Mengenali Jurus Aksi Korporasi Emiten - Web Blog Agus Dwi Sasono

agusdwisasono.dosen.narotama.ac.id

Mengenali Jurus Aksi Korporasi Emiten - Web Blog Agus Dwi Sasono

CASE 3

Mengenali Jurus Aksi Korporasi Emiten

(STOCK SPLIT DAN REVERSE STOCK)

Dr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak

Secara teoritis motivasi yang melatar belakangi perusahaan melakukan stock split

serta dampak yang telah ditimbulkannya tertuang dalam beberapa teori antara lain

Trading Range Theory dan Signalling Theory (Mason, 1998).

Trading Range Theory menyatakan bahwa stock split akan meningkatkan likuiditas

perdagangan saham. Pihak yang mendukung split berkeyakinan bahwa harga saham

yang lebih rendah akan menambah kemampuan saham tersebut untuk diperjualbelikan

setiap saat dan meningkatkan efisiensi pasar, akan menarik investor menengah dan kecil

untuk melakukan investasi. Teori ini menyatakan bahwa pihak yang mendukung split

berkeyakinan bahwa harga saham yang lebih rendah akan menambah kemampuan

saham tersebut untuk diperjualbelikan setiap saat dan meningkatkan efisiensi pasar,

sehingga akan menarik investor menengah dan kecil untuk melakukan investasi.

Dengan adanya stock split, saham emiten di pasar akan lebih murah dan jumlahnya

pun akan lebih banyak. Dengan kondisi seperti ini, maka perdagangan saham pelaku

stock split diharapkan bisa lebih likuid dan kemampuannya menggalang dana untuk

perusahaan makin baik. Selain itu, dengan murahnya harga saham tersebut,

kesempatan masyarakat luas untuk ikut memiliki saham ini akan semakin tinggi.

Signalling theory menyatakan bahwa stock split memberikan sinyal yang positif karena

manajer perusahaan akan menginformasikan prospek masa depan yang

baik dari perusahaan kepada publik yang belum mengetahuinya. Alasan sinyal ini

didukung dengan adanya kenyataan bahwa perusahaan yang melakukan stock split

adalah perusahaan yang mempunyai kinerja yang baik. Teori ini menyatakan bahwa

stock split memberikan informasi kepada investor tentang peningkatan return masa

depan yang substantial. Jadi jika pasar tereaksi terhadap pengumuman stock split,

reaksi ini tidak semata-mata karena informasi stock split yang tidak mempunyai nilai

ekonomis tetapi karena mengetahui prospek masa depan yang bersangkutan.

Pengertian Stock Split

Stock split merupakan fenomena yang biasa terjadi dalam suatu perusahaan. Secara

sederhana, stock split berarti memecah selembar saham menjadi n lembar saham.

Stock split mengakibatkan bertambahnya jumlah lembar saham yang beredar tanpa

transaksi jual beli yang mengubah besarnya modal. Stock split merupakan

perubahan nilai nominal per lembar saham dan menambah jumlah saham yang beredar

sesuai dengan faktor pemecahan (split factor). Harga per lembar saham baru setelah

stock split adalah sebesar 1/n dari harga sebelumnya. Stock split biasanya dilakukan

pada saat harga saham dinilai terlalu tinggi sehingga akan mengurangi kemampuan

Dr. Agus Dwi Sasono., SE., MSi.,Ak Page 1


investor untuk membelinya. Dengan demikian, sebenarnya stock split tidak menambah

nilai dari perusahaan atau dengan kata lain stock split tidak mempunyai nilai ekonomis.

Untuk melihat pengertian stock split ini, maka penulis mengemukakan

pendapat dari beberapa ahli ekonomi yang memberikan defenisi dari stock split.

Harrison dan Horngren (2004) menyatakan “A stock split is an increase in the number of

authorized, issued, and outstanding shares of stock, coupled with a proportionate

reduction in the stock’s par value” (p. 433). Sedangkan Edmons, McNair, Milam, dan

Olds (2001) menyatakan sebagai berikut “A more dynamic way of lowering the market

price of a corporation’s stock is trough a stock split. A stock split merely removes the old

shares from the books and replaces them with new shares” (p. 534).

Secara teoritis stock split tidak memiliki nilai ekonomis karena stock split hanyalah

mengganti saham yang beredar dengan cara menurunkan nilai pari saham sedangkan

saldo modal saham dan laba yang ditahan tetap sama. Banyaknya peristiwa stock split

di pasar modal memberikan indikasi bahwa stock split merupakan alat yang penting

dalam praktik pasar modal karena stock split menjadi salah satu alat manajemen

untuk membentuk harga pasar perusahaan, dan dalam praktik di pasar modal apabila

perusahaan tersebut mempunyai kinerja yang bagus maka harga akan meningkat lebih

cepat.

Keputusan untuk melakukan stock split oleh suatu emiten atau perusahaan merupakan

kesepakatan para pemegang saham yang dibicarakan dalam Rapat Umum Pemegang

Saham (RUPS). Umumnya pemegang saham mayoritas adalah pihak pengelola

perusahaan tersebut, sehingga dapat dikatakan keputusan ini cenderung

menguntungkan pihak perusahaan, karena dengan melakukan stock split pihak

perusahaan mengharapkan agar saham tersebut menjadi lebih likuid dipasaran. Stock

split adalah langkah perseroan dalam meningkatkan jumlah saham tanpa mengubah

modal pemegang saham dan nilai pasar secara agregat. Bagi para emiten, hal ini

berhubungan dengan teori sinyal yang mengungkapkan keterpaduan kebijakan dividen

dan stock split. Secara umum, stock split akan cenderung meningkatkan

kinerja pasar.

Pada hari pencatatatan terakhir, kecenderungan harga saham akan naik dibandingkan

dengan harga sekarang. Seberapa besar kenaikannya tergantung target harga stock

split-nya.

Bila target harga saham baru sesudah stock split Rp 4.000 maka harga saham sebelum

stock split akan cenderung naik setara Rp 8.000. Namun demikian hari-hari menuju

target tersebut akan terjadi fluktuasi kenaikan dan penurunan harga saham yang

dipengaruhi oleh faktor lain baik peristiwa dalam negeri maupun global. Menuju hari

pencatatan terakhir, harga saham yang terbentuk merupakan harga penyesuaian. Para

investor yang sudah berpengalaman dalam membeli saham dengan tujuan

mendapatkan dividen akan mencari waktu dan harga yang tepat pada kurun waktu

tersebut.

Sebagian besar perusahaan dapat mendistribusikan laba atau keuntungan mereka

kepada pemegang saham dalam bentuk pemecahan saham, dimana pemegang saham

tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memperoleh tambahan saham

Dr. Agus Dwi Sasono., SE., MSi.,Ak Page 2


tersebut.. pada niali saham per value tertentu, secara murni distribusi saham

tersebut hanya mempengaruhi perusahaan saham secara “ kosmetik “. Hal ini berarti

bahwa stock split merupakan upaya pemolesan oleh perusahaan agar terlihat lebih

menarik dimata investor sekalipun tidak meningkatkan kemakmuran. Tindakan stock split

akan menimbulkan efek fatamorgana bagi investor, yaitu investor akan merasa seoleholah

menjadi lebih makmur karena memegang saham dalam jumlah yang lebih banyak.

Dengan demikian, stock split sebenarnya merupakan tindakan perusahaan yang tidak

memiliki nilai ekonomis. Misalnya, jumlah saham yang beredar 1 juta lembar dengan

nilai Rp.1000/lbr, maka nilai ekuitas perusahaan adalah sebesar 1 juta X Rp.1000 = 1

M. Perusahaan memecah satu lembar saham menjadi 2 lembar saham , sehingga harga

per lembar saham baru adalah Rp.500- dan jumlah saham yang beredar menjadi

sebanyak 2 juta lembar. Nilai ekuitas perusahaan tidak berubah, yaitu tetap sebesar 2

juta X Rp.500- = Rp. 1 M.

Kombinasi antara peristiwa pembagian dividen dengan peristiwa stock split

nampaknya merupakan upaya memberikan sinyal yang positif. Dengan pemilihan

waktu dan harga yang tepat dalam kurun waktu tersebut, maka investor akan

mendapat dividen tanpa atau dengan penurunan nilai pada harga sahamnya. Dapat

dipastikan hal tersebut akan terwujud dengan prasyarat tidak terjadi peristiwa politik

yang dapat mengejutkan pasar.

Dengan adanya stock split, saham emiten di pasar akan lebih murah dan

jumlahnya pun akan lebih banyak. Dengan kondisi deperti ini, maka perdagangan

saham pelaku stock split diharapkan bisa lebih likuid dan kemampuannya menggalang

dana untuk perusahaan akan semakin baik. Selain itu, dengan murahnya harga saham

tersebut, kesempatan masyarakat luas untuk ikut memiliki saham ini akan semakin tinggi.

Jenis-Jenis Stock Split

Menurut pendapat Erwijaya (1999), pada dasarnya ada dua jenis stock split yang

dapat dilakukan yaitu stock split-up dan stock split-down.

1. Stock split-up adalah penurunan nilai nominal per lembar saham yang

mengakibatkan bertambahnya jumlah saham yang beredar. Misalnya stock split

dengan faktor pemecahan 2:1, 3:1, dan 4:1. Stock split dengan faktor pemecahan 2:1

maksudnya adalah dua lembar saham baru (lembar setelah stock split) dapat ditukar

dengan satu lembar saham lama (lembar sebelum stock split). Stock split

dengan faktor pemecahan 3:1 maksudnya adalah tiga lembar saham baru (lembar setelah

stock split) dapat ditukar dengan satu lembar saham lama (lembar sebelum stock split)

dan seterusnya.

2. Stock split-down adalah peningkatan nilai nominal per lembar saham dan

mengurangi jumlah saham yang beredar. Misalnya pemecahan turun dengan faktor

pemecahan 1:2, 1:3, 1:4. Stock split dengan faktor pemecahan 1:2 maksudnya adalah satu

lembar saham baru (lembar setelah stock split) dapat ditukar dengan dua lembar saham

lama (lembar sebelum stock split). Stock split dengan faktor pemecahan 1:3 maksudnya

adalah satu lembar saham baru (lembar setelah stock split) dapat ditukar dengan tiga

lembar saham lama (lembar sebelum stock split) dan seterusnya. Para emiten sampai

sampai saat ini hanya melakukan stock split naik (stock splits-up). Dan jarang terjadi

Dr. Agus Dwi Sasono., SE., MSi.,Ak Page 3


kasus reverse stock. (h. 56-57)

New York Stock Exchange (NYSE) juga mengatur kebijakan mengenai pemecahan

saham. NYSE membedakan stock split menjadi dua, yaitu :

1. Pemecahan saham sebagian (partial stock split) adalah adalah tambahan

distribusi saham yang beredar sebesar 25 % atau lebih kurang dari 100% dari

jumlah saham beredar yang lama.

2. Pemecahan saham penuh (full stock split) adalah tambahan distribusi saham yang

beredar sebesar 100% atau lebih dari jumlah saham yang beredar lama.

Di Indonesia, para emiten sampai saat ini hanya melakukan stock split naik, dan belum

pernah terjadi kasus stock split turun.

Alasan Melakukan Stock Split

Para ahli keuangan melakukan penelitian terhadap beberapa manajer perusahaan

yang melakukan stock split. Dari hasil penelitian mereka, dapat disimpulkan berbagai

alasan para manajer perusahaan dalam melakukan stock split adalah sebagai berikut:

1. Sebagian besar manajer perusahaan yang melakukan split percaya bahwa stock

split akan mengembalikan harga saham pada kisaran perdagangan yang optimal

yang selanjutnya dapat menambah daya tarik investor untuk memiliki saham tersebut

sehingga membuat saham likuid untuk diperdagangkan. Hal ini akan mengubah

investor add lot menjadi round lot. Investor add lot adalah investor yang membeli

saham kurang dari 500 lembar saham (< 1 lot). Sedangkan investor round lot

adalah investor yang melakukan pembelian saham minimal 500 lembar atau

minimal 1 lot.

2. Secara teoritis, motivasi yang melatarbelakangi perusahaan melakukan stock split

serta efek yang ditimbulkannya tertuang dalam beberapa hipotesis yakni hipotesis

signaling dan liquidity. Penjelasan ini didukung oleh adanya pandangan bahwa

perusahaan yang melakukan stock split akan menambah daya tarik investor akibat

semakin rendahnya harga saham. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari

Sulistyastuti (2006) yang menyebutkan bahwa “Tujuan emiten melakukan

pemecahan nilai nominal saham adalah untuk meningkatkan likuiditas saham. Saham

yang berharga mahal tidak memiliki likuiditas yang tinggi. Untuk meningkatkan

likuiditasnya, emiten melakukan pemecahan saham” (h. 27).

3. Harga saham yang semakin rendah akan menambah kemampuan saham

tersebut untuk diperjualbelikan setiap saat dan akan meningkatkan efisiensi

pasar.

4. Pemecahan saham juga seringkali merupakan langkah menjelang merger atau

akuisisi. Harga saham yang relatif sebanding akan memudahkan negoisasi

merger dan akuisisi yang dilakukan dengan cara penukaran saham.

Dr. Agus Dwi Sasono., SE., MSi.,Ak Page 4


Kerugian Dilakukannya Stock Split

Selain keuntungan yang diperoleh dari stock split, terdapat kerugian antara lain:

1. Manfaat yang illusionistis dari stock split yang dilakukan bagi para pemodal adalah

biaya surat saham akan naik karena kepemilikan yang tadinya cukup diwakili

selembar saham kemudian menjadi 2 lembar saham, biaya back office di perusahaan

efek, biaya klirring dan biaya kustodian dipengaruhi oleh jumlah fisik surat saham

yang dikelola.

2. Adanya biaya pemecahan, yang termasuk didalamnya biaya transfer agen untuk

proses sertifikat dan biaya lainnya dapat menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

Sedangkan bagi pemegang saham tidak terdapat kerugian akibat dilakukan stock

split.

3. Menurut Darmadji (2004) dampak dari stock split terhadap pemegang saham

adalah : Jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham menjadi bertambah

banyak dengan nilai nominal per saham yang lebih kecil, tapi bersamaan dengan itu

pula harga saham tersebut secara teoritis akan turun secara proporsional. Dengan

demikian, secara keseluruhan nilai kapitalisasi saham tersebut tidak mengalami

perubahan (h. 132).

Mekanisme Stock Split

Aksi korporasi stock split dapat berperan sebagai salah satu upaya mencapai

pemberdayaan. Stock split dapat menjadikan harga saham secara absolut lebih rendah.

Investor yang semula tak dapat menjangkau harga saham, melalui stock split menjadi

terjangkau, hal ini sesuai dengan pendapat Rose, Peter S (2007).

Stock split merupakan perwujudan pemerataan untuk para investor untuk membeli dan

memiliki saham. Melalui stock split frekuensi perdagangan saham cenderung meningkat

atau lebih likuid. Perdagangan saham yang likuid akan cenderung meningkatkan harga

sahamnya. Namun demikian tidak semua jenis saham menjadi lebih likuid sesudah

pemecahan saham .

Sesuai dengan pendapat Nasarudin (2004), mekanisme dan informasi mengenai

kebijakan stock split akan diberitahukan oleh Dewan Direksi berdasarkan dengan hasil

keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Sebagai contoh nilai nominal saham yang semula sebesar Rp. 500,- (lima ratus

Rupiah) menjadi sebesar Rp. 250,- (dua ratus lima puluh Rupiah) per saham. Jika

dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) memutuskan adanya perubahan

anggaran dasar, keputusan tersebut di buat dihadapan notaris yang ditunjuk oleh

Dewan Direksi. Perubahan anggaran dasar tersebut harus diterima dan dicatat oleh

Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum serta didaftarkan dalam daftar

perusahaan pada kantor pendaftaran perusahaan daerah setempat.

Sehubungan dengan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mengenai

persetujuan untuk melakukan konversi sahamnya menjadi catatan elektronik (tanpa

warkat) dalam rekening efek perusahaan efek atau bank custodian dimana pemegang

Dr. Agus Dwi Sasono., SE., MSi.,Ak Page 5


saham membuka rekening efeknya ("konversi saham") dan pemecahan nilai nominal

saham dari Rp. 500,- (lima ratus Rupiah) per saham menjadi sebesar Rp. 250,- (dua ratus

lima puluh Rupiah) per saham, Dewan Direksi akan memberitahukan tata cara konversi

saham dan pemecahan nilai nominal saham.

Reverse Stock Split

Reverse Stock Split merupakan kebalikan dari stock split. Reverse stock split adalah

salah satu aktivitas perusahaan emiten untuk menaikan harga sahamnya dan

mengurangi jumlah saham yang beredar. (Martell dan Webb, 2005). Dalam beberapa

kasus, reverse stock split adalah upaya untuk tetap dapat tercatat di bursa efek besar

karena harga saham mungkin dapat saja jatuh terlalu rendah hingga akan dikeluarkan

dari pencatatan.

Reverse split bisa dilakukan untk memulihkan harga sahamnya pada tingkat yang

optimal, yaitu pada tingkat optimal trading range atau kisaran harga yang dapat

mempengaruhi preferensi investor, sehingga investor tertarik untuk melakukan

perdagangan (majalah ekonomi)

Reverse stock split merupakan langkah penyelamatan yang dilakukan perusahaan

emiten agar bisa memenuhi persyaratan marginability untuk tetap menjaga status listing

di perdagangan pasar modal. Peraturan ini sudah diperkenalkan sejak tahun 1991 di

Nasdaq. Hal ini dilakukan dengan menetapkan harga jual saham minimum sebesar

$1.00 pada pasar modal nasional maupun pasar Small Cap. (Terence F. Martell dan

Gwendollyn P. Webb, 2005).

Dibeberapa negara seperti india dan Amerika memiliki peraturan harga saham

minimum, jika harga saham berada dibawah harga minimum yang ditetapkan maka ada

kemungkinan saham tersebut untuk di delisting, sehingga perusahaan bisa melakukan

reverse split untuk menaikan harga jual saham. Untuk Pasar modal Indonesia sendiri

tidak terdapat harga jual saham minimum yang harus dipenuhi untuk menghindari

delisting.

Lihuang Jing (2002) dalam penelitiannya menyatakan tiga alasan utama perusahaan

emiten melakukan reverse stock split adalah sebagai berikut:

1. Reverse stock split akan mengurangi biaya transaksi, jumlah lembar saham

yang berkurang akan menyebabkan biaya transaksi juga berkurang.

2. Reverse stock split akan memperbaiki fleksibilitas harga saham baru (new issue)

ketika dibutuhkan. Perusahaan emiten yang melakukan reverse stock split akan

mengurangi nilai nominal sahamnya, sehingga ketika perusahaan tersebut akan

menerbitkan saham baru perusahaan tersebut tidak perlu menetapkan nilai nominal

dengan diskon untuk saham barunya.

3. Reverse stock split akan meningkatkan investor institusional dan

internasional. Perusahaan yakin bahwa dengan melakukan penggabungan saham

akan meningkatkan profil perusahaan di mata investor institusional

Dr. Agus Dwi Sasono., SE., MSi.,Ak Page 6


PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).

Dalam berinvestasi saham, anda juga perlu mengenal beberapa jurus yang dipakai

dalam aksi ini tentu saja juga memiliki efek terhadap para investor pemegang

sahamnya.

Ada beberapa istilah yang perlu diketahui investor. Pertama, Rights issue atau

penerbitan saham baru, istilah ini mengacu pada penerbitan saham dengan opsi Hak

Membeli Efek terlebih dahulu (HMETD). Artinya, pemegang saham lama mendapat

kesempatan lebih dulu untuk membeli saham baru.

Lain halnya jika saham baru yang diterbitkan emiten itu akan di jual kepada satu atau

beberapa investor strategis. Aksi tersebut biasa disebut dengan private invesment.

Jika anda sebagai pemegang saham X tidak membeli saham baru yang di keluarkan

emiten yang bersangkutan, maka porsi kepemilikan saham anda di perusahaan itu akan

terdilusi. Efek dilusi ini berpengaruh terhadap porsi dividen yang bakal diterima, Selain

itu, bagi pemegang saham mayoritas yang tidak mengeksekusi haknya, maka bisa jadi

pengendalian perusahaan berpindah ke pihak lain. Sementara dalam aksi private

placement, pemegang saham yang sudah eksis tidak diberikan kesempatan untuk

mengeksekusi haknya. Biasanya kasus ini terjadi pada emiten yang menerbitkan

saham baru untuk membayar hutang kepada pihak kreditor.Mereka mempunyai dana

tunai yang cukup untuk membayar hutangnya.

Kedua, Stock split alias pemecahan jumlah saham dengan cara memecah nilai nominal

saham tersebut. Contohnya, suatu saham Y dengan nilai nominal Rp. 1.000 dipecah

dengan rasio 1: 10 menjadi Rp. 100 persaham. Otomatis, saham Y yang harga

pasarnya, misalnya Rp. 100.000 persaham, akan dipecah menjadi Rp. 10.000

persaham.

Biasanya aksi stock split ini dilakukan karena harga pasar saham suatu emiten sudah

terlalu tinggi, Sehingga investor kesulitan membeli saham emiten itu. Kondisi ini tentu

berdampak kepada likuiditas saham itu. Stock split dilakukan agar saham suatu emiten

menjadi lebih menarik bagi investor. Dengan cara ini, emiten bisa menjaring partisipasi

investor ritel lebih banyak. Selain itu, dengan jumlah saham yang kian banyak, maka

pasarnya akan semakin likuidilias marketable.

Contoh kasus stock split yang terhadui tahun ini adalah saham PT Bank Rakyat

Indonesia Tbk (BRI). Dengan rasio 1:2, manajemen Bank BRI memangkas nominal

saham nya dari Rp. 500 persaham menjadi Rp. 250 persaham pada 11 januari lalu.

Akibatnya, harga saham emiten yang sudah menanjak kelevel Rp. 10.000, dibagi dua

menjadi Rp. 5.000 persaham.

Namun aksi korporasi ini tidak membawa dampak negatif bagi investor. Dari sisi harga

saham memang berkurang, tetapi disaat yang sama jumlah saham investor naik dua

kali lipat. Malah, investor yang ingin membeli saham BRI menjadi semakinmudah

karena harga persahamnya turun. Artinya modal yang harus dipersiapkan si investor

untukmembeli saham BRI menjadi semakin kecil.

Ketiga, Reverse nstock. Ini ada lah lawan dari aksi stock split. Aksi korporasi tersebut

disebut oleh suatu emiten untuk melakukan penggabungan sahamnya. Biasanya, aksi

ini dilakukan agar harga sahamnya bergerak semakin leluasa.

Dr. Agus Dwi Sasono., SE., MSi.,Ak Page 7


Contohnya, harga saham perusahaan Z bernilai Rp. 50 persaham, dengan harga

saham yang pas-pasan itu, saham Z tidak begitu menarik bagi investor ritel. Maklum,

para investor akan curiga dan mempertanyakan kinerja pihak manajemen dalam

memberikan keuntungan bagi pemegang sahamnya.

Nah, agar saham itu menarik dan ada pergerakan harga, maka si emiten melakukan

penggabungan nominal saham yang berdampak pada kenaikan harga saham itu di

pasar. Cara ini diharapkan menarik investor untuk mengisi keranjang investasinya

dengan saham Z

PT Astra International Tbk (ASII).

VIVAnews - Usai memutuskan rencana pemecahan nilai nominal saham (stock split),

investor ritel bakal memburu saham perusahaan otomotif, PT Astra International Tbk

(ASII).

Manajemen Astra International kemarin mengusulkan stock split saham ASII dengan

rasio 1:10 pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) mendatang. Pada

penutupan perdagangan kemarin, saham Astra ditutup menguat pada level Rp68.700

per unit. Sementara itu, hari ini, saham Astra juga melanjutkan penguatan hingga

mampu menembus level tertinggi Rp69.950.

"Kelihatannya respons dari masyarakat cukup bagus terkait masalah stock split ini.

Terbukti, tadi pagi market kita sempat naik lumayan," kata Research Analyst PT

Danpac Sekuritas, Teuku Hendry Andrean saat dihubungi VIVAnews.com, Selasa, 28

Februari 2012.

Hendry meyakini, tingginya minat investor ritel mengoleksi saham Astra karena kinerja

perusahaan secara fundamental cukup kuat. Selain itu, Astra memiliki manajemen

perusahaan yang sangat profesional.

Namun, faktor utama pembelian saham Astra adalah harganya yang akan jauh lebih

murah dari saat ini. "Jadinya, akan menambah minat investor terutama ritel," kata dia.

Kendati nilai saham Astra bakal murah usai stock split, Hendry optimistis saham grup

perusahaan yang memiliki anak usaha di bidang perkebunan, tambang, dan alat berat

ini akan kembali melesat.

Keyakinan itu berkaca dari kenaikan harga saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP)

yang menanjak usai stock split. Kasus serupa juga pernah dialami saham PT

Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) ketika tengah berada di puncak

PT Semen Gresik Tbk (SG)

JAKARTA (Bisnis): Opsi pemecahan nilai nominal saham (stock split) PT Semen Gresik

Tbk (SG) sebagai salah satu skema penyelesaian masalah dengan Cemex Asia dinilai

lebih menarik bagi dana pensiun.

Alfiansyah, analis saham dari PT Sinas Mas Sekuritas, mengatakan setelah

pemecahan nilai nominal saham, harga saham SG menjadi lebih kompetitif. “Saya

melihat opsi stock split saham SG dapat mempermudah bagi pemerintah untuk

menggalang dana pensiun guna membeli kembali saham BUMN semen tersebut,”

Dr. Agus Dwi Sasono., SE., MSi.,Ak Page 8


ujarnya kemarin. Dia menanggapi dampak pelaksanaan opsi stock split seperti yang

disampaikan ketua tim kecil penyelesaian masalah dengan Cemex Jumat pekan lalu.

Roes Aryawijaya, ketua tim kecil penyelesaian kasus Cemex, mengatakan opsi

stock split tersebut masih dibahas terutama terkait rasio pemecahan saham itu.

Menurut dia, pemerintah juga sedang melihat kembali tiga opsi yang lama guna

menyelesaikan masalah di luar pengadilan.

Alfian menambahkan setelah saham SG dipecah, harga saham BUMN semen menjadi

lebih murah sehingga dana pensiun dapat mengumpulkan uang untuk membeli kembali

25,5% saham SG yang dimiliki Cemex Asia. “Asumsikan rasio pemecahan nilai nominal

saham itu 1:2, opsi ini akan berdampak positif bagi pemerintah dan investor. Likuiditas

perdagangan saham BUMN itu juga akan lebih aktif karena harga saham SMGR di

pasar menjadi sekitar Rp7.000,” paparnya.

Satino, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Indonesia, mengatakan dengan stock split,

saham SG akan lebih dijangkau oleh investor kecil di pasar. “Bila ini memang menjadi

opsi dari pemerintah, rasionya yang lebih menarik mungkin 1:5, sehingga investor kecil

dapat membeli saham SG,” katanya.

Namun, tuturnya, perlu dilihat mekanisme penjualan saham SG milik Cemex. Bila

saham itu dilepas secara besar-besaran, maka berpotensi menurunkan harga saham di

pasar. Dengan pecahan saham SG lebih kecil, ujarnya, maka bertambahnya investor

yang masuk juga berpotensi menaikkan harga saham SG. Di tempat terpisah, Anggota

Komisi VI DPR Didiek J. Rachbini, mengatakan Komisi VI dan pemerintah mempunyai

kesepakatan mempertahankan kepemilikan sahamnya di SG lebih dari 51%. (wiw)

Materi Pembahasan :

1. Bagaimana dan mengapa secara teoritis stock split dan reverse stock split

dilakukan perusahaan ?

2. Bagaimana dan mengapa PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). PT Astra

International Tbk (ASII). PT Semen Gresik Tbk (SG) melakukan stock split?

3. Bagaimana dampak terhadap perusahaan tersebut ?

Sumber bacaan :

http://www.bumn.go.id/20093/publikasi/berita/stock-split-sg-jadi-daya-tarik-dana-pensiun/

http://ekonomi.kabo.biz/2012/01/reverse-stock-split.html

http://www.main-saham.com/tag/mengenali-jurus-aksi-korporasi-emiten

http://bisnis.vivanews.com/news/read/291862-stock-split--saham-astra-bakal-jadi-buruan

Dr. Agus Dwi Sasono., SE., MSi.,Ak Page 9

More magazines by this user
Similar magazines