Prof. Dr. Abd. A'la - Kemenag Jatim

jatim.kemenag.go.id
  • No tags were found...

Prof. Dr. Abd. A'la - Kemenag Jatim

Prof. Dr. Abd. A’laMenuju UIN yang World Class Universitydi STIKA (Sekolah Tinggi KeagamaanIslam) Annuqayyah. Dia pernahmenjabat Asisten Direktur BidangAkademik di program PascasarjanaIAIN Sunan Ampel dari tahun 2005hingga 2009. Lalu diangkat sebagaiPembantu Rektor Bidang Akademikhingga tahun kemarin. Dan tepat padatanggal 20 Oktober 2012, dirinyaresmi terpilih sebagai Rektor IAINSunan Ampel Surabaya.Tapi bagi A’la, menerima sebuahJangan gampang marah padabocah nakal. Sebab siapa tahu kelakdia bakal jadi orang ternama? Setidaknyakisah hidup Prof. Dr. Abd. A’lamencerminkan hal tersebut. Meski hidupdi lingkungan pesantren, A’la kecilkebilang sebagai bocah yang nakal.Baik semasih belajar di MadrasahIbtidaiyah maupun saat sekolah diMadrasah Muallimin 4 tahun AnnuqayahSumenep. “Pada jam yang seharusnyabelajar, saya justru begadangke mana-mana,” kenang RektorIAIN Sunan Ampel Surabaya ini sambilmelipat senyum.Setelah masuk di MadrasahMuallimin 6 tahun – di tempat yangsama, pikiran pria kelahiran Sumenep5 September 1957 ini mulai suka anehaneh.Nilai-nilai pesantren dan tradisikeagamaan yang pada galibnya biasadijalani masyarakat, justru kerap ditafsir-ulangsecara bebas. Untung sajakedua orangtuanya – H. AhmadBasyir AS dan Hj. Umamah Makkiyah– tak beranjak memarahinya. “Meskisaya nakal, orangtua saya mendidiktidak dengan marah tapi dengan carapengasuhan,” kilahnya. “Ketika pikiransaya mulai macam-macam, ayahbilang: A’la itu orang pesantren, pastiakan kembali lagi ke sumbernya,”ungkapnya sembari menerawang kemasa silam.Terbukti, ketika lulus dari Muallimindi tahun 1978, dia justru memilihnyantri ke pesantren Tebuireng Jombang.Setelah setahun mondok di sana,lalu melanglang-buana mengikutikata hati. Kemudian masuk ke FakultasAdab IAIN Sunan Ampel dan lulusdi tahun 1987. Sedangkan S2nyaselesai pada tahun 1996 di PascasarjanaIAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.Tiga tahun kemudian juga menyelesaikanS3nya di tempat yang sama,dengan judul disertasi “PandanganTeologi Fazlur Rahman (Studi Kritistentang Pembaruan Teologi neo-Modernisme)”.Ahli sejarah perkembangan pemikiranIslam ini mulai meniti karirpada tahun 1990, dengan menjadi dosenFak. Adab IAIN Sunan AmpelSurabaya. Sebelumnya, tepatnya sejaktahun 1987, juga sudah mengajarjabatan bukanlah persoalan gampang.Sebab semula dia cuma inginbelajar dan mengajar. Sehingga taksaja punya waktu luang untuk melakukanpenelitian, tapi juga bisa menuangkangagasan dengan bebas dalamberbagai karya tulis ilmiah secara kritis.Jadi ketika ditawari jabatan Asdirdi Pascasarjana, dia sangat kaget dangemetar. Sebab tak bisa membayangkanharus ngantor setiap hari. “Sayamerasa terbebani.. karena di situ adatanggung jawab moral, akademik, formaldan organisasi. Terus terang itusemua sangat membebani diri saya,”tandasnya.34 MPA 317 / Pebruari 2013


dia belum menjadi Mukmin yangsejati. “Jika kini umat Islam banyakyang terlindas, karena orang Muslimbelum bisa mengembangkan peradaban,”simpulnya. “Umat Islam akangampang dilibas, ketika dirinya tidakmemiliki pengetahuan yang kuat, tidakmemiliki moralitas, dan semacamnya,”tambahnya.Menurut A’la, sebagai Khalifatullahfil ardh umat Islam harus sanggupmembangun peradaban dalamkehidupan. Jadi bagaimana Islam itumenghadirkan kesejukan dan pengembanganmoral berupa keadilan dankedamaian. Salah satunya, merekaharus mampu melahirkan karya-karyatentang tafsir atau pemaknaan Haditsyang kontekstual dengan kekinian.“Orang Muslim harus mampu memperlihatkanbetapa pentingnya agamadalam kehidupan,” cetusnya.Prof. A’la – demikian dirinyaProf. Dr. Abd. A’la mendapatkan ucapan selamat dariMenag Suryadharma Ali seusai dilantikLantaran tak bisa lagi mengelak,akhirnya suami Dra. Psi. NihayatusSa’adah ini pun menjalani tugas sebagai’orang kantoran’. Apalagi hasilistikharahnya juga mengarah agar tawaranjabatan itu tak ditampiknya. Setelahdijalani, beban yang dirasakanterasa semakin berat. “Selama duabulan saya mengalami stress. Sebabsaya tak sebebas dulu lantaran harusmenjalani rutinitas sebagai orangkantoran,” akunya jujur. “Akhirnyasaya putuskan dalam diri, karena sudahmenerima maka saya harus melakukanyang terbaik dari apa yangbisa saya lakukan,” pungkasnya.Sebelum masa jabatan Asdir ituberakhir, dirinya malah didapuk untukmenduduki jabatan Pembantu RektorI. Dan tawaran itupun langsung ditampik.Sebab baginya, itu bukanlahtugas yang ringan. Meski demikian,pengasuh PP. Annuqayah Guluk-GulukSumenep ini masih saja tetapdiminta untuk menerima jabatan tersebut.Shalat istikharah pun dijalaninyakembali. Bahkan kali ini para santridan orangtuanya pun diminta pulauntuk melakukan ritual yang sama.Hasilnya, bahwa jabatan PembantuRektor I baik untuk dilaksanakan.“Aduh.. akhirnya ya saya tidak bisamenolak,” tuturnya bersahaja.Belum genap setahun menjabat,Rektor IAIN ditarik ke pusat untukmenjadi Dirjen Pendidikan Islam.Yang itu artinya, bahwa dirinya harusmenjadi Pgs. Rektor. Tak berselanglama, dirinya pun terpilih untuk mendudukijabatan Rektor IAIN SunanAmpel Surabaya. “Niat saya cumasatu; bagaimana mengembangkanyang sudah baik, memperkuat aspekakademik di IAIN Sunan Ampel, sertamengurangi aspek politisasi di duniapendidikan,” tegasnya.Jika nantinya IAIN Sunan AmpelSurabaya menjadi universitas, ujarnya,harus menjadi world class university.Disamping harus setara denganuniversitas ternama di level internasional,UIN Sunan Ampel jugaharus berkarakter. Salah satu karakternyaadalah Islam Indonesia; yangberwatak sejuk dan mampu melakukankontekstualisasi dengan realitas,tempat dan waktu. “Disamping rajinshalat dan ibadah, juga mampu mentransformasikannilai-nilai Islam dalamhidup keseharian dengan wajahsejuk dan moderat,” terangnya.Meski berubah jadi UIN, ujarnya,materi keagamaan tak akan terpinggirkan.Sebab materi keagamaanmenjadi materi wajib yang harus diambilmahasiswa – apapun fakultasnya.Dan secara kultural, pesantrendalam kampus yang sudah ada akandikembangkan hingga berkapasitaslima ribu mahasiswa. “Jadi nantinya,misal jurusan Tafsir Hadits.. harusmempunyai imej yang lebih baik darifakultas kedokteran atau sains dan teknologi,”harapnya. “Kita harus memberikanimej kepada masyarakat,bahwa tanpa agama maka sains danteknologi akan berjalan liar,” paparnya.Alhasil, targetnya adalah bagaimanamensosialisasikan Islam yangfungsional sehingga betul-betul bermaknabagi kehidupan. Sebab Islamitu tak sekedar ibadah, tetapi bagaimanamemaknai ibadah dalam kontekssosial. Ketika seseorang melakukanshalat namun tidak berusahameningkatkan kualitas dirinya, makaBersama Wamenag dan Wagub Jatim, Prof. A’lamenandatangani gerakan anti plagiat di forum AICISkarib disapa, adalah lelaki dengansegudang kreasi dan prestasi. Pantaspada tahun 2004 dirinya dinobatkansebagai Dosen Terbaik dalam bidangpenulisan karya ilmiah di lingkunganPTAI se-Indonesia. Dan pada tahun2007 juga dianugerahi sebagai DosenTeladan di lingkungan PerguruanTinggi Islam se-Indonesia. Sedangkankarya tulisnya yang berupa buku;Melampaui Dialog Agama (PenerbitKompas, 2002), Dari Neomodernismeke Islam Liberal (Paramadina,2003), Pembaruan Pesantren(Pustaka Pesantren dan LKiS,2006), Praksis Pembelajaran Pesantren(LKiS, 2007), dan Agama TanpaPenganut (Kerjasama IAIN SunanAmpel-Impulse-Kanisius, 2009).•SyamMPA 317 / Pebruari 201335

More magazines by this user
Similar magazines