Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak ...

lib.unri.ac.id

Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak ...

TeknobiologiJISATJurnal Ilmiah Sains TerapanLembaga Penelitian Universitas RiauJurnal Teknobiologi, II(1) 2011: 49 – 54ISSN : 2087 – 5428Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak di SelatRupat dengan Metode CPISyahril NediFakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas RiauKampus Binawidya Km. 12,5 Simpang Baru, Pekanbaru 28293Telp.0761-7047726, Fax: 0761-674717AbstractMarine conservation is an effort that could be conducted in marine region becauseit has correlation with natural resources sustainability for future generation. Marinepollution is caused mainly by oil disposal. Various technologies had been used toprevent oil pollution in marine region. CPI (comparative performance index) methodhad been used to find out the best technology that could be implemented tocontrol oil pollution in marine area, especially Rupat Strait. The results of theresearch shown that the best technology to control oil pollution in marine area aredispersant technology, oilboom and bioremediation respectivelly. At present, dispersantand oilboom methods are still populer to prevent oil pollution in marineregion based on timing and rehabilitation cost. Bioremediation method has notbeen used to control oil pollution up to now, but it has good prospective and secureto environment to control oil pollution in the future.Key words: Oil pollution, control technology, dispersant1. PendahuluanLaut memiliki peran strategis dalam bidang ekonomidan ekologi bagi pengembangan jasa-jasa lingkungan.Secara ekonomi laut memiliki potensi besar sebagaipenghasil komoditi karena memiliki sumberdaya alamyang dapat diperbaharui (ikan, rumput laut dan lain-lain)dan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui(bahan tambang, minyak bumi, gas dan lain-lain).Secara ekologi wilayah laut merupakan bentang alamyang di tempati oleh berbagai macam ekosistem mangrove,terumbu karang dan padang lamun yang menjadi habitatbagi biota untuk hidup dan merupakan sumber nutrien bagiorganisme perairan termasuk ikan. Pelestarian wilayah lautmerupakan upaya yang harus dilakukan, karenamenyangkut kelestarian sumberdaya alam bagi generasiyang akan datang (Anwar & Gunawan 2007).Pencemaran laut dapat membahayakan kehidupan biotadan sumberdaya laut, kesehatan manusia dan nilai gunalainnya (Clark 2003). Apabila laut tercemar maka sebagiandari biomasa juga akan turut tercemar. Minyak merupakanpolutan yang memiliki potensi besar mencemari air laut.Pencemaran minyak merupakan penyebab utamapencemaran laut. Ekosistem dan biota perairan laut sangatrentan terhadap pencemaran minyak (Mukhtasor 2007).Menurut IPIECA (2000), pencemaran minyakberpengaruh besar terhadap ekosistem laut, penetrasicahaya matahari akan menurun akibat tertutup lapisanminyak. Proses fotosintesis akan terhalang pada zonaeuphotik sehingga rantai makanan akan terputus. Lapisanminyak juga menghalangi pertukaran gas dari atmosfer danmengurangi kelarutan oksigen yang akhirnya perairan tidakmampu lagi untuk mendukung kehidupan laut yang aerob.Ancaman utama pencemaran minyak terhadap biotaperairan adalah terjadinya penutupan fisik permukaan airsehingga hewan dan tumbuhan sangat beresiko kontak danterkontaminasi oleh minyak. Kura-kura, reptil laut, danburung yang hidupnya mencari makan dengan menyelamakan terkena dampak akibat pencemaran minyak diperairan, begitu juga halnya dengan biota laut lainnyatermasuk ikan (Mukhtasor 2007).Keberadaan komponen minyak di tubuh organismeikan dapat mempengaruhi cita-rasa hewan tersebut saatdikonsumsi karena adanya rasa atau aroma minyak. Hal inimerupakan masalah penting yang berhubungan dengankehidupan nelayan dan masyarakat konsumen yangmengkonsumsi hewan laut termasuk ikan hingga kembalike kondisi normal.Menurut Darmono (2001), komponen hidrokarbonaromatis dari minyak bumi seperti senyawa benzen dantoluen merupakan senyawa toksik yang mampumembunuh lansung biota perairan saat terjadinyapencemaran minyak di perairan. Efek sub-letal dari minyakmenyebabkan terganggunya kemampuan organisme laut


Syahril NediPenentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyakuntuk bereproduksi, tumbuh dan mencari makan karenapaparan konsentrasi minyak. Oleh karena itu diperlukanteknologi yang tepat untuk mengendalikan pencemaranminyak di perairan Selat Rupat untuk mencegah timbulnyaresiko terhadap kerusakan ekosistem di sekitarnya.Penggunaan oilboom, dispersant dan bioremediasimerupakan teknologi alternatif dalam mengendalikanpencemaran minyak di laut hingga saat ini. Kondisihidrooseanografi (arus, gelombang dan pasang-surut)perairan sangat menentukan dalam penentuan aspekperalatan yang digunakan sebagai teknologi pengendalian.Salah satu metode penentuan alternatif teknologi yangtepat digunakan dalam dalam pengendalian pencemaranminyak di perairan Selat Rupat adalah metode CPI. TeknikCPI merupakan teknik gabungan (composite index) yangsesuai digunakan untuk menentukan peringkat dariberbagai alternatif teknologi yang ada berdasarkan kriteriayang telah ditetapkan.2. Bahan dan Metode2.1. Metode Pengumpulan DataData yang dikumpulkan terdiri atas data primer dansekunder. Data primer diperoleh dari survei pakarsedangkan data sekunder diperoleh melalui referensiterkait. Alternatif teknologi pengendalian pencemaranminyak yang digunakan di perairan meliputi teknologimekanik menggunakan instrumen oilboom, kimiamenggunakan dispersant dan biologi dengan bioremediasi.Pemilihan responden disesuaikan dengan kondisilingkungan di sekitarnya dan memahami permasalahanyang diteliti. Penentuan responden dilakukan denganmenggunakan metode survei pakar (expert survey).Responden pakar dipilih secara sengaja (purposivesampling) dengan kriteria memiliki kepakaran sesuaidengan bidang yang dikaji. Beberapa pertimbangan dalammenentukan pakar yang akan dijadikan responden adalahsebagai berikut:a. Mempunyai pengalaman yang kompoten sesuai denganbidang yang dikaji.b. Memiliki reputasi dan kedudukan yang kompoten denganbidang yang dikaji.c. Memiliki kredibilitas yang tinggi, bersedia, dan beradadi lokasi yang dikaji.Berdasarkan kriteria tersebut, maka dipilih pakar yangmemiliki keahlian yang berkaitan dengan teknologipengendalian pencemaran minyak, antara lain, kaptenkapal, perminyakan dan ilmuwan. Data yang diperoleh darisurvei pakar dibandingkan dengan referensi terkait.2.2. Metode Analisis DataMetode analisis data yang digunakan adalah analisisperbandingan indeks kinerja (comparative performanceindex, CPI) untuk memilih perioritas jenis teknologi yangdigunakan untuk mengendalikan pencemaran minyak diSelat Rupat. Teknik CPI merupakan teknik gabungan(composite index) yang dapat digunakan untukmenentukan penilaian atau peringkat dari berbagaialternatif ke-i berdasarkan beberapa kriteria j (Marimin,2004). Formula yang dipergunakan dalam teknik CPIadalah sebagai berikut.Aij = Xij (min) x 100 / Xij (min)A (i + 1.j) = (X (i + 1.j) )/Xij(min) x 1001 ij = A ij x P jIi Keterangan:Aij = nilai alternatif ke-i pada kriteria ke-jXij (min) = nilai alternatif ke-i pada kriteria awalminimum ke-jA (i + 1.j) = nilai alternatif ke-i +1 pada kriteria ke-j(X (l + 1.j) = nilai alternatif ke-i +1 pada kriteria awal ke-jP j = bobot kepentingan kriteria ke – jI ij = indeks alternatif ke-II i = indeks gabungan kriteria pada alternatif ke-Ii = 1,2,3,…,n dan j = 1,2,3,…,mBobot kepentingan setiap kriteria digunakan metodepembobotan Eickenrode (Marimin 2004),dengan langkahlangkahsebagai berikut.• Responden diminta untuk meranking setiap kriteria.• Membuat tabulasi seperti disajikan pada Tabel 1.Tabel 1. Tabulasi untuk pembobotan setiap kriteriaKriteria Jumlah Nilai BobotRankingR1 R2 R3 ….. RnK1 Jr11 Jr12 Jr13 ….. Jr1n N1 B1K2 Jr21 Jr22 Jr23 ….. Jr2n N2 B2K3 Jr31 Jr33 Jr33 ….. Jr3n N3 B3….. ….. ….. …. ….. ….. ….. …..Km Jrm1 Jrm2 Jrm3 ….. Jrmn….. Ni BiFaktorPengaliRn-1 Rn-2 Rn-3 ….. Rn-n TotalNilai1.00Perhitungan bobot (B1 …..Bn) menggunakan rumussebagai berikut. BiNiJrijRn-1 1 1= Ni/Total Nilai= Nilai untuk kriteria ke i= Jumlah yang memilih ranking ke j, untukkriteria ke i= Faktor Pengali50


Teknobiologi Vol. II No.1 : 49 – 54ISSN: 2087 - 54283. Hasil dan Pembahasan3.1. Penilaian Kriteria Teknologi PengendalianPencemaran MinyakKajian teknologi ini bertujuan untuk menentukanurutan prioritas teknologi yang layak digunakan dalampengendalian pencemaran minyak di perairan laut,khususnya Selat Rupat Riau. Ada tiga teknik yangdigunakan untuk pengendalian pencemaran minyak diperairan, yaitu secara fisik menggunakan oilboom, secarakimia menggunakan dispersant dan secara biologimenggunakan mikroba (bioremediasi). Ketiga teknologiini memiliki kriteria yang berbeda dalam hal penilaianwaktu pemulihan, biaya yang dibutuhkan, jumlah tenagaprofesional yang terlibat, efektivitas dalam pengendalianpencemaran minyak dan ramah terhadap lingkungan.Penilaian terhadap kriteria ketiga parameter teknologi inidilakukan melalui survei pakar dan referensi terkait sepertipada Tabel 2.Tabel 2. Penilaian kriteria teknologi pengendalianpencemaran minyak di laut.Kriteria∑RamahWaktuAlternatifBiaya profesiona Efektivita bagiPemulihateknologi(US l yang s lingkungan$/Ton) terlibat (% ) n (%)(hari)(Orang)Oilboom 3 *) 12,50 20 *) 30 *) 65 *)0Dispersant 1 *) 14,9005 *) 80 *) 30 *)bioremediasi30 *) 75.000 *)Sumber : Etkin (1999), *)survei pakar10 *) 55 *) 95 *)Gambar 1. Penyemprotan dispersant untuk pengendalianpencemaran minyak (NOAA 2001)Menurut Lessard dan Demarco (2000), penggunaandispersant mampu memecah minyak yang menutupipermukaan air menjadi butiran-butiran kecil (droplets)yang terdiri atas molekul hydrophilic dan oleophilic yangmampu terdispersi ke badan air. Hasil dispersi inimenyebabkan semakin besarnya droplet minyak yang lepaske badan air sehingga mempercepat terlepasnyahidrokarbon yang mudah menguap ke atmosfir. Masuknyadroplet ke badan air menyebabkan minyak lebih mudahterdegredasi menjadi lebih kecil (Gambar 2).3.2. Penilaian kriteria teknologi tersebut dapatdiuraikan sebagai berikut:Waktu pemulihanDispersant memiliki kelebihan dibandingkan denganoilboom dan bioremediasi berdasarkan waktu pemulihan.Waktu pemulihan yang diperlukan untuk membersihkanpencemaran minyak di perairan menggunakan dispersantadalah 1 hari, oilboom 3 hari dan bioremediasi 30 hari.Dispersant merupakan bahan kimia yang mempunyaiagent permukaan yang aktif yang dikenal dengan namasurfactant. Penggunaan dispersant untuk pengendalianpencemaran minyak dapat dilakukan dengan bantuanpesawat helikopter dan kapal cepat (speed boat).Penyemprotan dispersant untuk pengendalian pencemaranminyak dapat dilihat pada Gambar 1.Gambar 2. Dispersi dapat mendegredasi minyak menjadidroplet (Lessard dan Demarco 2000)Hasil dispersi ini menyebabkan semakin besarnyadroplet minyak yang lepas ke badan air sehinggamempercepat terlepasnya hidrokarbon yang mudahmenguap ke atmosfir. Masuknya droplet ke badan airmenyebabkan minyak lebih mudah terbiodegredasi karenaluas permukaannya menjadi lebih kecil. Hal ini mencegahminyak untuk tidak terbawa oleh angin hingga ke pantaisehingga dapat mengurangi daya toksisitasnya terhadapbiota perairan dan mencegah kematian ikan dan burung.BiayaBiaya pengendalian pencemaran minyak di perairanbervariasi tergantung pada teknologi yang digunakan.Penggunaan oilboom merupakan teknologi pengendalianpencemaran minyak termurah. Biaya untuk pengendalianpencemaran 1 ton minyak dengan menggunakan oilboom51


Syahril NediPenentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyakadalah US $ 12500, dispersant US$ 14500 danbioremediasi US$ 75000.Oilboom yang telah digunakan dalam pengendalianpencemaran minyak dapat dimanfaatkan kembali (re-use)melalui pembersihan (Violeau et al 2007). Berdasarkan halitu, biaya yang dibutuhkan lebih rendah dibandingkandengan dispersant dan bioremediasi. Penggunaan oilboomdalam mengendalikan pencemaran minyak diperairandapat dilihat pada Gambar 3.Gambar 3. Penggunaan oilboom dalam pengendalianpencemaran minyak (Violeau et al 2007)Menurut Etkin (1999), beberapa faktor yangmempengaruhi biaya pengendalian pencemaran minyak diperairan adalah lokasi pencemaran minyak, jumlahkonsentrasi minyak yang mencemari perairan, tipe minyakyang mencemari, kepekaan sumberdaya alam terhadapminyak dan teknologi yang digunakan untuk pengendalian(mekanik, kimia dan biologi).Lokasi pencemaran minyak sangat menentukan biayapengendaliannya. Kawasan perairan yang peka memilikibiaya pemulihan yang lebih tinggi dibandingkan dengankawasan yang tidak peka. Selanjutnya semakin tinggikonsentrasi minyak yang mencemari perairan maka biayayang diperlukan untuk mengendalikannya juga semakintinggi.Biaya pengendalikan pencemaran minyak di perairandipengaruhi oleh tipe minyak. Heavy fuels merupakan tipeminyak yang tertinggi biaya pemulihannya, kemudiandiikuti oleh crude oil. Fuel gasoline dan light crudemerupakan tipe minyak yang termurah biayapemulihannya di perairan. Biaya pemulihan tipe minyaklighter fuels menggunakan dispersant di perairan adalahUS$ 14.934. Gasoline (lighter fuels) merupakan tipeminyak yang umumnya banyak digunakan bagi aktivitastransportasi kapal dan industi di Kota Dumai.Biaya pemulihan pencemaran minyak di perairandengan teknologi bioremediasi sangat mahal, karenabesarnya biaya pembelian peralatan utama untuk kulturorganisme dan nutrien pembiakannya. Menurut Syakti(2004), biaya yang dibutuhkan untuk memulihkanpencemaran 1 ton minyak di perairan adalah ± US$ 75000.Apabila dibandingkan dengan oilboom dan dispersantteknologi bioremediasi memiliki biaya yang lebih tinggi.Jumlah tenaga profesional yang terlibatPengendalian pencemaran minyak di perairan selalumelibatkan personel yang profesional. Dari hasil survei,jumlah tenaga manusia yang dibutuhkan denganmenggunakan teknologi dispersant lebih kecildibandingkan dengan oilboom dan bioremediasi. Jumlahtenaga yang terlibat apabila menggunakan teknologidispersant adalah 5 orang, bioremediasi 10 orang danoilboom 20 orang.Dispersant dapat disemprotkan pada polutan minyakyang mencemari perairan dengan menggunakan helikopterataupun boat, oleh sebab itu jumlah tenaga manusia yangdibutuhkan relatif kecil (± 5 orang). Penggunaan teknologioilboom melibatkan tenaga yang relatif banyak yangbertugas untuk membentangkan oilboom agar minyakterperangkap dan tidak menyebar di perairan. Jumlahtenaga profesional yang terlibat dalam operasional oilboomini dapat mencapai 20 orang. Jumlah tenaga profesionalyang terlibat dalam pengendalian pencemaran minyakdengan bioremediasi diperkirakan mencapai 10 orang.Efektifitas teknologi pengendalian pencemaranminyakBerdasarkan efektivitasnya, dispersant lebih efektifdalam pengendalian pencemaran minyak di perairandibandingkan oilboom dan bioremediasi. Pengendalianpencemaran minyak menggunakan oilboom di perairan lautkurang efektif karena adanya angin, gelombang dan arusyang kuat. Penggunaan boom efektif pada kondisi perairanyang tenang. Apabila kecepatan arus lebih dari 0,75 knotmaka lapisan minyak akan pecah menjadi butiran-butiran(droplet). Menurut Lessard and Demarco (2000), responmekanis biasanya terbatas pada ketersediaan peralatan dankondisi hidrooseanografi di laut. Efektivitas oilboom diperairan laut pada umumnya tidak melebihi tiga puluhpersen. Sebaliknya, penggunaan dispersant tidak akanefektif pada air yang tenang karena membutuhkan gerakangelombang agar dispersant dapat tercampur sempurnadengan minyak.Efektivitas bioremediasi terhadap pengendalianpencemaran minyak lebih baik dibandingkan denganoilboom, namun metode ini membutuhkan waktu yangrelatif lama. Bioremediasi adalah suatu carapenanggulangan pencemaran minyak denganmemanfaatkan mikroorganisme tertentu yang dapatmendegredasi minyak. Mikroorganisme pengurai minyakyang biasa digunakan adalah sianobakteria dan alga biru.Komponen minyak bumi yang mudah didegradasi olehbakteri merupakan komponen terbesar dalam minyak bumiyaitu alkana yang mudah larut dalam air dan terdifusi kedalam membran sel bakteri. Pertumbuhan selmikroorganisme untuk menguraikan minyak bergantungpada suplai oksigen yang mencukupi dan ketersediannitrogen sebagai sumber nutrien. Seiring denganberkurangnya konsentrasi minyak dan substrat makapopulasi bakteri pengurai minyak jumlahnya akanberkurang hingga hilang (Sin et al 2001).52


Teknobiologi Vol. II No.1 : 49 – 54ISSN: 2087 - 5428Ramah LingkunganPengendalian pencemaran minyak dengan teknologibioremediasi lebih ramah terhadap lingkungandibandingkan oilboom dan dispersant. Wilayah rawa danpantai dengan vegetasi hutan mangrove secara ekonomismemerlukan prioritas utama untuk dilindungi namunberdasarkan pertimbangan ekologi penggunaan dispersantdapat menyebabkan kerusakan ekosistem (IPIECA 2001).Menurut OSIR International Oil Spill Data base, padatahun 1960 an, 90% dari penanganan pencemaranminyak di perairan laut menggunakan dispersant, dan terusmengalami penurunan. Pada tahun 1970 penggunaandispersant menjadi 52.2 %, tahun 1980 38 % dan padatahun 1990 menjadi 28.4 % (Etkin. 1999). Penurunanpemakaian ini disebabkan karena dispersant bersifat toksikdan persisten terhadap lingkungan. Oleh sebab itu strategipembersihan pencemaran minyak menggunakan caramekanik (oilboom dan skimmer) telah banyak digunakantergantung pada kondisi hidrooseanografi perairan. Padasaat ini teknologi pembersihan minyak denganmenggunakan cara biologi (bioremediasi) mulaidikembangkan untuk mencegah dampak negatifpenggunaaan dispersant terhadap lingkungan.3.3. Prioritas Teknologi Pengendalian PencemaranMinyak di Selat RupatBerdasarkan analisis menggunakan metode CPI(comparative performance Index), alternatif penggunaanteknologi pengendalian pencemaran minyak di Selat Rupatdapat dilihat pada Gambar 4.Berdasarkan Gambar 4, alternatif penggunaandispersant untuk pengendalian pencemaran minyak diSelat Rupat merupakan pilihan utama (peringkat I),kemudian diikuti oleh oilboom (peringkat II) danbioremediasi (peringkat III). Pertimbangan ekonomi danekologi berperan penting sebagai skenario penggunaandispersant. Prioritas penyemprotan dispersant pada areapantai wisata atau dermaga dapat menjadi pertimbangansecara ekonomi. Wilayah perairan yang peka terhadapminyak seperti pantai yang memiliki vegetasi mangrovesecara ekonomis memerlukan perlindungan prioritasnamun berdasarkan pertimbangan ekologi penggunaandispersant dapat menyebabkan kerusakan ekosistem(IPIECA 2001). Dispersant merupakan zat pengemulsi daricampuran hidrokarbon aromatik fenol, dan senyawa laindengan konsentrasi tinggi yang toksik terhadap kehidupanlaut. Oleh sebab itu alternatif pengendalian secara fisikmenggunakan oilboom perlu dipertimbangkan.Oilboom berfungsi sebagai perangkap melingkarpolutan minyak di perairan agar tetap pada lokasi tertentusehingga minyak di perairan tidak menyebar kemudiandilakukan penyedotan dengan menggunakan skimmer. Oilskimmer berfungsi mengambil minyak dari permukaan airberdasarkan berat jenis, tegangan permukaan dan mediumbergeraknya. Penggunaan oilboom dan skimmer akanefektif pada kondisi perairan yang tenang. Apabilakecepatan arus melebihi 0,75 knot maka lapisan minyakakan pecah menjadi butiran-butiran (droplet) sehinggatidak lagi efektif. Selain itu, kecepatan arus dan gelombangyang tinggi dapat menyebabkan posisinya oilboommenjadi miring yang menyebabkan minyak lepas dariperangkap boom dan menyebar ke sekitarnya.Bioremediasi merupakan cara penanggulangan minyakyang paling aman bagi lingkungan (Munawar et al. 2007).Bioremediasi menggunakan mikroorganisme penguraiminyak banyak terdapat di lingkungan sepertisianobakteria dan alga biru. Pertumbuhan selmikroorganisme untuk mendegredasi minyak tergantungpada suplai oksigen yang mencukupi dan nitrogen sebagaisumber nutrien. Seiring dengan berkurangnya konsentrasiminyak dan berkurangnya substrat maka populasi bakteripengurai minyak ini jumlahnya berkurang hingga hilang(Sin et al. 2001).Penggunaan bioremediasi merupakan alternatif ke tiga,karena teknik ini memerlukan waktu yang lebih lama danbiaya yang lebih besar dalam pengendalian pencemaranminyak di perairan hingga saat ini. Pada umumnyapenggunaan dispersant dan oilboom dalam pengendalianpencemaran minyak di perairan laut masih populer karenapertimbangan waktu dan biaya dalam pemulihanlingkungan perairan terhadap pencemaran minyak.Komponen waktu merupakan hal penting, karena waktuyang lama dalam pengendalian pencemaran minyak dapatmembentuk opini yang merugikan stakeholders terkait.Pertimbangan biaya (cost) juga merupakan hal penting darisisi ekonomis agar pengendalian pencemaran minyak dapatdilakukan secara efisien dan efektif.Berhubungan dengan perlengkapan kapal,Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2006 jugamenjelaskan tentang perlengkapan kapal baik dalamoperasi maupun penanggulangan pencemaran minyak.Berkaitan dengan sanksi, Undang-undang Nomor 32Tahun 2009 tentang Perlindungan dan PengelolaanLingkungan Hidup akan memberikan sanksi pidana yangberat bagi setiap orang yang dengan sengaja merusaklingkungan.Para produsen minyak dan gas harus memiliki protap(prosedur tetap) dan fasilitas penanggulangan pencemaranminyak yang cukup memadai untuk digunakan dalampengendalian pencemaran minyak dan penanggulanganbencana pencemaran minyak yang terjadi diluarlingkungan pelabuhan (ADPEL 2008).4. KesimpulanPencemaran minyak merupakan penyebab utamapencemaran laut di Selat Rupat. Pengendalian pencemaranminyak di perairan dapat dilakukan dengan teknologi53


Syahril NediPenentuan Prioritas Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyakmekanik menggunakan oilboom, kimia menggunakandispersant dan biologi menggunakan bioremediasi.Berdasarkan kriteria penilaian waktu pemulihan, biayayang dibutuhkan, jumlah tenaga profesional yang terlibat,efektivitas dan ramah lingkungan penggunaan dispersantmerupakan prioritas utama dalam mengendalikanpencemaran minyak di laut, kemudian diikuti oleh oilboomdan bioremediasi.Dispersant dan oilboom masih populer digunakan diperairan laut hingga saat ini karena pertimbangan waktudan biaya pemulihan lingkungan perairan terhadappencemaran minyak. Penerapan bioremediasi perludipertimbangkan di masa yang akan datang karena lebihramah terhadap lingkungan.Daftar Pustaka[ADPEL]. Administrator Pelayaran Dumai. 2008. ProsedurTetap Penanggulangan Tumpahan Minyak di PerairanDumai dan Sekitarnya. Dumai. ADPEL PelabuhanKelas I Dumai.Anwar C dan Gunawan H. 2007. Peranan Ekologis danSosial Ekonomis Hutan Mangrove dalam MendukungPembangunan Wilayah Pesisir. ProsidingEkspose Hasil-Hasil Penelitian 20 September2006. Padang. Konservasi dan RehabilitasiSumberdaya Hutan.Clark RB. 2003. Marine Pollution. New York. OxpordUniversity Press.Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran.Jakarta. UI Press.Etkin DS. 1999. Estimating Cleanup Costs for Oil Spills.Oil Spill Intelligence Report. Massachusetts. InternationalOil Spill Conference.[IPIECA] International Petroleum Industry EnvironmentalConservation Association. 2000. Biological Impactsof Oil Pollution: Fisheries. London. ReportSeries Vol.VIII).[IPIECA] International Petroleum Industry EnvironmentalConservation Association. 2001. Dispersants andTheir Role in Oil Spill Response. London. 2ndedition, November 2001.Lessard R.R & Demarco G. 2000. The Significance of OilSpill Dispersants. Spill Science & TechnologyBulletin, Vol. 6, No. 1, pp. 59-68, ElsevierScienceMarimin. 2004. Pengambilan Keputusan Kreteria Majemuk.Teknik dan Aplikasi. Jakarta. Gramedia WidiasaranaIndonesia.Mukhtasor. 2007. Pencemaran Pesisir dan Laut. Edisi I.Jakarta. Pradnya Paramita. 231 hal.Munawar, Mukhtasor, dan Tini S. 2007. BioremediasiTumpahan Minyak Mentah dengan Metode BiostimulasiNutrien Organik di Lingkungan PantaiSurabaya Timur. Surabaya. Berk. Penel. Hayati:13 (91–96).Shin SW, Pardue HJ, Jackson AW and Choi JS. 2001.Nutrient Enhanced Biodegredation of Crude Oilin Tropical Salt Marshes. wshin@knu.ac.kr.Water, Air, and Soil Pollution 131: 135–152,2001. Netherlands. Kluwer Academic Publishers.Syakti AD. 2004. Hidrokarbon Minyak Bumi di PerairanLaut. Bogor. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisirdan Lautan Institut Pertanian BogorUndang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun2009 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.Jakarta. Sekretariat Negara.Violeau D, C. Buvat , K. Abed M and Nanteuil. 2007.Numerical modelling of boom and oil spill withSPH. Coastal Engineering 54 (2007) 895–913.Science Direct.www.elsevier.com/locate/coastaleng.54

More magazines by this user
Similar magazines