4 5 6 - Trubus Online

trubus.online.co.id

4 5 6 - Trubus Online

2 kg jagung = 1 liter bioetanol


di Ciracas, Jakarta Timur,

Wiyanto tidak pernah pusing

memikirkan listrik yang kian sering padam. Dia juga

tidak peduli terhadap berita kelangkaan minyak

tanah. Selama 9 ekor sapinya sehat sejahtera,

kebutuhan listrik dan minyak tanah di rumahnya

pasti terjamin. Setiap hari ia mengumpulkan

kotoran sapi di tangki penampungan. Setelah

difermentasi selama 1 minggu, ia akan memperoleh

gas metan penghasil energi.

Dua ekor sapi mengeluarkan 45,5 kg kotoran

per hari. Itu cukup untuk menghasilkan gas metan

yang menyalakan 4 lampu berkekuatan 75 watt

selama 6 jam. Kalau gas metan itu disalurkan ke

tangki regulator, dalam waktu 4—5 jam muncul

gas pengganti minyak tanah. Api yang dihasilkan

berwarna biru, panas, dan nirbau. Limbah hasil

proses pembuatan bioenergi itu disisihkan untuk

memupuk tanaman.

Indonesia sebenarnya bisa menjadi Timur

Tengahnya bioenergi. Kotoran sapi yang

dimanfaatkan Wiyanto itu hanya sekelumit

kekayaan yang belum termanfaatkan untuk

mengatasi mahalnya bahan bakar fosil. Ambil

contoh Papua. Di sana ada 1,25 juta hektar sagu.

Setiap hektar sagu menghasilkan 25 ton pati.

Kalau itu diolah menjadi bioetanol, maka akan

diperoleh 4.000—5.000 liter bioetanol/tahun.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI

Di Papua ada sagu. Di Minahasa ada aren

yang lebih potensial menghasilkan bioetanol

daripada sagu. Sementara di Lampung memang

ada singkong. Namun, belum tentu itu layak

dijadikan bioetanol lantaran akan bersaing dengan

para produsen tepung tapioka. Pilihan lain ialah

sorgum. Tanaman ini belum dimanfaatkan sama

sekali untuk industri apapun. Produktivitasnya

sebanding dengan tebu yang dapat menghasilkan

5.000—6.000 liter bioetanol/ha/tahun, tetapi umur

panennya singkat, cuma 4 bulan; tebu, 10 bulan.

Pembaca sekalian, energi menjadi salah satu

topik bahasan yang dipaparkan di edisi khusus ini.

Bersama dengan energi, ditampilkan pula artikel

yang mengupas masalah lingkungan, herbal,

dan pangan. Empat topik itu—yang merupakan

hasil kompilasi tulisan-tulisan di Trubus edisi

reguler—diangkat untuk menyambut ulang

tahun kemerdekaan ke-63 Republik Indonesia.

Merdeka!

Salam,

Onny Untung

Sardi Duryatmo

(paling kanan)

bersama tim

The Nature

Conservancy

(TNC) istirahat

dalam

perjalanan

menuju hutan

lindung Wehea

di Kalimantan

Timur

1


2

Pendiri

Bambang Ismawan

Pemimpin Umum

Bambang Ismawan

Wakil Pemimpin Umum

Koeswandi

Pemimpin Redaksi

Onny Untung

Redaktur Pelaksana

Karjono, Utami Kartika Putri

Redaksi

Syah Angkasa, Sardi Duryatmo, Evy Syariefa Firstantinovi, Dian Adijaya Susanto,

Destika Cahyana, Laksita Wijayanti, Rosy Nur Apriyanti, Lastioro Anmi Tambunan,

Vina Fitriani, Imam Wiguna, Kiki Rizkika, Argohartono Arie Raharjo, Andretha

Helmina, Nesia Artdiyasa

Sekretaris Redaksi

Mimin Suyatmin

Artistik

Antonius Riyadi, Edi Amd, Satrio Wibowo, Bahrudin, Hernawan Nugroho,

Andri Sitepu, Kukuh Hariyanto

Konsultan Grafis

Tonny Parhansyah

Dokumentasi

Indira Kelana Devi, Agus Untung Suropati

Penerbit

PT Trubus Swadaya

Direktur

Onny Untung

Alamat Redaksi dan Perpustakaan

Wisma Hijau, Jl. Raya Bogor Km 30 Mekarsari, Cimanggis, Depok - 16952 Telp : (021) 8729060, 87701748 Faks :

(021) 8729059 E-mail: redaksi@trubus-online.com; Homepage: www.trubus-online.com; www.trubus-online.co.id;

www.trubusfoto.com; Alamat Distribusi dan Iklan : Jl. Gunung Sahari III/7, Jakarta Pusat 10610 Telp. : (021) 4262318

(direct), 4204402, 4255354 (hunting), Fax. (021) 4269263; Bank: BRI Veteran No. RC. 314603099; Bank BCA Cabang

Samanhudi a.n. Majalah Trubus (YSTM) No. Rek. 4770040111 Giro Pos : Rekening Giro dan Cek Pos No. A. 12.676;

Alamat Surat : Kotak Pos 1456, Jakarta 10014; �� � �

PENCETAK

PT GHALIA INDONESIA PRINTING. Isi di luar tanggung jawab percetakan.

1 Dari Redaksi

Pengantar

4 Presiden: “Suhunya Agak Panas… Tidak

Apa-apa!”

Presiden dan Pertanian

20 Belajar dari Menanam Pohon

Kredit Usaha Rakyat

24 Dana Segar Rp5-juta—Rp500-juta Mau?

Cover: Jagung Foto: Karjono

Desain: Antonius Riyadi

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


Energi

32 Negeri Bersimbah Bioenergi

40 Produksi Bahan Bakar di Teras Rumah

48 Mudahnya Bikin Bahan Bakar Tanaman

56 Langit Biru Berkat Bioetanol

60 Bioetanol Antitumpah

62 Dongkrak Produksi Enam Kali Lipat

68 Bahan Bakar dari Sampah

74 Supaya Jarak Jadi Minyak

82 Genset Biogas dari Kotoran Sapi

86 Pompa Bebas BBM & Listrik

Pangan

90 Banyak Lumbung Selain Padi

98 Padi Sri, Bibit Hemat Produksi Menjulang

106 Buah Roti Multimanfaat

112 Siasat Produksi Meningkat

116 Tidurkan, Lalu Gantung!

120 Hidroponik Sederhana di Rumah

128 Kebun Bertingkat Hemat Lahan

136 Jagung: Antara Pangan, Pakan, dan Energi

140 Lika-Liku Kirim Barang ke Pasar

142 Udang Galah di Rumah Tingkat

148 Kolam Belut Irit Lahan

Herbal

154 Resep Warisan Nenek Moyang

162 Panasea dari Bawah Tanah

170 Rayuan Minyak Kelapa

178 Mahkotadewa: Fakta Laboratorium Buktikan

Mujarabnya

186 Ramuan Antiflu Burung

190 Tangkal Ulah sang Drakula

194 Sang Penghadang Tuberkulosis

198 Kontrol Gula Darah dengan Herbal

202 Pegagan, Gulma Makanan Otak

208 Herbal untuk Momongan

212 P3K Halaman di Rumah

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI

Agustus 2008

Lingkungan

220 Indonesia Paru-paru Dunia

230 Jasa Pohon Sepanjang Hayat

240 Ampuhnya si Penyedot Polutan

248 Tanaman Pelenyap Banjir

254 Setelah Sampah Terbitlah Kompos

262 Para Penyelamat Plasma Nutfah

270 Pengawal dari Alam

278 “Kebun” Buah di Halaman Sendiri

286 Duplikasi sang Ratu Daun

292 Limbah Jadi Pajangan

298 Jangan Buang Sampah Kelapa

3


4

pengantar

Presiden:

“Suhunya Agak

Panas … Tidak

Apa-apa!”

Sejak 3 bulan terakhir suasana istana terasa berbeda. Lorong-lorong di seputar

ruang tunggu tamu presiden setiap hari tampak temaram. Tetamu yang menghadiri

acara-acara resmi di wisma negara pun sering terlihat berkipas, mencoba mengusir

hawa panas. “Suhunya agak panas, tidak apa-apa,” ujar presiden saat membuka

simposium temulawak Ikon Jamu Indonesia di Wisma Negara beberapa waktu lalu.,

“Kita harus berhemat,” tambahnya ketika mengetahui pendingin ruangan dipasang

pada angka 26 0 C

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


Abror Rizki/Rumgapres


Presiden petik

monthong

produksi

lokal yang

dibudidayakan

di Bogor

6

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

listrik di istana

Penghematan itu dampak dari

kenaikan harga minyak dunia yang luar biasa

tingginya. Bersamaan dengan fenomena itu,

harga pangan pun terkerek naik. Krisis pangan

dan energi yang melanda dunia itu jelas

membuat semua orang kalang kabut. Krisis

energi memang masih terasa di Indonesia.

Namun di bidang pangan Indonesia diberi

acungan jempol oleh negara-negara di dunia.

FAO pun menyatakan Indonesia telah keluar

dari krisis pangan.

Energi dan pangan selalu berkaitan erat

dengan lingkungan dan kesehatan. Empat hal

Anung A./Rumgapres

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


penting itulah yang dibahas tuntas saat Presiden

RI, Susilo Bambang Yudhoyono memberikan

wawancara eksklusif di ruang kerjanya pada

Trubus yang diwakili oleh: Bambang Ismawan,

Onny Untung, Utami Kartika Putri, Karjono,

dan Evy Syariefa Firstantinovi.

Pak Presiden, tampaknya ini tahun yang

berat bagi Indonesia, dan juga bagi Pak SBY

sendiri. Mulai dari minyak, pangan sampai

sejumlah aksi kekerasan. Bagaimana

perasaan Bapak?

Terus terang, tahun 2008 ini adalah tahun

yang tidak mudah. Harga minyak meroket,

harga pangan melonjak, dan ekonomi dunia

mengalami resesi. Dampaknya dirasakan oleh

semua negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Masyarakat luas tentu menerima beban

tambahan dalam kehidupan sehari-harinya.

Saya amat menyadari hal itu. Itulah sebabnya,

saya bersama jajaran pemerintah terus bekerja

siang dan malam untuk mengatasi masalah

ini. Sesungguhnya kita patut bersyukur karena

kondisi negara kita lebih baik dari banyak

negara yang juga mengalami persoalan global

ini. Sebagian masyarakat kita menyadari ini,

meskipun sebagian cepat-cepat menyalahkan

pemerintah. Sebagai seorang yang sedang

mengemban amanah, semuanya ini harus saya

hadapi dengan sabar dan tegar, sambil terus

berikhtiar untuk mengatasinya.

Jadi, benar, tahun ini tahun yang berat. Dan

. . . kalau kita jujur, empat tahun ini memang

merupakan tahun-tahun yang berat bagi kita,

termasuk bagi saya yang memimpin negeri ini.

Mulai dari Tsunami Aceh dan Nias, Flu burung,

Gempa Bumi Yogya dan Jawa Tengah, sampai

krisis minyak dan krisis pangan dunia saat ini.

Semuanya di luar kuasa dan kemampuan kita

untuk mencegahnya. Sebagian peristiwa alam,

sebagian aliran dari persoalan global.

Tadinya, dengan perbaikan keadaan di negeri

kita, seperti ekonomi yang kembali tumbuh

di atas 6%, hutang luar negeri yang menurun

tajam, angka kemiskinan yang terkecil selama

10 tahun terakhir pada tahun ini, serta konflik

Aceh dan sisa konflik dengan Timor Leste yang

dapat kita selesaikan dengan baik, negara kita

akan lebih cepat lagi mencapai kemajuan dan

kesejahteraan. Namun, rupanya tantangan dan

ujian baru harus kita hadapi lagi.

Jadi, ujian dan tantangan baru mesti

dihadapi lagi tahun ini . . .

Benar. Tetapi kita tidak perlu cemas. Insya

Allah, seberat apapun persoalan yang kita

hadapi jika bangsa kita tetap rukun dan bersatu,

serta bekerja lebih keras lagi, semuanya itu

akan dapat kita atasi. Badai pasti berlalu.

pengantar

Kita semua tahu, persoalan dan

kesulitan ekonomi itu sebagian besar

berasal dari keadaan dunia. Sebenarnya

seberapa serius masalah ini bagi dunia dan

Indonesia?

Sungguh serius. Ingat, dari 6,4 miliar

penduduk dunia, kurang lebih separohnya masih

tergolong miskin. Dengan melonjaknya harga

pangan dan BBM, kondisi akan lebih berat lagi.

Lebih buruk. Kalau hal ini dibiarkan, jumlah

orang miskin di dunia akan meningkat. Bahaya

kelaparan akan meningkat pula. Dan kalau ini

terus berlangsung, gejolak sosial akan terjadi

di mana-mana, terutama di negara-negara

berkembang, dan akhirnya akan mengancam

perdamaian dan keamanan dunia.

Akhir Juli yang lalu, sekitar pukul 05.00 pagi

saya melihat siaran televisi BBC yang sedang

meliput kemiskinan yang ekstrim di sebuah

negara di Afrika. Sungguh mengenaskan.

Harga pangan naik lebih dari 300%, binatang

onta banyak yang mati, demikian juga jumlah

anak-anak yang meninggal karena kekurangan

gizi akut juga bertambah. Ini semua dalah

dampak langsung dan tidak langsung dari krisis

minyak dan krisis pangan global dewasa ini.

Secara moral keadaan ini tidak boleh dibiarkan

tanpa solusi.

Ya, beberapa kali bapak mengeluarkan

pernyataan yang keras itu, tentang

tanggung jawab moral masyarakat dunia.

Mengapa?

Ya, saya meletakkan masalah ini sebagai

permasalahan moral, atau “moral issue”. Di

dalamnya ada persoalan keadilan, kepedulian

dan tanggung jawab. Begini. Di tengah-tengah

begitu banyak bangsa yang menderita akibat

kenaikan harga minyak, harga BBM dan harga

pangan ini, ada pihak-pihak di dunia—apakah

negara, ataupun perusahaan multinasional—

yang menikmati keuntungan yang luar biasa.

Banyak yang bermandikan petrodollar dengan

jumlah triliunan rupiah tiap harinya. Nah, kalau

negara-negara yang sudah kuat, maju dan kaya,

dan juga negara-negara yang mendapatkan

keuntungan yang luar biasa itu tidak punya

kepedulian, tanggung jawab dan inisiatif untuk

ikut mengurangi penderitaan banyak bangsa

di dunia, terus terang mereka kurang memiliki

tanggung jawab moral.

Begini saja. Taruhlah tetangga kita

mengalami kesulitan untuk mencukupi

kebutuhan pangan sehari-harinya, karena

memang miskin. Kemudian, saudara sebagai

tetangganya amat kaya, dan memiliki beras

dan makan-makanan yang berlimpah. Apakah

hati saudara tidak tergerak untuk membantu

tetangga tersebut?

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 7


Produksi

bioetanol

alternatif

langkanya

bahan bakar

minyak

8

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Tentu tergerak. Tentu harus ada

kepedulian dan kesetiakawanan.

(Presiden SBY mengangguk 2-3 kali, dengan

wajah yang cukup serius)

Konkritnya apa solusi yang dapat

dilaksanakan oleh masyarakat global?

Menurut pendapat saya, jangka pendek

harus ada upaya untuk menstabilkan harga

pangan dan harga minyak. Minimal harga tidak

terus melambung, dan perlu terus diupayakan

harganya turun pada tingkat yang wajar.

Sebagai contoh harga minyak dunia bulan Juli

2007 yang lalu US$ 71 per barel. Tiba-tiba

hanya dalam waktu satu tahun, Juli 2008 ini,

harga itu menembus US$ 145 per barel. Dua

kali lipat. Ini lampu merah. Kalau tidak dapat

diturunkan atau distabilkan, dunia mengalami

“shock” atau goncangan. Demikian pula hargaharga

pangan, ada yang naik 3 kali lipat.

Kemudian, untuk jangka menengah dan

jangka panjang perlu diupayakan agar produksi

energi dan pangan itu sebanding dengan

konsumsi komoditas itu. Itu hukum ekonomi.

Upaya ini harus dilakukan oleh masing-masing

negara secara sendiri-sendiri, dan juga oleh

masyarakat global melalui kerjasama yang baik.

Tentu masih banyak lagi yang harus dilakukan

selain menyeimbangkan produksi dan konsumsi

tadi, atau antara “supply” dengan “demand”.

Misalnya, pengembangan sumber energi

selain fosil, atau minyak bumi, pengembangan

teknologi agar terjadi efisiensi penggunaan

bahan bakar oleh sarana transportasi, mesinmesin,

pabrik-pabrik dan lain-lain. Bangsabangsapun,

termasuk bangsa Indonesia, harus

mengubah gaya hidup yang selama ini boros

energi, utamanya BBM dan listrik, menjadi gaya

hidup yang hemat energi.

Abror Rizki/Rumgapres

Kabarnya Pak SBY sempat mengirim

surat kepada Sekjen PBB dan Perdana

Menteri Jepang, menyangkut krisis pangan

dan energi dunia ini. Bisa dijelaskan?

Benar. Surat serupa juga saya kirimkan

kepada Presiden Bank Dunia dan Perdana

Menteri Singapura selaku Ketua ASEAN waktu

itu. Intinya, melalui surat itu, saya mengusulkan

agar dalam kapasitasnya masing-masing

para pemimpin dunia itu melakukan langkahlangkah

yang proaktif, agar semuanya tidak

terlambat. Dalam keadaan krisis diperlukan

tindakan yang cepat dan tepat, agar keadaanya

tidak semakin memburuk.

Apa respons para pemimpin dunia

tersebut?

Pada umumnya respon beliau-beliau positif.

Sekjen PBB langsung menelepon saya untuk

mengundang saya hadir dalam pertemuan

tentang pangan yang disponsori oleh FAO

di Roma, Italia awal Juni 2008 yang lalu.

Mengingat waktu itu di dalam negeri sedang

terjadi banyak protes dan unjuk rasa karena

kenaikan harga BBM, saya tentu harus berada

di dalam negeri. Sebagai pemimpin saya harus

bertanggung jawab, siap mengambil risiko,

dan mengelola gejolak sosial akibat kebijakan

yang diambil pemerintah. Kebijakan yang

tidak populer tetapi harus saya tetapkan untuk

menyelamatkan perekonomian dan APBN

kita. Menteri Pertanian mewakili saya, dan

beliau menyampaikan bahwa banyak negara

yang menemui Pak Anton Apriyantono untuk

menyampaikan apresiasi terhadap langkahlangkah

kita mengatasi krisis pangan, dan

juga untuk menimba pengalaman Indonesia.

Presiden Bank Dunia, Robert Zoellick,

ketika bersama-sama menghadiri Pertemuan

Puncak G-8 Diperluas di Hokkaido, Jepang,

awal Juli yang lalu juga langsung melakukan

pertemuan dengan saya, sebagai respons

positif terhadap surat saya. Bank Dunia juga

menawarkan kerjasama dan bantuannya

terhadap upaya Indonesia dalam mengatasi

krisis pangan dan perubahan iklim, atau

“climate change”.

Sedangkan Perdana Menteri Jepang

Fukuda, dalam rangka menanggapi surat saya,

beliau memberikan kesempatan kepada saya

untuk menjadi semacam “lead speaker” dalam

sesi pembahasan ketahanan pangan atau

“food security” dalam G-8 Summit di Hokkaido

yang lalu. Tentu saja saya sangat bersyukur,

dan menjadi kebanggaan Indonesia, untuk

diundang dan menyampaikan pernyataan dan

usulan dalam pertemuan para pemimpin dunia

yang prestisius itu.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


Indonesia hadir dalam G-8 Summit di

Jepang kemarin dan mendapatkan apresiasi

dari berbagai pihak. Tentu ini kehormatan

bagi Indonesia. Bagaimana ceritanya

Indonesia ikut diundang dalam pertemuan

itu?

Benar. Ini juga pertama kali dalam sejarah.

Di samping 8 anggota G-8 sendiri, negaranegara

industri maju itu, juga diundang 8 negara

lain, yaitu : China, India, Brazil, Meksiko,

Afrika Selatan, Australia, Korea Selatan dan

Indonesia.

Yang saya tahu, Indonesia diundang karena

kita dinilai memiliki andil besar dalam suksesnya

Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di

Bali akhir tahun 2007 yang lalu. Di samping itu

Indonesia juga dikategorikan sebagai “major

economy” atau “emerging economy” dewasa

ini. Tampaknya ini sejalan dengan apa yang

disampaikan oleh Sekretaris Jenderal OECD

(Organization of Economic Cooperation and

Development) ketika beliau menemui saya di

Jakarta 25 Juli yang lalu, yang intinya Indonesia

dikategorikan sebagai negara yang ditingkatkan

kerjasamanya dengan OECD, atau yang disebut

“enhanced engagement”, bersama 4 negara

lainnya, China, India, Brazil dan Afrika Selatan.

Kembali ke permasalahan energi dan

pangan, masalah yang dihadapi dunia saat

ini tampak cukup serius, dan memerlukan

solusi global...

Benar. Benar sekali

Kita sendiri, Indonesia, bagaimana

menyikapi persoalan ini. Apa yang harus

kita lakukan?

Sama seperti yang harus dilakukan oleh

masyarakat dunia. Kita harus serius mengatasi

masalah ini, bukan hanya pemerintah tapi juga

masyarakat luas. Solusi jangka menengah dan

jangka panjang, kita harus memiliki ketahanan

pangan dan ketahanan energi. Pembangunan

pertanian mesti kita jadikan prioritas, agar

produksi pangan kita tidak hanya cukup, tetapi

bisa surplus. Terutama komoditas utama

seperti beras, jagung, gula, daging, telur, sayursayuran

dan buah-buahan. Insya Allah kita

bisa.

Demikian pula bidang energi. Dewasa

ini kita menuju ke kebijakan “energy

mix”, atau bauran energi. Artinya,

kita akan mendiversifikasikan, akan

menambah keragaman, sumbersumber

BBM dan pembangkit tenaga

listrik. Tidak boleh semuanya berasal

dari minyak fosil, termasuk gas. Masih

banyak sumber yang lain, seperti panas

bumi, air, surya, bio-massa, biofuel dan

pengantar

lain-lain. Memang diperlukan investasi dan

biaya yang besar, teknologi yang maju dan

tepat, serta waktu untuk membangun dan

mengembangkannya. Tetapi, semuanya harus

kita lakukan. Arah, kebijakan dan strategi telah

kita rumuskan. Langkah-langkah menuju ke

ketahanan pangan dan ketahanan energi tahun

2025 sudah kita awali. Mari kita sukseskan.

Menyangkut soal pangan, apa yang

menjadi permasalahan dan tantangan yang

mendasar?

Pertama, ya kembali pada “supply” atau

produksi, dan “demand” atau konsumsi. Ingat

penduduk kita sekarang sekitar 230 juta orang.

Golongan masyarakat yang berpenghasilan

lebih tinggi, atau kelompok menengah, juga

makin besar. Mereka mengkonsumsi pangan

lebih banyak lagi. Tugas kita ke depan,

bahan pangan, terutama yang bersifat pokok,

harus cukup untuk dikonsumsi oleh 230 juta

penduduk kita. Dari 5 komoditas pangan yang

kita anggap strategis, yaitu beras, gula, jagung,

daging sapi dan kedelai; beras sudah relatif

aman. Gula sedikit lagi. Ke depan produksi

jagung, daging sapi dan kedelai harus kita

tingkatkan secara sungguh-sungguh.

Kedua, untuk meningkatkan produksi

dan produktifitas pangan tersebut diperlukan

sumberdaya, termasuk anggaran, dan

dukungan-dukungan lain, seperti anggaran

pertanian, prasarana irigasi, teknologi budidaya

sampai pada kecukupan benih, pupuk, lawan

hama dan lain-lain. Dan jangan dilupakan,

lahan pertanian harus cukup. Jangan sampai

terlalu banyak yang beralih fungsi, sehingga

mengganggu produksi pangan kita secara

nasional.

Yang ketiga, jika dikaitkan dengan

perkembangan dunia masa kini, tantangan

yang kita hadapi di bidang

pertanian adalah perubahan

iklim (climate change).

Banyak negara yang

mengalami hal ini, seperti

perubahan musim yang

mengganggu pola tanam

dan panen, kemarau

yang sangat

Jarak Ricinus

communis

potensial

dikembangkan

sebagai bahan

baku pelumas

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 9

Abror Rizki/Rumgapres


10

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Nanas asal

Simalungun,

Sumatera Utara,

varietas unggul

lokal

panjang sehingga menyebabkan kekeringan,

dan juga hujan dan badai yang sering ekstrim

sehingga menimbulkan banjir dan sapuan

badai yang ganas. Akibatnya terjadi kegagalan

panen di mana-mana.

Apakah strategi dan kebijakan

pembangunan pertanian kita sudah tepat?

Sudah. Sudah tepat. Yang kita tuju

ketahanan pangan. Yang kita lakukan adalah

pembangunan pertanian berkelanjutan, atau

yang ramah lingkungan. Semua cara untuk

menuju ke ketahanan pangan telah kita

tetapkan dan jalankan. Termasuk revitalisasi

pertanian yang saya canangkan dan jalankan

sejak medio 2005 yang lalu. Persoalannya,

bagaimana semua komponen bangsa yang

punya peran untuk meningkatkan produksi

dan produktifitas pangan kita dapat bekerja

secara sungguh-sungguh, atau “all out”, baik

sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Di

sini termasuk pemerintah, baik pusat maupun

daerah, DPR dan DPRD yang bersama

pemerintah menetapkan anggaran pertanian,

lembaga penelitian dan pengembangan

pertanian, petani dan komunitas pertanian,

organisasi profesi petani, pengusaha pertanian

dan penyuluh pertanian.

Anggaran yang disediakan dalam APBN

apa sudah memadai? Termasuk untuk

membangun infra-struktur?

Meskipun belum ideal, karena memang

anggaran negara harus dibagi untuk memenuhi

segala kepentingan secara tepat dan adil,

anggaran untuk sektor pertanian dapat saya

katakan relatif cukup. Jumlahnyapun

semakin meningkat dari tahun ke

tahun. Ambilah contoh, untuk

subsidi pupuk dan benih tahun

2008 ini realisasi anggaran

diperkirakan mencapai lebih dari Rp. 16 triliun

sedangkan untuk pembangunan infrastruktur

yang berkaitan dengan sektor pertanian

berjumlah Rp. 4 triliun lebih. Tentu saja masih

ada pembelanjaan negara yang berkaitan

dengan sektor pertanian.

Jadi, subsidi untuk pertanian, seperti

pupuk dan benih masih diperlukan?

Saya berpendapat masih diperlukan.

Banyak yang berpendapat kita terlalu banyak

memberikan subsidi. Misalnya subsidi untuk

BBM, listrik dan juga untuk pangan sendiri.

Bahkan bagi para penganut neo-liberalisme dan

penganut keras pasar bebas, subsidi itu harus

dihapuskan, atau kalau ada sekecil mungkin.

Kondisi saat ini, dengan daya beli masyarakat

Indonesia yang belum tinggi betul, meskipun dari

tahun ke tahun daya beli ini makin meningkat,

tidak tepat dan tidak adil mengurangi subsidi

secara drastis.

Ke depan, sejalan dengan menguatnya

penghasilan dan daya beli masyarakat, subsidi

akan kita kurangi secara bertahap, agar

anggaran itu dapat digunakan untuk membiayai

pembangunan yang lain, seperti pendidikan,

kesehatan dan pembangunan infrastruktur.

Subsidi yang juga dinikmati oleh mereka yang

mampu dan kaya mesti kita hilangkan, atau kita

kurangi. Subsidi bagi yang miskin harus tetap

kita berikan, sebagai tanggung jawab sosial

negara.

Subsidi untuk benih dan pupuk yang

berjumlah Rp985-milyar dan Rp. 15,2 triliun

akan tetap kita pertahankan. Tahun depan

pemerintah rencanakan untuk dinaikkan

jumlahnya yaitu untuk subsidi benih menjadi

Rp. 1,3 triliun dan untuk subsidi pupuk

Rp. 18,5 triliun. Pengalaman kita, dengan

subsidi pupuk dan benih sasaran peningkatan

2 juta ton beras yang kita lakukan di tahun 2007

yang lalu relatif dapat dicapai, sehingga kita

mencapai swasembada beras.

Apa kebijakan untuk melindungi petani

dan meningkatkan kesejahteraannya?

Cukup banyak. Petani adalah pahlawan dan

tulang punggung pembangunan pertanian.

Komunitas petani juga penggerak ekonomi

perdesaan. Tidak adil jika pertaniannya

terus berkembang, lantas petaninya jalan

di tempat.

Agar produksinya terjaga dan

meningkat, kepada petani kita berikan

subsidi pupuk, subsidi benih, subsidi

bunga kredit, pemberian benih gratis,

penguatan modal usaha, bantuan

uang muka alat dan mesin pertanian,

dan lain-lain.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI

Abror Rizki/Rumgapres


Agar petani tetap terlindungi manakala

terjadi gejolak harga yang tidak wajar,

pemerintah menetapkan harga pembelian

pemerintah (HPP) baik untuk beras maupun

gabah. Juga dilakukan operasi-operasi pasar

yang di satu sisi melindungi petani, dan di sisi

lain melindungi konsumen.

Agar produksi pertanian dalam negeri

tidak jatuh, yang akhirnya berdampak pada

pendapatan petani, kita tetapkan kebijakan

impor komoditas pertanian, termasuk hambatan

tarif dan non tarif. Kita juga terus berjuang

untuk tatanan perdagangan global (WTO) dapat

lebih adil, sehingga lebih menguntungkan

negara berkembang terutama dalam

mamasarkan produk-produk pertaniannya.

Saya sendiri aktif memperjuangkan tatanan

perdagangan yang adil ini di berbagai forum

dunia. Menteri Perdagangan juga sangat aktif

memperjuangkan kepentingan kita. Belum

lama ini perundingan dilaksanakan di Geneva,

dan seperti biasanya selalu alot.

Tampaknya tahun 2007 dan tahun 2008

ini produksi beras kita aman. Bahkan

beberapa waktu yang lalu FAO menyatakan

Indonesia telah ke luar dari krisis pangan.

Apa komentar Bapak?

Kita bersyukur. Saya berterima kasih

kepada semua pihak yang telah bekerja keras,

termasuk para Gubernur, Bupati dan Walikota.

Dan tentunya, terutama, para petani kita.

Akhir tahun 2006, ketika saya menetapkan

sasaran tambahan produksi beras 2 juta ton

beras di depan anggota Kabinet dan para

Gubernur, sepertinya banyak yang tidak

yakin. Tetapi, kalkulasi kita amat rasional.

Hitung-hitungan kita bisa mencapai target itu.

Syaratnya, kebijakan tentang pemberian dan

subsidi pupuk dan benih harus nyata dan tepat

waktu. Demikian juga pembangunan jaringan

irigasi. Bahkan di Istana Bogor dengan

didampingi Menteri Pertanian saya juga

melepas, memberikan arahan dan penugasan

kepada 2850 orang Tenaga Bantu Penyuluh

Pertanian dan 350 orang Pengamat Organisme

Pengganggu Tanaman. Saat ini telah

diterjunkan 16 ribu orang Penyuluh Pertanian

dan 1288 Pengamat Organisme Pengganggu

Tanaman ke seluruh wilayah Indonesia, untuk

ikut membimbing para petani dalam upaya

meningkatkan produksi padinya.

Atas upaya dan kerja keras kita semua,

produksi padi tahun 2007 dan 2008 meningkat

mendekati 5%, masing-masing 57,2 juta ton

dan 59,9 juta ton Gabah Kering Giling. Ini

merupakan capaian tertinggi dalam waktu

13 tahun terakhir. Dengan produksi ini

sesungguhnya sudah cukup untuk memenuhi

pengantar

kebutuhan pangan kita, bahkan masih

surplus.

Namun, masih ada kasus rawan pangan

dan kekurangan gizi. Bagaimana hal ini bisa

dijelaskan?

Terus terang memang masih ada daerah

atau penduduk yang rawan pangan. Menurut

Menteri Pertanian, tahun 2007 yang lalu

penduduk yang rentan rawan pangan jumlahnya

berkisar 5,7 juta jiwa atau 2,5 % dari jumlah

penduduk Indonesia. Angka ini sesungguhnya

telah menurun hampir separohnya dari tahun

sebelumnya.

Tahun 2005 dan tahun 2006 saya sangat

intensif untuk mengecek dan mengatasi

kasus-kasus kekurangan gizi atau kekurangan

pangan. Bahkan ketika terjadi kasus kelaparan

di Yahukimo, Papua, pemerintah telah

melaksanakan operasi khusus dan membentuk

Satgas untuk mengatasi masalah ini, dan

mendidik penduduk lokal untuk menanam

bahan-bahan pangan yang diperlukan. Setelah

sekian bulan operasi ini dijalankan, saya

langsung terbang dan meninjau langsung di

pedalaman Yahukimo. Alhamdulillah, upaya itu

berhasil.

Kejadian kekurangan gizi atau kelaparan

tidak selalu karena daerah itu secara

keseluruhan memang kurang pangan, tapi ada

juga faktor kultur yang kurang memperhatikan

gizi bagi keluarga dan anak-anaknya. Saya

berulang kali mengeluarkan instruksi kepada

para Gubernur dan Bupati yang daerahnya

selama ini memiliki banyak kasus kekurangan

pangan. Mereka harus turun, membimbing

rakyat, dan mencegah terjadinya kekurangan

gizi dan pangan itu. Saya yakin itu bisa

dilaksanakan.

Salah satu faktor yang menyebabkan

krisis pangan dunia adalah perubahan

iklim, sehingga regularitas musim kering

dan musim hujan terganggu. Sulit pula

memprediksi kepastian musim tanam.

Bagaimana Indonesia menyikapi hal ini?

Untuk mengatasi perubahan iklim dan

pemanasan global, diperlukan kerjasama

seluruh bangsa di dunia. Saya prihatin, dalam

beberapa pertemuan yang saya ikuti bersama

para pemimpin dunia yang lain, dunia belum

bersepakat benar bagaimana cara mengatasi

perubahan iklim ini, termasuk siapa berbuat

apa. Meskipun, belakangan ini sudah banyak

kemajuan dan kesepakatan baru.

Untuk Indonesia sendiri, karena perubahan

iklim sudah terjadi, dan dampaknya telah

pula kita rasakan di dalam negeri, kita terus

mengembangkan cara-cara dan teknologi

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 11


12

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Dukungan

pemerintah

untuk tingkatkan

produktivitas

pertanian

yang tepat dalam menanam. Sebagai contoh,

data prakiraan iklim dari BMG dan LAPAN

kita sebarkan ke daerah-daerah yang rawan

perubahan iklim untuk dapat diantisipasi. Para

petani juga mulai kita didik dan latih untuk

bisa memanfaatkan informasi tentang iklim

ini. Petani juga kita dorong untuk menanam

varietas unggul sesuai dengan spesifikasi

daerahnya masing-masing, seperti benih yang

tahan kekeringan, tahan genangan akibat

banjir dan kekhasan-kekhasan lain. Peran

lembaga-lembaga penelitian, pengembangan

dan pelatihan menjadi amat penting. Saya

bangga dan senang melihat kegigihan penelitipeneliti

pertanian kita untuk mengembangkan

varietas-varietas unggul yang adaptif terhadap

perubahan iklim ini, termasuk yang saya

kunjungi beberapa saat yang lalu di Balai

Besar Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi,

Subang.

Diversifikasi sumber dan bahan pangan

telah menjadi kebijakan kita. Mengapa hal

ini memerlukan waktu yang lama?

Bangsa manapun, negara manapun, tidak

begitu mudah untuk mengubah jenis, pola dan

kekhasan makan penduduknya. Bagi penduduk

Indonesia yang mayoritasnya memakan nasi,

tidak semudah itu mereka kita ajak untuk

kemudian mengkonsumsi yang lain, seperti

jagung, ubi kayu, sagu atau jenis yang lain.

Saya pernah diberitahu bahwa untuk membikin

rakyat Indonesia menyenangi mie instan, dan

sering dijadikan makanan pengganti nasi,

diperlukan waktu 15 tahun sejak mie instan itu

dikenalkan.

Abror Rizki/Rumgapres

Ada juga pandangan kalau tidak makan

nasi, dan kemudian makan ubi kayu atau jagung

misalnya dianggap tidak mampu, alias miskin.

Makanan-makanan itu dianggap komoditas

yang inferior. Itu salah. Masing-masing jenis

makanan pokok memiliki gizinya tersendiri.

Dari survey yang kita lakukan di tahun

2007, konsumsi energi masyarakat Indonesia

didominasi oleh kelompok padi-padian, yaitu

sebesar 62 %. Padahal, kalau ingin hidup sehat,

konsumsi padi-padian adalah 50% dan konsumsi

umbi-umbian 6%. Kita belum seperti itu. Oleh

karena itu pemerintah terus menggalakkan

upaya diversifikasi konsumsi pangan. Upaya

ini harus menjadi gerakan nasional, dan harus

benar-benar kita sukseskan.

Ada satu isu Pak SBY, yaitu menyangkut

rekayasa genetika. Mungkinkah Indonesia

mengijinkan hal ini dilakukan di Indonesia

seperti halnya di Amerika dan Eropa?

Sesungguhnya pemerintah Indonesia telah

memberikan ruang untuk kegiatan penelitian

dan pengembangan tanaman rekayasa genetik,

baik kepada lembaga-lembaga pemerintah

maupun swasta. Tanaman rekayasa genetik

yang diteliti oleh putra-putri Indonesia antara

lain adalah padi, kedelai, ubi jalar, pepaya,

kacang tanah, tebu, tomat dan kentang.

Sejalan dengan itu pemerintah juga

mengatur standar keamanan dari tanaman

rekayasa genetik itu, yaitu melalui Peraturan

Pemerintah No. 21 Tahun 2005 tentang

Pengkajian Keanekaragaman Hayati dan

Keamanan Pangan Produk Rekayasa Genetika.

Hal ini diperlukan agar apabila tanaman pangan

hasil rekayasa genetik ini dibudidayakan oleh

petani benar-benar aman dan membawa

manfaat yang setinggi-tingginya.

Kita berharap, pada saatnya nanti, penelitian

dan pengembangan tanaman rekayasa genetika

ini lolos dari pengujian keamanannya, sehingga

dapat memperkaya dunia pertanian kita.

Beralih ke masalah energi, bulan Junijuli

2008 ini harga minyak di pasar global

menembus US$ 145 per barel. Saya lihat

dunia makin panik. Apakah Pak SBY juga

cemas?

Semua cemas. Kecuali negara-negara

atau perusahaan minyak yang justru semakin

tinggi harga minyak (crude), semakin berlipat

ganda keuntungannya.

Saya membayangkan betapa membesarnya

jumlah subsidi yang harus kita pikul untuk

BBM dan listrik kita. Jika harga minyak dunia

tembus US$ 140 per barel subsidi BBM dan

listrik bisa mencapai Rp. 287 triliun, jika

harga itu naik lagi menjadi US$ 150 per barel

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


jumlah subsidi mencapai Rp. 317 triliun.

Dan jika harga minyak naik lagi ke angka

US$ 160 per barel, total subsidi kita menjadi

Rp. 347 triliun. Bayangkan. Subsidi ini praktis

mengurangi dan membatasi pengeluaran lain

untuk pembangunan, misalnya pendidikan,

kesehatan, infrastruktur, kesejahteraan

pegawai, pemeliharaan keamanan, dan

sebagainya.

Bagi yang berpikirnya kapitalistik, atau

neo-liberalistik, fundamentalistik pasar bebas,

ya . . . kalau subsidi terlalu besar, kurangi saja.

Harga BBM naikkan lagi. Habis perkara . . .

Tapi untuk Indonesia tidak semudah itu

ya Pak. Kenaikan harga BBM Mei yang lalu

juga banyak sekali protes dan unjuk rasa.

Popularitas Pak SBY-pun menurut “polling”

sempat anjlok.

Benar. Benar sekali. Inilah dilema yang

saya hadapi. Siang-malam saya terus berpikir

tentang ini. Pemerintah terus bekerja menyusun

rencana dan kebijakan, dan mengantisipasi, apa

yang harus kita lakukan menghadapi kenaikan

harga minyak yang sangat tidak wajar.

Untuk diketahui, meskipun bulan Mei yang

lalu harga BBM dinaikkan rata-rata kurang

dari 30%, harga BBM kita tergolong yang

paling rendah. Di Asia Tenggara, yang harga

BBMnya lebih rendah dari kita hanya Brunei

Darussalam. Kenaikan harga BBM terpaksa

kita lakukan agar APBN dan ekonomi kita

secara keseluruhan tidak hancur. Kenaikan

harga BBM itupun kita lakukan setelah semua

cara kita tempuh terlebih dahulu, termasuk

penghematan anggaran dan peningkatan

penerimaan yang kesemuanya berjumlah RP.

153 triliun lebih. Tapi tetap tidak bisa menjamin

selamatnya APBN dan perekonomian kita ke

depan, dan kalau dibiarkan bisa menimbulkan

krisis baru di negeri kita. Akhirnya keputusan

pahit harus saya ambil.

Soal jatuhnya popularitas saya, sebagai

pemimpin saya harus siap. Risiko itu harus saya

ambil. Caci-maki sebagian masyarakat kita

harus saya terima. Kadang-kadang kecamankecaman

itu melewati batas, seolah-olah hilang

sudah nilai-nilai luhur dan kesantunan kita

sebagai bangsa terhormat. Tetapi; sekali lagi,

saya rela menerima semuanya itu. Pemimpin

harus siap berkorban, dan banyak yang bilang

bahwa pemimpin itu adalah “pribadi yang

dikorbankan”.

Apa sesungguhnya yang mengakibatkan

harga minyak terus meroket, dan krisis

harga minyak ini tak kunjung reda?

Faktornya banyak. Mana yang menjadi

penyebab utamanyapun para ahli memiliki

pengantar

pandangan yang berbeda. Ada yang

mengatakan, termasuk OPEC, produksi minyak

dunia cukup untuk memenuhi konsumsi.

Tidak ada masalah dengan “supply-demand” .

Yang jadi biang keladi adalah spekulasi di

pasar minyak global, faktor geo-politik karena

konflik di Timur Tengah seperti yang terjadi

di Irak, dan ketegangan di Iran. Melemahnya

nilai dolar Amerika juga dianggap sebagai

penyebab.

Sementara itu, ada yang mengatakan

bahwa permasalahan utama adalah permintaan

(konsumsi) yang terus meningkat melebihi

produksi yang dihasilkan. Contohnya negaranegara

yang ekonominya tumbuh pesat seperti

China dan India mengkonsumsi minyak dalam

jumlah yang besar.

Silang pendapat ini muncul di berbagai

forum. Saya sendiri merasakan ketika

menghadiri Pertemuan Puncak G-8 Diperluas

di Hokkaido Jepang. Juga ketika saya bertemu

dengan Presiden Lula dari Brazil dan Presiden

OPEC beberapa waktu yang lalu ketika beliaubeliau

itu berkunjung ke Jakarta.

Kalau Pak SBY sendiri berpandangan

seperti apa? Karena harganya kelewat

tinggi, dan tidak pernah terjadi

sebelumnya.

Sejak awal saya berpendapat sebab

utamanya, atau yang paling fundamental,

adalah hubungan antara produksi dan

konsumsi, “supply” dan “demand”. Dan, benar,

ada faktor-faktor lain yang turut mendorong

meroketnya harga minyak tersebut, seperti

spekulasi, melemahnya nilai dolar, geo-politik

dan lain-lain.

Jadi, untuk mendapatkan harga yang

wajar, termasuk stabilitas harga minyak jangka

panjang, yang harus diperhatikan adalah

kesesuaian antara produksi dan konsumsi.

Penduduk dunia harus melakukan semacam

revolusi, untuk mengurangi penggunaan BBM

atau listrik yang berasal dari minyak bumi

secara besar-besaran. Ini termasuk yang harus

kita lakukan di Indonesia. Dengan demikian

permintaan atau penggunaan minyak akan

menurun, atau tidak terus bertambah.

Setelah itu, produksi minyak disesuaikan

atau disetarakan dengan kebutuhan atau

konsumsi minyak yang wajar itu.

Apa mungkin harga minyak kembali di

bawah 60, atau 70 dolar setiap barelnya?

Sulit. Kemungkinannya sangat kecil.

Tetapi, pada kisaran 100 dolar setiap barelnya

bisa saja terjadi.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 13


14

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Jadi, solusi yang paling tepat dan bisa

benar-benar mengatasi masalah seperti

apa?

Terus terang tidak semudah yang

dibayangkan. Tetapi saya percaya tetap ada

solusinya.

Untuk menjaga kesesuaian produksi

dan konsumsi; atau antara “supply” dengan

“demand”, mesti ada semacam pertemuan

untuk melakukan kalkulasi strategis antara

negara produsen minyak besar seperti OPEC,

Rusia, dan Amerika, dengan negara konsumen

minyak besar seperti China, India, dan juga

Amerika, dan dengan perusahaan-perusahaan

minyak besar dunia. Kalau komunikasi di

antara mereka dilakukan, akan ketemu garis

besar kebutuhan (konsumsi) yang wajar, dan

sekaligus jumlah produksi dunia yang mungkin

dilakukan.

Jika yang menjadi persoalan adalah

spekulasi di tingkat pasar minyak dunia,

maka informasi tentang pasar minyak harus

jelas, tepat dan transparan. Dengan demikian

tidak mudah orang atau pihak-pihak tertentu

melakukan spekulasi harga yang akhirnya

harga minyak menjadi seperti ini.

Tapi apakah mereka mau duduk bersama

untuk memecahkan masalah ini, karena

mereka memiliki kepentingan yang berbedabeda?

Benar. Sayapun melihat sikap-sikap yang

defensif di antara mereka. Inilah tantangan

yang kita hadapi pada tingkat global. Sama

saja alotnya dalam perundingan perdagangan

dunia atau WTO. Juga sama dengan sulitnya

membangun kesepakatan untuk mengurangi

emisi CO dunia untuk mengatasi pemanasan

2

global, atau global warming.

Semuanya terpulang kepada para pemimpin

dunia, kepada semua negara. Kalau

Indonesia, kita selalu siap dan

terus aktif untuk ikut mencari

solusi.

Untuk Indonesia sendiri

apa solusinya?

Sesungguhnya, sudah

saya sampaikan berkalikali

kepada seluruh

Rakyat Indonesia.

Sayang tidak selalu

d i m u a t d i M e d i a

Massa, tampaknya

kalah dengan beritaberita

tentang unjuk

rasa kenaikan BBM.

Singkatnya,

pertama, kita harus

melakukan penghematan secara sungguhsungguh

dan besar-besaran. Kedua, kita perlu

terus mengembangkan BBM dan pembangkit

listrik yang menggunakan sumber energi non

minyak bumi. Dan, ketiga, dalam kapasitas

tertentu, kita perlu meningkatkan produksi

minyak dan gas kita. Tentu semuanya perlu

waktu, perlu investasi, dan perlu teknologi yang

memadai. Tetapi inilah jalan yang kita tempuh,

jika Indonesia mau selamat dan tidak perlu

harus menderita menghadapi harga minyak

yang tinggi.

Apakah betul kita ini menjadi bangsa

yang boros energi?

Betul. Dalam kehidupan sehari-hari kita,

kalau jujur, memang kita kurang hemat dalam

penggunaan energi, utamanya BBM dan listrik.

Kita perlu mawas diri, dan kemudian bersamasama

mengubah gaya hidup untuk mengurangi

konsumsi energi kita.

Ditinjau dari elastisitas penggunaan energi

di Indonesia, angka kita masih termasuk tinggi,

yaitu lebih dari 1 nilainya. Negara-negara

yang berhasil dalam memacu pertumbuhan

ekonominya tetapi dengan penggunaan

energi yang efisien memiliki angka di bawah

1. Contohnya, Malaysia 1,69; Thailand 1,16;

Singapura 0,73; Amerika Serikat 0,26 dan

Jepang 0,10. Sementara, Indonesia, angkanya

1,84. Belum efisien kan ? Ke depan harus kita

bikin lebih efisien lagi.

Saya sudah menginstruksikan ke seluruh

jajaran pemerintah, di seluruh Indonesia untuk

benar-benar melakukan penghematan BBM,

listrik dan air. Di lingkungan Istana dan Kantor

Kepresidenan, sudah 3 bulan ini dilakukan

penghematan listrik dan

penggunaan AC. Memang

kantor saya, dan seluruh

lingkungan Istana lampu

banyak yang dimatikan,

demikian juga AC.

Dalam kegiatan harian,

maupun acara-acara

resmi suhu udara terasa

agak panas sedikit.

Tidak apa-apa. Demi

penghematan. Saya

menerima laporan

dari Mensesneg

H a t t a R a j a s a

bahwa gerakan

p e n g h e m a t a n i n i

dalam kurun waktu tiga bulan

dari Mei hingga Juli 2008, telah

menurunkan tagihan sebesar

Rp. 298 juta atau hampir 30 % dari

tagihan bulan Mei 2008.

Ubijalar asal

Yahukimo,

Papua, sumber

Rizki/Rumgapres

karbohidrat

potensial Abror

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


Apakah betul pula subsidi untuk BBM ini

jumlahnya sangat besar? Lantas apakah

pemerintah akan menaikkan harga BBM lagi

jika harga tembus US$ 150 atau US$ 160 per

barel?

Saya telah jelaskan tadi, subsidi untuk BBM

dan listrik memang besar sekali. Lantas, kalau

harganya tembus US$ 150 atau US$ 160 per

barel bagaimana? Apa otomatis harga BBM

akan dinaikkan lagi?

Begini. Pemerintah belum berpikir dan

berencana untuk menaikan lagi harga

BBM setelah kenaikan bulan Mei yang lalu.

Pemerintah terus menghitung dan melakukan

“exercise”, bagaimana menyelamatkan APBN

dan perekonomian kita tanpa harus menaikkan

BBM lagi. Memang kalau tembus ke harga US$

150 per barel, atau lebih tinggi lagi, subsidi

kita bisa mencapai lebih dari RP. 317 triliun.

APBN menjadi tidak ideal. Banyak anggaran

pembangunan yang tidak bisa dipenuhi, karena

uang kita banyak tersedot untuk pemberian

subsidi BBM dan listrik.

Oleh karena itu saya minta pengertian seluruh

rakyat Indonesia, untuk betul-betul menghemat

penggunaan BBM dan listrik, agar APBN kita

tidak jebol karena subsidi yang besar itu. Agar

pula kita tidak perlu menaikkan harga BBM lagi.

Saya terus mengikuti perkembangan

bangsa-bangsa lain di dunia karena krisis harga

minyak ini. Banyak bangsa di dunia, termasuk

negara-negara kaya dan maju, yang rakyatnya

amat sadar akan krisis harga minyak ini. Mereka

melakukan berbagai penghematan BBM dan

listrik. Mereka bikin BBM dari sumber lain,

termasuk angin, hidro, bio-massa, dan biofuel.

Tidak semua industri besar, tapi juga industri

rumah tangga yang sederhana. Penggunaan

listrik mereka kurangi habis-habisan. Mereka

memilih melakukan itu semua ketimbang

setiap hari marah, mengumpat pemerintah, dan

berunjuk rasa.

Bagaimana pandangan Bapak tentang

bio-energi atau biofuel ? Dapatkah Indonesia

mengembangkan besar-besaran bio-energi

ini?

Bio-energi, atau Bahan Bakar Nabati

adalah salah satu energi alternatif yang ramah

lingkungan. Kita semua tahu itu. Indonesia

harus sangat serius untuk mengembangkan

bio-energi ini.

Yang penting jangan sampai mengganggu

produksi bahan-bahan pangan kita. Ini semua

sangat mungkin kita lakukan. Bio-energi dari

jarak pagar dan bio-massa, misalnya, tidak

akan mengganggu produksi pangan. Bioenergi

yang berasal dari tebu, jagung dan

sawitpun dapat dikembangkan dengan baik,

pengantar

tanpa harus mengganggu kecukupan pangan.

Brazil salah satu negara yang berhasil dalam

pertanian atau pangan, dan sekaligus bioenergi.

Dalam pertemuan saya dengan

Presiden Brazil beberapa waktu yang lalu,

kita sepakat untuk melaksanakan kerjasama

di bidang bio-energi ini. Indonesia mesti

menimba pengalaman negara-negara yang

lebih dahulu mengembangkan bio-energi, dan

ternyata berhasil.

Sejak tahun 2006 Pak SBY sangat intensif

untuk mendorong pegembangan bio-energi

ini. Bagaimana kemajuannya, dan apa

kendala yang mendasar?

Saya memang amat serius untuk

mengembangkan bio-energi ini. Instruksi

Presiden juga telah saya keluarkan yang

intinya adalah menginstruksikan kepada para

Menteri terkait, para Gubernur dan Bupati

di seluruh tanah air, sesuai bidang tugasnya

masing-masing, untuk melakukan percepatan

penyediaan dan pemanfaatan bahan bakar

nabati (biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. Di

berbagai pameran industri energi selalu kita

tunjukkan proses untuk membuat bio-energi ini,

termasuk mesin-mesin yang telah diproduksi.

Saya ketahui minat masyarakat dan dunia

usaha kita untuk mengembangkan bio-energi

ini juga makin tinggi.

Kemajuannyapun telah nampak. Di

antaranya adalah telah tersedia pabrik-pabrik

pengolahan bio-diesel dengan kapasitas

2 juta KL/tahun, dan pabrik-pabrik bio-ethanol

dengan kapasitas 160 ribu KL/tahun. Saat ini,

di empat kota besar yaitu : Jakarta, Surabaya,

Bali dan Malang telah terpasang 279 SPBU

yang menjual bahan bakar campuran bio-diesel

1 % dan bahan bakar campuran bio-ethanol

5%. Sementara itu telah pula dikembangkan

123 Desa Mandiri Energi yang umumnya

berbasiskan bio-energi, seperti minyak jarak.

Kendala selalu ada. Sering belum sinkron

benar antara petani yang menanam bahan bioenergi

itu dengan industri yang membelinya.

Ada juga permasalahan efisiensi dan nilai

ekonominya. Ada juga keengganan dari warga

masyarakat untuk meninggalkan penggunaan

BBM, dan kemudian harus menggantinya

dengan bio-energi. Kita telah lama kecanduan

BBM yang harganya diangap murah. Kini,

harganya mahal sekali, dan pemerintah harus

menomboki harga pembelian yang murah itu

dengan subsidi yang benar.

Belum lama ini para ahli energi, para

ahli teknologi dan para peneliti diundang,

untuk mempercepat pengembangan energi

akternatif. Bisa dijelaskan?

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 15


16

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Saya undang para ahli kita itu. Termasuk

para peneliti energi, untuk melakukan riset yang

lebih intensif. Saya minta pula beliau-beliau itu

untuk lebih inovatif dan bahkan “thinking out

side the box”, atau berani berpikir yang tidak

serba konvensional.

Untuk mengembangkan sumber energi

non minyak bumi, sumber energi terbarukan

yang ramah lingkungan, dan bahan bakar

sintetis diperlukan inovasi teknologi yang

nyata dan berhasil. Saya ingin mengajak

bangsa ini memiliki visi energi masa depan

yang menjangkau. Bangsa yang menang dan

berhasil, termasuk menghadapi krisis energi

dan pangan ini, adalah bangsa yang berpikir

positif, bersikap optimis, dan terus berinovasi.

Teknologi pemanfaatan energi angin,

tanaman dan matahari sudah ada di

Indonesia. Di sebuah pulau terpencil ada

penduduk yang menikmati listrik dari cahaya

matahari. Mengapa teknologi-teknologi

praktis seperti itu lambat sekali diterapkan

di daerah-daerah yang membutuhkan?

Sebagaimana yang telah saya sampaikan

sebelumnya, gairah dan keinginan untuk

mengembangkan sumber energi alernatif seperti

energi angin ini, mesti disertai dengan hitunghitungan

nilai ekonominya. Menguntungkan,

atau tidak menguntungkan. Di waktu yang lalu,

sulit untuk bersaing dengan BBM yang harganya

disubsidi besar-besaran oleh pemerintah.

Ke depan, saya yakin, dengan teknologi

yang makin murah dan harga minyak bumi yang

tinggi sekali, pengembangan sumber energi

non-BBM akan makin prospektif.

Riak pemanfaatan bio-energi semakin

banyak ditemukan di berbagai daerah.

Pelatihan-pelatihan bio-ethanol selalu

dipenuhi peminat. Suatu saat akan

ada perkebunan jarak, sorgum, singkong

khusus untuk energi. Apa antisipasi

pemerintah untuk menghadapi kemungkinan

membanjirnya tanaman-tanaman bahan

baku bio-energi itu?

Pemerintah telah mempersiapkan perangkat

peraturan dan kebijakan untuk itu. Tinggal

sinkronisasi dengan semua pihak yang memiliki

kepentingan dengan pengembangan bio-energi

ini, yaitu para petani, pembeli bahan baku,

industri pengolahan, dan pasar atau konsumen

sendiri. Untuk dipahami, di samping kebijakan

dan regulasi pemerintah yang memang

diperlukan, selebihnya tentu akan masuk pada

mekanisme pasar. Jika produk bio-energi itu

harganya bersaing, kualitasnya baik dan bisa

dijadikan pengganti BBM, tentu pasar akan

menyambutnya dengan baik.

Ini masalah lingkungan lingkungan.

Tampaknya, konferensi PBB tentang

Perubahan Iklim di Bali akhir tahun 2007

sukses. Apa komentar Bapak?

Alhamdulillah. Capaian di Bali itu merupakan

tonggak sejarah dalam upaya mengatasi

pemanasan global secara internasional

Terus terang, konferensi itu hampir gagal.

Setelah siang dan malam pembahasan

dilakukan, perbedaan masih tajam di antara

negara-negara peserta. Sekjen PBB Ban Ki-

Moon sempat cemas kalau konferensi itu gagal.

Sebagai tuan rumah, saya mempertaruhkan

kehormatan dan harga diri saya, kehormatan

dan harga diri bangsa Indonesia. Oleh karena

itu saya melakukan intervensi untuk mengatasi

“dead lock” .

Sejarah mencatat, konferensi yang

diramalkan gagal itu akhirnya merumuskan “Bali

Road Map”. Suatu langkah maju. Meskipun,

diperlukan tindak lanjut ke depan agar tahun

2009 nanti, kita memiliki kerangka kerjasama

baru untuk menganti Kyoto Protocol yang akan

habis masa berlakunya tahun 2012 mendatang.

Ada mata rantai antara lingkungan,

pangan dan air. Juga antara pemeliharaan

lingkungan dengan kepentingan

pembangunan untuk kesejahteraan rakyat,

utamanya di Negara-negara Berkembang.

Apa konsep Indonesia?

Pandangan dan konsep Indonesia sangat

jelas. Sumberdaya alam dan lingkungannya

harus benar-benar mendatangkan manfaat

dan kesejahteraan bagi umat manusia, tetapi

sekaligus juga harus kita pelihara kelestariannya

agar tidak rusak. Saya sering menyebut hal

ini sebagai kebutuhan kembar. Bumi, air

dan kekayaan alam yang ada di negeri kita

harus kita dayagunakan untuk sebesar-besar

kemakmuran rakyat. Dan, agar pendayagunaan

sumberdaya alam itu lestari, atau “sustainable”,

pengelolaannya harus sebaik mungkin. Kita

harus mengelola pertanian, pertambangan,

kehutanan, perikanan dan lain-lain, sebaikbaiknya,

untuk memenuhi tujuan kembar itu.

Tidak adil jika oleh negara-negara maju

kita dilarang menggunakan hutan kita untuk

kepentingan kesejahteraan rakyat, dengan

alasan dikhawatirkan mengganggu paru-paru

bumi. Siapa yang menolong kita mengurangi

kemiskinan, meningkatkan taraf hidup rakyat,

mengubah ekonomi kita ? Ya kita sendiri.

Tentu saja kita harus menjaga lingkungan

kita sebaik-baiknya. Itulah sebabnya, sejak

tahun lalu saya pimpin gerakan penghijauan

dan penanaman pohon secara besar-besaran,

lebih dari 70 juta pohon. Kaum perempuan

tidak mau ketinggalan, juga melakukan

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


Abror Rizki/Rumgapres

gerakan menanam dan memelihara pohon.

Saya mendapat informasi jumlahnya lebih dari

15 juta pohon. Kampanye nasional memelihara

lingkungan ini akan terus kita lanjutkan di

tahun-tahun mendatang. Semuanya ini untuk

keselamatan kita, untuk anak cucu kita, untuk

masa depan kita.

Beralih ke jamu dan obat-obatan

tradisional, belum lama ini Pak SBY membuka

Kongres Jamu Nasional di Jakarta. Apa

obsesi Bapak tentang masa depan herbal

Indonesia?

Saya ingin jamu dan obat-obatan Indonesia

bukan hanya menjadi tuan rumah di negerinya

sendiri, tetapi juga berhasil menembus ke pasar

dunia. Hal ini sangat mungkin. Kita bisa. Ingat

Indonesia dikenal sebagai mega bio-diversity,

yang memiliki keragaman flora dan fauna

yag sangat besar. Seperti pula negara Brazil.

Banyak sekali tumbuh-tumbuhan yang bisa

diolah menjadi herbal yang bermutu tinggi.

Pembuatan dan penggunaan jamu sendiri

memiliki akar sejarah dan budaya yang dalam.

Sejak ratusan tahun yang lalu bangsa kita sudah

menggunakannya. Sudah menjadi bagian dari

kehidupan, atau way of life.

Kalau dikembangkan bisa meningkatkan

pendapatan petani atau peracik jamu ya

Pak?

Jelas. Mata rantainya panjang. Mulai dari

petani, pengolah, pengecer, termasuk mereka

pengantar

yang memasarkan jamu secara tradisional pula.

Industri ini harus benar-benar kita kembangkan

agar bisa masuk ke pasaran jamu yang lebih

luas lagi. Baik di dalam, maupun di luar negeri.

Di Indonesia ada 9.600 jenis tanaman obat.

Yang sudah dimanfaatkan baru 350 tanaman.

Khasiat ratusan tanaman itu yang sudah

melewati uji praklinis hanya 17 tanaman.

Yang teruji klinis dan menjadi fitofarmaka

cuma 5 buah. Mahal dan lamanya rantai

penelitian : uji praklinis (in vitro dan in vivo)—

uji klinis (pada manusia), menjadi penyebab

lambatnya perkembangan fitofarmaka

Indonesia. Bagaimana pendapat Bapak

tentang hal ini?

Ada 2 hal. Memang di negara manapun lisensi

atau pengesahan produk obat-obatan, termasuk

herbal, melalui proses yang ketat. Waktu yang

diperlukan juga relatif lama. Mengapa? Ya

memang menyangkut “keamanan” bagi yang

mengkonsumsi obat atau jamu itu. Apalagi,

seperti kita ketahui bersama, selalu ada pihakpihak

yang nakal. Melakukan pembuatan dan

penjualan jamu secara ilegal. Ini berbahaya.

Saya setuju bahwa proses dan pengawasannya

harus benar.

Namun, yang kedua, tidak berarti semuanya

harus dibiarkan berjalan lambat. Tidak

berarti birokrasi yang tidak baik kita biarkan

saja. Saya ingin semuanya bisa dipercepat

tanpa meninggalkan sertifikasi produk yang

dapat dipertanggung jawabkan. Saya sudah

Mendengar

keluhan petani

di Karawang,

Jawa Barat,

untuk cari

solusi

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 17


Panen padi

di Purworejo,

Jawa Tengah

18

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

meminta Menteri Kesehatan dan Ketua Badan

Pengawasan Obat dan Makanan untuk benarbenar

membantu, memfasilitasi dan ikut

memperlancar pengembangan jamu dan obatobat

tradisional ini, termasuk pengeluaran

izinnya.

Data FAO menyebutkan, pada 2025 akan

ada 300 juta orang dengan diabetes melitus

di seluruh dunia. Ini tentunya berkaitan

dengan kualitas dan gaya hidup modern.

Menurut Bapak, bagaimana caranya

agar kualitas hidup manusia Indonesia

meningkat?

Ini berkaitan dengan gaya hidup masyarakat

Indonesia, kita semua. Menurut pendapat

saya, resepnya adalah mengatur jenis dan

pola makan, rajin berolahraga, dan pandai

melakukan penyeimbangan dalam kehidupan

sehari-harinya.

Memang ada pula faktor keturunan atau

genetika yang lebih rentan terhadap jenisjenis

penyakit tertentu. Tetapi, 3 hal yang saya

kemukakan tadi juga penting untuk mencegah

penyakit-penyakit itu.

Kehidupan modern sering membuat

kita “stress”. Apalagi mereka-mereka yang

memiliki tanggung-jawab dan beban pekerjaan

yang tinggi. Tentunya termasuk seorang

Presiden. Oleh karena itu sekali lagi, mengatur

keseimbangan antara pikiran, hati dan jasmani

adalah sangat penting.

Saya dengar Pak SBY dan Ibu Ani senang

menanam dan memelihara pohon dan bunga.

Di kediaman Cikeas katanya banyak sekali

jenis pohon dan bunga yang indah-indah?

Benar. Kami sekeluarga amat mencintai

lingkungan dan keindahan, termasuk menanam

pohon dan bunga. Melihat taman di halaman

rumah saya yang hijau dan juga berwarna-warni;

rasanya hati jadi sejuk dan pikiran jadi jernih.

Hidup terasa lebih tenteram. Saudara tahu

bahwa pikiran saya tentu sangat dipengaruhi

oleh ratusan persoalan yang ada di negeri ini.

Banyak yang berat-berat. Saya harus bisa

menciptakan suasana yang bisa menetralisasi

berbagai tekanan psikologis itu.

Lagi pula, dengan saya dan istri rajin dan

aktif menanam dan memelihara pohon, saya

memiliki keabsahan moral untuk mengajak

rakyat Indonesia, untuk melakukan hal yang

sama. Bersama-sama membikin tanah air kita

bertambah hijau, bersih, sehat, rapi dan indah.

Isu pangan, energi, lingkungan, dan herbal

berkaitan erat dengan bidang pertanian,

dan itu sejalan dengan gelar bapak sebagai

doktor di bidang pertanian.

Anung A/Rumgapres

Benar. Saya belajar dan menambah ilmu di

bidang ekonomi pertanian di IPB, karena saya

menyadari pertanian adalah merupakan bagian

penting dari kehidupan, bahkan peradaban

bangsa Indonesia. Geografi Indonesia dengan

segala kandungannya mengharuskan kita

untuk menjadikan pertanian sebagai pilar

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


penting dalam perekonomian, kehidupan dan

kemajuan bangsa kita.

Melalui pengelolaan pertanian yang benar,

kita akan mencapai ketahanan pangan. Melalui

pengembangan pertanian kita juga secara

sistematis dapat mengurangi kemiskinan karena

saudara-saudara kita yang miskin lebih dari

60 % hidup di perdesaan dan sektor pertanian.

Dan melalui pembangunan pertanian yang baik

pula, kita akan dapat memelihara kelestarian

alam. Inilah tangung-jawab moral kita sebagai

bangsa.

Saya dengar Pak SBY senang membaca

Trubus”. Mengapa?

Bukan hanya saya yang senang membaca

Trubus”, tetapi juga istri saya, Ibu Negara.

Trubus bukan hanya memberikan banyak

pengetahuan, termasuk yang praktis-praktis,

tetapi juga memberikan solusi bagi berbagai

persoalan yang dihadapi masyarakat kita.

Di samping itu, Trubus juga memberikan

inspirasi bagi yang ingin mengembangkan

usaha atau budidaya dari berbagai ragam usaha

pertanian dalam arti luas. Jika tekun, saya yakin,

banyak rumah tangga dan industri-industri kecil

dan menengah yang mendapatkan manfaat

nyata dalam pengembangan berbagai jenis

usahanya setelah membaca Trubus. Berarti

Trubus ikut berkontribusi dalam peningkatan

kesejahteraan rakyat.

pengantar

Terakhir, selaku Kepala Negara dan

Kepala Pemerintahan, apa pesan-pesan Pak

SBY kepada rakyat Indonesia?

Kita semua sebagai umat hamba Tuhan

dan sebagai bangsa yang besar harus pandai

bersyukur. Sumberdaya yang kita miliki,

manusia, alam dan hasil pembangunan selama

ini, harus kita dayagunakan untuk mengatasi

berbagai masalah dan tantangan.

Kita juga harus tetap tegar dalam

menghadapi setiap ujian dan tantangan. Yang

tidak tabah, atau menyerah, akan kalah. Yang

optimis, berjiwa terang dan berpikir positif

akan berhasil, dan menang.

Dan, agar Indonesia benar-benar berhasil

menjadi negara maju dan sejahtera di abad

21 ini, kita harus terus berikhtiar, bersatu dan

bekerja keras. Sebagaimana pengalaman

bangsa-bangsa lain yang lebih dulu maju dan

sejahtera, tidak pernah ada jalan yang lunak

untuk meraih kemajuan.

Saya telah berpesan ketika memperingati

100 tahun Kebangkitan Nasional agar kita

bisa menjadi negara maju dan sejahtera di

abad 21 ini, maka kita harus meningkatkan

kemandirian, daya saing dan peradaban

bangsa yang terhormat. Mari kita berjuang

dan melangkah maju untuk mewujudkan citacita

ini. Insya Allah kita bisa. INDONESIA

BISA.

Suasana asri

Istana Negara

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 19

Destika Cahyana


20

presiden dan pertanian

Belajar

dari Menanam

Pohon

Hari minggu, pukul 2 siang, di medio Desember 2007. Pengunjung

Pameran Trubus Agro Expo 2007, Cibubur membludak. Para

penjaga stan sibuk melayani para pembeli. Semua aktivitas itu

mendadak terhenti ketika iring-iringan 6 mobil memasuki areal

pameran. Dari mobil urutan ketiga turunlah Presiden Susilo Bambang

Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono. “Selamat ya,” ujar Presiden

sambil tersenyum sumringah dan melambaikan tangan.

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


Mereka

semua terpana dan kaget. Tak

ada yang menyangka kepala

negara akan berkunjung ke pameran tanaman di

Taman Rekreasi Wiladatika Cibubur itu. Tak sedikit

pun tampak persiapan menyambut kedatangan

presiden. Tidak ada protokol, tidak ada puluhan

polisi berkeliaran, tidak ada pengalihan kendaraan.

Semua berjalan seperti biasa. Hanya panitia

Trubus di sekretariat yang mengetahui rencana

kehadirannya lantaran sebelumnya Paspampres

sudah hadir memantau situasi.

“Saya mencari tanaman yang tinggitinggi,”

kata presiden mengungkapkan niatnya.

Keinginan itu memaksa panitia menunjukkan

jalan ke arah stan buah-buahan melewati

lapangan rumput yang becek lantaran malam

sebelumnya turun hujan. Untung saja sejak

2 hari sebelumnya panitia sudah menutup

tanah becek dengan papan demi kenyamanan

pengunjung. Hasil kunjungan singkat itu, sejumlah

tabulampot sawo lebat buah dan jambu biji

diborong presiden untuk mengisi halaman rumah

di Cikeas, Kabupaten Bogor.

Hobi menanam—tanaman buah, hias, dan

sayuran—memang bukan hal baru buat SBY. Sejak

masih bertugas di Mabes TNI Angkatan Darat

berpangkat kapten, SBY gemar memanfaatkan

lahan untuk bertanam. Ketika itu ia kerap berbelanja

tanaman hias ke Lembang, Bandung berbelanja

mawar, melati, dan anggrek. Tanaman bunga itu

presiden dan pertanian

lalu ditanam di lahan sempit berukuran 6 m 2 di

halaman rumah dinas ukuran K-54. “Menanam itu

mempunyai filosofis yang bagus untuk kehidupan

sehari-hari,” kata presiden dalam berbagai

kesempatan.

Filosofi menanam

Menurut SBY, menanam bukan hanya sekadar

aktivitas berproduksi. Menanam ialah membangun

harapan untuk hari esok yang lebih baik. Menanam

pohon membutuhkan bibit unggul agar panen

berlimpah. Namun, bibit unggul saja tak cukup.

Dibutuhkan perawatan—seperti penyiraman,

pemupukan, dan penyiangan gulma—agar bibit

unggul itu tetap tumbuh baik. Tak jarang gangguan

hama atau bencana melanda. “Pada dasarnya

hidup adalah menanam. Begitu pula membangun

negeri dan bangsa juga menanam,” katanya.

Berdasarkan filosofi itu, hobi bertanam selalu

mengingatkan SBY terhadap pentingnya sebuah

proses dalam kehidupan. “Tak ada yang instan,

ada tanaman yang bisa dipanen 3 bulan, 6 bulan,

bahkan 15 tahun,” katanya. Bertanam pun selalu

mengingatkan Susilo terhadap rakyat Indonesia

yang sebagian besar petani, terutama petani

pangan. Dunia kemiliteran—yang dijalaninya

selama 30 tahun—pun memberinya sebuah

pengalaman, tanpa pangan yang kuat sebuah

pasukan mudah dilumpuhkan musuh.

Isi acara

keluarga

dengan

kunjungi

pameran

Trubus

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 21


Presiden Susilo

Bambang

Yudhoyono

panen lele di

Boyolali, Jawa

Tengah

22

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Lantaran kesadaran itu di tengah kesibukan

sebagai orang nomor 1 di tanah nusantara

presiden selalu mengagendakan untuk bertemumuka

dengan petani Indonesia. Sebut saja pada

Pembukaan Pekan Nasional XII Petani Nelayan

Indonesia 2007 di Sumatera Selatan. Di Bumi

Sriwijaya itu usai menikmati semangka berbobot

7 kg, SBY berdialog langsung dengan petani

dari Sabang—Merauke. Ayah 2 anak itu meminta

Gubernur, Bupati, Walikota, Himpunan Kerukunan

Tani Indonesia, dan Kontak Tani Nelayan Andalan

untuk mencari jalan keluar penyaluran pupuk agar

tidak masuk ke tangan yang tak berhak.

Petani cerdas

Di ajang temu-muka dengan petani itulah SBY

kian yakin. Kemajuan pertanian Indonesia sangat

mungkin terwujud. Itu merujuk dari kemampuan

putra-putri bangsa di desa yang cerdas dan tak

kalah dengan yang tinggal di kota. Kelahiran

Pacitan 59 tahun silam itu begitu bangga dengan

Tuyung Supriadi, penemu varietas padi unggul

dari Bantul. Tuyung menemukan varietas padi

super toy HL2 dengan produktifitas 15,5 ton per

hektar. Bandingkan dengan rata-rata produktivitas

padi nasional yang hanya 4—5 ton per ha.

Perhatian presiden pada padi juga tercermin

saat meresmikan Irigasi Bekri dan Rumbia Barat,

Lampung Tengah pada Februari 2007. Pada

kesempatan itu mantan Pangdam II Sriwijaya

itu meminta petani Lampung meningkatkan

produktivitas rata-rata hingga 7—8 ton per ha.

Itu untuk membuktikan bahwa pencetakan 4.800

hektar sawah secara swadaya di Lampung

Tengah bukan sekadar proyek di atas kertas.

Sentra padi seperti Karawang dan Gorontalo

pun telah dikunjungi presiden untuk medorong

semangat meningkatkan produktivitas secara

nasional.

Cinta pada pertanian pun diwujudkan SBY

saat mengundang sejumlah wartawan ke kebun

durian Warso Farm pada April 2007. Di saat isu

reschuffle kabinet dan kasus IPDN menghangat,

menantu Jenderal Sarwo Edhi Wibowo itu

meminta masyarakat mencontoh Suwarso,

pensiunan tentara yang berkebun durian. Dengan

bertanam buah berkualitas di negeri sendiri,

maka laju impor buah mancanegara pun dengan

sendirinya berkurang. Di kebun seluas 28 ha

yang berisi 18 varietas durian itu para wartawan

menikmati durian lokal dan durian monthong—

asal Thailand—yang diproduksi sendiri.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


Pemanasan dan

energi

Hobi bertanam dan kepedulian SBY

pada petani tak terhenti sampai di situ.

Doktor pertanian dari Institut Pertanian

Bogor itu sadar betul bertanam pohon tak

sekadar memanen buah, umbi, bunga,

atau daun. “Pohon memasok udara bersih

buat bumi dan umat manusia. Ia juga

menyerap air sehingga mencegah banjir.

Pohon juga menurunkan suhu bumi,”

katanya dalam berbagai kesempatan.

Menurut presiden, saat tanaman

memproduksi oksigen, tanaman menyerap

CO 2 yang merupakan salah satu gas

penyebab rumah kaca. Gas itu membuat

sinar matahari terperangkap dalam

atmosfier bumi yang mengakibatkan

suhu bumi meningkat. Tanaman pun

bersifat antipolutan yang mampu

menyerap (secara pasif, red) polutan di

udara. Lantaran itu ia menularkan hobinya

dengan mendukung aksi penanaman

serentak 89 juta pohon di seluruh

Indonesia pada November 2007.

Untuk membidik kaum muda agar

gemar menanam pohon, SBY tak segan

menggaet idola anak muda—seperti Iwan Fals.

Tercatat 2 kali SBY ‘berduet’ dengan Iwan Fals

berkampanye bertanam pohon. Yang pertama

pada peringatan Hari Bumi Internasional di

Kemayoran, Jakarta Utara, pada April 2006 dan

kedua di Cibadak, Bogor pada November 2007.

“Saya tak menyangka ketemu Presiden kembali

untuk kampanye tanam pohon. Kegiatan ini

sangat berguna buat anak cucu mendatang,”

kata pelantun lagu Tanam...Tanam...Siram...

Siram itu.

Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu yang

dipimpinnya menghadapi lonjakan harga bahan

bakar di dunia intensional sehingga membuat

tanaman—yang dicintainya—juga dilirik sebagai

sumber energi alternatif. Setahun silam SBY turut

mendukung penanaman jarak sebagai biodiesel.

Wacana biodiesel dari pusat kekuasaan itu mulai

terasa di masyarakat. Kini kendaraan berbahan

baku biodiesel asal minyak jelantah kerap ditemui

di jalanan. Sementara untuk substitusi premium

SBY mendorong penggunaan bioetanol.

Peternakan

Sebagai anak desa dari Pacitan, SBY paham

dunia pertanian tak terbatas pada tanaman, tapi

juga pada peternakan. Memang secara luas

pertanian meliputi budidaya tanaman dan ternak.

presiden dan pertanian

Karena itu perhatian SBY pada ternak pun cukup

tinggi. Pada Februari tahun silam misalnya. SBY

bersama istri tercinta turut memanen lele dumbo

di Kampung Lele, Desa Tegalrejo, Kabupaten

Boyolali. Ia tak segan mengangkat jala dan

terciprat lumpur tempat hidup lele.

Pada kesempatan itu pula SBY menyerahkan

bantuan simbolis berupa 20 paket atau 300

ekor lele dumbo strain sangkuriang kepada

Kelompok Terajunan, Kecamatan Ngemplak. SBY

juga menyerahkan subsidi berupa benih 15 juta

ekor lele dan 1 juta ekor nila senilai Rp500-juta

kepada Kelompok Karya Mina Utama Tegalreojo.

Untuk penataan prasarana dan perbaikan kolam

diserahkan pula dana sebesar Rp600-juta.

Kehadirannya ke berbagai peternakan pun

kerap menenangkan peternak. Sebut saja saat

ayah dari Agus Harimurti dan Edhie Baskoro itu

berkunjung ke Kabupaten Dompu tiga tahun silam.

Ia menenangkan Arizal, peternak setempat, yang

khawatir penggembalaan ternak Doro Ncanga

dialihfungsikan untuk kegiatan lain. Padahal,

banyak rakyat yang sangat tergantung pada usaha

ternak. SBY meminta Bupati Dompu Abubakar

Ahmad untuk menjaga keunggulan usaha di

daerahnya sehingga alihfungsi bisa dihindarkan.

Itulah hobi, cinta, dan perhatian Susilo pada petani

dan pertanian Indonesia. (Destika Cahyana dan

Onny Untung)

Presiden Susilo

Bambang

Yudhoyono

bersama Iwan

Fals

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 23


24

kredit usaha rakyat

Dana Segar

Rp5-juta—Rp500-juta

Mau?

Pemerintah mengucurkan kredit usaha rakyat untuk pengembangan

usaha skala mikro Rp5-juta; usaha skala kecil, Rp500-juta. Proses

mudah dan cepat serta bunga rendah.

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


kredit usaha rakyat

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 25


Kredit mikro

modal

beragribisnis

26

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Idealnya

keuangan mikro

menjangkau

yang miskin dan

memberdayakan

perempuan.

Kalau

perempuan

diberdayakan,

keluarganya juga

berdaya.

permintaan telur itik terus melam-

Ketika bung, Kartinah tak sanggup

melayaninya. Peternak di Kabupaten Tegal,

Jawa Tengah, itu bergegas ke Bank Rakyat

Indonesia, untuk mengajukan kredit. Dua pekan

pascapengajuan, ia memperoleh dana segar

Rp75-juta untuk pengembangan usaha agribisnis.

Bukan itu saja yang membuat Kartinah bungah.

Setahun pertama ia cuma mengangsur bunga

lantaran sebagian itiknya belum berproduksi.

Kartinah yang juga bekerja sebagai pegawai

negeri sipil di Polisi Resort Tegal itu bukan satusatunya

yang merasakan manfaat kredit usaha

rakyat. H Rimin Sumantri, ketua Pusat Pemasaran

Koperasi Belimbing Dewa, Depok, Jawa Barat,

juga, memperoleh kredit Rp6-miliar dari Bank

Mandiri. Dana itu untuk pengembangan belimbing

bagi 552 anggota koperasi yang ia pimpin. Mereka

tak perlu repot-repot menyiapkan jaminan berupa

lahan atau bangunan. “Setiap pohon belimbing

dijadikan pekebun sebagai jaminan,” katanya.

Program KUR (Kredit Usaha Rakyat) memberi

kemudahan karena jaminan alias agunan tak

menjadi kewajiban. Yang dijadikan jaminan

hanyalah alat usaha. Misalnya, untuk pekebun

belimbing, pohon dapat dijadikan jaminan.

Sementara untuk sektor perdagangan skala kecil

seperti tukang bakso atau bakul jamu, maka

gerobak bakso atau tempat berjualan jamu sebagai

jaminan. Itu sekadar untuk memberi semangat dan

pendidikan kepada para peminjam.

Usaha layak

Menurut Direktur Bank Rakyat Indonesia

Sofyan Basir, kredit usaha rakyat (KUR) adalah

kredit modal kerja dan kredit investasi dengan

plafon Rp500-juta untuk usaha mikro, kecil, dan

koperasi. “Usaha mikro, kecil, dan koperasi itu

merupakan usaha produktif yang layak, tetapi

belum bankable. Agunan pokok kredit adalah

proyek yang dibiayai. Namun, karena agunan

tambahan yang dimiliki usaha mikro, kecil,

dan koperasi itu pada umumnya kurang, maka

sebagian dicover dengan dana penjaminan hingga

70% dari batas kredit,” ujar Sofyan.

Ketika H Rimin Sumantri mengajukan kredit,

setiap pohon belimbing berumur minimal 5 tahun

dijadikan jaminan senilai Rp80.000. Angka itu

setara dengan produksi belimbing per musim. “Bila

pekebun memiliki 100 pohon, maka ia mendapat

kredit senilai Rp8-juta; 50 pohon, tinggal Anda kali

sendiri, berarti Rp4-juta,” kata Rimin Sumantri.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI

Foto-foto: Edi Amd, Destika Cahyana, Argohartono A Raharjo


Bank Rakyat

Indonesia

penyalur kredit

mikro

28

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Kredit Usaha Rakyat

Keterangan Syarat Kredit Usaha Rakyat

Calon Debitur Individu yang melakukan usaha

produktif yang layak

Plafon Rp5-juta Plafon Rp500-juta

Lama Usaha Minimal 6 bulan Minimal 6 bulan

Bentuk Kredit Modal Kerja atau Kredit Investasi

maksimal 3 tahun

Individu atau badan hukum (koperasi, kelompok

tani) yang melakukan usaha produktif yang layak

Kredit Modal Kerja maksimal 3 tahun

Kredit Investasi maksimal 5 tahun

Suku bunga Maksimal 1,125% flat per bulan Maksimal 16% per tahun

Perizinan - Rp100-juta : SIUP, TDP, SITU atau Surat

keterangan Lurah, lebih dari

Rp100-juta: minimal SIUP

Legalitas KTP & KK Individu : KTP & KK,

Kelompok : surat pengukuhan dari instansi

terkait atau surat keterangan

dari Lurah

Koperasi : sesuai ketentuan berlaku

Agunan Pokok : usaha atau tempat

usaha yang dibiayai,

proyek yang dibiayai

Tambahan : tak wajib dipenuhi

Sumber : Bank Rakyat Indonesia

Program pemerintah itu pertama kali

diluncurkan pada 5 November 2007. Itu setelah

pemerintah menerbitkan Inpres No 6 tanggal 8

Juni 2007 tentang Kebijakan Percepatan Sektor

Riil dan pemberdayaan usaha kecil dan menengah.

Ketika itu plafon kredit Rp500-juta. Namun, 5 bulan

berselang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

menyarankan agar penyaluran kredit lebih banyak

untuk nasabah mikro dengan plafon Rp5-juta.

Mengapa pemerintah mengucurkan KUR?

“Untuk mempercepat pengembangan sektor

riil dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan

koperasi. KUR juga untuk meningkatkan akses

pembiayaan kepada usaha mikro, kecil, dan

koperasi serta penanggulangan kemiskinan dan

perluasan kesempatan kerja,” kata Sofyan.

Sebelum KUR diluncurkan, sejumlah institusi

telah mengembangkan kegiatan keuangan mikro

yang mirip KUR. Menurut Bambang Ismawan,

sekretaris jenderal Gerakan Bersama Pengembangan

Keuangan Mikro (Gema PKM), “Keuangan

mikro itu makhluk baru yang lahir dari ‘ibu’ yang

berorientasi pada social advancement dan

‘ayah’ yang berorientasi pada business finance.”

Bambang yang menghadiri Micro Summit di

Washington, Amerika Serikat, mengatakan

idealnya keuangan mikro menjangkau yang

miskin dan memberdayakan perempuan. “Kalau

perempuan diberdayakan, keluarganya juga

berdaya,” ujar alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Selain itu keuangan mikro juga mengembangkan

kelembagaan berkelanjutan dan dampaknya

terukur.

Pokok : usaha atau tempat usaha yang

dibiayai, proyek yang dibiayai

Tambahan : tak wajib dipenuhi

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


Kredit mikro itu diperuntukkan bagi usaha

mikro. Menurut Badan Pusat Statistik usaha

mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau

perorangan, secara individu atau tergabung dalam

koperasi, dan hasil penjualan maksimal Rp100-juta

per tahun. Sementara Bank Indonesia membatasi

usaha mikro adalah usaha yang beraset maksimal

Rp25-juta di luar tanah dan bangunan.

Pertanian

Menurut Sofyan plafon nilai kredit usaha rakyat

Rp500-juta dan Rp5-juta. “Jumlah debitur yang

menikmati fasilitas di bawah Rp5-juta mencapai

90% dari total penyaluran KUR sehingga komitmen

penyerapan tenaga kerja dan penanggulangan

kemiskinan lebih terarah,” katanya. Selama ini

mereka—debitur dengan kredit Rp5-juta—tak

tersentuh oleh perbankan konvensional. Mereka

justru bersentuhan dengan tengkulak, rentenir,

dan simpan pinjam.

Sektor perdagangan, pertanian, dan jasa

sosial paling tinggi menyerap KUR. Hingga

Mei 2008, sektor pertanian menyerap 1.664-miliar

(24%), perdagangan—termasuk perdagangan

hasil pertanian—hotel, dan restoran menyerap

Rp4.046-miliar (58%), dan jasa sosial

Rp468-miliar (6%). Hingga Mei 2008, total jenderal

Rp8-triliun sudah dikucurkan bank dengan

kredit usaha rakyat

850 debitur. Dari jumlah itu Bank Rakyat Indonesia

merupakan penyalur KUR terbesar, yakni

Rp5-triliun.

Selain Bank Rakyat Indonesia, lembaga

keuangan yang menyalurkan KUR adalah Bank

Negara Indonesia 46, Bank Mandiri, Bank Tabungan

Negara, Bank Syariah Mandiri, dan Bank Bukopin.

Sementara itu perusahaan penjamin kredit adalah

Askrindo (Asuransi Kredit Indonesia) dan Perum

Sarana Pengembangan Usaha (SPU). Ke-6 bank

itu menilai kelayakan usaha dan memutuskan

pemberian kredit. Adapun perusahaan penjamin

memberikan persetujuan penjaminan atas kredit

yang diberikan perbankan.

Pemerintah mendorong kredit itu dengan

cara memberi jaminan kredit melalui Askrindo

dan SPU. “Dengan cara itu premi asuransi

dibayarkan oleh pemerintah,” kata Nasihun

Amin, supervisor administrasi kredit Bank

Rakyat Indonesia cabang Muaraenim, Sumatera

Selatan. Itulah yang membedakan KUR dengan

program kredit lain. Lazimnya premi dibayar

peminjam. Pengajuan kredit pun mudah. Begitu

diajukan pada Mei 2008, sebulan berselang dana

dari bank itu turun.

Mudahnya proses KUR merangsang pengusaha

kecil untuk memperolehnya. “Kini kami

sedang mendata jumlah pohon per pekebun,” kata

Rimin. Bank langsung mentransfer dana kredit

Peternak

gurami

juga dapat

mencairkan

kredit mikro

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 29


30

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

ke rekening pekebun. Sementara pembayaran

berdasarkan jumlah panen pekebun. Besarnya

25% dari total pendapatan pekebun setiap panen

hingga lunas.

Cerita berbelitnya pengajuan kredit bagi

komoditas pertanian bakal menjadi sejarah lama

di Indonesia. “Saya juga tak menyangka, selama

ini proses pencairan kredit selalu berbelit, tapi

ternyata tak serumit yang dibayangkan,” kata

Rimin. Tak hanya pekebun belimbing di Depok

yang merasakan itu. Pekebun tanaman hias di

Sawangan, Depok, lebih dahulu merasakan kredit

dari Bank Mandiri.

1. Calon nasabah datang ke bank penyalur

KUR. Petugas bank mengisi formulir

permintaan KUR

2. Petugas bank memeriksa lokasi usaha untuk

melihat kelayakan usaha.

3. Petugas bank memberitahukan keputusan

kredit.

1

2

3

Cara Ajukan KUR

4. Jika petugas bank menyetujui KUR, nasabah

datang ke bank untuk melengkapi dokumen

seperti tanda tangan dan surat utang.

5. Nasabah menarik pinjamannya.

6. Proses KUR normal 5—7 hari. Proses kredit

lebih lama jika jumlah nasabah KUR lebih

banyak. Siapa datang lebih dulu, dilayani

lebih dulu.***

4 5

6

Muhammad Yunus, yang konsisten mengembangkan

kredit mikro dan peraih nobel, mengatakan

bahwa kaum mereka itu tetap bankable.

“Kredit adalah hak asasi manusia,” katanya.

Yang diperlukan adalah aksesibilitas bagi

mereka. Bambang Ismawan menggambarakan,

sumber air ada di mana-mana, tetapi mereka

tak mendapat tetesannya. Yang diperlukan

adalah pipa agar mereka memperoleh

tetesan air. Pipa itu sebagai akses atau

jalan untuk memperoleh kredit mikro. (Sardi

Duryatmo & Destika Cahyana/Peliput: Onny

Untung)

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


kredit usaha rakyat

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 31


32

energi

Negeri

Bersimbah

Bioenergi

Indonesia kaya bahan baku biodiesel dan bioetanol. Jika dimanfaatkan

maksimal, negeri ini menjadi ”Timur Tengah”-nya bioenergi.

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


energi

Aren berlimpah

di Sulawesi

Utara

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 33


34

Negeri Berlimpah

Biji, kulit, dan

batangnya kaya

bioetanol

Energi &

Pangan

Trooper

hitam itu berbelok ke

sebuah stasiun pengisian

bahan bakar. Hanya 20 liter solar—dari total

kapasitas 80 liter—yang masuk ke tangki mobil

bikinan Amerika Serikat itu. Dr Tatang Hernas

Soerawidjaja—pengendara mobil itu—lantas

menambahkan 2 liter minyak jarak Jatropha

curcas sebelum penutup tangki dikunci. Pria 54

tahun itu memang senantiasa membawa 4 jeriken

minyak jarak masing-masing 2 jerikan berisi 2 liter

dan 1 liter di dalam mobilnya.

Mobil itu melaju seperti sediakala. Setiap

hari mobil itu dikendarai oleh Tatang Hernas

Soerawidjaja dari rumahnya di bilangan

Rancakendal, Bandung, ke kampus Institut

Teknologi Bandung (ITB) berjarak 5 km. Menurut

catatan doktor Teknik Kimia alumnus University

of Delft, Belanda, itu Trooper berbahan biodiesel

minyak jarak telah menempuh perjalanan 46.000

km. Tatang juga kerap membawa mobilnya untuk

perjalanan luar kota seperti ke Jakarta.

Yang juga memanfaatkan biodiesel adalah

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

(BPPT). Tercatat 42 bus antarjemput karyawan

lembaga riset itu menggunakan biodiesel. Tangki

bus-bus Damri di Bandung, Jakarta, dan Bogor

sebentar lagi bakal dipenuhi bahan bakar serupa.

Biodiesel adalah bahan bakar yang berasal dari

makhluk hidup, sebagian besar minyak nabati,

untuk campuran atau pengganti solar.

Tergantung impor

Di sebuah stasiun pengisian bahan bakar

umum (SPBU) di Rampal, Kabupaten Malang,

puluhan kendaraan bermotor—jumlahnya sekitar

30 wahana—mengular. Premium sebetulnya

tersedia cukup, cuma kendaraan-kendaraan

itu terkonsentrasi di satu titik: gerai penyedia

bioetanol. Sementara 2 gerai penyedia premium

kosong-melompong, tak ada yang antre.

SPBU di Rampal, Malang, Jawa Timur,

menyediakan biopremium berkomposisi, 5%

etanol asal tebu dan 95% premium. Campuran

kedua bahan itu juga disebut gasohol. Harga

gasohol di Malang sama dengan premium.

Meski demikian, masyarakat antusias mengisi

kendaraannya dengan biopremium. Menurut

Jika bahan bakar nabati

dikembangkan serius, Indonesia

bisa menjadi Timur Tengahnya

bahan bakar nabati. Jalan menjadi

“Timur Tengah” sedang dirintis

oleh pabrikan besar dan produsen

skala rumahan yang saat ini

bermunculan di berbagai daerah.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


Foto-foto: Sardi Duryatmo

Suwandi, kepala SPBU Rampal, rata-rata

penjualan gasohol mencapai 14.000 liter per hari.

Dr Agus Eko Tjahyono sejak 2004 juga

mencampurkan bioetanol ke dalam

tangki Opel Blazer berwarna perak.

Sebelum penutup tangki dikunci,

ia menuangkan 3 liter etanol

asal singkong. Di dalam mobil

kesayangan doktor Teknik Kimia

alumnus Hiroshima University itu

selalu tersedia 2 jeriken bioetanol

masing-masing 10 liter. Bila

ketersediaan bioetanol—etanol

asal bahan nabati seperti

singkong melimpah—ia ingin

seluruh bahan bakar mobilnya

berupa bioetanol.

Sekarang, dari 80 liter

kapasitas bahan bakar

Opel Blazer, baru 15% yang

disubstitusi oleh bioetanol

atau dikenal E15, artinya

dalam campuran itu komposisi

bioetanol 15%. Setiap hari pria

separuh abad itu mengendarai

mobilnya dari rumah di Tanjungkarang, Lampung,

ke Badan Besar Teknologi Pati (B2TP) di Suluban

berjarak 80 km. Hingga kini Opel Blazer berbahan

bakar bioetanol itu menempuh jarak 95.000 km.

Dua tahun terakhir biodiesel dan biopremium

memang menjadi pilihan bagi pengendara

energi

kendaraan bermotor. Embel-embel bio lantaran

keduanya memang diproses dari tumbuhan.

Bioetanol adalah hasil fermentasi etanol asal

tumbuhan seperti tebu, singkong,

dan jagung. Sebagai bahan bakar,

bioetanol mirip biodiesel. Bedanya,

bioetanol khusus untuk kendaraan

berbahan bakar premium dan

pertamax atau bensin; biodiesel,

pengganti solar.

Biodiesel dan bioetanol menjadi

bahan bakar harapan masa

depan. Alasannya? Konsumsi

solar dan bensin Indonesia terus

melambung. Celakanya kedua

bahan bakar fosil itu tak lagi

sepenuhnya ditambang di dalam

negeri, tetapi harus diimpor.

Mari kita lihat konsumsi solar.

Data Lembaga Penelitian dan

Pengabdian Masyarakat (LPPM)

ITB menunjukkan, konsumsi solar

Indonesia pada 1995 mencapai

15,84-miliar liter.

Dari jumlah itu 6,91 miliar liter di

antaranya dihabiskan oleh bidang transportasi. Dari

tahun ke tahun konsumsi solar kian melambung.

Pada 2000, misalnya, 21,39-miliar liter (9,69

miliar liter transportasi). Lima tahun kemudian,

27,05-miliar liter (13,12-miliar liter). Dr Ir Imam K

Reksowardojo dari LPPM sekaligus dosen Teknik

Campuran 90%

premium dan

10% bioetanol

alias E10

Kakao, kaya

minyak

pengganti solar

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 35


36

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Jarak pagar,

adaptif di

berbagai daerah

Batang dan

biji sorgum,

prospektif

untuk bahan

baku bioetanol

Mesin ITB memperkirakan, pada 2010 Indonesia

memerlukan 34,71- miliar liter solar.

Padahal pada 1999 saja, seperempat dari

total kebutuhan solar Indonesia diimpor; pada

2001, 34% kebutuhan solar diimpor. Di tengah

melonjaknya kebutuhan bahan bakar itu, para

ahli memperkirakan cadangan minyak bumi kita

hanya cukup untuk 10 tahun ke depan. ”Perlu

kebijakan radikal untuk memutus ketergantungan

terhadap energi BBM agar hajat hidup orang

banyak terhadap energi tidak diacak-acak oleh

mekanisme pasar,” ujar Imam Reksowardojo.

Lalu premium? Dari 17-miliar liter kebutuhan

premium per tahun, 30% di antaranya adalah impor.

Konsumsi premium 2001 mencapai 14,60-miliar

liter. Dari tahun ke tahun konsumsi bensin kian

meningkat. Pada 2003 konsumsinya mencapai

12,34-miliar liter, 2004 (15-miliar liter), dan 2005

(17,47-miliar liter). Pada 2005, seperlima dari total

kebutuhan premium Indonesia diimpor, jumlahnya

mencapai 3,5-miliar liter. Di tengah harga minyak

yang terus melonjak, harga jual premium masih

bergantung pada subsidi pemerintah.

Solar alpukat

Di sisi lain, sebagai negara megabiodiversitas

Indonesia kaya bahan baku biodiesel dan

biopremium. Menurut Dr Tatang Hernas

Soerrawidjaja dari Institut Teknologi Bandung, dari

sekian banyak sumber energi alternatif, biodiesel

dan bioetanol paling cocok untuk dikembangkan.

”Volumenya 600 kali lebih kecil dibanding gas

sehingga kepadatan energi lebih besar, mudah

dibawa, dan relatif sulit terbakar ketimbang gas,”

ujar Tatang.

Apalagi bahan baku keduanya berlimpah. Sebut

saja alpukat. Beragam penelitian mendukung

penggunaan minyak alpukat sebagai biodiesel.

The National Biodiesel Foundation (NBF), meneliti

potensi buah persea sebagai bahan bakar sejak

1994. Alpukat mengandung lemak nabati yang

tersusun dari senyawa alkyl esters. Bahan esters

itu memiliki komposisi sama dengan bahan bakar

diesel solar, bahkan lebih baik nilai cetane-nya

dibandingkan solar. Pantas bila gas buangannya

pun lebih ramah lingkungan.

Tanaman lain yang bisa diekstrak sebagai

biodiesel: mimba Azadirachta indica. Daging

bijinya mengandung 50% minyak. Pusat

Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya

Laut dan Terestrial, mengekstraksi alkohol pada

daging biji mimba. Hasil ekstraksi berupa bungkil

alkohol bila diperah menghasilkan minyak mimba.

Melalui proses metalonisis atau etalonisis alias

penghancuran alkohol akan dihasilkan biodiesel

yang berkualitas.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


Potensi produksi

biodiesel dalam satuan

kiloliter (kl)/tahun

Potensi produksi

bioetanol dalam satuan

kiloliter (kl)/tahun

Konsumsi bensin pada 2006 dalam

satuan kiloliter (kl)/tahun

Menurut catatan Badan Penelitian dan

Pengembangan Pertanian, setidaknya 19,8-juta

hektar lahan cocok untuk ditanami jarak pagar.

Lahan itu tersebar hampir di seluruh provinsi. Jika

seluruhnya ditanami jarak, minyak nabati yang

dihasilkan mencapai 29,7-miliar liter. Setelah

ditransesterifikasi menghasilkan 23,76-miliar liter

biodiesel. Jumlah itu hampir memenuhi konsumsi

solar nasional yang mencapai 26-miliar liter/

tahun.

Melimpah

Bahan baku bioetanol tak kalah banyaknya di

negeri ini. Sagu salah satu sumber pati tertinggi.

Setiap hektar lahan sagu menghasilkan 25 ton

pati. Jumlah itu jauh lebih tinggi ketimbang kadar

pati beras dan jagung yang masing-masing hanya

6 dan 5,5 ton/ha. Bila diolah menjadi bioetanol

menghasilkan 4.000—5.000 liter/ha/tahun.

Seandainya sejuta hektar saja yang

diolah menjadi bioetanol, dapat

dihasilkan sekitar

4-miliar—5-miliar liter

bietanol/tahun.

Jumlah itu dapat

memenuhi kebutuhan

premium di Papua

yang hanya 100-juta

liter/tahun atau surplus 3,9miliar—4,9-miliar

liter/tahun. Dengan begitu,

Papua justru menjadi pemasok kebutuhan bahan

bakar di daerah lain. Potensi aren sebagai bahan

baku etanol juga tak kalah hebat. Dari sebatang

pohon Arenga pinata diperoleh 15—20 liter nira/

hari. Nira itulah yang nantinya difermentasi menjadi

bioetanol. Jika dalam setahun aren disadap selama

energi

200 hari, total nira yang dihasilkan 3.000—4.000

liter/pohon. Untuk menghasilkan seliter bioetanol

diperlukan 15 liter nira. Jadi, setiap pohon bisa

menghasilkan 200 liter etanol/tahun. Bila seluruh

populasi aren di Minahasa Utara itu diolah menjadi

bioetanol, dapat dihasilkan 400-juta liter/tahun.

Itu baru potensi bioetanol yang dihasilkan

dari tanaman liar di hutan-hutan. Belum lagi bila

lahan kritis yang ada di masing-masing daerah

juga digunakan untuk budidaya tanaman bahan

baku bioetanol. Di Papua saja jumlah lahan kritis

mencapai 2.935.375 ha. Seandainya seluruh

lahan itu ditanami bahan baku bioetanol dengan

produktivitas minimal 4.000 liter/ha/tahun, akan

menghasilkan 11,7-miliar liter bioetanol/tahun.

Jumlah itu dapat memenuhi kebutuhan

premium di Pulau Jawa yang mencapai 12miliar

liter/tahun. Jawa memang paling rakus

mengkonsumsi bensin, yakni mencapai

70% dari total konsumsi

bensin nasional.

Namun, ia paling

kurus potensi

b i o e t a n o l n y a ,

hanya 1,297-miliar

liter/tahun. Bila Papua

memanfaatkan kekayaan

mereka untuk memproduksi

bioetanol, ia akan jadi raja

energi di tanahair. Mereka tak akan lagi

mencicipi bensin dengan harga Rp12.000/liter.

Di Sumatera dan Kalimantan populasi sagu

atau aren memang tak sebanyak di Papua

dan Minahasa Utara. Namun, dikeduanya

membentang lahan yang begitu luas. Beruntung

Indonesia dianugerahi aneka tanaman yang dapat

dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol

Biji Jatropha

curcas, sumber

biodiesel

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 37


38

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Tumbuhan Penghasil Biodiesel

Nama Indonesia Nama Latin Sumber

Kadar

%-bakar

P/NP

Akar kepayang Hodgsonia macrocarpa Biji ~65 P

Alpukat Persea gratissima Daging buah 40—80 P

Bidara Ximenia americana Inti biji 49—61 NP

Bintaro Cerbera manghas Biji 43—64 NP

Bulangan Gmelina asiatica Biji - NP

Cerakin Croton tiglium Inti biji 50—60 NP

Gatep pait Samadera indica Biji ~35 NP

Jagung Zea mays ~33 NP

Jarak kaliki Ricinus communis Biji 45—50 NP

Jarak pagar Jatropha curcas Inti biji 40—60 NP

Kacang tanah Arachys hypogaea Biji 35—55 P

Kakao Theobroma cacao Biji 54—58 P

Kampis Hernandia peltata Biji - NP

Kapuk randu Ceiba pentandra Biji 24—40 NP

Karet Hevea brasiliensis Biji 40—50 NP

Kayu manis Cinnamomum burmanii Biji ~30 NP

Kecipir Psophocarpus tetragonolobus Biji 15—20 P

Kelapa Cocos nucifera Daging buah 60—70 P

Kelapa sawit Elaeis guineensis Daging buah, sabut 45—70, 46—54 P

Kelor Moringa oleifera Biji 30—49 P

Kemiri Aleurites moluccana Inti biji 57—69 NP

Kemiri cina Aleurites trisperma Inti biji - NP

Kenaf Hibiscus cannabinus Biji 18—20 NP

Kepuh Sterculia foetida Inti biji 45—55 NP

Ketiau Madhuca mottleyana Inti biji 50—57 P

Kopi arab (Okra) Hibiscus esculentus Biji 16—22 NP

Kosambi Sleichera trijuga Daging biji 55—70 NP

Kursani Vernonia anthelmintica Biji ~19 NP

Labu parang Cucurbita moschata Biji 35—38 P

Luteng Taractogenos kurzii Inti biji 48—55 NP

Mayang batu Madhuca cuneata Inti biji 45—55 P

Nagasari Mesua ferrea Biji 35—50 NP

Nimba Azadirachta indica Daging biji 40—50 NP

Nyamplung Callophyllum inophyllum Inti biji 40—73 NP

Padi Oryza sativa Dedak ~20 P

Pepaya Carica papaya Biji 20—25 P

Pulasan Nephelium mutabile Inti biji 62—72 P

Rambutan Nephelium lappaceum Inti biji 37—43 P

Randu alas/agung Bombax malabaricum Biji 18—26 NP

Rosela Hibiscus sabdariffa Biji ~17 NP

Saga utan Adenanthera pavonina Inti biji 14—28 P

Seminai Madhuca utilis Inti biji 50—57 NP

Sirsak Annona muricata Inti biji 20—30

Siur-siur Xanthophyllum lanceatum Biji 35—40 NP

Srikaya Annona squamosa Biji 15—20 P

Tangkalak Litsea sebifera Biji ~35 NP

Tengkawang terindak Isoptera borneensis Inti biji 45—70 NP

Tengk. tungkul Shorea stenoptera Inti biji 45—70 NP

Wijen Sesamum indicum Biji 45—55 P

Keterangan: bkr=kering, P=minyak/lemak pangan (edible fat/oil), NP=minyak/lemak nonpangan (nonedible fat/oil)

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


seperti ubikayu, sorgum, dan tebu. Jadi, tinggal

pilih tanaman yang sesuai dengan kondisi lahan.

“Pilihlah bahan baku yang sesuai dengan

potensi daerah,” ujar Roy Hendroko, staf

ahli PT Rajawali Nusantara Indonesia yang

juga menjadi konsultan ahli pada beberapa

perusahaan yang mengembangkan bioenergi.

Meski produktivitas aren paling tinggi bila diolah

menjadi bioetanol—40.000 liter/ha/tahun—belum

tentu cocok dibudidayakan di Sumatera dan

Kalimantan. “Bioetanol berbahan aren cocok

dikembangkan di Minahasa Utara karena warga di

sana memiliki budaya menyadap nira,” katanya.

Jadi, akan sulit mencari tenaga penyadap bila

dikembangkan di daerah lain.

Begitu juga dengan ubikayu.

Walaupun di Lampung membentang

perkebunan singkong, belum

tentu di kawasan itu potensial

dikembangkan bioetanol.

Sebab, di sana marak

produsen tepung tapioka.

Bila industri bioetanol berdiri

di Lampung, permintaan

singkong akan meningkat

sehingga menaikkan harga.

Akibatnya menjadi bumerang

bagi produsen bioetanol

karena biaya bahan baku

menjadi tinggi.

Sorgum manis kini digadang-gadang menjadi

“kuda hitam” bahan baku bioetanol. Tanaman

ini belum dimanfaatkan oleh industri mana pun.

Jadi tak perlu khawatir mengganggu kebutuhan

pakan maupun pangan. Produktivitasnya pun tak

energi

kalah tinggi. Bila yang dimanfaatkan adalah nira

dari perasan batang, produktivitasnya sebanding

dengan tebu yang dapat menghasilkan 5.000—

6.000 liter bioetanol/ha/tahun. “Ia juga adaptif

di berbagai kondisi lahan, meski di lahan kritis,”

tutur Dr Arief.

Jika bahan bakar nabati dikembangkan serius,

“Indonesia dan Brasil menjadi Timur Tengahnya

bahan bakar nabati,” kata Dr Tirto Prakoso

ahli bahan bakar nabati dari Institut Teknologi

Bandung. Jalan menjadi “Timur Tengah bioetanol”

sedang dirintis oleh pabrikan besar dan produsen

skala rumahan yang saat ini bermunculan di

berbagai daerah.

Menurut Tatang, pada abad ke-21 peningkatan

permintaan dan pemanfaatan

bahan bakar hayati tak dapat

dihindari lagi. Ada banyak

faktor-faktor pendorong

yang berperan, terutama

munculnya tuntutan dan

kebutuhan untuk menjaga

keterjaminan pasokan energi

untuk bangsa. Pengadaan

bahan bakar akan terjamin

pasti oleh pemerintah suatu

negara, jika bahan bakar

tersebut sudah banyak

diproduksi di dalam negeri.

Tuhan menganugerahkan negeri ini dengan

berbagai bahan baku baku bioenergi, tanah subur,

ketersediaan air, juga pancaran sinar matahari

sepanjang tahun. Akankah kita menyia-nyiakan

anugerah terindah itu? (Sardi Duryatmo/Peliput:

Imam Wiguna & Vina Fitriani)

Tangki

penyimpanan

molase bahan

bahan baku

bioetanol

Bioetanol

mulai marak

diproduksi

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 39


40

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Produksi

Bahan Bakar

di Teras

Rumah

Kita dapat membuat minyak tanah dan bensin yang sekarang langka

dari berbagai tanaman seperti singkong, sorgum, atau limbah tetes

tebu. Membuatnya cukup di halaman rumah.

Bangunan

di tepi jalan alternatif

ke Kota Sukabumi itu

tersembunyi di antara kebun singkong. Tak ada

yang mengira di gedung 3 kali lapangan voli itu

Winandar memproduksi 500 liter bioetanol per

hari untuk memasok angkutan kota di Sukabumi,

Jawa Barat. Alumnus Universitas Tarumanagara

itu pun meraup omzet Rp111-juta sebulan dari

perniagaan bioetanol.

Winandar menjual bioetanol kepada pemilik

angkot dalam 2 bentuk. Dari produksi 500

liter bioetanol per hari, 400 liter dijual langsung

dengan harga Rp8.000—Rp10.000 per liter.

Sopir-sopir angkot membeli beberapa liter dan

mencampurkannya sendiri dengan premium di

tangki mobil. Sedangkan 100 liter lainnya, ia oplos

dengan premium dan dijajakan Rp5.000 per liter.

Porsi bioetanol hanya 10% alias E10. Campuran

itu juga disebut gasohol kependekan dari gasolin

alkohol.

Saat ini tercatat 600 angkot di Sukabumi yang

rutin “mengkonsumsi” bioetanol bikinan Winandar.

“Tadinya banyak pemilik angkot curiga, saya

mencampur dengan minyak tanah dan ukurannya

tidak pas,” kata pria 49 tahun itu mengenang.

Untuk meyakinkan konsumen, pemilik PT Panca

Jaya Raharja itu memberikan bioetanol gratis

selama 2 hari. Karena merasa lebih enak, mereka

akhirnya menjadi pelanggan bioetanol produksi

Wien Iskandar.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


“Tarikan mesin jadi lebih ringan. Saya akan

terus memakai bioetanol,” kata H. Sapari, pemilik

angkot. Sejak November 2007, ia melanggani

bioetanol untuk bahan bakar 3 angkotnya jurusan

Cidahu—Cicurug, keduanya di Kabupaten Sukabumi.

Setiap angkot menghabiskan 25 liter bahan

bakar E10 per hari. Bioetanol yang digunakan oleh

Sapari dan pemilik angkot lain itu berbahan baku

singkong dan molase alias limbah tetes tebu.

Skala rumahan

Menurut Winandar biaya untuk memproduksi

seliter bioetanol berbahan baku singkong berkisar

Rp3.400—Rp4.000. Satu liter bioetanol terbuat dari

energi

6,5 kg singkong atau 2 kg molase. Setahun terakhir

popularitas bioetanol alias etanol yang diproses

dari tumbuhan memang meningkat. Bersamaan

dengan tren itu, bermunculan produsen bioetanol

skala rumahan. Untuk memproduksi bioetanol tak

perlu lahan luas, di teras rumah pun bisa.

Sekadar menyebut beberapa contoh produsen

bioetanol skala rumahan adalah Sidik Omar di

Depok, Jawa Barat, Himawan (Cilegon, Banten),

Soelaiman Budi Sunarto (Karanganyar, Jawa

Tengah), Johan Susilo (Balikpapan, Kalimantan

Timur) Edmond Mononutu (Minhasa Selatan), dan

Andreas Gabriel Hartoyo (Lampung). Menyebut

bioetanol berarti juga harus menoleh ke Bekonang,

Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 41


Produksi

bioetanol

dapat

dilakukan

di halaman

42

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Secara turun-temurun, masyarakat Bekonang

menyuling molase menjadi bioetanol. Sugimin

Sumoatmojo, misalnya, mengolah 1.500 kg molase

alias limbah pabrik gula menjadi 500 liter

bioetanol per hari. Untuk menghasilkan 1 liter

bioetanol pria kelahiran 31 Desember 1947 itu

memerlukan 3 liter molase. Ia mengutip laba

Rp2.500 per liter sehingga keuntungan bersih

mencapai Rp1.250.000 per hari.

Selama sebulan, mesin bekerja ratarata

30 hari. Dengan demikian total jenderal

volume produksi mencapai 15.000 liter yang

memberikan untung bersih Rp37,5-juta per

bulan. Di Bekonang dan sekitarnya, produsen

bioetanol skala rumahan menjamur. Sabaryono,

ketua Paguyuban Perajin Bioetanol Sukoharjo,

mengatakan total produsen mencapai

145 orang.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


Bahan berlimpah

Menurut Dr Arif Yudiarto, periset bioetanol

di Balai Besar Teknologi Pati, ada 3 kelompok

tanaman sumber bioetanol. Ketiganya adalah

tanaman mengandung pati, bergula, dan serat

selulosa. Beberapa tanaman yang sohor sebagai

penghasil bioetanol adalah aren dengan potensi

produksi 40.000 liter per ha per tahun, jagung

(6.000 liter), singkong (2.000 liter), biji sorgum

(4.000 liter), jerami padi, dan ubijalar (7.800 liter).

Produsen dapat memilih bahan baku di sekitar

lokasi pengolahan untuk menghemat biaya

produksi.

Pada prinsipnya pembuatan bioetanol melalui

fermentasi untuk memecah protein dan destilasi

alias penyulingan. Itu berarti teknologi pengolahan

bioetanol relatif mudah sehingga gampang

diterapkan. Apalagi sebetulnya bioetanol bukan

barang baru bagi masyarakat Indonesia. Pada

zaman kerajaan Singosari—700 tahun silam—

masyarakat Jawa sudah mengenal ciu alias

bioetanol dari tetes tebu. Itu berkat tentara Kubilai

Khan yang mengajarkan proses produksi.

Lalu pasar? Eka Bukit yang mengolah nira

aren kewalahan melayani permintaan bertubitubi.

Setidaknya 275.000 liter permintaan rutin

per bulan tak mampu ia pasok. Permintaan itu

datang dari industri farmasi dan kimia. “Pasarnya

luar biasa besar,” ujar alumnus Carlton University

itu. Menurut Indra Winarno, direktur PT Molindo

Raya Industrial produsen di Malang, Jawa Timur,

permintaan etanol, “Tak terbatas.”

Sebagai substitusi bahan bakar premium,

permintaan bioetanol sangat tinggi. Mari berhitung,

“Kebutuhan bensin nasional mencapai 17,5-miliar

per tahun,” ujar Ir Yuttie Nurianti, manajer Pengembangan

Produk Baru Pertamina. Yuttie menuturkan

30% dari total kebutuhan itu impor. Seperti

diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah

No 5/2006 dalam kurun 2007—2010,

pemerintah menargetkan mengganti

1,48-miliar liter bensin dengan bioetanol

lantaran kian menipisnya cadangan

minyak bumi.

Persentase itu bakal meningkat

menjadi 10% pada 2011—2015,

dan 15% pada 2016—2025. Pada

kurun pertama 2007—2010 selama

3 tahun pemerintah memerlukan

rata-rata 30.833.000 liter bioetanol

per bulan. Dari total kebutuhan itu

cuma 137.000 liter bioetanol setiap

bulan yang terpenuhi atau 0,4%.

Itu berarti setiap bulan pemerintah

kekurangan pasokan 30.696.000

liter bioetanol untuk bahan bakar.

Pangsa pasar yang sangat

besar belum terpenuhi lantaran

energi

Mobil E20 alias yang diberi

campuran bioetanol 20%,

pada kecepatan 30 km per

jam, konsumsi bahan bakar

20% lebih irit ketimbang mobil

berbahan bakar bensin. Jika

kecepatan 80 km per jam,

konsumsi bahan bakar 50%

lebih irit. Pembakaran makin

efisien karena etanol lebih

cepat terbakar ketimbang

bensin murni.

Sorgum, bahan

baku bioetanol

potensial. Perlu

2 kg biji untuk

produksi 1 liter

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 43


Produksi

bioetanol

rumahan

kian marak

Sagu

bahan baku

bioetanol.

Potensi

produksi

5.000 liter

per ha/tahun

44

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

saat ini baru PT Molindo Raya Industrial yang

memasok Pertamina. Dari produksi 150.000 liter,

Molindo memasok 15.000 liter per hari. Menurut

Yuttie, “Pertamina menerima berapa pun pasokan

bioetanol dari pihak swasta. Yang penting

memenuhi syarat.” kata Yuttie. Syarat yang

dimaksud adalah berkadar etanol minimal 99,5%.

Rata-rata bioetanol hasil sulingan produsen skala

rumahan berkadar 90—95%. Agar syarat itu

tercapai, produsen dapat melarutkan bioetanol

berkadar 95% ke dalam batu gamping dan zeolit

sehingga kadar etanol melonjak signifikan.

Langit biru

Riset membuktikan penggunaan bioetanol

sebagai bahan bakar berdampak positif. Dr

Prawoto kepala Balai Termodinamika, Motor,

dan Propulsi, Badan Pengkajian dan Penerapan

Teknologi (BPPT), mengatakan kinerja mesin kian

bagus setelah diberi campuran bioetanol. Riset

serupa ditempuh oleh Prof Dr Ir H Djoko Sungkono

dari Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi

Sepuluh Nopember Surabaya.

Hasil penelitian Prawoto menunjukkan, dengan

campuran bioetanol konsumsi bahan bakar

semakin efisien. Mobil E20 alias yang diberi campuran

bioetanol 20%, pada kecepatan 30 km

per jam, konsumsi bahan bakar 20% lebih irit

ketimbang mobil berbahan bakar bensin. Jika

kecepatan 80 km per jam, konsumsi bahan

bakar 50% lebih irit. Pembakaran makin efisien

karena etanol lebih cepat terbakar ketimbang

bensin murni. Pantas semakin banyak campuran

bioetanol, proses pembakaran kian singkat.

Pembakaran sempurna itu gara-gara bilangan

oktan bioetanol lebih tinggi daripada bensin.

Nilai oktan bensin cuma 87—88; bioetanol 117.

Bila kedua bahan itu bercampur, meningkatkan

nilai oktan. Contoh penambahan 3% bioetanol

mendongkrak nilai oktan 0,87. “Kadar 5% etanol

meningkatkan 92 oktan menjadi 94 oktan,” ujar

Sungkono, alumnus University of New Soth Wales

Sydney.

Makin tinggi bilangan oktan, bahan bakar

makin tahan untuk tidak terbakar sendiri sehingga

menghasilkan kestabilan proses pembakaran

untuk memperoleh daya yang lebih stabil.

Campuran bioetanol 3% saja, mampu menurunkan

emisi karbonmonoksida menjadi hanya 1,35%.

Bandingkan bila kendaraan memanfaatkan

premium, emisi senyawa karsinogenik alias

penyebab kanker itu 4,51%. Nah, ketika kadar

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


ioetanol ditingkatkan, emisi itu makin turun.

Program langit biru yang dicanangkan pemerintah

pun lebih mudah diwujudkan.

Saat ini di campuran bioetanol dalam premium

untuk mobil konvensional maksimal 10% atau

E10. Penggunaan E100 atau E80 pada mobil

konvensional tanpa modifikasi mesin tidak

disarankan karena khawatir merusak mesin.

Namun, kini di Brasil muncul flexi car alias

kendaraan fleksibel yang dapat menggunakan

bioetanol hingga 100% atau premium 100% pada

waktu yang lain.

Berebut bahan

Meski banyak keistimewaan, bisnis bioetanol

bukannya tanpa hambatan. Salah satu aral penghadang

bisnis itu adalah terbatasnya pasokan

bahan baku. Saat ini sebagian besar produsen

mengandalkan molase sebagai bahan baku.

Padahal, limbah pengolahan gula itu juga

dibutuhkan industri lain seperti pabrik kecap

dan penyedap rasa. Bahkan, sebagian lagi di

antaranya diekspor. Indra Winarno mengatakan

molase menjadi emas hitam belakangan ini.

Dampaknya, hukum ekonomi pun bicara. Begitu

banyak permintaan, harga beli bahan baku pun

membubung sehingga margin produsen bioetanol

menyusut. Beberapa produsen melirik singkong

sebagai alternatif. Banyak yang membenamkan

investasi di Lampung karena provinsi itu penghasil

singkong terbesar di tanahair. Kehadiran mereka

ternyata mendongkrak harga ubikayu di sana.

energi

“Dulu harganya di bawah Rp300 per kg.

Sekarang lebih dari Rp400,” ujar Donny Winarno,

vice president PT Molindo Raya Industrial.

Kenaikan harga itu berkah bagi para pekebun. Di

sisi lain menyulitkan para produsen. Hampir semua

bahan baku bioetanol juga sekaligus bahan pangan

sehingga berpeluang memicu konflik kepentingan.

Menurut Alhilal Hamdi, konflik itu dapat dicegah

jika produktivitas digenjot. Bila produktivitas

singkong rata-rata 15 ton, kini muncul klon atau

varietas unggul yang mampu berproduksi 120—

200 ton per ha. “Yang 15 ton untuk pangan,

selebihnya untuk industri,” ujar Alhilal.

Sejauh ini limbah pengolahan

bioetanol tidak menimbulkan masalah.

PT Molindo Industrial, misalnya,

mengolah limbah menjadi pupuk

organik. Selain untuk keperluan sendiri

dilahan tebu, pupuk itu juga dipasarkan.

Di Bekonang, Sukoharjo, limbah itu

juga dicari orang untuk pupuk. Dengan

begitu, industri bioetanol skala rumahan

memungkinkan untuk dilakukan di

perkotaan sekalipun.

Oktan tinggi

Jika hambatan teratasi, produsen

silakan meraup rupiah dari tetesan

bioetanol. Soalnya, pasar bioetanol—sebagai

bahan bakar—memang sangat besar karena

populasi kendaraan bermotor meningkat. Menurut

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia,

Dari kiri:

Premium

bioetanol fuel

grade, dan

bioetanol

dengan

pewarnaan

methyl blue

Dengan

menambahkan

10% bioetanol,

angka oktan E10

mencapai 91

hampir setara

pertamax.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 45

Foto-foto: Sardi Duryatmo, Dian AS, Edi Amd


Dengan alat

sederhana

produksi

bioetanol

Penggunaan

bioetanol

lebih ramah

lingkungan

46

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

penjualan mobil meningkat rata-rata 53.400 unit

per tahun. Pemilik mobil tak perlu memodidifikasi

mesin untuk menggunakan campuran bioetanol.

Program pemerintah untuk mengalihkan

penggunaan premium beroktan 88 ke oktan 90 kian

membuka peluang pasar bioetanol. “Angka oktan

adalah sifat ketahanan bahan bakar untuk tidak

terbakar sendiri karena tekanan atau suhu,” kata

Drs Mardono MM dari Lembaga Minyak dan Gas.

Donny Winarno dari PT Molindo Raya, produsen

bioetanol, mengatakan peralihan itu lantaran

besarnya subsidi pemerintah untuk premium. Jika

kebutuhan premium nasional 17-miliar liter, total

subsidi mencapai Rp34-triliun per tahun.

Untuk meningkatkan nilai oktan dapat

menambahkan methil tersier buthil ether (MTBE)

beroktan 100 atau tetra ethillead (TEL). Namun,

penggunaan keduanya berdampak buruk sehingga

dilarang pemerintah. TEL, misalnya, bersifat

karsinogenik alias memicu kanker. Mardono

mengatakan, semakin tinggi nilai oktan, kian

rendah emisi. Hasil uji emisi gas buang premium

88 mencapai 1,22% karbondioksida dan 175 ppm

hidrokarbon. Bandingkan dengan emisi gas buang

biopertamax hanya 0,44% karbondioksida dan

143 ppm hidrokarbon.

Untuk meningkatkan nilai oktan salah satu cara

termudah adalah memberi campuran bioetanol

berangka oktan 117. Dengan menambahkan

10% bioetanol, angka oktan E10 mencapai 91

hampir setara pertamax. “Pemerintah tak perlu

membangun kilang khusus untuk menghasilkan

bahan bakar beroktan 90,” ujar Arif.

Dengan segala kelebihan di atas, penggunaan

bioetanol agaknya kian mendesak. Bukan

hanya karena industri itu menjadi lokomotif

pengembangan ekonomi dan menciptakan

lapangan pekerjaan. Namun, juga lantaran harga

minyak bumi yang melambung hingga US$130 per

barel (1 barel = 117,35 liter). Pasar itu kian luas dan

membaik ketika subsidi bahan bakar yang nilainya

Rp1.681,25 per liter itu dicabut. Bila kebutuhan

17-miliar liter, pemerintah menggelontorkan dana

Rp28,6-triliun per tahun. Pangsa pasar terbentang

luas, harga memadai, bahkan dapat digunakan

untuk keperluan sendiri. Itulah bioetanol, “bensin”

dari tetumbuhan yang dapat kita produksi di teras

atau halaman rumah. (Sardi Duryatmo/Peliput:

Andretha Helmina, Imam Wiguna, & Nesia

Artdiyasa)

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


48

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Mudahnya

ikin

Bahan Bakar

Tanaman

Bikin bensin dari singkong dan molase sangat sederhana. Intinya cuma

fermentasi dan destilasi.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


energi

Bioetanol 99,6% siap pakai sebagai campuran bensin

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 49


50

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

tahun terakhir Zaenal Arifin rutin

Tujuh mengolah 1,5 ton singkong segar

menjadi 600 kg keripik. Begitulah secara turuntemurun

anggota famili Euphorbiaceae itu

dimanfaatkan. Namun, setahun terakhir singkong

juga mengisi tangki-tangki motor dan mobil.

Itu setelah singkong diolah menjadi bioetanol.

Menurut Dr Ir Tatang H Soerawidjaja dari Teknik

Kimia Institut Teknologi Bandung, singkong salah

satu sumber pati. Pati senyawa karbohidrat

kompleks.

Sebelum difermentasi, pati diubah menjadi

glukosa alias karbohidrat yang lebih sederhana.

Untuk mengurai pati, perlu bantuan enzim

alfaamilase. Pati kemudian diurai oleh enzim beta

amilase menjadi glukosa. Setelah itu, glukosa

difermentasi dengan ragi menjadi etanol. Lalu,

bagaimana cara mengolah singkong menjadi

bioetanol? Berikut langkah-langkah pembuatan

bioetanol berbahan singkong.

1. Bersihkan kulit ari singkong berwarna

cokelat, kulit dalam yang putih dan tebal

dipertahankan. Cuci singkong yang sudah

dikupas.

2. Parut 455 kg singkong dengan parutan yang

digerakkan mesin atau motor listrik.

Membuat Bahan Bakar dari Singkong

1

2

3

Ragi

5

Enzim alfaamilase

Tangki masak

3. Masukkan hasil parutan ke dalam tangki

pemasak, lalu tambahkan 500 liter air dan

135 g enzim alfaamilase. Panaskan hingga

suhu 90 0 C sambil diaduk. Tahan pada temperatur

itu selama 30 menit. Setelah itu panaskan

lagi hingga mendidih selama 30—60 menit.

4. Setelah dimasak, turunkan temperatur larutan

55—60 0 C dengan heat exchanger. Alat itu

juga berfungsi sebagai tangki sakarifikator.

Masukan 81 g enzim betaamilase untuk

mengubah pati menjadi glukosa dan aduk

hingga merata.

4

Enzim betaamilase

Heat exchanger

Air keluar

Tangki fermentor

Air masuk

Pompa

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


5. Turunkan suhu larutan hingga 34—35 0 C.

Setelah itu, masukkan larutan ke tangki

fermentasi. Tambahkan 310 g ragi

Saccharomyces sp, 80 g NPK, dan 161 g

Urea sebagai nutrisi organisme pada ragi.

Tutup tangki fermentasi tetapi jangan terlalu

rapat. Biarkan hingga 72 jam. Agar fermentasi

berhasil, jaga suhu maksimal 35 0 C dan pH

4—5.

6. Saring hasil fermentasi untuk memisahkan

ampas singkong.

7. Masukkan larutan fermentasi yang

mengandung alkohol berkadar 7—9% ke

tangki evaporator, lalu panaskan hingga

90 0 C.

8. Uap etanol dialirkan ke destilator untuk

memisahkan air dan bioetanol. Jaga

temperatur destilator pada suhu 79 0 C. Kadar

etanol hasil destilasi pertama mencapai

95%.

9. Untuk menghasilkan bioetanol berkadar

99,5%, lakukan dehidrasi dengan zeolit

sintetis 3A. Rendam 1 kg zeolit dalam

4 liter etanol selama 12 jam. Kadar etanol pun

meningkat menjadi 99,5%.

6

Evaporator

7

Air masuk

Air keluar

energi

Molase

Selain singkong, bahan baku lain yang kerap

diolah menjadi bioetanol adalah molase alias

limbah tetes tebu. Solikin di Trangkil, Kabupaten

Pati, Jawa Tengah, mengolah cairan berkadar

gula 60% itu menjadi bioetanol. Ia mengandalkan

mesin pembuat bioetanol dari tetes tebu buatan

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Mesin seharga Rp10-juta—Rp15-juta itu ia peroleh

pada 2001. Mesin terdiri dari tangki penampungan

molase, tangki evaporator, tangki pendingin, dan

tangki destilator.

Bioetanol yang diperoleh dari hasil

fermentasi pati singkong berkadar

95% perlu dimurnikan dengan

zeolit sintetis hingga 99% supaya

langsung mengisi tangki-tangki

motor atau mobil.

Destilator

Air keluar

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 51

9

Etanol 99,5%

8

Etanol 90%—95%

Etanol 95%

Zeolit sintetis


52

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Bioetanol dari Molase

1 2

Masukkan air

bersih

Mesin berkapasitas 100 liter molase itu mampu

menghasilkan 32,5—35 liter bioetanol berkadar

90% dalam waktu 4 jam. Prinsip kerjanya sama

dengan proses destilasi. Ketika kran tangki

penampung dibuka, molase mengalir ke tangki

pemanas alias evaporator yang dipanaskan dengan

bahan bakar kayu. Sekali proses dibutuhkan 1 m³

kayu bakar yang dimasukkan ke tungku di bawah

evaporator itu.

Uap panas yang terbentuk kemudian dialirkan

ke tangki destilasi. Selanjutnya, uap mengalir ke

atas menuju tangki pendingin. Setelah melewati

proses pendinginan, etanol yang mengalir sedikit

demi sedikit dari selang yang terhubung tangki

destilator dialirkan ke dalam jerigen plastik.

Rangkaian proses itu diulang hingga 3 kali.

Pertama menghasilkan kadar etanol 30%, kedua

70%, dan terakhir 90%. Jika ingin menghasilkan

bioetanol berkadar 95%, Solikin melakukan

proses destilasi sekali lagi. Selain itu ia juga

menambahkan soda api pada proses ke-3 dan

ke-4. “Gunanya untuk menyerap air,” katanya.

Aduk setelah

ditambahkan molase

dengan rasio 3 : 1

3

Berikan ragi, Urea,

dan NPK yang

diencerkan

Menurut Zanuar Subackti, perancang mesin

dari UMS, etanol berkadar 95% dapat langsung

dihasilkan dari hasil pendestilasian ke-3 dengan

memodifikasi mesin. “Caranya, menara destilasi

dibuat lebih tinggi,” ujar Zanuar. Menara mesin

Solikin ditinggikan menjadi 4,2 m dari semula

hanya 1,5 m. Selain itu ditambahkan ketel uap dan

alat pemanas, untuk pemurnian. Konsekuensinya,

biaya pembuatan mesin melambung dari

Rp10-juta—Rp15-juta menjadi Rp30-juta per unit.

Murnikan

Bioetanol untuk bahan bakar harus

berkadar 99,5%. Padahal, lazimnya penyuling

menghasilkan bioetanol berkadar 90%. Untuk

menaikkan kadar etanol itu produsen dapat

menempuh berbagai cara. Syarat itu mutlak

karena jika berkadar di bawah 90%, mesin tidak

bisa menyala karena kandungan airnya terlampau

tinggi. Bioetanol berkadar kemurnian 95% masih

layak dimanfaatkan sebagai bahan bakar motor.

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI


4

Fermentasikan

larutan itu

selama 66 jam

Hanya saja, dengan kadar kemurnian itu perlu

penambahan zat antikorosif pada tangki bahan

bakar agar tidak menimbulkan karat.

Menurut Muhammad Arif Yudiarto, kepala

Bidang Teknologi Etanol dan Derivatif di Balai

Besar Teknologi Pati, memurnikan bioetanol bisa

dengan dua cara, yaitu kimia dan fisika. Cara kimia

dengan menggunakan batu gamping. Sedangkan

cara fisika ditempuh dengan proses penyerapan

menggunakan zeolit sintetis. Cara kimia cocok

diaplikasikan bagi produsen bioetanol skala

rumahan seperti Solikin dan Indra. Selain caranya

sederhana, biayanya pun relatif murah. Harga

sekilo gamping Rp35.000.

Batu gamping adalah batu yang terbuat dari

pengendapan cangkang kerang dan siput, foraminifera

atau ganggang. Batu itu berwarna putih

susu, abu-abu muda, abu-abu tua, cokelat, atau

hitam, tergantung keberadaan mineral pengotornya.

Mineral karbonat yang umum ditemukan

berasosiasi dengan kapur adalah aragonit. Ia

merupakan mineral metastable karena pada kurun

waktu tertentu dapat berubah menjadi kalsit.

energi

Masukkan cairan fermentasi

ke tangki destilasi dan

panaskan sehingga diperoleh

bioetanol

Setelah dimurnikan,

bioetanol berkadar

99,6% menjadi bahan

bakar kendaraan

bermotor

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI 53

5

6

Batu gamping bersifat higroskopis, artinya

mempunyai kemampuan menyerap air. Sehingga

mengurangi kadar air dalam bioetanol. Menurut

Soekaeni SE, produsen bioetanol di Sukabumi,

Jawa Barat, sebelum digunakan sebaiknya batu

gamping ditumbuk hingga jadi tepung agar

penyerapan air lebih cepat. Perbandingannya untuk

7 liter bioetanol diperlukan 2—3 kg batu gamping.

Campuran itu didiamkan selama 24 jam sambil

sesekali diaduk. Selanjutnya, campuran diuapkan


54

Negeri Berlimpah

Energi &

Pangan

Pembuatan

bioetanol

dari molase

prosesnya

lebih singkat

karena tidak

melalui tahap

pemecahan

pati oleh

cendawan.

Langsung

didestilasi

selama 4

jam, keluarlah

bioetanol

berkadar 90%.

1. Campurkan 7 liter bioetanol 90%

dengan 2—3 kg batu gamping

Gamping Pemurni Bioetanol

2. Aduk rata

3. Diamkan selama 24 jam 4. Saring endapan lalu masukkan

larutan dalam mesin penyuling

dan diembunkan menjadi cair

kembali sebagai etanol berkadar

99%. Bioetanol inilah yang bisa

dicampur dengan bensin.

Walaupun prosesnya sangat

mudah, tapi penggunaan batu

gamping memiliki beberapa

kelemahan. Di antaranya jumlah

etanol yang hilang sangat tinggi.

Menurut Soekaeni hal itu terjadi

karena selain menyerap air,

gamping juga menyerap alkohol.

“Nah, alkohol itu tidak dapat

keluar karena terikat pada poripori

gamping. Akibatnya etanol

pun hilang sampai 30%,” tambah

pensiunan PT Telkom itu.

Zeolit sintetis

Alternatif lain, pemurnian

bioetanol dengan zeolit sintetis.

Sampai saat ini ada lebih dari 150

jenis zeolit sintetis. Di alam, zeolit terbentuk dari

abu lahar dan materi letusan gunung berapi. Zeolit

sintetis berbeda dengan zeolit alam. Zeolit sintetis

terbentuk setelah melalui rangkaian proses kimia.

Namun, baik zeolit sintetis maupun zeolit alam

berbahan dasar kelompok alumunium silikat yang

terhidrasi logam alkali dan alkali tanah (terutama

Na dan Ca).

Kedua zeolit itu sama-sama memiliki

kemampuan menyerap air. Zeolit sintetis yang

5. Hasilnya bioetanol berkadar 99% atau lebih

paling sederhana adalah zeolit A. Artinya, perbandingan

antara molekul silika, alumina, dan

sodium 1:1:1. “Untuk pemurnian bioetanol,

sebaiknya digunakan zeolit sintetis 3A,” kata Arif.

Maksudnya zeolit yang berukuran 3 angstrom (1

angstrom = 1,0 x10-10 m red). Zeolit sintetis 3A

memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya ruang

terbuka pada pori-porinya mencapai 47% lebih

banyak, memiliki kemampuan menukar molekul

sodium, dan mampu mengikat air.

Mengapa zeolit sintetis bisa menyerap dan

mengikat air? Itu karena partikel air lebih kecil

daripada partikel etanol. Partikel air berukuran

3 angstrom sehingga dapat diserap zeolit.

Sedangkan partikel etanol berukuran lebih besar

4,4 angstrom sehingga tidak bisa diserap oleh

zeolit. Karena itu ketika etanol 95% dilewatkan

pada sebuah tabung berisi zeolit, kadar etanol bisa

meningkat karena airnya diikat oleh zeolit. Proses

itu terjadi karena pori-pori zeolit bersifat molecular

shieves. Artinya, molekul zeolit hanya bisa dilalui

oleh partikel-partikel berukuran tertentu. Karena

itulah proses pemurnian bioetanol dengan zeolit

sintetis dinamakan juga proses molecular shieves.

Penggunaan zeolit sintetis memiliki beberapa

kelebihan dibandingkan batu gamping. “Waktu yang

dibutuhkan lebih pendek, hanya 12 jam,” kata

Soekaeni. Selain itu, etanol yang hilang pun hanya

10%. Sayang, harganya jauh lebih mahal ketimbang

batu gamping, Rp100.000/kg. Selain itu, zeolit

sintetis belum diproduksi di Indonesia. Karena

itu, penggunaan zeolit sintetis lebih cocok untuk

perusahaan besar. (Imam Wiguna & Kiki Rizkika)

TRUBUS EDISI KHUSUS HUT KE-63 RI

Foto-foto : Lani Marliani, Sardi Duryatmo, Ilustrasi: Bahruddin

Similar magazines