Tanah Papua: perjuangan yang berlanjut untuk tanah dan ...
Tanah Papua: perjuangan yang berlanjut untuk tanah dan ...
Tanah Papua: perjuangan yang berlanjut untuk tanah dan ...
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
<strong>Tanah</strong> <strong>Papua</strong>:<strong>perjuangan</strong> <strong>yang</strong><strong>berlanjut</strong> <strong>untuk</strong> <strong>tanah</strong><strong>dan</strong> penghidupanBuletin DTE Edisi KhususNo. 89-90, November 2011
Masyarakat <strong>yang</strong> kuat<strong>untuk</strong> masa depan <strong>yang</strong> berkelanjutanInsiden <strong>yang</strong> baru-baru ini terjadi di <strong>Papua</strong> – kekerasan di tambang Freeport-RioTinto, penyerangan brutal terhadap kebebasan berpendapat di Abepura –memperlihatkan bahwa orang <strong>Papua</strong> masih terus menghadapi eksploitasi <strong>dan</strong>pelanggaran HAM <strong>yang</strong> ekstrim. Sementara itu proyek investasi besar-besaran terusberjalan <strong>dan</strong> meminggirkan serta memiskinkan rakyat <strong>Papua</strong>, dari kampung kekampung. Para pejabat <strong>dan</strong> pebisnis jauh lebih menghargai emas, tembaga, sawit <strong>dan</strong>kayu daripada orang kampung <strong>yang</strong> hidupnya bergantung pada kekayaan alam <strong>Papua</strong>.Namun demikian orang <strong>Papua</strong> terus menuntut hak mereka <strong>untuk</strong> menentukan masadepan <strong>dan</strong> hak <strong>untuk</strong> memiliki, mengelola <strong>dan</strong> memanfaatkan <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> sumber dayaalam mereka. Masyarakat <strong>dan</strong> gerakan masyarakat sipil <strong>yang</strong> mendukung merekabersama-sama menuntut a<strong>dan</strong>ya upaya <strong>dan</strong> sumber daya <strong>yang</strong> lebih besar <strong>untuk</strong>memperkuat posisi mereka. Pada gilirannya, kampung demi kampung akan dapatmempertahankan diri lebih baik dari sisi buruk ‘pembangunan’ <strong>yang</strong> dipaksakan olehpihak luar.Buletin DTE edisi khusus ini berfokus pada sejumlah kampanye <strong>dan</strong> debatdi masa lalu <strong>dan</strong> saat ini seputar pembangunan <strong>yang</strong> bersifat dari atas ke bawah <strong>dan</strong>dampaknya terhadap masyarakat. Beberapa artikel adalah sumbangan dari penulistamu dari <strong>Papua</strong>, Indonesia <strong>dan</strong> Inggris. Semuanya memaparkan mengenai kebutuhan<strong>yang</strong> mendesak <strong>untuk</strong> memikirkan ulang cara pengelolaan <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> sumber dayaalamnya sehingga suara masyarakat di kampung-kampung – tidak hanya para pebisnis<strong>dan</strong> politikus – menjadi hal penting dalam pengambilan keputusan akan masa depan<strong>yang</strong> berkelanjutan.Daftar IsiEksploitasi sumber daya alam di <strong>Papua</strong>selama 22 tahun dengan pendekatan dariatas ke bawahMengakhiri konflik di <strong>Papua</strong> Baratoleh Carmel Budiardjo,TapolIndonesia Ditegur Terkait MIFEEPusaka di <strong>Tanah</strong> <strong>Papua</strong>,oleh Franky Samperante, PusakaFenomena global perampasan <strong>tanah</strong>oleh Anna BolinAkankah REDD bermanfaat bagimasyarakat adat <strong>Papua</strong>?dari blog Pietsau Amafnini, JASOILREDD di Indonesia – berita terkiniBP Tangguh, setelah dua tahunNyanyian Galau, Nyanyian Harap168111317202223DTE: Greenside Farmhouse, Hallbankgate, Cumbria CA82PX, England, email: dte@gn.apc.org tel: +44 16977 46266 web:www.downtoearth-indonesia.orgHalaman ini: pulang berburu, MeraukeHalaman depan: <strong>Papua</strong> Barat dari udara(Foto-foto oleh Adriana Sri Adhiati, 2011)
Proyek lumbung pangan <strong>dan</strong> energi terpaduMerauke atau Merauke Integrated Food andEnergy Estate (MIFEE) <strong>yang</strong> diluncurkan padabulan Agustus tahun lalu saat ini merupakanrencana pengembangan sumber daya alam<strong>yang</strong> paling ambisius <strong>untuk</strong> <strong>Papua</strong>.Rencana itu meliputi perubahanper<strong>untuk</strong>an sejumlah besar lahan, termasukhutan, <strong>untuk</strong> dijadikan perkebunan <strong>yang</strong> akanditanami berbagai tanaman <strong>untuk</strong> pangan,energi <strong>dan</strong> tanaman produktif lainnya. Pekerjaakan didatangkan ke Merauke <strong>untuk</strong>memenuhi kebutuhan tenaga kerja.Kekhawatiran mendalam telah disampaikanoleh organisasi masyarakat setempat sertaornop regional, nasional <strong>dan</strong> internasionalmengenai potensi kerusakan <strong>yang</strong> akanditimbulkan oleh mega proyek ini terhadapmasyarakat adat, <strong>tanah</strong> adat, sumber dayaDOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>Eksploitasi sumber daya alam di <strong>Papua</strong> selama 22 tahundengan pendekatan dari atas ke bawahSejarah panjang eksploitasi sumber daya alam di <strong>Papua</strong>, dari Freeport/Rio Tinto hingga MIFEE, tak lepas daripelanggaran HAM, penindasan oleh militer, perusakan lingkungan <strong>dan</strong> kemiskinan <strong>yang</strong> berkepanjangan bagisebagian besar rakyat <strong>Papua</strong>. Artikel ini menelusuri sejarah tersebut dari akhir tahun 1980an ketika DTE berdirihingga hari ini, sebagai latar belakang <strong>untuk</strong> memperjelas artikel-artikel lain dalam buletin edisi khusus <strong>Papua</strong> ini.Tulisan ini awalnya adalah sebuah makalah <strong>yang</strong> dipresentasikan dalam sebuah seminar di Yale tentang <strong>Papua</strong>pada bulan April 2011.alam <strong>dan</strong> budaya mereka; <strong>dan</strong> juga dampakpolitik <strong>yang</strong> lebih luas, dampak terhadap HAM,sosiologi <strong>dan</strong> budaya serta lingkungan <strong>Papua</strong>secara keseluruhan.MIFEE mengikuti pola baku darimega proyek ambisius di Indonesia <strong>yang</strong> padadasarnya ditujukan <strong>untuk</strong> pasar ekspor.Proyek-proyek itu memberikan insentif bagiinvestor sektor swasta, tetapi sama sekali takmempedulikan potensi pembangunan <strong>dan</strong>kebutuhan masyarakat setempat.Tinjauan atas proyek dukunganpemerintah <strong>yang</strong> menargetkan <strong>Papua</strong> seperti<strong>yang</strong> telah dicermati oleh DTE selama lebihdari dua puluh tahun terakhir inimenunjukkan bahwa pembangunan semacamitu cenderung memiliki beberapa persamaankarakter. Ciri-ciri tersebut antara lain:pengambilan keputusan dengan pendekatandari atas ke bawah, pernyataan resmi bahwaproyek itu <strong>untuk</strong> kepentingan masyarakat,penyerobotan lahan milik masyarakat adat,<strong>dan</strong> didatangkannya tenaga kerja non-<strong>Papua</strong>.Fakta bahwa MIFEE memiliki banyakpersamaan karakter ini menunjukkan bahwatak banyak perubahan dalam pola pikir parapengambil keputusan sejak jaman Suharto.Alhasil, dampak negatif serupa <strong>yang</strong> timbuldari proyek-proyek sebelumnya kemungkinanbesar akan terjadi lagi.Sementara beberapa rencanainvestasi <strong>yang</strong> lebih buruk di <strong>Papua</strong> belumberjalan, atau paling tidak tak berjalansebagaimana diumumkan sebelumnya,penebangan hutan, pembangunan perkebunan,<strong>dan</strong> eksploitasi pertambangan, minyak <strong>dan</strong> gasterus <strong>berlanjut</strong> dengan kecepatan <strong>yang</strong>(bersambung ke halaman 3)Source: JASOIL
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>Eksploitasi sumber daya di <strong>Papua</strong> dengan pendekatandari atas ke bawah 1989-2010Berikut adalah sebagian kasus <strong>yang</strong> dilaporkandalam terbitan berkala DTE selama lebih dari22 tahun terakhir. Angka dalam kurungmengacu pada edisi terbitan berkala terkait.Daftar ini tidak lengkap, tetapi memberikanindikasi besarnya kerusakan sumber daya <strong>Papua</strong>dalam beberapa dekade terakhir.1989: Marubeni dari Jepang dijadwalkan<strong>untuk</strong> mulai mengimpor kayu serpih daridaerah hutan bakau di Teluk Bintuni sebagaibagian dari proyek bersama PT BintuniUtama Murni <strong>yang</strong> mencakup kegiatanpabrik kayu serpih di Pulau Amutu Besar.Takada AMDAL, <strong>dan</strong> konsesi itu tumpang tindihdengan area hutan konservasi (1). Di Jepangprotes terhadap proyek itu dilancarkan olehJATAN <strong>dan</strong> FoE Jepang (6).Scott Paper melanjutkan rencanapembukaan perkebunan <strong>dan</strong> proyek buburkayu di Merauke setelah mendapatpersetujuan pemerintah pada bulan Oktober1988 (1). Surat protes dila<strong>yang</strong>kan olehsejumlah ORNOP (2) <strong>dan</strong> aksi protes jugadilancarkan di Jakarta (3). Perusahaanakhirnya menarik diri dari proyek tersebut(6).Perusahaan Finlandia Rauma-Repola Oytengah menjajaki kerja sama patungan denganPT Furuma Utama Timber Co, <strong>untuk</strong>mengembangkan proyek kertas <strong>dan</strong> buburkayu di <strong>Papua</strong> (6).Konglomerat Indonesia PT Garuda Masmelakukan studi kelayakan <strong>untuk</strong> pabrikpemrosesan sagu di distrik Sorong (1). PTSagindo Sari Lestari telah membangunpabrik sagu di Bintuni-Manokwari (4)Enam puluh enam dari 77 pemegang HPHdilaporkan telah menghentikan kegiatanpenebangan mereka (1). Perusahaan AustraliaMcLean Ltd berencana <strong>untuk</strong> melakukanpenebangan di atas lahan HPH seluas 60.000hektare di daerah Mamberamo melalui kerjasama dengan PT Sansaporinda, <strong>yang</strong> disebutMamberamo Forest Products (5).BUMN PT Aneka Tambang berencana <strong>untuk</strong>membuka tambang nikel di Pulau Gag dengandukungan finansial dari Queensland NickelJoint Venture,Australia (3).Ekspansi besar-besaran terjadi di tambangFreeport dengan peningkatan produksiemas sebanyak tiga kali lipat dari 5 tonmenjadi 15 ton dalam 3 tahun ke depan <strong>dan</strong>produksi konsentrat tembaga dari 25.000ton menjadi 40.000 ton per hari. Freeportmerayakan ulang tahunnya <strong>yang</strong> ke 21 sambilmeraup keuntungan terbesar <strong>yang</strong> pernahdicapai. Seorang pekerja medis melaporkantelah terjadi 143 kecelakaan kerja <strong>yang</strong> serius<strong>dan</strong> 4 kematian dalam 3 tahun terakhir (5).Perusahaan patungan penebangan hutanKorea Selatan-Indonesia, You Liem Sari(anak perusahaan You One Construction)<strong>dan</strong> PT Kebun Sari telah menghancurkanpenghidupan 90 keluarga di Muris, dekatJayapura (6).1990: Investigasi oleh kantor berita Jepang,Kyodo, menemukan bukti pembalakan liar diTeluk Bintuni oleh Bintuni Utama MurniWood Industries <strong>yang</strong> didukung olehMarubeni (7). Di Teluk Bintuni, pemilik<strong>tanah</strong> suku Iraturu menuntut royalti dariperusahaan, sementara kampanye terhadapketerlibatan Marubeni dalam perusakanhutan bakau terus <strong>berlanjut</strong> di Jepang (10).Perusahaan itu diperintahkan <strong>untuk</strong>menghentikan kegiatannya <strong>dan</strong> didenda olehMenteri Kehutanan karena pembalakan liar(11).Perusahaan minyak Amerika Serikat Conocoakan melakukan pengeboran sumur minyak<strong>yang</strong> konon terbesar di <strong>Papua</strong> di daerahKepala Burung sesuai dengan perjanjian bagihasil dengan perusahaan minyak negaraPertamina (8).Pengapalan pertama ke Jepang tepung sagu<strong>yang</strong> diproduksi oleh Sagindo Sari Lestarimelalui kegiatannya di Teluk Bintuni.Perusahaan itu mengumumkan rencana<strong>untuk</strong> mendatangkan 200 keluargatransmigran <strong>untuk</strong> memenuhi kebutuhantenaga kerja. (9).Freeport melakukan negosiasi <strong>untuk</strong>memperluas kawasan kontrak menjadi 20kali lebih besar dari luas awalnya. (10).Ornop Indonesia SKEPHI melaporkan bahwa77 pemegang HPH sudah mendapatkan 12,9juta hektare <strong>dan</strong> mengatakan bahwa 70%dari hutan <strong>Papua</strong> seluas 41,8 juta hektaretelah dialokasikan <strong>untuk</strong> berbagai jeniseksploitasi (penebangan hutan, pembangunanwaduk, lokasi transmigrasi, perkebunan,pertambangan <strong>dan</strong> minyak) (10).PT Yapen Utama Timber siapmenghancurkan hutan perawan Pulau Yapen<strong>dan</strong> penghidupan masyarakat di pulau itu(10).Pemerintah memberikan lampu hijau kepada19 pabrik bubur kayu baru, empat diantaranya berada di <strong>Papua</strong> (11).• • • • • •2009: Komitmen perubahan iklim BP <strong>untuk</strong>proyek Tangguh dicermati lebih dekatseiring dengan akan beroperasinya proyekgas itu. Sekitar 3 juta ton karbon dioksidaakan dilepaskan per tahun, menurutdokumen AMDAL (80-81).Freeport mengakui bahwa perusahaan itumasih membayar militer Indonesia (80-81).A<strong>dan</strong>ya penembakan-penembakan <strong>yang</strong>mengakibatkan korban tewas di dekatpertambangan memicu organisasi masyarakatsipil setempat <strong>untuk</strong> menyerukan dialogdamai guna menyelesaikan konflik di <strong>Papua</strong>.Warga Amungme selaku pemilik <strong>tanah</strong>mengajukan gugatan baru terhadap Freeport<strong>dan</strong> menuntut ganti rugi sebesar US$30miliar <strong>untuk</strong> perusakan lingkungan hidup <strong>dan</strong>pelanggaran HAM (82).Sedikitnya 3 perusahaan eksplorasipertambangan Australia mencari kandungantembaga <strong>dan</strong> emas besar di <strong>Papua</strong>, yaituHillgrove Resources di distrik Sorong <strong>dan</strong>Manokwari, Arc Exploration Ltd (dahuluAustindo Resources Corporation) di TelukBintuni, melalui perusahaan bernama PTAlam <strong>Papua</strong> Nusantara, <strong>dan</strong> NickeloreLtd, di daerah <strong>yang</strong> berbatasan dengankonsesi Freeport (82).Pemerintah provinsi <strong>Papua</strong> mengumumkanrencana <strong>untuk</strong> membangun wadukpembangkit listrik tenaga air di Komauto<strong>untuk</strong> memasok listrik, mendukung proyeksemen di Timika serta pembangunanpariwisata di Paniai (83).2010: Pemerintah menargetkan lahan seluas250.000 hektare <strong>untuk</strong> perkebunan tanamanindustri <strong>dan</strong> tanaman rakyat pada tahun2010-2014 dari total jumlah 2,7 juta hektaredalam skala nasional. Hutan <strong>yang</strong> barumerupakan bagian dari strategi pemerintah<strong>untuk</strong> mengurangi emisi gas rumah kaca.(84).Penebangan liar dianggap sebagai penyebabbanjir ban<strong>dan</strong>g di distrik Wasior <strong>yang</strong>menelan banyak korban. (87).Perusahaan Cina, Far East, ingin menanamkanmodal dalam pertambangan batu bara di 5daerah di distrik Manokwari (87).Timika andsupport tourism development in Paniai (83).Artikel selengkapnya dapat dilihat di:www.downtoearth-indonesia.org •2
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>(bersambung dari halaman 1)berbeda-beda <strong>dan</strong> tingkat dampak <strong>yang</strong>berbeda-beda pula.Dampak menyeluruh adalahkerusakan sumber daya alam <strong>yang</strong> terusberlangsung. Garis merah dari eksploitasisumber daya alam ini adalah terpinggirkannyamasyarakat adat <strong>Papua</strong>, proyek denganpendekatan dari atas ke bawah <strong>yang</strong>ditentukan dari luar, <strong>dan</strong> seringkali disertaiancaman atau penggunaan kekerasan <strong>untuk</strong>memaksakan pelaksanaannya.Dampak kumulatif dari skemapembangunan ini merupakan persoalantersendiri <strong>yang</strong> tak kalah pentingnya. MIFEEtampaknya akan kembali menjadi pukulan<strong>yang</strong> bakal mengandaskan harapan bahwakekayaan alam <strong>Papua</strong> akan dikelola secaraberkelanjutan oleh masyarakat setempat <strong>dan</strong>bermanfaat bagi mereka sendiri. Setiappukulan semakin menjauhkan harapan karenakeseimbangan populasi bergeser denganmeningkatnya penduduk migran <strong>yang</strong> bukanmerupakan masyarakat adat <strong>dan</strong> semakinbanyak sumber daya alam <strong>Papua</strong> dikuasai olehsektor swasta.Pemberian status otonomikhusus <strong>untuk</strong> <strong>Papua</strong> pada tahun 2001memberikan lebih banyak ruang bagi politisi<strong>Papua</strong> berpartisipasi dalam pengambilankeputusan mengenai sumber daya <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong>lebih banyak kesempatan <strong>untuk</strong> memperolehmanfaat dari pendapatan. Kenyataannya,rakyat biasa masih tetap tak berdaya <strong>untuk</strong>mencegah penyerobotan <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> sumberdaya <strong>yang</strong> merupakan sumber penghidupanmereka.Dari Scott sampai BPKetika DTE didirikan pada tahun 1988,kampanye <strong>untuk</strong> menghentikan pembangunanbesar-besaran oleh Scott Paper tengahberlangsung dengan gencar. 1 Lahan seluassekitar 790.000 hektare di distrik Meraukeditargetkan <strong>untuk</strong> dijadikan perkebunaneucalyptus <strong>untuk</strong> memasok kilang kayu serpih<strong>dan</strong> bubur kayu di Bade (sekarang di distrikMappi) di Sungai Digul. <strong>Tanah</strong> milik sekitar15.000 masyarakat adat <strong>yang</strong> hidup sebagaipemburu <strong>dan</strong> peramu masuk dalam wilayahkonsesi Scott. Perusahaan Amerika Serikat ituberjanji <strong>untuk</strong> mempekerjakan sebanyakmungkin warga setempat, tetapi jugamenegaskan bahwa masyarakat non-<strong>Papua</strong>juga akan didatangkan dengan bantuanDepartemen Transmigrasi pemerintahIndonesia. 2 Kampanye internasionalmenyuarakan kekhawatiran atas perlindunganpenghidupan <strong>dan</strong> hak <strong>untuk</strong> mendapatkaninformasi awal tanpa tekanan (FPIC),meskipun ketika itu istilah tersebut belumdikenal. Scott menampik tekanan ORNOPdengan menyatakan bahwa perusahaan ituakan mundur jika masyarakat setempatmengatakan mereka tak menginginkan proyekitu terus berjalan di sana. Akhirnya, di bawahancaman kampanye konsumen terhadapCatatan satu dekade program transmigrasi dari arsip DTE:1999: Setelah peluncuran buku George Monbiot, Poisoned Arrows, Kedutaan BesarIndonesia membela program transmigrasi di <strong>Papua</strong>, dengan mengatakan bahwa Indonesiatidak memaksa warga <strong>Papua</strong> <strong>untuk</strong> hidup secara modern, tetapi berusaha mencegahagar mereka tidak hidup secara berpindah-pindah (nomaden) (3). Kepala kantor wilayahtransmigrasi berpendapat bahwa program transmigrasi perlu digalakkan karenakepadatan penduduk di <strong>Papua</strong> hanyalah 3,4 orang per km2. Rencana <strong>untuk</strong>mendatangkan 23.000 keluarga dalam waktu lima tahun tak terpenuhi, hanya 4.555keluarga <strong>yang</strong> didatangkan. Selama ini sejumlah 23.000 keluarga telah didatangkan ke<strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> <strong>yang</strong> paling banyak tinggal di Merauke (4).1990: Target lima tahun <strong>yang</strong> baru <strong>untuk</strong> <strong>Papua</strong> adalah 29.905 keluarga. Rencana <strong>untuk</strong>memindahkan 4.000 keluarga diumumkan <strong>untuk</strong> tahun 1990/91 <strong>untuk</strong> Indonesia bagianTimur.Tetapi dilaporkan a<strong>dan</strong>ya lokasi <strong>yang</strong> tak dihuni di beberapa daerah di <strong>Papua</strong>dengan rumah-rumah <strong>yang</strong> perlu diperbaiki <strong>dan</strong> lahan <strong>yang</strong> perlu dibuka sebelumkeluarga transmigrasi dapat pindah ke sana (8).1992: Di Merauke, 163 keluarga meninggalkan lokasi transmigrasi karena kurangnyapersiapan <strong>dan</strong> kondisi kekeringan.Angka resmi transmigrasi ke Merauke sejak tahun1964 adalah sebesar 12.064 keluarga plus 1.712 keluarga lokal <strong>yang</strong> menetap di lokasitransmigrasi. Meskipun terdapat masalah, Departemen Transmigrasi memperkirakanbahwa Merauke memiliki potensi <strong>untuk</strong> mengakomodasi 100.000 keluarga dalam‘kawasan segitiga transmigrasi’ seluas 1,2 juta hektare.Terdapat rencana <strong>untuk</strong>membangun waduk besar di Sungai Digul <strong>untuk</strong> menyediakan irigasi, <strong>yang</strong> akan selesaidalam waktu 25 tahun (19).1994: Menteri Penerangan Harmoko berkata ia berharap bahwa melalui programtransmigrasi penduduk <strong>Papua</strong> akan dapat cepat meningkat <strong>untuk</strong> mengeksploitasipotensi ekonominya <strong>yang</strong> besar. Suharto berencana <strong>untuk</strong> membagi <strong>Papua</strong> menjadi tigaprovinsi <strong>untuk</strong> mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung. Juga direncanakanakan dibangun lokasi transmigrasi di sepanjang daerah perbatasan dengan <strong>Papua</strong> Nugini(23).1996: <strong>Papua</strong> adalah daerah transmigrasi paling luas <strong>untuk</strong> tahun 1996/7. Kebijakantransmigrasi baru <strong>untuk</strong> <strong>Papua</strong> diumumkan: masyarakat adat <strong>Papua</strong> tak lagi tinggalbersama pendatang dari luar <strong>Papua</strong> di lokasi transmigrasi <strong>yang</strong> sengaja dibuka, tetapidesa asli mereka akan ‘direstrukturisasikan’.Tujuannya adalah <strong>untuk</strong> mempercepatpembangunan. Lokasi baru “khusus” direncanakan di Timika <strong>dan</strong> Lereh. Lokasitransmigrasi baru di Sorong diumumkan (28). Lokasi transmigrasi tengah dibangun didalam Taman Nasional Wasur, Merauke (35).1997: RUU Transmigrasi <strong>yang</strong> baru tidak mencakup aspek pertahanan <strong>dan</strong> keamanan daritransmigrasi. Menteri Transmigrasi Siswono menekankan bahwa <strong>Papua</strong> memiliki “terlalusedikit penduduk” <strong>dan</strong> berkilah bahwa lebih banyak pendatang diperlukan <strong>untuk</strong>mempercepat laju pembangunan (32). Sejak tahun 1964 246.000 orang telahdidatangkan ke <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> 110.000 lagi akan didatangkan hingga tahun 1999.WALHImemperingatkan bahwa warga <strong>Papua</strong> akan menjadi minoritas di <strong>tanah</strong> mereka sendiri<strong>dan</strong> mendesak agar program transmigrasi dihentikan (32).1998: Terdapat tanda-tanda bahwa krisis keuangan (‘krismon’) mungkin akan memaksapemerintah <strong>untuk</strong> mengurangi program transmigrasi (37), tetapi dokumen pemerintahmengindikasikan bahwa program itu akan dilanjutkan.Angka transmigrasi dari tahun1969/70 hingga 1993/4 <strong>untuk</strong> <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> Maluku adalah 81.401 keluarga. Rencanapembangunan lima tahun saat ini (94/95-98/99) mencakup didatangkannya 67.210keluarga <strong>untuk</strong> wilayah <strong>yang</strong> sama (39).2000: Pemerintah provinsi mendesak pemerintah pusat <strong>untuk</strong> menghentikan pengirimankeluarga transmigran ke <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> mulai memberdayakan warga <strong>Papua</strong> (45).Angkaresmi menunjukkan bahwa jumlah penduduk sebesar kurang lebih 2 juta <strong>dan</strong> sekitarsetengahnya merupakan masyarakat adat <strong>Papua</strong> (45).Catatan: angka-angka dalam kurung merujuk pada edisi buletin DTEproduk terkenal perusahaan itu (tisue, kertastoilet), perusahaan mengundurkan diri dariproyek itu. Hal ini menyebabkan mitrapatungannya <strong>yang</strong> berasal dari Indonesia(Astra) <strong>dan</strong> beberapa menteri marah, lalumenyerang balik kelompok ORNOP.Sejak peristiwa dengan Scott Papertersebut, <strong>Papua</strong> terus dikepung oleh proyekeksploitasi sumber daya alam – sebagiansudah berjalan, sebagian belum, ada <strong>yang</strong>dalam skala besar-besaran, ada juga <strong>yang</strong> takbegitu besar; ada <strong>yang</strong> dengan ijin resmi, ada<strong>yang</strong> ilegal. Proyek-proyek ini antara lain megaproyek Memberamo seluas 8 juta hektare<strong>untuk</strong> pembangunan bendungan pembangkitlistrik tenaga air, infrastruktur, industri berat<strong>dan</strong> agro-industri (<strong>yang</strong> belum dimulai) hinggaoperasi penyelundupan kulit buaya <strong>yang</strong>3
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>melibatkan pejabat pemerintah <strong>dan</strong> militer(<strong>yang</strong> sudah terjadi). Juga ada rencana BPH<strong>untuk</strong> membuka pertambangan nikel raksasadi Pulau Gag (dibatalkan) hingga proyekTangguh <strong>yang</strong> luar biasa besarnya milik BPberupa ekstraksi gas <strong>dan</strong> pabrik LNG di TelukBintuni (tengah berjalan).Satu proyek <strong>yang</strong> terus ada dalamsejarah <strong>Papua</strong> mutakhir adalah tambangtembaga <strong>dan</strong> emas Freeport-Rio Tinto dipegunungan tengah <strong>Papua</strong>. Seperti <strong>yang</strong>tercatat dalam kronologi di bawah ini, proyekraksasa tersebut telah membawa banyakmanfaat bagi investor tetapi menimbulkanbanyak pelanggaran HAM <strong>dan</strong> lingkunganhidup terhadap penduduk setempat. Hinggaawal abad 21 ini, proyek tambang raksasatersebut menjadi acuan atau contoh buruk<strong>untuk</strong> tidak melakukan proyek pembangunansumber daya alam di <strong>Papua</strong>.Perusakan Hutan <strong>Papua</strong>Barangkali hal <strong>yang</strong> paling mengganggu adalahpengurasan sumber daya <strong>Papua</strong> <strong>yang</strong>berdampak sangat merusak kekayaan hutan<strong>Papua</strong> <strong>yang</strong> kaya, penuh keanekaragamanhayati <strong>dan</strong> unik. Ketika hutan rusak, matapencaharian masyarakat <strong>yang</strong> tergantung padasumber daya itu menjadi berkurang ataubahkan hilang sama sekali.Hutan merupakan target utamainvestor, mula-mula melalui konsesi HPH <strong>dan</strong>pembukaan hutan <strong>untuk</strong> lokasi transmigrasi,<strong>dan</strong> belakangan melalui konsesi HTI. Melaluiperaturan daerah, lalu otonomi khusus,desentralisasi kekuasaan memicu perseteruan<strong>untuk</strong> memegang kendali antara pemerintah<strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> pemerintah pusat. Mafia kayu <strong>yang</strong>baru adalah para pedagang kayu <strong>dan</strong> petugaskeamanan serta pejabat setempat, seiringdengan beralihnya demam kayu dariKalimantan ke <strong>Papua</strong>. Dalam dekade terakhirini proyek kelapa sawit <strong>dan</strong> bubur kayu sertaberbagai kegiatan lain semakinmenghancurkan hutan <strong>Papua</strong>, di samping ataubersamaan dengan penebangan hutan.Sekarang ini, tanaman <strong>untuk</strong> pangan<strong>dan</strong> penghasil energi <strong>yang</strong> ditargetkan melaluiMIFEE merupakan ancaman tambahan bagihutan <strong>dan</strong> penghuni hutan. HTI, proyekpengembangan kelapa sawit <strong>dan</strong> MIFEEsemuanya merongrong kredibilitas komitmen<strong>yang</strong> dibuat presiden Indonesia SusiloBambang Yudhoyono <strong>untuk</strong> mengurangi emisigas rumah kaca Indonesia sebesar 26% pertahun 2020. 3Konteks transmigrasiProgram transmigrasi pemerintah Indonesia<strong>yang</strong> sangat merusak <strong>untuk</strong> memindahkanjutaan warga desa dari Jawa, Bali <strong>dan</strong> Madurake ‘pulau-pulau luar’ <strong>yang</strong> kurang padatpenduduknya se<strong>dan</strong>g gencar dilaksanakanketika DTE didirikan tahun 1988. <strong>Papua</strong>,dengan status politik <strong>yang</strong> bermasalah,gerakan perlawanan bersenjata, operasiPiagam di kampung Domande, Merauke(Foto: Adriana Sri Adhiati)militer <strong>yang</strong> brutal <strong>dan</strong> sering dilakukanterhadap masyarakat setempat <strong>untuk</strong>membersihkan pembangkang politik <strong>dan</strong>daerah perbatasannya dengan <strong>Papua</strong> Nugini<strong>yang</strong> panjang <strong>dan</strong> relatif ‘terbuka’, merupakantarget utama program transmigrasi. Di <strong>Papua</strong>,sama seperti di daerah perbatasan lainnya,program itu dimaksudkan <strong>untuk</strong> memperkuatkendali <strong>dan</strong> pertahanan teritorial sertamengakses <strong>dan</strong> mengembangkan kekayaanalam <strong>yang</strong> kaya dari daerah itu.Ada pula tujuan<strong>untuk</strong> ‘mengajarkan warga <strong>Papua</strong> bagaimanabertani’ selain usaha <strong>yang</strong> disengaja <strong>untuk</strong>mendorong penambahan penduduk guna‘mempercepat pembangunan’.Transmigrasi tetap merupakan halsensitif khususnya di <strong>Papua</strong>. Semakin banyakpendatang menetap di <strong>Papua</strong>, baik melaluiprogram resmi transmigrasi <strong>yang</strong> disponsoripemerintah maupun sebagai pendatang <strong>yang</strong>datang sendiri. Dampak keseluruhannyaadalah meningkatnya populasi warga <strong>yang</strong>bukan merupakan masyarakat adat <strong>Papua</strong>.Riset baru-baru ini mengindikasikan bahwawarga <strong>yang</strong> bukan merupakan masyarakatadat <strong>Papua</strong> jumlahnya melebihi masyarakatadat <strong>Papua</strong> pada tahun 2010 <strong>dan</strong> bahwajumlah penduduk <strong>yang</strong> bukan merupakanmasyarakat adat <strong>Papua</strong> cenderung tumbuhlebih cepat dibandingkan dengan masyarakatadat <strong>Papua</strong>. 4Proyek MIFEE akan lebihmenegaskan keadaan ini. Perkiraan jumlahpekerja <strong>yang</strong> diperlukan <strong>untuk</strong> perkebunansumber pangan <strong>dan</strong> energi <strong>yang</strong> direncanakanberkisar antara puluhan ribu hingga jutaanorang. Berapa pun jumlah akhirnya, hal iniakan menambah tekanan atas sumber dayaalam <strong>dan</strong> lebih menekan masyarakat adat<strong>Papua</strong> ke posisi minoritas.Dalam konteks politik <strong>yang</strong> lebihluas, kekhawatiran terkait dengan populasi iniberhubungan dengan pertanyaan mengenaistatus politik <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> bagaimana identitas<strong>Papua</strong> didefinisikan. Jika, pada akhirnya,terlaksana penentuan nasib sendiri <strong>yang</strong> sejatidi <strong>Papua</strong>, seperti apakah hasilnya, mengingatbahwa lebih dari setengah penduduknyaadalah bukan merupakan masyarakat adat<strong>Papua</strong>? Atau, jika terdapat upaya <strong>untuk</strong>membatasi hak sehingga pendatang baru takmemperoleh hak <strong>untuk</strong> memberikan suara,bagaimana hak itu akan ditentukan? Jikakriteria pemberian suara dikaitkan denganidentitas <strong>Papua</strong>, bagaimana identitas itu akanditentukan? Siapa <strong>yang</strong> akan memilikikewenangan <strong>untuk</strong> menjawab pertanyaantersebut?MIFEE: buku <strong>yang</strong> samadengan sampul berbeda?Berdasarkan pengalaman sebelumnya denganbeberapa mega proyek, MIFEE dikhawatirkanakan membawa lebih banyak kerugiandaripada manfaat. Mega proyek <strong>untuk</strong>mengubah lahan gambut di Kalimantan Tengahmenjadi sawah <strong>yang</strong> menimbulkan banyakkerusakan pada tahun 1990-an merupakanproyek ambisius serupa dengan tujuankeamanan pangan <strong>yang</strong> berakhir dengankehancuran ekologi—termasuk pelepasanjutaan ton CO2—<strong>dan</strong> memiliki dampaknegatif bagi masyarakat Dayak setempat. 5Proyek MIFEE melibatkan 10BUMN <strong>dan</strong> 37 perusahaan swasta, termasukperusahaan asing. Paling sedikit duaperusahaan dilaporkan tengah menyelesaikanAMDAL mereka. Luas areanya berkisar antarasetengah juta hektare hingga 2,5 juta hektareatau lebih, tergantung dari sumber informasi.Sementara proyek itu dipromosikan sebagaiupaya <strong>untuk</strong> mendorong keamanan panganIndonesia, keterlibatan perusahaan asingmengindikasikan bahwa pasar ekspor akanmendapat prioritas. Mega proyek itu telahmenimbulkan banyak kekhawatiran di antaramasyarakat setempat, kelompok gereja, <strong>dan</strong>organisasi masyarakat sipil. Sejumlahkelompok lokal, <strong>yang</strong> didukung AliansiMasyarakat Adat Nusantara (AMAN),menolak keras proyek tersebut,. 6Apa <strong>yang</strong> berubah sejak jaman ScottPaper? Masyarakat setempat akanterpinggirkan, pekerja transmigran akandidatangkan, hutan dibuka <strong>dan</strong> sumber dayahutan digaruk; perusahaan <strong>dan</strong> investor besarmencari keuntungan. Militer mungkin jugamendapatkan manfaat dari uang keamanansama seperti <strong>yang</strong> mereka dapatkan daritambang Freeport-Rio Tinto, kelapa sawit <strong>dan</strong>penebangan hutan.MIFEE dapat digunakan oleh militersebagai pembenaran atas kebutuhan pasukan<strong>untuk</strong> mengamankan proyek—situasi <strong>yang</strong>4
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>meningkatkan potensi pelanggaran HAMterhadap warga setempat. Masih ada semuaunsur <strong>untuk</strong> melanjutkan eksploitasi sumberdaya <strong>dan</strong> peminggiran masyarakat setempatseperti <strong>yang</strong> sudah dilakukan selamaberpuluh-puluh tahun.Satu perbedaan besar dari jamanScott Paper adalah, mungkin, potensi <strong>yang</strong>lebih besar bagi masyarakat sipil <strong>untuk</strong>memonitor <strong>dan</strong> memaparkan dampak negatif.Sementara wartawan independen masihmengalami banyak keterbatasan <strong>untuk</strong>mendapatkan akses ke <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> <strong>Papua</strong> Barat,komunikasi antara <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> dunia luarmeskipun tersendat-sendat tetapidimungkinkan berkat jaringan organisasimasyarakat sipil <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> non-<strong>Papua</strong> <strong>yang</strong>bergerak dari dalam <strong>dan</strong> luar <strong>Papua</strong>. Ini berartibahwa informasi independen <strong>yang</strong> kritis dapatkeluar masuk <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> kekhawatiranmasyarakat dapat disuarakan dengan lebihefektif daripada di masa Scott Papper. Tapimasih harus dilihat apakah pengambilkeputusan akan menanggapi pesan merekadengan serius <strong>dan</strong> mulai memberikandukungan berkelanjutan bagi masyarakatdengan pendekatan dari bawah ke atasketimbang membangun berbagai mega proyekdengan pendekatan dari atas ke bawah.Catatan1. Untuk latar belakang lebih lanjut, lihatterbitan berkala DTE 1-6, 1989.2. Kampanye internasional menentangpen<strong>dan</strong>aan Bank Dunia <strong>untuk</strong> proyektransmigrasi <strong>yang</strong> banyak menimbulkankerusakan juga terjadi tahun 1980-an.Rencana <strong>untuk</strong> memindahkan ratusan ribuwarga miskin dari Jawa, Bali <strong>dan</strong> Madura ke‘pulau-pulau luar’ <strong>yang</strong> menjadi sasaran(Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Timor, <strong>Papua</strong>)khususnya sensitif <strong>untuk</strong> <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> juga Aceh<strong>dan</strong> Timor Timur, karena status politik <strong>yang</strong>bermasalah di daerah tersebut.3. Lihat DTE 84.4. David Adam Stott, ‘Indonesian Colonisation,Resource Plunder and West <strong>Papua</strong>nGrievances’, The Asia-Pacific Journal Vol 9, Edisi12 No 1, Maret 21, 2011,http://www.japanfocus.org/-David_Adam-Stott/3499. Angka tahun 2010 adalahHutan rawa-rawa, Merauke. (Adriana Sri Adhiati)1.760.557 (49%) <strong>untuk</strong> masyarakat adat<strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> 1.852.297 (51%) <strong>untuk</strong> warga <strong>yang</strong>bukan merupakan masyarakat adat <strong>Papua</strong>,didasarkan atas penambahan jumlahpenduduk <strong>dan</strong> laju pertumbuhan penduduk<strong>untuk</strong> kedua kelompok itu <strong>dan</strong> penerapannyapada hasil sensus 2010. Tak seperti tahun2000, sensus 2010 tidak menyediakaninformasi mengenai komposisi kelompoketnis <strong>dan</strong> agama di provinsi <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> <strong>Papua</strong>Barat..5. Lihat DTE 42.6. Lihat Siaran Pers Tapol & DTE, Agustus 2010.Peta Pemda Merauke tentang perkebunan <strong>yang</strong> direncanakan di kawasan hutan Meraukeareal penggunaan lainhutan lindunghutan produksihutan produksi konversihutan produksi terbataskawasan suaka alam/pelestarian alamSumber: peta <strong>yang</strong> dikeluarkan olehPemda MeraukeCatatan: kotak-kotak <strong>yang</strong> dibuat di atas peta fungsi hutan menunjukkan lokasi 46 perusahaan <strong>yang</strong>berinvestasi di sana. Daftar perusahaan tersebut ada dalam peta <strong>yang</strong> asli.5
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>Mengakhiri konflik di <strong>Papua</strong> BaratSerbuan brutal aparat keamanan Indonesia terhadap Kongres <strong>Papua</strong> Ketiga di bulan Oktober menyebabkan enamorang tewas <strong>dan</strong> ratusan lainnya dipukuli <strong>dan</strong> ditangkap. Deklarasi kemerdekaan oleh kongres itu serta usahapemerintah <strong>untuk</strong> membungkamnya sekali lagi membuat status politik wilayah itu menjadi sorotan. "Ironis sekali.Saat warga <strong>Papua</strong> berkumpul <strong>untuk</strong> membahas hak dasar mereka, Indonesia menanggapi dengan melanggar hakhakitu," kata Carmel Budiardjo, pengkampanye senior TAPOL, organisasi non-pemerintah <strong>yang</strong> berkantor di Inggris.Dalam artikel di bawah ini Carmel memberikan pan<strong>dan</strong>gan atas perkembangan terakhir di wilayah itu.Empat puluh tahun lebih telah berlalu sejak<strong>Papua</strong> Barat menjadi provinsi Indonesia.Warga <strong>Papua</strong> tidak pernah diberi kesempatan<strong>untuk</strong> referendum. Alih-alih, <strong>yang</strong>dilangsungkan adalah Penentuan PendapatRakyat (Pepera), <strong>yang</strong> berlangsung tidak bebas<strong>dan</strong> tidak memberikan pilihan apapun.Hanya seribu orang lebih warga<strong>Papua</strong>, <strong>yang</strong> bertindak atas nama pendudukberjumlah ratusan ribu orang, memutuskan'dengan suara bulat' <strong>untuk</strong> menjadi bagianIndonesia. Wilayah <strong>yang</strong> luas itu secara defacto telah dikuasai Indonesia selamabeberapa tahun sesuai dengan ketentuanKesepakatan New York tahun 1962 antaraIndonesia <strong>dan</strong> Belanda.Warga <strong>Papua</strong> tak bisa memberikansuara karena tak diikutsertakan dalampembicaraan, sementara Indonesiamendapatkan dukungan dari negara <strong>yang</strong>berkuasa di Barat dalam perselisihannyadengan Belanda mengenai masa depan wilayahitu. Ketika Pepera <strong>yang</strong> curang itu berlangsungpada tahun 1969, pasukan militer dalamjumlah besar diturunkan di <strong>Papua</strong>. Jumlahtentara bersenjata jauh melampaui jumlahpejabat PBB <strong>yang</strong> sangat sedikit <strong>dan</strong> tak dapatmengunjungi sebagian besar wilayah <strong>untuk</strong>memantau pelaksanaan Pepera tersebut.Kehadiran wakil PBB <strong>yang</strong> takmemadai itu dimanfaatkan <strong>untuk</strong> mensahkankeputusan para kepala suku <strong>yang</strong>berpartisipasi dalam Pepera. Mereka telahdiperingati oleh militer mengenai konsekuensi<strong>yang</strong> buruk jika memilih <strong>untuk</strong> menolakintegrasi dengan Indonesia.Sejak itu, <strong>Papua</strong> Barat menjadidaerah <strong>yang</strong> penuh dengan konflik <strong>dan</strong>eksploitasi terhadap masyarakat adat <strong>yang</strong>menderita diskriminasi, penggusuran dari<strong>tanah</strong> mereka, <strong>dan</strong> secara berangsurkehilangan sumber mata pencaharian mereka,sementara kebebasan mendasar <strong>untuk</strong>menyampaikan pendapat, berkumpul <strong>dan</strong>berserikat, dihalang-halangi dengan keras.Program transmigrasi <strong>yang</strong> diprakarsaipemerintah pusat menyebabkan masuknyabanyak penduduk dari Indonesia <strong>yang</strong>sekarang mendominasi sektor komersial <strong>dan</strong>menduduki sejumlah posisi senior dipemerintahan provinsi, kabupaten <strong>dan</strong>kecamatan. Semua perkembangan inimengakibatkan masyarakat adat <strong>Papua</strong>menjadi terpinggirkan serta miskin.Ketika <strong>Papua</strong> Barat baru menjadibagian Indonesia, perlawanan bersenjataPasukan keamanan sebelum penyeranganKongres Ketiga <strong>Papua</strong> di Abepura,Oktober 2011. (Foto: sumber anonim)dilancarkan oleh Organisasi <strong>Papua</strong> Merdeka(OPM). Meskipun OPM mencerminkanketidakpuasan <strong>yang</strong> dirasakan oleh sebagianbesar warga <strong>Papua</strong> karena ditekan sertadijajah oleh Indonesia, setiap usahaperlawanan bersenjata itu tak pernah berhasil.OPM <strong>yang</strong> minim perlengkapan bukanlahtandingan pasukan keamanan tentara <strong>dan</strong>polisi Indonesia <strong>yang</strong> jauh melebihi mereka.Seruan <strong>untuk</strong> dialogPasca Musyawarah Besar pimpinan suku padaawal tahun 2000, warga <strong>Papua</strong> mengadakanKongres <strong>Papua</strong> Kedua pada bulan Mei-Juni2000 <strong>yang</strong> dihadiri oleh ribuan orang. Dalamkongres inilah pemimpin <strong>Papua</strong> <strong>untuk</strong>pertama kali menyerukan kepada pemerintahIndonesia <strong>untuk</strong> berdialog dengan fasilitatorpihak ketiga <strong>yang</strong> netral. Tetapi pemerintahpusat mengabaikan seruan itu <strong>dan</strong> tak pernahmengindahkannya sejak itu.Kongres itu menghasilkan sejumlahkeputusan politik. Terbentuk Presidium6Dewan <strong>Papua</strong> dibentuk, <strong>yang</strong> kemudianmembuat kerangka acuan bagi dialog <strong>yang</strong>diusulkan. Juga dibentuk komisi, <strong>yang</strong>diharapkan akan memperbaiki sejarah - <strong>untuk</strong>menyelidiki cara curang <strong>yang</strong> membuat <strong>Papua</strong>Barat menjadi bagian Indonesia.Pada bulan Oktober 2004, ketikaSusilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilihmenjadi presiden Indonesia <strong>untuk</strong> masajabatannya <strong>yang</strong> pertama, ia bersama wakilpresiden Jusuf Kalla berusaha mencari apa<strong>yang</strong> mereka harapkan sebagai penyelesaian<strong>yang</strong> komprehensif <strong>untuk</strong> <strong>Papua</strong> Barat. Padasaat pelantikan menjadi presiden, SBYmengatakan:Pemerintah berkeinginan <strong>untuk</strong>menyelesaikan masalah <strong>Papua</strong> dengan caradamai, adil <strong>dan</strong> bermartabat, denganmenitikberatkan dialog <strong>dan</strong> persuasi.Otonomi KhususDalam usaha <strong>untuk</strong> meredakan ketidakpuasan<strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> keinginan kuat <strong>untuk</strong> merdeka,<strong>Papua</strong> Barat diberi otonomi khusus padabulan Oktober 2001 sesuai dengan un<strong>dan</strong>gun<strong>dan</strong>g<strong>yang</strong> memberikan hak ekonomi <strong>dan</strong>politik <strong>yang</strong> luas bagi warga <strong>Papua</strong>, <strong>dan</strong>pembentukan dewan khusus, Majelis Rakyat<strong>Papua</strong>, <strong>yang</strong> semua terdiri dari warga <strong>Papua</strong>.Pada bulan Desember 2002, TomBeanal, wakil ketua PDP mencanangkan <strong>Papua</strong>sebagai 'Zona Damai'. Beanal mengambil alihkepemimpinan PDP pasca pembunuhan brutalpemimpinnya, Theys Hiyo Eluay, pada tahun2001 oleh pasukan elit Indonesia. Zona Damaimaksudnya adalah <strong>Papua</strong> Barat menjadi'kawasan <strong>yang</strong> bebas dari kekerasan,penindasan, <strong>dan</strong> penderitaan'. Konsep <strong>tanah</strong>damai ini dipegang oleh tokoh agama di <strong>Papua</strong><strong>dan</strong> juga OPM. Pada akhir 2007, para tokohagama kembali menyatakan bahwa konflikharus diselesaikan dengan damai, sambilmenekankan kembali komitmen sebagianbesar warga <strong>Papua</strong> <strong>untuk</strong> menggunakan caracaradamai.Dua tahun kemudian, pastor Katolik<strong>Papua</strong>, Pastor Neles Tebay menyampaikanprakarsa baru <strong>untuk</strong> mendorong dialog antara<strong>Papua</strong> Barat <strong>dan</strong> pemerintah Indonesia. PastorTebay, <strong>yang</strong> mengabdikan dirinya <strong>untuk</strong>mengupayakan dialog lebih dari pemimpin<strong>Papua</strong> lainnya, selalu menekankan bahwakekerasan tak dapat menyelesaikan konflik.Terlebih lagi, pada saat itu, jelas sekali bahwaOtsus gagal menjamin hak-hak warga <strong>Papua</strong>
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>seperti <strong>yang</strong> dijanjikan dalam UU no. 21/2001.Dengan semakin meningkatnyafrustrasi terhadap Otsus, warga <strong>Papua</strong> mulaimenuntut agar Un<strong>dan</strong>g-Un<strong>dan</strong>g Otsus ituharus "dikembalikan ke pemerintah pusat".Pada saat <strong>yang</strong> sama, ribuan rakyat di seluruhpenjuru <strong>Papua</strong> berdemonstrasi dengan damai,mengibarkan lambang tradisional mereka,bendera bintang kejora. Aksi ini ditanggapidengan tangan besi oleh aparat keamanan;sejumlah warga dipenjarakan atas tuduhanmelakukan makar. Tahun 2004, Filep Karmadihukum 15 tahun karena mengibarkanbendera bintang kejora dengan damai.Beberapa orang lainnya dihukum dua sampaitiga tahun hanya karena melakukan protes.Sebuah kampanye, <strong>yang</strong> jugadidukung oleh TAPOL, se<strong>dan</strong>g berlangsung<strong>untuk</strong> menghentikan praktik represif <strong>yang</strong>mendakwa orang <strong>yang</strong> terlibat kegiatan politikdamai dengan pasal kejahatan kriminal sepertimakar, <strong>yang</strong> merupakan hukum warisan jamanpenjajahan Belanda.Konferensi Damai <strong>Papua</strong>Seiring dengan protes <strong>yang</strong> terus meluas, adaprakarsa baru <strong>untuk</strong> mendorong dialog <strong>dan</strong>perdamaian. Pada tanggal 7 Juli 2011, JaringanDamai <strong>Papua</strong> mengadakan Konferensi Damai<strong>Papua</strong> <strong>yang</strong> dihadiri sekitar 500 orang dariseluruh <strong>Papua</strong>.Konferensi ini juga dihadiri oleh tigapejabat tinggi Indonesia, <strong>yang</strong> memberikansambutan: Menko Polkam Djoko Suyanto,Koman<strong>dan</strong> Militer Kodam Cenderawasih/XVIIdi <strong>Papua</strong> Barat May.Jen. Erfi Triassunu <strong>dan</strong>Inspektur Jenderal Bekto Soeprapto, kepalapolisi <strong>Papua</strong> Barat. Djoko Suyantomenggambarkan konflik di <strong>Papua</strong> Barat 'multidimensi' <strong>dan</strong> mengakui pentingnya komunikasidua arah-dengan kata lain, dialog.Turut hadir dalam konferensi ituadalah gubernur provinsi <strong>Papua</strong>, BarnabasSuebu, <strong>yang</strong> menggarisbawahi paradoks di<strong>Papua</strong> Barat: wilayah <strong>yang</strong> kaya akan sumberdaya alam, tetapi penuh konflik internal <strong>yang</strong>mengarah pada disintegrasi sosial. Ia jugamenekankan tradisi <strong>Papua</strong> dalammenyelesaikan perselisihan lokal melaluipembicaraan <strong>yang</strong> "bermartabat" sebagai jalanterbaik <strong>untuk</strong> menghindari hilangnya nyawa.Pastor Neles Tebay, koordinatorJaringan Damai <strong>Papua</strong>, setelah konferensiselesai mengatakan: "Saya inginmenggarisbawahi bahwa (rekomendasi) initidak dibuat <strong>untuk</strong> mencari siapa <strong>yang</strong> salah,tetapi lebih <strong>untuk</strong> memusatkan perhatian kitaatas masalah sebenarnya <strong>yang</strong> perlu diatasi<strong>untuk</strong> menciptakan <strong>Papua</strong> <strong>yang</strong> damai."Konferensi itu mengusulkansejumlah indikator <strong>untuk</strong> tujuan itu:• Masyarakat adat <strong>Papua</strong> harus merasatenang, aman, menikmati standar hiduplayak, tinggal di <strong>tanah</strong> mereka <strong>dan</strong> dalamhubungan damai dengan satu sama lain,dengan alam, <strong>dan</strong> dengan Tuhan.• Masyarakat adat <strong>Papua</strong> tidak bolehmendapatkan stigma sebagai separatis atausubversif.• Masyarakat adat <strong>Papua</strong> harus bebas daridiskriminasi, intimidasi <strong>dan</strong> marginalisasi.• Masyarakat adat <strong>Papua</strong> harus mendapatkanhak <strong>untuk</strong> berekspresi, menyatakanpendapat, <strong>dan</strong> berserikat.• Segala bentuk kekerasan negara terhadapmasyarakat adat, termasuk perempuan <strong>dan</strong>anak-anak, harus dihentikan.• Siapapun <strong>yang</strong> terlibat dalam tindakankekerasan negara harus diadili <strong>dan</strong>dihukum sesuai dengan rasa keadilanmasyarakat.• Hak masyarakat adat atas <strong>tanah</strong> ulayatharus diakui secara hukum.• Eksploitasi sumber daya alam harusmempertimbangkan konservasi sumberdaya itu, mengakui kebiasaan setempat, <strong>dan</strong>sedapat mungkin memberikan manfaatsebesar-besarnya bagi masyarakat adat<strong>Papua</strong>.• Perusahaan <strong>yang</strong> menghancurkanlingkungan <strong>dan</strong> merusak hak kepemilikan<strong>tanah</strong> adat harus diberi sanksi hukum <strong>dan</strong>administratif.• Praktik konversi hutan <strong>yang</strong> berkontribusipada pemanasan global harus dihentikan.Terkait dengan persoalan keamanan,konferensi mengusulkan agar aparatkeamanan menjalankan tugasnya secaraprofesional <strong>dan</strong> menghormati hak asasimanusia <strong>yang</strong> mendasar <strong>untuk</strong> melindungirasa aman masyarakat adat <strong>Papua</strong>. Operasiintelijen <strong>yang</strong> mengintimidasi ataumenciptakan rasa tidak aman harusdihentikan. TNI <strong>dan</strong> Polri harus dilarangterlibat dalam bisnis atau politik, dengansanksi hukum bagi <strong>yang</strong> melanggar.Terkait dengan masalah sosial <strong>dan</strong>budaya, konferensi mengusulkan agar haksosial <strong>dan</strong> budaya masyarakat adat <strong>Papua</strong>termasuk hak atas <strong>tanah</strong> adat <strong>dan</strong> normanormaadat harus diakui <strong>dan</strong> dihormati.Pemberian label kepada warga <strong>Papua</strong> sebagaiorang bodoh, suka mabuk-mabukan, pemalas<strong>dan</strong> primitif harus dihentikan.Diskriminasi terhadap warga <strong>yang</strong>menderita HIV <strong>dan</strong> AIDS harus dihentikan.Segala upaya harus dilakukan <strong>untuk</strong>mengurangi tingkat kematian ibu <strong>dan</strong> anakdalam masyarakat adat <strong>Papua</strong> dengan bantuanlayanan medis profesional. Kebijakan <strong>yang</strong>mengarah pada pengurangan penduduk dalammasyarakat adat <strong>Papua</strong> seperti programMengulangi seruan damaiPemimpin kampanye damai, Pastor NelesTebay, meminta Komnas HAM <strong>untuk</strong>menyelidiki tindakan kekerasan <strong>yang</strong> terjadipada akhir Kongres Rakyat <strong>Papua</strong> Ketiga. Iamengulangi dukungannya atas seruan bagidialog antara Jakarta <strong>dan</strong> <strong>Papua</strong> <strong>untuk</strong>mengakhiri kekerasan <strong>dan</strong> mencegahtimbulnya kekerasan di masa mendatang di<strong>Tanah</strong> <strong>Papua</strong>.(Sumber: Bintang <strong>Papua</strong>, 26/Okt/2011).7keluarga berencana harus dihentikan, <strong>dan</strong>harus diambil langkah-langkah <strong>untuk</strong>membatasi imigrasi ke <strong>Papua</strong> Barat.TNI menentang dialogTetapi, kurang dari dua bulan setelahkonferensi damai itu, dalam pertemuandengan anggota DPR pada tanggal 21 AgustusPanglima TNI Laksamana Agus Suhartonomengatakan bahwa "TNI tak akan melakukannegosiasi dengan gerakan separatis, khususnyaOPM. Tak ada (negosiasi), dalam bentukapapun juga."Pernyataan itu tampaknyadimaksudkan <strong>untuk</strong> menentang pan<strong>dan</strong>gan<strong>yang</strong> lebih toleran dari anggota senior TNI<strong>yang</strong> menghadiri konferensi damai di bulanJuli. Hal itu juga menunjukkan bahwapendekatan <strong>yang</strong> toleran terhadap dialog olehtokoh agama <strong>Papua</strong> akan terus menghadapiperlawanan di tingkat tertinggi dalampemerintahan pusat. Jelas bahwa jalan menujudialog <strong>dan</strong> damai akan terus dihambat olehmiliter di Indonesia <strong>yang</strong> tak bermaksudmengakhiri konflik, diskriminasi <strong>dan</strong>pelanggaran HAM <strong>yang</strong> telah berlangsungpuluhan tahun di <strong>Papua</strong> Barat.Seruan berulang kali <strong>untuk</strong>berdialog tidak pernah ditanggapi olehpemerintah Indonesia sehingga mendorongmunculnya tuntutan <strong>untuk</strong> referendum. Padatanggal 2 Agustus, ketika pertemuanPengacara Internasional <strong>untuk</strong> <strong>Papua</strong> Barat(ILWP) di Inggris se<strong>dan</strong>g berjalan, berlangsungdemonstrasi oleh Komite Nasional <strong>Papua</strong>Barat (KNPB) di berbagai bagian <strong>Papua</strong> Barat.Pasukan keamanan Indonesia dengan senjatalengkap dikerahkan <strong>untuk</strong> menghadapidemonstrasi, <strong>yang</strong> mengungkapkanperlawanan terhadap kekuasaan Indonesia<strong>dan</strong> menyerukan dialog serta tuntutan agardiadakan referendum sebagai "satu-satunyasolusi jangka panjang <strong>dan</strong> dapat dipercaya<strong>untuk</strong> menentukan masa depan <strong>Papua</strong> bagiwarga <strong>Papua</strong>."Kebutuhan akan prakarsa politik<strong>yang</strong> mendesak atas <strong>Papua</strong> menjadi sorotansecara tragis ketika enam orang tewas dalampenyerbuan brutal terhadap Kongres Rakyat<strong>Papua</strong> Ketiga <strong>yang</strong> diadakan pada 17-19Oktober di Jayapura. Aparat keamananIndonesia bertindak dengan kekerasan ketikapemimpin masyarakat adat <strong>Papua</strong>, <strong>yang</strong>berkumpul <strong>untuk</strong> membicarakan hak-hakdasar mereka, mengeluarkan deklarasikemerdekaan. Hal ini membuat <strong>perjuangan</strong><strong>Papua</strong> akan semakin intensif <strong>dan</strong> menunjukkanperlunya dukungan internasional <strong>yang</strong> lebihbesar bagi resolusi damai atas konflik itu.Detail mengenai Konferensi Damai dapatdibaca dalam laporan singkat InternationalCrisis Group briefing, Indonesia: Hope andHard Reality in <strong>Papua</strong>,Asia Briefing N°126,Jakarta/Brussels, 22 Agustus 2011,http://www.crisisgroup.org/~/media/Files/asia/south-east-asia/indonesia/B126%20<strong>Papua</strong>%20-%20Hope%20and%20Hard%20Reality.pdf
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>Indonesia Ditegur Terkait MIFEEKomite Penghapusan Diskriminasi Rasial Persatuan Bangsa-bangsa telah menyurati pemerintah Indonesia gunamenyampaikan kekhawatiran mengenai berbagai dampak dari proyek Lumbung Pangan <strong>dan</strong> Energi TerpaduMerauke (MIFEE) terhadap masyarakat adat <strong>yang</strong> terkena dampak megaproyek agroindustri ini.MIFEE diluncurkan secara resmi lebih darisetahun <strong>yang</strong> lalu. 1 Semenjak itu, telahdilakukan beberapa investigasi mengenaibagaimana masyarakat lokal <strong>Papua</strong> <strong>yang</strong>berada di daerah sasaran tersebut bertahanhidup saat perusahaan-perusahaanberdatangan <strong>untuk</strong> membuka lahanperkebunan. Investigasi ini telah menemukanbukti bahwa hak-hak masyarakat lokaldiabaikan dalam 'perlombaan' <strong>untuk</strong>mengembangkan lahan tersebut.MIFEE, Tak Terjangkau Angan Malind,sebuah buku <strong>yang</strong> disusun oleh PUSAKA(Pusat Studi, Dokumentasi <strong>dan</strong> Advokasi<strong>untuk</strong> Hak-hak Masyarakat Adat), merupakanstudi paling mendalam <strong>yang</strong> pernahditerbitkan hingga hari ini, berdasarkankunjungan-kunjungan lapangan <strong>dan</strong>pertemuan dengan masyarakat. (Lihat jugaartikel terpisah tentang laporan hasil kerjaPUSAKA). Diterbitkan awal tahun 2011, bukutersebut mengungkap bagaimana orangkampung diperdaya hingga menjual <strong>tanah</strong>leluhur mereka <strong>dan</strong> mempertanyakan tentangarus masuk buruh migran, serta hilangnyahutan <strong>dan</strong> mata pencaharian, tentangmasyarakat adat Malind <strong>dan</strong> masyarakat adatlainnya.Pada bulan Juli <strong>dan</strong> Agustus tahun2011, sekelompok ornop menyampaikanserangkaian pengaduan kepada tiga lembagaPBB atas nama masyarakat adat <strong>yang</strong> terkenadampak MIFEE. Permohonan ini, ditujukankepada Komite Penghapusan DiskriminasiRasial (CERD), Pelapor Khusus KeamananPangan <strong>dan</strong> Komite Hak-hak Ekonomi, Sosial<strong>dan</strong> Budaya (CESCR), meminta agar MIFEEsegera ditangguhkan sampai hak-hak adattelah dijamin <strong>dan</strong> persetujuan merekaberdasarkan informasi awal tanpa paksaantelah diperoleh <strong>untuk</strong> setiap pembangunan<strong>yang</strong> berdampak terhadap <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> sumberdaya mereka. Di bawah ini adalah sebuah versiringkas dari surat <strong>yang</strong> dikirim kepada CERDtersebut.Tanggapan CERDPada bulan September 2011, Ketua CERD,Anwar Kemal, menulis surat kepada DutaBesar Indonesia di Jenewa <strong>untuk</strong>menyampaikan kekhawatiran mengenaiproyek tersebut, mengenai bagaimana proyektersebut menerima dukungan dari negara <strong>dan</strong>perlindungan dari tentara Indonesia <strong>dan</strong>mengenai tuduhan bahwa masyarakat telahdimanipulasi oleh para investor <strong>untuk</strong>memperoleh <strong>tanah</strong> mereka. Surat tersebutmerujuk kepada rekomendasi <strong>yang</strong> dibuattahun 2007, <strong>dan</strong> korespondensi sebelumnyaPengaduan kepada CERDBerikut adalah sebagian pengaduanPermohonan <strong>untuk</strong> Pertimbangan atas SituasiMasyarakat Adat di Merauke, Provinsi <strong>Papua</strong>,Indonesia, berdasarkan Prosedur TindakanSegera <strong>dan</strong> Peringatan Dini dari Komite PBB<strong>untuk</strong> Penghapusan Diskriminasi Rasial, KomitePBB <strong>untuk</strong> Penghapusan Diskriminasi Rasial,Si<strong>dan</strong>g ke-79, 8 Agustus - 2 September 2011.Pengaduan ditandatangani oleh AbetnegoTarigan dari Sawit Watch <strong>dan</strong> Fergus MacKaydari Forest Peoples Programme <strong>dan</strong>disampaikan oleh 13 Organisasi MasyarakatSipil (CSO), termasuk DTE.“Permohonan ini men<strong>yang</strong>kut situasimasyarakat adat Malind <strong>dan</strong> masyarakat adatlainnya dari Kabupaten Merauke, Provinsi<strong>Papua</strong>, di Republik Indonesia. Atas namamasyarakat adat Merauke, dengan segalahormat permohonan ini disampaikan <strong>untuk</strong>dipertimbangkan berdasarkan prosedurperingatan dini <strong>dan</strong> tindakan segera dariKomite Penghapusan Diskriminasi Rasial("Komite") oleh organisasi-organisasiIndonesia <strong>dan</strong> LSM internasional ("OrganisasiPemohon") seperti dijelaskan di atas.Masyarakat adat Malind <strong>dan</strong> masyarakat adatlainnya saat ini mengalami <strong>dan</strong> terancam olehkerusakan tambahan <strong>dan</strong> bersifat langsung<strong>yang</strong> tak terpulihkan akibat pengalihankepemilikan <strong>dan</strong> konversi <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> hutanleluhur mereka secara besar-besaran <strong>dan</strong>tanpa-mufakat oleh proyek Lumbung Pangan<strong>dan</strong> Energi Terpadu Merauke - MeraukeIntegrated Food and Energy Estate ("proyekMIFEE").Sebelum memberi penjelasansepenuhnya mengenai proyek MIFEE <strong>dan</strong>krisis <strong>yang</strong> dihadirkannya di bawah ini, perludicatat sebagai landasan penting bagipermohonan ini bahwa pada saat parapada tahun 2009, di mana CERD menguraikansecara singkat kekhawatiran mengenai situasimasyarakat adat di Indonesia (<strong>yang</strong> belumdibalas oleh pihak Indonesia). Surat bulanSeptember 2011 tersebut meminta informasitentang langkah-langkah <strong>yang</strong> diambilIndonesia <strong>untuk</strong> menangani rekomendasi <strong>dan</strong>kekhawatiran ini. 2 Surat itu meminta informasitentang langkah-langkah "<strong>untuk</strong> secara efektifmeminta persetujuan atas dasar informasiawal tanpa paksaan dari masyarakat Malind<strong>dan</strong> masyarakat adat lainnya di <strong>Papua</strong> sebelummelaksanakan proyek MIFEE" <strong>dan</strong>menanyakan apakah telah dilakukan penilaianmengenai dampak terhadap "kebiasaan <strong>dan</strong>8pemimpin <strong>dan</strong> wakil dari para komunitas adatdi Merauke telah membahas komunikasi ini,memberi komentar terhadap isinya, <strong>dan</strong>menyetujui penyerahannya atas nama merekadalam suatu pertemuan tentang MIFEE <strong>dan</strong>hak asasi manusia <strong>yang</strong> diselenggarakan diMerauke pada 22-25 Juli, para pemimpin <strong>dan</strong>wakil <strong>yang</strong> hadir tersebut memutuskan <strong>untuk</strong>tidak menandatangani dokumen ini atas namakomunitas dengan menyebutkan namakomunitas tertentu karena takut akantindakan balasan dari Pemerintah Indonesia.Hal ini didorong oleh fakta bahwa para wakildari kepolisian provinsi <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> intelijenmiliter nasional mengganggu <strong>dan</strong>mengintimidasi para pemimpin <strong>dan</strong> wakiltersebut selama pertemuan itu. Pada haripertama, sedikitnya 12 petugas kepolisian <strong>dan</strong>intelijen militer memasuki pertemuan tanpadiun<strong>dan</strong>g, menyatakan, dengan tanpa dasar<strong>dan</strong> tidak berhasil meyakinkan, bahwa aturantertentu terkait izin pertemuan ataukehadiran penasihat asing masyarakat adattidak dipenuhi, <strong>dan</strong> meminta penasihat hukumasing dari Forest Peoples Programmedikeluarkan. Selama satu setengah harimereka menolak mengizinkan penasihathukum itu <strong>untuk</strong> melaksanakan pelatihan hakasasi manusia sebagaimana direncanakan <strong>dan</strong>meminta salinan presentasinya sebelummemberi persetujuan. Lebih lanjut, pada haripertama pelatihan hak asasi manusia, seorangpetugas intelijen militer duduk di dekat pintupertemuan dengan mengamati seluruhaktivitas, <strong>dan</strong> memasuki ruangan beberapakali <strong>untuk</strong> mengambil foto dari seluruhpartisipan, fasilitator, penasihat asing <strong>dan</strong>bahkan penerjemah lokal. Petugas ini <strong>dan</strong><strong>yang</strong> lainnya terus menerus hadir selamapelatihan, kembali pada malam hari setelahpertemuan itu memasuki tahap tanya jawab,<strong>dan</strong> bahkan berkali-kali menempatkan mobil(bersambung ke halaman berikut)mata pencaharian tradisional masyarakatMalind <strong>dan</strong> masyarakat lainnya," serta"dampak transmigrasi terhadap kapasitasmereka <strong>untuk</strong> bertahan hidup sebagaikelompok minoritas". Akhirnya, Komitememinta dilakukan sebuah pertemuan <strong>untuk</strong>mendiskusikan isu-isu ini pada si<strong>dan</strong>gberikutnya di Jenewa dari 13 Februari sampai13 Maret 2012.1 Lihat http://www.downtoearthindonesia.org/story/journalist-s-deathovershadows-launch-papua-food-project2. Surat dari Anwar Kemal kepada Bapak DianTriansyah Djani, 2 September 2011.
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>(sambungan dari halaman sebelumnya)keamanan di depan pusat pelatihan tersebut.Dapat dimengerti, aktivitas-aktivitas ini -pelanggaran kebebasan berkumpul, berbicara<strong>dan</strong> mengeluarkan pikiran, belum lagi hak ataskebebasan dari ancaman fisik akibatmenghadiri pertemuan seperti itu -menyebabkan diambilnya keputusan agarhanya para Organisasi Pemohon <strong>yang</strong>mengajukan komunikasi peringatan dini/aksisegera ini atas nama mereka.Dalam konteks peristiwa baru-baruini seputar MIFEE <strong>dan</strong> pelatihan hak asasimanusia inilah Komite Anda dapat memahamidengan baik lingkungan di mana proyek MIFEEse<strong>dan</strong>g didukung oleh pemerintah <strong>dan</strong>dipaksakan terhadap masyarakat adatMerauke. Proyek MIFEE adalah sebuahmegaproyek agroindustri <strong>yang</strong> diprakarsaiNegara, <strong>yang</strong> dilaksanakan oleh berbagaientitas perusahaan <strong>yang</strong> hingga kini mencakupsekitar 2 juta hektare <strong>tanah</strong> adat tradisional.Kerusakan tak terpulihkan <strong>yang</strong> telah dialamioleh masyarakat adat <strong>yang</strong> terkenadampaknya akan semakin meluas <strong>dan</strong> semakinhebat dalam beberapa bulan mendatangdengan semakin banyaknya perusahaan <strong>yang</strong>mulai beroperasi. Patut dicatat bahwa tenagakerja <strong>yang</strong> dibutuhkan akan dibawa masuk dariwilayah luar. Sementara itu, orang <strong>Papua</strong> aslihanya akan dipekerjakan sebagai pekerja kasaratau tidak diberi pekerjaan sama sekali. Selainitu, diperkirakan bahwa antara 2-4 jutapekerja akan didatangkan ke Merauke -sebuah proses <strong>yang</strong> telah dimulai - <strong>untuk</strong>menyediakan tenaga kerja <strong>untuk</strong> proyekMIFEE, <strong>yang</strong> selanjutnya mengancam hak-hak<strong>dan</strong> kesejahteraan masyarakat adat Malind<strong>yang</strong> berjumlah sekitar 52.000 jiwa. Menurutsensus 2010, jumlah penduduk Meraukeadalah sekitar 173.000. Jumlah penduduk asliMerauke adalah sekitar 73.000 orang.Proyek MIFEE telah berdampak <strong>dan</strong>akan terus berdampak terhadap rangkaianhak-hak <strong>yang</strong> saling bergantung satu sama lainsehingga sangat merugikan masyarakat adat.Dalam hal ini, Pelapor Khusus PBB tentanghak atas pangan, Dr Olivier De Schutter, telahmenekankan berbagai ancaman terhadap hakasasi manusia <strong>yang</strong> ditimbulkan oleh"pengambilalihan <strong>dan</strong> sewa <strong>tanah</strong>, <strong>yang</strong> lebihsering disebut sebagai 'perampasan <strong>tanah</strong>'"berskala besar, sama seperti proyek <strong>yang</strong>digagas di bawah proyek MIFEE. Beliaumenyatakan bahwa masyarakat adat secarakhusus sangat rentan <strong>dan</strong> sering mengalamikerusakan tak terpulihkan dalam konteks ini,<strong>dan</strong> menekankan perlunya penghormatanpenuh terhadap hak-hak mereka, khususnyaseperti ditegaskan dalam Deklarasi PBB 2007tentang Hak Masyarakat Adat. Patut dicatatbahwa ada beberapa contoh nyata lainnya<strong>yang</strong> telah terjadi di berbagai tempat lain.Mengutip Komite Hak AsasiManusia, Pelapor Khusus hak atas panganmenjelaskan bahwa "tidak ada <strong>tanah</strong> siapapun,termasuk khususnya masyarakat adat, <strong>yang</strong>dapat diubah penggunaannya tanpa konsultasisebelumnya." Beliau kemudianmerekomendasikan bahwa "setiap pengalihandalam penggunaan lahan hanya dapatberlangsung dengan persetujuan atas dasarinformasi awal <strong>dan</strong> tanpa paksaan darimasyarakat setempat <strong>yang</strong> bersangkutan. Halini sangat penting bagi masyarakat adat,mengingat sejarah diskriminasi <strong>dan</strong>peminggiran <strong>yang</strong> telah mereka alami."Rekomendasi Pelapor Khusus selaras denganDeklarasi PBB tentang Hak-hak MasyarakatAdat <strong>dan</strong> dengan yurisprudensi Komite.Komite, misalnya, merekomendasikan agarnegara peserta Konvensi Internasionaltentang Penghapusan Diskriminasi Rasial("ICERD"), antara lain, sungguh-sungguhmengakui, menjamin <strong>dan</strong> melindungi hak-hakPenghidupan Masyarakat Adat <strong>yang</strong> Terancam:jaring ikan se<strong>dan</strong>g dijemur di sebuah desa diMerauke. (Photo: Adriana Sri Adhiati)masyarakat adat <strong>untuk</strong> memiliki <strong>dan</strong>menguasai <strong>tanah</strong>, wilayah <strong>dan</strong> sumber dayatradisional mereka, <strong>dan</strong> menyoroti hak-hakmasyarakat adat <strong>untuk</strong> memberikan atautidak memberikan persetujuan mereka atasdasar informasi awal setiap kali pertimbangandiberikan terhadap langkah-langkah <strong>yang</strong>dapat mempengaruhi hak-hak mereka.Rekomendasi Pelapor Khusus juga selarasdengan rekomendasi Komite tahun 2007 <strong>dan</strong>tahun 2009 kepada Indonesia...Meskipun begitu, denganmengabaikan rekomendasi gamblang dariKomite, Indonesia terus mengupayakanekspansi besar-besaran kegiatan agroindustri<strong>dan</strong> ekstraktif di <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> di tempat lain:proyek MIFEE di Merauke adalah simbolbagaimana perluasan agroindustri di Indonesiase<strong>dan</strong>g terjadi dengan mengorbankan hak-hakmasyarakat adat. Ekspansi ini melibatkanperambahan besar-besaran <strong>dan</strong> pengalihankepemilikan <strong>tanah</strong> masyarakat adat <strong>untuk</strong>mendukung kelapa sawit, pembalakan <strong>dan</strong>9perusahaan lain <strong>dan</strong> membanjirnya pekerjadari luar, <strong>yang</strong> jumlahnya akan mengerdilkanjumlah penduduk asli <strong>yang</strong> ada sekarang. Halini mewariskan masyarakat <strong>yang</strong> terkenadampak dengan masa depan <strong>yang</strong> sangatberbahaya, pilihan sumber penghidupan <strong>yang</strong>sangat jauh berkurang <strong>dan</strong> kehancuranekonomi tradisional mereka, mengingatperkebunan adalah tanaman tunggal <strong>yang</strong>membutuhkan pembukaan hutan <strong>dan</strong>ekosistem lainnya di mana masyarakat adatmenggantungkan kehidupan mereka. Ini jugamenyebabkan dampak buruk terhadappelaksanaan hak-hak budaya, spiritual <strong>dan</strong> lainlainnya,<strong>yang</strong> semuanya saling terkait satusama lain dengan, <strong>dan</strong> tergantung pada,jaminan penguasaan <strong>tanah</strong>, wilayah <strong>dan</strong>sumber daya tradisional mereka...Masyarakat Malind <strong>dan</strong>Masyarakat Adat Lainnya<strong>yang</strong> Terdampak oleh MIFEEProyek MIFEE akan berdampak padamasyarakat Malind <strong>yang</strong> berjumlah sekitar50.000 jiwa, <strong>dan</strong> masyarakat adat lainnya(Muyu, Mandobo, Mappi, <strong>dan</strong> Auyu) diKabupaten Merauke. Sebagian besar darimereka tinggal di daerah hulu sungai <strong>dan</strong> tidakmenetap di lokasi desa atau la<strong>dan</strong>g <strong>yang</strong>permanen, melainkan menempati serangkaianpondok di dalam hutan, <strong>yang</strong> mereka gunakansecara teratur. Masyarakat adat Malind hidupdengan mengumpulkan sagu, berburu <strong>dan</strong>mencari ikan, <strong>dan</strong> sangat tergantung padakesehatan ekosistem hutan mereka <strong>untuk</strong>kebutuhan dasar <strong>dan</strong> ekonomi tradisionalmereka. Mereka dibagi menjadi enam klan<strong>yang</strong> memiliki <strong>tanah</strong> berdasarkan hukum adat<strong>dan</strong> sistem kepemilikan. <strong>Tanah</strong> merekamengandung nilai sakral karena a<strong>dan</strong>yaidentifikasi berbagai tempat dengan rohleluhur <strong>dan</strong> kerabat.Masyarakat adat Malind <strong>dan</strong>masyarakat adat lainnya serta para tokoh adattelah menyatakan keprihatinan serius tentangproyek MIFEE berkaitan dengan berbagaidampak buruk saat ini <strong>dan</strong> di masamendatang. Mereka juga mengeluh tentangmanipulasi masyarakat oleh investor <strong>dan</strong>oknum pejabat Negara <strong>yang</strong> berusahamendapatkan tanda tangan masyarakat <strong>untuk</strong>memenuhi persyaratan hukum <strong>yang</strong> terkait<strong>untuk</strong> menunjukkan surat bukti kepemilikan<strong>yang</strong> jelas terhadap <strong>tanah</strong> adat. Keprihatinanini telah disuarakan oleh Serikat PetaniIndonesia, <strong>yang</strong> mengutuk proyek MIFEE, olehAMAN, organisasi masyarakat adat nasional diIndonesia, <strong>dan</strong> oleh pihak-pihak lainnya,termasuk mantan Menteri PertanianIndonesia. Pernyataan AMAN dalam si<strong>dan</strong>gke-9 Forum Permanen PBB mengenaiMasalah-masalah Adat menjelaskan tingkatkegawatan situasi tersebut <strong>dan</strong> menyebutproyek tersebut "tak dapat diterima."Pernyataan AMAN menyoroti ancamanterhadap masyarakat adat <strong>yang</strong> ditimbulkanoleh proyek MIFEE <strong>dan</strong> menyatakan bahwakebijakan pengalihan kepemilikan <strong>tanah</strong> saat
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>ini <strong>yang</strong> mendukung perusahaan "hanya akanmemperburuk situasi hak asasi manusia,menyebabkan penggusuran-penggusuranpaksa <strong>dan</strong> pelanggaran-pelanggaran hak asasimanusia lainnya;" <strong>dan</strong> bahwa proyek itu akanberdampak besar pada mata pencaharian [darimasyarakat adat] dengan mengubahekosistem <strong>dan</strong> mengancam kedaulatan panganmasyarakat adat." Mengutip pengaruh budaya<strong>dan</strong> pengaruh lainnya dari pergerakanpopulasi <strong>yang</strong> sejenis secara besar-besaran<strong>yang</strong> akan dibutuhkan <strong>untuk</strong> menyediakantenaga kerja <strong>untuk</strong> proyek MIFEE, AMANmenyimpulkan bahwa proyek tersebut akan"mengancam secara serius keberadaanMasyarakat Adat di dalam wilayah ini,mengubah mereka menjadi minoritas dari segijumlah penduduk, bahkan menyebabkankepunahan di masa depan. Hal ini,sebagaimana kita dapat katakan, adalahgenosida (pembasmian suku bangsa) secaraterstruktur <strong>dan</strong> sistematis...Proyek MIFEE <strong>dan</strong> AncamanKerusakan Tak Terpulihkanbagi Masyarakat AdatPada 11 Agustus 2010 Menteri PertanianSuswono meresmikan Peluncuran AkbarLumbung Pangan <strong>dan</strong> Energi Terpadu Merauke(MIFEE) melalui sebuah upacara <strong>yang</strong> diadakandi desa Serapu, kecamatan Semangga. Takseorang pun di desa ini tahu apa <strong>yang</strong>sebenarnya se<strong>dan</strong>g terjadi. Mereka barumenyadarinya beberapa minggu kemudian,ketika buldoser mulai menghancurkan hutansagu mereka, bahwa ternyata itu adalahupacara perampasan <strong>tanah</strong> mereka.Proyek MIFEE ini dirancang <strong>untuk</strong>menghasilkan tanaman pangan, minyak sawit,produk kayu <strong>dan</strong> bahan bakar nabati, terutama<strong>untuk</strong> ekspor. Keseluruhan wilayah <strong>yang</strong>dicakup oleh proyek ini digugat olehmasyarakat adat Merauke. Rencanapemerintah menjelaskan bahwa wilayah <strong>yang</strong>ditargetkan secara total <strong>untuk</strong> proyektersebut saat ini adalah 1.282.833 hektare(423.251,3 hektare selama periode 2010-2014; 632.504,8 hektare tahun 2015-2019,<strong>dan</strong> 227.076,9 hektare pada tahun 2020-2030). Namun, menurut Ba<strong>dan</strong> PromosiInvestasi Daerah, 36 perusahaan telahmemperoleh izin atas lebih dari 2 juta hektareper Mei 2011. Perkebunan <strong>yang</strong> direncanakanadalah kelapa sawit, jagung, padi <strong>dan</strong>perkebunan kayu. Kepemilikan lahan palingbesar mencapai lebih dari 300.000 hektare.Contohnya, sebuah perusahaan Indonesia<strong>yang</strong> dikenal sebagai Medco Group telahmemperoleh izin seluas 360.000 hektare <strong>yang</strong>memungkinkannya menebang 60% hutan didalamnya. Nyaris seluruh hutan darimasyarakat adat Zanegi - <strong>yang</strong> berlokasi didalam daerah konsesi ini - telah ditebang.Anggota masyarakat tersebut tidak lagimemiliki akses fisik terhadap binatang <strong>yang</strong>biasa mereka buru <strong>dan</strong> pangan <strong>yang</strong> biasamereka kumpulkan di hutan tradisionalmereka, karena hutan itu sudah tidak ada lagi.Saat ini, tujuh dari izin-izin ini sudahberoperasi, mencakup wilayah seluas 760.000hektare....Sekitar 96 persen dari wilayah inidigolongkan sebagai 'hutan' oleh Negaraterlepas dari fakta bahwa masyarakat Malind<strong>dan</strong> masyarakat adat lainnya (Muyu, Mandobo,Mappi <strong>dan</strong> Auyu) menggugat keseluruhan dariwilayah ini sebagai <strong>tanah</strong> tradisional mereka,daerah tempat mereka memperoleh sumberpenghidupan mereka serta menjadi dasar<strong>untuk</strong> identitas, budaya <strong>yang</strong> unik <strong>dan</strong>kehidupan spiritual mereka.Dalam rangka memperoleh konsesi<strong>dan</strong> izin <strong>untuk</strong> membangun <strong>dan</strong>mengoperasikan sebuah perusahaanperkebunan kelapa sawit <strong>dan</strong> bentuk-bentuklain dari konsesi, hukum <strong>yang</strong> berlakumewajibkan perusahaan pemohonmenunjukkan bahwa tidak ada hak pihakketiga di daerah <strong>yang</strong> dimaksud. Hal <strong>yang</strong> samajuga berlaku <strong>untuk</strong> proyek MIFEE. Untukperorangan <strong>yang</strong> memiliki hak kepemilikan<strong>yang</strong> diterbitkan oleh Negara, hukummewajibkan penyelesaian berdasarkan standarpenggusuran <strong>dan</strong> prosedur kompensasi.Dalam kasus masyarakat adat <strong>yang</strong>,berdasarkan hukum Indonesia, tinggal di <strong>tanah</strong>negara <strong>yang</strong> tunduk pada hak ulayat <strong>yang</strong>lemah <strong>dan</strong> umumnya tidak dapat ditegakkan,perusahaan diharuskan mendapatkan surat<strong>yang</strong> ditandatangani masyarakat <strong>yang</strong>menunjukkan bahwa masyarakat adattersebut telah melepaskan semua kepentingandi lahan <strong>yang</strong> dimaksud. Ini bukanlahpengakuan bahwa masyarakat adat memilikihak properti <strong>yang</strong> telah dilindungi, melainkansebuah persyaratan administrasi <strong>yang</strong> berlakubagi perusahaan sebagai bagian dari upayamenunjukkan jaminan hak kepemilikan. Ketikasuatu konsesi atau izin diterbitkan <strong>untuk</strong>perusahaan, hal itu selalu merupakan suatusewa <strong>yang</strong> terkait dengan Negara <strong>dan</strong>sebaliknya masyarakat adat tidak dilibatkan.Dalam proyek MIFEE, hal tersebutdi atas telah menimbulkan praktek-praktekpemaksaan <strong>dan</strong> manipulatif <strong>untuk</strong>memperoleh tanda tangan. Sebuah kajianbaru-baru ini menyimpulkan bahwa"masyarakat <strong>Papua</strong> asli <strong>yang</strong> tidak siap se<strong>dan</strong>gdibujuk, ditipu <strong>dan</strong> ka<strong>dan</strong>g-ka<strong>dan</strong>g dipaksa<strong>untuk</strong> melepaskan sebagian besar wilayahhutan <strong>untuk</strong> konglomerat <strong>yang</strong> kuat, <strong>yang</strong>didukung oleh investor luar negeri <strong>dan</strong>difasilitasi oleh pemerintah pusat <strong>dan</strong>provinsi."Kajian <strong>yang</strong> sama lebih lanjutmenjelaskan bahwa, "Bukti menunjukkanbahwa negosiasi-negosiasi antara pemilik<strong>tanah</strong> adat <strong>dan</strong> perusahaan perkebunan tidaksetara <strong>dan</strong> eksploitatif. Manfaat <strong>yang</strong>dijanjikan, seperti sekolah, listrik <strong>dan</strong>perumahan jarang dipenuhi. Pembayaran gantirugi <strong>untuk</strong> <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> kayu tidak cukup. Anakanakumur empat tahun diwajibkanmenandatangani kontrak sehingga perusahaandapat memastikan hal itu mengikat lahantersebut hingga puluhan tahun mendatang.Dengan cara ini, <strong>tanah</strong> masyarakatadat Malind <strong>dan</strong> <strong>tanah</strong> lainnya se<strong>dan</strong>g10dipindahtangankan, menjadi sasaran sewajangka panjang antara Negara <strong>dan</strong>perusahaan-perusahaan swasta, <strong>dan</strong> dicerabutdari hutan mereka demi perkebunan tanamantunggal <strong>dan</strong> kegiatan industri ekstraktifdengan skala besar-besaran.Cakupan penuh dari dampak jangkapanjang pada masyarakat Malind <strong>dan</strong>masyarakat adat lainnya <strong>yang</strong> terkena dampakoleh proyek MIFEE sulit <strong>untuk</strong> diperkirakandengan pasti. Meskipun begitu, dampak jangkapendeknya dalam banyak kasus masih ada,merupakan kerusakan tak terpulihkan, <strong>dan</strong>memberikan dasar <strong>yang</strong> cukup <strong>untuk</strong>memperkirakan berbagai dampak menengah<strong>dan</strong> jangka panjang. Seiring dengan semakinmeluasnya proyek MIFEE dalam beberapabulan <strong>dan</strong> tahun mendatang kerusakan takterpulihkan ini akan semakin hebat <strong>dan</strong>meningkat semakin cepat. Hal ini hampir pastiakan mengarah pada kehancuran masyarakatadat Malind <strong>dan</strong> masyarakat adat lainnyasebagai entitas budaya <strong>dan</strong> wilayah <strong>yang</strong>berbeda <strong>dan</strong>, dalam proses ini, menyebabkanprasangka ekstrem atas pelaksanaan <strong>dan</strong>pemenuhan hak-hak individu <strong>dan</strong> kolektif darihak asasi manusia mereka....Beberapa dampak negatif <strong>dan</strong>parah <strong>yang</strong> tampak sekarang antara lain:pemaksaan <strong>dan</strong> manipulasi; konflik <strong>dan</strong>kekerasan antar-etnis <strong>yang</strong> meningkat, <strong>dan</strong>transformasi hutan di mana masyarakat adatMalind <strong>dan</strong> masyarakat adat lainnyamemperoleh hampir semua makanan merekamenjadi perkebunan tanaman tunggal <strong>yang</strong>tidak ada sumber makanan tradisional. Hewanburuan <strong>yang</strong> menyediakan sumber utamaprotein sudah mulai berkurang <strong>dan</strong> akanmenghilang dari daerah itu. Sebagian besartempat keramat masyarakat adat berada dihutan, beberapa tempat ini sudah hancur atauaksesnya sangat terbatas, <strong>dan</strong> ini akanmeningkat seiring dengan <strong>berlanjut</strong>nyapembukaan lahan. Hak milik <strong>dan</strong> hak-hak laindari masyarakat adat <strong>yang</strong> dijamin secarainternasional benar-benar diabaikan dalamproses ini <strong>dan</strong> hak-hak tersebut pada dasarnyadihilangkan. Dengan demikian, proyek MIFEEsudah mulai melemahkan ekonomi tradisionalmasyarakat adat <strong>dan</strong> jati diri serta keutuhanmereka, sebuah proses <strong>yang</strong> akan semakinhebat <strong>dan</strong> meluas seiring dengan semakinbanyaknya perusahaan mulai beroperasi. •Pengaduan selengkapnya kepada CERD(termasuk catatan kaki) dalam BahasaIndonesia ada di website DTE dihttp://www.downtoearth-indonesia.org/id/story/indonesia-ditegur-terkait-mifee.Pengaduan ini <strong>dan</strong> pengaduan lainnya dalamBahasa Inggris ada website FPP:http://www.forestpeoples.org/topics/un-human-rights-system/news/2011/08/requestconsideration-situation-indigenous-peoplesmerauk.
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>PUSAKA di <strong>Tanah</strong> <strong>Papua</strong>Franky Samperante, Direktur PUSAKAFokus <strong>dan</strong> minat perhatian dari programPUSAKA adalah mendukung gerakanmasyarakat adat di Indonesia. Kebanyakanmasyarakat adat berdiam <strong>dan</strong> hidup di sekitarkawasan hutan <strong>dan</strong> pesisir pantai. Merekamenjadi sasaran proyek-proyek sosial <strong>dan</strong>kemiskinan. Kekayaan alam <strong>dan</strong> <strong>tanah</strong> merekadirampas <strong>dan</strong> dieskploitasi <strong>untuk</strong> <strong>dan</strong> atasnama pembangunan. Masyarakat adat telahmengalami ketidakadilan, kekerasan,kriminalisasi, diskriminasi <strong>dan</strong> marginalisasidalam mempertahankan hak-haknya.Semenjak tahun 2009, PUSAKAbekerja di dua daerah <strong>yang</strong> mempunyai statusdaerah otonomi khusus (Otsus), yakni: Aceh<strong>dan</strong> <strong>Papua</strong>. Dalam sejarah politik Indonesia,dua daerah <strong>yang</strong> memiliki kekayaan alam iniseringkali terlibat konflik dengan pemerintah<strong>yang</strong> berkuasa, utamanya pada erapemerintahan Orde Baru. Operasi <strong>dan</strong>pendekatan militer terjadi bertahun-tahunterkesan 'sah', dilakukan <strong>untuk</strong> mengamankankepentingan pemodal maupun atas namamenumpas gerakan separatisme. Puluhan ribukorban tewas di kedua tempat. Masyarakattrauma <strong>dan</strong> kecewa atas ketidakadilan,kekerasan, kemiskinan <strong>dan</strong> peminggiran <strong>yang</strong>mereka alami.Meskipun sudah menyan<strong>dan</strong>g statusdaerah Otsus, tidak serta merta konflikmenjadi surut. Perubahan sosial terjadi <strong>dan</strong>kesejahteraan masyarakat mengalamipeningkatan berarti. Desentralisasikewenangan diikuti dengan perpindahanpermasalahan dari pemerintah pusat kedaerah.Di Aceh, misalnya, pemerintahdaerah menerbitkan ijin lokasi <strong>untuk</strong>perkebunan sawit kepada perusahaan PT. FajarBajuri <strong>dan</strong> PT. Inti Makmur Sawita padakawasan hutan di kampung-kampung <strong>yang</strong> adadi Mukim Lhok Kruet, Panga, Krueng Beukah<strong>dan</strong> Teunom, Aceh Jaya. Tidak ada prosesperundingan <strong>dan</strong> pengambilan kesepakatan. DiMukim Lamloeut, Aceh Besar, perusahaantambang biji besi PT.Tambang Indrapuri Raya,<strong>yang</strong> dioperatori oleh mantan 'kombatan'GAM, menambang di kawasan hutan <strong>yang</strong>telah ditetapkan pemerintah Aceh sebagaikawasan strategis <strong>untuk</strong> proyek REDD+(Pengurangan Emisi dari Deforestasi <strong>dan</strong>Degradasi Hutan).PUSAKA bekerjasama dengan YRBI(Yayasan Rumpun Bambu Indonesia) <strong>dan</strong>MDPM (Majelis Due Pakat Mukim) AcehBesar mengorganisasikan <strong>dan</strong> membicarakandengan masyarakat <strong>dan</strong> pimpinan ImeumMukim 1 tentang permasalahan <strong>dan</strong> hak-hakmereka, merumuskan upaya <strong>yang</strong> dilakukanPUSAKA"PUSAKA" terkesan kuno. Sebutan inidipilih tanpa sengaja oleh pendiriyayasan, sebagai kependekan dari PusatStudi Pendokumentasian <strong>dan</strong> AdvokasiHak-hak Masyarakat Adat. Banyakyayasan <strong>dan</strong> organisasi di Indonesiamenggunakan nama 'PUSAKA'.Website PUSAKA:http://pusaka.or.id/topik/media/publikasi/bukudalam memulihkan <strong>dan</strong> menguatkan hak-hakatas <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> otoritas Imeum Mukim.Rendahnya komitmen pengakuan <strong>dan</strong>perlindungan pemerintah terhadap hak-hakmasyarakat atas <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> kekayaan alam,membuat masyarakat khawatir kehilanganhak-hak mereka. Reaksi mereka bersikappasrah saja, atau sebaliknya, melawan. Hal inimenjadi tantangan sendiri dalam kerjapengorganisasian <strong>yang</strong> lebih sistematis diAceh.FPIC atau Padiatapa 2Pada bulan September 2007, diumumkanDeklarasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)tentang hak-hak masyarakat adat (UNDRIP).Ketentuan tentang hak FPIC (Free Prior andInformed Consent) atau Padiatapa dalamUNDRIP <strong>yang</strong> menyebutkan bahwamasyarakat adat mempunyai hak menentukansikap dalam setiap kebijakan <strong>dan</strong> proyekpembangunan, telah mengun<strong>dan</strong>g banyakperhatian <strong>dan</strong> memberikan 'amunisi' kekuatanbagi gerakan masyarakat adat <strong>dan</strong> orangkampung. Pekerjaan advokasi <strong>dan</strong> peningkatankapasitas berhubungan dengan prinsip <strong>dan</strong>hak FPIC maupun penerapannya, telahmengantar PUSAKA keliling ke beberapadaerah di <strong>Tanah</strong> <strong>Papua</strong>.Dalam konteks dinamika sosialpolitik <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> status daerah otonomikhusus, mestinya pengakuan <strong>dan</strong> penerapanprinsip <strong>dan</strong> hak FPIC dalam pembangunan di<strong>Papua</strong> merupakan sebuah tindakan penegasan<strong>untuk</strong> memenuhi rasa keadilan <strong>dan</strong>penghormatan terhadap orang asli <strong>Papua</strong>.PUSAKA bekerjasama dengan mitra JASOIL(Jaringan Sosial <strong>dan</strong> Lingkungan) diManokwari, <strong>Papua</strong> Barat, mengadakanpertemuan-pertemuan di kampung <strong>dan</strong>pelatihan-pelatihan <strong>yang</strong> berhubungan denganFPIC. Kegiatan tersebut dilakukan bersamakomunitas suku Arfak di Prafi <strong>dan</strong> Sidey, sukuMpur di pedalaman Mubrani <strong>dan</strong> Kebar,berdialog dengan pemerintah daerah <strong>dan</strong>instansi teknis <strong>yang</strong> berhubungan dengan isupengakuan hak atas <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> hutan. Kegiatanserupa juga dilakukan bersama komunitas dibeberapa kampung di Waropen, Mamberamo,Mimika <strong>dan</strong> Merauke.Praktik 'tipu-tipu'Komunitas-komunitas tersebut pernah <strong>dan</strong>se<strong>dan</strong>g mengalami konflik karena pemerintahsecara diam-diam tanpa persetujuanmasyarakat menetapkan <strong>dan</strong> memberikan<strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> hutan adat mereka kepadaperusahaan <strong>untuk</strong> dijadikan kawasanperkebunan, pembalakan kayu <strong>dan</strong> hutantanaman industri, proyek REDD <strong>dan</strong> programtransmigrasi. Proyek-proyek inimengakibatkan perubahan tatananpenguasaan <strong>dan</strong> per<strong>untuk</strong>an lahan <strong>dan</strong> hutan,<strong>yang</strong> sangat mempengaruhi <strong>dan</strong> memaksaperubahan corak produksi <strong>dan</strong> konsumsimasyarakat <strong>Papua</strong>. Orang <strong>Papua</strong> sangattergantung pada <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> hutan dengansistem pengelolaan tradisional <strong>yang</strong>mengandalkan tenaga keluarga. Proyek REDD<strong>yang</strong> dikelola sebagaimana programkonservasi akan berisiko membatasi aksesmasyarakat <strong>untuk</strong> memanfaatkan hasil hutan.Frans Muktis <strong>dan</strong> anggota marganya tidakmengetahui kalau <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> kawasan hutanmilik mereka di Sidey menjadi lokasiperkebunan sawit milik anak perusahaan PT.Medco Grup. Mereka tidak pernahmendapatkan informasi tentang manfaat <strong>dan</strong>dampak proyek, nasib hak mereka atas <strong>tanah</strong>,mata pencaharian mereka <strong>yang</strong> sangattergantung pada hutan. Mereka hanya diimingimingiuang <strong>dan</strong> fasilitas. Tidak ada kejelasandampak <strong>dan</strong> risiko proyek. Masyarakat pasrahmenerima uang ganti rugi <strong>tanah</strong> sebesar11
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>Rp.50,- per meter persegi. Mereka menyesaliapa <strong>yang</strong> terjadi <strong>dan</strong> kini tinggal di <strong>tanah</strong> 'oranglain'.Hal <strong>yang</strong> serupa dialami olehkomunitas Malind Anim di Merauke. Anakperusahaan Medco Grup, PT. Selaras IntiSemesta, <strong>yang</strong> mendapatkan ijin hutantanaman, telah melakukan penebangan dihutan adat marga di Kampung Zenegi.Masyarakat mendapat ganti rugi atas kayu <strong>yang</strong>diambil dengan harga jauh di bawah hargapasar, yaitu Rp2.000 per meter kubik.Suara <strong>dan</strong> tuntutan merekadimanipulasi <strong>dan</strong> jarang sampai kepadapengambil kebijakan, perusahaan <strong>dan</strong> pejabatsetempat. Suara mereka diwakili oleh elitelokal di tingkat distrik <strong>dan</strong> di kampung. Paraelite tersebut aktif mewakili <strong>dan</strong> menyuarakankepentingan masyarakat korban, meskipunseringkali kepentingan mereka hanya bersifatjangka pendek <strong>dan</strong> penuh siasat <strong>untuk</strong>mendapatkan keuntungan pribadi. Ada empatorganisasi di <strong>Papua</strong> <strong>yang</strong> berhubungan denganmasyarakat <strong>Papua</strong> yaitu Dewan Adat <strong>Papua</strong>(DAP), Lembaga Masyarakat Adat (LMA),Ketua Adat <strong>dan</strong> Kepala Marga. Namunmenurut aturan adat setempat, hanya margapemilik lahan <strong>yang</strong> paling berhak memutuskanpengalihan hak <strong>dan</strong> penggunaan <strong>tanah</strong>.Membuka ruang dialogPUSAKA memilih strategi membangun <strong>dan</strong>mendorong gerakan masyarakat dari kampungmasuk ke kota pusat kekuasaan <strong>dan</strong> membukaruang dialog. Memang bukan perkara gampang,orang kampung diperhadapkan denganpengambil kebijakan, di tengah-tengah situasikrisis politik di mana hubungan masyarakatdengan pemerintah buruk. Masyarakat sudahsering jadi korban 'tipu-tipu'. Mereka traumadengan ancaman <strong>dan</strong> kekerasan aparat.Mereka juga kerap direndahkan karenapemahaman hukum <strong>yang</strong> terbatas. Karenanya,perlu persiapan, pengetahuan <strong>dan</strong> kapasitas,<strong>yang</strong> bisa dilakukan melalui pertemuanpertemuan,belajar dari pengalaman <strong>dan</strong>membuat aksi kecil menyuarakan persoalan<strong>dan</strong> hak-hak masyarakat. Solidaritas <strong>dan</strong>dukungan antara kelompok, antara kampung,<strong>dan</strong> antara daerah perlu dibangun.Demianus Blamen adalah salah satupemimpin marga Blamen, di Kampung Nakias,Distrik Ngguti, <strong>yang</strong> jaraknya lebih dari 100kilometer dari Kota Merauke. Demianus tidakbanyak mengetahui situasi di luar kampung,apalagi kebijakan <strong>dan</strong> hak-hak masyarakat.Hanya ada aturan adat <strong>dan</strong> hak-hak moral<strong>yang</strong> mengatur hubungan di antara mereka.Mereka tidak mengetahui prinsip <strong>dan</strong> hakFPIC. Kehadiran perusahaan perkebunan sawitPT. Dongin Prabawa <strong>yang</strong> menggusur <strong>dan</strong>menghilangkan ribuan hektare kawasan hutanadat mereka, memaksa Demianus <strong>dan</strong> wargasetempat <strong>untuk</strong> mendapatkan pengetahuantentang FPIC, agar hak-hak FPIC merekadipenuhi, tanpa mengabaikan kekuatan <strong>dan</strong>Buku PUSAKA tersedia di website PUSAKA.Lihat http://pusaka.or.id/topik/media/publikasi/bukupengetahuan adat <strong>yang</strong> mereka miliki.Menariknya, dalam kontekskebijakan pembangunan ekonomi rendahkarbon di Provinsi <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> <strong>Papua</strong> Barat,prinsip FPIC diterima sebagai salah satuprasyarat proyek REDD di <strong>Papua</strong>. Apakah inihasil tekanan dari atas <strong>dan</strong> mandat darikesepakatan perundingan international?Ataukah ini hanya langkah oportunistis belaka,sebagai upaya memenuhi syarat mendapatkanakses relasi <strong>dan</strong> pen<strong>dan</strong>aan proyek?Tantangan hari ini adalah bagaimanamengupayakan agar teks produk politikhukum seperti Un<strong>dan</strong>g-Un<strong>dan</strong>g OtonomiKhusus <strong>Papua</strong> dapat diterapkan <strong>untuk</strong>melindungi <strong>dan</strong> memberdayakan hak-hakdasar orang asli <strong>Papua</strong>. Juga perlu dibuatrambu-rambu <strong>dan</strong> program aksi <strong>yang</strong> lebihjelas, tegas <strong>dan</strong> detail, serta dipahami olehpetugas penyelenggara kebijakan tersebut.Catatan:1 Imeum Mukim adalah kepala atau pimpinanmukim, unit pemerintahan antara gampong<strong>dan</strong> kecamatan menurut hukum adat Aceh.Sebuah mukim biasanya terdiri dari beberapagampong2. Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal TanpaPaksaan12
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>Fenomena global perampasan <strong>tanah</strong>Laporan di bawah ini, ditulis oleh periset independen Anna Bolin, 1 mengupas tren global <strong>dan</strong> pengaruhnya di balikmega proyek pertanian seperti proyek lumbung pangan <strong>dan</strong> energi terpadu Merauke (MIFEE) di <strong>Papua</strong>.Berita tentang fenomena perampasan <strong>tanah</strong>(land-grab) muncul dari seluruh dunia.Perampasan <strong>tanah</strong> dapat digambarkan sebagaisuatu proses di mana kepemilikan <strong>tanah</strong> <strong>yang</strong>dianggap “kosong”, “tidur” atau “tidakproduktif” berpindah tangan dengan transaksi<strong>yang</strong> menggiurkan, <strong>untuk</strong> dikembangkanmenjadi perkebunan skala besar <strong>untuk</strong>menghasilkan pangan atau agrofuel, ataukeduanya. Jumlah kesepakatan <strong>dan</strong> luaskawasan <strong>yang</strong> tercakup meningkat pesat.Berbagai kajian menunjukkan bahwa dalambeberapa tahun terakhir ini antara 20-80 jutahektare <strong>tanah</strong> 2 telah “dirampas”, meskipunsulit dipastikan karena sebagian besarkesepakatan itu dibuat dengan diam-diam.Afrika tampaknya merupakan target utamabagi investasi skala besar ini, walaupun jugabanyak laporan masuk dari seluruh penjurunegara berkembang.Pendukung perampasan <strong>tanah</strong>mengatakan bahwa <strong>yang</strong> mereka lakukanadalah investasi <strong>yang</strong> sangat diperlukan disektor pertanian. Meskipun jelas bahwainvestasi diperlukan di daerah pedesaan <strong>dan</strong>pertanian, pertanyaannya adalah apakahtransaksi <strong>tanah</strong> skala besar seperti ini akanmenghasilkan jenis pembangunan <strong>yang</strong>kemungkinan besar akan bermanfaat bagimasyarakat setempat. Jika diamati lebih dekat,jelas bahwa <strong>yang</strong> terjadi bukannyapembangunan pertanian, tetapi pembangunan‘agribisnis’ terus meningkat. 3 Perbedaankeduanya jelas <strong>dan</strong> seharusnya tak ada lagikebingungan mengenai siapa <strong>yang</strong> akanmenerima manfaat <strong>dan</strong> siapa <strong>yang</strong> akandirugikan oleh transaksi-transaksi itu.Pelaku di balik akuisisi tersebutadalah perusahaan transnasional besar ataupemerintah <strong>yang</strong> memanfaatkan sumber daya<strong>tanah</strong> “tidur” <strong>untuk</strong> mengamankan ketahananpangan <strong>dan</strong> energi dalam negeri. Kenyataannya,<strong>tanah</strong> itu tidaklah “kosong”, melainkanseringkali merupakan tempat tinggal wargasetempat atau masyarakat adat <strong>yang</strong> telahhidup di sana turun-menurun, tetapi hakmereka atas <strong>tanah</strong> itu tidak diakui ataudihormati.Untuk memahami fenomena globalperampasan <strong>tanah</strong> ini kita akan melihat lebihjauh sejumlah faktor <strong>yang</strong> mendorong akuisisi,pelaku kunci di balik transaksi tersebut <strong>dan</strong>motivasi mereka, serta apa <strong>yang</strong> sebetulnyaterjadi di lapangan.Apakah faktor pendorongnya<strong>dan</strong> siapa pelaku di balikperampasan <strong>tanah</strong>?Terdapat sejumlah faktor <strong>yang</strong> mendorongperampasan <strong>tanah</strong> ini. Faktor-faktor ini dapatdianalisis dalam konteks keuangan, pangan,energi <strong>dan</strong> krisis iklim global. Krisis panganglobal 2007-2008, <strong>yang</strong> mendorong kenaikanharga pangan, menciptakan momentum politik<strong>dan</strong> ekonomi bagi akuisisi <strong>tanah</strong>. Demikianjuga, perubahan iklim <strong>dan</strong> krisis energimenciptakan kebutuhan mendesak baru <strong>untuk</strong>mencari <strong>tanah</strong> bagi produksi tanaman energiterbarukan.Semua krisis global inimenumbuhkan persepsi bahwa—karenajumlah penduduk diperkirakan meningkatsementara sumber daya terbatas—permintaan akan pangan <strong>dan</strong> bioenergi akanterus meningkat. Pada gilirannya, volatilitasharga komoditas menimbulkan kekhawatiranakan ketahanan pangan <strong>dan</strong> energi. Meskipunkekhawatiran akan ketahanan pangan mungkintidak sebesar kekhawatiran ketahanan energi,tetapi keduanya menimbulkan kebutuhan atas<strong>tanah</strong>.Ada sejumlah pelaku utama <strong>yang</strong>tindakannya mendorong kenaikan pangan <strong>dan</strong>akuisisi <strong>tanah</strong>. Secara umum mereka berasaldari sektor bisnis, keuangan <strong>dan</strong>pemerintahan. Krisis keuangan global <strong>dan</strong>krisis pangan global tahun 2007-2008 <strong>yang</strong>saling terkait turut menumbuhkan persepsibahwa <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> pangan perlu diamankan <strong>dan</strong>didapatkan. Kedua krisis itu meningkatkanakuisisi <strong>tanah</strong> secara dramatis.Krisis keuanganTahun 2008 dunia dilanda krisis keuangan.Krisis ini menuntut re-evaluasi sektorkeuangan. Praktik-praktik <strong>yang</strong> tidakberkelanjutan, seperti preferensi atas investasiberisiko tinggi <strong>yang</strong> memberikan keuntungandalam waktu singkat, telah membuat sektorkeuangan terpuruk. Sebagai reaksi, investormulai mencari opsi investasi <strong>yang</strong> lebih aman,seperti <strong>tanah</strong>, <strong>yang</strong> dianggap berisiko rendahdengan keuntungan jangka panjang.<strong>Tanah</strong> pertanian menjadi investasi<strong>yang</strong> menarik khususnya karena tiga alasanmendasar. Pertama, harga <strong>tanah</strong> tidak berubahsesuai dengan harga komoditas, tetapimengikuti inflasi, sehingga memberikankeuntungan dengan arus pendapatan <strong>yang</strong>bervariasi <strong>yang</strong> dapat menyeimbangkan risikodalam portofolio investasi. 4 Kedua, prakiraankeuangan <strong>untuk</strong> harga pangan <strong>dan</strong> energimenunjukkan harga <strong>dan</strong> permintaan <strong>yang</strong>terus meningkat. Ketiga, di berbagai tempat didunia, khususnya di Afrika, <strong>tanah</strong> <strong>yang</strong> luasmasih dapat disewa atau dibeli dengan hargarendah. Jadi, hukum ekonomi dasar ‘adapermintaan, ada penawaran’ mendorongmeningkatnya minat atas <strong>tanah</strong> pertanian.Faktor pendorong penting lainnyaadalah keuntungan investasi <strong>yang</strong> diharapkan.Perusahaan ekuitas, manajer hedge fund <strong>dan</strong>aset mengucurkan modal <strong>untuk</strong> akuisisi <strong>tanah</strong>pertanian. Sebagai contoh, Emergent AssetManagement, perusahaan <strong>yang</strong> berkantor diLondon <strong>dan</strong> bergerak dalam hedge fund <strong>dan</strong>private equity fund, menjanjikan investorkeuntungan hingga 270% <strong>untuk</strong> investasi <strong>tanah</strong>pertanian di Afrika <strong>untuk</strong> jangka waktu limaKrisis harga pangan global 2007 - 2008. Sumber: von Braun et al (2008) 613
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>tahun. 5 Meskipun semakin banyak laporan<strong>yang</strong> mengungkapkan bahwa akuisisi <strong>tanah</strong>berskala besar menimbulkan konflik <strong>dan</strong>dampak negatif di tingkat lokal, tetapi investasiterus meningkat karena tingginya keuntungankeuangan <strong>yang</strong> diharapkan.Krisis panganAntara Oktober 2007 <strong>dan</strong> Oktober 2008,harga pangan melonjak ke tingkat <strong>yang</strong> takterduga; harga beras mencapai 300% di atasharga rata-rata sejak 2003 <strong>dan</strong> harga gandumserta jagung berlipat ganda. 7 Tahun 2008 jugamerupakan tahun dengan harga minyak globaltertinggi; <strong>dan</strong> penyebab krisis dihubungkandengan volatilitas baik di pasar keuanganmaupun pasar energi.Biofuel terkait dengan krisis pangan,karena <strong>tanah</strong> <strong>yang</strong> diper<strong>untuk</strong>kan bagiproduksi pangan diubah menjadi <strong>untuk</strong>produksi biofuel. Menurut penelitian InstitutRiset Kebijakan Pangan (Food Policy ResearchInstitute, IFPRI) meningkatnya permintaanatas biofuel berkontribusi atas peningkatanrata-rata harga pangan sebesar 30%. 9 Faktorlain <strong>yang</strong> berperan adalah spekulasi keuangandalam komoditas pangan.Pelapor Khusus PBB <strong>untuk</strong> Hak atasPangan, Olivier de Schutter, mengatakandalam laporan <strong>yang</strong> dibuat tahun 2010 bahwa“sejumlah besar kenaikan harga <strong>dan</strong> volatilitaskomoditas pangan pokok hanya dapatdijelaskan oleh munculnya gelembungspekulatif”. 10Krisis pangan memicu protes <strong>yang</strong>diwarnai kekerasan di seluruh dunia.Gelombang protes tersebut menimbulkankekhawatiran akan ketahanan pangan – takhanya terkait dengan impor, tapi jugakeresahan sosial. Untuk menanggapinya,sejumlah negara pengimportir pangan mulaimelakukan sistem outsourcing <strong>untuk</strong> produksipangan mereka dengan tujuan <strong>untuk</strong>mengamankan harga <strong>dan</strong> pasokan jangkapanjang. Negara-negara Teluk (Arab Saudia,Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, <strong>dan</strong> Bahrain),di bawah bendera Dewan Kerjasama Teluk(Gulf Cooperation Council, GCC),menerapkan strategi bersama <strong>dan</strong> bermaksud<strong>untuk</strong> menerapkan sistem outsourcingproduksi pangan mereka <strong>untuk</strong> dipertukarkandengan modal <strong>dan</strong> kontrak minyak. 11 Sejak itunegara-negara anggota atau konsorsiumindustri di bawah GCC telah membebaskanjutaan hektare <strong>tanah</strong> pertanian di seluruhdunia. 12Krisis iklimProduksi agrofuel cair merupakan faktorpendorong di balik akuisisi <strong>tanah</strong> belakanganini. Perluasan industri biofuel berkaitan dengankrisis iklim <strong>dan</strong> energi serta kebutuhan <strong>yang</strong>tak terelakkan akan sumber energiterbarukan. Untuk menangani perubahaniklim <strong>dan</strong> <strong>untuk</strong> memenuhi targetpengurangan emisi di Eropa, Uni Eropa (UE)kini menerapkan kebijakan <strong>dan</strong> peraturanHarga komoditas dunia, Januari 2000 – April 2008. Sumber: von Braun et al. (2008) 8baru. Pedoman Energi Terbarukan (RED, 2009)menyatakan bahwa 20% dari semua energi<strong>yang</strong> digunakan di UE harus berasal darisumber terbarukan pada tahun 2020, <strong>dan</strong>bahwa 10% dari bahan bakar transportasiharus berasal dari sumber terbarukan padatahun <strong>yang</strong> sama. Contoh lain adalah PedomanKualitas Bahan Bakar (FQD, 2009), <strong>yang</strong>mencakup pengurangan emisi gas rumah kacasebesar 6% (dari tingkat 2010) <strong>yang</strong> mengikat,<strong>yang</strong> harus dicapai pada akhir 2020 (<strong>untuk</strong>informasi mengenai RED <strong>dan</strong> FQD, harap lihatInfo Terbaru DTE mengenai Agrofuel Januari2011).Meskipun pedoman kebijakan inidimaksudkan <strong>untuk</strong> menangani perubahaniklim <strong>dan</strong> mendorong konsumsi energi <strong>yang</strong>berkelanjutan di Utara, pedoman itumemberikan insentif bagi perubahan fungsi<strong>tanah</strong> <strong>yang</strong> tidak berkelanjutan di Selatan. Inimencakup akuisisi <strong>tanah</strong> berskala besar <strong>dan</strong>pembukaan hutan <strong>untuk</strong> perkebunan;memindahkan emisi gas rumah kaca keSelatan <strong>dan</strong> lebih lanjut lagi mengurangikemampuan penduduk setempat <strong>untuk</strong>beradaptasi terhadap perubahan iklim.Tinjauan Bank DuniaSeiring meningkatnya jumlah akuisisi <strong>tanah</strong> didunia mulai tahun 2008, meningkat pulalaporan di media <strong>dan</strong> dari ornop mengenaipenggusuran <strong>dan</strong> pengusiran – bukanpenciptaan lapangan kerja <strong>dan</strong> pembangunan.Tahun 2009 Bank Dunia memiliki agenda riset<strong>yang</strong> ambisius <strong>untuk</strong> mengetahui apa <strong>yang</strong>sebetulnya terjadi, <strong>dan</strong> apakah ini merupakankasus perampasan <strong>tanah</strong> atau apakah itumerupakan kesempatan pembangunan <strong>yang</strong>berpihak pada rakyat miskin. Kajian itumerupakan <strong>yang</strong> paling komprehensif sejauhini, memberikan ikhtisar akan sifatperampasan <strong>tanah</strong> di seluruh dunia <strong>dan</strong> sejauhmana hal itu dilakukan.Laporan Bank Dunia 13 didasarkanatas pangkalan data (database) <strong>yang</strong>dikembangkan oleh organisasi independen(lihat www.grain.org) <strong>dan</strong> pemeriksaan silangatas temuan resmi di lapangan, termasukkunjungan lapangan, dalam periode Oktober2008 – Agustus 2009. Ini meliputi 464 proyek,203 diantaranya meliputi informasi tentangarea seluas 56,6 juta ha di 81 negara. 14Laporan itu mengungkapkan bahwa48 persen dari proyek, meliputi dua pertigadari seluruh area (39,7 juta ha) berada diAfrika Sub-Sahara, berikutnya adalah AsiaTimur <strong>dan</strong> Selatan (8,3 juta ha), Eropa <strong>dan</strong>Asia Tengah (4,3 juta), serta Amerika Latin <strong>dan</strong>Karibia (3,2 juta ha). 15 Laporan itu jugamenegaskan besarnya ambisi investasi: ratarataproyek meliputi area seluas 40.000 ha,se<strong>dan</strong>gkan seperempat dari seluruh proyekluasnya melebihi 200.000 ha. Hanyaseperempat dari jumlah proyek <strong>yang</strong> di bawah10.000 ha. Data komoditas tersedia <strong>untuk</strong> ke-405 proyek itu, menunjukkan bahwa 37persen berfokus pada pangan, 21 persen padatanaman industri atau tanaman dengan nilaiekonomi tinggi, 21 persen pada biofuel, <strong>dan</strong>sisanya terbagi atas area konservasi <strong>dan</strong>taman perburuan, peternakan, perkebunan<strong>dan</strong> kehutanan.14
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>Laporan itu juga menegaskan bahwasebagian besar proyek dalam pangkalan dataitu berasal dari sejumlah kecil negara, yaituNegara-negara Teluk, Afrika Utara (Libya <strong>dan</strong>Mesir), Rusia <strong>dan</strong> negara barat seperti Inggris<strong>dan</strong> Amerika Serikat. Pelaku utamanya adalahpemegang <strong>dan</strong>a agribisnis <strong>dan</strong> investasi.Bertentangan dengan standar preferensiinvestasi langsung asing (mis. tata kelolapemerintahan <strong>yang</strong> kuat <strong>dan</strong> hak properti<strong>yang</strong> didefinisikan dengan jelas), menurutlaporan itu, investor tampaknya justru lebihlebih berminat pada negara dengan indikatortata kelola pemerintahan <strong>yang</strong> lemah denganhak atas <strong>tanah</strong> setempat <strong>yang</strong> tidak dilindungi.Sebagian besar proyek tidak memiliki Amdalmeskipun terdapat risiko tinggi. Walaupunbeberapa negara, termasuk Indonesia,mensyaratkan pengembang proyek <strong>untuk</strong>melakukan Amdal, pada kenyataannyaperaturan ini diabaikan atau kalaupundijalankan, kepatuhannya jarang dipantau.Temuan menarik lainnya adalah,berbeda dengan apa <strong>yang</strong> sering dilaporkan dimedia, sebagian besar investor berasal daridalam negeri, bukan luar negeri. Akhirnya,laporan itu menemukan hal <strong>yang</strong>bertentangan dengan apa <strong>yang</strong> seringdijanjikan, yakni tingkat penciptaan lapangankerja <strong>dan</strong> investasi fisik seringkali sangatlahrendah.Kesempatan pembangunanatau ancaman?Kajian Bank Dunia menyimpulkan bahwabanyak dari investasi itu tidak memenuhiharapan dalam hal penciptaan lapangan kerja<strong>dan</strong> manfaat <strong>yang</strong> berkelanjutan, tetapi justrumalahan memperburuk kondisi masyarakatdari sebelumnya.Temuan serupa diungkapkandalam studi sebelumnya oleh Cotula dkk,2009, <strong>yang</strong> juga menyelidiki sifat <strong>dan</strong> implikasitren transaksi <strong>tanah</strong> saat ini. Tetapi meskipunterdapat kontroversi <strong>dan</strong> temuan <strong>yang</strong> cukupjelas, tampaknya masih ada ketidakpastianmengenai apakah akuisisi <strong>tanah</strong> berskala besarini betul-betul dapat membawa manfaat bagimasyarakat setempat. 16 Bank Dunia (2010)memberikan sejumlah prinsip panduan bagiinvestor <strong>dan</strong> pemerintah negara berkembang<strong>untuk</strong> menghindari hasil negatif proyek.Tetapi,seperti <strong>yang</strong> disebutkan dalam temuanmereka, investasi skala besar terkonsentrasi dinegara dengan tata kelola pemerintahan <strong>yang</strong>lemah <strong>dan</strong> penegakan peraturan <strong>yang</strong> rendah.Dalam konteks ini, <strong>yang</strong> menjadi pertanyaanapakah prinsip-prinsip panduan itu akanmemberikan dampak <strong>yang</strong> diharapkan.<strong>Papua</strong>Salah satu perampasan <strong>tanah</strong> <strong>yang</strong> palingkontroversial di Indonesia saat ini adalahProyek Lumbung Pangan <strong>dan</strong> Energi TerpaduMerauke (Integrated Food and Energy Estate,MIFEE), <strong>yang</strong> tengah dikembangkan di bagianselatan <strong>Papua</strong>, di Kabupaten Merauke. MIFEEadalah mega proyek <strong>yang</strong> meliputi 1,28 jutahektare perkebunan komersial <strong>yang</strong> diklaimsebagai bagian dari visi Presiden Yudhoyono<strong>yang</strong> meragukan, yaitu “pangan <strong>untuk</strong>Indonesia, pangan <strong>untuk</strong> dunia”.Sejauh ini paling sedikit 36 investorsudah mendapatkan ijin konsesi. Sebagianbesar investor berasal dari Indonesia, tetapiperusahaan Jepang, Korea, Singapura <strong>dan</strong>Timur Tengah kelihatannya juga terlibat. 17Komoditas utama <strong>yang</strong> akan diproduksi olehMIFEE adalah kayu, sawit, jagung, kedelai <strong>dan</strong>tebu. Hingga pertengahan 2011, lebih darisetengah lusin investor <strong>yang</strong> mendapatkan ijin<strong>untuk</strong> MIFEE tampaknya sudah mulai bekerjadi area konsesi mereka, termasuk perusahaan<strong>yang</strong> terkait dengan Medco <strong>dan</strong> kelompokRajawali <strong>yang</strong> berpengaruh. Meskipun MIFEEmasih dalam tahap awal, terdapatkekhawatiran serius akan implikasi sosial <strong>dan</strong>lingkungan dari proyek ini terhadap penduduksetempat <strong>dan</strong> penghidupan mereka.MIFEE digembar-gemborkan sebagaikesempatan pembangunan, <strong>yang</strong> akanmenciptakan lapangan pekerjaan tidak hanya<strong>untuk</strong> warga <strong>Papua</strong> setempat, tapi juga pekerjatransmigran. Proyek itu juga disebut-sebutakan mendorong ketahanan pangan nasional,serta ketahanan energi. Tetapi padakenyataannya sebagian besar konsesi <strong>tanah</strong>dialokasikan <strong>untuk</strong> perkebunan kayu industri(lebih dari 970.000 ha), sementara sawit (lebihdari 300.000 ha) <strong>dan</strong> tanaman pangan (69.000ha) berada pada urutan kedua <strong>dan</strong> ketiga. 18Data ini menunjukkan bahwa motivasi utamaMIFEE bukanlah demi ketahanan pangan <strong>dan</strong>energi, tetapi kepentingan ekonomi.Laporan dari desa-desa <strong>yang</strong>terimbas selama ini menunjukkan bawa MIFEEmerupakan ancaman serius bagi masyarakatsetempat. Masyarakat adat <strong>yang</strong> terlibat dalamkesepakatan dengan perusahaan telah ditipudengan pembayaran kompensasi <strong>yang</strong> sangatrendah sebagai ganti rugi ‘penyerahan’ <strong>tanah</strong>SumberGRAIN: http://www.grain.org/Oakland Institute:http://media.oaklandinstitute.org/Via Campesina:http://viacampesina.org/en/UN Special Rapportuer on the Rightto Food: http://www.srfood.org/International Land Coalition:http://www.landcoalition.org/Focus on the Global South:http://www.focusweb.org/World Development Movement:http://www.wdm.org.uk/food-speculationOXFAM:http://www.oxfam.org.uk/get_involved/campaign/food/?intcmp=hp_hero_grow_3009.warisan turun-menurun <strong>dan</strong> menjadi bagiandari warisan budaya mereka. Proses akuisisi<strong>tanah</strong> bersifat tidak transparan, denganintimidasi <strong>dan</strong> ancaman akan keamananterutama karena kehadiran militer di sana.Informasi mengenai potensi dampak proyekatas hidup mereka <strong>dan</strong> hak apa saja <strong>yang</strong>mereka miliki <strong>untuk</strong> menolak atau menerimatawaran perusahaan hanya sedikit <strong>yang</strong> sampaike warga desa. Organisasi masyarakat sipilsetempat juga melaporkan bahwa pertemuan<strong>untuk</strong> meningkatkan kapasitas diwarnaidengan interupsi oleh militer, <strong>yang</strong>menggunakan keamanan nasional sebagaialasan <strong>untuk</strong> mengancam warga <strong>dan</strong>menghentikan pertemuan. Jadi, dalam banyakhal, MIFEE adalah perampasan <strong>tanah</strong> denganmotivasi politik <strong>dan</strong> ekonomi dengan lebihbanyak ancaman daripada kesempatan bagimasyarakat <strong>yang</strong> terimbas.Tanda bahayaTren saat ini mengenai perluasan pertanianberskala besar tidak boleh dicampuradukkandengan pembangunan <strong>yang</strong> berpihak padarakyat miskin. Ini bukanlah soal penolakaninvestasi pertanian <strong>dan</strong> daerah pedesaan <strong>yang</strong>sangat diperlukan; melainkan merupakantanda bahaya bahwa pembangunan ini tidakmembawa manfaat, <strong>dan</strong> bahkan merugikanlingkungan maupun masyarakat setempat.Krisis pangan baru-baru ini semakinmemberikan penekanan atas perlunyameningkatkan produksi pangan <strong>dan</strong> ketahananpangan, tetapi, seperti <strong>yang</strong> dikatakan olehPelapor Khusus PBB <strong>untuk</strong> Hak atas Pangan,Olivier de Schutter, persoalannya bukanlahmengenai peningkatan alokasi <strong>dan</strong>a <strong>untuk</strong>pertanian, melainkan "pemilihan modelpembangunan pertanian mana <strong>yang</strong> mungkinmemberikan dampak <strong>yang</strong> berbeda <strong>dan</strong>memberikan manfaat bagi berbagai kelompoksecara berbeda". Artikel ini menunjukkannbahwa model <strong>yang</strong> ada saat ini pertama-tamamemberi keuntungan bagi agribisnis <strong>dan</strong> mitrabisnis mereka, bukan bagi mereka <strong>yang</strong> rentanakan kelaparan <strong>dan</strong> harga pangan <strong>yang</strong> tinggi.Kecenderungan perkebunanberskala besar <strong>dan</strong> pertanian kontrak <strong>yang</strong>terkonsentrasi di kantong-kantongkemiskinan <strong>yang</strong> kronis merupakan isu <strong>yang</strong>telah dibicarakan sejak lama dalam kajianagraria <strong>dan</strong> sudah didokumentasikan denganbaik. Sementara asumsi <strong>yang</strong> umum dalamlingkungan Bank Dunia adalah bahwa InvestasiLangsung Asing mengalir ke daerah dengantata kelola pemerintahan <strong>yang</strong> baik <strong>dan</strong> hakproperti <strong>yang</strong> didefinisikan dengan jelas, riset<strong>yang</strong> dilakukan oleh Bank Dunia sendirimenegaskan bahwa modal mengalir ke daerahdi mana tenaga kerja <strong>dan</strong> hak atas <strong>tanah</strong> tidakpasti <strong>dan</strong> tidak dilindungi oleh sistemperun<strong>dan</strong>g-un<strong>dan</strong>gan <strong>dan</strong> pemerintah. Ketikaupah di mana-mana rendah, maka eksploitasikapitalis <strong>dan</strong> maksimalisasi keuntunganmenjadi tinggi. Dalam kondisi <strong>yang</strong> rentan ini,15
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>proyek <strong>yang</strong> menggunakan lahan berskalabesar menjadi sangat problematik kalaumenggusur masyarakat <strong>dan</strong> membuat merekakehilangan aset <strong>dan</strong> ketahanan mereka <strong>yang</strong>paling berharga, yaitu <strong>tanah</strong> mereka.Studi kasus <strong>yang</strong> dipaparkan di sinimenceritakan soal kehilangan kepemilikan <strong>dan</strong>tak a<strong>dan</strong>ya pemberdayaan. Alih-alihmemberikan kesempatan bagi warga miskin,transaksi <strong>tanah</strong> ini tampaknya semakinmembuat mereka terpuruk, bukan hanyasekarang, tapi juga <strong>untuk</strong> generasi berikutnya.Terlebih lagi, akuisisi berskala besar inimemiliki konsekuensi <strong>yang</strong> lebih jauh karenamengambil banyak lahan subur <strong>dan</strong>menggunakannya <strong>untuk</strong> produksi bahanpangan <strong>yang</strong> diekspor. Di negara sepertiEtiopia, di mana kelaparan merupakan masalah<strong>yang</strong> terus berulang, <strong>dan</strong> pemerintah masihtergantung pada bantuan pangan, hal inikhususnya menjadi isu <strong>yang</strong> problematik <strong>dan</strong>kontroversial.Catatan1. Anna Bolin adalah periset independenmengenai iklim, <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> REDD, <strong>yang</strong>baru-baru ini magang di DTE <strong>dan</strong> Tapol.2. Kajian tahun 2009 <strong>yang</strong> dilakukan olehInternational Food Policy Research Institutememperkirakan 20 juta ha, angka itu naikmenjadi 45 juta ha dalam kajian Bank Dunia(2010) <strong>dan</strong> akhirnya International LandCoalition memperkirakan 80 juta ha.3. GRAIN (2008) ‘Seized: The 2008 land grabfor food and financial security’, Barcelona.GRAIN,http://www.grain.org/article/entries/93-seized-the-2008-landgrab-for-food-andfinancial-security4. GRAIN (2011) ‘Pension funds: key playersin the global farmland grab’ Against theGrain, June 2011, dapat dilihat di:http://www.grain.org/article/entries/4287-Artikel selengkapnya termasuk studi kasussingkat dari Sierra Leone <strong>dan</strong> Etiopia sertacatatan kaki lengkap ada di http://downtoearthindonesia.org•(sambungan dari halaman 22)Pertanyaan <strong>untuk</strong> BPApakah peran keberadaan BP Tangguh dalamkaitannya dengan peningkatan rasa tidak puas<strong>dan</strong> konflik di <strong>Papua</strong> Barat? Dalam pertemuanTIAP terakhir, DTE mengajukan pertanyaanspesifik mengenai situasi di kawasan sekitarTeluk Bintuni. Pertanyaan kami didasarkanatas hasil dari konsultasi sebelumnya denganorganisasi masyarakat sipil <strong>dan</strong> wakilmasyarakat di <strong>Papua</strong> Barat <strong>dan</strong> Jakarta. Kamimenanyakan mengenai klaim atas kompensasibagi masyarakat Sebyar <strong>dan</strong> Immeko, <strong>dan</strong>minta penjelasan mengenai program sosial,kesehatan <strong>dan</strong> kesejahteraan BP Tangguh bagimasyarakat pesisir utara di Teluk Bintuni.TIAP IIPertemuan TIAP, <strong>yang</strong> diadakan pada bulanMaret 2011 di London adalah pertemuanpertama dari Majelis Penasehat IndependenTangguh ke-2, <strong>dan</strong> <strong>yang</strong> pertamamelaporkan tahap operasi proyek Tangguh.Majelis <strong>yang</strong> lama tampaknyasudah kehilangan gairah dalam perannyasebagai sumber nasihat independen <strong>untuk</strong>BP. 11 Tapi, majelis <strong>yang</strong> baru, selainmendapatkan mandat <strong>yang</strong> lebih terbatas<strong>dan</strong> hanya terdiri dari dua orang anggota,tampaknya juga lamban.Dalam pertemuan terakhir, hanyasatu dari anggota majelis <strong>yang</strong> hadir;Augustinus Rumansara, penasihat urusanlingkungan Gubernur <strong>Papua</strong>, mantan ketuaMajelis Peninjau Kepatuhan (CRP) BankPembangunan Asia, <strong>dan</strong> mantan pegawai BPIndonesia. Gary Klein, mitra dalam kantorpengacara DLA Piper, tetap duduk sebagai'penasihat <strong>dan</strong> sekretariat' majelis <strong>dan</strong>bertindak sebagai anggota kedua majelisdalam pertemuan ini. 12 Senator AS ChuckHagel <strong>yang</strong> tadinya setuju <strong>untuk</strong> menjadibagian dari majelis ini mengundurkan diribulan Maret 2010. Pada bulan Juni 2011senator AS Tom Daschle dinyatakan sebagaianggota kedua <strong>dan</strong> ketua majelis. 13Pertemuan itu membahas proposal <strong>untuk</strong>advokasi HAM bagi Teluk Bintuni. 14 Kamimenyampaikan pesan dari Yan ChristianWarinussy, direktur LP3BH, organisasiadvokasi HAM <strong>yang</strong> berkantor di Manokwari,bahwa BP perlu secara proaktif mendukungpelaporan situasi HAM di wilayah itu. 15 DTEmengingatkan BP mengenai keputusan OECDterhadap BP terkait dengan pipa Baku-Tblisi,<strong>yang</strong> menyerukan agar BPmempertimbangkan konteks HAM dalamproyek mereka. 16 Staf BP dalam pertemuanitu sepakat <strong>untuk</strong> 'mempertimbangkan denganserius' proposal <strong>untuk</strong> advokasi HAM diwilayah Teluk Bintuni <strong>dan</strong> akan 'menindaklanjuti'. DTE memahami bahwa sejakpertemuan itu, BP setuju <strong>untuk</strong> men<strong>dan</strong>aiproposal itu.Salah satu isu utama <strong>yang</strong> munculdalam pertemuan itu adalah prosedurpenyampaian keluhan BP Tangguh. Adakesepakatan bahwa prosedur ini belummembawa manfaat dalam menyampaikan <strong>dan</strong>mengatasi kekhawatiran masyarakat <strong>dan</strong>bahwa prosedur itu terlalu rumit sertaseringkali tidak tepat secara budaya. 17 DTEjuga menyampaikan kekhawatiran mengenaiprogram pengembangan masyarakat BP, <strong>yang</strong>dilaporkan oleh sebuah organisasi masyarakatsipil Indonesia, UCM-Jakarta, <strong>yang</strong> bekerjasama dengan masyarakat di pesisir utara TelukBintuni. Dalam hal ini <strong>dan</strong> juga dalam hal klaimkompensasi Sebyar <strong>dan</strong> Immeko, prosedurpenyampaian keluhan <strong>yang</strong> berbelit-belit di BPtidak membuahkan hasil. Dari berbagaikeluhan ini tampaklah bahwa kenyataan dilapangan dalam masyarakat tersebut sangatlahberbeda dengan gambar indah <strong>yang</strong> dibuat BPsendiri dalam sebagian besar publikasiperusahaan.Hal lain <strong>yang</strong> dibahas dalampertemuan TIAP adalah dipekerjakannyawarga <strong>Papua</strong> setempat. Dalam hal ini, BPmelaporkan bahwa target pemekerjaan warga<strong>Papua</strong> setempat <strong>untuk</strong> tahun 2029 tampaknyatak akan terpenuhi. 18 Mengenai halpemukiman kembali, disebutkan bahwakekhawatiran diungkapkan oleh pendukungPerangkat advokasimengenai standarinternasional TangguhRangkuman DTE mengenai komitmensosial, HAM <strong>dan</strong> lingkungan BP ada dalamsitus web kami dalam bahasa Indonesia <strong>dan</strong>Inggris di http://www.downtoearthindonesia.org/story/tangguh-bp-andinternational-standards.Dokumen itu adalah upaya <strong>untuk</strong>menjembatani kesenjangan informasi antararetorika <strong>dan</strong> realita di lapangan di TelukBintuni (<strong>dan</strong> secara lebih luas di <strong>Papua</strong>Barat), serta <strong>untuk</strong> memberikanmasyarakat setempat alat memintapertanggungjawaban BP. Klaim BP bahwaoperasi Tangguh adalah 'modelpembangunan kelas dunia' 20 nyata-nyatatetap merupakan bualan kosong, jikamengingat masalah <strong>yang</strong> masih terus ada diTangguh <strong>dan</strong> juga ketimpangan <strong>dan</strong>ketegangan <strong>yang</strong> meningkat di <strong>Papua</strong> Barathari ini.finansial BP perihal ke<strong>berlanjut</strong>an desa-desapemukiman kembali tersebut. 19 Mengenaitransparansi keuangan, informasi publik <strong>yang</strong>dapat dilacak mengenai pendapatan dariTangguh masih kurang. Pertemuan membahasperan perempuan di daerah Teluk Bintuni <strong>dan</strong>kebutuhan atas pertimbangan gender <strong>yang</strong>merupakan hal penting bagi semua aspekdalam proyek Tangguh. Juga, pertanyaan <strong>yang</strong>masih sama mengenai kegagalan Tangguh<strong>untuk</strong> menggunakan penangkapan <strong>dan</strong>penyimpanan karbon sebagai cara <strong>untuk</strong>mengurangi emisi karbon juga menjadicatatan. Setelah membicarakan hal-hal ini <strong>dan</strong>juga hal lain, pertanyaan <strong>yang</strong> lebih luas <strong>dan</strong>lebih nyata tetap tak terjawab: siapa <strong>yang</strong>mendapatkan keuntungan terbesar dariTangguh, <strong>dan</strong> siapa <strong>yang</strong> akan terus dirugikanoleh dampak sosial, HAM <strong>dan</strong> lingkungan?Catatan kaki artikel ini ada di versi elektronik diwww.downtoearth-indonesia.org•16
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>Akankah REDD bermanfaat bagimasyarakat adat <strong>Papua</strong>?Artikel di bawah ini dibuat berdasarkan sejumlah tulisan dalam blog Pietsau Amafnini, Koordinator organisasi <strong>yang</strong>berbasis di Manokwari, JASOIL <strong>Tanah</strong> <strong>Papua</strong>. Alamat blog itu adalah http://sancapapuana.blogspot.com/.Hutan tropis <strong>Papua</strong> sangatlah strategis dalamhal iklim global <strong>dan</strong> juga sebagai penghasilkayu serta produk hutan lainnya, <strong>yang</strong> perludikelola secara lestari. Untuk menerapkanREDD di <strong>Papua</strong>, sektor kehutananberkewajiban <strong>untuk</strong> merehabilitasi hutan <strong>dan</strong><strong>tanah</strong> <strong>yang</strong> mengalami degradasi sertamengelola hutan secara baik. Kalau kitamengelola kawasan konservasi <strong>dan</strong> hutanlindung, serta hutan produksi dengan baik, <strong>dan</strong>menghentikan pengalihfungsian hutan, kitadapat mengurangi emisi CO 2 <strong>dan</strong> membantumenyeimbangkan iklim global. Tetapi,kenyataannya adalah, pemerintah Indonesiatidak peduli akan keadaan iklim.REDD di <strong>Papua</strong>Di provinsi <strong>Papua</strong> terdapat proyekpercontohan <strong>yang</strong> direncanakan di kabupatenJayapura, termasuk Cagar Alam Cycloop,kawasan hutan Mosoali <strong>dan</strong> kawasan hutanUnurum Guay. Di provinsi <strong>Papua</strong> Barat,proyek percontohan direncanakan dikabupaten Kaimana, <strong>yang</strong> mencakup TelukArguni, Teluk Triton <strong>dan</strong> Danau Yamor. Tetapikawasan per<strong>untuk</strong>an lahan <strong>yang</strong> lain di daerahitu – sesuai dengan rencana tata ruang –belumditentukan dengan jelas, <strong>dan</strong> masyarakat adat(bersambung ke halaman berikut)Keadaan hutan <strong>Papua</strong>Angka di bawah ini berasal dari Potret Keadaan Hutan Indonesia, laporan Forest Watch Indonesia <strong>yang</strong> dapat diunduh melalui situs web FWIdi http://fwi.or.id/?page_id=204Total luas daratan – Indonesia:190,31 juta hektareTotal tutupan hutan – Indonesia, 2009: 88,17 juta hektare (46,33%)Total tutupan hutan – <strong>Papua</strong>, 2009: 4.138.992,70 (79,62%)Terdiri dari:Konsesi HPH :8.556.145,35 haKonsesi HTI:411.804,56 haPersentase total tutupan hutan di <strong>Papua</strong>:38,72% (tertinggi dari semua daerah)Deforestasi 2000-2009:628.898,44 ha (1,81% dari deforestasi di <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> 4,15% dari jumlahtotal deforestasi di Indonesia pada periode tersebut – <strong>yang</strong> terendahdari semua daerah)Total lahan gambut <strong>yang</strong> memiliki tutupan hutan di Indonesia 2009: 10,77 juta ha (dari total 20,8 juta ha lahan gambut)Lahan gambut <strong>yang</strong> memiliki tutupan hutan di <strong>Papua</strong>, 2009: 6.156.243,19 ha (79,59% dari lahan gambut di <strong>Papua</strong>),Terdiri dari:Konsesi HPH:897.212,75 haKonsesi HTI:58.671,1 haDeforestasi di hutan lahan gambut 2000-2009:130.917,62 (2,08% dari total deforestasi di <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> 6,54% dari totaldeforestasi keseluruhan)Hutan di <strong>Papua</strong> <strong>yang</strong> dialokasikan <strong>untuk</strong> penggunaan non-hutan seperti perkebunan sawit 2003-2008: 9,16%Alih fungsi hutan di <strong>Papua</strong> <strong>untuk</strong> perkebunan sawit 2003-2008: 32.546,30 ha (2006)Pertambangan di kawasan hutan <strong>Papua</strong>:74 ijin KP, mencakup wilayah seluas 2.100.000 haLaporan terbaru <strong>yang</strong> dibuat oleh FPP, Pusaka <strong>dan</strong> JASOIL menyatakan bahwa seperempat hutan rawa gambut <strong>Papua</strong> (seluas sekitar 8 juta ha)dikategorikan sebagai hutan konversi.“Jika semua akan dikonversikan <strong>untuk</strong> pertanian, akan dihasilkan lebih dari satu milyar ton emisi CO 2 .”Lihat <strong>Papua</strong> and West <strong>Papua</strong>: REDD+ and the threat to indigenous peoples (<strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> <strong>Papua</strong> Barat: REDD+ <strong>dan</strong> ancaman terhadapmasyarakat adat) di http://www.forestpeoples.org/fpp-series-rights-forests-and-climate-redd-plus-Indonesia (dikumpulkan oleh DTE)17Medco Group oil palm development, Manokwari District(Photo: Adriana Sri Adhiati)
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>sendiri tidak tahu-menahu akan rencanapemerintah <strong>untuk</strong> menentukan kawasan adatmereka sesuai dengan apa <strong>yang</strong> diperlukan bagiREDD.Proyek percontohan perdagangankarbon digagas tahun 2008 oleh pemerintahprovinsi <strong>Papua</strong> Barat <strong>dan</strong> Carbon StrategicInternational (CSI,Australia). Proyek itu beradadi kawasan hutan dalam delapan kabupaten,dengan total luas 8 juta ha. Bagian pemerintahsebesar 80% <strong>dan</strong> CSI 20%, <strong>yang</strong> setengahnyaakan diberikan kepada perusahaan <strong>dan</strong>setengahnya lagi <strong>untuk</strong> membayar tenaga ahli.Se<strong>dan</strong>gkan <strong>untuk</strong> bagian pemerintah, akandibicarakan lagi mengenai pembagian antarapemerintah pusat, daerah <strong>dan</strong> masyarakat.Diperkirakan penyerapan karbon dari hutantropis sebanyak 300 – 350 ton per hektaredengan harga 10 – 16 USD setiap ton. Harga<strong>dan</strong> pendapatan dihitung per tahunberdasarkan perkembangan moneter <strong>dan</strong>inflasi <strong>yang</strong> terjadi.Sekarang ada kesepakatan baruantara pemerintah provinsi <strong>Papua</strong> Barat <strong>dan</strong>Asia Pacific Carbon (dari Australia).Lokasi REDD di <strong>Papua</strong> Barat beradadalam hutan lindung. Lokasi itu dipilih karenatingginya ancaman <strong>yang</strong> dihadapi akibatekspansi urban, ditambah denganpertambangan seperti batubara, tembaga <strong>dan</strong>emas, serta kepentingan lain.Konversi hutan di <strong>Papua</strong> Barat <strong>untuk</strong>pertumbuhan ekonomi semakin menjadi-jadi:ada rencana <strong>untuk</strong> mengembangkanperkebunan sawit, sagu, pertambangan,transmigrasi, dll. Hal ini jelas tampak darimeningkatnya jumlah perusahaan <strong>yang</strong> inginmelakukan AMDAL <strong>untuk</strong> proyek semacam itu.Balai Pemantapan Kawasan Hutan(BPKH) tengah membuat peta KesatuanPengelolaan Hutan (KPH) di <strong>Papua</strong> Barat <strong>dan</strong>kabupaten Manokwari. Peta ini diharapkanakan menjadi alat bagi perdagangan karbon<strong>untuk</strong> mendapatkan lokasi potensial <strong>dan</strong>membantu penghitungan karbon <strong>yang</strong>dihasilkan.Kebijakan di <strong>Papua</strong>REDD di Indonesia digambarkan sebagaipendekatan nasional <strong>yang</strong> akan diterapkan ditingkat sub-nasional. Hal ini berarti bahwakerangka kebijakan <strong>dan</strong> insentif datang daripemerintah pusat <strong>dan</strong> detail <strong>untuk</strong>pelaksanaannya diserahkan kepada provinsi<strong>dan</strong>/atau pemerintah daerah <strong>dan</strong> pemangkukepentingan terkait.Peraturan daerah <strong>Papua</strong>, <strong>yang</strong>menyediakan kerangka hukum bagipelaksanaan REDD di <strong>Papua</strong>, mengakui hak <strong>dan</strong>hutan adat <strong>dan</strong> menekankan pengelolaan hutanberbasis masyarakat. Dengan menggunakanperaturan provinsi <strong>dan</strong> pedoman darikeputusan <strong>yang</strong> dibuat oleh KementerianKehutanan mengenai REDD, pemerintah <strong>Papua</strong>–dengan dukungan masyarakat sipil, universitas,masyarakat adat, <strong>dan</strong> aktor utama lainnya—berencana <strong>untuk</strong> membentuk Gugus TugasKarbon Hutan <strong>Papua</strong> (REDD). Gugus tugas inidibentuk berdasarkan peraturan gubernurpada awal 2011. Tujuannya adalah <strong>untuk</strong>FPIC(pemberian persetujuan berdasarkaninformasi awal tanpa tekanan)Berikut adalah inti dari laporan terbarudari FPP/Pusaka/JASOIL berjudul <strong>Papua</strong> andWest <strong>Papua</strong>: REDD+ and the threat toindigenous peoples“Satu perkembangan penting adalahkeluarnya peraturan Gubernur BarnabasSuebu bulan Oktober 2010 mengenaiPembentukan Gugus Kerja PembangunanRendah Karbon. Salah satu peran Gugus Tugasitu adalan <strong>untuk</strong> memastikan kepastianhukum <strong>untuk</strong> mengamankan hak-hakmasyarakat sesuai dengan prinsip pemberianpersetujuan berdasarkan informasi awal tanpatekanan (FPIC). Kebijakan serupa jugadikeluarkan oleh Gubernur <strong>Papua</strong> Barat,Abram Artuturi, bulan Maret 2011. PeraturanDaerah Khusus (PERDASUS) <strong>Papua</strong> No.23/2008 mengenai Hak Ulayat MasyarakatHukum Adat <strong>dan</strong> PERDASUS No.21/2008mengenai Pengelolaan Hutan Lestari, <strong>yang</strong>keduanya mengakui hak-hak masyarakat<strong>Papua</strong>, dapat memperkuat posisi masyarakat<strong>yang</strong> terimbas oleh rencana REDD+.Tetapihingga kini baik institusi pemerintahkabupaten atau pemerintah terkait belummengeluarkan kebijakan atau program <strong>untuk</strong>menerapkan peraturan hak ulayat <strong>dan</strong> hukumadat. ” 1membantu pemerintah <strong>Papua</strong> <strong>untuk</strong>menerjemahkan, mengembangkan <strong>dan</strong>mengkoordinasikan pendekatan kebijakan <strong>dan</strong>insentif posifif <strong>yang</strong> datang dari tingkat nasional<strong>dan</strong> internasional <strong>untuk</strong> tingkat provinsi <strong>dan</strong>kabupaten <strong>yang</strong> terlibat. Dalam praktiknya,keterlibatan masyarakat setempat sangatlahterbatas <strong>dan</strong> proyek itu tidak sesuai dengankepentingan masyarakat.Sedikit sekali pengetahuan <strong>dan</strong>kapasitas teknis pejabat kantor pemerintahansetempat <strong>dan</strong> instansi pemerintah terkait,organisasi masyarakat—apalagi masyarakat<strong>yang</strong> tinggal di <strong>Papua</strong> Barat—mengenaiperubahan iklim <strong>dan</strong> perdagangan karbon.Mereka juga tak banyak tahu tentang kebijakannasional, komitmen internasional atasperubahan iklim, praktik terbaik pengelolaanhutan, mekanisme perdagangan karbon,moratorium pembalakan, skema <strong>untuk</strong>mengurangi perusakan hutan <strong>dan</strong> menurunkanemisi, serta manfaat <strong>dan</strong> dampaknya.Sudah dilakukan beberapapertemuan <strong>untuk</strong> membahas perdagangankarbon, tetapi tak ada kelanjutannya, <strong>dan</strong> taktampak tanda-tanda a<strong>dan</strong>ya kebijakan atauprogram dari pemerintah provinsi <strong>dan</strong>kabupaten <strong>untuk</strong> menerapkannya. Pertemuanpertemuanitu sangat terbatas <strong>dan</strong> tidakmelibatkan masyarakat sipil, organisasimasyarakat setempat seperti DAP [DewanAdat <strong>Papua</strong>], LMA [Lembaga Masyarakat Adat]atau MRP [Majelis Rakyat <strong>Papua</strong>], LSM atauperwakilan masyarakat di <strong>Papua</strong> Barat.Dikhawatirkan bahwa tak a<strong>dan</strong>ya keterlibatanmereka akan memberikan dampak negatif padaperencanaan <strong>dan</strong> pelaksanaan program.Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan[TGHK] <strong>dan</strong> deliniasi batas hutan masih belumada <strong>dan</strong> tak ada pembicaraan <strong>yang</strong> jelasmengenai hal itu, karena a<strong>dan</strong>ya konflik antarakepentingan <strong>dan</strong> konsep <strong>tanah</strong> negara <strong>dan</strong><strong>tanah</strong> adat. Rencana tata ruang <strong>untuk</strong> provinsi<strong>Papua</strong> Barat <strong>dan</strong> kabupaten Manokwari tidakada <strong>dan</strong> belum dibicarakan.Masyarakat <strong>yang</strong> memiliki hak atas<strong>tanah</strong> target REDD+ (<strong>tanah</strong>, hutan <strong>dan</strong>gambut) tidak memahami <strong>dan</strong> tidak banyakdilibatkan dalam pencapaian konsensus ditingkat nasional <strong>dan</strong> lokal, <strong>untuk</strong> menentukanpersiapan bagi pelaksanaan REDD+. Inilah <strong>yang</strong>terjadi dengan proyek perdagangan karbon<strong>yang</strong> diprakarsai oleh pemerintah provinsi<strong>Papua</strong> Barat <strong>dan</strong> CSI.Apa <strong>yang</strong> diperlukan <strong>untuk</strong>REDD?Max. J. Tokede dari UNIPA Manokwarimenjelaskan bahwa apa <strong>yang</strong> perlu dikerjakan<strong>untuk</strong> mempersiapkan REDD adalah sbb:pertama, meningkatkan kapasitas pemantauan<strong>untuk</strong> mendeteksi perubahan ca<strong>dan</strong>gan karbondi provinsi <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> <strong>Papua</strong> Barat. Inimencakup: penginderaan jauh (pencitraansatelit); pemantauan udara; pemantauan hutanberbasis masyarakat di tingkat lapangan;dukungan kegiatan pemantauan hutan <strong>dan</strong>perdagangan kayu oleh Dinas Kehutanan <strong>dan</strong>masyarakat. Kedua, kegiatan uji coba <strong>untuk</strong>insentif <strong>yang</strong> adil bagi perlindungan hutan, <strong>yang</strong>meliputi perencanaan tata ruang <strong>dan</strong> alih fungsihutan, pemetaan hutan masyarakat adat dalamlokasi uji coba; membangun kelembagaankampung <strong>untuk</strong> mengelola sistem pembayaraninsentif <strong>untuk</strong> mencegah deforestasi <strong>dan</strong>membangun alternatif pendapatan ekonomi;membangun kapasitas bagi hutankemasyarakatan (community logging) <strong>yang</strong>berkelanjutan <strong>dan</strong> bersertifikat; membangunsistem pengawasan <strong>dan</strong> perlindungan hutanpartisipatif.Se<strong>dan</strong>gkan terkait mekanismepen<strong>dan</strong>aan REDD di <strong>Papua</strong> antara lain,meliputi: dukungan pen<strong>dan</strong>aan <strong>untuk</strong>pembangunan masyarakat dengan membukarekening kampung; dukungan pen<strong>dan</strong>aan <strong>untuk</strong>kelompok atau individu-individu <strong>untuk</strong>melakukan patroli <strong>dan</strong> perlindungan hutanberbasis masyarakat dengan rekeningkelompok/individu; <strong>dan</strong> <strong>dan</strong>a simpan pinjam<strong>untuk</strong> pengembangan usaha kecil, menengah dikampung. Kesanggupan pemerintah daerah jugaharus dipastikan <strong>untuk</strong> memfasilitasi: <strong>dan</strong>a<strong>untuk</strong> pengelolaan proyek; <strong>dan</strong>a <strong>untuk</strong>pemantauan karbon <strong>dan</strong> penegakan hukum;<strong>dan</strong>a <strong>untuk</strong> pembangunan bagi masyarakatumum (pendidikan/kesehatan/pembangunanekonomi). Dana Pendampingan Teknis jugadiperlukan bagi kelancaran program REDDtersebut.Hak-hak AdatYang menjadi pertanyaan adalah, akankahkeuntungan itu menyentuh masyarakat adat<strong>yang</strong> mempunyai hak sepenuhnya atas hutan disekitarnya? Pemerintah Indonesia menyatakanbahwa masyarakat adat <strong>yang</strong> berba<strong>dan</strong> hukum
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>akan tetap bisa mengakses sumber daya alamdi hutan tanpa menebang pohon <strong>dan</strong>mendapatkan keuntungan dari proyek REDDtersebut. Di sini jelas masih ada pertanyaan,masyarakat adat <strong>yang</strong> berba<strong>dan</strong> hukum?Bagaimana dengan <strong>yang</strong> tidak berba<strong>dan</strong>hukum? Kalaupun masyarakat adat bisamendapatkan status ba<strong>dan</strong> hukum tersebut,bagaimana prosedurnya? Akankah semudahmembalikkan telapak tangan? Dalam konteksini, maka negara <strong>yang</strong> seharusnya mengakuiterlebih dahulu keberadaan masyarakat adat.Negara industri maju seperti Brasil, Uni Eropa,Jepang, Amerika Serikat <strong>dan</strong> Norwegia, siapmembiayai pengelolaannya. Diantaranyadengan memberi <strong>dan</strong>a hibah US$10 per tonkarbon, kecuali <strong>untuk</strong> kebun kelapa sawit.Namun, apakah masyarakat adat <strong>Papua</strong> akandapat kucuran <strong>dan</strong>a hibah itu? Belum tentu.Melindungi hutan <strong>untuk</strong> tetap lestariatau mengelola secara berkelanjutansebenarnya sudah sejak dulu dikenal olehmasyarakat adat. Ada hutan keramat atauBisnis REDD+tempat pemali <strong>yang</strong> terletak di hutan <strong>yang</strong>masih kental dalam kehidupan masyarakatadat. Sekarang dunia modern mengenal hutankeramat sebagai kawasan hutan konservasi.Pemanfaatan hutan juga sangat menjaminkelestarian <strong>dan</strong> ke<strong>berlanjut</strong>annya. Merekahanya menggunakan teknologi sederhana,mengambil hasil hutan seperlunya <strong>untuk</strong>kebutuhan hidup mereka.Direktur LSM PERDU Manokwari,Mujianto menerangkan bahwa berdasarkanpengalaman studi PERDU di KabupatenKaimana <strong>yang</strong> merupakan daerah <strong>yang</strong> dilirik<strong>dan</strong> dicalonkan oleh pemerintah provinsi<strong>Papua</strong> Barat sebagai kawasan proyek REDD<strong>dan</strong> Perdagangan Karbon, fakta menunjukkanpengelolaan <strong>dan</strong> pemanfaatan hutan saat inimasih ditemukan: ijin pemerintah masihdominan diberikan kepada pemilik modalperusahaan;Pasca OHL II (OHL II adalahoperasi polisi kedu <strong>untuk</strong> memberantas illegallogging), ijin bagi masyarakat lokal praktis tidakada, Kopermas pun otomatis tidak berjalan;(boks dirangkum oleh DTE)Penelitian terbaru <strong>yang</strong> dilakukan oleh FPP, Pusaka <strong>dan</strong> JASOIL menemukan bahwa tak satu punskema REDD+ <strong>yang</strong> telah diajukan <strong>untuk</strong> <strong>Papua</strong> sudah berjalan melampaui tingkat perencanaanawal. 2Hanya satu proyek REDD di <strong>Papua</strong> yand teridentifikasi dalam situs web REDD-Indonesia(tertaut dengan Kementerian Kehutanan). Proyek <strong>yang</strong> disebut Pen<strong>dan</strong>aan Berkelanjutan <strong>untuk</strong>Manfaat Karbon berada di provinsi <strong>Papua</strong>, <strong>dan</strong> New Forest Asset Management/PTEmerald Planet disebut sebagai organisasi <strong>yang</strong> terlibat. 3Menurut FPP/Pusaka/JASOIL, perusahaan itu telah menandatangani Nota Kesepahaman dengangubernur <strong>Papua</strong> tahun 2008 <strong>untuk</strong> mengembangkan rencana pengurangan emisi dari deforestasidi hutan seluas 265.000 hektare di Mamberamo <strong>dan</strong> Mimika, tetapi pengembangnya tak dapatmemperoleh semua ijin <strong>yang</strong> diperlukan.Situs web Emerald Planet sendiri menyatakan bahwa perusahaan itu “aktif dalam proyekAforestasi, Reforestasi <strong>dan</strong> Revegetasi (ARR), Pengelolaan Lahan Pertanian (Agricultural LandManagement,ALM) <strong>dan</strong> Pengurangan Emisi dari Deforestasi <strong>dan</strong> Degradasi Hutan (REDD) <strong>dan</strong>investasi bersama dengan investor Indonesia <strong>dan</strong> asing, termasuk Eco-Carbone (Perancis),satu bank internasional besar, <strong>dan</strong> investor swasta.” Perusahaan <strong>yang</strong> berkantor perwakilan diBali ini juga menyatakan bahwa perusahaan itu “memberikan layanan nasihat bagi pemerintahprovinsi <strong>Papua</strong> sebagai satu-satunya anggota dari sektor swasta dalam Panel Penasihat SatuanTugas Pembangunan Ekonomi Rendah Karbon <strong>Papua</strong>.” 4Dalam kemitraan bersama Eco-Carbone, <strong>yang</strong> disebut Eco-Emerald, perusahaan itu jugamengklaim tengah mengembangkan “perkebunan tanaman jarak berbasis masyarakat di lahan<strong>yang</strong> telah mengalami degradasi di Indonesia” (tidak disebutkan apakah ini di <strong>Papua</strong> atau tempatlain di Indonesia). 5Carbon Strategic International adalah kelompok investasi <strong>dan</strong> perdagangan lingkunganglobal (karbon, keanekaragaman hayati). Dalam situs webnya disebutkan bahwa perusahaan inibekerja bersama perusahaan, pemerintah <strong>dan</strong> masyarakat “<strong>untuk</strong> membantu mereka memahami<strong>dan</strong> mendorong pasar lingkungan hidup, energi <strong>dan</strong> finansial <strong>yang</strong> tumbuh pesat <strong>untuk</strong>menciptakan hasil ekonomi, sosial <strong>dan</strong> ekologi <strong>yang</strong> berkelanjutan.” Ke empat kegiatan utamaperusahaan itu adalah Originasi, Penasihat Keuangan, Perdagangan <strong>dan</strong> Managemen Aset.Kelompok perusahaan ini memiliki kantor di Jakarta, tetapi tak ada informasi spesifik tentang<strong>Papua</strong> (atau bahkan Indonesia) dalam situs webnya. 6Asia Pacific Carbon telah terlibat dalam pengembangan proyek karbon sejak 2005, mulaidengan hutan hujan di <strong>Papua</strong> Nugini. Fokusnya saat ini adalah Indonesia <strong>dan</strong> PNG. Perusahaanini mengklaim sebagai “salah satu perusahaan pengembang karbon terkemuka berkualitas tinggidi kawasan Asia <strong>dan</strong> Pasifik.” Kantornya ada di Australia, Singapura, Indonesia <strong>dan</strong> PNG. Dalamsitus webnya, perusahaan itu lebih lanjut menyatakan bahwa perusahaan bekerja denganpengembang proyek, mitra teknologi, lembaga keuangan <strong>dan</strong> kelompok perdagangan <strong>yang</strong> sangatberpengalaman” <strong>dan</strong> “didukung oleh hubungan kerja <strong>yang</strong> erat dengan pemilik proyek,pemerintah, anggaran dasar, institusi tersier, <strong>dan</strong> LSM di setiap pasar sasaran. 7Usaha awal <strong>untuk</strong> mendapatkan akses atas proyek karbon di <strong>Papua</strong> diluncurkan oleh CarbonConservation, perusahaan berbasis di Australia <strong>yang</strong> dijalankan oleh pengusaha Dorjee Sun. 8Carbon Conservation terlibat dalam proyek REDD Ulu Masen di Aceh.kalaupun masyarakat lokal memanfaatkan hasilhutan (khususnya kayu), lebih <strong>untuk</strong> sekedarmemanfaatkan momentum pasar lokal <strong>yang</strong>tersedia dengan volume <strong>yang</strong> sangat terbatas<strong>dan</strong> tanpa perencanaan memadai; potensikehilangan hutan alam akan semakin tinggiseiring dengan pergerakan modal ke daerah ini<strong>untuk</strong> diinvestasikan dalam berbagai sektorpemanfaatan sumberdaya alam (perkebunan,tambang, dll)."Sementara itu bila kita melihat lebihjauh ke belakang, ... secara turun-temurunmasyarakat lokal penghidupannya bergantungdari kekayaan alam, termasuk kekayaan hutan;pengelolaan hutan <strong>dan</strong> pemanfaatanyadilakukan dengan cara <strong>yang</strong> sederhanaberdasarkan pengetahuan setempat; kebutuhanair bersih, protein hewani, bahan pangan lokal<strong>dan</strong> obat-obatan, bahan bangunan diambil darikawasan hutan mereka. Artinya, pemanfaatanhasil hutan masih sebatas <strong>untuk</strong> kebutuhanrumah tangga <strong>dan</strong> tidak membutuhkanteknologi <strong>yang</strong> merusak hutan secara cepat.Jika demikian, maka kiranya masyarakat adat disekitar hutan itu jauh lebih arif dalam menjagakelestarian hutan alam <strong>untuk</strong> proyek REDD.Namun ketika hutan alam mau dijadikan bisnisoksigen atau perdagangan karbon, makamasyarakat adat setempat harus secaralangsung dilibatkan secara penuh <strong>dan</strong> jugamendapatkan manfaatnya secara langsung,termasuk dalam hal kompensasi berupa uangtunai,” demikian kata Muji.Peran JASOILProyek REDD+ <strong>dan</strong> inisiatif lain terusdigulirkan <strong>dan</strong> belum ada tanda-tanda <strong>untuk</strong>mengoreksi tatanan kebijakan <strong>yang</strong> belumberes <strong>dan</strong> rendahnya komitmen politikpengambil kebijakan <strong>dan</strong> penggagas proyek<strong>untuk</strong> melindungi hak-hak masyarakat. Hal inimenimbulkan kekhawatiran terjadinyapenyimpangan <strong>dan</strong> memunculkan konflikkepentingan <strong>dan</strong> konflik sosial <strong>yang</strong> meluas,sehingga pada gilirannya lingkungan tidakterselamatkan, emisi GRK terus meningkat <strong>dan</strong>kesejahteraan masyarakat semakin menurun.Apa gagasan <strong>dan</strong> aksi <strong>yang</strong> harusdilakukan dalam situasi seperti ini? Perlu adaaksi di tingkat masyarakat akar rumput,terutama <strong>yang</strong> akan bersentuhan <strong>dan</strong> terkenadampak langsung dari proyek REDD+. JASOIL<strong>Tanah</strong> <strong>Papua</strong> meman<strong>dan</strong>g ada dua hal <strong>yang</strong>dapat dilakukan, yakni:1) meningkatkan kesiapan, kesatuan <strong>dan</strong>penguatan hak-hak masyarakat sehinggaposisi tawar mereka meningkat <strong>dan</strong>masyarakat bersatu dalam mempengaruhi<strong>dan</strong> menentukan kebijakan proyekpembangunan apapun <strong>yang</strong> akan berlangsungdi atas <strong>tanah</strong> mereka <strong>dan</strong> mempengaruhikehidupan masyarakat;2) meningkatkan kapasitas masyarakat agardapat terlibat dalam pemantauan seluruhtahapan proyek percontohan provinsiREDD+ <strong>dan</strong> inisiatif proyek REDD+ lainnyadi tingkat kabupaten, <strong>dan</strong> turut terlibatdalam tindakan memperbaiki.•Catatan kaki dapat dilihat dalam versi elektronikartikel ini di www.downtoearth-indonesia.org/id
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>REDD di Indonesia – berita terkiniDTE terakhir kali melaporkan perkembangankebijakan <strong>dan</strong> proyek di Indonesia <strong>untuk</strong>mengurangi emisi dari deforestasi <strong>dan</strong>degradasi hutan (REDD) pada awal 2010.Ketika itu Presiden Susilo BambangYudhoyono membuat komitmen internasional<strong>untuk</strong> membatasi emisi karbon Indonesia <strong>dan</strong>mengumumkan rencana <strong>untuk</strong> menanamjutaan hektare hutan baru. Indonesia tengahmenegosiasikan kesepakatan REDD denganBank Dunia terkait dengan programkerjasama karbon hutan <strong>dan</strong> telahmengeluarkan tiga peraturan terkait denganREDD. Organisasi-organisasi masyarakat sipil(CSO) <strong>yang</strong> memantau perkembangan REDDdi tingkat nasional <strong>dan</strong> regional merasa sangatkhawatir dengan kurangnya perlindungan bagimasyarakat lokal <strong>yang</strong> hutannya, saat ini ataumungkin nantinya, menjadi target REDD. 1Delapan belas bulan setelah laporantersebut, gambaran mengenai REDD(sekarang REDD + 2 ) nasional menjadisemakin rinci, proyek REDD resmi maupuntak resmi diluncurkan, juga lebih banyakskema pen<strong>dan</strong>aan internasional <strong>yang</strong> besarsudah mulai berjalan. Tetapi kekhawatiranCSO mengenai REDD <strong>dan</strong> proses pembuatankeputusan terkait dengan proyek <strong>dan</strong>kebijakan REDD masih ada. Karena proyeksudah memasuki tahap pelaksanaan, merekasemakin khawatir mengenai hakmasyarakat—terutama semakin mendesakkebutuhan <strong>untuk</strong> melindungi hak masyarakatadat dalam memberikan atau tidakmemberikan persetujuan berdasarkaninformasi awal tanpa tekanan (FPIC) terhadapproyek <strong>yang</strong> mempengaruhi mereka. Pada saat<strong>yang</strong> sama, pemerintah mengumumkanperubahan besar dalam kebijakan <strong>yang</strong>memberikan pengakuan atas hak masyarakatadat.Moratorium <strong>dan</strong> Surat NiatKebijakan <strong>yang</strong> sudah lama ditunggu-tunggutentang moratorium pembukaan hutanprimer <strong>dan</strong> lahan gambut ditandatangani padabulan Mei 2011. Instruksi Presiden No.10/2011 merupakan satu dari hasilkesepakatan Surat Niat <strong>yang</strong> ditandatanganiIndonesia bersama Norwegia pada tahunsebelumnya sebagai bagian dari kesepakatanREDD senilai US$ 1 milliar. Surat Niat <strong>dan</strong>kelanjutan Nota Konsep Bersamamenetapkan rencana REDD+ dalam tigatahap.Tahap persiapan pertama mencakup:• membentuk kelembagaan REDD+ nasional(<strong>yang</strong> akan dipersiapkan oleh Satuan TugasREDD+) <strong>yang</strong> akan beroperasi penuh padaakhir tahun 2012• moratorium selama dua tahun (semuladitetapkan berlaku mulai Januari 2011, tapiditunda sampai Mei)• membentuk Lembaga Pemantauan,Pelaporan <strong>dan</strong> Verifikasi (MRV) <strong>yang</strong>independen• membentuk instrumen keuangan adinterim <strong>untuk</strong> menangani tahap persiapan• Strategi REDD+ Nasional akandikembangkan menjadi rencana aksinasional, <strong>dan</strong> <strong>yang</strong> “memuat metodepenerapan FPIC <strong>dan</strong> pembagiankeuntungan <strong>yang</strong> adil”• memilih provinsi percontohan (pilot) <strong>untuk</strong>REDD+. 3Tahap ‘Transformasi’ <strong>yang</strong> kedua darikesepakatan Indonesia-Norwegia mencakuppeningkatan kapasitas di tingkat nasional,reformasi hukum, <strong>dan</strong> paling sedikit satuproyek percontohan <strong>yang</strong> utuh dalam skalaprovinsi. Dalam tahap ketiga, disebut“Kontribusi bagi Kinerja <strong>yang</strong> telahDiverifikasi’ <strong>dan</strong> dijadwalkan mulai tahun2014, Norwegia akan mulai mengucurkanpembayaran <strong>untuk</strong> Indonesia ataspengurangan emisi sesuai dengan pedomanUNFCCC. 4 Moratorium itu sendiri disambutdingin oleh CSO karena kebijakan itu hanyamemberikan sedikit perlindungan tambahanbagi hutan di Indonesia <strong>yang</strong> rusak dalamwaktu singkat. Hal ini terutama disebabkanoleh perkecualian <strong>yang</strong> diberikan <strong>untuk</strong>perusahaan besar <strong>yang</strong> ingin terusmenggunakan hutan <strong>dan</strong> lahan gambut <strong>yang</strong>kaya akan karbon <strong>untuk</strong> memperluas usahamereka. Instruksi Presiden No. 10/2010memberikan perkecualian moratorium sbb:• permohonan <strong>yang</strong> telah mendapatkan ijinprinsip dari Kementerian Kehutanan,• pelaksanaan pembangunan nasional <strong>yang</strong>bersifat vital (panas bumi, minyak <strong>dan</strong> gasalam, listrik serta lahan padi <strong>dan</strong> tebu);• perpanjangan ijin pemanfaatan hutan <strong>yang</strong>sudah ada• restorasi ekosistem. 5Menurut pemerintah, areamoratorium meliputi 64 juta hektare. Tetapi,CSO mengatakan bahwa hanya sekitar 45,5juta hektare hutan primer <strong>yang</strong> masih tersisa.Sekitar seperempat dari hutan tersisa sudahdiberikan ijin eksploitasi (sehingga tak bisadimasukkan dalam moratorium) <strong>dan</strong> sebagianbesar dari sisanya sudah dilindungi darijangkauan pengusaha kayu atau pengembangperkebunan sebab kawasan itu masuk dalamkategori hutan lindung. Menurut perhitungan,hanya sekitar 8,8 juta hektare hutan primerIndonesia <strong>yang</strong> sebetulnya mendapatperlindungan tambahan melalui moratoriumitu. 6 Salah satu kawasan <strong>yang</strong>dikecualikan dari moratorium adalah kawasan<strong>yang</strong> dialokasikan <strong>untuk</strong> proyek MIFEE diMerauke (lihat artikel terpisah). Sebelummoratorium dikeluarkan, KuntoroMangkusbroto, pembantu utama presiden<strong>yang</strong> menangani Satuan Tugas REDD+,mengatakan bahwa kawasan MIFEE akandikurangi luasnya menjadi 350.000-500.000hektare antara lain karena a<strong>dan</strong>ya lahanTanggal penting terkaitREDD(+)Mei 2010: Surat Niat Norwegia-Indonesiamengenai REDD+ ditandatanganiOktober 2010: Satuan Tugas REDD+dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden19/2010November 2010: KementerianKehutanan membentuk Kelompok KerjaPerubahan Iklim berdasarkan KeputusanMenhut No. 624/Menhut-II/2010November 2010: Draf Strategi REDD+Nasional dibuatMei 2011: Moratorium selama dua tahunditandatangani – Instruksi Presiden 10/2011Juli 2011: Indonesia mengindikasikana<strong>dan</strong>ya perubahan kebijakan <strong>yang</strong> mengakuihak masyarakat adat <strong>dan</strong> menanganipersoalan dalam hak kepemilikan hutanSeptember 2011: Presiden SBYmengumumkan a<strong>dan</strong>ya Satuan Tugas baru,<strong>yang</strong> akan membentuk kelembagaan REDDhingga paling lambat akhir 2012.gambut <strong>yang</strong> kaya karbon di daerah itu. 7Dampak positif dari pengumumanmoratorium itu semakin dipatahkan olehterbitnya laporan ornop EnvironmentalInvestigation Agency (EIA) <strong>dan</strong> Telapak.Laporan itu menunjukkan bagaimanamoratorium itu dilanggar pada hari pertamaoleh pengembang kelapa sawit Malaysia diKalimantan Tengah. Juga disebutkan bahwaNorwegia—promotor moratorium itu—padasaat <strong>yang</strong> sama menanamkan modal di sektorperkayuan <strong>dan</strong> perkebunan, <strong>yang</strong> erathubungannya dengan pembabatan hutan. 8Juga terungkap bahwa KementerianKehutanan sudah mengeluarkan ijineksploitasi 2,9 juta hektare hutan <strong>untuk</strong>beberapa perusahaan pada akhir tahun 2010,<strong>yang</strong> tampaknya merupakan tindakan tergesagesa<strong>untuk</strong> menghindari moratorium, <strong>yang</strong>semula dijadwalkan dimulai tanggal 1 Januari2011. 9 Hal lain <strong>yang</strong> bertentangan dengantujuan moratorium ini adalah dikeluarkannyaPeraturan Menteri Kehutanan No. 18/2011pada bulan Februari. Peraturan inimemberikan ijin bagi pertambangan bawah<strong>tanah</strong>, pembangkit listrik <strong>dan</strong> proyek nasionallain <strong>yang</strong> penting <strong>untuk</strong> terus dilaksanakan dihutan lindung. 10Perkembangan REDD+ lainnya, <strong>yang</strong>sebagian terkait dengan Surat Niat Norwegia,termasuk:• pembentukan Satuan Tugas REDD+Nasional, pada bulan Oktober 2010, <strong>yang</strong>diketuai oleh Kuntoro Mangkusbroto,mantan menteri pertambangan, ketuaBa<strong>dan</strong> Rehabilitasi <strong>dan</strong> Rekonstruksi Aceh20
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>pasca tsunami, <strong>dan</strong> kini ketua Unit KerjaPresiden bi<strong>dan</strong>g Pengawasan <strong>dan</strong>Pengendalian Pembangunan (UKP4).• pembentukan Kelompok Kerja PerubahanIklim November 2010, dalam KementerianKehutanan, <strong>untuk</strong> mendukungperwakilannya dalam Kelompok KerjaREDD+;• konsultasi dengan ornop mengenai DrafStrategi Nasional REDD+. Input darikelompok masyarakat sipil (termasuk DTE)menyerukan agar strategi itu memenuhistandar hak asasi manusia internasional,mengakui peran masyarakat adat <strong>dan</strong>masyarakat lokal dalam perlindungan hutan,memasukkan strategi penanganan konflikatas <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> memasukkan mekanismekeluhan sehingga masyarakat dapatmelaporkan pelanggaran atau dampaknegatif REDD+ <strong>dan</strong> masalah mereka dapatditangani. 11Semakin banyak kegiatan demonstrasiREDD+. Hingga Februari 2011, KementerianKehutanan telah menyetujui 16 proyek <strong>dan</strong>lebih dari 60 lainnya masuk dalam daftartunggu. 12 Kekhawatiran kian meningkat bahwaproyek akan berjalan sebelum mekanismeperlindungan (safeguard) bagi masyarakatdisepakati. Laporan <strong>yang</strong> dikeluarkan olehHuMa, sebuah ornop di Jakarta, menyorotikekhawatiran atas kurangnya perlindungandari penyan<strong>dan</strong>g <strong>dan</strong>a REDD bilateral. 13Salah satu skema REDDinternasional <strong>yang</strong> sudah berjalan adalahkesepakatan senilai US$ 3,6 juta dari DanaKemitraan Karbon Hutan (Forest CarbonPartnership Fund atau FCPF) <strong>yang</strong> dipimpinBank Dunia <strong>untuk</strong> mempersiapkan REDD+Indonesia. Kesepakatan FCPF ditandatanganiJuni 2011 <strong>dan</strong> <strong>yang</strong> terdiri dari kegiatananalisis, peningkatan kapasitas, konsultasi <strong>dan</strong>penjangkauan (ornop), serta pengumpulandata regional. Daerah <strong>yang</strong> menjadi fokusregional adalah Kalimantan Selatan, SumatraSelatan (Musi Rawas), Maluku,Aceh <strong>dan</strong> <strong>Papua</strong>Barat. Organisasi-organisasi masyarakat sipilmengecam proposal Indonesia <strong>untuk</strong> <strong>dan</strong>aFCPF, serta mengungkapkan kekhawatiranmereka mengenai perlindungan sertakurangnya transparansi <strong>dan</strong> partisipasi dalamproses konsultasi. 14 Penelitian atas proyekFCPF di seluruh dunia <strong>yang</strong> diterbitkan padabulan Maret 2011, Smoke and Mirrors,menegaskan bahwa tak satu pun dari delapanrencana persiapan REDD (termasukIndonesia) menyikapi persoalan hak atas <strong>tanah</strong>atau mengakui konflik <strong>yang</strong> ada secaramemadai.REDD RegionalMeskipun gubernur <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> Acehmerupakan kepala daerah pertama <strong>yang</strong>secara terbuka mendukung REDD di daerahmereka, Kalimantan adalah daerah <strong>yang</strong> dipilih<strong>untuk</strong> proyek resmi REDD, <strong>dan</strong> pada akhirtahun 2010, pemerintah mengumumkanbahwa Kalimantan Tengah merupakan provinsipercontohan REDD sesuai dengankesepakatan REDD Norwegia. 15 Penolakankeras atas proyek REDD di provinsi itudisampaikan oleh kelompok masyarakat lokalseperti Yayasan Petak Danum Kalimantan <strong>dan</strong>Aliansi Rakyat Pengelola Gambut (ARPAG),<strong>yang</strong> memang banyak mengecam maksud dibalik offset karbon oleh negara <strong>dan</strong> lembaga<strong>yang</strong> terlibat dalam pen<strong>dan</strong>aan skema REDDdi provinsi tersebut. 16 Kelompok itumengatakan bahwa masyarakat setempatdapat mengelola hutan mereka secaraberkelanjutan ketimbang skema REDD,mereka perlu pengakuan <strong>dan</strong> penghargaan atashak-hak mereka <strong>untuk</strong> mengelola <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong>sumber daya mereka sendiri.Sementara itu di Aceh, proyekREDD Ulu Masen (<strong>yang</strong> dikembangkan olehpemerintah Aceh <strong>dan</strong> Carbon Conservation,bekerjasama dengan Fauna and FloraInternasional) <strong>yang</strong> menarik banyak perhatian,tetap sangat kontroversial. Penelitian terakhirmenyimpulkan bahwa kurangnya partisipasimasyarakat dalam proyek dikhawatirkan dapatmerongrong tujuan proyek <strong>untuk</strong> memangkasemisi CO2 dari deforestasi. Survei <strong>yang</strong>diadakan tahun 2008 oleh Jaringan KomunitasMasyarakat Adat Aceh (JKMA) menemukanbahwa masyarakat adat belum pernahmenerima informasi mengenai program UluMasen <strong>dan</strong> juga REDD. 17Penelitian penting <strong>yang</strong> dilakukanoleh Institute for Global EnvironmentalStrategies (IGES) <strong>dan</strong> diterbitkan Juli 2010,melaporkan kekhawatiran masyarakat bahwatak a<strong>dan</strong>ya sistem penguasaan <strong>tanah</strong> <strong>yang</strong> pastiakan membuat REDD hanya bermanfaat bagi‘pemain kelas kakap’ seperti perusahaanpertambangan, kayu <strong>dan</strong> perkebunan. Tak adaijin <strong>yang</strong> diberikan berdasarkan informasi awaltanpa tekanan, <strong>dan</strong> juga tak ada dukunganpenuh (atau sebagian) serta keterlibatanmasyarakat setempat, demikian menurutpenelitian itu. “Ada bahaya <strong>yang</strong> nyata, bahwaproses REDD akan mengulangi kesalahaneksperimen di masa lalu terkait denganstrategi pengelolaan hutan <strong>yang</strong> tersentralisasi<strong>dan</strong> dipaksakan.” 18 Tampaknya tak adakemajuan: survei independen selanjutnya <strong>yang</strong>diadakan Januari 2011 <strong>dan</strong> hasilnya dimuatSumber-sumber informasi tentang REDDdalam Inside Indonesia, menemukan bahwa“akses terhadap informasi sangat kurang <strong>dan</strong>pengetahuan mengenai REDD sangatlemah.” 19Perubahan besar dalamkebijakan mengenai hakmasyarakat adatTanda-tanda perlunya perubahan dalamkebijakan hutan di Indonesia semakin nyataketika pembantu presiden KuntoroMangkusubroto pada bulan Juli mengumumkandalam suatu pertemuan internasional bahwaIndonesia akan “mengakui, menghargai <strong>dan</strong>melindungi hak-hak adat.” Kuntoromengatakan bahwa pemerintah perlu segeramengembangkan suatu peta sebagai dasar bagisemua pengambilan keputusan <strong>yang</strong> akandigunakan oleh semua kementerian <strong>dan</strong>lembaga pemerintah, juga <strong>untuk</strong> menentukanstatus hukum batas-batas wilayah hutan diIndonesia <strong>yang</strong> “menjamin diakuinya hak-hakadat.” 20 Ia menegaskan bahwa hanya sekitar12% hutan Indonesia <strong>yang</strong> telah diatur batasbatasnyasecara hukum. 21 Ia mengatakanbahwa semua tindakan mengenai <strong>tanah</strong> dimasa depan harus didasarkan atas prinsip“pengakuan, penghargaan <strong>dan</strong> perlindunganatas hak-hak adat” <strong>dan</strong> bahwa pengakuan ituharus ada sebelum <strong>tanah</strong> negara dialokasikan<strong>untuk</strong> penggunaan lain. Ia juga menjelaskanbahwa TAP MPR IX <strong>yang</strong> disahkan tahun 2001oleh ba<strong>dan</strong> tertinggi negara memberikan dasarhukum <strong>yang</strong> jelas bagi reformasi itu. 22Kuntoro menyampaikan pernyataan<strong>yang</strong> dramatis itu menyusul a<strong>dan</strong>ya tandatanda<strong>yang</strong> menggembirakan, termasukkesepakatan antara AMAN <strong>dan</strong> KementerianLingkungan Hidup <strong>untuk</strong> memberdayakanmasyarakat adat. 23 Masih perlu dilihatbagaimana keseriusan pemerintah dalammenerjemahkan kata-kata menjadi tindakan,<strong>dan</strong> bagaimana komitmen ini dijalankan didaerah seperti <strong>Papua</strong>, di mana terdapat banyakpelanggaran atas hak masyarakat adat.Laporan <strong>yang</strong> baru mengenai REDD+ di Indonesia oleh FPP, PUSAKA, HuMa <strong>dan</strong> lain-lain:http://www.forestpeoples.org/fpp-series-rights-forests-and-climate-redd-plus-IndonesiaWhat is REDD? A guide for Indigenous Communities (Apakah REDD itu? Panduan bagiMasyarakat Adat) http://www.forestpeoples.org/topics/redd-and-relatedinitiatives/publication/2010/what-redd-guide-indigenous-communitiesInside Indonesia,Terbitan 105, Juli-September 2011, Climate Change and Indonesia (PerubahanIklim <strong>dan</strong> Indonesia) http://www.insideindonesia.org/REDD-Monitor – www.redd-monitor.orgCatatan kaki artikel ini ada dalam versielektronik artikel ini di www.downtoearthindonesia.org/id•Situs web REDD-Indonesia: http://www.redd-indonesia.org/Resources on REDD21
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>BP Tangguh, setelah dua tahunInformasi terkini mengenai keadaan di proyek raksasa gas <strong>dan</strong> LNG di wilayah Kepala Burung <strong>Papua</strong> Barat, <strong>yang</strong>dioperasikan oleh perusahaan energi multinasional dari Inggris, BP.Lebih dari dua tahun telah berlalu sejakproyek gas alam cair (LNG) Tangguh mulaiberproduksi, tapi pertanyaan mengenai BP<strong>dan</strong> proyeknya senilai US$5 milyar di TelukBintuni, <strong>Papua</strong> Barat, itu masih menggantung.Peristiwa <strong>yang</strong> terjadi di belahandunia lain tahun lalu menimbulkan pertanyaan<strong>yang</strong> kurang menguntungkan bagi BP. Bencanaminyak Teluk Meksiko menggarisbawahitingginya biaya lingkungan <strong>dan</strong> sosial daripengeboran minyak <strong>dan</strong> gas. Dalam hal <strong>Papua</strong>Barat, biaya ini kurang terlihat oleh dunia luarkarena akses atas berita mengenai Tangguhsusah diperoleh akibat sulitnya transportasi<strong>dan</strong> komunikasi di wilayah itu.Meskipun terdapat risiko sosial,HAM <strong>dan</strong> lingkungan, BP terus memaksakanrencananya <strong>untuk</strong> memperluas proyek LNGTangguh: 'kereta' produksi ketiga akandibangun tahun 2014, menyusul dua keretalain <strong>yang</strong> sudah berproduksi.BP juga telah memperoleh konsesieksplorasi lepas pantai <strong>untuk</strong> minyak <strong>dan</strong> gasdi Laut Arafura, di selatan Timika, <strong>dan</strong> didugaakan merencanakan <strong>untuk</strong> mendapatkankonsesi minyak <strong>dan</strong> gas lagi di daerahsekelilingnya. Ditambah dengan empatkontrak gas metana batubara (coal bedmethane) di Kalimantan Tengah <strong>dan</strong> satukontrak proyek gas di Kalimantan Timur, 1<strong>yang</strong> baru ditandatangani, maka komitmen BP<strong>untuk</strong> memperluas kepentingannya diIndonesia semakin jelas. 2Permintaan akan LNG dari luarnegeri tetap tinggi, sementara LNG Tangguhdiekspor ke pasar Cina, A.S. <strong>dan</strong> KoreaSelatan. Jepang <strong>dan</strong> Taiwan juga merupakanimportir potensial <strong>untuk</strong> LNG Tangguh. Selainitu, BP telah melakukan pembicaraan denganberbagai pihak <strong>untuk</strong> mulai memasok LNG kepasar Indonesia. Ada laporan mengenaikontrak potensial <strong>untuk</strong> memasok LNG kepembangkit listrik di Sumatra Utara 3 <strong>dan</strong>bahkan kemungkinan <strong>untuk</strong> memasok LNG<strong>untuk</strong> pabrik petrokimia baru <strong>yang</strong> diusulkandi <strong>Papua</strong> Barat sendiri. 4Jelas bahwa permintaan ataspasokan energi <strong>yang</strong> semakin besarmendorong Indonesia <strong>untuk</strong> mencobamemenuhinya, khususnya melalui proyekTangguh. BP <strong>dan</strong> rekan Indonesianya BPMigastengah berusaha <strong>untuk</strong> memanfaatkankeadaan ini.Sementara itu, dengan latarbelakang pertumbuhan ekonomi di seluruhIndonesia, 5 dorongan <strong>untuk</strong> mendapatkankeuntungan <strong>dan</strong> pertumbuhan <strong>yang</strong> lebihbesar semakin kuat dengan a<strong>dan</strong>yapengumuman bahwa pemerintah Indonesiatengah melakukan negosiasi ulang hargaKilang LNG BP-Tangguh di Teluk Bintuni,<strong>Papua</strong> Baratkontrak penjualan LNG dengan salah satukonsumen Tangguh terbesar, China NationalOffshore Oil Corporation (CNOOC). 6Tangguh sebagai'pembangunan' dari atas kebawah <strong>dan</strong> peran TIAPAwan gelap <strong>yang</strong> menyelimuti ufuk di baliksumber keuntungan energi Teluk Bintuni iniadalah situasi politik <strong>yang</strong> berbahaya <strong>yang</strong> kiniberkembang di <strong>Papua</strong> Barat. Selama bertahuntahun,DTE telah melaporkan situasi HAM di<strong>Papua</strong> Barat <strong>dan</strong> menyoroti perlunyapemerintah <strong>dan</strong> perusahaanmempertimbangkan masyarakat setempatdalam pembuatan prakarsa baru <strong>dan</strong>penentuan kebijakan pemerintah. DTE telahmenyerukan secara terus menerus agarpembangunan harus mengakar <strong>dan</strong> menjawabkebutuhan, kepentingan <strong>dan</strong> prioritasmasyarakat setempat. Sementara itu, proyekraksasa seperti BP Tangguh terus didorongdengan alasan <strong>untuk</strong> membawa kemajuan <strong>dan</strong>pembangunan bagi <strong>Papua</strong> Barat, meskipuntujuan utama mengeruk sumber daya alamadalah <strong>untuk</strong> memenuhi permintaan akanenergi <strong>dan</strong> pasar dari negeri <strong>yang</strong> teramatjauh.Sejak dimulainya proyek Tangguh,DTE, bersama dengan berbagai ornop <strong>dan</strong>organisasi masyarakat sipil, telah menghadiripertemuan Majelis Penasehat IndependenTangguh (TIAP) guna mendorong BP agar22mengakui <strong>dan</strong> menghormati hak masyarakatatas <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong> sumber daya alam, serta <strong>untuk</strong>menanggapi kekhawatiran masyarakatsetempat atas perusahaan raksasa ini. TIAPdibentuk oleh BP tahun 2002 <strong>untuk</strong>"memberikan nasihat eksternal kepadapengambil keputusan senior terkait denganaspek non-komersial proyek LNG Tangguh".Kemandirian <strong>dan</strong> efektivitas proses TIAPsemakin dipertanyakan. Tahun 2009, LordHannay, salah seorang anggota majelis TIAP,menuduh beberapa ornop berteriak-teriaktak beralasan <strong>untuk</strong> mencari perhatian atassituasi HAM di <strong>Papua</strong>.Dua tahun telah berlalu, meskipunBP Tangguh telah melakukan usaha <strong>untuk</strong>melindungi diri dari beberapa masalah terkaitdengan kegiatannya di <strong>Papua</strong> Barat, tampaknyaproyek itu tak akan dapat menghindariterperosok dalam masalah <strong>yang</strong> lebih luas di<strong>Papua</strong>.Konflik, pembunuhan, mogok kerja<strong>dan</strong> korupsi terus menghantui tambang RioTinto-Freeport dekat Timika 7 <strong>dan</strong>meningkatnya kekerasan di <strong>Papua</strong> secaraumum berarti masalah semakin mendekatiTangguh.Komisi HAM Asia baru-baru inimelancarkan aksi mendesak mengenaipenahanan <strong>dan</strong> pemenjaraan sejumlah aktivisdengan dakwaan 'pemberontakan' karenamengibarkan bendera bintang kejora diibukota wilayah Manokwari. 8 Di awalSeptember, jurnalis <strong>yang</strong> meliput protespemilik <strong>tanah</strong> adat dipukul oleh kepala distrikdi Sorong Selatan <strong>dan</strong> asistennya <strong>dan</strong> ditekanagar membuat berita <strong>yang</strong> menguntungkanmereka. 9 Kejadian-kejadian tersebut tidakberhubungan langsung dengan BP Tangguh,tetapi menjadi bukti meningkatnya ketegangan<strong>dan</strong> ketidakpuasan di wilayah itu pascaKonferensi Damai di bulan Juli (lihat halaman6) <strong>dan</strong> perkembangan politik lainnya. Masihbanyak ketidakpuasan lain terkait dengangagalnya Otonomi Khusus <strong>untuk</strong> menganganimasalah <strong>Papua</strong>. Masalah keseimbangan jumlahpenduduk lokal <strong>dan</strong> pendatang jugamenambah ketegangan. Laporan terbarumengenai situasi umum di <strong>Papua</strong> Baratmeramalkan bahwa penduduk asli, <strong>yang</strong>sekarang berjumlah sekitar setengah dariseluruh penduduk, akan kalah jumlahnyamenjadi dua banding satu dibandingkandengan jumlah penduduk pendatang dalamwaktu sepuluh tahun mendatang. 10 Semuaketegangan ini hanya akan semakin parahdengan semakin terpinggirkannya pendudukasli setempat.(Bersambung ke halaman 16)
Nyanyian Galau, Nyanyian Harap…<strong>dan</strong> harapan <strong>untuk</strong> membangun penghidupan <strong>yang</strong> berkelanjutan.Catatan dari lokakarya <strong>yang</strong> dikerjakan bersama oleh LP3BH,Yalhimo, Mnukwar, DTE <strong>dan</strong> PPP.Nanoto tompan fo wojaro, nanototompan fo wojaroNanipun sorsoremo, nanipunsorsoremoMari lihat bintang <strong>yang</strong> naik dari lautBerdiri di puncak <strong>untuk</strong> disampaikanSesuatu <strong>yang</strong> terjadi di daerah MpurDOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>Sesuatu memang terjadi di Mpur. Lagu di atasdibuat dalam bahasa mereka, Amberbaken,oleh para peserta lokakarya perubahan iklimdi Mubrani bulan Mei 2011. Kekuatiranmengenai kondisi alam <strong>yang</strong> berubah <strong>dan</strong>membawa ketidakpastian <strong>untuk</strong> kehidupanmereka menjadi warna utama lokakaryatersebut.Amberbaken, wilayah orang Mpur,terletak di timur laut wilayah Kepala Burung,<strong>Papua</strong> Barat. Ahli linguistik, Malcolm Ross,mengatakan, hingga ditemukan bukti-bukti<strong>yang</strong> lebih kuat, bahasa Mpur/Amberbakenadalah salah satu dari tiga keluarga bahasa<strong>Papua</strong> Barat. Bahasa Mpur/Amberbaken jugapernah dicatat oleh Ethnologue 1 sebagaibahasa <strong>yang</strong> relatif independen.Setidaknya, hingga kurang dari 10tahun <strong>yang</strong> lalu, Amberbaken merupakandaerah <strong>yang</strong> cukup tertutup. Operasi militerterhadap gerakan Organisasi <strong>Papua</strong> Merdeka(OPM) di kawasan tersebut cukup gencarPeta provinsi <strong>Papua</strong> Barat. Daerahhijau tua adalah hutan primer, hijaumuda adalah hutan sekunder.Daerah abu-abu adalah distrik-distrik<strong>yang</strong> mengalami deforestasi tertinggiantara tahun 2005-2009.Sumber: JASOILsehingga membatasi akses ke sana.Namun demikian, sejarahAmberbaken tidak mencerminkan ciri suatukawasan <strong>yang</strong> tertutup sepenuhnya. Misalnya,ada cerita rakyat setempat mengenai asal usulberas masuk ke Amberbaken. Beras bukanbahan makanan asli <strong>Papua</strong>. Ceritanya begini:Ketika wilayah Kepala Burungberada di bawah kekuasaan Kesultanan TidoreMenyanyikan lagu-lagu di lokakarya,Arfu, Mei 2011ratusan tahun <strong>yang</strong> lalu, seorang lelakiAmberbaken berhasil melarikan diri daripenjara di Tidore. Ia membawa pulang oleholehistimewa. Di dalam rambut keritingnya iamenyembunyikan bulir-bulir benih padi. Sejaksaat itulah orang Mpur bertanam padi, selainsagu <strong>dan</strong> ubi sebagai bahan makanan pokokmereka.Beras lokal <strong>yang</strong> menjadikebanggaan masyarakat di sana rasanya jauhlebih enak dibandingkan raskin 2 beraspembagian dari pemerintah <strong>yang</strong> disediakan<strong>untuk</strong> rakyat miskin.Saat ini jalan Trans-<strong>Papua</strong> <strong>yang</strong>menghubungkan Manokwari <strong>dan</strong> Sorongsepanjang kurang lebih 568 km membelahAmberbaken. Trans-<strong>Papua</strong> membuat kawasanAmberbaken menjadi lebih mudah diakses,akan tetapi juga memberi jalan lebih terbukabagi orang luar <strong>untuk</strong> datang <strong>dan</strong> mengambilkekayaan alamnya. Isolasi Amberbakenkembali dibuka seperti jaman dulu, tetapi kaliini dengan cara <strong>yang</strong> jauh lebih cepat <strong>dan</strong> lebihmasif.Raungan gergaji listrik <strong>dan</strong>bulldozer memangkas hutan perawandiimbangi oleh teriakan protes para aktivislingkungan <strong>yang</strong> mengecam pembangunanjalan Trans-<strong>Papua</strong> <strong>yang</strong> melewati sebagiankawasan Cagar Alam Tambrauw Utara. 3Protes mereka menjadi cermin kekuatiranbahwa jalan baru akan membawa masukinvestasi <strong>yang</strong> sekaligus akan mengisap darahmasyarakat. Pendapatan daerah <strong>yang</strong>dihasilkan kemungkinan hanya akan mengisikocek para pejabat setempat, padahal fasiltasjalan baru akan mempercepat kerusakan alam<strong>yang</strong> disebabkan oleh pembangunanperkebunan sawit <strong>dan</strong> tambang (lihat peta, <strong>dan</strong>hal 1 tentang luasnya pembukaan hutan diprovinsi <strong>Papua</strong> <strong>dan</strong> <strong>Papua</strong> Barat).
DOWN TO EARTH No. 89-90, November 2011 Edisi Khusus <strong>Papua</strong>JASOIL, jaringan ornop keadilanlingkungan <strong>dan</strong> sosial di Manokwari, melakukanstudi khusus tentang rencana pembangunan diprovinsi <strong>Papua</strong> Barat. Setelah mempelajarisejumlah peta, kelompok tersebutmenyimpulkan bahwa antara tahun 2000 –2010 percepatan laju deforestasi terpesatterjadi di beberapa kabupaten termasuk diKabupaten Manokwari (lihat peta) <strong>dan</strong> diKabupaten Tambrauw <strong>yang</strong> baru diresmikan, dimana Amberbaken berada.Masyarakat Mpur belajar daripengalaman masyarakat transmigran <strong>yang</strong>mengelola kebun sawit <strong>dan</strong> menghadapipermasalahannya. Kampung transmigrasiterdekat hanya berjarak sekitar 60km dariAmberbaken. Kelompok transmigran jugamemperkenalkan bentuk ekonomi baru sepertiberjualan hasil kebun. Sebagian besar sayuran<strong>dan</strong> buah-buahan di Manokwari berasal darikebun transmigran. Namun para transmigranjuga melihat sendiri bagaimana kualitas <strong>tanah</strong> dikampung baru mereka menurun setelahditanami kelapa sawit.Masalah terkait berpindahtangannyapenguasaan <strong>tanah</strong> karena program transmigrasimasih <strong>berlanjut</strong> hingga hari ini, seperti apidalam sekam <strong>yang</strong> dapat berkobar kapanpun.Tuntutan pengembalian <strong>tanah</strong> oleh pemiliksebelumnya, orang <strong>Papua</strong>, tak jarang berujungdalam pertikaian <strong>yang</strong> ka<strong>dan</strong>g-ka<strong>dan</strong>gmenimbulkan korban tewas. Tidak adaseorangpun <strong>yang</strong> dapat tidur nyenyak sebelummasalah ini diselesaikan.Isok ifo burodaiimobahabimo burodaiimobahabimo mugouwaorohmonuh mogetewOrang ini kejar kitaBunuh kitaBunuh darahPakai bayar <strong>tanah</strong> ini(lagu dalam bahasa Meyakh, disusun pada waktulokakarya)<strong>Papua</strong> <strong>tanah</strong> <strong>yang</strong> kaya, <strong>yang</strong> tidak akan kekalselamanya karena banyak tangan <strong>yang</strong> inginmenikmati ‘kue’ tersebut. Mereka, <strong>yang</strong> ikutberebut kue, termasuk orang <strong>Papua</strong> <strong>yang</strong> inginmeraup keuntungan selagi berkuasa. Perebutankekuasaan politik, termasuk pemekaran, telahmemecah belah keluarga <strong>dan</strong> marga. Sejumlahorang di Amberbaken kuatir dengan gagasan<strong>untuk</strong> memecah Kabupaten Manokwari <strong>untuk</strong>menciptakan kabupaten baru Tambrauw atasnama pemekaran. Tambrauw adalah namapegunungan di wilayah tersebut. Merekaberpendapat bahwa pemekaran hanya akanmenguntungkan segelintir orang sajaketimbang meningkatkan kesejahteraanseluruh masyarakat. Menurut merekapemekaran akan memperpendek rangkaianproses negosiasi <strong>dan</strong> pengambilan keputusanantara investor <strong>dan</strong> pejabat setempat <strong>yang</strong>ingin memperkaya diri sendiri. Mereka tidakselalu dapat dipercaya.Mencari jalan keluar <strong>yang</strong>lestariInta nek <strong>Papua</strong>nek mafunowar disiyosoro bundakeilmu bwano jasa bwanoinun mbe intar waro dokonedokone<strong>Tanah</strong>ku <strong>Papua</strong><strong>Tanah</strong> <strong>yang</strong> indahAir <strong>yang</strong> sejukGunung <strong>yang</strong> ditutupi awanOleh karena ilmu <strong>dan</strong> jasa menuntutAkhirnya saya merantauTinggalkan <strong>tanah</strong> airku, <strong>Papua</strong>(lagu dalam bahasa Kebar, disusun dalamlokakarya)Orang Mpur adalah masyarakat <strong>yang</strong>berpan<strong>dan</strong>gan ke depan. Jika ada kesempatanmereka akan menyekolahkan anak-anakKisah seorang perempuan <strong>Papua</strong>Selviana Anari adalah seorang perempuanmuda guru jemaat <strong>yang</strong> menjadi salah seorangpeserta lokakarya. Tanggung jawab utamanyaadalah mengajar injil, memimpin ibadah <strong>dan</strong>mengurus umat. Pekerjaan Selviana tidakbanyak diemban oleh perempuan <strong>Papua</strong>.Sebagian besar perempuan di masyarakatnyaadalah ibu rumah tangga <strong>yang</strong> mengurusrumah, kebun <strong>dan</strong> anak. Dalam percakapannyadengan Adriana Sri Adhiati dari DTE Selvianamenguraikan sejumlah hal <strong>yang</strong> dihadapiperempuan di sana.Selviana berasal dari keluargareligius. Ayah <strong>dan</strong> suaminya juga guru jemaat.Walaupun jarang perempuan menjadi gurujemaat, pilihan Selviana menjadi guru jemaatdipan<strong>dan</strong>g sebagai hal <strong>yang</strong> wajar mengingatlatar belakang keluarganya. Untuk menjadiguru jemaat ia harus menempuh pendidikankhusus teologi setingkat SMA. Denganpendidikan seperti itu, Selviana termasukperempuan dengan pendidikan tertinggi dikampungnya.Gereja tempat Selviana mengabdimenyelenggarakan ibadah khusus <strong>untuk</strong>perempuan serta sejumlah kegiatan lain. Paraperempuan juga mendapat pelatihanketrampilan kerumahtanggaan sepertimenjahit <strong>dan</strong> memasak.Selviana mengungkapkan bahwasalah satu tantangan <strong>yang</strong> ia hadapi dalampekerjaannya adalah pemekaran wilayah.Menjaga umat adalah salah satu tugas utamaguru jemaat, setidaknya agar jumlah umattidak menyusut. Munculnya pemekaranmenimbulkan perubahan batas wilayah,termasuk wilayah di mana ia bekerja.Perubahan ini membuatnya kuatir bahwa umatakan pindah ke gereja lain <strong>yang</strong> lebih dekatdalam wilayah administrasi <strong>yang</strong> baru.Pemekaran <strong>dan</strong> pembukaan wilayah24mereka pergi dari rumah <strong>untuk</strong> mengecappendidikan tinggi, kalau perlu hingga keseberang lautan. Fasilitas pendidikan masihterbatas di wilayah mereka. Walaupunkedatangan perkebunan kelapa sawittampaknya tidak bisa dicegah, 4 selamalokakarya para peserta mengungkapkan minatmereka <strong>untuk</strong> mencari alternatif <strong>yang</strong> positifdari kebun sawit demi memajukanperekonomian setempat. Mereka berpikirseperti ini: jika kesejahteraan masyarakatmeningkat, mereka akan lebih mampu menolakgodaan <strong>untuk</strong> menjual <strong>tanah</strong> mereka. Merekatahu, seringkali <strong>yang</strong> terjadi adalah masyarakatakan jatuh miskin setelah mereka melepas ataumenjual sumber daya alam mereka. Tidak sajamereka akan kehilangan sumber daya alam<strong>yang</strong> menjadi dasar penghidupan, mereka jugaakan kehilangan hubungan budaya <strong>dan</strong>psikologis terhadap hutan mereka.nek te eyen<strong>Tanah</strong> adalah ibu kami(ungkapan dalam bahasa Mpur)(bersambung ke halaman berikut)baru oleh pembangunan jalan Trans-<strong>Papua</strong>secara tidak langsung juga mempengaruhikeputusan keluarga Selviana <strong>untuk</strong> pindahrumah. Rumah <strong>yang</strong> sekarang mereka hunidulunya adalah pondok la<strong>dan</strong>g mereka.Mereka pindah <strong>untuk</strong> mendekati sarana jalanbaru. Saat ini sekitar 25 keluarga bermukim didesa <strong>yang</strong> baru terbentuk bernamaWasanggon. Terbentuknya desa barumenguatkan alasan dilakukannya pemekaran<strong>yang</strong> membutuhkan jumlah minimal desadalam wilayah kabupaten baru.Persoalan terkait pemekaran (baikdi tingkat kabupaten maupun provinsi) tidakbanyak mendapat perhatian walaupunmemiliki dampak <strong>yang</strong> berarti terhadapmasyarakat <strong>dan</strong> ekosistem <strong>Papua</strong>. Pemekaranmembutuhkan dukungan personil tentara,pembukaan jalan <strong>untuk</strong> lebih banyakpengerukan sumber daya alam <strong>dan</strong> penetapanstruktur pemerintahan <strong>yang</strong> dapat memicuperpecahan dalam masyarakat.Lain daripada itu, Selviana jugamengungkapkan tingginya angka kematian ibu<strong>dan</strong> anak, akibat terbatasnya fasilitaskesehatan, masih merupakan masalah di sana.Pengamatannya menegaskan laporan bahwa<strong>Papua</strong> merupakan salah satu wilayah dengantingkat kematian ibu <strong>yang</strong> tertinggi diIndonesia, padahal dibandingkan negara AsiaTenggara lainnya prestasi Indonesia sudahtergolong buruk. 5Masalah lain di masyarakatnya <strong>yang</strong>diamati <strong>dan</strong> coba diatasi oleh Selviana adalahkekerasan rumah tangga terhadap perempuan,terutama dipicu oleh alkoholisme di kalanganlelaki. LP3BH, sebuah ornop di Manokwarisejak beberapa tahun terakhir berupayamenangani masalah kekerasan dalam rumahtangga dalam kaitan kerja mereka membangunkesadaran akan masalah hak asasi manusia. 6
Perampasan <strong>tanah</strong> <strong>dan</strong>perusakan ekologis adalahrumusan menujuketidakadilan iklimMemetik kelapa, Manokwari, <strong>Papua</strong> Barat (Adriana Sri Adhiati)DTE <strong>dan</strong> LP3BH di Manokwarimenyelenggarakan 'Pelatihan <strong>untuk</strong> Pelatih'dengan tema Keadilan Iklim di Manokwaripada bulan Maret 2011. Sebagai tindaklanjutnya, 5 ornop bekerjasamamenyelenggarakan lokakarya <strong>untuk</strong> parapemimpin kampung di Amberbaken.Selama lokakarya perihal keadilan iklimtidak dapat dilepaskan dari kekhawatiranmasyarakat setempat terhadappembangunan perkebunan kelapa sawit,bagaimana meningkatnya permintaan akanenergi alternatif dapat mendorong konversihutan menjadi perkebunan sawit sebagaipemasok 'energi terbarukan', <strong>dan</strong>bagaimana solusi bagi masalah satukelompok negara justru menciptakanmasalah <strong>untuk</strong> negara lain.Tanpa ada perubahan model pembangunan,solusi palsu <strong>untuk</strong> perubahan iklim, <strong>yang</strong>juga merupakan akibat dariketidakseimbangan ekologis, justru semakinmenambah masalah ekologis <strong>yang</strong> sudahada <strong>dan</strong> <strong>yang</strong> akan datang. <strong>Papua</strong>, <strong>tanah</strong><strong>yang</strong> subur dengan ketidakadilan dalamberbagai aspek kehidupan, juga akanmenjadi korban ketidakadilan iklim.(sambungan dari halaman sebelumnya)Menyadari bahwa konflik antar anggotamasyarakat dapat terjadi jika merekamenyerah terhadap tekanan dari luar,mereka mulai mencari upaya penyelesaiandi dalam diri sendiri. Mereka berupayamenguatkan <strong>dan</strong> memperbaiki aturanaturanadat.Adat sudah teruji selamaratusan tahun. Upaya memperkuat diri daridalam <strong>untuk</strong> menghadapi perubahan barusaja dimulai.1. Sebuah publikasi SIL International tentangbahasa-bahasa <strong>yang</strong> kurang dikenal, dengantujuan utama menerjemahkan Injil kebahasa-bahasa tersebut.2. raskin = beras (<strong>untuk</strong> orang) miskin3. Jubi, 7 Jan 2010, ‘Jalan Trans <strong>Papua</strong>Barat,Serobot Kawasan Cagar AlamTambrauwUtara’http://www.tabloidjubi.com/dailynews/seputar-<strong>tanah</strong>-papua/4530-jalantrans-papuabarat-serobot-kawasan-cagaralamtambrauw-utara.html4. “Medco Buka Kebun Sawit”http://vogelkoppapua.org/?page=news.detail&id=82 – berita tentang peresmian kebunkelapa sawit baru seluas 15.500 ha diSidey, dimiliki oleh anak perusahaanMedco Group. Sidey bertetangga dengandaerah Amberbaken.5. Situs WHO - Profil Kesehatan Indonesia –Indikator Dasar MDGhttp://www.searo.who.int/en/Section313/Section1520_13441.htm6. http://vogelkoppapua.org/?page=news.detail&id=190•DOWN TO EARTH adalah buletin dari Kampanye Internasional <strong>untuk</strong> KeadilanEkologis di Indonesia. Untuk berlangganan, silakan hubungi dte@gn.apc.orgTarif berlangganan edisi cetak adalah £10 per tahun bagi lembaga <strong>dan</strong> organisasi atauperorangan <strong>yang</strong> mampu membayarnya. Mohon tambahkan biaya senilai £1.50, jika Andamembayar dengan cek dalam mata uang selain Poundsterling. Harap cek dibayarkankepada Down to Earth <strong>dan</strong> kirimkan ke alamat:Down to Earth, Greenside Farmhouse, Hallbankgate, Cumbria CA82PX,England.Tel/fax: +44 16977 46266Down to Earth adalah organisasi berbentuk perusahaan swasta nirlaba, terdaftardi Inggris <strong>dan</strong> Wales (no. 6241367) kantor terdaftar: 111 Northwood Road,Thornton Heath, Surrey, CR7 8HW, UK.
Masyarakat Adat Mpur<strong>dan</strong> PembangunanSebuah film dari Mnukwardengan dukungan DTEFilm baru ini memaparkan pan<strong>dan</strong>gan masyarakat Mpur di <strong>Papua</strong> Baratmengenai rencana pembangunan di daerah mereka <strong>yang</strong> akanberdampak terhadap <strong>tanah</strong>, penghidupan <strong>dan</strong> budaya mereka.Mnukwar <strong>yang</strong> berada di Manokwari didirikan pada tahun 2007 olehsejumlah aktivis lingkungan <strong>dan</strong> keadilan sosial. Organisasi ini bertujuan<strong>untuk</strong> memfasilitasi masyarakat <strong>untuk</strong> belajar tentang hak-hak sebagaianggota masyarakat <strong>dan</strong> warga melalui pembuatan film.Mnukwar meyakini bahwa <strong>untuk</strong> memberdayakan masyarakattidak perlu biaya besar: mereka mengajar masyarakat<strong>untuk</strong> membuat film dengan menggunakan segalabentuk media <strong>yang</strong> mampu merekamgambar, misalnya dengan teleponselular sederhanasekalipun.Film ini dapat disaksikandi situs DTE:www.downtoearth-indonesia.orgPembangunan jalan Trans-<strong>Papua</strong> membelah hutan <strong>Papua</strong> BaratFoto: Adriana Sri Adhiati