perancangan pembangunan indonesia masa desentralisasi

lib.unri.ac.id
  • No tags were found...

perancangan pembangunan indonesia masa desentralisasi

PERANCANGAN PEMBANGUNANINDONESIA MASA DESENTRALISASIRobert Tua Siregar*)Abstract: The planing in Indonesia have a model changed, from top down model to bottom upmodel. It’s caused by economic crisis and recently situation. The asset in every region soimportant to be noticed with the program in order to succes. Planing model in desentralizationera make resource compatible with citizen participation who have similarity with DLA modelto decide region develovment executor. Participation of citizen position as user develovmentin region for welfare and sustainable develovment.Keywords: planing, region developmentPendahuluanKrisis multidimensi yang melandaIndonesia sejak pertengahan tahun 1997masih terus dan sedang berlangsungsampai sekarang. Berbagai analisismenyebutkan bahwa penyebab krisisadalah masalah internal (dalam negeri)dan masalah eksternal yang bersumberdari luar negeri. Masing-masing sumberkrisis itu masih mempunyai kaitan eratsatu sama lain. Kita hampir-hampir tidaktahu mana penyebabnya yangsesungguhnya. Namun, pemulihandampak krisis multidimensi dansekaligus mengeliminasikan sumbersumbernyaharus dituntaskan sesegeramungkin. Permasalahan tidak akanselesai jika kita terus berdebat tentangstrategi pemulihan yang dianggap palinglayak untuk kondisi obyektif Indonesiadewasa ini.Strategi persaingan nasional harusmengutamakan empat hal pentingsebagai landasan pemulihan ekonomi,iaitu: konsensus politik nasional;*) Mahasiswa Ph.D Rancangan Perbandarandan Perancangan Fak. Sastera dan SosialSains, Universiti Malaya, Malaysiapenegakan hukum, ketertiban, dankeamanan nasional; pemulihankepercayaan terhadap kerajaan; danmenjamin keperluan dasar penduduksecara adil. Empat elemen yang asas iniharus dipenuhi sejalan dengan upayapemulihan ekonomi nasional. Selarasdengan perkembangan tersebut sistempemerintahan di Indonesia jugamengalami perubahan yang sangat cepat.Terutama pada sistem pembahagiankuat kuasa iaitu dengan Undang-UndangNomor 22 tahun 1999 tentangpemerintahan daerah yang dikuatkanpada Undang-Undang Nomor 32 tahun2004. Perubahan sistem ini jugamempengaruhi pada sistemperangcangan yang ada di Indonesia,iaitu sistem yang sebelumnyamenggunakan Top down Planningsehingga pada masa tahun 1999 menjadiBottomup Planning. Sehingga yangdidapat sistem perancangan ini akanditunjukkan pada bahagian berikutmenjelaskan bagaimana sistem inimelaksanakan pembangunan diIndonesia.1615Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Pembangunan Indonesia dan PotensiSumbernyaKeadaan Indonesia yang memilikiluasan tanah untuk pertanian ialah 107juta hektar dari keseluruhan luasan tanahIndonesia sekitar 192 juta hektar atau 98peratus (Pusat Penelitian danPengembangan Tanah, 2001 dalamHarian Republika 2005). Oleh itubahawa potensi pertanian Indonesialebih besar pada sektor pertanian, dansecara automatik dapat dikatakanbahawa wilayah juga lebih besar padapedesaan. Pembangunan perdesaandisokong melalui: pengembanganagropolitan terutama bagi kawasan yangberasaskan pertanian; peningkatankapasiti sumber daya manusia diperdesaan khususnya dalam pengelolaandan pemanfaatan sumber daya;pengembangan jaringan infrastrukturpenunjang kegiatan produksi di kawasanperdesaan dan bandar-bandar kecilterdekat dalam upaya menciptakanketerkaitan secara fizikal, sosial danekonomi yang saling bertentangan dansaling menguntungkan; peningkatanakses informasi dan pasaran, lembagakewangan, kesempatan kerja danteknologi; pengembangan sumber sosialdan sumber tenaga manusia yang belumtergali potensinya, sehingga kawasanperdesaan tidak semata-matamengandalkan sumber daya alamnyasaja; intervensi harga dan polisiperdagangan yang berpihak ke keluaranpertanian, terutama terhadap harga danupah pekerja.Pembangunan di suatu wilayah saatini masih sering dilaksanakan tanpamempertimbangkan keberlanjutannya.Keinginan untuk memperolehkeuntungan ekonomi jangka pendeksering menimbulkan keinginan untukmengeksploitasi sumber potensi alamsecara berlebih sehingga menurunkankualiti (degradasi) dan kuantiti (deplesi)sumber potensi alam dan alam sekitar.Sering terjadi konflik pemanfaatanwilayah antar sektor. Salah satupenyebab terjadinya permasalahantersebut kerana pembangunan yangdilakukan dalam wilayah tersebut belummenggunakan Rancangan wilayahsebagai panduan koordinasi danpenyesuaian pembangunan antar sektordan antar wilayah. Oleh itu, sangatpenting untuk memanfaatkan rancanganwilayah sebagai landasan atau panduanpolisi wilayah bagi pembangunan antarsektor mahupun wilayah agarpemanfaatan ruang dapat berhubungkait,serasi, dan berkelanjutan. Rancanganwilayah disusun secara bertingkat daritingkat Nasional, Pulau, Provinsi,Kabupaten, dan Bandar.Peningkatan keterkaitan kegiatanekonomi di wilayah perbandaran dengankegiatan ekonomi di wilayah perdesaandidorong secara berhubungkait (hasilproduksi wilayah perdesaan merupakanbackward linkages dari kegiatanekonomi di wilayah perbandaran) dalamsuatu sistem wilayah pengembanganekonomi. Peningkatan keterkaitantersebut memerlukan adanya perluasandan aneka ragam aktiviti ekonomi danperniagaan (bukan pertanian) dipedesaan yang terkait dengan pasaran diwilayah perbandaran. Tujuan jangkapendek pemulihan ekonomi nasionaladalah meletakkan asas yang kokohuntuk pelaksanaan pembangunan yangnormal dalam rangka menuju tujuanjangka panjang iaitu mewujdkankesejahteraan bagi seluruh lapisanpenduduk baik dari tingkat atas mahupunsetara. (Rizang Wrihatnolo, 2000)Sebagaimana dikemukakan olehpara pakar ilmu sosial, bahawa bangsa1616Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Indonesia sebagai bangsa yang sedangberkembang, sangatlah dinamik denganperubahan-perubahan yang terjadi.Terlebih lagi dengan berkembangpesatnyateknologi komunikasi danpengankutan di dalam jaman globalisasi.Pada kondisi penduduk yang demikiankiranya kurang tepat denganditerapkannya perancangan bandar yangbersifat pasti atau perancangan utama.Perancangan utama lebih tepatditerapkan pada penduduk yang sudahmantap, kerana pada penduduk yangsudah mantap ini, perubahan-perubahanyang terjadi sangatlah kecil. Sedanguntuk penduduk yang sedangberkembang lebih tepat diterapkanmodel tahapan perancangan.Kebijaksanaan selama ini yangmengejar pertumbuhan tingkat ekonomimakro menjadikan rancangan wilayahbandar berfungsi sebagai saranapenunjangnya. Pembangunan bandarlebih berorientasikan kepada si kaya daripada kepada si miskin. Kerananya sikaya semakin kaya, dan si miskinsemakin tersingkir. Menjadikan bandaryang lebih egois, kurang manusiawi, dandampaknya sebagai tergambar di atas,serta terjadinya kecemburuan sosial,yang berakibat terjadinya kerusuhankerusuhanmasal. Kerana itulahreformasi dalam perancanganmerupakan suatu keharusan bagikerajaan Indonesia saat ini.Beberapa hal yang dirasa sangatpenting dalam rangka reformasiperancangan wilayah antara lain(Sunardi,2004):1. Merubah dari perancangan fisik,seperti yang seperti sekarangdilakukan menjadi perancangansosial. Dengan perubahan pola pikirdan kondisi penduduk, diharapkankesadaran penduduk terhadappenggunaan lahan akan meningkat.Perancangan dengan modelmengambil kira keperluan penduduksangat diperlukan demi kepentinganpenduduk, demi menerima keinginanpenduduk.2. Merubah kebijaksanaan top downmenjadi bottom up kerana top downmerupakan sumber korupsi dankolusi bagi pihak-pihak yang terlibat.Sering kali propyek-proyek modeltop down dari pusat kurang sesuaidengan keperluan dan kondisi dilapangan.3.Comprehensive Planning merupakanperancangan yang kurang efektif,oleh itu perancangan sektoralmerupakan perancangan terhadapsektor-sektor yang benar-benardiperlukan penduduk dalam waktumendesak.4. Peranserta secara aktif para pakarsecara terpadu dari berbagai disiplinilmu sangat diperlukan di dalamproses penyusunan rancanganwilayah bandar. Komisi PerancanganBandar (sebagaimana diterapkan diAmerika Serikat) kiranya perluditerapkan pula di Indonesia. Keranapermasalahan dalam suatuperancangan sangat banyak.5. Merubah peraturan-peraturan yangberkaitan dengan tanah, wilayah , danspace khususnya di perbandaranmenjadi lebih berorientasi padakepentingan dan perlindungan rakyatkecil.6. Rancangan wilayah yang telahditetapkan menjadi PerundanganDaerah, perlu ditindaklanjuti dandilaksanakan.1617Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Polisi Perancangan PembangunanNasionalPolisi desentralisasi dan otonomidaerah sebagaimana ditunjukkanUndang-Undang Nomor 22 Tahun 1999dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun1999 yang memberikan kuatkuasasemakin besar kepada kerajaan daerahtelah menuntut berbagai perubahandalam sistem pengelolaan pemerintahan.Salah satu perubahan tersebut adalahdalam sistem dan mekanismeperancangan pembangunan nasionalyang lebih bersifat desentral. Sesuaidengan perubahan tersebut sekarangdiperlukan pengaturan mengenai sistemdan mekanisme perancanganpembangunan nasional yang baru untukmengakomodasikan berbagai tuntutanreformasi ke dalam suatu sistemperancangan pembangunan nasionalyang lebih demokratis, desentralistik,berhubungkait, komprehensif, danberterusan.Pelaksanaan pembangunan sistemperancangan pembangunan nasionaltersebut di atas, sebagai langkah awaldalam jangka pendek pada tahun 2003perlu disusun suatu pedoman koordinasiperancangan pembangunan nasionalyang sesuai dengan tuntutan reformasiuntuk lebih baik, memberhasilkan danmengoptimumkan proses dan mekanismperancangan dan pengendalianpembangunan yang selama ini terdapatberbagai permasalahan di daerah. Untukjangka panjang perlu disusun suatusistem perancangan yang lebihkomprehensif dan independen, sertaberhasil dapat dilaksanakan dan dipatuhioleh seluruh pelaksana pembangunanbaik di tingkat pusat mahupun di daerahyang maktubkan ke dalam suatuperaturan perundang-undangan yanglebih tinggi iaitu Undang-Undang. Olehitu dalam jangka panjang perlu disusunsuatu Undang-Undang tentangperancangan nasional yang bersifatsesama pelaksana pem-bangunan, dalamsetiap sektor, dalam setiap tingkatanpemerintahan, koordinasi, dinamik, danbersesuaian.Selama lebih kurang tiga dekad,pembangunan Indonesia dilaksanakanberasaskan rancangan pembangunanlima tahunan (repelita) sebagaipenjelasan dan Garis-Garis BesarHaluan Negara (GBHN) dan dijabarkanlebih lanjut ke dalam rancangan tahunan(APBN). Di masa lalu peran kerajaanpusat sangat besar di dalam menentukanhala dan sasar pembangunan nasional.Namun adanya perubahan lingkunganstrategi daripada tingkat nasional,terutama pengaruh otonomi daerah,mahupun pada tingkat yang terendah,maka konsep pembangunan nasionaltermasuk peran kerajaan (pusat dandaerah) mengalami perubahan. Oleh itustrategi pembangunan dan sistemperancangan pembangunan nasionaljuga harus berubah.Beberapa perubahan mendasardapat diidentifiti dan perlu mendapatperhatian secara bersama khususnyayang berpengaruh terhadap penentuanpolisi perancangan pembangunannasional secara makro antara lain adalah(Bappenas, 2005):1) Memiliki semangat otonomi daerahyang lebih besar;2) Pendeknya jangkauan asasdekonsentrasi yang dibatasi hanyasampai pemerintahan provinsi;3) Diberikannya kewenangan yang lebihluas kepada daerah otonom yangmeliputi seluruh bidangpemerintahan kecuali politik luarnegeri, pertahanan, peradilan,1618Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


kewangan dan fiskal, agama sertakewenangan bidang lain;4) Diberikannya sumber-sumberkewangan daerah lebih ditambah;adanya kewenangan minima bagikerajaan pusat untuk memberikanalokasi kepada daerah. Pasal 7 ayat1 UU 22/99 menyebutkan bahawaDana Alokasi Umum (DAU)ditetapkan sekurang-kurangnya 25peratus dari penerimaan dalam negeriyang ditetapkan APBN;5) Semakin tinggi semangat pemerataanantar daerah, hal ini bisa dilihatdengan adanya perubahan alokasi kosyang lebih baik seperti adanya DAU,Dana Alokasi Khusus (DAK), dankos kecemasan untuk bencana.Namun transparansi dan pengawasanpenduduk terhadap kerajaan pusatdan daerah mengenai penggunan kosini masih perlu ditingkatkan.Pembaharuan sistem perancanganpembangunan nasional perlu dilakukanuntuk memecahkan permasalahan pokokdalam pengurusan pembangunan itusendiri iaitu (Bappenas, 2005):1) Tidak sepaham antar polisi yangdilakukan berbagai kelompok am danantara polisi makro dan mikromahupun antara polisi danpelaksanaan;2) Rendahnya tingkat keterlibatanpelaksana pembangunan danparanserta penduduk dalamperumusan polisi;3) Tidak selaras antara perancanganprogram dan kos;4) Rendahnya tingkat transparansiproses perumusan polisi danperancangan program, dan tingkatkepercayaan pemanfaatan sumberkewangan ;5) Kurang berhasil penilaian kerjayapolisi, perancangan, dan pelaksanaanaktiviti itu sendiri.Perancangan Pada ZamanDesentralisasiDesentralisasi merupakan sebuahproses perubahan kewenangan dantanggung jawab fungsi-fungsi publikdari kerajaan pusat ke tingkat kerajaanProvinsi dan atau bandar/kabupaten sertaorganisasi kerajaan lainnya.Desentralisasi sesungguhnya merupakansesuatu yang lebih luas daripada sekadarpengelolaan kewangan, keranamenyangkut pula aspek pentadbirankerajaan dan politik (Fakultas EkonomiUniversitas Hasanuddin, 2000).Desentralisasi dapat diertikan sebagaisuatu upaya perubahan sistempentadbiran dari yang bersifat “uniformdan sentralistik” yang mengutamakanpada masalah nasional dan keadilan, kearah yang lebih “diversifikasi dandesentralistik” dengan memberiperhatian utama tentang kemandiriantempatan yang mempertimbangkanpenduduk tempatan dan wilayah.Desentralisasi ini diharapkan dapatmenghindari konsentrasi kekuasaan,wang, penduduk dan informasi pada satutingkatan kerajaan (pusat).Desentralisasi pembangunan akanmempertimbangkan diversifikasikeperluan publik, di mana keperluanpelayanan publik seharusnya diserahkanpada penduduk tempatan yangmemberikan tanggung jawab kepadamereka untuk memilih yang terbaiksesuai dengan keperluannya.1619Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Dalam melaksanakan desentralisasiperlu dihindari kemungkinanketempangan khususnya bagi daerahdaerahyang tidak memiliki potensisumber alam, di mana fungsi kerajaankhususnya dalam menjaga agihanpendapatan dan keamanan cenderungmerupakan tanggungjawab kerajaanpusat. Oleh kerana itu desentralisasibukan sekadar perhatian kerajaan daerahsahaja, tetapi bagaimana mendorongagar terjadi keseimbangan antarakerajaan daerah dan pelaku ekonomi(swasta), sehingga pengembangan danpemanfaatan potensi sumber tenaga kerjadan potensi sumber budaya dapatoptimum.Memahami desentralisasi seyogianyatidak hanya terbatas pada masalahdekonsentrasi atau devolusi tanggungjawab kerajaan daerah, tapi lebih luas dariitu iaitu termasuk keseimbangan antarakerajaan dan mekanisme pasar. Belajar darikesalahan masa lalu, maka strategipembangunan ekonomi seharusnyadirancang (dalam berbagai aspek) dengansistem desentralisasi dan tingkatpenyertaan penduduk yang besar.Keuntungan dari pembangunan seperti ini ,yakni penduduk akan lebih dimungkinkanuntuk memutuskan sendiri apa yang harusmereka lakukan dengan menggunakansumber daya tempatan yang dimiliki. Olehkerananya desentralisasi ini bermaknaadanya delegasi sistem, peran kerajaan(nasional dan tempatan), adanya lembagakontrol dan subsidi ( Sidik Machfud,2002).Pengaruh yang ditimbulkanterhadap aktiviti perancangan ialah: (i)kuasa daerah dalam aktiviti perancanganyang penuh, sehingga proses pembuatankeputusan terjadi di peringkat tempatan,hubungan horizontal-dalaman menjadikuat jika dibandingkan hubunganvertikal-luaran, (ii) perananperkumpulan perwakilan semakin besardibandingkan dengan eksekutif, rasionalperancangan melemah jikadibandingkan rasional dewanperwakilan, metode dan prosesperancangan berubah daripada teknikalkepada politik dengan penyertaan penuhdari pelbagai pihak berkepentinganmelalui forum-forum, dan (iii) sumberkos dari pihak kerajaan Provinsi danpusat berkurang, sehingga kekuasaanpembahagian potensi berada di peringkattempatan (Buletin Kawasan, 2002).Polisi desentralisasi jugamengurangi pemisahan daerah-daerah,mem-pertingkatkan kesatuan wilayahnegara, dan memperkuatpenyalahgunaan kekuasaan di peringkatbawah. Pada zaman desentralisasisesuatu rancangan tersebut tidakberhubung kait secara berperingkat.Dengan mengacu kepada jenis kerajaanyang ada, maka jenis rancanganpembangunan setidak-tidaknya adaempat Dari jenis rajah iaitu tersebut (Bappenas, ditunjukkan 2001): (1)Program bahawa pembangunan dasar perancangan nasional, ialah (2)Program Propenas, pembangunan Propeda Provinsi daerah dan Provinsi, Propeda(3) kabupaten/bandar Program pembangunan yang dibawa daerah sebagaikabupaten, panduan dalam pembuatan dan (4) perancangan Programpembangunan. daerah Kos bandar. pembangunan Urutanurutandisebut Anggaran dari jenis Pengeluaran perancangan Belanja padazaman Negara desentralisasi (APBN) untuk boleh nasional dilihat dan daripada Anggaran carta Pengeluaran berikut. Belanja Daerah(APBD) untuk daerah Provinsi dankabupaten/bandar. Setelah dijadikandalam bentuk anggaran barulahdilaksanakan pembangunan pada semuasektor. Setiap kerajaan daerah dapatmembuat dan mempunyai masingmasingrancangan pembangunannyatanpa perlu menunggu daripada daerahlain. Namun demikian, untukmelestarikan dan menguatkan persatuan1620Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Rajah Peringkat Perancangan “Bottomup Planning” Di IndonesiaMUSRENBANGNASIONALPROPENASPROPEDAPROVINSIPROPEDAKAB/KOTAMUSRENBANGPROVINSIMUSRENBANGKAB/KOTAMUSRENBANG(KECAMATAN)APBN/APBDTEMU KARYAPERKAMPUNGANSumber: Badan perancangan pembangunan nasional (Bappenas)dan kesatuan bangsa, forum koordinasisemacam Rapat KoordinasiPembangunan (Rakorbang) atauKonsultasi Nasional Pembangunan(Konasbang) masih tetap diperlukanuntuk koordinasi pembangunan padasetiap daerah.Hubung Kait Perancangan ZamanDesentralisasi Dengan Model DLAPerancangan pada zamandesentralisasi saat ini melaksanakanmodel bottomup planning denganbermula daripada tingkat paling bawahkepada tingkat paling atas. Ertinyabahawa cara perancangan yangdilakukan lebih bersifat demokrasikerana meminta pendapat daripadatingkat penduduk sehingga penentuanpolisi perancangan pada tingkatpemimpin kerajaan. Sehingga keperluansuatu wilayah dapat diketahui dengancara perancangan ini dan tentudisesuaikan dengan potensi sumber yangada pada wilayah. Keuntungan yangdidapat dari perancangan ini ialahadanya kepuasan dan keterbukaanmaklumat pada zaman dentralisasi.Dengan perbaikan polisiperancangan pembangunan di zamandesentralisai yang cukupmenggembirakan, diharapkan adanyapolisi terhadap tahapan-tahapan programyang bermula dari bawah (buttom upplanning) dengan melibatkan lebihbanyak penduduk dengan modelpenyertaan, sehingga aktiviti di setiapsektor lebih meningkat. Pengawasan danevaluasi adalah sub sistem darikeseluruhan sistem pengelolaanprogram. Untuk itu kegiatanperancangan, pengawasan dan evaluasiperlu dibiasakan sejak semula padaperancangan. Pengawasan dan evaluasimerupakan satu kesatuan yangbersepadu dan berterusan, dalammelaksanakan program pembangunandengan pola penyertaan penduduk.1621Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Melalui peningkatan pengertiansistem pengelolaan program yangberasas penyertaan penduduk,diharapkan kegiatan monitoring danevaluasi program pembangunankehutanan dapat berjalan sesuai yangdiharapkan. Pada akhirnya diharapkankerjaya program pembangunan setiapsektor pembangunan yang berasaspenyertaan penduduk dapat meningkatdan mencapai keluaran yang optimum.Melihat penjelasan di atas jikadihubung kait dengan modelperancangan Direct Location Area(DLA) memiliki kesamaan pada tujuandan sistemnya. Perancangan model DLAyang menentukan polisi pada penentuanlokasi pembangunan dengan berasaspada faktor-faktor yang ditentukan.Prinsip DLA ialah menyesuaikan dengankeadaan wilayah yang dikaji dan faktoryang membuat kesamaan ialah adanyapenyertaan penduduk iaitu tanggapan.Pada suatu perancangan faktorpenyertaan penduduk yang dirasa perluuntuk mengetahui bagaimanasebenarnya keinginan dari pendudukyang akan menggunakan danmenyokong sepenuhnya pembangunantersebut.Kesamaan ini tentu merupakansuatu keberhasilan dalam menggunakanmodel DLA pada zaman desentralisasiuntuk perancangan pembangunan diIndonesia. Oleh itu pemahaman danmaklumat terhadap suatu wilayah sangatdiperlukan untuk keberjayaanpelaksanaan perancangan tersebut dalampembangunan.teruk. Keadaan ini ditunjukkan denganditerbitkan Undang-Undang Nomor 22Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor32 Tahun 2004 mengharuskan sistemmengalami perubahan. Kenyataan yangmengharuskan juga perubahan padasistem perancangan di Indonesia darimodel top down planning kepadabottomup planning. Perancangan yangbermula dari tingkat paling bawahsehingga tingkat paling atas untukmenentukan polisi perancangan yangdigunakan. Perubahan inimempengaruhi kepada pengelolaanpotensi sumber alam yang menjadi lebihbaik, kerana prinsip perancangan ialahmengelola potensi sumber yangdigunakan kepada kesejahteraanpenduduk. Oleh itu perancangan padazaman desentralisasi lebihmengutamakan potensi yang sesuai diwilayah. Hubung kait perancanganzaman desentralisasi denganperancangan model DLA ialah kesamaankepada prinsip mengutamakan sumberpotensi yang sesuai dengan wilayah danpenyertaan penduduk dengan caratanggapan. Keadaan ini bermaksuduntuk menghasilkan keluaranKesimpulanPerancangan yang terjadi diIndonesia mengalami perubahan akibatperubahan sistem pemerintahan dankeadaan krisis ekonomi yang sangat1622Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


perancangan lebih baik dilaksanakanterhadap pembangunan wilayah.Daftar KepustakaanAnonim1997, Pembangunan PertanianBerkebudayaan Industri,Kerjasama Bappenas-IPB, JakartaBapenas 2004,Program PembangunanNasional 2000-2004Budiman, Arief1995. Teori PembangunanDunia Ketiga, Gramedia PustakaUtama dan Pusat Antar UniversitasBidang Ilmu Ekonomi UniversitasIndonesia, JakartaBuletin Kawasan, 2002, PerancanganPengembangan KawasanPertanian Indonesia, DepartemenPertanian.Drilon, J.D. 1971, Introduction toAgribusiness Management, AsianProductivity Organization, TokyoFakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, 2000, Kajian manajemenperencanaan daerah.Garis-garis Besar Haluan Negara 1999-2004, Tap MPR RI No. IV/MPR/1999Harian Republika 2005, tentang data PusatPenelitian dan PengembanganTanah tahun 2001kedua, Penerbit UniversitasIndonesia, JakartaRizang Wrihatnolo, 2000 Daya SaingNasional dan Agroindustri, (SuatuPendekatan Pembangunan LintasSektor)Saragih Bungaran, 1998, Agribisnis:Paradigma Baru PembangunanEkonomi Berbasis Pertanian,Yayasan Mulia Persada Indonesia-Pusat Studi Pembangunan LemlitIPB, BogorSidik Machfud, 2002, PerimbanganKeuangan Pusat dan Daerahsebagai PelaksanaanDesentralisasi Fiskal: Antara Teoridan Aplikasinya di Indonesia.Makalah disampaikan padaSeminar “Setahun ImplementasiKebijaksanaan Otonomi Daerah diIndonesia”. YogyakartaSunardi, 2004 Reformasi PerancanganWilayah Bandar, Workshop danTemu Alumni MagisterPerancangan Bandar dan DaerahUGM 9 – 11 September 2004.Wibowo, Rudi (penyunting)1999, RefleksiPertanian, Tanaman Pangan danHortikultura Nusantara, PustakaSinar Harapan, JakartaKartasasmita1997, Ginandjar. PembangunanUntuk Rakyat: MemadukanPertumbuhan dan Pemerataan,Edisi I, PT. Cidesindo, JakartaRahardjo1986, M. Dawam. TransformasiPertanian, Industrialisasi danKesempatan Kerja, Cetakan1623Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


ANALYSIS ON THE INFLUENCE OF WOMEN FARMINGWORKERS TO INCOME AND FAMILY CONSUMPTIONPATTERN IN SURBAKTI VILLAGE,SIMPANG EMPAT SUB-DISTRICT, KARO REGENCY,NORTH SUMATERA PROVINCE, INDONESIAMisnarti Sembiring*)Abstract: Salah satu cara pandang untuk hidup menurut surbakti adalah dengan cara polapertanian. Komunitas lokal secara bersama-sama menggunakan lahan kering untuk bercocoktanam, seperti sayur-sayuran dan lainnya. Masalah yang ingin didiskusikan dalam penelitianini adalah untuk mengetahui pengaruh permanen atau tidak permanen perempuan petani dalamhal perekonomian, pendapatan keluarga, tingkat konsumsi dan tabungan.Analisa data yang digunakan adalah rata-rata tabulasi dan test perbedaan bentuk presentasidari figur dan bentuk tabulasi menggunakan analisa multipel regresi.Penelitian ini menyimpulkan hal-hal sebagai berikut:Ada perbedaan permanen dan tidak permanen perempuan petani di dalam aktifitas ekonomi,yang mencapai derajad kepercayaan 95 %. Kontribusi perempuan pekerja memberikansumbangan lebih besar 50 % ternyata ditolak. Pendapatan keluarga tidak berpengaruh terhadappersoalan ekspenditur. Ada hubungan antara tingkat pendapatan dari permanen dan tidakpermanen perempuan petani dengan tingkat tabungan. Tidak ada relasi antara perempuanpekerja yang permanen dan tidak permanen terhadap tingkat dan pola konsumsi keluarga.Keywords: perempuan petani, pendapatan, pola konsumsi, aktifitas ekonomi perempuan, waktukerja.IntroductionThe most orange production can befound in Karo and Langkat regency inrecent years. In planting the orange,the farmers usually combine productionfactors such as land natural, workers,capital and expertise. Natural factor isas the land for farming and the orangeis as the media. Workers factor refersto the labor either to human, animalor machine in farming activities (it isrelated to planting up to harvesting).Capital means cash money andinstrument required in providingfarming activity needs. Whereas, non*) Lecturer at Karo Universityexpertise factor means the capabilityof farmers in managing and plantingthe orange.The use of women farmers workinghas been used since in the initial timeby the basic needs to women workersfor the household economy. Womenworkers are required to add theavailable workers of men in carryingout the works at farm and rice farm orin garden. However, the problemoccurs since the amount of womenworkers are not adequate to fulfill theneeds of workers by the increase offarming activities (extensification andintensification).Labor productivity is influencedby some factors either as it is related1624Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


to the workers or other factors such aseducation, skill, attitude and workingethics, motivation, nutrient, health andworking guarantee. The distribution ofincome is as the allocation to the familyincome either for consumption or nonconsumption.The expenditure forconsumption can be such as food,houses and clothes and nonconsumptionsuch as health, educationand social-cultural. The difference onthe income and expenditure can be seeneither in the form of money saving orgoods.From the description above, thewriter would like to see the role ofwomen workers in increasing theincome and the distribution of income.The Formulation Of ProblemThe formulation of problems to bediscussed in this research are as follows:a. To what extent does the influenceof permanent and non-permanentwomen farmers working toeconomy and non-economyactivities.b. To what extent does the influenceof income distribution ofpermanent and non-permanentwomen farmers working to totalfamily income.c. There is the relationship betweentotal women farmers working timeto family consumption pattern.d. The distribution of family incomeof permanent and non-permanentwomen farmers working iscategorized even distributed.The Hypothesis of ResearchThe hypothesis of research are asfollows :a. There is the difference on permanentand non-permanent womenfarmers working n the economyand non-economy activities on thetrust level 95%.b. The contribution of women farmerworking income to family incomeis bigger than 50%.c. There is positive relationshipbetween total family income withfamily expenditure (consumer).There is positive relationshipbetween total family income withthe amount of saving.d. There is the relationship betweenpermanent and non-permanentwomen farmers working to familyincome.e. There is the relationship betweenpermanent and non-permanentwomen farmers working tofarmers’ family consumptionpattern.f The distribution of permanent andnon-permanent women farmersworking income is categorized aseven distributed.The Method of ResearchThe population of research ispermanent and non-permanent womenfarmers working. The total populationis 132 persons consisting of 62 familiesof women permanent farmers and 70families of women non-permanentfarmers. The sample is taken by simplerandom for 40%. Thus, the sampleselected is 50 persons.The taken data is primary andsecondary data. Primary data is directlytaken with direct interview with1625Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


farmers including farmers’characteristics data, whereassecondary data is taken from relatedinstance such as BPS, Head of VillageOffice and others.The Method of Data AnalysisThe collected data is tabulated andprimary data is processes in accordancewith the formulated hypothesis. For thehypothesis of part a, it is used differentstatistic test. For the hypothesis ofpart b, it is used descriptive analysis.For c, d and e, it is used linier regression.Result and DiscussionA. The analysis on the difference oflabor in economy and non-economysector for women farmingworkers.Working time for economyactivities in every worker is calculatedby cash money and it is directly paid.For instance, workers in farmingactivities, whereas working time fornon-economy activities is related to thehousehold needs.The amount of days for economyactivities to permanent women farmingworkers is bigger (317 days/ year and2357 hours/year) compared to nonpermanentwomen farming workers(309 days/year and 2476 hours/year).For non-economy activities, theinfluence of permanent farmingworkers is bigger ( 4,90 hours/day and1480,7 hours/year. For statistics-test, t-calculated test is bigger compared to t-table value on the trust level 95%.The influence on workers for economyactivity is bigger than non-economyactivities at each sample. Thus, thehypothesis expressing that there is thedifference on permanent and nonpermanentfarming workers to economyand non-economy is accepted on trustlevel 95%.B. The contribution of women farmingworkers income to family incomeThe contribution of womenfarming workers income to familyincome is the amount of income fromwomen economy activities aspermanent work (43,08%). It is causedthat women farming workers work isonly for farming and the wage givenis lower compared to non-permanentwomen farming workers. Whereas, fornon-permanent women farmingworkers, the type of work is variedleading into higher wage. Thehypothesis expressing the contributionof women farming workers to thefamily income is bigger than 50% isrejected.C. The Relationship between incomewith family expenditure rateThe amount of family income hasunreal influence to the consumptionpattern (the amount of expenditure) andthe family saving. It is assumed thatthere is positive relationship betweenincome level with family expenditure.From equation analysis and regressionvalue on the two sample groups, it canbe concluded that the family incomedoes not give influence and it is notpermanent on the trust level 95%.D. The Saving between income andfamily savingThe consumption pattern and theamount of family income has theinfluence on the amount of familysaving because the saving is the1626Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


difference between income with theexpenditure of family. It is clearly seenthat family income with the sample isvaried.From the result of regression analysis,it can be concluded that there is norelationship between income with eachsaving amount. Even though theincome is bigger, it does not give theincrease to saving amount of thesample. Conversely, the reduced ofincome does not give the reduction tothe amount of saving.E. The Relationship between totalworking time for economy activityto the family income of womenfarming workersGenerally, non-permanent farmingworker wage is given based on theworking time on the activity. Theparameter of working time can bemeasured from working hours. On thepermanent women farming workers, theamount of income to non-permanentfarming workers is not influenced bythe working time the amount of workingtime as farmers. It is caused that theassessment on women working time isnot determined by working hour, but itis determined by monthly wage plusincentive such as rice and others.From the data analysis and adjustedwith the hypothesis, then it is said thatthe hypothesis expressing there is therelationship between permanentwomen farming working time isrejected and for permanent womenfarming workers, it is accepted on thesignificance level 95%.F. The Relationship between womenworking time for economyactivity to consumption patternThe family consumption pattern isthe amount of family expenditure andit is influenced by the number ofpersons as the burden, and the needsfor energy consumption. Theconsumption of energy is influenced bythe amount of energy expenditure foreconomy and non-economy activities.According to the data analyzed, it isstated that calculated-t is smaller thantable-t which means that there is norelationship between non-permanentfarming worker’s working time to theconsumption pattern on the significancelevel 95%. The hypothesis expressingthat there is the relationship betweenworking time on economy activity andconsumption pattern of women farmingworker on the significance level 95%.G. The Distribution of family incomeof women farming workersIn accordance with data analysis ofGini Ratio, it is found the deviation onthe opinion related to lower womenfarming worker family income. In otherwords, the distribution of income onthe two sample group is relative evendistributed.Conclusions and SuggestionsConclusionsa. There is the difference on workingtime for economy and noneconomyactivities to thepermanent and non-permanentfarming workers is accepted on thesignificance level 95%.1627Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


. The contribution of income ofwomen farming workers to theincome of family is bigger than50% is rejected.c. The family income does not givethe influence to expenditureamount (consumption pattern) ofpermanent and non-permanentfarming workers on the significancelevel 95%.d. There is the relationship betweenwomen farming workers incomewith saving amount on thesignificance level 95%.e. There is the relationship betweenpermanent women farmingworkers’ working time to theincome of family on thesignificance level 95%.f There is no relationship betweennon-permanent women farmingworkers’ working time to theincome of family on thesignificance level 95%.g There is no relationship betweenworking time with consumptionpattern of women farming workerson the between permanent womenfarming workers’ on thesignificance level 95%.hThe distribution of family incomeof permanent and non-permanentfarming workers is categorizedeven distributed.Suggestionsa. Women farming workers shouldeffectively use their income in theform of family saving.b. The government should intensify thefinancial institution in order tocreate the awareness of farmingworkers in order to save theirincome.ReferencesAnanta A, 2000, Human Resouces OfEconomy, Demography Group OfIndonesia University, JakartaNorth Sumatera Statistic Center, 2000Sayogyo,P, Womens Role On CommunityDevelopment, CV RajawaliJakartaRoestam , k, 2001, Woman, dignity, andDevelopment, PengembanganKeswadayaan Forum, JakartaSarwono,2002,Orange and the Family,Penebar Swadaya, JakartaTarigan K, 2001, The Introduction OfAgricultural Economy, AgricuturalFaculty, North SumateraUniversityWalpole, 2000, The Introduction Of Statistic,Gramedia, Jakarta1628Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


PERTUMBUHAN DAN KETIMPANGANPEMBANGUNAN EKONOMI ANTAR DAERAHDI PROVINSI RIAUCaska*) dan RM. Riadi**)Abstract: This research aimed to know disparity of economic growing in Riau Provincebetween Regency. The data was analyzed with Kuadran System, Williamson Indeks, entropiTheil Indeks and the proof of Kuznets Hypothesis. From the research, can conclussion thatonly Pekanbaru City in First Kuadran ((high growth and high income). The area that categorizeinto high growth but low income is Pelalawan, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu andSiak Regency.. Indragiri Hilir, Rokan Hulu dan Kabupaten Kampar can categorized intohigh income but low growth, meanwhile the area categorized into low income and low growthare Rokan Hilir, Dumai and Bengkalis. In Williamson and entropi Theil Index got differentanswer. According to Williamson Index, Riau Province have increasing disparity in growingof economic but entropi Theil Index categorized that Riau Province have decreasing disparityof growing in economic. Based on Williamson and entropi Theil Index, Riau Province isnot categorized based on Kuznets Hypothesis.Keywords: Income and Growth, disparity, economic, Riau ProvincePendahuluanIstilah pembangunan bisa sajadiartikan berbeda oleh masing-masingorang, daerah satu dengan lainnyamaupun negara satu dengan negaralainnya. Penting bagi kita untuk dapatmemiliki definisi yang sama dalammengartikan pembangunan. Secaratradisional pembangunan memiliki artipeningkatan yang terus menerus padaGross Domestik Produk (GDP) atauProduk Domestik Bruto (PDB) suatunegara. Untuk daerah, maknapembangunan yang tradisionaldifokuskan pada PDRB suatu provinsi,kabupaten dan kota.*) Peneliti Pusat Pengkajian Koperasi danPemberdayaan Ekonomi MasyarakatPendidikan Ekonomi-FKIP Unri**) Staff Pengajar Pendidikan EkonomiP-IPS, FKIP Universitas RiauNamun muncul kemudian alternatifdefinisi pembangunan ekonomi yanglebih menekankan pada peningkatanincome per capita (pendapatan perkapita). Definisi ini lebih menekankanpada kemampuan suatu negara untukmeningkatkan output yang dapatmelebihi tingkat pertumbuhanpenduduk. Definisi pembangunantradisional sering dikaitkan dengansebuah strategi mengubah struktur suatunegara atau sering kita kenal denganindustrialisasi. Kontribusi pertanianmulai digantikan dengan kontribusiindustri.Pembangunan ekonomi daerahadalah suatu proses di mana pemerintahdaerah dan seluruh komponenmasyarakat mengelola berbagai sumberdaya yang ada dan membentuk suatupola kemitraan untuk menciptakan suatulapangan pekerjaan baru danmerangsang perkembangan kegiatan1629Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


ekonomi dalam daerah tersebut(Lincolin Arsyad, 1999 ; Blakely E. J,1989). Tolok ukur keberhasilanpembangunan dapat dilihat daripertumbuhan ekonomi, struktur ekonomidan semakin kecilnya ketimpanganpendapatan antarpenduduk, antardaerahdan antarsektor.Suatu ekonomi dikatakanmengalami pertumbuhan yangberkembang apabila tingkat kegiatanekonominya lebih tinggi daripada apayang dicapai pada masa sebelumnya.Pertumbuhan ekonomi adalah proseskenaikan output per kapita dalam jangkapanjang. Di sini, proses mendapatpenekanan karena mengandung unsurdinamis. Para teoretikus ilmu ekonomipembangunan masa kini masih terusmenyempurnakan makna, hakikat dankonsep pertumbuhan ekonomi. Parateoretikus menyatakan bahwapertumbuhan ekonomi tidak hanyadiukur dengan pertambahan (ProdukDomestik Bruto) PDB dan PDRB saja,akan tetapi juga diberi bobot yangbersifat immaterial seperti kenikmatan,kepuasan dan kebahagiaan dengan rasaaman dan tentram yang dirasakan olehmasyarakat luas (Lincolin Arsyad,1999).Selain itu masalah ketimpanganekonomi antardaerah tidak hanyatampak pada wilayah kecamatan,kabupaten, provinsi melainkan juga padaantar Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa,Kawasan Barat Indonesia (Kabarin) danKawasan Timur Indonesia (Katimin).Berbagai program yang dikembangkanuntuk mengurangi maupunmenghilangkan ketimpanganantardaerah selama ini ternyata belummencapai hasil yang memadai.Alokasi anggaran pembangunansebagai instrumen untuk mengurangiketimpangan ekonomi tampaknya lebihperlu diperhatikan. Strategi alokasianggaran tersebut harus mendorong danmempercepat pertumbuhan ekonominasional sekaligus menjadi alat untukmengurangi kesenjangan/ketimpanganregional (Majidi, 1997).Proses akumulasi dan mobilisasisumber-sumber berupa akumulasimodal, keterampilan tenaga kerja dansumber daya alam yang dimiliki olehsuatu daerah merupakan pemicu dalamlaju pertumbuhan ekonomi wilayah yangbersangkutan. Adanya heterogenitas danberagam karateristik suatu wilayahmenyebabkan kecendrungan terjadinyaketimpangan antardaerah danantarsektor ekonomi suatu daerah.Bertitik tolak dari kenyataantersebut, kesenjangan atau ketimpanganantardaerah merupakan konsekuensilogis pembangunan dan merupakansuatu tahap perubahan dalampembangunan itu sendiri. Perbedaantingkat kemajuan ekonomi antardaerahyang berlebihan akan menyebabkanpengaruh yang merugikan ( backwasheffects) mendominasi pengaruh yangmenguntungkan ( spread effects)terhadap pertumbuhan daerah, dalam halini mengakibatkan proses ketidakseimbangan.Pelaku-pelaku yangmempunyai kekuatan di pasar secaranormal akan cenderung meningkatbukannya menurun, sehingga akanmengakibatkan peningkatanketimpangan antar daerah. Tujuan utamadari usaha pembangunan ekonomi selainmenciptakan pertumbuhan yangsetinggi-tingginya, harus pulamenghapus dan mengurangi tingkatkemiskinan, ketimpangan pendapatandan tingkat pengangguran. Kesempatankerja bagi penduduk atau masyarakatakan memberikan pendapatan untuk1630Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


memenuhi kebutuhan hidupnya(M.P.Todaro, 2000).Paradigma pembangunan modernmemandang suatu pola yang berbedadengan pembangunan tradisional.Beberapa ekonomi modern mulaimengedepankan dethronement of GNP(penurunan tahta pertumbuhanekonomi), pengentasan gariskemiskinan, pengurangan distribusipendapatan yang semakin timpang danpenurunan tingkat pengangguran yangada. Teriakan para ekonom ini membawaperubahan dalam paradigmapembangunan yang mulai menyorotibahwa pembangunan harus dilihatsebagai suatu proses yangmultidimensional (Mudrajat Kuncoro,2003).Pembangunan dalam lingkupnegara secara spasial tidak selalu merata.Kesenjangan antardaerah seringkalimenjadi permasalahan yang serius.Beberapa daerah dapat mencapaipertumbuhan yang signifikan, sementarabeberapa daerah lainnya mengalamipertumbuhan yang lambat. Daerahdaerahyang tidak mengalami kemajuanyang sama disebabkan karena kurangnyasumber-sumber yang dimiliki; adanyakecendrungan pemilik modal (investor)memilih daerah perkotaan atau daerahyang memiliki fasilitas seperti prasaranaperhubungan, jaringan listrik, jaringantelekomunikasi, perbankan, asuransijuga tenaga terampil. Di samping itu jugaadanya ketimpangan redistribusipembagian pendapatan dari PemerintahPusat atau Propinsi kepada daerahseperti propinsi atau kecamatan(Mudrajat Kuncoro, 2004)Provinsi Riau merupakan salah satuprovinsi/daerah yang cukup kaya baikdengan hasil bumi berupa migas danhasil perkebunan berupa kelapa sawit,nenas, kelapa, karet dan lainnya. Akantetapi masyarakat masih belum puasdengan pembangunan yang dilakukanoleh pemerintah terhadap masingmasingdaerah. Hal ini tentu saja akandapat menimbulkan gejolak bagi daerahyang tidak puas.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui posisi pertumbuhanperekonomian masing-masing daerahatau kabupaten di Provinsi Riauberdasarkan pertumbuhan ekonomi danPDRB (Produk Domestik RegionalBruto) per kapita serta untuk mengetahuiketimpangan pertumbuhan ekonomiantar kabupaten di Provinsi Riau sertauntuk membuktikan apakah hipotesisKuznets berlaku di Provinsi Riau.Metode PenelitianPenelitian ini dilakukan pada daerahProvinsi Riau. Data yang digunakanadalah berupa data sekunder yangdiperoleh dari pihak terkait. Data yangdiperlukan antara lain data berupa PDRB(Produk Domestik Regional Bruto), databerupa sensus sosial ekonomi masingmasingKabupaten dan Provinsi Riau,pendapatan per kapita dari masingmasingkabupaten dan Provinsi Riau.Adapun analisis data yang digunakanoleh penulis adalah sebagai berikut ;1. Analisis yang digunakan untukmengetahui gambaran tentang poladan struktur pertumbuhan ekonomimasing-masing daerah adalahAnalisis Tipologi Klassen/Daerah(H. Aswandi dan MudrajatKuncoro, 2002). Kritera yangdigunakan terdiri dari empat ;a) Kuadaran I (pertama) yaknidaerah cepat maju dan cepattumbuh (high income and highgrowth) adalah daerah yangmemiliki pertumbuhanekonomi dan pendapatan per1631Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


kapita yang lebih tinggidibandingkan dengan ProvinsiRiaub) Kuadaran II (kedua) yakni daerahmaju tapi tertekan (high incomebut low growth) adalah daerahyang memiliki pendapatan perkapita lebih tinggi, tetapitingkat pertumbuhannya lebihrendah dibandingkan denganProvinsi Riauc) Kuadaran III (ketiga) yaknidaerah berkembang cepat (highgrowth but low income) adalahdaerah yang memiliki tingkatpertumbuhan tinggi, tetapitingkat pendapatan per kapitalebih rendah dibandingkandengan Provinsi Riaud) Dan kuadaran IV (keempat)adalah daerah relatif tertinggal(low growth and low income)adalah daerah yang memilikitingkat pertumbuhan ekonomidan pendapatan per kapita lebihrendah dibandingkan denganProvinsi Riau2. Analisis Ketimpangan Ekonomiantar Daerah digunakan 2 jenisanalisis yakni ;a) Indeks KetimpanganWilliamson (Syafrizal, 1997)yakni analisis yang digunakansebagai indeks ketimpanganregional ( regional inequality)dengan rumusan sebagai berikut;IW =(Yi- Y)2Yfi/ nDimana ;Yi = PDRB per kapita di Kabupaten iY = PDRB per kapita rata-rata diProvinsi Riaufi = jumlah penduduk di Kabupaten in = jumlah penduduk di Provinsi RiauDengan indikator bahwa apabila angkaindeks ketimpangan Williamsonsemakin mendekati nol makamenunjukkan ketimpangan yangsemakin kecil dan bila angka indeksmenunjukkan semakin jauh dari nolmaka menunjukkan ketimpangan yangmakin melebar.b) Indeks Entropi Theil yangmerupakan aplikasi konsep teoriinformasi dalam mengukurketimpangan dan konsentrasiindustri yang menawarkantentang pendapatan regional perkapita dan kesenjanganpendapatan. Adapun rumusan dariindeks entropi Theil adalahsebagai berikut (L.G. Ying, 2000)I(y) = ; (y j/ Y)x log [(y j/ Y) / X j/ X)]Dimana ;I(y)= indeks entropi TheilYj = PDRB per kapita kabupaten jY = rata-rata PDRB perkapitaProvinsi RiauXj = jumlah penduduk kabupaten jX = jumlah penduduk Provinsi RiauDengan indikator bahwa apabilasemakin besar nilai indeks entropi Theilmaka semakin besar ketimpangan yangterjadi sebaliknya apabila semakin kecilnilai indeks maka semakin merataterjadinya pembangunan.3. Kurva U Terbalik oleh Kuznets(M.P.Todaro, 2000) yaitu di manapada tahap-tahap awal pertumbuhanekonomi ketimpangan memburukatau membesar dan pada tahap-tahapberikutnya ketimpang menurun,namun pada suatu waktuketimpangan akan menaik dandemikian seterusnya sehingga1632Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


terjadi peristiwa yang berulangkalidan jika digambarkan akanmembentuk kurva U-terbalik. Dalamhal ini pembuktian kurva U-Terbalikdigunakan sebagai berikut(Mudrajat Kuncoro, 2004) ;- Menghubungkan antara angkaindeks Williamson denganPertumbuhan PDRB ProvinsiRiau.- Menghubungkan antara angkaindeks Entropi Theil denganPertumbuhan PDRB ProvinsiRiau.Dengan indikator apabila keduaangka indeks tersebutmenggambarkan kurva U terbalik,maka teori Kuznets berlaku diProvinsi Riau sebaliknya apabilakedua angka indeks tidakmenggambarkan kurva U terbalik,maka teori Kuznets tidak berlaku diProvinsi Riau.Hasil Dan PembahasanPola dan Struktur Ekonomi ProvinsiRiauUntuk mengetahui klasifikasidaerah didasarkan kepada dua indikatorutama yaitu pertumbuhan ekonomi danpendapatan atau produk domestikregional bruto per kapita. Denganmenentukan rata-rata produk domestikregional bruto (PDRB) per kapitasebagai sumbu horizontal, sedangkandaerah per kabupaten dibagi menjadiempat golongan yaitu kabupaten yangcepat maju dan cepat tumbuh ( highgrowth and high income), kabupatenmaju tapi tertekan (high income but lowgrowth), kabupaten yang berkembangcepat (high growth but low income) dankabupaten yang relatif tertinggal ( lowgrowth and low income). (Sjafrizal,1997; Mudrajat Kuncoro dan Aswandi,2002).Dari hasil penelitian tersebut dapatdiketahui bahwa di Provinsi Riau selamaperiode tahun 2003-2005 dapatdisimpulkan bahwa jika indeksWilliamson lebih besar atau lebih kecilberarti Indek entropi Theil lebih besaratau kecil juga. Dalam arti jika PDRBper kapita antar kecamatan lebih rendahatau merata belum tentu tingkatketimpangan pembangunannya lebihkecil maupun sebaliknya.Selama tahun 2003-2005, rata-rataPDRB Per kapita Provinsi Riau sebesar6,83. Daerah yang tertinggi di atas ratarataprovinsi adalah Kabupaten KuantanSingingi sebesar 8,02, KabupatenIndragiri Hulu, Pelalawan, Siak danKota Pekanbaru masing-masing sebesar9,31, 9,40 8,77 dan 7,11. Untuk PDRBatas harga konstan non migas tahun2000, selama 3 (tiga) tahun yakni tahun2003, 2004 dan 2005 rata-rata tertinggidimiliki oleh Kabupaten Kampar danKota Pekanbaru yakni sebesar5.137.941,59 dan 5.008.005,49.Sedangkan yang terendah dimiliki olehKota Dumai dan Kabupaten KuantanSingingi yakni masing-masing sebesar1.270.909,30 dan 1.944.157,66.Dari gambar 1, dapat diketahuibahwa daerah yang mengalami cepatmaju dan cepat tumbuh (high growth andhigh income) hanya 1 (satu) daerah sajayakni Kota Pekanbaru. Daerah ataukabupaten yang dikategorikanberkembang cepat dalam artipertumbuhan ( high growth but lowincome) adalah Kabupaten Pelalawan,Kuantan Singingi, Indragiri Hulu danKabupaten Siak. Untuk daerah ataukabupaten yang maju tapi tertekan (highincome but low growth) adalah padaKabupaten Indragiri Hilir, Rokan Hulu1633Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


dan Kabupaten Kampar, sedangkan daerah yang pembangunan atau pertumbuhanekonominya relatif tertinggal adalah Kabupaten Rokan Hilir, Dumai dan KabupatenBengkalis.NoTabel 1. PDRB Per Kapita Provinsi RiauNama KabupatenPDRB Per Kapita2003 2004 2005Rata-Rata1 Kuantan Singingi 7.37 8.02 8.66 8.022 Indragiri Hulu 8.69 9.26 9.97 9.313 Indragiri Hilir 6.43 6.92 7.38 6.914 Pelalawan 9.17 9.35 9.69 9.405 Siak 8.40 8.77 9.15 8.776 Kampar 5.33 5.69 6.04 5.697 Rokan Hulu 4.84 5.18 5.52 5.188 Bengkalis 4.56 4.74 4.99 4.769 Rokan Hilir 5.80 6.15 6.57 6.1710 Pekanbaru 6.79 7.18 7.36 7.1111 Dumai 5.65 5.89 6.05 5.86Rata-Rata Riau 6.40 6.83 7.26 6.83Sumber : Data Olahan BPS, 2003-2005Selama tahun 2003-2005, rata-rataPDRB Per kapita Provinsi Riau sebesar6,83. Daerah yang tertinggi di atas ratarataprovinsi adalah Kabupaten KuantanSingingi sebesar 8,02, KabupatenIndragiri Hulu, Pelalawan, Siak danKota Pekanbaru masing-masing sebesar9,31, 9,40 8,77 dan 7,11. Untuk PDRBatas harga konstan non migas tahun2000, selama 3 (tiga) tahun yakni tahun2003, 2004 dan 2005 rata-rata tertinggidimiliki oleh Kabupaten Kampar danKota Pekanbaru yakni sebesar5.137.941,59 dan 5.008.005,49.Sedangkan yang terendah dimiliki olehKota Dumai dan Kabupaten KuantanSingingi yakni masing-masing sebesar1.270.909,30 dan 1.944.157,66.Dari gambar 1, dapat diketahuibahwa daerah yang mengalami cepatmaju dan cepat tumbuh (high growth andhigh income) hanya 1 (satu) daerah sajayakni Kota Pekanbaru. Daerah ataukabupaten yang dikategorikanberkembang cepat dalam artipertumbuhan ( high growth but lowincome) adalah Kabupaten Pelalawan,Kuantan Singingi, Indragiri Hulu danKabupaten Siak. Untuk daerah ataukabupaten yang maju tapi tertekan (highincome but low growth) adalah padaKabupaten Indragiri Hilir, Rokan Huludan Kabupaten Kampar, sedangkandaerah yang pembangunan ataupertumbuhan ekonominya relatiftertinggal adalah Kabupaten RokanHilir, Dumai dan Kabupaten Bengkalis.1634Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Ketimpangan Ekonomi antarDaerahKetimpangan pembangunanmemang merupakan salah satu halpenting yang harus diperhatikan olehPemerintah dan komponen masyarakat.Dari hasil penelitian diketahui bahwaselama tahap awal pembangunan,disparitas regional menjadi lebih besardan pembangunan terkonsentrasi didaerah-daerah tertentu. Pada tahap yanglebih baik, jika dilihat dari pertumbuhanekonomi tampak adanya keseimbanganantar daerah dan disparitas berkurangdengan signifikan.Tabel 3 menunjukkan bahwa indeksketimpangan PDRB per kapita antarakabupaten di Provinsi Riau selamaperiode 2003-2005 rata-rata sebesar0,028. Selama tahun 2003-2005, terjadikenaikan ketimpangan PDRB per kapitaantar kabupaten walaupun tidaksignifikan seperti tahun 2003 IndeksWilliamson sebesar 0,027 naik menjadisebesar 0,028 tahun 2004 dan tahun2005 sebesar 0,030. Hal ini berartimembuktikan bahwa semakin banyakpembangunan yang harus dilakukanmaka tingkat kemungkinan ketimpanganyang akan terjadi semakin tinggi. UntukTabel 2. PDRB Atas Harga Konstan Non Migas1635No Nama Kabupaten PDRB Atas Harga Konstan Tahun 20002003 2004 2005Rata-Rata1 Kuantan Singingi 1,776,319.21 1,947,432.73 2,108,721.03 1,944,157.662 Indragiri Hulu 2,459,709.30 2,639,431.65 2,857,461.63 2,652,200.863 Indragiri Hilir 4,035,890.53 4,348,272.91 4,654,045.18 4,346,069.544 Pelalawan 1,913,725.80 2,050,712.95 2,195,348.21 2,053,262.325 Siak 2,313,289.91 2,478,750.37 2,653,067.99 2,481,702.766 Kampar 4,299,917.91 5,074,253.30 6,039,653.57 5,137,941.597 Rokan Hulu 3,473,668.48 4,231,715.29 5,143,410.90 4,282,931.568 Bengkalis 2,889,500.03 3,126,467.10 3,357,161.38 3,124,376.179 Rokan Hilir 2,449,829.07 2,625,992.95 2,829,730.20 2,635,184.0710 Pekanbaru 4,568,757.09 5,004,326.22 5,450,933.15 5,008,005.4911 Dumai 1,170,056.51 1,271,450.43 1,371,220.97 1,270,909.30Rata-Rata Provinsi 2,850,060.35 3,163,527.81 3,514,614.02 3,176,067.39Sumber : Data Olahan BPS, 2003-2005Ketimpangan pembangunan antardaerah atau antar kabupaten di ProvinsiRiau selama tahun 2003-2005 dapatdianalisis dengan menggunakan indekketimpangan regional ( regionalinequality) atau biasa disebut dengannama Indeks Williamson (Sjafrizal,1997). Dalam hal ini Indeks Williamsondapat dilihat pada tabel 3.lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar2 mengenai kenaikan IndeksWilliamson.Tinggi rendahnya nilai IndeksWilliamson mengandung arti bahwaketimpangan rata-rata produk domestikregional bruto (PDRB) per kapita antardaerah atau antar kabupaten di ProvinsiJurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Riau dibandingkan dengan kabupaten yang ada tersebut menunjukkan bahwa secararata-rata tingkat PDRB per kapita antar kabupaten di Provinsi Riau tidak merata.Untuk kabupaten yang Indeks Williamsonnya berada di bawah rata-rata indeksprovinsi atau lebih rendah antara lain Kabupaten Indragiri Hilir, Kota Pekanbaru,Kabupaten Rokan Hilir, Kota Dumai dan Kabupaten Kuantan Singingi mengandungarti bahwa secara rata-rata tingkat PDRB per kapita antar kabupaten yang ada relatiflebih merata jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Provinsi Riau.Gambar 1. Pola dan Struktur Perekonomian Provinsi Riau, 2003-2005(Dalam Puluhan Ribu)Keterangan :PLW : Kabupaten PelalawanKS : Kabupaten Kuantan SingingiINHU : Kabupaten Indragiri HuluINHIL : Kabupaten Indragiri HilirDMI : Kota DumaiBLS : Kabupaten BengkalisRHU : Kabupaten Rokan HuluRHI : Kabupaten Rokan HilirPKU : Kota PekanbaruKMP : Kabupaten KamparSumber : Data Olahan1636Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Rendahnya nilai Indeks Williamsonantar daerah atau kabupaten bukanberarti secara otomatis menerangkanbahwa tingkat kesejahteraan masyarakatdi kabupaten tersebut (IndeksWilliamson lebih rendah) lebih baik jikadibandingkan dengan kabupaten lainnya.(Indeks Williamson lebih tinggi darirata-rata provinsi). Indeks Williamsonhanya menjelaskan distribusi PDRB perkapita antar kabupaten di Provinsi Riautanpa menjelaskan seberapa besar PDRBper kapita antar kabupaten di ProvinsiRiau yang didistribusikan tersebutdengan rata-rata PDRB daerah ataukabupaten lainnya.Tabel 3. Indeks Williamson Provinsi Riau Periode 2003-2005No Kabupaten IW 2003 IW 2004 IW 2005 RERATA IW1 Kuantan Singingi 0,008 0,011 0,014 0,0112 Indragiri Hulu 0,052 0,055 0,064 0,0573 Indragiri Hilir 0,000 0,000 0,000 0,0004 Pelalawan 0,057 0,045 0,042 0,0485 Siak 0,039 0,034 0,031 0,0356 Kampar 0,021 0,022 0,024 0,0237 Rokan Hulu 0,028 0,029 0,030 0,0298 Bengkalis 0,076 0,093 0,106 0,0919 Rokan Hilir 0,005 0,006 0,006 0,00610 Pekanbaru 0,004 0,003 0,000 0,00211 Dumai 0,004 0,006 0,010 0,007RERATA 0,027 0,028 0,030 0.028Sumber : Data OlahanGambar 2. Grafik Indeks Willamson, 2003-2005Indeks Williamson0.0300.0300.0290.0290.0280.0280.0270.0270.0260.0260.0252003 2004 2005Tahun PengamatanSumber : Data Olahan1637Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Untuk mengetahui besarnya tingkatketimpangan suatu daerah selainmemakai Indek Williamson juga dapatmemakai Indeks entropi Theil. Indeksentropi Theil pada dasarnya merupakanaplikasi konsep teori informasi dalammengukur ketimpangan ekonomi dankonsentrasi industri . Dari hasilpenelitian didapatkan nilai indeksentropi periode tahun 2003-2005, rataratasebesar 1,158. Hal ini berbedadengan Indeks Williamson, maka padaindeks entropi periode tahun 2003-2005mengalami penurunan. Hal ini dapatdilihat di mana pada tahun 2003, nilaiindeks entropi sebesar 1,174 sedangkanpada tahun 2005 mengalami penurunanmenjadi 1,142. Untuk lebih jelasnyadapat dilihat pada gambar 3 mengenaipenurunan Indeks entropi Theil.semakin rendah/kecil atau dengan katalain semakin merata. Hal inimenunjukkan berarti setiappembangunan yang dilaksanakan diProvinsi Riau selama periode tahun2003-2003 menurut Indeks entropi Theilmaka tingkat ketimpangan semakinrendah.Dari hasil penelitian tersebut dapatdiketahui bahwa di Provinsi Riau selamaperiode tahun 2003-2005 dapatdisimpulkan bahwa jika indeksWilliamson lebih besar atau lebih kecilberarti Indek entropi Theil lebih besaratau kecil juga. Dalam arti jika PDRBper kapita antar kecamatan lebih rendahatau merata belum tentu tingkatTabel 4. Indeks entropi Theil Provinsi Riau Periode 2003-2005No Kabupaten I(y) 2003 I(y) 2004 I(y) 2005 RERATA I(y)1 Kuantan Singingi 1,526 1,572 1,612 1,5702 Indragiri Hulu 1,801 1,804 1,838 1,8153 Indragiri Hilir 0,854 0,871 0,880 0,8684 Pelalawan 2,125 1,993 1,884 2,0015 Siak 1,741 1,688 1,644 1,6916 Kampar 0,702 0,706 0,713 0,7077 Rokan Hulu 0,762 0,771 0,779 0,7708 Bengkalis 0,496 0,473 0,457 0,4759 Rokan Hilir 0,886 0,881 0,894 0,88710 Pekanbaru 0,898 0,875 0,832 0,86811 Dumai 1,127 1,085 1,030 1,081RERATA 1,174 1,156 1,142 1,158Sumber : Data OlahanIndeks entropi Theil yang semakinmembesar menunjukkan ketimpanganyang semakin membesar pula. Demikianpula sebaliknya, bila indeksnya semakinkecil, maka ketimpangannya akanketimpangan pembangunannya lebihkecil maupun sebaliknya.Pembuktian Hipotesis Kuznets1638Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Dari gambar 2 dan 3 dapat diketahuiIndeks Williamson maupun Indeksentropi Theil yang menunjukkankecendrungan ketimpangan pembangunanekonomi di Provinsi Riaudalam periode tahun 2003-2005. Akantetapi kecendrungan tersebut belumtentu dapat membuktikan hipotesisKuznets di Provinsi Riau berlaku.Hipotesis Kuznets dapat dibuktikandengan cara membuat grafik antaraPDRB dengan angka indeksketimpangan baik Indeks Williamsonmaupun Indeks entropi Theil. Grafiktersebut menggambarkan hubunganantara pertumbuhan PDRB denganindeks ketimpangan Williamson maupunpertumbuhan PDRB dengan indeksketimpangan entropi Theil pada periode2003-2005.Dari gambar 4 dan 5 dapat diketahuibahwa kurva U terbalik tidak sempurna.Sehingga bisa dikatakan bahwa diProvinsi Riau pada masa-masa awalpertumbuhan ketimpangan memburukdan masa berikutnya ketimpanganmenurun, namun pada periode 2003-2005 terjadi ketimpangan yang terjadiSelain tidak menggunakan memburuk gambaran pada periode kurva,peneliti berikutnya. juga menggunakan Gambar 4 gambaran dan 5secara menunjukkan statistik bahwa yakni melalui hipotesis pengolahan Kuznetsdata dapat statistik dikatakan melalui tidak berlaku korelasi di Provinsi Pearsonuntuk Riau. mengetahui hubungan antaraPDRB dengan Indeks Williamson danantara PDRB dengan Indeks EntropiTheil. Dari hasil analisis korelasiPearson antara PDRB dengan IndeksWilliamson terdapat nilai -0,997 dengantingkat signifikasi 0,23 dan korelasiantara PDRB dengan Indeks entropiTheil dengan nilai 0,982 dan signifikasi0,61 yang berarti secara statistik korelasiini kurang kuat karena tidak terbuktisecara signifikasi pada α = 5%.Gambar 3. Grafik Indeks entropi Theil, 2003-20051.180Indeks Entropi Theil1.1701.1601.1501.1401.1301.1202003 2004 2005Tahun PengamatanSumber : Data Olahan1639Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 5. Korelasi Pearson antara PDRB dengan IndeksWilliamson dan Indeks entropi TheilKorelasi Signifikasi PDRBIndeks Williamson 0,23 -0,997Indeks entropi Theil 0,61 0,982Sumber : Data OlahanGambar 4. Kurva Hubungan antara Indeks Williamson dengan PDRBProvinsi Riau Periode 2003-2005Sumber : Data OlahanGambar 5.Kurva Hubungan antara Indeks entropi Theildengan PDRB Provinsi Riau Periode 2003-2005Sumber : Data Olahan1640Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Kesimpulan1. Di dalam pertumbuhan ekonomidaerah Provinsi Riau, daerah yangtermasuk daerah yang mengalamicepat maju dan cepat tumbuh (highgrowth and high income) hanya 1(satu) daerah saja yakni KotaPekanbaru. Daerah atau kabupatenyang dikategorikan berkembangcepat dalam arti pertumbuhan (highgrowth but low income) adalahKabupaten Pelalawan, KuantanSingingi, Indragiri Hulu danKabupaten Siak. Untuk daerah ataukabupaten yang maju tapi tertekan(high income but low growth)adalah pada Kabupaten IndragiriHilir, Rokan Hulu dan KabupatenKampar, sedangkan daerah yangpembangunan atau pertumbuhanekonominya relatif tertinggal adalahKabupaten Rokan Hilir, Dumai danKabupaten Bengkalis.2. Selama periode pengamatan 2003-2005, terjadi ketimpanganpembangunan yang tidak cukupsignifikan berdasarkan IndeksWilliamson, sedangkan menurutIndeks entropi Theil, ketimpanganpembangunan boleh dikatakan kecilyang berarti masih terjadinyapemerataan pembangunan setiaptahunnya selama periodepengamatan. Sebagai akibatnyatidak terbuktinya hipotesis Kuznetsdi Provinsi Riau yang mengatakanadanya kurva U terbalik.Rekomendasi1. Perlunya perhatian pemerintahsecara serius untuk mengatasimasalah-masalah yangberhubungan dengan ekonomiterutama untuk memeratakanpembangunan dan PDRB per kapitapenduduk di kabupaten atau daerahyang ada. Salah satunya adalahdengan meningkatkan kegiatanekonomi masyarakat atau sentraekonomi di daerah melaluipemberdayaan kegiatan ekonomimasyarakat.2. Konsolidasi antar daerah ataukabupaten dengan pemerintahanprovinsi perlu dilakukan agarpelaksanaan pembangunan dapatterlaksana secara menyeluruhsehingga pemerataan pembangunandapat tercapai dan ketimpanganterhadap pembangunan ekonomidapat diminimalisir.Daftar KepustakaanArsyad, Lincolin. 1999. PengantarPerencanaan dan PembangunanEkonomi Daerah, Edisi Pertama,BPFE, Yogyakarta 1641Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Majidi, N. 1997. Anggaran Pembangunandan Ketimpangan Ekonomi antarDaerah. Prisma, LP3SSjafrizal. 1997. Pertumbuhan Ekonomi danKetimpangan Regional WilayahIndonesia Bagian Barat. PrismaLP3ES, No 3 Tahun XXVI.Sukirno, Sadono. 1998. EkonomiPembangunan. Jakarta: LPFE-UITodaro, M.P. 2000. Economic Development,Seventh Edition, New York,Addition Wesley Longman, Inc.Ying, L.G. 2000. China’s Changing RegionalDisparities during the ReformPeriod. Journal EconomicGeography, XXIV (7).1642Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


DISPARITAS EKONOMI WILAYAH BARAT DAN WILAYAHTIMUR PROVINSI SUMATERA UTARADAN KAITANNYA DENGAN PERENCANAAN WILAYAHSirojuzilam*)Abstract:Regional economic growth influence by internal or external factors. Economicgrowth as indicated by the capabilities of a region to supplied various economic goods forthe resident on the long run period. Various problem raised on conjuction with regionaleconomic growth. Regional disparities and equally development distribution becoming mainproblem on regional growth.This research used the panel data (time series and cross section data) from various region.Data analysis aid by the use of GLS (Generalized Least Square). This methode consist of twomodels, as commonly recommended, ie : Fixed Effect Model (FEM) and Random EffectModel (REM). The research result show that coefficient of determination (R 2 ) 0,79 %, meaningthat 79 % of independent variable could explain it influence on dependent variable, whilethe rest of 21 % explained by the other variable outside of the model. Estimation result showthat investment (domestic investment) give positive influence on economic growth, governmentdevelopment expenditure positively influence economic growth, the total high school positivelyinfluence economic growth, roads network negatively influence economic growth, populationdensity positively influence economic growth, and etnic heterogeneity also positively influenceeconomic growth with significant level of 95 %Key word : regional economic disparity and regional planningPendahuluanBerbagai masalah timbul dalamkaitan dengan pertumbuhan ekonomiwilayah, dan terus mendorongperkembangan konsep-konseppertumbuhan ekonomi wilayah. Dalamkenyataannya banyak fenomena tentangpertumbuhan ekonomi wilayah.Kesenjangan wilayah dan pemerataanpembangunan menjadi permasalahanutama dalam pertumbuhan wilayah,bahkan beberapa ahli berpendapatbahwa pertumbuhan ekonomi wilayahtidak akan bermanfaat dalam pemecahanmasalah kemiskinan, sehinggapemahaman mengenahi faktor-faktorpertumbuhan wilayah dan prosespenjalaran pertumbuhan merupakan halyang penting dalam kaitan dengan studiini.Data menunjukkan bahwa lebih dari50% dari total penduduk ProvinsiSumatera Utara berdomisili di WilayahTimur dengan luas wilayah sebesar34,81 % dari total wilayah ProvinsiSumatera Utara dan kurang dari 20 %penduduk Provinsi SumateraUtaraberdomisili di Wilayah Baratdengan total luas wilayah sebesar 25,05% dari total Provinsi Sumatera Utara.*) Dosen FE & SPs USU1643Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Ketika para ekonomi baratdihadapkan pada permasalahan negaranegarasedang berkembang, belum adasuatu kerangka teoripun yang dapatmereka pergunakan di dalam membahaspermasalahan ini. Sehingga konseppertumbuhan ekonomi diterapkan begitusaja di negara-negara berkembang.Strategi meningkatkan pendapatan perkapita ini lebih dikenal sebagai strategipertumbuhan ekonomi (Growth-orientedstrategy). Todaro (2003)mendefenisikan pembangunan ekonomiadalah suatu proses yang bersifatmultidimensional yang melibatkankepada perubahan besar baik terhadapperubahan struktur ekonmi, perubahansosial, mengurangi atau menghapuskankemiskinan, mengurangi ketimpangan,dan pengangguran dalam dalam kontekspertumbuhan ekonomi.Pertumbuhan ekonomi daerah yangbebeda-beda inensitasnya akanmenyebabkan terjadinya ketimpanganatau disparitas ekonomi danketimpangan pendapatan antar daerah.Myrdal (1964) dan Friedman (1976)menyebutkan bahwa pertumbuhan atauperkembangan daerah akan menujukepada divergensi.Salah satu permasalahan pokok yangharus dipikirkan dalam perencanaanwilayah menurut Miraza (2006}adalahmasalah transportasi. Kamaluddin(2003) menyatakan bahwa transportasimerupakan unsur yang penting danberfungsi sebagai urat nadi kehidupandan perkembangan ekonomi, sosial,politik dan mobilitas penduduk yangtumbuh bersamaan dan mengikutiperkembangan yang terjadi dalamberbagai bidang dan sektor.Pendidikan merupakan komponenpenting dan vital terhadap pembangunanterutama dalam meningkatkanpertumbuhan ekonomi yang keduanyamerupakan input bagi total produksi(Todaro,2003). Pendididkan jugaberfungsi meningkatkan produktivitas.Selain dari itu kemampuan untukmenyerap teknologi memerlukanpeningkatan kualitas sumber dayamanusia. Pertambahan pendudukbukanlah merupakan suatu masalah,melainkan sebaliknya justru merupakanunsur penting yang akan memacupembangunan ekonomi. Populasi yanglebih besar adalah pasar potensial yangmenjadi sumber permintaan akanberbagai macam barang dan jasa yangkemudian akan menggerakan berbagaimacam kegiatan ekonomi sehinggamenciptakan skala ekonomis (economicsof scale) produk yang menguntungkansemua pihak, menurunkan biaya-biayaproduksi, dan menciptakan sumberpasokan atau penawaran tenaga kerjamurah dalam jumlah yang memadaisehingga pada gilirannya merangsangtingkat output atau produksi agregatyang lebih tinggi lagi (Todaro, 2003).Rostow dan Musgrave (2003)mengembangkan teori yangmenghubungkan perkembanganpengeluaran pemerintah dan tahap-tahappembangunan ekonomi. Pada tahap awalperkembangan ekonomi persentaseinvestasi pemerintah terhadap totalinvestasi besar sebab pemerintah harusmenyediakan prasarana seperti misalnyapendidikan, kesehatan, prasaranatransportasi dan sebagainya.Nugroho(2004) menyatakan bahwa pendekatanperencanaan regional dititikberatkanpada aspek lokasi di mana kegiatandilakukan. Pemerintah daerah1644Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


mempunyai kepentingan yang berbedabedadengan instansi – insansi di pusatdalam melihat aspek ruang di suatudaerah. Artinya bahwa dengan adanyaperbedaan pertumbuhan dan disparitasantar wilayah, maka pendekatanperencanaan parsial adalah sangatpenting untuk diperhatikan. Dalamperencanaan pembangunan daerah perludiupayakan pilihan-pilihan alternatifpendekatan perencanaan sehinggapotensi sumberdaya yang ada akan dapatdioptimalkan pemanfaatannya.Perencanaan wilayah menurutMiraza (2006} mencakup pada berbagaisegi kehidupan yang bersifatkomprehensif dan satu sama lain salingbersentuhan, yang semuanya bermuarapada upaya meningkatkan kesejahteraanmasyarakat. Berbagai faktor dalamkehidupan seperti ekonomi, politik dansosial serta budaya maupun adat istiadatberbaur dalam sebuah perencanaanwilayah, yang cukup kompleks. Semuafaktor harus dipertimbangkan dandiupayakan berjalan seiring dan salingmendukung. Perencanaan wilayahdiharapkan akan dapat menciptakansinergi bagi memperkuat posisipengembangan dan pembangunanwilayah dari berbagai daerah sekitarnya.Han (1996) melakukan penelitian diChina menunjukkan bahwa disparitaspendapatan terjadi sebagai akibat dariunlawful factors (exploitation of policy,systematic and administrative loopholesand abusing individuals power to gainpersonal wealth through illegal profitingand tax evasion) uneven distribution ofresources between different regions.Salah satu model pertumbuhanekonomi yang dapat menjelaskanpertumbuhan ekonomi antar wilayahadalah model Barro dan Sala-i-Martin(1995) melakukan penelitian di 87negara periode 1965-1975 dan di 97negara pada periode 1975-1985.Hasilnya menunjukkan adanya korelasiyang positip antara pertumbuhan GDPdengan initial GDP per capita,educational attainment, life expectancy,public spending in education, changesin the terms of the investment ratio danthe rule of law.Higgins (1995) menyatakan bahwa ; Ifrich natural resources and vast are acurse, it follows that regional disparitiesare to be explained in term of humanresources, or cultural factors.Suatu studi yang dilakukan olehFleischer dan Chen (1996) tentang gapdiantara wilayah pantai dan bukanwilayah pantai di China menunjukkanbahwa disparitas tersebut disebabkanoleh masalah kurangnya investasi baikfisik maupun manusia dan investasiasing serta infrastruktur Guiso, Sapienzadan Zingales (2004) menunjukkanbahwa kultur berperan besar dalampembentukan kepercayaan. Kepercayaanmempengaruhi kecenderunganmasyarakat suatu negara dalammelakukan pertukaran ekonomi daninvestasi antar negara.Metode1. Lokasi PenelitianPenelitian ini dilakukan di PropinsiProvinsi Sumatera Utara, yaitu DaerahKabupaten dan Kota yang berada diWilayah Barat dan Wilayah Timur.Wilayah Barat terdiri dari KabupatenTapanuli Selatan, Kabupaten TapanuliTengah, Kabupaten Nias dan KotaSibolga. Sedangkan Wilayah Timurterdiri dari : Kabupaten Labuhan Batu,1645Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Kabupaten Asahan, Kota Tebing Tinggi,Kota Tanjung Balai, Kabupaten DeliSerdang, Kota Medan, Kota Binjai danKabupaten Langkat.2. Jenis dan Sumber DataJenis data pada penelitian ini adalahdata panel (1983-2004) dari berbagaidaerah yang bersumber dari : BPS(Badan Pusat Statistik), PemerintahKabupaten dan Kota, BAPPEDA (BadanPerencanaan dan Pembangunan Daerah)dan sumber lainnya .Di samping data sekunder,penelitian ini juga menggunakan dataprimer dan untuk mendapatkan dataprimer khususnya berkaitan denganpandangan masyarakat pengusaha,pejabat dan bankir.3. Model dan Analisis Data3.1. Williamson Index (V w)Dapat dipergunakan untukmenghitung ketimpangan pembangunandaerah.Vw = (Y i - Y) 2 PiPYDi mana:VwY iYP iP0 < Vw < 1= Indeks Williamson= Pendapatan perkapita daerah i= Pendapatan perkapita nasional= Jumlah penduduk daerah i= Jumlah penduduk nasional3.2. Klassen Typologi3.3. Model Analisis PenelitianPenelitian ini menggunakan datapanel (time series dan cross section data)dari berbagai daerah. Hal ini disebabkankarena keterbatasan data di beberapadaerah penelitian sehingga dengan datapanel jumlah pengamatan menjadi lebihpanjang. Analisis data dibantu denganmenggunakan metode GLS(Generalized Least Square).Metode GLS merupakan perangkatanalisis yang memiliki hasil lebih baikdibandingkan dengan metode OLS(Ordinary Least Square), karena metodeGLG memiliki sifat BLUE (Best LinearUnbiased Estimation). Metode GLSterdiri dari dua model yang biasadirekomendasikan yaitu : Fixed EffectModel/FEM (Model Efek Tetap) danRandom Effect Model/REM (ModelEfek Random).Model dasar penelitian adalah sebagaiberikut :Y = f (I, G,T, PG, P, B) ................ 1)di mana :Y = PDRB (Rp Milyar)I = Investasi PMDN (Rp Milyar)G = Pengeluaran PembangunanPemerintah (Rp Milyar)T = Panjang jalan Kabupaten/Kota(Km)PG = Kepadatan Penduduk (P/Km2)P = Jumlah Murid SLTA (Orang)B = Heterogenitas suku (openregion)Dari model dasar tersebut,kemudian selanjutnya1646Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


dispesifikasikan dalam model dengan variabel yang ada yaitu :Y = f ( PMDN, PPEM, PALAN, POP, MURIDSLTA, D S) ................................2)sehingga diperoleh model persamaan ekonometrika sebagai berikut :y = α 0+ α 1PMDN + α 2PPEM + α 3PALAN + α 4MURIDSLTA+ α 5POP + α 6D S+ μ ............................................................................................................ 3)Hasil1. Potensi WilayahWilayah Provinsi Sumatera Utaramemiliki potensi lahan yang cukup luasdan subur untuk dikembangkan menjadiareal pertanian untuk menunjangpertumbuhan industri. Laut, danau dansungai merupakan potensi perikanan danperhubungan. Sedangkan keindahanalam daerah merupakan potensi enerjikuntuk pengembangan industriperdagangan dan lain-lain. Dalamwilayah Provinsi Sumatera Utaraterkandung bahan galian dan tambangseperti: kapur, belerang, pasir kuarsa,kuolin, diamtome, emas, batu bara,minyak dan gas bumi.Kegiatan perekonomian terpentingdi Provinsi Sumatera Utara adalah padasektor pertanian yang menghasilkanbahan pangan dan budidaya ekspor dariperkebunan, tanaman pangan,peternakan, perikanan dan kehutanan.Sedangkan industri yang berkembang diProvinsi Sumatera Utara adalah industripengolahan yang menunjang sektorpertanian, industri yang memproduksibarang-barang kebutuhan dalam negeridan ekspor meliputi industri logamdasar, aneka industri kimia dasar, danindustri kecil.2. Historis Provinsi Sumatera UtaraPada tahun 1863, Jacob Nienhuysseorang Belanda pengusaha perkebunandi Jawa mengunjungi pesisir timur lautSumatera dan mendapatkan tanah untukperkebunan di Labuhan Deli yangmerupakan tanah konsesi dari SultanDeli Mahmud Perkasa Alam. Keadaanini kemudian terbuka kesempatankepada para peminat orang Eropahmenanam modalnya di Deli. Setahunkemudian, hasil panen tembakau yangpertama sekali dikapalkan ke Rotterdam,hasilnya memuaskan kemudiantembakau Deli menjadi mashyur. Inilahawal eksploitasi besar-besaranperusahaan perkebunan Eropah di pesisirtimur laut Sumatera, khususnya daerahDeli dan sekitarnya. Pada kurun waktuitu mulai dipekerjakan buruhperkebunan yang di datangkan dariSwatow (China), Singapura, Malakaserta orang keeling (India) yangdidatangkan dari Penang.3. Perekonomian Wilayah di ProvinsiSumatera UtaraProduk Domestik Regional Bruto(PDRB) merupakan keseluruhan nilaitambah yang dasar pengukurannyatimbul akibat adanya berbagai aktivitasekonomi dalam suatu wilayah. Data1647Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


PDRB menggambarkan kemampuansuatu daerah dalam mengelola sumberdaya yang dimilikinya.Tabel 1 : Pertumbuhan Ekonomi Wilayah di Provinsi Sumatera Utara 1992-2004 (%)1648No.1 NiasKabupaten/Kota1983-1992 1993-1999 2000-2004ADHK1983 ADHK 1993 ADHK 2000Wilayah Barat 6,99 5,42 4,602 Tapanuli Selatatan3 Tapanuli Tengah4 Sibolga5 AsahanWilayah Timur 9,79 6,41 5,806 Deli Serdang7 Langkat8 Labuhan Batu9 Tanjung Balai10 Tebing Tinggi11 Medan12 BinjaiSumatera Utara 7.97 5.28 5,50Sumber : Data diolah dari BPS berbagai penerbitan4.Klasifikasi Wilayah Kabupaten danKota Provinsi Sumatera UtaraPerekonomian suatu wilayah terbentukdari berbagai macam aktivitas/ kegiatanekonomi yang timbul di wilayahtersebut. Kegiatan ekonomidikelompokkan kedalam sembilansektor/lapangan usaha. Adanyaperbedaan geografis maupun potensiekonomi yang dimiliki suatu daerahmengambarkan keadaan sektor-sektorekonomi yang menentukan danberpengaruh di daerah tersebut.Perkembangan PDRB danpertumbuhan ekonomi dari setiap daerahuntuk periode 1983-2004, maka dapatdiklasifikasikan wilayah di ProvinsiSumatera Utara sebagai berikut : Daeahyang termasuk dalam klasifikasi daerahcepat tumbuh dan sepat maju adalahKota Binjai, Kota Tanjung Balai, KotaMedan, Kota Tebing Tinggi, KabupatenLabuhan Batu, Kabupaten Asahan, danKabupaten Langkat. Sedangkan daerahyang termasuk daerah berkembang cepatJurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


11.00Gambar 1 : Klasifikasi Wilayah Kabupaten dan KotaProvinsi Sumatera Utara 1983-2004BinjaiPertumbuhan Ekonomi (%)9.007.005.003.00KaroDeli SerdangSibolgaTapteng SimalungunTTinggiTaput LangkatNiasTj BalaiP SiantarLabuhan BatuAsahanMedan1.00Tapanuli SelatanDairi0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 7000000 8000000-1.00PDRB Per Kapita (Rp)adalah Kabupaten Deli Serdang,Kabupaten Tapanuli Tengah dan KotaSibolga. Untuk daerah yang relatiftertinggal adalah Kabupaten Nias danKabupaten Tapanuli Selatan.5. Ketimpangan Wilayah di ProvinsiSumatera UtaraUntuk memberikan gambaranterhadap disparitas antar wilayahdigunakan indeks Williamson. Darihasil analisis terhadap data yang adadiperoleh niai indeks Williamson disetiap tiap Kabupaten dan Kota selamatahun 1985 hingga tahun 2004. Dilihatdari rata-rata indeks Williamson padaWilayah Barat dan Wilayah Timur. DiWilayah Timur memiliki indeksWilliamson terbesar dengan rata-ratapada tahun 1985 –2004 berkisar antara0,1598 hingga 0,1720. Di WilayahBarat, indeks Williamson paling kecilada di Kota Sibolga. Untuk tahun 2004,yang paling timpang adalah KabupatenAsahan, Kota Medan, KabupatenLabuhan Batu, dan Deli Serdang.Daerah-daerah di Wilayah Timurmemiliki indeks Williamson relatifrendah, yang menggambarkan bahwaketidakmerataan antar wilayah relatifkecil. Kabupaten Langkat merupakandaerah dengan tingkat ketimpanganterkecil dengan indeks Williamsonsebesar 0,1030 pada tahun 2004. Diikutioleh Kabupaten Deli Serdang denganindeks Williamson sebesar 0,1044.Secara umum dapat disimpulkan bahwaketimpangan ekonomi yang terjadidiantara ke dua wilayah baik barat1649Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


maupun timur dapat dijelaskan bahwasecara rata-rata di wilayah timur angkaketimpangannya lebih besar secararelatif dibandingkan dengan wilayahbarat.6. Aglomerasi Industri Wilayah diProvinsi Sumatera UtaraPerbedaan penyebaran dankonsentrasi industri baik industri sedangmaupun besar di Wilayah Barat danWilayah Timur Provinsi Sumatera Utaradari Tahun 1983-2004 disajikan padaTabel 2 berikut ini.Konsentrasi industri sedang dan besarsecara absolut terbanyak jumlahnya diWilayah Timur dibandingkan denganWilayah Barat. Total industri yangberada di Wilayah Timur berjumlah15.554 unit industri dibandingkandengan di Wilayah Barat yang hanyaberjumlah 698 unit industri. Konsentrasiindustri di Wilayah Timur terutamaberada di Kota Medan dan KabupatenDeli Serdang, dan Kabupaten Asahanyaitu kabupaten/kota dengan jumlahindustri berada di atas 500 unit industri.Tabel 2. Jumlah Industri Sedang dan Besar di Wilayah Baratdan Wilayah Timur di Provinsi Sumatera Utara 1983-2004 (unit)No. Wilayah TotalWilayah Barat 6981 Nias 952 Tapanuli Selatatan 3693 Tapanuli Tengah1964 Sibolga 38Wilayah Timur 15,5545 Asahan 1,8706 Deli Serdang 5,2267 Langkat 8338 Labuhan Batu 8059 Tanjung Balai 45810 Tebing Tinggi 50611 Medan 5,25912 Binjai 597Sumber : Data diolah dari BPS berbagai penerbitan1650Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 2. Jumlah Industri, Value Added Industri dan Tanaga Kerja1994-2004No.WilayahKab/KotaJumlah industri(unit)1994-2004VA industri(milyar Rp)1994-2004TK industri(0rang)1994-20041 Nias 47 9.91 16192 Tapanuli Selatan 174 2,087 23,0273 Tapanuli Tengah 134 396 24,9204 Sibolga 15 3 507Wilayah Barat 370 2,495 50.0735 Deli Serdang 3,402 13,233 579,7706 Labuhan Batu 496 8,198 134,3997 Asahan 1,219 15,768 128,5648 Langkat 467 4,952 120,6509 Tanjung Balai 366 868 24,14110 Tebing Tinggi 264 627 23,88111 Medan 2,828 20,951 486,40012 Binjai 411 112 16,352Wilayah Timur 9453 64,708 1.514.157Sumber : Data diolah dari BPS berbagai penerbitanDari tabel di atas dapat dijelaskanbahwa jumlah industri untuk periode1994-2004 di Wilayah Barat yaitu 370unit lebih kecil dibandingkan dengan diWilayah Timur yang berjumlah 9453unit. Dari nilai tambah yang dihasilkansudah tentu industri di Wilayah Timurmenyumbangkan lebih besar yaituberjumlah 64,708 milyar rupiahdibandingkan dengan Wilayah Barathanya 2,495 milyar rupiah. Begitu puladalam hal penyerapan tenaga kerja diWilayah Timur menyerap tenaga kerjasebesar 1.514.157 orang sedangkan diWilayah Barat menyerap tenaga kerjasebesar 50.073 orang.Pembahasan1. Analisis Regresi terhadap variablepenelitianDari hasil pengolahan data paneluntuk ke dua wilayah penelitian baikWilayah Barat maupun Wilayah Timur,maka di peroleh persamaan regresisebagai berikut :Y = -331672,4 + 1,62 PMDN + 17,82PPEM + 85,62 PALAN + 164,12POP – 15,37MURIDSLTA + 525956,0 Ds1651Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 4 : Nilai Koefisien Persamaan Regresi PenelitianVariable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.C -331672.4 212114.9 -1.563645 0.1187PM DN? 1.614606 1.395833 1.156733 0.2481PPEM ? 17.81872 0.588675 30.26920 0.0000PALAN? 85.61999 68.49657 1.249990 0.2121POP? 164.1159 53.02406 3.095122 0.0021M URIDSLTA? -15.36945 10.48724 -1.465539 0.1436DS? 525956.0 239293.5 2.197953 0.0286Random Effects_NIAS--C -120525.3_M ADIN A--C 229989.5_TAPSEL--C -157364.6_TAPTEN G--C -118526.5_TAPUT--C -80293.09_TOBASA--C 348969.1_LABB ATU --C 178793.6_ASAH AN --C 593084.5_SIM ALUN GUN--C 94864.36_DAIRI--C -8982.855_KARO--C 112822.7_DSERDAN G--C 354236.8_LAN GK AT--C 16293.48_HUM BAH AS--C 239412.0_PAKBAR AT--C 200112.9_SIBOLGA--C -552174.3_TB ALAI--C -372601.4_PSIANTAR--C 105904.7_TTIN GGI--C -534865.9_M EDAN --C 829248.6_BINJAI--C -494188.8_PSIDEM PUAN --C 212889.7GLS TransformedRegressionR-squared 0.789758 M ean dependent var 1449311.Adjusted R-squared 0.786439 S.D. dependent var 2979433.S.E. of regression 1376876. Sum squared resid 7.20E+14Durbin-W atson stat 2.822487Unweighted Statisticsincluding Random EffectsR-squared 0.800148 M ean dependent var 1449311.Adjusted R-squared 0.796992 S.D. dependent var 2979433.S.E. of regression 1342426. Sum squared resid 6.85E+14Durbin-W atson stat 1.8652441652Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Berdasarkan perhitungan yang telahdilakukan, maka dari persamaan regresiyang ada dapat diberikan interpretasisebagai berikut :2. Analisis Investasi di WilayahProvinsi Sumatera UtaraPenanaman Modal Dalam Negeri(PMDN)Dari persamaan regresi diperolehbahwa koefisien regresi sebesar1.614606 dengan nilai t hitungsebesar1.156733 dengan tingkat signifikasisebesar 0.2481 (α = 5 %) dan nilai t tabelsebesar 2,101 (t hitung< t tabel). Hal iniberarti variabel Penanaman ModalDalam Negeri (PMDN) tidak signifikanpengaruhnya terhadap pertumbuhanekonomi.Walaupun studi yang dilakukanoleh Fleischer dan Chen (1996) tentanggap diantara wilayah pantai dan bukanwilayah pantai di China menunjukkanbahwa disparitas tersebut disebabkanoleh masalah kurangnya investasi baikfisik maupun manusia dan investasiasing serta infrastruktur.Tabel 5 : Investasi Penanaman Modal Dalam Negeridi Propinsi Sumatera Utara 1992-2004 (juta Rp)No. Wilayah 1983-1992 1993-1999 2000-2004Wilayah Barat63,930 25,085 7,5001 Nias2 Tapanuli Selatatan3 Tapanuli Tengah4 SibolgaWilayah Timur 175,435 329,143 273,44210 Asahan11 Deli Serdang12 Langkat13 Labuhan Batu14 Tanjung Balai15 Tebing Tinggi16 Medan17 BinjaiSumatera Utara 241,716 362,636 284,799Sumber : Data BPS dan diolah kembali dari beberapa penerbitan1653Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


3. Analisis Pengeluaran PemerintahWilayah di Provinsi Sumatera UtaraVariabel Pengeluaran Pemerintah(PPEM) memberikan pengaruh yangpositif terhadap pertumbuhan ekonomi.Dari persamaan regresi diperoleh bahwakoefisien regresi sebesar 17,81872dengan nilai t hitungsebesar 30,26920dengan tingkat signifikasi sebesar0.0000 (α = 5 %) dan nilai t tabelsebesar2,101 ( t hitung> t tabel). Hal ini berartivariabel Pengeluaran Pemerintah(PPEM) memberikan pengaruh yangsignifikan terhadap PertumbuhanEkonomi.Pengeluaran pemeritah ProvinsiSumatera Utara dari tahun ke tahuncenderung mengalami peningkatan.Pengeluaran pembangunan pada tahun2001 secara sektoral terdiri dari 21sektor yaitu: sektor industri, pertanian,dan kehutanan, sumber daya air danirigasi, tenaga kerja, perdagangan hinggasubsidi pembangunan kepada daerahbawahan.4. Analisis Panjang Jalan di WilayahProvinsi Sumatera UtaraDari persamaan regresi diperolehbahwa koefisien regresi sebesar85,61999 dengan nilai t hitungsebesar1,249990 dengan tingkat signifikasisebesar 0.2121 (α = 5 %) dan nilai t tabelsebesar 2,101 ( t hitung< t tabel). Hal iniberarti variabel Panjang Jalan (PALAN)membrikan pengaruh yang tidaksignifikan terhadap PertumbuhanEkonomi.Kondisi lain yang menjadi perhatianutama adalah sarana transportasiterutama panjang jalan yang ada di setiapwilayah baik di Wilayah Barat maupundi Wilayah Timur seperti dapatdigambarkan pada tabel berikut ini.Tabel 6: Panjang Jalan di Wilayah barat dan Wilayah Timur ProvinsiSumatera Utara 1983-2004 (Km) 1983-2004No. Wilayah Total %Wilayah Barat 124,724.61 24,531 Nias2 Tapanuli Selatatan3 Tapanuli Tengah4 SibolgaWilayah Timur 218,624.55 43,005 Asahan6 Deli Serdang7 Langkat8 Labuhan Batu9 Tanjung Balai10 Tebing Tinggi11 Medan12 BinjaiSumatera Utara 508,317.65 100,00Sumber : BPS Sumateta Utara dari berbagai penerbitan1654Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Dari total panjang jalan di ProvinsiSumatera Utara, sekitar 43 % berada diWilayah Timur sedangan di WilayahBarat hanya sepanjang 24,53 % dansisanya berada di Wilayah DataranTinggi yaitu 32,47 %.Kurang berpengaruhnya panjangjalan secara signifikan dapat disebabkanoleh sebahagian besar dari panjang jalanyang ada di berbagai daerah baik diWilayah Barat maupun di WilayahTimur berada dalam kondisi buruk danburuk sekali, sehingga menghambatkelancaan mobilitas baik barang maupunorang.5. Analisis Jumlah Murid SLTAWilayah di Provinsi Sumatera UtaraVariabel Jumlah Murid SLTA(MURIDSLTA) tidak memberikanpengaruh yang positif terhadappertumbuhan ekonomi dan tidaksignifikan. Dari persamaan regresidiperoleh bahwa koefisien regresisebesar -15,36945 dengan nilai t hitungsebesar -1,465539 dengan tingkatsignifikasi sebesar 0.1436 (α = 5 %) dannilai t tabelsebesar 2,101 ( t hitung< t tabel).Hal ini berarti variabel Jumlah MuridSLTA (MURIDSLTA) memberikanpengaruh yang tidak signifikan terhadapPertumbuhan Ekonomi.Pengalaman di negara maju denganmenggunakan asumsi yang digunakanoleh teori tersebut tidak selalu benar.Studi yang dilakukan oleh Blau danDuncan (1967) di Amerika Serikat,Blaug (1974) di Inggris dan Cummings(1980) di Indonesia, menunjukkanbahwa pendidikan formal memberikanperanan yang relatif kecil terhadap statuspekerjaan dan penghasilan. Hal inisejalan pula dengan asumsi yang harusdipenuhi bahwa lapangan kerja di sektormoderen masih sangat terbatasjumlahnya, sehingga jumlah tenaga kerjaterdidik yang relatif besar tidak dapattertampung oleh lapangan kerja yangada. Kemudan lulusan pendidikan belumsiap bekerja yang sesuai dengan tuntutanpekerjaan. Tidak signifikannya jumlahmurid SLTA yang menamatkan studinyaadalah bahwa ada dampak dari teorispread effect dan backwash effect.Artinya ada pergerakan besar ataukeluarnya orang-orang yang memilikikualitas baik (brain drain) dari wilayahyang kurang berkembang ke wilayahyang lebih maju, sehingga dengandemikian akan berdampak burukterhadap daerah yang ditinggal.Hasil penelitian menunjukkanbahwa daerah yang mempunyai kegiatanindustri di wilayahnya, jumlah muridSLTA memberikan dampak positifterhadap pertumbuhan ekonomiwilayhnya. Hal ini terjadi di KotaMedan, Kabupaten Deli Serdang, KotaSiantar dan Kota Tanjung Balai Asahan.6. Analisis Kepadatan PendudukWilayah di Provinsi Sumatera UtaraVariabel Kepadatan Penduduk(POP) memberikan pengaruh yangpositif terhadap pertumbuhan ekonomidan signifikan. Dari persamaan regresidiperoleh bahwa koefisien regresisebesar 164,1159 dengan nilai t hitungsebesar 3,095122 dengan tingkatsignifikasi sebesar 0.0021 (α = 5 %) dannilai t tabelsebesar 2,101 ( t hitung> t tabel).Hal ini berarti variabel KepadatanPenduduk (POP) memberikan pengaruhyang signifikan terhadap PertumbuhanEkonomi.1655Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


7. Analisis Heterogenitas Suku (OpenRegion) di Wilayah ProvinsiSumatera UtaraVariabel Heterogenitas kesukuansebagai variabel budaya memberikanpengaruh positif terhadap pertumbuhanekonomi dan signifikan. Dari persamaanregresi diperoleh bahwa koefisienregresi sebesar 525956,0 dengan nilait hitungsebesar 2.197953 dengan tingkatsignifikasi sebesar 0.0286 (α = 5 %) dannilai t tabelsebesar 2,101 ( t hitung> t tabel).Hal ini berarti variabel Heterogenitaskesukuan memberikan pengaruh yangsignifikan terhadap PertumbuhanEkonomi.Heterogenitas suku di WilayahTimur Provinsi Sumatera Utara telahberdampak terhadap peningkatan outputdan tingkat persaingan yang semakinkuat. Mobilitas penduduk yangkemudian disebut sebagai sukupendatang banyak memberikankeuntungan tidak saja secara lokasitetapi juga kewilayahan. Jika SumberDaya Alam adalah merupakanendowment factors sebagai suatuanugerah secara alamiah, makaketimpangan wilayah juga disebabkanoleh Sumber Daya Manusia atau faktorbudaya. Pengalaman seperti ini terjadidi Amerika Serikat yang menunjukkanadanya perbedaan budaya diantarawilayah utara dan wilayah selatan.Kerusakan hubungan antara manusiadengan alam mengakibatkan agama dankreatifitas seni semakin maju. Wilayahdengan nuansa agrarisnya yang lebihkental akan menyebabkan terbentuknyaperbedaan dengan masyarakat diwilayah yang kegiatan industrinya lebihdominan (Higgins, 1995).Pembangunan wilayah dihasilkandari reaksi antara penduduk terhadaplingkungannya sehingga kekuranganSumber Daya Alam ternyata dapatmembawa keberuntungan , apabilakebudayaan dari masyarakat dapatmemberikan reaksi terhadaplingkungannya.8. Perencanaan WilayahSecara prinsipil perencanaanwilayah merupakan aplikasiperencanaan di suatu lokasi yang dalamhal ini wilayah atau daerah. Upayapembangunan dan pengembanganwilayah akan sangat berhasil apabiladidukung oleh suatu perencanaanwilayah yang baik. Adapun tujuan darirangkaian kegiatan tersebut adalahbagaimana mempercepat pencapaiankesejahteaan masyarakat dan sekaligusmengurangi kemiskinan. Bagaimanagambaran keberhasilan perencanaanyang telah dilakuan, berikut ini akandianalisis jumlah penduduk miskin dimasing-masing Dari data di wilayah samping kabupaten dapat dilihat dankota hubungan di Provinsi antara Sumatera tingkat pertumbuhanUtara.ekonomi dengan jumlah orang miskin,artinya semakin tinggi tingkatpertumbuhan ekonomi akan memberikanpengaruh terhadap berkurangnya jumlahpenduduk miskin untuk periode 1993-2004. Di Wilayah Barat dengan tingkatpertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%terdapat rata-rata penduduk miskinuntuk periode yang sama sebesar 115ribu orang. Di Wilayah Timur dengantingkat pertumbuhan ekonomi sebesar5,5% terdapat jumlah penduduk miskinsebesar 114 ribu orang. Dengandemikian semakin tinggi tingkatpertumbuhan ekonomi yang dicapai olehsetiap wilayah, maka menunjukkan1656Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 7: Pertumbuhan Ekonomi dan Jumlah Penduduk Miskin di WilayahProvinsi Sumatera Utara 1993-2004No.KAB/KOTAPertumbuhanEkonomi(%)Jumlah PendudukMiskin(000 orang)1 Nias 4.74 2492 Tapanuli Selatan 3.69 1443 Tapanuli Tengah 5.31 534 Sibolga 7.14 13Wilayah Barat 5,2 1159 Labuhan Batu 6.79 12710 Asahan 6.52 14511 Deli Serdang 6.24 22412 Langkat 5.92 15613 Tanjung Balai 5.57 1614 Pematang Siantar 4.90 3515 Tebing Tinggi 5.39 2116 Medan 5.08 20417 Binjai 5.73 24Wilayah Timur 5,50 114Sumber : Data diolah dari Laporan BPS berbagai penerbitankecenderungan jumlah penduduk miskinakan semakin berkurang. Apabila dilihatdari hasil estimasi OLS masing-masingwilayah ditunjukkan oleh tabel 8.Dari tabel 8 dapat dianalisis bahwanilai R-square berkisar antara 0,87hingga 0,97, artinya 87 % hingga 97 %variabel bebas mampu menjelaskanvariabel terikatnya. Diantara variabelyang diteliti, maka variabel yangmempunyai pengaruh yang signifikanpada masing-masing wilayah adalahvariabel pengeluaran pemerintah. Jadidengan demikian adanya variasi diantaraberbagai wilayah dari variabel yangberpengaruh terhadap pertumbuhanekonomilokal.Dari tabel 9 dapat diamati bahwabaik faktor internal maupun faktorinternal Wilayah memberikan dampaksebagai faktor penghambatpertumbuhan ekonomi lokal. Terdapat80 % responden memberi tanggapancukup kuat terhadap faktor internal yangmempengaruhi pertumbuhan ekonomidaerah dan 20 % menyatakan faktorinternal berpengaruh sedang.1657Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 8: Hasil Estimasi OLS untuk Kabupaten Kota di Provinsi Sumatera Utara1658Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


9. Kajian dan Ilustrasi Faktual Terhadap Fenomena Aktivitas EkonomiLokalTabel 9 : Pandangan Responden Terhadap Faktor-faktor yang MenghambatPertumbuhan Ekonomi DaerahA. Faktor SangatInternalLemahLemah Sedang Kuat1. Pertumbuhan Ekonomitahun sebelumnya?2. Tingginya Upah ?3. Investasi Domestik ?4. Pengeluaran Pemerintah ?5. Pembangunan Infrastruktur ?6. Transportasi ?7. Konsentrasi Industri ?8. Pendidikan ?9. Jumlah Kredit yangdisalurkan?10. Jumlah Bank ?12. Potensi wilayah ?13. Inflasi ?14. Peraturan Daerah15.Lemahnya penegakanhokum?16. SDA wilayah ?17. SDM Wilayah ?18. Manajemen Pemda ?19. EfekDesentralisasi/OTDA?20. Penurunan produksidaerah?Berdasarkan pertimbanganhal tersebut di atas, makapengaruh faktor internalsecara umum menghambatpertumbuhan ekonomi daerahB. Faktor Eksternal1. Perekonomian Indonesia ?2. Kerjasama Wilayah ?3. Pertumbuhan Daerah Lain ?4. Heterogenitas wilayah ?5. Jejaring antar wilayah ?Berdasarkan pertimbanganhal tersebut di atas, makapengaruh faktor eksternalsecara umum menghambatpertumbuhan ekonomidaerahSumber : Data Penelitian Lapangan??SangatKuat1659Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


KesimpulanBerdasarkan permasalahan, uraiandan analisis yang telah dilakukan didalam peneltian ini, maka diberikanlahbeberapa kesimpulan sebagai berikut :1. Investasi Penanaman ModalDalam Negeri (PMDN) tidakmemberikan pengaruh positifterhadap pembangunanekonomi melalui peningkatanpertumbuhan ekonomi lokal.2. Pengeluaran PembangunanPemerintah di berbagai wilayahyang dilakukan memberikanpengaruh yang sangat positifterhadap pembangunanekonomi lokal melaluipeningkatan pertumbuhanekonomi yang terjadi diberbagai wilayah.3. Jumlah Murid SLTA atautingkat pendidikan SLTA yangberhasil ditamatkanmemberikan pengaruh negatifterhadap pembangunanekonomi lokal.4. Panjang jalan yang ada diberbagai wilayah kabupaten dankota tidak memberikanpengaruh yang positif terhadappembangunan ekonomi melaluipeningkatan pertumbuhanekonomi yang terjadi diberbagai wilayah.5. Kepadatan pendudukmemberikan pengaruh yangpositif terhadap pembangunandan pertumbuhan ekonomilokal.6. Heterogenitas suku (openregion) memberikan pengaruhpositif terhadap pembangunanekonomi terutama bagi daerahatau wilayah yang jumlahsukunya lebih heterogen dandaerahnya lebih terbuka.Saran1. Investasi dalam negeri maupuninvestasi asing harus dilakukandengan skala prioritasberdasarkan tingkat preferensiyang mengarah kepadamonetisasi kehidupan ekonomimasyarakat.2. Pengeluaran PembangunanPemerintah di berbagai wilayahyang dilakukan telahmemberikan dampak positifharus terus dipertahankanterutama diarahkan kepadaaktivitas yang lebih produktifdan menyentuh kepadakehidupan ekonomi rakyatdengan memperkuat peranusaha mikro kecil danmenengah serta alokasi yanglebih memberikan manfaatlangsung kepada masyarakat.Penting untuk difikirkanbagaimana wilayah yang sudahmaju dapat memberikanbantuan atau subsidi kepadawilayah yang kurang maju.3. Jumlah kelulusan hendaknyadifokuskan kepada penyediaantenaga keahlian praktis,politeknik dan tenaga perencanasehingga akan memberikanpengaruh positif terhadappembangunan ekonomi lokaldengan memberikan beasiswayang lebih besar terhadapmasyarakat yang berprestasimelalui pembiayaan APBD,meningkatkan pembangunanindustri dan aktivitas1660Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


ekonomi di daerah denganmembangun pusat-pusatpertumbuhan baru.4. Pembangunan infrastruktur jalandengan kondisi baik sebagaijantung transportasi harusdiberikan prioritas utama sebagimesin pertumbuhan ekonomilokal.5. Kepadatan penduduk harus lebihdiperhatikan penyebarannyadengan mengupayakanpeningkatan pembangunanperumahan di pusat-pusatpertumbuhan.6. Heterogenitas kesukuan (openregion) penting difikirkankandalam rangka denganmenciptakan pusat-pusatpertumbuhan yang lebihberagam di berbagai wilayahseperti melakukan inovasi,meningkatkan kreatifitasmelalui pertukaran SDM danpengalaman, memperkuatjejaring, dan peningkatankualitas Sumber Daya Manusiaserta penguasaan teknologi.wilayah7. Bagi peneliti lain disarankanuntuk meneliti lebih lanjutbagaimana pengaruhpertumbuhan ekonomi suatudaerah berpengaruh bagipertumbuhan ekonomi suatuwilayah (spill over) danbagaimana pentingnyakerjasama antar wilayah (crossborder spatial cooperation).RekomendasiBahwa adanya perbedaan danketimpangan diantara Wilayah Barat danWilayah Timur Provinsi Sumatera Utaraakibat adanya perbedaan potensi sumberdaya wilayah, infrastruktur transportasi,pengeluaran pemerintah, pendidikan,sumber daya manusia, kepadatanpenduduk, investasi dan sumber dayaalam, maka tipe perencanaan dankebijakan regional tidaklah harus samadiantara berbagai wilayah. Tipeperencanaan parsial sangatlah pentinguntuk diterapkan mengingatperencanaan dimensi regional sangatmemperhatikan potensi dan sumberdayayang dimiliki dan aspek lokasi darimasing-masing wilayah. Walaupundemikian pendekatan perencanaanparsial dapat dipadukan dalam kerangkapendekatan perencanaan sektoral.Pengalaman menunjukkan bahwapendekatan perencanaan sektoral yangselama ini dijalankan belummemberikan dampak yang optimalterhadap pembangunan di daerah.Pemerintah daerah sangatlahmengerti dan mengetahui akandaerahnya sendiri, daerah mempunyaikepentingan dan daya tarik yangberbeda-beda, sehingga dalam upayaperencanaan pembangunan wilayahsangat penting diperhatikanpendayagunaan penggunaan ruangwilayah dan perencanaan aktivitasterhadap ruang wilayah. Hal inilahkemudian daerah harus didorong untukmelakukan cross border spatialcooperation (kejasama antar wilayah).Pilihan terhadap perencanaanparsial cukup tepat dirasakan karenasebagai salah satu alternatif pendekatanperencanaan bagi daerah, sehinggamenghasilkan pendekatan peren canaanpembangunan yang terbaik bagi daerah.Dengan demikian daerah denganberbagai pilihan dari alternatif yang ada1661Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


dapat mengoptimumkan local economicdevelopment sehinggga akanmenghasilkan pertumbuhan ekonomiyang tinggi.Daftar KepustakaanBuku-bukuArief, Sritua, 1993, Metodologi PenelitianEkonomi, Penerbit UniversitasIndonesia, UI Press, Jakarta.Azis, Iwan Jaya, 1994. Ilmu EkonomiRegional dan BeberapaAplikasinya di Indonesia, LPFE-UI, Jakarta.Barro, R & X. Sala-i-Martin ,1995,Economic Growth, McGraw Hill,Inc. New York.Bendavid-Val, Avrom, 1991, Regional andLocal Economic Analysis forPractitioners, 4 th Edition, PraegerPublisher, New York.Blair, John P., 1995, Local EconomicDevelopment: Analysis andPractice, Sage Publication. USA.Blau, Mark, 1974,Education and TheEmployment Problem inDeveloping Countries, ILO,Geneva.Den Berg, Van Hendrik, 2001, EconomicGrowth and Development,McGraw- Hill Companies, NewYork.Fujita, Masahita, 2002, Economics ofAgglomeration: Cities, IndustrialLocation and Regional Growth,Cambridge University Press,United Kingdom.Gaspersz, Vincent, 1990, Analisis KuantitatifUntuk Perencanaan, PenerbitTarsito, Bandung.Glasson, John, 1977, PengantarPerencanaan Regional,(terjemahan), LPFE-UI, Jakarta.Gore, Charles, 1984, Region in Question :Space, Development Theory andRegional Policy,Published in USAby Methuen & Co, Ltd 11 NewFetter Lane, London.Higgins, Benjamin and Donald J, Savoie,1995, Regional Development :Theories and Their Application,New Brunswick, N.J, TransactionPublischers, USAHill, Hal, 1989. Unity and Diversity:Regional Economic DevelopmentIn Indonesia Since 1970, OxfordUniversity Press, London._______, 2002, Ekonomi Indonesia, EdisiKedua, PT Raja Grafindo Persada,Jakarta.Isard, Walter, 1960, Methods of RegionalAnalysis, MIT Press, United Stateof Amerika.Jhingan, M L, 1993, Ekonomi Pembangunandan Perencanaan, Raja GrafindoPerkasa, Jakarta.Kamaluddin, Rustian, 2003. EkonomiTransportasi: Karakteristik,Teori dan Kebijakan. PenerbitGhalia Indonesia. Jakarta.Kuncoro, Mudrajat, 2004, MetodeKuantitatif, Edisi Kedua, UPPAMP YKPN, Yogyakarta._______, 2004, Otonomi dan PembangunanDaerah, Penerbit Erlangga,Jakarta.1662Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


_______, 2007, Ekonomika IndustriIndonesia : Menuju NegaraIndustri Baru 2030 , PenerbitAndi, Yogyakarta.Miraza, Bachtiar Hassan, 2005,Perencanaan dan PengembanganWilayah, Ikatan Sarjana EkonomiIndonesia Cabang Bandung-Koordinator Jawa Barat, Bandung.Nachrowi, D Nachrowi, 2006, PendekatanPopuler dan PraktisEkonometrika Untuk AnalisisEkonomi dan Keuangan,Lembaga Penerbit FE UI, Jakarta.Nazir, Moh, 1999, Metode Penelitian,Ghalia Indonesia, CetakanKeempat, Jakarta.Nurgoho, Iwan dan Dahuri Rokhmin, 2004,Pembanguna Wilayah : PerspektifEkonomi, Sosial dan Lingkungan,LP3ES, Jakarta.Schafer, A, William, 1999, Regional ImpactModel,Georgia Institute ofTechnology, USA.Sevila, Consuelo G, dkk, 1993, PengantarMetode Penelitian, (terjemahan) ,Penerbit Universitas Indonesia, UIPress, Jakarta.Sirojuzilam, 2005, Beberapa AspekPembangunan Regional, ISEIBandung, Jawa Barat________, 2006, Teori Lokasi,USU Press,MedanSmith, Adam, 2003, The Wealth Of Nations,Published by Bantam Dell ADivision of Random House, Inc,New York.Sondakh, Lucky W, 1994, PembangunanDaerah dan Perekonomian Rakyat,dalam Prisma, No. 8, TahunXXIII, Agustus 1994, LP3ES,Jakarta.Todaro, Michael P, 2003, EconomicDevelopment, Eight Edition,Pearson Education Limited,Eidenburg Gate, Harlow, Essex,England.Van Den Berg, Hendrik, 2001, EconomicGrowth and Development, Publishby McGraw-Hill/Irwin, New York,NY 10020.Jurnal-JurnalCummings, Williams, 1980, StudiPendidikan dan Tenaga KerjaPada Beberapa Industri Besar diIndonesia, Pusat Penelitian BP3K,Jakarta.Darminto, Fahrizal, 2003 Fang, Cai &Dewen, Wang, 2003, RegionalComparative Advantage in China: Differences, Changes And TheirImpact on Disparity, The Intituteof Population and laborEconomics, Chines Academy ofSocial Sciences, Beijing, 100732,China.Fleischer, M. Belton & Chen, Jian, 1996, TheCoast-Noncoast Income Gap,Productivity, and RegionalEconomic Policy in China, Dept.of Economics The Ohio StateUniversity, Columbus, OH 43210and Dept. of Economics KenyonCollege, Gambier, OH 43022Guiso, Sapienza and Zingales, (2004),Cultural Biases in Economic1663Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Exchange, Working Paper 11005,National Bureau of EconomicResearch, 1050, MassachusettsAvenue, Cambridge, MA 02138.Lipshitz, Gabriel, 1992 dan1996, RegionalDisparities : The Canadian Casein the Theoretical Context,Departement of Geography, Bar-Ilan University, Israel.Nazara, Suahasil, 1994, PertumbuhanEkonomi Regional Indonesia,dalam Prisma, No. 8, TahunXXIII, Agustus 1994, LP3ES,Jakarta.Sjafrizal, 1985. “Perencanaan PembangunanEkonomi Daerah”, dalam Prisma,No. 12, 15-24, LP3ES, Jakarta._______, 1997. “Pertumbuhan Ekonomidan Ketimpangan RegionalWilayah Indonesia Bagian Barat”,dalam Prisma Vo. IV Tahun keXVI, LP3ES, Jakarta.1664Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


KAJIAN KONSEP PERMUKIMAN NELAYANBERBASIS BENCANA DI WILAYAH PESISIR KOTA PADANG(STUDI KASUS: KELURAHAN PASIE NAN TIGO)Haryani*)Abstract: Fisherman housing are area occupied bye fisherman on side of coastal area. As acoastal area, alwayas have disaster. So, first of all need some housing arrangement conceptfor the fisherman housing. The results of research find out a fisherman housing concept thatbased of disaster. It take the case study in pasie nan tigo Kota Padang.Keyword : Fisherman housing, disaster, site arrangementPendahuluanKota pesisir merupakan kota yangsecara geografis berbatasan langsungdengan laut. Salah satu kota pesisir diPropinsi Sumatera Barat adalah KotaPadang yang sebelah barat berbatasanlangsung dengan Samudera Hindia.Kota-kota pesisir umumnya memilikikarakteristik yang sangat berbeda dengankota darat/ non pesisir. Jika selama inikonsentrasi penataan ruang cenderungpenataan ruang darat, maka semenjakbencana tsunami Aceh, Sumatera Utara,Nias dan Jawa Tengah melanda wilayahyang merupakan kota pesisir, para ahlitata ruang agak tersentak. Ditambah lagikota-kota pesisir tersebut merupakandaerah yang teridentifikasi rawanbencana.Wilayah Indonesia merupakan salahsatu negara yang berpotensi tinggimengalami bencana alam seperti tsunami,gunung merapi dan longsor.*) Dosen Tetap Jurusan PerencanaanWilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipildan Perencanaan Universitas Bung HattaPadangMenurut para ahli tingginya potensibencana terutama tsunami dan letusangunung merapi ini disebabkan karenawilayah Indonesia terdiri dari tatanan danproses geologi yang terletak di tigalempeng bumi yaitu Indo-Australia,Eurasia dan Pasifik.Sebagai landasan penataan ruangsecara umum dipedomani UU No. 26Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,sementara untuk penataan ruang pesisirdapat dipedomani Keputusan MenteriKelautan dan Perikanan No. KEP.34/MEN/2002 tentang Pedoman UmumPenataan Ruang Pesisir dan Pulau-pulauKecil. Undang-undang dan KepMentersebut telah menjadi tolok ukur atauacuan dan pedoman dalam penataanruang wilayah-wilayah pesisir danpulau-pulau kecil baik bagi pemerintahdaerah pesisir, masyarakat ataupunstakeholder lainnya. Disadari bahwasubstansi dari undang-undang atauKepMen tidak cukup detail untukmelakukan penataan ruang pesisir yangterindentifikasi rawan bencana (tsunami)yang ternyata mempunyai karakteristikfisik spesifik. Oleh sebab itu dalamrangka perencanaan dan penataan ruang1665Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


pesisir yang rawan bencana perludiuraikan secara lebih detail dandisesuaikan dengan kepentinganperencanaan dalam mengelola sumberdaya yang ada pada ruang pesisir kota/wilayah tersebut.Penelitian ini dilatar belakangi olehkondisi eksternal seperti yang diuraikandi atas dan juga kondisi internal. KotaPadang yang merupakan salah satu kotapesisir di Propinsi Sumatera Barat danmerupakan Ibukota Propinsi menjadifokus dari penelitian ini disebabkansebagaian besar penduduknya bermukimdi daerah pesisir yang rawan bencana.Lebih spesifik lagi di wilayah pesisirsebagian besar penduduk bermatapencahariansebagai nelayan dan jugabermukim di sepanjang pantai.Untuk antisipasi akibat tsunami dantingginya potensi gempa di sepanjangpesisir pantai Sumatera Barat, salah satucara yang harus dilakukan adalahmengurangi tingkat resiko. Artinyaadalah setiap upaya pembangunan yangdilakukan baik oleh pihak pemerintahmaupun masyarakat, harus diarahkanpada upaya untuk meminimalisirdampak bencana tsunami. Hal yangdilakukan antara lain adalah pada zonaberbahaya dan sangat berbahaya perlupengetatan pengeluaran Izin MendirikanBangunan (IMB), yang harus dibarengidengan IMB tahan gempa. Dengandemikian diharapkan tata ruang pesisiryang rawan bencana tetapi ramahbencana menjadi solusi untukmeminimisasi korban jiwa dan hartabenda jika terjadi bencana tsunami.Sebagai kawasan yang rawanbencana sementara masyarakat nelayantetap bermukim di sepanjang pesisirpantai, maka perlu dilakukan penelitianguna mengetahui bagaimana seharusnyakonsep sebuah permukiman nelayanyang ramah/berbasis bencana.Metode Penelitiana. Jenis cara pengumpulan dataAdapun jenis data yang digunakandalam penelitian ini adalah data primerdan data skunder.Data primer didapat denganmelakukan observasi dan pengamatandilapangan, wawancara dan mengisikuisioner kepada para nelayan maupunkeluarga nelayan serta melakukanpengamatan visual sekaligus melakukandokumentasi (foto).Survey skunder dilakukan dengancara mengunjungi instasi dan instusiterkait seperti Pemda Kota Padang,Bappeda Kota Padang, Dinas Kelautandan Perikanan Kota Padang, BPS KotaPadang dan Propinsi Sumatera Barat,serta Kelurahan Pasie Nan Tigo gunamendapatkan data-data yang terkaitdengan substansi/materi penelitian.b. Analisis DataMetode analisis yang digunakandalam pengolahan data bersifatdeskriptif kualitatif dan deskriptifkuantitatif yaitu untuk mengetahuikarakteritik spasial, aspsial dan sosialekonomi budaya masyarakat nelayan.a) DeskriptifMembandingkan antara standar(permukiman nelayan), kriteria, atauteori dengan hasil survey lapanganuntuk dapat diambil suatukesimpulan baik secara kualitatifmaupun kuantitatif.b) Normatif dan TeoritisMelihat peraturan-peraturan yang adadan yang berlaku serta tinjauan teori1666Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


tata ruang pesisir yang ramahbencanaPendekatan studi yang digunakansehubungan dengan pokokpermasalahan yang akan dibahas adalahsebagai berikut:a. Tinjauan umum kawasan penelitianmencakup;a) aspek fisik dengan mengkajikondisi fisik alami (spasial) danbinaan (permukiman) kawasanpesisir pantaib) aspek ekonomi denganmelakukan kajian terhadapperekonomian masyarakatpesisirc) aspek sosial dengan mengkajiterhadap potensi sumber dayamanusia, budaya dan melihattingkat pendidikan masyarakatpesisird) tinjauan dan kajian kebijakan,peraturan pemerintah maupunKota Padang khususnyakebijakan terkait permukimannelayan dan peraturan/kebijakan tata ruang pesisiryang ramah bencana.b. Tinjauan Profil Permukiman Nelayandan Kearifan Lokal KawasanPenelitianUntuk mengetahui profilpermukiman nelayan dan kearifanlokal masyarakat nelayan dilakukansecara lebih jelas dan rinci tentangsosial, ekonomi dan budayabermukiman nelayan di Pasie NanTigoc. Analisis potensi dan permasalahanpermukiman nelayan, Site/Tapakpermukiman, Kebutuhan RuangPermukiman Nelayana) Analisis Potensi dan masalah,melihat seberapa besar potensispasial maupun aspasialkawasan permukiman nelayanuntuk dapat dikaji lebih jauh danmenjadi pilot project bagikawasan pesisir lainnya.b) Analisis Site, dilakukan secaraeksternal maupun internal site,untuk menemukansejauh apapermasalahan site dapat diatasidan potensi site di tata sebagaihunian pesisir yang nyaman danramah bencanac) Analisis Kebutuhan RuangPermukiman Nelayan, melihatkebutuhan yang urgen bagikeberlangsungan suatu aktifitasnelayan di wilayah pesisir yangberbasis bencana.d. Konsep Permukiman Nelayanberbasis bencanaPada akhirnya akan dikeluarkan suatukonsep hunian bagi masyarakatnelayan di mana selain sebagaitempat tinggal (hunian), kawasanpesisir pantai juga merupakan tempatbekerja/berusaha para nelayansementara sebagai kawasanpermukiman harus tetap nyaman danaman dari bencana.Hasil PenelitianPotensi dan Masalah EksternalDari hasil identifikasi potensi danpermasalahan permukiman nelayan diPasie Nan Tigo, selanjutnya dilakukananalisis kesesuaian standar dankebijakan terkait dengan kondisi aktualpermukiman nelayan. Hasil analisisbeberapa faktor tersebut, ternyata tidaksatupun sesuai baik itu kebijakan tataruang maupun standar lokasipermukiman nelayan yang aman dari1667Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


encana alam seperti gelombang pasang,tsunami maupun abrasi pantai. Hal inidisebabkan karena permukiman nelayantumbuh secara alami dan sangat dekatdengan bibir pantai tanpa adanyapengaman/proteksi sebagai upayameminimalisir bencana alam.Selengkapnya kesesuaian standardan kebijakan dengan faktor-faktoreksternal permukiman nelayan PasieNan Tigo dapat dilihat pada tabelberikut.Tabel 1: Kesesuaian Standar dan Kebijakandengan Faktor Eksternal Permukiman Nelayan Pasie Nan TigoNo Standar dan Kebijakan Kondisi Aktual Eksternal Kesesuaian1 RTRW Kota Padang, Keppres Permukiman nelayan berada Tidak sesuaiNo. 32/1990, SK Gubernur pada daerah berbahaya yaitu 30Sumbar No. 10 tahun 1995; m dari pasang tertinggisempadan pantai adalah sepanjangpantai, 100 m dari titik pasangtertinggi2 Kawasan sempadan pantai adalahuntuk kelestarian fungsi pantai,kegiatan budaya komersial danpariwisataPermukiman dan fasilitaskenelayanan berada disepanjangpantai yang berada 25-30 m daripasang tertinggiTidak sesuai3 Mengarahkan pemanfaatan lahansepanjang garis pantai dengankonsep “water front city”4 Slip lempengan setinggi 10 Mdengan kekuatan gempa 7 skalarichter menyebabkan gelombangtsunami setinggi 4 M dpl normaldengan infiltrasi kedarat 1 Km.5 Tidak pada zona berbahaya yangmengancam keselamatanSumber:Hasil Analisis, Juli 2007Umumnya orientasi permukimannelayan membelakangi pantaiRadius 1 Km dari bibir pantaimasih menjadi areal terbangunpermukiman nelayan denganintensitas tinggiPasie Nan Tigo terletak pada 0-2m dplPermukiman nelayan beradapada zona berbahaya, yaitu 30 mdari pasang tertinggi karenatumbuh secara sporadis danalamiTidak sesuaiTidak sesuaiTidak sesuai1668Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Analisis Internala) FisiografiTabel 2: Potensi dan Masalah Fisiografi Permukiman NelayanPasie Nan TigoN o F a k t o r P o t e n s i M a s a la h1 G e o lo g i b e r p a s ir , a lu v ia l d a n tid a kb e r a w aa) r e la tif a g a k s u lit u n tu k d a p a td ita n a m i h u ta n m a n g r o v eb) ta n a h b e r p a s ir c e n d e r u n g la b ilc) b e n tu k p a n ta i te r b u k a , p a n ta ip e n d e k d a n a g a k la n d a il,b e r p o te n s i te r j a d i b e n c a n a b a d a i,g e lo m b a n g p a s a n g d a n ts u n a m id) te r m a s u k d a e r a h r a w a n g e m p a2 H id r o lo g i a) a d a a n a k s u n g a i d a n s u n g a ib e s a r m e n ja d i p o te n s i y a n gc u k u p b a ik b a g i s u m b e r a irm in u m3 K lim a to lo g id a nO s e a n o g r a f ib) d a p a t m e n ja d i te m p a tp e n a m b a ta n p e r a h uc) s e b a g a i te m p a t d r a in a s ea k h ir p e r m u k i m a n s e b e lu mb e r m u a r a k e la u t le p a s .a) s u h u 2 6 ° C – 2 9 ° Cb) c u r a h h u ja n > 2 3 ,2 2h a r i/b u la nk e c e p a ta n a n g in r a ta -r a ta 6k n o t/j a m d a n te r tin g g i 2 4k n o t/j a m4 T o p o g r a f i a) to p o g r a f i r e la tif d a ta r ( 0 – 2%) s a n g a t b a ik u n tu kp e n g e m b a n g a n p e r m u k i m a nS u m b e r : H a s il A n a lis is , 2 0 0 7a) k u a lita s s u m b e r a ir s u n g a i b u r u ku n tu k d ik o n s u m s ib) k u a lita s a ir ta n a h a g a k k u n in g d a nb e r a s a p a y a uc) te r ja d i p e n d a n g k a la n p a d a m u a r as u n g a ia) ik lim p a n ta i y a n g b e r b a h a y ate r u ta m a a n g in b a d a i ,m e n y e b a b k a n o m b a k b e s a r s e r in gm e n g h e m p a s p e r m u k im a n n e la y a n .b) la u t d a la m , p a n ta i p e n d e kto p o g r a f i d a ta r c e n d e r u n g s u lit d a la mm e n a ta a n d r a in a s e p e r m u k im a nSelanjutnya dari potensi danpermasalahan fosiografi di KelurahanPasie nan Tigo, dianalisis kesesuaianantara syarat-syarat permukiman dengankondisi aktualnya. Selengkapnya dapatdilihat pada tabel 3.Dari kondisi fisiografi permukimannelayan di Pasie Nan Tigo perludilakukan delineasi/ penzoningan.Penzoningan dilakukan dengan melihatkarakteristik fisik yang sama agar dalampenetapan tata ruang/tata letakpermukiman nelayan dapatmeminimalisir dampak bencana.Adapun penzoningan permukimannelayan di Pasie Nan Tigo terdiri dari:a) Zona Konservasi, yaitu zona sangatberbahaya yang berbatasan langsungdengan muka laut sampai dengan100 m ke darat serta 2 buah anaksungai berjarak 10 m dari kiri dankanan bibir sungai/kanal. Zonakonservasi adalah zona yangdilindungi untuk daerah pantai yangberfungsi sebagai hutan pantai.b) Zona Penyangga/ buffer zone, yaituzona yang berada diantara zonakonservasi dan zona pemanfaatanselebar 100 m yang merupakan zona1669Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


cukup berbahaya. Pada zonapenyangga dapat dilakukan upayabudidaya namun dengan intensitasterbatas.c) Zona Pemanfaatan, yaitu zona cukupaman yang berada setelah zonapenyangga dan merupakan zonacukup aman sebagai perumahannelayan (200 m dari pasangtertinggi). Namun perlu konsep tataletak untuk dapat meminimalisirbencana terutama gelombangpasang, badai dan gempa.Dari tabel 4 dan 5 ternyata jika dilihatdari aspek tata letak sangat rentanterhadap bencana karena permukimannelayan memang tumbuh secara alami.Kondisi ini menyebabkan permukimannelayan perlu ditata dengan suatu konsepyang berbasis bencana sehingga dapatmeminimalisir bencana.Oleh sebab itu tata letak perumahannelayan haruslah berbasis bencana,yaitu:a) Pola hunian mengelompok/cluster,dimana cluster 1 terdiri dari 50 KK,cluster II sebanyak 200 KK dancluster III sejumlah 1.200 KKTabel 3: Kesesuaian Fisiografi Permukiman Nelayandengan Kondisi Aktual Kelurahan Pasie Nan TigoNo Standar Kondisi Aktual Fisik Kesesuaian1 Topografi/kemiringan lahan 0 – 15 a) Kemiringan 0 – 2 %, relatif datar Sesuai% baik untuk permukiman b) Ketinggian 0 – 1 m dpl2 Hidrologia) sumber air untuk konsumsiharus memenuhi syarat higienis(tidak berbau, bening/jernih, tidakberasa)b) sebagai tambatan perahu,sungai atau anak sungai cukupdalam dan arus tenanga) kualitas air permukaan dan airtanah kuning dan agak payaub) salah satu sungai dalam dan arustenangTidak sesuaiSesuai3 Klimatologi dan oseanografia) 22- 31° Cb) Kecepatan angin 8 – 25km/jamc) Tinggi gelombang 1 s/d 2.5 md) Kelembaman udara 59 – 95%a) suhu 26°C – 29° Cb) curah hujan > 23,22 hari/bulanc) kecepatan angin rata-rata 6knot/jam dan tertinggi 24knot/jamd) gelombang ke darat mencapai 65m – 80 me) gelombang setinggi 3m– 4 m.SesuaiTidak sesuai4 Geologia) struktur tanah keras a) struktur tanah berpasir dan tanahaluvialSumber:Hasil Analisis, Juli 2007Sesuai1670Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


) Tata LetakTabel 4: Potensi dan Masalah Tata Letak Permukiman NelayanPasie Nan TigoNo Faktor Potensi Masalah1 Tata letakperumahan nelayana) beberapa fasilitas permukimannelayan sudah tersedia denganpola menyebarb) fasilitas nelayan tersebardibeberapa tempat (umumnyadi dekat pantai)2 Massa bangunan a) masa bangunan umumnyaperpola tunggal3 Tata letak fasilitasperikananSumber:Hasil Analisis, 2007b) bangunan tidak bertingkata) tata letak bangunan linear/sejajar pantaib)jalan lingkungan sejajarpantai dengan lebar 2,00 mc). Permukiman nelayanberjarak rata-rata 25-30 mdari bibir pantaid) tidak ada jalurevakuasi/pengamanane) akses bangunan perumahanrendah dan tidak beraturana) orientasi bangunanmenghadap pantaib) bangunan semi dantemporerc) luas rumah rata-rata 60,1m2d) kualitas bangunan buruke) luas kavling tidakberaturana) akses kelaut tinggi a) fasilitas perikananmenyebar dan menyatudengan rumah nelayanb) beberapa fasilitasperikanan berhadapanlangsung dengan laut danberada pada zona amatberbahayab) Tata letak tiap blok menghindarisejajar dengan garis pantai atau harustegak lurus terhadap garis pantai.c) Tiap cluster memiliki bangunanevakuasi dimana fasilitas sosial dapatdijadikan pusat sosial sekaligusbangunan evakulasi.d) Orientasi bangunan adalah pusatpelayanan sosial atau jalane) Tata letak fasilitas perikananmengelompok dan terletak pada zonabuffer/penyangga sehingga aksestetap tinggi ke laut, namun masihdalam zona cukup aman yaitu setelahzona konservasi/hutan pantai.f) Hunian terletak pada zonapemanfaatan (zona III/zona cukupaman)1671Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 5: Kesesuaian Tata Letak Permukiman NelayanBerbasis Bencana dengan Kondisi Eksisting di Kelurahan Pasie Nan TigoNo Pola Tata Letak Kondisi Aktual Fisik Kesesuaian1 Tata letak perumahan nelayan: a) linear (sejajar pantai)Tidak sesuaia) berpola cluster/mengelompok b) menyebarb) 50 unit setiap kelompok c) akses rendahc) kavling disesuaikan dgketersediaan lahand) tidak tersedia bangunan/tempatevakuasid) setiap cluster disediakanfasilitas umum dan fasilitassosial sebagai pusat clusteryang berfungsi sbgtempat/bangunan evakuasibencanae) tidak tersedia jalur evakulasie) akses tinggi sbg jalur evakuasi2 Massa bangunana) massa tunggal dg konstruksiaman (anti gempa dan badai)3 Tata letak fasilitas nelayana) dekat dengan pantai yaitu padazona buffer.b) Mengelompokc) akses tinggi dari dan ke luarkawasanSumber:Hasil Analisis, Juli 2007c) Fasilitas Permukiman Nelayan1. Fasilitas perumahan nelayanHal yang sangat penting dalam tata letakfasilitas perumahan nelayan adalah:a) Fasilitas sosial merupakan senter/pusat disetiap cluster, di manasebagai pusat harus dapat berfungsiganda yaitu sebagai fasilitas sosialdan juga fasilitas evakuasi jikaterjadi bencana.b) Selain ditunjang oleh tata letakfasilitas juga harus didisainsedemikian rupa yaitu berupastruktur dan konstruksi anti gempa.Dengan demikan multifungsi padamasing-masing fasilitas dapatmenjadi tempat evakuasi yangcukup aman bagi masyarakatpesisir.a) massa tunggalb) konstruksi sederhana danseadanyaa) menyebar di area perumahan danpantaib) menyatu dengan perumahanc) terletak pada zona sangatberbahayaSesuaiTidak sesuaiTidak sesuaic) Setiap cluster disediakan fasilitassosial yang multifungsi2. Fasilitas kenelayananTidak dapat dipungkiri bahwa fasilitasperikanan pada umumnya jauh dari apayang diharapkan sebagaimana mestinyajika ingin menjadi sektor unggulanwilayah pesisir. Kondisi ini jugaditemukan3. Strukturdikawasandannelayan Pasie NanTigo.Konstruksi Bangunana. Tipe bangunanTipe bangunan perumahan nelayandidominasi oleh bagunan tipe tunggalyang sangat sederhana di mana setiaphunian berdiri sendiri di atas lahan yangcukup luas.Dari 20 responden ternyata jumlahanggota keluarga berkisar 3 sampai 6jiwa dengan rata-rata 5 jiwa/rumah dandan luas bangunan rumah yang ditempati1672Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 6 : Fasilitas Perumahan Nelayandi Kelurahan Pasie Nan TigoNo Jenis Fasilitas Ketersediaan Kondisi LokasiAda Tidak1 Umuma. Jalan V cukup Sejajar grs pantai, 35 mdr pasang tertinggib. Air bersih V cukup Jalan utama sajac. Listrik V baik Jalan utama &lingkungand. MCK V buruk Disepanjang pantai2 Sosiala. Cluster 1 (20-50KK):* warung V cukup Menyatu dg rumah* lapangan bermain V - -* hutan pantai V - -b. Cluster 2 (160 -200KK):* TK 2 unit* koperasi V buruk Tidak aktiv* toko V cukup -* poliklinik V cukup* hutan pantai V -c. Cluster 3(600-1.200 KK)* SD V cukup 3 unit* poliklinik V cukup Pasie Tangah* pasar V buruk Temporer dan pagi* toko V cukup Jalan utama* mesjid V cukup 8 mesjid & 9 musollah* hutan pantai V -Sumber: Hasil survey primer dan analisis, 2007nelayan rata-rata 60,1 m 2 yang dapatdilihat pada tabel berikut. Luas rumahterkecil adalah tipe 40 m2 sedangkanyang terluas adalah 78 m2.Jika dilihat status rumah yangdihuni oleh nelayan didominasi olehstatus hak milik sebesar 65%, sedangkanselebihnya berstatus menumpang 30 %dan sewa 5%. Selengkapnya dapatdilihat pada tabel berikutb. Struktur dan konstruksi bangunanBerdasarkan pengamatan langsungdi lapangan kondisi perumahanresponden sangat bervariasi. Haltersebut dapat dilihat dari jenis strukturdan konstruksi yang digunakan olehmasyarakat nelayan. Dilihat dari strukturbangunan ada yang permanen dan lebihbanyak yang temporer. Sedangkan jikadilihat penggunaan material bangunanatap didominasi memakai seng, dindingbangunan bata walaupun ada juga yangmenggunakan papan/kayu. Begitupun1673Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 7: Kesesuaian Fasilitas Nelayandengan Kondisi Eksisting di Kelurahan Pasie Nan TigoNo Standar Kondisi Aktual Kesesuaian1 Dermaga/jembatan Tidak tersedia Tidak sesuai2 Kanal/tambatan perahu Ada, kondisi buruk, untuk Sesuaisementara di laut lepas danMuaro Penjalinan (3 lokasi)3 TPI:a) lokasi mempunyai akses kedermagab) mudah dicapai ke jaringanjalan kotac) Dilengkapi dg saranapembuangan limbah yangterpisah dg drainase dansampahd) Luas disesuaikan dg jumlahnelayan yang beroperasiBergabung dengan pasarpagi.Satu unit ada di Pasie Sabalahdg kondisi burukSesuai4 Tempat pengolahan ikan;(pembersihan, perebusan,pengasapan, rendaman)a) jauh dari fasilitas perumahanTersedia, kondisi buruk,sejajar garis pantai, 25 m daripasang tertinggiSesuai5 Air bersih Tersedia berupa air sumur Sesuai6 Pergudangan;(penyimpanan ikan olahan,peralatan, suku cadang, bahanbakar)a) lokasi dekat dermagaTersedia, kondisi cukup baik Sesuai7 Depo minyak Tidak tersedia(menyatu dg rumah tinggal)8 Cold storage/gudang pendingin Tersedia, kondisi buruk &temporer, terletak 30 m daribibir pantai Pasie Kandang9 Pasar Pasar kaget/pagi hari ketikanelayan kembali dr melaut.35 m dari bibir pantai PasieKandangSumber:Hasil Analisis, Juli 2007Tidak sesuaisesuaiSesuaidengan lantai yang terdiri dari lantaisemen 90 % dan lantai tanah 10%.Jenis atap yang digunakan 90%menggunakan atap seng, jenis dindingadalah dinding batu 90%, lantai rumah90% dari semen.Jika dilihat secara keseluruhan strukturbangunan permukiman nelayan adalahstruktur konvensional yaitu struktur dankonstruksi batu bata. Namun ternyatabangunan tersebut pada saat gemparawan terhadap bencana. Bangunan yangroboh banyak menimpa manusia danmenyebabkan banyaknya korbanberjatuhan1674Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Dengan struktur bangunan yang kaku,menyebabkan bangunan banyak yangrusak. Begitupun dengan konstruksi atappelana roboh akibat tiupan angin danbadai yang terjadi setiap saat. Pemakaianjenis /bahan penutup atap seng selainmengalami korosi juga tidak cukup amanbagi penghuni.Oleh sebab itu banyak para ahlimenciptakan bangunan tahan gempauntuk masyarakat yang kurang mampu(ekonomi lemah). Salah satu contohadalah konsep rumah tahan gempa“Smart Modula” yang konon kabarnyakonsep revolusioner untuk konstruksibangunan serba guna karena memakaisistem knock down. Disain rumah inimemiliki fleksibelitas tinggi, mudahdalam membangunnya dan cukup kokoh.3.3. Konsep Tata Letak PermukimanNelayan Berbasis BencanaBerdasarkan kajian/analisisterhadap karakterirtik biofisik, saranadan prasarana serta sosial budayamasyarakat nelayan di Kelurahan PasieNan Tigo, maka dapat ditemukan potensidan permasalahan permukiman nelayanuntuk selanjutnya ditetapkan konseppermukiman nelayan. Adapun konseppermukiman nelayan ini adalah “Konseppermukiman nelayan berbasis bencanaalam” terutama gelombang pasang,badai, gempa dan tsunami.Untuk memahami lebih lanjutkonsep ini, dapat dijelaskan pada gambardi bawah.Gambar 8: Zonasi Permukiman Nelayan Berbasis Bencana di KelurahanPasie Nan TigoPermukiman Nelayan Pasie Nan TigoFaktor EksternalFaktor InternalKebijakanPotensi BencanaBio FisikPermukiman Nelayan Topografi Klimatologi Oseanografi Hidrologi Geologi Saprasperumahan SapraskenelayananTata letakperumahannelayan Zona sangatberbahaya Zona cukupberbahaya Zona cukupaman Zonakonservasi Zonapenyangga Zonapemanfaatan1675Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Konsep permukiman nelayan berbasisbencana alam ini dibagi berdasarkan 3zonasi, yaitu; a) Zona konservasi pantai,b) Zona penyangga pantai / Buffer Zonedan c) Zona pemanfaatan pantai. Padamasing-masing zona dimanfaatkansebagai berikut:a. Zona konservasi pantaib. Zona pemanfaatan pantai terdiri dari;a) pemanfaatan untuk hunian/perumahan nelayanb) fasilitas /bangunan evakuasic) fasilitas sosial dan ekonomic. Zona penyangga pantai diperuntukanbagi fasilitas perikanan/kenelayananTabel 9 : Konsep Tata Letak Permukiman Nelayandi Kelurahan Pasie Nan TigoNo Zoning Karakteristik Konsep1 Konservasi Zona kerentanansangat tinggia. Soft Protection: Konsep Konservasi Tumpang Sari- jalur hijau/hutanpantai/green belt- meredam 50 % energigelombang- rekreasi pantai/wisatabahari- fungsi sebagai zonaperlindungan utama- pantai cukuplandai danpendek- laut dalam- pasir putih- hutan cemara laut, waru laut,pohon kelapa dengan kerapatan 30pohon/100m2, diamater pohon >15 cm2, lebar ke darat > 100 m- hutan mangrove tidak bisa karenapantai tidak berawab. Hard Protection: Konsep Konservasi Buatan- fungsi sebagai pengamanpantai buatan- pemecahgelombang/break water- tempat rekreasi pantaialternatif- tinggigelombang 3 m-4 m- karakteristikgelombang- kedalamanlaut/batimetri- topografi dasarlaut- sea wall/tanggul pantai- groin/tanggul pemecah gelmbangminimal panjang groin 100 - 150 mc. Fasilitas perikanan: Konsep High Protection- intensitas sangat rendahdan terbatas- pantai terbuka - tambatan perahu nelayan- jembatan- sungai/kanal untuk tambatanperahu1676Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


2 Penyangga/Buffer Zona kerentanan Konsep Middle Protectioncukup tinggi- fungsi sebagai zona - panjang a.Fasilitas Perikanan:penyanggagelombang kedarat 65 – 80 m Dermaga/tambatan perahunelayan- topografi datar Tempat Pelelangan Ikan (TPI)- geologi Tempat pengolahan ikanberpasir, aluvialdan tidakberawa Depot tempat penjualan solar,pom bensin dan sarana airbersih- jarak kedarat Pos Keamanan Laut100 m – 200 m Gudang dan bengkel tempatperbaikan perahuCold storagePasar tempat menjual berbagaiproduk ikan ; ikan basah, ikanasinTempat wisataSarana transportasi yang cukupmemadaiFasilitas ruang bersama untukmenjemur ikanb.Jalur Evakuasi tegak lurus garispantaic.Pola jalan tegak lurus garis pantai3 Pemanfaatan Zona cukupaman- jarak > 200 mkedaratKonsep Low Protectiona.Perumahan nelayan: Pola tata letakcluster/mengelompok/memusat Pola jalan dan blok perumahantegak lurus garis pantai Struktur bangunan tahan gempa Jenis rumah panggung Biaya murah, efisien dan efektif Tiap cluster 50 unit rumahb. Fasilitas perumahan nelayan: Center/pusat dari pola cluster Bangunan evakuasi vertikal(tower air bersih) Ruang terbuka hijau & olah raga Mesjid/musollah Fasilitas pendidikan Fasiltas kesehatan Pasar/tokoSumber: Hasil Analisis, 20071677Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Kesimpulan dan Rekomendasia. KesimpulanDari hasil penelitian dapat disimpulkanhal-hal sebagai berikut:1.Karakteristik fisiografis permukimannelayan di Pasie Nan Tigo dapat dikategorikan ke dalam tiga zonasi yaitu:a. Zona Konservasi dengan jarak0-100 m dari pasang tertinggi danmemiliki kerentanan sangat tinggi.b. Zona Penyangga dengan jarak 100-200 m dari pasang tertinggi danmemiliki kerentanan cukup tinggic. Zona Pemanfaatan dengan jarak >dari 200 m dari pasang tertinggi danmemiliki kerentanan cukup aman.2.Karakteristik aspasial berupa fasilitaspermukiman dan perikanan yaitu:a. Fasilitas perikanan umumnyatersedia namun dalam kondisi burukserta masih sangat tradisional.Beberapa diantaranya menyatudengan rumah penduduk danselebihnya menyebar pada zonadengan kerentanan sangat tinggi.b. Fasilitas perumahan nelayan berupafasilitas sosial dan fasilitas umumcukup tersedia walaupun dalamkualitas dan kuantitas yang belummemadai/layak. Umumnya beradapada zona dengan kerentanan cukuptinggi.3.Karakteristik sosial, ekonomi danbudaya masyarakat nelayan di PasieNan Tigo (48,2%) sebagai nelayantetap dan nelayan sambilan.Permasalahan utama dalah kurangnyamodal dan matapencaharian sebagainelayan sangat tergantung pada cuacasehingga banyak penduduk termasukkategori miskin.4.Konsep permukiman nelayan yangberbasis bencana di Kelurahan PasieNan Tigo adalah sebagai berikut:a. Zoning; a) konservasi untuk softprotection dan hard protection, b)zona penyangga untuk fasilitasperikanan, c) zona pemanfaatanuntuk perumahan nelayanb.Tata letak; a) pola tata letak clusteruntuk 50 unit/cluster, b) massabangunan tunggal, c) tiap blok tegaklurus garis pantai, d) setiap clustermempunyai pusat aktivitas di manasebagai pusat aktifitasnya adalahfasilitas sosial, e) setiap clusterdisediakan bangunan evakuasi/bangunan vertikal yang multifungsiseperti tower air bersih.c.Bangunan; a) massa bangunantunggal, b) tipe rumah panggung, c)struktur dan konstruksi bangunantahan gempa, d) ekonomis danefisien.b. Rekomendasi1. Kehidupan para nelayan yang sangattergantung pada kondisi cuaca (7-8bulan pertahun), maka perlumemakai konsep permukimantransmigrasi, yaitu memberikanlahan setiap KK untukpengembangan pertanian jika tidakdapat melaut sebagai alternatif1678Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


matapencaharian penduduk antarmusim.2. Kearifan lokalKearifan lokal intinya adalahbagaimana memandang danmengelola sumber daya alamsedemikian sehingga memberikanperimbangan yang proporsionaluntuk kesejahteraan masyarakatbaik dibidang ekonomi maupunsosial.3. Untuk menangani perumahannelayan dibutuhkan berbagai standardan pedoman maupun petunjukteknis yang bisa diaplikasikan dilapangan. Setiap penangananhendaknya mengikuti RUTRW,RUTRK, RDTRK sampai denganRTRK skala 1:2000 termasuk padakawasan pantai.4. Perlu partisipasi masyarakat sebagaipelaku utama, sejak survaipendahuluan sampai denganperencanaan dan pelaksanaanpenataan permukiman nelayanberbasis bencana.Daftar KepustakaanArthur B., Gallion, FAIA dan Eisner, Simon.A P A , A I C P , 1 9 9 4 , PengantarPerencanaan Kota Desain danPerencanaan Kota (Edisi V,JilidI, Erlangga, Jakarta.Arthur B., Gallion, FAIA dan Eisner, Simon.APA, AICP,1996, PengantarPerencanaan Kota Desain danPerencanaan Kota (Edisi V,JilidII, Erlangga, Jakarta.De Chiara, Joseph, 1984, Time-SaverStandard For ResidentialDevelopment, McGrow-Hill BookCompany.De Chiara, Joseph dan E.Koppelmen. Lee,1990, Standar PerencanaanTapak, Erlangga, Bandung.Departemen Pekerjaan Umum, 1986,Direktorat Jenderal Cipta Karya,Direktorat Perumahan,“Kumpulan Materi PedomanPraktis Pelaksanaan PemugaranRumah dan Lingkungan Desa”.Departemen Permukiman dan PrasaranaWilayah, 2001. PetunjukPelaksanaan PerbaikanLingkungan PermukimanNelayan, PLP-KIP Nelayan,Departemen Permukiman danPrasarana Wilayah, DirektoratJenderal Perumahan danPermukiman, Jakarta.Ditjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil,Departemen Kelautan danPerikanan, 2001, Naskah AkdemikPengelolaan Wilayah Pesisir.Departemen Kelautan dan Perikanan, 2002,Keputusan Menteri Kelautan danPerikanan No.Kep. 34/Men/2002tentang Pedoman UmumPenataan Ruang Pesisir danPulau-pulau Kecil, MenteriKelautan dan Perikanan.Haryani, Ir, MTP, 2005, Tata Ruang Pesisiryang Ramah Bencana,Singgalang, Padang.Kompas, 2005, Bencana Gempa danTsunami Nanggroh AcehDarussalam dan Sumatera Utara,Buku Kompas, Jakarta.Koentjaraningrat,1993. Metode-metodePenelitian Masyarakat, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.Supriharyono, Dr,Ir, M.S, 2002, Pelestariandan Pengelolaan Sumber DayaAlam di Wilayah Pesisir Tropis,1679Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


B P S , P a d a n g d a l a m A n g k a , 2 0 0 6 , P a d a n gP r o f i l K e l u r a h a n P a s i e N a n T i g o , 2 0 0 5L a p o r a n T a h u n a n D K P K o t a P a d a n g T a h u n2 0 0 6P a d a n g E k s p r e s , M e i 2 0 0 7P a d a n g E k s p r e s , J u l i 2 0 0 6T h e S u m a t e r a n E a r t h q u a k e C h a l l e n g e ,G u i d e B o o k I n t e r n a s i o n a l M e e t i n gW e s t S u m a t e r a , 2 0 0 5 , P a d a n gPT Gramedia Pustaka Utama,Jakarta.Sajogyo, Punjiwati, Prof.Dr,1985. SosiologiPembangunan, Fakultas PascaSarjana IKIP Jakarta, Jakarta.Sastra Suparno, 2005, Perencanaan danPengembangan Perumahan,Penerbit Andi, YogyakartaSoegiarto, 2001, Sumber Daya Pesisir danLaut Secara Terpadu.White, Edward T.,1989 Site Plan,Intermedia, Bandung.Kamal, Eni., 2006, Membangun Kelautan daPerikanan Berbasis Kerakyatan,Bung Hatta University Press,Padang1680Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


INTERVENTION OF VILLAGE WOMAN ACTIVITIES ANDENVIRONMENTAL QUALITYSyamsinar Ukur Tarigan*)Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran aktivitas perempuan dalammenjaga kelestarian lingkungan hidup, untuk mengetahui pola pemanfaatan sumber daya alamoleh perempuan pedesaan dan untuk mengetahui gambaran aktivitas perempuan berkaitandengan sumberdaya alam yang bersifat merusak kelestarian lingkungan hidup.Metode analisis penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang didukung dengan regresiberganda. Jumlah sampel 60 orang dari populasi 678 orang.Hal-hal yang menjadi kesimpulan penelitian ini adalah: 1. Perempuan pedesaan danpola pemanfaatan sumberdaya alam (a) pemanfaatan sumberdaya air oleh perempuan diketigadesa dikategorikan sedang yang memahami tentang sumber daya air sebanyak 40%. (b)pemanfaatan sumber daya hutan tidak seluruhnya memanfaatkan kayu sebagai sumber bahanbakar ada juga yang memanfaatkan minyak tanah. (c) pemanfaatan sumberdaya lahandisesuaikan dengan musim tanam masing-masing komoditi berdasarkan kesediaan air. 2. Upayamempertahankan kwalitas sumberdaya alam, (a) partisipasi perempuan dalam mempertahankankwalitas sumberdaya air dikategorikan sangat rendah yaitu rata-rata 80-85% diketiga desa.Hal ini karena perempuan belum pernah mendapatkan pelatihan dan sosialisasi lingkunganhidup. (b) Partisipasi dalam menjaga kwalitas sumberdaya hutan sangat rendah yaitu sebanyak80-85%. Hal ini karena perempuan tidak dilibatkan dalam musyawarah pengelolaan hutandan kurangnya pengetahuan tentang lingkungan hidup. (c) Partisipasi perempuan dalammempertahankan kwalitas sumberdaya lahan sangat rendah (100%) yang tidak mengetahuitentang konservasi lahan. 3 Kwalitas lingkungan hidup (a) Partisipasi perempuan dalampemupukan tepat guna dikategorikan sedang yaitu rata-rata 60% diketiga desa (b) Partisipasiperempuan dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman yang berwawasan dikategorikansangat rendah yaitu rata-rata 60-70% diketiga desa, hal ini dikarenakan pemahaman tentanglingkungan hidup masih rendah (c) Penanaman tanaman pinggir untuk konservasi lahan hamper90% tidak memiliki tanaman pinggir, karena masyarakat belum mengerti tentang konservasilahan (d) Pengelolaan lahan sesuai dengan kemiringan lereng pada desa penelitian tampakbahwa masyarakat masih bertanam kemiringan di atas 30%. 4 Hubungan aktivitas perempuanpedesaan dengan kelestarian lingkungan hidup masih dalam kategori rendah, karenapemahaman perempuan tentang lingkungan hidup masih rendah, dapat dilihat variable aktifitasperempuan yang tidak mempengaruhi.Saran yang dapat direkomendasikan sehubungan dengan penelitian ini: (a) Perlunyapelatihan lingkungan hidup kepada perempuan khususnya dan masyarakat umumnya yangterfokus dan berkesinambungan yang dilakukan oleh lembaga pemerintah, perguruan tinggi,LSM dan instansi terkait lainya. (b) Penambahan sarana dan prasarana ekonomi dan fasilitaspenunjang kehidupan masyarakat di desa penelitian (c) pengelolaan lingkungan hidup di desamenjadi tanggung jawab desa sepenuhnya dan pihak luar menjadi fasilitator (d) agar penelitianini lebih menjawab persoalan-persoalan yang terkait dengan lingkungan hidup dan aktifitasperempuan maka perlu diadakan penelitian lanjutan di wilayah penelitian ini.*) Kopertis Lecturer Regional I atUniversitas Karo1681Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


IntroductionThe division of role among men andwomen has been historically startedsince human civilization time. Foodgathering means human being dependingtheir needs of food, shelf and clothesdirectly from natural for life. The menare hunting for some days, leavingfamilies in jungle, whereas the womenstay at home preparing the requiredthings until the completion of hunting.Whilst waiting the men from hunting,the women perform other agriculturalactivities in planting the plantssurrounding their home such as foodplants and medicine.Rural access woman into naturalresource is almost similar in all regionsin Indonesia involved in domestic sectorand women production which is directlyto land, water and fire (Oey-Gardiner,2000). In attempting women productionactivity, it is related to land (land asproduction factor). According to Oey-Gardiner by the change on needs andtechnology innovation, there is thechange on natural function leading intodegradation as the effect of impropertreatment. For instance, land mastery asbuffer zone becomes agriculture areacausing the erosion and draught. Besidedirectly related to the land, other naturalresources used by the women is thewater for the sake of agriculture andfor fulfilling household needs, whereasthe fire is derived from firing woodand oil for fulfilling the need ofhousehold.The designed development shouldbe focused on the women in the case ofproblem solving by paying attention onthe women needs. The women arebasically similar to men. However,there are some rural women with dualfunction. (1)The woman as wife, (2)thewoman as laborer in economy sectorin performing production activity inagriculture sector, fishery, trade andservice. (3) The women in performingsocial function interacted withenvironment, generating the value thingsto the generation and others. With suchas dual function, the women should begiven the space to increase self-qualityfor getting better result.On this research, it is intended tosee rural women activity and agriculturetechnology as well as its impact in thesurrounding area. Rural women basedeconomy in agriculture sector is asthe subject from the research andfinally it will be as the recommendationfor agriculture development policy andits supporting regulation.The Formulation of the problemThis research discusses the ruralwomen activities (productive anddomestics) with environment and it isdirectly or indirectly in influencing thelife. Women activities include to thosenatural resources.a. How is the pattern of natural resourceuse by rural women?b. How is the description of womenactivities in maintaining naturalresources for the survival ofenvironment?1682Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


c. How is the description of ruralwomen activities destroying naturalresources and land as it is related toenvironment survival.The Method of ResearchThis research is explorative, diggingthe problem related to women activitiesand land natural and its relation toenvironment. This research isimplemented in Karo regency, namelyon high land area of catchments to TobaLake. The ethnic occupying the area isSipitu Huta (the combination of Karoethnic, Simalungun, Pakpak dan Toba).The location of research is purposivelydone, namely Pengambatan village,Karo regency as the catchments area ofToba Lake. The area consists of 3 areas,namely Huta Sanggar, Huta Baringinand Aek Hotang. Community activityin this area is related with naturalresources and it is based on economysector in agriculture sector. The sampleof research is women who work inagriculture sector and by using naturalresources which is randomly taken with60 persons. The sample is 60 from 678population distributed in 3 areas, suchas Huta Sanggar, Huta Baringin, andAek Hotang. The population and amountof sample in Huta Sanggar village is 223,HUta Baringin 230, and Aek Hotang225 population on each village. Fromeach village, it is taken 10% samplebecome 20 sample per village.Analysis methodThe analysis method used todefine the results of exploration to theproblem of research is descriptive andit is supported by statistic analysisnamely multiple linier regression..Results1. Rural woman and utilization ofnatural resourcesWoman activities (Utilization of naturalresources for domestic need)In the living of Bataknessee, thewoman has an important role in anyliving activities. The patriarchal concept(superiority of male) in family built byassumption that the clan line: an aspectof economic, social and culture iscontinued by male. This concept changethe view point of society in roledescription in a family such as thedomestic activities, the priority who willcontinue their education, the decisionmaker in a family, participant of a ruralmeeting etc. the woman always do thedomestic role such as to the householdcare and any complementary activities.The results of research indicates thatthe used time for domestic and economicactivities of the rural woman atPengambatan village is 9.3 hours in a daythat consists of economic activities for6.2 hours while for domestic activitiesis 3.1 hours. The domestic activities areto take water for cooking, cooking,washing, cleaning the house and to helpthe child in doing their homework inaddition to take firewood from forest.While for economic activities in farmingare to prepare the land, planting,cultivation, harvest and selling the cropsand in service area is to prepare thegoods will be sold and equipment andactivities of selling.1683Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Based on the situation, there is alower category of woman knowledgeabout the water sources. Theunderstanding on forest condition in theupper side indicated by: (1) The qualityof water resources for cooking, washingand privy depend on the condition offorest in the upper side, (2) the processof water distribution to the accumulatordetermined by the environment quality,(3) Quality of water resources influencedby mutual processing, (4) Quality ofwater resources can be reserved and (5)The bad quality of water sources willdisturb the household performance.Based on the woman activities inutilization of natural resources, all ofactivities (domestic and economic) forwoman rely on natural resources.(a) Utilization of water resourcesWater for cooking, washing andprivy supplied by the public bathroom,in which the water comes from the waterspring on the mountain that flowed intopipes. This public bathroom was builtby Church and Asahan Authority (annualfee) for the people in Pangambatan.Based on the research, more of people1684Table 1. Understanding of woman about the water sourcesPercentageNo The reason of respondent Hutasanggar(N=20)Huta Baringin(N=20)Aek Hotang(N=20)1 Highest 5 10 52 Higher 10 15 153 Middle 40 40 404 Lower 30 30 205 Very lower 15 5 20Source: Analysis of Primary Data 2004The level of understanding of woman onthe water sources is categorized asHighest if the woman understand all ofthe point, Higher : if woman understand4 point of available 5 point, Middle : ifwoman understand 3 point of available5 point. Lower: if woman understand 2point of available 5 point and very lowerif the respon of the woman only one ofavailable 5 point that shown in table.Based on the table, theunderstanding of respondents at threevillages is middle in average of 40% ofthe respondents who understand thewater sources.use the public bathroom as householdwater sources and another one use therain water (and a few of them withprivate bathroom).The understanding of respondentsat three villages is middle in average of40% of the respondents who understandthe water sources(b) Utilization of Forest sourcesFor domestic activates, the firewoodtook from the forest area. Based on theresults, it is indicated that not all ofpeople use the firewood as fuel inaddition to kerosene. The reason forJurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


woman use the kerosene is the scarce offirewood althoguh the fuel price ishigher (Rp. 1500/liter).(c) Utilization of land resourcesThe natural sources used foreconomic activities are the utilization ofland, wood and water for farming. Theland used by woman is rice field and dryland. The rice field used for paddy,potato and corn. While the dried land forany crops such as coffee andhorticulture. The utilization of land isbased on the cropping season forcommodities based on the availability ofwater. While in the dry season, thefarmers use the field rice for corn, potatoand in the rain season the farmer plantpaddy.These patterns are supported by theextension activities from the AgriculturalOffice through farmer group, althoughthe people who attend the meeting aremales. The knowledge of woman in thiscultivation pattern follow the rule agreedby the family, although theimplementation of program conductedby woman.1. Any efforts to maintain the naturalresources qualityIn do her activities; the woman didnot ware the important of naturalresources conservation for the survival.Because the lower level of knowledgeand understanding.(a) Activities in maintaining the watersources qualityIn the maintaining the water quality,no woman at the location of researchparticipate in this activities. Theparticipation rate measurement inmaintaining the water quality are (1) Tomaintain the forest condition as watersources, (2) to maintain the water pipeto the public bathroom, (3) to maintainthe drainage for the smooth flow of thewastewater. (4) to dispose the waste andremains of food in available disposalarea, and (5) decrease the using ofdetergent.The participation rate of woman inmaintaining the water source quality iscategorized as Highest if the woman doall of points, higher: if woman do 4 pointof available 5 points, middle if womando 3 points of available 5 points, Lowerif woman do 2 points of available 5points, and very lower if woman onlydo one of available 5 points.Table 2. Participation of woman in maintaining the water sources qualityParticipation of womanPercentageNo in maintaining the watersources qualityHutasanggar(N=20)Huta Baringin(N=20)Aek Hotang(N=20)1 Highest 0 0 02 Higher 0 0 03 Middle 0 0 04 Lower 20 15 205 Very lower 80 85 80Source: Analysis of Primary Data 20041685Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Level of woman participation inmaintaining the water source quality isvery lower (table) in which theparticipation in maintaining the watersource quality only in decreasing theusing of detergent and to dispose theremains of foods on available place. Infact, the woman never get the trainingand socialization of intensive livingenvironment caused by their business intheir activities in farming area and thewoman careless their house and watersource environment. And until now,there are not severe diseases and theysaid that situation make their body ishealth (Interview to Mr. Simajorang).(a) Activities in maintaining the forestsource qualityVariable of maintaining the forestquality are (1) to fell the feasible threefor felling (2) Replant the felt three, (3)did not use the forest as agricultural area,(4) did not burn the forest, and (5) didnot disturb the flora and fauna in theword. The level of woman participationin maintaining the forest source qualityare Highest if the woman do all of point,Higher if woman do 4 points of ofavailable 5 points, middle if woman do3 points of available 5 points, Lower ifwoman do 2 points of available 5 points,and very lower if woman only do one ofavailable 5 points.Directly, the woman did notinvolved into the huta forestmanagement but only conducted by thesociety figure and male. The decision offorest management is took by ruralmeeting (rembug) and only attended bymale. The woman aware theconsequences of the unright forestmanagement are the lower of watersource quality and the more ofresponsibility of woman. Theparticipation of man and woman in forestmanagement has not yet performed:The lower level of womanparticipation (Table) in maintaining theforest management caused by (1)woman who did not involved in themeeting for forest management, (2) thelower level of living environmenteducation and (3) forest managementperception did not based on genderperspective.Table 3. Participation of woman in maintaining the forest source qualityParticipation of woman inPercentageNo maintaining the forestsources qualityHutasanggar(N=20)Huta Baringin(N=20)Aek Hotang(N=20)1 Highest 0 0 02 Higher 0 0 03 Middle 0 0 04 Lower 15 20 205 Very lower 85 80 80Source: Analysis of Primary Data 20041686Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Based on the aspect of managementof land, water and forest, the role ofwoman is lower. The efforts must beconducted is to maintain the quality ofliving environment in the maintaining ofland, forest and water sources.(a) Activities in maintain the landsource qualityAccording to the governmentregulation of RI No. 837/Kpts/UM/II/1990 concerning to the Relationship ofSlope and the Utilization of Land, theland is divided into six group based onthe slope and utilization, i.e. 40% (very steep) for protectedforest area 25% - 40% (steep) for plantationwith conservation2% - 25% for rice field by irrigatedarea based on contour. 15%-25% (not so steep (forhorticulture and plantation. Forhorticulture, there is a treasuringbased on contour, for plantation bysimple conservation method 8%-15% (slope slightly) forhorticulture and simple conservationmethod 8% (smooth) for horticulturewithout special treatment2% (smooth) for rice field withoutspecial treatmentAccording to the response of therespondents, they have not yet known theland conservation method (100%). Theutilization of land area refers to the oldpractice i.e. based on the availability ofland.2. Quality of living environmentThe studied variable in maintainingthe living environment in economicsector is application of agriculturaltechnology efficiently and effectivelysuch as fertilizer, pesticide in suitabledosage, soil cultivation based on itscontour, using of mulch to minimizedehydration and pest and diseasescontrol. According to respondent, theapplication of agricultural technologybased on anything heard and shared fromother farmers. Production of cropsduring this research has not yetmaximally caused by the unsuitableclimate condition and pest control.The domestic activities that causethe damage on environment are disposalof waste in anywhere, the uncontrolledfeces that cause the odor,. Until nowthere are not integrated activities toincrease the awareness of society tomaintain their living environment, suchas mutual cooperation, training in livingenvironment, incentive and sanction fordestruction of living environment.(1) Effective fertilizingThe effective fertilizing is supplythe crop nutrition according to the soilcondition and requirement of crops. Thevariable of effective fertilizing are (1)balancing between chemical fertilizerand compost, (b) on time applicationbased on the direction of extension staff,(c) testing on field condition, (d) theregular observation and (e) minimum1687Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


tillage. The participation level of woman land and (5) observation and try out.in effective fertilizing are categorized in The participation level of woman inHighest if the woman do all of point, environment based pest and diseasesHigher if woman do 4 points of available control are categorized in Highest if5 points, middle if woman do 3 points the woman do all of point, Higher ifof available 5 points, Lower if woman woman do 4 points of available 5do 2 points of available 5 points, and points, middle if woman do 3 pointsvery lower if woman only do one of of available 5 points, Lower ifavailable 5 points. The response of woman do 2 points of available 5woman as actor in economic activitiesin agricultural sector is shown in table.Table 4. Participation of woman in Effective fertilizingNoPercentageParticipation of womanHutasanggar Huta Baringin Aek Hotangin effective fertilizer(N=20) (N=20) (N=20)1 Highest 0 0 02 Higher 0 0 03 Middle 60 60 604 Lower 40 40 405 Very lower 0 0 0Source: The woman respondent said thatanything conducted in effectivefertilizing is adjustment of forest soilutilization by try out of chemicalfertilizer and application of fertilizer onscheduled time. While field observationand minimum tillage are not conductedfrequently. All of these activities areconducted by woman together withhusband or labor.(2) The Environment based Pest anddiseases control for cropsThere are anything must be studiedin pest and diseases control, i.e. : (1)crop rotation, (2) biological control(cultivation of traps vegetation andapplication of alternative pesticide),(3) species of vegetation thatminimize the pest and diseasesattack (4) lay fallow on agriculturalpoints, and very lower if womanonly do one of available 5 points.The response of woman foractivities of environment based pestand diseases control are:Activities of woman in environmentbased pest and diseases control is cropsrolling and determining of vegetationspecies. Another control has not interestfor woman and society for the lowerunderstanding on environmentperspective.(1) Planting of edge crop for landconservationEdge crop is a fence crops as landsupport and provide the extra income forthe farmer’s household. This fence cropis avocado, eggplant, mangoes andcashew fruit. Introduction of fence crops1688Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Table 5. Participation of woman in Environment based pestand diseases controlParticipation of woman inPercentageNo environment based pestand diseases controlHutasanggar(N=20)Huta Baringin(N=20)Aek Hotang(N=20)1 Highest 0 0 02 Higher 0 0 03 Middle 0 0 04 Lower 30 40 305 Very lower 70 60 70Source: Analysis of Primary Data 2004for land conservation is promoted byinstitution that has reforestation programin critical area. Based on a research, 90%of the agricultural area has not edgecrops because the lower understandingon the useful of this crop for landconservation.(2) Land cultivation based on the slopeAccording to the criteria in decreeof President No. 32 of 1990, more of landcultivation did not obey the rule. On thedried land in the slope more than 30degree, there is crop cultivation of thespecies in same season (38), rice field(42%) and it’s remain is the smooth driedland. On the land in the slope of morethan 30 degree, the cultivation byterracing and by the crops in same seasonsuch as cabbage, potato, chilli andtomato. And another one cultivates theannual crop such as coffee and orange.1. Relationship between womanactivities and living environmentconservationThe woman activities in livingenvironment management are lowercaused by the lower of understanding ofwoman about the living environment. Allof woman activities variable did notinfluence the living environmentmanagement, either partially or totally.The significant α0.05 > of 0.05(confidencial level 95%).The level of woman understandingon the natural resources is lower, somotivation in utilization of efficient andeffective natural resources is lower eitherin maintaining the conservation of water,land, forest to satisfy the domestic need.ConclusionBased on the results of research,there are any conclusions as follows:1. Rural woman and utilization patternof natural resourcesa. Utilization of water resources bywomen in three villages iscategorized into middle level ofthem understands the waterresources management.1689Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


. In utilization of forest resources,the woman use kerosene as fuelin addition to firewood.c. Utilization of land resourcesaccording to the croppingseasons of commodities basedon the water supply’senvironment based pest anddiseases control is categorizedinto lower level,d. Cultivation of edge crops forland conservation is 90% hasnot edge crops because thesociety has not yet know aboutland conservation.e. Soil cultivation according to theslope at the research locationindicates the farmer stillcultivate in slope more than30%.Bangun, T, 1990, Bataknessee Human, IdayuPress, JakartaChambers,R, 1999, Rural Apraisal, Rapid,Relaxed and participatory. InstituteOf Development studiesGardiner, M ,2000, Woman Involved inEnvironmental Management.Journal, at National Conference,Environmental Management,Jakarta, 23-25 May 2000Reksohadiprojo, 1999, Resources Economicand Energy, Second Edition. BPFE,YogyakartaRatna and Brigitte , 1997, Work Woman andSocial Science, Kalyanamitra,JakartaTohir,A, 1990, Farming in Indonesia, BinaAksara, Jakarta2. The correlation of woman activitiesand living environment conservationis lower because the understandingof woman about the livingenvironment is lower. And variableof woman activities is not influence.References1690Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


PENATAAN DAN PEMBINAAN PEDAGANG KAKI LIMADI KOTA PEKAN BARUDodi Haryono*)Abstract: Settlement and construction concept of retailers (PKL) have to develop regulations,construction and protection purposes. Regulation of settlement and consruction for PKLhave to accommodation sociological, juridical and philosophical prinsipal to enact localordinance. Neglecting those dimensions has negative implication for the people, especiallyPKL. It’s no relevance with protection of human rights and good regulation principles.Keyword: Regulation, Retailer, Pekanbaru regencyPendahuluan.Masalah kependudukan yangdihadapi oleh berbagai negaraberkembang adalah masalah tingkatpertumbuhan penduduk yang cukuptinggi disertai dengan kualitas yangrendah dan distribusi penduduk yangtidak merata antar daerah. Angkapertumbuhan penduduk yang tinggi dandistribusi yang tidak merata tanpadisertai perbaikan kualitas akanberpengaruh terhadap rendahnyakualitas hidup. Kondisi ini tak pelakmedorong terjadinya perpindahanpenduduk secara besar-besaran, kadangkadangsebagai respon alami terhadappertumbuhan kesempatan-kesempatanekonomi di tempat lain (World Safe fromCrisis and Environment Destruction/WCED,1988. Tidak mengherankan jikabanyak terjadi migrasi baik dari desa kekota (urbanisasi) maupun dari kota kedesa (transmigrasi).Kota dengan segala daya tarikkemajuannya dibandingkan desa*) Dosen Fakultas Hukum dan PenelitiPada PPIP Universitas Riaumembuat masyarakat desa melakukanurbanisasi. Pertumbuhan penduduk kotayang sangat cepat di Indonesia lebihbanyak disebabkan adanya urbanisasidan pembengkakan kota. Keadaansemacam ini menyebabkan kebutuhanlapangan kerja di perkotaan semakintinggi. Seiring dengan hal tersebut,ternyata sektor formal tidak mampumenyerap seluruh pertambahanangkatan kerja. Akibatnya terjadikelebihan tenaga kerja yang tidaktertampung, mengalir dan mempercepattumbuhnya sektor informal. Salah satubentuk perdagangan informal yangpenting adalah Pedagang Kaki Lima.Bahkan karena begitu penting dankhasnya dalam sektor informal, istilahinformal sering diidentikan dengan jenispekerjaan yang dilakukan oleh PedagangKaki Lima ini.Keberadaan Pedagang Kaki Lima(PKL) yang semakin marak ini munculdi kota-kota besar memang tidak dapatditepis. Hampir setiap negara yang adadi dunia ini menghadapi problemkeberadaan PKL, termasuk di negarasemaju Amerika dan negara-negaraEropa pun tidak luput dari geliat PKL.1691Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Usaha Pedagang Kaki Lima menjadialternatif pekerjaan yang dipandangdapat menunjang penghidupanmasyarakat yang tidak terserap olehlowongan pekerjaan tersedia. Akantetapi, dengan semakin maraknya PKLdi pusat-pusat perkotaan tersebut,bukannya tidak menimbulkanpermasalahan yang berarti. Banyakkasus yang menunjukkan kondisitersebut tak jarang menimbulkan konflikkepentingan antara PKL, masyarakatmaupun pemerintah. Di satu sisipemerintah ingin mewujudkan suatukonsep penataan kota yang tertib danindah, namun di sisi lain PKLmemandang pekerjaannya tersebutsebagai sumber mata pencaharianhidupnya yang mesti dipertahankanmeskipun harus berhadapan dengankebijakan pemerintah yang tidakresponsif terhadap keberadaan PKL.Kondisi ini tak jarang menimbulkantindakan-tindakan yang dapat berpotensimelanggar HAM, seperti penggusuran,pembongkaran paksa bangunan, dansebagainya.Kota Pekanbaru sebagai salah satukota yang sangat cepat perkembanganpembangunannya juga mengalami halyang serupa. Pekanbaru menjadi sasaranutama para urban untuk mencarilapangan pekerjaan yang berimbas padabertambahnya jumlah penduduk,bertambahnya angka pengangguran danangka kemiskinan, serta berubahnya tataruang kota akibat berdirinya rumahrumahliar yang tidak memiliki izinpendirian bangunan sampai kepadaPedagang kaki Lima yang berjualantanpa izin dan tidak pada tempat yangtelah ditentukan. Hal ini jika tidakdiatasi dengan baik, tentu saja dapatmenghambat tercapainya Visi KotaPekanbaru 2021 yaitu “terwujudnyaKota Pekanbaru sebagai pusatperdagangan dan jasa, pusat pendidikanserta pusat kebudayaan Melayu menujumasyarakat sejahtera yang berlandaskaniman dan taqwa”.Keberadaan pedagang kaki limayang tidak pada tempat yang telahditentukan tentunya akan menggangguperencanaan Tata Ruang KotaPekanbaru serta keamanan dankenyamanan masyarakat KotaPekanbaru. Realitas ini mendorongPemerintah Kota Pekanbaru untukmembuat regulasi tersendiri berkaitandengan PKL dengan ditetapkannyaPeraturan Daerah Kota Pekanbaru No.11 Tahun 2001 tentang Penataan danPembinaan Pedagang Kaki Lima.Idealnya Perda ini dibentuk untukmenjembatani kepentingan berbagaipihak terhadap keberadaan PKL di KotaPekanbaru. Namun jika dilihat darimateri muatan yang terkandung dalamperda ini, maka masih ditemuibanyaknya kelemahan. Oleh sebab itu,tidaklah heran jika permasalahanpembinaan dan Penataan PKL di KotaPekanbaru sampai saat ini tidak pernahterselesaikan secara baik.Metode PenelitianPenelitian ini sangat spesifikbersifat deskriptif analitis, yaitumengambarkan tentang fenomena yangada dengan memaparkan fakta yang adamelalui suatu interpretasi, evaluasi danpengetahuan umum. Oleh karena itu,penelitian yang dilakukan bukan hanyamemberikan penulisan deskriptif darifakta-fakta melainkan juga harus dapatmemahaminya agar dapat memberikan1692Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


penjelasan yang bermakna terhadapobjek penelitian. Adapun tipe penelitianini adalah penelitian hukum normatif(legal research) dengan menggunakanpendekatan yuridis yang menitikberatkanpada penelitian datakepustakaan.Konseptualisasi Penataan danPembinaan Pedagang Kaki LimaPedagang Kaki Lima selaludikaitkan dengan unit ekonomimasyarakat pada sektor informal, yangdianggap berbeda dengan pekerjaan disektor formal. Istilah ini merupakantambahan perbendaharaan kata barudalam ekonomi pembangunan yangkelahirannya tidak bisa dipisahkan dariupaya ILO (International LaborOrganization) untuk melaksanakanperang frontal melawan kemiskinan diberbagai kawasan di dunia. Upaya ILOtersebut sudah menemukan rumusanbakunya sejak pertengahan dekade1970-an dengan dipublikasikannyaringkasan dari berbagai penelitianempirik yang dilaksanakan dibanyaktempat. Sementara itu, untuk khalayakdi Indonesia, sebuah terbitan dalambentuk buku juga sudah keluarpertengahan dekade yang lalu (Manningdan Effendi, 1985).Secara umum, ciri-ciri baku darisektor informal dapat dijelaskan sebagaiberikut (Sethuraman, 1984) :1. Seluruh aktivitasnya bersandar padasumberdaya sekitarnya.2. Ukuran usahanya umumnya kecildan aktivitasnya merupakan usahakeluarga.3. Untuk menopang aktivitasnyadigunakan teknologi yang tepat gunadan memiliki sifat yang padat karya.4. Tenaga kerja yang bekerja dalamaktivitas sektor ini telah terdidik atauterlatih dalam pola-pola yang tidakresmi.5. Seluruh aktivitas mereka dalamsektor ini berada di luar jalur yangdiatur pemerintah.6. Aktivitas mereka bergerak dalampasar sangat bersaing.Sektor informal sejauh ini munculke permukaan dan cenderungmenggejala secara luas dikarenakanterdapatnya faktor pendorong danpenarik (push and full factor). Faktorpendorong yang utama adalahtersisihnya sebagian angkatan kerja dariproses seleksi di sektor formal yangmemang sangat kurang dan rendah dayaserapnya. Daya tarik sektor informaladalah adanya peluang kerja yang tidakmemerlukan ketrampilan dan keahliankhusus, pendidikan formal tertentu,modal yang besar serta perijinan khusus(Zainudin, 1995).Sektor informal pada satu sisidianggap sebagai sektor yang tidakproduktif dan termasuk kelompok yangmiskin. Sektor ini dianggap sebagaipelarian para pencari kerja yangberurbanisasi ke kota-kota dan padaumumnya berpendidikan rendah. Akantetapi pada sisi lainnya sektor informalmerupakan kegiatan yang dinamis,efisien dan menguntungkan secaraekonomi. Dengan berbekal modalterbatas diikuti keuletan dan kerja keras,mereka mampu survive dalam usaha.Salah satu jenis pekerjaan sektorinformal adalah pedagang kaki lima.Pedagang kaki lima adalah orang-orangyang berjualan di trotoar, namunsekarang terdapat kecenderungan baruuntuk tidak terfokus pada trotoar dalam1693Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


melakukan operasinya, tetapi disetiaptempat yang menjadi ajang lalu lintasmanusia. Secara umum persoalan yangdihadapi pedagang kaki lima tidakberbeda jauh dengan jenis persoalanyang dihadapi oleh pengusaha sektorinformal lainnya. Kendala yang lazimdihadapi pedagang kaki lima adalah :1. Permodalan. Secara umum pedagangkaki lima sangat terbatas sehinggaomzetnya terbatas dan akhirnyakeuntungannya juga minim.2. Kelembagaan. Kesadaran tentangpentingnya berorganisasi belumdipahami benar oleh para pedagangkaki lima, mereka dominan berusahasendiri, padahal berorganisasipenting dalam upaya pengembanganusaha.3. Motivasi. Pada umumnya usahapedagang kaki lima hanya sekedarsambilan atau batu loncatan untuksementara menunggu kesempatanalih profesi, sehingga mereka kurangmemiliki etos kerja.4. Pemasaran. Aspek pemasaran terkaitdengan masalah lokasi usaha, yaitukawasan yang ramai yang banyakdidatangi masyarakat, kehadiranpedagang kaki lima di suatu lokasikadang tidak diinginkan oleh Pemdasetempat, karena dianggap merusakkeindahan dan menggangguketertiban sehingga sering terjadipenggusuran.Di samping itu, lemahnya regulasiyang mengatur tentang penataan danpembinaan Pedagang Kaki Lima jugamenjadi kendala lainnya yang tak kalahpenting bagi PKL dalam menjalankanusahanya. Memang diakui bahwa salahsatu sisi negatif sektor informal adalahkenyataan kurang disiplinnya PKLdalam mentaati peraturan perudangundanganyang berlaku. Terbukti masihbanyaknya PKL yang berdagangdisembarang tempat atau di luar pasartanpa memperhatikan peraturan danketertiban yang telah ditentukan olehpemerintah daerah. Keadaan yangdemikian memang menyulitkanpemerintah selaku pengayom danpemimpin masyarakat. Akan tetapidalam mengambil kebijakan, pemerintahjuga tetap harus mempertimbangkanaspek menguntung-kan dari munculnyaPKL, yaitu dapat mengurangi tingkatpengangguran sehingga tidak perludihilangkan, tetapi hanya perluditertibkan secara baik.Ditinjau dari teori trickle downeffect pemerintah dikatakan sebagaielemen yang superior sedangkanpedagang kaki lima adalah elemeninferior. Seharusnya kebijakan yangdibuat oleh pemerintah memberikan efekmeningkatkan kemakmuran bagi rakyat.Hal ini sesuai dengan teori trickle downeffect yang berarti “penetesankemakmuran ke bawah” (Todaro, 1987).Akan tetapi dalam masalah kebijakanpenggusuran PKL yang dilakukanpemerintah Kota Pekanbaru teori trickledown effect ini tidak terjadi. Bahkanadanya kebijakan penggusuran akhirakhirini marak terjadi telahmenghilangkan mata pencaharian parapedagang kaki lima, yang itu berartijustru menimbulkan kemiskinan bagiPKL.Oleh sebab itu, regulasi yangmemadai bagi penataan dan pembinaanPKL merupakan hal sangat penting.Penataan yang dimaksud adalah suatuproses pengaturan dan penyusunan,1694Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


sedangkan pembinaan adalah suatuproses untuk membina menjadi lebihbaik (KBBI,2001). Agar regulasitersebut berjalan efektif, makapembentukannya harus mengakomodirtiga landasan bagi pembentukanperaturan perundang-undangan yaitulandasan filosofis, landasan yuridis,maupun landasan sosiologis. Dengandemikian, paradigma pengaturan PKLhendaknya memadukan unsurpenertiban, pembinaan, danperlindungan bagi eksistensi keberadaanPKL itu sendiri.Kritik terhadap Regulasi PembinaanDan Penataan PKL Di KotaPekanbaru.Salah satu upaya Pemerintah KotaPekanbaru untk mengatasi permasalahansekitar PKL adalah dengan menetapkanPeraturan Daerah Kota Pekanbaru No.11 Tahun 2001 tentang Penataan danPembinaan Pedagang Kaki Lima. padatanggal 17 Oktober 2001 yangdituangkan dalam Lembaran DaerahKota Pekanbaru No. 26 Tahun 2001 SeriD No. 20. Adapun pertimbanganditerbitkannya perda ini adalah untukmemberikan jaminan hukum terhadapPKL yang berupa perlindungan,pembinaan dan pengaturan dalammelakukan usaha agar berdaya guna danberhasil guna serta meningkatkankesejahteraannya.Sebelum adanya Peraturan DaerahNo. 11 Tahun 2001 tentang Penataan danPembinaan Pedagang Kaki Lima,pedagang kaki lima masuk ke dalamGolongan Ekonomi Lemah dan SektorInformal yang diatur berdasarkan SuratKeputusan Walikotamadya KepalaDaerah Tingkat II Pekanbaru No. 511.3/09-EKO/1991 tentang Tim Pembinaandan Penyuluhan Pedagang GolonganEkonomi Lemah dan Sektor Informaldan Surat Keputusan WalikotamadyaKepala Daerah Tingkat II Pekanbaru No.500/159-EKO/1994 tentangPembentukan Panitia PelaksanaPelatihan Ketenagakerjaan danManajemen Usaha Kecil SektorInformal di Kotamadya Pekanbaru, yangmerupakan pelaksanaan dari SuratKeputusan Gubernur No. 150/IV/1989tentang Pembentukan Tim PembinaanUsaha Mandiri Sektor Informal diPropinsi Riau.Secara garis besar, PeraturanDaerah Kota Pekanbaru No. 11 Tahun2001 tentang Penataan dan PembinaanPedagang Kaki Lima mengatur beberapahal, yaitu :1. Tempat UsahaTempat usaha pedagang kakilima ditetapkan oleh Kepala Daerahyang dalam hal ini adalah WalikotaPekanbaru. Walikota dalammenetapkan tempat usaha harusmempertimbangkan faktor sosialekonomi, ketertiban, keamanan,kebersihan dan kesehatan serta TataRuang kota sesuai dengan PeraturanDaerah yang berlaku sebagaimanayang tersebut dalam Pasal 2Peraturan Daerah Kota PekanbaruNo. 11 Tahun 2001 tentang Penataandan Pembinaan Pedagang KakiLima.Setelah ditetapkannya tempatusaha bagi pedagang kaki limamaka, setiap pedagang kaki limaharus bertanggung jawab terhadapketertiban, kerapian, kebersihan,keindahan, kesehatan lingkungandan keamanan di sekitar tempat1695Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


usaha. Untuk mewujudkankebersihan, kerapian dan keindahantempat usaha serta keamanan,Kepala Daerah menetapkanpersyaratan-persyaratan lebih lanjut.2. PerizinanDalam menjalankan usahapedagang kaki lima harusmendapatkan izin penggunaantempat usaha dari Kepala Daerah.Izin tersebut diajukan dengan caramendaftarkan diri serta memenuhipersyaratan yang telah dipenuhi. Izinyang telah diberikan dapat dicabutoleh Kepala Daerah apabila :a. Pemegang izin melanggarketentuan yang tercantum dalamSurat Izin;b. Tempat Usaha yangbersangkutan tidak lagiditetapkan sebagai TempatUsaha Pedagang kaki Lima;c. Pemegang Izin melanggarketentuan Peraturan Perundangundanganyang berlaku.Apabila terjadi pencabutan izinmaka terhadap pedagang kaki limatidak diberikan ganti rugi. Izin iniberlaku selama 6 ( enam ) bulan.Pedagang Kaki Lima yang telahmemiliki izin diberikan tanda berupastiker atau tanda lain yangpelaksanaannya lebih lanjut diaturoleh Kepala Daerah. BiayaPembuatan tanda izin ini dibebankankepada penerima izin denganketentuan setinggi-tingginyaRp. 5.000,- (Lima Ribu Rupiah),sebagaimana yang diatur dalamPasal 5 Peraturan Daerah KotaPekanbaru No. 11 Tahun 2001tentang Penataan dan PembinaanPedagang Kaki Lima.Pedagang Kaki Lima yang tidakberjualan ditempat yang telahdisediakan oleh Walikota Pekanbaruatau menempati tempat usahapedagang kaki lima yang memilikiizin diberikan peringatan satu kali.Apabila pedagang kaki lima ini,tidak melaksanakan peringatandalam waktu tiga kali dua puluhempat jam, Walikota berhakmelakukan penyitaan terhadapbarang dagangan dan alat yangdigunakan dalam berjualan.Pedagang Kaki Lima yangberjualan tanpa izin ataupunberjualan di tempat yang tidakdiizinkan oleh Walikota diberikanSurat Peringatan pertama sampaiketiga oleh Walikota atau Pejabatyang ditunjuk, yang bentuk tatacaradan tenggang waktunya diatur olehKepala Daerah. Apabila dalamwaktu 6 (enam) hari Suratperingatan ketiga, belum jugadilaksanakan, Walikota dapatmelakukan penyitaan terhadapbarang dagangan dan atau alat yangdipergunakan dan pencabutan izin.Apabila barang satuan karenasifatnya cepat berubah, rusak, busukdan atau dapat mengganggulingkungan dan atau kesehatan,Walikota dapat menghancurkan ataumemusnahkannya.3. Pembinaan dan PengawasanUntuk kepentingan pengembanganusaha dan peningkatankesejahteraan pedagang kaki lima,Walikota berkewajiban memberikanpembinaan berupa bimbingan danpenyuluhan. Tatacara pembinaanditetapkan lebih lanjut oleh KepalaDaerah, sebagaimana yang diatur1696Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


dalam Pasal 7 Peraturan DaerahKota Pekanbaru No. 11 Tahun 2001tentang Penataan dan PembinaanPedagang Kaki Lima. Sedangkanmengenai pengawasan terhadapPedagang Kaki Lima dilakukan olehWalikota atau pejabat yang ditunjuk.4. Ketentuan PidanaApabila ada pedagang kaki limayang melakukan pelanggaran, makadapat diancam dengan pidanakurungan selama-lamanya 6 (enam)bulan dan atau denda setinggitingginyaRp. 5.000.000,- (Limajuta rupiah).Meskipun Perda ini bertujuanuntuk memberikan pengaturan yangmelindungi eksistensi PKL di KotaPekanbaru, namun materi muatandalam perda justru masih jauh dariyang diharapkan. Beberapa halpenting malah tidak dimuatkandalam perda ini sehigga masihterkesan sangat lemah dalammemberikan perlindungan hukumbagi PKL yang dapat diuraikansebagai berikut:a. Tidak adanya pengaturantentang Partispasi masyarakatmaupun PKL dalam pembinaandan Penataan PKL.Peran serta masyarakat/PKLmerupakan bagian dari hakmasyarakat yang berkaitan eratdengan paham demokrasi. Intipaham demokrasi adalah pelibatanmasyarakat dalam prosesperumusan dan pelaksanaan suatukebijakan. Dengan demikiankebijakan yang dihasilkanpemerintah bersifat kebijakan yangpartisipatoris. Namun disayangkan,dalam perda ini tidak ditemukanpenjelasan yang memadai perihalbagaimana bentuk dan tatacarapartispasi masyarakat/PKL tersebutdapat direalisasikan.b. Tidak jelasnya ketentuantentang penentuan tempatusaha.Berdasarkan Pasal 2 ditegaskanbahwa penentuan tempat usaha PKLditentukan oleh Kepala Daerahdengan mempertimbangkan faktorsosial ekonomi, ketertiban,kemanan, kebersihan, dankesehatan serta Tata Ruang Kota.Namun perda ini tidak menjelaskansecara rinci apa yang dimaksuddengan beberapa faktor-faktor diatas, berikut kriteria masingmasing.Hal ini jelas tidak sesuaidengan asas dapat dilaksanakan,asas kedayagunaan dankehasilgunaan, asas kejelasanrumusan dan asas keterbukaandalam pembentukan peraturanperundang-undangan yang baiksebagaimana termaktub dalam UUNo. 10 Tahun 2004 tentangPembentukan Peraturan perundangundangan.Di samping itubertentangan pula dengan ketentuanPasal 13 UU Nomor 09 Tahun 1995tentang Usaha Kecil yangmenyebutkan bahwa Pemerintahberkewajiban menumbuhkan iklimusaha dalam aspek perlindungan,dengan menetapkan peraturanperundang-undangan dan kebijaksanaanuntuk “menentukanperuntukan tempat usaha yangmeliputi pemberian lokasi di pasar,ruang pertokoan, lokasi sentra1697Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


1698industri, lokasi pertanian rakyat,lokasi pertambangan rakyat, danlokasi yang wajar bagi pedagangkaki lima , serta lokasi lainnya”.c. Belum adanya jaminan yangmemadai terhadap keamananPKL dalam melaksanakan hakhaknya.Tujuan dibentuknya perda inijika dilihat dari konsideranmenimbangnya adalah untukmemberikan perlindungan terhadapPKL, termasuk dalam hal ini adalahadanya jaminan keamanan bagiPKL dalam melaksanakan hakhaknya.Namun disayangkan, dalammateri muatan yang diatur tidak adapengaturan mengenai bagaimanahak tersebut dapat diperoleh olehPKL.d. Belum jelasnya pengaturantentang kewajiban pemerintahmelakukan pembinaan danPengawasan terhadap PKL.Pembinaan dalam perda iniberupa bimbingan dan penyuluhanguna kepentingan usaha danpeningkatan kesejahteraan PKL.Namun disayangkan perda ini tidakmengatur secara terperincibagaimana pembinaan ini dilakukan,termasuk frekuensi pelaksanaannya.Hal ini jelas tidak sesuai denganasas-asas pembentukan peraturanperundang-undangan yang baik,tepatnya asas kedayagunaan dankehasilgunaan.e. Tidak tersedianya pengaturantentang fasilitas-fasilitas yangmemadai bagi PKL untukmeningkatkan usahanya.Perda ini cenderung padaaspek penertibannya ketimbangaspek perlindungan hak-hak PKL itusendiri. Meskipun tujuandibentuknya perda ini lebih untukmemberikan perlindungan hukumdan peningkatan kesejahteraan PKLsebagaimana termaktub dalamkonsideran menimbang, namundalam perda ini tidak dijelaskanbagaimana cara agar tujuan tersebutdapat direalisasikan. Hal ini jelastidak sesuai asas kejelasan tujuan,asas dapat dilaksanakan, maupunasas kedayagunaan dankehasilgunaan dalam pembentukanperaturan perundang-undangan yangbaik.f. Tidak adanya mekanisme yangmemungkinkan bagi PKL yangdirugikan untuk menuntutpemerintah yang bertindaksecara tidak prosedural.Pada prinsipnya, pemerintahmemang diberikan kewenang untukmelakukan pengaturan demiketertiban masyarakat. Namundalam prakteknya, tak jarangperbuatan pemerintah tersebut dapatmenimbulkan kerugian bagimasyarakat/PKL . Perda ini tidakmengatur tentang perihal terkait,sehingga dapat menimbulkankonflik yang berkepanjangan antaraPKL dengan pemerintah. Hal inijelas tidak sesuai dengan prinsipnegara hukum Pancasila yangmenghendaki adanya asaskerukunan dan keserasian dalampenyelenggaraan pemerintahan.Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


g. Pengaturan hak dan kewajibanPKL maupun pemerintah yangtidak seimbang.Perda ini banyak memuatkewajiban ketimbang hak-hak PKL.Hak-hak tersebut meliputi hak untukmendapatkan bimbingan danpenyuliuhan dari Pemerintah KotaPekanbaru (Pasal 7). Sedangkankewajiban PKL adalah sebagaiberikut:1. Kewajiban PKL untukbertanggungjawab terhadapketertiban, kerapian,kebersihan, keindahan,kesehatan lingkungan dankeamanan disekitar tempatusaha (Pasal 3 ayat (1)).2. Kewajiban PKL untukmengurus Izin PenggunaanTempat Usaha dari KepalaDaerah (Pasal 4 ayat (1)).3. Kewajiban untuk tidakmemindahtangankan izindengan cara apapun kepadasiapapun (Pasal 4 ayat (4)).Sebaliknya pengaturan hakhakpemerintah lebih banyakketimbang dari kewajibankewajibanyang harus dijalankan.Kewajiban-kewajiban tersebut yaitumemberikan pembinaan danpengawasan kepada PKL (Pasal 7-8). Sedangkan hak-hak/wewenangPemerintah meliputi:1. Menetapkan tempat usaha bagiPKL (Pasal 2).2. Menerbitkan Izin (Pasal 4 ayat(1)) .3. Mencabut izin apabila terjadipelanggaran (Pasal 4 ayat (5)).4. Memberikan peringatan bagisetiap pelanggaran Izin (Pasal 6ayat (1)).5. Melakukan penyitaan terhadapbarang dan alat yang digunakanapabila peringatan tidakdiindahkan (Pasal 6 ayat (2)).6. Menghancurkan ataumemusnahkan barang sitaanyang sifatnya cepat berubah,rusak, busuk (Pasal 6 ayat (5)).7. Melakukan pengawasan (Pasal8).Beberapa pengaturanmengenai hak dan kewajibanmasing-masing pihak sebagaimandiuraikan di atas jelas menunjukkanadanya ketidakseimbangan hak dankewajiban masing-masing pihak.Padahal hak dan kewajiban disatupihak, mestinya menjadi hak dankewajiban dipihak lainnya. Sebabpada dasarnya tidak ada hak tanpakewajiban, dan tidak ada kewajibantanpa hak. Hak dan kewajiban harusberjalan secara seimbang danproporsional.h. Minimnya pengaturan teknisterkait dengan ketentuanketentuanyang diatur dalammateri muatan perda.Beberapa ketentuan yangdiatur dalam perda ini, sampai saatini belum dibuat peraturan teknisnya1699Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


sehingga sukar untuk diimplementasikan.Beberapa ketentuandimaksud berupa; persyaratan untukmewujudkan kebersihan, kerapiandan keindahan tempat usaha sertakeamanan; persyaratan dan tatacaraserta pemberian izin terhadappedagang kaki lima; mekanismepemberian Surat Peringatan kepadaPKL yang melanggar izin; dan tatacara pembinaan dalam rangkakepentingan pengembangan usahadan peningkatan kesejahteraanpedagang kaki lima.Di samping beberapa kelemahan diatas, terdapat kelemahan dari sisi legaldrafting. Beberapa dasar hukum yangdigunakan dalam perda ini pun sudahtidak relevan lagi, seperti UU Nomor22 Tahun 1999 tentang PemerintahanDaerah yang telah diganti dengan UUNo. 32 Tahun 2004 tentangPemerintahan Daerah dan UU N0. 52Tahun 1995 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok-Pokok PengelolaanLingkungan Hidup yang telah diubahdengan UU No. 23 Tahun 1997 tentangPengelolaan Lingkungan Hidup.Disamping itu, beberapa dasar hukumlainnya perlu dimuat dalam perda ini,antara lain UU No. 26 Tahun 2007tentang Penataan Ruang, UU No. 28Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung,dan UU No. 39 Tahun 1999 tentangHAM.Optimalisasi Perlindungan Hukumbagi PKL.Perlindungan hukum bagi PKLberkaitan erat dengan upaya menjaminpenegakkan HAM yang melekat padajati diri PKL itu sendiri. Konsepsi HAMberanjak dari suatu pemahaman bahwaterdapat hak-hak esensial bagi setiapmanusia yang diperoleh secara kodrati,dan dengan hak itu setiap manusia dapatmelakukan tuntutan dan perlindunganapabila terjadi pelanggaran terhadapHAM yang merupakan hak atas setiapmanusia (Zoelfirman,2003).Apabila dikaitkan dengan UUD1945, UU Nomor 39 Tahun 1999 tentangHAM, maupun UU Nomor 09 Tahun1995 tentang Usaha Kecil, maka hak-hakPKL yang perlu dilindungi antara lainmeliputi:1. Hak atas pekerjaan yang layaksesuai dengan bakat, kecakapan dankemampuan.2. Hak untuk bebas memilih pekerjaanyang di sukainya3. Hak untuk bekerja serta mendapatimbalan dan perlakuan yang adil danlayak dalam hubungan kerja.4. Hak atas perlindungan diri pribadi;keluarga; kehormatan; martabat; danharta benda yang di bawahkekuasaannya, serta berhak atas rasaaman dan perlindungan dariancaman ketakutan untuk berbuatatau tidak berbuat sesuatu yangmerupakan hak asasi.5. Hak untuk mempunyai hak milikpribadi dan hak milik tersebut tidakboleh diambil alih secara sewenangwenangoleh siapapun.6. Hak untuk bebas dari perlakuanyang bersifat diskriminatif atas dasarapapun dan berhak mendapatkanperlindungan terhadap perlakuanyang bersifat diskriminatif itu.1700Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


7. Hak untuk memperoleh perlindungan;pemajuan; penegakan;dan pemenuhan hak asasi manusiayang menjadi tanggung jawabnegara terutama pemerintah.8. Hak untuk tidak dirampas miliknyadengan sewenang-wenang.9. Hak untuk tidak dicabut hak milikatas suatu benda, kecuali demikepentingan umum yang hanyadapat di perbolehkan denganmengganti kerugian yang wajar dansegera, serta pelaksanaannya sesuaidengan ketentuan peraturanperundang-undangan.10. Hak untuk bertempat tinggal sertaberkehidupan yang layak.11. Hak untuk mendapatkan tempatusaha yang meliputi pemberianlokasi di pasar, ruang pertokoan,lokasi sentra industri, lokasipertanian rakyat, lokasipertambangan rakyat, dan lokasiyang wajar bagi pedagang kaki lima, serta lokasi lainnya.12. Hak untuk mendapatkan bantuankonsultasi hukum dan pembelaan.Berdasarkan pemaparan di atasdapatlah dipahami bahwa PedagangKaki Lima sebagai bagian dari manusiamerupakan subjek hukum yang memilikihak-hak asasi yang harus dilindungi dandihormati oleh siapapun juga. Setidaktidaknya,pentingnya perlindungan hakhakPKL dapat dijelaskan dari sudutteori demokrasi, negara hukum, maupunkonstitusi. Substansi demokrasimenuntut adanya peran serta ataupartisipasi aktif masyarakat dalampenataan dan pembinaan PKL olehpemerintah yang dilandasi prinsippersamaan (equality) dan kemerdekaan(liberty) atau kebebasan (freedom)(Amien Rais,1986). Ditinjau dari teorikonstitusi, perlindungan terhadap PKLmerupakan salah bentuk perlindungankonstitusional warga negara dari tindakpemerintah yang dapat merugikankepentingan PKL. Sedangkan daritinjaun negara hukum, perlindungan hakPKL merupakan salah satu bentukpengakuan supremasi hukum olehpemerintah maupun masyarakat/PKL itusendiri.Konsep perlindungan hukumterhadap PKL ini apabila mengacu padaHukum Administrasi Negara meliputidua macam bentuk, yaitu: perlindunganhukum preventif dan perlindunganhukum represif (Ridwan HR, 23).Perlindungan hukum preventif bertujuanuntuk mencegah terjadinya sengketadengan membuat suatu regulasi/kebijakan yang partisipatif. Sedangkanperlindungan hukum represif berkaitandengan komitmen pemerintah untukmenegakkan ketentuan hukum yangberlaku secara konsisten.Dengan adanya beberapa ketentuantersebut, pemerintah dalam menyikapifenomena adanya pedagang kaki lima,harus lebih mengutamakan penegakankeadilan bagi Pedagang Kaki Lima yangnotabene adalah rakyat kecil. Pendapatini senada dengan teori keadilan Rawlsyang menganut asas perbedaan(difference principle) . Asas inimengandung arti bahwa dalamkerjasama manusia, maka suatu prinsipyang layak adalah menerimaketidaksamaan perlakuan, apabila haltersebut memberikan keuntungan bagimereka yang paling tidak beruntung1701Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


(Bahder Johan Nasution, 2004). Disamping itu, sesuai pula denganakomodasi nilai-nilai HAM yangmenghendaki terpenuhinya nilaikebebabasan, nilai kesejahteraan dannilai keadilan bagi seluruh masyarakat,termasuk PKL.Meskipun demikian, secara dalamimplementasinya hak-hak PKL tersebutbukanlah tidak tak terbatas. Mengacupada pendapat Franz Magniz Suseno,bahwa hak-hak tersebut saja dibatasidengan memperhatikan tiga prinsippokok yaitu; kepentingan umum,keadilan dan penghormatan terhadaphak-hak asasi manusia. Tujuannyaadalah agar dalam pelaksanaannya tidakmenganggu ketertiban umum,kepentingan masyarakat dan tidakmengurangi kebebasan orang lain,memenuhi rasa keadilan masyarakat danmerupakan wujud penghormatanterhadap hak asasi manusia.Akomodasi hak-hak PKLselanjutnya dapat diwujudkan denganmemuatkan beberapa ketentuanketentuanyang sesuai dengan nilai-nilaiHAM dalam pengaturan Penataan danPembinaan Pedagang Kaki Lima kedepan, yaitu :1. Perlunya pengaturan tentangPartispasi masyarakat maupun PKLdalam pembinaan dan PenataanPKL.Peran serta masyarakat/PKLmerupakan bagian dari hakmasyarakat yang berkaitan eratdengan paham demokrasi. Intipaham demokrasi adalah pelibatanmasyarakat dalam proses perumusandan pelaksanaan suatu kebijakan.Dengan demikian kebijakan yangdihasilkan pemerintah bersifatkebijakan yang partisipatoris. Dalamkonteks penataan dan pembinaanpedagang kaki lima, maka peranserta masyarakat meliputi :a. Memantau dan menjagaketertiban penataan danpembinaan PKL;b. Memberi masukan kepadapemerintah dan/atau pemerintahdaerah dalam penyempurnaanperaturan, pedoman, dan standarteknis terkait penataan danpembinaan PKL;c. Menyampaikan pendapat danpertimbangan kepada instansiyang berwenang terhadappenataan dan pembinaan PKL;d. Adanya hak dan kewajiban yangseimbang dan proporsionalantara pemerintah dengan PKLmaupun masyarakat.2. Perlunya pengaturan yang lebihterperinci, jelas dan lugas sesuaidengan asas-asas pembentukanperaturan perundang-undanganyang baik dalam hal-hal sebagaiberikut:a. Ketentuan teknis berkenaandengan penentuan tempat usahayang melibatkan partisapasimasyarakat/PKL.b. Mekanisme pelaksanaankewajiban pemerintah dalammelakukan pembinaan danPengawasan terhadap PKL.c. Perlu adanya jaminan yangmemadai terhadap keamananPKL dalam melaksanakan hakhaknya.1702Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


d. Adanya akses mendapatkanfasilitas-fasilitas yang memadaibagi PKL untuk meningkatkanusahanya dari pemerintah.e. Perlunya penyesuaian dasarhukum yang tertuang dalamkonsideran mengingat perda inidengan perubahan peraturanperundang-undangan di bidangterkait.3. Membuat mekanisme yangmemungkinkan bagi PKL yangdirugikan untuk menuntutpemerintah yang bertindak secaratidak prosedural.Berkaitan dengan hal ini dapatdipetimbangkan adanya semacamprosedur upaya administratifterhadap segala tindakan pemerintahyang merugikan hak-hak normatifPKL. Upaya administratifmerupakan perlindungan hukumyang bersifat preventif yaituperlindungan hukum yang bertujuanuntuk mencegah terjadinya sengketadengan memberikan kesempatankepada rakyat untuk mengajukankeberatan (inspraak) ataupendapatnya sebelum suatukeputusan pemerintah mendapatbentuk yang definitif. Di sampingadanya upaya untuk menggugatperbuatan yang merugikan tersebutmelalui jalur pengadilan sebagaibentuk perlindungan hukum yangbersifat represif..4. Perlu segera dibentuk peraturanperaturanteknis terkait untukmelaksanakan ketentuan-ketentuanyang tertuang di dalam perda ini.Secara praktek, meskipunsuatu peraturan daerah telah dibuatsebaik mungkin, namun dalamimplentasinya membutuhkanperaturan-peraturan teknis yanglebih terperinci agar ketentuanketentuantersebut dapatdilasanakan. Tidak tersedianyaperatuan-peraturan teknis tersebuthanya akan menimbulkan ketidakefektifan dalam pelaksanaanketentuan-ketentuan dalam perdatersebut, sehingga pembentukannyadirasakan mubazir. Oleh sebab itu,peraturan-peraturan teknis dimasudperlu segera ditetapkan denganmengacu pada ketentuan peraturanperundang-undangan yang berlaku.Apabila mengacu pada UU No. 32Tahun 2004 tentang PemerintahanDaerah, maka instrumen yuridisyang dapat digunakan untukpengaturan lebih lanjut ketentuanketentuanyang termaktub dalamperda ini ke depan adalah produkhukum daerah yang dikenal denganPeraturan Kepala Daerah untukpengaturan yang bersifat regellingdan Keputusan Kepala Daerah untukhal-hal yang bersifat beschikking.Hal ini penting agar tidakmembingungkan pencari keadilanapabila dirugikan dengan kebijakanyang dibuat, terutama berkaitandengan kompetensi peradilan yangberhak mengadili terhadap perkarayang muncul akibat diterbitkanperaturan maupun keputusan kepaladaerah dimaksud.Sedangkan dari aspekpenegakan hukum bagi ketentuanketentuanyang terdapat dalam perdaini ke depan hendaknyadilaksanakan secara konsisten. Oleh1703Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


sebab itu harus jugamempertimbangkan faktor-faktoryang mempengaruhi efektifitaspenegakkan hukum itu sendiri yangmeliputi: faktor hukum, faktorpenegak hukum, faktor fasilitas/sarana, faktor masyarakat, dan faktorkebudayaanE. KesimpulanEfektivitas penataan danpembinaan Pedagang Kaki Lima di KotaPekanbaru sangat tergantung dari tigaunsur utama penegakan hukum.Pertama, tersedianya substansi hukum(content of law) yang mengakomodirnilai-nilai filosofis, yuridis dansosiologis. Kedua, Penegakkan hukumyang konsisten oleh aparat yangberwenang sebagai unsur strukturhukum (structure of law). Ketiga, adanyakesadaran hukum masyarakat/PKL(culture of law) dalam mentaati M Hadjon, Philipus, 1985, PerlindunganHukum Bagi Rakyat diketentuan hukum yang berlaku. DitinjauIndonesia, Unair, Surabaya.dari aspek hukum, Penataan danPembinaan Pedagang Kaki Lima di KotaPekanbaru yang telah diatur dalamPeraturan Daerah Kota Pekanbaru No. Peraturan Perundang-undangan11 Tahun 2001 tentang Penataan danPembinaan Pedagang Kaki Lima belum Undang-Undang Dasar 1945maksimal dalam mengakomodir ketigaUU No. 10 Tahun 2004 tentangunsur tersebut, sehingga dalamPembentukan Peraturanimplementasi-nya masih ditemukanPerundang-undangan.berbagai hambatan.Oleh sebab itu, pembenahan Peraturan Daerah Kota Pekanbaru No. 11regulasi yang terkait dengan PenataanTahun 2001 tentang Penataan dandan Pembinaan Pedagang Kaki Lima diPembinaan Pedagang Kaki Lima.Kota Pekanbaru harus segera dilakukan, Undang-Undang Nomor 09 Tahun 1995terutama dengan melakukan revisitentang Usaha Kecilbahkan penggantian terhadap Perda KotaPekanbaru No 11 Tahun 2001 tersebut.Hal ini mutlak dilakukan olehPemerintah Kota Pekanbaru agar dapatmemberikan perlindungan hukum yang1704 memadai bagi masyarakat KotaJurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008Pekanbaru umumnya, dan PKLkhususnya. Meskipun demikian, agarDaftar KepustakaanBuku-BukuZoelfirman, 2003, Kebebasan berkontrakVersus Hak Asasi Manusia,UISU Press, Medan.HR., Ridwan, 2003, Hukum AdministrasiNegara, UII Press, Yogyakarta.Sunggono, 1998, Bambang, MetodePenelitian Hukum, RajaGrafindo Press, Jakarta.Nasution, Bahder Johan, 2004, HukumKetenagakerjaan; KebebasanBerserikat Bagi Pekerja, MandarMaju, Bandung.Rais, Amien, 1986, Demokrasi Dan ProsesPolitik, LP3ES, Yogyakarta.


TAHAP PERTUMBUHAN KOTADAN KESERASIAN LINGKUNGANNYAMuchtar Ahmad*)Abstract: Public utilities development have to growth compatibalities and urban system.Atleast, need two of paradigm; economic and ecology. Convergencies of economic and ecologyparadigm has to implemented on urban planing., who concider city development, populationand public service.Keywords: City Development, Compatible environmentPendahuluanTelah banyak gagasan yangdiungkapkan untuk lebih meningkatkanmutu kehidupan di kota. Gagasan itusering dinyatakan dengan istilah yangenak didengar: pembangunan.Pembangunan pada hakikatnya sebagaisuatu proses pertumbuhan ke arahkehidupan yang lebih baik dan sejahtera.Untuk menjadi lebih baik itu bagi suatukota diperlukan prasarana dan saranaumum (public utilities) dan lingkunganyang serasi. Itu akan bermakna bilamemang pembangunan menghasilkanpeningkatkan kesejahteraan danmartabat manusia yang berada dalamsuatu kota, maka ‘public utilites’ danlingkungannya merupakan suatukeniscayaan yang harus diperhatikankeserasiannya dengan seksama.Ketika pembangunan kotadilaksanakan, maka permasalahankesejahteraan dan martabat manusianyaadalah hal yang utama dipertimbangkan.Karena kota sering dijadikan ukurankeberhasilan suatu pembangunan*) Staf Pengajar Pada PPS Program StudiSosiologi Universitas Riaudisuatu negeri. Ungkapan: “sedangdikota saja demikian, dapat dibayangkanbagaimana pula halnya di kawasan lain,seperti di pedesaan”. Keadaan kotamerupakan cerminan pembangunandisuatu wilayah. Walaupun ketika kotaberhasil dibangun, akan munculkritik:”Itu ‘kan di kota, di desa taklahseperti kota”. Tuntutan seperti itu lazimmuncul di dalam setiap pembangunan.Tuntutan yang selalu meningkatpertanda keberhasilan suatupembangunan.Dalam proses pembangunan itu,banyak sumber daya dan lingkunganyang digunakan, selaras denganbanyaknya kegiatan dan skalapembangunan itu sendiri. Karena itu takdapat tidak lingkungan menjadi sasaranperubahan yang paling nyata dalamsuatu pembangunan. Padahalkesejahteraan dan martabat manusia itusendiri banyak ditentukan oleh keadaanlingkungannya.Maka terasa pentingnya tuntutanakan keserasian lingkungan dalampembangunan ‘public utilities’ kota.Sebab hanya dengan keadaan yang serasiitulah kesejahteraan dan martabat1705Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


manusia akan lebih lama berlangsungdan berkelanjutan. Kesadaran mengenaihal itu, telah menumbuhkan suatugerakan yang berhasrat mencapaipembangunan ‘public utilities’ denganmemperhatikan keserasiannya denganlingkungan. Sebab ada kesan pada kotatertentu pembangunan public utilites danlingkungannya hanya asal dibangun saja.Oleh karena itu perlu dijawab terlebihdahulu beberapa pertanyaan pokoksebagai penjernihan masalah.Pertanyaan awal yang harus munculialah kepentingan umum apa sajakahyang diperlukan oleh sebuah kawasansuatu kota? Apakah ukuran yang dipakaibahwa pembangunan fasilitas yangdigunakan umum (public utilities) telahmencapai tingkat kebutuhannya? Disisilain, sejauh manakah pembangunan ituakan mempengaruhi lingkungan? Danapakah ukuran yang dipakai dalammenetapkan bahwa pembangunan yangdibuat telah serasi denganlingkungannya? Pertanyaan seperti itutentulah akan mudah diberikan oleh paraahli planologi kota dan tentu pula merekatelah mempunyai jawaban ataspertanyaan semacam itu. Sedangkan intipermasalahannya jelaslah: Bagaimanakahpembangunan kota yang serasidengan lingkungan itu? Suatupertanyaan yang sederhana, tetapimemerlukan jawaban dan jawabannyatergantung kepada tingkatperkembangan kota dan mutu manusiadan pengelolanya.Makalah ini mencoba mengungkapkankonsep tentang pengembangan kota yangakan terlihat kebutuhan public utilitiesnyayang berbeda. Namun sebagaikomponen dalam suatu system kota,secara bersamaan haruslah terpadudengan konsep lingkungan hidup. Dankedua konsep itu akan dicobamengaitkannya, sehingga menemukankeserasian antar system kota dalamekosistemnya. Sistem kota lazimnyaberat ditinjau dan segi sosial-ekonomisedangkan ekosistemnya yangdipandang dan segi ekologinya.Tahapan Pertumbuhan KotaPrasarana dan sarana umum yangharus dikembangkan dalam suatu kotalazimnya seiring dengan perkembangankota tersebut. Dengan kata lain,pembangunan sarana yang akandigunakan umum seyogianyadisesuaikan dengan tingkatperkembangan kota, yang biasanyamerupakan cermin dan tuntutan manusiadan lingkungannya dalam suatu kawasankota itu.Oleh karena itu, pengetahuantentang tingkat perkembangan sebuahkota perlu dimiliki bila hendakmembangun sarana yang akan dipakaiumum (public utilities). Banyak ukuranyang dapat dipakai dalam mengukurperkembangan kota. Dapat dimulai danpenduduk, luas wilayah, tingkatproduksi industri, pendapatan, tingkatkonsumsi masyarakat, sosial-budaya,teknologi dan lain-lain. Kriteria sepertiitu merupakan ukuran yang dipakai padaberbagai kesempatan, tergantungkepentingannya. Akan tetapi bila hendakmengamati perkembanganya dalampengertian dinamika kota, maka terlebihdahulu perlu dianalisis sistem kotaditinjau dan sudut tinjauan ekonomisecara menyeluruh, tidak secara bagianperbagian (partial) seperti ukuran yangtersebut di atas.1706Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Ditinjau dan sudut ekonomi, suatu kotasebagai suatu system dapat dibagi dalamempat subsistem, yaitu subsistem: 1)produksi barang; 2) peredaran barang(pemasaran); 3) pelayanan informasi dankebudayaan; dan 4) subsistempemukiman. Bila kosep system ekonomiitu yang dipegang, maka berdasarkanperkembangan subsistem itulah tingkatperkembangan suatu kota dapat diukuratau dikelompokkan ke dalam beberapatahap perkembangan.Menurut Kumada (1971), seorangahli rekayasa sosial perkotaan padaTokyo Institute of Technology(Tokodai), ada lima tahap perkembangankota. Pertama, tahap pendirian kota,yaitu pada saat suatu kota meletakkandasar-dasar subsistem perdagangannya.Di Indonesia sejak dua dasawarsabelakangan ini banyak kota baru yangtumbuh di sekitar perkembangan industridan perkebunan seperti di Riau dapatdimasukkan Duri, Bagan Batu (Rohil),Ujung Batu (Rohul), dll. (Ahmad 1997).Sedangkan dewasa ini berkembang kotabaru yang menjadi ibukota kabupatenpemekaran seperti Bagan Siapi-api, PasirPengarayan, Kerinci (Pelalawan), SiakSri Indrapura, Taluk Kuantan. Kedua,tahap jelasnya karakteristik kota. Padatahap ini sebuah kota menampakkan cirikhasnya dengan dominannyaperkembangan salah satu dan empatsubsistem ekonomi di atas, akan tetapidalam berbagai hal tergantung danmerupakan “hinterland’ dan kota lainyang lebih mapan. Beberapa kotakabupaten lama di Riau seperti Kampar,Indragiri Hilir, Bengkalis, dll. Agaknyamasih berada pada tahap ini.Ketiga. tahap lepas ketergantungankota dan kota lainnya (independensi).Kota pada tahap ini mulai independendan kota lain, yang menentukanperkembangannya. Bahkan masingmasingsubsistem kota memperlihatkanperkembangan yang berimbang (balancegrowth), sehingga kota itu dapat menjadipusat dan suatu kawasan yang luas.Pekanbaru dan Dumai mempunyaipeluang untuk menjadi kota seperti itu,bila dikembangkan secara sistemik.Keempat tahap kota menjadi‘dewasa’. Pada tahap ini seluruhsubsistem kota secara menyeluruhmenjadi semakin utuh dan kuat secarakeseluruhan. Terutama subsistemproduksi dan subsistem perdagangannya,sehingga laju pertumbuhanekonomi kota itu dapat melebihipertumbuhan ekonomi nasional. Initerjadi berkat diciptakannya suasana atauiklim untuk pertumbuhan ekonomi padatahap perkembangan kota ketiga, yanghasilnya baru terasa pada tahap keempat.Seyogyanya perkembangan suatu kotapaling tidak menjadikan keadaan itusebagai sasarannya.Kelima, tahap perkembanganmenjadi kota metropolitan. Pada tahapini sistem pelayanan informasi dankebudayaan bertambah meluascakrawalanya dan sektor swastamenunjukkan peranannya yang semakinnyata dalam pertumbuhan kota maupundalam subsistem pelayanan informasidan kebudayaan itu sendiri.Demikianlah pada setiap tahapperkembangana kota di atas, dampaknyaterhadap kebutuhan public utilities danlingkungannya tentulah berbeda-beda.Hal itu tergantung kepada banyak hal.Untuk mengetahui hal-hal tersebut perluditelaah lebih lanjut kaitanpengembangan kota dan kebutuhanpublic utilities serta tingkat1707Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


perkembangannya dan lingkungan hidupsendiri. Semua hal ada kaitannya denganupaya apa yang telah dan dapatdilakukan, agar dalam prosespengembangan kota dapat dijagakeserasian subsistem dalam ekosistemlingkungan hidup kota itu.Lingkungan Hidup KotaBila sebuah kota dilihat dan sudutlingkungan hidup, maka ia harusdipandang sebagai suatu ekosistem,yaitu merupakan suatu systemlingkungan di mana terdapat suaturangkaian kesatuan anasir biota danabiota, yang juga mempunyai hubungandengan suatu suprasistem. Di sisi lainsecara menyeluruh adanya hubungansaling terkait antara segenap anasiriingkungan hidup yang ada di dalamnyalagi pula saling mempengaruhi.Dalam ekosistem suatu kotaterdapat makhluk hidup dan prilakunya,daya dan suasana serta keadaan bendabendayang ada, yang akanmempengaruhi kelangsunganperikehidupan dan kesejahteraanmanusia serta makhluk hidup lainnya.Juga oleh makhluk hidup itu sendiri,yang pada gilirannya secara beruntundan terus-menerus tenjadi hubungansaling mempengaruhi secara timbalbalik.Pada ekosistem kota seperti itupulalah semua subsistem yang diuraikandi atas wujud. Yaitu subsistem yangdipandang dan tinjauan ekonomi, yangkedudukannya dapat dianggap sebagaisubsistem dalam ekositem kota itu, Dilain pihak, bersamaan dengan itu aspeksosial budaya, ekonomi dan fisika,kimiawi, biologi dengan berbagaicoraknya dapat pula dianggap sebagaisubsistem dalam ekosistem kota. Bahkanada pula yang menganggap semuakecamatan dalam kota dapat dianggapsebagai subsistem kota, Karena adanyaperbedaan anasir subsistem antara satukecamatan dengan yang lainnya. Karenaperbedaaan itu pulalah daya dukunglingkungan pada masing-masingsubsistem berlainan.Oleh sebab itu, perkembangan kotayang berpolakan pembagianecosystemnya atas subsistem wilayahkecamatan, maka pembinaan danperkembangannya haruslah berdasarkanatas keadaan daya dukunglingkungan hidupnya. Hal itu akan dapatmenciptakan keselarasan, keseimbanganserta keserasian masing-masingsubsistem, sehingga bukan sajaketahanan masing-masing subsistemterjelma sebagai suatu ecosystem, tetapipembinaan dan perkembangan subsistemyang satu akan mempengaruhi pulaketahanan ekosistem dalam keseluruhan.Apabila suatu lingkungan tidak adacampur tangan dan unsur di luarlingkungan itu, maka dalam jangkatertentu akan selalu terjadikeseimbangan dalam lingkungan itu.Akan tetapi kota, bukanlah suatulingkungan yang dapat menghindarkandiri dan campur tangan anasir di luardirinya Perkembangannya menuntutdiadakan pembangunan secara terusmenerus. Pembangunan hal-hal yangbaru seperti public utilities misalnya,sebagai cerminan pertumbuhan kotakepada tahap perkembangan berikutnya,adalah merupakan upaya memasukkananasir baru ke dalam ekosistem kota. iniberarti akan terbentuk ekosistem baruyang berbeda betapapun sedikitnyaperubahan yang terjadi pada ekosistemlama seandainya pembangunan tidak1708Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


dilakukan. Pada dasarnya keadaan inilahyang akan melahirkan dampak padalingkungan tersebut. Keadaan ini pulayang akan mempengaruhi keselarasanyang sudah ada. Pembangunan selalumenuntut diadakan upayamenumbuhkan keselarasan dalampengembangan suatu lingkungan. Dalamkaitan dengan makalah ini, secara macrokecenderungan demikian itulah yangmerupakan tuntutan keserasianlingkungan dalam perkembangan kotayang merupakan konsep timbulnyapermasalahan rumit di lingkungn kotaseiring dengan perkembangan kota itusendiri Padahal perubahan atau anasirbaru yang dimasukkan ke dalamekosistem kota itu belum tentu semuanyadapat dilacak asalnya atau direncanakansebelumnya. Maka sering terjadi,sementara prasarana umum yang barubelum selesai dipersiapkan tuntutanyang baru dan meningkat muncul, dantimbullah kesan bahwa kota kehilanganjiwanya, kehilangan kemampuanmelayani pemukimnya, kehilangandinamika menyediakan kebutuhanumum seperti public utilities.Permasalahan Pokok PertumbuhanKotaBaik yang mempengaruhipekembangan kota maupun tuntutanadanya pelayanan kota yang baik,umumnya bersumber dan manusia danperilakunya. Masalah inti yangmenimbulkan kerumitan dalammengelola kota dalam keadaan sepertiitu, dapat dipertajam bila dihubungkandengan lingkungan hidup, adalah adanyaurbanisasi dan mobilisasi penduduk dangerakan industrialisasi di satu sisi(Ahmad 1997). Sedangkan di sisi lainpemenuhan tuntutan masyarakat yangsudah berada di kota itu akan pelayanandan prasarana umumnya merupakan halyang harus diprioritaskan.Pemenuhan tuntutan masyarakatyang sudah berada di suatu kota sejaklama dan perkembangannya biasanyaadalah suatu hal yang dapat diperkirakandan karenanya dapat direncanakanpemenuhannya. Hanya saja, karenadesakan industrialisasi dan urbanisasiyang tidak terkendalikanlah, yang dapatmenumbuhkan permasalahanlingkungan yang lebih parah dan padasekedar tidak dapat memenuhi tuntutanmasyarakat kota yang telah ada.Menghadapi keadaan seperti itu banyakpengelola kota frustrasi lalu tidakberbuat apa-apa, sehingga memberikesan kota menjadi tersiakan.Permasalahan yang berkaitandengan kependudukan, yang amatberpengaruh kepada pertumbuhan danlingkungan kota ikut terletak padakenyataan bahwa sebagian besar wargakota datang dan daerah pedesaan(urbanisasi) yang mempunyai polakehidupan desa dan membawa perilakudesa, seperti membuang sampah, mandidi sungai dan buang air di parit trotoiratau di tempat sembarangan, walaupunsudah ada disediakan tempat buangsampah dan toilet umum. Apalagi bagikota yang tak menyediakan atau tidaktersedia usaha pelayanan keperluanumum MCK (Mandi, Cuci, Kakus),tentulah keindahan dan kenyamananIingkungan sangat memprihatinkan.Dibawanya pola kehidupantradisional pedesaan ke dalam tatakehidupan kota telah membawa masalahyang berat bagi pengelola kota dalam halpengelolaan mutu kehidupan danlingkungan hidup. Di daerah pedesaanjika dibandingkan dengan di kota areal1709Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


tanahnya relatif masih luas dan keadaanalamnya masih berada pada tingkatandaya serap yang cakupan mamputerhadap kemungkinan pencemaran.Maka masalah tingkah laku dan polahidup masyarakat desa di situ tidakmerupakan dampak besar. Dalamkeadaan lingkungan pedesaan demikianitu, kebiasaan dan tatanan kehidupanpedesaan dapat dilakukan dan ditolerirtanpa menimbulkan gangguan yangberarti terhadap mutu kehidupan danlingkungan hidup. Akan tetapi apabilatingkah laku demikian terkumpul di kotayang ruang dan alamnya yang serbaterbatas, maka keadaan itulah yangmenimbulkan permasalahan inti upayamenyerasikan lingkungan hidup dengankebutuhan fasilaitas umum denganperubahan prilaku. Sebagai contohnya,cara pembuangan sampah denganpenimbunan atau pembakaran,pembuangan kotoran manusia kedalamperairan atau lapangan terbuka, ataumemelihara ternak di lingkungan rumahdengan lahan sempit dan lainsebagainya, tentu saja tak patut terusdilakukan di kota. Dengan perkataanlain, kalau mau juga berarti fasilitaspengganti yang ada di desa seperti itulahyang perlu pula disediakan olehpengelola kota.Jadi masalah lingkungan hidup yangberkaitan dengan penduduk kota, lebihbesar pada pemukiman manusia dantingkah lakunya, yang tak disesuaikandengan keadaan dan tuntutan hidup dikota. Bila hal itu dikaitkan lagi denganpembangunan kota, maka masalahlingkungan hidup sebagai akibat dampaksampingan (ekses) usaha pembangunanyang utama harus diselesaikan adalahrendahnya mutu lingkungan hidup. Halitu jelaslah, justru disebabkan olehketerbelakanngan dalam pembangunandi bidang pemukiman dan pelayanankebutuhan dasar kehidupan parapemukim di kota, khususnya yangberupa ‘public utilites’.Industrialisasi juga mrupakanpenentu dalam perkembangan kota, yangmempunyai dampak tersendiri danberlainan dengan masalah penduduk dandi pemukimannya. Persoalan yangditimbulkan oleh industri lebih banyakkaitannya dengan pencemaran udara, air(permukaan air, perairan pantai dan airtanah), dan sampah atau limbah industriyang menutupi tanah ataupunmencemari tanah dan berbahaya. Dalamhal yang terakhir ini maka ada beberapapersamaannya dengan dampak danpenduduk dan pola pemukimnya; yaitumenghasilkan sampah, yang bukan sajamencemari air, udara dan tanah, tetapijuga menimbulkan kerusakan padakeindahan atau keasrian lingkungan.Masalah sampah dan solusinya,yang berdasarkan pengamatan ataspertumbuhan dan karakteristiknyamungkin masih langka, untuk tidakmengatakan belum ada sama sekali,dikaji dan dengan seksama dan diatasidengan serta merta. Tetapi di Jakartaberdasarkan survey produksi sampahyang diadakan pada tahun 1973, setiaphari dihasilkan 3176 m3, sampah yangberasal dan rumah tangga 76,4%, sektorpasar 14,4%, sektor industri 5,6% danhotel/kantor 3,6%. Secara keseluruhan43,9% dihasilkan dan sektor rumahtangga dan 97,5% dan sektor industriPada waktu itu pembuangannya telahdapat diatasi dengan tertib atas prakarsamasyarakat, industri yang bersangkutan,dan oleh aparatur Dinas Kebersihankota. Akan tetapi belakangan ini sejak1710Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


tahun 2000 mulai muncul kembalimasalah tempat pembuangan akhirsampah dan bahkan pencemaran telukJakarta yang tidak teratasi. Belajar darikenyataan demikian, apabilapermasalahan pembangunan kota dankeserasian lingkungan hidup akandiciptakan di Pekanbaru, makapermasalahan inti yang penting puladipertimbangkan ialah mengenaiperlunya pengamatan tentang surveyproduksi sampah dan pencemaranlingkungan di kawasan pemukiman,pasar dan industri dan upayapenyelesaiannya yang dapat menjaminkeberlanjutan kota adipura, denganpenduduknya yang sejahtera danbermarwah.Upaya dan RasaWalaupun kota semakinberkembang tetapi selalu dirasakan olehwarganya bahwa keadaan kota semakinparah. Padahal dana dan perencanaanuntuk pertumbuhan dan perbaikan kotasemakin meningkat dan oleh pengelolakota telah banyak dicurahkan upayanyata perbaikannya. Penggunapelayanan kota selalu melihat dan‘output’ (luaran) dan ‘outcome’ (hasil)dan suatu pengelolaan. Sedangkanpengelola selalu membuktikan dengananggaran, rencana dan upaya yang telahdilakukan atau membuktikan dirinya dan‘input’ (masukan)Gejala seperti itu terlihat juga padakutipan berikut ini:”Pertumbuhan kotatelah banyak membawa persoalan baruseperti pembagian dan pemakaian tanah,perumahan dan pemukiman, pusatpelayanan (public utilities) dan perbelanjaan, pemeliharaan kebersihan,keindahan, taman, keamanan dan lainlain.Berbagai kemajuan yang dicapai dilapangan ekonomi terutama1711perdagangan, industri dan sebagainyatelah membawa jumlah penduduk kotasemakin banyak dan timbulnyapemukiman baru. Akibatnya timbulperumahan liar, pedagang kaki lima,rumah kumuh, pengangguran,ketegangan sosial dan kerusakanlingkungan. Pertumbuhan industri dikota dan pasar pembelanjaan telahmempengaruhi keserasian, lingkungandan kelestarian sumber alam”.Demikianlah ungkapan yang dikutipdan ‘term of reference’ (TOR) yangmenjadi dasar pemikiran mengenaidiskusi tentang “Pembangunan ‘PublicUtilities’ dan Lingkungan Kota” Intinyaialah selalu dipertentangkan tentang apayang dilakukan dalam usahapembangunan kota dengan dampaknegatif perkembangan kota. Dan adalahmanusiawi dan lazim kalau yangnegative itu lebih amat terasa karenamerusak sifatnya. Sedangkan yangpositif jarang mendapat pujian, sebab halitu adalah hal yang wajar dan kewajiban.Karena yang positif itu adalah tujuan dantelah direncanakan dengan biayanyasekali. Adakah yang pantas dipuji ketikatujuan yang telah direncanakan denganbaik oleh para ahlinya tercapai denganbaik pula? dalah amat aneh kalau suatuyang direncanakan dengan baik, dalamkenyataan yang terjadi hasllnya jelek.Dan lebih aneh lagi bila yang jelek itudidiamkan saja oleh masyarakat.Pertanda tak perduli dan acuh, pertandasuatu masyarakat yang sakit.Untuk memaharninya maka perludimaklumi bahwa pertumbuhan kotaselalu lebih cepat bila dibandingkandengan kebutuhan dan tuntutanmasyarakat dan kemampuan lingkunganmenyerasikannya. Inilah yangmenimbulkan kesan negatif bahwaJurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


tumbuhnya kota justru telahmempercepat perusakan dan kerusakanlingkungan hidup sampai ke pedesaan.Akibat ekspansi kota maka pertambahanpenduduk (urbanisasi), erosi, perusakantanah, penebangan hutan, perusakandaerah aliran sungai (DAS) danpemusnahan kehidupan flora dan faunaterus berlangsung. Bahkan di beberapawilayah sudah amat meningkatderjatnya. Dampaknya adalah suatuketimpangan ekologis sepertipencemaran udara, tanah, air, gangguanfisiologis dan psikologis, polusi suarayang mengganggu konsentrasi mental,serta menimbulkan bentuk kepenatandan penyakit baru. Kemampuanteknologi dan manajemen kota memangbertambah. Namun potensi dampak danmalapetakanya semakin liar saja.Dampak dan bencana yang terjadi seringtak terduga dan menimbulkan korbananbaik berupa kesenangan, kepuasan,maupun material. Bagi badanpembangunan kota, korbanan itu lebihmerisaukan lagi karena bukan saja akanmuncul berupa biaya mengatasi dampaktersebut, tetapi juga tuntutan pencegahantimbulnya dampak dan bencana tersebutdi masa depan. Oleh sebab itu, korbananapapun yang terjadi, akhirnya berakibatkepada timbulnya pengeluaran biaya,yang akan mengurani jumlah biayapembangunan lain. Setiap pengeluaranbiaya ini tentu mempunyai kaitan denganekonomi. Padahal untuk mengatasidampak negatif itu seringkali sulitmenghitung untung-ruginya secara riel.Kenyataan inilah yang membuat badanperencanaan maupun pengelolaanggaran keuangan engganmenyediakan pembiayaan bagikelestarian lingkungan. Apalagi kalaudampaknya tak langsung dirasakan olehsang pengelola kota atau masyrakat.Keadaan ini ditambah lagi olehkenyataan bahwa dampak suatulingkungan yang positif tidak terasalangsung sebagai suatu akibat adanyaupaya perbaikan langsung. Sebaliknyadampak negatif suatu pembangunan atauperkembangan ekonomi sering kali tidaksegera tampak, tapi melewati prosesyang lama dan panjang. Misalnyadampak negatif pabrik kertas di dekatteluk Minamata baru diketahui merusaklingkungan setelah lebih 20 tahun. Yakniketika banyak penduduk sekitarnya yangpenyakitan (lumpuh, saraf, kucingkucingdan anak-anak yang lahir denganberbagai kelainan dan cacat, barulahdisadari adanya apa yang dikenalkemudian sebagai penyakit Minamata.Penyakit ini baru tahu bersumber danpabrik kertas setelah dilakukanserentetan penelitian. Hasil penelitianmenemukan bahwa akibat memakanikan dari teluk Minamata itu manusiadan binatang tersebut kena penyakitMinamata. Juga diketahui pula bahwakandungan logam berat pada air yangberasal dan limbah buangan pabrickertas itu. Karena memakan ikan danmakhluk air yang berasal dan TelukMinamata selama bertahun-tahunsehingga terakumulasi di dalam tubuhmanusia, 20 tahun kemudian barupenyakit tersebut muncul. Akan tetapidengan kesadaran yang tinggi pula,bukan saja pabrik kertas ditutup, yangberarti suatu kerugian besar dalaminvestasi maupun pada kesempatankerja, juga negara Jepang danperusahaan hrus membayar ganti rugikepada masyarakat yang kena penyakitdi semua kota-kota pinggir TelukMinamata itu. Padahal sebelum1712Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


perusahaan itu berdiri, masyarakat danpemerintah sama-sama suka dan senangatas kehadiran dibangunnya pabrik itu.Sebab masyarakat mendapat kesempatankerja, sedangkan pemerintah mendapatpajak yang lumayan dan pabrik itu, yangpada gilirannya dapat digunakan untukmembiayai pembangunan kota danfasilitas umum untuk masyarakat. Tetapisiapa kira, apa yang semuanyamenggembirakan semua pihak itu, padaakhirnya merupakan suatu tragedimanusia. Kejadian itu menjadi titik tolaktimbulnya kesadaran pelestarianlingkungan pada atahun 1970-an.Berdasarkan hal itu pulalah tumbuhnyaupaya menyusun tatanan baru mengaturpemanfaatan sumber daya kota bagipembangunan dan pengembangan kota.Pengalaman seperti itu, ternyatabukan saja menyedihkan, tetapi jugasecara sosiologis menghilangkankepercayaan bahwa pembangunanekonomi dan industri yang takterkendalikan — dalam arti tanpamempertimbangkan daya dukungsumber dan lingkungan hidup — takdapat menjamin kesejahteraan, yangmerupakan tujuan setiap kegiatanekonomi.Sebab ia telah menimbulkan korbandan biaya yang mahal. Oleh karenaitulah penekanan pada pengelolaanperkembangan kota maupunpembangunan industri di kotaseyogianya selalu denganmemperhitungkan daya dukunglingkungan hidup kota. Untuk itu pulalahmaka setiap perkembangan danpembangunan itu harus dilalui dengansuatu penelitian dan pengamatan yangakan menghasilkan dasar pertimbanganyang dapat dijadikan keputusan: apakahmeneruskan, mengundurkan atau1713menolak pengembangan kota ataupembangunan industri tertentu.Penelitian dan pengamatan tersebut lebihdikenal dengan nama Analisis DampakLingkungan (ANDAL) atau AnalisisDampak dan Resiko Lingkungan(AMPJL). Kegaitan analisis itu adalahsuatu upaya mencegah kerusakanlingkungan ataupun meminimalisirdampak negatif serendah mungkin.Persoalan yang sering dihadapi adalahbukan saja ANDAL atau AMRIL itutidak sempat dilakukan karena dianggap“sia-sia” tetapi juga masalah yang seringdihadapi kota adalah sulitnya melakukanpengendalian perkembangan pendudukkota, kegiatan dan prilakunya. Pendudukyang kadang kala berkembang pelan,namun kegiatan dan budayanya sulitdiramalkan. Karena itu kebijakanpengendalian dan pengembangan kotasemakin menjadi rumit dan pelik.Namun tidak berarti tiada jalan ke luarsama sekaliPembangunan Public Utilities KotaKesadaran lingkungan hidup yangberkembang sejak tahun 1970-anmelanda pula ke dalam pembangunankota. Pembangunan kota-bila ditinjaudan sudut pengelolaannya pada dasarnyaadalah suatu proses pemenuhan tuntutanmasyarakat yang bermukim di dalamkota dan yang akan memanfaatkan kotadalam kegiatan perekonomiannya di satusisi, disisi lain juga mempunyai dimensimenigkatkan kebudayaan di kota agarlebih manusiawi. Kalau demikianhalnya, maka fiingsi kota lebih banyakmerupakan sebagai pelayan masyarakatdan pengembang kebudayaan yangmanusiawi di satu ujung, sedangkanbersamaan dengan itu harus pulabijaksana menyesuaikan pelayanan danpengembangan kebudayaan itu denganJurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


daya dukung lingkungan itu sendiri, agarkeserasian lingkungan serta kehidupanyang lebih sejahtera di kota terjelma diujung lainPadahal keserasian lingkunganhidup dan kehidupan yangmenyenangkan serta sejahtera itumerupakan dua sisi uang logam. Iaditentukan paling tidak oleh tiga anasirpenting. Pertama, prilaku manusia dankesadarannya suatu lingkungan hidup;kedua, daya dukung lingkungan; danketiga tatanan dan kebijakan yangdisusun dalam mengatur kedua unsurterdahulu, terutama dalam perencananpertumbuhan kota. Sehubungan denganitu, upaya pemahaman ketiga anasirpokok yang menentukan perkembangankota yang serasi dengan lingkungan diatas dan pendalaman pengertian atasberkait-kelindannya ke tiga anasir itu,merupakan langkah awal dalamperencanaan pelayanan dan jasa umumdi kota. Sementara langkah awal itudilakukan, maka usaha mengatasipermasalahan yang sedang timbul dantumbuh tidak merupakan tuntutan hariini. Berkaitan dengan itu, karena intipermasalahan kota adalah bersumberpada penduduk, pasar danperkembangan kota, maka pengawasan(control) pada hal-hal tersebut amatmenentukan keberhasilan pembangunanpelayanan jasa untuk umum (publicutilities). Penduduk merupakan sumberdaya manusia yang berperan dalammenuntut dan memanfaatkanpembangunan tersebut, sedangkanindustri dan pasar sebagai sumberpembiayaan dan juga sekaligusmenghasilkan dampak kepadalingkungan, di samping dampak prilakudan kegiatan manusia (Ahmad 1990).Oleh karena kota tetap akantumbuh, walaupun pendapatannya tidakcukup tinggi untuk membiayaipembangunan pelayanan jasa umumseiring dengan pertumbuhan itu, makapertumbuhan yang melampauikemampuan kota dalam menyediakanprasarana dan sarana pemukiman sertapelayanan jasa itulah yang telahmenumbuhkan pemukiman liar, sampahyang tidak terkendalikan, jalan yang asalada dulu, air bersih yang terbatas, tamankota yang tak sempat dirancang,kesulitan dalam mengembangkan suatukebudayaan kota yang lebih manusiawi,keindahan kota yang semakin memudar,dll.Mengingat keadaan ekonomi kota,dengan berbagai keterbatasan dantantangan yang demikian luas, makapilihan yang ditawarkan ialahmengadakan skala prioritaspembangunan pelayanan jasa untukumum (public utilities) yang disesuaikandengan tingkat perkembangan kotasebagai arahnya. Dengan arahan sepertiitu, sekaligus upaya menciptakankeserasian lingkungan hidup dan usahapenanggulangan masalah lingkungankota dilihat dalam kerangkamempercepat laju pembangunan kotayang indah dan asri dimungkinkan. Jadisifat masalah lingkungan hidup di kotalebih luas dan pada sekedar pencemaranair, udara dan tanah, seperti lazimnyadiutarakan dalam berbagai kesempatanpembicaraan tentang lingkungan hidup,karena masalah keindahan kota jugamempakan peluang baru, (Ushihara1978) bila hendak dikembangkanpariwisata dan budayanya misalnya.Secara terperinci dan lebih tehnislagi, untuk pembangunan public utilitiesdi kota yang akan menumbuhkan1714Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


keserasian lingkungan, dapat disusunskala prioritasnya sebagai berikut:1. Penanggulangan masalahkepadatan penduduk dankurangnya sarana sanitasilingkungan. Berkaitan denganhal ini pengaturan padatpenduduk pada suatulingkungan agar sesuai dengandaya dukung lingkungan patutdilakukan. Bersamaan denganitu pembangunan jambanumum, penutupan parit yangdijadikan trotoir, dan saluran airdengan sistem teknik sipil yangtepat guna sehingga tidak lagiterjadi banjir.2. Peningkatan dan perbaikanlingkungan perumahan sertapengembangan kawasanpemukiman baru. Upaya inipenekanannya diutamakan padapenyuluhan rumah tangga, agarmasyarakat proaktif memperbaikilingkungan perumahansendiri dengan kreativitas danotoaktivitasnya. Sebagai contoh,pemagaran rumah dan bahanbesi dan beton dengan beragammacam bentuk dan warnasesungguhnya amat merusakkeindahan kota dan lingkunganhidup. Perumahan umum dankantor seyogianya merupakanpionir dalam gerakkan tanpapagar atau bila perlu berpagar,maka diganti dengan pagartanaman hidup yang lebihmenyenangkan dibandingkandengan besi dan beton yangamat jelek bila dilihat kotasebagai suatu kesatuanlingkungan hidup. Pengembangankawasan pemukimanbaru akan menumbuhkankeluasan yang positif terhadapdaya dukung lingkungan danmerupakan unsure pentingdalam mengendalikan hargatanah di kawasan kota.Pengertian pengembangan disini adalah pengembanganpenyediaan pelayanan jasauntuk umum, sehinggamendorong orang tidak engganbermukim dikawasan baru.Secara umum, di Pekanbarupengembangan kawasanpemukiman baru telah diiringidengan pengembangan publicutilities, terutama dalam haltransportasi, rumah ibadat,sekolah dan kebutuhan dasarmasyarakat lainnya, tapi seringtidak memperdulikan kebutuhanakan taman dan pengaturanpenanaman tanaman penghijauanmaupun pemagaranyang merusak keindahan.3. Peningkatan palayanan umumdibidang sanitasi, penyediaanair minum, pembuangan danpengelolaan limbah dankotoran.Hal ini bukan saja berartiperlunya jamban umum dan airminum untuk umum disediakandi tempat-tempat tertentu, tetapijuga peningkatan kesadaranmasyarakat yang nampak danprilakunya membuang danmengelola limbah dan kotoran.Masyarakat haruslah dibudayakan membangun saranapemanfaatan sampah, limbahdan kotoran, agar bernilaiekonomis. Pada tingkat volumesampah dan kotoran tertentu1715Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


sesungguhnya dapat dibangunsuatu industri pemanfaatannyayang menghasilkan manfaat(benefit). Dengan teknologiyang berkembang pemanfaatanlimbah dan kotoran dapatmenguntungkan, seperti yangtelah dibuktikan pada beberapakota di Eropa Utara dan Jepang.Di sana memang kerjasamapemerintah, pengusaha danmasyarakat diusahakan dankarena itu terwujud.4. Pengembangan jaringanpengangkutan yang dikaitkandengan perluasan daya dukunglingkungan dan mengurangikepadatan kota. Jalan dan saranapengangkutan ke dan danpinggiran kota serta pemukimanbaru dapat lebih memudahkanpeningkatan dan perbaikanlingkungan di kawasan padatpenduduk. Pembangunan pasartradisional di pinggiran kotadapat berperanan membangkitkanekonomi rakyat pinggirankota sekaligus juga mengurangikepadatan dan pengangkutan kepusat kota.5 Pembangunan taman kota dantempat rekreasi.Daerah aliran sungai, sepertisungai Sail dan Siak diPekanbaru, seyogianyadiselamatkan dan perkembanganpemukiman dan campurtangan manusia. Bagianpinggiran atau pesisir sungaiminimal 25 meter seyogyanyamerupakan ruang umum yangdapat dijadikan taman, tempatrekreasi bahkan hutan buatan.Angka luas taman dan tempatrekreasi per kapita pendudukdapat merupakan kriteria tingkatkesejahteraan kota dankeserasian lingkungan. Olehkarena itu bila daerah aliransungai di suatu kota dapatdijadikan taman atau dihutankankembali atau sebagai kawasanrekreasi (untuk camping,berperahu, memancing, dli),maka bukan saja pencemaran airdapat dikurangi, tapi jugakeserasian lingkungan dapatditingkatkan. Demikian pula,bila pagar besi dan beton dirumah dihilangkan atau digantidengan tanaman hidup yangrendah seperti di pemukimanRumbai dan perumahan lainyang dikelola dengan baik,maka bukan saja suasana kotasemakin terasa lebih luas, hijaudan bebas, tetapi juga kota dapatmerupakan kota taman.Lingkungan perusahaan danindustri seyogyanya jugamerupakan suasana hijau danasri. Sehingga istilah tamanniaga (business park) dan tamanindustri (industrial park) wujuddalam kawasan kota. Bukanseperti penjara yang berpagarbesi dan kawat berduri dengansuasana yang kusam dan kaku.Keadaan yang melukiskanketidakamanan dan kekerasan,sebagai gambaran tingkatkeperdulian dan budayamasyarakat, perusahaan danpemerintah.6. Peningkatan prasarana dansarana budayaan dan seni.Kelembutan dan kesejukan kotakarena budaya dan seni1716Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


1717masyarakatnya. Oleh karena itupembinaan budaya dan senimelalui pembangunan saranaumum yang berkaitan adalahcara untuk meningkatkan senidan budaya suatu kota. Iniberguna untuk meningkatkankesadaran dan kepekaan,kemanusiaan, sopan santun,keramahan dan rasa keindahanmasyarakat kota. Peluangmasyarakat mengembangkanbudaya dan seni melaluipartisipasinya pada kegiatanintelektual dan budaya padafasilitas yang dibangunpemerintah. Kegiatan yangteratur, berkelanjutan danberkembang dapat diransangpemerintah kota dan perusahaandengan berbagai cara, sehinggaterbangun suasana budaya danintelektual. Bila suasanaintelektual dapat diciptakanbersama, pada gilirannya akanmuncul kegiatan dan kesadaranmasyarakat pada pentingnyakeserasian lingkungan.Selanjutnyaakanmenumbuhkan semangat wargakota yang berada dalam satukawasan lingkungan hidup yangberbudaya dan cerdas.7. Pencegahan terhadapkemungkinan pencemaranlingkungan.Usaha pencegahan pencemarandan kerusakan lingkungan hidupoleh adanya kegiatanpembangunan dan pengembanganekonomi kota (industri, pasardan niaga) adalah suatukeniscayaan. Kelembagaannyapatut dibangun dan dibinamelalui pengaturan tantananpem-bangunan sertaperencanaan tahapperkembangan kota yangselanjutnya. Ini berarti takterbatas pada perlunya ANDALatau AMRIL sebelum suatupembangunan dilaksanakan,melainkan juga adanyapengendalian terhadappenyelenggaraan pengelolaandan penyeliaan lingkungan.Akhirnya suatu rencanapengembangan kota yang luwesperlu disusun, sehinggamemenuhi persyaratan sistemperkotaan yang lengkap denganperalatan pelaksanaan danpenyeliaan yang mantap.Pertanda suatu kota yangsemakin sempurna pengelolaannya,sebagai adanya suatukeseimbangan fungsi manajemendengan tingkatpertumbuhan kota itu sendiri.Kesimpulan dan SaranPembangunan pelayanan jasa untukumum (public utilities development)haruslah menumbuhkan keserasianlingkungan sesuai dengan tingkatperkembangan sistem perkotaan.Setidaknya perlu dua pandangan;ekonomis dan ekologis yang harusdipertemukan atau dipadukan.Pertemuan pandangan itu seyogianyatercermin dalam tatanan danperencanaan tata kota, yangmempertimbangkan tahap perkembangan:kota, penduduk dan penyediaanpelayanan jasa untuk umum yangberimbangKeserasian lingkungan di suatu kotaakan lebih nampak dan dirasakan,apabila dalam kerangka pengembanganJurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


pelayanan jasa untuk digunakan umumdapat diadakan tindakan:menyelamatkan daerah aliran sungaiagar menjadi kawasan taman; penutupanparit terbuka menjadi trotoir berpolong;pembangunan air minum dan jambanumum di tempat padat penduduk danpasar; perluasan kawasan pemukimandan ling-kungannya; pembangunanjaringan pengangkutan umum yangmendorong perluasan pemukiman;pemanfaatan limbah, sampah dankotoran kota agar menjadi barangekonomis; serta penataan pemagaranrumah yang lebih alamiah danmanusiawi, bukan tembok tinggi danbesi seperti penjara dan kebun binatang.Sungguhpun pengembanganpelayanan jasa untuk umum dapatdiadakan, keberhasilannya dalammenumbuhkan keserasian lingkunganamat tergantung kepada prilaku wargaUrushihara, M. 1978, Seni Keindahankota secara keseluruhan. Oleh sebab ituLingkungan Kota NHK Books.upaya pembinaan prilaku danTokyo. 226 hal.kebudayaan warga kota patut dijadikanpertimbangan dalam perencanaanpengembangan kota.Keserasian lingkungan dalampembangunan kota akan lebihterkendalikan apabila pada setiappembangunan terlebih dahulu diadakanAnalisis Dampak Lingkungan danAnalisis Manfaat dan ResikoLingkungan mendampingi kajiankelayakannya, terutama untukpembangunan industri, perumahanberskala besar, bahkan jugapembangunan public utilities sekalipun.Selanjutnya perencanaan pengelolaanlingkungan haruslah diawasipelaksanaannyaBagaimanapun juga karena bagianterpenting mengenai ‘public utilites’,dan keserasian lingkungan kota adalahmanusia dan masyarakatnya, maka1718 kajian sosiologi Jurnal kota Industri patut dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008dikembangkan, antara lain menyangkut:kota dan warganya, pengelolaan kota,Daftar KepustakaanAhmad, M 1990. Pembangunan PublicUtilities dan KeserasianLingkungan. Makalah padaSimposium: PEMBANGUNANPUBLIC UTILITIES DANLINGKUNGAN KOTA, pada 3Mei 1990 di Pekanbaru.……………, 1997, Peranan MobilitasPenduduk Terhadap KecepatanPertumbuhan Kawasan. JumalIndustri dan Perkotaan (TIP). 1(2):4 — 8.Kumada, Y. 1971. Toshi no Seichokatei.(Tahap Pertumbuhan Kota).Dalam Toshi no Keiei(Pengelolaan Kota) disunting olehT. Shibata dan S. Ishihara. NHKShuppan Kyokai. Tokyo: 19—42.


JARINGAN SOSIAL DALAM AKTIVITASEKONOMI PERKOTAAN(Studi Kasus Lima Usaha Tanaman Hias di Kota Pekanbaru)Indrawati*), Ashaluddin Jalil **)& Auda Murad***)Abstract This research try to reveal the social network in the economic activity, becouse itlooks as the social capital for maintain the existence and development economic effort. Astheoretical, strong and weak the social network get influence by the trust, but the high trustwill be to the sides wich have the family relationship, frienship and the same ethnic. Theresult research to five the effort of adorned plants indicated that social network went onbetween the entrepreneur with aganed, enterprenuer with land owner, enterprenuer withconsumer and between the enterprenuer of adorned plant. Use the land without contract,giving the payment arrears and management the effort bough by the washer is the result of thesocial network which be in the effort of adorned plants. The high trust in the social networknot usually have the family relationship, frienship and the same ethnic.Keyword : Social Network, economic activity, urbanPendahuluanA. Latar Belakang MasalahSuatu fenomena urbanisasi di duniaketiga yang sangat unik dan menarikadalah keterlekatan jaringan sosialdalam aktivitas ekonomi di perkotaan.Keterlekatan ini seakan-akan merupakansuatu jaminan kemampuan bertahanhidup atau berkembangnya suatu usahaekonomi, dan keterlekatan yangdiciptakan oleh para pelaku ekonomitersebut membentuk suatu jaringansosial. Gejala tersebut secara umumdapat ditemui dalam setiap aktivitasekonomi baik pada sektor formalmaupun sektor informal di wilayahperkotaan.*) Alumni Program PascasarjanaProgram Studi Sosiologi UNRI**) Pembimbing I***) Pembimbing IISektor informal sering dikaitkandengan suatu antisipasi timbulnya akibatnegatif dari pertumbuhan penduduk kotaterutama kota-kota di negara duniaketiga. Pertumbuhan penduduk inicenderung menunjukkan perkembanganyang sangat cepat, sehingga kota selalumenjadi konsentrasi penduduk suatunegara atau wilayah. Hal itu disebabkankarena model pembangunan yangdilakukan oleh negara-negara duniaketiga cenderung mengacu pada modelpembangunan yang bersifat “sentralisasiperkotaan” yakni memprioritaskanindustrialisasi di wilayah perkotaan.Oleh sebab itu tidak mengherankan jikakondisi tersebut mempunyai daya tarikyang cukup besar bagi orang-orang dariberbagai wilayah untuk datang ke kota.Pertumbuhan pesat dari pendudukkota, menyebabkan hampir setengah daripenduduk bumi tinggal di kota-kotabesar. Kofi Anan (dalam Ahmad,2002:2)1719Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


pada pidatonya mensinyalir bahwa duniatelah memasuki era millenium urban,yang ditandai dengan sudahmenyentuhnya globalisasi di wilayahpedesaan, namun dampak dariperubahannya tetap berawal danberakhir di perkotaan. Perubahan inimempengaruhi struktur lapangan kerja,domografi, kualitas hidup, pengertiantentang bekerja, serta bersatunyapersoalan-persoalan lokal, regional daninternasional.Menurut perkiraan PerserikatanBangsa-Bangsa (PBB), penduduk duniayang tinggal di perkotaan pada tahun1990 sudah mencapai 2,3 miliar jiwa dan61 persen (1,4 miliar) diantaranyatinggal di kota-kota metropolitan dinegara-negara berkembang. Pada tahun2000 jumlah penduduk perkotaan dinegara-negara dunia ketiga diperkirakanmencapai lebih dari 2,1 miliar jiwa atau66 persen dari total jumlah manusia yanghidup di semua kota di seluruh dunia(Todaro,1999:16).Memang harus diakui bahwadampak positifnya, kota-kota merupakansimbol kemajuan ekonomi yang bagibanyak orang merupakan celah yangmenawarkan harapan dan kesempatanuntuk maju. Betapa tidak bahwa rata-ratakehidupan di kota lebih baik dari padadi desa. Sebagai suatu ilustrasi seorangpemulung di kota bisa mempunyaipenghasilan yang lebih tinggi dari padaseorang petani di desa, dan pemulungyang dianggap rendahpun lebih mudahmenikmati hidangan dari restoranrestoranyang berupa makanan siapsantap seperti yang dihidangkan olehKFC atau McDonald dari pada saudarasaudaranyayang lebih terhormatstatusnya tetapi tinggal di desa.Walaupun dibalik itu dampak negatifnyajauh lebih berat di kota dari pada di desa,dimana orang-orang yang kehabisanuang di kota akan lebih menderita daripada orang-orang yang kehabisan uangdi desa (Herlianto,1997:10).Arus penduduk pedesaan yangselalu meningkat ke wilayah perkotaansering kali tidak diikuti oleh peningkatankemampuan kota dalam penyediaansarana dan prasarana kota, baik lapangankerja, sarana perumahan, kesehatan,sanitasi, transportasi dan sebagainya.Kondisi tersebut diperparah olehketidakmampuan sebagian besarpenduduk yang datang ke kota untukmenata diri sesuai dengan tuntutan hidupperkotaan. Ketidaksesuaian antarajumlah penduduk kota denganketersediaan fasilitas yang dibutuhkandalam kehidupannya menurut Manning(1985:8) mengakibatkan terjadinya“urbanisasi berlebih”, yang diartikansebagai suatu keadaan tidak mampunyakota-kota menyediakan fasilitaspelayanan pokok dan kesempatan kerjayang memadai untuk penduduk yangbertambah dengan pesat. Sektor informaldapat memberikan jawaban terhadappeluang kerja, sehingga tidak hanyadapat memberikan kontribusi dalammengurangi pengangguran, tetapi jugamemberikan harapan perkembanganusaha bagi masyarakat kecil di wilayahperkotaan. Sektor ini juga mempunyaiberbagai kelebihan seperti modal kecil,tidak menuntut pengalaman formaldalam usaha dan lain-lain.Karakteristik sektor informal yangtidak menuntut standard pendidikan dankeahlian tertentu, dapat dilakukansendiri atau bersama keluarga, modalawal yang relatif kecil, tehnologi yangsederhana serta padat karya,menyebabkan mudahnya masyarakat1720Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


memasuki sektor tersebut. Selain itutindakan ekonomi yang terjadididalamnya memiliki kecenderunganyang lebih bersifat “social oriented” daripada “profit oriented”, sehingga kegiatansektor informal memiliki kemampuanbertahan yang relatif kuat dalam situasiekonomi yang sulit sekalipun. Parapelaku usaha sektor informal cenderungmemperlihatkan hubungan“partikularistis”, di mana hubungandengan para pekerja yang membantuaktivitas usahanya lebih bersifatkekeluargaan dan cenderung memberiperlindungan. Bahkan secaramenyeluruh kehidupan ekonomiinformal diwarnai dengan hubungansosial yang khas dalam bentuk jaringansosial diantara pihak-pihak yang terlibatdalam usaha tersebut.Salah satu indikator penting dalammengembangkan usaha ekonomidiperkotaan adalah kemampuan parapelaku ekonomi dalam menciptakanjaringan sosial sebagai bentuk modalsosial (social capital) yang dapatmendukung eksistensi usaha tersebut.Jaringan sosial sebagai rangkaianhubungan yang khas diantara sejumlahorang dengan sifat-sifat tambahan.Jaringan sosial memainkan perananpenting dalam alokasi pekerjaan dalampasar tenaga kerja, mobilitas informasi,akses modal dan sebagainya (Damsar,2000:48).Beberapa kajian empiris yang telahdikemukakan di atas juga ditemukanpada kota-kota di Indonesia. Secaraumum laju pertumbuhan penduduk Kotadi Indonesia sekitar 4,7 % dan 45 persendari jumlah penduduk kota di Indonesiaberada di sektor informal (Todaro,1999:321-323). Berdasarkan hasil penelitianMair dan Soetjipto tahun 1975 sebanyak65 % angkatan kerja sektor informal diJakarta terserap di sektor perdagangan.Selanjutnya dari hasil penelitian Hidayattahun 1978, di mana terdapat 50%angkatan kerja sektor informal di PulauJawa terserap pada sektor perdagangan(Rusli,1992:26-27).Pekanbaru merupakan salah satukota yang memiliki tingkat pertumbuhanpenduduk yang cukup tinggi. PendudukKota Pekanbaru berdasarkan hasilSensus Penduduk tahun 2001 berjumlah597.971 jiwa, sedangkan pada tahun2002 menjadi 625.313 jiwa, yang berartimengalami pertumbuhan sekitar 4,57%(Badan Pusat Statistik Kota Pekanbaru,2002:53).Banyaknya orang-orang yangmencari peluang kerja di KotaPekanbaru dapat tergambar dari jumlahangkatan kerja yang ada. Berdasarkanhasil sensus Kesejahteraan Riau tahun2003, jumlah angkatan kerja di KotaPekanbaru yang berumur 15–55 tahunadalah sebanyak 422.097 jiwa atau 62persen dari jumlah penduduk KotaPekanbaru (Badan Pusat Statistik KotaPekanbaru, 2003).Secara umum diakui bahwasebagian besar para pencari kerja diperkotaan masih menginginkan bekerjadi sektor formal, dengan alasan sektorformal mempunyai penghasilan yangtetap, memiliki jaminan sosial serta masadepannya terjamin, dalam arti bahwasetelah berhenti dari bekerja akanmendapatkan santunan atau pensiunyang bisa dipergunakan untuk memenuhikebutuhan masa depan. Hal tersebutsesuai dengan hasil kajian Swis Tantoro(Thesis,1997:103) yang menyatakanbahwa 67,50% pencari kerja di KotaPekanbaru tertarik pada lapangan kerjasektor formal dan 32,50 % lebih tertarik1721Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


pada usaha berskala kecil yang tergolongpada sektor informal.Pesatnya perkembangan aktivitasperdagangan dan jasa di kota pekanbarukiranya merupakan perwujudan dari Visidan Misi Kota Pekanbaru sebagai kotaperdagangan dan jasa, mengakibatkankawasan ini menjadi sasaran yang sangatmenarik bagi orang-orang yang inginmencari peluang usaha dan peluangkerja di perkotaan.Untuk mewujudkan KotaPekanbaru sebagai kota perdagangandan jasa, berbagai macam aktivitasperdagangan dan jasa mulai berkembangdi Kota Pekanbaru baik formal maupuninformal. Salah satu kegiatanperdagangan dan jasa informal yangakhir-akhir ini memperlihatkanperkembangannya di Kota Pekanbaruadalah “Usaha Tanaman Hias”.Kebutuhan akan tanaman hias dantanaman pelindung selain untukmemenuhi kebutuhan akan keindahanlingkungan, juga didukung oleh kondisisuhu udara Kota Pekanbaru yang relatifpanas serta terjadinya pencemaranudara. Menurut catatan Riau DalamAngka, Kota Pekanbaru pada umumnyaberiklim tropis dengan suhu udaramaksimum berkisar antara 34,0C –36,7C dan suhu minimum berkisarantara 20,0C –22,4C (Badan PusatStatistik,2002:5).Sejalan dengan hal di atasdiperlukan upaya menata kota kearah“ekopolis (ecological city)”, sehinggakota menjadi tempat pelestarianlingkungan sekaligus sebagai tempatpeningkatan aktivitas ekonomi. JerzyKozlowski dalam bukunya “Planningwith the Environment” telahmemperkenalkan tehnik kuantitatif yangseyogianya dipakai oleh para perencanakota dan daerah. Berbagai konsepperencanaan yang bersahabat denganlingkungan ini rupanya telah mengilhamitimbulnya konsep “Ecopolis” (EkoBudiharjo & Sudanti, 1993:231).Jika ditelusuri lebih dalam ternyatausaha tanaman hias memiliki keunikantersendiri yang tidak dimiliki oleh usahasektor informal lainnya. Salah satudiantara keunikan tersebut adalahcepatnya pemupukan modal yang terlihatdari asset usaha yang semakin meningkatmeskipun tanpa dukungan modal daripemerintah maupun lembaga ekonomiformal lainnya, sehingga dalam kurunwaktu sekitar 3-4 tahun jumlah assettanaman hias yang dikelola mencapai 10kali lipat modal awal usaha. Menurutsalah seorang informan bernama Yono(nama samaran), hal itu tidak akanterjadi tanpa adanya hubungankerjasama antara sesama pengusahatanaman hias, antara pengusaha denganpemasok tanaman (agen), pemilik lahanpihak-pihak lain yang ikutmempengaruhi perkembangan usahatersebut. Keunikan lain juga dapatterlihat dalam kehidupan ekonomi usahatanaman hias adalah terdapat perbedaanlatar belakang sosial dan budaya diantarapihak-pihak yang terlibat dalam usahatersebut, baik pengusaha, pemilik lahan,pekerja maupun pemasok tanaman(agen), sehingga hubungan kekeluargaandan kesamaan latar belakang budayabukanlah satu-satunya syaratmempertahankan jaringan sosialsebagaiamana yang umumnya terjadipada sektor informal lainnya.Jika dibandingkan dengan kegiatanusaha informal lainnya, usaha tanamanhias dapat dikategorikan kepada jenis1722Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


usaha yang relatif aman dan memilikikemampuan bertahan yang relatiftinggi. Adanya jaringan sosial yangtercipta antara pengusaha denganberbagai pihak merupakan suatu “modalsosial (social capital)” yang turutmendukungkemampuanmempertahankan dan mengembangkanusaha tersebut. Namun karena tingkatketerlekatan jaringan sosial antaramasing-masing pengusaha denganpihak-pihak yang terkait dengannyatidak sama, sehingga para pengusahamasih merasakan adanya hambatandalam pengembangan usaha tersebut.Berdasarkan gejala di atas, kiranya perluuntuk dilakukan suatu penelitiantentang: “Jaringan Sosial dalamaktivitas Ekonomi” Studi Kasus:Lima Usaha Tanaman Hias di KotaPekanbaru.B. Masalah PenelitianDari uraian yang telah dikemukakanpada latar belakang masalah, makamasalah dalam penelitian ini adalahtentang “Jaringan sosial dalam aktivitasusaha tanaman hias di Kota Pekanbaru”.Dari masalah penelitian tersebut dapatditurunkan pertanyaan-pertanyaanpenelitian sebagai berikut:1. Bagaimana karakteristik limausaha tanaman hias di KotaPekanbaru.2. Bagaimana tingkat keterlekatanjaringan sosial pada aktivitaslima usaha tanaman hias diKota Pekanbaru ?3. Faktor-faktor apa yangmempengaruhi tingkat keterlekatanjaringan sosial padaaktivitas kelima usaha tanamanhias.C. Landasan TeoritisMenurut Sethuraman, istilah“sektor informal” biasanya digunakanuntuk menunjukkan sejumlah kegiatanekonomi yang berskala kecil. Tetapiakan menyesatkan bila disebut dengan“perusahaan” berskala kecil karenabeberapa alasan berikut ini. Sektorinformal dianggap sebagai suatumanifestasi dari situasi pertumbuhankesempatan kerja di negara sedangberkembang, karena itu mereka yangmemasuki kegiatan berskala kecil di kotaterutama bertujuan untuk mencarikesempatan kerja dan pendapatan daripada memperoleh keuntungan. Bremanmenambahkan, bahwa sektor informaltercakup dalam istilah umum “usahasendiri” (Manning,1985:90).Menurut Todaro (1999:322), sektorinformal pada umumnya ditandai olehbeberapa karakteristik khas sepertisangat bervariasinya bidang kegiatanproduksi barang dan jasa, berskala kecil,unit produksinya dimiliki secaraperorangan dan keluarga, banyakmenggunakan tenaga kerja (padat karya)dan tehnologi yang dipakai relatifsederhana. Para pekerja yangmenciptakan sendiri lapangan kerja disektor informal biasanya tidakberdasarkan pendidikan formal. Padaumumnya mereka tidak memilikiketerampilan khusus dan sangatkekurangan modal kerja.Berdasarkan hasil studinya,Sethuraman mengemukakan ciri-ciripekerja sektor informal di negara sedangberkembang berdasarkan beberapakriteria. Partisipasi kaum wanita dalamsektor informal sangat kecil, 25% diFreetown, 11% di Kano, 15% di Lagos,12% di Campinas, sedangkan di Manila57% dari pengusaha kebanyakan dalam1723Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


sektor perdagangan adalah kaum wanita.Dalam kegiatan-kegiatan tertentu dalamperdagangan dan pelayanan rumahtangga, partisipasi kaum wanita lebihtinggi dari pada kaum pria. Selanjutnyamenurut Sethuraman, seringkalidikatakan bahwa sektor informal adalahsumber kesempatan kerja terutama untukpenghasilan tambahan atau untuk orangorangtua. Tetapi tampaknya pendapat initidak didukung oleh data. Persentasepimpinan usaha sektor informal dibawah 30 tahun sebagai berikut:Freetown sebanyak 38% kaum pria dan30% kaum wanita, 53% di Kumasi, 38%di Kolombo, 14% di Manila, 24% diKordoba dan 22% di Campinas. Umurrata-rata para pemimpin usaha sebagaiberikut: 35 tahun di Freetown, 27 tahundi Kano, 28 tahun di Kumasi, 35 tahundi Kolombo, 35 tahun di Jakarta, 42tahun untuk pemimpim sektor jasa diManila, 41 tahun di Kordoba dan 40tahun di Campinas. Sedangkan untukpendidikan: angka median tingkatpendidikan sebagai berikut: di bawah 6tahun di Freetown, 6 tahun di Lagos, 9tahun di Kumasi, 4 tahun di Kolombo, 3tahun di Jakarta, di atas 9 tahun diManila dan tingkat pendidikan dasar diCampinas (Manning,1985: 92-92).Menurut Granovetter (DalamDamsar 2002, Oman Sukmana 2005,49–54) keterlekatan merupakan tindakanekonomi yang disituasikan secara sosialdan melekat dalam jaringan sosialpersonal yang sedang berlangsungdiantara para aktor. Sedangkan jaringansosial adalah suatu rangkaian hubunganyang teratur atau hubungan sosial yangsama diantara individu-individu ataukelompok-kelompok.Menurut Granovetter yangdipertegas oleh Powell dan Smith bahwaketerlekatan prilaku ekonomi dalamkonteks hubungan sosial dapatdijelaskan melalui jaringan sosial yangterjadi dalam kehidupan ekonomi. Studitentang jaringan sosial telah dikenal olehsosiologi sejak tahun 1960-an, yangkemudian dihubungkan denganbagaimana individu mempunyaiketerikatan antara satu dengan lainnya,serta bagaimana ikatan afiliasi melayani,baik sebagai pelicin untuk memperolehsesuatu yang dikerjakan maupun sebagaiperekat yang memberikan tatanan danmakna pada kehidupan sosial.Selanjutnya Mitchell menambahkanbahwa pada tingkatan antar individu,jaringan sosial dapat didefinisikansebagai rangkaian hubungan yang khasdiantara sejumlah orang dengan sifattambahan, yang ciri-ciri dari hubunganini sebagai keseluruhan digunakan untukmenginterpretasikan tingkah laku sosialdari individu-individu yang terlibat.Pada tingkatan struktur memperlihatkanbahwa pola atau struktur hubungansosial meningkat dan/atau menghambatperilaku orang untuk terlibat dalambermacam arena dari kehidupan sosial(Damsar,1997,31).Menurut Weber, tindakan ekonomitidak dipandang sebagai fenomenastimulus yang sederhana, tetapi lebihkepada hasil dari suatu proses yangdilakukan oleh individu dalam proseshubungan sosial yang sedangberlangsung. Tindakan ekonomidisituasi-kan secara sosial dan melekatdalam jaringan hubungan sosial personalyang sedang berlangsung dari para aktor.Sedangkan institusi ekonomi bukansuatu jenis dari seperangkat realitaseksternal yang kelihatan, namunmerupakan hasil dari kreasi sosial yangterjadi secara perlahan; cara melakukan1724Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


sesuatu yang “mengeras” dan“mengental” dan akhirnya menjadi kiatmelakukan sesuatu (Damsar,1997: 32).Faktor utama yang mempengaruhiketerlekatan jaringan sosial diantaraorang-orang yang terlibat dalam aktivitasekonomi adalah “trust” (kepercayaan).Menurut Fukuyama (2000:36)trust atauKepercayaan didefinisikan sebagaiharapan-harapan terhadap keteraturan,kejujuran dan prilaku kooperatif yangmuncul dari dalam sebuah komunitasyang didasarkan pada norma-normayang dianut bersama oleh anggotaanggotakomunitas itu. Kepercayaanibarat pelumas yang membuat jalannyakelompok atau organisasi menjadi lebihefisien.Kuat lemahnya keterlekatanjaringan sosial dipengaruhi oleh tinggirendahnya kepercayaan yang dimilikioleh para aktor yang terlibat dalamjaringan tersebut. Selanjutnya Fukuyama(2000:44) menambahkan, masyarakathigh-trust bisa mengorganisasikanpekerjanya dengan basis yang lebihfleksibel dan berorientasi kelompokdengan pertanggung jawaban yang lebihbanyak didelegasikan pada tingkatorganisasi yang lebih rendah. Sebaliknyamasyarakat low-trust harus mengekangdan mengisolasi para pekerja merekadengan serangkaian aturan-aturanbirokratis. Pada bagian lain para pekerjabiasanya menemukan kerja yang lebihmemuaskan jika mereka diperlakukanseperti orang-orang dewasa yang bisadipercaya untuk memberikan kontribusipada komunitas mereka ketimbangdiperlakukan seperti bagian-bagian kecildalam mesin industri besar yangdirancang orang lain.Menurut Fukuyama (2000:27),salah satu variabel yang dipandangsecara positif sebagai sumber yangmelahirkan kepercayaan yang tinggiadalah hubungan keluarga/kesamaanbudaya, karena didalamnya terdapatnilai-nilai bersama yakni keteraturan,kejujuran, dan kerjasama yang dalam.Namun radius kepercayaan diantarakeluarga juga berbeda-beda dan terdapatpandangan negatif di mana adanyakemungkinan keluarga yang memilikitingkat kepercayaan yang rendahdiantara para anggotanya, disebabkannilai-nilai bersama yang dikembangkanadalah nilai-nilai yang salah. SelanjutnyaNaim (dalam Damsar,1997:49)mengemuka-kan bahwa, kebanyakankewiraswastaan yang terjadi padakomunitas migran dimudahkan olehjaringan dari ikatan dalam salingtolong-menolong, sirkulasi modal danbantuan dalam hubungan denganbirokrasi atas dasar hubungan keluargadan kesamaan budaya. Menurut Naim,jaringan sosial merantau orangMinangkabau melibatkan tidak hanyakeluarga luas tetapi juga berkait kepadajaringan sekampung, senagari, seluhak,bahkan seminang.Kepercayaan yang timbul diantarapara aktor yang terlibat dalam aktivitasekonomi tersebut seiring denganterjadinya proses klientisasi atauhubungan patron-klien. Scott (1985:31),menyatakan bahwa hubungan patronklienadalah suatu bentuk hubunganyang saling ketergantungan. KemudianGumilar R.Soemantri dalam JokoRoesmanto (1997:21) menyatakanbahwa hubungan patron-klien adalahpertukaran yang tidak seimbang di manapihak yang satu dengan jelas mempunyaikedudukan yang lebih tinggi, ini1725Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


disebabkan karena adanya kemampuanyang lebih besar dari pihak pertamakepada pihak kedua. Hubungan yangberlangsung lebih cenderung didasarkanpada hubungan sosial yang berorientasikesempatan kerja dari pada hubunganekonomi yang berorientasi keuntungan.Meskipun hubungan patron-klienmemiliki kesan yang tidak seimbang,namun kepercayaan akan adanyajaminan sosial atau perlindungan yangdiberikan patron terhadap klien dapatmeningkatkan hubungan sosial danloyalitas klien .Pada masa resesi tahun 1983-1984,di Amerika para pekerja perusahaanpengolahan baja Nucor bersediamenerima potongan gaji mingguanmereka dalam jumlah banyak karenamereka percaya bahwa para manajerjuga terluka namun tidakmemberhentikan mereka. Di Jerman,para pengawas toko mengetahuibagaimana harus melakukan pekerjaanorang-orang yang bekerja di bawahmereka, dan bisa memindahkan parapekerja dari satu pekerjaan ke pekerjaanlain dan menilai mereka berdasarkankesepakatan langsung tatap muka;pekerja kerah biru bisa memperolehmandat sebagai seorang insinyur denganmenghadiri program pelatihan intensifdi perusahaan ketimbang universitas(Fukuyama,2000:9-10). Kasus di atasmerupakan contoh high-trust yangterjadi berdasarkan hubungan patronkliendalam upaya menyelamatkan duniausaha pada masa resesi ekonomi.Berdasarkan beberapa pandangan diatas, maka dapat dikemukakan bahwafaktor utama yang mempengaruhiketerlekatan hubungan sosial adalahtrust (kepercayaan). Kepercayaan tidakdapat timbul secara spontan, namundidukung oleh faktor-faktor antara lain:hubungan keluarga/kesamaan budaya,hubungan hubungan patron klien danfaktor lama berlangsungnya hubungan.Lama waktu dalam melakukanhubungan turut mempengaruhi tingkatketerlekatan diantara para aktor yangterlibat dalam aktivitas ekonomi. Sepertidalam kasus antara pedagang TanahAbang yang memberikan kredit kepadapedagang dari Lampung, menurutDamsar (1997:42-43), pada mulanyaseseorang tidak diberi kesempatan untukmemperoleh kredit dalam bentuk barang,tetapi setelah sekian lama berhubungandagang dengan melewati masa salingkenal secara mendalam (latar belakangkeluarga, agama dan seterusnya, makauntuk pertama kali pada suatu waktu diamemperoleh kredit satu juta rupiahmisalnya. Pada waktu berikutnyamenjadi dua juta rupiah dan seterusnya.Jaringan sosial diantara paraanggota suatu komunitas dipandangsebagai modal sosial (sosial capital),karena lancarnya aktivitas ekonomi tidaksemata-mata ditentukan oleh modalpisikal (Physical capital) saja. Fukuyama(2000:22-25) menyatakan bahwa sosialcapital secara sederhana dapatdidefinisikan sebagai serangkaian nilainilaiatau norma-norma informal yangdimiliki bersama diantara para anggotasuatu kelompok yang memungkinkanterjalinnya kerjasama diantara mereka.Selanjutnya ditambahkan, sosial capitalmemiliki keuntungan yang jauhmelampaui wilayah ekonomi, ia sangatpenting bagi penciptaan kesehatanmasyarakat sipil. Norma-norma informalsangat mengurangi biaya transaksi(transaction costs) – biaya pemantauan,1726Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


kontrak, keputusan dan pelaksanaankesepakatan formal.D. Kerangka PemikiranBerpedoman pada beberapapandangan ahli dan kajian-kajian tentangjaringan sosial yang telah dikemukakansebelumnya, maka kerangka berfikirdalam penulisan ini sebagai berikut:.1. Aktivitas usaha tanaman hiasyang merupakan salah satuwujud aktivitas ekonomi yangmenciptakan jaringan sosialantara pengusaha dengan pihakpihakyang terkait dalam usahatersebut, antara lain dengan:ethnis, hubungan patron-klienserta lama berlangsungnyahubungan.3. Jaringan sosial yang terjadimemiliki peranan sebagai modalsosial guna mempertahankankelangsungan hidup usaha sertadalam pengembangan usaha.Secara sederhana kerangka berfikirtentang jaringan sosial dalam usahatanaman hias dapat digambarkan sebagaiberikut:TrustPemilik lahanPengusaha lainAgenFactor yangmempengaruhi:KesamaanKebudayaanPatron KlienLama HubunganTenaga KerjaPengusahaKonsumenModal Sosial (Social Capital)pemilik lahan, agen, pekerja,pengusaha lain di sekitarnyaserta konsumen.2. Kuat lemahnya keterlekatanjaringan sosial disebabkankarena kepercayaan (trust)diantara aktor. Kepercayaantersebut muncul karena adanyahubungan keluarga/kesamaanMetodologi PenelitianBerdasarkan tujuannya, maka tipepenelitian ini dapat dikategorikansebagai penelitian deskriptif dalambentuk studi kasus (case study). Sifatkhas dari “case study” adalah suatupendekatan yang bertujuan untukmempertahankan keutuhan (wholeness)dari objek, artinya data yangdikumpulkan dalam rangka studi kasus1727Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


dipelajari sebagai suatu keseluruhanyang terintegrasi. Tujuannya adalahuntuk memperkembangkan pengetahuanyang mendalam mengenai objek yangbersangkutan tanpa membuatgeneralisasi objek yang sama secarakeseluruhan (Vredenbregt, 1978:34).Adapun lokasi penelitian ini beradadi wilayah Kota Pekanbaru, mengingatgejala perkembangan usaha tanamanhias akhir-akhir ini semakin marak danmemiliki jangkauan pemasaran yangcukup luas. Sesuai dengan tujuan yangingin dicapai dalam penelitian ini sertaterkonsentrasinya keberadaan parapengusaha tanaman hias pada beberapalokasi di wilayah Kota Pekanbaru, makadipilih lima usaha tanaman hias yangberlokasi di Jalan Sudirman dan JalanArifin Ahmad.Guna memperoleh data yangberkaitan dengan usaha tanaman hias diKota Pekanbaru maka penulismenggunakan beberapa tehnikpengumpulan data berupa Wawancaraterpimpin (guide interview), pengamatanLangsung (Observation), dokumentasi.Berdasarkan data yangdikumpulkan dengan beberapa tehnik diatas, selanjutnya dikelompokkan sesuaidengan kriteria penelitian dandisederhanakan ke dalam tabulasi data.Setelah dilakukan interpretasi terhadapdata-data yang diperoleh, akhirnyadianalisa dengan memberikan narasiserta penjelasan yang mendalam sesuaidengan masing-masing kriteria yangdikaji.Hasil PenelitianKarakteristik Lima PengusahaTanaman HiasPengusaha IUsaha tanaman hias I adalah milikseorang wanita berumur 55 tahun,berasal dari ethnis Melayu Delli,beragama Islam dan pendidikan terakhirSekolah Lanjutan Atas (SLTA ).Pengusaha IIUsaha tanaman hias II adalah milikseorang pria berusia 34 tahun, berasaldari ethnis Jawa, beragama Islam, dantingkat pendidikan terakhir yang dicapaiadalah tamat Sekolah Lanjutan Pertama(SLTP). Usaha tanaman hias dalampengelolaannya dibantu oleh 3 orangtenaga kerja yang semuanya masihmemiliki hubungan keluarga.Pengusaha IIIUsaha tanaman hias III adalah milikseorang pria berusia 53 tahun berasaldari ethnis Minangkabau, beragamaIslam, dengan latar belakang pendidikanyang pernah diperoleh adalah TamatSekolah Menengah Ekonomi Atas(SMEA). Sedangkan untuk pengelolaanusahanya dibantu oleh dua keponakandan 3 orang pekerja lepas.Pengusaha IVUsaha Tanaman Hias IV adalahmilik seorang pria berusia 50 tahun,beragama Kristen Protestan sertamemiliki pendidikan terakhir tamatSekolah Pertanian Menengah Atas(SPMA).Pengusaha V1728Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Usaha Tanaman Hias V milikseorang pria berusia 40 tahun, kelahiranMedan, Agama Kristen Protestan, sudahmenikah dengan wanita yang jugaberasal dari Medan tetapi belummemiliki anak. Usaha tanaman hias Vyang dikelola bersama istrinya yangberlokasi di jalan Sudirman.Pada tabel berikut secara sederhanadapat dilihat karakteristik dari limaTabel 1pengusaha tanaman hias:Karakteristik Responden Berdasarkan Umur, Jenis KelaminAgama,Ethnis dan PendidikanUmur JenisPengusahaAgama Ethnis Pendidikan(Tahun) KelaminI 55 Perempuan Islam Melayu Deli SedangII 34 Laklaki Islam Jawa RendahIII 53 Laki-laki Islam Minang SedangIV 50 Laki-laki K. Protestan Batak SedangV 40 Laki-laki K.Protestan Jawa Batak TinggiSumber: Data Lapangan Tahun 2006namun jenis pendidikan tersebut bukansebagai persyaratan yang harus dimilikioleh setiap orang yang ingin membukausaha tanaman hias.Tabel di atas menunjukkan bahwaumumnya para pengusaha berada dalamusia produktif dan untuk menjadipengusaha tanaman hias terlihatpartisipasi laki-laki lebih besardibandingkan dengan wanita. Haltersebut sesuai dengan karakteristikusaha yang masih berhubungan denganpertanian, dimana laki-laki dapat terlibatdalam aktivitas usaha secara penuh.Selanjutnya jika dilihat dari latarbelakang ethnis lima pengusaha,ternyata usaha tanaman hias bukanlahtermasuk jenis usaha khas yang ditekunioleh satu ethnis saja dan juga bukanmerupakan pekerjaan turun temurunmelainkan diminati oleh berbagai ethnis.Demikian juga halnya denganpendidikan yang terlihat bervariasi,Tingkat Keterlekatan Jaringan SosialAntara Pengusaha dengan PemilikLahanKelima usaha tanaman hias tersebutternyata memanfaatkan lahan orang lain,baik lahan kerabat, teman maupun oranglain yang tidak memiliki hubungankhusus. Untuk mengetahui kondisi lahanserta status penggunaan lahan padalima usaha tanaman hias tersebut,dapat dilihat tabel berikut:1729Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 2Luas, Lama Pemakaian, Status Pemakaian dan Nilai KontrakLahan dari Lima Usaha Tanaman HiasLuasLamaNilai kontrakUsahaStatus pemakaianLahan (M2) Dipakai (Th)(RP/Th)I 2.600 10 dikontrak 6.000.000 *II 1.200 13 Tidak dikontrak -III 2.000 8 dikontrak 8.000.000 *IV 15.000 8 dikontrak 2.000.000 *V 800 12 Dikontrak 15.000.000Sumber: Data Olahan Lapangan Tahun 2006Keterangan : * = pernah pindah lokasiPada tabel di atas terlihat bahwaluas lahan, lama pemakaian lahan sertanilai kontrak dari masing–masing lahanberbeda satu sama lain. Hal tersebutmenunjukkan bahwa tidak adanyahubungan antara luas lahan dengan nilaikontrak, demikian juga antara lamapemakaian lahan dengan nilai kontrak.Tabel di atas juga menunjukkan bahwaadanya hubungan kekeluargaan diantarapengusaha dan pemilik lahan tidakselamanya menyebabkan lahan dapatdimanfaatkan tanpa dikontrak. Dengankata lain hubungan kekeluargaan yangcenderung bersifat irrasional dapat larutdalam hubungan ekonomi yang bersifatrasional.Keterlekatan jaringan sosial antarapengusaha dengan pemilik lahan terlihatdari kesediaan pemilik lahanmemberikan kesempatan pemakaianlahan dalam waktu yang relatif lama ataubagi yang dikontrak tanpa adanyakenaikan nilai kontrak, belum pernah adateguran dari pemilik tentangpenggunaan lahan, tidak adanya tegurantentang kondisi lahan serta belum adainformasi tentang pengambilan lahankembali. Untuk mengetahui latarbelakang ethnis para pemilik lahan yangsedang digunakan serta keterlekatanjaringan sosial yang terjadi antarapengusaha dengan pemilik lahantersebut, dapat dilihat pada tabel berikut:Tabel 3Tingkat Keterlekatan Jaringan Sosial Antara Pengusahadengan Pemilik Lahan Berdasarkan EthnisPengusaha Pemilik Lahan KeterlekatanI (Melayu Deli) Jawa KuatII (Jawa) Jawa KuatIII (Minang) Minang SedangIV (Batak) Batak KuatV (Jawa Batak) Cina SedangSumber: Data Lapangan Tahun 20061730Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwakesamaan budaya/ethnis tidakselamanya menyebabkan jaringan sosialantara pengusaha dengan pemilik lahanmenjadi kuat.Antara Pengusaha dengan AgenKeterlekatan jaringan sosial antarapengusaha dengan agen terlihat darikesediaan agen memberikan tunggakansampai pembelian berikutnya,membantu ongkos pengiriman danbersedia mengganti tanaman yang rusakdiperjalanan. Tingkat keterlekatanjaringan sosial antara kelima pengusahadengan para agen berdasarkan latarbelakang ethnis dapat dilihat pada tabelberikut:agen, namun tetap dapat mencapaitingkat keterlekatan yang kuat.Antara Pengusaha dengan PekerjaKuat lemahnya keterlekatanjaringan sosial antara pengusaha danpekerja dapat diukur denganmenggunakan beberapa indikatorseperti: Pekerja tidak pernah menuntutkenaikan upah, tidak pernahmeninggalkan lokasi tanpa izin, dankesediaan membantu pekerjaan lain.Untuk mengetahui jaringan sosial yangterjadi dalam bidang produksi pada limausaha tanaman hias dalam yang diteliti,dapat dilihat tabel 5.Tabel 4Tingkat Keterlekatan jaringan Sosial Antara Pengusahadengan Agen Berdasarkan EthnisPengusahaKeterlekatan dengan AgenJawa Batak MinangkabauI (Melayu Deli) sedang kuat kuatII (Jawa) Kuat sedang LemahIII (Minangkabau Lemah Sedang SedangIV (Batak) Sedang kuat LemahV (Jawa Batak) Sedang Kuat KuatSumber: Data Lapangan Tahun 2006Tabel di atas menunjukkan bahwaketerlekatan antara pengusaha denganagen Jawa umumnya hanya mencapaitingkat sedang, dan kondisi seperti ituhanya dapat diperoleh apabila pengusahamelakukan pembelian atau pemesananrelatif besar kepada satu agen. Hal yangsama ternyata tidak terjadi padapengusaha yang berasal dari Jawa,meskipun pembelian dilakukan secararutin tetapi tidak dilakukan pada satuTabel 5 menunjukkan bahwaketerlekatan yang kuat antara pengusahadan pekerja tidak hanya terjadi padapekerja dan pengusaha yang memilikihubungan keluarga saja, namun jugadapat terjadi pada pekerja dan pengusahayang tidak memiliki hubungan keluarga.Keterlekatan yang kuat umumnya terjadipada pekerja yang memiliki masa kerjalebih lama dibandingkan dengan pekerjayang lain.1731Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 5Tingkat Keterlekatan Jaringan Sosial antara Pengusahadengan Pekerja Berdasarkan status HubunganPengusaha Status HubunganI KeluargaBukan keluargaII KeluargaBukan KeluargaIII KeluargaBukan keluargaIV KeluargaBukan keluargaV KeluargaBukan keluargaSumber: Data Lapangan Tahun 2006KeterlekatanJumlahKuat Sedang Lemah-- - -3- - 33 - - 3-2- - 21- 3 4-4 - 4-3 - 3-- - -1 3 - 4Antara Pengusaha denganPengusaha lainKesamaan jenis usaha yang dikelolapada satu sisi menyebabkan timbulnyapersaingan diantara sesama pengusaha,namun disisi lain kesamaan jenis usahadapat melahirkan jaringan sosial yangmemperlancar aktivitas dan eksistensiusaha yang dilaksanakan. Jaringan sosialtersebut dapat terjadi dalam bidangpermodalan baik perolehan bibittanaman maupun peralatan kerja danketerampilan, termasuk juga dalampemasaran hasil produksi. Untukmengetahui jaringan sosial sertaketerlekatan antara lima pengusahatanaman hias dengan pengusahatanaman hias lain disekitarnya dapatperhatikan tabel berikut:Tabel 6Tingkat Keterlekatan Jaringan Sosial Antara Pengusahadengan Pengusaha lainPengusahaKeterlekatan dengan Pengusaha lainEthnis Sama Ethnis BerbedaI (Melayu Delli) Kuat SedangII (Jawa) Kuat KuatIII (Minangkabau) Sedang SedangIV (Batak) Kuat *) SedangV (Jawa Batak) Kuat sedangSumber: Data Lapangan Tahun 2006Keterangan: *) ada yang tidak kuat1732Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Berdasarkan tabel di atas dapat diketahuibahwa keterlekatan yang kuat umumnyaterjadi antara pengusaha yang berasaldari ethnis yang sama, namun antarapengusaha yang berbeda ethnisumumnya memiliki keterlekatan yangsedang kecuali pengusaha II yangmemiliki keterlekatan yang kuat denganpengusaha disekitarnya baik yangberasal dari ethnis yang sama maupunyang berbeda. Hal ini disebabkan karenapengusaha tersebut menyadari bahwadiantara pengusaha tanaman hias yangada tidak ada satupun yang memilikihubungan keluarga dengannya.Keterlekatan jaringan sosial antarapengusaha yang seethnis tidakselamanya berlangsung kuat, seperti apayang dialami oleh pengusaha IV bahwakarena sesuatu hal kerjasamanya denganpengusaha seethnis tidak semuanyaberjalan lancar.Antara Pengusaha denganKonsumenPemasaran hasil produksi dari usahatanaman hias dapat dilakukan dalamberbagai bentuk, antara lain melaluipenjualan langsung kepada konsumenyang datang ke tempat usaha, melaluipembuatan taman serta melalui parapedagang keliling. Pada tulisan inipembahasan keterlekatan hubunganhanya diprioritaskan antara pengusahadengan kontraktor dan pedagang kelilingmengingat hubungan dengan konsumenpribadi selalu berubah-ubah atau tidakberulang-ulang, sehingga sulit untukmengukur keterlekatannya. Untukmelihat keterlekatan jaringan sosialantara pengusaha dengan konsumen,dapat dilihat pada tabel berikut:Tabel 7Tingkat Keterlekatan Jaringan Sosial Antara Pengusahadengan Kontraktor dan Pedagang KelilingPengusaha KeterlekatanDengan KontraktorKeterlekatan denganPedagang KelilingI kuat sedangII sedang KuatIII kuat LemahIV sedang sedangV kuat lemahSumber: Data Lapangan Tahun 2006Tabel di atas menunjukkan bahwadari kelima usaha tanaman hias terdapattiga pengusaha yang memilikiketerlekatan yang kuat dengankontraktor, Bagi pengusaha I, III dan Vpembuatan taman melalui perantarakontraktor tidak terlalu sulit untukdilakukan, karena mereka memilikikontraktor yang tetap sehinggaketerlekatan diantara mereka terlihatdikategorikan kuat, sedangkanpengusaha II dan IV memilikiketerlekatan yang sedang disebabkantidak memiliki kontraktor yang tetap,1733Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


meskipun dapat memperoleh proyeknamun dari kontraktor yang berbedabeda.Pengaruh Kepercayaan terhadapKeterlekatan Jaringan SosialKepercayaan Pemilik Lahanterhadap PengusahaUntuk mengetahui hubungan antarakepercayaan pemilik lahan denganketerlekatan yang terjadi diantaramereka, dapat dilihat pada tabel berikut:Kepercayaan Agen terhadapPengusahaKepercayaan agen terhadappengusaha terlihat dari pembelian selalupada agen yang sama, pembayarantunggakan selalu lancar serta kesediaanpengusaha membeli kelebihan bibit.Berdasarkan indikator di atas dapatdiketahui kepercayaan agen terhadapketerlekatan jaringan sosial seperti padatabel 9.Tabel 8Pengaruh Kepercayaan Pemilik Lahan terhadapketerlekatan Jaringan SosialPengusahaPemilik lahanKepercayaanPemilik LahanKeterlekatanI (M.Delli) Jawa Tinggi KuatII (Jawa) Jawa Tinggi KuatIII (Minang) Minang Rendah SedangIV (Batak) Batak Tinggi KuatV (Jawa Batak) Cina Sedang SedangSumber: Data Lapangan Tahun 2006Jika diperhatikan tabel di atas terlihatbahwa kepercayaan antara pengusahadengan pemilik lahan memilikihubungan yang signifikan denganketerlekatan yang terjadi diantaramereka. Tingginya kepercayaan pemiliklahan terhadap pengusaha dilihat dariuang kontrakan yang tidak pernahdijemput, tidak pernah mengingatkanwaktu pembayaran dan pengusahabersedia memberikan pembayaran lebihawal jika pemilik lahanmembutuhkannya.Tabel 9 menunjukkan bahwameskipun ada hubungan antara tingkatkepercayaan dengan tingkat keterlekatanantara pengusaha dengan agen namunkepercayaan yang tinggi tidak selalumelahirkan keterlekatan yang kuat,sebaliknya kepercayaan yang rendahtidak selalu melahirkan keterlekatanyang lemah.1734Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 9Pengaruh Kepercayaan Agen terhadapKeterlekatan Jaringan SosialPengusaha Agen KepercayaanAgenKeterlekatanI(Melayu Deli)JawaBatakMinangTinggiTinggiTinggiSedangKuatKuatII(Jawa)JawaBatakMinangTinggiSedangRendahKuatSedangLemahIII(Minang)JawaBatakMinangRendahSedangSedanglemahSedangSedangIV(Batak)JawaBatakMinangSedangTinggiSedangSedangKuatLemahV(Jawa Batak)JawaBatakMinangTinggiTinggiTinggiSedangKuatKuatSumber: Data lapangan Tahun 2006Kepercayaan Pekerja terhadapPengusahaSeperti telah dikemukakansebelumnya bahwa keterlekatan antarapengusaha dengan pekerja padaumumnya terlihat dalam aktivitasproduksi mulai dari penanaman sampaipada perawatan tanaman hias.Keterlekatan yang terjadi juga tidakterlepas dari adanya kepercayaan yangtimbul diantara mereka, karenapekerjaan yang dilakukan umumnyatidak memiliki pembagian kerja yangjelas, sehingga diantara pekerja danpengusaha dituntut adanya kerjasama.Untuk mengetahui jumlah pekerja padamasing-masing usaha tanaman hiasdapat dilihat pada tabel berikut:1735Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 10Jumlah Pekerja pada Lima Usaha Tanaman HiasMenurut Status hubungan dengan PengusahaUsahaStatus HubunganJumlahTanaman Hias Keluarga B. keluargaI - 3 3II 3 - 3III 2 4 6IV 4 3 7V - 4 4Jumlah 9 14 23Sumber: Data Lapangan Tahun 2006Tabel di atas memperlihatkan bahwajumlah rata-rata pekerja pada setiapusaha tanaman hias dari lima usahatersebut adalah 5 orang, dan jumlahpekerja yang tidak memiliki hubungankeluarga dengan pengusaha lebih besar.Hal ini berarti bahwa usaha tanaman hiasyang dilakukan oleh lima pengusahatersebut tidak hanya sekedar usahasampingan yang dikelola secarasederhana, tetapi sudah merupakanusaha pokok yang menginginkanperkembangan agar dapat memenuhiseluruh kebutuhan hidup keluarga. Olehsebab itu usaha tersebut menuntut orangorangatau pekerja upahan yang dapatmencurahkan perhatian penuh gunamendapatkan hasil yang diharapkan.Tingkat keterlekatan yang terjadipada pengusaha dan pekerja dapatdihubungkan dengan kepercayaan yangdimiliki kedua belah pihak. Kepercayaanpekerja terhadap pengusaha dilihat darikesediaan menerima upah yangdiberikan majikan, yakin waktu kerjatidak padat, hubungan antara pengusahadan pekerja bersifat kekeluargaan. Untukmengetahui tingkat kepercayaan yangterjadi antara pengusaha dan pekerjadapat dilihat pada tabel 11.Tabel 11 menunjukkan bahwa secaraumum terlihat hubungan yang signifikanantara kepercayaan pekerja terhadappengusaha dengan keterlekatan jaringansosial yang terjadi diantara mereka, dimana kepercayaan yang tinggimelahirkan keterlekatan yang kuat dansebaliknya kepercayaan yang rendahmelahirkan keterlekatan yang lemah. Haltersebut umumnya terjadi pada tenagakerja baik yang memiliki hubungankeluarga dengan pengusaha maupuntidak. Pekerja yang memilikikepercayaan yang tinggi merasa yakinbahwa pengusaha akan memberikanupah yang layak sesuai dengan pekerjaanyang mereka lakukan apalagi merekasering mendapat bonus dari majikan,mereka merasa bahwa tidak perlumenuntut hari libur karena waktu kerjamereka juga tidak terlalu padat dan padahari-hari sepi pengunjung dan tidak adaproyek pembuatan taman, para pekerjajustru diberi izin untuk meninggalkanlokasi sesuai keinginan masing-masingtermasuk mengunjungi sanak saudarayang ada di Kota pekanbaru.1736Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 11Pengaruh Kepercayaan Pekerja terhadapKeterlekatan Jaringan SosialUTHStatusPekerjaKepercayaanPekerjaKeterlekatanIKeluarga - -Bukan Keluarga 3 (Tinggi) KuatIIKeluarga 3 (Tinggi) KuatBukan Keluarga - -Keluarga 2 (Tinggi) KuatIII Bukan Keluarga 1 (Tinggi)Kuat3 (Sedang)LemahIVKeluarga 4 (Sedang) SedangBukan Keluarga 3 (Sedang) SedangKeluarga - -V Bukan Keluarga 1 (Tinggi)3 (Sedang)Sumber: Data Lapangan Tahun 2006KuatLemahKepercayaan Terhadap sesamapengusaha.Untuk mengetahui kepercayaanantara lima pengusaha denganpengusaha lain disekitarnya dapat dilihatpada tabel 12.Tabel 12 menunjukkan bahwa secaraumum kepercayaan antara pengusahadengan pengusaha lain yang seethnisdapat dikategorikan tinggi kecualipengusaha IV yang merasa pernahdibohongi oleh salah seorang pengusahaseethnis pada waktu melakukan proyekpembuatan taman bersama. Sedangkankepercayaan antara pengusaharesponden dengan pengusaha lain yangberbeda ethnis umumnya terlihat sedangkecuali pengusaha II yang memiliki1737Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 12Pengaruh Kepercayaan Pengusaha Lain terhadapKeterlekatan Jaringan SosialLimaPengusaha Kepercayaan KeterlekatanPengusahaLainISama Ethnis Tinggi KuatBeda Ethnis Sedang SedangIISama Ethnis Tinggi KuatBeda Ethnis Tinggi KuatSama Ethnis Tinggi SedangIII Beda Ehnis Sedang SedangIVVSama ethnis Tinggi *) Kuat *)Beda Ethnis Sedang SedangSama ethnis Tinggi KuatBeda Ethnis Sedang SedangSumber: Data Lapangan Tahun 2006kepercayaan tinggi pada semuapengusaha di sekitarnya. Oleh sebab itutingginya kepercayaan diantara sesamapengusaha selain didasarkan pada salingmengenal, tidak pernah merasadibohongi, belum pernah ditolak jikaminta bantuan.Kepercayaan Konsumen terhadapPengusahaJaringan sosial yang kuat antarapengusaha dengan kontraktor sebagaikonsumen utama yang paling banyakmenggunakan produk dari usahatanaman hias, hanya terlihat pada usahatanaman hias I dan V. Hal itu dapatterjadi disebabkan adanya hubungankeluarga antara pengusaha dengankontraktor.Kuat konsumen kontraktor kepadapengusaha didasarkan pada hasil kerjasesuai rencana, pembayaran dapatdilakukan setelah proyek selesai sertaadanya jaminan masa pemeliharaantanaman oleh pengusaha. Selanjutnyauntuk melihat tingkat kepercayaan yangterjadi antara pengusaha dengankontraktor dan pedagang keliling, dapatdiperhatikan tabel berikut:1738Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel 13Pengaruh Kepercayaan Kontraktor terhadapKeterlekatan Jaringan SosialPengusahaKontraktorKepercayaan KeterlekatanI Tinggi KuatII Sedang SedangIII Tinggi KuatIV Sedang SedangV Tinggi KuatSumber: Data Lapangan Tahun 2006Tabel di atas menunjukkan bahwaterlihat adanya hubungan antarakepercayaan antara pengusaha dengankontraktor dengan keterlekatan jaringansosial yang terjadi diantara mereka.Pada Usaha tanaman hias I, III dan Vkepercayaan yang tinggi juga disertaidengan keterlekatan yang kuat. Kuatnyaketerlekatan diketahui karena pengusahaselalu mendapat proyek dari kontraktoryang sama karena pengusahamemberikan harapan sesuai dengankepercayaan agen.Selanjutnya kepercayaan pedagangkeliling terhadap pengusaha dapatdiukur dengan melihat ada tidaknyapedagang yang menjadi langganan tetappengusaha tanaman hias. Pada tabelberikut dapat diketahui pengaruhkepercayaan pedagang keliling terhadapketerlekatan jaringan sosial pada limausaha tanaman hias:Tabel 14Pengaruh Kepercayaan Pedagang Keliling terhadapKeterlekatan Jaringan SosialPengusaha Kepercayaan Keterlekatan denganPedagang KelilingI sedang sedangII tinggi kuatIII rendah lemahIV sedang sedangV rendah lemahSumber: Data LapanganTahun 20061739Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


Tabel di atas menunjukkan bahwajaringan sosial antara pengusaha denganpedagang keliling belum dapat menjadiandalan dalam menunjang pemasaranhasil produksi usaha tanaman hias. Parapengusaha umumnya tidak memilikilangganan tetap bahkan dua penguasahahampir tidak pernah didatangi olehpedagang keliling. Pengusaha IImemiliki keterlekatan yang kuat denganpedagang keliling karena dua pekerjayang juga keluarganya terlibat menjadipedagang keliling, sehingga mendorongpedagang lainnya untuk ikutbekerjasama dengan pengusaha tersebut.Faktor-faktor yang mempengaruhiKepercayaana. Hubungan Keluarga atauKesamaan BudayaKepercayaan yang diberikanpemilik lahan II pada dasarnyadipengaruhi oleh adanya hubungankeluarga diantara mereka, yang terlihatdari tidak adanya kewajiban pembayaransewa/kontrak yang dibebankan kepadapengusaha karena antara pengusahadengan pemilik lahan memilikihubungan kekerabatan yang sangatdekat.Pengaruh kesamaan Budaya/ethnisterhadap kepercayaan para agenterhadap peengusaha, seperti yangterjadi antara agen Jawa denganpengusaha II yang juga ethnis Jawa.Meskipun pengusaha tersebut tidakmembeli bibit dalam jumlah yang besarseperti yang dilakukan pengusaha lain,namun agen tetap bersedia memberikantunggakan, penggantian tanaman sertamembantu ongkos pengiriman.Sedangkan pengusaha lain yang tidakmemiliki kesamaan ethnis dengan agenJawa tidak ada yang memilikiketerlekatan yang kuat meskipunpembelian dilakukan dalam jumlah yangbesar, dan ternyata jarak ikut berperandalam mewujudkan prilaku agenterhadap pengusaha.Pengaruh kesamaan budaya/ethnisjuga terlihat pada keterlekatan antarapengusaha dengan pengusaha lain yangada di sekitarnya, apalagi merekaterlibat dalam organisasi kedaerahan/keluarga yang sama. Para pengusahayang memiliki hubungan keluargadengan kontraktor lebih mudahmendapatkan proyek dari pada merekayang tidak memiliki hubungan keluarga,seperti yang dialami oleh pengusaha I,IIIdan V.b. Hubungan Patron-KlienHubungan patron-klien pada usahatanaman hias hal tersebut umumnyaterjadi antara pengusaha dengan agendan kontraktor serta antara pengusahadengan pekerja. Agen sering dianggapsebagai majikan oleh pengusaha karenatelah memberikan bantuan dalammenambah modal usaha berupapenunggakan, demikian juga kontraktorsebagai pihak yang memberi peluangdalam mendapatkan pekerjaanpembuatan proyek Sedangkanpengusaha sebagai klien yangmemberikan imbalan sesuai denganharapan patronnya.Hubungan patron-klien yangberpengaruh terhadap keterlekatanjaringan sosial dapat terlihat antarabeberapa pengusaha dengan agen Batakdan agen Minang. Meskipun diantaramereka tidak memiliki hubungankeluarga atau tidak adanya kesamaanbudaya, namun agen tetap bersediamemberikan tunggakan pembayarandisebabkan para pengusaha juga1740Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


memberikan konsekwensi sesuai denganharapan agen yang bersangkutan. AgenBatak dan agen Minang memilikisolidaritas yang lebih besardibandingkan dengan agen Jawa karenapara agen juga menyadari bahwa parausaha tanaman hias di wilayah Sumaterakhususnya Kota Pekanbaru merupakansasaran pemasaran yang paling utamakarena didukung oleh jarak yang relatifdekat.Hubungan patron-klien antarapengusaha dengan pekerja dapatmempengaruhi kuatnya keterlekatanjaringan sosial diantara mereka.Gambaran mengenai hal tersebut dapatdilihat pada usaha tanaman hias I, III danV beberapa pekerja yang telahmengabdikan tenaganya pada usahatanaman hias dalam waktu yang relatiflama dan merasa bahwa pekerja tersebutsudah menjadi bagian dari kehidupanmereka. Pengorbanan dan kesetiaannyakepada majikan membawa konsekwensipositif bagi diri mereka, karena paramajikan juga memberikan respon positifdengan memberikan perlakuan lebihseperti dalam hal pemberian bonus,bantuan kesehatan serta kesempatanmeminjam uang untuk keperluantertentu.c. Lama Berlangsungnya HubunganHubungan yang berlangsung antarapengusaha dengan pemilik lahan padalima usaha tanaman hias dapat dikatakanrelarif lama, karena sudah terjadi > 8tahun, namun keterlekatan jaringansosial diantara mereka masih ada yangterkategori sedang yakni pada usahatanaman hias III dan V. Hal tersebutmenunjukkan bahwa lamaberlangsungnya hubungan tidak selaluberakibat kuatnya keterlekatan jaringansosial yang terjadi khususnya antarapengusaha dengan pemilik lahan.Selanjutnya lama berlangsungnyahubungan antara pengusaha dengan agenjelas terlihat antara pengusaha denganagen dari daerah Medan dan Padang,dimana kelima pengusaha menyatakanbahwa agen bersedia memberitunggakan setelah hubunganberlangsung 2 - 3 tahun, bahkanpengusaha II baru diberikan kesempatanpenunggakan setelah usahanya berjalan5 tahun. Sedangkan untuk agen Jawalama berlangsungnya hubungan tidakdapat menciptakan keterlekatan yangkuat antara pengusaha dengan agen,meskipun pengusaha I dan V telahberhubungan lebih dari 5 tahun namunketerlekatan yang dihasilkan hanyadikategorikan sedang.Antara pengusaha dengan pekerja,lama berlangsungnya hubunganmembawa pengaruh terhadapketerlekatan hubungan yang terjadidiantara mereka. Pada umumnya pekerjayang memiliki keterlekatan yang kuatdengan pengusaha adalah mereka yangsudah bekerja lebih dari 5 tahun,sehingga keterlebatan pekerja dalamusaha tersebut dirasakan pengusahasebagai sumber daya manusia yang dapatdimanfaatkan dalam mengembangkanusaha.Kesimupulan dan SaranKesimpulanBerdasarkan pembahasan tentangkarakteristik pengusaha tanaman hias,keterlekatan jaringan sosial, faktorfaktoryang mempengaruhi keterlekatanjaringan sosial, peranan jaringan sosialserta hambatan dalam mengembangkanusaha yang telah dikemukakan pada1741Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


pembahasan terdahulu, maka dapatdisimpulkan sebagai berikut:1. Kelima usaha tanaman hiasdapat dikategorikan sebagaikegiatan ekonomi yang masihbersifat informal dengankarakteristik sebagai berikut:(1) merupakan usaha sendiri/keluarga, (2) modal awal relatifkecil, (3) masih memanfaatkantenaga kerja keluarga, (4)tidak menuntut persyaratantingkat pendidikan danketerampilan tertentu, serta (5)belum memiliki izin usaha yangresmi. Hal tersebut sejalandengan pendapat Todarotentang karakteristik sektorinformal, sehinggamenyebabkan mudahnyamasyarakat untuk memasukiusaha tersebut.2. Pada umumnya pengusahatanaman hias adalah laki-lakiyang berada dalam usiaproduktif, beragama Islam danterlihat adanya heterogenitasethnis dan tingkat pendidikanyang berbeda-beda. Oleh sebabitu usaha tanaman hiasmerupakan jenis kegiatan yangdapat dimasuki oleh berbagaikelompok dan lapisanmasyarakat tanpa membedakanlatar belakang sosial budayanya.3. Keterlekatan jaringan sosialantara pengusaha denganpemilik lahan, agen, pekerja,pengusaha lain dan konsumenumumnya dapat dikategorikankuat. Kuatnya keterlekatanjaringan sosial tersebutdipengaruhi oleh faktorkepercayaan, kesamaan budaya,hubungan patron-klien serta1742faktor lama berlangsungnyahubungan. Hal ini sesuai denganpendapat Fukuyama bahwakepercayaan ibarat pelumasyang membuat jalannyakelompok atau organisasimenjadi lebih efisien.Selanjutnya Muchtar Naimmenyatakan bahwa kewiraswastaanyang terjadi padakomunitas migran dimudahkanoleh ikatan tolong menolongyang didasarkan pada hubungankeluarga dan kesamaan budaya.Roesmanto menambahkanbahwa jaminan sosial yangdiberikan patron dapatmeningkatkan hubungan sosialdan loyalitas klien. SedangkanDamsar menyatakan bahwakepercayaan terbit dari proseshubungan antar pribadi dariaktor-aktor yang sudah lamaterlibat dalam prilaku ekonomisecara bersama.4. Jaringan sosial pada usahatanaman hias berperan dalammempertahankan eksistensiusaha dan dalam pengembanganusaha antara lain sebagaiberikut: mempermudahpemupukan modal, mempermudahalokasi tenaga kerja,mempermudah peluang pasarserta mempermudah penyebaranbudaya bisnis. Oleh sebab ituketerlekatan jaringan sosialdapat berfungsi sebagai modalsosial (social capital) bagiJurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


aktivitas usaha tanaman hiassejalan dengan pernyataanFukuyama yang diperkuat olehDamsar.Saran-SaranBerdasarkan uraian padakesimpulan diatas, maka dapatdikemukakan saran-saran sebagaiberikut:1. Keberadaan usaha tanaman hiassebagai salah satu lapanganusaha dan lapangan kerja yangmempunyai prospek positif danperanannya dalam mendukungprogram penghijauan kota, olehsebab itu media informasi dankomunikasi daerah khususnyadi Kota Pekanbaru perlukiranya turut mempromosikankeberadaan usaha tersebut.Semakin meningkatnyapermintaan terhadap hasilproduksi, menyebabkansemakin besarnya peluangusaha dan peluang kerja yangdapat dimasuki oleh masyarakat(angkatan kerja) di perkotaan.2. Para pengusaha tanaman hiasperlu kiranya berusaha untukmeningkatkan keterlekatanjaringan sosial yang telahterjalin serta memperluasjaringan sosial dengan pihaklain termasuk pemerintahDaftar Kepustakaanmaupun pihak swasta, gunamemperlancar aktivitas usahaAhmad Ahmadin. untuk pengembangan 2002. Re Desain Jakarta usahapada 2020. masa Tata Kota yang Tata akan Kita. datang. Jakarta.Kotak Kita Press.Budiardjo, Eko dan Sudanti ,H. 1993. Kotaberwawasan Lingkungan.Bandung. Alumni.Badan Pusat Statistik. 2002. PekanbaruDalam Angka. Pekanbaru. BPS.Bakhtiar, Nasri, E. 2004. EkonomiKetenagakerjaan. Padang.Andalas Universiti Perss.Damsar,1797, Sosiologi Ekonomi, Jakarta,Grafindo Persada.Evers, Hans-Dieter dan Rudiger Korff,2002.Urbanisme di AsiaTenggara. Jakarta.Yayasan OborIndonesia.Fukuyama.Terjemahan Ruslani.2002.TheGreat Disruption,HakikatManusia dan RekonstruksiTatanan Sosial, Yogyakarta.Qalam.Geertz, Clifford. Terjemahan S.Supomo.1989. Penjaja dan Raja,Perubahan sosial dan ModernisasiEkonomi di Dua Kota Indonesia.Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.Kurnadi, Tri Dkk. 2000. Analisis KebijakanPublik, Ketertiban Umum danPedagang Kaki Lima di DKIJakarta, Yogyakarta.YPAPI.Manning, Chris dan Tadjuddin NoerEffendi.1985. Urbanisasi,Pengangguran, dan SektorInformal di Kota. Jakarta.Gramedia.Nas,P.J.M. 1979. Kota Di Dunia Ketiga,Pengantar Sosiologi Kota.Jakarta. Bharatara Karya Aksara.Redding,S,Gorgon. Jiwa Kapitalisme Cina(The Spirit Of ChineseCapitalism).Abdi Tandur.JakartaSuparlan, Parsudi. 1984. Kemiskinan DiPerkotaan. Jakarta. SinarHarapan dan Yayasan Obor.Todaro, Michael, P.1999. PembangunanEkonomi Di Dunia Ketiga. EdisiKeenam. Jakarta.Erlangga.1743Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


1744Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008


1745Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 21/Februari 2008

More magazines by this user
Similar magazines