dampak industrialisasi terhadap aspek sosial ekonomi masyarakat

lib.unri.ac.id

dampak industrialisasi terhadap aspek sosial ekonomi masyarakat

DAMPAK INDUSTRIALISASI TERHADAP ASPEK SOSIALEKONOMI MASYARAKATEndang Sutrisna*)Abstract: Basically, development phenomena in Indonesian are indicated by unbalancedgrowth between the agrarian and industrial sector. That is not condusive for a better economicstructure. Industrialization is directed for sustaining development on economic growth, creatingsturdier economic structures, and production an economic sectors, support. Traditionaleconomy can be an alternative to stimulate industrial growth for wining competition, improvingindustrial productinity, and boosting the local traditional economy.Keywords: agrarian sectors, industry, traditional economy, development.PendahuluanSebagian besar bangsa-bangsa didunia tergolong negara-negaraterbelakang. Keterbelakangan tersebutbiasanya terutama dihubung-hubungkandengan keterbelakangan di bidangekonomi. Dan, demikian seriusnyamasalah-masalah yang dihadapi sebagianbesar negara-negara di dunia dibidangekonomi tersebut sehingga semuanegara-negara terbelakang itu berusahauntuk memberikan prioritas utama padapembangunan ekonomi. Biasanya dalambentuk “Rencana Pembangunan LimaTahun” seperti misalnya dilaksanakan diIndia dan Indonesia.Fenomena global dalampembangunan di Indonesia khususnya dimasa lalu adalah keterbelakangan dibidang ekonomi. Dalam rangkapembangunan ekonomi, sekaligus terkaitusaha-usaha untuk pemerataan kembalihasil pembangunan, baik yang berupapenyebaran pelaksanaan pembangunanyang merata keseluruh daerah maupunyang berupa peningkatan pendapatan*) Dosen FISIP Universitas Riaumasyarakat. Secara bertahap diusahakanmengurangi kemiskinan danketerbelakangan serta mempersempitjurang antara yang kaya dan yang miskin.Dengan kata lain pembangunan ekonomidapat mendukung tujuan ataumendorong perubahan-perubahan danpembaharuan kehidupan masyarakat(Bintoro Tjokroamidjojo,1983:5).Salah satu usaha guna mendukungpembangunan dan pertumbuhan ekonomiadalah sektor industri. Sektor inidiarahkan untuk menciptakan strukturekonomi yang lebih kokoh dan seimbangyaitu struktur ekonomi dengan titik beratindustri yang maju didukung oleh sektorpertanian yang tangguh. Denganpemahaman tersebut berartiindustrialisasi merupakan satu fase darikeseluruhan pembangunan ekonomi( CharlesP. K i n d e l b e rger, 1 9 5 8) .Pendekatan yang dilakukan dalampelaksanaan pembangunan di sektorindustri antara lain: Pertama yang palingsering dilakukan ialah merangsang sektorindustri yang sedang tumbuh. Pada intinyapendekatan ini bersifat dualistis yaknimemandang perekonomian tradisioanal1743Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


sebagai alternative yang bersaing, sambilmerancang impor dengan mengingatproduktivitas industri. Pendekatan keduayang kurang sering ditempuh ialahmemobilisasi sektor tradisional dalamperekonomian untuk melayani tugasindustri. Dalam pemikirannya adalahbahwa rakyat yang hidup di daerahdaerahpedesaan merupakan angkatankerja potensial. Dengan demikiankebijakan ekonomi harus berpusat padapengendalian dan pemanfaatan sektorsektortradisional yang belumberkembang demi pertumbuhan danindustrialisasi.; fokusnya bukan impordan tekhnologi barat (CoralieBryant,1982;7). Mengingat pendekatanyang pertama tersebut di atasmenguntungkan bagi pertumbuhanekonomi, maka pendekatan pertamalahyang sering ditempuh oleh pemerintah.Di samping itu pemilihan terhadappendekatan pertama tersebut didasarisuatu asumsi, bahwa melaluipertumbuhan ekonomi yang tinggisebagai refleksi dari implementasipendekatan yang pertama diharapkandapat membantu memenuhi kebutuhanpembangunan disektor lain.Di dalam merealisasi pendekatanyang pertama, yakni merangsang sektorindustri, disesuaikan dengan perkembanganwilayah serta potensi yangdimiliki oleh wilayah yang bersangkutandengan tetap memperhatikan aspekpeningkatan pendayagunaan sumberdaya manusia, suber daya alam, sumberdaya pembangunan lainnya sertakelayakan ekonomi dan tata ruang.Dengan kata lain berbagai aspek yangmenyangkut potensi daerah serta hal-halyang mendukung kearah efisiensipelaksanaan serta produktivitas industriperlu diperhatikan. Dalam hubungantersebut, maka banyak peluang bagi parausahawan untuk turut serta menanammodalnya dengan mendirikan berbagaipabrik yang memproduksi berbagai hasilindustri. Oleh sebab itu berbagai industriberat dan ringan, dari industri kebutuhanrumah tangga, sampai industri kendaraandiproduksi. Dan sebagai akibatnya,selama kurun waktu PJP I incomedaerah naik. Dengan demikian,pembangunan ekonomi melalui prioritasindustri dapat meningkatkan pertumbuhanekonomi yang cukup tinggibagi daerah pada kurun waktu tersebut.Masalah Industri Bagi KehidupanSosial Ekonomi.Pembangunan menurut BintoroTjokroamidjoyo (1983:1), yakni sebagaisuatu perubahan sosial budaya, makaindustrialisasi sebagai suatu aspek dalampembangunan akan merubah struktur danfungsi sosial masyarakat. Artinyaindustrialisasi bukan hanya mampumenaikkan pertumbuhan ekonomi yangcukup tinggi, melainkan juga menimbulkanhal-hal lain pada kehidupan masyarakatseperti pertambahan penduduk yangcukup tinggi sebagai akibat datangnyapenduduk dari daerah lain yang berfungsisebagai tenaga kerja di pabrik-pabrik,terjadi pola pergeseran ekonomimasyarakat, pergeseran dalam pola hidupserta masalah-masalah lain yang secaranyata merupakan interelasi danakumulasi dari ketiga masalah tersebut.Yang pertama menuntut berbagaifasilitas antara lain perumahan, saranatransportasi. Sampai saat ini mengenaiperumahan belum seluruhnya berhasilditangani. Dikatakan demikian, oleh1744Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


sebab mereka yang merupakanpendatang dan berfungsi sebagaikaryawan pabrik tidak diberikan fasilitasperumahan oleh perusahaan di manamereka bekerja. Sedangkan untukmemiliki perumahan yang disediakanpemerintah melalui Kredit PemilikanRumah Bank Tabungan Negara (KPRBTN), tebentur kepada ketidakmampuanmereka untuk mencicilnya. Oleh sebabitu timbul inisiatif dari sebagian wargamasyarakat khususnya mereka yangberduit untuk membangun perumahansederhana yang seterusnya disewakankepada karyawan pabrik. Namun karenapembangunannya tidak ditata denganbaik maka pada akhirnya menyebabkanterjadinya lingkungan yang kumuh. Disamping itu pertumbuhan penduduk yangtinggi menuntut pula sarana transportasidengan demikian memberikan peluangbagi tumbuhnya perusahaan-perusahanangkutan. Namun karena sarana lainseperti jalan belum ditata sedemikianrupa, maka menimbulkan semakinsemrawutnya lalu lintas di daerah. Yangkedua, mengandung konotasi bahwadengan adanya pabrik-pabrik yangdibangun menyebabkan terjadinyaperubahan pekerjaan dari sebagian besarwarga masyarakat (terutama yangtinggal di pedesaan) dari pekerjaansebagai buruh tani menjadi buruhbangunan. Namun karena pekerjaan initidak berjalan lama, maka pada akhirnyamereka kehilangan pekerjaan. Untukmenjadi karyawan pabrik tidak diterimaoleh sebab skill yang mereka miliki tidaksesuai dengan yang diperlukan,sedangkan untuk kembali kepadapekerjaan yang lalu tidak mungkin olehsebab hilangnya sebagian besar kawasanpertanian sebagai akibat perluasanindustri yang memakan sebagian besartanah kawasan pertanian di daerah. Yangketiga, lebih cenderung dikatakan sebagaipola hidup konsumtif. Skenarionyabermula dari adanya pembangunanpabrik-pabrik yang tidak sedikitmemerlukan lahan untuk pembangunannya.Untuk itu maka sebagian besarusahawan membelinya dari masyarakatbaik secara langsung maupun tidaklangsung. Dan karena tanah tersebutsangat diperlukan, maka tidak jarangmereka membelinya dengan harga yangcukup tinggi. Situasi tersebut merubahkondisi masyarakat secara drastis.Mereka yang dahulunya hidup biasabiasasaja tetapi karena mendapatkanrejeki nomplok dari penjualan tanahnya,maka dengan serba cepat merekamerubah pola hidupnya dengan polahidup mewah yang bersifat konsumtif.Misalnya saja dikalangan masyarakatsudah populer istilah kredit, padahalsebelumnya tidak pernah mereka kenal.Kredit tersebut bukan hanya untukmemiliki barang-barang rumah tanggayang berukuran kecil, tetapi juga sampaikepada pemilikan kendaraan beroda duabahkan beroda empat, sehingga sampaisaat ini di lingkungan masyarakat(pedesaan) yang dahulunya sepi dantidak ramai atau bising oleh gaungnyakendaraan bermotor, maka sekarangjustru sebaliknya. Anggota masyarakat(pedesaan) sudah biasa berpergianmenggunakan kendaraan angkutan yangsengaja disediakan untuk angkutan kelokasi di mana mereka tinggal. Disamping itu ada pula mereka yangmenggunakan kendaraan ojeg ataubahkan kendaraan bermotor roda empatmilik sendiri. Tentunya situasi yangseperti yang digambarkan tersebut diatas dapat dipandang sebagai kemajuan.Namun, apabila ditelaah ada beberapa1745Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


hal dari kondisi itu seperti itu yangdianggap merugikan oleh sebab hanyamenguntungkan mereka dalam waktuyang relative singkat. Mereka menikmatipola hidup seperti itu tidak langgeng olehsebab hanya mereka nikmati selagi uangyang diperoleh dari penjualan tanahmasih ada. Dan setelah uang merekahabis, mereka mulai merasa ada kesulitanyang pada hakekatnya bertumpu kepadamasalah bagaimana menyambung hidupselanjutnya. Memang hal ini tidakdirasakan oleh semua warga masyarakat,karena ada sebagian dari mereka yangmemanfaatkan uang hasil penjualantanahnya, mereka belikan lagi tanah didaerah lain yang kadang-kadangmemperoleh nasib baik karena dapatmembeli tanah lebih luas dari yang dimilikisemula. Di samping itu ada pula darimereka yang setelah ada di tempat lainmenambah kegiatan dengan berdagangkecil-kecilan. Dengan demikian, yangmenjadi masalah adalah wargamasyarakat yang mendapat uangpenggantian dari tanah dan rumahnyayang tidak begitu besar dan kesulitandalam mendapatkan pekerjaan. Adapunpekerjaan yang mereka inginkan adalahsebagai tenaga kerja di pabrik yangsemakin hari semakin populer. Artinyamenjadi tatanan nilai baru sehinggamenurut mereka mejadi tenaga kerja dipabrik dipandang lebih baik daripekerjaan-pekerjaan lainnya.Uraian tentang dampakindustrialisasi seperti dijelaskan di atas,tentunya belum menggambarkankeseluruhan yang terjadi. Artinya masihbanyak hal-hal lain yang memang belumdapat disajikan dalam tulisan ini. Apalagidengan krisis ekonomi saat ini akanmenimbulkan permasalahan-permasalahanbaru yang muncul dalamkehidupan sosial ekonomi masyarakat.Namun dalam makalah ini penulis tidakmemasukkan dampak krisis ekonomiyang terjadi saat ini. Walaupun demikian,kiranya beberapa masalah tersebut dapatdianggap sebagai masalah-masalah yangpenting ditinjau dari kondisi sosialekonomi maupun geografis. Daerahdaerahyang cukup pesat pertumbuhanindustrinya antara lain: Tangerang,Bekasi, Kerawang, Bogor, terutamadengan peranannya sebagai penyanggahDaerah Khusus Ibukota Jakarta.Analisis PendekatanTerhadapPemecahan Masalah.Daya penggerak untuk prosesprosesperubahan dalam suatumasyarakat berasal dari dua sumber baiksecara internal maupun ekternalsebagaimana disampaikan oleh RaymondFirth. Secara internal adalah daya gerakyang berupa pendapatan-pendapatanbaru di lapangan teknik, perjuanganperjuanganperseorangan untukmemperoleh tanah dan kekuasaan,perumusan baru dari faham-fahamorang-orang kritis yang dianugerahibakat-bakat istimewa, tekanan jumlahpenduduk atas mata pencaharian, danbarangkali perubahan-perubahan iklim.Kelompok-kelompok kekeluargaandapat musnah dan tanah-tanah serta hakhakistimewanya diwariskan menurutprinsip-prinsip yang diakui disitu;terbentuk dengan jalan percabangan danpemecahan hubungan keluarga; hak-hakistimewa bertukar pemiliknya karenakegagalan dalam melaksanakankewajiban-kewajiban atau sebagai akibatpemberontakan yang tidak berhasil;bahkan adat istiadat ditiadakan denganpersetujuan karena adat istiadat tadiadalah terlalu berat atau karena inisiatif1746Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


seseorang pemimpin yang berkemauankeras. Perubahan secara ekternal, untuksebagian terdapat dalam lingkunganpergaulan itu sendiri dan untuk sebagianlagi terletak dalam kekuatan ekspansiperadaban. Apabila diperhatikan, makakita melihat banyak faktor yangmenggerakkan perubahan di dalammasyarakat. Mungkin, apa yang uraikanoleh Raymond Firth di atas barulahsebagian, namun demikian faktor-faktortersebut mungkin dapat dirangkum dalamsuatu batasan (kecuali yang merupakansebab dari alam) bahwa faktor yangmenjadi penggerak perubahanmasyarakat itu adalah gagasan-gagasan,ide-ide atau keyakinan-keyakinan danhasil-hasil budaya berupa fisik. Jadi,apabila Alvin L Bertrand berpendapatbahwa awal dari perubahan itu adalahkomunikasi, yaitu proses dengan manainformasi disampaikan dari individu yangsatu kepada individu yang lain. Makayang dikomunikasikan itu tidak lainadalah gagasan-gagasan, ide-ide, ataukeyakinan-keyakinan maupun hasilbudaya yang berupa fisik itu.David C McClelland menyatakanbahwa impulse (dorongan) yangmenyebabkan terjadinya pertumbuhanekonomi dan modernisasi adalah virusmental, yaitu suatu cara berfikir tertentuyang lebih jarang dijumpai tetapi apabilaterjadi pada diri seseorang, cenderunguntuk menyebabkan orang itu bertingkahlaku secara giat. Virus mental ini diberinama yang aneh yakni, n Ach- singkatandari need for Achievement (kebutuhanuntuk meraih hasil atau prestasi). Apabilakonsepsi ini dikaji, maka hasil dari virusmental n Ach ini tidaklah lain dari ideide,gagasan-gagasan, atau keyakinankeyakinanmaupun hasil-hasil budayaberupa fisik. Margono Slamet dalamkosepsinya tentang macam kekuatanyang mempengaruhi perubahan, antaralain adalah kekuatan pendorong(motivational forces), kekuatan manaterdapat dalam masyarakat dan bersifatmendorong orang-orang untuk berubah.Hal ini dinilai sebagai kondisi ataukeadaan yang penting sekali, oleh karenatanpa adanya kekuatan tersebut orangtidak akan berubah. Kekuatan ini berasaldari segala aspek situasi yangmerangsang kemauan untuk melakukanperubahan.Deskripsi dari Margono Slametwalaupun membicarakan kekuatanpendorong, tetapi haruslah dipandangsebagai suatu stimulus yang mendorongterjadi perubahan, oleh karena keempatfaktor tersebut memang sebagai faktoryang mendorong terjadinya perubahan.Deskripsi dari firth, kelihatannyatidak saja mempersoalkan stimulusstimulusyang mendorong perubahandalam masyarakat, akan tetapi sekaligusmembicarakan mengenai faktor yangmengalami perubahan. Apabila ditelaahkembali, maka faktor yang mengalamiperubahan itu dapat saja mengenaikelompok-kelompok, nilai-nilai (adatistiadat)dan pola perilaku. Perubahandalam masyarakat tidak terjadi dalamsatu bidang secara khusus, namunadakalanya terjadi pada beberapa bidangsecara serempak, atau perubahan padaatau aspek tertentu, mempunyaipengaruh pada aspek lainnya. Neil JSmelser, dalam modernisasi hubunganhubungansosial, telah melakukan suatudeskripsi tentang perubahan sosialsebagai konsekuensi dari pembangunan(perubahan berencana) ekonomi, yangmeliputi perubahan hubungan kerja,perubahan hubungan kekerabatan dan1747Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


perubahan hubungan-hubungankomuniti.Pada dasarnya perubahan di dalammasyarakat menyangkut dua bentukumum, yaitu (1) perubahan struktural,dan (2) perubahan proses. Perubahanstruktural menyangkut perubahan yangsangat mendasar dan seringkalimelibatkan reorganisasi unsur-unsur darikehidupan masyarakat. Misalnya, petaniyang dulu tidak menggunakan pestisida,sekarang menggunakan pestisida untukmemberantas hama tanaman. Demikianpula dengan penggunaan bibit unggul,pupuk, dan alat-alat modern pertaniandapat dikategorikan ke dalam tipeperubahan ini. Berbeda dengan tipeperubahan structural, perubahan prosestidak menyangkut perubahan mendasar.Perubahan ini hanyalah berupamodifikasi dari perubahan dasar yangpernah terjadi. Sebagai contoh apabilapetani yang pada mulanya menggunakanendrin sebagai pestisida, maka kini petanimenggunakan pestisida lainnya yangtidak beracun bagi hewan piaraan danmanusia, seperti diazinon. Penggunaanpupuk buatan pabrik untuk menggantikanpupuk organic (kompos, menur, dan lainlain)dapat juga digolongkan sebagaiperubahan proses.Fiedrich mengatakan, bahwa denganadanya pembangunan akan memberikanpeluang bagi timbulnya aspek-aspek laindalam kehidupan masyarakat. Namunapabila aspek-aspek negatif daripembangunan itu dibiarkan, tentunyabukan merupakan suatu keputusan yangbijaksana oleh sebab itu akan merugikankehidupan masyarakat. Sedangkanpembangunan itu sebenarnya merupakansuatu konsep yang normative, iamenyiratkan pilihan-pilihan tujuanmencapai apa yang disebut sebagairealisasi potensi manusia (Coralie Bryant2000:3). Artinya bahwa pembangunanyang dilaksanakan telah mengandungpilihan-pilihan terbaik sesuai dengankondisi kehidupannya.Dengan memperhatikan beberapakonsep pembangunan tersebut sertaparadigma pembangunan Indonesiayang menekankan kepada aspekmanusia, maka pembangunan yang baikadalah pembangunan yang berwawasankemanusiaan. Dengan kata lain menurutD.C.Korten disebut sebagaipembangunan dimensi kerakyatan(1988:261). Adapun konseppembangunan berdimensi kerakyatan ituadalah merupakan suatu pendekatanpembangunan yang memandang inisiatifkreatif dari rakyat sebagai sumber dayapembangunan yang utama danmemandang kesejahteraan material danspiritual mereka sebagai tujuan yang ingindicapai oleh proses pembangunan.A. Peran Serta Swasta DalamPembangunan PerumahanDi atas telah dikemukakan, bahwaindustrialisasi dapat menyerap tenagakerja dalam jumlah yang banyak, baik daridalam maupun dari luar daerah. Olehsebab itu sebagai konsekuensinya jumlahpenduduk semakin meningkat dalamwaktu yang relatif singkat. Kondisiseperti ini jelas menuntut pemenuhanberbagai fasilitas seperti perumahan,transportasi dan lain-lain. Karena setiapperusahaan tidak menyediakan fasilitasperumahan bagi karyawannya,sedangkan untuk memiliki perumahanmelalui Kredit Pemilikan Rumah BankTabungan Negara terbentur kepadaketidakmampuan mereka untukmencicilnya, maka hal tersebutmendorong tumbuhnya rumah-rumah1748Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


sewaan yang tidak tertata dengan baikdan menimbulkan terjadinya daerahdaerahkumuh. Oleh sebab itu dalammengatasinya mengikutsertakan pihakswasta terutama mereka yang maumembangun perumahan yang layaknamun terjangkau oleh mereka yangtergolong lemah. Dengan demikianmelalui upaya tersebut diharapkan dapatdipenuhi kebutuhan perumahan bagimereka yang tergolong ekonomi lemahdengan tidak menimbulkan ekses lainseperti terjadinya kumuh yang dialamisaat ini. Selanjutnya, sejalan dengan itupertambahan jumlah penduduk yangmenuntut sarana transportasi. Untukmengatasinya perlu adanya penambahansarana transportasi serta penataan jalurjalurlalu lintas seperti perluasan jalan.Di samping itu perlu sarana angkutanyang menjangkau daerah-daerahpedesaan.Berdasarkan uraian tersebut di atas,maka untuk mengatasi masalah-masalahsebagai dampak industrialisasi, dapatditinjau melalui teori di bawah ini:Teori Keseimbangan Agraris-Industrial Dalam PembangunanNasional.Gunawan Satari, selaku sekretarisEksekutif Menristek, menerima utusanpara petani. Mereka mengemukakankeluhan yang mendasar dalamberjalannya pembangunan pertaniandewasa ini. Dikatakan oleh merekabahwa setiap ada perencanaan suatublok lahan untuk industri, pemukiman,dan sebagainya, lahan-lahan itu dibeliorang-orang dalam rangka spekulasi.Terus berpindah tangan, padahal pabrikbelum berdiri. Petani sudah kehilanganlahan sehingga produksi pertanianmerosot, sedangkan gantinya ialahproduksi industri belum beroperasi.Seandainya pabrik akhirnya didirikan,ternyata yang diserap adalah tenagawanita yang berupah murah, rupanyasebagai pengimbang akan harga lahanyang sudah membumbung tinggi.Akibatnya, dengan hanya tenaga wanitayang diserap meningkatlah kriminalitas.Keluhan mereka adalah mengenaikebijakan nasional, di mana kebijakantersebut menetapkan pengalokasiansegala dana dan daya yang antagonisyaitu sektor pertanian dan sektor industriyang berlawanan. Hal ini adalahkonsekuensi dari berubahnya strategipembangunan nasional yang shift keindustrialisasi sebagai penghelapembangunan dimulainya PJP II.Kasus para utusan petani itumenunjukkan bahwa shift strateginasional ternyata pada permulaannyasudah menunjukkan gejala-gejala tradeoff antara pembangunan agraris keindustrial. Tentu bukan strategi nasionalitu yang harus dirubah, namun ada sesuatuhal yang perlu disempurnakan, sehinggashift ini berjalan mulus tanpa trade off.Rupanya kembalinya Indonesiamengimpor beras pada tahun 1994sebanyak 2 juta ton tidak terlepas daritade off itu. Solusinya terletak padaimbangan kapitalisasi antara sektoragraris dan sektor industri. Maka perludiperhitungkan hal-hal yang baru selainhal-hal yang baku seperti efficiencyreturn to capital. Bila kita mulai dengankonstelasi kapitalisasi yang berlakusekarang, maka dengan teorikeseimbangan ini, dapat ditetapkanberapa kapitalisasi harus shift dari industrike agraris, guna memperoleh kekuatanproduksi pertanian dan penyerapantenaga kerja yang lebih besar.1749Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Tinjauan Terhadap Teori AgriculturalDevelopment.Mellor adalah seorang ekonompertanian yang pertama kali berhasilmeletakkan peranan sektor pertaniandalam keseluruhan pembangunanekonomi suatu negara. Adapun teoriperkembangan pertanian sebagaimanadirumuskannya merupakan perasaan darisegala macam situasi dan kondisipertanian yang terdapat di dunia iniseperti kondisi fisik, variabilitas regional,keperluan input, kemungkinankemungkinanoutput, perolehan (return)dari input. Suatu teori perkembanganpertanian harus meliputi hal-hal tersebutdiatas yang demikian luas variabilitasnya,sehingga perlu ditunjang olehpengkatalogan peranan sektor pertanianpada keseluruhan pembangunan ekonominasional, teori pertumbuhan tahapanyang memprioritaskan pertanian, danmodel-model matematis yangdisederhanakan dari perkembanganpertanian. Dalam penyusunan teorinyaMellor merumuskan peranan kunci daritransformasi ekonomi, ialah transformasidari agraris ke industrial. Dalam prosesitu pertanian terus menciut karenabeberapa sebab, antara lain peningkatanspesialisasi pekerjaan, elastisitas rendahterhadap hasil-hasil pertanian, biayatransportasi yang mahal, dan ketidakkonsistenan dalam hubungan input-outputyang normal. Dalam proses ini perlu diperhatikan (1) ada shift relatif dalam haltenaga kerja dari sektor pertanian kesektor industri; (2) terciptanya pekerjaannon-pertanian didaerah perkotaanmemerlukan kapital besar; (3) penduduksektor pertanian yang banyak itumerupakan pasar bagi hasil-hasil industri;dan (4) produktivitas yang tinggi darisektor pertanian yang memerlukan inputdari sektor lain. Maka Mellormenegaskan bahwa teori perkembanganpertanian harus meliputi hal-halsebagaiman diperinci itu. Maka inti teoriMellor adalah: penciutan sektorpertanian, pilihan tenaga kerja dari sektorpertanian ke sektor-sektor ekonomi lain,dan penyediaan pangan oleh sektorpertanian. Untuk itu semua diperlukancapital, baik untuk sektor non pertanian,maupun untuk sektor pertanian itusendiri. Namun, kita sangat tercengang,bahwa untuk kapitalisasi itu Mellorsampai kepada kesimpulan bahwaimbang tukar ( Term of Trade ) harusmemburu ke sektor pertanian. Dapat kitabaca bahwa perdagangan itu berlatarbelakang kepada propensity to saveyang lebih besar di sektor perkotaandaripada di desa, maka akumulasi capitalharus terjadi di kota, yang diperlukanuntuk menciptakan kerja non-pertaniandisektor perkotaan. Namun iamenyatakan bahwa pada pembangunanpertanian tahap-tahap pertama imbangtukar tidak memburuk ke sektorpertanian, hanya pada tahap-tahap lanjut.Pada tahap lanjut, memburuknya imbangtukar ke sektor pertanian itu bisamerupakan problem ekonomi sebagaisuatu masalah, maka dalam hal ini perludi tanggulangi oleh kebijaksanaanpemerintah.Teori Mellor yang kesemuanyaditunjang dengan hukum-hukum ekonomiyang dampaknya sudah diketahui.Namun teorinya itu banyak mengandungkealpaan, sehingga tidak mencerminkanrealita. Pembangunan pertanian diIndonesia yang suda cukup lanjut iniditandai dengan hal-hal yang sebaliknya: (1) tenaga dari sektor pertanian tidakditampung di ekonomi sektor perkotaanyang normal, akan tetapi ditampungnya1750Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


pada sektor informal. Mellor sama sekaliasing dengan sektor informal ini; (2)produksi pangan mandeg, karena lokasiSDA ( lahan dan air ) beralih ke sktorindustri; (3) Imbang tukar yang memburkke sektor pertanian sudah terjadi sejakjaman kolonial, dan dampaknya sangatfatal, ialah tiadanya insentif bagi parapetani untuk benar-benar meningkatkanproduksinya.Meninjau Keadaan EkonomiInternasional dan Nasional.A. Ekonomi InternasionalBaik di dalam Ekonomi pembangunanmaupun di dalam sosiologipembangunan, antara lain Todaro danGoldthorpe, melukiskan keadaan duniayang terbelah, ialah kelompok utara dankelompok selatan, dengan karakteristikketergantungan selatan kepada utara,jurang yang semakin menganga, namunkedua dunia itu berada dalam keterkaitandan kontak kebudayaan, antara lainsebagai akibat dari keajaiban-keajaibandi dalam tekhnologi komunikasi. Adapunyang menjadi perhatian pokok adalahjurang yang terus menganga itu, bahkanmanjadi lebih menganga, meskipun keduadunia itu memperoleh kemajuan.Terhadap fakta-fakta ini orang menjaditidak puas dengan teori tahapan-tahapankubu Rostow-Harrod Dommar, danberalih ke kubu Internasional Strukturalis.Pesan utama dari kubu itu adalah bahwakemiskinan-keterbelakangan, kebodohanpada dunia ketiga itu adalah akibat daridominasi utara terhadap selatan, dimanaselatan tidak dapat mengelakkannya.Karena itu teorinya adalah teoripemerataan hasil-hasil pembangunan danmenghilangkan hambatan-hambatanterhadap kemajuan.B. Ekonomi NasionalDalam kurun PJP I Indonesia dinilaimenduduki ranking atas dalam kinerjapembangunan ekonomi seperti: lajupertumbuhan ekonomi ( 6,5% ); peralihanekspor migas non-migas sebagaitumpuan pembangunan ekonomi,pengurangan jumlah kemiskinan. Namunsebagaiman dikemukakan oleh Sagir danDillon, banyak hal-hal yang kurangmenggembirakan yaitu kesenjanganantar sektor, antar golongan dan antarwilayah, penciptaan kesempatan kerjayang belum maju, infrastruktur, inflasi.Disamping itu Dillon mengemukakangejala-gejala tumpang tindih sebagaimanadisinyalir oleh Drucker, ialah tumpangtindih antara sektor primer dan sekunderyang memerosotkan harga-harga eksporpertanian, dan tidak imbangnya antaraindustrialisasi dan penyerapan tenagakerja. Gejala-gejala itu antara laindikemukakan oleh Pancar Simatupang,bahwa di Negara kita ini sudah terjadiperubahan struktur GDP, tapi tidakterdapat perubahan penyerapan tenagakerja : sektor pertanian masih tetapdominan dalam penyerapan tenaga kerja,padahal pangsa GDP-nya sudah beralihke sektor-sektor lain.sektor pertanianadalah sektor ekonomi yang diperas olehse ktor-sektor lain. Untuk mengatasinyaSagir mengemukakan realokasi kredit,sedangkan Sajogyo mengemukakanpenguatan kelembagaan, terutamalembaga di pedesaan seperti di LKMDdi dalam merencanakan pembangunandesa. Jelas bahwa kedua argumentasitersebut yaitu antara ekonom dansosiolog adalah saling melengkapi.1751Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


KesimpulanDari analisis beberapa pendekatanterhadap pemecahan massalah, maka dibawah ini penulis kemukakankesimpulann sebagai berikut :a. Pada dasarnya setiap masyarakatdalam hidupnya akan mengalamiperubahan perubahan itu akan dapatdiketahui, apabila dilakukanperbandingan, artinya adalahmenelaah keadaan suatumasyarakat pada waktu tertentu dankemudian membandingkannyadengan keadaan masyarakat itupada masa yang lalu. Perubahandalam masyarakat pada prinsipnyamerupakan suatu proses yang terusmenerus, artinya bahwa setiapmasyarakat pada kenyataannyaakan mengalami perubahan itu, akantetapi perubahan antara masyarakatyang satu dengan masyarakat yanglain tidak selalu sama, adamasyarakat yang mengalaminyalebih cepat bila dibandingkan denganmasyarakat lainnnya. Perubahanperubahandalam masyarakatmenyangkut hal yang kompleks.b. Upaya mengatasi masalah-masalahsebagai dampak industrialisasi perludilakukan, oleh sebab interelasi danakumulasi dari masalah-masalahtersebut sangat merugikankehidupan masyarakat. Disampingitu hal tersebut sesuai dengantuntutan makna pembangunan itusendiri, yakni harus meningkatkankualitas manusia, pengurangankesenjangan dan pemberantasankemiskinanc. Sesuai dengan paradigmapembanguna yang berorientasikepada manusia, maka solusiterhadap masalah-masalah yangterjadi sebagai dampakindustrialisasi harus sesuai dengankondisi serta kapabilitasmanusianya, misalnya denganmenghidupkan kembali industrikecil, seperti industri rumahtangga,industri kerajinantangan dan lainsebagainya.d. Penetapan industri sebagai prioritasdalam pembangunan ekonomi, padakurun PJP I dapat meningkatkanpertumbuhan ekonomi yang cukuptinggi. Namun bersamaan dengan ituterjadi pula masalah-masalah lainsebagai dampaknya sepertibertambahnya penduduk yangcukup tinggi dan menunututberbagai fasilitas seperti perumahandan sarana trnsportasi sertahilangnya sebagaian pekerjaanpenduduk terutama mereka yangtinggal di pedesaan.1752Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Daftar KepustakaanBryant, Coralie, 2000, ManajemenPembangunan Untuk NegaraBerkembang, Jakarta: LP3ES.Kindell Berger, Charles, 1976, EconomicDevelopment, Tokyo: The Mc.Graw Hill Book Company Inc.Korten, David, 1999, PembangunanBerdimensi Kerakyatan, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.Siagian, Sondang, 1988, AdministrasiPembangunan, Jakarta: CV. HajiMas Agung.Soewardi, Herman, 2000, Kontemplasi danRealita, Bandung: UNPAD Press.Taneko, Soleman, 1990, Struktur dan ProsesSosial, Jakarta: Rajawali Press.Tjokroamidjojo, Bintoro, 1989, Teori StrategiPembangunan Nasional, Jakarta:Gunung Agung.1753Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


RENCANA TATA RUANG PERKOTAAN BERDASARKANUNDANG-UNDANG NOMOR : 26 TAHUN 2007Nurahim Rasudin*)Abstract : Settlement and construction of space has have jurisdiction since regulation ofsettlement of space number 24/1992. with space regulation, we hope that civilization materialized,compfortable, productive and sustainable. But, the most of frame above, not solid yet. Withthe result that, we need some regulations to accommodate. In year 2007, the government wascreate regulation number 26/2007. with this regulation can making regulation of space work.It will be run if all of civil society and stake holder involve in.Keyword: settlement of space, UrbanPendahuluanPerkembangan kota-kota diIndonesia yang semakin pesat dewasaini membawa banyak perubahan padakondisi internal kota. Hal yang nyatasebagai dampak dari perkembangan kotaadalah pesatnya perkembanganpenduduk perkotaan, tingginya angkakepadatan penduduk akibat keterbatasanlahan perkotaan dalam mengakomodasikepesatan perkembangan penduduk,pesatnya perkembangan daerahterbangun, yang pada gilirannyamenimbulkan tingginya kebutuhan akanfasilitas dan utilitas kota termasukkebutuhan akan perumahan.Semakin berkembangnya jumlahpenduduk suatu kota, maka akan semakinberagam pula kegiatan sosial ekonomikota tersebut. Secara berantai,perkembangan kegiatan sosial ekonomikota akan mempengaruhi perkembangansektor lainnya yang secara langsungmerupakan indikasi perkembangan kota*) Staf Peneliti Pada Pusat PenelitianIndustri dan Perkotaan (PPIP)Universitas Riauitu sendiri. Namun, perkembangantersebut berdampak pada tingkatkesejahteraan penduduk ataukeberhasilan interaksi sosial ekonominyadalam lingkungan yang lebih luas, kotatersebut akan besar pengaruhnyaterhadap pemanfaatan ruang perkotaan.Pesatnya perkembangan kota ini, tidakhanya terjadi pada kota-kota besar(metropolitan), melainkan juga kota-kotadengan lingkup wilayah yang relatifsedang hingga kecil.Konteks dalam pengembanganwilayah di Indonesia, peranan kota-kotasedang/kecil (kota kecamatan) tidakdapat diabaikan begitu saja, mengingatpotensinya sebagai salah satu mata rantaiperekonomian dalam mendukungterjalinnya interaksi mutualisme antarapusat pengembangan wilayah dengandaerah hinterlandnya. Dengan demikian,penataan ruang kota tidak hanyamencakup kota-kota besar sebagai pusatpengembangan saja, tetapi juga kota-kotasedang atau kecil dalam banyak hal lebihberfungsi sebagai wilayah yangberpengaruh pada wilayah lain.1754Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Penataan ruang sebagai pendekatandalam pelaksanaan pembangunan telahmemiliki landasan hukum sejakpemberlakuan Undang-Undang Nomor24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang.Dengan penataan ruang diharapkandapat terwujud ruang kehidupan yangaman, nyaman, produktif, danberkelanjutan. Tetapi hingga saat inikondisi yang tercipta masih belum sesuaidengan harapan. Hal ini terlihat daritantangan yang terjadi terutama semakinmeningkatnya permasalahan bencanabanjir dan longsor; semakinmeningkatnya kemacetan lalu lintas dikawasan perkotaan; belum terselesaikannyamasalah permukimankumuh; semakin berkurangnya ruangpublik dan ruang terbuka hijau di kawasanperkotaan; serta belum terpecahkannyamasalah ketidakseimbangan perkembanganantar wilayah.Berbagai permasalahan tersebutmencerminkan bahwa penerapanUndang-Undang No. 24 Tahun 1992tentang Penataan Ruang belumsepenuhnya efektif dalam menyelesaikanpermasalahan yang ada, terutamamemberikan arahan kepada seluruhpemangku kepentingan dalampenyelenggaraan penataan ruang gunamewujudkan ruang yang aman, nyaman,produktif, dan berkelanjutan. Kondisi inimerupakan latar belakang daripenyusunan dan pemberlakuan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentangPenataan Ruang (UUPR) yangdimaksudkan untuk memperkuat normapenyelenggaraan penataan ruang yangsebelumnya diatur dalam Undang-Undang No.24 Tahun 1992 tentangPenataan Ruang.Adanya berbagai ketentuan barudalam UUPR memiliki implikasi terhadapberbagai aspek penyelenggaraanpenataan ruang, baik aspek kelembagaan,aspek hukum, aspek teknis, serta aspeksosiologis. Implikasi terhadap aspekkelembagaan mencakup implikasiterhadap tatanan organisasipenyelenggara pemerintahan, tatalaksana, dan kualifikasi sumber dayamanusia, baik yang bekerja pada sektorpublik (pemerintah), swasta, maupunmasyarakat pada umumnya.Berdasarkan penjelasan di atas,tentunya aspek hukum memiliki dominanpenting dalam penyusunan penataanruang perkotaan. Untuk itu, denganadanya peraturan yang jelas akanmenciptakan suasana perkotaan yangrapi, tertib, aman dan tentram dariberbagai hal yang merusak citra danpemandangan kota.Ruang Lingkup Tata Ruang KotaRencana Umum Tata Ruang Kotasecara yuridis, haruslah memuat rumusantentang kebijaksanaan pengembangankota, rencana pemanfaatan ruang kota,rencana struktur pelayanan kota,rencana sistem transportasi, rencanasistem jaringan utilitas kota, rencanafasilitas dan utilitas kota dan rencanapengelolaan pembangunan kota denganrincian sebagai berikut :a. Kebijaksanaan Pengembangan Kota,mencakup penentuan tujuanpengembangan kota, fungsi kota,strategi dasar pengembangan sektorsektordan bidang pembangunan,kependudukan, intensifikasi danekstensifikasi pemanfaatan ruangkota dan pengembangan fasilitas danutilitas.1755Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


. Rencana Pemanfaatan Ruang Kota,mencakup arahan pemanfaatanruang kota yang menggambarkanlokasi intensitas tiap penggunaan,baik untuk kegiatan fungsi primer danfungsi sekunder yang ada di dalamkota sampai akhir tahunperencanaan.c. Rencana Struktur Tingkat PelayananKota, mencakup arahan tata jenjangfungsi-fungsi pelayanan di dalamkota, yang merupakan rumusankebijaksanaan tentang pusat-pusatpelayanan kegiatan kota berdasarkanjenis, intensitas, kapasitas, dan lokasipelayanan.d. Rencana Sistem Transportasi,memuat arahan garis besar tentangpola jaringan pergerakan arteri dankolektor baik fungsi primer maupunsekunder termasuk jaringan jalankereta api yang ada di dalam kotatersebut.e. Rencana Sistem Utilitas Kota,memuat arahan utama tentang polajaringan fungsi primer dan sekunderuntuk sistem jaringan air bersih,telepon, listrik, air kotor, air limbah,dan gas di dalam kota.f. Rencana Fasilitas/Sarana Kota,memuat arahan pemenuhankebutuhan masyarakat terhadapfasilitas kota, mecakup fasilitaspendidikan, fasilitas peribadatan,fasilitas perdagangan dan jasa,fasilitas kesehatan, fasilitaspermukiman.g. Indikasi Unit Pelayanan Kota,merupakan arahan mengenaipembagian unit-unit pelayanan kotadalam rangka penyelenggaraanpelayanan penduduk kota.h. Rencana Pengelolaan PembangunanKota, memuat arahan tahapanpelaksanaan program pembangunansetiap lima tahunan selama 20 tahun,arahan penanganan lingkunganberupa peningkatan fungsi,perbaikan, pembaharuan atauperemajaan, pemugaran danperlindungan, manajemen pertanahan,arahan sumber-sumberpembiayaan pembangunan sertaarahan bagi pengorganisasianaparatur pelaksana pembangunankota.Rencana Umum Tata Ruang Kotadisusun berdasarkan kriteria sebagaiberikut:1. Batas Wilayah Perencanaan yaitu :a. Bagi kota-kota yang sudahmempunyai status pemerintahanseperti Kotamadya atau KotaAdministratif, wilayah perencanaanadalah keseluruhanwilayah administrasi kota.b. Bagi kota-kota yang belummempunyai status pemerintahanseperti Kotamadya atau KotaAdministratif, wilayah perencanaanditetapkan menurutbesaran tertentu, yaitu hektaratau km² atau berpedoman padawilayah-wilayah administrasidesa atau kelurahan.2. Bagi kota-kota yang sudahmempunyai Rencana Umum TataRuang Perkotaan maka rumusankebijaksanaan pemanfaatan ruangsejalan dengan Rencana UmumTata Ruang Perkotaan yangditetapkan Pemerintah Pusatdengan peraturan perundangundangan.1756Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


alam, lingkungan buatan, danlingkungan sosial;b. Meningkatkan fungsi kawasanperkotaan secara serasi, selaras danseimbang antar perkembanganlingkungan dengan tata kehidupanmasyarakat;c. Mencapai kualitas tata ruangkawasan perkotaan yang optimal,serasi, selaras dan seimbang dalampengembangan kualitas hidupmanusia;d. Meningkatkan peran pemerintah danmasyarakat termasuk dunia usahadalam pembangunan kawasanperkotaan sebagai usaha bersamasesuai dengan tatanan yang efisien,efektif, demokratis, dan bertanggungjawab;e. Mendayagunakan seluruh potensiyang dimiliki oleh pemerintah danmasyarakat termasuk dunia usahadalam upaya menciptakan kawasanperkotaan sebagai ruang kehidupanyang serasi, selaras, seimbang, layak,berkeadilan, berkelanjutan, danmenunjang pelestarian nilai-nilaisosial budaya.Perencanaan tata ruang dengansebanyak mungkin melibatkanmasyarakat, sehingga rencana tata ruangdapat dipandang sebagai “dokumenkesepakatan” antara seluruhstakeholders. Dengan kata lain, kitadituntut untuk sebanyak mungkinmenerapkan “community-drivenplanning”. Pembagian peran secaraproporsonal antar seluruh stakeholdersyang terlibat dalam perencanaan,pemanfaatan ruang (pembangunan), danpengendalian pemanfaatan ruang denganmemperhatikan kemampuan masingmasingpihak. Agar seluruh stakeholdersdapat menjalankan perannya secaraoptimal, perlu ditunjang dengan sistemkelembagaan yang memadai.Isu Strategis PenyelenggaraanPenataan Ruang PascaPemberlakuan Undang-UndangPenataan RuangUndang-Undang Nomor 26 Tahun2007 tentang Penataan Ruang memuatketentuan-ketentuan baru biladibandingkan dengan Undang-UndangNomor 24 Tahun 1992 tentang PenataanRuang. Ketentuan-ketentuan terbarutersebut terkait dalam penerapannyaadalah sebagai berikut:1. Pembagian kewenangan secara tegasantara Pemerintah, pemerintahprovinsi dan pemerintah kabupaten/kota.Pencapaian tujuan penyelenggaraanpenataan ruang nasional(mewujudkan ruang wilayahNusantara yang aman, nyaman,produktif, dan berkelanjutanberdasarkan Wawasan Nusantaradan Ketahanan Nasional) menuntutperan seluruh pemangkukepentingan, termasuk pemerintah disemua tingkatan. Untuk menghindaritumpang tindih kewenangan, UUPRmenegaskan peran dari Pemerintah,pemerintah provinsi, dan pemerintahkabupaten/kota dalam penyelenggaraanpenataan ruang.Penegasan kewenangan iniberarti pula penegasan tugasmasing-masing tingkatan pemerintahandalam penyelenggaraanpenataan ruang. Penerapan dariketentuan ini menyaratkanpemahaman pemangku kepentingan(termasuk pemerintah dan konsultanperencana ruang) terhadap tugas1758Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


masing-masing. Dengan demikian,pemerintah di berbagai tingkatandapat fokus pada apa yang menjaditugasnya serta tidak mencampurisubstansi yang menjadi tugaspemerintah di atas/bawahnya. Akantetapi, perlu diimbangi denganketerbukaan sikap untukmenciptakan sinergi diantaraPemerintah, pemerintah provinsi,dan pemerintah kabupaten/kota,sehingga penyelenggaraan penataanruang dapat mencapai hasil optimal.2. Penegasan muatan rencana tataruang.UUPR secara tegas mengaturmuatan rencana tata ruang wilayahdisemua tingkatan administrasi.Pengaturan muatan rencana tataruang juga mencakup hal-hal yangharus diperhatikan dalampenyusunan rencana tata ruang, sertapemanfaatan rencana tata ruanguntuk penyusunan RPJP, RPJM,program beserta pembiayaannya,serta sebagai landasan kegiatanpemanfaatan ruang sekaligussebagai alat untuk melakukanpengendalian pemanfaatan ruang.Ketentuan di atas menuntutkualitas rencana tata ruang wilayahyang tinggi, di mana rencana tataruang wilayah harus memperhatikan:a. perkembangan lingkunganstrategis (global, regional,nasional);b. upaya pemerataan pembangunan;c. keselarasan pembangunannasional dan daerah;d. daya dukung dan daya tampunglingkungan hidup;e. rencana tata ruang yang terkaitdengan wilayah perencanaan(rencana tata ruang wilayahadministratif yang lebih tinggi/lebih rendah; rencana rinci tataruang dari wilayah administrasiyang lebih tinggi; serta rencanatata ruang wilayah dari daerahyang berbatasan);Terkait dengan muatanrencana, UUPR mengatur bahwarencana tata ruang wilayah harusmemuat:a. tujuan , kebijakan, dan strategipenataan ruang wilayah;b. rencana struktur ruang yangmencakup rencana sistemperkotaan dan rencana sistemjaringan prasarana utama(transportasi, energi dankelistrikan, telekomunikasi, dansumber daya air);c. rencana pola ruang yangmencakup rencana pemanfaatanruang untuk kawasan lindungdan kawasan budi daya;d. penetapan kawasan strategis;e. arahan pemanfaatan ruangberupa indikasi program utamajangka menengah lima tahunan(dengan memperhatikankemampuan pendanaanpemangku kepentingan);f. arahan pengendalian pemanfaatanruang yag mencakuparahan perizinan, arahan insentifdan disinsentif, indikasi arahanperaturan zonasi, serta arahansanksi (administratif);g. khusus untuk wilayah kota,rencana tata ruang juga harusmemuat:1759Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1) rencana penyediaan ruangterbuka hijau;2) ruang terbuka non hijau3) rencana penyediaan danpemanfaatan jaringanpejalan kaki, angkutanumum, kegiatan sektorinformal, dan ruang evakuasibencana.Penjelasan di atas, menggambarkanbetapa komprehensifnyasebuah rencana tata ruang wilayahharus disusun. Ini merupakantantangan bagi pemerintah dan paraperencana untuk menghasilkanproduk yang memenuhi “spesifikasi”yang ditetapkan dalam UUPR.Apabila “spesifikasi” tersebut dapatdipenuhi, kita dapat bersikapoptimistik bahwa produk rencanatata ruang dapat berfungsi secaraoptimal sebagai acuan pembangunannasional dan daerah. Pengalamanselama ini yang menunjukkan produkrencana tata ruang tidak berfungsioptimal mengindikasikan bahwaproduk tersebut belum sepenuhnyamemenuhi “spesifikasi” produk yangditetapkan dalam UUPR.3. Sifat komplementer antara RTRWN,RTRWP, dan RTRWKIsu ini pada dasarnya masihterkait dengan isu pertama dankedua sebagaimana tersebut di atas.Meski demikian perlu ditegaskanbahwa UUPR mengatur agarmuatan RTRWN, RTRWP, danRTRWK tidak saling tumpang tindih.Penegasan sifat komplementerantara RTRWN, RTRWP, danRTRWK dimaksudkan agar ketigaproduk rencana tersebut bersifatsaling melengkapi, sehingga apabila“disatukan” akan membentukrencana tata ruang yang serasi danselaras antar tingkatan wilayahadministrasi. Untuk itu hal yangharus diperhatikan adalah: substansiyang telah diatur dalam rencana tataruang wilayah administrasi yang lebihtinggi tidak diatur berbeda dalamrencana tata ruang wilayahadministrasi di bawahnya. Dengankata lain, substansi yang telah diaturdalam RTRWN harus diacu dalamRTRWP. Sementara substansi yangtelah diatur dalam RTRWN danRTRWP harus diacu dalamRTRWK.Penerapan dari ketentuan inidiperkirakan akan menghadapikendala manakala substansi yangdiatur dalam rencana tata ruangwilayah administrasi yang lebih tinggitidak sejalan dengan aspirasi wilayahadministrasi yang lebih rendah.Untuk itu, komunikasi yang intensifantartingkatan pemerintahan dalamproses penyusunan rencana tataruang merupakan tantangan yangharus dihadapi secara efektif.4. Penerapan standar pelayananminimal dalam penyelenggaraanpenataan ruangUUPR menekankan pentingnyapenerapan standar pelayananminimal (SPM) dalam penyelenggaraanpenataan ruang. Hal inidimaksudkan untuk menjaminpemerintah daerah dapatmenjalankan fungsi sesuai dengankewenangannya dengan baik, disamping untuk menjamin hak-hakmasyarakat dalam penyelenggaraanpenataan ruang.1760Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Tantangan ke depan dariketentuan mengenai SPM dalambidang penataan ruang adalahmenyusun SPM dan indikatorpencapaiannya, mensosialisasikankepada pemerintah daerah, sertamelakukan pengawasan terhadapkinerja pemerintah dalammenerapkan SPM yang telahditetapkan. Tantangan yang tidakkalah pentingnya adalah merumuskanmekanisme pengambilalihankewenangan pemerintah daerahyang tidak mampu menerapkanSPM yang telah ditetapkan.5. Perhatian yang lebih besar terhadapkelestarian lingkungan hidupKondisi lingkungan hidup yangtidak kunjung membaik selamapenerapan Undang-Undang No.24Tahun 1992 tentang Penataan Ruangtelah mendorong kesadaran akanpentingnya pengaturan aspeklingkungan hidup dalam UUPR yangbaru. Di samping perhatian terhadapdaya dukung dan daya tampunglingkungan hidup sebagaimana telahdisampaikan di atas, beberapaketentuan dalam UUPR yang terkaitdengan lingkungan hidup, antara lain,adalah:a. Ketentuan agar alokasi kawasanhutan dalam satu daerah aliransungai (DAS) sekurangkurangnya30% (tigapuluhpersen) dari luas DAS dengandistribusi disesuaikan dengankondisi ekosistem DAS;b. Ketentuan agar alokasi ruangterbuka hijau (RTH) di kawasanperkotaan sekurang-kurangnya30% (tigapuluh persen) dari luaskawasan perkotaan, di mana2/3nya adalah RTH publikdengan distribusi disesuaikandengan sebaran penduduk.Tantangan dari penerapan ketentuanini adalah:a. Kemungkinan penurunan luaskawasan hutan dan RTH dalamsatu wilayah administrasi yangmemiliki kawasan hutan dan/atau RTH lebih dari 30% (tigapuluh persen) sebagaimanadisyaratkan dalam UUPR;b. Pendistribusian kawasan hutandalam satu DAS yangdisesuaikan dengan kondisiekosistem DAS dapat berujungpada konsentrasi kawasan hutandi wilayah hulu;Kesimpulan1. Pemberlakuan Undang-UndangNomor 26 Tahun 2007 tentangPenataan Ruang merupakan upayauntuk lebih mengefektifkan fungsipenataan ruang sebagai pendekatanstrategis dalam pembangunan yangbertujuan untuk mewujudkan ruangkehidupan yang aman, nyaman,produktf, dan berkelanjutan.2. Penerapan Undang-Undang Nomor26 Tahun 2007 tentang PenataanRuang menghadapi tantangan yangcukup berat, terutama dalampenerapan berbagai ketentuan baruterutama berkaitan denganpembagian kewenangan, perubahanmuatan rencana, penegasan hak dankewajiban masyarakat, pengenaansanksi, keterkaitan antara rencanatata ruang dan program-programpembangunan sektoral/wilayah,serta batas waktu penyesuaianrencana tata ruang wilayah dengan1761Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


ketentuan UUPR yang baru. Untukmengatasi berbagai tantangantersebut diperlukan kesatuan tekadpara stackholders untukmenerapkan Undang-UndangNo.26 Tahun 2007 secara konsisten.Daftar KepustakaanUndang-Undang No.26 Tahun 2007 tentangPenataan RuangPermendagri No.1 Tahun 2007 TentangPenataan Ruang Terbuka HijauKawasan PerkotaanRuslan Prijadi, Manajemen Perkotaan di EraGlobalisasi – Desentralisasi,“Jurnal Manajemen Perkotaan”,Usahawan No.02 TH XXXIFebruari 2001.Imam S. Ernawi, Implikasi PenerapanUndang-Undang Nomor 26 Tahun2007 Terhadap Peran Perencanadan Asosiasi Profesi Perencana.Dirjen-Kongres-IAP, Tahun 2007.1762Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


d a n overASPEK SOSIAL EKONOMI MASYARAKATDI SEKITAR TANAMAN INDUSTRI DI RIAUNurul Qomar, Syaiful Hadi, dan Ahmad Rifai *)Abstract : Community Development Programme by Private Sector almost charity to avoidsocial conflict, so people who live around the forest still poor. The aims of the study are tounderstand issues of social economic of the people living around the Forest Plantation inRiau. Case study has been done in Teluk Meranti and Pulau Muda village in PelalawanDistrict. Data has been collected through household survey and indepth interviews, andanalyzed using a descriptive-comparative methode. Results showed that people who livearound the Forest Plantation less involved in forest management. Most of people in this bothvillage is a farmer, but dominant of land used in Teluk Meranti are oil palm and rubber plantation,whereas in Pulau Muda are wet rice fields and swidden agriculture. Agriculture pattern in thisboth village is still traditional, but industrialize agriculture have in Teluk Meranti with oil palmplantation domination. Nevertheless, income rate of household in Teluk Meranti still lowerthan Pulau Muda because many oil palm plantation existing owned by landlords.Keywords: forest plantation, social economic.PendahuluanPengelolaan hutan tanaman selamaini masih menggunakan strategikehutanan konvensional untuk tujuanproduksi kayu semata, baik untukpertukangan maupun bahan baku industripulp dan paper. Keuntunganperusahaan merupakan target yangharus dicapai selama jangkapengusahaan dan sedikit sekalimemperhatikan penduduk sekitar, bahkansering merugikan mereka. Akibatnya,penduduk yang selama ini bergantungpada hutan terancam kehidupannyasehingga sering terpaksa menjadipenebang liar dan perambah hutan.Apalagi, saat ini jumlah penduduk disekitar hutan semakin bertambah karenaadanya migrasi penduduk miskin yangkekurangan lahan di tempat asalnya.*) Dosen Fakultas PertanianUniversitas RiauPertambahan penduduk biasanyaakan diikuti dengan peningkatan jumlahkebutuhan dasar seperti bahan pangan,energi, kayu pertukangan, dan lapanganpekerjaan. Bagi masyarakat agraris,pertambahan penduduk akanmeningkatkan permintaan terhadap lahanpertanian. Di daerah yang hutannyabelum sepenuhnya tertata, seperti diSumatera, hal ini akan meningkatkanperambahan lahan hutan untuk pertanian.Selain perambahan kawasan hutan,penebangan liar juga memberikantekanan besar terhadap hutan.Penebangan liar bukan hanya karenapeningkatan kebutuhan kayu dari hutancapacity di industri, tetapi jugakarena adanya masyarakat sekitar hutanyang membutuhkan tambahan lapanganpekerjaan seiring dengan semakintingginya pengangguran. Penebangan liaryang telah menimbulkan kerusakan padahutan alam diperkirakan juga akan meluas1763Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


di hutan tanaman, sebagaimana yangtelah terjadi di hutan tanaman Jati diJawa. Oleh karena itu, sektor kehutananjuga dituntut untuk ikut menciptakanlapangan kerja bagi masyarakat di sekitarhutan.Wujud tanggung jawab sosial olehperusahaan kehutanan dapat dilakukanmelalui program pemberdayaanmasyarakat yang perlu diarahkan untukkemandirian masyarakat dalamperekonomian. Selain itu, pemberdayaanmasyarakat juga dapat dilakukan melaluipengaturan pemanfaatan hasil hutansehingga mampu mengakomodasikankepentingan masyarakat lokal yangselama ini memiliki ketergantungan padahutan.Selama ini, dana yang dikeluarkanperusahaan untuk masyarakat cukupbesar namun hanya bersifat belas kasihatau derma ( charity) untuk meredamkonflik sosial, misalnya denganmembangunkan kantor desa, tempatibadah, jembatan, dan jalan desa. Upayaini belum dapat menjawab akarpermasalahan yang ada, sehinggamasyarakat sekitar hutan tetap dalamkemiskinan dan konflik dengan pengelolahutan juga tetap laten yang terkadangbergejolak.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui permasalahan sosial ekonomidesa di sekitar Hutan Tanaman Industridi Riau. Penelitian ini bermanfaat untukmenyusun program pemberdayaanmasyarakat sekitar hutan.Bahan dan MetodePenelitian dilakukan di Desa TelukMeranti dan Pulau Muda, KecamatanTeluk Meranti, Kabupaten Pelalawan,Provinsi Riau. Kedua desa ini berada disekitar dua perusahaaan HTI, yaitu PT.Satria Perkasa Agung di sebelah selatanS. Kampar, dan PT. RAPP di sebelahutara S. Kampar.Penelitian dilaksanakan pada Juli2007. Pengumpulan data primerdilakukan dengan cara survei rumahtangga dan wawancara mendalamdengan masyarakat. Kuisioner yangdigunakan diadaptasikan dari Anonim(2000) sebagai Pedoman Survey SosialEkonomi Kehutanan Indonesia.Parameter sosial dan ekonomi yangdiamati adalah demografi, matapencaharian, pendapatan rumah tangga,kepemilikan lahan, interaksi masyarakatdengan hutan, dan permasalahan sosialekonomi lainnya.Hasil dan PembahasanA. Bentuk penggunaan lahanMeskipun relatif jauh dari pantaitimur Sumatera, Kelurahan TelukMeranti dan Desa Pulau Muda masihterpengaruh oleh pasang surut air laut.Salah satu fenomena alam yang terkenaldari daerah ini adalah “bono”, yaituombak besar yang datang dari arah PulauMuda menuju Teluk Meranti yang terjadikarena pertemuan air laut dengan airsungai, khususnya pada saat bulanpurnama.Gambut merupakan jenis tanahdominan di kedua desa ini, kecuali dipinggir S. Kampar yang merupakantanggul alam. Bagian yang bertanahmineral ini dimanfaatkan masyarakatuntuk permukiman, persawahan,perladangan, dan kebun karet.Permukiman penduduk Teluk Merantimaupun Pulau Muda semuanya beradadi sebelah selatan S. Kampar. Hal initerkait dengan tingginya resiko terkenaombak besar (“bono”) di sisi sebelahutara sungai.1764Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Berdasarkan monografi kedua desatersebut, luas Kelurahan Teluk Merantimencapai 179.800 ha, sementara luasDesa Pulau Muda mencapai 59.800 ha.Luas ini termasuk kawasan hutan yangdikelola oleh perusahaan HTI dan hutanalam yang masih tersisa. Menurutpengakuan masyarakat, lahan di kanandan kiri S. Kampar dengan jarak 3 kmdari pinggir sungai merupakan wilayahkelola masyarakat. Pemahaman ini seringmemicu munculnya konflik lahan antaramasyarakat dengan perusahaan HTI.Berdasarkan hasil survei, rata-ratakepemilikan tanah per rumah tangga diKelurahan Teluk Meranti sebesar 1,89hektar, sementara di Pulau Muda lebihbesar yakni 3,13 hektar. Bentuk-bentukpenggunaan tanah di Teluk Meranti terdiridari 0,11 ha pekarangan, 0,81 kebunsawit, 0,61 karet, 0,25 ladang, 0,06 sawah,dan 0,06 semak belukar. Data inimenunjukkan bahwa kebun kelapa sawitmerupakan bentuk penggunaan yanglebih dominan dibandingkan denganbentuk lainnya. Namun, kebun ini masihbanyak dimiliki oleh tuan tanah karenajumlah rumah tangga petani kelapa sawitdi kelurahan ini relatif sedikit. Sementaraitu, bentuk-bentuk penggunaan tanah diPulau Muda adalah 0,39 ha pekarangan,0,26 kebun kelapa sawit, 1,05 karet, 1,0ladang, 0,26 sawah, dan 0,16 semakbelukar. Di sini kebun karet merupakanbentuk penggunaan yang lebih dominandibandingkan dengan bentuk lainnya,dikuti ladang.Pada dekade 1990-an, kedua desaini merupakan lumbung padi Riau yangpotensial, namun saat ini kondisinyasebagian besar terlantar dan jaringanirigasi yang ada tidak terawat karenabeberapa tahun lalu sebagian besartenaga masyarakat tercurah dalampenebangan hutan. Lahan persawahandi Pulau Muda berada di pulau di tengahS. Kampar luasnya mencapai ±3.676 ha(Tabel 1) , sementara di seberangpermukiman Teluk Meranti mencapai550 ha. Saat ini masyarakat danpemerintah daerah kembali menggalakkanpenanaman padi setelahkegiatan penebangan hutan secara liar(illegal logging) dilarang keras olehpemerintah. Selain itu, di lokasiperladangan yang berada di sekitarpermukiman saat ini juga banyakditanami jagung sehingga produksi jagungdari kedua daerah ini cukup tinggi yangdipasarkan ke Kuala Kampar dan SelatPanjang.Perkebunan kelapa sawit diKelurahan Teluk Meranti cukupberkembang dibandingkan dengan diPulau Muda hingga diperkirakan telahmerambah kawasan SM. Kerumutan, dimana masing-masing seluas ±2.250 haberbanding 50 ha. Perkembangan kebunkelapa sawit rakyat di Teluk Merantididorong oleh keberadaan pendudukpendatang yang sebagian besar berasaldari Jawa Barat yang masuk pada akhirdekade 1990-an. Mereka berperandalam pemeliharaan kebun denganimbalan berupa pembagian lahan kebundengan luas dan umur yang disepakatisebelumnya dan Sembako untukkebutuhan makan sehari-hari selama dikebun. Selain kebun kelapa sawit, kebunkaret juga dominan di Teluk Meranti yangluasnya mencapai 3.500 ha, sementaradi Pulau Muda relatif kecil luasnya, hanya±20 ha.Sebagai daerah yang berdekatandengan pesisir pantai timur Sumatera,tanaman kelapa dapat dilihat disetiapsudut pekarangan dan kebun dikeduadesa ini. Luas kebun kelapa di Pulau1765Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Muda tercatat ±1.226 ha, sementara diTeluk Meranti tidak tercatat. Kelapa jugapernah menjadi unggulan daerah ini,namun karena harga kelapa beberapatahun ini sangat rendah maka tanamanini kurang dirawat dan jarang dipanenlagi.km 2 , sementara penduduk Pulau Mudapada saat yang sama 3.635 jiwa ataudengan kepadatan 6,1 jiwa/km 2 .Penduduk di kedua desa didominasi olehsuku Melayu. Khusus di Pulau Mudamasih ditemukan masyarakat tradisional,yang lebih dikenal dengan Suku Laut,Tabel 1. Penggunaan lahan di Teluk Meranti dan Pulau Muda (ha)Penggunaan Lahan Teluk Meranti Pulau Muda1. Pemukiman 250 2502. Persawahan 550 3.6763. Perladangan 2.500 1.0004. Perkebunana. Karet 3.500 20b. Kelapa Sawit 2.520 50c. Kelapa 1.2265. Hutan 980a. Hutan Alam 3.000 7.200b. Hutan Tanaman tdk ada dataSecara umum, pola pertanian dikeduadesa masih dapat dikategorikantradisional, namun di Teluk Merantisudah beranjak pada industrialisasipertanian dengan hadirnya kelapa sawit.Pada sistem pertanian tradisional initerdapat periode tertentu yangmemerlukan tenaga kerja banyak, yaknipada saat pembukaan lahan, penanaman,dan pemanenan, tetapi di luar periodetersebut kebutuhan tenaga kerja sedikitsekali karena tidak membutuhkanpemeliharaan tanaman yang intensif(Qomar, 2003).B. DemografiBerdasarkan Laporan Kependudukanbulanan, jumlah penduduk TelukMeranti pada Juni 2007 menjadi 2.580jiwa atau dengan kepadatan 1,43 jiwa/meskipun jumlahnya relatif kecil hanyasekitar 10 KK atau 1,1%.Meskipun berada di sekitar HTI,namun keterlibatan masyarakat dalampengelolaan hutan sangat kecil, kecualipenduduk Pulau Muda yang ikut dalamkegiatan pembibitan tanaman akasia.Sebagian besar penduduk Teluk Merantiadalah bertani (64,1%), demikian juga diPulau Muda (70,4%) (Tabel 3). Jumlahini belum termasuk buruh tani yang belummempunyai lahan pertanian, yangbesarnya mencapai 6,8% di TelukMeranti dan 13,7% di Pulau Muda.Sebagian besar petani dan buruh tani inibekerja di sektor usaha perkebunan padisawah, palawija, karet, dan kelapa sawitrakyat.1766Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Tabel 2. Penduduk Teluk Meranti dan Pulau Muda tahun 2005 - 2007TahunTeluk MerantiPulau MudaJumlah jiwa Jumlah KK Jumlah jiwa Jumlah KK2005* 3.476 799Jan 06 2.115Juni 07 2.580 691 3.635 872*) Sumber: Potensi Desa Pulau Muda 2005Tabel 3. Mata pencaharian penduduk Teluk Merantidan Pulau Muda tahun 2007Pekerjaan Teluk Meranti Pulau Muda1. Petani 443- Petani pangan menetap 572- Kebun karet 20- Kebun kelapa sawit 252. Buruh tani/Buruh Harian 47 1203. Nelayan sungai 73 864. Pedagang 33 305. Pegawai- Negeri Sipil dan TNI/Polri 29 8- Swasta 116. Lainnya 66 4Jumlah 691 876Selain bertani, sebagian masyarakatjuga menggantungkan hidupnya sebagainelayan yang mencari ikan di S. Kampardan beberapa anak sungai dan tasik disekitarnya. Jumlah nelayan tetap di TelukMeranti sebanyak sekitar 73 KK atau10,6% dari penduduk, sementara nelayanPulau Muda mencapai sekitar 86 KKatau 9,8%.Di masing-masing desa ini sudahtersedia pasar desa yang ramai satu kalidalam seminggu, sehingga jumlahpenduduk yang berdagang cukup banyak.Selain menjajakan hasil pertanian danperikanan, mereka juga menjajakanbarang-barang kebutuhan rumah tanggayang didatangkan dari luar.C. Pendapatan dan pengeluaranrumah tanggaTingkat pendapatan rumah tangga diDesa Teluk Meranti pada umumnya paspasan,sebanyak 44,4% rumah tanggaresponden berpenghasilan Rp. 0,6-1 jutaper bulan, dan masih terdapat sebanyak16,67% yang memiliki pendapatankurang dari Rp. 0,5 juta per bulan.Sementara itu, distribusi pendapatanrumah tangga di Pulau Muda cukupmerata, namun proporsi yang palingbesar adalah yang berpenghasilanRp. 1 - 1,1 juta per bulan, yakni sebesar31,6%. Meskipun demikian, masihterdapat sebanyak 10,5 persen rumahtangga yang memiliki pendapatan kurang1767Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


dari Rp. 0,5 juta per bulan. Sumbersumberpendapatan rumah tangga dikedua desa ini cukup beragam, namunproporsi yang dominan adalah buruh tanidan buruh harian lepas.Tingkat pengeluaran rumah tanggadi Teluk Meranti hanya cukup untukmemenuhi kebutuhan pokok saja. Jumlahrumah tangga responden yang memilikipengeluaran 0,6-1 juta dan 11,1-1,5 jutamasing-masing mencapai 44,4%,sedangkan yang lebih dari Rp. 1,6 jutadan lebih dari Rp. 2,0 juta per bulanmasing-masing hanya 5,6%.Dibandingkan dengan TelukMeranti, proporsi tingkat pengeluaranrumah tangga di Pulau Muda cukupmerata. Rumah tangga yang mempunyaipengeluaran 1,1 – 1,5 juta dan atau >2juta per bulan lebih dominan, yaknimasing-masing 26,3%. Sementara itu,rumah tangga responden yang memilikipengeluaran kurang dari 0,5 juta perbulan masih sebesar 5,6%. Berdasarkandata tingkat pendapatan dan pengeluaranrumah tangga, kesejahteraan pendudukTeluk Meranti masih lebih rendahdibandingkan dengan Pulau Mudakarena kebun kelapa sawit yang adabanyak dimiliki oleh tuan tanah,sementara penduduk hanya sebagaiburuh tani atau sebagian pemilik kebunbelum menghasilkan.Berdasarkan jenis-jenis pengeluaranrumah tangga, pengeluaran untuk pangandikedua desa ini masih lebih banyakdibandingkan dengan pengeluaranlainnya. Pengeluaran yang cukup besarlainnya adalah untuk pemenuhan BahanBakar Minyak (BBM). Hal ini karenajaringan listrik PLN belum menjangkauke dua desa ini sehingga sebagian besarrumah tangga menggunakan generatormasing-masing untuk penerangan rumah.Pengeluaran untuk keperluaninvestasi dan tabungan oleh rumahtangga di dua desa ini masih sangatkurang. Jumlah rumah tangga yangmelakukan investasi dan tabungan diTeluk Meranti dan Pulau Muda, masingmasinghanya 5,6% dan 10,5%, dengannilai kurang dari Rp. 0,5 juta per bulan.Kondisi ini merupakan gambaran bahwaperencanaan masa depan bagi rumahtangga di dua desa ini belum menjadiprioritas rumah tangga.D. Kondisi perumahanSebanyak 100% rumah respondenbaik di Teluk Meranti maupun PulauMuda termasuk layak huni, denganmenggunakan atap seng, serta dindingdan lantai dari kayu. Kayu merupakanbahan baku utama karena keberadaandesa yang berdekatan dengan hutanalam. Hal ini menunjukkan bahwamasalah perumahan bukan menjadimasalah pokok rumah tangga di desa ini.Namun, dengan makin terbatasnya hutanalam dan semakin ketatnya operasipemberantasan illegal loggingmenyebabkan masyarakat kesulitanuntuk mendapatkan bahan baku kayuyang bagus dan murah untuk perbaikanrumah mereka.Luas lantai rumah yang dimiliki olehrumah tangga cukup luas, sebanyak72,2% rumah tangga responden di TelukMeranti mempunyai luas 37 – 90 m 2 , dan27,8% lainnya mempunyai luas lebih dari90 m 2 . Hal yang sama juga terlihat diPulau Muda, sebanyak 78,4% rumahtangga responden mempunyai luas lantai37 – 90 m 2 , dan hanya 5,3% yangmempunyai luas kurang dari 37 m 2 .1768Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


E. Kelembagaan masyarakatKelembagaan masyarakat yangaktif di Teluk Meranti adalah yangbergerak dalam bidang pertanian, sosial,dan keagamaan. Kelompok tani di TelukMeranti cukup berkembang sehinggatercatat sebanyak 55 kelompok telahterbentuk. Sementara itu, kelembagaanekonomi masyarakat di Pulau Mudamulai diaktifkan kembali melalui UsahaEkonomi Desa-Simpan Pinjam (UED-SP) sejak tahun 2006 ketika ProgramPemberdayaan Desa dijalankan di sini.Melalui bantuan pendanaan Rp.500 jutadari Pemprov Riau, asetnya telahberkembang menjadi Rp.700 juta padaJuni 2007 (Hadi dkk., 2007). Pinjamanmodal usaha ini sebagian besardimanfaatkan masyarakat untuk kegiatanperdagangan dan pertanian.KesimpulanMeskipun berada di sekitar HTI,keterlibatan masyarakat Teluk Merantidan Pulau Muda dalam pengelolaanhutan sangat kecil. Sebagian besarpenduduk kedua desa ini adalah bertani,namun bentuk penggunaan lahan yangdominan di Teluk Meranti adalahperkebunan kelapa sawit dan karet,sementara di Pulau Muda berupa sawahdan ladang. Pola pertanian dikedua desaini masih tradisional namun industrialisasipertanian sudah mengarah di TelukMeranti dengan dominasi kebun kelapasawit. Meskipun demikian, tingkatpendapatan rumah tangga di TelukMeranti masih lebih rendah dibandingkandengan Pulau Muda karena kebunkelapa sawit yang ada banyak dimilikioleh tuan tanah. Anonim. 2000. Pedoman Survey SosialEkonomi Kehutanan Indonesia.Bogor. Pusat Penelitian SosialEkonomi Kehutanan Indonesia.Departemen Kehutanan. Jakarta.Anonim. 2004. Pendataan Penduduk/Keluarga Miskin di Provinsi Riau.Badan Penelitian dan PengembanganProvinsi Riau. Pekanbaru.Hadi, S., Bahdarsyah, Rifai, A., Qomar, N.2007. Survei Sosial Ekonomi danPenyusunan Program Pember-dayaanMasyarakat di Sekitar HTI PT. SatriaPerkasa Agung. Kerja sama PT. SatriaPerkasa Agung dan Pusat PengkajianTeknologi dan PembangunanPedesaan Fakultas PertanianUniversitas Riau. Pekanbaru.Qomar, N. 2004. Aspek Sosial Ekonomi DalamIllegal Logging dan DampaknyaTerhadap Hutan Tesso Nilo, Riau, J.Sagu; Agricultural Science andTechnology Journal, Vol 3 (1): 9-15.1769Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


MENCERMATI GEJOLAK MAKRO GLOBALDeliarnov*)Abstract: Since mid 2007 the world economy faced huge fluctuation that force the fundamentalchange in global economy structure. The price of oil reached US 147 per barrel, followed byagricultural commodities such as CPO, potatoes, soy bean , cereals and even milk or vegetables.The objective of this paper is to study primary factors that influence the price of almost allcommodities, not only fundamental factors such as demand and supply, but also nonfundamentalfactors. The result of the study in terms of fundamental factors showed that skyrocketingof oil and commodities were combination of the increasing demand from AsianCountries - especially China and India – which is not by supply. The situation is made worseby non-fundamental factors such as economi downturn of American economy; geo-politicswhere every country tried to save their interest; and speculation in oil and commoditiesmarket.Keywords: oil price, commodity, fundamental and non-fundamental factors.PendahuluanSejak pertengahan tahun 2007harga-harga minyak dunia mengalamirekor baru. Dalam R-APBN 2008 hargaminyak dipatok US 65 per barrel. Dalamkenyataan awal tahun 2008 harga minyakmenembus batas psikologis US 100 perbarrel, dan bahkan pada bulan Juli 2008mencapai US 147 per barrel. Naiknyaharga minyak ini diikuti oleh naiknyaharga berbagai komoditas lain, mulai dariCPO, kentang, kedelai, gandum hinggaberas dan bahkan susu dan minyak tanahyang harganya dipatok oleh pemerintah.Melihat gejolak harga yang terjadi,rasanya tidak mungkin hanya denganmengandalkan metoda biasa yang hanyamemperhatikan faktor fundamental(demand-supply) semata, tetapi jugaharus dilihat dari sisi non-fundamental*) Staf Pengajar pada ProgramMagister Sosiologi Universitas Riaulainya, seperti kecenderungan terjadinyastagflasi di Amerika Serikat, kebijakangeo-politik yang dilakukan tiap Negarauntuk mengamankan posisi negaranyamasing-masing, serta factor spekulasiyang dilakukan para spekulan dicommodity market..Faktor FundamentalPara ekonom umumnya melihatgejolak harga diawali oleh naiknya hargaminyak dan kemudian diikuti oleh hargapangan dan berbagai kebutuhan pokoklainnya secara fundamental adalahkarena terjadinya perubahan dalampermintaan dan penawaran. Dilihat darisisi permintaan, naiknya harga-hargamulai dari minyak yang diikuti oleh bijibijianterutama diakibatkan oleh semakintingginya permintaan dari BRICs (Brazil,Rusia, dan terutama sekali India danChina. Dari sisi penawaran, harga-harganaik karena terganggunya supply yangdiakibatkan oleh melambatnya1770Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


peningkatan produktivitas karenaterbatasnya teknologi, dialihkannyapangan ke enerji, dan gangguan iklim.Dari sisi permintaan, gejolak globalterutama dipicu oleh naiknyakesejahteraan masyarakat di Asia,terutama China dan India. Tingginya lajupertumbuhan ekonomi di negara-negarayang dulunya terkebelakang tersebutmenyebabkan permintaan dunia terhadapberbagai barang dan jasa ikut naik.Gejolak pertama dimulai dengan naiknyaharga minyak yang kemudian diikuti olehkenaikan harga-harga produk biji-bijian(kedele, jagung, gandum) dan kebutuhanpokok (beras, telor, terigu, minyakmakan).Yang paling fenomenal adalah makintingginya harga BBM. Awal tahun 2008dunia dikejutkan dengan tembusnya hargaminyak mentah ke level $ 100 per barrel.Akhir April harga minyak menembus $120 per barrel. Penyebab utamanyaadalah naiknya permintaan dari Chindia.Sebagai catatan, share permintaan Cinasaja dalam minyak dunia naik dari 6,3 %ke 8 %, atau 2 juta barrel/hari. Angka iniequivalent dengan total produksi minyakIrak.Harga-harga pangan terutama bijibijianjuga naik karena semakinsejahteranya rakyat China (denganpertumbuhan rata-rata di atas 10 persendalam 35 tahun terakhir) dan India (yangpertumbuhan ekonominya juga tinggiselama 10 tahun terakhir). PermintaanChina terhadap kedelai saja meningkat12 kali lipat dalam dua dekade terakhir.Begitu juga dengan semakin makmurnyarakyat India maka permintaan terhadapdaging, susu, sereal dan produk panganlainnya ikut meroket tajam.“Chindia” tidak hanya jadi penyebabutama naiknya harga minyak, tetapi jugabaja, semen, plastik, tidak terkecualikomoditas pertanian dan bahan pangandunia. Harga baja, semen dan plastik naikpesat dalam beberapa tahun terakhirkarena meningkatnya permintaan Chinadan India untuk membangun pabrikpabrik,infrastruktur, termasuk untukmembangun berbagai stadion olahragadalam persiapan Olimpiade 2008 diBeijing.Waktu harga minyak, baja, semendan plastik naik, harga CPO, kentang,kedele, gandum dan barang-barangkebutuhan pokok lainnya ikut naik.Misalnya harga CPO naik dari $ 380 awal2007 menjadi $ 950 awal tahun 2008;harga kedele di pasar dunia naik dari $306/ton awal tahun 2007 menjadi $ 520/ton awal tahun 2008 dan $ 600/ton April2008. Pada periode yang sama hargagandum naik dari $ 233/ton menjadi $473/ton. Harga beraspun naik dari $ 165/ton tahun 2000 ke $ 800/ton awal April2008, $ 1000 di Thailand, bahkan akhirApril 2008 mencapai $ 1.110 per ton diFilipina.Sebagai negara agraris beriklimtropis dengan tanah luas dan subur,seharusnya Indonesia menikmati windfallprofit dari meroketnya harga bijibijiandan tanaman pangan lainnya. Tetapikarena selama ini kita cuai terhadappembangunan pertanian dan penyediaanpangan, kita justru kelabakan. Mengapaharga biji-bijian dan kebutuhan pokokmelambung begitu tinggi seiring dengankanaikan harga minyak? Apa kaitanantara harga minyak dengan kenaikanharga tempe atau telor atau beras?Pada masa-masa sebelumnyapermintaan dunia akan pangan bisadipenuhi berkat lajunya produksi yang1771Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


didorong teknologi. Bahkan karena lajuproduksi lebih cepat dibandingpermintaan, telah menyebabkan longrunsupply produk-produk pertanianbersifat landai. Artinya, dihitung denganharga konstan cenderung lebih rendahdari tahun ke tahun. Tetapi peningkatankesejahteraan di negara-negara Asiaterutama China dan India telahmenyebabkan laju permintaan lebih tinggidibanding supply.Selain disebabkan meningkatnyapermintaan, melambungnya hargaberbagai produk pertanian adalah karenaterjadinya konversi biji-bijian ke bioenerji.Sesuai teori substitusi, waktuharga minyak naik orang akan berusahamencari substitusinya yang lebih murah,baik dari batubara, air dan surya,termasuk juga dari komoditas pertanian.Komoditas pertanian yang bisadigunakan untuk menghasilkan enerjiantara lain CPO (untuk biofuel), jagung(untuk etanol), tebu, jarak dan kentang.Apa akibatnya jika sebahagianproduk pertanian dialihkan untukmenghasilkan enerji? Pengalihanpenggunaan CPO untuk biofuel telahmenyebabkan pasok untuk membuatminyak makan semakin berkurang. Iniyang menyebabkan mengapa harga CPOmakin melambung. Kalau tahun 2000harga CPO masih $ 220 per ton dan awal2006 masih di bawah $ 400/ton, padaawal tahun 2008 harganya di tingkat lokalsudah mencapai $ 980/ton, bahkan dipasar internasional sudah $ 1.020/ton danApril 2008 terus naik ke $ 1.100/ton.Konon karena terlalu tingginya hargaCPO, tidak kurang dari 17 perusahaanbio-fuel menghentikan produksinya danmerumahkan ribuan karyawan.Sumber enerji nabati lainnya adalahjagung. Waktu jagung hanya digunakansebagai bahan makanan, minyak jagung(maizena) dan pakan ternak, hargajagung cukup stabil. Bahkan kalaudihitung dengan harga konstan, hargajagung tersebut cenderung turun karenalaju supply yang lebih tinggi didorong olehkemajuan teknologi berproduksi. Tetapiwaktu orang menemukan etanol, yangharganya cukup tinggi, terjadi efekberantai. Pertama harga jagung itusendiri naik karena jagung yangdikonversikan ke etanol (di AmerikaSerikat saja naik hingga 20 persen),menyebabkan pasok jagung duniaberkurang, yang pada gilirannyamenyebabkan harga jagung yangdigunakan untuk makanan dan pakanternak naik.Dengan tingginya harga jagung,sebagian petani kedele mengkonversikanlahannya untuk menanam jagung.Akibatnya produksi kedele dunia turunsekitar 14 juta ton dari tahun 2006sebanyak 221,6 juta ton. Sekarang karenapasok kedele berkurang, sedangkankonsumsi dunia terus naik (paling besardari China, yang naik 12 kali lipat daripermintaan mereka 20 tahun yang lalu),maka harga kedele pula yang naik.Imbasnya, waktu harga kedele di pasarinternasional naik, harga kedele diIndonesia yang mengimpor sekitar 900ton tiap tahun, juga ikut naik. Berikutnyapara pengrajin tahu dan tempe di tanahair yang memekik, karena meroketnyaharga kedele sebagai bahan untukmenghasilkan tahu dan tempe.Waktu harga jagung dan kedele naik,maka harga biji-bijian lain seperti gandumatau beras juga ikut naik. Minimal dalamempat tahun terakhir harga gandum dunianaik hampir tiga kali lipat. Tahun 2008ini diprediksi produksi gandum akansemakin turun karena sebahagian petani1772Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


eralih ke kedele dan jagung yangharganya lebih menggiurkan. Artinya,harga gandum masih ber”potensi” untuknaik.Waktu CPO dan biji-bijian yangselama ini digunakan untuk berbagaikebutuhan rumah tangga ternyata jugabisa digunakan untuk menghasilkanenerji, maka supply untuk produkprodukkebutuhan rumah tangga sepertiminyak goreng, sabun, dan sebagainyaakan berkurang. Ini yang menyebabkanmengapa harga hampir seluruh produkpertanian meroket. Misalnya, waktuharga CPO naik maka harga minyakmakan juga naik dari Rp 6.000 tahun lalumenjadi Rp 12.000 Januari 2008.Naiknya harga biji-bijian pada giliranberikutnya menyebabkan harga berbagaikebutuhan pokok lainnya mulai darigandum, beras dan telor ikut melambung.Sepanjang tahun 2007 indeks hargapangan dunia sudah naik 70 persen, danharga biji-bijian naik 42 persen.Melihat besarnya dampak darikonversi pangan ke enerji, mungkin perludipikirkan agar ada suatu lembaga superdi tingkat internasional yang dapatmelarang negara-negara yang selama inimengkonversikan pangan ke enerjitersebut di masa yang akan datang.Selain disebabkan naiknya hargahargaminyak dunia yang memaksasebahagian produksi pertanian (sepertiCPO dan jagung) dialihkan penggunaannyauntuk enerji nabati, produkpertanian dunia anjlok karena gangguaniklim yang ekstrim sebagai dampak daripemanasan global. Tahun 2006 Australiadan Selandia Baru dilanda kekeringan,menyebabkan produksi gandum anjlok.Penurunan produksi karena gangguaniklim juga terasa di Amerika Latin,terutama Argentina dan Brazil. Menurutperkiraan para pakar, banjir dalam skalaluas dan kekeringan ekstrim akan lebihsering terjadi. Hal ini jelas akanmengancam supply pangan dunia.Faktor Non-FundamentalSelain faktor fundamental sepertimakin tingginya permintaan Chindia danterganggunya supply, dunia jugaterancam imbas dari lesunyaperekonomian AS sebagai dampak krisisyang dipicu kredit macet perumahan(sub-prime mortgage), faktor geopolitikdan spekulasi. Menurut ekonomGoldman Sach, resesi Amerika hanyatinggal waktu saja. Direktur The Fed’ssaat ini, Bernanke, juga menggambarkanbahwa perekonomian Amerika Serikatakan memburuk pada tahun 2008 akibatgejolak di pasar perumahan (subprimemortgage), kenaikan harga minyak danmelemahnya pasar saham.Dollar yang melemah sejak 2004(terutama terhadap euro), makin terpurukkarena sentimen pasar yang burukterhadap ekonomi Amerika Serikat.Tahun 1999 hingga 2001 nilai dollarterhadap euro menguat, dari 1,004 tahun1999 ke 0,942 tahun 2000 dan 0,886 tahun2001. Tetapi setelah itu melemahmencapai 1,364 tahun 2004. Pada tahun2005 nilai dollar sempat menguat ke1,184, tetapi sejak itu konsisten melemahke 1,319 tahun 2006; 1,473 tahun 2007dan 1,540 Mei 2008. Melemahnya dollarmengakibatkan perdagangan turun $ 800milyar dan anggaran pemerintah $ 300milyar. Selain itu juga berdampakterhadap harga minyak. Jika dollarmelemah 1 persen, harga minyak naik 4dollar per barrel.Saat ini perekonomian AS dibayangistagflasi (pertumbuhan rendah dibarengipengangguran dan inflasi tinggi).1773Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV2007 hanya 0,6 persen, dan sepanjangtahun 2007 hanya sekitar 2 persen, dandiprediksi tumbuh lebih rendah jadi 1,5persen tahun 2008. Pertumbuhanekonomi yang rendah mengakibatkanpengangguran naik jadi 4,9 persen. Layoffstahun 2007 mencapai 1,5 juta orangkarena terjadinya PHK besar-besaran diberbagai sektor (khusus di sektor propertyAS saja 13.000 pekerja). Citi Groupmem-PHK puluhan ribu karyawan.Inflasi y-o-y yang tahun sebelumnya 2,1persen naik jadi 4,3 persen.Citi Group yang sebelumnya untung2 hingga 6 milyar dollar per kwartal, padakuartal IV 2007 rugi $ 9,8 M danmenghapuskan aset senilai $ 18 milyar.Tanggal 24 Oktober 2007 Merril Lynch& Co menyatakan rugi sebesar $ 2,3milyar, dan pada tanggal 17 Januari 2008kerugian diralat menjadi $ 10 milyar.Tanggal 14 November 2007 HSBG rugi$ 3,7 milyar. Secara total, kerugian yangdiakibatkan oleh krisis sub-primemortgage ditaksir sebesar $ 460 milyar,atau sekitar 4.000 tiliun rupiah.Apa dampak ambruknya pasarmodal dan nilai dollar AS terhadapperekonomian global? BBC tanggal 17Januari 2008 mengumumkan bahwayang rugi tidak hanya bank-bank yangada di AS, tetapi juga di Eropa. Daftarbank-bank yang rugi besar tersebutantara lain: Merril Lynch $ 22,1 milyar;Citigroup $ 18 milyar; UBS $ 13,5 milyar;Morgan Stanley 9,4 milyar; HSBC $ 3,4milyar; Bear Steams $ 3,2 milyar;Deutche Bank $ 3,2 milyar; Bank ofAmerica $ 3 milyar; Barclays $ 2,6milyar; JP Morgan Chase $ 3,2 milyar;dan Credit Suisse $ 1 milyar.Amerika Serikat adalah pengutangterbesar dunia, tidak kurang dari 8,9 trilundollar AS (dalam rupiah kalikan sendiridengan Rp 9.200). Utang yang hampirsebesar 70 persen PDB AS ini terjadidengan memelihara defisit perdagangandan transaksi berjalan. Net InternationalInvestment Position (NIIP) AmerikaSerikat makin lama makin rendah. Iniberarti bahwa dana-dana asing yangmasuk ke Amerika Serikat jauh melebihidana-dana Amerika Serikat yangmengalir ke luar negeri.Kebiasaan memelihara utang inisudah nampak pada waktu RonaldReagan berkuasa, dan makinmembengkak pada era Bush. Sebagaiperbandingan, dari sekitar $ 8,9 triliunutang AS tersebut, tidak kurang sebesar3,25 triliun terjadi selama Bush berkuasa.Anehnya, dalam kondisi seperti ini AS dibawah Bush tetap membiayai perangmelawan negara-negara yangdisebutnya “Poros Setan” (Axis of Evil)seperti Irak, Iran dan Korea Utara, disamping al-Qaeda. Ini yangmengakibatkan utang luar negeri ASmakin membengkak.Kian hari Amerika Serikat makinketeteran. Cadangan devisa hilang 5,6milyar dollar dalam seminggu awalDesember 2007. Tanggal 31 Okt 07Amerika Serikat kembali menurunkantingkat suku bunga 25 basis point ke 4.25untuk merespon naiknya harga minyakmentah dan terpuruknya pasarperumahan di AS. Tetapi harga-hargasaham di hampir seluruh dunia tetapmelemah. Konon kejatuhan indekssaham dunia kali ini terburuk sejakPerang Dunia II, artinya lebih buruk darikrisis finansial Asia 1997/1998 dan krisisLongterm Capital Management HedgeFunds Amerika Serikat yang collapsSeptember 1998.1774Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Untuk mencegah dampak lebihburuk, akhirnya The Fed’s kembalimemangkas suku bunga 75 basis pointdari 4.25 menjadi 3.50 dan terus ke 3.00persen. Selanjutkan Bush dan Kongressepakat memotong pajak $ 800 per orangatau $ 1.600 per KK, dengan total senilai$ 157 milyar untuk mendorong konsumsimasyarakat dan stimulus ekonomi dalamrangka mengatasi resesi danpengangguran. Barulah bursa sahamdiberbagai belahan dunia memberikansentimen positif.Awal Mei 2008 suku bunga the Fedstinggal 2 persen. Yang menjadipertanyaan, apakah dengan pemotongansuku bunga dan pajak di atasperekonomian akan pulih? Banyak pihakmeragukannya. Paul Krugman menudingkapitalisme pasar bebas ala wild westyang abusive, fraud, dan predatorysebagai biang kerok. Amerika Serikatmemberikan kredit ugal-ugalanmelanggar prinsip prudential di sektorperumahan. Menurut Soros, adalah kelirupendapat yang mengatakan bahwa pasaruang akan mengatur dirinya sendiri.Untuk itu ia menyerukan perlunyapengaturan yang ketat dalam pasar uangglobal.Dari uraian di atas jelas bahwaAmerika Serikat yang selama ini nampakgagah perkasa, ternyata dari dalamsangat rapuh. Ibaratnya, perekonomianAS menggelembung seperti sapiglonggongan. Gelembung utang danuang dari negara lain membuat AmerikaSerikat tampil gemuk, padahal sakit.Sekarang, gelembung itu mulai lisut. Bomwaktu yang akan menentukan kapan iapecah berantakan, yang kalau terjadiakan membuat dunia porak poranda.Karena perekonomian AS yangterancam resesi akan semakin sakit parahjika harga minyak naik, maka Bushmeminta kepada Arab Saudi untukmeningkatkan produksi. Tetapi ArabSaudi menolak permintaan AS, sebabnaiknya harga minyak bukan sematapersoalan demand-supply, tapi lebihdikarenakan minyak dijadikan komoditaspolitik, dan salah satu penyebabberkurangnya pasok minyak dunia adalahkarena AS menimbun minyak tidakkurang dari 700 juta barrel.Permintaan Amerika Serikat agarnegara-negara sahabatnya di Eropa maumembantu juga kandas. Uni Eropa justrumenyalahkan terlalu besarnya utangAmerika Serikat sebagai penyebabanjloknya harga-harga saham AS, danadalah karena kebijakan deficitspending yang dilakukan oleh Bushterjadi resesi AS berdampak terhadapperekonomian global. Tetapi pejabat ASmencurigai dana-dana asing sekitar $ 2,5triliun, khususnya milik negara asal TimurTengah, Rusia, Norwegia, Singapore danChina, sebagai biang kerok. Dana-danaasing ( sovereign welath funds) yangdiinvestasikan ke AS tersebut dituduhmemiliki motif politik untuk menjatuhkanAmerika. Tudingan tanpa alasan ini tentusaja dibantah oleh berbagai pihaktertuduh.Faktor fundamental lain yangmenyebabkan naiknya harga minyak dankomoditas pertanian adalah reaksi darinegara-negara lain dan para spekulanterhadap ancaman resesi yang menimpaAmerika Serikat. Faktor geo-politikmuncul sebagai dampak dari berlarutlarutnyaPerang Irak dan gangguankeamanan di negara-negara pengeksporminyak Timur Tengah dan Afrika.Selain faktor Amerika Serikat dangangguan geo-politik, harga minyak danpangan makin melambung karena makin1775Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


maraknya spekulasi. Tingginya spekulasiadalah akibat permainan yang dilakukanAmerika Serikat (yang menumpukcadangan 700 juta barrel) sendiri,melemahnya dollar, serta spekulasi pasar(dunia kelebihan likuiditas dandiinvestasikan ke minyak dan biji-bijian)dan akibat gangguan pasar menyusul aksipemberontakan yang menyerang pipapenyalur minyak mentah di Nigeria.Magnitude krisis Amerika Serikatsangatlah dalam. Krisis di AmerikaSerikat bisa menyeret sistem perbankandan lembaga keuangan dunia dalam spiralkebangkrutan. Suka atau tidak suka,perekonomian AS saat ini masihmenyumbang sekitar 30 persen PDBdunia. Kalau AS bersin, dunia demam.Bagi Indonesia, jika perekonomian ASlesu, hal ini akan berdampak terhadapekspor, nilai rupiah dan IHSG, juga hargahargasecara umum. Menurut Bapenas,resesi yang dialami Amerika Serikat bisamenurunkan ekspor Indonesia senilai $2 milyar tahun 2008. Sebagai antisipasi,semua pihak di Indonesia dianjurkanuntuk menarik uang dari AS, melepasaset-aset denominasi AS, serta tidakmelakukan transaksi dengan dollar.Walau pasar saham dunia bergejolaktahun 2007 dan awal tahun 2008 ini, tetapiyang benar-benar hancur hanya AmerikaSerikat, bukan Eropa apalagi Asia. Begitujuga bisnis yang hancur hanya yangberorientasi pasar Amerika Serikat danaktivitas yang terkait dengan bursa,sedangkan yang bergerak di sektor rielaman. Pengalaman ini mungkin menjadipetunjuk bagi masyarakat Indonesiauntuk meninggalkan neo-liberal danbergerak ke arah ekonomi syariah yangmengharamkan spekulasi.1776Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


DUALISME DALAM SEKTOR MANUFAKTUR INDONESIADewi Budhiartini*)Abstrak: This article purpose to find out dualism in manufacture sector in Indonesia. Thisstudy try to describe the structural chage that view by value added contribution, export andimport in manufacture sector used input-output table analyze 1990, 1995. with this analyze,this study saw manufacture in Indonesia seem dualism in capacity and export-import. Thereare significan disparity among capital intensive and labour intensive.Keyword: dualism, structural change, input-output analisys.PendahuluanA. Latar BelakangSelama ini ekonomi pembangunankurang memberi perhatian nyata kepadapengembangan dualisme ekonomi.Kebanyakan para ahli ekonomi seringmemfokuskan perhatiannya kepadamasalah transisi ekonomi dari ekonomipertanian primer menuju ekonomi yangdidominasi oleh sektor manufakturmelalui akumulasi modal. Padahal,pergeseran produksi yang semata-mataberlangsung dari pertanian menujuindustri sudah tidak lagi menjadi isu utamapada negara-negara berkembang.Masalah khas yang tengah dihadapi olehnegara-negara tersebut sekarang ialahbagaimana mengembangkan sektorsektornyayang menghasilkan investasibesar dan barang-barang antara denganmenggunakan teknologi-teknologilanjutan.Di berbagai literatur standarekonomi pembangunan, prosespembangunan akan selalu menyebabkandualisme (Meier, 1995). Secara definitif,dualisme merupakan suatu keadaan dimana terdapat sektor-sektor (atau*) Dosen Univ. Amir Hamzah, Medandaerah-daerah) besar di dalam suatuperkonomian yang menggunakanteknologi modern, di sisi lain ada pulasektor-sektor (atau daerah-daerah) kecilyang menggunakan teknologi sederhana.Sedangkan selama kebijakan-kebijakanpembangunan yang masih dalam tahappertimbangan, dualisme ini merupakanmasalah yang mengganggu. Karenadualisme akan merefleksikanketimpanga-ketimpangan ultidimensionalserta menyebabkan benturan-benturanmasalah sosial ekonomi yang bercabangcabang.Hal ini merupakan tugas parapenentu kebijakan, untuk mengurangi danselanjutnya menghilangkan tendensidualisme itu secara implisit.Konsep dualisme pada dasarnyamengajak kita untuk tidak meremehkanperanan sektor-sektor industri kecil. Haltersebut dikarenakan pentingnya peranansektor ini mengacu kepada karakteristiknyayang khas diantaranya: Pertama,sifatnya yang padat karya; Kedua,sebagian besar industri tersebut terletakdi daerah pedesaan; Ketiga, industri inimenggunakan teknologi yang pas denganproporsi faktor produksi serta kondisilokal yang ada pada negara-negaraberkembang; Keempat, industri kecil1777Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


digambarkan sebagai solusi alternatifkewirausahaan bagi pengusaha lokal;Kelima, industri kecil sangat bergantungkepada sumber pembiayaan yangbermuara dari tabungan pemilik usaha,selain didukung oleh pemberian pinjamandari lembaga keuangan informal daerahatau lembaga-lembaga keuangan lainnya(Chowdbury, 1990; Tambunan, 1994).Bertentangan dengan aspek positifyang terkandung di dalamnya, terdapatkritik mengenai ketidakmampuan industrikecil untuk mencapai skala ekonomidalam produksinya. Sebagai konsekuensidari hal tersebut, mereka mengalamibiaya produksi yang tinggi meskipunbiaya tenaga kerja rendah. Sehingga diberbagai cabang pabrik, industri kecilyang ada di pinggiran, seringkali hidupberdasarkan atas sokongan pemerintahyang protektif dan mahal (Husaini et al.,1996).Jika kita berasumsi bahwa kemajuantingkat teknologi industri itu diukur dalamkonteks rasio antara modal dan tenagakerja, maka peningkatan rasio modal dantenaga kerja dalam suatu perindustrianmerupakan gambaran dari suatu prosesperbaikan kemampuan teknologi industritersebut. Jadi, menurut paradigmapertumbuhan dual-industry, masalahyang tengah dihadapi Indonesia saat iniadalah apakah pertumbuhan industripadat modal melebihi industri padat karyaataukah sebaliknya. (Poot, Kuyvenhoven& Jansen, 1991; Majidi, 1991; Tambunan,1994)Sementara itu, di dalam tatananekonomi terbuka, pasar secara umummenjadi lebih kompetitif. Teknologimutakhir biasanya diperkenalkanberbarengan dengan liberalisasikebijakan. Selanjutnya yang terjadiadalah, persaingan dan teknologimutakhir akan meningkatkanproduktivitas serta menekan biayaproduksi industri melalui keunggulankomparatifnya. Akibatnya, ekspor mulaimeningkat. Kemudian, persaingandengan industri asing di pasar dunia akanmeningkatkan produktivitas eksporindustri kembali. Di samping itu,disebabkan pasar dunia yang sangat luas,skala ekonomipun dapat dicapai, yangmana hal ini akan memperbaikiproduktivitas (Fujita, 1994).Pada akhirnya, masalah utama yangingin diajukan studi ini adalah:Bagaimanakah struktur sektormanufaktur Indonesia pada periode tahun1990 dan 1995? Dengan mengelompokkansektor manufaktur ke dalamkelompok industri padat modal dan padatkarya, selanjutnya penulis inginmengetahui: adakah dualisme dalamsektor manufaktur di Indonesia? Secaraumum, studi ini ingin menggambarkanproses pembangunan industri denganmenggunakan serta menerapkan modeldan data input-output yang tersedia.Secara khusus, obyek penelitian adalahuntuk menguji hipotesis-hipotesis berikut:a. Dengan struktur sektor manufakturyang sedemikian rupa maka dapatdiperoleh gambaran bahwa: Industripadat karya merupakan industriringan, sedangkan industri padatmodal merupakan industri berat.b. Dengan menganalisis sejauh manaperkembangan kontribusi nilaitambah, ekspor, impor dan indeksbackward-forward linkagesmasing-masing Industri tersebutmaka terdapat dualisme dalam sektormanufaktur di Indonesia dari periodetahun 1990-1995.Jawaban akan hipotesis-hipotesis iniakan memiliki implikasi-implikasi yang1778Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


penting di antaranya terhadap penentuankebijakan-kebijakan pembangunanindustri. Kemudian akan memungkinkanmasa depan restrukturisasi ekonomi yanglebih terantisipasi dan terkelola. Sehinggapada akhirnya, strategi pembangunanyang unggul bisa betul-betul dimatangkandi dalam konteks kecenderungan pasarbebas.B. Tujuan PenulisanPenulisan makalah ini bertujuanuntuk mengetahui dualisme dalam sektormanufaktur di Indonesia.C. Metode PenelitianBerangkat dari perumusan masalah,maka studi ini akan mencobamenggambarkan pergeseran stukturalyang dilihat dari kontribusi nilai tambah,ekspor dan impor di dalam sektormanufaktur dengan menggunakan tabelinput-output 1990 dan 1995. Model inputoutputdigunakan untuk mengamatiketerkaitan sektoral serta menaksirpengaruh kuat dari perubahan dalampermintaan akhir sebuah sub sektor padaseluruh sektor ekonomi.Uraian TeoritisIndonesia merupakan salah satuanggota kelompok negara-negaraberkembang, serta dalam prosespergerakan ke atas dari seluruh sistemsosialnya, terutama sektor industrinya.Pembangunan sektor industri, saat inirupa-rupanya dianggap sebagai senjatapaling ampuh guna menapaki tahapanindustrialisasi setelah sekian lamadihadapkan oleh kemunduran secaradramatis akan ekspor minyak yangdimulai pada pertengahan tahun 1985.Akita (1991) telah mengidentifikasikansumber-sumber pertumbuhanindustri di Indonesia denganmenggunakan tabel input-output tahun1970-1985. Beliau menemukan bahwapertumbuhan sektor manufaktur ringankebanyakan disumbang oleh perluasanakan permintaan domestik. Beliau jugamenyimpulkan bahwa sekitar 40%-50%pertumbuhan total sektor manufaktursebagian besarnya didorong olehkekuatan permintaan domestik.Sebagai tambahan, seperti yangdikatakan oleh Hulu (1993), teknologimasih belum berperan secara signifikanterhadap pertumbuhan sektormanufaktur ringan. Abimanyu (1996)menemukan hal yang hampir samadengan Akita. Dengan menggunakantabel input-output tahun 1985-1990, beliaumengamati bahwa pertumbuhan nilaitambah manufaktur yang tinggi telahdipimpin oleh empat kelompok industriutama (dalam level 2 digit InternationalStandard Industrial Classification (ISIC)):industri tekstil, industri kayu, industrikertas dan bubur kertas serta industrilogam dasar. Industri-industri ini tumbuhdengan cepat melalui dukunganpermintaan domestik dan secaramemuaskan menyumbang sekitar 50%pertumbuhan sektor manufaktur.Penemuan tersebut rupa-rupanyaingin menegaskan bahwa pertumbuhandipimpin oleh pola konsumsi masyarakatdi Indonesia yang diamati pula olehAbimanyu (1997). Dalam rangkahubungannya dengan perdagangan danpembaharuan kebijakan yangdicanangkan sejak pertengahan tahun1980-an, Osada (1994) menyelidikisecara ekonometris pengaruh yangsignifikan dari liberalisasi impor terhadapperubahan produktifitas. Studi empirisnyaberdasarkan pada asumsi bahwaliberalisasi impor yang dimulai pada bulan1779Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Maret 1985 dengan pemberlakuanpenyederhanaan jenjang tarif sertapenurunan yang tinggi pada tingkat tarif.Beliau menunjukkan juga bahwapertumbuhan sektor manufaktur setelahtahun 1985 disertai pula oleh peningkatantotal factor productivity (TFP). Tingkatpertumbuhan TFP yang tinggi padasektor manufaktur merupakan orientasiekspor selama periode awal; kemudianpertumbuhan TFP menyebar begituluasnya pada area perindustrianmenjelang 1990. Hasil penelitiannyamenyarankan juga agar liberalisasi imporakan jauh lebih bermanfaat apabiladitujukan untuk meningkatkan efisiensisektor manufaktur. Pradiptyo (1996),disisi lain, telah menarik kesimpulan yangbertentangan dengan Osada,mengatakan bahwa kebijakanperdagangan di Indonesia masih sangatprotektif serta tidak menggunakanpengaruh efisiensi industri danpersaingan.Abimanyu et al. (1997) mengujipengaruh signifikan yang mungkin terjadipada liberalisasi perdagangan diIndonesia dengan mensimulasikeseimbangan umum 30 sektor. Beliaumengusulkan empat kebijakan yangmungkin dapat dicanangkan padaliberalisasi perdagangan ke dalam model,dan hasilnyapun diyakini akanmengejutkan. Keempat kebijakan ituadalah: (1) 11% penurunan tarif, yangdibantu oleh input impor industri berat;(2) 12% penurunan pajak ekspor untukproduk tradisional; (3) kombinasi (1) dan(2); (4) kebijakan (3) ditambahpenekanan inflasi sampai 5%. Studinyatersebut meramalkan bahwa skenario (1)secara relatif, lebih unggul daripadaskenario lainnya. Karena, kebijakan iniakan menurunkan indeks hargakonsumen sedangkan dilain pihakmeningkatkan GDP. Selain itu, kebijakantersebut akan meningkatkan persainganproduk manufaktur.Studi-studi sebelumnya tampaknyatelah jelas dan sejalan dengan teoriperdagangan tradisional. Sepertiefektifitas deregulasi perdagangan yangtelah diperkenalkan oleh pemerintahsejak tahun 1985, terhadap kinerjamanufaktur secara empiris telah terujidengan studi-studi ini.PembahasanPada Tabel 1 berikut dijelaskanpembedaan antara industri padat modaldan industri padat karya.Dengan klasifikasi seperti padaTabel 1, menurut Ohno & Imaoka (1987)dan Yokoyama & Itoga (1989) bisaditentukan cut-off point (garis pemisah)antara industri yang padat modal(capital-intensive atau CI) dan padatkarya ( labor-intensive atau LI).Beberapa industri dari 1990 hingga tahun1995 yang tetap, pernah dan telahmenjadi industri padat modal adalah:(dapat dilihat pada Tabel 2).Berdasarkan hasil penghitungan daridata yang tersedia serta merujuk metodedan prosedur yang dipakai oleh Ohno &Imaoka (1987) dan Yokoyama & Itoga(1989), studi ini pada derajad tertentubisa menerima hipotesis 1, yakni bahwaindustri padat karya adalah industri ringandan industri padat modal yang sebagianbesar adalah industri berat. Setidaknyaada 5 (lima) industri berat yang masukdalam kelompok padat modal, yakni (21)industri pengilangan minyak, (25) industridasar besi & baja, (27) industri barang1780Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Tabel 1. Perkembangan Rasio Modal per Tenaga KerjaNo. Sektor 1990 199501020304050607080910111213141516171819202122232425262728293031323334353637Pertanian (1-6)Perkebunan (7-17)Peternakan (18-20)Kehutanan (21-22)PerikananPertambangan (24-26)Industri Pengolahan dan Pengawetan MakananIndustri Minyak dan lemakIndustri penggilingan padiIndustri Tepung, segala jenisIndustri GulaIndustri Makanan LainnyaIndustri MinumanIndustri RokokIndustri PemintalanIndustri Tekstil, pakaian dan kulitIndustri Bambu, kayudan rotanIndustri Kertas, Barang dari kertas KartonIndustri Pupuk dan PartisidaIndustri KimiaPengilangan MinyakIndustri Barang karet dan PlastikIndustribarang-barang darimineral bukan logamIndustri semenIndustri dasar besi dan bajaIndustri Logamdasar bukan besiIndustri barang dari logamIndustri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrikIndustrialatpengangkutran dan perbaikannyaIndustri barang lain yang belumdigolongkan dimanapun.Listrik, Gas dan air minumPerdagangan, restoran dan hotel (53-54)Angkutan dan Jasa Penunjang Angkutan (55-59)KomunikasiLembaga KeuanganKontruksi dan jasa Perusahaan (52 &62)Jasa Publik dan lainnya (63-66)0,33790,04210,01450,0267-0,02344.00630.17580,00000,0560-0,31900,14220,0792-0,8667-0,2176-0,6445-0,0111-0,03770,3381-2,5427-1,189923,3589-1,03340,0479-0,4058-0,5112-0,79031,043515,24823,2749-0,26870,00000,34640,44140,00000,000011,92980,1076LILILILILICILILILILILILILILILILILILILILICILILILILILILICICILILILILILILICILI1,00850,03220,20150,84510,00005,7416-0,1809-0,18722,28520,12712,42560,30260,14360,37750,11060,17010,08070,1820-2,2188-1,93659,04371,13990,09130,008911,3761-1,37532,850315,66218,90750,58720,00000,36140,78770,00000,000023,28310,1525Rata-rata 1,41 2,23Sumber . Tabel Input Output Edisi 1990 dan 1995, diolahdari logam, (28) industri mesin, alat-alatdan perlengkapan listrik, dan (29) industrialat pengangkutan dan perbaikannya.Uji Hipotesis 2. Hipotesis ini adalahuntuk melihat pergeseran struktur didalam sektor manufaktur dan fenomenaekspor, dan impor keempat sektorLILILILILICILILICILICILILILILILILILILILICILILILICILICICICILILILILILILICILIindustri tersebut. Sedangkan untukmenghasilkan indeks backwardforwardlinkage, 37 sektor akan ditentukanmatriks koefisien, matriks identitas sertamatriks Leontief-nya.Perkembangan kontribusi nilaitambah keempat kelompok industri1781Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


tersebut dilaporkan pada Tabel 3.Tabel 2. Industri Padat ModalNo Sektor Jenis Industri 1990 199506 Penambangan (24-26) Primer CI CI09 Industri pinggilingan padi Ringan LI CI11 Industri gula Ringan LI CI19 Industri pupuk dan pestisida Berat LI LI21 Pengilangan minyak Berat CI CI25 Industri dasar besi dan baja Berat LI CI27 Industri barang dari logam Berat LI CI28 Industri Mesin, alat-alat danBerat CI CIperlengkapan listrik29 Industri alat pengangkutan dan Berat CI CIperbaikannya30 Industri barang lain yang belum Berat LI LIdigolongkan dimanapun36 Konstruksi dan jasa perusahaan Jasa CI CI(52 & 62)Sumber : Tabel Input-Output Edisi 1990 dan 1995, diolah.Tabel 3. Kontribusi Nilai TambahNo Sektor 1990 19951 Industri Primer 0,33 0,252 Industri Ringan 0,10 0,133 Industri Berat 0,10 0,114 Jasa 0,47 0,51Sumber : Tabel Input-Output Edisi 1990 dan 1995, diolah.Berdasarkan Tabel 3, kita bisamelihat adanya pergerakan yang hampirsearah antara kontribusi nilai tambah darisektor industri berat dan sektor industriringan. Terjadi peningkatan kontribusinilai tambah pada sektor industri ringandari 0,10 pada tahun 1990, menjadi 0,13pada tahun 1995. Sektor industri beratjuga mengalami peningkatan dari 0,10pada tahun 1990, menjadi 0,11 pada tahun1995. Namun demikian terjadi pergeserandiantara keduanya, di mana sektor industriringan mampu mengambil alih posisisektor industri berat di dalamsumbangannya terhadap nilai tambah.Hal itu nampaknya juga terjadi diantarasektor industri primer dengan sektorindustri lainnya.Perkembangan ekspor keempatsektor industri tersebut dilaporkan padaTabel 4 berikut:1782Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Tabel 4. Kontribusi EksporNo Sektor 1990 19951 Industri Primer 0,30 0,202 Industri Ringan 0,28 0,353 Industri Berat 0,30 0,324 Jasa 0,12 0,13Sumber : Tabel Input-Output Edisi 1990 dan 1995, diolah.Berdasarkan Tabel 4, kita juga bisamelihat adanya pergerakan yang hampirsearah antara kontribusi ekspor darisektor industri berat dan sektor industriringan. Terjadi peningkatan pada sektorindustri ringan dari 0,28 pada tahun 1990menjadi 0,35 pada tahun 1995. Demikianjuga dari sektor industri berat dari 0,30pada tahun 1990 menjadi 0,32 pada tahun1995. Tetapi juga terjadi pergeseran didalam kontribusi ekspor di mana sektorindustri berat tergeser oleh posisi sektorindustri ringan. Hal ini nampaknya jugaterjadi di antara sektor industri primerdengan sektor industri lainnya.Perkembangan impor keempatsektor industri tersebut dilaporkan padaTabel 5 berikut:Berdasarkan Tabel 5, kita bisamelihat dominasi impor yang masihdipegang oleh sektor industri berat,walaupun terjadi penurunan kontribusidari 0,71 pada tahun 1990 menjadi 0,66pada tahun 1995. Sedangkan terjadipeningkatan di sektor industri ringan dari0,10 pada tahun 1990 menjadi 0,11 padatahun 1995. Sehingga secara umumpergeseran struktur menurut kontribusiimpor secara relatif tidak terjadi.Pergeseran kelihatannya hanya terjadi diantara sektor industri primer dengansektor industri lainnya.Berdasarkan analisis secarakeseluruhan atas perkembangankontribusi nilai tambah, ekspor, impor,indeks backward-forward linkage,serta indeks comparative advantagedari sektor-sektor industri tersebut,nampaknya hipotesis 2 sulit untuk kitatolak. Posisi sektor industri berat masihterlalu kuat dominasinya. Perubahan/pergeseran “status” di dalam sektorsektorindustri ternyata tidak terjadi,dilihat dari indeks backward-forwardlinkage-nya. Hal ini disebabkan tidakadanya perubahan status dari sektorsektordi dalamnya.Tabel 5. Kontribusi ImporNo Sektor 1990 19951 Industri Primer 0,06 0,062 Industri Ringan 0,10 0,113 Industri Berat 0,71 0,664 Jasa 0,13 0,18Sumber : Tabel Input-Output Edisi 1990 dan 1995, diolah.1783Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


KesimpulanDengan struktur sektor manufakturyang sedemikian rupa maka studi ini bisamenentukan cut-off point (garispemisah) antara industri padat modal(capital-intensive atau CI) dan industripadat karya (labour-intensive atau LI).Industri berat yang masuk dalamkelompok padat modal, yakni (21)industri pengilangan minyak, (25) industridasar besi & baja, (27) industri barangdari logam, (28) industri mesin, alat-alatdan perlengkapan listrik, dan (29) industrialat pengangkutan dan perbaikannya.Dengan mengelompokkan 66 sektormenjadi 37 sektor, kemudian dari 37sektor menjadi 4 sektor yaitu sektorindustri primer, ringan, berat dan industrijasa, studi ini mengetahui adanyapergeseran struktural menurutperkembangan kontribusi nilai tambah,ekspor dan impor di antara keempatsektor industri tersebut. Terjadipergeseran struktural di dalam sektormanufaktur di Indonesia di mana secararelatif sektor industri ringan mampumenggeser posisi sektor industri beratkecuali pada kontribusi impor yangnampaknya sektor industri berat masihterlalu kuat dominasinya. Pergeseranyang mutlak hanya terjadi di antarasektor industri primer dengan sektorindustri lainnya.Pengamatan terhadap indeksbackward-forward linkage ternyatatidak mendapati adanya perubahanstruktur dari sektor-sektor industri.Sektor-sektor yang outputnya pada tahun1990 merupakan utilize input, padatahun 1995 juga tetap menjadi utilizeinput. Demikian pula pada sektor-sektoryang outputnya pada tahun 1990merupakan become input, pada tahun1995 juga tetap menjadi become input.Hal ini menandakan tidak adanyapergeseran struktural dilihat dari posisiindeks backward-forward linkage.Hal yang sangat menarik dari studiini adalah adanya gejala dualisme dalamstruktur industri Indonesia. Industri padatmodal ternyata sangat mengandalkanbahan baku impor. Industri-industri dalamkelompok ini banyak yang menderitacomparative disadvantage.Beberapa saran yang berkaitandengan studi ini adalah: Pertama,ketersediaan dan kelengkapan akanbanyak membantu di dalam studi sepertiini. Tidak tersedia atau tidak lengkapnyadata stok modal membuat sulitnya penelitimemisahkan secara akurat antaraindustri padat modal dan padat karya.Keterbatasan ini membuat penelitimengambil jalan kompromi denganmenganggap bahwa industri ringanadalah industri padat karya, sedangkanindustri berat merupakan industri padatmodal. Kedua, Pada klasifikasi industripadat modal, industri pupuk dan petisida(19) ternyata masuk ke dalam golonganindustri padat karya. Secara intuitif halini kurang bisa diterima oleh penelitikarena seharusnya industri ini masuk kedalam golongan industri padat modaldisebabkan besarnya penggunaanbarang-barang modal. Kurang akuratnyadata kelihatannya menjadi faktor utamadalam masalah ini. Sehingga diharapkandi masa mendatang data yang tersediaakan lebih akurat.1784Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Daftar KepustakaanAbimanyu, Anggito, 1996, “The IndonesianEconomy and Total FactorProductivity,” The SingaporeEconomic Review, Vol. 40/1, pp. 25-40.Abimanyu, Anggito, 1997, “Consumption-Led Growth in Indonesia,”Indonesian Economic Almanac1996-1997, pp. 40-42.Abimanyu, Anggito; Arti D. Adji; DenniPuspa Purbasari; & Hengki Purwoto,1997, “Deregulasi Perdagangan danPerekonomian Makro Indonesia:Aplikasi Model KeseimbanganUmum Terapan INDORANI,” Prisma,No. 5, pp. 45-63.Akita, Takahiro, 1991, “Industrial Structureand the Sources of Industrial Growthin Indonesia: An I-O Analysisbetween 1971 and 1985,” AsianEconomic Journal, Vol. 5/2, pp. 139-158.Biro Pusat Statistik, “Tabel Input-Output1990,” Jakarta: BPS.________, “Tabel Input-Output 1995,”Jakarta: BPS.Chowdhury, A.H.M. Nuruddin, 1990, “Smalland Medium Industries in AsianDeveloping Countries,” AsianDevelopment Review, Vol. 8/2, pp. 28-45.Djojohadikusumo, Sumitro, 1994,“Perkembangan PemikiranEkonomi: Dasar Teori EkonomiPertumbuhan dan EkonomiPembangunan,” Jakarta: LP3ES.Fujita, Natsuki, 1994, “Liberalization Policiesand Productivity in India,” TheDeveloping Economies, Vol. XXXII/4 pp. 509-512.Hulu, Edison, 1993, “Identifikasi SumberPeningkatan Output Sektor Industridi Indonesia,” Ekonomi danKeuangan Indonesia, Vol. 41/1, pp.91-112.Husaini, Martani; SudarsonoHardjosoekarto; Heru Nurasa; &Threesye Mariman, 1996, “Small-Scale Enterprises Development inIndonesia,” in Mari Pengestu (ed),Small-Scale Business Developmentand Competition Policy, CSIS, 1996,pp. 7-19.Majidi, Nasyith, 1991, “Dua Tahun PaketKebijaksanaan Januari 1990:Penghapusan Dualisme Ekonomi ?”Prisma, No. 11, pp. 24-43.Meier, Gerald M., 1995, “Leading Issues inEconomic Development,” SixthEdition, New York: Oxford UniversityPress.Ohno, Koichi & Hideki Imaoka, 1987, “TheExperience of Dual-Industrial Growth:Korea and Taiwan,” The DevelopingEconomies, Vol. XXV/4, pp. 310-323.Osada, Hiroshi, 1994, “Trade Liberalizationand FDI Incentives in Indonesia: TheImpact on Industrial Productivity,”The Developing Economies, Vol.XXXII/4, pp. 479-508.Poot, Huib; Arie Kuyvenhoven; & JaapJansen, 1992, “Industrialisation andTrade in Indonesia,” Yogyakarta:Gadjah Mada University Press.Pradiptyo, Rimawan, 1996, “DampakKebijakan Sektor Riil terhadapStruktur dan Kinerja Sektor IndustriIndonesia,” Kelola, Vol. V/11, pp. 34-63.Sadoulet, Elisabeth & Alain de Janvry, 1995,“Quantitative Development PolicyAnalysis,” Baltimore: The JohnsHopkins University Press.Tambunan, Tulus, 1994, “The Growth-Linkage Pattern of Small ScaleIndustries in Developing Countries:A Study with Reference toIndonesia,” Jurnal EkonomiIndonesia, Vol. 2/1, pp. 33-50.Todaro, Michael P., 1971, “DevelopmentPlanning: Models and Methods,”Nairobi, Dar es Salaam: OxfordUniversity Press.World Bank, 1993, “The East Asian Miracle:Economic Growth and PublicPolicy,” New York: Oxford UniversityPress.Yokoyama, Hisashi & Shigeru Itoga, 1989,“A Test of The Dual-Industrial GrowthHypothesis: The Case of ThePhilippines and Thailand,” TheDeveloping Economies, Vol. XXVII-4, pp. 381-406.1785Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


PERILAKU KONSUMEN SAYURAN ORGANIKDI KOTA PEKANBARUAhmad Rifai *), Didi Muwardi*), Juwita Rizki Fitri Nauli Rangkuti**)Abstract: This research aimed to understanding the consumer attitudes on the organicvegetable attributes, and the influence of the consumer’s social environment toward thesubjective norm in the making the purchasing decision on the organic vegetable in Pekanbaru.Source of data was primary data from interview with respondents using purposive sampling.Method of analysis used Fishbein model to analysis the consumer’s attitudes and tounderstanding the consumer’s decision making process. The attributes was used tounderstanding the consumer’s attitudes is freshness, colour, taste, brand, ingredients,advantage for health, price and the availability. And the attribute was analyzed to analyzedthe influence of the consumer’s social environment is the product’s legal aspect and thefamily members. The research result showed that there was a positive attitude of consumer toconsume the organic vegetable. Attribute “the advantage of organic vegetable for health isowned the higher positive score to influence the consumer’s attitudes to consume the organicvegetable. And the social environment is not influence the subjective norm of consumer inmaking the purchasing decisions of the organic vegetables.Keywords : Organic Vegetables, Consumer Behavior, Fishbein modelPendahuluanKesadaran masyarakat akan gayahidup sehat akhir-akhir ini mulaimeningkat. Pola makan tinggi lemak,tinggi kalori dan rendah serat mulaiditinggalkan. Pasar modern yangmenjual bahan pangan organik mulai larisdiserbu pembeli. Gejala positif yang perludigalakkan lebih luas, karena hanyasebagian kecil saja masyarakat yangsadar akan pola makan sehat. Diperlukanpengetahuan dan kesadaran diri yangbaik untuk merubah gaya hidup.*) Dosen Jur. Agribisnis Fak. PertanianUniversitas Riau.**) Alumni Jur. Agribisnis Fak. PertanianUniversitas RiauGaya hidup sehat dengan carakembali ke alam dengan mengkonsumsimakanan yang diproduksi secara alamiahsedang menjadi trend baru bagi sebagianmasyarakat. Saat ini bahan panganorganik mulai diminati banyak orang,salah satu bahan pangan organik yangdiminati adalah sayuran organik. Sayuranorganik ini memiliki harga yang relatiflebih mahal dan penampilannya jugakurang menarik, namun memiliki manfaatbagi kesehatan karena diproduksi dengantidak menggunakan bahan kimia. Apalagifakta penelitian terbaru menunjukankeunggulan nutrisi dari bahan panganorganik.Sayuran organik diperoleh dari hasilbudidaya secara organik tanpamenggunakan input produksi yangmengandung bahan kimia, seperti pupuk1786Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


kimia (Urea, KCl, dan TSP), pestisida,herbisida, insektisida, fungisida, dan bahankimia lain. Jadi pembudidayaannya hanyadigunakan pupuk organik, misalnya pupukkandang dan kompos. Selain itu, bibitsayuran organik juga tidak boleh berasaldari hasil rekayasa genetik. Kecuali bibitunggul dari hasil persilangan biologis atauhasil manipulasi genetik denganmenggunakan selective breeding.Tingginya keinginan masyarakatyang ingin mengkonsumsi sayuranorganik membawa pengaruh dalampembelian sayuran organik. Hal ini tidakterlepas dari perilaku konsumen yangdipengaruhi oleh banyak faktor yaitufaktor kebudayaan, sosial, pribadi, danpsikologis. Karakteristik pembelimempunyai pengaruh utama bagaimanaseorang konsumen mengambil keputusanpembelian terhadap atribut yang terikatpada sayuran organik yang ditawarkan.Kota Pekanbaru memilikimasyarakat yang heterogen baik dariaspek ekonomi, sosial dan budaya.Tingkat ekonomi masyarakat yangberbeda memberikan pengaruh dalamperubahan perilaku konsumen, sehinggadalam melakukan pembelian masyarakatmenjadi lebih selektif. Prioritas utamayang menjadi pertimbangan konsumendalam melakukan pembelian, yaitu mutudan harga suatu produk. Tingkatpendidikan dan pengetahuan yangsemakin baik juga menjadi faktor yangmempengaruhi perilaku pembelian olehkonsumen.Pada awalnya, masyarakatmengkonsumsi sayuran tanpa melihatapakah sayuran mengandung bahankimia berbahaya atau tidak. Namunseiring berkembangnya informasisayuran organik, konsumsi sebagianmasyarakat beralih dari sayuran nonorganikmenjadi sayuran organik.Sebagian masyarakat mempercayaibahwa sayuran organik lebih aman untukdikonsumsi karena kandungan bahanalami tanpa kimia dalam pembudidayaannya.Kembali ke alam telah menjaditrend baru dalam masyarakat. Walaupunpenampilan sayuran yang kurang menarikdan harga yang lebih tinggi, tidakmempengaruhi kesadaran bagi sebagianmasyarakat untuk mengikuti gaya hidupsehat dalam mengkonsumsi sayuranorganik tanpa bahan kimia. Perubahankonsumsi merubah pola pembelian darisegi perilaku konsumen.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui bagaimana sikap danperilaku konsumen di Kota Pekanbarudalam melakukan pembelian sayuranorganik dari segi atribut berdasarkankarkteristik responden serta kepuasankonsumen dalam pembelian.Metoda PenelitianPenelitian dilakukan di KotaPekanbaru dengan mengambil respondenkonsumen sayuran organik. Penelitian inimenggunakan metode survey, denganmelakukan wawancara terhadapresponden terpilih untuk mendapatkandata periaku konsumen. Populasi dalampenelitian ini adalah konsumen sayuranorganik di kota Pekanbaru. Sampelditentukan secara purposive samplingdengan kriteria responden yang pernahatau masih mengkonsumsi sayuranorganik minimal 1 bulan yang lalu.Metode analisis yang digunakandalam penelitian ini mengacu pada teknikanalisis dalam teori reasoned action,dengan model yang dikembangkan olehFishbein (Sutisna, 2002).Untuk mengetahui pengaruh atributsayuran organik terhadap sikap1787Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


konsumen dalam menentukan perilakukonsumen sayuran organik, digunakananalisis model Fishbein, berikutAB beiini1nb ie i , dimanarif xii 1 , dannnrif yii 1 . Dimana AB adalahnsikap total individu terhadap atributsayuran organik, b i adalah kekuatankeyakinan konsumen terhadap atributsayuran organik, e i adalah evaluasiterhadap atribut sayuran organik, r iadalahbobot skor ke-i, f(x i) adalah jumlahresponden yang memiliki bobot skor keiuntuk variabel keyakinan (b i), f(y i)adalah jumlah responden yang memilikibobot skor ke-i untuk variabel evaluasi(e i), n adalah jumlah kriteria atributsayuran organik yang relevan (Sutisna,2002).Variabel ini bersifat internal individu,berkaitan langsung dengan objekpenelitian dan atribut-atribut langsungyang memiliki peranan penting dalampengukuran perilaku. Hal ini karena akanmenentukan tindakan apa yang akandilakukan tanpa dipengaruhi faktoreksternal. Variabel sikap menurutFishbein terbagi menjadi dua (Sutisna,2002) :a. Variabel keyakinan membeli, yaitukeyakinan komponen terhadapatribut sayuran organik.b. Variabel evaluasi, yaitu evaluasiakibat yang ditimbulkan jikamengkonsumsi sayuran organik.c. Komponen-komponen dari variabelini adalah yang melekat pada produksayuran organik, yaitu kesegaran,warna, merk, kandungan zat,manfaat bagi kesehatan, harga,kemasan dan kemudahan dalammemperoleh.Untuk mengetahui pengaruh normasubjektif yang timbul dari referenberdampak terhadap perilaku pembeliankonsumen terhadap sayuran organik akandicari menggunakan analisisnSN j1NBMCjjNB MC j j , dimananrjf xjj 1 , dannnrjf yjj 1 . Dimana S Nnadalah norma subjektif, NB jadalahkeyakinan normatif individu, MC jadalahmotivasi dari referen, r j adalah bobotskor ke- j, f(x j ) adalah jumlah respondenyang memiliki bobot skor ke-j untukvariabel keyakinan normatif (NB j), f(y j )adalah jumlah responden yang memilikibobot skor ke-j untuk variabel motivasi(MC j), dan n adalah jumlah referen yangrelevan (Umar, 2002).Variabel ini bersifat eksternal danmempunyai pengaruh terhadap perilakuindividu. Variabel ini menekankan bahwareferen atau orang lain yang dipercayaberpengaruh terhadap keputusan individudalam membeli sayuran organik. Variabel1788Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


sikap menurut Fishbein terbagi menjadidua :a. Variabel keyakinan normatif, yaitukeyakinan normatif konsumenbahwa orang lain (referen) yangberpendapat bahwa konsumensebaiknya mengkonsumsi sayuranorganik.b. Variabel motivasi, yaitu motivasikonsumen untuk menuruti pendapatorang lain (referen).c. Komponen-komponen dari variabelini terdiri dari: Legalitas produk,media massa, orang tua, temandekat, masyarakat umum.Untuk mengetahui perilakupembelian konsumen terhadap sayuranorganik berdasarkan sikap dan normasubjektif konsumen, akan digunakanpersamaan sebagai berikut (Umar,2000):BI = W 1(AB) + W 2(SN)BI = Perilaku konsumen(behaviour intention)AB= Sikap total individu terhadapatribut sayuran organikSN = Norma SubjektifW 1W 2= Bobot yang ditemukansecara empiris, menggambarkanpengaruh relatif dari komponen. Nilai W 1dan W 2didapat dengan menggunakanpendekatan dari data empiris yaitudengan menghitung skor jawabanresponden terhadap norma subjektif.Nilai W 1didapat dari persentase skorpilihan jawaban c dan d, nilai W 2didapatdari persentase skor pilihan jawaban adan b. Nilai W 1+ W 2= 100%. Dapatdikatakan jika pengambilan keputusanlebih banyak dilakukan oleh konsumensendiri, maka nilai W 1< W 2. sebaliknya,jika pengambilan keputusan lebih banyakdilakukan pihak lain, maka W 1>W 2.Apabila nilai BI positif (lebih besardari 0), maka perilaku pembeliankonsumen terhadap sayuran organikdiketegorikan baik. Namun, jika diperolehnilai BI negatif (lebih kecil dari 0 ), makaperilaku konsumen dapat diketegorikantidak baik terhadap sayuran organik.Hasil dan Pembahasan1.Analisis Sikap Konsumen terhadapPembelian Sayuran OrganikSikap konsumen terhadap atributsayuran organik merupakan responkonsumen baik positip maupun negatifsebelum mengkonsumsi dan setelahmengkonsumsi terhadap produk sayuranorganik. Model fishbein menekankanbahwa sikap konsumen terhadap atributsuatu produk terbentuk karena adanyakeyakinan terhadap atribut produk yangrelevan dengan keinginan konsumenserta hasil evaluasi terhadap atributproduk tersebut. Sikap merupakankonsep paling penting dalam studiperilaku konsumen. Dengan mempengaruhisikap konsumen, para pemasardapat mempengaruhi perilaku pembeliankonsumen. Keyakinan berkaitan denganseberapa yakin seseorang akankebenaran sikapnya. Suatu sikap yangdiikuti oleh keyakinan tinggi selain sulitberubah, juga besar kemungkinannyadiwujudkan dalam perilaku.Pengukuran sikap merupakanmasalah pokok dalam pelbagai situasipemasaran. Menentukan sikap dariperlbagai segmen pasar yang berbedabedaterhadap suatu produk merupakanhal yang penting sekali untukpengembangan strategi “penempatan”(positioning strategy). Pengukuransikap sering merupakan dasar untukmengevaluasi efektivitas periklanan.1789Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Sebagai tambahan, hubungan yangdiasumsikan antara sikap dan perilakumembantu dalam peramalan produk dandalam pengembangan program-programpemasaran (Kinnier, 1997).Sikap konsumen telah diteliti dengansangat intensif, tetapi pemasar cenderunglebih memperhatikan perilaku nyatakonsumen khususnya perilaku pembeliankonsumen. Oleh karena itu dibangunhubungan antara sikap dan perilaku.Sikap terhadap objek pembelian sayuranorganik akan dikaitkan dengan perilakuterhadap objek pembelian sayuranorganik. Semakin baik sikap konsumenterhadap produk, semakin tinggikemungkinan konsumen tersebutmembeli atau menggunakan produktersebut. Oleh karena itu akan diukursikap total individu terhadap atributsayuran organik berdasarkan variabelkeyakinan dan variabel evaluasi yangtelah diperoleh.Sikap konsumen terhadap produksayuran organik bernilai positif sebesar7.332, yang berarti secara keseluruhankonsumen memiliki sikap positif terhadapproduk sayuran organik. Sikap konsumenyang positif terhadap produk sayuranorganik dibangun oleh kepercayaan(keyakinan) dan evaluasi konsumenterhadap atribut sayuran organik yangditeliti secara keseluruhan. Kepercayaandan evaluasi konsumen terhadap produksayuran organik menentukan sikapkonsumen terhadap keputusanmengkonsumsi sayuran organik.Besaran skor kepercayaan, evaluasi, dansikap konsumen terhadap atribut sayuranorganik ditampilkan pada Tabel 1 berikut.Hasil penelitian menunjukkan bahwaatribut manfaat bagi kesehatan menjadipenentu utama sikap konsumen dalampengambilan keputusan mengkonsumsisayuran organik dengan skor 2.402. Halini mengindikasikan bahwa konsumenmemahami bahwa sayuran organik lebihbermanfaat bagi kesehatan, karenadikonsumsi lebih aman. Kemudian diikutioleh atribut kandungan zat sayuranorganik dengan nilai 2.152, atributkesegaran dengan skor 1,067, atribut rasadengan skor 1,032, dan seterusnya. Sikapkonsumen akan atribut ini membuatkonsumen mengambil keputusan dalamberperilaku membeli produk sayuranorganik. Pertimbangan tidak adanyakandungan residu bahan kimia yang dapatmembahayakan kesehatan manusiadalam sayuran organik, kandungan zat,No.1.2.3.4.5.6.7.8.9.Tabel 1. Sikap Konsumen terhadap Produk Sayuran OrganikAtribut Sayuran OrganikKepercayaan Evaluasi Sikap Konsumen(bi) (ei) (bi x ei)Kesegaran1.233 0.867 1.067Warna0.933 0.633 0.590Rasa1.067 0.967 1.032Merk0.167 0.033 0.006Kandungan zat1.467 1.467 2.152Manfaat bagi kesehatan 1.533 1.567 2.402Harga0.200 0.333 0.067Kemasan0.100 0.867 0.087Kemudahan memperoleh 0.133 -0.533 -0.071Nilai Sikap Konsumen 7.3321790Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


kesegaran, dan rasa menjadi alasanalasanpenting dalam pengambilankeputusan mengkonsumsi sayuranorganik oleh konsumen. Sedangkankemudahan memperoleh tidak menjadipertimbangan bagi konsumen dalampengambilan keputusan membeli sayuranorganik, karena bernilai negatif sebesar0,533.Persepsi positif terhadap suatuproduk telah membetuk keyakinankonsumen untuk mengkonsumsi produktersebut, demikian juga sebaliknya.Namun, keinginan yang bulat untukmembeli suatu produk sering kali harusdibatalkan karena beberapa alasan,diantaranya produk yang akan dibeli tidaktersedia. Hal ini dapat menjadi penyebabkonsumen tidak tertarik lagi untukmembeli produk tersebut untukselanjutnya (Sumarwan, 2002). Namundalam hal mengkonsumsi sayuranorganik, faktor kemudahan memperolehtidak menjadi faktor penting dalampenilaian konsumen, karena pertimbanganterhadap atribut manfaatterhadap kesehatan dan kandungan zatpada sayuran organik lebih diutamakankonsumen. Engel et al (1995) menyatakanbahwa sikap adalah evaluasimenyeluruh terhadap suatu produk yangdapat berkisar dari ekstrim positif hinggaekstrim negatif.1.1.Keyakinan Konsumen terhadapAtribut Sayuran Organik (bi)Sikap konsumen dalam pengambilankeputusan mengkonsumsi sayuranorganik dipengaruhi oleh keyakinan(kepercayaan) konsumen terhadapproduk tersebut. Keyakinan (bi) adalahanalisis pernyataaan tentang keyakinanyang timbul dari dalam diri konsumenterhadap atribut yang dimiliki sayuranorganik. Atribut yang diteliti adalahkesegaran, warna, merk, kandungan zat,manfaat bagi kesehatan, harga, kemasandan kemudahan dalam memperolehsayuran organik.Konsumen meyakini bahwa atributmanfaat bagi kesehatan merupakanatribut yang paling dipercayai dalammemilih produk sayuran organik, dengannilai sebesar 1.533, diikuti oleh atributkandungan zat dengan skor 1,467, atributkesegaran dengan skor 1,233, dan atributrasa dengan skor 1,067, serta atribut lainseperti pada Tabel 1. Keputusanpembelian sayuran organik olehkonsumen lebih dipengaruhi oleh manfaatsayuran organik bagi kesehatan,sehingga menjadi pertimbangan utamauntuk memenuhi kebutuhan kesehatan.Secara keseluruhan atribut-atributpada sayuran organik yang ditelitimenunjukkan nilai yang positif. Hal inimenunjukkan bahwa konsumen memilikikepercayaan yang positif terhadap semuaatribut sayuran organik yang terdapatdipasaran.1.2. Evaluasi Konsumen terhadapAtribut Sayuran Organik (ei)Evaluasi (ei) adalah analisispernyataan tentang penilaian yang timbuldari dalam diri konsumen akibat membeliproduk sayuran organik tanpadipengaruhi faktor-faktor eksternal.Biasanya dalam hal ini konsumenmelakukan evaluasi terhadap akibatakibatatau kerugian-kerugian maupunkeuntungan yang ditimbulkan jikamengkonsumsi sayuran organik.Pernyataan konsumen tentang evaluasiatribut produk sayuran organik diperolehbahwa atribut manfaat bagi kesehatanmenjadi faktor utama dalam melakukankeputusan pembelian. Hal ini berarti1791Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


ahwa manfaat sayuran organik bagikesehatan konsumen, karena tidakmengandung residu bahan kimia sehinggamenjadi acuan utama bagi konsumen.Atribut manfaat bagi kesehatanmempunyai nilai tertinggi yaitu sebesar1.567. Hal ini mengindikasikan bahwaperubahan perilaku konsumsi terhadapsayuran organik lebih disebabkan olehadanya evaluasi positif oleh konsumenterhadap manfaat sayur organik bagikesehatan.Atribut lain yang menjadipendukung evaluasi konsumen terhadapsayuran organik adalah kandungan zatdengan skor sebesar 1.467, dan atributlain memiliki skor yang raltif kecil. Halini berati bahwa suatu evaluasikepercayaan konsumen akan sikappositifnya terhadap atribut manfaatkesehatan dan kandungan zat yang amanbagi kesehatan lebih pentingdibandingkan dengan atribut lainnya. Halini disebabkan oleh informasi yangmenyebutkan bahwa sayuran organikdiproduksi dengan menggunakan bahanorganik dan tidak menggunakan bahankimia dalam pembudidayaan membentukpersepsi positif konsumen terhadapproduk sayuran organik yangdikonsumsi. Sementara itu, kemudahanmemperoleh tidak menjadi penting bagikonsumen dalam pengambilan keputusanmengkonsumsi sayuran organik. Hal iniditunjukkan oleh skor kemudahanmemperoleh yang bernilai negatif.2. Analisis Norma SubjektifKonsumen terhadap SayuranOrganikNorma subjektif terbetuk karenaadanya keyakinan normatif dan motivasidari referen yang dipercayai olehkonsumen. Penilaian terhadap normasubjektif dimaksudkan untuk mengetahuiapakah lingkungan sosial mempengaruhiperilaku konsumen dalam mengkonsumsisayuran organik. Adapun referen yangdigunakan dalam hal ini yaitu legalitasproduk serta orang-orang di sekitar.Referen bertindak sebagai stimulus(pemberi pengaruh) yang artinyaseseorang melakukan tindakan karenaadanya orang lain atau kejadian lain yangmenjadi acuan.Hasil penelitian menunjukkan bahwanorma subjektif responden diperoleh nilaisebesar -0.133. Hal ini mengindikasikanbahwa bahwa pengaruh referen (legalitasproduk serta orang sekitar) tidak timbulterhadap keputusan pembelian sayuranorganik. Dalam hal ini, motivasi dapatmemperlihatkan seberapa besarpengaruh legalitas produk dan orangorangsekitar menentukan besarnyanorma subjektif terhadap sayuranorganik. Nilai motivasi yang ditunjukkanmasing-masing referen adalah negatif.Artinya dalam mengambil keputusanpembelian, konsumen hanya mempertimbangkansikap pribadi yang timbulterhadap keyakinan atribut sayuranorganik.Berdasarkan komponen penilaianterhadap norma subjektif diperolehbahwa faktor legalitas produk tidakmenjadi faktor yang mempengaruhikonsumen dalam mengkonsumsi sayuranorganik. Sedangkan pengaruh orangorangsekitar menjadi penting dalammempengaruhi sikap konsumen untukmengkonsumsi sayuran organik. Hal inimengindikasikan bahwa keputusanmengkonsumsi sayuran organik olehkonsumen lebih disebabkan olehpengaruh orang sekitar dibandingkandengan legalitas produk itu sendiri.1792Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Tabel 2. Norma Subjektif Responden Terhadap PembelianSayuran OrganikReferenLegalitas produkOrang-orangsekitarKeyakinanNormatif(NBj)0.567-0.333Motivasi Konsumen(MCj)-0.633-0.667Norma Subjektif(NBj x MCj)-0.3580.225Norma Subjektif Konsumen -0.133Norma subjektif dibangun oleh dua faktoryaitu keyakinan normatif ( NBj), danmotovasi konsumen ( MCj). Besaranpengaruh faktor tersebut terhadap sormasubjektif konsumen dijelaskan sebagaiberikut.2.1.Keyakinan Normatif (Nbj)Konsumen terhadap ProdukSayuran OrganikVariabel keyakinan konsumenterhadap referen adalah keyakinankonsumen mengenal pengaruh keyakinanorang lain terhadap produk sayuranorganik. Hasil analisis keyakinan normatifkonsumen terhadap produk sayuranorganik menunjukkan bahwa legalitasproduk bernilai positif sebesar 0.567. Halini berarti keyakinan konsumen terhadapsayuran organik dipengaruhi oleh referenyang relevan. Referen yang menjadiacuan konsumen dalam membeli produkdipengaruhi oleh legalitas produk dancukup berperan dalam keputusanpembelian.Untuk keyakinan normatifkonsumen terhadap referen orang sekitarmemperoleh nilai negatif yaitu sekitar-0.333. Hal ini dikarenakan referenorang sekitar bukan merupakan referenyang relevan. Konsumen yangmelakukan pembelian tidak berdasarkanacuan referen orang sekitar, melainkanberdasarkan pengalaman pribadikonsumen terhadap produk. Referenorang sekitar tidak mempengaruhikonsumen dalam mengambil keputusanpembelian sayuran organik. Pengambilankeputusan pembelian oleh konsumendapat dipengaruhi oleh dorongan.Dorongan merupakan reaksi terhadapinformasi yang diterima konsumen.Proses informasi terjadi ketika konsumenmengevaluasi informasi dari berbagaisumber seperti iklan, teman, ataupengalaman sendiri terhadap suatuproduk. Kemudian pengaruh sentral ataspilihan konsumen adalah konsumen itusendiri. Konsumen digambarkan denganvariabel pemikiran dan karakteristik.Variabel pemikiran konsumen adalahfaktor kognitip yang mempengaruhipengambilan keputusan.2.2.Motivasi Konsumen (MCj)dalam Mengkonsumsi ProdukSayuran OrganikMotivasi konsumen untuk menurutireferen adalah motivasi konsumen ataspengaruh dari pandangan orang laindalam memilih produk sayuran organik.Motivasi konsumen dalam mengkonsumsisayuran organik tidak timbulkarena pengaruh legalitas seperti yangsering diinformasi iklan di media massa.1793Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Hal ini dikarenakan konsumenmempunyai latar belakang pengalamanpribadi ketika membeli danmengkonsumsi sayuran organik. Hal iniditunjukkan dengan perolehan nilai yangnegatif yaitu -0.167.Hal yang sama juga ditunjukkan olehreferen orang sekitar yang bernilainegatif -0.667. Hal ini mengindikasikanbahwa pengambilan keputusan olehkonsumen dalam mengkonsumsi sayuranorganik tidak dipengaruhi oleh referenlingkungan sosial. Hal ini dapat terjadikarena konsumen mempunyai evaluasiyang baik terhadap produk sepertikandungan zat dan manfaat sayuranorganik, disamping itu juga konsumenmelakukan keputusan pembelianberdasarkan kebutuhan.3. Perilaku Konsumen dalamPembelian Sayuran OrganikHubungan antara komponen dalamModel Fisbein dapat dikatakan bahwaperilaku adalah maksud dari fungsiperilaku dan faktor lain yangmempengaruhi. Dengan kata lainperbuatan adalah fungsi dari keinginanuntuk berbuat yang telah terbentuksebelumnya dan faktor situasional yangmempengaruhi subjek. Jadi Fishbeinmengatakan maksud membeli bukanlahsatu-satunya prediktor perilaku. Maksudperilaku dibentuk oleh dua komponenyaitu sikap terhadap perilaku dan normasubjektif. Berdasarkan penilaianterhadap sikap dan norma subjektifkonsumen, maka dihitung bobot empirismenggunakan persentase rata-rata utukmengetahui perilaku konsumen dalampembelian sayuran organik di KotaPekanbaru.Berdasarkan Tabel 3 terlihatW2


Dengan menggunakan modelpersamaan Fishbein maka dapatdiprediksi perilaku konsumen dalammembeli sayuran organik sebagai berikut:BI = W1 (AB) + W2 (SN)BI = 53.50 (7.332) + 46.50(-0.133)= 392.262 + (-6.1845)= 386.0775Berdasarkan hasil perhitungan diatas, maka disimpulkan bahwa nilaitersebut menunjukkan perilaku konsumendalam membeli sayuran organik sangatbaik. Terlihat dari minat membelikonsumen yang sangat tinggi. Sepertiyang diungkapkan oleh Umar (2000), jikanilai BI positif menunjukkan perilakupembelian konsumen yang cukup tinggi.Perilaku pembelian yang ditandaidengan sikap positif konsumen terhadapatribut sayuran organik terutama atributmanfaat bagi kesehatan. Hal inimenunjukkan bahwa produk sayuranorganik diterima dengan sangat baik olehkonsumen. Perilaku konsumen dalammembeli produk sayuran organikmenunjukan hasil yang positif dengannilai 386.0775 dan timbul bukan darireferen, melainkan dipengaruhi olehmotivasi pribadi konsumen.KesimpulanBerdasarkan hasil penelitianperilaku konsumen terhadap pembeliansaturan organik di Kota Pekanbaru, dapatdisimpulkan sebagai berikut:1. Keputusan pembelian sayuran organikoleh konsumen ditentukan oleh sikapkonsumen yang positif terhadapproduk sayuran organik, yangdidasarkan pada keyakinan danevaluasi konsumen terhadap atributproduk. Keyakinan konsumen akanatribut manfaat bagi kesehatanmerupakan atribut yang palingdipercayai dalam memilih produksayuran organik. Sedangkan evaluasikonsumen terhadap atribut sayuranorganik menunjukkan atribut manfaatbagi kesehatan menjadi faktor utamadalam melakukan pembelian.2. Keputusan pembelian produk sayuranorganik oleh konsumen di KotaPekanbaru tidak dipengaruhi olehpengaruh referen lingkungan sosialkonsumen. Sikap yang positifterhadap produk sayuran organik lebihutama dibandingkan dengan referenbagi konsumen. Hal ini ditunjukkanoleh nilai norma subjektif konsumenterhadap sayuran organik yangbernilai negatif, di mana keduareferen yaitu legalitas produk danorang sekitar tidak berpengaruhterhadap keputusan pembeliankonsumen.3. Perilaku konsumen dalam membeliproduk sayuran organik menunjukanhasil yang positif dan timbul bukandari referen, melainkan dipengaruhioleh sikap dan motivasi pribadikonsumen.1795Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Daftar KepustakaanBahar, Yul Harry. Pertanian Organik,ataukah Pertanian Berkelan-jutan.Hortikultura.go.id. Diakses padatanggal 27 Desember 2007Kotler, P., 1996. Manajemen PemasaranAnalisis Perencanaan Implementasidan Pengendalian. Jilid I.Erlangga . YakartaRangkuti, F. 2002. Riset Pemasaran.Gramedia Pustaka Utama. JakartaSetiadi, N. 2003. Perilaku Konsumen danImplikasi untuk Strategi d a nPenelitian Pemasaran. PrenadaMedia. JakartaSimamora, B. 2004. Panduan Riset PerilakuKonsumen. Gramedia Pustaka Utama.Jakarta_______. 2001. Prinsip-Prinsip Pemasaran.Erlangga. JakartaNawawi, H. 2001. Metode Penelitian BidangSosial. Gadjah Mada UniversityPress. YogyakartaPracaya. 2004. Bertanam Sayuran Organikdi Kebun, Pot, dan Polibag. PenebarSwadaya. JakartaSutisna. 2002. Perilaku Konsumen danKomunikasi Pemasaran. PT. RemajaRosda Karya. BandungUmar, H. 2002. Riset Pemasaran danPerilaku Konsumen. GramediaPustaka Utama. Jakarta1796Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


STUDI TENTANG GANG DI PASAR BAWAH(Analisis Tentang Keberadaan Gang danProses Diwarisinya Nilai Gang oleh Penerus)Aswin Azhar Siregar*) Auda Murad dan Mardianto Manan**)Abstract: The objective of the research is to analyze the life, the existency and the developmentof gang’s value and the process of inheritance by the young generation of the gang. By usingthe theory and concept of Primary Group, Gang, Urbanism, Delinquent Subculture andDifferential Association, the Writer analyzed the gang’s problem in the context of city life.Miller concluded that “...youth Gangs were accurately seen as a predominantly urbanphenomenon”. Since 1998, most of the city in Indonesia has undergone the gang’s problemseven the case, in which the youth group were involved, has increased drastically by ten timesbased on police’s record during 1986 to 2005. This phenomenon also happen in PekanbaruCity especially in a trading zone named Pasar Bawah and its surrounding. This research hastaken place in that area for almost six months starting June 2007 till January 2008.This research was conducted in a qualitative approach. To collect all the data, the Writerhas interviewed all the key informan by in-depth interview. The Writer has also observed theobject in the field and studied many related documents. Only in this trianggulation model thebest answer to the research questions could be found.Finding of the research is that the gangs in Pasar Bawah Pekanbaru have the characteristicwhich’s possibly traced to the beginning of group development, that is the childhood andteenage period. Pasar Bawah and all other factors inside this area has played an important roleto the gang’s development and the variety of gang’s activities. The most powerful gang inPasar Bawah is Gang KD. This Gang has the characteristic of primary group and primaryrelations which is observable. Gang KD is a solidified type gang which means the relationshipbetween the gang’s member tied strongly. Some conflict inside and outside the gang hasdeveloped the group conciousness and group solidarity. Nevertheless, the gang’s activitiesis against the general norm of society. Gang KD has shown a non corforming activities so thatit has developed the gang’s subculture and make the members feel no fear of social sanctionor formal (law) sanction. A dominant subculture inside this gang is a criminal subculture but,sometimes, it has also the conflict subculture and retreatist subculture. The Gang’s traditionand value has transmitted to the new recruits or candidates trough a closed relationship andintimacy. A senior gang’s member is a role model for the new one (junior). Gang has become amean of delinquency technic transfer.Based on the finding and analysis, a recomendation has been given to the local authorityto begin a redevelopment of the area and provide the social facilities which is not congenialfor the growth of the gang including criminal gang or criminal organization. Finally, delinquencyand crime must be prevented and controlled to maintain security and order and to create a civilsociety that life in harmony.*) Alumni Mahasiswa Program Magister Sosiologi**) Dosen Program Magister Sosiologi Universitas Riau1797Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


PENDAHULUANIndonesia sebagai salah satu negaradunia ketiga mengalami “epidemic ofviolance” khususnya permasalahan“Gang”. Fenomena ini banyak terjadi dibeberapa daerah di Indonesia, misalnyadi Jakarta awal tahun 1997, terjadiperkelahian massal antara Gang yangdipimpin oleh Hercules dengan “Gang”yang dipimpin oleh Jose de Frates (Yus)yang memperebutkan wilayah pertokoandi Tanah Abang. Perkelahian massaltersebut mengakibatkan macetnyaperputaran roda ekonomi di kawasan itu(Herliyanto, 1997).Di awal tahun 90-an tidak banyakdaerah yang melaporkan permasalahanGang atau”Gang problems”, namunsejak tahun 1998 hampir semua daerahmelaporkan menghadapi “Gangproblems”. Laporan lima tahunan MabesPolri (2006), sejak tahun 1980 sampaidengan 2005 tercatat pertambahan kasuskejahatan yang melibatkan kelompokanak muda atau “youth Gang”. Laporanyang tercatat pada pihak kepolisianmenjadi lebih dari 10 kali lipat dalamperiode 1986-2005 dimana pada periode1986–1990 hanya ada 1634 kasus,meningkat menjadi 2728 kasus padaperiode 1991-1995, dan meningkatsecara tajam menjadi 6771 kasus padaperiode 1996-2000, dan selanjutnyaterindentifikasi 9228 kasus pada periode2001-2005. (Mabes Polri, 2006). Jumlahini tentu akan lebih besar seandainyasemua kejahatan yang terjadi dalammasyarakat dilaporkan atau tercatat padakepolisian. Diperkirakan jumlah yangtidak dilaporkan hampir sama ataumungkin lebih banyak dibandingkandengan kasus yang tercatat di kantorkepolisian.Rukmana (2005) menjelaskanmeningkatnya kejahatan yang dilakukankelompok anak muda, salah satunyadisebabkan berkembangnya subkebudayaan modern yang tidak terlepasdari konteks perubahan sosial yangmengikutinya. Pertumbuhan ekonomi dantingkat urbanisasi diyakini juga sebagaifaktor lain yang menyebabkanmeningkatnya kejahatan dalammasyarakat perkotaan (Anaroga, 1989).Selanjutnya Suparlan (1996) menjelaskanbahwa urbanisasi disatu pihak dapatmenguntungkan tingkat perkembangandan kesejahteraan hidup di kota, tetapidi lain pihak juga dapat menyebabkankemerosotan kondisi dan tingkatkesejahteraan hidup di kota.Pertumbuhan ekonomi yang tinggi disuatu kota menyebabkan persaingantenaga kerja terdidik semakin kompetitif.Akibatnya, tenaga-tenaga kerja yangtidak dan kurang terdidik semakinterpinggirkan karena kalah bersaing danakhirnya tingkat pengangguran menjaditinggi, sehingga muncul kegiatankegiatanekonomi sektor informal dan diikuti dengan kriminalitas sertaberkembangnya pemukiman kumuh(Suparlan, 1996).Kota Pekanbaru salah satu kotayang relatif besar jumlah penduduknyadengan tingkat pertumbuhan penduduksekitar 3,45 persen pada 1990–2005(BPS 2006) mengalami hal yang samadi mana selama tahun 5 tahun (2001-2005) terakhir tercatat 741 kasus yangdilaporkan sebagai akibat tindakankelompok anak muda atau rata-rata 11kasus per bulan (Poltabes PekanbaruTahun, 2000 - 2006). Korban dalam kasustersebut tercatat 17 orang meninggaldunia dan kerugian materil kurang lebih1798Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


4,07 Milyar Rupiah. Korban dan kerugianitu akan semakin besar jika dilihat daridampak sosial yang ditimbulkan seperti:perasaan tidak aman dan rasa takutmasyarakat, penundaan investasi,kemunduran usaha para investor, bahkankerugian yang mengakibatkanbangkrutnya sebuah perusahaan(Poltabes Pekanabaru, 2006).Berdasarkan hasil rekapitulasi dataGangguan kamtibmas Polsek Senapelan,dalam setahun terakhir ini masyarakattelah mengalami dan menyaksikanGangguan keamanan seperti pencuriankendaraan bermotor (curanmor),pencurian dengan kekerasan (curas),jambret, pemerasan oleh kelompokpemuda (Gang), pengrusakan,pengancaman, bahkan penipuan sampaipencurian ringan dan berat, sebanyak138 kali. Data selengkapnya lihat padalampiran 1 ’Data Kejahatan 2005-2007Per Kelurahan’ (Polsekta Senapelan,2007).Sebagaimana yang telah dijelaskanterdahulu bahwa angka kejahatan yangtercatat pada kepolisian baik di dalamwilayah Pekanbaru khususnya hanyamerupakan index laporan masyarakatyang tercatat di Poltabes Pekanbaru(sudah termasuk data dari PolsekSenapelan dan Pospol Pasar BawahSenapelan), sedangkan yang tidakdiketahui, atau diketahui tapi tidakdilaporkan, atau dilaporkan tetapi tidakdicatat jumlahnya dapat melebihi.Kawasan Pasar Bawah KecamatanSenapelan merupakan beat area (daerahrawan kejahatan) yang mendapatpenanganan khusus dari pihak PoltabesPekanbaru.Berdasarkan kenyataan di atas,maka perlu dilakukan suatu penelitianmengenai kegiatan yang dilakukan Gangdan anggota-anggotanya di suatu wilayahdan bagaimana Gang tersebut dapatmempertahankan eksistensi kelompoknyadari waktu ke waktu ditinjau dari teoridan konsep sosiologi perkotaan. Secarakhusus, topik dan penekanan dalampenulisan ini adalah kajian terhadapkegiatan-kegiatan Gang dan kehidupanpara anggotanya serta proses pewarisannilai-nilai Gang dari generasi ke generasi.PERUMUHAN MASALAHBerdasarkan latar belakang masalahtersebut, maka permasalahan pokok yangdijadikan sebagai obyek penelitian adalah1. Siapa saja Gang yang ada diPasar Bawah Pekanbaru?2. Bagaimana karekter Gang danprofil anggotanya?3. Apa saja bentuk kegiatan Gangdi Pasar Bawah Pekanbaru?4. Bagaimana Gang tersebutmembina kelangsungan hidupkelompoknya sehingga nilai-nilaiyang berlaku dalam Gang tersebutdapat diwarisi oleh penerusnya?PENDEKATAN DAN METODEPENELITIANPendekatan yang dipergunakandalam melakukan penelitian ini adalahpendekatan kualitatif di mana penulismencari fakta-fakta, fenomena tentangGang di Kota Pekanbaru, keberadaan,karakteristik dan kegiatan yang dilakukansetiap hari serta interaksi yang terjadiantar Gang dan kelompok lain, antaranggota Gang, dan antara anggota Gangdan orang-orang lain dalam kehidupannya1799Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


sehari-hari.A. Prosedur Pengumpulan DataLangkah yang dilakukan penulisdalam pengumpulan data meliputi : (1)menetapkan batas-batas penelitian, (2)mengumpulkan informasi melaluipengamatan, wawancara, dokumen danbahan-bahan visual, dan (3) menetapkanaturan untuk mencatat informasi.B.Pengumpulan dan Pencatatan DataPengumpulan data dilakukan mulaiSeptember 2007 hingga Desember 2007.Data yang dikumpulkan meliputiwawancara-wawancara denganinforman. Pengamatan terhadapkegiatan-kegiatan yang dilakukan olehGang KD di Pasar Bawah Pekanbaru.Lamanya pengamatan rata-rata dua jam,baik pada pagi, siang maupun malam hari.Jadwal pengamatan disesuaikan denganwaktu kerja penulis. Selain itu, informantelah setuju untuk merekam kesanpengalaman, pemikiran dan perasaannyadalam rekaman wawancara yangdilakukan dengan voice recorder.C. Prosedur Analisis Dataanalisis data mengharuskan penelititerbuka terhadap kemungkinankemungkinandan melihat pertentanganatau penjelasan alternatif temuan.HASIL DAN PEMBAHASANANALISIS KEBERADAAN GANGDI PASAR BAWAH PEKANBARUA. Kelompok-Kelompok Sosial danGang di Pasar BawahBerdasarkan catatan penelitian,penulis menemukan kelompok-kelompokberada dan atau beroperasi di PasarBawah dan Sekitarnya begitu banyakjumlahnya. Data-data kelompokkelompoktersebut dicross-chek ulangdengan catatan resmi di KantorKecamatan Senapelan, PolsekSenapelan, Kelurahan Kampung Dalam,Pospol Pasar Bawah, dan InstansiPengelola Pasar Bawah Pekanbaru.Penulis mengamati lebih dari dua puluhkelompok sosial yang terdapat di PasarBawah Pekanbaru. Nama-namakelompok, alamat domisili, dan tokohtokohkelompok sebagaimana terdapatpada lampiran 2. Tabel 1 berikutmenggambarkan tipe-tipe kelompok yangada di pasar bawah pekanbaru.Meriam (1988) dan Marshall andRossman (1989) berpendapat bahwapengumpulan dan analisis data harusmerupakan sebuah proses yangbersamaan dalam penelitian kualitatif.Proses analisis data bersifat pilih-pilih ;tidak ada cara yang benar (Tesch 1980).Data yang dihasilkan melalui wawancara,pengamatan dan penelitian dokumendokumententang Gang KD di pasarbawah Pekanbaru sangat banyak, sebab1800Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Tabel 1.Relationship IndicatorDitinjau dari Tipe-tipe kelompok di Pasar Bawah PekanbaruNama Kelompok Sosial AMPG BHYFKPPKp. BaruGEMPAR IKSS LHMR LDII SPSI NIBA Kp. DalamRelationship IndikatorGrouping TypeFamily X XNeighbourhood X XPlay group X X X XBusiness CorporationPolitical Party XProfessional Association X XSumber : Data Primer Penelitian, 2007Kelompok-kelompok sosial tersebuttidak seluruhnya bersifat primer, sepertikelompok Bhayangkari Kota Pekanbaru,Wanita Katolik Republik Indonesia,ataupun Lembaga Dakwah IslamIndonesia sebab hubungan yang terjadiantar anggotanya tidak bersifat primer.Meskipun beberapa kelompokmelakukan komunikasi face to facetetapi respon anggota terhadappermasalahan di dalam kelompoknyalebih merupakan respon terhadapindividu yang dipengaruhi oleh keakrabanpribadi. Sebagaimana disimpulkan dariwawancara penulis dengan Har, salahseorang anggota kelompok BHY,terhadap pertanyaan tentang lamanyaikatan kenal mengenal antar anggotakelompok bahwa “Saya sebelumnyatidak mengenal ketua, kira-kira dua tahunlalu, ketika ia pindah dan langsungmenjadi ketua kelompok kami, disitulahsaya mengenal dia”.Pertanyaan lain yang ditanyakanoleh penulis kepada Har tentang siapasaja yang membantu anggota-anggotakelompok ketika menghadapi masalahdalam kehidupan sehari-harinya, dijawabsebagai berikut, “kalau ada masalah,sebetulnya kami lebih banyak mintatolong kepada tetangga atau saudarakerabat, karena rasanya tidak pas jikaminta tolong kepada anggota atau ketuakelompok ini”. Informan jugamenjelaskan bahwa keikutsertaannyadalam kelompok BHY hanya untukberpartisipasi dalam kegiatan yangdijalankan kelompok. Pertanyaan yangserupa diajukan pula kepada anggotaanggotadari kelompok lainnya danpenulis mendapatkan jawaban yanghampir sama meskipun variasi lamanyakenal mengenal tidak sama antarkelompok.Kelompok-kelompok yang ditandaiciri kenal mengenal ditemukan puladiantara kelompok-kelompok yang adadi Pasar Bawah, seperti LaskarHulubalang Melayu Riau, ForumKomunikasi Pedagang Pasar, ForumKomunikasi Pemuda Pemudi KampungBaru, dan beberapa kelompok lainnya.1801Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Salah seorang anggota Kelompok KBmengambarkan kenal mengenal dalamkelompoknya sebagai berikut;“kebanyakan yang kumpul di sini, anakanakkampung baru. Maksudnyakeluarganya memang asli sini. Kamikenal sejak dulu dan tidak ada “orangluar” yang “gabung” ke sini”. Meskipunpada pengamatan terhadap kelompokKB menunjukkan adanya “orang-orangluar” yang bergabung dengan kelompoktersebut tetapi keberadaannya sudahditerima seperti orang dalam. Pengertian“orang luar” adalah orang-orang yangtidak bertempat tinggal di kampungtersebut sedangkan “orang dalam”sebaliknya.Penulis melanjutkan penggalianterhadap respon antar anggota dalamkelompok seperti yang dijelaskan olehMUH sebagai berikut “bagi kami sesamaanggota sudah biasa saling tolongmenolong. Biasanya kalau ada hajatandi salah satu rumah anggota, kami berbagitugas untuk membantunya”. Pendapatyang sama disampaikan juga olehanggota yang lain kepada penulis.“Bukan saja dalam acara hajatan, tapimacam-macamlah. Namanya juga kitasekampung”.Pertanyaan tentang solidaritas antarsesama anggota dijelaskan pula olehinforman kepada penulis sebagai berikut;“bagi kami, berbagai masalah yangTabel 2Indikator Hubungan Primer ditinjau dari “Usual Phisical Conditions”Nama Kelompok Sosial AMPG BHYFKPPKp. BaruGEMPAR IKSS LHMR LDII SPSI NIBA Kp. DalamDirectCommunicationX X XRelationship IndikatorUsual Physical ConditionsSpatial Proximity X XSmall numbers ofmembersLow membershipturnoverContinuousinteractionX X XX X X XX X XLong Duration X XIndirectCommunicationX X X XSpatial Distance X X X X XLarge numbers ofmembersHigh membershipturn overPeriodicinteractionX X X XX X X XX X X X XBrief duration X X X X XSumber : Data Primer Penelitian, 20071802Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


menimpa anggota kami, selalu kami bantusebisanya. Ada semacam tanggungjawab bersama antar sesama anggotakelompok”. Broom and Selznik (1963)membahas intimacy and encounterdalam primary group sebagai berikut;“from the stand point of individual, theprimary group has adual significant(1) it is haven or revuge, a place ofcomfort and protection; and (2) it isthe locale within which the maindrama of individuals, personal live isacted out. Artinya, bagi individu, primarygroup di mana ia berada setidak-tidaknyamemiliki dua makna yakni sebagai tempatdi mana ia mendapatkan kenyamanandan perlindungan, dan sebagai tempat dimana ia melakukan seluruh aktivitasnyasebagai bagian dari kegiatan kelompoksecara menyeluruh. Gangguan terhadapanggota kelompok dianggap sebagaiGangguan terhadap kelompok.Dari hasil pengumpulan datasekunder, khususnya catatan di kantorkepolisian, penulis mengetahui bahwakelompok KB pernah terlibat dalamperkelahian dengan kelompok lain yangada di Pasar Bawah Pekanbaru. Catatankepolisan menyebutkan bahwa penyebabperkelahian adalah ketersinggungan antarindividu akibat ucapan yang tidak pantasterhadap pribadi si A sehingga terjadiperkelahian antar individu yang padaakhirnya berubah menjadi perkelahianantar kelompok. Penulis menanyakanulang permasalahan tersebut kepadasalah seorang anggota kelompok KB.Apakah ia atau kelompoknya pernahterlibat perkelahian dengan kelompok laindi Pasar Bawah? Informan RAMmengatakan “seingat saya, ada dua atautiga kali pernah terjadi perkelahiandengan kelompok lain. Sebabnya hanyamasalah pribadi. Tapi karena kitaTabel 3Relationship Indikator: Normative RequirementsPada Kelompok-Kelompok Di Pasar Bawah PekanbaruNama Kelompok Sosial AMPG BHYFKPPKp. BaruGEMPAR IKSS LHMR LDII SPSI NIBA Kp. DalamInformal Expectations X X X X XInvolve whole Persons X X XRelationship IndikatorNormative RequirementsStress affective relationship X X XFormal Prescriptions X X XInvolve behavioural segments X X X X XStress instrumental relationship X X X X Xelaborate division of labor X XSumber : Data Primer Penelitian, 20071803Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


ersaudara, maka kita harus melindungisaudara kita itu”. Pak NAS, tokohmasyarakat di luar kelompok yangdiwawancarai, menjelaskan situasitersebut sebagai berikut; “orang-orangkelompok KB itu, memang selalu bikinulah. Dan kalau mereka “datang” selaluberamai-ramai”. Tindakan kelompokyang mengambil alih tanggung jawab danpermasalahan anggotanya merupakansuatu bentuk peleburan tujuan-tujuanindividu ke dalam tujuan-tujuan kelompokyang melembaga dan dipraktekkan dalamhubungan antar kelompok yang satudengan kelompok yang lain. NASmenambahkan bahwa “kelompokkelompokseperti KB tidak hanyameresahkan karena perkelahian, tetapijuga melakukan kegiatan-kegiatanlainnya, seperti berkumpul, bernyanyi disimpang sampai larut malam, dan takjarang juga mereka minum-minum”.Penulis menanyakan apakah adakelompok lain yang melakukan hal-halyang sama dengan kelompk KB di PasarBawah, “Ada satu lagi yang lebih gawat,yaitu kelompoknya si RK. Itu kumpulananak-anak Kampung Dalam”.Dengan demikian, apa yangdikatakan Colley tentang primary groupyang ditandai dengan karekter intimateface to face association andcooperation dimana pada tingkattertentu terjadi peleburan tujuan indvidudan kelompok yang tidak dapatdibedakan, dapat ditemui pada kelompokKB dan kumpulan anak-anak KampungDalam.Tabel 4Relationship Indicator : Sanksi & Kontrol Dalam Kelompokdi Pasar BawahNama Kelompok Sosial AMPG BHYFKPPKp. BaruGEMPAR IKSS LHMR LDIISPSI NIBAKp. DalamPersonal Control X X X X XInformally administered X X X X XRelationship IndikatorSanctionsinvolve primary internal constrain X X X Ximposed by group itself X X XImpersonal Control X X XFormally administered X X Xinvolve chiefly external constrain X X X XImposed by designated enforcements official X X X XSumber : Data primer penelitian, 20071804Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Berdasarkan penjelasan-penjelasandi atas, kelompok-kelompok di PasarBawah, hubungan-hubungan primerantar anggota kelompok, karekteristikprimary group dan adanyakecenderungan berbuat menyimpangdari norma-norma umum yang berlakudalam masyarakat-penulis menyimpulkanterdapat beberapa Gang di PasarBawah Pekanbaru yaitu Gang KD,BARA dan OKP-PP.B. Karakteristik Gang dan ProfilAnggotanyaGang-gang yang ada atau beroperasidi Pasar Bawah memiliki karakteristikyang hampir sama. Hal ini terutamaditentukan oleh asal mula Gang sertakondisi lingkungan yang cocok/sesuai(congenial) bagi terbentuknya gang.Penulis tidak memasukkan organisasiorgansisasipemuda dan serikat pekerjayang jumlahnya banyak di Pasar Bawahsebab kelompok ini lebih menampilkanciri-ciri organized crime.Gang KD dapat dikatakan sebagaikelompok yang paling berkuasa dan yangpertama-tama mempraktekkan kegiatankegiatanGang di Pasar BawahPekanbaru. Hal ini sesuai denganpenjelasan beberapa orang informankunci yang penulis temui. Misalnya BUNyang sejak lahir sampai saat ini terusmenerus tinggal di Kampung Dalam dankini ia bekerja sebagai security tidak tetapdi salah satu pusat perbelanjaan pasartersebut. “Orang-orang yang termasukke dalam kelompok KD berada di PasarBawah kira-kira tahun 70-an. Merekamenjalani kehidupan yang hampir tidakberubah sejak masih kanak-kanak.Ketika mereka mulai dewasa merekaingin mencari pekerjaan tetapi banyakyang tidak diterima oleh pemilik tokosehingga mereka menjadi pengangguran,dan menghabiskan waktu di sekelilingpasar untuk mencari kesempatanmendapatkan uang”.Pendapat yang sama disampaikanseorang tokoh di wilayah Pasar Bawahdan sekitarnya, FAT menjelaskan“kelompok-kelompok lain di sini kalaumau ikut beroperasi, biasanya minta izindulu pada kelompok KD”. Ketika penulismenanyakan mengapa mereka memintaizin, FAT menjawab “di Pasar Bawah iniidentik dengan kekuasaan dan pengaruhkelompok KD. Boleh di bilang kalauberoperasi tanpa sepengatahuan danseizin mereka, sama saja dengan mencarimasalah”.Tabel 5Reaksi Positif Antar Anggota Gang KDPositive Reaction Kasus Persentase (%)Shows Solidarity 4 14.8Shows Tension Release 6 22.2Shows Agreement 17 63Jumlah Kasus 27 100Sumber : Data Primer Penelitian, 20071805Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


m e n y e n a n g k a n , a p a k a h p e r n a h B U S d a nk a w a n - k a w a n n y a m e n g a l a m i p e r i s t i w ay a n g m e n y e d i h k a n b e r s a m a - s a m a ? B U Sm e n j a w a b “ p e r n a h , y a n g p a l i n g s a y ai n g a t , w a k t u k a m i t e r t a n g k a p m e n c u r ik a b e l d i p e l a b u h a n . K a m i d i b a w a k ek a n t o r p o l i s i d a n s e m p a t d i k u r u n g d u aDari Tabel 5, terlihat bahwa reaksipositif tertinggi berada pada indikatorshows agreement, yang berarti sesamaanggota Gang saling menyetujuikeputusan, tindakan dan kegiatan yangdilakukan oleh anggota lainnya.Meskipun rasa solidaritas terlihat kecilpada skala di atas, sesungguhnyapersetujuan, saling membagi perasaan(tekanan) dan solidaritas merupakansuatu kesatuan reaksi positif yangditunjukkan oleh anggota Gang terhadapanggota Gang lainnya.Penulis sependapat dengan apa yangdijelaskan oleh Tharaser (1968) tentangterbentuknya loyalitas pada TheNotoriuos Glorrians Gang : this desireto escape family supervision markedthe beginning of our feeling ofsolidarity. Out first loyalities were toprotect each other againts ourparents. Sometimes the letter wereregarged with great dislike by theGang. The mother of one boys, whowas very unkind to him, viewed us withequal hatred and once threw a pan ofdishwater on us when we werewhistling for our pal”.Tanda awal dari terbentuknya rasasolidaritas adalah tindakan salingmelindungi tidak hanya terhadapGanguan dari luar tetapi juga terhadapkontrol keluarga dan orang tua. Tabel 5di atas menunjukkan bagaimanasolidaritas yang terjadi dalam Gang KDyang disimpulkan dari kasus-kasusdiketahui melalui wawancara danpengamatan terhadap anggota-anggotaGang KDTabel 5 di atas juga menggambarkaninteraksi antar anggota dalam 3 indikatorreaksi positif. Sebagaimana disimpulkandari jumlah kasus dimana anggota GangKD pada setiap permasalahanmemberikan reaksi postif, interaksi yangterjadi lebih menunjukkan adanyakesesuaian ( agreement), salingpengertian, serta solidaritas. Sebagianbesar anggota Gang menunjukkanpersetujuan kepada anggota lainmeskipun hal tersebut tidak jelasdiketahui permasalahannya oleh anggotaGang tersebut. Keterangan-keterangandan penjelasan tentang awalterbentuknya Gang KD, baik yangdisampaikan oleh anggota Gang maupunoleh informan lain di luar Gang KDmemberikan keyakinan kepada penulisbahwa Gang KD merupakan tipe Gangyang solid (solidified type).Masa awal terbentuknya Gang KDdapat ditelesuri ulang dari penjelasanpenjelasantentang kenakalan-kenakalanmasa kecil dan remaja anggotanya,kebiasaan-kebiasaan yang dilakukanuntuk mengisi waktu-waktu luang sertakonflik-konflik dengan kelompok lainatau masyarakat sekitar pasar bawah.BUS seorang anggota Gang KDmenceritakan kepada penulis tentangkenakalan-kenakalan yang dilakukannyabersama kawan-kawannya di sekitarpelabuhan dan Pasar Bawah “ Groupkami ada lima orang. Macam-macamyang kami buat. Dulu, toko si Abun itu,sering kami curi dagangannya, sepertilimun, susu kaleng dan sebagainya. Hasilcurian itu kami habiskan bersama-sama”.Kemudian penulis menanyakan kepadaBUS, selain kegiatan masa lalu yang1806Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


hari sampai keluarga kami datangmenjemput. Seorang kawan saya lolos,tapi kami tidak menceritakan itu kepadapolisi”.Keakraban dan kesetiaan anggotaGang KD masih dipegang teguh hinggakini. RM anggota polisi menjelaskanbetapa sulitnya meminta keterangankepada anggota Gang KD jika ada salahseorang dari mereka yang dicurigaiterlibat dalam tindak kriminal. Merekatidak saja berusaha untuk menutupikeberadaan kawannya, tapi jugamelindungi dari kemungkinan tertangkapoleh polisi.Gang-Gang yang solid dalam hasilpenelitian Thrasher (1963) dijelaskanmemiliki “a high degree of loyalty andmorale and minimum of internalfriction” yang terbentuk sebagai hasilsebuah proses “a longer developmentand a more intense and more extendedconflict”. Maka dapat dikatakan bahwaGang KD dengan berbagai konflik danperistiwa-peristiwa yang dialami olehanggotanya secara bersama, telahmembentuk Gang KD menjadi apa yangdisebut Thrasher sebagai the solidifiedtype.Tipe Gang ini mewariskan pula nilaiesprite de corps of the Gang yangmenjadi bukti bahwa tindakan-tindakankolektif menyatukan perasaan-perasaananggotanya ke dalam sebuah semangatkebersamaan. Bahkan bila terjadi konflikinternal, tidak serta merta dapatmemecah kesatuan kelompok.Kembali ke pokok bahasan tentangkarekteristik Gang, Thrasher (1968)menjelaskan tentang karekter Gangsebagai “the individuality of Gangs”,sesungguhnya tidak ada dua Gang yangsama, baik dalam prinsip-prinsip, bentukdan keunikannya. Karakter Gangditentukan oleh sebuah sebaran variabeldari personil atau anggotanya yangdikombinasikan dengan perbedaan fisik,perbedaan lingkungan sosial,pengalaman-pengalaman dan tradisi yangberlaku di masyarakat dimana Gangtersebut berada. Dengan demikian Gang-Gang tersebut dapat berbeda pada statuskeanggotaan, tipe kepemimpinan, modelorganisasi, interest, aktivitas serta statussosialnya di dalam masyarakat.Fenomena penting yang harusdiamati dari Gang KD adalah asal mulaterbentuknya Gang, sebagaimana Gang-Gang dalam pembahasan literatursosiologi dan krimonologi, karekteristikGang ditentukan oleh faktor ini. MakaGang berbeda dari kelompok-kelompokformal yang ada, terutama pada apa yangdisebut oleh Thrasher sebagai spontanunplaned origin. Tidak seperti sebuahperkumpulan mahasiswa ataupun serikatpekerja, asal mula pembentukan tidakharus ditelesuri secara sosiologis.Sedangkan Gang, lebih alami danberkembang dari sekumpulan anak-anakatau remaja yang berkumpul dan bermaindi suatu kawasan.Temuan penulis sedikit berbedadengan apa yang dikemukakan Tallydalam Tally’s Corner; A Study of NegroStreet Corner Man yang disimpulkannyadari pengamatan terhadap dua puluhempat orang negro dewasa di sebuahsudut kota Washington DC bahwa dikota-kota besar di negara maju umumnyaGang terbentuk dari anggota-anggotayang memiliki ras atau sukubangsa yangsama. Sedangkan di negara-negara duniaketiga dapat terbentuk Gang sepertiGang KD yang terdiri dari berbagai sukubangsa yang melebur menjadi satu dalamsebuah kelompok. Anggota Gang KDyang diamati ada yang berasal dari suku1807Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Melayu, suku Minang dan suku Batak.Meskipun pembahasan tentang pengaruhkesukubangsaan atau ras tidak dibahasmendalam oleh Tally dan Thrasher tetapikekhasan yang terjadi pada Gang KD,menurut pendapat Penulis berhubungandengan keragaman suku bangsa yang adadi Indonesia dan perkembangan kotaPekanbaru sebagai salah satu pusatpertumbuhan ekonomi di wilayahSumatera atau daerah-daerah sekitarnya.C. Profil Anggota GangProfil anggota oleh Tresser dibahassebagai personality and the actionpattern of the gang. Tressermengatakan “the significance ofsosiological conception of personality– namely, as the role of the individualin the group – comes out clearly inthe study of the gang”. Adapun profileanggota gang yang akan dijelaskan padasub bab ini meliputi umur, jenis kelamin,suku bangsa, pekerjaan (tugas yangdiberikan oleh pimpinan gang), place ofresidance, dan status keanggotaandalam gang. Profil anggota gang padadasarnya merupakan indikator dari socialcategories untuk menjelaskan socialposition seorang anggota gang di dalamkelompoknya, pada bagian akhir sub babini penulis juga akan menjelaskanketerkaitan profil anggota gang dan polaprilaku (behavior pattern) anggota gangbaik dalam interaksi antara anggota gangdengan kelompoknya, serta antaraanggota gang dan masyarakat padaumumnya.Data Intelijen Dasar pada KantorPolsekta Senapelan memberikangambaran tentang data anggota-anggotagang KD dapat dilihat pada Tabel 6.Anggota gang KD sebagian besarmerupakan pemuda dan orang dewasa.Anak-anak dan remaja belum dapatdikatakan merupakan anggota gang.Meskipun mereka berkumpul bersamaanggota gang yang lebih tua ataudewasa, tetapi Penulis tidak mencatatseluruhnya sebagai anggota Gang.Hanya anak-anak atau remaja yangdiamati terus menerus berada bersamaanggota dewasa serta berinteraksisecara intensif yang penulis kategorikansebagai anggota gang KD.Penulis menanyakan kepada DIR,seorang anggota gang KD, untukmenggambarkan bagaimana kehidupangang dan kehidupan anggota yangtergabung ke dalam gang KD, denganTabel 6Umur dan Jenis Kelamin Anggota Kelompok KD Yang Tercatat Di KantorPolsekta SenapelanNo. Kelompok Umur Frekwensi Persentase1. 11-15 2 7.41%2. 16-20 6 22.22%3. 21-30 11 40.74%4. 31-40 8 29.63%Jumlah 27 100%Sumber : Data Primer Penelitian, 20071808Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


tujuan mendapatkan gambaran singkatprofil anggota Gang. DIR menjelaskan“anak-anak Kampung Dalam yanggabung di sini, ada sekitar lima puluhsampai enam puluh orang. Kebanyakanputus sekolah, maka waktunyadihabiskan dengan nongkrong-nongkrongdi pasar, ngobrol sana sini atau bermainbola. Beberapa dari anggota ada yangsuka berkelahi atau ribut dengan oranglain di Pasar Bawah dan biasanyakawan-kawannya memberikan bantuanatau menolong”.Catatan penulis dan data yangdidapat dari Unit Intelijen PolsektaSenapelan memperkirakan jumlahanggota gang KD ada tujuh puluh orang.Sebagian besar anggota gang KDbertempat tinggal di sekitar PasarBawah, khususnya Kampung Dalam.Memang ada beberapa anggota yangtidak tinggal di Kampung Dalam, tetapidulunya mereka pernah tinggal dikampung tersebut. Tabel berikutmenunjukkan tempat tinggal anggotaGang KD:Sutherland menjelaskan tentangkehidupan anak-anak dan remaja yangtinggal dalam sebuah lingkungan yangsama bahwa mereka sering berkumpuluntuk tujuan mempertahankan statusnyadengan cara melakukan pertarungandengan kelompok lain. Kelompok inimemiliki wilayah dan tempat bermainkhusus tanpa harus berubah menjadiorganisasi formal dan mulai melakukanperilaku-perilaku menyimpang.Frequently a portion of the boys in aneighborhood of about the same ageand with somewhat similier attitudestoward deliquency or toward playhave a common meeting place on acorner and engage in many commonactivities without any other formalorganization. A stranger would not bepermitted to associate with this groupand certain boys in the neighborhoodmight be ostracized, but otherwise thegroup is inclusive, kehadiran orangasing dalam kelompok belum tentu dapatditerima karena kelompok telah menjadiinklusif.Tabel 7Tempat Tinggal Anggota Gang berdasarkan RWNo. Tempat Tinggal Frekwensi Persentase1. Kampung Dalam RW. I 4 14.81%2. Kampung Dalam RW. II 7 25.92%3. Kampung Dalam RW. III 5 18.52%4. Kampung Dalam RW. IV 3 11.11%5. Kampung Dalam RW. V 3 11.11%6. Bukan Kampung Dalam 5 18.52%Jumlah 27 100%Sumber : Data Primer Penelitian, 20071809Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


ANALISIS TENTANG SUBKULTUR GANG DAN PROSESPEWARISAN NILAI GANGAnalisis tentang kegiatan-kegiatangang pada bab sebelumnya berkaitandengan pembentukan nilai-nilai gang (agang morale), dengan perkataan lainpembentukan nilai-nilai gang merupakankelanjutan dari kegiatan-kegiatan,kebiasaan-kebiasaan, dan kemudianmenjadi pola-berlaku dalam kehidupangang. Penulis berpendapat bahwa hal inisebagai awal pembentukan subkulturgang yang kemudian menjadi pedomanberlakubagi setiap kegiatan gang danbagi setiap anggota gang.Penjelasan tentang keterkaitankarakteristik dan tipe gang serta kegiatanyang dilakukan sehari-hari oleh anggotagang ataupun gang tersebut dibahas olehCloward dan Ohlin (1969) dalamDelinquency and Opportunity ; ATheory of Delinquent Gang sebagaiberikut : Subculture dalam Gang terlihatdari kecenderungan melakukan kegiatankegiatansehari-hari, seperti Criminalsubculture yang terlihat dalam aksi-aksipencurian, extortion, dan cara-cara ilegallainnya yang digunakan untukmengamankan sumber dana (uang)Gang.Conflict subculture merupakancara yang digunakan Gang melaluimanipulasi kekerasan dalammenunjukkan eksistensi dan statusnya dimata kelompok lain atau masyarakat.Gang harus memenangkan semuapertarungan dengan gang atau kelompoklain. Yang terakhir, Retreatist subculture,merupakan bentuk penarikan diri Gangdari masyarakat umum dan menjadieksklusif dalam interaksi dengan pihakpihaklain di luar Gang. Bentuknya adalahkonsumsi terhadap alkohol danpenyalahgunaan obat-obatan terlarang(drug abuse).D. Pola Kegiatan Dan SubcultureGang KDPembahasan tentang sub culturegang merupakan pembahasan tentangsub culture delinquent. Sub culturedelinquent adalah sebuah kategorikhusus dari sub culture penyimpangansosial. Konsep terakhir ini dijelaskansebagai seluruh perilaku yangbertentangan dengan perilaku umumyang disepakati dalam masyarakat atauharapan-harapan masyarakat terhadapperan dan tindakan seseorang dalammasyarakat. Cloward and Ohlin (1969)mendefensikan delinquent sub culturesebagai “one in which certain forms ofdelinquent activity are essentialrequirements for the perfomance ofthe dominant roles supported by thesub culture”.Selanjutnya Cloward and Ohlin(1969) menguraikan dalam Delinquencyand Opportunity; A Theory ofDelinquent Gang dua pertanyaan pokoktentang Gang dan Delinquency : (1)Why do delinquent norms or rules ofconduct develop?, (2) what are theconditions which account for thedistinctive contennt of variuos systemof delinquent norms–such asprescribing violance or theft or druguse?Untuk menjawab pertanyaantersebut Cloward and Ohlin (1969)menjabarkan delinquent subculturesmenjadi tiga topik utama yaitu : CriminalSubculture, Conflict subculture danretreatist subculture.Sub culture yang terbentuk dalamgang KD merupakan sub culturedominan kriminal. Hal ini dapatdibuktikan melalui penerapan cara-cara1810Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


ilegal dalam tindakan-tindakan anggotagang untuk mendapatkan keuntungandari kegiatan-kegiatan yang mengatasnamakan gang KD. Orientasi nilai gangKD cenderung menyimpang atauterwujud dalam perilaku kriminal yangditerima dalam gang tersebut sebagaicara untuk mencapai tujuan (sukses).Penggunaan keahlian dan pengetahuananggota gang tentang kriminal diarahkanuntuk mendapatkan hasil material,keuntungan dan kekuasaan yangsebenarnya illegal namun mendapatkan“pengakuan” dari kelompok lain ataumasyarakat luas.Dalam sub bab berikut, penulis akanmembahas criminal pattern atau caracaraillegal yang diterapkan gang KDdalam menjalankan kegiatankegiatannya.Sub culture konflik dan subculture retreatist juga ditemukan padagang KD, namun dalam pengamatanpenulis sub culture dominan adalah subculture kriminal.E.Criminal Pattern Dalam Gang KDNilai-nilai kejahatan yang terdapatdalam Gang KD, sebagaimana subculture lain dalam kelompok sosial dimasyarakat, membutuhkan kondisilingkungan tertentu untuk tumbuh danberkembang. Salah satu faktorlingkungan yang mendukung tumbuhnya“criminal style” dalam kehidupan gangadalah integrasi dari anggota gang yangberbeda usia. Perbedaan usia ini tentubukan perbedaan yang kecil, misalnyasatu sampai lima tahun, tetapi perbedaanyang besar, lebih dari lima tahun bahkanhingga dua puluh sampai tiga puluh tahun.Dalam daftar nama anggota gang KDyang penulis dapatkan dari informanterdapat anggota yang berusia empatpuluh tiga tahun dan terdapat pulaanggota yang berusia enam belas tahun.Shaw and McKay dalam Cloward andOhlin (1969) menerangkan hasil studiekologi pada lingkungan perkotaan(urban environment) bahwadelinquency cenderung ditemukan padasuatu kawasan yang mengalamiperubahan-perubahan demografi. Shawand McKay mengetengahkan istilahcriminal tradition dan culturetransmision. Kesimpulan tersebutmerupakan hasil pengamatan terhadapkehidupan di kawasan kumuh Chicagoyang memunculkan sebuah hubunganantara pelaku-pelaku non dewasa danpelaku-pelaku ahli dewasa yangdisebutnya sebagai integration ofdifferent age-levels of offender.Dokumentasi-dokumentasi dalamliteratur sosiologi mengambarkan sebuahtradisi dimana terjadi integrasi antarapelaku penyimpangan sosial anak-anakdan remaja dengan pelaku dewasa.Dalam sub culture ini prestise diraih olehmereka-mereka yang memilikikecukupan material dan kekuasaan untukmengatur anggota-anggota atau orang dibawahnya. Dengan kata lain, pencapaiansukses secara material dan non materialmerupakan suatu persepsi yang ingindicapai oleh semua anggota gang. Polapolakriminal yang dilakukan oleh anggotagang senior dan terbukti “sukses”menjadi role model bagi anggota ganglainnya, terutama anggota baru ataujunior.Pada gang KD pola-pola kriminalyang umumnya dipraktekkan yaknipemerasan dan pengancaman, penipuanbahkan sampai pada penggunaankekerasan dalam menjalankan kegiatangang. Apabila salah satu pola kriminalberhasil memberikan keuntungan yang1811Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


esar, maka pola tersebut akan dikuti dananggota yang melakukannya seolah-olahmendapatkan pengakuan dari anggotagang lainnya. Sebaliknya, jika hasilnyasedikit, maka pola kriminal yangdilakukan tersebut akan ditinggalkan. Didalam gang KD pun muncul jargonjargonkriminal seperti “daripadamelakukan banyak kegiatan, tapi hasilnyakecil, lebih baik melakukan satu atau duakegiatan namun hasilnya besar”.Pengamatan penulis terhadap polapolakriminal yang diterapkan anggotagang KD di Pasar Bawah terungkappada peristiwa negosiasi fee bongkarmuat barang di depan toko X Jl. Sago.Pada peristiwa yang diceritakan korbanAS kepada penulis, salah seoranganggota gang KD membentak,mengancam dan menggunakan kata-katakasar kepada pemilik barang ketikameminta fee bongkar muat barang.Wawancara penulis dengan salahseorang pemilik toko memberikangambaran tentang cara-cara yangdigunakan oleh anggota gang KD dalammenjalankan kegiatannya, ASmenjelaskan “biasanya kalau trukpengangkut barang-barang datang, darijauh sudah dikerumuni oleh buruh-buruhbongkar muat. Ketika kendaraan itusudah berhenti didepan toko kita akandatang satu orang untuk negosiasi hargabongkar muat dengan pemilik toko ataupemilik barang. Harga bongkar muatbiasanya lima ribu rupiah per koli, tapikalau koli atau kotaknya besar bisasampai lima belas ribu rupiah, kalauditotal bisa mencapai lima ratus riburupiah satu kali bongkar muat”. Penulismenanyakan apakah para pemilik tokoatau pemilik barang bisa menawar ataumenolak bongkar muat yang diatur olehgang KD, AS melanjutkan penjelasannya“kalau kita menolak mereka menggertakbahwa bongkar muat barang adalah hakSPSI dan kewajiban pemilik toko ataupemilik barang untuk menggunakanburuh SPSI NIBA dalam bongkar muat.Jika kita bertahan mereka akan mulairicuh didepan toko sehingga pembelipembelimeninggalkan toko kami”.Untuk mendapatkan penjelasantentang ketentuan bongkar muat yangdilakukan oleh buruh-buruh yangtergabung dalam SPSI NIBA penulismeneliti dokumen surat keputusanWalikota Pekanbaru No. 074 Tahun 2004tentang penetapan tarif bongkar muatbarang antar gudang dan antar wilayahdalam kota Pekanbaru. Dalam dokumentersebut dinyatakan salah satupertimbangan walikota adalahmenciptakan hubungan kerja yangharmonis antara serikat pekerja danpengusaha di kota Pekanbaru dan untukmenciptakan kenyamanan berusaha danketenangan bekerja (lihat lampiran 5Keputusan Walikota Pekanbaru No. 074Tahun 2004).Pengamatan penulis terhadap tarifongkos bongkar muat barang di pasarbawah tidak sesuai dengan keputusanwalikota tersebut, tarif ditentukan sendirioleh negosiator bongkar muat yangmerupakan anggota gang KD.Umumnya pengusaha keberatan dengantarif yang jauh lebih tinggi dari tarif yangterdapat dalam keputusan walikota di atas(lihat lampiran tarif ongkos bongkarmuat).Fakta di atas merupakan salah satubentuk sub kultur kriminal yang olehCloward dan Ohlin dikatakan bahwagang berusaha mengeksploitasi peluangpeluangyang ada untuk mendapatkankesuksesan materi meskipun hal tersbutmenjadikan gang tidak dipercaya oleh1812Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


masyarakat umum. Dalam pandangangang mereka adalah korban dari keadaanyang ada, maka jika ada peluang harusdimanfaatkan sebaik mungkin. Gangmelihat orang-orang yang sukses sebagaikeberhasilan dalam membina jaringan(KKN), misalnya pengusaha membagikeuntungan kepada politisi untukmendapatkan fasilitas dan keuntunganyang lebih. Sikap seperti ini menetralisirsemua norma-norma umum yang adadan menciptakan the right guy di dalamkelompoknya sebagai bukti bahwaanggota gang tersebut dapat di andalkandalam melakukan kegiatan-kegiatan gangyang memberikan keuntungan material.Sub kultur lain yang penulis amatidalam gang KD adalah munculnyakemampuan gang untuk berhubungandengan otoritas-otoritas yang berkuasadalam menjamin kebebasan gangmelakukan aktivitasnya. Anggotaanggotagang yang remaja menyaksikanbahwa pimpinan-pimpinan merekamemiliki hubungan baik dengan aparataparatyang memiliki otoritas di pasarbawah, misalnya polisi, petugas TramTibsatpol PP, bahkan dengan anggota TNI(militer).Kedekatan atau keintiman antarapimpinan dan aparat-aparat tersebutmembangkitkan keberanian serta rasapercaya diri anggota gang dalammenjalankan kegiatannya denganmenggunakan pola-pola kriminal yangmereka ketahui melanggar aturan atauhukum yang berlaku. Keterangan yangdiberikan seorang informan kepadapenulis tentang hubungan baik pimpinangang KD dengan aparat sebagai berikut“bang RK itu akrab dengan semua orang,kawan-kawannya banyak ada tentara,polisi, pengacara pun ada, dengan bangP yang sekarang duduk di anggotadewan pun dia seperti abang adik”.Cloward dan Ohlin (1969)menyimpulkan through connection withoccupant of these half-legitimate,half-illegitimate roles and with bigshoots in under world the aspiringcriminal validates and assures hisfreedom oh movement in a world madesave for crime.Perkembangan Pasar Bawah yangterekam dalam penelitan, yaitu masaSebelum Pasar terbakar dan masaSesudah Pasar terbakar mengubahwajah pasar bawah menjadi apa yangkita lihat sekarang. Ketika Pasar Bawahterbakar, aktifitas perdagangan tetapberjalan di tempat penampungansementara. Keadaan menjadi kacau dantidak terkendali, penentuan siapa yangboleh berjualan di tempat penampungansementara seolah-olah diserahkan padamasyarakat dan pedagang semata-mata.Akhirnya kelompok yang kuat mengaturpenempatan dan sewa lahan tempatpenampungan sementara. Kelompok inimenikmati pendapatan yang besar darijasa pengaturan lokasi pasar sementara.Setelah pasar dibangun kembali,kebiasaan memungut uang sewa, uangkeamanan dan uang kebersihan terusberlanjut, terutama bagi pedagang yangtidak pindah ke gedung baru PasarBawah atau tetap berjualan di sekitargedung pasar bawah. Dari sinilah awalbaru dominasi Gang di Pasar bawahpekanbaru.F. Conflict Values (the pursue ofstatus) Pada Gang KDSebuah ‘role model’ dalam conflictpattern di Pasar Bawah adalah seorangjagoan yang memenangkan semua1813Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


pertarungan dengan anggota kelompokatau dengan kelompok lain. Perasaantakut dari lawan-lawan atau dari oranglain merupakan situasi yang inginditimbulkan dari seorang jagoan.Kemenangan dalam pertarungan adalahreputasi ingin diraih. Kemenanganmencerminkan kekuatan ataukehebatan. Dalam pandangan anggotaanggotagang lain, bagaimanapun, faktorutama dari seorang jagoan di dalam gangadalah anggota-anggota yang berhasilmengalahkan lawan-lawannya. Apayang diperbuat oleh sang jagoan tersebutmerupakan cerminan dari keinginannyauntuk membela integritas personal dirinyadan kehormatan gang, dengan perkataanlain konflik-konflik harus dihadapi dengansegenap keberanian dan menampilkansikap yang tanpa rasa takut ketikamenghadapi bahaya-bahaya (ancaman)yang muncul terhadap diri pribadinya.Penulis menemukan sub kulturkonflik ini muncul juga di dalam gang KDmeskipun bukan merupakan sub kulturdominan tetapi pola-pola yang diamatimenunjukkan adanya rasa hormat danpenghargaan yang tinggi dari anggotagang lainnya terhadap anggota-anggotayang sering atau sering memenangkanpertarungan. Bagi anggota gangkekuatan fisik dan masculinity ataukejantanan merupakan simbol-simbolyang harus ada dalam diri anggota gangmaupun dalam gang itu sendiri.Kekuatan fisik dan reputasi yangdiperoleh dari setiap kemenanganmenjamin akses yang lebih luas terhadapkesempatan menikmati hasil kegiatangang ataupun kesempatan melakukankegiatan yang menjamin keuntungan yanglebih besar. Sebagaimana diceritakanoleh seorang anggota gang bahwamereka-mereka yang dihormati di dalamgang dan dianggap senior sertaberpeluang menjadi pemimpin adalahanggota-anggota yang memenuhi kriteriasebagai berikut.1. Senior: Dapat dilihat dari segiusia ataupun lamanya bergabungdengan gang KD.2. Memiliki pergaulan yang luasdengan berbagai kalangantermasuk dengan aparat.3. Memiliki keberanian.4. Memiliki pengalaman5. Pernah berurusan dengan polisidan berhasil mengatasinya6. Loyal terhadap kawankawannyaserta tujuan daripadagang.Dari keseluruhan kriteria di atasseorang jagoan lebih utama dinilai darihatinya (keberanian), tidak memiliki rasatakut meskipun harus berhadapan dengankekuatan yang lebih besar ia tidak akanpernah menganiaya kawan-kawannya didalam gang ataupun menantang merekauntuk membuktikan nilai integritasterhadap gangnya. Hal utama yang lebihdi tunjukkan oleh seorang jagoan adalahmembangkitkan keberanian anggota lain,membela semua kepentingan gang danmembela anggota gang untukmempertahankan kehormatan.Pada rujukan tinjauan pustaka,Cloward dan Ohlin mempersoalkanadanya keyakinan bahwa daerah-daerahkumuh (slum area) selalu dalam keadaandisorganized. Pada beberapa lowerclass urban neighbourhoodsditemukan lemahnya kesatuan ( unity)dan cohesivenest yang disebabkanketidakstabilan sistem sertaketidakstabilan hubungan-hubungansosial. Cloward dan Ohlin meyakiniinstabilitas sosial pada daerah kumuhmenyebabkan tingginya mobilitas vertikal1814Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


dan mobilitas geographic. Pembangunandan perkembangan perumahan wargatidak sejalan dengan jenis pekerjaan yangmereka lakukan sehari-hari sehingga,pola pemukiman tradisional yangdicirikan oleh keseragaman jenispekerjaan menjadi terpecah belah dan“orang-orang asing” menyusupkedalamnya dan mengubah penggunaanlahan-lahan yang ada menjadi berbedadari sebelumnya. Perubahan penggunaanlahan tersebut misalnya mengubah areapemukiman menjadi kawasan komersialatau bahkan menjadi kawasan industri.Keadaan semacam ini menyebabkanhilangnya keseimbangan dalammasyarakat dan usaha-usaha untukmembangun organisasi sosial menjadisemakin sulit. Cloward dan Ohlinmenyimpulkan transiency andinstability become the offer ridingfeatures or social live.Transiency dan ketidakstabilansosial secara bersama-sama,menghasilkan sebuah tekanan besar bagimunculnya perilaku merusak ( violentbehavior) pada generasi muda yangtinggal di kawasan tersebut. Dua halyang penulis kemukakan sebagai sebabmunculnya sub kultur konflik pada gangKD adalah (1) unorganized communityyang berada di sekitar pasar bawahnamun tidak menyediakan cara-carayang legitimate untuk mencapaikesuksesan. (2) kontrol sosial yang adapada kawasan dan masyarakat di sekitarpasar bawah dan kampung dalam sangatlemah.G. Retreatist ( withdrawn intorestricted world) Pada Gang KDPenggunaan obat-obat terlarangserta konsumsi alkohol di kalanganremaja dan orang-orang dewasamerupakan salah satu bentuk retreatistbehavior yang ditemukan penulis padagang KD. Penulis mendapatkan informasitentang penggunaan narkoba olehanggota gang, sebagaimana diceritakanoleh salah seorang informan sebagaiberikut “kadang-kadang rasanya kitapingin lari dari kenyataan yang ada. Dikeluarga kita dianggap gagal, sedangkankenyataan yang kita alami sendirimemang sangat susah untuk memenuhikebutuhan hidup sehari-hari saja. Usahausahaapapun yang kita buat sepertinyatidak pernah menghasilkan sesuatu yangberarti, paling-paling hanya cukup untukbertahan hidup dari hari kehari saja”.Meskipun informasi ini tidak mewakilikehidupan seluruh anggota gang namunpengamatan penulis menunjukkan jumlahanggota gang yang terlibat dalampenyalahgunaan narkotika atau konsumsialkohol cukup banyak.Alasan lain yang penulis catat adalahkeinginan untuk melampiaskankekecewaan atau sebaliknya untukmerayakan suatu kegembiraan secaraberlebihan. Dalam kehidupan sehari-harianggota gang selalu ada anggota yangberhasil mengumpulkan uang darikegiatan yang dilakukannya dansebaliknya, ada pula anggota gang yangsering tidak berhasil ataupun hanyamampu mengumpulkan sedikit hasilsetiap harinya. Keadaan di manaanggota-anggota tersebut, yang selaluberhasil dan yang sering gagal,berinteraksi mendorong munculnyapelampiasan terhadap penggunaanNarkoba dan konsumsi alkohol.Retreatist sub culture oleh Clowarddan Ohlin dijelaskan sebagai akibat daritekanan yang terus menerus di manaanggota gang merasa selalu gagal untukmencapai atau mendapatkan apa yang1815Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


ia inginkan. Adaptasi anggota gangdalam bentuk pengasingan diri darimasyarakat dapat muncul sebagaikonsekuensi atas penggunaan cara-carailegal namun tidak memberikan hasil yangdiharapkan, sementara cara yang legalsudah pasti tidak dapat dilakukan.Hipotesis Cloward dan Ohlin inididasarkan pada sebuah analisis Mertonyang menyatakan : “Retreatist arisesfrom continued failure to near the goalby legitimate measures and from aninability to use the illegitimate routebecause of internalized prohibitionsor socially structured barriers, thisprocess occurring while the supremevalue of the success goal has not yetbeen renounced”. Maka dengandemikian apa yang penulis temukan padasebagian anggota gang KD memenuhihipotesis yang dijelaskan di atas.Sebelum mengakhiri sub bab ini,penulis ingin menegaskan kembali hasilpenelitian terhadap gang KD yangmemiliki tiga jenis delinquencesubculture yang tumbuh di dalam gang,khususnya pada gang yang berada dilower class area of large urban center.Meskipun pada penelitian penulismenemukan contoh-contoh pola-polasubculture dominan berupa kriminalsubcultur pada gang KD, namun padapengamatan-pengamatan tertentu duajenis subkultur lain – konflik dan retretist– juga terdapat pada gang KD.Cloward dan Ohlin menyebut hal diatas sebagai the varieties ofdelinquence subculture. Gang yangdominan menunjukan konflik subculturejuga melakukan tindakan-tindakankejahatan yang sistematis, sebaliknyagang yang memiliki subkultur kriminalkadang terlibat juga dalam konflik dengangang lain. Cloward dan Ohlin hanyamenjelaskan kecenderungan sub kulturdelinquence gang muncul dari penilaiankelompok atau orang di luar gangterhadap orientasi gang. Orientasi gangdapat berupa keuntungan ekonomi(criminal subculture), pengakuan status(conflict subculture) atau pemisahan diridari masyarkat umum ( retreatissubculture).Di dalam gang KD sendiri yangmemiliki subculture dominan kriminal,variasi dari anggota ke anggota berbedasatu sama lainnya. Beberapa anggotagang menunjukan keterlibatan total dalamberbagai tindakan kriminal gang bahkandalam peran-peran lain di luar gang,namun banyak pula anggota gang KDyang menerapkan segregasi (pemisahan)aspek-aspek hidupnya saat berperansebagai anggota gang dan saat bukanberperan sebagai anggota gang.Misalnya, dalam keluarga atau kegiatankegiatankemasyarakatan lainnya.Kemampuan dan peluang untukmemisahkan pengaruh kriminal subkulturgang dalam kehidupan pribadi anggotagang KD dipengaruhi oleh kepentingananggota tersebut dalam menempatkandirinya. Keputusan untuk melakukanpemisahan subkultur gang dankomformitas terhadap norma umum yangberlaku dalam keluarga dan masyarakat,sebenarnya, sangat sulit dilakukan olehseorang anggota gang karena iamenghadapi konsekuensi diterima atauditolak dari satu atau kedua sistemdimana ia berada. Penulis menemukanfenomena ini ketika seorang anggotagang KD menjalankan ibadah sholatbersama-sama dengan penulis di MasjidRaya Pasar Bawah. Bahkan penulisbertemu beberapa kali dengan anggotagang tersebut di mesjid yang sama.1816Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Berdasarkan analisis terhadapfenomena dan data-data yang ditemukandalam penelitian dapat dijelaskan bahwasubkultur delinquent yang ada padaGang mengaitkan sistem nilai,kepercayaan/keyakinan, ambisi tertentu(misalnya materiil, hidup bersantai, polakriminal, relasi heteroseksual bebas danlain-lain) yang memotivasi timbulnyakelompok-kelompok remaja berandalandan kriminal. Sedang perangsangnya bisaberupa: hadiah mendapatkan status sosial‘terhormat’ di tengah kelompoknya,prestige sosial, relasi sosial yangintim,dan hadiah-hadiah materil lainnya.Menurut teori subkultur yangdikemukakan Cloward dan Ohlin makasumber deliquency yang dapat penulissimpulkan ialah: sifat-sifat struktur sosialdengan subculture yang khas darilingkungan familial, tetangga danmasyarakat yang ada di Pasar Bawahdan kampung-kampung sekitarnya olehpara individu delinkuen tersebut. Sifatsifatmasyarakat tersebut antara lainadalah (1) memiliki populasi yang padat(2) status sosial-ekonomis penghuninyarendah (3) kondisi fisik perkampunganyang sangat buruk (4) banyakdisorganisasi familial dan sosial bertingkattinggi. Oleh karena itu sumber utamakemunculan kejahatan ialah subkultursubkulturdelinkuen dalam konteks yanglebih luas dan kehidupan masyarakatyang slum (kumuh).Kemunculan Gang-Gang delinkuendengan subkulturnya itu merupakanreaksi terhadap permasalahan suatustratifikasi penduduk dengan status sosialrendah yang ada di tengah satu daerahyang menilai secara berlebihan statussosial yang tinggi dan harta kekayaan.Namun dalam realitasnya, pencapaianstatus sosial tinggi dan penumpukan hartakekayaan tadi sangat sulit dilakukan lewatjalan yang wajar. Besarnya ambisimateriil, dan kecilnya kesempatan untukmeraih sukses, memudahkan pemunculankebiasaan hidup yangmenyimpang dari norma hidup wajar,sehingga banyak anak-anak dan remajamenjadi a-susila dan kriminal. Munculpula banyak anomi dalam lingkunganmasyarakat sedemikian ini.H. Proses Belajar dan PewarisanNilai Dalam Kelompok(Differential Association)Proses belajar sosial yang menjadilandasan terbentuknya differentialassociation dalam sebuah kelompokintim diyakini merupakan sebuahjawaban atas kejahatan sebagai sebuahtingkah laku yang dipelajari. TeoriDifferential Association menyatakanbahwa kejahatan dipelajari dalam sebuahkelompok pergaulan intim yang menjadilembaga assosiasinya. Leighninger(1963) menyatakan “If a personassociates with more groups thatdefine criminal behavior asacceptable than groups that definecriminal behavior as unacceptable,the person will probably engage incriminal behavior”. Sementara Calhoun(1976) menambahkan “Put another way,“just as people must learn thoughsocialization how to conform to theirsociety’s norms, they must also learnhow to depart from those norms. Inother words, deviance, likeconforming behavior, is a product ofsocialization”. Kedua pernyataan diatas menyimpulkan bahwa TeoriDifferential association menjelaskan1817Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


agaimana seorang anak atau remajamempelajari secara sosial sebuahperilaku menyimpang dari orang-orangyang ada disekitarnya seperti keluarga,kawan sebaya, kawan bermain ataukawan-kawan sekolah di mana ia setiapharinya melakukan kontak dan interaksi.Orang dewasa, terutama orang tua,menjadi penentu pokok dalam prosessosialiasasinya. Sebagaimana perilakuyang dinyatakan “conform” terhadapnorma sosial, perilaku menyimpang (nonconform) pun adalah produk sosialisasidalam masyarakat.Untuk memudahkan pemahamanterhadap Gang KD yang ada di PasarBawah Pekanbaru, Penulis mengamatiseorang anak remaja berusia enam belastahun yang tinggal bersama orangtuanyayang juga adalah anggota gang KD.Penulis menemukan bahwa di rumah,anggota-anggota Gang KD yangberstatus orangtua juga seringmempraktekkan perilaku menyimpang(bahkan kejahatan) di rumahnya.Menurut Sutrherland (1947) anak yangdemikian tersebut akan mengalamipembentukan persepsi bahwa kegiatan(kejahatan) itu tidak bertentangan dengannorma yang ada dalam masyarakatakhirnya ia akan mulai terlibat denganpenyimpanagn atau kejahatan tadi, “Thechild would grow up assuming thatthese acts may not be as wrong associety or the law has defined them.If a child is around delinquent peers,one can also learn the activities oftheir peers and be much more proneto engaging in criminal activity”.Pada kesempatan lain, Penulis jugapernah menemukan seorang bapakmembawa anaknya dalam menjalankankegiatan sehari-hari (lihat gambar orangtua dan anak di Pasar Bawah. Kemudianpenulis menanyakan kepada Bapaktersebut “SIR” untuk apa ia membawaanaknya dalam kegiatan di Pasar Bawah,SIR menjawab “Anak ini udah taksekolah lagi, dari pada ia menganggur dirumah, lebih baik ikut kita untuk bantubantu”.Yang dimaksud dengan bantubantuadalah membantu mengangkatbarang apabila Bapaknya mendapatorder untuk membongkar barang daritruk ke toko.Menjaga nilai etis adalah salah satubagian yang harus diperankan penulisdalam mengumpulkan data di lapangan,untuk mewawancarai anak-anak penulismemilih informan yang tepat, pada waktudan tempat yang cocok dengan kondisianak-anak atau remaja tersebut. Penulismenemukan tiga orang anak, kira-kiraberusia dua belas sampai lima belastahun, dan menanyakan kenapa merekaberada di Pasar Bawah dan tidakbersekolah, HAN, lima belas tahunmenjelaskan “saya sekolah sampai kelas1 SMP, Pak. Sudah satu tahun lebih sayaberhenti. Orang tua tidak sanggupmembayar uang sekolah. Juga tidakpunya uang untuk membeli buku-buku”.HAN melanjutkan dengan penjelasankenapa ia ikut kegiatan Gang KD di PasarBawah “Abang saya yang menyuruhsaya ikut ‘kerja’, soalnya dirumah juganganggur. Kata abang saya, saya sudahbesar, jadi harus bisa membelanjai hidupsendiri”.Hal-hal yang dilakukan oleh anakanakatau remaja adalah apa yangdiperintahkan oleh anggota yang lebihdewasa atau tua. Mereka memungutuang-uang sewa lapak dan uangkebersihan. Mereka juga beranimengancam dan memeras pedagang,yang tidak membayar atau membayartetapi kurang dari yang diminta.1818Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Penulis mewawancarai seorangpetugas kepolisian STV, tentangkegiatan-kegiatan yang dilakukan olehanak-anak di sekitar pasar bawahtersebut, ia menjelaskan “anak-anak itutidak sama dengan anak-anak biasa,mereka berani dan sering menggunakankata-kata kasar waktu berbicara denganorang dewasa, bahkan terhadappedagang-pedagang yang sudah berusiatua mereka sering membentak untukmeminta uang sewa lapak. Merekaberani begitu karena dilindungi oleh orangyang lebih dewasa [anggota gang KD]”.Penulis menggali informasi lebih dalamapakah anak-anak tersebut pernahterlibat dalam kasus yang ditangani olehpolisi, STV menjelaskan bahwa beberapaanak pernah dilaporkan dalam kasuspencurian “pencurian di kampung ini(termasuk pasar bawah) biasa dilakukananak-anak, orang tua mereka tahu tapitidak melarangnya”. Penulis dalamkesempatan lain berbicara denganbeberapa anak yang ada di pasar bawahdan mencatat bahwa pada saatberkumpul bersama anak-anak tersebutselalu menceritakan pengalamanpengalamanmereka dalam melakukanpencurian serta merencanakan pencurianberikutnya yang akan dilakukan. Daripercakapan tersebut hampir semua anakpernah terlibat dalam pencurian, tetapibarang-barang yang dicuri adalahbarang-barang kecil, sedikit jumlahnyaatau kurang berharga. Hal ini berbedadengan pencurian yang dilakukan olehorang dewasa yang mencuri barangbarangberharga dengan cara yang lebih‘profesional’ bukan hanya dalampencurian tetapi dalam kegiatan lainseperti pemerasan, penipuan, negosiasiupah atau fee bongkar muat, anggotaanggotagang yang lebih dewasa mampumenghasilkan uang dalam jumlah yangcukup besar.Shaw (1930) berpendapat bahwathe little follows admired the big shootsand longed for the day when theycould get into the big racket. Fellowswho had done time where the bigshoots and looked up to and gave thelittle fellows tips on how to get by andpull off big jobs. Fakta yang ditemukanpenulis dan apa yang dirumuskan olehShaw di atas, penulis berpendapat bahwacara-cara melakukan kegiatan gang(kejahatan) dipelajari oleh anak-anakdan remaja calon anggota gang dari orangyang lebih dewasa dalam sebuahinteraksi yang intim.Sutherland secara berturut-turutmemasukkan hal tersebut pada proposisipertama, dua, tiga dan empat yangdinyatakannya sebagai berikut : (1)criminal bevahior is learn, (2)criminal behavior is learned ininteraction with other person in aprocess of communications. Dalam halini komunikasi yang dimaksud olehSutherland tidak hanya komunikasikomunikasiverbal, tetapi juga komunikasinon verbal seperti kode-kode isyaratgerak anggota tubuh ( thecommunications of gestures), (3) theprinciple part of the learning ofcriminal bevahior occures withinintimate personal groups, (4) whencriminal behavior is learn, thelearning includes a technic ofcomiting the crime which are sometimesvery complicated, sometimes verysimple : and the specifics directionmotives drives rationalitations andattitude.Dalam pergaulan perbedaan umurantar anggota gang itu menjadi sebuah‘role model’, yang muda melihat dan1819Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


mencontoh anggota gang yang lebih tua.Apalagi jika angota gang itu sukses, baiksecara ekonomi maupun sosial.Gambaran akhir yang dimiliki olehseorang anggota gang adalahpemenuhan seluruh kebutuhan hidupnyadan status sosial yang dimiliki di tengahtengahmasyarakat. bagi mereka perilakumenyimpang dan kejahatan dipelajarisebagai alternatif pencapaian tujuantersebut.Situasi masyarakat sebagaimanadijelaskan di atas berresiko terhadapterjadinya dis organisasi sosial, kontrolsosial yang tidak efektif, bahkan tingginyaangka kejahatan dan pelanggaran hukum.Sesungguhnya penulis tidak inginmenyebutkan terjadinya praktek-praktekkorupsi, pungutan-pungutan liar dankonspirasi (KKN) yang terjadi di daerahtersebut karena bukan merupakan topikdalam pembahasan ini. Bagi sebagianmasyarakat yang tinggal di kampungdalam pasar bawah dan sekitarnya,pengaruh dan kekuatan yang dimiliki olehgang KD justru menciptakan sebuahsituasi yang mentoleransi praktekpraktekpenyimpangan.Proposisi Sutherland tentang (5)thespesific direction of motive and drivesis learn from definitions of legal coachas favorable or unfavorable.Berhubungan erat dengan kehidupanmasyarakat sehari-hari di pasar bawah.Sesungguhnya di pasar bawahterdapat begitu banyak petugas maupuninstitusi yang menegakkan hukum danmenjaga agar norma-norma ditaati.Tetapi praktek yang terjadi seringmerupakan campuran antara kewajibanuntuk patuh pada peraturan dankesempatan untuk tidak patuh padaperaturan atau norma. Hal ini yangdisebut Sutherland sebagai cultureconflict in relations to the legal coach.Penulis sependapat dengan Kobrindalam Clowar and Ohlin (1969) yangmengatakan bahwa terdapatkecenderungan terbentuknya gang dankegiatan-kegiatan sub-culture kriminalpada wilayah yang memiliki toleransiterhadap penyimpangan sebagai carauntuk mencapai tujuan. Di sini kegiatankegiatangang ditandai dengan karakterberupa violance and destructive.Masyarakat kemudian membangunsebuah batasan baru yang lebihpermisive terhadap kegiatan-kegiatangang tersebut, pada akhirnya meskipunkegiatan gang di luar batas norma danharapan masyarakat tetapi tetap beradadalam struktur sosial lokal masyarakatitu sendiri.Sutherland menyimpulkan sebagaiinti dari teori differential associationsbahwa seseorang menjadi menyimpangkarena keleluasaanya membangundefinisi sendiri tentang hal-hal yangmelanggar hukum dan yang tidakmelanggar hukum. Fakta tentang hal inipenulis temukan pada berbagai sumberinformasi, seperti pada dokumen yangmenjelaskan tentang ruang lingkuppekerjaan serikat pekerja NIBA yangseluruhnya merupakan anggota gang KD(dokumen terlampir). Dalam dokumenyang dikirimkan oleh Pimpinan SPSINIBA, yang juga adalah pimpinan gangKD, kepada pejabat-pejabat otoritasbidang keamanan dan ketertiban,terdapat kalimat yang menyatakanbahwa tujuan mereka memberitahukanruang lingkup pekerjaannya tersebutadalah agar tidak terjadi perebutan lahanpekerjaan yang dapat menimbulkanbentrokan di lapangan. Secarasederhana dokumen tersebut sebenarnya1820Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


merupakan suatu penegasan bahwabongkar muat barang di Pasar BawahPekanbaru merupakan hak mereka (lihatlampiran 6).Pernyataan seorang tokohmasyarakat tentang bagaimana gang KDdan anggota-anggotanya membuatsendiri aturan yang benar dan yang salahdi uraikan sebagai berikut “parapengusaha telah diberi tahu oleh gangKD baik secara lisan maupun tertulisuntuk ‘mematuhi’ aturan bongkar muatdi pasar bawah ini, bagi mereka yangtidak taat akan diteror bahkan dirusakbarang dagangannya atau tokonya”.Penulis menggali lebih dalam apakahsebenarnya aturan yang dibuat oleh gangKD itu sesuai atau tidak denganketentuan hukum yang berlaku danmenemukan bahwa aturan tersebut salahdan tidak sesuai peraturan perburuhan.Sehingga ‘hak melakukan bongkar muat’hanya merupakan karangan merekasendiri yang diinterpretasikannya dariaturan-aturan lain seperti keputusanwalikota pekanbaru tentang tarif bongkarmuat atau surat edaran dewan pimpinanpusat SPSI tentang ruang lingkup FAKSPSI. Jadi jelas bahwa apa yang disebutSutherland sebagai counter actingforces merupakan asal mula seseorangberperilaku menyimpang.Differential associationmeramalkan bahwa seseorang akanmemilih jalannya sebagai pelakukejahatan ketika keseimbangan definisiterhadap pelanggaran hukum melebihihal-hal kepatuhan terhadap hukum.Sutherland menambahkan “Thistendency will be reinforced if socialassociation provides active people inthe persons life. Earlier in life theindividual comes under the influenceof those of high status within thatgroup, the more likely the individualto follow in their footsteps”. Hal inidilanjutkan dengan proposisi berikutnyayang mengatakan (6) Seseorang menjadidelinquent karena penghayatannyaterhadap peraturan perundangan : lebihsuka melanggar daripada mentaatinya.Proses asosiasi differensial yangterjadi antar anggota gang dan antaraanggota gang dan calon anggota gangbervariasi bergantung pada frekuensi,durasi, prioritas dan intensitas. Seoranginforman, BUN, menceritakan kisahhidup seorang anggota gang yang telah“sukses” dan memperoleh apa yangdiinginkan oleh anggota lainnya sebagaiberikut : “dulu si PUR itu sekelas dengansaya, ia memang pemberani. Makanya,waktu kami mulai ikut dengan Bang RKia dipakai terus. Bang RK banyakmemberi dia “nasehat” dan petunjuktentang cara-cara mengatur pekerjaan.Kalo Bang RK jumpa dengan kawankawannyayang aparat, PUR biasanyaikut. Pokoknya hampir tiap hari dianempel dengan Bang RK”. Penulismenanyakan kesuksesan apa yangdiperoleh PUR, BUN menambahkan“Dia sekarang sudah pandai main proyek.Satu kali jebol proyeknya cukup untukbeli rumah dan mobil. Yang mengajarkanitu Bang RK, kalo tidak pakai cara keras,mana mungkin orang-orang seperti kamidapat proyek besar”.Perbedaan yang terjadi pada BUNdan PUR muncul dari perbedaan prosesassosiasi antar anggota baru dengananggota yang lebih senior, baikperbedaan frekwensi, durasi maupunintensitas. Anggota baru mempelajaricara-cara yang dilakukan, meniru dankemudian melakasanakan sendirikegiatan yang sama. Pada kasus sepertiPUR di atas ia bahkan dapat1821Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


mengembangkan cara lama menjadi carabaru yang lebih hebat dan memberikanhasil yang besar. Semakin intensif sebuahassosiasi semakin cepat anggota barumempelajari semua teknik melakukankegiatan gangPada bagian akhir bab ini penulisingin menjelaskan bagaimana proses“differential association” dalam Gangberlangsung. Penulis menggunakanpendapat Sutherland yang menyatakanbahwa Gang merupakan sarana untukmenyebarkan “techniques ofdelinquency” atau teknik delikuensi.Sutherland menyatakan :A Gang in this sence is the means ofdisseminating techniques ofdelinquencies, of training indelinquency, of protecting its membersengaged in delinquncy, and ofmaintaining continuity in deliquency.It is not necessary that there be badboys including good boys to commitoffences. It is genarally a mutualstimulation, as a result of which eachof the boys commits deliquencies whichhe would not commit alone.Pemahaman penulis tentangpenjelasan Sutherland di atas adalahbahwa Gang kemudian menjadi saranabagi penyebaran teknik delinquency,menjadi tempat untuk berlatih dantindakan-tindakan menyimpang tersebutmendapatkan perlindungan dari seluruhanggota Gang. Proses mempelajaritingkah laku kriminal melalui pergaulandengan pola kriminal dan anti kriminalmelibatkan semua mekanisme berlakudalam setiap proses belajar.Proposisi akhir Sutherlandmenyatakan “sekalipun tingkah lakukriminal merupakan pencerminan darikebutuhan-kebutuhan umum dan nilainilai,tetapi tingkah laku kriminal tersebuttidak dapat dijelaskan melalui kebutuhanumum dan nilai-nilai tadi karena tingkahlaku non kriminal pun merupakanpencerminan dari kebutuhan umum dannilai-nilai yang sama”. Penulis memahamibahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukanoleh Gang KD, merupakan cara bagimereka untuk menghadapi kerasnyakehidupan kota. Sebagian besar anggotaGang berasal dari keluarga miskin yangberada di sekitar Pasar Bawah.Pekerjaan yang menggunakankekerasan, ancaman dan pemaksaandiartikan sama dengan pekerjaan lainyang dilakukan oleh anggota masyarakatpada umumnya. Pernyataan ZUL berikutmenggambarkan bagaimana pemahamananggota gang baru terhadap kegiatanGang: “menurut saya, biarpun carakawan-kawan keras dalam mencari uangdi pasar ini, tetapi itu sama saja denganorang lain yang bekerja di perusahaanatau kantor pemerintah. Di sana juga adayang KKN dan diperiksa Polisi juga”.Penulis ingin menggali lebih dalambagaiamana ZUL memandang pekerjaannyayang sekarang dibandingkandengan kejahatan yang dilakukan olehpelaku kriminal, ZUL menyatakan“Kalau cuma mengatur bongkar muat dipasar ini, sama saja dengan pegawai lain.Tapi Kami tidak sama dengan perampokyang memang semata-mata mencariuang dengan menyiksa atau bahkanmembunuh orang. Cara kami wajarkok?”Pandangan ini yang menunjukkankepada Penulis bahwa pemahamanmereka atas kegiatan yang menyimpangdari norma ( non conformity) samadengan kegiatan yang taat norma(conformity). Setiap orang memilikikebutuhan hidup masing-masing, maka1822Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


cara untuk memenuhinya pun berbedabeda.Perbedaan kebutuhan dan caramencapainya dianggap merupakanpencerminan kebutuhan umum dan nilainilaiyang sama.PENUTUPDengan menggunakan seluruh teoridan konsep yang ada untuk menganalisisdata dan fakta yang telah diuraikansebagai temuan penelitian, penulismemperoleh kesimpulan penelitiansebagai berikut :(1) Gang Di Pasar Bawah Pekanbaru :Penulis menyimpulkan bahwaterdapat banyak kelompok sosial diPasar Bawah Pekanbaru baik yangdapat dikategorikan primary groupmaupun bukan primary group. Gangmerupakan sebuah bentuk primarygroup. Kelompok-kelompok yangditandai ciri kenal mengenal ditemukanpula diantara kelompok-kelompokyang ada di Pasar Bawah, sepertiLaskar Hulubalang Melayu Riau,Forum Komunikasi Pedagang Pasar,Forum Komunikasi Pemuda PemudiKampung Baru, dan beberapakelompok lainnya. Tetapi merekatidak termasuk Gang sebagaimanadipersyaratkan oleh Broom andSelznik bahwa hal utama yangmembedakan kelompok-kelompokkawan sepermainan ( peer group)dengan Gang anak muda ( youthGang) yaitu adanya konflik dengankelompok lain, keluarga, sekolah danpolisi yang terjadi akibatunsupervised activities” atauThraser melalui the Natural Historyof Gang. Gang-Gang yangdiidentifikasi berada di Pasar Bawahberdasarkan analisis Penulis adalah :Gang KD, Gang BARA, dan GangPP.(2) Karakteristik Gang dan ProfilAnggota Gang : Gang-gang yang adaatau beroperasi di Pasar Bawahmemiliki karakteristik yang hampirsama. Hal ini terutama ditentukan olehasal mula Gang serta kondisilingkungan yang cocok/sesuai(congenial) bagi terbentuknya gang.Kelompok yang lebih menampilkanciri-ciri organized crime tidakdimasukkan dalam kategori Gang.Gang KD dapat dikatakan sebagaikelompok yang paling berkuasa danyang pertama-tama mempraktekkankegiatan-kegiatan Gang di PasarBawah Pekanbaru. Hal utama yangmembentuk mereka menjadi a realgang adalah kebiasaan berkumpulbersama secara periodik, dan haltersebut berlangsung terus menerusmenuju ke sebuah pelembagaan.Gang KD dengan berbagai konflikdan peristiwa-peristiwa yang dialamioleh anggotanya secara bersama,telah membentuk Gang KD, menjadiapa yang disebut Thrasher sebagai,the solidified type. Anggota-Anggota Gang KD yang berasal dariberbagai sukubangsa atau rasmenjadikannya berbeda denganpembahasan Gang yang ada di kotakotabesar di negara maju.(3) Kegiatan-Kegiatan Gang: Pengaturankegiatan Gang dilakukan olehpimpinan-pimpinan gang. Anggotaanggotagang terus menerus beradadi lapangan (sekitar Pasar Bawah)dan juga diwajibkan melaporkan hasilhasilkegiatan pada waktu-waktuyang telah ditentukan. Selainmenguasai bongkar muat barang dari1823Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


truk ke toko dan sebaliknya, masihterdapat kegiatan-kegiatan lain yangjuga dilakukan oleh anggota gangKD, diantaranya menjadi mandorbongkar muat, mengamankan barangbarangyang akan dimuat atau yangditurunkan dari kapal di pelabuhanpelabuhansekitar Pasar Bawah danKampung Dalam, sertamengamankan kapal-kapal atauperahu yang bersandar di pelabuhan,mengamankan barang-barangdagangan yang digelar di pasar,kegiatan menjadi tukang tagih hutangdan bon-bon yang belum dibayarantar sesama pedagang, menjadipenjual barang-barang second hasilseludupan, dan terakhir menjadipenyalur modal atau pemberipinjaman uang kepada pedagang yangmembutuhkan.(4) Pembentukan nilai dan prosespewarisan nilai gang oleh calonanggota dan penerus Gang dapatdibagi dalam dua kategori. Pertama,terbentuknya subkultur Gang, dankedua, proses belajar sosial yangterjadi di dalam dan di luar Gang.Subkultur Gang yang terdapat padaGang di Pasar Bawah adalah“criminal subculture dominant”,meskipun subkultur konflik danretreatist juga ditemukan di dalamGang, tetapi pengamatan terhadaptindakan-tindakan dan sikap anggotaGang menggambarkan secara jelaspola dominan subkultur kriminal.Gang yang dominan menunjukankonflik subculture juga melakukantindakan-tindakan kejahatan yangsistematis, sebaliknya Gang yangmemiliki subkultur kriminal kadangterlibat juga dalam konflik denganGang lain.Differential association merupakansuatu model proses belajar sosial. Halyang penulis simpulkan dari prosesbelajar dan diwarisinya nilai gang olehcalon anggota gang atau penerus gangadalah anggota-anggota Gang KDyang berstatus orang tua ternyatasering mempraktekkan perilakumenyimpang (bahkan kejahatan) dirumahnya. Menurut Sutrherland(1947) anak-anak yang menyaksikanhal tersebut akan mengalamipembentukan persepsi bahwakegiatan (kejahatan) itu tidakbertentangan dengan norma yang adadalam masyarakat, akhirnya ia akanmulai terlibat dengan penyimpanganatau kejahatan.Dalam pergaulan perbedaan umurantar anggota gang itu menjadi sebuah‘role model’, yang muda melihat danmencontoh anggota gang yang lebihtua. Apalagi jika angota gang itusukses, baik secara ekonomi maupunsosial. Kondisi masyarakat di PasarBawah saat ini berada pada batasanbaru yang lebih permisive terhadapkegiatan-kegiatan gang, sehingga,meskipun kegiatan gang di luar batasnorma dan harapan masyarakat tetapitetap dapat berada dalam struktursosial lokal masyarakat. Penulissependapat dengan kesimpulanSuherland bahwa inti dari prosesdifferential associations adalah“seseorang menjadi menyimpangkarena keleluasaanya membangundefinisi sendiri tentang hal-hal yangmelanggar hukum dan yang tidakmelanggar hukum”.Sebagai bagian akhir kesimpulan ini,sebagaimana pendapat penulistentang Teori dan Konsep yangdirujuk yang seharusnya digunakan1824Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


ersama dalam menjelaskanpermasalahan Gang maka TeoriPrimary Group, Gang, Urbanism,Subculture Delinquent danDifferential association, kemudian,cukup dapat menjelaskanpermasalahan Gang di Pasar BawahPekanbaru. Anggota dan calonanggota gang tumbuh dalam sebuahlingkungan yang negatif sebagaimanaWirth menyimpulkan apa yangdisebutnya sebagai harmful efect ofcity life “Kehidupan kota membawapenduduknya pada stimulus yangberlebihan. Mekanisme kontrol sosialdan informal support networkssemakin melonggar. Penduduk kotadihadapkan pada situasi sulit sertayang harus mereka atasi sendiri,seperti: sakit mental (mental illness),konsumsi alkohol ( alcoholism),kejahatan (criminality) bahkan bunuhdiri ( suicide)”. Maka Penulismenyimpulkan bahwa terbentuknyaGang di Pasar Bawah Pekanbaru darisebuah primary group yangsekaligus menentukan karakteristikgang dan profil anggotanya, kegiatankegiatanyang di bentuk oleh subkulturgang serta proses differentialassociation yang terjadi dalam telahmenjadikan Gang KD dapat bertahandari waktu ke waktu.Daftar KepustakaanAbdussalam, R. 1997, Penegakan Hukum DiLapangan Oleh Polri, Jakarta, DinasHukum Polri.Ahmadi, Rulam, 2005, Memahami MetodePenelitian Kualitatif Cet. I, UM Press,MalangAnoraga, Panji, 1989, PerkembanganKejahatan, Pradnya Paramita,Jakarta.BPS, 2007, Riau Dalam Angka, Pekanbaru.Broom, Leonard and Philip Selznick. 1963.Sociology: A Text With AdaptedReadings, Third Edition, New York,Harper & Row Publish, Inc.——, 1973, Sociology: A Text With AdaptedReadings, Fitfth Edition, New York,Harper & Row Publish, Inc.Cloward, Richard, and Ohlin, E. Lloyd, 1969,Delinquency and Opportunity ; ATheory of Delinquent Gang, The FreePress, New YorkCreswell, Jhon. 1994. Research design,quntitative & qulitatif approaches.Terjemahan angkatan III & IV KIK-UI, KIK Press, Jakarta.——, 2002, Research Design Qualitative &Quantitative Approaches CetakanKedua, Terjemahan oleh angkatan IVdan V KIK UI, KIK Press, JakartaDaldjoeni, N. 1997. Seluk Beluk MasyakatKota (Pusparagam Sosiologi KotaDan Ekologi Sosial), Cetakan kelima,Yogyakarta, Alumni/1997/Bandung.Dermawan, Mohammad Kemal, 1994,Strategi Pencegahan Kejahatan, PT.Citra Adhitya Bakti, BandungFarouk Muhammad, 2003, Modul KuliahMetodologi Penelitian, PTIK ,Jakarta——, 2003, Metodologi Penelitian Sosial(Bunga Rampai), Jakarta, PTIK Pressdan Restu Agung, 2003,1825Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Freeh, Louis J., 1994, Responding To ViolentCrime In America, The FBI LawEnforcement Bulletin, WashingtonDC.Gilbert, Alan & Josef Gugler. 1996.Urbanisasi Dan Kemiskinan DiDunia Ketiga, Penerjemah Anshori.Yogyakarta, Tiara Wacana Yogya.Herlianto, 1997, Urbanisasi, Pembangunan,Dan Kerusuhan Kota. Bandung,Alumni Bandung.Hidayat, 2004, Dinamika Kelompok Sosial,Rosdakarya, Bandung.Hossain, M. Shahadad, 2006, Urban PovertyAnd Adaptation Of The Poor InDhakka City Bangladesh, Universityof New South Wales, Sydney.Howell, James C. and Arlen Egley, Jr., 1995,Gangs in Small Towns and RuralCounties, OJJDP Bulletin, EditionJune 1995, U.S. Department of Justice,Office of Justice Programs, Office ofJuvenile Justice and DelinquencyPrevention, Washington D.C.Klein, Malcolm, 1995, The American StreetGang: Its Nature, Prevalence, andControl, Oxford University Press,New York.Kartono, 2001, Patologi Sosial 2:Kenakalan Remaja, Rajawali GraffitiPers, Jakarta.Lincoln, Yvonna & Egon. G. Guba, 1985,Naturalistic Inquiry, SagePublications, New Delhi.Louis J. Freeh, 1994, Responding To ViolentCrime In America, The FBI LawEnforcement Bulletin, April 1994Edition.Lubans V.A dan J.M Edgar, 1979, PolicingBy Objectives (Diterjemahkan oleh timPTIK untuk kepentingan internal),Social Development Corporation,Connecticut.Lundberg, dkk., 1968, Sociology FourthEdition, Harper and Row Publishers,New YorkMabes Polri, 2007, Polri Dalam Angka,Jakarta.Manning, Chris & Tadjuddin, 1985,Urbanisasi, Pengangguran, DanSektor Informal Di Kota,Diterjemahkan oleh Al. Ghozi Usman& Andre Bayo. PT Gramedia, Jakarta.Marulli, C.C. Simanjuntak, 2002, OrganisasiPreman di Blok M, KIK-Press UI,Jakarta.Merton, Robert K., 1968, Social Theory andSocial Structure, The Free Press, NewYork.Miller, Walter B., 2001, The Growth of TheYouth Gang in United States : 1970-1998, U.S. Departement Of Justice,Washington.Moore, J. W., 1998. “Understanding YouthStreet Gangs: EconomicRestructuring and the UrbanUnderclass.” In M. W. Watts (ed.),Cross-Cultural Perspectives onYouth and Violence (pp. 65-78).Stamford, CT: JAIMooris, P. Terence, 1958, The Criminal Area,New York Humanities Press andRoutledge & Kegan Paul Ltd.,LondonNas, P.J.M., 1979, Kota Di Dunia Ketiga(Pengantar Sosiologi Kota Dalam1826Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Tiga Bagian), Jakarta, Bhratara KaryaAksara.——, 1984, Kota Di Dunia Ketiga 2(Pengantar Sosiologi Kota TerdiriDari Tiga Bagian), Jakarta, BhrataraKarya Aksara.Nawojczyk, 1997, Street Gang Dynamics, TheNawojczyk Group, ArkansasNitibaskara, T.B. Ronny, 2001, KetikaKejahatan Berdaulat, Peradaban,JakartaPatton, Michael Quinn, 1980, QualitativeEvaluation Methode, Baverly HillsSage Publication, LondonPolsekta Senapelan, 2007, Intelejen DasarTahun 2007, Pekanbaru.——, 2000 – 2006, Laporan KesatuanPoltabes Pekanbaru, Pekanbaru.——, 2007, Intelejen Dasar PoltabesPekanbaru, Pekanbaru.——, 2007, Kumpulan Laporan IntelejenPermasalahan Premanisme diWilayah Hukum PoltabesPekanbaru, Satuan Intelkam,Pekanbaru——, 2002, Eniklopedi Kepolisian, KIKPress , Jakarta.Pusat Penelitian Industri dan PerkotaanUniversitas Riau, Jurnal Industri danPerkotaan volume XI Nomor 19/Februari 2007, Pekanbaru, UNRI.Raharjo, 1983, Perkembangan Kota DanPermasalahannya, PT Bina Aksara,Yogyakarta.REPUBLIK INDONESIA, Lembaran NegaraNomor 2 Tahun 2002, Undang-Undang Kepolisian Negara RepublikIndonesia.Ritzer, Goerge & Douglas J. Goodman, 2003,Modern sociological Theory 6thedition. Terjemahan Alimandan, 2005,teori sosiologi modern edisi keenam,cetakan ketiga. Jakarta, Predanamedia.Rukmana, Deden, 2005, Pedagang KakiLima dan Informalitas Perkotaan,Kompas, Jakarta.——, 2006, The Spatial Origins Of TheHomeless: How The Homeless VaryIn Their Geographic Distribution,Florida State University, Florida.Sara R. Battin-Pearson, dkk., 1998, GangMembership, Delinquent Peers, andDelinquent Behavior, OJJDP Bulletin,Edition October 1998, U.S.Department of Justice, Office ofJustice Programs, Office of JuvenileJustice and Delinquency Prevention,Washington D.C.Satuan Reserse Kriminal PoltabesPekanbaru, 2006, Laporan TahunanSat Reskrim, Pekanbaru.Shaw, Clifford R., and Henry D. McKay, 1942,Juvenile Delinquency and UrbanAreas: A study of Rates ofDelinquency in Relation ToDifferential Characteristic of LocalCommunities in American Cities,Univ. Chicago Press, Chicago.——, 2007, Laporan Tahunan Sat Reskrim,Pekanbaru.Soekanto, Soerjono, 2005. Sosiologi, suatupengantar, edisi baru keempat 1990,1827Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


cetakan ketigapuluh delapan.Jakarta, PT RajaGrafindo Persada.Sumadi, 2002, Organisasi Preman di MuaraAngke Jakarta Utara, Jakarta, KIKUI.Sunarto, Kamanto, 2000. PengantarSosiologi Edisi Kedua, Jakarta,Lembaga Penerbit Fakultas EkonomiUniversitas Indonesia.Suparlan, Parsudi, 1996, Kemiskinan DiPerkotaan, Yayasan Obor, Jakarta.——, 1997, Metode Penelitian Kualitatif,Jakarta, PPSUI.——, 2004. Masyarakat Dan Perkotaan :Perspektif Antropologi Perkotaan,YPKIK, Jakarta.Sutherland, E. H., 1947, Principles OfCriminology Fourth Edition, J.B.Lippincott Company, ChicagoTheodorson, 1969, Modern Dictionary OfSociology,Thornberry, Terence P. and Burch II, JamesH., 1997, Gang Members andDelinquent Behavior, OJJDP Bulletin,Edition June 1997, U.S. Departmentof Justice, Office of Justice Programs,Office of Juvenile Justice andDelinquency Prevention,Washington D.C.Thraser, Frederic, 1927, The Gang, Study of1313’s Gang, The University ChicagoPress, Chicago.Tri, Kurnia Nurhayati, SS, MPd, 2003, KamusLengkap Bahasa Indonesia , DenganEjaan Yang Disempurnakan, EskaMedia , Jakarta.Umar, Bambang W. Dr., 2001, PenelitianKualitatif, Universitas Indonesia,Program Studi Ilmu Kepolisian,JakartaUS Department Of Justice, 1997, JuvenileJustice Bulletin June 1997, Office ofJuvenile Justice and DeliquencyPrevention, Washington.——, 1998, , Juvenile Justice BulletinOctober 1998, Office of JuvenileJustice and Deliquency Prevention,Washington.US Government, 1998, Journal OfContemporary Criminal Justice,WashingtonWirawan, S. Sarlito, 1991, Teori-TeoriPsikologi Sosial, Rajawali Pers,Jakarta.Yudho, Winarno SH, MA, 2005, SosiologiHukum I, Universitas Indonesia,Jakarta.1828Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


OPTIMALISASI PENGELOLAAN OBJEK DANAU BUATAN DALAMMENINGKATKAN PAD (PENERIMAAN ASLI DAERAH) PADASEKTOR PARIWISATA DI KOTA PEKANBARUYusuf Basri*) dan Rd. Siti Sofro Sidiq**)Abstract: Along with the region autonomy, the municipality of Pekanbaru was started toendeavor the management of region inventories to increase the original region income. Touristobject of Danau Buatan is one of the municipality’s inventory which is still less optimummanaged that can not increase the original region income significantly. Based on thatphenomenon, the writer wants to know how are the efforts to optimize the management oftourist object in increasing the original region income on tourism sector on the municipality ofPekanbaru.The Purposes of this research are 1) to know the actual condition of the management oftourist object of Danau Buatan. 2) to know how are efforts to optimize the element of managementof tourist object of Danau buatan in increasing the original region income on tourism sectoron the municipality of Pekanbaru . This research use of this descriptive method that describesthe process of optimizing of tourist object of Danau Buatan in increasing original regionincome on tourism sector on the municipality of Pekanbaru in essay. This research showsthat: 1) the actual condition of the management of tourist object of Danau Buatan are lessoptimum. 2) the optimizing the element of management on tourist object of Danau Buatan canincrease the region income of the municipality of Pekanbaru.Keyword : Organize, Lake, Local Revenue Income, TourismPendahuluanPariwisata secara terminologisdapat didefinisikan sebagai kegiatanperjalanan untuk menikmati objek dandaya tarik wisata. Secara kultural,pariwisata merupakan jawaban atas sifatdasar manusia yang mudah merasa jenuhterhadap keseharian hidup mereka.Manusia butuh penyegaran dari kegiatankeseharian, persaingan hidup, dan hal-hallain yang membebani pikiran gunamencari suasana baru yang bisa memberipencerahan pikiran atau paling tidakuntuk mengurangi ketegangan jiwa danraga manusia. Maka tak heran jika*) Dosen FISIP Universitas Riau**)sejarah perkembangan pariwisatabersifat dinamis, berubah seiring majunyaperadaban manusia. Tingkat kebutuhanpariwisata pun mulai mengalamipergeseran. Manusia moderencenderung rapuh secara psikologis. Halini menyebabkan tingkat kebutuhanmanusia akan pariwisata mengalamipeningkatan. Dari fenomena ini munculkesadaran untuk menjadikan pariwisatasebagai sebuah industri yang merangkumpariwisata dalam sebuah kemasan yanglebih menarik, tertata rapi dan lebihprofesional.Lahan pariwisata diibaratkansebagai sebuah kesempatan emasdengan porsi besar yang setiapbagiannnya pantas diperebutkan negara-1829Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


negara dengan fundamentalperekonomian berbasis pariwisata.Besarnya potensi pendapatan yang bisadiraih dari industri pariwisatamenyebabkan negara-negara tersebutsaling berlomba untuk menarik kunjunganwiasatawan sebanyak-banyaknya.Asumsi yang muncul adalah, denganmakin banyaknya jumlah wisatawanyang berkunjung maka makin banyakpula uang yang dihabiskan wisatawan dinegara tersebut. Dengan kata lain, secaratidak langsung industri pariwisata akanbisa menghidupi sebuah bangsa.Keberadaan industri pariwisatasangat penting, dalam artian kapasitasnyasebagai salah satu penyumbang devisabagi kas negara. Bahkan saat ini sektorpariwisata diharapkan mampu menjadikatup pengaman kebangkrutan ekonomiIndonesia dalam krisis multidimensi(tabloid Komunika, edisi tahun ke III/15Agustus 2007). Ketika industri lain masihstagnan, industri pariwisata diharapkanmampu menjadi penyumbang devisayang cukup signifikan. Salah satukebijakan yang diambil adalah denganmengoptimalkan potensi pariwisata lainyang belum tergali dengan maksimal.Salah satunya dengan memberdayakandaerah kunjungan wisata di luar Jawa danBali mulai dilakukan. Hal ini sejalandengan penerapan konsep otonomidaerah yang diusung pemerintah.Menurut H.A.W. Widjaja (1998:18)tujuan otonomi daerah adalah untukmemungkinkan daerah yang diberikanhak otonomi untuk mengatur rumahtangganya sendiri serta meningkatkandaya guna dan hasil gunapenyelenggaraaan pemerintahan dalamrangka pelayanan masyarakat danpelaksanaan pembangunan. Dengandiberlakukannya UU No. 22 tahun 1999tentang Pemerintahan Daerah dan UUNo. 25 tahun 2000 tentang KewenanganPemerintah dan Kewenagan Provinsisebagai Daerah Otonom, telahmemberikan energi dan semangat yangbesar dalam pembangunan danpembenahan kepariwisataan Riau.Dengan adanya perkembanganpariwisata yang pesat sebagai dampakdari otonomi daerah, maka diharapkanpariwisata dapat memberikan kontribusibagi Pendapatan Asli Daerah(selanjutnya disebut PAD) sebagai hasilyang positif bagi perkembanganpembangunan nasional.Menyadari hal tersebut, PemerintahDaerah merasa perlu untukmenggalakkan pembangunan dibidangpariwisata. Menurut A. Jalil (2006:2)daerah dan negara yang pada dasarnyatidak mempunyai potensi wisata ternyatamampu menempatkan pariwisatasebagai sumber devisa, karenamenyadari efek domino dari pariwisata.Teori tersebut sangat relevan dengankondisi Kota Pekanbaru, di manakeadaan geografis Kota Pekanbarudinilai tidak banyak memiliki keindahanalam yang dapat dieksploitasi. Dari haltersebut dapat disimpulkan bahwa dalamkepariwisataan, potensi alam tidak selalumerupakan hal yang bersifat fundamentaldalam membangun sektor pariwisata.Dalam inventarisasi yang dilakukanoleh pemerintah daerah, Kota Pekanbarumenawarkan bermacam jenis objekwisata, mulai dari wisata sejarah, wisatarekreasi maupun minat khusus dankonvensi. Diantaranya beberapa objekwisata yang menjadi unggulan KotaPekanbaru dapat dilihat pada Tabel 1pada halaman berikut:1830Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Tabel. 1Inventarisasi Obyek Wisata Milik Pemerintah Kota PekanbaruNo Jenis wisata Nama objek wisata1 Wisata Rekreasi Danau Buatan2 Wisata Sejarah Musium Sang Nila Utama Mesjid Raya3 Wisata Budaya Purna MTQ4 Wisata Minat Khusus Theater Idrus Tin-Tin5 Wisata Belanja Pasar BawahSumber : Dinas Pariwisata Provinsi Riau, 2008Objek wisata dalam Tabel 1 tersebutmenunjukkan bahwa Kota Pekanbarumemiliki obyek wisata yang cukupvariatif sehingga dinilai mampumemenuhi segala keinginan parawisatawan. Dalam artian keberadaanobjek wisata merupakan jawaban atassegala keinginan dan tuntutan wisatawan,dan pada akhirnya akan meraupkeuntungan dari setiap sen yang akandibelanjakan oleh wisatawan. Haltersebut menjadikan objek wisata sebagaiaset yang bernilai bagi Kota Pekanbaru,khususnya dalam perolehan PADmelalui pendapatan dari pajak danretribusi daerah.Menurut Sofyan Kepala DinasPendapatan Daerah Kota Pekanbaru,pajak yang diperoleh dari hotel, restorandan jasa perjalanan merupakan kontribusipajak yang terbesar bagi PAD,sedangkan objek wisata berperansebagai objek dalam proses perolehanPAD tersebut (Riau Pos, 14/01/2007).Hal ini memposisikan objek wisatamenjadi elemen dasar yang memotivasiwisatawan berkunjung ke KotaPekanbaru dengan kata lain denganadanya objek wisata maka akanterbentuk suatu sistem dalammendatangkan wisatawan yangbermuara pada paningkatan PAD disektor pariwisata. Pada tabel 2 berikutdapat dilihat besarnya kontribusi pajakterhadap PAD Kota Pekanbaru:Tabel. 2Kontribusi Pajak Terhadap PAD Kota Pekanbaru Tahun 2007No Jenis Pajak Pendapatan1234PariwisataKendaraan bermotorPBBReklameSumber : Dispenda Kota Pekanbaru, 2008154.395.000132.000.00099.300.00078.050.0001831Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Pada Tabel 2 di atas dapat diketahuibahwa pariwisata memegang perananpenting dalam perolehan PAD di KotaPekanbaru. Namun dalam implementasinya,Pemerintah Kota Pekanbarudinilai kurang serius dalam upayameningkatkan PAD pada sektorpariwisata. Hal ini dapat dilihat darikondisi objek wisata yang belum terkelolasecara optimal.Objek wisata Danau Buatanmerupakan salah satu objek wisata yangsangat potensial. Keindahan alam sertakeadaan geografisnya yang menawanbila dikembangkan secara serius makaakan menjadi suatu kawasan objekwisata andalan bagi Kota Pekanbaru.Namun potensi tersebut tersia-siakankarena pengelolaannya yang belumoptimal. Hal ini dapat dibuktikan melaluitingkat kunjungan pada objek wisataDanau Buatan. Jumlah pengunjung yangdatang ke objek wisata Danau Buatancenderung stagnan dan bersifatinsidental, ramai hanya pada hari-haritertentu saja. Bila dibandingkan denganobjek wisata yang mempunyai verifikasisama, yakni objek wisata rekreasi AlamMayang. Jumlah kunjungannyacenderung stabil, bahkan mengalamipeningkatan tidak hanya pada hari liburnamun juga pada hari biasa. Perbedaanjumlah kunjungan kedua objek wisata inidapat dilihat pada Tabel 3 berikut :Pada Tabel 3 dapat dilihat tingkatkunjungan pada kedua objek wisata terusmengalami peningkatan pada setiaptahunnya. Hal ini menunjukkan bahwafluktuasi minat berwisata para wisatawandan khususnya masyarakat KotaPekanbaru terus meningkat. Hal ini dapatdijadikan suatu kekuatan untukmeningkatkan penerimaan PAD, karenapada dasarnya jumlah PAD yang diterimasecara tidak langsung bergantung padatingkat kunjungan suatu objek wisata.Kontribusi objek wisata Danau Buatanterhadap PAD dapat dilihat pada tabel 4Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihatkontribusi yang diberikan objek wisataDanau Buatan terhadap PAD belumsignifikan, walaupun terus mengalamipeningkatan setiap tahunnya. Kemudianmuncul pertanyaan, mengapa hal initerjadi? Asumsi yang muncul mungkinkarena pengelolaan objek wisata DanauBuatan kurang optimal atau ada hal-halyang bersifat non teknis yang melatarbelakangi hal tersebut.Berdasarkan hasil survey penulis,ada beberapa indikasi yang menunjukkanbelum maksimalnya pengelolaan objekwisata di Danau Buatan, diantaranya:1. Kurangnya perawatan fasilitaspendukung disekitar objek wisata.Infrastruktur pendukung disekitarobjek wisata Danau Buatan kurangmemadai, fasilitas yang ada jugatidakTabel. 3Perbedaan Tingkat Kunjungan Wisatawan Pada Objek WisataAlam Mayang dan Danau BuatanN o O b je k W is a taT a h u n2 0 0 4 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 71 A la m M a y a n g 1 8 .9 7 8 2 0 .5 6 7 2 3 .2 9 8 2 5 .9 7 82 D a n a u B u a ta n 1 1 .0 9 6 1 4 .9 8 1 1 5 .2 7 9 1 6 .8 3 7S u m b e r : P e n e litia n T e rd a h u lu (K a ry a d i, 2 0 0 7 :8)1832Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Tabel. 4Kontribusi Retribusi Objek Wisata Danau Buatan Terhadap PADNo1234Tahun2004200520062007Pendapatan(nilai rill)1.240.0003.465.8004.765.0005.456.000Sumber : Dispenda Kota Pekanbaru, 2008terawat, terkadang sulit dicapai dantidak tertata dengan baik. Sebagaicontoh, fasilitas WC. Secara kasatmata dapat dilihat bahwa letak WCterlalu jauh dari pusat konsentrasiobjek sehingga menyulitkanwisatawan, di samping perawatannyayang kurang baik.2. Kurangnya segi keamanan objekwisata.Masih ada praktik premanisme didalam lingkungan objek wisataDanau Buatan yang membuatkenyamanan wisatawan menjaditerganggu.3. Aksesibilitas dan prasarana menujuobyek wisata belum diakomodirdengan baik.Informasi lokasi objek wisata(rambu-rambu penunjuk jalan) dankondisi jalan menuju objek wisataDanau Limbungan belum mendapatperhatian khusus sehinggawisatawan, khususnya wisatawandari luar daerah kesulitan dalammenemukan lokasi objek wisata.Indikasi diatas bila dibiarkanberlarut-larut tanpa ada solusi konkrit daripihak terkait tentu saja akanmempengaruhi PAD kota Pekanbaru,karena tingkat kunjungan wisatawanpada objek wisata Danau Buatan jelasmempengaruhi jumlah retribusi danpendapatan yang diterima olehpemerintah daerah, walaupun padakenyataannya tingkat kunjungan daritahun ketahun terus mengalamipeningkatan.Optimalisasi pengelolaan objekwisata Danau Buatan sepertinya harusmenjadi salah satu prioritas utamapemerintah daerah kota Pekanbaru bilaingin meningkatkan PAD dari sektorpariwisata, disamping untuk meningkatkantingkat kunjungan padakhususnya. Menurut Rudy Aryanto(2007:2) objek wisata yang telahdiberdayakan mempunyai nilai jual lebihdan jauh lebih efektif dalammendatangkan pendapatan suatu daerahdibandingkan dengan objek wisata yangmasih dikelola dengan cara konvensinal.Dari teori tersebut dapat asumsikankanbahwa dengan mengoptimalkan objekwisata secara tidak langsung dapatmeningkatkan penerimaan daerah,karena dalam prosesnya objek wisatamerupakan komponen dalam sektorpariwisata yang merupakan produksekaligus sasaran yang akan dijualkepada para wisatawan melalui usahajasa pariwisata (transportasi) dan usahasarana pariwisata (akomodasi) yang1833Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


mengakomodir segala kebutuhanwisatawan, sehingga dapat memberikankontribusi bagi PAD berupa pajaksebagai usaha perolehan jasa dariwisatawan yang berkunjung ke KotaPekanbaru.Berdasarkan pra survey di atasterdapat beberapa gejala, Pertamapengolalaan objek wisata Danau Buatandirasakan belum optimal. Kedua,Operasional dan produktivitas objekwisata Danau Buatan belummemberikan kontribusi yang besar bagiPAD Kota Pekanbaru khususnya padasektor pariwisata.Perumusan MasalahPerumusan masalah penelitiandalam tulisan ini adalah untuk mengetahuibagaimana kondisi aktual pengelolaanobjek wisata Danau Buatan danoptimalisasi unsur-unsur pengelolaanobjek wisata Danau Buatan sehinggadapat meningkatkan PAD pada sektorpariwisata di Kota Pekanbaru.Batasan MasalahPermasalahan yang akan dibahasdalam penelitian ini adalah bagaimanapengoptimalisasian pengelolaan objekwisata Danau Buatan melalui konsepperencanaan, organisasi dan kontroldalam meningkatkan PAD pada sektorpariwisata di Kota Pekanbaru. Dimanadalam proses pengoptimalisasiandiasumsikan dana sudah tersedia (padakondisi ideal).Tujuan PenelitianAdapun tujuan dari penelitian ini adalahsebagai berikut :1. Untuk mengetahui bagaimanakondisi aktual pengelolaan objekwisata Danau Buatan.2. Untuk mengetahui bagaimanaupaya mengoptimalisasi unsurunsurpengelolaan objek wisataDanau Buatan sehingga dapatmeningkatkan PAD pada sektorpariwisata di Kota Pekanbaru.Manfaat PenelitianManfaat penelitian adalah untukmenyelidiki keadaan dan alasan sebagaikonsekuensi terhadap suatu keadaankhusus (Nazir, 2000:24).Sebagai bahan masukan bagi pemerintahterkait dengan mengetahui kontribusisektor pariwisata dalam meningkatkanPAD bila objek wisata yang ada di Kotapekanbaru dioptimalkan.METODOLOGI PENELITIANDesain PenelitianDalam penelitian ini penulismenggunakan metode kualitatif denganpendekatan deskriptif. Penelitiandeskriptif bertujuan untuk menguraikansifat atau karakteristik dari suatufenomena tertentu.Lokasi Penelitian dan jadwalpenelitianPenelitian ini dilakukan di objekwisata Danau Limbungan yang terletakdi jalan Limbungan Kecamatan RumbaiKota Pekanbaru. Jadwal penelitian yangdibutuhkan untuk penelitian iniberlangsung selama bulan April sampaidengan Mei 2008.Metode Pengumpulan Dataa. ObservasiPeneliti berpasrisipasi dalammelakukan pengamatan, yaitu denganmelibatkan diri dalam mengetahuikondisi aktual pada objek wisata serta1834Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


kelayakan unsur-unsur dalamoperasional objek wisata tersebut.b. WawancaraWawancara adalah percakapandengan maksud tertentu. Percakapantersebut dilakukan oleh dua pihak,yakni pewawancara (interviuwer)yang mengajukan pertanyaan danterwawancara (interviewee) yangmemberikan jawaban atas pertanyaanitu (Moleong, 2005 186).Wawancara merupakan salah satuteknik pengumpulan data yangdilakukan melalui tanya jawabterhadap responden yang berkaitandengan masalah yang diamati. Penelitimelakukan wawancara pada pihakpihakyang terkait langsung denganobjek wisata yakni, pengelola objekwisata, pengunjung objek wisata danorang-orang yang membuka usahadikawasan objek wisata. Wawancarayang mendalam dilakukan terhadapresponden yang dianggap memahamipermasalahan uraian kegiatan unityang diteliti (expert choice).Analisis DataSesuai dengan metode yangdigunakan dalam penelitian ini yaitumetode kualitatif, dimana metodekualitatif hanya mengemukakan datayang masuk dengan caradikelompokkan, kemudian diberipenjelasan sesuai dengan metodedeskriptif. Untuk menjawab tujuan keduadigunakan tehnik analisis expert choice,dimana tenaga ahli hanya memberikanpenjelasan bagaimana mengoptimalisasikanunsur-unsur yang akan dioptimalisasi,kemudian diberi penjelasan sebagaiparameter pengoptimalisasian.HASIL PENELITIAN DANPEMBAHASANKondisi Aktual Objek Wisata DanauBuatanAtraksi Utama Objek wisata DanauBuatanAtaraksi utama merupakan motivasidan prioritas utama wisatawan untukmengunjungi sebuah objek wisata.Menurut Salah Wahab dan FransGromang (63:1988) atraksi utamamerupakan suatu hal yang dapat menarikwisatawan karena memiliki ciri khastertentu yang berorientasi sosial danbersifat non-profit dan merupakan objekpokok dari suatu perjalanan wisata.Dalam hal ini objek wisata Danau Buatanmemiliki daya tarik tersendiri dalamkapasitasnya sebagai suatu kawasanwisata alam dan rekareasi, dalam artianpengelola objek wisata Danau Buatanmengkombinasikan antara wisata alamdan wisata buatan yang memberikaneksotisme tersendiri bagi parawisatawan. Panorama alam perbukitanyang diselimuti oleh rindangnyapepohonan digabungkan dengankeelokan hamparan danau buatanmerupakan atraksi dan fokus utama yangmenciptakan chemestry bagi parapengunjung.Dalam produktifitasnya areal danaudengan luas ± 4,5 hektar ini dimanfaatkanoleh masyarakat sekitar Danau Buatansebagai irigasi pertanian, MCK (mandi,cuci dan kakus), sumber air tambak danpenyewaan perahu bagi para pengunjunguntuk menikmati keindahan alam DanauBuatan. Permukaan air danau yangteroksidasi berwarna tidak jernih dancendrung kecoklatan menandakankualitas air Danau Buatan mengandungasam. Menurut pengelola, sumber air1835Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


utama yang bermuara ke Danau Buatanberasal dari dari dua anak sungai yaitu;sungai Merbau dan sungai Kiambang.Kondisi danau pada saat ini masihbersih, tidak terdapat sampah-sampahyang mengapung pada permukaandanau, hal ini mungkin karena pihakpengelola tidak menyediakan pondokandi sekitar dermaga utama sehinggapengunjung tidak terkonsentrasi padadaerah pinggiran danau, kondisi ini secaralangsung berdampak positif padakebersihan danau. Penempatandermaga-dermaga dipinggir danau sudahsangat ideal, hanya saja pondok-pondokterapung milik masyarakat yang beradajauh dari dermaga-dermaga penempatannyasangat tidak teratur sehinggamengurangi estetika Danau Buatan. Bibirdanau yang curam dan tidak tersedianyadermaga khusus untuk berenang tidakmemungkinkan pengunjung untukberenang dan merasakan sejuknya air diDanau Buatan.Fasilitas Utama dan PendukungFasilitas merupakan sarana danprasarana yang dalam sebuah objekwisata yang terintegrasi antara satu danyang lainnya yang bertujuan untukmemenuhi kebutuhan wisatawan selamaberada di suatu kawasan objek wisata.Dalam kegiatan operasionalnya,pengelola suatu objek wisata harusmensinergikan keberadaan fasilitas yangada hingga mencapai tingkat efektifuntuk menciptakan suatu tatanan yangkondusif. Karena dalam hal ini fasilitasmerupakan wadah untuk mengakomodasisegala kebutuhan parapengunjung.Fasiltas UtamaAreal UtamaAreal utama diproyeksikan sebagaisebuah bukit yang pada puncaknyaterdapat sebuah panggung terbuka yangmenyerupai pendopo yang berfungsisebagai tempat bagi para pengunjunguntuk bersantai, berkumpul dan bersendagurau dalam suasana kekeluargaan.Pendopo adalah sentral objek wisataDanau Buatan dan merupakan pusatkonsentrasi para pengunjung karenaletaknya berada pada tempat tempatketinggian sehingga pengunjung dapatmenikmati keindahan danau darikejauhan.Dilereng bukit sebelah baratpendopo terdapat sebuah anak tanggamenuju panggung terbuka yangmenyerupai colloseum pada abadpertengahan romawi kuno. Panggungterbuka ini berfungsi sebagai tempat bagipara pengunjung untuk menikmatihiburan yang disuguhkan oleh pengelola,disamping kegiatan yang bersifat hiburanrakyat atau festival yang diadakan pihakswasta maupun Pemerintah KotaPekanbaru. Terkadang tempatpelaksanaan kegiatan mengalamiperubahan, bila areal tidak mencukupisebagian kegiatan akan diselenggarakanditempat lain disekitar kawasan DanauBuatan, tergantung dari kapisitaspenonton yang menikmati hiburantersebut.Kondisi infrastruktur pada arealutama saat ini tidak terawat. Menurutpengelola semenjak ‘masa bakti’ keduainfrastruktur tersebut tidak pernah adaupaya revitalisasi oleh pengeloladikarenakan keterbatasan dana. Hal inidapat dilihat dengan adanya genangangenanganair yang mengindikasikanbahwa kondisi atap bangunan sudah tidaklayak lagi.1836Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Kendaraan AirUntuk menikmati pemandanganDanau Buatan pihak pengelolamenawarkan alat transportasi air sebagaialat mobilisasi untuk menikmatikeindahaan danau pada setiap titik,bahkan mengelilingi luasnya areal danau.Kendaraan air merupakan icon objekwisata Danau Buatan, karena berlayarmengelilingi danau dengan menggunakankendaraan air merupakan hal yang palingdiminati oleh para pengunjung. Beberapajenis kendaraan air tersebut diantaranyaadalah; sepeda dayung dan kapalpenumpang.Dalam operasionalisasinyakendaraan air dikelola sendiri oleh parapemilik kendaraan air tersebut yangterorganisasir dalam suatu wadahKPDB (Koperasi Pelayaran DanauBuatan). Dalam hal ini kapasitas pihakpengelola Danau Buatan hanyamemfasilitasi tempat berlabuh kendaraanair (dermaga) serta menetapkanstandarisasi harga sewa kendarankendaraanair tersebut.Jumlah keseluruhan kendaran airyang beroperasi di Danau Buatan saatini berjumlah 20 armada. Secara kasatmata kondisi kendaran air yangberoperasi saat ini masih layak pakai,hanya ada beberapa armada yang butuhperbaikan, baik dari segi fisik maupun segikeamanannya. Secara teknis perawatanyang dilakukan oleh pemilik armada tidaksecara berkala, hanya pada saat kondisitertentu saja yaitu bila terjadi kerusakanyang tidak dapat ditolerir. Hal tersebutsangat memungkinkan terjadinya halyang mengancam keselamatanpengunjung yang memakai jasa armadatersebut.Fasilitas PendukungHiburanPanggung hiburan merupakan‘magnet’ efektif yang memotivasipengunjung untuk datang ke suatukawasan objek wisata. Hal ini jugaberlaku di objek wisata Danau Buatan.Hiburan orgen tunggal yang disuguhkanpengelola sangat dinikmati oleh sebagianpengunjung yang ingin mengasahkemampuan bernyanyi, disamping untukmengisi keheningan disela kegembiraanpara pengunjung.Pada awalnya paling kurang setiapminggu pengelola dibantu denganswadaya pedagang sekitar kawasanDanau Buatan, selalu menyuguhkanhiburan orgen tunggal untuk menghiburpara pengunjung di panggung terbukatersebut, disamping hiburan lain yangdisuguhkan oleh pihak swasta ataupemerintah yang bersifat festifal atauceremonial. Sayangnya setelah merujukpada harga penyewaan orgen tunggalyang terus melambung dan karenaketerbatasan dana pengelola sebagaifunding utama, maka pada ahirnyapihak pengelola memutuskan untukmengadakan acara hiburan pada awalbulan saja.RestoranRestoran didefinisikan sebagaitempat bagi para pengunjung untukmemperoleh makanan serta minuman.Restoran memegang peranan pentingdalam pemenuhan kebutuhan kebutuhanpengunjung, karena pola prilaku sebagianpengunjung yang bersifat serba instantakan lebih memilih untuk mendapatkanmakanan di kawasan objek wisata daripada harus repot membawa dari rumah.Di kawasan Danau Buatan tidaksatupun tempat yang menjual makanan1837Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


dan minuman yang memenuhi kriteriastandarisasi sebuah restoran. Untukmemperoleh ‘makanan berat’pengunjung memperolehnya di kantinkantintenda liar milik masyarakat yangjauh dari standarisasi, karena kondisikantin-kantin tenda tersebut sangat kotordan hanya berlantaikan tanah saja.Penempatannya yang tidak teratur jugasangat memperburuk image DanauBuatan sendiri dan menggangu nilaiestetika.Keberadaan kantin-kantin tenda liarpada awalnya dikarenakan pihakpengelola tidak menyediakan restoranyang representatif bagi pengunjung.Peluang ini menimbulkan inisiatifmasyarakat sekitar untuk mendirikankantin tenda, mengingat jumlahpengunjung yang tidak sedikit yang akanmenjadi pelanggan mereka. Alasanlainnya penglegalan kantin tenda olehpihak pengelola karena sebagian tanahyang menjadi kawasan Danau Buatanbelum dibebaskan keseluruhannya yangmenyebabkan masyarakat sekitar bebasmendirikan warung-warung tenda liar.Toko SouvenirSouvenir merupakan kenangkenanganyang bersifat tanggible yangakan mengingatkan pengunjung kepadatempat yang pernah dikunjunginya.Memiliki souvenir suatu daerahkunjungan wisata juga menjadikan suatukebanggaan tersendiri bagi pemiliknya.Di kawasan Danau Buatan sendiri tidakterdapat toko souvenir yang disediakanoleh pihak pengelola maupun swadayamasyarakat sekitar. Dan tidak terdapatsatupun pernak-pernik yang diperjualbelikan sebagai kenang-kenagankeberadaan seseorang di Danau Buatan.Fasilitas PenunjangFasilitas penunjang di kawasanobjek wisata Danau tidak memilikibanyak perkembangan karenakondisinya yang kurang produktif bahkandikatakan tidak dapat berfungsi lagi. Halini dapat dilihat dari kurangnyaperawatan pada fasilitas-fasilitas tersebutyang berakibat langsung padakenyamanan pengunjung. Berikut iniadalah beberapa fasilitas pendukungyang terdapat pada objek wisata DanauBuatan, yaitu :DermagaSaat ini terdapat prasarana berupadua buah dermaga di kawasan DanauBuatan. Secara umum dermagaberfungsi sebagai tempat berlabuhkendaraan air, temapat naik dan turunnyapenumpang serta tempat bagipengunjung yang ingin merasakanbeburan air dan indahnya danau secaralebih dekat. Kedua dermaga tersebutdinamakan dengan Demaga Satu danDermaga Dua yang merupakan jantungdari fasilitas kendaraan air.Dermaga satu dijadikan tempatberlabuh bagi seluruh armada kendaraanair karena selain letaknya yang strategisdermaga satu juga terletak di pusatkonsentrasi pengunjung. Bila dilihat darikondisinya dermaga satu tergolong masihlayak, karena selain perawatan secaraberkala, pihak pengelola juga dibantu olehpemilik kendaraan air dalam halpendanaan.Berbeda dengan dermaga satumemang benar-benar produktif, dermagadua hanya bersifat dekoratif saja.Keberadaan dermaga dua sangat jauhdari pusat konsentrasi pengunjung, ± 3km bila ditempuh menggunakankendaraan darat dan harus mengambil1838Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


jalan memutar untuk mengintari sebuahbukit. menyebabkan dermaga dua kurangdiperhatikan. Letak Hanya saja dermagadua tersebut tidak produktif lagi sertakurang terawat.Safety GuardKendaraan air adalah wahana yangsangat digemari oleh pengunjung Objekwisata danau Buatan. Dalam setiap kalipelayaran keamanan merupakan halsangat diutamakan, berbagai antisipasidilakukan oleh para pemilik kendaraanair untuk mencegah terjadinyakecelakaan di wilayah perairan danau.Terlepas dari pada itu pihak pengelolamenugaskan satuan pengamankeselamatan air untuk menjagasepenuhnya keamanan wilayah perairan.Saat ini hanya terdapat satu orangsatuan pengaman keselamatan air diDanau Buatan. Dalam penugasannyapetugas tidak dilengkapi dengan armadauntuk berpatroli dan unit reaksi cepatuntuk merespon segala bentuk kecelakanyang terjadi di wilayah perairan DanauBuatan. Dalam rutinitasnya petugashanya berjaga-jaga di tepi dermaga. Halini tentunya sangat beresiko bagikeselamatan para pengunjung.Jasa KesehatanSegala bentuk kecelakaan dapat sajaterjadi di kawasan objek wisata. Bilaterjadi suatu kecelakaan yang tidakdinginkan maka solusi yang pertama kalidilakukan adalah membawa korbankecelakaan ke tempat pertolonganpertama. Dalam hal ini pihak pengelolaharus menyediakan jasa kesehatansebagai tindakan preventif sebelumdirujuk ke rumah sakit terdekat bilakondisi korban tidak memungkinkan lagiuntuk diantisipasi.Kondisi ini sangat berbeda jauhdengan objek wisata Danau Buatan. Diobjek wisata ini pihak pengelola tidakmenyedaiakan tempat dan tenagakesehatan. Bila terjadi kecelakaan, pihakpengelola yang pada dasarnya tidakterlatih secara medis bertindak untukmenangani korban. Hal ini tentunyasangat membahayakan, mengingatkesalahan dalam penanganankecelakaan akan berakibat fatal bagikorban.Sarana Tempat Makan dan MinumMakan dan minum bersama dalamsuatu kesempatan rekreasi merupakansifat manusia yang menginginkankebersamaan dalam ikatankekeluaragaan. Tentunya aktivitastersebut membutuhkan sarana sebagaitempat untuk menikmati makanan yangtelah disediakan. Di kawasan DanauBuatan pihak pengelola menyediakansarana untuk tempat makan dan minumpengunjung. Sarana tersebut terletaktepat pada pusat konsentrasi pengunjung,namun jumlah sarana tersebut sangatterbatas, tidak cukup untukmengakomodasi sebagian pengunjungyang membawa makanan sendirisehingga sebagian besar pengunjung lebihmemilih untuk menggelar tikar yangdisewakan masyarakat sekitar denganharga Rp.1.000 per tikar.MushollaAktifitas keagamaan di objek wisataDanau Buatan tidak berjalan denganbaik, hal ini ditandai dengan kondisimusholla yang kotor serta tidak terawat.Air bersih menjadi suatu kelangkaan ditempat berwudhu di musholla tersebut,hal ini terlihat melalui tempatpenampungan air wudhu yang dikotori1839Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


oleh sampah-sampah dedaunan daripepohonan yang tumbuh disekitarmusholla. Awal dari fenomena inimungkin terjadi karena letak mushollayang terlalu jauh dari areal utama objekwisata, yang berjarak ± 750 meter,terlebih dalam kondisi jalan yang mendakisehingga pengunjung enggan untukberibadah di musholla tersebut.WC UmumKawasan objek wisata DanauBuatan seluas ± 10 hektar hanya terdapat1 buah WC umum saja yang terletak dipusat konsentrasi pengunjung, ±100 mdari dermaga utama. Sangat ironismemang bila pengelola objek wisatahanya menyediakan 1 buah WC umumuntuk mengekomodasi seluruhpengunjung objek wisata Danau Buatan.Kondisi WC tersebut sudah tidak layaklagi, sangat bau dan kotor sekali karenatidak terdapat air yang mengalir untukproduktifitasnya.Untuk mengantisipasi hal tersebut,masyarakat yang berdomisili disekitardanau mendirikan WC umum dangankontribusi 1.000 rupiah per setiappemakaiannya. Harga ini ditetapkanlangsung oleh pihak pengelola, dansampai saat ini jumlah WC umum milikmasyarakat berjumlah 5 unit.TamanObjek wisata Danau Buatanmemiliki sebuah taman yang asri denganpenanataan yang baik. Pada tamantersebut juga terdapat kursi serta bungabungayang menghiasi. Rerumputandisekitar taman ketinggiannya sudah idealdan keberadaannya tidak menggangubunga-bunga disekitarnya. Di sisi kiritaman terdapat sebuah tower yangmenghiasi taman, yang merupakanbagian arsitektur dari dekorasi taman.Letak taman juga sudah baik, berjarak500 meter dari areal utama. Hanya sajaukurannya yang mini menyebabkan tidaksemua pengunjung dapat menikmati danmelepaskan lelah di taman tersebut.Pos KeamananKeamanan merupakan hal yangsangat penting disuatu kawasan objekwisata. Pos keamanan secara psikologisberfungsi sebagai security contol dalamoperasional suatu objek wisata karenakenyamanan dan keamanan pengunjungsangat tergantung dari keamanan seluruhkawasan objek wisata..Di kawasan objek wisata DanauBuatan sendiri tidak terdapat poskeamanan. Pos keamanan yangdisediakan oleh pihak pengelola hanyabersifat tentative yaitu pengalih fungsiangapura tempat pemungutan tiket masukmenjadi tempat stanby oleh pihakpengelola dan sekaligus sebagai tempatpelaporan bila terjadi suatu tindakkejahatan di kawasan objek wisata.Karyawan yang menjadi petugaskeamanan tersebut hanya berjumlah satuorang, bila pada hari libur karyawanlainnya yang non security merangkapmenjadi petugas keamanan sementara.Hal tersebut menyebabkan keamanan diobjek wisata Danau Buatan kurangkondusif karena kerap terjadi tindakkejahatan.Pusat InformasiObjek wisata Danau Buatantergolong dalam kawasan objek wisatayang sangat luas. Idealnya dalamkawasan Danau Buatan harus terdapatpusat informasi untuk memudahkan parapengunjung mengetahui posisi suatuobjek, pelaporan kehilangan,1840Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


penginformasian waktu dan informasilainnya mengenai kegiatan di objekwisata. Namun pihak pengelola tidakmenyediakan sarana pusat informasi,bahkan tidak memiliki petugas pelayananinformasi yang berjaga-jaga untukmembantu pengunjung yangmembutuhkan bantuan.Keamanan merupakan hal yangsangat penting disuatu kawasan objekwisata. Pos keamanan secara psikologisberfungsi sebagai security contol dalamoperasional suatu objek wisata karenakenyamanan dan keamanan pengunjungsangat tergantung dari keamanan seluruhkawasan objek wisata.Areal ParkirAreal parkir yang memadaimerupakan suatu hal yang sangat pentingdalam operasional suatu objek wisata,karena penempatan kendaraan pada titiktertentu akan memberikan suatukemudahan, rasa aman dan kenyamanantersendiri bagi para pengunjung. Dikawasan objek wisata Danau Buatanhingga saat ini tidak terdapat areal parkiryang memadai untuk mengcover seluruhkendaraan pengunjung. Pengunjungdibebaskan parkir dimana saja. Pada harilibur atau hari besar seluruh kawasanDanau Buatan bagaikan free parkingarea tanpa koordinir pihak pengelola. Halini tentu saja tidak memberikan rasaaman dan menggangu kenyamanan parapengunjung, karena lebar prasarana jalanhanya 3 meter saja dan kebanyakanpengunjung memarkirkan kendaraanmereka di sisi-sisi jalan sehinggamenghambat proses mobilisasi, dankendaraan menjadi sangat rawantergores.InfrastrukturAir BersihPasokan air bersih merupakankebutuhan pokok dari sebagian saranayang terdapat dalam suatu kawasan objekwisata. Dalam hal pasokan air pengelolaobjek wisata Danau Buatan lebih memilihmenempatkan mesin air disetiap saranayang membutuhkan air dalamoperasionalnya dan tidak tersentral.Langkah ini sangat efektif bila dilihat darijarak antara sarana yang membutuhkanpasokan air. Namun dalam hal perawatanpihak pengelola kesulitan karena kondisiperbukitan menyebabkan mesin airrentan terhadap kerusakan dan tidakmemungkinkan bagi pihak pengelolauntuk mengeluarkan dana perbaikankeseluruhan mesin air.Tenaga ListrikTenaga listrik juga merupakanpenggerak utama bagi sebagian saranadan prasarana di kawasan DanauBuatan. PLN (Perusahaan ListrikNegara) merupakan sumber listrikutama yang berkapasitas 10.000 wattuntuk memenuhi seluruh sarana danprasarana. Kapasitas 10.000 watttersebut sudah mencukupi kebutuhanstandar suatu objek wisata dalamoperasional maupun untuk kegiatanhiburan. Pada dasarnya instalasi listrikpada setiap sarana dan prasarana sudahtergolong baik, hanya saja pihakpengelola tidak menyediakan listrikpengganti (genset) untuk mensuply aliranlistrik untuk sementra waktu bila terjadipemadaman listrik.1841Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


UtilitasUtilitas merupakan pelengkap untukmendukung operasional kawasan objekwisata. Kebutuhan utilitas merupakanhal yang sekunder dalam kegiatanoperasional objek wisata namunkeberadaanya sangat membantu,memudahkan dan membuat nyaman parapengunjung. Keberadaan utilitas dikawasan Danau Buatan hampir tidakterlihat sama sekali, misalnya; tidak adapapan peta lokasi, tidak terdapat lampupenerangan serta tidak terdapat papanpetunjuk lokasi atraksi dan fasilitas lain.Kondisi ini sangat memposisikanpengunjung pada tingkat yang sangattidak nyaman bila pengunjung masihberada pada di kawasan Danau Buatanpada malam hari.KomunikasiDi kawasan Danau Buatan padasaat ini sudah dapat diakses jaringantelekomunikasi seluler dari berbagaimacam provider. Dengan kemajuanteknologi pada saat ini penggunaan telfonseluler memang sangat efektif tetapipenggunaannya sangat ternatas. Idealnyadi sekitar kawasan objek wisata tersediatelfon umum, namun jaringantelekomunikasi kabel belum dapatmemasuki wilayah kawasan objek wisatasehingga telekomunikasi yang murah,evektif dan efisien belum dapat tercapai.SanitasiKebersihan lingkungan objek wisatamemang merupakan faktor utama dalampencapaian kenyamanan pengunjungdisamping faktor-faktor lain yang jugamempengaruhi. Dalam menciptakankebersihan kawasan Danau Buatanpengelola menampatkan tempat-tempatsampah di tempat strategis yang banyakdikunjungi pengunjung. Selain faktorefisiensi hal tersebut juga bertujuanmengajak pengunjung untuk mencintaidan menjaga lingkungan mengingatkeberadaan hutan lindung di kawasanDanau Buatan.Dalam hal pengolahannya semuasampah yang terkumpul pada seluruhtempat sampah dikumpulkan dan dibakardisuatu tempat khusus. Sedangkan untuklimbah cair hanya berupa sisa-sisamakanan dan bekas pencucian darikantin-kantin tenda yang jumlah libahnyatidak begitu besar dan berbahayasehingga langsung dialiri ke drainase.Sebagai tindakan perventif untukmenagani banjir pihak pengelola,membangun drainase pada setiap sisijalan, hal ini disebabkan karena wilayahDanau Buatan yang dominan perbukitan,sehingga saat hujan debit air yangmengalir dari puncak bukit menuju lerengcukup besar, sehingga membentuk aliranyang deras. Aliran air hujan ditampungdan dialirkan melalui drainase untukselanjutnya menuju ke Danau.Oleh pihak pengelola pembersihandrainase dilakukan secara berkalaterutama pada saat musim hujan. Secarateknis pembersihan drainase bertujuanmembersihkan sampah-sampahdedaunan yang sudah mengering yangterbawa saat hujan dari puncak bukit, danjuga bertujuan agar tidak terjadipenumpukan sampah yang mengakibatkankelebihan kapasitas pada saatair hujan mengaliri drainase.AkssesibilitasSaranaSarana transportasi merupakan halpenting dalam proses pencapaianseorang pengunjung menuju suatukawasan objek wisata. Untuk menuju1842Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


objek wisata Danau Buatan pengunjungdapat menggunakan alat kendaraanpribadi dan transportasi umum. Bilamenggunakan kendaraan pribadi makatidak sulit untuk mencapai lokasi DanauBuatan, cukup dengan mengikuti jaluryang telah ditentukan pengunjung dapatlangsung menikmati panorama alamDanau Buatan.Lain halnya bila menggunakankendaraan umum, proses pencapaiannyatergolong sulit karena kendaraan umumyang melewati rute Danau Buatan hanyasampai Pasar Rumbai saja sehinggauntuk menuju ke Danau Buatanpengunjung harus rela mengeluarkanlebih banyak uang untuk membayarimbalan jasa kendaraaan umum yangbersifat carteran. Hal ini tentunya sangatmenyulitkan pengunjung yang besifatindividu atau kelompok kecil.Secara fisik kondisi kendaranumum dan carteran tersebut masih layak,hanya untuk memperoleh kendaraancarteran sangat sulit karena harus melaluiproses negosiasi terlebih dahulu. Biladikalkulasikan dana yang dikeluarkanuntuk sekali membayar carteran sebesarRp 20000 per rombongan dengan rincianRp 2000 per orang. Sampai saat inikeberadaan kendaraan carteran belumterkoordinir karena izin trayek langsungmenuju Danau Buatan belumdikeluarkan oleh Pemerintah KotaPekanbaru.PrasaranaKondisi jalan menuju kawasanDanau Buatan sampai saat ini masihberkondisi baik dan layak. Keseluruhanjalan dari pusat kota menuju kawasanDanau Buatan sudah diaspal, hanya sajaperlu diadakan perbaikan yang seriusdiberapa titik di radius 1 km dari kawasanDanau Buatan. Rambu-rambu petunjukarah menuju Danau Buatan dari pusatkota menuju objek juga belum maksimal,hanya terdapat satu papan petunjuk yangterletak di traffic light persimpangan jalanYos Sudarso dengan jalan Riau. Keadaanini tentunya sangat menyulitkanpengunjung yang berasal dari luar KotaPekanbaru mengingat masih banyak jaluryang akan ditempuh menuju objek wisataDanau Buatan.Setelah memasuki kawasan DanauBuatan pengunjung akan dibingungkandengan persimpangan-persimpanganyang tidak jelas arah dan tujuannyakarena tidak ada papan petunjuk lokasiutama objek wisata. Kondisi jalan umumdi kawasan Danau Buatan saat ini masihlayak dan lancar, hanya saja kondisi jalanmenuju dermaga dua sudah tidak dapatditolerir, sebagian bahkan keseluruhanbadan jalan saat ini sudah tidak beraspallagi.Di kawasan Danau Buatan jugaterdapat dua buah jembatan penghubung.Berdasarkan bentuk dan konstruksinya,secara fisik jenis kedua jembatan tersebutberbeda. Jembatan pertama merupakanjembatan yang terbuat dari beton, denganbahan konstruksi besi baja, beton danpermukaannya ditutupi dengan aspal.Jembatan ini dapat dilalui oleh berbagaijenis kendaraan bermotor dan berfungsisebagai prasarana penghubung antarazona dermaga satu dan dermaga dua.Jenis jembatan yang kedua merupakanjenis jembatan gantung. Konstruksijembatan gantung berbahan dasar kayudengan rangka besi. Jembatan inidisimulasikan sebagai penghubung telukdi areal utama Danau Buatan dan hanyadapat dilalui oleh pengunjung saja .Saatini kondisi kedua jembatan tersebut masihberkondisi baik sesuai dengan fungsinya.1843Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Jarak TempuhJarak tempuh dari pusat kota menujumenuju Danau Buatan sudah tergolongdekat, ±10 km dari pusat KotaPekanbaru. Bila melalui pusat kota rutejalan menuju kawasan Danau Buatandapat diakses melalui jalan arteri yaitujalan Yos Sudarso, jalan Sekolah danJalan Pramuka sebagai jalan terahir yangmenuju objek wisata Danau Buatan.Hanya saja pada jam-jam tertentu jalanarteri Yos Sudarso mobilisasinya sangatpadat sehingga akan menambah waktudalam pencapaian menuju objek wisataDanau Buatan.Waktu TempuhKondisi jalan yang baik dan lancarserta jarak yang tergolong dekat untukkawasan objek wisata ±10 km dari pusatkota, memposisikan objaek wisata DanauBuatan tergolong sebentar dalam waktupencapaiannya. Bila menggunakanpribadi jarak tempuh yang ideal adalah


Secara rill tujuan tersebut belum tercapaikarena banyaknya faktor penghalangdalam meningkatkan jumlah pengunjung.Kurangnya pengawasan merupakansalah satu faktor penghalang di bidangorganisasi. Pada saat ini kesadaraanpetugas untuk bekerja maksimalmerupakan hal yang langka. Kondisi inidapat dilihat dari tidak terawatnya saranadan prasarana yang terdapat di kawasanDanau Buatan. Pengawasan seharusnyamenjadi hal yang efektif untukmenggulangi masalah ini, namun padakenyataannya pengawasan telahdilakukan, tetapi hingga saat ini parapetugas masih belum terlihat produktif.EvaluasiKroscek merupakan hal yangsangat penting untuk mengetahuiberhasilnya suatu tujuan dan untukmemperbaiki kesalahan yang dilakukan.P.D. Pembangunan sebagai pihakmanajemen utama hanya melakukanevaluasi sebatas mengetahui jumlahpemasukan setiap bulan. Dari haltersebut dapat disimpulkan bahwa P.D.Pembangunan mengambil posisi bertahankarena hanya mengambil keuntungantanpa melakukan perbaikan-perbaikanPermintaan Pasar dan StandarisasiKelayakan FasilitasGambaran Permintaan PasarMenurut Kusdianto Hadinoto(1996:43) dalam menentukanpembangunan suatu fasilitas disuatuobjek wisata, idealnya pengelola harusmengadakan penelitian terhadappermintaan pasar terlebih dahulusehingga pembangunan yang tidak tepatsasaran dapat dihindari. Pembangunanfasilitas dan prasarana yang tidak tepatsasaran akan menimbulkan minimnyaintensitas pemakaian terhadap fasilitastersebut, yang akan berakibat padakurangnya perhatian pengelola dalamperawatannya karena secara tidaklangsung akan menambah costperawatan. Dampak lain yangditimbulkan adalah kurangnya nilaiestetika objek wisata karena denganadanya penempatan fasilitas yang tidaktepat sasaran tersebut maka polapemakaian lahan yang tidak efektif danefisien tidak dapat terwujud.Untuk mengetahui permintaanpasar, terlebih dahulu harus diketahuikompetitor yang sejenis dalam suatudaerah tujuan wisata, yaitu objek wisatayang mempunyai verifikasi yang samadengan objek wisata Danau Buatan,dalam artian atraksi serta fasilitas yangditawarkan oleh kedua objek wisatatersebut relatif sama. Hal inidimaksudkan untuk menganalisapermintaan pasar melalui perbandingantingkat kunjungan pada kedua objekwisata tersebut.Perbandingan antara objek wisataDanau Buatan dan objek wisata AlamMayang cukup tinggi, bila dipersentasikanhampir mendekati 40% (lihat tabel4). Secara teknis dari perbandingantersebut dapat dikatakan permintaanpasar terhadap objek wisata alam danrekreasi masih tinggi. Melalui permintaanpasar yang relatif tinggi tersebut makaproses pembangunan atraksi, sarana danprasarana, sebagai dasar daripengoptimalisasian dapat dilakukan.Standarisasi Kelayakan FasilitasStandarisasi merupakan suatu yangsangat diperlukan dalam pembangunansuatu objek wisata. Dengan adanyastandarisasi maka kenyamanan,1845Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


keamanan serta kepuasan pengunjungdapat tercapai, sehingga tidak akanditemukan kendala yang berarti dalamkegiatan operasional objek wisatatersebut.Menurut R.G Soekadijo (1997:61)standarisasi fasilitas objek wisata secaraumum dapat dicapai melalui; (1)persfektif ruang, (2) persfektif bentukdan arsitektur (3) Kelengkapan danperawatan. Penjelasan standarisasitersebut yaitu :1. Mengatur persfektif ruang dankepentingana. Persfektif ruangPersfektif ruang merupakanpemposisian suatu fasilitasberdasarkan estetika, sehinggapenempatan fasilitas tersebuttidak menggangu pandangan(menghalangi fasilitas lain),tidak menganggu aksesibilitasdan sesuai dengan lahan yangtempat pemosisiannya.b. KepentinganDalam pemposisian fasilitasberdasarkan kepentinganpengunjung, yaitu segala fasilitasharus ditempatkan berdasarkansifat zonasi dan frekuensikebutuhannya. Berdasarkanzonasi yaitu penempatan fasilitasharus berdasarkan kebutuhanpada zona tersebut, misalnyafasilitas kamar ganti padagelanggang renang. Sedangkanfrekuensi kebutuhan yaitupenempatan fasilitas disetiapzona agar pengunjung mudahmenemukan dan cepatmenggunakannya. Misalnya,WC umum.2. Mengatur persfektif warna danarsitektura. WarnaDalam mengatur warna dalammembangun fasilitas dalamsuatu objek wisata harusdisesuaikan dengan komposisiwarna dilingkungan sekitarnya.Hal ini bertujuan agar nuansafasilitas tersebut serasi denganlingkungan serta dapat menarikperhatian pengunjung.b. Lokasi dan arsitekturArsitektur dalam hal inimerupakan bentuk tatananbangunan yang disesuaikandengan fungsi, lokasi dan sosialbudaya pada suatu objek wisata.Penyesuaian tersebut dilakukanagar memberikan kemudahanserta keindahan, misalnyarestoran apung harus diposisikandi pinggir danau denganarsitektur melayu. Standarisasiarsitektur juga tidak terlepas darimaterial bangunan yang baikserta kokoh untuk menjaminkeamanan dan kenyaman parapengunjung.3.Kelengkapan dan perawatana. KelengkapanUntuk mencapai sebuah fasilitasyang sesuai dengan standarisasiumum, fasilitas tersebut harusdilengkapi dengan alat-alatpenunjang operasional fasilitasyang layak dan berkualitas baik.Hal ini bertujuan untukmemberikan kenyamanan,kepuasan bagi pengunjung sertakemudahan bagi pihak pengelolauntuk melakukan perawatan.Misalnya, WC umum dengan1846Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


wash bassin, clossed danurinal yang berkualitas baik.b. PerawatanPerawatan merupakan hal yangterpenting untuk menjagakelanjutan standarisasi yang telahdicapai. Dalam upaya tersebut,perawatan harus dilakukansecara berkala pada setiapsarana dan prasarana maupunalat-alat kelengkapannya.Ditinjau dari jenisnya perawatandapat dibedakan menjadi duabagian, yaitu:a) Perawatan fisik; yaituperawatan kebersihanbagunan dan perawatanfisik bangunan yang meliputipewarnaan dan renovasi.b) Perawatan alat-alatpenunjang; yaitu perawatanmesin servis secara berkalaserta dan penggantian bilaterjadi kerusakan yang takdapat ditolerir.Pengoptimalisasian Unsur-unsurPengelolaan Objek Wisata DanauBuatanKondisi aktual sarana danprasarana serta pengorganisasian dalampengelolaan objek wisata Danau Buatanpada saat ini berada pada tahap yangmemprihatinkan (lihat lampiran, saranadan prasarana yang tidak optimal).Kondisi ini dapat dilihat dari sarana danprasarana yang terdapat di DanauBuatan, secara umum kondisi sarana danprasarana tersebut kurang terawatbahkan ada yang sudah tidak berfungsilagi, hanya sebagian dari sarana danprasarana tersebut yang masih berkondisibaik dan dapat mempertahankankeanggunan dan keindahan objek wisataDanau Buatan.Dalam poin ini akan diuraikanpembahasan dan hasil penelitianmengenai pengoptimalisasian unsurunsurpengelolaan objek wisata Danaubuatan. Unsur-unsur pengelolaan yangakan dioptimalisasi merupakan unsurunsuryang belum ideal menurut penulis.Maka untuk mengoptimalisasikan unsurunsurtersebut digunakan metodaperencanaan melalui pendapat kepakaran(ekspert choice), sehingga dapatterbentuk suatu konsep ideal dalamoptimalisasi pengelolaan objek wisataDanau Buatan.Menurut Forman dan Selly, 2001;Saaty, 1999 dalam www. PetraChristian.com expert choice adalahsebuah perangkat lunak bagian dariAnalitical Hierarchy Process (AHP)yang merupakan suatu metode yangunggul untuk memilihi aktivitas yangbersaing dengan menggunakan kriteriakhusus. Kriteria dapat bersifat kuantitatifatau kualitatif, dan bahkan kriteriakuantitatif ditangani dengan strukturkesukaan pengambil keputusan dari padaberdasarkan angka. Maka dalam hal inipenulis mengadopsi expert choice dalamproses pengoptimalisasian unsur-unsurobjek wisata Danau Buatan.Dalam pembentukan konsepoptimalisasi tersebut ( expert choice)melibatkan pakar-pakar yangberkompeten dibidang pengembanganobjek wisata, perencanaan tata ruang danteknik infrastruktur serta bidangmanejerial. Tidak ada aturan yang bakudalam menentukan pakar yang akandijadikan responden. Dan pada penelitianini penentuan responden berdasarkanlatar belakang pendidikan, pekerjaan dankompetensinya.1847Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Pengoptimalisasian Unsur-unsur Kegiatan Operasional Objek WisataDanau Buatan.AtraksiKondisi AktualKondisi alam Danau Buatanditata dengan baik, kondisidanau buatan dapat disejajarkandengan wista alam.Wilayah atraksi bersihnamun pondokan masyarakatpenjaja makanan tidakteratur.Fasilitas yang perludilengkapi :1.Kawasan ekowisatahutan mangrove sertaaksesibilitasnyaPotensi hutan mangrovedi kawasan DanauBuatan belumdikembangkan.2.Dermaga khususberenangKonsep perencanaanMenurut Ardiman, SE, MM :Pondokan-pondokan harus dikonsentrasikan pada suatu titikuntuk dijadikan suatu gerai pujasera atas air yang dapat menjadisuatu daya tarik dan eksotisme tersendiri bagi pengunjung.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Pujasera dibangun permanen dengan konsep arsitektur melayu.Tata ruang pujasera harus strategis secara lokasi maupun atraksi.Menurut Ardiman, SE, MM :Kawasan ekowisata mangrove sebaiknya di lokasikan jauh darikeramaian pengunjung karena sebagai suatu kawasan ekowisatasuara-suara alam sangat dibutuhkan. Atraksi tidak terbatas padapinggir danau saja melainkan menelusuri bagian dalam kawasanhutan mangrove.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Untuk membangun assesibilitas di dalam kawasan hutanmangrove dibutuhkan jembatan kayu dengan lebar 1,5 mdengan tinggi 2 m dari permukaan rawa dan pada kedua sisinyadiberi pagar pengaman. Jembatan kayu akan mengakses seluruhkawasan hutan mangrove.Untuk menikmati keindahan mangrove dari tepian danaudibutuhkan sampan dayung kecil berkapsitas 5 orang yang dapatmencapai tepian danau.Menurut Ardiman, SE, MM :Dermaga khusus berenang sebaiknya berada jauh dari arealutama, selain menimbang estetika Danau Buatan keberadaannyayang jauh akan membawa pengunjung lebih mengenali arealdanau dan mencoba fasilitas menarik lainnya.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Dermaga khusus berenang dibuat permanen dengan paduankeramik dengan nuansa alami, karena dalam hal pengairanmasih memakai air danau. Faktor keamanan diterapkan melaluipemberian batasan ketinggian air bagi pengunjung.Fasilitas lainnya adalah ruang penggantian pakaian, pembilasanserta toilet.1848Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Berdasarkan pendapat di atas dapatdiketahui bahwa kondisi atraksi dikawasan Danau Buatan pada dasarnyasudah optimal, di mana kondisi atraksisecara fisik sudah bersih dan potensinyadapat disejajarkan dengan objek wisataalam. Hanya saja perlu ada penataan danpengkonsentrasian pondok-pondokmakanan milik masyarakat melalui geraipujasera atas air.Pada dasarnya fungsi sebuah objekwisata adalah untuk memenuhi kebutuhanwisatawan secara psikologis sehinggawisatawan merasa puas dengankeberadaannya di objek wisata tersebut.Beranjak dari hal itu, untuk lebihmengoptimalkan atraksi, sebaiknyapotensi wisata Danau Buatan lebihdieksplorasi kearah yang positif dengancara menciptakan atraksi sekunderlainnya yang tentunya dilakukanberdasarkan penelitian kebutuhan pasarwisata pada saat ini.Berdasarkan paradigma baruwisatawan secara umum dan arahankebijakan umum RIPPDA Provinsi Riaupada poin (pertama), saat ini ekowisatasangat diminati oleh para wisatawan.Dan bila dilihat dari jenis air dan kondisitanahnya, kawasan Danau Buatan cocokuntuk dijadikan kawasan konservasimangrove dan tempat khusus berenangdi alam, karena kedua atraksi sekundertersebut pada saat ini sangat digemari olehwisatawan. Sebagai proyeksi darirealisasi kawasan konservasi magrovetersebutFasilitasKondisi Aktual1. Fasilitas utama:a. Areal UtamaKondisi bagunan sudah tidaklayak lagi, harus direvitalisasi.b.Kendaraan airSejumlah armada me-merlukanperbaikan. Pengelolaandilakukan oleh masyarakat.Konsep perencanaanMenurut Ardiman, SE, MM :Pemposisian antra pendopo dan panggung terbuka harusdipisahkan ±300m, mengingat fungsi pendopo yangmerupakan tempat bersantai, sehingga harus ditempatkanpada tempat ketingian.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Pondasi pendopo dan panggung utama merupakanbagunan permanen berbahan dasar baja danganberatapkan genteng metal. Konsep pendopo masih berupagazebo sedangkan panggung terbuka tetap berupacolloseum dengan kapasitas 200 tempat duduk. Agarlebih terkesan dekoratif kedua bangunan dipercantikdengan selembayung melayu.Menurut Ardiman, SE, MM :Kendaraan air harus dibuat semenarik mungkin, keadaanharus berkondisi baik agar keamanan pengunjung dapatterjamin dengan cara melakukan perawatan secaraberkala. Pengelolaan harus dilakukan oleh pihakpengelola agar lebih terodinir.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Kendaraan air dibuat dengan mutu kayu dan mesin yangberkualitas baik. Khusus sepeda air, bahan kayuhan harusberkualitas dan dirawat secara berkala1849Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Kondisi Aktual2. Fasilitas Pendukung:a. HiburanHiburan hanya berbentuk orgentunggal yang diadakan setiapawal bulan.Konsep perencanaanMenurut Ardiman, SE, MM :Kegiatan panggung hiburan sebaiknya dilakukan setiapminggu berupa penampilan band lengkap dengankomposisi penampilan musik modren, kolaborasi sertamusik tradisi, agar masyarakat lebih mengenalkebudayaan setempat.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Untuk melangsungkan kegiatan dibutuhkan suply listrikyang memadai. Kapasitas listrik yang disediakan harusmaksimalb.RestoranTidak terdapat restoran dikawasan Danau Buatan yangrepresen-tatifMenurut Ardiman, SE, MM :Dalam suatu kawasan objek wisata harus ada minimalsebuah restoran yang bersih, bervariasi, lengkap sertaberkapasitas maksimal. Sebaiknya restoran dibuat di atasdanau ±100 m dari areal utama.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Pondasi restoran atas air dibuat dengan bahan betonsehingga aman bagi para pengunjung, untuk restoransendiri dibuat dengan bahan dasar kayu yang menyerupaisimulasi sebuah rumah adat, dan ditambah denganornamen-ornamen yang menarik.c. Toko suvenirTidak terdapat toko suvenir dikawasan Danau Buatan3. Fasilitas Penunjang:a. Safety unitTidak terdapat armadapenyelamatan sehingga sangatberesiko bila terjadi kecelakan diwilayah perairan.b. Jasa KesehatanTidak terdapat klinik kesehatansehingga penanganan pertamakorban kecelakaan sulitdilakukan.Menurut Ardiman, SE, MM :Jajanan suvenir sebaiknya dibanggun berjejer menyerupaiplaza terbuka dan disela-sela arena terdapat penampilanperminan rakyat.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Jajanan souvenir dibuat disisi kiri dan kanan disepanjangjalan setelah melalui pintu gerbang masuk menuju keareal utama. Bangunan dibuat semi permanen agarfleksibel.Menurut Ardiman, SE, MM :Armada penyelamatan harus berada pada titik startegisagar bisa memantau lalu lintas air sehingga dapatmelakukan reaksi cepat. Armada berjumlah 2 unit dengan4 orang petugas penyelamat.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Pos armada penyelamat harus berdekatan dengan pusataktifitas atas air dan dilengkapi dengan tower pemantau.Kondisi mesin armada penyelamat harus diperiksa secaraberkala.Menurut Ardiman, SE, MM :Sebuah objek wisata harus memiliki klinik kesehatandengan tenaga yang terlatih dan dilengkapi dengansebuah mobil reaksi cepat, sehingga dapat dilakukanpenanganan antisipatif bila terjadi hal-hal diluarkemampuan tim medis.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Pemposisian klinik kesehatan benar-benar terletakstrategis dalam pengaksesannya, sehingga dapatdilakukan tindakan yang antsisipatif. Perawatan armadaunit reaksi cepat harus secara berkala.1850Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Kondisi Aktualc. Tempat makan dan minumdisekitar objekTidak terdapat tempat makan danminum yang disediakan bagipengunjung yang membawamakanan sendiri.d. d. MushollaKeadaan musholla sangat tidakterawat dan tidak ada air untukberwudhu.Konsep perencanaanMenurut Ardiman, SE, MM :Tempat makan dan minum dibangun pada suatu titikkonsentrasi dimana pada saat pengunjung menikmatimakanan dapat melihat atraksi yang disuguhkan(pemandangan alam)Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Tempat makan dan minum dibuat permanen (tidak bisadipindahkan) seperti set meja makan beserta kursi yangterbuat dari bahan dasar kayu. Idealnya ditata ditepiandanau.Menurut Ardiman, SE, MM :Musholla harus berfasilitas lengkap baik dalam alat-alatsholat maupun suply air. Bangunan harus berada dalamwilayah penzonaan yang terpisah dari atraksi utamakarena demi kenyamanan beribadah para pengunjung.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Luas musholla minimal harus ± 48 m 2 dengan jaringanlisrrik yang memadai dan suply air yang mencukupi danselalu tersedia. Kebersihan musholla harus dilakukansetiap hari.e. Toilet/wc umumToilet umum berkondisi sangattidak terawat, tidak ada suply airdah hanya berjumlah 1 unit.Menurut Ardiman, SE, MM :Seharusnya objek wisata menyediakan toilet yangmemadai pada setiap zona pembagian wilayah. Secarateknis kondisinya harus bersih dan ketersediaan airmerupakan hal yang sangat penting.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Toilet harus dilengkapi dengan fasilitas tempat cucitangan, urinal toilet jongkok dan toilet duduk. suply airharus secara kontiniu. Perawatan dan kebersihan toiletharus di perhatikan setiap saat. Semua fasilitas di dalamtoilet harus berfungsi dengan baikf. TamanKondisi taman bersih, menarikdan tertata de-ngan baik, hanyasaja be-lum dimasukkan kedalamwilayah penzonaan sehinggaletaknya terasa jauh olehpengunjung.g. Pos KeamananTidak terdapat pos keamanan,jumlah petugas keamanan hanyasatu orang sehingga rentanterhadap tindak kriminal.Menurut Ardiman, SE, MM :Taman sebaiknya diposisikan pada central wilayahpenzonaan sehingga pengunjung mudah mencapaifasilitas tersebut.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Perawatan taman harus secara berkala agar penataantaman terlihat terus-menerus rapi dan menarik.Menurut Ardiman, SE, MM :Pos keamanan utama harus berdekatan dengan pusatinformasi dan berada pada areal utama objek wisata agarpengunjung tidak sulit menemukan. Petugas harusditempatkan pada setiap zona untuk kenyamanan dankeamanan pengunjung secara psikologis.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Pos keamanan dibuat permanen yang menyerupai sebuahkantor kecil sehingga memberikan kesan keamanan dankeprofe-sionalan bagi pengunjung.1851Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Kondisi Aktualh. Pusat informasiTidak terdapat pusat informasi dikawasan Danau Buatan.Informasi hanya diterima melaluipedagang-pedagang sekitarobjek wisata.i. Areal ParkirParkir kendaraan tidakterkoordinir sehinggamenimbulkan kemacetan dankendaraan sangat rawankerusakan.Konsep perencanaanMenurut Ardiman, SE, MM :Pusat informasi harus berada pada areal utama karenabiasanya para pengunjung terkonsentrasi pada arealutama, sehingga memberikan kemudahan bagi parapengunjung untuk mencarinya.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Arsitektur Pusat informasi harus berbentuk seperti towerdengan sebuah papan nama yang dapat dilihat darikejauhan sehingga memudahkan pengunjungmengenalinya.Menurut Ardiman, SE, MM :Areal parkir harus diposisikan pada bagian depan objekwisata, sehingga tidak menggangu aktifitas pengunjung.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Areal parkir harus luas, pemposisian kendaraan harusditata dengan baik. Untuk memberikan kesan asri diarealparkir ditanami pohon pelindung.Berdasarkan pendapat para pakardi atas dapat diproyeksikan bahwakondisi fasilitas yang optimal adalahsuatu posisi dimana keberadaan fasilitasmampu mengakomodir segala keinginanpengunjung dan membuat pengunjungmerasa nyaman selama berada di suatuobjek wisata. Untuk menciptakan kondisioptimal tersebut, pengelola DanauBuatan harus melakukan pembenahandiri melalui revitalisasi dan pembangunansemua sarana dan prasarana yangmenjadi elemen dasar untuk memenuhikebutuhan pengunjung.Dalam pencapaian hasil yangmaksimal dalam proses tersebut,pembangunan fasilitas dan revitalisasitidak boleh terlepas dari teknik arsitektur,luas bagunan, keamanan, jarak ideal dansyarat-syarat kelengkapan lain sebagaisyarat mutlak pengadaan sarana danprasarana objek wisata. Kelengkapansyarat-syarat tersebut merupakan halyang sangat fundamental untukmensinergikan fasilitas-fasilitas objekwisata, mengingat dalam operasionalnyafasilitas-fasilitas tersebut terkait antarasatu dengan yang lain.Seiring dengan keterkaitan fasilitas,penglokasian juga merupakan hal pentingdalam mencapai efektifitas pemanfaatanfasilitas tersebut. Penglokasian fasilitasyang efektif ditentukan melalui metodezonasi. Dengan metode zonasi makakonsentrasi pengunjung dan pengabaianfasilitas dapat dihindari karena secarateknis zonasi memberikan kemudahanbagi pengunjung untuk menemukanberbagai macam fasilitas yang terdapatpada suatu objek wisata berdasarkankepentingannya.Dalam pelaksanaan operasionalnya,sarana dan prasarana tidak terlepas dariperanan pihak pengelola dan masyarakatsebagai stake holder. Dalam artian pihakpengelola memberikan kesempatan yangseluas-luasnya bagi masyarakat yangbergantung pada produktivitas objekwisata Danau Buatan melalui perizinanpemakaian sebagian fasilitas untuk1852Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


dijadikan mata pencarian bagimasyarakat sekitar. Hal ini juga tertuangdalam pasal 30 ayat 1 UU. No.9 tahun1990 yaitu, masyarakat memilikikesempatan yang sama dan seluasluasnyauntuk berperan serta dalampenyelenggaraan kepariwisataan.Pernyataan yang hampir senada jugatertuang dalam RIPPDA Provinsi Riaupada arahan kebijakan umum pada poin(ketiga) dan arahan rencana indukpariwisata Kota Pekanbaru pada poin ke(tiga).Melalui undang-undang dan arahanRIPPDA tersebut peranan masyarakatsebagai stake holder dapat dirasakan,terutama melalui usaha/jasa yangmereka lakukan untuk memenuhikebutuhan pengunjung selama berada disuatu objek wisata. Kontribusi lainnyaadalah retribusi yang mereka berikansebagai pembayaran atas pemakaian jasafasilitas yang berlanjut pada peningkatanPAD.Kondisi AktualInfrastruktur di kawasanobjek wisata Danau Buatanpada dasarnya belum baik,bahkan ada sebagian infrastrukturyang keberadaannyasangat penting yangbelum dibangun.Fasilitas yang perlu dilengkapidan direvitalisasi :1. Fasilitas air bersihTidak terdapat penampungandan jaringanpendistribusian air bersih2. Jaringan listrikKapasitas listrik mencukupi,namun jaringannyamasih konvensional.3. UtilitasTidak terdapat utilitasyang berarti di kawasanDanau Buatan.Konsep perencanaanMenurut Ardiman, SE, MM :Infrastruktur merupakan hal yang bersifat fundamental, dalamhal ini keberdaannya sangat dibutuhkan sebagai motorpenggerak dalam oprasional fasilitas suatu objek wisata. Dengandemikian keberadaan infrastruktur sangat penting dan harusdirawat secara berkala.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Infrastruktur harus dibangun dan dikelola secara profesionalkarena operasional sarana dan prasarana tergantung dari baikatau tidaknya kualitas bangunan, jaringan dan maupun besarkapasitasnya.Menurut Ardiman, SE, MM :Air bersih harus terus tersedia untuk operasional sebagiansarana dalam suatu objek wisata, hal ini dilakukan untukkenyamanan pengunjung.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Sumber air bersih harus terkonsentrasi (bera da dalam suatuwadah penampungan air) dan dalam pendistribusiannyamenggunakan jaringan bawah tanah sehingga keberadaannyatidak menggangu dan tidak memerlukan perawatan yang berarti.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Demi keamanan dan kenyamanan pengunjung, sebaiknyajaringan listrik di distribusikan melalui kabel bawah tanah,mengingat banyaknya utilitas dan fasilitas yang membutuhkanjaringan listrik.Menurut Ardiman, SE, MM :Penempatan utilitas (peta lokasi dan penunjuk jalan) harusstrategis dan berada pada tempat yang mudah dilihat. Lampupenerangan jalan harus mampu menerangi tempat yang dilaluipengunjung pada malam hari.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Arsitektur utilitas harus dibuat semenarik mungkin dan dapatmenerangi secara maksimal (lampu jalan).1853Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Kondisi Aktual4. KomunikasiJaringan komunikasikabel belum dibangun dikawasa Danau Buatan.Konsep perencanaanMenurut Ardiman, SE, MM :Jaringan komunikasi kabel sangat diperlukan karena lebihmurah, efektif dan efisien, mengingat kawasan Danau Buatansangat luas sehingga resiko pengunjung terpisah darirombongannya sangat rentan.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Jaringan telepon umum sebaiknya di tempatkan dilokasi-lokasiyang strategis khususnya pada pusat keramaian disetiap zona.Perawatannya harus secara berkala mengingat kerap terjadipengrusakan pada telfon umum.5. SanitasiPerencanaan sanitasipada dasarnya sudahbaik, hanya saja untuklimbah makanan masihdialirkan ke danau.Menurut Ardiman, SE, MM :Sanitasi merupakan hal penting bagi pengendalian dampaklingkungan disekitar kawasan Danau Buatan. Setiap limbahbasah maupun kering harus dikendalikan dengan baikmengingat dampak yang akan ditimbulkan bagi lingkungankhususnya limbah basah yang tidak berbahaya langsungdialirkan ke danau melalui drainase.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Sebaiknya limbah basah dikumpulkan pada setiap restoran dandidaur ulang menjadi biofertilizer yang berguna bagi tanaman dikawasan Danau Buatan.Infrastruktur yang optimal harusdibangun, disusun dan direncanakansecara profesional agar dalamoperasionalisasinya dapat membentuksuatu rangkaian yang saling berkaitanantara infrastruktur dengan fasilitas.Dalam beberapa fungsi umum tujuanpengadaan infrastruktur adalah sebagaisuply (listrik, telepon dan air) untukoperasionalisasi fasilitas. Dalam prosespensuplyan instalasi/jaringan airsebaiknya melalui jaringan bawah tanahsehingga tidak menggangu estetikamaupun aktifitas pada objek wisata.Keberadaan utilitas merupakan halyang sangat penting untuk mempermudahwisatawan mencapai tempatyang akan dituju. Dalam hal ini keadaanjalan setapak maupun jalan utama harusteratur, penempatan papan informasiyang strategis, dan lampu-lampu jalanyang mampu menerangi merupakankunci utama kenyamanan pengunjunguntuk menikmati walking toursnya.Bila merujuk kondisi infrastrukturDanau Buatan, maka saat ini perludirencanakan pembangunan infrastrukturyang menyeluruh agaroperasionalisasi seluruh fasilitas dapatdijalankan. Karena secara fundamentalhierarki kepuasan dan kenyamananpengunjung dimulai dari kesiapaninfrastruktur, fasilitas-fasilitas dan sumberdaya manusianya.1854Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


AssesibilitasKondisi AktualSecara umum kondisi assesibilitasdi kawasan DanauBuatan belum terkoordinirdengan baik, dalam halsarana maupun prasarana.Konsep perencanaanMenurut Ardiman, SE, MM :Mobilisasi merupakan awal mula proses pencapaian pengunjungmenuju objek wisata. Oleh karena itu proses awal ini harusdikondisikan dengan sebaik-baiknya karena secara psikologismenjaga mood pengunjung sangat membantu dalammenciptakan kepuasan dari awal hingga ahir kunjungan yangdilakukannnya.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Secara teknis untuk menciptankan assesibilitas yang baik danteratur diperlukan kerjasama dengan berbagai pihak, yaitu;Dinas Pekerjaan Umum, Dinas perhubungan dan ORGANDA.1. SaranaSarana angkutan umummenuju kawasan DanauBuatan tidak tersediaMenurut Ardiman, SE, MM :Angkutan umum menuju kawasan wisata harus berkondisi baik,bersifat kontiniu dan terkonsentrasi untuk memudahkan parapengunjung mencapai kawasan wisata.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Angkutan umum harus layak secara fisik maupun operasional.2. PrasaranaKondisi jalan di beberapatitik sudah rusak. Tidakterdapat petunjuk jalanhingga menyulitkanpengunjung.Menurut Ardiman, SE, MM :Kondisi jalan menuju objek harus berkondisi baik. Petunjukjalan harus ditempatkan pada tempat strategis dan yang mudahdilihat.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Kondisi jalan secara fisik harus dengan pengerasan aspal denganlebar 5 m untuk memudahkan para pemakai jalan.3. Jarak tempuh danwaktu tempuhJarak tempuh menujukawasan danau Buatan±10 km dengan waktutempuh ± 30 menit. Padajam tertentu sering terjadikemacetan.Menurut Ardiman, SE, MM :Untuk mencegah kemacetan dapat diambil jalur alternatif yangbertujuan untuk memberi penyegaran pada para pengunjung.Menurut Rizky Afdilah ST, MT :Untuk mencegah kemacetan perlu ditambah trafic lightpendukung serta penambahan petugas SATLANTAS untukmengatur kemacetan pada jam-jam tertentu.1855Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Bila ditinjau secara psikologispembentukan mood pengunjung berawaldari keberangkatannya dari suatu tempatmenuju kawasan objek wisata. Dalamproses pencapaian pengunjung ke objekwisata sangat banyak hal yangmempengaruhinya, diantaranyakemacetan, kondisi kendaraan, minimnyarambu petunjuk, kondisi jalan serta faktorkecelakaan. Berdasarkan hal tersebutmaka kondisi assesibilitas harus dijadikanprioritas utama dalam rangka membentukkepuasan pengunjung, karena kondisiassesibilitas yang buruk dapatmenurunkan minat wisata pengunjungselanjutnya.Secara teknis kondisi tersebut dapatdiantisipasi dengan menciptakanassesibilitas yang optimal, baik danteratur melalui kerjasama berbagai pihakterkait yaitu, Dinas Perhubungan,Pekerjaan Umum dan ORGANDA.Dalam hal ini peranan pemerintahsebagai stake holder di bidangkepariwisataan juga dapat dirasakankarena upaya pemerintah dalampenyelenggaraan prasarana umum dapatmembantu peningkatan tingkat kunjungandan secara tidak langsung dapatmeningkatkan PAD bagi sektorpariwisata.HospitalitySelain atraksi yang menarik danfasilitas yang lengkap, kepuasanpegunjung juga ditentukan oleh keramahtamahan dalam petugas dalam melayanipengunjung. Hal tersebut merupakansyarat mutlak bagi petugas pengelolakarena pada dasarnya pembantukan citrapositif untuk mengajak pengunjungkembali mengunjungi suatu objek wisatadimulai dari keramahtamahan orangorangyang berada pada kawasan objekwisata tersebut, khususnya petugaspengelola.Dalam pengelolaan Danau Buatankeramahtamahan dapat dilihat jelasmelaui cara berkomunikasi yang baik,pengertian dalam melayani kebutuhanserta kesedaiaan petugas dalampenanganan keluhan. Menurut parapakar beberapa poin tersebut merupakanindikator dalam mencapaikeramahtamahan yang optimal. Indikatorlainnya adalah jumlah sumber dayamanusia yang melayani pengunjung.Namun dalam aktivitas Danau Buatan,jumlah petugas yang melayanipengunjung sangat tidak proporsional,karena jumlah petugas yang relatif sedikitberbanding dengan tingkat kunjunganyang tinggi.Hal tersebut secara langsungmenjadi penghambat dalam menciptakanproses optimalisasi, karena tingkatkepuasan pengunjung akan menurun bilapada suatu kodisi keluhannya tidaksegera direspon dikarenakanketerbatasan jumlah petugas. Idealnyauntuk mencapai konsep sebuah objekwisata yang optimal jumlah petugas yangmelayani pengunjung harus disesuaikandengan jumlah ideal pengunjung yaitu1:30, yang diasumsikan berdasarkanpada tingkat kunjungan umum.Perbandingan petugas dan jumlah idealpengunjung secara teknis bertujuan agarproses penanganan keluhan tidak sampaimenggangu aktivitas petugas lainnyayang akan berdampak pada produktivitasobjek wisata tersebut.1856Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


Pengoptimalisasian OrganisasiPengelola pada Objek Wisata DanauBuatanPengorganisasianPengoptimalisasian perorganisasianhanya berdasarkan pada satu pendapatpakar karena di dalam pengoptimalisasiannyahanya menyangkut satu bidangkompetesi.pembagian tugas masing-masing pekerjaagar tidak terjadi pelimpahan kesalahandalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya. Hal tersebut juga bertujuanuntuk menciptakan suasanan kerja yangkondusif agar para pekerja dapatterintegrasi dan dapat bekerjasamadalam mencapai tujuan yang telahditetapkan.Kondisi Aktual1. StaffingRekruitmen dan penempatanpekerja tidak berdasarkankompetensi.2. KoordinasiKoordinasi antara pekerjasudah baik, hanya sajakerap terjadi cross ofduty sehingga tidakmemaksimalkan kinerjapara pekerja.Konsep perencanaanMenurut Nasrizal, SE, MM.Rekruitmen merupakan hal yang paling mendasar dalampembentukan sumber daya pekerja dalam suatu perusahaan.Seharusnya dalam posisioning tingkat jabatan harus disesuaikandengan kompetensi masing-masing pekerja (the right man rightplace) sehingga dinamika dari output perusahaan dapat bergerakkeatas.Menurut Nasrizal, SE, MM.Koordinasi dalam penetapan tugas sangat penting dilakukanagar tidak terjadi pelimpahan kesalahan serta penetapan tujuandapat dicapai.Pengkoordinasian dalam menciptakan suasana kerja yangkondusif juga perlu dilakukan agar seluruh pekerja dapat lebihterintegrasi dan dapat bekerjasama dalam lingkungan kerja.Pengorganisasian yang optimalmerupakan sutu integritas dari hal-halyang mempengaruhi keberhasilan suatuperusahaan mencapai tujuannya. Secaragaris besar staffing dan koordinasimerupakan poin penting dalampembentukan kinerja pekerja. Dimulaidari rekruitmen pekerja yang harusberdasarkan latar belakang pendidikanyang sesuai dengan yang diharapkan,dilanjutkankan dengan penempatanpekerja berdasarkan latar belakangpendidikan dan kompetensinya.Koordinasi diibaratkan sebuah jaluraman yang sudah terencana untukmencapai sebuah tujuan. Pengkoordinasiandimaksudkan untuk menetapkanMerujuk kedalam kondisi aktualpengorganisasian pengelolaan DanauBuatan, optimalisasi dalam pengorganisasiannyadirasakan perludilakukan. Perbaikan dimulai darirekruimen awal yang berdasarkankompetensi, dan penempatan parapekerja dalam posisi strategis menuruttingkat kompetensinya. Pola kerjapengelola yang cross of duty juga perludibenahi dengan cara penetapan tugasmasing-masing pekerja agar tidak tidaktumpang tindih sehingga dapatmemaksimalkan kinerja para pekerja.1857Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


KontrolKondisi Aktual1.PengawasanPengawasan kinerja pekerjabelum maksimal,terlihat dari kondisi saranadan prasarana yangtidak terawat.2.EvaluasiPengelola hanya melakukanevaluasi berdasarkanpada pendapatan saja.Konsep perencanaanMenurut Nasrizal, SE, MM.Pengawasan dari pihak non pengelola sangat penting, mengingatpengawasan dibawah satu atap tidak maksimal dan cendrungtidak profesional dalam mengambil tindakan/sangsi.Pengawasan sebaiknya dilakukan oleh badan yang secaralangsung dapat mengambil sangsi tegas terhadap pengelola bilaternyata lalai dalam menjalankan tanggung jawabnya.Menurut Nasrizal, SE, MM.Evaluasi harus dilakukan pada seluruh divisi sehingga dapatdilakukan pembenahan secara cepat jika terdapat kesalahandalam pengelolaan sehingga tidak mempengaruhi tujuan yangtelah direncanakan.Secara umum fungsi controlbertujuan untuk mengetahui apakahkegiatan organisasi masih sesuai danterencana. Melalui pendapat diatas dapatdiketahui bahwa controling yang optimaladalah dimana kegiatan pengawasantidak lagi berada dibawah satu atap tetapidilakukan oleh instansi/badan lain yangsecara langsung dapat memberi sanksi.Merujuk pada hal tersebut, kondisiaktual controling di dalam pengelolaanDanau Buatan saat ini masih belummaksimal, terlihat dari pengawasan satuatap yang masih menjadi masalah utamadalam pengelolaan Danau Buatan.Idealnya pengawasan dilakukan olehinstansi pemerintah, dalam hal ini dinaspariwisata Kota Pekanbaru, sesuaidengan Perda No. 9 Tahun 2002 padapasal 26 ayat 1 yang berbunyi, pembinaandan pengawasan terhadap penyelenggaraanusaha dan pengelolaanpariwisata di Daerah dilakukan olehDinas Kebudayaan dan Pariwisata atasnama Walikota Pekanbaru. Sebelumnyahal senada juga tertuang dalam UU No.9 tahun 1990 Bab VI Pasal 31 ayat 1yaitu, Pemerintah melaksanakanpembinaan kepariwisataan dalam bentukpengaturan, pemberian bimbingan, danpengawasan terhadap penyelenggaraankepariwisataan.KESIMPULAN DAN SARANKesimpulan1.Upaya pengelolaan objek wisataDanau Buatan yang dilakukan olehP.D Pembangunan Kota Pekanbarumasih kurang optimal sehingga belummampu memberikan kontribusi yangberarti bagi PAD. Dalam hal ini perludilakukan optimalisasi pada unsurunsurpengelolaan objek wisata DanauBuatan sehingga dapat meningkatkanPAD pada sektor pariwisata.2.Langkah awal yang dilakukan adalahdengan mengetahui kondisi aktualunsur-unsur pengelolaan objek wisataDanau Buatan oleh P.DPembangunan.3. Setelah diketahui kondisi aktual objekwisata Danau Buatan, makadilanjutkan dengan pengoptimalisasian1858Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


unsur-unsur pengelolaan DanauBuatan, melalui; perencanaan (atraksi,fasilitas, infrastruktur, assesibilitas danhospitality), Organisasi (staffing danCoordinating), dan kontrol(pengawasan dan eveluasi). Dalamproses optimalisasinya kondisi aktualunsur-unsur pengelolaan objek wisataDanau Buatan digunakan pendapatkepakaran ( ekspert choice).Saran1. Unsur-unsur pengelolaan sepertiperencanaan (atraksi, fasilitas,infrastruktur, assesibilitas danhospitality), Organisasi (staffing danCoordinating), dan kontrol(pengawasan dan eveluasi)merupakan hal penting untukmengoptimalisasi pengelolaan objekwisata Danau Buatan.P.D Pembangunan sebagai pihakpengelola disarankan untuk merapkankonsep optimalisasi tersebut agardalam pengelolaan Danau Buatankedepan dapat. meningkatkan PADsecara signifikan.2. Pengelola diharapkan lebihmengeksplorasi potensi alam DanauBuatan kearah yang positif(berwawasan lingkungan) untukdikembangkan menjadi sebuahatraksi sekunder. Sebagai contohkawasan rawa-rawa Danau Buatanyang potensial untuk dikembangkanmenjadi kawasan ekowisatakonservasi mangrove air tawar.3. Disarankan kepada pengelola untukmenerapkan zonasi dalam setiappenempatan atraksi sekunder, saranadan prasarana, sehingga pengunjungmudah untuk menemukan lokasisebuah atraksi atau fasilitas dikawasan Danau Buatan.4. Secara akademis, diharapkanpenelitian ini mampu memberikaninspirasi bagi para pembaca untukdapat menjadi data tambahan dalammelanjutkan penelitian sehinggamencapai hasil yang jauh lebih baik.Dengan menggunakan metodekualitatif ataupun kuantitatif sehingamemberikan pardigma baru yangsesuai dengan pekembangan zamandan dinamika kehidupanbermasyarakat, berbangsa danbernegara.1859Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1860Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1861Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1862Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1863Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1864Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1865Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1866Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1867Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1868Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1869Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1870Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1871Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008


1872Jurnal Industri dan Perkotaan Volume XII Nomor 22/Agustus 2008

More magazines by this user
Similar magazines