Download (5Mb) - Lumbung Pustaka UNY - Universitas Negeri ...

eprints.uny.ac.id

Download (5Mb) - Lumbung Pustaka UNY - Universitas Negeri ...

DASAR-DASAR PENDIDIKAN MORAL(PKN 206)Disajikan oleh:SAMSURI, M.Ag.e-mail: samsuri@uny.ac.idJURUSAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DAN HUKUMFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMIUNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA200710 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 1


Pokok Bahasan KajianDasar-Dasar Pendidikan Moral (PKN 206)1. Dasar-dasar Pengertian Moral2. Nilai dan Norma3. Aspek-aspek Kawasan Moral4. Perkembangan Moral5. Aliran-aliran Filsafat Moral6. Pendidikan Moral10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 2


Dasar-dasar Pengertian Moral (1) Pengertian Moral :- Secara Etimologis: bhs. Latin mos (jamak: mores), berarti tata-cara atauadat-istiadat.- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1989), moral diartikan sebagaiakhlak, budi pekerti, atau susila.- Kata Moral sering disinonimkan dengan Etika, berasal dari bhs. Yunani(Ethos berarti: kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap atau caraberfikir).- Kata Moral sering juga dipadankan dengan kata akhlak (bhs. Arab, berarti:perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa manusia danmerupakan sumber timbulnya perbuatan tertentu dari dirinya secara mudahdan ringan, tanpa perlu dipikirkan dan direncanakan sebelumnya.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 3


Dasar-dasar Pengertian Moral (2)K. Bertens (1989) mengartikan etika sebagai:1. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan ataumasyarakat.2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, dan3. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dankewajiban moral (akhlak).Pengertian pertama : sistem nilai (contoh: etika Hindu, Etika Protestan, dsb)Pengertian kedua : kode etik (contoh: Etika Kedokteran, Etika Jurnalistik,Kode Etik Guru, dsb.)Pengertian ketiga: ilmu tentang tingkah laku yang baik dan buruk.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 4


Dasar-dasar Pengertian Moral (3)Etika sebagai Ilmu (Bertens, 1993; Magnis-Suseno, 1987)Etika deskriptif, mempelajari tingkah laku moral dalam arti luas,sebatas menggambarkan atau memperkenalkan dan samasekali tidak memberikan penilaian moral.Etika normatif, bertujuan merumuskan prinsip-prinsip etis yangdapat dipertanggungjawabkan secara rasional dan dapatditerapkan dalam perbuatan nyata; memberikan penilaiantingkah laku moral berdasarkan norma-norma tertentu.Meta-etika, membahas bahasa-bahasa moral; nalar moraldalam bahasa-bahasa yang memuat moralitas.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 5


Dasar-dasar Pengertian Moral (4)Perspektif Objektivistisk vs Relativistik Perspektif objektivistik: baik dan buruk itu bersifat pastiatau tidak berubah. Suatu perilaku yang dianggap baikakan tetap baik, bukan kadang baik atau kadang tidakbaik. Baik dan buruk bersifat mutlak, sepenuhnya, dantanpa syarat; pandangan universal prinsip-prinsipmoral.Perspektif relativistik: baik dan buruk suatu perilakubersifat relatif, “tergantung” kepada konteks, kultural,situasi, atau masing-masing individu. Terbatas kepadadimensi ruang dan waktu.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 6


Dasar-dasar Pengertian Moral (5)Moralitas Objeltivistik vs Relativistik: Perspektif historis (sejarah perkembanganintelektual Barat) Periode Abad Klasik: zaman Yunani Kuno (sekitar Abad ke-5 sM) Sokrates,Plato, Aristoteles. Prinsip-prinsip moral bersifat objektivistik, naturalistik, danrasional. objektivistik. Periode Abad Pertengahan: sejak keruntuhan Imperium Romawi pada Abad ke-5hingga Abad ke-15; disebut Abad Kepercayaan, pemikiran Barat dipengaruhi olehkepercayaan yangkokoh terhadap kebenaran wahyu Kristiani. Persoalan moralitasbahkan ralitas alam ditempatkan dalam kerangka pikir pada kepercayaan (iman)dibanding penalaran. spiritualistik objektivistik. Periode Abad Modern: setelah berkembang Renaisans, Aufklarung (bhs. Perancisberarti: “kelahiran kembali”).Karakteristik: naturalistik; rasional-empiris; danrelativistik. Persoalan moral sebagai persoalan duniawi bersifat relativistiksekular.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 7


Nilai dan Norma (1) Nilai (value, bhs. Inggris) diartikas sbg harga, penghargaan, penaksiran. Cabang kajian filsafat, nilai disebut aksiologi hakikat nilai. Nilai subjektif nilai dari dari suatu objek tergantung pada subjek yangmenilainya.Ciri nilai (Bertens, 1993):1. Berkaitan dengan subjek, tidak ada subjek yang menilai maka tidak adanilai.2. Nilai tampil dalam suatu konteks praktis, di mana subjek ingin membuatsesuatu.3. Nilai berkaitan dengan sifat-sifat yang “ditambah’ oleh subjek pada sifatsifatyang dimiliki oleh objek. Nilai tidak dimiliki oleh objek pada dirinya.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 8


Nilai dan Norma (2) Nilai bersifat objektif: nilai suatu objek melekatpada objeknya atau tidak tergantung padasubjek yang menilainya (pandangan filsuf sepertiPlato, dan Aristoteles, juga tokoh-tokoh aliranRealisme Modern). Hakikat nilai lebih utamadaripada pemahaman psikologis. Nilai instrinsik dan nilai instrumental.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 9


Nilai dan Norma (3)Macam-macam Nilai menurutRobert W. Richey (dalam T.Sulistiyono, 1991):1. Nilai intelektual2. Nilai personal dan fisik3. Nilai kerja4. Nilai penyesuaian5. Nilai sosial6. Nilai keindahan7. Nilai rekreasiMacam-macam Nilaimenurut Notonagoro:1. Nilai Material2. Nilai vital3. Nilai Kerohanian:a. Nilai kebenaranb. Nilai keindahanc. Nilai kebaikand. Nilai Religius10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 10


Nilai dan Norma (4)Pengertian Norma: petunjuk tingkah laku yangharus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalamhidup sehari-hari, berdasarkan suatu alasan(motivasi) tertentu disertai sanksi.Macam-macam Norma: norma agama, normakesusilaan, norma kesopanan, dan normahukum.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 11


Aspek-aspek Kawasan Moral (1) James Rest (dalam Kurtines dan Gerwitz, 1992) membagi komponenmoralitas menjadi tiga kawasan: pemikiran tentang moral, perasan moral,dan perilaku moral. Penalaran moral: suatu proses pertimbangan moral sebelum suatutindakan moral dilakukan oleh seseorang. Menurut Kohlberg (dalamLiebert, 1992): dalam penalaran moral “suatu prinsip moral tidak sekadarmerupakan aturan bagi suatu tindakan, melainkan sekaligus merupakanalasan orang bertindak.” Penalaran Moral: teori cognitive-developmental maupun behavioral-kognitif keputusan moral seseorang menunjukkan satu penalaran moral yangmemadai. Penalaran moral tidak sekadar melibatkan aktivitasintelektualitas (rasionalitas), tetapi juga hati nurani sebagai upayapertimbangan moral.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 12


Aspek-aspek Kawasan Moral (2)Perasaan Moral:Perasaan moral berorientasi kepada sentimen harga diri.1. Suatu sistem emosi dan kecenderungan yang terorganisasi, suatukelompok perasaan dan impuls yang berpusat di sekitar objek, yaitu idetentang diri sendiri (Blasi, 1992). dianggap sebagai emotivisme,karena terkait dengan masalah penilaian moral yang tidak dapat disebutsalah dan benar, hanya mengungkapkan perasaan seseorang ataukelompok orang.2. David Hume: penilaian moral tidak didasarkan kepada rasio,pertimbangan objektif, melainkan berdasarkan perasaan (Magnis-Suseno, 1997). Etika adalah PERASAAN MORAL. Unsur bersama sifatdari penilaian adalah nikmat dan kegunaan (utilitarisme).Perasaan kitatertarik kepada nikmat, maka kita terdorong untuk mengusahakan apayang diharapkan menghasilkan nikmat dan menghindari perasaan sakit.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 13


Aspek-aspek Kawasan Moral (3)Perilaku moral Perilaku moral diartikan sebagai suatu pola perilaku di dalam kerangka konteks tertentu,dengan memperhatikan proses-proses batin yang melahirkan perilaku moral tersebut. James S. Rest (1992) menyodorkan pentingnya proses batin dilihat sebagai aspek penyebabmanifestasi perilaku moral. Ada empat komponen proses pokok yang mempengaruhilahirnya perilaku moral:(1) fungsi utama untuk menafsirkan situasi, menarik inferensi tentang bagaimana orang akanterpengaruh, merasakan empatik, tidak menyenangi orang lain.(2) fungsi utama untuk merumuskan bagaimana hendaknya suatu perangkat tindakan moral;citra moral tersusun atas unsur-unsur kognitif maupun afektif.(3) fungsi utama untuk menyeleksi berbagai hasil penilaian tentang citra moral, mana yangpatut dilaksanakan atau tidak.(4) fungsi utama untuk memutuskan dan mengimplementasikan apa yang hendak dilakukan.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 14


Aspek-aspek Kawasan Moral (4)Tindakan moralTindakan moral memiliki tiga tipe (Kohlberg dan Candee, 1992):1. tipe rasionalis memandang penalaran moral sebagai suatu keharusan serta mencukupi bagi lahirnyasuatu tindakan moral. Etisi tipe ini: Immanuel Kant dan Lawrence Kohlberg.2. Tipe naturalistik berpandangan bahwa moral itu merupakan suatu keharusan, tetapi tidakmencukupi untuk melahirkan suatu tindakan moral. Etisi tipe ini: Aristoteles dan John Dewey.3. Tipe behavioristik-sosial tindakan moral merujuk kepada pola pikir sang pelaku. Etisi tipe ini:Aronfreed, Bandura, Eysenck, Havighurst dan Taba.Jenis Pertimbangan moral sebagai pusat tindakan moral (W.K. Franken, 1963 dalam Kohlberg danCandee, 1992):1. Pertimbangan DEONTIS pertimbangan yangmenyatukan atau mengharuskan bahwa sesuatutindakan itu benar. Contoh: Kant imperatif kategoris; prinsip utilitas John Stuart Mill.2. Pertimbangan atas dasar tanggung jawab mencakup suatu unsur “aretaic”, yaitu suatupertimbangantentang apa yang menurut moral itu baik, buruk, dapat dipertanggungjawabkan atau patut dicaci-maki.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 15


Teori-teori Perkembangan Moral1. Teori Struktur-Kognitif :Jean Piaget2. Teori development-kognitif :Lawrence Kohlberg10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 16


TEORI Perkembangan Moral:Struktur-Kognitif PiagetKONSEP:Perkembangan moral sebagai suatu hasil interaksi antarapelaksana aturan, pengikut atau pembuatnya secaraindividual dengan kerangka jalinan aturan yang bersangkutanyang menunjukkan esensi moralitas itu.FOKUS:sikap, perasaan (afeksi), serta kognisi dari individu terhadapperangkat aturan yang bersangkutan. (Kurtines, 1992: 513).10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 17


TEORI Perkembangan Moral:Struktur-Kognitif PiagetTEORI INI DIDASARKAN KEPADA HASILPENELITIAN PIAGET:THE MORAL JUDGEMENT OF THE CHILD (1932)ADA DUA URUTAN PERKEMBANGAN:1. PELAKSANAAN ATURAN2. KESADARAN TERHADAP ADANYA PERATURAN10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 18


TEORI Perkembangan Moral:Struktur-Kognitif PiagetPELAKSANAANPERATURANTahapMOTORACTIVITYTahapEGO-SENTRISTahapKOOPERATIFAWALTahapKODIFIKASIPERATURANUSIA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12KESADARANTERHADAPADANYAPERATURANPeraturan hanyaditiru tanpakesadaran abadiPeraturansuci, tak bolehgugat, berasaldewasa, peraturansalahbesardianggapdiganggudari orangmerubahPeraturan-peraturansbg ukuran yangmerupakankesepakatan bersama,dapat diubah kalaudisetujui oleh umum10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 20


TEORI Perkembangan Moral:Struktur-Kognitif PiagetMORAL VERBAL DAN MORAL PRAKTIS “Moral verbal selalu saja muncul, setiap kali si anak diminta untuk menimbangtindakan orang lain yang tidak langsung menarik perhatiannya atau memaksanyauntuk mengemukakan pendapatnya terhadap prinsip-prinsip umum, lepas dariperbuatannya yang aktual” (Kohlberg dan Candee, 1992: 87). Sedangkan moralitas praktis “merupakan pemikiran moral yang efektif, yangmenyebabkan anak membuat pertimbangan moral yang serupa yang akanmembimbingnya dalam setiap kasus khusus.” Pertimbangan-pertimbangan tersebutmencerminkan pemikiran anak yang sebenarnya, jauh lebih dalam dibandingkandengan kepercayaan-kepercayaan yang dikatakannya (yang verbal) dan berada dibawah tahapan formula yang dinyatakan secara lisan. Dengan demikian dapatdikatakan bahwa “Suatu permasalahan moral yang secara teoritis dihadapi seoranganak berbeda dengan praktik moralnya seperti halnya suatu permasalahanintelektual berbeda dengan praktik logisnya” (Kohlberg dan Candee, 1992: 87).10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 21


PERKEMBANGAN MORAL MENURUTLAWRENCE KOHLBERGTINGKAT PRE-KONVENSIONALTINGKATKONVENSIONALTINGKAT PASCA-KONVENSIONALTAHAP 1: ORIENTASI HUKUMAN DANKEPATUHANTAHAP 2: ORIENTASI RELATIVIS INSTRUMENTALTAHAP 3: ORIENTASI KESEPAKATAN ANTARAPRIBADI / ORIENTASI “ANAK MANIS”TAHAP 4: ORIENTASI HUKUM DAN KETERTIBANTAHAP 5: ORIENTASI KONTRAK SOSIALLEGALITASTAHAP 6: ORIENTASI PRINSI ETIKA UNIVERSAL10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 22


Tahap-tahap Kesadaran Moral menurut Kohlberg(Habermas 1976, dalam Magnis-Suseno, n.d.)1 2 3 4 5 6 7 8 9Tingkat KomunikasiTindakan2dan akibat2tindakanPeranan2Sistem2normatifPrinsip2Senang &tak senangyangdigeneralisirKebutuhan2yangdiartikanmenurutnilai2(kewajibankongkrit)KegunaanuniversalKewajibanuniversalTuntutanresiprositasResiprositastidaklengkapResiprositaslengkapResiprositastidaklengkapResiprositaslengkapIdentitasIdentitasalamiah(naturalidentity)Identitasperanan(roleidentity)Identitaskeakuan(egoidentity)Tingkat(Level)Level preconventionalLevelConventionalLevel postconventionalTahap1. Orientasihukuman danketaatan2. Hedonismeinstrumental3. Good boyorientation4. Law andorderorientation5. Legalismekontrak sosial6. Orientasipada prinsip2moralCita-cita tentanghidup yang baikMaksimalkankenikmatan melaluiketaatanMaksimalkankenikmatan melaluipertukaran hal2yang senilaiSikap2 moralkongkrit demihubungan sosialyang memuaskanSikap2 moralkongkrit sesuaidengan norma2 ygditerima umumdalam masyarakatybs.Kebebasan parawarga negara dankesejahteraan umumKebebasan moralBidangberlakunyaLingkunganalamiah dansosial (duaduanyabelumdibedakan)Kelompokkeluarga/tetangga/ kenalanWargasebangsaSetiap orangsebagai subjekhukumSetiap manusiasebagaiindividuSansksi-SansksiHukuman(ganjaranfisik takdiberikan)Rasa malu(cinta kasihdanpenghargaantidakdiberikanRasabersalah(suara hati)10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 23ReksonstruksifalsafiHedonismeEtikaperaturanHukumkodratrasionalImperatifkategorisEtika nilai


Catatan terhadap Perkembangan Moral Kohlberg• Tahap-tahap ini berlaku universal, perbedaannya hanya pada tahap mana yang tercapai dalamkebudayaan tertentu• Tahap disebut “Tahap” karena saling berhubungan dengan cara yang tidak dapat dibalikkan:Tahap tertinggi hanya dapat tercapai jika tahap yang lebih rendah telah tercapai.• Seseoang yang telah mencapai suatu tahap tertentu bukan berarti bahwa penilaiannya melulumenurut standar (norma) tahap tsb., kadang penilaiannya dengan tahap yang lebih rendah/tinggi• Mengikuti Piaget, Tahap-tahap Kohlberg adalahmengenai Perkembangan Kognitif pengambilankeputusan moral didasarkan kepada pertimbangan dan penilaian moral. Unsur-unsur emosionaltidak diperhatikan, padahal proses-proses kognitif dengan sendirinya akan ikut menentukankeadaan emosional.• Tahap-tahap tsb secara implisit berarti bahwa “makin tinggi tahapnya, maka seseorang makindewasa atau matang dalam penilaian moral.” jadi, penilaiannya bahwa Tahap 6 adalah yangtertinggi dilihat dari segi keluasan macam motivasi, persepsi terhadap norma-norma, motif-motif,serta kebulatan identitas ego yang otonom.• Level Pra-Konvensional menunjukk kepada suatu identitas alamiah (sbg pusat pelbagai perasaandan kebutuhan); Level Konvensional pada identitas peran; Level Pasca-Konvensional padaidentitas Ego. (Kohlberg dalam Habermas, 1976: 72-73)10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 24


Aliran-aliran Filsafat Moral1. TELEOLOGIS:- Hedonisme- Eudemonisme- Utilitarisme- Marxisme2. DEONTOLOGIS10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 25


HEDONISME Pengertian etimologis: Bhs. Yunani:hêdonê, berarti “nikmat/kenikmatan.” Pendirian hedonisme: pada kodratnyamanusia mengusahakan kenikmatan.Aspek negatif aliran ini ialah bahwa“manusia menghindari terhadap apa yangmenimbulkan rasa sakit. Manusia akanmengejar apa yang dapat mencapai rasanikmat.” Para filosof moral aliran ini: Aristippus(pendiri Mazhab Cyrene, + 400 sM) danEpicurus (341-271 sM). Berikutnyahedonisme mengalami transformasi kedalam faham utilisme John Stuart Mill.Ajaran pokok hedonisme (Epicurus dalam DeVos, 1987) bahwa kebajikan tertinggi terletakpada kenikmatan. Kenikmatan tidak selaluberbentuk atau bersifat jasmani/fisikKritik: Apakah segala perbuatan manusia hanyalahdemi mencapainikmat dan untuk menghindariperasaan yang menyakitkan saja. Jawaban Franz Magnis-Suseno: tidak mungkinmengembvalikan semua dorongan untukmencapai kenikmatan dan penghindaranperasaan menyakitkan. Manusia sekan-akan menjadikannya bersifatbinatang yang hanya serakah, ingin memenuhikebutuhan hidupnya dengan memperolehkenikmatan sepuas-puasnya, asalkankebutuhan kodratinya terpenuhi10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 26


EUDEMONISME Pengertian etimologis: Bhs. Yunani:eudaimonia, berarti “roh pengawal (demon)yang baik, mujur dan beruntung.” KataEudemonia lebih dititikberatkan kepadapengertian batiniah: “bahagia”, “kebahagian”(De Vos, 1987). Pendirian eudemonisme: hakekat kodratmanusia adalah mengusahakan kebahagiaan.Kesenangan adalah kebahagiaan. Sumberkebahagiaan: kekayaan, status sosial,keutamaan intelektual (Aristoteles). Para filosof moral aliran ini: Aristoteles (384-322 sM), dengan akal budi manusia dapatmencapai tujuan terakhir melalui kegiatan yangmencerminkan keutamaan intelektual maupunkeutamaan moral.Kritik terhadap eudemonisme Aristoteles: Keutamaan Aristoteles bukan merupakan hasilpemikiran, tetapi mencerminkan pandangan etisdari masyarakat Yunani ketika itu, tetapi lebihkhusus mencerminkan golongan atas di manaAristoteles hidup. Eudemonisme Aristoteles lebih bersifat elitis,bahkan membenarkan secara rasionallembagaperbudakan, yang sesungguhnya merupakanbentuk pelanggaran hak asasi manusia,sebagai sesuatu yang dianggap tidak bermoraldi jaman modern. Etika Aristoteles dan khsusunya ajaran tentangkeutamaan tidakbegitu bergunauntukmemecahkan dilema-dilema moral besaryang dihadapi sekarang (Bertens, 1993)10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 27


UTILITARISME Pengertian etimologis: utilitarisme, berarti“berguna.” Utilitarisme : bertindak sedemikian rupa hinggasebanyak mungkin orang dapat bahagia. Kita harusbertindak sedemikian rupa sehingga menghasilkansebanyak mungkin dan sedapat-dapatnyamengelakkan akibat-akibat buruk (Magnis-Suseno,1987). K. Bertens (1993) membagi utilitarisme ke dalam duakelompok besar: UTILITARISME KLASIK danUTILITARISME ATURAN. Utilitarisme Klasik yangtumbuh dari tradisi pemikiran moral di Inggris olehDavid Hume (1711-1776) dan dimatangkan olehJeremy Bentham (1748-1832). Menurut Bentham,utilitarisme sebagai dasar etis dimaksudkan untukmemperbaharui hukum Inggris, terutama hukumpidana.• Prinsip utilitasrisme klasik: the greatest happiness of thegreatest number, kebahagiaan terbesar dari jumlahterbesar. Eksponen utilitarisme klasik lainnya: JohnStuart Mill (1806-1873).• Utilitarisme Aturan (Stephen Toulmin, dkk): prinsipkegunaan tidak harus diterapkan atas salah satuperbuatan melainkan atas aturan-aturan moral yangmengatur perbuatan-perbuatan kita. Richard b. Brandtmengusulkan agar sistem aturan moral sebagaikeseluruhan diuji dengan prinsip kegunaan. Utilitarismeini sulit ketika terjadi konflik antara dua aturan moral(Bertens, 1993)Kritik terhadap Utilitarisme: Tidak selamanya benar bahwa suatu perbuatan adalahbaik jika menghasilkan kebahagiaan terbesar. Inidisebabkan utilitarisme tidak pernah membenarkanadanya paham “hak.” Padahal. Hak merupakan suatukategori moral yang sangat penting (Bertens, 1993).10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 28


MARXISME Marxisme sebagai aliran filsafat moral bukanlahsesuatu yang mengada-ada. Marxisme mendasarkanfilsafat moralnya atas fakta, yaitu rasa lapar, artinyakehendak untuk melestarikan diri atau kehendak untukhidup. Karl Marx sebagai orang yang namanya dipakaiuntuk aliran ini, sebenarnya tidak pernah menyusunsuatu etika/moralitas yang sudah lanjutperkembangannya (De Vos, 1987). Satu-satunya kriteria moral dalam Marxisme ialahmencari kenikmatan yang didasarkan ataskesempurnaan sarana-sarana produksi. Hal inidisadari karena pandangan dunia Marxisme bersifatmaterialistik (Muthahari, 1995). Moralitas Marxisme dibangun di atas kerangka konflikkelas melalui suatu revolusi. Perbuatan buruk (nonetis) Setiap perbuatan yang menguntungkan kelasyang lama yang bergantung kepada masyarakat lama.Kesempurnaan moralitas diukur dengan kriteriarevolusi. Mempercepat timbulnya revolusi tergolongbaik dan bermoral, sebaliknya jika menghambatrevolusi, maka perbuatan itu tidak bermoral(Muthahari, 1995).• Kejahatan dan kebaikan tidak seluruhnya dianggap tidakbertentangan dapat melahirkan revolusi. Seandainyakebohongan dapat melahirkan revolusi, maka kebohonganadalah tindakan bermoral. Demikian pula, jika kebenarandapat mempercepat revolusi, maka ia menjadi suatukebajikan moral. Dengan demikian antara amanat dan khianattidak bisa dibedakan, tergantung perbuatan mana yangduluan mempercepat timbulnya revolusi. Aliran Marxismehanyalah mengakui satu nilai, yaitu tidakmengenal “benturanantar-nilai.” Padahal masalah benturan nilai atau dilema moraladalah masalah penting dalam perbincangan tindakanmoral(Muthahari, 1995).Kritik terhadap pandangan moral Marxisme: tidak dapat diterima bahwa kesempurnaan masyarakatadalah satu-satunya kriteria perbuatan moral (akhlak),lantaran perkara ini bersandar pada konsep sosialismedan mengabaikan individualisme. Kesempurnaan sebagai satu-satunya kriteria moralbisa diterima, tetapi jalan revolusi sebagai satusatunyacara mencapai kesempurnaan adalahpersoalan lain (Muthahari, 1995).10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 29


DEONTOLOGIHEDONISME, EUDEMONISME, UTILITARISME, &MARXISME berorientasi kepada hasil perbuatandalam mencapai tujuan Teleologis (bhs. Yunani,thelos), terarah semata-mata kepada tujuan.Pengertian deontologis: bhs. Yunani, deon, berarti apayang harus dilakukan; kewajiban (Bertens, 1995). Peletak etika kewajiban adalah Immanuel Kant (1724-1804). Menurut Kant (Magnis-Suseno, 1997), ada satukenyataan yang baik tanpa batas, baik pada dirinyasendiri, yaitu kehendak baik. Kehendak baik, apabilamau memenuhi kewajibannya demi kewajiban.Hakekat kebajikan menurut Kant adalah kesediaanmelakukan apa yang menjadi kewajibannya. Moralitashidup berhubungan dengan kewajiban, terlepasapakah membahagiakan ataukah tidak.Suatu kehendak sesuai dengan kewajiban apabilaberdasarkan pertimbangan-pertimbangan (maksim)yang dapat diuniversalkan. Suatu maksim bersifatmoral apabila dapat diuniversalkan, dijadikan hukumumum, dan bersifat amoral atau jahat apabila tidakdapat diuniversalkan (Magnis-Suseno, 1997).Moralitas Deontologis menurut Kant diujudkan dalam bentuk“perintah” (imperatif). Kant membagi dua perintah berkaitandengan moralitas:1. Imperatif hipotetis : perintah bersyarat, “Jika mau X, kamuharus melakukan Y.” moralitas heteronom2. Imperatif kategoris : perintah yang “menunjukkan suatutindakan objektif mutlak perlu pada dirinya sendiri terlepasdari kaitannya dengan tujuanlebih lanjut.” moralitasotonomi. (Tjahjadi, 1991).Kritik terhadap deontologis Kant: Sistem moral Kant merupakan suatu etika yang suramdan kaku (rigorisme) karena seolah-olah ada kesanbahwa kita berkelakuan baik hanya jika melakukannyakarena kewajiban. Dalam Moralitas Kant, konsekuensi bisa diabaikan sajadalam menilai moralitas perbuatan kita.Contoh,perbuatan berbohong untuk melindungi nyawaseseorang agar tidak dicelakai atau dibunuh. Jika jujurtentu saja kewajiban untuk tidak berbohong membawakonsekuensi seseorang itu terancam dicelakai/dibunuh.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 30


PENDIDIKAN MORALPENDIDIKAN MORAL pendidikanmengenai prinsip-prinsip umum ttg moralitasdengan menggunakan metode pertimbanganmoral/cara-cara memberikan pertimbanganmoral.Tujuan utama Pendidikan Moral: meningkatkankapasitas berfikir secara moral dan mengambilkeputusan moral10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 31


NILAI danPENDIDIKAN NILAINILAI (VALUE) HARGA, MENGHARGAIVALUE PRINCIPLES, FUNDAMENTAL CONVICTIONS,IDEALS, STANDARDS OR LIFE STANCES WHICHACT AS GENERAL GUIDES TO BEHAVIOUR OR ASPOINTS OF REFERENCE IN DECISION-MAKING ORTHE EVALUATION OF BELIEFS OR ACTION ANDWHICH ARE CLOSELY CONNECTED TO PERSONALINTEGRITY AND PERSONAL IDENTITY (HALSTEAD,1996: 5)10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 32


PENDIDIKAN MORALINTERNALISASI NILAI DALAM PENDIDIKAN MORALKonsep Pokok Nilai:“…the principles and fundamental convictions which act as generalguides to behaviour, the standards by which particular actions arejudged as good or desirable.” (Halstead & Taylor, 2000: 169)Internalisasi nilai melalui pendidikan:….any explicit and/or implicit school-based activity to promote studentunderstanding and knowledge of values, and to inculcate the skillsand dispositions of students so they can enact particular values asindividuals and as members of the wider community. (CurriculumCorporation, 2003: 2)10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 33


PENDIDIKAN MORALINTERNALISASI NILAI DALAM PENDIDIKAN MORALKONSEP DASAR:Upaya eksplisit untuk mengajar tentang nilai-nilai, untuk membantu siswa membantumengembangkan disposisi-disposisi guna bertindak dengan cara-cara yang pasti.( … an explicit attempt to teach about values. … helps students develop dispositions to act in certainways). (Curriculum Corporation, 2003: 33)Pendekatan-pendekatan internalisasi nilai (yang dominan) melalui pendidikan: Pendekatan pendidikan karakter (prescriptive approach) berpendapat bahwa sekolah harusmemainkan peranan lebih ekstensif dalam pengajaran nilai-nilai di masyarakat dengan melaluipengajaran langsung (direct instruction), ataupun program-program yang dirancang secara khusus. Pendekatan perkembangan kognitif berpendapat bahwa pendidikan nilai-nilai atau pendidikanmoral harus didukung/dipromosikan melalui pengembangan penalaran dan mengupayakan metodemetodepengajaran seperti penalaran moral dengan menggunakan dilema moral agar dapatdikembangkan kemampuan siswa membuat keputusan-keputusan moral dan klarifikasi nilai.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 34


PENDIDIKAN MORALPENDEKATAN-PENDEKATAN (1)PENDEKATAN TUJUAN METODEINCULCATIONMoral Development untuk menginternalisasikan nilai tertentu kepadasiswa untuk mengubah nilai-nilai dari para siswa yangmereka refleksikan sebagai nilai tertentu yangdiharapkan untuk membantu siswa mengembangkan pola-polapenalaran moral yang lebih kompleks berdasarkanseperangkat nilai-nilai yanglebih tinggi.Untuk mendorong para siswa mendiskusikan alasanalasanpilihan dan posisi nilai mereka, tidak hanyaberbagi dengan lainnya, tapi untuk membantuperubahan dalam tahap-tahap penalaran moral siswa modelling penguatan positif/ negatif alternatif permainan game dan simulasi role playing episode dilema moral dengandiskusi kelompok kecilSecara relatif danargumentatif tanpamenghadirkan sebuahjawaban “benar” dengan tepat(melalui diskusi).Sumber: W. Huitt, 2004, Values Education, dlm http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/affsys/values.html. diakses 15 Juni 200410 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 35


PENDIDIKAN MORALPENDEKATAN-PENDEKATAN (2)PENDEKATAN TUJUAN METODEANALYSIS untuk membantu siswa menggunakan pikiranlogis dan penelitian ilmiah untuk memutuskanmasalah dan pertanyaan nilaiuntuk membantu siswa menggunakanpikiran rasional, proses-proses analitik, dalammenghubungkan danmengkonseptualisasikan nilai-nilai merekaUntuk membantu siswa menggunakanpikiran rasional dan kesadaran emosionaluntuk mengkaji perasaan personal, nilai-nilaidan pola-pola perilakunya diskusi rasionalterstruktur yang menuntutaplikasi rasio samasebagai pembuktian pengujian prinsip-prinsip Penganalisaan kasuskasusanalog Riset dan debatSumber: W. Huitt, 2004, Values Education, dlm http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/affsys/values.html. diakses 15 Juni 200410 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 36


PENDIDIKAN MORALPENDEKATAN-PENDEKATAN (3)PENDEKATAN TUJUAN METODEKLARIFIKASINILAIACTIONLEARNING untuk membantu siswa menjadi sadar dan mengidentifikasinilai-nilai yang mereka miliki juga yang orang lain punyai. Untuk membantu siswa mengkomunikasikan secara terbukadan jujur dengan orang lain tentang nilai-nilai mereka. Untuk membantu siswa menggunakan pikiran rasional dankesadaran emosional untuk mengkaji perasaan personal,nilai-nilai dan pola perilakunya. Tujuan tindakan dalam pembelajaran didaftar/diurutkanuntuk analisis dan klarifikasi nilai-nilai untuk memberi peluang siswa agar bertindak secarapersonal ataupun sosial berdasarkan kepada nilai-nilaimereka Untuk mendorong siswa agar memandang diri mereka sendirisebagai makhluk yang tidak secara otonom interaktif dalamhubungan sosial-personal, tapi anggota suatu sistem sosial role-playing games Simulasi Menyusun/menciptakan situasi-situasinyata/real yang bermuatan nilai latihan-latihan analisis diri (selfanalysis)secara mendalam Aktivitas melatih kepekaan (sensitivity) Aktivitas di luar kelas Diskusi kelompok kecil metode-metode didaftar/diurutkanuntuk analisis dan klarifikasi nilai-nilai proyek-proyek di dalam sekolah danpraktek kemasyarakatan Ketrampilan praktis dalampengorganisasian kelompok danhubungan antar probadi.Sumber: W. Huitt, 2004, Values Education, dlm http://chiron.valdosta.edu/whuitt/col/affsys/values.html. diakses 15 Juni 200410 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 37


Perjuangan Nilai yangmana?Sumber: KORAN TEMPO, 9-3-2006 h. A2410 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 38


PENGUKURAN MORALITASMJI = MORAL JUDGEMENT INTERVIEWLAWRENCE KOHLBERG“DILEMA MORAL HEINZ”MAS = MORAL AUTHORITY SCALEJUDGEMENT MORALDIT = DEFINING ISSUES TEST10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 39


INTERNALISASI NILAI MORAL☺TEORI SOCIAL LEARNING PERILAKU PROSOSIAL EMPATI,SENSITIVITAS TINGGI,☺ TEORI ATRIBUSI☺ TEORI PSIKOANALISA SIGMUND FREUD10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 40


PRINSIP-PRINSIP ESENSIALPEMBELAJARAN KLARIFIKASI NILAI(VALUES CLARIFICATION LEARNING)1) CRITICAL QUESTIONING AUTHORITY2) INDEPENDENT SELF-DISCOVERY3) OPEN-MINDED SEARCH FOR TRUTHS ABOUT LIFE (KINNIER, 1995: 19) Beberapa Catatan tentang pembelajaran Klarifikasi Nilai: Values Clarification menghadirkan situasi hipotetis bagi para siswa yang perlu bagi mereka untukmembuat keputusan moral. Keputusan moral harus diafirmasikan secara terbuka oleh siswa, namun bukannya tanpa kritik daripara siswa yang lainnya. Values Clarification dianggap serba merelatifkan nilai-nilai. Asumsi filosofis Values Clarification ialah filsafat eksistensialis. Filsafat ini mendukung penemuandiri (self-discovery) dan menghindari penerimaan ide-ide/keyakinan yang telah ditetapkan. Values Clarification memberikan kebebasan dan tanggung jawab kepada siswa untuk memilih nilainilaiyang mereka punyai.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 41


PENGAJARAN NILAI MORALMODEL JAMES S. REST (1983)1. MORAL SENSITIVITY2. MORAL JUDGEMENT3. MORAL DECISION MAKING4. MORAL ACTION10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 42


TIGA TIPE NILAI YANG BERKAITAN DENGANPEMBELAJARAN (EDWIN FENTON 1965)1. BEHAVIORAL VALUESnilai-nilai yang berkaitan dgn tingkah laku di ruang kelas (misal: hak siswa untukdidengar; harapan dari guru agar siswa akan ikut kegiatan pengajaran; dst.)2. PROCEDURAL VALUESnilai-nilai yang sesuai dgn cara/gaya rasional seorang investigator/penyelidik (misalmenghargai alat bukti, berfikir kritis, keinginan berpartisipasi dalam diskusi rasional; dst).Ini cocok untuk pembelajaran INQUIRY.3. SUBSTANTIVE VALUESkeyakinan yang dianut oleh individu-individu sbg hasil dari pengalaman hidup keluarga,etnik, agama atau kultural (misal: sikap thd perceraian, politik & keyakinan/kepercayaanagama, dsb). Guru perlu membantu siswa mengklarifikasi nilai-nilai melalui diskusi danself-examination.10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 43


SUSUNAN MORAL/SOSIAL KEHIDUPAN SEKOLAH DARI HASIL RISETETNOGRAFIS TENTANG KEHIDUPAN MORAL SEHARI-HARI DI RUANG KELASDAN SEKOLAH DALAM DELAPAN KATEGORI YANGTERBAGI MENJADI DUA AKTIVITAS (PHILIP JACKSON, 1993)AKTIVITAS MORAL1. MORAL INSTRUCTIONAL2. INTERVENTION PROGRAMS3. MORAL INSTRUCTION WITHIN THECURRICULUM4. RITUALS AND CEREMONIES5. VISUAL DISPLAYS WITH THE MORALCONTENTAKTIVITASPERWUJUDAN MORAL6. SPONTANEOUS MORALCOMMENTARY INTO EVERYDAYACTIVITY7. CLASSROOM RULES ANDREGULATIONS8. THE MORALITY OF THECURRICULUM10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 44


KRITIK TERHADAP RELATIVISME NILAI MORALYANG DIAJUKAN VALUES CLARIFICATION1. RELIGIOUS CONSERVATISM2. POLITICAL CONSERVATISM3. JUST ANOTHER THERAPEUTIC PARADIGMSHIFT4. INTERNAL FLAWS OF VALUES CLARIFICATION(Kinnier, 1995: 19-20)10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 45


DAFTAR BACAAN LANJUTAN Franz Magnis-Suseno, 1987, Etika Dasar: Masalah-masalahPokok Filsafat Moral, Yogyakarta: Kanisius K. Bertens. 1993, Etika, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Lili S.P. Tjahjadi, 1991, Hukum Moral: Ajaran Immanuel Kanttentang Etika dan Imperatif Kategoris, Yogyakarta: Kanisius Muchson AR., 2003, Dasar-dasar Pendidikan Moral, Yogyakarta:Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta William M. Kurtines dan Jacob L. Gerwitz (penyunting), 1992,Moralitas, Perilaku Moral dan Perkembangan Moral, Jakarta: UIPress10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 46


Catatan-catatan________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________10 February 2011 PKN 206 / Samsuri / UNY 47

More magazines by this user
Similar magazines