17.Edisi_November_2007 - Kantor Jaminan Mutu - Universitas ...

kjm.ugm.ac.id
  • No tags were found...

17.Edisi_November_2007 - Kantor Jaminan Mutu - Universitas ...

PERBANDINGAN ANTARA INSTITUSI BIASA DENGAN INSTITUSI MUTUDalam kehidupan sehari-hari, mudah sekali kita menilai berbagai hal dengan sebutan biasa atau luar biasa. Luar biasa padaumumnya berkonotasi positif, berkualitas atau bermutu tinggi. Dalam institusi, hal yang serupa juga dapat kita amati, sehinggaada istilah institusi biasa dan institusi mutu. Institusi mutu menerjemahkan visinya dalam bentuk nyata agar mudah dipahamisegenap anggotanya, misalnya ada yang menyebut dengan pelayanan yang baik atau prima, ada juga yang menyebut denganpelayanan cepat dan akurat, dan masih banyak lagi sebutan lainnya.Di rimba raya kehidupan ini, akhirnya kita melihat bahwa menjadi bermutu merupakan hal yang diinginkan banyak orang jugaoleh banyak institusi, termasuk institusi perguruan tinggi. Banyak orang percaya bahwa mutu akan menyediakan pasar dalamberbagai ragam bentuk. Berkaitan dengan hal tersebut, berikut disampaikan salah satu pendapat Edward Sallis (2006) yangmengemukakan perbandingan antara institusi biasa dengan institusi mutu. Dengan tulisan ini diharapkan agar para pembaca dapatmenambahkan lagi sesuai dengan kondisi, realita dan idealismenya masing-masing. Semoga tulisan ini dapat menjadi inspirasipengembangan dan peningkatan mutu bagi para pembaca. (GST)No. Institusi Biasa Institusi Mutu1. Fokus pada kebutuhan internal Fokus pada pelanggan2. Fokus pada deteksi masalah Fokus pada pencegahan masalah3. Pendekatand alam pengembangan karyawan tidaksistematisInvestasi sumebr daya4. Kekurangan visi strategis mutu Memiliki strategi mutu5. Menyikapi komplain sebagai gangguan Menyikapi komplain sebagai peluang untuk belajar6. Sama sekali tidak mempunyai standar mutu yang jelas Mendefinisikan karakteristik mutu pada seluruharea organisasi7. Tidak memiliki rencana mutu Memiliki kebijakan dan rencana mutu8. Peran manajemen dipandang sebagai salah satubentuk kekangan9. Hanya melibatkan tim manajemen dalam masalahapapunManajemen senior memimpin mutuProses perbaikan mutu melibatkan semua orang10. Tidak memiliki fasilitator mutu Memiliki fasilitator mutu yang mendorong11. Prosedur dan aturan yang baku adalah hal yangterpentingkemajuan prosesKaryawan dianggap memiliki peluang untukmenciptakan mutu – kreativitas adalah hal yangpenting12. Tidak memiliki aturan dan tanggung jawab yang jelas Memiliki aturan dan tanggung jawab yang jelas13. Tidak memiliki strategi evaluasi yang sistematis Memiliki strategi evaluasi yang jelas14. Melihat mutu sebagai cara untuk menghemat biaya Melihat mutu sebagai cara untuk meningkatkankepuasan pelanggan15. Rencana jangka pendek Rencana jangka panjang16. Memandang mutu sebagai inisiatif yang mengganggu Mutu dipandang sebagai bagian dari budaya17. Memeriksa mutu dengan tujuan untuk memenuhituntutan para agen eksternalMeningkatkan mutu berada dalam garis strategiimperatifnya sendiri18. Tidak memiliki misi khusus Memiliki misi khusus19. Memiliki budaya hirarkis Memperlakukan kolega sebagai pelangganAMAI BERBASIS EVALUASI...(lanjutan dari hal 2 kolom 3)perlu direvisi hanya pada bagian carapenilaiannya saja.Secara umum pelaksanaan AMAIberbasis evaluasi diri di FIB tahun 2007berjalan lebih baik dari tahun lalu.Namun kami menyadari bahwapelaksanaan SPM-PT di FIB-UGM belummenyeluruh, misalnya baru pada prosespembelajaran, tata usaha, perpustakaanmasih belum tersentuh oleh SPM-PT. Olehkarena itu, internalisasi SPM-PT di UGMkhususnya FIB perlu ditingkatkan. (MP-AMAFIB)

More magazines by this user
Similar magazines