menjadi 81,38 pada siklus II dan ketuntasanmencapai 87,5%. Dapat disimpulkan penggunaan media film drama dan strategi episodekhayal dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas IX F, semester 2, Tahun Pelajaran2010/2011 dalam menulis naskah drama.Kata kunci: menulis naskah drama, film drama, strategi episode khayalPENDAHULUANMenulis naskah drama merupakan salahsatu kompetensi yang harus dikuasai oleh siswakelas IX F, SMP Negeri 3 Purworejo. Sebagai siswaRintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)idealnya mereka memiliki kemampuan yang tinggidalam menulis naskah drama, nilainya mencapaiKriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu 75 danketuntasan belajar mencapai 85%. Kondisi awalmenunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa 74,16 danketuntasan belajar 66,66%. Hal ini terjadi karenasiswa kurang tertarik dengan materi pembelajaran,kreativitas dan imajinasi siswa kurang, serta pemahamanmereka terhadap penulisan naskah dramamasih rendah. Selain itu guru belum menggunakanmedia pembelajaran yang menarik perhatian danminat belajar siswa, serta belum menggunakanstrategi pembelajaran yang memudahkan siswadalam menulis naskah drama. Permasalahan tersebutdipecahkan dengan cara menggunakan mediafilm drama dan strategi episode khayal dalampembelajaran menulis naskah drama.Rumusan masalah penelitian ini adalah apakahpenggunaan media film drama dan strategi episodekhayal dapat meningkatkan kemampuan siswakelas IX F SMP Negeri 3 Purworejo semester 2Tahun Pelajaran 2010/2011 dalam menulis naskahdrama? Adapun tujuan penelitian ini, yaitu untukuntuk meningkatkan kemampuan menulis naskahdrama pada siswa kelas IX F SMP Negeri 3 Purworejosemester 2 tahun pelajaran 2010/2011. Sementaraitu, manfaat penelitian ini bagi siswa adalahuntuk meningkatkan kemampuan menulis naskahdrama, sedangkan bagi guru penelitian ini bermanfaatuntuk menambah wawasan dan pengalamandalam mengelola pembelajaran menulisnaskah drama melalui penggunaan media filmdrama dan strategi episode khayal. Selain itu,penelitian ini juga bermanfaat bagi guru untukmeningkatkan kinerjanya sehingga akan membantupeningkatan kualitas hasil pembelajaran bahasaIndonesia.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDA-KANTeori Naskah DramaMuyassaroh (2010) menyatakan bahwa menulisteks drama adalah kegiatan melahirkan pikirandan perasaan secara ekspresif dan apresiatif melaluiteks drama. Berkaitan dengan hal tersebut,Halimah (2011) menjelaskan bahwa naskah dramaditulis dalam dua bagian, yaitu percakapan dan petunjukpemanggungan yang berisi ketentuan gerak,mimik para pemain drama atau situasi panggung.Penjelasan Muyassaroh mengenai pengertian menulisnaskah drama tersebut menunjukkan bahwa*) Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 3 Purworejo


104 METODIKA Volume 1 Nomor 3Muyassaroh berorientasi pada proses, sedangkanpenjelasan Halimah berorientasi pada isi naskahdrama.Luxemburg (dalam Sulistyo, 2010) menyatakanbahwa teks (naskah) drama merupakanteks yang berupa dialog dan isinya membentangkansebuah alur. Sejalan dengan hal tersebut,Nusantara (2004: 136) menjelaskan bahwa unsurdasar teks drama adalah tema, plot, dialog,karakter, bahasa, ide, pesan, dan seting. Uraiantersebut menunjukkan bahwa penjelasan mengenainaskah drama dari Luxemburg menekankan unsurdialog dan alur, sedangkan penjelasan dari Nusantaramenekan unsur naskah drama secara lebihlengkap. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkanbahwa naskah drama adalah teks yangberwujud bahasa dialog yang menggambarkantema/ide dalam seting tertentu dengan karakterpelaku untuk menyampaikan pesan tertentu yangdirancang untuk dipentaskan.Teori Media PembelajaranMedia merupakan salah satu komponenpenting dalam kegiatan belajar mengajar (Mustikasari,2002). Media pembelajaran tidak hanya dapatmenarik perhatian dan minat siswa untuk belajar,tetapi juga dapat mempermudah penyampaianpesan, serta memperjelas pesan atau yangdisampaikan guru. Karena itu siswa dapat memahamikonsep-konsep pembelajaran dengan jelassehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.Sejalan dengan pendapat tersebut, Brown (dalamSudrajat, 2008) mengungkapkan bahwa mediayang digunakan dalam pembelajaran dapatmempengaruhi efektivitas pembelajaran. Secaraumum manfaat media pembelajaran adalah memperlancarinteraksi antara guru dengan siswa sehinggakegiatan pembelajaran lebih efektif danefisien (Mustikasari, 2002).Menurut Subyakto (1993:206) media dapatdibagi menjadi tiga, yaitu media yang didengar(auditory), media yang dilihat (visual), dan mediayang didengarkan dan dilihat (audio-visual). RudyBretz (dalam Mustikasari, 2011) membedakanmedia berdasarkan tiga unsur pokok: suara, visual,dan gerak. Berdasarkan hal tersebut, dibedakandelapan media, yaitu (1) media audio, (2) mediacetak, (3) media visual diam, (4) media visualgerak, (5) media audio semi gerak, (6) media visualsemi gerak, (7) media audio-visual diam, (8) mediaaudio-visual gerak. Sudrajat (2008) menggolongkanfilm ke dalam media Projected motion media.Teori Media FilmMenurut Arsyad Azhar (dalam Insico, 1997)film adalah serangkaian gambar yang diproyeksikanke layar pada kecepatan tertentu sehingga menjadikanurutan tingkatan yang berjalan terus sehinggamenggambarkan pergerakan yang tampaknormal. Sejalan dengan pengertian tersebut, Insico(2011) menjelaskan bahwa film adalah gambarbergerak bersuara yang menuturkan cerita kepadapenonton.Film merupakan bentuk karya seni yang mengandungbeberapa unsur. Unsur-unsur tersebutmeliputi: teknologi dari alat yang dipergunakan,unsur managerial, dan perpaduan atas berbagaijenis seni seperti seni suara/ musik, akting/ drama,bahkan seni rupa. Menurut Sumarno (2011) pembelajarandengan media film akan memberikan pengalamanbelajar yang luas sekaligus terbuka untukmemberi interpretasi secara bebas dan berbedabeda.Penggunaan media film bukan hanya mendorongproses pembelajaran pada ranah kognitif,tetapi juga ranah afektif, bahkan psikomotor. Darialur cerita, film mengandung kekuatan, sesuaikadar interpretasi yang akan mempengaruhi pembentukanmental dan sikap peserta didik. Sejalandengan penjelasan tersebut, Insico (2011) menyatakanbahwa film merupakan alat komunikasi yangsangat membantu proses pembelajaran efektif.Menurut Supriatna (2009) film (film gerak)merupakan sebuah media pembelajaran yangsangat menarik karena mampu mengungkapkankeindahan dan fakta bergerak dengan efek suara,gambar dan gerak, film juga dapat diputar berulangulangsesuai dengan kebutuhan. Lebih lanjut dijelaskanbahwa salah satu keunggulan media filmadalah dapat merangsang motivasi kegiatan siswa.


Peningkatan Kemampuan Menulis Naskah Drama 105Insico (2011) menetapkan beberapa langkahpemanfaatan film dalam pembelajaran. Secaraumum langkah-langkah tersebut meliputi: persiapanguru, persiapan kelas, penyajian, dan lanjutan.Langkah persiapan yang dilakukan guru adalahmempersiapkan unit pelajaran terlebih dahulu, kemudianbaru memilih film yang tepat untuk mencapaitujuan yang diharapkan. Langkah persiapankelas dilakuakn oleh guru supaya siswa mendapatjawaban atas pertanyaan yang timbul dalam pikiranmereka sewaktu menyaksikan film tersebut.Langkah penyajian berupa penayangan film denganberbagai perlengkapan dengan memperhatikankondisi kelas. Langkah Lanjutan atau aplikasi sesudahpemutaran film berupa kegiatan diskusi,pembuatan laporan, tugas, dan lain.lain.Teori Strategi Episode KhayalTrianto (2010:139) mendefinisikan strategisebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anakdidik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajaruntuk mencapai tujuan yang telah digariskan.Senada dengan pengertian tersebut, Pringgowidagda(2002:88) menyatakan bahwa secaraumum strategi diartikan suatu cara, teknik, taktik,atau siasat yang dilakukan seseorang atau sekelompokorang guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.Kedua pengertian strategi tersebut mengandungpenekanan yang sama bahwa strategimerupakan suatu hal yang berorientasi pada pencapaiantujuan. Perbedaannya adalah subjek/pelaku strategi menurut Trianto khusus pelakuproses pembelajaran (guru dan siswa), sedangkansubjek strategi menurut Pringgowidagdo masihbersifat umum. Berdasarkan hal tersebut, sesuaidengan lingkup permasalahan penelitian ini, dapatdisimpulkan bahwa strategi merupakan cara khususyang dilakukan guru dan siswa dalam pembelajaranuntuk mencapai tujuan pembelajaran yang telahditetapkan. Strategi dalam penelitian ini diorientasikanpada pencapaian kompetensi menulisnaskah drama.Moody (dalam Endraswara, 2003:241) memerinciempat tahap penulisan cerita, yaitu: (1)retelling a story (menceritakan kembali sebuahcerita), (2) retelling a story- from a fresh angle(menceritakan kembali sebuah cerita dengan sudutpandang lain), (3) imaginary episodes (menceritakankembali dengan episode khayal), dan (4)original writting (penulisan kreatif). Sejalan denganhal tersebut, Halimah (2011) menjelaskan langkahlangkahpraktis yang dimodifikasi dari Moody(1971:88) yang dapat dijadikan sebagai pegangandalam pembelajaran menulis naskah drama. Langkah-langkahtersebut meliputi: (1) menggali nilainilaidramatik (dari drama yang sudah ada), (2) menulisdialog imajiner, dan (3) menciptakan situasidramatik dari berbagai sumber.Uraian tersebut menunjukkan bahwa baikEndraswara maupun Halimah memiliki kesamaanpandangan mengenai gagasan Moody yang dapatdijadikan sebagai strategi penulisan cerita/ naskahdrama. Endraswara menyebutnya imaginary episodes(menceritakan kembali dengan episodekhayal), sedangkan Halimah menyebutnya denganlangkah menulis dialog imajiner. Kedua penyebutanlangkah/ strategi tersebut mengandung unsur pokokimajinasi (daya khayal) sebagai strategi penulisancerita/ naskah drama.Strategi episode khayal sebagai cara penulisannaskah drama dilakukan dengan cara membuatdialog imajiner. Strategi ini dilakukan denganmembuat dialog berdasarkan situasi dramatik yangtelah dipahami dari drama yang disaksikan. Selainmembuat dialog imajiner dari situasi dramatik, penulisannaskah drama juga dapat dilakukan dengancara memberi pemecahan masalah ditinjau darisudut pandang yang berbeda dari yang ditampilkandalam drama yang disaksikan.Sejalan dengan strategi tersebut, Hadipurnomo(2007) menjelaskan bahwa model rangsangmerupakan salah satu alternatif model pembelajaranyang cukup efektif dalam menumbuhkan keterampilanmenulis. Model tersebut menekankanpada upaya untuk mempermudah seseorang dalammenuangkan gagasannya. Rangsang objek peristiwadapat disajikan melalui media film drama sehinggasekaligus dapat menarik perhatian danminat siswa untuk belajar.


106 METODIKA Volume 1 Nomor 3Uraian tersebut menunjukkan bahwa Moody,Halimah, dan Endraswara memiliki kesamaan pandanganmengenai strategi episode khayal (imaginaryepisodes) sebagai strategi penulisan. Penelitijuga sepakat bahwa strategi tersebut dapat digunakandalam penulisan, khususnya naskah drama.Untuk lebih memudahkan pelaksanaan strategi tersebutpeneliti menggunakan rangsang berupa filmdrama. Dengan demikian permasalahan sulitnyasiswa menggali ide sebagai tema penulisan naskahdrama dapat diatasi. Film drama yang dipadukandengan strategi episode kahayal sekaligus sebagaisarana siswa menulis naskah drama.Kerangka BerpikirKemampuan menulis naskah drama merupakankompetensi yang harus dikuasai olehsiswa kelas IX F SMP Negeri 3 semester 2 tahunpelajaran 2010/2011. Pencapaian kompetensi tersebuttidak hanya berguna bagi pemenuhanstandar kompetensi dan kompetensi dasar pembelajaran,tetapi dapat menjadi lifeskill yang bergunabagi kehidupan siswa kelak di masyarakat.Di antara penyebab rendahnya kemampuansiswa dalam menulis naskah drama, yaitu kurangnyaminat, perhatian, dan kreativitas siswa dalammengimajinasikan peristiwa yang dialaminya. Siswakesulitan mengembangkan imajinasi dari peristiwayang dialaminya sehari-hari. Akibatnya siswa kesulitanmenentukan tema, konflik, deskripsi latar, danjuga kesulitan menuliskan dialog antar pelakudrama. Media film drama dapat menampilkan suaradialog antarpelaku cerita sekaligus menampilkanvisualisasinya. Hal ini dapat menarik perhatian danminat siswa untuk mengikuti pembelajaran menulisdrama. Tayangan cerita dari media film drama sekaligusdapat memberikan gambaran konkret peristiwakeseharian yang dapat dijadikan topik penulisandrama. Di samping itu tayangan cerita darimedia film drama dapat dijadikan sebagai inspirasitopik penulisan naskah drama. Siswa dapat menulisnaskah drama dengan mengimajinasikan kelanjutancerita sesuai dengan apresiasi dan imaji siswamasing-masing. Kelanjutan cerita tersebut dapatmenjadi episode tersendiri sebagai naskah dramayang berdiri sendiri. Dengan berlatih membuat episodekhayal tersebut semakin lama siswa memilikiketerampilan dalam menentukan topik, menentukankonflik, mendeskripsikan latar, dan menulis dialogantarpelaku dalam naskah drama. Dengan demikiankemampuan menulis naskah drama siswakelas IX F SMP Negeri 3 Purworejo semester 2tahun 2010/2011 dapat ditingkatkan denganpenggunaan media film drama dan strategi episodekhayal.Hipotesis TindakanDengan media film drama dan strategi episodekhayal dalam pembelajaran menulis naskahdrama, kemampuan menulis naskah drama siswakelas IX F SMP Negeri 3 Purworejo semester 2 tahunpelajaran 2010/2011 dapat ditingkatlkan.METODE PENELITIANPenelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 3Purworejo, semula bernama SMP Negeri 1 Kutoarjo,berdiri pada tahun 1950. Pada tahun 2003atas instruksi Bupati berubah menjadi SMP Negeri3 Purworejo. Dalam perkembangannya, sekolah inimenjadi sekolah favorit di Kabupaten Purworejo.Pada tahun 2003 SMP ini mencapai status SekolahStandar Nasional (SSN) dan tahun 2007 meningkatmenjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional(RSBI). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IXF SMP Negeri 3 Purworejo tahun pelajaran 2010/2011. Jumlah siswa adalah 24 orang, terdiri dari 10orang laki-laki dan 12 orang perempuan. Penelitiandilakukan di kelas tersebut karena kemampuannyadalam menulis naskah drama masih rendah, kurangaktif dan kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran.Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus dansetiap siklus dilaksanakan dalam dua kali pertemuan.Tahapan setiap siklus meliputi perencanaan,pelaksanaan tindakan dan observasi, sertarefleksi. Tahap kegiatan pembelajaran meliputieksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Tahap perencanaanpenelitian digunakan untuk menentukanmateri pembelajaran, menentukan desain dan


Peningkatan Kemampuan Menulis Naskah Drama 107skenario pembelajaran, menentukan dan mempersiapkanmedia film drama, serta menyusun RPP.Tahap pelaksanaan tindakan digunakan untuk melaksanakanpembelajaran menulis naskah dramadengan media film drama dan strategi episodekhayal. Dalam kegiatan eksplorasi siswa mencermatimodel penulisan naskah drama, lalu menyimaktayangan film drama. Dalam tahap elaborasi,siswa memahami isi cerita film drama, lalumenyusun episode khayal dari film drama, kemudianmempresentasikan hasilnya. Dalam tahapkonfirmasi, siswa memperhatikan penguatan dariguru dan memberikan saran perbaikan naskahdrama. Kegiatan akhir pembelajaran digunakanuntuk menyampaikan refleksi dan simpulan pembelajaran.Pada akhir pertemuan, guru memberikantugas kepada siswa secara perorangan untuk menulisnaskah drama sebagai bahan penilaian.Dalam tahap pelaksanaan tindakan, sekaligusdilakukan observasi terhadap aktivitas gurudan siswa. Hasil observasi dan prestasi belajarsiswa dikaji dalam refleksi sebagai dasar penentuankelanjutan siklus penelitian.Ada dua instrumen yang digunakan dalampenelitian ini, yaitu Lembar Kerja Siswa dan LembarObservasi. Lembar Kerja Siswa digunakan untukmemperoleh data variabel (y) tentang kemampuansiswa dalam menulis naskah drama. Lembar KerjaSiswa berupa teks berisi soal yang harus dikerjakansiswa di kelas saat pelaksanaan tindakan secaraberkelompok di kelas dan secara individual sebagaipenugasan di rumah. Lembar observasi digunakanuntuk memperoleh data variabel (x) mengenaipenggunaan media film drama dan strategi episodekhayal dalam pembelajaran menulis naskah drama.Data yang dikumpulkan dan dikaji dalam penelitianini berupa data kuantitatif dan kualitatif.Data tersebut meliputi variabel (y), berupa peningkatankemampuan menulis naskah drama yang diperolehdengan cara penilaian setelah proses pembelajaranbaik pada siklus I maupun siklus II. Datavariabel (x), berupa penggunaan media film dramadan strategi episode khayal dalam proses pembelajaranmenulis naskah drama. Data ini didapatmelalui observasi yang dilakukan oleh temansejawat, guru bahasa Indonesia saat pelaksanaanpembelajaran pada siklus I dan siklus II.Analisis data hasil tes kemampuan menulisnaskah drama (variabel y) dilakukan dengan teknikanalisis deskriptif komparatif. Teknik ini dilakukandengan cara mendeskripsikan dan membandingkanhasil tes tertulis kemampuan menulis naskah dramaprasiklus, siklus I, dan siklus II dengan berpedomanpada indikator kinerja yang telah ditetapkan. Hasilobservasi terhadap tindakan guru dalam penggunaanmedia film drama dan strategi episode khayal(variabel x) dianalisis dengan analisis deskriptif berdasarkanobservasi & refleksi.Indikator kinerja penelitian ini mengacu kepadaKriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telahditetapkan guru mata pelajaran Bahasa Indonesiakelas IX F SMP Negeri 3 Purworejo, yaitu 75. Sikluspenelitian ini dinyatakan berhasil bila 85% siswatelah mencapai nilai minimal 75.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYAHasil PenelitianHasil penjajakan (prasiklus) menunjukkanbahwa dari 24 orang siswa kelas IX F, baru 16orang siswa (66,66%) yang dapat mencapai nilai diatas KKM. Sebanyak 8 orang siswa (33,33%)belum mencapai nilai sesuai dengan Kriteria KetuntasanMinimal (KKM) yang telah ditetapkan.Adapun nilai rata-rata kemampuan siswa dalammenulis naskah drama adalah 74,16. Nilai tertinggi,yaitu 86,66 dicapai oleh 6 orang siswa (25%).Siswa yang mencapai nilai 80 sebanyak 10 orang(41,66%) dan yang mencapai nilai 66,66 sebanyak1 orang (4,16%). Siswa yang mencapai nilai 60 sebanyak3 orang (12,5%), sedangkan yang mencapainilai 53,33 sebanyak 4 orang (16,66%).Hasil pembelajaran siklus I menunjukkanadanya 17 orang siswa (70,83%) mencapai KKM,sedangkan 7 orang siswa (16%) belum mencapaiKKM. Nilai tertinggi, yaitu 93,33 sedangkan nilaiterendah 60,00 dan nilai rata-ratanya 78,60. Untuklebih jelasnya perhatikan Tabel 1 berikut.


108 METODIKA Volume 1 Nomor 3Tabel 1. Nilai Akhir Penulisan Naskah Drama SiklusINo Indikator Jumlah Prosentase1.Siswa mencapai 17 70,83%nilai sesuai KKMSiswa belum 7 16%2. mencapai nilaisesuai KKMJumlah Siswa 24 100%Hasil penilaian pada siklus II menunjukkanadanya 21 orang siswa (87,5%) mencapai KKM,sedangkan 3 orang siswa (12,5%) belum mencapaiKKM. Nilai tertinggi, yaitu 93,33 sedangkan nilaiterendah 66,66 dan nilai rata-ratanya 81,38. Haltersebut tampak jelas dalam Tabel 2 berikut.Tabel 2. Nilai Akhir Penulisan Naskah Drama SiklusIINo Kategori Jumlah Prosentase1.Siswa mencapai nilai 21 87,5%sesuai KKM2.Siswa belum mencapai 3 12,5%nilai sesuai KKMJumlah Siswa 24 100%Hasil refleksi pada akhir penelitian menunjukkanbahwa sebanyak 22 orang siswa dari 24orang siswa kelas IX F (91,66%) menyatakansenang dan tertarik dengan pembelajaran yangtelah dilaksanakan. Bahkan di antara merekamengharapkan agar pembelajaran tersebut dapatberlanjut pada kesempatan lain. Untuk lebihjelasnya, perhatikan Tabel 3 berikut.Tabel 3. Tanggapan Siswa Kelas IX F terhadapPembelajaran Menulis Naskah DramaNo Kategori Jumlah Persentase1Siswa senang dantertarik dengan pembelajaran22 91,66%Siswa kurang tertarik2 dengan pembelajaran2 8,33%Pembahasan Hasil PenelitianNilai prasiklus, hasil pembelajaran siklus Idan siklus II ditunjukkan dalam Tabel 4 berikut.Tabel 4. Perkembangan Kondisi Kemampuan Siswa dalam Menulis Naskah DramaNo Kategori Prasiklus Siklus I Siklus II Keterangan1 Siswa mencapai KKM 66,66% 70,83% 87,5%mengalamikenaikan2 Siswa belum mencapai KKM 33,33% 29,16% 12,5%mengalamipenurunan3 Nilai rata-rata 74,16 78,60 81,38mengalamikenaikan4 Nilai tertinggi 86,66 93,33 93,33mengalamikenaikan5 Nilai terendah 53,33 60,00 66,66mengalamipenurunan6 Ketuntasan belajar 66,66% 70,83% 87,5%mengalamikenaikanTabel Perkembangan Kondisi KemampuanSiswa dalam Menulis Naskah Drama tersebut menunjukkanadanya perkembangan dari tahap prasiklus,siklus I, dan siklus II. Dalam tahap prasiklusterdapat 16 orang siswa (66,66%) yang nilainyatelah mencapai KKM, 8 orang siswa (33,33%)belum mencapai KKM dan nilai rata-rata siswa adalah74,16. Nilai tertinggi yang dicapai siswa, yaitu86,66 sedangkan nilai terendah 53,33. Dengan demikianketuntasan belajar pada tahap prasiklusadalah 66,66%. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi


Peningkatan Kemampuan Menulis Naskah Drama 109kemampuan siswa dalam menulis naskah dramamasih rendah sehingga memang perlu ditingkatkan.Berdasarkan kondisi tersebut dilakukan tindakanpenelitian berupa penggunaan media filmdrama dan strategi episode khayal dalam pembelajaranmenulis naskah drama. Hasil pembelajaranpada siklus I menunjukkan adanya perkembangankondisi kemampuan siswa dari tahap prasiklus.Pada Siklus I terdapat 17 orang siswa (70,83%)yang nilainya mencapai KKM, sedangkan siswayang nilainya belum mencapai KKM adalah 7 orang(29,16%). Hal ini menunjukkan adanya kenaikanjumlah siswa yang nilainya mencapai KKM, yaitudari 66,66% menjadi 70,83%. Nilai rata-rata padasiklus II adalah 70,83. Nilai tertinggi yang dicapaisiswa, yaitu 93,33 sedangkan nilai terendah adalah60,00. Dengan demikian ketuntasan belajar padasiklus I mencapai 70,83%.Hasil pengamatan observer menunjukkanbahwa 13 indikator proses pembelajaran (65%)dapat dilakukan oleh guru dengan sangat baik, 4indikator (20%) dapat dilakukan dengan baik, dan 3indikator (15%) cukup. Adapun aktivitas siswa, sebanyak4 indikator (28,57%) sangat baik, 7 indikator(50%) baik, 3 indikator (21,42%) cukup. Sebanyak 4orang siswa (16,66%) telah mencapai nilai sesuaidengan KKM. Rata-rata nilai akhir siklus I adalah78,60 dan 17 orang siswa (70,83%) telah mencapainilai sesuai dengan KKM. Kekurangan naskah dramakarya siswa umumnya terdapat pada deskripsilatar, kejelasan dan kemenarikan konflik, dan penulisanteks sampingan (petunjuk pemanggungan).Walaupun terjadi peningkatan jumlah siswa yangnilainya mencapai KKM, peningkatan nilai rata-rata,dan peningkatan prosentase ketuntasan belajar,pada siklus I, namun hal tersebut belum mencapaiindikator kinerja penelitian, yaitu ketuntasan belajarmencapai 85%. Oleh karena itu, penelitian dilanjutkandengan tindakan pada siklus II.Hasil pembelajaran menulis naskah dramapada siklus II menunjukkan bahwa jumlah siswayang nilainya mencapai KKM, yaitu 21 orang(87,5%), sedangkan siswa yang nilainya belummencapai KKM adalah 3 orang (12,5%). Nilai tertinggiyang dicapai oleh siswa masih sama dengannilai tertinggi pada siklus I, yaitu 93,33. Nilai terendahsiswa adalah 66,66 dan nilai rata-rata siswa,yaitu 81,38. Ketuntasan belajar yang dicapai padasiklus II adalah 87,5%. Hal ini menunjukkan bahwakegiatan pembelajaran telah melampaui indikatorkinerja penelitian yang ditetapkan, yaitu 85% siswamencapai KKM.Pencapaian indikator kinerja penelitian takterlepas dari upaya yang dilakukan oleh guru sebagaipengajar dalam meningkatkan prestasi belajarsiswa. Hasil pengamatan observer menunjukkanbahwa kinerja guru dalam melaksanakan pembelajaranmenulis naskah drama juga mengalamipeningkatan. Hal ini terlihat dalam Tabel 5 berikut.Tabel 5. Perkembangan Kinerja Guru dalam PembelajaranSkala PenilaianIndikatorNoSangat baik Baik Cukup KurangKegiatanS-I S-II S-I S-II S-I S-II S-I S-II1 Persiapan 100% 100% - - - - - -2 Pendahuluan 80% 80% 20% 20% - - - -3 Kegiatan Inti 62,5% 87,5% 25% 12,5% 12,5% - - -4 Penutup - 100% 33,33% - 66,66% - - -Keterangan: S-I= Siklus I, S-II= Siklus IISebelum melaksanakan tindakan, guru telahmelakukan persiapan, yaitu menentukan materi,menyiapkan desain dan skenario, media pembelajaran,dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP). Hasil pengamatan observer menunjukkanbahwa empat indikator persiapan (100%) dapatdilaksanakan dengan sangat baik pada siklus I dansiklus II.


110 METODIKA Volume 1 Nomor 3Indikator kegiatan persiapan yang dilakukanoleh guru tersebut pada dasarnya merupakan pelaksanaandari langkah-langkah/ prosedur pembelajaran,yang telah ditetapkan dalam prosedur penelitianyang diambil dari Insico (2011), yaitu LangkahPersiapan Guru, pertama-tama guru harusmempersiapkan unit pelajaran terlebih dahulu,kemudian baru memilih film yang tepat untuk mencapaitujuan pengajaran yang diharapkan.Selain melakukan persiapan, guru juga melaksanakankegiatan pendahuluan pembelajaran.Dalam kegiatan pendahuluan, guru mengelolakelas, menyampaikan apersepsi, menginformasikanKD, dan tujuan pembelajaran, menjelaskan kegiatanpembelajaran, serta membimbing siswauntuk membentuk kelompok. Hasil pengamatanobserver menunjukkan bahwa empat dari limaindikator kegiatan pendahuluan (80%) dilaksanakanoleh guru dengan sangat baik dan satu indikator(20%) dilaksanakan dengan baik pada siklus I dansiklus II.Tabel tersebut juga menunjukkan bahwadalam kegiatan pendahuluan pembelajaran siklus Idan siklus II kondisi kinerja guru sama. Sebanyak80% kegiatan pendahuluan dinilai sangat baik dan20% kegiatan pendahuluan dinilai baik. Kegiatanpendahuluan yang dinilai sangat baik meliputikegiatan pengelolaan kelas, penyampaian apersepsi,penginformasian KD dan tujuan pembelajaran,dan penjelasan kegiatan pembelajaran.Kegiatan pendahuluan yang dinilai baik oleh observeradalah aktivitas guru dalam membimbing siswauntuk membentuk kelompok.Pelaksanaan kegiatan-kegiatan pendahuluanpembelajaran tersebut pada dasarnya merupakanpelaksanaan langkah ke-2 pemanfaatanmedia film yang disampaikan Insico(2011), yaitumempersiapkan kelas. Audien dipersiapkan terlebihdahulu supaya mereka mmendapat jawaban ataspertanyaan yang timbul dalam pikiran merekasewaktu menyaksikan film tersebut.(1)(2)(3)Gambar 1. (1) Siswa antusias menyimakfilm drama, (2) Siswa berdiskusi menyusun naskahdrama, (3) Siswa mentampaikan presentasiSetelah melakukan kegiatan pendahuluan,guru melaksanakan kegiatan inti pembelajaran.Dalam kegiatan inti, guru menyajikan model penulisandrama, menayangkan film drama, memotivasisiswa untuk menyimak tayangan film, membimbingsiswa untuk memahami isi film, dan membimbingsiswa menyusun episode khayal. Selain ituguru juga membimbing siswa untuk menyampaikantanggapan terhadap naskah drama karya temannyadan memberikan penguatan. Hasil pengamatanobserver menunjukkan bahwa 5 dari 8 indikator kegiataninti pembelajaran (62,5%) dilaksanakan olehguru dengan sangat baik. Sebanyak 2 indikator ke-


Peningkatan Kemampuan Menulis Naskah Drama 111giatan inti (25%) dilaksanakan dengan baik, sedangkan1 indikator (12,5%) cukup. Pada siklus IIkondisinya berubah, 7 dari 8 indikator kegiatan intipembelajaran (87,5%) dilaksanakan oleh gurudengan sangat baik. Sebanyak 1 indikator kegiataninti (12,5%) dilaksanakan dengan baik.Dalam kegiatan penutup, guru membimbingsiswa untuk menyampaikan refleksi, merumuskansimpulan, dan memberikan tugas terstruktur kepadasiswa sebagai bahan penilaian. Hasil pengamatanobserver menunjukkan bahwa 2 dari 3 indikator kegiatanpenutup (66,66%) nilainya cukup, sedangkan1 indikator (33,33%) baik. Kondisinya berubah padasiklus II, semua indikator kegiatan penutup pembelajaran(100%) dapat dilaksanakan oleh guru dengansangat baik.Aktivitas yang dilakukan oleh guru dalamkegiatan inti pembelajaran adalah: (1) menyajikanmodel penulisan naskah drama, (2) menayangkanmedia film drama, (3) memotivasi siswa untukmenyimak drama, (4) membimbing siswa untuk memahamiisi film drama, (5) membimbing siswa untukmenyusun episode khayal, (6) memberi kesempatankepada siswa untuk menyampaikan presentasi,(7) membimbing siswa menyampaikan tanggapan,dan (8) memberikan penguatan terhadapkarya siswa. Sebanyak 62,5% aktivitas kegiatan intipada siklus I oleh observer dinilai sangat baik danmeningkat pada siklus II menjadi 87,5%.Peningkatan kinerja guru terjadi pada aktivitas guruguru dalam membimbing siswa dalam menyusunepisode khayal film drama yang disajikan. Padasiklus I, semula pelaksanaannya dinilai cukup olehobserver, lalu pada siklus II menjadi baik. Hal inimenunjukkkan bahwa kinerja guru meningkat. Gurusemakin baik dalam membimbing siswa. Peningkatankinerja guru dalam kegiatan inti juga terjadipada aktivitas guru dalam menayangkan film dramadan membimbing siswa untuk memahami isi filmdrama. Pada siklus kedua guru semakin terampilsehingga dinilai sangat baik oleh observer.Aktivitas guru dalam menayangkan filmdrama pada dasarnya merupakan pelaksanaanlangkah penggunaan media film drama yang ke-3,yaitu langkah penyajian. Insico (2011) menyatakanbahwa setelah audien dipersiapkan, barulah filmdiputar. Dalam penyajian ini telah dipersiapkan perlengkapanyang diperlukan antara lain: proyektor,layar, film, dan pengeras suara. Pemberian tugasmenyusun episode khayal dan pemberian kesempatankepada siswa untuk menyampaikan presentasimerupakan pelaksanaan langkah ke-4, yaituaktivitas lanjutan. Insico (2011) menyatakan bahwaaktivitas lanjutan dan aplikasi sesudah pemutaranfilm dapat berupa diskusi, laporan, ataupun pemberiantugas.Dalam kegiatan penutup, guru membimbingsiswa menyampaikan refleksi, membimbingsiswa merumuskan simpulan, dan memberikantugas terstruktur kepada siswa sebagai penilaian.Pada siklus I sebanyak 33,33% indikator kegiatandinilai baik dan 66% dinilai cukup. Pada siklus IIkondisinya berubah, meningkat menjadi 100% indikatordapat dilaksanakan oleh guru dengan sangatbaik. Hal tersebut menunjukkan bahwa kinerja gurupada siklus II mengalami peningkatan.Selain pengaruh kinerja guru dalam pembelajaran,peningkatan kemampuan siswa dalammenulis naskah drama juga dipengaruhi olehpenggunaan media dan strategi yang digunakanoleh guru dalam pembelajaran. Pada siklus I gurumelakukan tindakan dengan mengunakan strategiepisode khayal dan media film drama untuk menarikminat dan menumbuhkan kreatifitas siswadalam menulis naskah drama. Hasil pembelajaranmenunjukkan adanya peningkatan jumlah siswayang mencapai KKM, yang semula 66,66% menjadi70,83%. Bahkan, peningkatan jumlah siswa yangnilainya mencapai KKM lebih besar lagi terjadi padasiklus II, menjadi 87,5%. Selain itu nilai rata-ratasiswa juga mengalami peningkatan dari 74,14(prasiklus) menjadi 78,60 (siklus I), dan pada siklusII menjadi 81,38.Penggunaan media dalam pembelajaranmemang sangat penting. Mustikasari (2002) menyatakanbahwa media pembelajaran merupakansalah satu komponen pembelajaran yang mempunyaiperanan penting dalam kegiatan belajarmengajar. Media pembelajaran tidak hanya dapatmenarik perhatian dan minat siswa untuk belajar,


112 METODIKA Volume 1 Nomor 3tetapi juga dapat mempermudah penyampaianpesan, serta memperjelas pesan atau yang disampaikanguru. Karena itu, siswa dapat memahamikonsep-konsep pembelajaran dengan jelas sehinggatujuan pembelajaran dapat tercapai. Senadadengan pernyataan tersebut, Brown (dalam Sudrajat,2008) mengungkapkan bahwa media yangdigunakan dalam pembelajaran dapat mempengaruhiefektivitas pembelajaran.Media yang digunakan dalam pembelajaranmenulis drama adalah media film drama.Media film drama tersebut terdiri dari dua film yangmasing-masing berdurasi 15 menit. Film dramapertama ditayangkan pada pembelajaran siklus I,sedangkan film drama kedua ditayangkan padapembelajaran siklus II. Kedua film drama tersebutdigunakan sebagai penarik minat dan perhatian,serta sebagai bahan inspirasi untuk menulis naskahdrama. Beberapa ahli menyatakan bahwa mediafilm memang sangat baik dan efektif untuk digunakandalam pembelajaran.Menurut Sumarno (2011) pembelajarandengan media film akan memberikan pengalamanbelajar yang luas sekaligus terbuka untuk memberiinterpretasi secara bebas dan berbeda-beda. Penggunaanmedia film bukan hanya mendorong prosespembelajaran pada ranah kognitif, tetapi juga ranahafektif, bahkan psikomotor. Dari alur cerita, film mengandungkekuatan, sesuai kadar interpretasi yangakan mempengaruhi pembentukan mental dansikap peserta didik. Senada dengan pernyataanSumarno, Supriatna (2009) menyatakan bahwa film(film gerak) merupakan sebuah media pembelajaranyang sangat menarik karena mampu mengungkapkankeindahan dan fakta bergerak denganefek suara, gambar dan gerak. Supriatnajuga menyatakan bahwa salah satu keunggulanmedia film adalah dapat merangsang motivasi kegiatansiswa.Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwapenggunaan media dalam pembelajaran menulisnaskah drama bermanfaat meningkatkan prestasibelajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapatMustikasari (2002) yang menyatakan bahwa mediapembelajaran menjadikan proses pembelajaranmenjadi lebih jelas dan menarik, pembelajaran lebihinteraktif, dan meningkatkan kualitas hasil belajar.Manfaat media film drama untuk meningkatkankualitas belajar siswa juga telah dibuktikanoleh Kholifah dalam penelitiannya yang berjudul PeningkatanPembelajaran Menulis Naskah DramaMelalui Media Film Drama Remaja Siswa Kelas IXSMP Negeri I Dampit Kabupaten Malang TahunAjaran 2010/2011. Kholifah menyimpulkan bahwamelalui media film drama remaja pembelajaranmenulis naskah drama siswa kelas IX A SMPNegeri I Dampit Kabupaten Malang meningkat.Selain dalam penelitian Kholifah, manfaatmedia untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswajuga telah dibuktikan oleh Rachma P. Yelinadalam penelitiannya yang berjudul PenggunaanMedia Audio-Visual (Slide Animation) untuk MeningkatkanPrestasi Siswa dalam PembelajaranBahasa Mandarin di SMK Negeri 1 Magetan Daripenelitian tersebut disimpulkan bahwa penggunaanmedia audio-visual efektif dan dapat meningkatkanprestasi belajar siswa. Hal tersebut dibuktikan dengansemakin meningkatnya nilai rata-rata tes siswayang diadakan pada setiap pertemuan.Hasil refleksi pada akhir penelitian menunjukkanbahwa sebanyak 22 orang siswa dari 24orang siswa kelas IX F (91,66%) menyatakan senangdan tertarik dengan pembelajaran yang telahdilaksanakan. Bahkan di antara mereka mengharapkanagar pembelajaran tersebut dapat berlanjutpada kesempatan lain. Hal ini sesuai dengan pendapatSupriatna (2009) bahwa film merupakan sebuahmedia pembelajaran yang sangat menarikkarena mampu mengungkapkan keindahan dansalah satu keunggulan media film adalah dapat merangsangmotivasi kegiatan siswa.Selain menggunakan media film drama,pembelajaran menulis naskah drama juga menggunakanstrategi episode khayal. Strategi tersebutdigunakan secara terpadu dengan media film drama.Setelah siswa menyimak tayangan film drama,siswa mendapat tugas untuk menyusun episodekhayal dari film drama tersebut. Caranya adalahsecara berkelompok, siswa melanjutkan film dramasesuai dengan imajinasi mereka. Jadi, film drama


Peningkatan Kemampuan Menulis Naskah Drama 113digunakan sebagai inspirasi untuk menulis naskahdrama. Siswa dirangsang dengan dialog-dialog dalamfilm drama tersebut. Cara demikian dapat memancingdan menumbuhkan kreatifitas siswa.Penggunaan strategi episode khayal dalampenelitian sejalan dengan pendapat Hadipurnomo(2007) yang menyatakan bahwa model rangsangmerupakan salah satu alternatif model pembelajaranyang cukup efektif dalam menumbuhkan keterampilanmenulis.Uraian tersebut menunjukkan bahwa penggunaanmedia film drama dan episode khayal dalampembelajaran menulis drama dapat meningkatkankemampuan siswa kelas IX F SMP Negeri3 Purworejo tahun 2010/2011 dalam menulisnaskah drama. Oleh karena itu, penggunaan mediadan strategi tersebut dapat digunakan dalam pembelajaranyang memiliki karakteristik sama atauhampir sama.SIMPULAN DAN SARANSimpulanBerdasarkan tujuan penelitian, rumusan masalah,dan pembahasan hasil penelitian disimpulkanbahwa penggunaan media film drama danstrategi episode khayal dapat meningkatkan kemampuansiswa kelas IX F SMP Negeri 3 Purworejosemester 2 tahun pelajaran 2010/2011 dalammenulis naskah drama.SaranPenggunaan media film drama dapat menarikperhatian dan minat belajar siswa. Selain itujuga dapat merangsang dan menumbuhkan kreativitassiswa dalam menulis naskah drama. Olehkarena itu, guru perlu mengembangkan media tersebutlebih bervariasi sehingga pembelajaran senantiasamenarik dan menyenangkan siswa, sertasemakin meningkat hasilnya.DAFTAR PUSTAKAEndraswara.2003. Membaca, Menulis,Mengajarkan sastra. Yogyakarta: PenerbitKota Kembang.Halimah. 2011 Pembelajaran Menulis Drama.http://massofa.wordpress.com. 23 Maret2011.Insico, 2011. Film dalam Proses Pembelajaran.http://insico.wordpress.com. Diunduh padatanggal 6 April 2011.Kholifah. 2010. Peningkatan Pembelajaran MenulisNaskah Drama Melalui Media Film DramaRemaja Siswa Kelas IX SMP Negeri 1Dampit Kabupaten Malang Tahun Ajaran2010/2011. Skripsi Jurusan SastraIndonesia-Fakultas Sastra UM. http://karyailmiah.um.ac.id/indek.php/sastraindonesia/article/view/10294.Diunduh padatanggal 23 Maret 2011.Mustikasari, Ardiani. 2002. Mengenal MediaPembelajaran.Pringgawidagda, Suwarna. 2002. StrategiPenguasaan Berbahasa. Yogyakarta: AdicitaKarya Nusa.Sudrajat, Akhmad. 2008. Media Pembelajaran.Http://akhmadsudrajat. wordpress.com.Diunduh pada tanggal 23 Maret 2011.Suhari, Widayadi. 2008. Pembelajaran MenulisNaskah Drama Siswa Kelas VIII SMP Negeri1 Modo Kabupaten Lamongan TahunPelajaran 2008/2009. Skripsi Jurusan sastraIndonesia UM. Error! Hyperlink referencenot valid..Sulistyo. 2010. Peningkatan Kemampuan MenulisTeks Drama dengan PendekatanKontekstual pada Siswa Kelas XI IPA SMAPGRI Slawi. Penelitian Tindakan Kelas.http://beningembun-apriliya.blogspot.com.26 Maret 2011.Sumarno. 2011. Film Pendidikan.http://www.pelita.or.id/baca.php?id:71296.Diunduh pada tanggal 31 Maret 2011.Supriatna, Dadang. 2009. Pengenalan MediaPembelajaran. Bahan Ajar untuk Diklat E-Training PPPPTK TK dan PLB. PusatPengembangan dan PemberdayaanPendidik dan Tenaga Kependidikan TamanKanak-Kanak dan Pendidikan Luar Biasa.Trianto. 2010. Mendesain Model PembelajaranInovatif-Progresif. Jakarta: KencanaPrenada Media Group.Yelina, Rachma. P. 2011. Penggunaan MediaAudio-Visual (Slide Show Animation) untukMeningkatkan Prestasi Siswa dalamPembelajaran Bahasa Mandarin di SMK N 1Magetan. http://eprints.uns.ac.id/344.Diunduh pada tanggal 21 Maret 2011.


PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP KOMPETENSI KEDAULATAN RAKYATMELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL MAKE A MATCHPADA SISWA KELAS VIII B SMP NEGERI 2 PEKALONGANSEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2010 /2011Dwi Lestasi *)Abstrak: Peneliti melakukan tindakan dengan menerapkan model pembalajaran make amatch. Masalahnya adalah Bagaimana proses pembelajaran, penguasaan konsep,perubahan perilaku siswa dengan model make a match. Penelitian tindakan kelas inidilakukan dalam dua siklus, yaitu siklus satu dan siklus dua. Hasil penelitian siklus I 79,89ketuntasan 82,14%, sedangkan siklus II mengalami peningkatan nilai rata-rata 88,39dengan ketuntasan 96,42% Para peneliti hendaknya dapat melakukan tindakan yang lebihbervariasi serta mengena pada tujuan pembelajaran, perubahan perilaku yang positif, siswalebih senang dengan model pembelajaran make a matchKata kunci: kedaulatan rakyat, model pembelajaran make a match, ketuntasan belajarsiswa.PENDAHULUANPendidikan kewarganegaraan merupakanmata pelajaran yang secara umum bertujuan untukmengembangkan potensi individu warga negara,sehingga memiliki wawasan, sikap danketerampilan yang memadai dan memungkinkanuntuk berpartisipasi secara cerdas dan bertanggungjawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara (Depdiknas 2005:34).Berdasarkan peraturan menteri PendidikanIndonesia Nomor 45 tahun 2006 tentang penyelenggaraanSekolah Bertaraf Internasional padajenjang Pendidikan Dasar dan Menengah ditentukanKriteria Ketuntasan Minimal yang harus dicapaiuntuk tiap mata pelajaran adalah 75. Sejalandengan ketentuan tersebut maka dalam melaksanakanproses pembelajaran guru harusbenar–benar menguasai standar isi, standar prosesdan standar evaluasi sebagai perwujudantanggung jawab profesi yang dilakukan secaraprofesional, agar hasil kinerja sesuai dengan ketentuanyang diharapkan.Pendidikan merupakan salah satu wadahuntuk melahirkan generasi yang berkualitas. Olehkarena itu pendidikan dituntut memiliki kualitas yangbaik. Perbaikan mutu pendidikan diupayakan denganmeningkatkan kualitas pembelajaran, melaluipeningkatan kualitas pembelajaran diharapkan siswaakan belajar lebih baik.Dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan,proses pembelajaran dirancang dengan mengikutiprinsip-prinsip khas yang edukatif yaitu kegiatanyang berfokus pada keaktifan siswa. Dengandemikian dalam proses pembelajaran guru perlumemberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakanotoritas atau haknya dalam membangungagasan. Tanggung jawab belajar tetap pada dirisiswa, guru bertanggung jawab untuk menciptakansituasi yang mendorong prakarsa, motivasi dantanggung jawab siswa untuk belajar secara berkelanjutan.Inovasi dalam pembelajaran diperlukanuntuk meningkatkan kreativitas belajar siswa sehinggatidak membosankan dan pembelajaran menjadilebih menyenangkan.Untuk mewujudkan pembelajaran yang menarik,guruperlu mencari model pembelajaran yangtepat dalam menyampaikan suatu materi. SMPNegeri 2 Pekalongan adalah salah satu SMP yangbanyak diminati, sehingga latar belakang siswa termasuksiswa unggulan dari SD asal siswa. Namundemikian, pada saat ulangan harian masih ada beberapasiswa yang belum tuntas, sehingga diperolehketuntasan secara klasikal kurang dari85%. Idealnya tiap kelas harus lulus KKM >/ 85%.Kompetensi kedaulatan rakyat adalah materipelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas VIII*) Guru SMP N 2 Pekalongan


116 METODIKA Volume 1 Nomor 3semester dua, merupakan materi yang cakupannyaluas sehingga siswa mengalami kesulitan dalammenguasai konsep materi. Adapun masalah di atasdapat dijabarkan dalam rumusan sebagai berikut: 1)Bagaimana proses pembelajaran peningkatan penguasaankonsep kompetensi kedaulatan rakyatsetelah menggunakan model pembelajaran make amatch?; 2) Bagaimana peningkatan penguasaankonsep kompetensi kedaulatan rakyat denganmenggunakan model pembelajaran make a match?;3) bagaimanakah perubahan perilaku siswa setelahdigunakannya model pembelajaran make a match?Untuk mengatasi permasalahan tersebut,peneliti akan menerapkan model pembelajaranmake a match agar dapat meningkatkan penguasaankonsep pada kompetensi kedaulatan rakyat.Model pembelajaran make a match adalah suatumodel pembelajaran dengan cara menjodohkandua macam kartu yaitu kartu soal dan kartu jawaban.Dengan cara menjodohkan dua macam kartuyang diulang beberapa tahap diharapkan siswaakan meningkatkan penguasaan konsep materiyang diterima khususnya kompetensi kedaulatanrakyat.Adapun alasan penggunaan model pembelajaranmake a match mengacu pada pendekatansistem pembelajaran kooperatif yang muncul darikonsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukandan memahami konsep yang sulit jikamereka saling berdiskusi dengan temannya. Sehinggadapat disimpulkan bahwa melalui penerapanmodel pembelajaran make a match dapat meningkatkanpenguasaan konsep kompetensi kedaulatanrakyat pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 2 Pekalonganpada Semester II Tahun Pelajaran 2010 /2011.Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalahmendeskrisikan proses pembelajaran meningkatkanpenguasaan konsep kompetensi kedaulatan rakyat,mendeskripsikan peningkatan penguasaan konsepkompetensi kedaulatan rakyat serta mendeskripsikanperubahan perilaku siswa setelah disajikanmodel pembelajaran make a match.Manfaat penelitian dibedakan menjadi dua,yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaatteoretis yaitu dapat menambah pengetahuan sertamemberi sumbangan pemikiran dan tolok ukurkajian penelitian lebih lanjut, dan meningkatkan penguasaankonsep kompetensi kedaulatan rakyatmelalui pembelajaran kooperatif model make amatch, sehingga dapat memperbaiki mutu pendidikandan meningkatkan hasil belajar. Manfaatpraktis yaitu hasil penelitian ini diharapkan bermanfaatbagi guru, siswa, sekolah dan peneliti. Manfaatbagi siswa antara lain meningkatkan penguasaankonsep pada aspek kognitif melalui penggunaanmodel pembelajaran make a match. Manfaat bagiguru antara lain mengubah pola dan sikap mengajardari hanya sebagai pemberi informasi berubahmenjadi fasilitator dan mediator yang baik. Manfaatbagi sekolah adalah memiliki guru yang inivatif, melahirkansiswa siswi yang aktif dan kreatif serta berprestasiLANDASAN TEORETIS HIPOTESIS TINDAKANPembelajaran Kooperatif (cooperative learning)Undang-undang Sistem Pendidikan NasionalNomor 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaranadalah proses interaksi peserta didikdengan pendididk dan nara sumber pada suatulingkungan belajar. Dalam pembelajaran, guruharus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannyadan memahami berbagai model pembelajaranyang dapat merangsang kemampuan siswauntuk belajar dengan perencanaan pengajaranyang matang oleh guru.Model pembelajaran cooperative learningmerupakan salah satu model pembelajaran yangmendukung pembelajaran kontekstual sistem pengajarancooperative learning dapat didefinisikansebagai sistem kerja/ belajar kelompok yang terstruktur.Yang termasuk didalam struktur ini adalahlima unsur pokok yaitu saling ketergantungan positif,tanggung jawab individual, interaksi personal,dan keahlian bekerja sama (Johnson dalam SofanAmri dkk; 2010: 90). Pembelajaran yang bernaungdalam teori konstruktivis adalah kooperatif. Pembelajarankooperatif muncul dari konsep bahwa siswaakan lebih mudah menemukan dan memahami


Pembelajaran Kooperatif Model Make A Match 117konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengantemannya.Tujuan pembelajaran Cooperatif LearningTujuan pembelajaran cooperative learningberbeda dengan kelompok konvensional yangmenerapkan sistem kompetisi, dimana keberhasilanindividu diorientasikan pada kegagalan orang lain.Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatifadalah menciptakan situasi dimana keberhasilanindividu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilankelompoknya. Model pembelajaran kooperativedikembangkan untuk mencapai setidaktidaknyatiga tujuan pembelajaran Ibrahim (dalamSofan Amri.2010: 93). Hasil belajar akademik dalambelajar kooperatif meskipun mencakup beragamtujuan sosial juga memperbaiki prestasisiswa atau tugas-tugas hasil belajar akademislainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa modelini unggul dalam membantu siswa memahamikonsep-konsep sulit. Para pengembang model initelah menunujukkan bahwa model struktur penghargaankooperatif telah dapat meningkatkan nilaiatau hasil belajar akademik siswa dan perubahannorma yang berhubungan dengan hasil belajar,disamping mengubah norma yang berhubungandengan hasil belajar,pembelajaran kooperatif dapatmemberikan keuntungan baik pada siswa kelompokbawah maupun kelompok atas yang bekerja bersamamenyelesaikan tugas-tugas akademik. Penerimaanterhadap perbedaan individu. Tujuan lainpembelajaran kooperatif adalah penerimaan secaraluas dari orang-orang yang berbeda berdasarkanras, budaya, kelas sosial, kemampuan dan ketidakmampuannya.Pembelajaran kooperatif memberipeluang bagi siswa dari berbagai latar belakangdan kondisi untuk bekerja sama dengan saling bergantungdan saling menghargai terhadap perbedaanindividu satu sama lain.Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatifadalah mengajarkan kepada siswa keterampilanbekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilansosial penting dimiliki olehsiswa sebab saat ini banyak anak muda masihkurang dalam penembangan keterampilan sosial.Model Pembelajaran make a matchModel pembelajaran make a match adalahsuatu model pembelajaran yang dalam proses pembelajarannyaselalu diulang-ulang dalam menerimainformasi baik berupa kartu soal atau kartu jawabandengan cara berpasangan. Pada metode ini sangatdisenangi oleh siswa karena tidakmenjemukan karenaguru memancing kreativitas siswa denganmenggunakan media. Materi kedaulatan rakyatadalah materi yang bersifat konsep sehingga dalampembelajaran membutuhkan ingatan yang kuatuntuk dapat menghafalkannya, oleh karena itu apabilaguru tidak menggunakan metode dan mediayang menarik maka siswa mudah melupakan materitersebut.Adapun langkah–langkah pembelajarannyasebagai berikut: (1) Guru menyiapkan kartu berisikartu soal dan kartu jawaban. Setiap siswa mendapatsatu buah kartu.Tiap siswa memikirkan jawabanatau soal dari kartu yang dipegang. Setiap siswamencari pasangan yang mempunyai kartu yangcocok dengan kartunya (soal-jawaban). Setiap siswadapat mencocokan kartunya sebelum bataswaktu diberi poin. Setelah satu babak, kartu dikocoklagi agar setiap siswa dapat kartu yang berbedadari sebelumnya. Kegiatan nomor f diulangulangsesuai waktu yang disediakan, demikian seterusnya,Kesimpulan, Penutup.Hasil penelitian yang relevanPenelitian tindakan kelas tentang peningkatanpenguasaan konsep kompetensi merupakanpenelitian yang menarik untuk dilakukan. Halini ditunjukkan dengan adanya hasil penelitian yangmengkaji masalah-masalah dalam pembelajaran.Penelitian ini dilakukan untuk memberikan tindakanatas masalah yang timbul dalam pembelajaran,khususnya pada kompetensi kedaulatan rakyat.Adapun tindakan yang digunakan untuk meningkatkanpenguasaan konsep tersebut adalah pendekatankooperatif model make a match.Pustaka yang mendasari penelitian ini adalahbeberapa hasil penelitian yang sudah ada danrelevan dengan penelitian ini. Beberapa penelitian


118 METODIKA Volume 1 Nomor 3tersebut ditulis oleh Kresno widodo (2010), Indayani(2010), dan Agustina (2009).Penelitian tindakan kelas untuk meningkatkanprestasi belajar yang dilakukan oleh KresnoWidodo (2010) dengan penelitian yang berjudul PeningkatanPrestasi Belajar pada kompetensi OtonomiDaerah melalui model Pembelajaran Make amatch siswa kelas IX SMP Negeri 14 PekalonganTahun 2009/2010. Pokok persoalan yang ditelitiKresno Widodo (2010) adalah rendahnya kualitashasil belajar peserta didik sehingga perlu upayauntuk meningkatkan hasil belajar dengan memperbaikiproses pembelajaran kearah pembelajarankreatif dan inovatif. Penelitian tindakan kelas yangdilakukan oleh Kresno Widodo ini bertujuan untukmengetahui peningkatan prestasi belajar setelahditerapkannya penggunaan model pembelajaranmake a match. Desain penelitian yang digunakanterdiri atas perencanaan, tindakan, observasi danrefleksi. Berdasarkan hasil analisis data dari hasilulangan pada pra siklus, siklus I serta siklus IImenunjukkan peningkatan prestasi belajar darirata-rata pra siklus 57,6, siklus I: 70,79 dansiklus II: 85,0, dari data tersebut terjadi kenaikansignifikan dari pra siklus sampai siklus II. Prosespembelajaran akan lebih berhasil apabila siswaselalu dilatih berulang-ulang pada materi pembelajaranyang diberikan guru. Hal ini menunjukkanbahwa proses latihan dalam pembelajaran akanmenghasilkan prestasi belajar yang baik. Kesesuaianpenelitian ini dengan penelitian penulissama-sama menggunakan model pembelajaranmake a match, sedangkan perbedaanya padasampel penelitian.Pada tahun yang sama Indayani guru SMPN 2 Kudus melakukan penelitian tindakan kelasdengan penelitian yang berjudul Peningkatan KeterampilanMembaca Pemahaman Menemukan GagasanUtama dam teks Bacaan menggunakanteknik make a match pada siswa kelas VII C SMPNegeri 2 Kudus. Hasil Penelitian tindakan kelasyang dilakukan Indayani dapat disimpulkan bahwakemampuan siswa dalam membaca pemahamanmenemukan gagasan utama dalam teks bacaanmengalami peningkatan.Ini terlihat dari hasil tespada pratindakan nilai yang dicapaiKerangka BerpikirBerdasarkan teori kognitivisme bahwa seseorangmelalui memorinya dapat menyimpansegala yang diterima baik melalui indera mata,hidung, telinga serta yang lainnya selama dua detikmelalui ingatannya. Apabila segala indera manusiaselalu dilatih berulang-ulang menerima informasiinformasidari luar, maka memori kita akan menyimpanlebih lama memo yang diterimanya. Modelpembelajaran make a match adalah suatu modelpembelajaran yang proses pembelajarannya selaludiulang-ulang dalam menerima informasi baikberupa kartu soal atau kartu jawaban dengan caraberpasangan. Oleh karena itu model pembelajaranmake a match ini menurut peneliti tepat untuk meningkatkanhasil belajar siswa melalui proseslatihan dengan cara mengulang dalam membagikartu soal dan kartu jawaban, sehingga dengankartu yang berbeda dapat mendengarkan pasangansiswa dalam membacakan kartu soal dan kartujawaban, maka memori siswa dapat lebih lamamengingat materi yang diberikan oleh guru.Hipotesis TindakanBerdasarkan kerangka berpikir tersebutmaka hipotesis dalam classroom Action Researchini dikemukakan hipotesis sebagai berikut: Modelpembelajaran make a match dapat meningkatkanpenguasaan konsep kedaulatan rakyat pada siswakelas VIII SMP Negeri 2 Kota Pekalongan semesterII tahun pelajaran 2010 / 2011METODE PENELITIANPenelitian tindakan kelas ini dilakukandengan mengambil tempat di kelas VIII B SMP Negeri2 Kota Pekalongan jalan Cendrawasih no 11Kota Pekalongan dengan rentang waktu penelitianminggu pertama bulan April sampai dengan minggupertama bulan Juni 2010.Dalam penelitian tindakan kelas ini subyekpenelitian yaitu peningkatan penguasaan konsepkompetensi kedaulatan rakyat siswa kelas VIII B


Pembelajaran Kooperatif Model Make A Match 119SMP N 2 Kota Pekalongan dengan jumlah 28siswa, yaitu 12 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan.Kelas ini merupakan salah satu dari limakelasDesain penelitian tindakan kelas dapat digambarkanseperti gambar di bawah ini:Keterangan:P: PerencanaanT: TindakanO: ObservasiR: RefleksiSIKLUS ITindakan siklus I dan tindakan siklus IISIKLUS IILangkah-langkah KBM:1. Apersepsi2. Penjelasan materi3.Siswa diminta mengambil kartu yangdisediakan guru4. Siswa diskusi mencari pasangan kartu soaldan jawaban5. Siswa presentasi membacakan di depankelas bersama pasangannya.6. Kegiatan ini diulang sampai 3 tahap, namundikurangi waktunya. Tahap I: 6 menit, tahapII: 5 menit, tahap III: 4 menit.Langkah-langkah KBM:1. Apersepsi2. Penjelasan materi3.Siswa diminta mengambil kartu yangdisediakan guru4. Siswa diskusi mencari pasangan kartu soaldan jawaban5. Siswa presentasi membacakan di depankelas bersama pasangannya.6. Kegiatan ini diulang sampai 4 tahap tahap,tetapi waktunya dikurangi. Tahap I: 5 menit,tahap II: 4 menit, tahap III: 3 menit, tahap IV:2 menit.Instrumen merupakan alat untuk mengumpulkandata yang digunakan untuk mengetahui hasilproses pembelajaran. Dalam penelitian ini terdapatdua macam instrumen, yaitu instrumen tes dan nontes. Instrumen tes digunakan dalam penelitian iniadalah tes tertulis, yaitu tes yang digunakan untukmengetahui seberapa besar peningkatankompetensi kedaulatan rakyat. Sedangkaninstrumen non tes digunakan untuk mengevaluasisikap dan perilaku siswa dalam mengikutipembelajaran. Adapun instrumen nontes dalampenelitian ini meliputi: observasi atau pemantauanoleh teman sejawat, catatan harian, wawancara dandokumentasi foto.Indikator kuantitatif penelitian ini adalah ketercapaiantarget kriteria ketuntasan minimal siswasebesar 75 dengan jumlah siswa minimal 85% darijumlah siswa keseluruhan di kelas. Indikator datakualitatif penelitian ini adalah perubahan sikap siswadalam pembelajaran setelah digunakan modelpembelajaran make a match, yang meliputi: observasi,catatan harian, wawancara.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYAHasil prasiklusKondisi awal sebelum penelitian dilakukan,siswa kurang termotivasi dalam pembelajaran PKnyang dilakukan dengan metode ceramah dan nilai


120 METODIKA Volume 1 Nomor 3hasil belajar siswa masih rendah. Dokumentasikurangnya motivasi siswa dalam pembelajarandapat dilihat dalam gambar berikut ini.Gambar 1. Siswa kurang memperhatikan pelajaranTabel 1. Hasil Nilai Tes Sebelum PerbaikanNo Rentan Nilai Jumlah %Siswa1 50-64 6 21,432 65-74 5 17,863 75-84 11 39,294 85-94 5 17,865 95-100 1 3,57Jumlah 28 100Dari data di atas dapat diketahui hasil tesprasiklus yang dapat digunakan untuk mengetahuikondisi awal siswa tentang penguasaan konsepkompetensi kedaulatan rakyat sebelum diberi tindakan.Berdasarkan hasil ulangan harian siswakelas VIII B SMP Negeri 2 kota Pekalongan tahun2010/2011 pada kompetensi dasar yang sama yangdijadikan asumsi kondisi awal penelitian tindakankelas ini, maka hasil yang ditampilkan adalah diperolehnilai rata-rata kelas 73,93 dengan ketuntasanbelajar.secara klasikal 60,71%. Sebanyak 11 siswaatau 39,28% memperoleh nilai kurang dari KKMatau tidak tuntas, sedangkan 17 siswa atau 60,71%memperoleh nilai tuntas.Hasil siklus IPelaksanaan tindakan pada siklus I dapat dilihatdalam gambar di bawah ini:Gambar 2. Aktivitas siswa saat diskusi mencaripasanganHasil Tindakan Berdasarkan hasil ulanganharian pada siklus I dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.Tabel 2. Hasil Nilai Tes Siklus INo Rentan Nilai Jumlah %Siswa1 50-64 1 3,572 65-74 4 14,293 75-84 16 57,144 85-94 6 21,435 95-100 1 3,57Jumlah 28 100Berdasarkan ulangan harian siswa kelas VIIIB SMP Negeri 2 kota Pekalongan setelah dilakukantindakan siklus I diperoleh hasil nilai rata-rata kelas79,89 dengan ketuntasan belajar secara klasikal82,14%. sebanyak 5 siswa (17,86%) belum mencapaiKKM, sedangkan 23 siswa (82,14%) sudahmencapai KKM. Dengan demikian setelah dilakukanimplementasi tindakan, siklus I perolehanhasil belajar siswa kelas VIII B lebih baik jikadibandingkan dengan perolehan nilai pada prasiklus.Hasil siklus IITindakan proses pembelajaran pada siklus IIsama dengan siklus I, bedanya dalam tahapandiskusi mencari pasangan di tambah menjadi 4tahap tetapi waktunya dikurangi. Tahap I:5 menit,Tahap: 4 menit, Tahap III: 3 menit, Tahap IV: 2 menit.


Pembelajaran Kooperatif Model Make A Match 121Tabel 3. Hasil Nilai Tes Siklus IINo Rentan Nilai Jumlah %Siswa1 50-64 0 02 65-74 1 3,573 75-84 6 21,434 85-94 12 42,865 95-100 9 32,14Jumlah 28 100Hasil siklus IIBerdasarkan data hasil penelitian siklus IIsetelah dilakukan perbaikan dalam proses pembelajaran,diperoleh data untuk nilai tertinggi 100sedangkan nilai terendah 70 dengan rata-rata kelas88,39 dan ketuntasan belajar dari 27 siswamencapai 96,42%, 1 siswa tidak tuntasBerdasarkan hasil ulangan harian yang diperolehpada siklus II, skor rata-rata siswa secaraklasikal meningkat, dari 79,89 menjadi 88,39. Skorrata-rata secara klasikal ini telah melebihi targetyang diharapkan yaitu 80.Pelaksanaan tindakan pada siklus II dapatdilihat seperti dalam gambar 3 di bawah ini.No.12345Rentannilai50-6465-7475-8485-9495-100JumlahRata-rataNilai tertinggiNilai terendahTuntasTidak tuntasPembahasanPrasiklusPrasiklus651151207073,9100501711Jumlah siswaS. I S.II141661222479,49760235016129247588,310070271Sebelum melakukan kegiatan siklus I, penelitimelakukan tindakan awal atau prasiklus padasubyek penelitian. Dalam tindakan tersebut penelitimelakukan observasi untuk mengetahui kemampuanawal siswa kelas VIII SMPN 2 Pekalongan.Berdasarkan observasi siswa kurang memiliki minatdan motivasi dalam pembelajaran, sehingga siswabelum mencapai hasil yang ditargetkan oleh gurusaat mengikuti pembelajaran. Hal itu menunjukkanbahwa nilai rata-rata kelas tersebut termasuk kategoricukup dan belum mencapai kriteria ketuntasanminimal yang ditentukan oleh guru yaitu 75.Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan siklus Isebagai perbaikanGambar 3. Aktivitas siswa pada Saat mengerjakantes Ulangan harianTabel 4. Data perkembangan nilai siswa sebelumdan sesudah tindakanSiklus ISecara keseluruhan siklus satu sudah baik,tetapi masih belum maksimal. Tindakan siklus Idilakukan 2 kali pertemuan, setiap pertemuan meliputi4 tahap yaitu; perencanaan, tindakan, observasi,dan refleksi. Perencanaan meliputi: menyusunRPP, menyiapkan materi, menyiapkan instrumenpenelitian. Pelaksanaan tindakan terdiri dari 3 tahapantara lain: 1) pendahuluan meliputi apersepsi menanyakankeadaan dan kesiapan siswa, motivasimemberi motivasi dan menyampaikan tujuan pembelajaran,2) kegiatan inti meliputi eksplorasi de-


122 METODIKA Volume 1 Nomor 3ngan tanya jawab materi, elaborasi kegiatan pembelajarandiskusi mencari pasangan sampai persentasidi depan kelas, kegiatan tersebut diulangsampai 3 tahap, konfirmasi dengan melakukanrefleksi, 3) penutup bersama siswa menyimpulkanmateri dan pemberian tugas. Pemerolehan datadilakukan dengan tes dan non tes. Tes dengan testertulis sedangkan non tes meliputi observasi, catatanharian, wawancara dan dokumentasi foto. daridata tersebut secara umum siswa menyatakanbahwa siswa merasa senang senang dengan modelpembelajaran yang digunakan dan juga dari datatersebut dapat diketahui adanya perubahan perilakusiswa yang lebih baik atau positif Hasil tes rata-ratasudah memenuhi KKM tetapi belum maksimalmasih ada 5 siswa yang nilainya kurang dari KKMsehingga perlu adanya perbaikan pada siklus IISiklus IIPelaksanaan siklus II dilakukan 2 kali pertemuan,proses pelaksanaan pembelajaran secaraumum sama dengan siklus I, namun ada perbedaanpada tindakan siklus II yaitu pada tahapan-tahapankegiatan siswa diskusi mencari pasangan soal danjawaban ditambah menjadi 4 tahap sedangkanwaktu dikurangi. Tahap I: 5 menit, tahap II: 4 menit,tahap III: 3 menit, dan tahap VI: 2 menit. Dari hasiltes untuk mengukur kompetensi diperoleh rata-rata88,39 berarti mengalami peningkatan yang sangatbaik. Sedangkan dari data non tes diperoleh informasibahwa siswa sangat senang dan antusiasdengan kegiatan pembelajaran yang diberikan guru,perubahan perilaku siswa yang lebih baik lagiPENUTUPSimpulanSimpulan dari hasil penelitian adalah (1) prosespembelajaran peningkatan penguasaan konsepkompetensi kedaulatan rakyat melalui model pembelajaranmake a match pada siklus I dan siklus IIsecara keseluruhan memiliki langkah-langkah yanghampir sama. Peneliti melakukan perbaikan prosespembelajaran pada siklus II yaitu tahap-tahap diskusiuntuk mencari pasangan kartu soal dan kartujawaban waktunya dikurangi. dengan adanya perbaikanpada siklus II menjadikan pembelajaranmengalami peningkatan dan proses pembelajaranberlangsung dengan baik; (2) peningkatan penguasaankonsep kompetensi kedaulatan rakyat padasiswa kelas VIII B SMP Negeri 2 Pekalongan mengalamipeningkatan setelah diterapkan modelpembelajaran make a match. Nilai rata-rata klasikalprasiklus 73,93 sedangkan nilai rata-rata klasikalsiklus I adalah 79,32 selanjutnya nilai rata-rata klasikalsiklus II sebesar 87,14 terjadi kenaikan. Dengandemikian terjadi peningkatan nilai rata-rataklasikal sebesar 5,39 dari prasiklus ke siklus I, selanjutnyapeningkatan nilai rata-rata dari siklus I kesiklus II sebesar 7,82; dan (3) perubahan perilakusiswa mengalami perubahan ke arah positif, hal inidapat diketahui dari hasil nontes yang meliputi:observasi, catatan harian, wawancara dan dokumentasifoto. Berdasarkan hasil data nontes padasiklus I masih tampak perilaku negatif siswa saatpembelajaran berlangsung. Mereka belum aktif,kurang tertib, ada yang bercanda dengan temannya.Pada siklus II, siswa mengalami perubahankearah yang positif, misalnya siswa menjadi lebihaktif, tertib, disiplin dan tanggung jawab.SaranSaran yang dapat disampaikan adalah (1)guru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraanseyogyanya menggunakan media yang menarik,kreatif dan variatif. Model pembelajaran make amatch terbukti dapat mendorong siswa berpikiraktif, mudah bekerja sama, disiplin, tanggung jawabserta dapat menumbuhkan semangat siswa dalammengikuti proses pembelajaran; (2) para siswahendaknya selalu memotivasi diri untuk selalu aktifdalam mengikuti pembelajaran dan bisa bekerjasama dalm kelompok. Hal ini dapat membantu merekadalam memahami materi yang terlalu banyak;dan (3) para peneliti yang hendaknya dapat melakukanpenelitian lebih lanjut mengenai hal serupadengan memilih tindakan yang berbeda dan lebihbervariasi serta mengena pada tujuan pembelajaran,sehingga akan diperoleh berbagai alternatif


Pembelajaran Kooperatif Model Make A Match 123baru untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran.DAFTAR PUSTAKAIkhrom, A.M. 2010. Being Creative Teacher.Asmindo. Jawa Tengah.Permendiknas No. 45 Tahun 2006 tentang StandarPenilaian. Jakarta: Diknas.Rachman, Maman. 2009. Penelitian TindakanKelas. Semarang: UNNES.Subyantoro. 2009. Penelitian Tindakan Kelas,Semarang: Widya Karya.Suprijono Agus. 2009. Cooperative Learning.Surabaya: Pustaka Pelajar.Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif.Surabaya: Prestasi Pustaka.


PENINGKATAN KOMPETENSI MATERI PERUSAHAAN DAN BADAN USAHAMELALUI CONCEPT MAPPING PADA SISWA KELAS VII.5 SMP 1 WIRADESASEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2010/2011Wien Murniati *)Abstrak: Masalah penelitian ini, yaitu bagaimana proses pembelajaran melalui conceptmapping? seberapa besar peningkatan kompetensi? dan bagaimanakah perubahan perilakusiswa kelas VII.5 SMP 1 Wiradesa setelah pembelajaran? Penelitian dilakukan dua siklus.Subjek penelitian adalah kompetensi materi perusahaan dan badan usaha. Ketuntasanklasikal menunjukkan peningkatan dari 76,67% pada siklus I menjadi 90% pada siklus II.Disimpulkan bahwa kompetensi siswa mengalami peningkatan setelah pembelajaran melaluiconcept mapping, dan adanya perubahan perilaku kearah positif. Guru IPS seyogyanyamenerapkan strategi peta konsep sebagai alternatif pembelajaran.Kata kunci: kompetensi materi perusahaan dan badan usaha, concept mapping,pendekatan kooperatif.PENDAHULUANAda suatu kecenderungan yang salah bahwapelajaran IPS adalah pelajaran yang cenderunghafalan. Pemahaman seperti ini berakibat padapembelajaran yang lebih menekankan pada verbalismedan pemahaman yang bersifat teoritisbelaka. Verbalisme tersebut dapat terlihat olehadanya siswa yang hanya menghafal pelajarantanpa memahami isinya. Proses ini terjadi karenaguru IPS mengajar dengan menggunakan metodeyang masih bersifat informatif. Secara tradisionalmodel mengajar dengan ceramah ditekankan padamenghafal rumus-rumus, konsep-konsep atau bentuk-bentukpermasalahan tanpa dikaitkan satu samalain. Kondisi demikian akan menyebabkan siswatidak mampu memasukkan produk-produk ilmiahyang dipelajari baik berupa fakta, konsep, prinsipmaupun teori ke struktur kognitif yang telah dimilikisehingga proses belajar menjadi kurang bermakna,yang berakibat pada minimnya kompetensi yangdikuasai dan berdampak pada rendahnya hasil belajarsiswa. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilaiIPS kelas VII.5 pada pokok bahasan Perusahaandan Badan Usaha semester genap tahun pelajaran2009/2010, siswa yang tuntas dari 30 orang hanyasebanyak 62,74%, dan 37,26% siswa belum tuntasbelajar atau memperoleh nilai kurang dari KKM.Berpijak pada realita tersebut, untuk meningkatkankompetensi materi perlu adanya peningkatanpembelajaran dengan menerapkan strategipembelajaran yang dapat meningkatkan efektivitasdan aktivitas belajar siswa, salah satunya adalahstrategi peta konsep (concept mapping), dalam penerapannyadikombinasikan dengan metode cooperativelearning dan penggunaan media ICT.Peta konsep menurut Martin dalam Trianto(2007: 157) merupakan inovasi baru yang pentinguntuk membantu anak menghasilkan pembelajaranbermakna dalam kelas. Peta konsep menyediakanbantuan visual konkret untuk membantu mengorganisasikaninformasi sebelum informasi tersebut dipelajari.Dari hasil penelitian yang dilakukan olehbeberapa peneliti (Muhajirin, Izzah, dan Sari) denganmenggunakan peta konsep/ pikiran dalampembelajaran, menunjukkan adanya perubahan perilakusiswa dalam pembelajaran ke arah positif,yaitu mampu membimbing siswa menciptakan suasanayang kondusif dan efektif selama proses pembelajaran.Hal ini membawa pengaruh positif padapeningkatan hasil belajar (ketuntasan belajar).Peneliti memilih materi perusahaan dan badanusaha, karena pada materi ini terdapat kaitandengan materi sebelumnya, yaitu pada pokok bahasankegiatan pokok ekonomi, khususnya sub kompetensidasar kegiatan produksi. Dengan pendekatandan metode belajar mengajar yang tepatsiswa akan mengerti dan dapat menemukan konsep-konsepyang sudah ada. Begitu seterusnya sehinggasiswa dapat belajar secara runtut, kait*) Guru IPS SMP 1 Wiradesa Kabupaten Pekalongan


126 METODIKA Volume 1 Nomor 3mengkait, sistematis dan mudah dipahami. Keterkaitandalam pokok bahasan itu dapat dibuat melaluisuatu pemetaan konsep, sehingga akan memudahkansiswa untuk mempelajarinya atau mengingatnya.Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahanyang akan diteliti adalah 1) bagaimanakahproses pembelajaran perusahaan dan badan usahamelalui concept mapping?, 2) seberapa besar peningkatankompetensi materi perusahaan dan badanusaha dalam pembelajaran melalui conceptmapping?, dan 3) bagaimanakah perubahan perilakusiswa kelas VII.5 SMP 1 Wiradesa setelah pembelajaranperusahaan dan badan usaha melaluiconcept mapping?Tujuan penelitian ini adalah 1) mendeskripsikanproses pembelajaran perusahaan dan badanusaha melalui concept mapping, 2) menunjukkanpeningkatan kompetensi materi perusahaan danbadan usaha setelah siswa mengikuti pembelajaranmelalui concept mapping, dan 3) mendeskripsikanperubahan perilaku siswa setelah disajikan pemblajaranmelalui concept mapping pada kelas VII.5SMP 1 Wiradesa.Penelitian tindakan kelas ini secara teoritisdapat memberikan kontribusi bagi perkembanganpendidikan khususnya mengenai penerapan strategipeta konsep untuk meningkatkan kompetensisiswa. Adapun secara praktis, bagi guru sebagaibahan pertimbangan dalam pemilihan alternatifmodel pembelajaran, bagi siswa, dapat meningkatkankompetensi dan aktivitas siswa dalam pembelajaran,dan bagi sekolah dapat meningkatkan kualitaspembelajaran di SMP 1 Wiradesa.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDA-KANPengertian PerusahaanMenurut Nurdin, dkk (2008:283) perusahaanmerupakan kesatuan teknis yang bertujuan menghasilkanbarang atau jasa. Perusahaan juga disebuttempat berlangsungnya proses produksi yangmenggabungkan faktor-faktor produksi untuk menghasilkanbarang dan jasa. Perusahaan merupakanalat dari badan usaha untuk mencapai tujuan, yaitumencari keuntungan.Pendapat yang sama dikemukakan olehSulistyo dan Suprobo (2007:237) perusahaan adalahunit pelaksana ekonomi dengan memanfaatkansumber daya yang ada dan dapat dipergunakanuntuk menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhikebutuhan manusia. Dengan demikian,setiap usaha ekonomi yang produktif sebagai pelaksanaekonomi dapat disebut perusahaan.Jenis-Jenis Perusahaan Menurut LapanganUsahanyaSardiman, dkk (2006:321) membedakan perusahaanmenurut lapangan usahanya, yaitu perusahaanekstraktif, perusahaan agraris, perusahaanindustri, perusahaan perdagangan, dan perusahaanjasaPengertian Badan UsahaMenurut Sulistyo dan Suprobo (2007:229)badan usaha adalah suatu kesatuan yuridis ekonomisperusahaan atau gabungan dari beberapaperusahaan yang didirikan secara efektif dan efisienuntuk mencari keuntungan atau laba.Pendapat yang tidak jauh berbeda dikemukakanoleh Nurdin, dkk (2008:285) mendifinisikanbadan usaha sebagai kesatuan hukum ekonomiatau organisasi yang menggunakan faktor-faktorproduksi untuk menghasilkan barang dan jasadengan tujuan memperoleh laba atau memberikanpelayanan umum kepada masyarakat.Selanjutnya, pendapat yang memperkuatpengertian diatas adalah pendapat Mulyadi danMardiyatmo (2010:63) menyebutkan badan usahaadalah suatu organisasi yang menggunakan perusahaansebagai alat memperoleh keuntungan.Dari tiga pendapat di atas dapat disimpulkanbahwa badan usaha merupakan organisasi yangmenghasilkan barang atau jasa dengan tujuanmemperoleh keuntungan.Perbedaan Badan Usaha dengan Perusahaan


Peningkatan Kompetensi Materi Perusahaan dan Badan Usaha 127Perbedaan antara perusahaan dan badanusaha dapat ditunjukkan dengan tabel sebagai berikut(Sardiman, dkk 2006:321):Tabel 1. Perbedaan Badan Usaha dengan PerusahaanNo Perusahaan Badan Usaha1 Kesatuan teknis yang menggunakan faktorfaktorKesatuan yuridis yang menggunakan faktor-produksi dalam rangka faktor produksi dalam rangka menghasilkanmenghasilkan barang dan jasa.barang dan jasa dengan tujuan memperoleh23Berorientasi untuk menghasilkan barangdan jasa.Alat bagi badan usaha untuk mencapaisuatu tujuan.laba.Berorientasi untuk menghasilkan labaKumpulan modal dengan tujuan utama untukmemperoleh keuntungan.Perusahaan hanya melakukan usaha menghasilkanbarang dan jasa, sedangkan usaha memperolehlaba adalah urusan badan usaha. Hubunganantara perusahaan dan badan usaha adalahperusahaan merupakan alat badan usaha untukmencapai tujuan.Jenis-jenis Badan UsahaBadan Usaha Berdasarkan Kepemilikan ModalBadan usaha berdasarkan pemilikan modaldikelompokkan menjadi badan usaha milik negara(BUMN) dan badan usaha milik swasta (BUMS).Nurdin, dkk (2008:287) menguraikan keduanya sebagaiberikut;1) Badan Usaha Milik Negara (BUMN)BUMN adalah badan usaha yang modalnyadimiliki oleh negara (pemerintah) baik seluruhnyamaupun sebagian. Bentuk badan usaha milik pemerintahdikelompokkan kedalam perusahaan jawatan(Perjan), perusahaan umum (Perum), dan perusahaanperseroan (Persero atau PT).2) Badan Usaha Milik Swasta (BUMS)Badan usaha milik swasta ialah suatu badanusaha yang pengelola dan pemilik modalnya berasaldari kalangan swasta secara penuh. Jenis badanusaha ini ada yang dimiliki warga negara Indonesia(swasta nasional) dan ada yang dimiliki olehwarga negara asing (swasta asing), tetapi berada diwilayah Indonesia.Badan Usaha Berdasarkan Bentuk HukumSardiman, dkk (2006;325) menggolongkanbadan usaha menurut bentuk hukumnya menjadiPerusahaan Perseorangan, Persekutuan Komanditer(Coomanditer Vennotschaft/ CV), Firma, danPerseroan Terbatas (PT).Berbeda sedikit dengan pendapat diatas,dikemukakan oleh Nurdin, dkk (2008:289) menambahkandua badan usaha lagi, yaitu Perusahaanperseorangan, Persekutuan Komanditer (CV), Firma,Perseroan Terbatas (PT), Koperasi, dan Yayasan.Peran Badan Usaha dan Perusahaan dalamPerekonomian NasionalBeberapa peran badan usaha dan perusahaandalam menggerakkan dan menunjang perekonomiannasional, diantaranya sebagai berikut (Nurdin,dkk 2008:300):1) Sebagai produsen barang dan jasa yang dibutuhkanmasyarakat.2) Sebagai sumber penghasilan atau pendapatanmasyarakat.3) Sebagai penyedia lapangan pekerjaan sertapendukung dan penunjang pendidikan.4) Sebagai sumber pendapatan negara.5) Sebagai agen pembangunan perekonomiannasional.Pengertian Peta konsep (Concept mapping)


128 METODIKA Volume 1 Nomor 3Peta konsep dikembangkan Tony Buzonpada tahun 1970-an, merupakan teknik memetakankonsep atau teknik mencatat informasi yang disesuaikandengan cara otak memproses informasiyang memfungsikan otak kanan dan otak kiri secarasinergis (bersamaan dan saling melengkapi) sehinggainformasi lebih banyak dan lebih mudah diingat(De Potter dan Hernacki 2002 dalam http://adabundaguru.wordpress.com).Teknik concept map ini diilhami oleh teoribelajar asimilasi kognitif (subsumption) David P.Ausubel yang mengatakan bahwa belajar bermakna(meaningful learning) terjadi dengan mudah apabilakonsep-konsep baru dimasukkan ke dalam konsepkonsepyang lebih inklusif. Dengan kata lain, prosesbelajar terjadi bila siswa mampu mengasimilasi pengetahuanyang ia miliki dengan pengetahuan yangbaru ( Ausabel dalam Munthe 2010:17).Dari uraian diatas menunjukkan bahwa denganmenggunakan peta konsep, siswa dapat melihatbidang studi lebih jelas dan mempelajari bidangstudi itu lebih bermakna, artinya dalam belajar terjadiproses mengaitkan informasi baru dengan konsep-konsepyang relevan dan terdapat dalam strukturkognitif seseorang.Langkah-Langkah Membuat Peta KonsepUntuk membuat suatu peta konsep, siswadilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yangberhubungan dengan suatu topik dan menyusunide-ide tersebut dalam suatu pola logis.Arends dalam Trianto (2007:160), mengemukakanlangkah-langkah dalam membuat petakonsep sebagai berikut:1) Memilih suatu bahan bacaan2) Menentukan konsep-konsep yang relevan3) Mengurutkan konsep-konsep dari yang inklusifke yang kurang inklusif4) Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatubagan, konsep yang inklusif diletakkan dibagianatas atau puncak peta lalu dihubungkan dengankata penghubung misalnya “terdiri dari”, “menggunakan”dan lain-lain.Kerangka BerpikirPeningkatan kompetensi merupakan tujuanutama dari suatu pembelajaran, namun ada kalanyatujuan tersebut tidak dapat tercapai karena adanyabeberapa faktor. Bahan kajian mata pelajaran IPSyang luas dan padat, dalam proses pembelajarancenderung ditransfer kepada siswa secara informatif(ceramah), dengan tujuan materi dapat terjangkaudalam kurun waktu yang ditentukan. Kondisidemikian, menyebabkan proses belajar mengajartidak efektif yang berdampak pada minimnya kompetensiatau rendahnya kualitas pendidikan.Melalui strategi peta konsep dalam pembelajaran,siswa diminta mengaitkan informasi barudengan konsep-konsep yang relevan dan terdapatdalam struktur kognitif seseorang, kemudian disusundalam suatu peta konsep. Penyusunan petakonsep dilakukan secara berkelompok, sehinggasiswa akan lebih menguasai kompetensi materiyang diajarkan baik kompetensi pengetahuan (kognitif),keterampilan (bekerja sama), maupun sikap(keberanian).Hipotesis TindakanBerdasarkan kerangka berpikir tersebut, hipotesistindakan dalam penelitian ini adalah kompetensimateri perusahaan dan badan usaha akanmeningkat setelah pembelajaran melalui conceptmapping dan terjadi perubahan tingkah laku padasiswa kelas VII.5 SMP 1 Wiradesa semester genaptahun pelajaran 2010/2011.METODE PENELITIANPenelitian ini dilaksanakan di SMP 1 WiradesaJl. A. Yani 400 Wiradesa Kabupaten Pekalongan,selama 7 bulan dari bulan Maret sampai denganbulan Oktober 2011.Subjek penelitian dalam penelitian tindakankelas ini, yaitu kompetensi materi perusahaan danbadan usaha serta aktivitas belajar siswa kelasVII.5 yang berjumlah 30 siswa dengan karakteristikkemampuan yang heterogen dan aktivitas belajaryang masih rendah.Prosedur penelitian tindakan kelas ini dapatdigambarkan sebagai berikut:


Peningkatan Kompetensi Materi Perusahaan dan Badan Usaha 129Gambar 1. Prosedur Penelitian Tindakan KelasPerbedaan tindakan siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini.Tabel 2. Perbedaan Tindakan Siklus I dan Siklus IISIKLUS ISIKLUS IIPendahuluan1) Siswa dan guru bertanya jawab tentangkegiatan ekonomi yang ada di sekitarsekolahKegiatan inti2) Guru menjelaskan materi pokok, langkahlankahmenbuat peta konsep dan contohpeta konsep melalui LCD3) Siswa memperluas pengetahuan denganmembaca buku sumber4) Kelas dibagi menjadi 6 kelompok, teknikpembentukan kelompok berdasarkan nomorurut absen5) Siswa berdiskusi dan membuat peta konseppada kertas asturo6) Setiap kelompok memaparkan gambar petakonsep pada kertas asturo1) Guru memberikan umpan balik pada siklusI dan melakukan tanya jawab seputarmateri2) Guru bersama siswa menentukan ide-idepokok, menekankan kembali langkahpembuatan peta konsep terutama padamembubuhkan kata hubung3) Siswa memperluas pengetahuan denganmembaca buku sumber dan melalui internet4) Pembentukan kelompok berdasarkanpengucapan nomor 1-6 secara urut, yangnomor sama bergabung menjadi satukelompok5) Siswa berdiskusi dan membuat peta konsepmelalui media laptop6) Setiap kelompok memaparkan hasil diskusimelalui LCD dan menjelaskan materi sesuaidengan sub materi yang telah ditugaskanInstrumen yang digunakan dalam penelitianini adalah instrumen tes dan instrumen nontes.Bentuk instrumen tes yang digunakan adalah teshasil belajar untuk mengetahui peningkatan kompetensikognitif materi perusahaan dan badan usaha.Bentuk instrumen nontes untuk memperoleh datatentang pertubahan perilaku siswa dalam pembelajaranyang meliputi deskripsi perilaku ekologis,catatan harian guru dan siswa, lembar sosiometri,pedoman wawancara, dan dokumentasi foto.Keberhasilan dalam penelitian ini denganmenggunakan indikator kuantitatif dan kualitatif.Indikator kuantitatif dalam penelitian ini dikatakanberhasil secara individual apabila siswa telahmencapai nilai minimal 72 (KKM), sedangkan keberhasilanklasikal dicapai apabila siswa yang


130 METODIKA Volume 1 Nomor 3mendapat niali ≥ 72 sebanyak ≥ 85% dari seluruhsiswa di kelas yang diteliti (VII.5).Indikator kualitatif menunjukkan perubahanperilaku siswa kearah positif. Perubahan perilakupositif tersebut terbagi menjadi tujuh karakter perilakupositif, meliputi (1) keaktivan siswa mengikutipelajaran, (2) keaktivan siswa untuk mencari sumberbelajar, (3) kerjasama dalam kelompok, (4) keaktivansiswa mengajukan pertanyaan, (5) Kelancaransiswa mempresentasikan hasil diskusi, (6)Kelancaran siswa dalam menjawab pertanyaan,dan (7) kemampuan menyimpulkan hasil diskusi.Penelitian dikatakan berhasil apabila 60% dari jumlahkelompok telah mencapai kriteria tujuh karakterperilaku positif tersebut.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYAHasil PenelitianProses Pembelajaran Materi Perusahaan danBadan Usaha melalui Peta Konsep (Conceptmapping)Sebelum dilakukan penelitian, peneliti berkoordinasidengan guru IPS yang mengajar di kelasVII.5 untuk mengetahui hasil belajar dan kondisi siswadalam proses belajar mengajar.Proses pembelajaran materi perusahaandan badan usaha melalui peta konsep dilakukan sebanyakdua siklus, setiap siklus terjadi dalam tigatahapan, yaitu pendahuluan, inti dan penutup. Padatahap pendahuluan, peneliti melakukan apersepsiyang diawali dengan tanya jawab. Tahap selanjutnyaadalah kegiatan inti, meliputi tiga tahap, yaitueksplorasi, elaborasi dan konfirmasi. Pada tahapeksplorasi, guru menyampaikan tujuan pembelajaran,metode pembelajaran yang digunakan, yaitudengan strategi peta konsep disertai dengan langkah-langkahpembuatan peta konsep. Selanjutnyamelalui ICT ditampilkan contoh-contoh peta konsep.Pada tahap elaborasi, guru membagi kelas menjadienam kelompok, setiap kelompok terdiri dari limasiswa. Teknik pembagian kelompok pada siklus Iberdasarkan nomor urut absensi, sedangkan padasiklus dua berdasarkan pengucapan nomor 1-6 secaraurut. Kemudian guru memfasilitasi siswa untukberdiskusi dengan membagikan kertas asturo danspidol sebagai bahan membuat peta konsep disiklus I, pada siklus II peta konsep dibuat melaluimedia laptop. Guru juga memotivasi dan membantusiswa yang mengalami kesulitan serta mengamatikerjasama tiap anggota dalam kelompok belajar.Pada pertemuan kedua, setiap kelompok mempresentasikanhasil diskusinya untuk ditanggapi olehkelompok yang lain dan guru bertindak sebagai fasilitator.Setelah kegiatan presentasi berakhir setiapkelompok diminta menuliskan dua kelompok yangpaling baik pembuatan peta konsep dan presentasinya.Untuk tiga kelompok terbaik mendapatpenghargaan dari guru. Pada tahap konfirmasi, gurumenanyakan hal-hal yang belum diketahui siswa,memberikan penguatan dan mengklarifikasi hasilpresentasi, serta memberikan motivasi kepada siswayang kurang atau belum berpartisipasi aktif.Kemudian guru memberikan tes ulangan harian.Pada pertemuan kedua siklus I, proses pembelajarantidak dapat terlaksana sesuai rencana, karenaada pengurangan jam pelajaran. Setiap jam pelajaranyang seharusnya 40 menit, dikurangi menjadi30 menit, sehingga untuk kegiatan tes dan nontesdilanjutkan pada pertemuan ketiga.Tahap terakhir adalah penutup, setelah siswamelakukan tes, dilakukan penilaian dan atau refleksiterhadap kegiatan pembelajaran yang telahdilaksanakan. Setelah itu guru membagikan lembarcatatan harian dan sosiometri untuk diisi oleh siswa.Sambil menunggu siswa yang belum selesai mengisi,guru melakukan wawancara kepada perwakilansiswa.Hasil Peningkatan Kompetensi Materi Perusahaandan Badan Usaha melalui Peta Konsep(Concept mapping)Tabel 3. Hasil Tes Ulangan Harian Siklus I


Peningkatan Kompetensi Materi Perusahaan dan Badan Usaha 131No Kategori Nilai Frekuensi Bobot (%) Rata-rata Ketuntasan1. Sangat baik 85-100 211850 76,13 2430/30=81 23/30x 100%= 76,672.3.4.BaikCukupKurang72-8460-710-592341602052156,588,448,85Kategori baikJumlah 30 2430 100Dari hasil ulangan harian pada tabel 3, menunjukkanbahwa kompetensi yang dimiliki siswakelas VII.5 pada materi perusahaan dan badanusaha sudah baik, dengan nilai rata-rata 81, berartisudah melebihi KKM yang ditentukan, yaitu 72, persentasesiswa yang mendapatkan nilai diatas KKMada 82,71% atau 23 siswa. Akan tetapi ketuntasanklasikal baru mencapai 76,67%, belum mencapaitarget yang ditentukan sebesar 85%, dan masihada siswa yang mendapatkan nilai kurang dari KKMsebanyak 7 siswa atau 17,29%.Tabel 4. Hasil Tes Ulangan Harian Siklus IINo Kategori Nilai Frekuensi Bobot (%) Rata-rata Ketuntasan1. Sangat baik 85-100 10902 37,57 2401/30 = 80 27/30 x 100% = 90%2.3.4.BaikCukupKurang72-8460-710-59173-1301198-54,198,25-Kategori baikJumlah 30 2401 100Dari hasil ulangan harian pada tabel 4, menunjukkanbahwa kompetensi yang dimiliki siswakelas VII.5 pada materi perusahaan dan badanusaha sudah baik, dengan nilai rata-rata 80, berartisudah melebihi KKM yang ditentukan, yaitu 72, persentasesiswa yang mendapatkan nilai diatas KKMada 91,76% atau 27 siswa. Walaupun nilai rata-ratakelas lebih sedikit 1,00 dari siklus I, namun untukketuntasan klasikal mencapai 90%, berarti sudahmelebihi target yang ditentukan. Siswa yang mendapatkannilai kurang dari KKM sebanyak 3 siswaatau 8,25%, lebih sedikit dibandingkan dengansiklus I, dalam hal ini karena adanya perbaikandalam pembelajaran.Perubahan Perilaku Siswa Setelah MengikutiPembelajaran Materi Perusahaan dan BadanUsaha Melalui Peta Konsep (Concept mapping)Tabel 5. Hasil Observasi Perilaku Ekologis Siswa Siklus INo Aspek yang diamati Baik Baik Cukup Kurangsekali1 Antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran √2 Keaktivan siswa dalam mencari sumber belajar √3 Keaktivan siswa dalam kerjasama kelompok √4 Keaktivan siswa mengajukan pertanyaan √5 Kelancaran siswa mempresentasikan hasil diskusi √6 Kelancaran siswa dalam menjawab pertanyaan √7 Kemampuan dalam menghimpun hasil diskusi √


132 METODIKA Volume 1 Nomor 3Keterangan:Baik Sekali : 5 – 6 = jika 83% - 100% jumlah kelompok melaksanakanBaik : 4 = jika 67% - 82% jumlah kelompok melaksanakanCukup : 3 = jika 50% - 66% jumlah kelompok melaksanakanKurang : 0 – 2 = jika < 50% jumlah kelompok melaksanakanHasil pengamatan menunjukkan tiga indikatorperilaku siswa sudah baik karena ada 4 kelompokyang aktif, yaitu antusias siswa dalam mengikutipelajaran, keaktifan siswa dalam mencari sumberbelajar, dan keaktifan siswa dalam kerjasama kelompok.Dua indikator perilaku yang lain menunjukkankategori cukup, yaitu keaktivan siswa dalambertanya, dan kelancaran dalam presentasi. Dari 6kelompok yang ada, 3 kelompok atau 50% sudahaktif dan lancar dalam presentasi. Tiga kelompokyang lain masih terlihat takut, ragu-ragu, bahkanenggan untuk bertanya.Perilaku siswa yang masih kurang, yaitu keaktivansiswa dalam menyampaikan pendapat, dankemampuan siswa dalam menghimpun hasil diskusi.Baru 2 kelompok yang sudah terlihat aktif dankompak, 4 kelompok lain masih didominasi olehkoordinator. Pada akhir presentasi, baru ada 1 kelompokyang memberikan simpulan dari hasil presentasinya.Selanjutnya, berdasarkan hasil catatan hariandan wawancara, dapat diketahui bahwa kebanyakansiswa merasa senang mengikuti pembelajaranperusahaan dan badan usaha melalui petakonsep. Adapun kesulitan yang muncul diantaranya,siswa belum memahami penjelasan yang disampaikanoleh guru karena menerangkannya terlalucepat dan hanya materi pokoknya saja. Selainitu, untuk membuat peta konsep masih bingungdalam membubuhkan kata penghubung. Pada saatpresentasi, peta konsep yang dibuat pada kertasasturo kurang jelas dibaca karena terlalu kecil.Adapun saran yang diperoleh diantaranyaguru dalam menerangkan jangan terlalu cepat, danpemaparan peta konsep sebaiknya melalui LCD sehinggajelas dibaca oleh semua siswa.Berdasarkan hasil sosiometri dapat diketahuikeaktivan dan kerjasama siswa dalam kelompok.Tabel 6. Hasil Observasi Perilaku Ekologis Siswa Siklus IINo Aspek yang diamati Baik Baik Cukup Kurangsekali1 Antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran √2 Keaktifan siswa dalam mencari sumber belajar √3 Keaktifan siswa dalam kerjasama kelompok √4 Keaktifan siswa dalam bertanya √5 Kelancaran siswa mempresentasikan hasil diskusi √6 Kelancaran siswa dalam menjawab pertanyaan √7 Kemampuan dalam menghimpun hasil diskusi √Keterangan:Baik Sekali : 5 – 6 = jika 83% - 100% jumlah kelompok melaksanakanBaik : 4 = jika 67% - 82% jumlah kelompok melaksanakanCukup : 3 = jika 50% - 66% jumlah kelompok melaksanakanKurang : 0 – 2 = jika < 50% jumlah kelompok melaksanakan


Peningkatan Kompetensi Materi Perusahaan dan Badan Usaha 133Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan antusiassiswa dalam mengikuti pembelajaran, keaktifansiswa dalam mencari sumber belajar, dan keaktifansiswa dalam kerjasama kelompok sangatbaik, semua kelompok (100%) mengikuti pembelajarandengan tenang dan serius.Keaktifan siswa dalam bertanya, kelancaransiswa mempresentasikan hasil diskusi dan menjawabpertanyaan sudah baik, hal ini dibuktikan dengan4 kelompok terlibat aktif di dalamnya.Pada saat presentasi, kelancaran setiap kelompokdalam presentasi dan keaktivan siswa dalammenjawab pertanyaan sudah baik, 4 kelompoksudah lancar dalam berbicara dan menyampaikanpendapat.Pada akhir presentasi, sudah ada 3 kelompokatau kategori cukup yang memberikan simpulandari hasil presentasinya.Berdasarkan catatan harian dan wawancaradiperoleh keterangan bahwa pembelajaran materiperusahaan dan badan usaha melalui peta konsepsangat menyenangkan. Kesulitan yang ada padasiklus I dalam mebuat peta konsep, pada siklus IIkesulitan tersebut sudah tidak muncul lagi. Adapunsaran untuk perbaikan pembelajaran berikutnya,yaitu waktu pertemuan untuk ditambah lagi, supayadalam diskusi membuat peta konsep tidak terburuburu.Berdasarkan hasil sosiometri dapat diketahuikeaktifan dan kerjasama siswa dalam kelompok.Anggota kelompok di siklus II berbeda dengan disiklus I, sehingga hubungan sosialnyapun berbeda.PembahasanProses Pembelajaran Perusahaan dan BadanUsaha Melalui Concept mappingProses pembelajaran perusahaan dan badanusaha melalui concept mapping dilakukan dalamdua siklus. Sebelum dilakukan tindakan pembelajaran,diawali dengan tindakan prasiklus.Siklus I dan siklus II mempunyai alur yangsama, setiap siklus dilakukan sebanyak dua kalipertemuan, namun pada siklus I karena ada penguranganjam pelajaran, maka dilaksanakan sebanyaktiga kali pertemuan. Tahapan dalam tiap siklusterdiri dari pendahuluan, inti, dan penutup. Kegiataninti terdiri dari apersepsi, elaborasi, dan konfirmasi.Proses pembelajaran siklus II merupakan kelanjutandari siklus I dengan skenario pembelajaranyang sedikit berbeda karena sudah diadakan perbaikan.Setiap pertemuan diawali dengan apersepsidan motivasi oleh guru.Tehnik pembagian kelompok di siklus I berdasarkanurut absen. Di siklus II pembagian kelompokberdasarkan pengucapan nomor 1 sampai 6secara urut. Pada siklus I peta konsep di buat dikertas asturo, sedangkan pada siklus II melalui mediakomputer dengan power point.Peningkatan Kompetensi Materi Perusahaandan Badan Usaha Melalui Concept mappingTabel 7. Perbandingan Hasil Tes Ulangan HarianPra siklus, Siklus I dan Siklus IINo Kategori Prasiklus Siklus I Siklus IIF (%) F (%) F (%)1. Sangat baik 3 12,74 21 76,13 10 37,562. Baik 9 33,24 2 6,58 17 54,193. Cukup 14 44,16 3 8,44 3 8,254. Kurang 4 9,86 4 8,85 - 0Jumlah 30 100 30 100 30 100Rata-rata 69,60 81,00 80,03Kategori Cukup Baik BaikKetuntasan 56,67% 76,67% 90%


134 METODIKA Volume 1 Nomor 3Tabel 7 menunjukkan adanya peningkatanhasil tes ulangan harian perusahaan dan badanusaha setelah dilakukan pembelajaran melalui petakonsep. Nilai rata-rata kelas sebelum diadakan tindakanmenunjukkan kategori cukup, setelah dilakukantindakan meningkat menjadi baik. Ketuntasansecara klasikal menunjukkan peningkatanyang signifikan dari prasiklus 56,67%, pada siklus Imenjadi 76,67% dan pada siklus II menjadi 90%.Siswa yang belum mencapai KKM, sebelum diberitindakan sebanyak 13 siswa setelah dilakukan tindakanpada siklus I berkurang menjadi 7 siswa danpada siklus II berkurang lagi menjadi 3 siswa. Halini menunjukkan lebih banyak siswa yang menguasaikompetensi dengan pembelajaran melalui petakonsep.Perubahan Perilaku Siswa Setelah MengikutiPembelajaran Perusahaan dan Badan UsahaMelalui Concept mappingTabel 8. Perbandingan Hasil Observasi Perilaku Ekologis Siswa SiklusI dan Siklus IINo Aspek yang diamati Siklus I Siklus II1 Antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran Baik Sangat baik2 Keaktivan siswa dalam mencari sumber belajar Baik Sangat baik3 Keaktivan siswa dalam kerjasama kelompok Baik Sangat baik4 Keaktivan siswa dalam bertanya Cukup Baik5 Kelancaran siswa mempresentasikan hasil diskusi Cukup Baik6 Kelancaran siswa dalam menjawab pertanyaan Kurang Baik7 Kemampuan dalam menghimpun hasil diskusi Kurang CukupKeterangan:Baik Sekali : 5 – 6 = jika 83% - 100% jumlah kelompok melaksanakanBaik : 4 = jika 67% - 82% jumlah kelompok melaksanakanCukup : 3 = jika 50% - 66% jumlah kelompok melaksanakanKurang : 0 – 2 = jika < 50% jumlah kelompok melaksanakanl


Peningkatan Kompetensi Materi Perusahaan dan Badan Usaha 135Berdasarkan tabel di atas menunjukkan adanyaperubahan perilaku siswa baik dalam diskusikelompok maupun dalam presentasi. Hal iniditunjukkan dengan bertambahnya jumlah kelompokyang berperilaku positif, sebanyak >3 kelompok yangberarti sudah mencapai indikator yang ditetapkansebesar ≥60%.Hasil dokumentasi berupa foto aktivitas siswadan peneliti selama kegiatan penelitian berlangsungdi dalam kelas pada siklus I dan siklus II.(a)(a)(b)Gambar 3. Aktivitas Siswa dalam DiskusiKelompokSiswa terlihat kurang serius dalam diskusi padasiklus I, pada siklus II siswa lebih serius dalam diskusi.(b)Gambar 2. Aktivitas Guru Menyampaikan MateriPerusahaan dan Badan UsahaGambar (a) pada siklus I siswa kurang perhatiandalam pembelajaran, pada siklus II (b) siswalebih konsentrasi dalam mendengarkan penjelasanguru.(a)


136 METODIKA Volume 1 Nomor 3(b)Gambar 4. Aktivitas Siswa MempresentasikanHasil DiskusiPada saat presentasi di siklus I masih terlihatsiswa yang tidak perhatian, di siklus II semua siswamengikuti presentasi dengan baik.PENUTUPSimpulanSimpulan dari hasil penelitian ini, yaitu 1) prosespembelajaran perusahaan dan badan usahamelalui concept mapping diawali dengan pembentukankelompok, setiap kelompok berdiskusi membuatpeta konsep, kemudian dipresentasikan, 2) setelahdilakukan tindakan terjadi peningkatan kompetensimateri perusahaan dan badan usaha, dibuktikandengan peningkatan ketuntasan klasikal dari 76,67%pada siklus I menjadi 90% pada siklus II. Setelahdilakukan tindakan nilai rata-rata diatas 80 ataukategori baik. 3) perilaku siswa kelas VII.5 SMP IWiradesa mengalami perubahan kearah positifsetelah mengikuti pembelajaran perusahaan danbadan usaha melalui concept mapping, hal ini karenasiswa merasa senang dengan proses pembelajaranmenggunakan peta konsep, sehingga siswa menjadiantusias dan aktif dalam mengikuti pembelajaran.SaranSaran yang dapat peneliti sampaikan berdasarkansimpulan hasil penelitian adalah 1) Guru matapelajaran IPS seyogyanya menggunakan strategipembelajaran concept mapping pada materiperusahaan dan badan usaha, karena terbukti dapatmeningkatkan kompetensi dan aktivitas belajar siswa,2) siswa hendaknya selalu aktif dalam prosespembelajaran dan mampu bekerjasama secarakelompok untuk membantu menguasai kompetensimateri, 3) peneliti hendaknya dapat melakukan penelitianlebih lanjut mengenai hal serupa denganmemilih tindakan yang berbeda dan bervariasi sertamengena pada tujuan pembelajaran.DAFTAR PUSTAKAA.M., Sardiman, dkk. 2006. Khasanah IlmuPengetahuan Sosial 1. Solo: Pustaka Mandiri.Elyasra. Suatu Inovasi Pembelajaran di LPTK.http://adabundaguru.wordpress. com. Diunduhpada tanggal 20 Maret 2011.Izzah, N. Siti. 2010. Mind Mapping Sebagai SalahSatu Alternatif dalam MeningkatkanKetuntasan Belajar IPA. Laporan Penelitian.Muhajirin. 2010. “Peningkatan KemampuanMendeskripsikan Keragaman Bentuk MukaBumi, Proses Pembentukan, dan Dampaknyaterhadap Kehidupan dengan Metode PetaKonsep Pada Siswa Kelas VII.5 SMP Negeri 1Slawi Tahun Pelajaran 2010-2011” dalamPedagogik, 5, 71 – 76.Mulyadi, Endang dan Mardiyanto. 2010. Ekonomi 1SMP Kelas VII. Jakarta: Yudistira.Munthe, Bermawy. 2009. Desain Pembelajaran.Yogyakarta: Insan Madani.Nurdin, Muh., dkk. 2008. IPS untuk SMP/MTS KelasVII. Jakarta: Pusat Perbukuan DepartemenPendidikan Nasional.Sari, R.A. Ria. 2011. “Peningkatan KeterampilanMenulis Buku Harian Menggunakan ModelPembelajaran Peta Pikiran (Mind Map)Berdasarkan Pengalaman Pribadi Pada SiswaKelas VII C SMP N 1 Banyubiru”. Skripsi, FBS,UNNES, Semarang.Sulistyo, B. Hasan dan Suprobo. 2007. IPS Terpaduuntuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga.Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran InovatifBerorientasi Konstruktivistik. Jakarta: PrestasiPustaka.


UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR POKOK BAHASAN SIFAT-SIFAT ZATMELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL JIGSAW PADA SISWA KELAS 7CUPTD SMP 7 TEGAL SEMESTER 2 TAHUN PELAJARAN 2010/2011Watminah *)Abstrak: Hasil belajar pokok bahasan sifat-sifat zat kelas 7C UPTD SMP 7 Tegal masihrendah, maka perlu diberikan metode yang tepat dalam pembelajaran yaitu denganmenggunakan pembelajaran kooperatif model Jigsaw. Tujuan penelitian ini adalah untukmeningkatkan hasil belajar pokok bahasan sifat-sifat zat pada siswa kelas 7C UPTD SMP 7Tegal. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu Siklus I dan Siklus II.Hasil yang dicapai pada Siklus I, yakni nilai rata-rata kelas sebesar 75,41 atau meningkat7,42% dari prasiklus. Pada Siklus II, nilai rata-rata yang dicapai sebesar 79,37 atau meningkatsebesar 3,96 atau 5,25% dari siklus I. Dengan demikian, metode ini dapat menjadi salah satureferensi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.Kata kunci: hasil belajar, pembelajaran kooperatif, pembelajaran kooperatif model jigsaw.PENDAHULUANDalam pembelajaran fisika merupakan salahsatu mata pelajaran yang masih dianggap sulit dipahamioleh siswa terutama pokok bahasan sifat- sifatzat, yang meliputi sifat fisika, sifat kimia dan pemisahancampuran. Hal ini dapat ditunjukkan darihasil pengamatan Ulangan Harian ke tiga (kalor)tahun pelajaran 2010/2011 yang nilai rata-rata pokokbahasan kalor 70,20 masih dibawah KKM yaitu 75.Dari 24 siswa yang mendapat nilai kurang dari KKM10 siswa, dan yang mendapat nilai 80 hanya 1 siswa.Padahal pokok bahasan tersebut merupakansalah satu materi esensial dalam Ujian Nasional atauStandar Kompetensi Lulusan IPA SMP (Depdiknas2007). Rendahnya hasil belajar fisika siswa di pengaruhioleh beberapa faktor diantaranya(1) mungkindikarenakan pembagian kelas di UPTD SMP 7 Tegalberdasarkan peringkat nilai tes PPDB yaitu yang nilaihasil tesnya tinggi masuk dikelas 7A dan 7B danyang7C, 7D, dan 7E adalah sisa dari kelas 7A dan7B. Yang nilai rata-ratanya memang rendah. (2) Jampelajaran fisika seteleh pelajaran olahraga sehinggadalam mengikuti pelajaran fisika siswa sudah merasacapai, lelah dan ngantuk. (3) siswa belajarnya padawaktu mau ulangan saja. (4) metode pembelajarannyamasih banyak menggunakan ceramah.Maka dalam penelitian ini metode pembelajaranyang dipilih adalah pembelajaran kooperatifmodel Jigsaw. Karena pada model ini siswa akan dapatmengembangkan kemampuan mengungkapkanide-ide atau gagasan dengan kata-kata verbal danmembandingkan dengan ide orang lain (Sanjaya2009) Siswa yang tadinya bersifat pasif dan terpaksaberpartisipasi secara aktif agar diterima oleh anggotakelompoknya (Priyanto dalam Wena 2009), selainsiswa dapat mengembangkan pemikiran, saling bertukarpendapat, saling bekerja sama, jika ada temandalam kelompok yang mengalami kesulitan. Hal inidapat meningkatkan motivasi siswa untuk menguasaimateri pembelajaran fisika sehingga nantinya akanmeningkatkan hasil belajar fisika siswa.Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahanyang dikemukakan adalah sebagai berikut.1) Bagaimanakah proses pembelajaran danlangkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakanpembelajaran kooperatif model Jigsaw padasifat- sifat zat; 2) Sejauh manakah penggunaan pembelajarankooperatif model Jigsaw dapat meningkatkankemampuan siswa dalam pokok bahasansifatsifatzat; dan 3) Bagaimana perubahan perilaku siswadalam menggunakan pembelajaran kooperatif modelJigsaw pada pokok bahasan sifat-sifat zat.


138 METODIKA Volume 1 Nomor 3Dalam upaya memecahkan permasalahan tentangrendahnya hasil belajar siswa kelas 7C UPTDSMP 7 Tegal proses pembelajaran akan dilakukandengan melalui pembelajaran kooperatif modelJigsaw,.tujuan didalam penelitian tindakan kelas inisebagai berikut: (1) untuk meningkatkan dan memperbaikisistem pembelajaran di kelas. (2) untuk meningkatkanhasil belajar fisika siswa pada pokokbahasan sifat-sifat zat. (3) untuk mengaktifkan perilakusiswa dalam menggunakan pembelajaran kooperatifmodel Jigsaw.Manfaat penelitian ini diharapkan sebagai berikut.Masalah praktis bagi guru, dapat meningkatkandan memperbaiki sistem pembelajaran di kelas. Bagisiswa, dapat meningkatkan aktivitas dalam prosespembelajaran dan meningkatkan hasil belajar fisikasiswa khususnya pada pokok bahasan sifat-sifat zat..Bagi sekolah dapat memberikan sumbangan yangbaik pada sekolah dalam rangka memberikan alternatifmetode pembelajaran fisika pada khususnya.Manfaat teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapatmemberikan sumbangan di bidang pendidikansebagaisupaya meningkatkan keaktifan dan hasil belajarsiswa, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakanpeneliti lain sebagai referensi dan sarana untuk menambahwawasan.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDA-KANLandasan teoretis dalam penelitian ini mencakup4 hal, yakni Hasil Belajar, Pembelajaran Kooperatif,Model Pembelajaran Jigsaw, dan PembelajaranKooperatif Model Jigsaw.Hasil BelajarMenurut Anni (2005: 4) hasil belajar merupakanperubahan perilaku yang diperoleh pembelajaransetelah mengalami aktifitas belajar. Perolehanaspek-aspek perubahan tersebut tergantung padaapa yang dipelajari oleh pembelajar. Apabila pembelajarmempelajari pengetahuan tentang konsep, makaperubahan perilaku yang diperoleh adalah berupapenguasaan. Hasil belajar ini sangat dibutuhkan sebagaipetunjuk untuk pengetahuan sejauh mana keberhasilansiswa dalam kegiatan belajar mengajarsudah dilaksanakan. Hasil belajar dapat diketahui melaluievaluasi untuk mengukur dan menilai apakahsiswa sudah menguasai ilmu yang dipelajari sesuaitujuan hasil belajar seperti dikemukakan Hamalai(2005) hasil belajar akan tampak perubahan aspekaspektingkah laku manusia, aspek-aspek tersebutyaitu: Pengetahun, Pengertian, kebiasaan, Keterampilan,Apresiasi, Emosional, Hubungan sosial, Jasmani,Budi pekerti dan sikap.Pembelajaran KooperatifDalam pembelajaran kooperatif ada beberapaunsur, yaitu hubungan timbal balik, interaksi langsung,tanggungjawab pribadi, menumbuhkan keluwesandan keterampilan kerjasama (Isjoni 2009:60).Model Pembelajaran Jigsaw menurut Joyce (dalamTrianto 2007) model pembelajaran Jigsaw adalahmodel pembelajaran kooperatif dimana siswa ditempatkankedalam tim yang beranggotakan 5-6orang untuk mempelajari materi akademik yang telahdipecah menjadi bagian-bagian untuk tiap anggota,setiap anggota tim membaca subbab yang ditugaskan.Kemudian anggota dari tim yang berbeda yangtelah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalamkelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikan subbabmereka.Pembelajaran Kooperatif Model JigsawPendapat senada secara lebih rinci dikemukakanoleh Priyanto (2007) dalam penerapanpembelajaran kooperatif model Jigsaw ada beberapalangkah yang harus dilaksanakan, yaitu sebagaiberikut:1. Membentuk kelompok asal kelompok asal terdiridari 4-5 orang anggota dengan kemampuan yangheterogen.2. Pembelajaran pada kelompok asal setiap anggotadari kelompok asal mempelajari submateri pe-


Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw 139lajaran akan menjadi keahliannya, kemudianmasing-masing mengerjakan secara invidual.3. Pembentukan kelompok ahli ketua kelompok asalmembagi tugas kepada masing-masing anggotauntuk menjadi ahli dalam satu submateri pelajaran.Kemudian masing-masing ahli submateriyang sama dari kelompok yang berlainan bekerjamembentuk kelompok baru yang disebut kelompokahli.4. Diskusi Kelompok Ahli anggota kelompok ahlimengerjakan tugas dan saling berdiskusi tentangmasalah-masalah yang menjadi tanggungjawabnya.Setiap anak kelompok ahli belajar materi pelajaransampai mencapai taraf merasakan mampumenyampaikan dan memecahkan persoalan yangmenyajikan submateri pelajaran yang menjaditanggungjawabnya.5. Diskusi Kelompok Asal (Induk) Anggota kelompokahli kembali ke kelompok asal masing-masing kemudiansetiap anggota kelompok asal menjelaskandan menjawab pertanyaan mengenai submateripelajaran yang menjadi keahliannyakepada anggota kelompok asal yang lain. Ini berlangsungsecara bertahap sampai seluruhanggota kelompok asal telah mendapatkan giliran.6. Diskusi kelas dengan dipandu oleh guru diskusikelas membicarakan konsep-konsep penting yangmenjadi bahan perdebatan dalam diskusi kelompokguru berusaha memperbaiki salah konseppada siswa.7. Pemberian kuis-kuis dikerjakan secara individu.Nilai yang diperoleh masing-masing anggota kelompokasal dijumlahkan untuk memperoleh jumlahkelompok.8. Pemberian Penghargaan Kelompok kepada kelompokyang memperoleh jumlah nilai tertinggi diberikanpenghargaan berupa piagam dan bonusnilai.Berdasarkan landasan teori di atas, hipotesistindakan dalam penelitian ini adalah dengan pembelajarankooperatif model Jigsaw pada pokokbahasan sifat-sifat zat pada siswa kelas 7C UPTDSMP 7 Tegal tahun pelajaran 2010/2011.METODE PENELITIANMetode penelitian ini termasuk jenis penelitiantindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di kelasUPTD SMP 7 Tegal Jalan Kapten Sudibyo No. 117Kota Tegal. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulanApril 2011 sampai dengan bulan Oktober 2011.Subjek dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswakelas 7C UPTD SMP 7 Tegal. Adapun sumber datadiambil dari siswa kelas 7C yang berjumlah 24 siswayang terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan,dengan kemampuan heterogen.Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalamdua siklus, Siklus I bertujuan untuk mengetahui hasilbelajar sifat-sifat zat melalui model Jigsaw. SedangkanSiklus II untuk mengetahui peningkatan hasilbelajar sifat-sifat zat melalui pembelajaran kooperatifmodel Jigsaw.Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan KelasProses Tindakan Siklus ISiklus I terdiri atas empat tahapan yaitu: perencanaan,tindakan, observasi, dan refleksi.Tahap Perencanaan.Tahap perencanaan ini merupakan rencanakegiatan menentukan langkah-langkah yang akan dilakukanuntuk memecahkan masalah. Langkah inimerupakan upaya memperbaiki kelemahan dalamproses pembelajaran sifat-sifat zat pada siswa kelas7C UPTD SMP Negeri 7 Tegal. Dalam siklus ini, halhalyang dilakukan pada tahap perencanaan ini, yaitu:1. Tindakan Menyusun rencana pembelajaran sifatsifatzat dengan metode pembelajaran kooperatifmodel Jigsaw.


140 METODIKA Volume 1 Nomor 32. Menyiapkan sumber belajar yang berupa materidiskusi.3. Menyiapkan instrumen penelitian berupa lembarobservasi, catatan harian guru, lembar wawancaradan dokumentasi. Menyiapkan perangkat tes tesberupa soal tes dan pedoman penilaiannya.4. Mengembangkan skenario pembelajaran denganpembelajaran kooperatif model Jigsaw.Tahap TindakanPada tahap ini di lakukan tindakan yang telahdirencanakan pada tahap Tahap perencanaan ini merupakanrencana kegiatan menentukan langkah-langkahyang akan dilakukan untuk memcahkan perencanaan.Tindakan yang di rencanakan untuk mengatasimasalah yang di hadapi dengan menggunakanpembelajaran kooperatif model Jigsaw, dengan langkah-langkahsebagai berikut.1. Membentuk kelompok diskusi yang beranggotakan4 siswa .2. Tiap kelompok diberi soal yang harus didiskusikan.3. Membentuk tim ahli /kelompok pakar (masingmasingkelompok diambil 1 siswa).4. Melaksanakan diskusi kelompok ahli dengan peneliti.5. Tiap anggota tim ahli memberikan penjelasan kepadakelompok asalnya.6. Melaksanakan presentasi hasil diskusi.7. Mengadakan tes uji kompetensi.8. Menganlisis hasil tes.Tahap ObservasiObservasi (kolaborasi) mengamati kegiatanguru pada saat pembelajaran dan mengamati siswadengan instrument yang pengamatan untuk guru dansiswa, guru mengevaluasi hasil angket siswa, mengevaluasihasil tes siswa pada tiap akhir siklus, mengevaluasihasil wawancara terhadap siswa yang dilakukanoleh guru sendiri dan guru mengevaluasi kegiatanpembelajaran dengan catatan guru.RefleksiDari hasil pengamatan terhadap kegiatan gurudan siswa oleh kolaborator, angket yang telah diisioleh siswa serta wawancara terhadap beberapa siswadan tes, disimpulkan hasil tindakan pada siklus Iyang kemudian dijadikan dasar penentuan tindakanuntuk berikutnya.Prosedur Penelitian Siklus IIPerencanaanPerencanaan pada Siklus II ini berdasarkantemuan hasil Siklus I. Adapun rencana tindakan yangakan dilakukan adalah: 1. Membuat perbaikan rencanapembelajaran sifat-sifat zat dengan metode kooperatifmetode Jigsaw. Materi pembelajaran masihsama dengan Siklus I. Namun demikian diupayakanSiklus II ini dapat memperbaiki masalah atau meminimalkankekurangan pada Siklus I. Menyiapkan lembarobservasi, lembar catatan harian guru, lembarwawancara dan alat potret untuk memperoleh datanontes Siklus II. 3. Menyiapkan perangkat tes sifatsifatzat yang akan digunakan dalam evaluasi hasilbelajar Siklus II. 4. Berkoordinasi dengan guru kolabulatormengenai kegiatan pembelajaran yang akandilaksanakan pada Siklus II. 5. Membentuk kelompokyang berdasarkan urut absen, dan masing-masing kelompokterdiri 4 siswa. 6. Guru melakukan pembelajarandengan menggunakan pembelajaran kooperatifmodel Jigsaw yang kelompoknya berdasarkan urutabsen dan tempat diskusinyapun sudah diseting, dalamanggota dalam kelompok masih tetap 4 orang.ObservasiObservasi pada siklus II juga masih sama dengansiklus I. Melalui pengamatan ini, keaktifan siswamenjadi lebih baik yang tadinya sudah berbicara menjadimembaca atau diam. Dalam proses observasi ini,data diperoleh melalui beberapa cara yaitu: (1) Tespada akhir siklus, wawancara, catatan harian gurudan siswa, dan dokumentasi foto.


Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw 141RefleksiDari hasil pengamatan terhadap kegiatan gurudan siswa oleh kolaborator, catatan harian yang telahdiisi oleh siswa, serta wawancara beberapa siswadan tes, dapat disimpulkan hasil tindakan pada SiklusII.Indikator KinerjaKinerja dalam peneltian ini ada 2 macam yaitu:1. Indikator kinerja yang berkaitan dengan peningkatanhasil belajar fisika siswa minimal 75% siswa telahmemperoleh nilai minimal 75 (sesuai KKM) .2 Kinerjayang berkaitan dengan keaktifan siswa dalam pembelajaran:a. Siswa fokus dalam pembelajaran, b.Siswa lebih semangat dalam belajar, c. Siswa mampuberdiskusi dengan teman, d. Siswa senang denganpembelajaran yang dilakukan guru, e .Siswa beranimempresentasikan hasil kerja /diskusi.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANHasil Belajar SiswaPeningkatan hasil belajar siswa kelas 7Csampai pada akhir Siklus II dapat terlihat pada Tabel1 berikut.Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Tes Sifat-Sifat Zat pada Prasiklus, Siklus I dan Siklus IIHasilPerolehan NilaiPeningkatanPra Siklus Siklus I Siklus II Siklus I Siklus IINilai rata-rata 70,20 75,41 79,37 5,21 (7,4%) 3,76(5,25%)Nilai tertinggi 80 90 95 100 5Nilai terendah 50 60 60 100 0Siswa yang 14 siswa 19 Siswa 21 Siswa 5 siswa 3 siswatuntasSiswa yang 10 siswa 5 siswa 3 siswa 5 siswa 3 siswabelum tuntas% Tuntas 58% 79,16% 87,5% 35,71% 15.98%% belum tuntas 41% 20,83% 12,5% 20,83% 8,33%Tabel 1 tersebut menunjukkan hasil belajaratau tes siswa dari Prasiklus ke Siklus I mengalamipeningkatan sebesar 5,21 dari nilai rata-rata prasiklus70,2, setelah dilakukan tindakan pada Siklus I, nilairata-rata meningkat menjadi 75,41. Pada Siklus II nilairata-rata 79,37 mengalami peningkatan sebesar 3,96dari Siklus I.Dari data yang terkumpul dapat disimpulkanbahwa penerapan pembelajaran kooperatif modelJigsaw telah berhasil meningkatkan hasil belajarsiswa kelas 7C UPTD SMP 7 Tegal pada pokok bahasansifat-sifat zat.Dari uraian di atas, maka upaya peningkatanhasil belajar siswa kelas 7C UPTD SMP 7 Tegal padapokok bahasan sifat-sifat zat melalui pembelajarankooperatif model Jigsaw dapat dikatakan meningkatwalaupun kurang maksimal.Tanggapan siswa dalam pembelajaran model Jigsaw.Tabel 2. Tanggapan Siswa Siklus I dan Siklus II terhadap Penggunaan Pembelajaran Model Jigsaw


142 METODIKA Volume 1 Nomor 3No. KeteranganSiklus ISiklus IISenang Tidak senang senang Tidak Senang1 Model Jigsaw 21 3 24 -2 % Siswa 87,5% 12,5 100% 0%Dari Tabel di atas menunjukkan bahwa padaSiklus I dari jumlah siswa 24, yang tidak senangmenggunakan pembelajaran kooperatif model Jigsaw3 orang. Pada Siklus II dari jumlah 24 orang menyatakansenang semua.Berdasarkan hasil peneltian dan pembahasandapat disimpulkan bahwa penggunaan pembelajarankooperatif model Jigsaw dapat membantu siswa kelas7C UPTD SMP 7 Tegal dalam upaya meningkatkanhasil belajar pokok bahasan sifat-sifat zat.Hasil WawancaraHasil wawancara Siklus I dan Siklus II diperolehdari jawaban terhadap 6 siswa sebagai narasumber. Enam siswa yang dipilih adalah 2 orang siswayang mendapat niulai rendah, 2 siswa yang mendapatnilai sedang, dan 2 siswa yang mendapat nilaitinggi.Wawancara dilakukan dengan berpedomanpada aspek-aspek yang ingin diungkap yaitu (1) Perasaansiswa saat menerima pembelajaran sifat-sifatzat, (2) Kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaransifat-sifat zat, (3) tanggapan siswa terhadap pembelajarankooperatif model Jigsaw, (4) Saran untukpembelajaran berikutnya.Hasil Wawancara Pada Siklus IHasil wawancara terhadap siswa yang hasiltesnya memperoleh nilai rendah menyatakan senangdalam pembelajaran kooperatif model Jigsaw karenamerasa terbantu oleh teman sejawat. Selanjutnyamereka mengaku sangat senang dapat bertukarpikiran dengan teman satu kelompoknya, saran yangmereka berikan untuk pembelajaran berikutnya adalahagar sering menggunakan pembelajaran kooperatifmodel Jigsaw.Hasil wawancara terhadap dua siswa yangmemperoleh nilai sedang mengemukakan merekasenang terhadap pembelajaran sifat-sifat zat, kesulitanyang mereka hadapi tidak ada. Selanjutnya merekaberharap menggunakan pembelajaran kooperatifmodel Jigsaw yang akan dating kelompoknya digantimenurut absen.Hasil wawancara dengan siswa yang memperolehnilai tinggi, mereka mengemukakan bahwamereka senang karena kesempatan berlatih untukmengemukakan pendapat dengan orang lain.Hasil Wawancara Siklus IIHasil wawancara terhadap siswa yang memperolehnilai rendah menyatakaan senang karenakalau ada kesulitan dapat tanya sesama teman dantemannya baik-baik. Hasil wawancara terhadap siswayang memperoleh nilai sedang mengemukakan merekasenang terhadap pembelajaran sifat-sifat zat. Kesulitanyang mereka hadapi tidak ada, selanjutnyamereka berharap sering–seringlah menggunakanpembelajaran Jigsaw. Hasil wawancara terhadap duasiswa yang memperoleh nilai tinggi menyatakan bahwamereka sangat senang dalam pembelajaran sifatsifatzat. Hampir tak ada kesulitan yang mereka hadapidalam pembelajaran. Saran atau masukkan yangmereka berikan agar untuk pembelajaran lebih seringberkelompok.Hasil Catatan Harian SiswaCatatan harian siswa berisi empat pertanyaanyaitu (1) pendapat terhadap teknik pembelajaran yangdisampikan guru, (2) manfaat dari model pembelajaranyang disampaikan guru melalui model Jigsaw, (3)kesulitan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran


Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw 143kooperatif model Jigsaw, (4) pesan atau kesan untukpembelajaran berikut.Berdasarkan hasil catatan harian siswa dapatdiketahui bahwa kebanyakan siswa senang denganteknik pembelajaran yang disampaikan guru karenabagi siswa teknik yang disampaikan adalah jarangmereka terima. Masukan siswa sebagian besar agardalam pembelajaran sering dibentuk kelompokkelompok.Hasil DokumentasiHasil dokumentasi merupakan bukti autentikdari kegiatan pembelajaran sifat-sifat zat melalui pembelajarankooperatif model Jigsaw. Dokumentasi iniberupa foto aktivitas siswa dan peneliti selama kegiatanpenelitian berlangsung dalam kelas. Aktivitasaktivitasyang didokumentasikan adalah: (1) aktivitaspeneliti melakukan apersepsi, (2) Aktivitas siswa padasaat diskusi kelompok asal, (3) aktivitas siswa padasaat diskusi kelompok ahli dengan peneliti, (4) aktivitasanggota kelompok ahlii mempresentasikan ke kelompokasal, (5) peneliti saat menyimpulkan, (6). Peneltisaat wawancara dengan siswa.Berikut aktivitas-aktivitas yang berhasil diabadikangambarnya pada tiap siklus.Gambar 1.1 Gambar 1.2Gambar 1. AKtifitas peneliti melakukan apersepsi pada Siklus I dan Siklus IIGambar 2.1 Gambar 2.2Gambar 2. Aktifitas siswa pada saat diskusi kelompok asal.Gambar 3.1 Gambar 3.2Gambar 3. Aktifitas siswa saat diskusi kelompok ahli atau pakar denga peneliti


144 METODIKA Volume 1 Nomor 3Gambar 4.1 Gambar 4.2Gambar 4. Aktivitas anggota kelompok ahli mempresentasikan kekelompokasal pada Siklus I dan Siklus IIGambar 5.1 Gambar 5.2Gambar 5. Aktivitas peneliti saat menyimpulkanGambar 6.1 Gambar 6.2Gambar 6. Aktivitas penelti pada saat wawancara dengan siswa


Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw 145PENUTUPSimpulanBerdasarkan hasil analisis dari hasil pembahasan,penulis dapat mengambil simpulan sebagaiberikut. Pertama, pengunaan pembelajaran kooperatifmodel Jigsaw sebagai tindakan dalampembelajaran dapat meningkatkan hasil belajarpokok bahasan sifat-sifat zat siswa kelas 7C SMP N7 Tegal. Peningkatan terjadi prasiklus ke siklus Idan dari siklus I ke siklus II. Peningkatan yangterjadi sebesar 5,21 dari prasiklus ke siklus I dan3,96 dari siklus I ke sikulus II. Jumlah siswa kelas7C ada 24 siswa yang mendapat nilai dibawah KKMpada prasiklus 10 siswa, pada siklus I, 5 siswa danpada siklus II, 2 siswa. Nilai rata-rata kelas untuksiklus I sebesar 75,41 dan siklus II sebesar 79,37perolehan nilai tersebut menunjukkan bahwapembelajaran kooperatif model Jigsaw yang digunakandalam pembelajaran berhasil meningkatkanhasil belajar siswa kelas 7C SMP N 7 Tegal.Kedua, perubahan perilaku juga terjadi padasiswa kelas 7C SMP N Tegal, setelah mengikutipembelajaran pokok bahasan sifat-sifat zat denganmenggunakan pembelajaran kooperatif modelJigsaw. Pembahasan perilaku terjadi dalampembelajaran pada siklus I ke siklus II yaitu dariperilaku kurang berminat menjadi lebih berminat,perilaku kurang berminat dapat ditunjukkan padasiklus I yaitu masih ada siswa yang ngobrol padasaat peneliti memberikan penjelasan materi, sedikitramai pada saat diskusi, terutama pada saat diskusikelompok pakar. Peningkatan perilaku lebihberminat ditunjukkan dengan sikap siswa pada saatpelaksanaan siklus II baik aktivitas dalam diskusikelompok asal tim ahli atau kelompok pakar,maupun pelaporan hasil diskusi tim ahli atau pakarkepada kelompok asal kembali. Adanya peningkatan,partisipasi dalam pembelajaran yaitu sikapaktif melaksanakan diskusi kelompok, memimpindiskusi mengangkat tangan untuk bertanya maupunmenghargai pendapat orang lain sehingga prosespembelajaran aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan.SaranBerdasarkan simpulan hasil penelitian tersebutsaran yang dapat diberikan peneliti adalahsebagai berikut. Pertama, guru fisika dalam menyelenggarakanpembelajaran sifat-sifat zat dapatmenggunakan model pembelajaran kooperatifmodel Jigsaw. Hal tersebut disebabkan oleh adanyabukti terjadinya peningkatan hasil belajar siswadan perubahan perilaku kearah yang positif dalampembelajaran semangat, siswa aktif, kratif danmenyenangkan. Namun, dengan syarat ada tugasmembaca KD yang akan didiskusikan. Kedua,jangan pernah merasa enggan untuk memberikandan melakukan perubahan dalam pembelajaranfisika bisa dihilangkan/ dirubah menyenangkandengan metode pembelajaran yang ada.DAFTAR PUSTAKAAnni Catharina Tri 2005, Psikologi Belajar.Semarang: UOT MKK Universitas NegeriSemarang.Depdiknas, 2007, Standar Kompetensi LulusanMata Pelajaran IPA SMP. JakartaDepdiknas.Hamalik, Oemar, 2005, Perencanaan PengajaranBerdasarkkan Pendekatan Sistem. Jakarta:Bumi Aksara.Sanjaya, Wina 2009Trianto, 2007, Model-Model Pembelajaran InovatifBerorientasi Konstruktivistik. Jakarta:Prestasi Pustaka Publikasi.Wena, Made 2009, Penelitian Tindakan Kelas.Semarang: CV. Karya Widya


PENGGUNAAN METODE PENEMUAN TERBIMBING (GUIDED DISCOVERY)UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA BAGI PESERTA DIDIKKELAS VIII-B SMP NEGERI 1 MUNTILAN SEMESTER 2TAHUN PELAJARAN 2010/2011Yuliyanto *)Abstrak: Masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah penggunaan metode penemuanterbimbing (guided discovery) dapat meningkatkan hasil belajar matematika?” Penelitian inibertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika materi bangun ruang sisi datar bagipeserta didik kelas VIII-B SMP Negeri 1 Muntilan semester 2 tahun pelajaran 2010/2011.Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Hasilpenelitian menunjukkan adanya peningkatan daya serap sebesar 9%, dari 73% menjadi82%, peningkatan banyak peserta didik yang tuntas sebesar 28%, dari 18 anak menjadi 24anak, dan penurunan banyak peserta didik yang tidak tuntas sebesr 27%, dari 18 anakmenjadi 9. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya perubahan sikap peserta didik menjadilebih senang mengikuti pembelajaran matematika, dan berkurangnya kesulitan yangdihadapi peserta didik.Kata kunci: hasil belajar matematika, guided discoveryPENDAHULUANProses pembelajaran di dalam KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menerapkansistem pembelajaran tuntas (mastery learning),artinya seluruh indikator dari masing-masing kompetensidasar, dan standar kompetensi, untuk seluruhmata pelajaran harus dicapai secara tuntasoleh peserta didik. Ketuntasan belajar setiap indikatoryang dikembangkan sebagai suatu pencapaianhasil belajar dari suatu kompetensi dasar berkisarantara 0-100%.Berdasarkan data yang ada di SMP Negeri 1Muntilan sebagai salah satu RSBI di KabupatenMagelang, banyak peserta didik yang dinyatakantuntas pada mata pelajaran matematika sebesar45% dengan daya serap 73%. Ini berarti 55% pesertadidik belum mencapai batas tuntas minimalyang ditetapkan, yaitu 76. Rendahnya prestasi belajarmatematika ini disebabkan oleh penguasaankonsep matematika yang rendah karena penggunaanmetode yang belum tepat dalam prosespembelajaran.Kesenjangan tersebut menimbulkan sebuahpermasalahan “Apakah penggunaan metode penemuanterbimbing (guided discovery) dapat meningkatkanhasil belajar matematika pada materi bangunruang sisi datar bagi peserta didik kelas VIII-BSMP Negeri 1 Muntilan semester 2 tahun pelajaran2010/2011?”Salah satu alternatif tindakan yang dapatdilakukan untuk memecahkan masalah di tersebutadalah penggunaan metode penemuan terbimbing(guided discovery) dalam proses pembelajaranmatematika. Peserta didik dihadapkan pada situasidimana mereka bebas menyelidiki dan menariksimpulan. Guru bertindak sebagai penunjuk jalandengan cara memberikan bantuan kepada pesertadidik menggunakan ide, konsep, dan ketrampilanyang sudah dipelajari sebelumnya untuk memperolehpengetahuan yang baru.Secara umum, penelitian ini bertujun untukmeningkatkan hasil belajar matematika melaluipenggunaan metode penemuan terbimbing (guideddiscovery). Adapun secara khusus, tujuan penelitianini adalah untuk meningkatkan hasil belajarmatematika pada materi bangun ruang sisi datarbagi peserta didik kelas VIII-B SMP Negeri 1 Muntilansemester 2 tahun pelajaran 2010/2011.Secara teoretis, manfaat dari penelitian iniadalah memperkarya wawasan ilmu p engetahuandalam pembelajaran matematika serta mendukungteori-teori yang telah ada sehubungan denganmasalah yang diteliti. Sedangkan secara praktis pe-*) Guru Matematika SMP N 1 Muntilan Kabupaten Magelang


148 METODIKA Volume 1 Nomor 3nelitian ini bermanfaat untuk: 1) meningkatkan hasilbelajar peserta didik pada mata pelajaran matematika;2) meningkatkan kemampuan mengajardengan menggunakan metode pembelajaran yangpaling efektif; 3) memberdayakan guru dalam menerapkanmetode pembelajaran; dan 4) menambahkoleksi hasil penelitian.LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDA-KANPembelajaran MatematikaPembelajaran adalah proses fungsional antarasiswa dengan guru, siswa dengan siswa, dalamrangka perubahan sikap dan pola pikir yangakan menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan(Erman Suherman, 2001:9). Pembelajaranmerupakan sebuah proses pendidikan yang memberikanperan lebih banyak kepada peserta didikuntuk mengembangkan potensi dan kreativitasnya.Pembelajaran matematika ialah belajar tentangkonsep-konsep dan struktur-struktur matematikayang terdapat di dalam materi yang dipelajari sertamencari hubungan-hubungan antar konsep danstruktur matematika itu (Herman Hudoyo, 1988:56).Pembelajaran matematika di sekolah merupakanproses komunikasi, yaitu proses penyampaianpesan (message), yaitu materi dari sumber(resource), yaitu guru atau buku kepada penerima(receiver), yaitu peserta didik melalui saluran ataumedia (channel) tertentu. Proses komunikasi yangbaik dalam pembelajaran matematika, apabila pesertadidik mampu mengkonstruksi pengetahuanyang diperoleh.Dalam pembelajaran matematika, komunikasiguru dengan peserta didik maupun pesertadidik dengan peserta didik sangat penting untukmencapai tujuan pembelajaran. Proses komunikasidalam pembelajaran di kelas terjadi apabila pesertadidik bersifat responsif, aktif bertanya dan menanggapipermasalahan yang ada, serta mampu menuangkankedua permasalahan tersebut secaralisan maupun tertulis. Mayer (1999: 6-7) mengatakanbahwa pembelajaran bermakna adalah pembelajaranyang memberi kesempatan para siswauntuk membangun sendiri pemahaman konsepkonsepmatematika dan mengintegrasikannya denganpengetahuan yang telah dimiliki.Hasil Belajar MatematikaHasil belajar matematika adalah kemampuan-kemampuanyang dimiliki siswa setelah iamemperoleh pengalaman belajarnya (NanaSudjana, 1995: 22). Dalam belajar matematika pesertadidik mengalami proses berpikir dan aktivitasmental dalam menyusun hubungan-hubungan antarabagian-bagian informasi yang diperoleh sebagaipengertian. Karena itu peserta didik menjadi pahamdan menguasai hubungan-hubungan tersebut. Dengandemikian ia dapat menampilkan pemahamandan penguasaan bahan yang dipelajari, inilah yangdisebut hasil belajar.Hasil belajar merupakan salah satu alatuntuk mengevaluasi keberhasilan proses pembelajaran.Berdasarkan hasil evaluasi ini dapat dilakukanperbaikan terhadap metode pembelajaran,sarana prsarana maupun bahan yangakan disampaikan. Hasil belajar merupakan suatuhal yang tidak dapat dipisahkan dengan kegiatanpenilaian. Penilaian dilakukan selama prosespembelajaran berlangsung agar diperoleh gambaranmengenai perubahan yang dialami oleh pesertadidik.Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakanbahwa hasil belajar adalah hasil penilaiandari suatu proses pembelajaran yang dinyatakandalam bentuk simbol, angka, huruf, atau kalimatyang berupa kesan-kesan yang mengakibatkanperubahan dalam diri individu sebagai hasil dariaktivitas belajar yang diperoleh dari hasil tes mengenaisejumlah materi yang disampaikan padainterval waktu dan menggunakan metode pembelajarantertentu.Metode Penemuan TerbimbingMetode penemuan memiliki beberapa keunggulan.Menurut Suherman, dkk., (2001:179) keunggulanmetode penemuan adalah: 1) peserta didikaktif dalam kegiatan belajar; 2) peserta didikmemahami benar bahan pelajarant; 3) menemu-


Metode Penemuan Terbimbing (Guided Discovery) 149kan sendiri menimbulkan rasa puas; 4) pesertadidik akan lebih mampu mentransfer pengetahuannyake berbagai konteks; dan 5) melatih pesertadidik untuk lebih banyak belajar sendiri.Penemuan terbimbing merupakan salah satubagian dari pembelajaran penemuan yang banyakmelibatkan siswa dalam kegiatan belajarnya. Dilihatdari segi kadar aktivitas interaksi antara guru dansiswa, dan antara siswa dengan siswa, maka penemuanterbimbing merupakan kombinasi antarapembelajaran langsung dan pembelajaran tidaklangsung.Metode penemuan terbimbing biasanya digunakandengan bahan yang dikembangkan pembelajarnyasecara induktif (Al. Krismanto, 2003:4).Menurut Trisno Martono dalam Eko Rahayu Hadiningsih(2009:11) pembelajaran dengan penemuanterbimbing digunakan apabila di dalam kegiatanpenemuan guru menyediakan bimbinganatau petunjuk yang cukup luas kepada siswa, sebagianbesar perencanaannya dibuat oleh guru.Metode pembelajaran penemuan terbimbing memberikanhal-hal yang baru, yang sebelumnya belumpernah dialami dan dilakukan peserta didik, sehinggapeserta didik akan memiliki pengalamanyang dapat tersimpan dalam ingatannya denganbaik, tahan lama, dan mengesan.Secara psikologis, tingkat perkembanganintelektual peserta didik pada jenjang SMP belumcukup mampu untuk berpikir abstrak. Oleh karenaitu metode yang dipilih dalam penelitian ini adalahpenemuan terbimbing. Dalam metode pembelajaranpenemuan terbimbing peserta didik diberipertanyaan-pertanyaan untuk mencapai keberhasilandalam mengungkap konsep atau prinsipprinsipyang dapat diukur. Beberapa keuntunganpembelajaran penemuan terbimbing menurut Carindalam Anwar Holil Holil (2008), yaitu siswa belajarbagaimana belajar (learn how to learn), belajarmenghargai diri sendiri, memotivasi diri dan lebihmudah untuk mentransfer, memperkecil atau menghindarimenghafal dan siswa bertanggung jawabatas pembelajarannya sendiri.Adapun langkah-langkah penggunaan metodepenemuan terbimbing dalam penelitian iniadalah 1) Memberikan permasalahan kepada pesertadidik dinyatakan menggunakan lembar kerjayang berisi pokok materi pelajaran yang akan dibahasbeserta petunjuk langkah penyelesaian untukmendapatkan suatu kesimpulan, 2) menyediakanalat dan bahan untuk melakukan kegiatanpenemuan, 3) diskusi pengarahan berupa pertanyaan-pertanyaanyang ditujukan kepada pesertadidik untuk didiskusikan sebelum melakukan kegiatanpenemuan, 4) kegiatan penemuan olehpeserta didik berupa kegiatan percobaan/ penyelidikansecara kelompok untuk menemukan konsep-konsepatau prinsip-prinsip yang sedang dipelajari,5) membantu peserta didik yang mengalamikesulitan dalam melakukan kegiatan penemuan, 6)presentasi hasil diskusi kelompok, 7) pengembanganmasalah dan tindak lanjut.Kerangka BerpikirPenggunaan metode penemuan terbimbing(guided discovery) dapat meningkatkan hasil belajarmatematika materi bangun ruang sisi datar. Padakondisi awal, guru belum menggunakan metodepenemuan terbimbing (guided discovery) dan hasilbelajar peserta didik pada materi bangun ruang sisidatar masih rendah. Berangkat dari kondisi awaltersebut disusun rencana tindakan yang akan dilakukanuntuk mengatasi masalah yang ada. Selanjutnyadilaksanakan tindakan berupa penggunaanmetode penemuan terbimbing (guided discovery)dalam proses pembelajaran materi bangun ruangsisi datar. Kegiatan ini dibagi menjadi dua siklus,yaitu siklus I pada kompetensi dasar (KD) membuatjaring-jaring bangun ruang sisi datar, dan siklus IIpada kompetensi dasar (KD) menghitung luas permukaanbangun ruang sisi datar. Kondisi akhir yangdiharapkan dari pemberian tindakan ini adalah meningkatnyahasil belajar matematika peserta didikpada materi bangun ruang sisi datar.Hipotesis TindakanHipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah“Penggunaan metode penemuan terbimbing(guided discovery) dapat meningkatkan hasil belajarmatematika materi bangun ruang sisi datar bagi


150 METODIKA Volume 1 Nomor 3peserta didik kelas VIII-B SMP Negeri 1 Muntilansemester 2 tahun pelajaran 2010/2011”.METODE PENELITIANPenelitian ini dilakukan dengan metode PenelitianTindakan Kelas yang terdiri dari 2 siklusdengan masing-masing siklus memuat 4 komponen,yaitu 1) perencanaan (planning), 2) tindakan(acting), 3) pengamatan (observing), dan 4) refleksi(reflecting). Siklus I dilakukan pada Kompetensi Dasarmembuat jaring-jaring kubus, balok, prisma danlimas, sedangkan siklus II dilakukan pada KompetensiDasar menghitung luas permukaan dan volumekubus, balok, prisma dan limas dengan subkonsep menemukan rumus luas permukaan kubus,balok, prisma, dan limas.Secara umum prosedur dalam penelitian tindakankelas ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahapdiagnostik dan tahap terapiutik. Pada tahapdiagnostik dilakukan identifikasi masalah dan penentuanhipotesis tindakan dan indikator keberhasilan.Identifikasi masalah dilakukan melalui analisisdokumen ulangan harian, angket, catatan harian,dan wawancara dengan peserta didik. Tahap terapiutikdilaksanakan melalui proses pembelajarandengan menggunakan metode penemuan terbimbing(guided discovery). Setelah pelaksanaantahap terapiutik dilakukan evaluasi dan refleksidilanjutkan dengan identifikasi pencapaian indicatorkeberhasilan penelitian. Apabila indikator keberhasilanbelum tercapai maka proses diulang lagi ketahap diagnostik, sedangkan apabila indikator keberhasilantelah dicapai maka penelitian dihentikan.Pada setiap siklus, diawali dengan kegiatanperencanaan (planning) meliputi: 1) menyusun rencanapembelajaran berdasarkan hasil refleksi; 2)menyiapkan lembar kerja; dan 3) menyiapkan lembarpengamatan dan perangkat evaluasi. Tahapanselanjutnya adalah tindakan (acting), meliputi kegiatan:1) mengorganisasikan kelas; dan 2) melaksanakanlangkah-langkah pembelajaran denganmetode penemuan terbimbing sesuai dengan rencana.Bersamaan dengan pelaksanaan tindakan,dilakukan tahapan pengamatan (observing), meliputi:1) mengamati proses pembelajaran denganmetode penemuan terbimbing (guided discovery);2) mencatat aktivitas guru dan peserta didik dalamproses pembelajaran; dan 3) merekam aktivitaspembelajaran. Selanjutnya pada setiap akhir siklusdiakhiri dengan kegiatan refleksi (reflecting) yangmeliputi: 1) melaksanakan tes; 2) Menganalisis datadan mengambil simpulan; dan 3) menentukan alternatifsolusi atas permasalahan/kendala yang munculsebagai acuan menyusun perencanaan siklusberikutnya.Pengumpulan data dalam penelitian inimenggunakan teknik tes dan non tes. Data yangberkaitan dengan variabel X, yaitu penggunaanmetode penemuan terbimbing (guided discovery)diperoleh dengan teknik non tes melalui laporanpengamatan (observasi). Sedangkan data yangberkaitan dengan variabel Y, yaitu hasil belajar pesertadidik disamping dari dokumen hasil belajarjuga diperoleh dengan menggunakan teknik tes(ulangan harian).Data yang berkaitan dengan variabel X,yaitu laporan pengamatan (observasi) selama prosespembelajaran menggunakan metode penemuanterbimbing (guided discovery) divalidasi denganmenggunakan metode triangulasi melalui angket,catatan harian, dan wawancara dengan peserta didik.Sedangkan data yang berkaitan dengan variabelY, yaitu hasil belajar peserta didik berupa nilaihasil tes tertulis divalidasi dengan cara teoritik danempirik (kuantitatif dan kualitatif).Data yang berkaitan dengan variabel X,yaitu hasil observasi selama proses pembelajaranmenggunakan metode penemuan terbimbing (guideddiscovery) dikelompokkan berdasarkan aspekaspekyang dijadikan fokus analisis, kemudian dihubungkandengan data kuantitatif untuk mendeskripsikankeberhasilan pelaksanaan pembelajaranyang ditandai dengan semakin meningkatnya hasilbelajar matematika pada materi bangun ruang sisidatar. Sedangkan data yang berkaitan denganvariabel Y, yaitu hasil belajar peserta didik dianalisissecara kuantitatif menggunakan deskriptif persentase.Hasil belajar peserta didik yang berupa nilaidirata-rata untuk mengukur keberhasilan secara


Metode Penemuan Terbimbing (Guided Discovery) 151individu dan klasikal sesuai dengan target yangtelah ditetapkan.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYAHasil PenelitianPenelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1Muntilan kelas VIII-B semester 2 tahun pelajaran2010/2011 pada mata pelajaran matematika materibangun ruang sisi datar. Hal ini dikarenakan kelastersebut sesuai dengan tugas mengajar dan berkaitanlangsung dengan materi yang akan diteliti.Penelitian dilaksanakan selama 8 (delapan) bulanmulai Maret sampai dengan Oktober 2011. Penelitianmelibatkan 2 variabel, yaitu metode penemuanterbimbing (guided discovery) sebagai varabelbebas (X), dan hasil belajar sebagai variabel terikat(Y).Berdasarkan data awal hasil belajar matematikapeserta didik kelas VIII-B SMP Negeri 1Muntilan hingga akhir pertengahan semester 2tahun pelajaran 2010/1011, rata-rata peserta didikyang tuntas adalah 45% dengan daya serap 73%.Ini berarti 55% peserta didik belum mencapai batastuntas minimal yang ditetapkan, yaitu 76, dengandaya serap masih di bawah batas ketuntasanminimal yang telah ditetapkan. Kondisi ini digambarkanoleh diagram batang berikut:tidak ada masalah pada materi yang dipelajari, menilaibagus kegiatan pembelajaran, menilai bagusterhadap gaya mengajar guru, dan memberikansaran-saran positif untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya.Peserta didik yang memberikan catatannegatif sebanyak 36%. Hal ini disebabkan karenamemikirkan tugas dari mata pelajaran lain, danmenilai proses pembelajaran kurang menyenangkan(membosankan).Pada akhir siklus I, diperoleh daya serap sebesar81% dengan penyebaran sebanyak 22 anak(67%) dapat meraih hasil sama atau lebih daribatas ketuntasan, dan 11 anak (33%) belum dapatmencapai batas tuntas yang ditetapkan. Ini berartiterjadi peningkatan daya serap dari kondisi sebesar8% berdasarkan data awal sebesar 73%. Banyakpeserta didik yang tuntas juga mengalami peningkatansebesar 22% dari data awal sebesar 45%,dan banyak peserta didik yang tidak tuntas mengalamipenurunan sebesar 22% dari data awal sebesar55%. Kondisi ini dapat digambarkan dengandiagram batang berikut:Gambar 2. Diagram batang ketuntasan belajarsiklus IGambar 1. Diagram batang kondisi awalketuntasan belajarSebelum dilaksanakan proses pembelajaranmenggunakan metode penemuan terbimbing (guideddiscovery), sebanyak 58% peserta didik merasakansenang selama mengikuti pembelajaran,Hingga akhir siklus I diketahui bahwa sebagianbesar peserta didik (79%) merasakan senangselama mengikuti pembelajaran, tidak ada masalahpada materi yang dipelajari, menilai bagus kegiatanpembelajaran, menilai bagus terhadap gaya mengajarguru, dan memberikan saran-saran positifuntuk kegiatan pembelajaran selanjutnya. Sebagiankecil peserta didik (15%) yang memberikan catatannegatif disebabkan karena saat memaparkanhasil kerja kelompoknya merasa grogi, sedangkan


152 METODIKA Volume 1 Nomor 2untuk materi merasa kesulitan pada jaring-jaringlimas.Berdasarkan data hasil ulangan harian padaakhir siklus II, diperoleh daya serap sebesar 82%dengan penyebaran sebanyak 24 anak (73%) dapatmeraih hasil sama atau lebih dari batas ketuntasan,dan 9 anak (27%) belum dapat mencapai batastuntas yang ditetapkan. Ini berarti terjadi peningkatandaya serap sebesar 1% berdasarkan datadari siklus I sebesar 81%. Banyak peserta didikyang tuntas juga mengalami peningkatan sebesar6% dari data pada siklus I sebesar 67%, danbanyak peserta didik yang tidak tuntas mengalamipenurunan sebesar 6% dari data pada siklus Isebesar 33%. Diagram batang dari kondisi iniadalah sebagai berikut:Gambar 3. Diagram batang ketuntasan belajarsiklus IIBerdasarkan catatan harian peserta didik,sebagian besar peserta didik (70%) merasakan senangselama mengikuti pembelajaran, tidak adamasalah pada materi yang dipelajari, menilai baguskegiatan pembelajaran, menilai bagus terhadapgaya mengajar guru, dan memberikan saran-saranpositif untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya.Sebagian kecil peserta didik (24%) yang memberikancatatan negatif disebabkan karena saatmemaparkan hasil kerja kelompoknya merasagrogi, sedangkan untuk materi merasa kesulitanpada limas.PembahasanSecara keseluruhan dapat dikatakan bahwahingga akhir siklus II daya serap mengalamikenaikan sebesar 9% (dari 73% menjadi 82%).Banyak peserta didik yang mencapai atau melampauibatas ketuntasan minimal mengalami kenaikansebesar 28% (dari 18 anak menjadi 24 anak), sedangkanyang belum mencapai batas ketuntasanminimal mengalami penurunan dari 18 anak menjadi9 anak (27%). Data pencapaian daya serap pesertadidik dari kondisi awal hingga akhir siklus IIdisajikan pada Tabel 1 berikut.KetuntasanAwal Siklus I Siklus IIn % n % n %Tuntas 15 45 22 67 24 73Tidak Tuntas 18 55 11 33 9 27Daya serap 73 73 81 81 82 82Tabel 1. Data hasil penelitian antar siklusDalam bentuk diagram batang data tersebut dapat disajikan seperti berikut.


Metode Penemuan Terbimbing (Guided Discovery) 153Gambar 4. Diagram Batang Hasil Antar SiklusData yang diperoleh dari catatan harian peserta didik mulai dari kondisi awal hingga akhir siklus II adalahsebagai berikut:Gambar 5. Diagram Batang Penilaian SiswaBerdasarkan data yang diperoleh dari catatanpesrta didik mulai dari kondisi awal sebelumpenggunaan metode guided discovery hingga akhirsiklus II diperoleh data bahwa penilaian peserta didikterhadap perasaan selama mengikuti pembelajaran,proses pembelajaran dan gaya guru mengajarmengalami kecenderungan meningkat, artinyapeserta didik merasakan lebih senang mengikutiproses pembelajaran dengan metode penemuanterbimbing (guided discovery). Sejalan dengan kondisiitu, kesulitan yang dialami oleh peserta didikmengalami kecenderungan menurun.SIMPULAN DAN SARANSimpulanBerdasarkan hasil penelitian dan pembahasandapat diambil simpulan bahwa penggunaanmetode penemuan terbimbing (guided discovery)dapat meningkatkan 1) hasil belajar matematikapada materi jaring-jaring dan luas permukaan bangunruang sisi datar; 2) minat peserta didik untukbelajar matematika; dan 3) meingkatkan pemahamanbagi peserta didik kelas VIII-B SMP Negeri 1Muntilan Tahun Pelajaran 2010/2011.SaranBerdasarkan hasil penelitian dan pembahasanserta simpulan dari penelitian tindakan kelasini, disampaikan saran-saran sebagai berikut: 1)teman-teman sejawat (guru matematika) disarankanselalu memilih dan menggunakan metode yangpaling tepat dan efektif untuk menanamkan konsep


154 METODIKA Volume 1 Nomor 3yang akan ditransfer kepada peserta didiknya, salahsatunya adalah metode penemuan terbimbing(guided discovery); 2) peserta didik seharusnyamempelajari konsep-konsep matematika dengancara menemukan kembali konsep-konsep tersebut,sehingga konsep-konsep itu bisa tertanam lebihkuat sebagai sebuah pengalaman belajar, danbukan hanya bersifat hafalan; 3) pengelola sekolahdisarankan memfasilitasi para guru untuk mengembangkanprofesinya melalui pengalokasian danabantuan untuk melakukan penelitian tindakan kelas;dan 4) perpustakaan sekolah sebaiknya mendokumentasikanhasil-hasil penelitian para guru sebagaitambahan koleksi dan salah satu referensi bagipara guru yang akan melakukan kegiatan pengembanganprofesinya.DAFTAR PUSTAKAAl. Krismanto. 2003. Beberapa Teknik, Model, danStrategi dalam Pembelajaran Matematika.http://www.p4tkmatematika.org. Diunduhpada tanggal 17 Maret 2011.Anwar Holil. 2008. Pembelajaran PenemuanTerbimbingError! Hyperlink reference notvalid... Diunduh pada tanggal 16 April 2011.Eko Rahayu Hadiningsih. 2009. Keefektifan MetodePenemuan Terbimbing dan MetodePemberian Tugas Terhadap PrestasiBelajar Matematika Ditinjau Dari MotivasiBelajar Siswa Kelas 8 SMP Negeri DiKecamatan Ngawi Kabupaten NgawiTahunPelajaran2008/2009.Tesis.http://www.gudangmakalah.blogspot.com.Diunduh pada tanggal 14 Maret 2011.Erman Suherman dkk. 2003. Strategi PembelajaranMatematika Kontemporer. Bandung: UPI.Herman Hudojo. 1988. Mengajar BelajarMatematika. Jakarta: Depdikbud.Mayer, Richard E. 1999. The Promise ofEducational Psychology Vol II: Teaching forMeaningful Learning. USA: Merill PrenticeHall.Nana Sudjana. 1995. Psikologi Pendidikan, SuatuPendekatan Baru. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.Suherman, dkk. 2001. Common Text BookStrategi Pembelajaran MatematikaKontemporer. Bandung: Jurusan PendidikanMatematika UPI Bandung.


PETUNJUK PENULISAN ARTIKELMETODIKA: JURNAL PENDIDIKAN DASARISSN: 2088-50161. Artikel harus asli belum pernah dimuat di media lain, berisi hasil penelitian atau gagasan pemikiran(konseptual) yang terkait dengan bidang pendidikan dan pengajaran.2. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, antara 15-20 halaman kuarto spasi ganda, format dua kolom(kecuali abstrak), menggunakan program MS Word, huruf Arial, font 12 pt.3. Susunan artikel hasil penelitiana. Judul (huruf Kapital font 12).b. Nama penulis (maksimal 2 orang, disertai keterangan asal lembaga yang diletakkan di bawahnama penulis).c. Abstrak (dalam bahasa Indonesia, satu spasi, format satu kolom, maksimal 75 kata berbentuksatu alenia memuat; tujuan, metode, dan simpulan).d. Kata kunci diambil dari judul (bahasa Indonesia).e. Pendahuluan (tanpa subjudul, berisi latar belakang masalah, masalah, dan atau tujuanpenelitian).f. Landasan teoretis berisi teori yang terkait dengan topik yang dibahas dan kerangka berpikir.g. Metode penelitian (antara lain berisi jenis atau pendekatan penelitian, subjek, populasi, sampel,metode pengumpulan data, dan analisis data).h. Hasil penelitian dan pembahasannya.i. Penutup yang berisi simpulan dan saran. Daftar pustaka (hanya berisi pustaka yang dirujuk ataudikutip dalam 2 kolom)4. Susunan artikel konseptuala. Judul (huruf Kapital font 12).b. Nama penulis (maksimal 2 orang, disertai keterangan asal lembaga yang diletakkan di bawahnama penulis).c. Abstrak (dalam bahasa Indonesia, satu spasi, format satu kolom, maksimal 75 kata berbentuksatu alenia memuat; tujuan, metode, dan simpulan).d. Kata kunci diambil dari judul (bahasa Indonesia).e. Pendahuluan (antara lain berisi latar belakang dan pentingnya permasalahan).f. Sub-sub judul (isi dan jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan).g. Penutup (simpulan dan saran).h. Daftar pustaka (hanya berisi pustaka yang dirujuk atau dikutip format 2 kolom)5. Perujukan sumber atau pustaka menggunakan sistem rujukan langsung diletakkan dalam kurung.Contoh rujukan dari buku:…..(Subyantoro 2009: 15).6. Penulisan daftar pustaka disusun berdasarkan abjad, dengan urutan pokok: nama penulis (namaakhir di depan). Tahun. Judul buku (cetak Miring). Kota: Penerbit.Contoh:Subyantoro. 2009. Pelangi Pembelajaran Bahasa: Tinjauan Semata Burung Psikolinguistik.Semarang: Unnes Press.Apabila sumber pustaka berupa artikel di jurnal atau majalah, judul artikel diberi tanda kutip, namajurnal atau majalah dicetak miring.Apabila sumber berasal dari alamat website, tanggal akses harus disertakan.7. Artikel dikirim ke alamat redaksi METODIKA sebanyak satu eksemplar disertai soft copy (dalam CD)paling lambat dua bulan sebelum bulan penerbitan.8. Kepastian pemuatan akan diberitahukan secara tertulis. Penulis yang artikelnya dimuat akanmendapatkan bukti nomor penerbitan sebanyak dua eksemplar.

More magazines by this user
Similar magazines