MAN Banyuwangi : Raih Kepercayaan Berkat ... - Kemenag Jatim

jatim.kemenag.go.id

MAN Banyuwangi : Raih Kepercayaan Berkat ... - Kemenag Jatim

MAN BanyuwangiRaih Kepercayaan Berkat Siswa IstimewaHijau, teduh dan bersih. Itulahsuasana yang bisa dirasakan ketikamemasuki MAN Banyuwangi. Takheran jika pada tahun ini madrasahyang berada di Jl. Tengiri Sobo inimendapatkan anugerah “Ijo Royoroyo”dari pemerintah setempat. Inilantaran keberhasilan programpengijauhan lingkungan sekolahselama ini. Bahkan di halaman seluas5.333 m 2 milik madrasah tak dijumpaisatu pun sampah berserakan.Yang ada hanyalah pepohonanrindang nan teduh.Tak hanya itu saja. Suasanadi ruang kelas pun begitu nyamandan bersih. Ini bukti keberhasilan madrasahmenanamkan cinta kebersihandan lingkungan kepada siswanya selamaini. Salah satu cara ampuh yangbiasa digunakan agar siswa cinta kebersihan,adalah keengganan guruuntuk masuk kelas yang dinilai kotor.“Dan alhamdulilah cara itu cukupmanjur. Sehingga lambat laun tanpaitupun, kini para siswa sudah sibuksendiri ketika melihat kelasnya kotor,”ujar H. Hairomi Hasyim, SPdI, MM.Selain itu, madrasah yang berdiridi atas tanah seluas 7.375 m 2 ini jugasangat memperhatikan detil kebersihandi setiap sudut. Untuk itu pihakmadrasah mempekerjakan beberapatenaga kebersihan. Mereka ini yangselalu menjaga kebersihan di setiapsudut madrasah. Hampir setiap satujam sekali mereka ini berkeliling memeriksakebersihan halaman maupunruangan. “Mereka itu ibarat malaikatDrs. Lasmonokebersihan, karena tak membiarkansatu pun sampah yang tampak,” tukasnyadenga senyum dikulum.Di sisi lain, sejak lama madrasahini telah memberikan pelayanan pendidikanbagi siswa berkebutuhankhusus. “Sebab kami ingin memberikankesempatan belajar yang samabagi setiap anak,” tutur Kepala MANBanyuwangi ini serius.Dan ternyata, madrasah ini menjadisatu-satunya sekolah tingkat lanjutanatas di Banyuwangi yang memberikanfasilitas pendidikan bagi siswaberkebutuhan khusus. Tentu inibak angin surga bagi Sekolah LuarBiasa (SLB) maupun siswanya yangselama ini kelimpungan mencari sekolahlanjutan. Dan rata-rata setiaptahunnya madrasah ini menerima 3-4siswa istimewa dari berbagai SLB diBumi Blambangan tersebut.Keengganan beberapa unit pen-H. Hairomi Hasyim, SPdI, MMdidikan menerima siswa SLB selamaini memang cukup beralasan. Sebabmenangani siswa yang memiliki kebutuhankhusus tidaklah mudah. Selainfasilitas khusus, harus disediakanpula guru khusus. Tapi yang ironis,muncul sebagian anggapan bahwamenerima siswa asal SLB bisa menurunkancitra lembaga pendidikan. “Itusangat keliru. Justru dengan memberikanpelayanan pendidikan kepadamereka, kepercayaan masyarakat semakinmeningkat,” tandas pria kelahiranBanyuwangi 2 Pebruari 1956 ini.Menurut mantan Kasi MapendaKankemenag Banyuwangi ini, hal itubisa dibuktikan MAN Banyuwangiketika pendaftaran siswa baru atauPSB. Umumnya madrasah membukaPSB itu setelah PSB sekolah-sekolahumum. Tapi bagi madrasah denganjumlah siswa 1057 orang ini beranimembuka pendaftaran bersamaan de-Panggung Ekspresi sebagai wahana aktualisasi siswa dan Pintu Gerbang MAN Banyuwangi yang megah42 MPA 305 / Februari 2012


ngan sekolah umum. “Sebab kitaingin mendapatkan input siswa kualitasA,” tukasnya memberi alasan.Dan ternyata, madrasah inimampu bersainng dengan sekolahlain. Ini dibuktikan dengan membludaknyasiswa yang mendaftar. Darikapasitas daya tampung sebanyak371 siswa dalam 9 kelas, ternyata pendaftaritu hampir dua kali lipat. Bahkanuntuk program baru seperti kelaskhusus – semacam kelas akselerasi –dengan daya tampung 36 siswa, jumlahpendaftar itu hampir seratus o-rang. Padahal pendaftaran hanya dibukatiga hari. “Ini adalah bukti bahwaadanya siswa dengan keterbatasnfisik tidak mengurangi minat masyarakatterhadap madrasah. Malah justrusebaliknya,” urai ayah tiga anakini menyakinkan.Siswa berkebutuhan khususyang ada di madrasah ini, selain siswatunanetra juga ada siswa tunadaksaatau memiliki cacat tubuh seperti takmemiliki tangan sempurna atau lainnya.Untuk siswa autis atau lambatbelajar ataupun idiot memang selamaini belum pernah menanganinya.Sejauh ini sudah ada lebih dari25 siswa dengan keterbatasan fisikyang telah lulus dari madrasah yangmemiliki luas bangunan 2.343 m 2 ini.Dari semua siswa itu sudah menyebarke berbagai instansi, baik melanjutkansekolah maupun yang bekerja.Ada juga yang menjadi pegawai negerisipil. Namun yang banyak melanjutkankuliah. Bahkan tahun lalu, adadari siswa istimewa itu yang melanjutkankuliah di Univesitas NegeriSurabaya (Unesa) dan Institut TeknologiSepuluh November (ITS) Surabaya.Itu tidak akan terwujud jika sajatidak ada pembinaan maksimal darimadrasah yang memiliki programstudi IPA, IPS, Bahasa dan Agamaini selama proses pembelajaran. Sebabsedari awal siswa-siswa berkebutuhankhusus itu diperlakukan samadengan siswa normal lainnya. Artinyamereka pun dibiarkan berbaurbersama siswa lain baik di luar kelasmaupun di dalam kelas. Hanya beberapasiswa yang mengalami gangguanpenglihatan atau tunarungu yangdiberikan ruang khusus. Itu pun ketikaujian akhir semester (UAS) danUjian Akhir Nasional (UAN).Nah, ketika ada siswa yang memerlukanbantuan seperti siswa tunanetratersebut, pihak madrasah selalumengkoordinasikannya dengan SLB.Mereka inilah yang bertugas sebagaiGuru Pendamping Khusus atau GPK.Kehadiran GPK ini sangan membantudalam proses belajar siswa. Sepertisiswa tunadaksa misalnya, merekaseringkali mengalami kesulitan dalampembelajaran terutama saat menghadapipelajaran yang harus menggambar.“GPK inilah yang kemudian menuntunnya,”tukas Drs. Lasmono.Dan kesulitan dalam menggambar inilahmenyebabkan rata-rata siswa istimewaini lebih memilih jurasan IPSdari pada IPA.Walau demikian, keberadaansiswa-siswa ini juga tidak menggangguproses pembelajaran yang berlangsung.“Justru kita bisa belajardan kadang terkaget-kaget dengankemampuan mereka,” ujar Waka KurikulumMAN Banyuwangi itu. “Adasalah seorang yang mempunyai keterbatasandalam bidang tulis menulis,tapi ternyata memiliki daya ingatyang luar biasa,” kenangnya terheran-heran.Prestasi akademik siswa-siswaini pun tidak jauh berbeda dengansiswa yang lain. Bahkan ada beberapayang justru memiliki prestasi akademikdi atas siswa normal padaumumnya. Seperti siswa tunadaksayang tangannya tidak sempurna, ternyatadalam mengoperasikan komputermengungguli siswa yang normal.“Memang motivasi belajar mereka itusangat tinggi,” simpul ayah dua anakGuru Pendamping Khusus (GPK) sedang membantu siswa tunanetra dan suasana belajar siswa di kelasini.Melihat potensi mereka yangcukup besar itu, sebenarnya tak adaalasan lembaga pendidikan lain menolakmereka. Apalagi para siswa istimewayang mendaftarakan diri itumerupakan siswa-siswa yang dianggaptelah siap berbaur dengan lingkungansekitarnya. “Sebab di SLBsendiri mereka telah diseleksi baik secaraakademik maupun psikologis,”beber suami Dra. Miyatiwi, MPd inipenuh semangat.Madrasah ini selalu membukadiri bagi siswa yang masuk kategoriAnak Berkebutuhan Khusus (ABK).Ini merupakan komitmen madrasahdalam memberikan kesempatan seluas-luasnyakepada semua pesertadidik. Meski selama ini tidak ada bantuankhusus yang mengalir dari pemerintahbagi siswa ABK ini selama dimadrasah. “Dan kita juga tidak terlaluberharap itu. Kalau ada juga tidak menolaklho,” kelakarnya.• Supri, YasinMPA 305 / Februari 201243

More magazines by this user
Similar magazines