'umar bin 'abdul 'aziz dan putranya, '

alqiyamah.files.wordpress.com

'umar bin 'abdul 'aziz dan putranya, '

Http://www.alqiyamah.wordpress.com‘UMAR BIN ‘ABDUL ‘AZIZ DAN PUTRANYA,‘ABDUL MALIK(Cerminan Keakraban Dan Keharmonisan Antara Ayah Yang Shalih Dan Anak YangShalih)“Tahukah anda bahwa setiap kaum mempunyai orang cerdas, dan orang cerdas BaniUmayyah adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz serta bahwa kelak dia dibangkitkan pada HariKiamat seorang diri sebagai umat.?” (Muhammad bin Ali bin al-Husain)Belum lagi seorang tabi’i yang agung, Amirul mu’minin, ‘‘Umar bin ‘Abdul ‘Azizmembersihkan kedua tangannya dari debu kuburan pendahulunya (yakni, khalifahsebelumnya), Sulaiman bin ‘Abdul Malik, tiba-tiba beliau mendengar suara gemuruhbumi di sekitarnya, lalu beliau berkata, “Apa ini?”Orang-orang berkata, “Ini adalah kendaraan Khalifah -wahai Amirul mu’minin- telahdisiapkan untukmu agar engkau menaikinya.” Lalu Umar melihatnya dengan sebelahmata, kemudian berkata dengan suara gemetar dan terbata-bata karena kelelahan dankurang tidur, “Apa hubungannya denganku? Jauhkanlah ini dariku, mudah-mudahanAllah memberkati kalian. Dan tolong bawa kemari keledaiku, karena ia sudah cukupbagiku.”Kemudian belum lagi pas posis duduk beliau di atas punggung keledai hingga datanglahkomandan polisi yang berjalan di depannya. Bersamanya sekelompok anak-anak buahnyayang berbaris di sektor kanan dan kirinya. Di tangan-tangan mereka tergenggam tombakyang mengkilat. Lalu beliau menoleh ke arahnya dan berkata, “Aku tidak membutuhkankamu dan mereka. Aku hanyalah orang biasa dari kalangan kaum muslimin. Aku berjalanpagi hari dan sore hari sama seperti mereka.Selanjutnya, beliau berjalan dan orang-orang berjalan bersamanya hingga memasukimasjid dan orang-orang dipanggil untuk shalat, “ash-Shalâtu Jami’ah...ash-ShalâtuJami’ah.”Maka berdatanganlah orang-orang ke masjid dari segala penjuru. Ketika jumlah merekatelah sempurna, beliau berdiri sebagai khatib. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nyaserta bershalawat atas nabi, kemudian berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya akumendapat cobaan dengan urusan ini (khilafah) yang tanpa aku dimintai persetujuanterlebih dahulu, memintanya ataupun dan bermusyawarah dulu dengan kaum muslimin.


Sesungguhnya, aku telah melepaskan baiat yang ada di pundak kalian untukku, untukselanjutnya kalian pilihlah dari kalangan kalian sendiri seorang khalifah yang kalianridlai.”Lantas orang-orangpun berteriak dengan satu suara, “Kami telah memilihmu, wahaiAmirul mu’minin dan kami ridla terhadapmu. Maka aturlah urusan kami dengan berkatkarunia dan barakah Allah.”Ketika suara-suara telah senyap dan hati telah tenang, beliau memuji Allah danmenyanjung-Nya sekali lagi dan bershalawat atas Muhammad, hamba dan utusan Allah.Beliau mulai menganjurkan orang-orang supaya bertakwa, mengajak mereka supayaberzuhud dari kehidupan dunia, mensugesti mereka kepada kehidupan akhirat danmengingatkan mereka kepada kematian dengan intonasi yang dapat melunakkan hatiyang keras, menjadikan air mata durhaka bercucuran dengan deras dan keluar dari lubukhati pemiliknya sehingga terpatri di dalam lubuk hati para pendengarnya.Kemudian beliau meninggikan suaranya yang agak serak supaya semua orangmendengarnya,“Wahai manusia barangsiapa yang taat kepada Allah, maka dia wajib ditaati. Danbarangsiapa yang bermaksiat kepada Allah, maka tidak seorangpun yang boleh ta’atkepadanya. Wahai manusia, Taatilah aku selama aku menaati Allah dalam menanganiurusan kalian. Jika aku bermaksiat kepada Allah, maka kalian tidak usah taat kepadaku.”Kemudian beliau turun dari mimbar untuk menuju ke rumahnya dan masuk ke kamarnya.Beliau benar-benar ingin mendapatkan sedikit istirahat, setelah kelelahan yang amatsangat, semenjak wafatnya khalifah sebelumnya.Akan tetapi, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz baru saja mau meletakkan punggungnya di tempattidurnya, hingga datanglah putranya, ‘‘Abdul Malik yang waktu itu baru menginjak usiatujuh belas tahun. Lalu sang putra berkata,“Apa yang ingin engkau lakukan, wahai Amirul mu’minin?!!”Ayahnya menjawab, “Wahai anakku, aku ingin tidur sejenak, karena sudah tersisa lagitenagaku ini.”“Apakah engkau masih ingin tidur sejenak sebelum mengembalikan hak-hak orang yangdizhalimi, wahai Amirul mukminin?!!” kata putranya lagi.alu sang ayah menjawab, “Wahai anakku, sesungguhnya aku tadi malam bergadangmalam (tidak tidur) karena bersama pamanmu Sulaiman. Nanti kalau sudah datang waktuDzuhur, aku akan shalat bersama orang-orang dan akan dan aku mengembalikan hak-hakorang yang dizhalimi tersebut, insya Allah.”


Sang putra berkata lagi, “Siapakah yang menjaminmu, wahai Amirul mukminin kalauusiamu hanya sampai Zhuhur?!”Ucapan ini berhasil membakar semangat Umar dan melenyapkan rasa kantuk dari keduamatanya sehingga membangkitkan kekuatan dan kesegaran badannya yang sebelumnyademikian lelah. Ketik itu berkatalah dia kepada sang putra,“Mendekatlah kemari wahaiputraku.!”Sang putrapun mendekat dan Umar langsung memeluk serta menciumi keningnya serayaberkata, “Segala puji bagi Allah yang telah melahirkan dari keturunanku orang yangmenolongku di dalam menjalankan agama.”Kemudian beliau berdiri dan menyuruh supaya di umumkan kepada orang-orang,“barangsiapa yang merasa teraniaya, maka hendaklah dia mengajukan perkaranya.”Lalu, siapakah ‘Abdul Malik ini?! Bagaiman cerita anak muda ini sehingga menjadi buahbibir orang-orang?Sungguh, dialah anak yang berhasil mensugesti ayahnya untuk rajin beribadah danmengarahkannya agar menempuh jalan kezuhudan. Marilah kita telusuri lagi kisahpemuda yang shalih ini dari awalnya.!Adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mempunyai lima belas orang anak, tiga di antaranya adatiga perempuan. Anak-anak itu semuanya adalah anak-anak yang memiliki tingkatketakwaan dan keshalihan yang sangat memadai. Namun ‘Abdul Malik adalah putrapaling menonjol di antara saudara-saudaranya dan bintangnya mereka yang bersinarsinar.Dia seorang anak yang ahli sastra, mahir lagi cerdik sekalipun usia masih mudatetapi cara berpikirnya sudah dewasa.Di samping itu, dia memang tumbuh sebagai anak yang ta’at kepada Allah sejak mudanyasehingga dialah orang yang tingkah lakunya paling dekat dengan keluarga besar al-Khaththab secara umum serta yang paling mirip dengan ‘Abdulllah bin ‘Umar,khususnya dari sisi ketakwaan kepada Allah, rasa takut berbuat maksiat kepada-Nya sertabertaqarrub kepada-Nya dengan melakukan keta’atan.Keponakannya Ashim (bin Abu Bakar bin Abdul Aziz bin Marwan, dia adalah anaksaudara ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz) bercerita, “Suatu waktu, aku bertandang ke Damaskuslantas mampir di rumah anak pamanku (sepupuku), ‘Abdul Malik. saat itu, dia masihbujangan, lalu kami menunaikan shalat isya’ kemudian masing-masing kami beranjak ketempat tidur. Lalu ‘Abdul Malik mendekati lampu dan mematikannya sementara masingmasingkami mulai tidur. Kemudian aku bangun pada tengah malam, ternyata ‘AbdulMalik sedang berdiri shalat dengan khusyu’nya seraya membaca firman Allah Azza waJalla (artinya),“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidupbertahun-tahun. Kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada


mereka. Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.”(Q.s.,asy-Syu’arâ`:205-207)Tidak ada yang membuatku begitu terkesan kepadanya kecuali saat dia mengulang-ulangayat tersebut dan menangis dengan tangisan yang tersedu-sedu dari dalam hati (tidakterdengar). setiap kali dia selesai dari ayat itu, dia mengulanginya kembali, sehingga akuberkata dalam hati, “Anak ini bisa mati oleh tangisannya.”Ketika aku melihatnya seperti itu, aku mendesis,“Lâ ilâha illallâh wal hamdu lillâh. Seakan ucapan orang yang bangun dari tidur, padahaltujuanku untuk menghentikan tangisannya.Ketika mendengar suaraku, dia terdiam dan tidak lagi terdengar suara rintihannyatersebut.”Pemuda dari keluarga besar ‘Umar ini banyak berguru kepada ulama’-ulama’ besar padazamannya sehingga begitu ‘enjoy’ dengan Kitab Allah, kenyang dengan hadits Rasulullahserta pemahaman terhadap agamaSehingga dia menjadi seorang yang dapat berkompetisi dengan para ulama kelas atas(ternama) pada zamanya, sekalipun usianya ketika itu masih sangat muda.Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah mengumpulkan para Qurra` (ahlibaca al-Qur’an) dan ahli fiqih negeri Syam. ketika itu, beliau berkata, “Sesungguhnyaaku memanggil kalian untuk penanganan tindak kezhaliman yang sekarang ada di tangankeluargaku, bagaimana pandangan kalian?Maka mereka berkata, "Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya hal itu tidak termasukkawasan wewenang anda. Dosa-dosa atas tindakan kezhaliman tersebut sepenuhnyaberada di pundak orang yang mengambilnya secara tidak benar (merampasnya).”Rupanya beliau belum puas dengan jawaban mereka tersebut, lalu melirik ke arah salahseorang di antara mereka yang tidak sependapat dengan pendapat mereka itu, serayaberkata kepadanya, “Utuslah orang untuk memanggil ‘Abdul Malik, karena dia tidaklebih rendah ilmunya, pemahaman (fiqih)nya ataupun daya nalarnya dari orang-orangtelah yang engkau undang.”Ketika ‘Abdul Malik menemuinya, Umar berkata kepadanya, “Bagaimana pendapatmutentang harta orang-orang yang diambil anak-anak paman kita secara dzalim, sedangkanpemilik-pemiliknya telah datang dan memintanya dan kita telah mengetahui hak merekapada harta itu?!”‘Abdul Malik berkata, “Menurutku, hendaknya ayahanda mengembalikan harta itukepada para pemiliknya selama ayahanda mengetahui permasalahannya. Sebab, jika


tidak, berarti ayahanda termasuk kongsi orang-orang yang mengambilnya secara dzalimtersebut.”Maka lapanglah seluruh rongga-rongga tubuh Umar, jiwanya menjadi lega dan apa yangmenghantuinyapun hilang.Anak muda keturunan Umar ini lebih menyukai “Murabathah” (berjaga-jaga diperbatasan dari serangan musuh) dengan tinggal di salah satu kota yang dekat dengannyaketimbang tetap tinggal di negeri Syam. Dia tetap berangkat ke sana sementara dibelakangnya kota Damaskus yang bertaman indah, naungan yang rimbun dan memilikitujuh sungai dia tinggalkan begitu saja.Dalam pada itu, sekalipun sang ayah telah mengetahui keshalehan dan ketakwaananaknya, beliau masih mengkhawatirkannya dan kasihan kalau-kalau dia bisa luluh olehgodaan syaitan dan gejolak-gejolak masa muda serta begitu antusias untuk mengetahuisegala-galanya tentang dirinya tersebut selama dia bisa mengetahuinya. Dan beliau tidakpernah melalaikan hal itu dan tidak pernah mengabaikannya sama sekali.Maimun bin Mahran, seorang menteri, Qadli sekaligus penasehat ‘Umar bin ‘Abdul‘Aziz, pernah bercerita,“Sewaktu menemui ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, aku mendapatinya sedang menulis suratkepada anaknya, ‘Abdul Malik. Dalam suratnya itu, beliau memberikan nasehat,pengarahan, peringatan, berita menakutkan dan gembira.Di antara isinya adalah, ‘Amma ba’du, sesungguhnya engkaulah orang yang palingpantas untuk menangkap dan memahamai ucapanku. Dan sesungguhnya pula, segala pujibagi Allah, Dia telah berbuat baik kepada kita dari urusan sekecil-kecilnya hinggasebeasar-besarnya. Maka ingatlah karunia Allah kepadamu dan kepada kedua orangtuamu. Janganlah sekali-kali kamu berlaku sombong dan bangga diri, karena hal ituadalah termasuk perbuatan syaitan, sedangkan syaitan itu adalah musuh yang nyata bagiorang-orang yang beriman. Dan ketahuilah, bahwa aku mengirimkan surat ini, bukankarena ada laporan tentang dirimu sebab aku tidak mengetahui tentangmu kecuali halyang baik-baik. Namun demikian, telah sampai laporan kepadaku bahwa perihaltindakanmu yang suka berbangga-bangga diri. Seandainya kebanggaan ini menyeretmukepada sesuatu yang aku benci, tentu kamu mendapatkan telah melihat dariku sesuatuyang kamu benci.Maimun berkata, “Kemudian Umar menoleh kepadaku seraya berkata, ‘Wahai Maimun,sesungguhnya anakku -’Abdul Malik- telah menghiasi mataku (dikasihi dan tidak adalagi cacatnya) dan aku menuduh diriku telah melakukan itu. Karenanya, aku khawatirkalau rasa cintaku kepadanya telah melebihi pengetahuanku tentang dirinya sehingga apayang menimpa nenek moyangku dulu yang buta terhadap aib anak-anaknya menimpadiriku juga. Maka pergilah untuk mengawasinya, carilah informasi akurat tentangnyaserta perhatikanlah apakah ada padanya sesuatu yang mirip kesombongan dan berbangga-


angg itu, karena dia masih anak muda dan aku belum dapat menjamin dirinya bisaterhindar dari godaan syaithan.”Maimun berkata lagi,“Maka aku segera berangkat hingga bertemu dengan ‘Abdul Malik,lalu minta permisi dan masuk. Ternyata dia adalah seorang yang baru menginjak remajadan masih muda belia, memiliki pandangan yang ceria dan sangat tawadlu’ (rendah diri).Dia duduk di atas hamparan putih, di atas karpet yang terbuat dari bulu. Lantasmenyambutku sembari berkata, ‘Aku telah mendengar ayahanda sering berbicara tentangdirimu yang memang pantas kamu menyandangnya, yaitu seorang yang baik. Akuberharap Allah menjadikanmu orang yang berguna.’ Aku bertanya kepadanya,‘Bagaimana keadaanmu?’Dia menjawab,‘Senantiasa dalam keadaan baik dan mendapat nikmat dari Allah Azza waJalla. Hanya saja, aku khawatir bilamana sangkaan baik ayahanda terhadapku membuatkuterbuai sementara sebenarnya aku belum mencapai tingkat keutamaan sebagaimana yangdisangkanya itu. Dan sungguh aku khawatir kalau kecintaan ayahanda kepadaku telahmelebihi pengetahuannya tentang diriku sehingga aku malah menjadi bebannya.’Mendengar jawaban itu, aku (Maimun) jadi terkagum-kagum kenapa bisa terjadikecocokan hati di antara keduanya. Kemudian aku bertanya kepadanya,‘Tolong beritahuaku dari mana sumber penghidupanmu.?’Dia berkata, “Dari hasil tanah yang aku beli dari seseorang yang mendapat warisanayahnya. Aku membayarnya dengan uang yang bukan syubhat sama sekali sehinggakarenanya aku tidak membutuhkan lagi harta Fai’ (yang didapat tidak melaluipeperangan-red.,) kaum Muslimin.’ Aku bertanya lagi, ‘Apa makananmu?’ ‘Terkadangdaging, terkadang ‘Adas dan minyak dan terkadang cuka dan minyak. Dan, ini sudahcukup.”Lalu aku bertanya lagi, “Apakah kamu tidak merasa bangga dengan dirimu sendiri?” Diamenjawab, “Pernah aku merasakan sedikit dari hal semacam itu namun tatkalaayahandaku memberikan wejangan kepadaku, dia berhasil membelalakkan mataku akanhakikat diriku dan menjadikannya kecil bagiku dan jatuh harkatnya di mataku sehinggaakhirnya Allah Azza wa Jalla menjadikan wejangan itu bermanfaat bagi diriku. SemogaAllah membalas kebaikan ayahandaku.”Satu jam aku habiskan untuk mengobrol bersamanya dan rileks dengan ucapannya.Rasanya, belum pernah aku melihat pemuda setampan dia, sesempurna otaknya danseluhur akhlaqnya padahal dia masih beliau dan kurang pengalaman.Ketika di penghujung siang, pembantunya datang semberi berkata,“Semoga Allah memperbaiki dirimu, kami sudah kosongkan!.” Lalu dia diam…Aku bertanya kepadanya, “Apa yang mereka kosongkan itu?.”“WC.” Katanya “Bagaimana caranya.?” Tanyaku lagi


“Yah, mereka kosongkan dari orang-orang.” Jawabnya“Tadinya sikapmu mendapatkan tempat yang agung di hatiku hingga sekarang aku dengarhal ini.” KatakuDia begitu cemas dan mengucap Innâ Lillâhi Wa Innâ Ilaihi Râji’ûn, lalu berkata,“Apa itu, wahai paman –semoga Allah merahmatimu-?.”“Apakah WC itu milikmu.?” Tanyaku“Bukan.” Katanya“Lantas apa alasanmu mengeluarkan orang-orang darinya.? Sepertinya dengantindakanmu itu, engkau ingin mengangkat dirimu di atas mereka dan menjadikankedudukanmu berada di atas kedudukan mereka. Kemudian engkau juga menyakiti sipenunggu WC ini dengan tidak mengabaikan upah hariannya dan membuat orang yangdatang ke mari pulang sia-sia.” Kataku lagiDia berkata, “Adapun mengenai penunggu WC ini, maka aku sudah membuatnya reladengan memberikan upah hariannya.”“Ini namanya pengeluaran foya-foya yang dicampuri oleh kesombongan. Apa sih yangmembuatmu enggan masuk WC bersama orang-orang padahal engkau sama saja dengansalah seorang dari mereka.?” Kataku“Yang membuatku enggan hanyalah polah beberapa orang-orang tak beres yang masukWC tanpa penghalang sehingga kau tidak suka melihat aurat-aurat mereka itu. Demikianpula, aku tidak suka memaksa mereka mengenakan penghalang sehingga hal ini bisamereka anggap sebagai campur tanganku terhadap mereka dengan menggunakankewenangan penguasa yang aku bermohon kepada Allah agar kita terhindar darinya.Karena itu, tolong nasehati aku –semoga Allah merahmatimu- sehingga berguna bagikudan carilah solusi dari permasalahan ini!” Jawabnya.Aku berkata, “Tunggulah dulu hingga orang-orang keluar dari WC pada malam hari dankembali ke rumah-rumah mereka, lalu masuklah.!”“Kalau begitu, aku berjanji. Aku tidak akan masuk selama-lamanya pada siang harisemenjak hari ini dan andaikata bukan karena begitu dinginnya temperatur di negeri ini(sehingga selalu ingin buang hajat-red.,), tentu aku tidak akan masuk ke WC itu selamalamanya.”KatanyaDia berhenti sejenak seakan memikirkan sesuatu, kemudian mengangkat kepalanyamenoleh ke arahku sembari berkata,


“Aku bersumpah di hadapanmu, tolong dengan sangat engkau simpan rahasia inisehingga tidak didengar ayahandaku, sebab aku tidak suka dia masih marah padaku. Akukhawatir bila datang ajal sementara tidak mendapatkan keridlaan beliau.”Maimun berkata, “Lalu aku berniat ingin mengetesnya seberapa jauh ke dalamanakalnya, seraya berkata kepadanya,‘Jika Amirul Mukminin (‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, ayahandanya) bertanya kepadaku,apakah aku melihat sesuatu darimu, apakah engkau tega aku berdusta terhadapnya?.”“Tidak. Ma’adzallâh, akan tetapi katakan padanya, ‘aku telah melihat sesuatu darinyalantas aku nasehati dia, aku jadikan hal itu sebagai perkara besar di hadapan matanya laludia cepat-cepat sadar.’ Setelah itu, ayahandaku pasti tidak akan menanyakanmu untukmenyingkap hal-hal yang tidak engkau tampakkan padanya. Sebab, Allah Ta’ala jugamelindunginya dari mencari hal-hal yang masih terselubung.” JawabnyaMaimun berkata, “Sungguh, aku belum pernah sama sekali melihat seorang anak danayah seperti mereka berdua –semoga Allah merahmati keduanya-.“ Semoga Allahmeridlai khalifah ar-Rasyid kelima, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, menyejukkan kuburannyadan kuburan putra serta buah hatinya, ‘‘Abdul Malik.Keselamatanlah bagi keduanya pada hari bertemu dengan Allah Ta’ala, ar-Rafîq al-A’la.Keselamatanlah bagi keduanya pada hari dibangkitkan bersama orang-orang pilihan danahli kebajikan.CATATAN:Sebagai bahan tambahan mengenai biografi ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan anaknya ‘AbdulMalik, silahkan rujuk: Sîrah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz karya Ibn al-Jauziy. Sîrah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz karya Ibn Abdil Hakam. Ath-Thabaqât al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Jld. I,II,III,IV,V,VI,VII,VIII Shifah ash-Shafwah karya Ibnu al-Jauziy, Jld.II, h.113-126. Dan di halaman 127(buku asli) dan setelahnya terdapat bigrafi khusus tentang putranya ‘Abdul Malik. Hilyah al-Auliyâ` karya al-Ashfahâniy, Jld.V,h.203-353. Dan di halaman 353hingga halaman 364 (buku asli) terdapat biografi khusus tentang putranya ‘AbdulMalik. Wafayât al-A’yân karya Ibn Khalakân, Jld.I,II,III,IV,V Târîkh ath-Thabariy, Jld.I,II,III,IV,V,VI,VII,VIII Al-‘Iqd al-Farîd karya Ibn ‘Abd Rabbih, Jld.I,II,III,IV,V,VI,VI,VII,VIII Al-Bayân wa at-Tabyîn karya al-Jâhizh Târîkh Madînah Dimasyq karya Ibn ‘Asâkir, Jld.II, h.115-127 Tahdzîb at-Tahdzîb karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Jld.VII, h.475-478


Dicopy dari :www.alsofwah.or.id (situs dakwah & informasi Islam)

More magazines by this user
Similar magazines