KONSEP LINGKUNGAN HIDUP oleh IMAM ... - Kemenag Sumsel

sumsel.kemenag.go.id

KONSEP LINGKUNGAN HIDUP oleh IMAM ... - Kemenag Sumsel

(3.) “Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidakmelihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (4.)Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamudengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaanpayah.”Ayat ini memberikan pemahaman bahwa al Quran sangat menggalakkanmanusia memperhatikan bahkan meneliti alam dan menemukan ayat-ayat yangmengatur fenomena alam. Ibnu Rusyd mengatakan “alam raya ini adalah kitab Allahpertama yang diturunan sebelum kitab-kitab lain yang berbentuk kumpulan wahyu-Nya.” Gejala alam telah berbicara kepada mereka yang mau mengganti akan ayatayatAllah yang telah dipatuhi itu (M. Imaduddin Abdurrahim, 2002: 26).Penciptaan alam raya termasuk lingkungan kosmos manusia (tanah, air danudara) telah ditentukan qadar-nya (ukurannya atau ketentuannya) yang harussenantiasa dijaga dan dilestarikan. Maka, siapa yang merusaknya berarti telahmerusak qadar Allah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran (15: 19-20):“Dan kami Telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunungdan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan kami Telahmenjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakanpula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.”Hal ini berarti bahwa masyarakat dunia membutuhkan peran agama gunamenumbuhkan kesadaran otentik dalam diri manusia, yaitu nilai-nilai agama.Nilai-nilai ini dipercaya memiliki kemampuan tinggi dalam mempengaruhisikap dan perilaku pemeluknya dalam kehidupan. Artinya, pemahaman agama saatini tidak lagi berkutak pada masalah-masalah spiritual dan eskatologis, tetapi jugaharus beranjak ke aspek-aspek nyata masyarakat pemeluknya. Dengan nilai-nilai2


agama, manusia akan memiliki kecakapan mengatasi dan ketajaman membacatanda-tanda zaman berikut kemampuan menciptakan seperangkat nilai untukmelestarikan lewat hukum dan sejumlah peraturan.Berdasarkan beberapa pendapat di atas, lingkungan sangat berguna bagikehidupan manusia. Manusia sangat membutuhkan lingkungan dan berperan dalamlingkungan hidup. Lingkungan mencakup segala sesuatu yang ada di sekitar manusia.Bahkan manusia pun dapat dikategorikan sebagai lingkungan hidup. Pembentukanlingkungan yang baik menjadi tugas dan tanggungjawab manusia. Dalam kontekstulisan ini fokusnya adalah prinsip-prinsip al Quran tentang lingkungan hidup.Pengertian LingkunganManusia wajib memelihara dan menjaga lingkungan hidup agar tetap lestaridan alami. Hal ini disebabkan, karena lingkungan menjadi bagian yang tidakterpisahkan dala kehidupan manusia. Lingkungan hidup menurut Undang-undangNomor 23 Tahun 1997, didefiniikan sebagai “kesatuan ruang dengan semua benda,daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yangmempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia sertamakhluk hidup”. Dalam pengelolaan lingkungan hidup, manusia mempunyaiperanan yang sangat penting. Karena pengelolaan lingkungan hidup itu sendiri,pada akhirnya ditujukan untuk keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumiini.Selanjutnya lingkungan hidup (Human Ecology) menurut H.A. Mattulada(1994) meliputi makhluk biologis, makhluk bermasyarakat dan sebagai insanbudaya. Dapat dikatakan, lingkungan hidup manusia terdiri atas: 1) lingkungan biofisik,2) lingkungan sosial, dan 3) lingkungan budaya. Adapun Yusuf al-Qardhawi(2002) (dalam Jalaluddin, 2008: 3) menilai lingkungan hidup meliputi yang dinamis(hidup) dan yang statis (mati).Lingkungan dinamis (hidup), lanjut al Qardhawi meliputi wilayah manusia,hewan, dan tumbuhan. Sedangkan lingkungan statis (mati) meliputi alam (thabi‟ah)yang diciptakan Allah, dan industri (shinaiyyah) yang diciptakan manusia.3


Lingkungan statis ini dapat dibedakan dalam dua kategori pokok. Pertama, bahwaseluruh alam ini diciptakan untuk kemaslahatan manusia, membantu dan memenuhisemua kebutuhan mereka. Kedua, bahwa lingkungan dengan seisinya, satu sama lainsaling mendukung, saling menyempurnakan, saling menolong, sesuai dengansunnah-sunnah Allah yang berlaku di jagat raya ini.Di sini terlihat, bahwa “naturnya” lingkungan itu berada dalam sebuah sistemtatanan yang harmonis. Menurut H.A. Mattulada (1994), saling hubungan danketergantungan antara segenap anasir melahirkan apa yang disebut “sistemlingkungan” (ecosystem). Suatu sistem yang berlaku pada lingkungan hidup sosialdan lingkungan hidup budaya, sebagai keseluruhan lingkungan hidup manusia.Ketiga lingkungan hidup (alam fisik, sosial dan budaya) itu pun berada dalam salingberhubungan dan saling ketergantungan (dalam Jalaluddin, 2008: 4).Dari pendapat di atas dapatlah disimpulkan bahwa lingkungan itu sebenarnyaada dua, yaitu lingkungan manusia dan lingkungan selain manusia atau disebut jugalingkungan alam (hewan, tumbuhan, sosial, benda, daya, keadaan dan termasukjuga perilaku manusia). Atau dengan kata lain, lingkungan mencakup segala sesuatuyang berada di sekitar manusia. Bahkan manusia pun dapat dikategorikan sebagailingkungan. Pembentukan lingkungan yang baik menjadi tugas dan tanggung jawabmanusia.Setiap lingkungan memiliki esensi keperluan memelihara kelangsungannya.Lingkungan bio-fisik, amat ditentukan kelangsungan hidupnya oleh air. Lingkungansosial kelangsungannya ditentukan oleh ketertiban hidup dan keteraturan hubungan.Sedangkan lingkungan budaya kelangsungannya ditentukan oleh kelanjutan adanyakreatifitas (daya cipta) dari pendukungnya.Berangkat dari pemahaman ini terlihat peran strategis manusia dalamhubungannya dengan pelestarian lingkungan. Nilai-nilai ajaran Islammengakomodasi peran tersebut dalam konsep Khalifah Allah fi al-Ard . Menurut M.Quraish Shihab (1992), pengertian khalifah mencakup : 1) orang yang diberikekuasaan untuk mengelola wilayah luas ataupun terbatas; dan 2) memiliki potensiuntuk mengemban tugasnya, namun juga dapat berbuat kesalahan dan kekeliruan.4


Walaupun memperoleh anugerah status khalifah, namun sebagai makhlukmanusia memiliki kelemahan. Di awal penciptaannya, para malaikat sempatmengendus sifat-sifat buruk pada manusia yang dinilai berpotensi untuk membuatkerusakan di muka bumi ( QS, 2: 30). Namun, sesuai dengan kedudukan yangdiamanatkan kepadanya, Sang Khalik menganugerahkan peralatan lengkap kepadamanusia. Adam As. sebagai manusia pertama dianugerahi ilmu pengetahuan (AsmaKullaha) dan teknologi („Aradhahum) melalui proses pendidikan langsung dariAllah, seperti dalam al-Quran (2: 31), sebagai berikut: “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlahkepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yangbenar!"”.Babakan awal penciptaan manusia ini menggambarkan adanya hubunganantara tugas kekhalifahan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), sertanilai-nilai imani. Manusia hanya akan mampu melaksanakan tugas kekhalifahandimaksud, bila didasarkan pada prinsip utamanya, yakni iman kepada Allah dankreatifitas yang bersumber dari ilmu pengetahuan yang ia miliki. Keduanyaterangkum dalam kata-kata kunci amanu dan amil al-shalihat yang mengacu kepadatugas dan tanggungjawab bersama.Pendidikan IslamSebelum kita mengartikan apa sebenarnya pendidikan Islam itu, ada baiknyakita mengetahui dahulu apa pengertian pendidikan secara luas dan arti pendidikansecara sempit. Dalam hal ini Hasan Langgulung, mengartikan pendidikan secara luas5


meliputi hampir semua bidang aktifitas manusia semenjak yang paling sederhanaseperti mencari kayu bakar untuk keperluan memasak nasi sampai kepada aktifitasyang kompleks seperti berpikir secara individu dan secara kolektif. Pendeknya iamencakup bidang-bidang yang sama luasnya dengan peradaban itu sendiri. Iameliputi bidang-bidang seperti politik, ekonomi, seni, kemiliteran, ilmu, sastra,pertukangan, pertanian, perdagangan, filsafat, matematik dan lain sebagainya.Sedang pendidikan dalam arti sempit hanya meliputi aktifitas manusia untukmemelihara kelanjutan hidupnya sebagai individu dan sebagai masyarakat. Dalamproses pemeliharaan diri ini termasuklah pewarisan berbagai nilai, ilmu, danketerampilan dari orang ke orang dan dari generasi ke generasi untuk memeliharaidentitasnya dari zaman ke zaman ( 1 Hasan Langgulung, 2003: 4).Pada pengertian lain „pendidikan‟ diartikan sebagai usaha sadar mengarahkanperkembangan manusia yang bertujuan untuk mendewasakan manusia, agar merekamampu menolong dirinya sendiri. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwamanusia memerlukan pendidikan untuk kelangsungan hidupnya (Mahmud dan TediPriatna, 2005: 81).Di kalangan ahli teologi dan ahli filsafat Islam, Pendidikan Islam dapatdiartikan sebagai usaha menurunkan sifat-sifat Allah kepada peserta didik. Contoh,Tuhan ini memiliki sifat qudrat yang dengan sifat ini dapat berbuat apa saja yangdikehendakinya, rasional maupun tidak menurut ukuran manusia. Tetapi Tuhansekaligus menempatkan dirinya sebagai Dzat dengan karakter yang rahman danrahim, sehingga betapapun agung dan besarnya kekuasaan Tuhan, Ia tetap menjadipenolong dan pelindung bagi yang tertindas dan bagi mereka yang lemah.Di perspektif ini, pendidikan Islam semakna dengan penguatan potensimanusia yang memiliki sifat Tuhan yang Qudrat sekaligus Quwwat. Sifat ketuhananini seharusnya tetap dilekatkan kepada anak didik sebagai usaha untuk menjagafitrah manusia. Tujuannya agar kelak anak didik mampu membaca tanda-tandakekuasaan (masy‟ah dan iradah) Tuhan di realita alam ini. Pun demikian, perlu jugadicatatkan bahwa pendidikan Islam dituntut mentransformasikan sifat Allah laindalam rahman dan rahim itu, sehingga potensi untuk membaca tanda-tanda6


kebesaran Tuhan itu, dapat dibombing oleh sikap dan sifat lemah-lembut denganmenebarkan rasa kasih sayang kepada seluruh hamba Tuhan (Cecep Sumarna, 2007:61-62).Makna pendidikan Islam yang demikian setidaknya dapat diambil denganasumsi bahwa manusia dalam perspektif ahli kalam dan filosof Muslim berada dalamdua posisi sinergis; hamba dan sekaligus khalifah Allah. Oleh karena itu, pendidikanIslam pada hakekatnya adalah bagaimana mempertahankan dua fungsi kemanusiaansebagai abdullah dan sekaligus khalifah Allah yang memiliki potensi untukmengalami perubahan positif-negatif baik secara jismiyah (perbuatan fisik) maupun‟aqliyah (perbuatan unfisik). Di wilayah ini, pendidikan Islam dapat diartikansebagai melakukan pemerdekaan manusia dari segala perbudakan. Sebab dalamposisi sebagai abdullah manusia, hanya tunduk dan patuh kepada Allah denganharus menafikan seluruh ilah kecuali Allah (Cecep Sumarna, 2007: 62).Ahmad Tafsir (1995: 137) mengartikan pendidikan Islam sebagai ilmupendidikan yang berdasarkan Islam, berdasarkan nilai-nilai Islami yang terdapatdalam al Qur‟an dan Sunnah Nabi. Pendapat A. Tafsir ini meski terkesan sangatsederhana, tetapi jika diperhatikan dengan menyebut bahwa dasar pendidikan Islamitu al Qur‟an dan al Sunnah, maka kajian terhadap makna pendidikan akan menjadiluas dan memerlukan waktu serta energi yang tidak sedikit. Belum kalau maknamaknaliteratur dalam ayat-ayat al Qur‟an dan Sunnah tadi didekati secarahermeuneutik, pasti akan melahirkan perbedaan yang sulit memperoleh titik temu.Omar Muhammad Al-Toumy al-Syaebany (1975: 339), menjelaskanpendidikan Islam sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupanpribadinya atau kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melaluiproses kependidikan. Usaha melakukan perubahan ini harus dilandasi oleh nilai-nilaiIslami, yakni nilai-nilai yang terdapat dalam al Qur‟an dan al Sunnah Nabi.Kalau disimpulkan dari beberapa pendapat tadi, maka pendidikan Islam itusebenarnya diperuntukkan untuk manusia itu sendiri yang akhirnya akanmembentuk abdullah (dalam arti tunduk dan patuh kepada aturan sang Pencipta),akan tetapi juga sebagai khalifah dalam arti yang lebih luas lagi. Bukan hanya7


khalifah untuk umat manusia saja, akan tetapi juga mengatur alam dan kehidupanagar lebih bersinergi dengan kehidupan manusia sesuai tuntutan Sang Pencipta tadi.Nilai-nilai Teologi PendidikanJagat raya dan seisinya ini adalah ciptaan Allah, karenanya disebut sebagaimakhluk Allah. Manusia, bumi, langit dan lainnya adalah bagian dari alam.Walaupun demikian manusia merupakan makhluk yang paling mulia. Allah telahmenciptaan manusia tidak hanya berbeda dengan makhluk lain, tetapi jugamemberikan kelebihan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Allahmenciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, seperti yang tertera dalam al-Quran (95: 4), sebagai berikut: “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya”.Sebagai makhluk yang mulia dan dianugerahi akal, maka manusia dapatberpikir, memilih, dan memilah yang benar dan yang salah, memilih yang baik danyang buruk, dan dengan akal manusia dapat mengembangkan kehidupannya. Olehkarena itu, manusia tidak boleh menimbulkan kerusakan terhadap alam danlingkungan bahkan ia harus memelihara alam dan lingkungannya seperti dalam al-Quran (30: 41), sebagai berikut: “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautdisebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepadamereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalanyang benar)”.Lebih lengkap lagi, menurut Jalaluddin ( 2002: 34-36), secara garis besarnyapotensi yang diberikan kepada manusia itu terdiri atas empat potensi utama yangsecara fitrah sudah dianugerahkan Allah kepadanya, yaitu:8


a). Hidayat al-Gharizziyat (potensi naluriah)Dorongan ini merupakan dorongan primer yang berfungsi untuk memeliharakeutuhan dan kelanjutan hidup manusia. Diantaranya dorongan berupa instinkuntuk memelihara diri, seperti makan, minum dan penyesuaian tubuh denganlingkungan. Dorongan yang kedua yaitu dorongan untuk mempertahankan diri.Bentuk dorongan ini berupa nafsu marah, bertahan atau menghindar dari gangguanyang mengancam dirinya. Dorongan yang ketiga, berupa dorongan untukmengembangkan jenis. Dorongan ini berupa naluri seksual.Ketiga macam dorongan tersebut melekat pada diri manusia secara fitrah.Diperoleh tanpa harus melalui proses belajar. Karena itu dorongan ini disebutsebagai dorongan naluriah (instinktif). Dorongan yang siap pakai, sesuai dengankebutuhan dan kematangan perkembangannya.b). Hidayat al-Hassiyat (potensi indrawi)Potensi indrawi erat kaitannya dengan peluang manusia untuk mengenalsesuatu di luar dirinya. Melalui indra yang dimilikinya, manusia dapat mengenalsuara, cahaya, warna, rasa, bau dan aroma maupun bentuk sesuatu. Jadi inderaberfungsi sebagai media yang menghubungkan manusia dengan dunia luar dirinya.Potensi indrawi yang umum dikenal terdiri atas indera penglihat, pencium,peraba, pendengar dan perasa. Namun di luar itu masih ada sejumlah alat inderadalam tubuh manusia seperti antara lain indera keseimbangan dan taktil. Potensitersebut difungsikan melalui pemanfaatan alat indera yang sudah siap pakai sepertimata, telinga, hidung, lidah, kulit dan otak maupun fungsi syaraf.c). Hidayat al-Aqliyyat (potensi akal)Hidayat ini hanya dianugerahkan Allah kepada manusia. Adanya potensi inimenyebabkan manusia dapat meningkatkan dirinya melebihi makhluk-makhluk lainciptaan Allah.Potensi akal memberi kemampuan kepada manusia untuk memahami simbolsimbol,hal-hal yang abstrak, menganalisa, membandingkan maupun membuat9


kesimpulan dan akhirnya memilih maupun memisahkan antara yang benar dari yangsalah. Kemampuan akal mendorong manusia berkreasi dan berinovasi dalammenciptakan kebudayaan serta peradaban. Manusia dengan kemampuan akalnyamampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknoogi, mengubah serta merekayasalingkungannya, menuju situasi kehidupan yang lebih baik, aman dan nyaman.d). Hidayat al-Diniyyat (potensi keagamaan)Pada diri manusia sudah ada potensi keagamaan, yaitu berupa dorongan untukmengabdi kepada sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuasaan yang lebih tinggi.Dalam pandangan antropolog, dorongan ini dimanifestasikan dalam bentuk percayaterhadap kekuasaan supernatural (believe in supernatural being).Secara ekologis pelestarian lingkungan merupakan keniscayaan yang tidakdapat ditawar oleh siapa pun dan kapan pun. Oleh karena itu, pelestarianlingkungan tidak boleh tidak harus dilakukan oleh manusia. Sedangkan secaraspiritual fiqhiyah Islamiyah, Allah memiliki kepedulian ekologis yang paripurna.Paling tidak dua pendekatan ini memberikan keseimbangan pola pikir bahwalingkungan yang baik berupa sumber daya alam yang melimpah yang diberikanAllah kepada manusia tidak akan lestari dan pulih (recovery) apabila tidak adacampur tangan manusia.Seperti yang dimuat dalam Disertasi Cecep Sumarna (2007: 4), salah satukegagalan pendidikan adalah mengantisipasi krisis lingkungan. Saat ini alam beradadalam keadaan yang labil karena terlalu banyak campur tangan manusia. KasusTsunami yang terjadi 26 Desember 2004 di Aceh, Jogyakarta dan Pangandaranpada tanggal 17 Juli 2006, yang telah menewaskan ratusan ribu orang, dalambeberapa hal kejadian ini dapat disebut sebagai kegagalan manusia modern“meramahkan” lingkungan dan hidup secara harmonis dan berdampingan denganalam. Dan, masih segar dalam ingatan kita di mana pada tanggal 2 September 2009terjadilah gempa yang mengguncang Tasikmalaya Jawa Barat yang konon mencapaiskala 7,6 SR (skala richter), gempa ini terasa juga sampai di Kota Bandung padapukul 14.50 wib selama lebih kurang 20 detik. Ribuan nyawa manusia melayang,10


kehilangan harta benda, rumah, binatang dan terlebih lagi kehilangan anggotakeluarganya. Bahkan, sampai hari ini, katanya, penanganan korban gempa termasukperumahannya belum terselesaikan.PenutupKesalahan manusia yang tak termaafkan, adalah karena terlalu mengandalkankonsep produk pemikiran manusia untuk mengatasi segala permasalahankehidupannya, tanpa mencari penyelesaiannya dengan menggunakan manual peranagama guna menumbuhkan kesadaran otentik dalam diri manusia, yaitu nilai-nilaiagama. Padahal kegagalan telah menyeret dunia ke dalam jurang penderitaan. Salahsatu diantaranya adalah dalam masalah penanganan lingkungan hidup manusia itusendiri.Untuk itu, maka diperlukan pendidikan yang selalu memadukan nilai-nilaiIlahiyat dengan nilai-nilai modern yang akan membawa dunia lebih maju pada tarafposmoderen akan tetapi dengan tetap tidak kehilangan aroma nilai-nilai ilahiyattadi.Ajaran Ilahiyat telah jelas, bukan hanya larangan merusak lingkungankehidupan dan lingkungan alam, akan tetapi juga perintah melestarikannya agarkelak sampai kepada generasi penerus pada zaman yang akan datang, sehingga nilainilaiIslami tetap lestari seperti yang umat Islam cita-citakan selama ini. Karenapelestarian alam itu membutuhkan manusia, maka campur tangan manusia tetapdiperlukan akan tetapi tentu dengan bimbingan dan arahan Tangan Tuhan yangMaha Kuasa, agar tidak terjadi kerusakan yang lebih fatal nantinya.11

More magazines by this user
Similar magazines