Hal. 60-65 Scaffolding Upi.pdf - BPK Penabur

bpkpenabur.or.id

Hal. 60-65 Scaffolding Upi.pdf - BPK Penabur

Scaffolding pada Program Pendidikan Anak Usia DiniOpiniScaffolding pada Program PendidikanAnak Usia DiniUpi Isabella *)Abstrakeori belajar konstruktivisme khususnya pada pendidikan anak usia dini antara lain menyebutkanpentingnya pemberian scaffolding (Vygotsky, 1962) yang tepat waktu dan dapat ditarik kembaliT secara bertahap setelah anak menunjukkan keberhasilan terhadap pencapaian suatu indikatordalam aspek perkembangan anak (child development). Anak membutuhkan scaffolding untukmenuju ke tingkat perkembangan potensial (level of potential development). Implemetasi scaffoldingsebagai bagian dari proses belajar konstruktivisme perlu dikenali dengan baik sehingga tidak perluberubah menjadi interferensi yang justru akan menghilangkan kesempatan belajar anak untukmenguasai proses penyelesaian masalah. Desain kurikulum, instruksi pembelajaran dan prosesasesmen pendidikan usia dini merupakan faktor-faktor yang memberikan pengaruh besar terhadapproses belajar konstruktivisme pendidikan anak usia dini. Scaffolding pada pendidikan usia dini dapatterjadi dimana saja tempat lingkungan anak. Scaffolding dapat dilakukan oleh orang dewasa (adult/care giver/parent/teachers), atau orang yang lebih dahulu tahu (knowledgeable person/siblings)atau teman sebaya (peer).Kata kunci: Scaffolding, anak, pendidikan usia dini, guru.This article discusses scaffolding as one of the theories in constructivism learning theories. Scaffoldingis effective in achieving the level of potential development and it can be implemented for earlyage children. In the implementation, the teacher should well recognize the children and knowproperly. Scaffolding wich is based on constructivism can be used by parents, teachers or earegivers to assist. The early age children to develop their abulity.PendahuluanBila kita pernah memperhatikan prosespembangunan suatu gedung atau renovasirumah, maka kita tentu pernah melihat suatu alatsemacam tangga atau rangka menara sederhanayang kokoh dengan 4 kaki yang sering disebutsebagai steger atau scaffolding. Scaffoldingberfungsi sebagai alat bantu untuk menggapaisisi bangunan yang tinggi. Bila sudah tidakdiperlukan lagi, maka scaffolding dapat dilepasatau ditarik atau dipindahkan dari posisinya.Tukang bangunan menggunakan scaffoldingmisalnya pada waktu memasang rangka untukdak bangunan lantai atas, untuk mengaci semenpada dinding langit-langit rumah atau sewaktumemasang papan gypsum atau eternit dan lainlain.Intinya, scaffolding merupakan suatu alatbantu yang dapat dipasang dan dilepas kembalidalam proses menyelesaikan suatu pekerjaankonstruksi.Sebetulnya, scaffolding adalah suatu istilahdalam dunia pendidikan yang merupakanpengembangan teori belajar konstruktivismemodern. Scaffolding pertamakali disebut sebagaiistilah dalam dunia pendidikan, khususnyapendidikan anak usia dini oleh Vygotsky (1846).Dalam pendidikan usia dini, scaffoldingmengambil peran yang sangat penting dalam*) Staf Pusat Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (P4) BPK PENABUR Jakarta60 Jurnal Pendidikan Penabur - No.08/Th.VI/Juni 2007


Scaffolding pada Program Pendidikan Anak Usia Diniproses pembelajaran di setiap aspek menujupada pencapaian tahap perkembangan anak(child development). Setiap kali seorang anakmencapai tahap perkembangan yang ditandaidengan terpenuhinya indikator dalam aspektertentu, maka anak membutuhkan scaffolding.Vygotsky (1962) menuliskan bahwa scaffoldingmerupakan bentuk bantuan yang tepat waktuyang juga harus ditarik tepat waktu ketikainteraksi belajar sedang terjadi saat anak-anakmengerjakan puzzle, membangun miniaturbangunan, mencocokkan gambar dan tugastugaspelajaran lainnya. Saat interaksi belajarberlangsung, scaffolding kadang dibutuhkansecara bersamaan dan terintegrasi dalam aspekfisik, intelektual, seni dan emosional.Kebalikan dari scaffolding adalahinterferensi. Seringkali langsung munculkeinginan orang dewasa baik guru maupunorangtua untuk datangmembantu anakmenyelesaikan tugasperkembangannya.Akibatnya, bantuan malahmenginterferensi prosespembelajaran anak.Keinginan tersebutsesungguhnya wajar dannatural, karena selainungkapan kasih sayang,juga merupakan ungkapankekhawatiran orang dewasa terhadapanak. Namun, dengan porsi yang tepat, tidakakan menjadi interferensi dan tidak akanmerebut peran scaffolding yang lebih dibutuhkananak.Scaffolding Sebagai Bagian dari TeoriKonstruktivisme ModernTelah kita ketahui bahwa teori belajarkonstruktivisme modern secara umummenyatakan bahwa siswa harus secara pribadimenemukan dan menerapkan informasi yangkompleks kemudian mengecek informasi barudibandingkan dengan aturan lama danmemperbaiki aturan itu apabila tidak sesuai lagi.Dengan demikian guru tidak dapat hanyasemata-mata memberikan pengetahuan kepadasiswa, melainkan siswa harus membangunpengetahuan ini di dalam benaknya sendiri.Guru hanya membantu proses ini dengan caracaramengajar yang membuat informasi menjadisangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa;...scaffolding merupakanbentuk bantuan yang tepatwaktu yang juga harusditarik tepat waktu ketikainteraksi belajar sedangterjadi...sedemikian hingga siswa mampu menarikkesimpulan untuk menerapkan sendiri ide-ide.Khusus terhadap pendidikan anak usia diniteori konstruktivisme modern oleh Vygotksydibagi dalam tiga tahap yaitu:1. Tahap Zona Perkembangan TerdekatZona perkembangan terdekat atau Zone ofProximal Development (ZPD) yaitu suatu idebahwa anak usia dini belajar konsep palingbaik apabila konsep itu berada dalam zonaperkembangan terdekat mereka. A range taskstoo difficult for the child to do alone but possiblewith help of adults and more skilled peers (Berk,2006). The zone of proximal development is theVygotskian concept that defines development asthe space between the child’s level of independentperformance and the child’s level of maximallyassisted performance (Bodrova &Leong, 1996;Vygotsky, 1978). Artinya, suatu jarak antaraketerampilan yang sudahdimiliki oleh anakdengan keterampilanbaru yang diperolehdengan bantuan dariorang dewasa (adult/caregiver/parents/teacher) atauorang yang terlebihdahulu menguasaiketerampilan tersebut(knowledgeable person/peer/siblings).Zona ini hadir di tengahlingkungan dengan fitur yang sekayamungkin sehingga memberikan kesempatanmelimpah bagi anak untuk membangunkonsep dan internalisasi pemahaman dalamdirinya tentang berbagai hal. Artinya, bilalingkungan di sekitar anak mampumenghadirkan sekaya mungkin fitur tentangberbagai hal, maka anak memperolehrangsangan yang kuat untuk mempelajarisuatu konsep bagi pemahamannya dengancara terbaik.2. Tahap Pemagangan KognitifPemagangan kognitif atau cognitiveapprenticeship adalah suatu istilah untukproses pembelajaran dimana gurumenyediakan dukungan kepada anak usiadini dalam bentuk scaffold hingga anak usiadini berhasil membentuk pemahamankognitifnya. Pemagangan kognitif ataucognitive apprenticeship juga merupakansuatu budaya belajar dari dan di antarateman sebaya melalui interaksi satu samaJurnal Pendidikan Penabur - No.08/Th.VI/Juni 200761


Scaffolding pada Program Pendidikan Anak Usia Dinilain sehingga membentuk suatu konseptentang sesuatu pengalaman umum dankemudian membagikan pengalamanmembentuk konsep tersebut di antara temansebayanya (Collins, Brown, and Newman1989). Wilson and Cole (1994)mendeskripsikan ciri khas pemagangankognitif yaitu “ heuristic content, situatedlearning, modeling, coaching, articulation,reflection, exploration, and order in increasingcomplexity”.3. Scaffolding atau mediated learningYaitu dukungan tahap demi tahap untukbelajar dan pemecahan masalah sebagaisuatu hal yangpenting dalampemikirankonstruktivismemodern. Scaffoldingis adjusting thesupport offeredduring a teachingsession to fit thechild’s current level ofperformance”.Scaffoldingsebagian besarditemukan dilakukan oleh orang dewasa(adult/care giver/parent/teacher) atau orangyang lebih dahulu tahu (knowledgeable person/siblings/peer) tentang suatu keterampilanyang seharusnya dicapai oleh anak usiadini.Implikasi Scaffolding padaKurikulum PendidikanAnak Usia DiniDengan demikian, teori Vygotsky tersebutmemberikan pengaruh besar pada desainkurikulum, instruksi pembelajaran dan prosesasesmen pendidikan anak usia dini. Karena anakbelajar banyak dari interaksi, maka desainkurikulum harus menempatkan mereka untukmengalami banyak interaksi dengan anaklainnya dan tugas belajar bersama. Bentukkegiatan belajar mengajar yang bisa dilakukandi antaranya konsep pembelajar mandiri (learnerutonomy), belajar kelompok (cooperative learning).Lingkungan belajar anak menjadi zonaperkembangan terdekat yang menghadirkanInstruksi pembelajaran yangtepat dari orang dewasa dapatmembuat anak menunjukkankeberhasilan terhadap tugasyang belum mampudiselesaikan sendiri.sebanyak mungkin kesempatan untukmempelajari sesuatu, baik itu melalui orangorangdi sekitar anak maupun alat pelajarandan sumber belajar. Guru hanya sebagaimediator selanjutnya anak usia dini secarasendiri atau kelompok aktif untuk memecahkanpersoalan yang diberikan guru sehingga merekadapat membangun pengetahuan. Instruksipembelajaran yang tepat dari orang dewasa dapatmembuat anak menunjukkan keberhasilanterhadap tugas yang belum mampu diselesaikansendiri. Disini orang dewasa secara terusmenerus mengevaluasi level bantuan yangdiberikan kepada anak denganmempertimbangkantingkat kemajuan hasilbelajar anak, sehinggadapat terbentukmengajar-belajar yangefektif. Denganmemberikan “takaran”scaffolding yang tepat,hasil belajar anak akansegera terlihat bahkananak memperolehketerampilanketerampilanyangmenetap yang dibutuhkan dalam penyelesaianmasalah kelak. “Takaran” karena sepanjangtinjauan penulis tidak ditemukan sumber ilmiahyang berhasil merumuskan dosis scaffolding yangtepat. Hal ini karena setiap anak, dalam setiapsituasi membutuhkan scaffolding yang berbedabeda.Namun, penulis menemukan banyak sekaliliteratur ilmiah yang menyatakan dengan tegaspentingnya scaffolding untuk membangunkonsep pemahaman anak usia dini. Prosesassessment juga berpengaruh yaitu denganmelihat zona perkembangan terdekat. Bila anakdapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuanini disebut tingkat perkembangan riil (level ofactual development), sementara bila anak dapatmelakukan sesuatu dengan bantuan maka halini disebut tingkat perkembangan yang potensial(level of potential development). Dua orang anakdapat saja memiliki tingkat perkembangan riilyang sama; tetapi dengan bantuan yang tepatdari orang dewasa, anak yang satu dapatmelakukan penyelesaian terhadap masalahyang lebih rumit dan lebih baik daripada yanglainnya. Metode penilaian harus dapatmenangkap kedua tingkat perkembangan yangdimiliki tiap anak; yaitu tingkat perkembangaanriil dan tingkat perkembangan potensial.62 Jurnal Pendidikan Penabur - No.08/Th.VI/Juni 2007


Scaffolding pada Program Pendidikan Anak Usia DiniDengan demikian, pada pendidikan anakusia dini terjadi pergeseran dari “teacher centered”menjadi “student centered” yang mewujud dalampemberian scaffolds tepat waktu ketikadibutuhkan oleh anak; juga tepat waktu untukditarik kembali. Dengan demikian prinsipprinsipkonstruktivisme yang banyak diambilantara lain:1. Pengetahuan dibangun oleh anak usia dinisecara aktif2. Tekanan proses belajar mengajar terletakpada anak usia dini3. Mengajar adalah membantu anak usia dinibelajar4. Tekanan dalam proses belajar lebih padaproses bukan pada hasil belajar5. Kurikulum menekankan pada parisipasianak usia dini6. Guru adalah fasilitatorDengan memahami teori di atas, maka yangmenjadi masalah adalah bagaimana bentukimplementasi konkrit scaffolding sebagai bagiandari teori konstruktivisme pada setiap aspekpendidikan anak usia dini.Implementasi Scaffolding padaPendidikan Anak Usia DiniKita memahami bahwa tahap perkembangananak usia dini terbagi dalam beberapa aspekyang berintegrasi satu dengan yang lain; yaitu:aspek fisik, intelektual, seni dan emosional.Setiap anak usia dini memiliki ciriperkembangan berdasarkan usia. Pencapaiantahap perkembangan aspek fisik pada anak usia2 tahun misalnya berbeda dengan tahapperkembangan fisik anak usia 3 tahun. Para ahlipendidikan anak usia dini telah melakukanpengamatan dan mencatat tahap-tahapperkembangan anak setiap aspek berdasarkanusia. Tahap-tahap perkembangan anak usia dini(Child Development) menjadi dasar untuk melihatkeberhasilan dan kemajuan perkembangananak.Aspek-aspek perkembangan anakmerupakan satu bagian yang terintegrasi satudengan yang lain. Karena itu bentuk scaffoldingdi dalam suatu saat dapat saja terintegrasinamun terdapat juga saat dimana scaffoldinghanya dibutuhkan oleh aspek tertentu.Contoh implementasi scaffolding dalampendidikan anak usia dini penulis ambil darisalah satu daily plan kurikulum play groupbilingual. Tema belajar adalah “My Vegetables”dengan sub tema “Cauliflower”. Desain temadalam kurikulum seperti ini membuka banyakpeluang terjadinya interaksi belajar; anak belajarmengenal sayur-sayuran; sesuatu hal yang dekatdengan kehidupan sehari-hari. Pada aspekSmall Motor Skill, anak melatih kelenturan ototjari tangan dengan memetik kuntum bunga kol.Sementara setiap anak memegang bunga kol,guru mencontohkan cara memetik kuntum bungakol di hadapan mereka (zona perkembanganterdekat). Timbul dalam benak anak, bahwamemetik kuntum bunga kol adalah sesuatupekerjaan dapat dilakukannya sendiri. Anakmengamati bentuk bunga kol yang ada ditangannya (menjadi pembelajar mandiri/learnerutonomy); dan memperhatikan cara guru atauteman lainnya memetik kuntum bunga kol(menjadi pembelajar kelompok/cooperativelearning).Dalam hal memetik kuntum bunga kol,pemagangan kognitif tampil dengan ciri khasnyayaitu modeling oleh guru, penekanan; yaitutekanan proses belajar pada latihanketerampilan otot jari, explorasi; yaitu mengenaimanfaat, habitat dan pengolahan sayur bungakol dan petunjuk yang meningkatkompleksitasnya; yaitu mulai dari mengenggam- memetik – mengelompokkan – menghitungkuntum bunga kol. Instruksi pelajaran; yangmenuntun anak melakukan sesuatu denganperintah yang jelas - meminta anak memetikkuntum bunga kol yang ada di gengamantangannya sampai selesai; dapatmenumbuhkan ketekunan dalam diri anakuntuk mencapai keberhasilan (aspek emosional).Guru melakukan proses assessment dengansebelumnya sudah mengetahui level of actualdevelopment; yaitu belum tentu semua anak telahdapat memetik kuntum bunga kol (menurut TableChild Development). Sedangkan level of potentialdevelopment yang akan diobservasi adalah anakmampu memetik kuntum bunga kol palingsedikit 8 kuntum.Dalam 5 – 10 menit pertama, dapatdiprediksi bahwa anak akan mengalamikesulitan karena jari-jari tangan belum terbiasamemetik kuntum bunga kol. Di saat ini, guruperlu menahan diri dan memberikankesempatan pada anak untuk mengalamikesulitan; guru perlu tahu saat yang tepat untukmemberikan bantuan. Hindari bentuk-bentukinterferensi yang berpotensi menggangu prosesJurnal Pendidikan Penabur - No.08/Th.VI/Juni 200763


Scaffolding pada Program Pendidikan Anak Usia Dinibelajar anak. Anak akan menyerukanpermintaan bantuan. Di sinilah, gurumenerapkan scaffolding; yaitu berupa memegangjari anak dan memberi kekuatan tertentu untukmemetik kuntum bunga kol bersama. Setelah itu,berilah kesempatan anak untuk kembalimencoba sendiri; tariklah scaffolding secarabertahap. Setelah paling sedikit 8 kuntum bungakol berhasil dipetik oleh jari tangan anak sendiri,maka anak telah mencapai level of potentialdevelopment. Kadang kala sangat menarik danlucu, saat terjadi anak berusaha menolong temanuntuk memetik kuntum bunga kol; membagikanketerampilan yang baru saja dikuasainya; yangsebetulnya merupakan suatu bentukinternalisasi konsep pengetahuan baru ke dalamdirinya. Kejadian seperti ini dapat menjadisumber tulisan narasi yang kreatif untukdicatatkan dalam laporan perkembangan anak.Implementasi scaffolding lainnya jugaterlihat dalam contoh lebih sederhana sebagaiberikut: seorang anak perempuan yang berumur2,5 tahun dengan gembira memilih danberusaha mengenakan sendiri baju yang akandipakainya dan tidak mengijinkan ibunyamembantu. Pada usia 2,5 tahun menurut tabelPerkembangan Anak (Child Development); tingkatperkembangan riil (level of actual development)pada aspek intelektual antara lain adalah anakmemiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi; danpada aspek fisik sedang ingin mencobamelenturkan otot jemari tangannya. Anak belumdapat mengenakan baju sendiri, tetapimembutuhkan bantuan; berarti anak beradapada tingkat perkembangan potensial (level ofpotential development).Pada waktu ini potret pembelajarankonstruktivisme sedang berlangsung; yaitupengetahuan dibangun sendiri oleh anak secaraaktif; tekanan proses belajar adalah pada anakdan bukan pada hasil belajar. Saat sang ibumengamati anak sedang berusaha dengansungguh-sungguh mengenakan baju, timbulkeinginan yang sangat besar untuk segeramembantu; tetapi anak belum merasa perluadanya scaffolds. Bila scaffolds tidak tepat waktu,akan terjadi interferensi; anak tidak merasakankeberhasilan pencapaian suatu indikator;bantuan ibu akan menyelesaikan semua prosesmengenakan baju.Beberapa saat kemudian anak menyerukanperlunya bantuan; ini menunjukkan aspek emosiyang sesuai yaitu anak segera mencaripertolongan untuk mendapatkan bantuan. Saatanak telah membuka diri terhadap bantuan,scaffolding dibutuhkan. Ibu berperan sebagaifasilitator; mencontohkan cara mengancing satumata kancing baju. Pada waktu ini, ibu berbicaramengenai cara mengancing baju dan akanmenjadi kosa kata baru bagi anak (aspek bahasa).Komunikasi dan penggunaan bahasa menjadisuatu media yang baik untuk melancarkaninternalisasi konsep ke dalam diri anak. Anakmengendapkan konsep itu ke dalam pikirannya;biasanya muncul dalam bentuk self talk anakkepada dirinya.Setelah mendapatkan scaffolds, anak akanmencoba lagi mengenakan bajunya. Disini,bentuk scaffolding telah cukup dan perludihentikan secara bertahap. Anak telahmenguasai keterampilan mengenakan baju lebihbaik dari sebelumnya. Anak merasakankeberhasilan mencapai suatu indikator.Dari dua contoh sederhana di atas dapatlahdisepakati bahwa suatu pemberian scaffoldingyang efektif adalah tepat waktu dan setelah ituditarik kembali secara bertahap setelah ditandaidengan diperolehnya keterampilan baru yanglebih baik dari sebelumnya yang berhasildilakukan sendiri oleh anak pada tingkatperkembangan potensialnya. Dengan demikian,penilaian terhadap anak mencakup tingkatperkembangan riil; yaitu ketika anakmendemonstrasikan suatu keterampilan tanpabantuan; sampai dengan tingkat perkembanganpotensial (level of potential development). Bentukassessment dapat berupa laporan narasi yangmenyebutkan perbandingan dan bentukkeberhasilan kedua level perkembangan tersebut.PenutupImplementasi scaffolding dapat dengan mudahkita temukan dan terapkan dalam kehidupansehari-hari anak usia dini. Faktor-faktor yangsederhana namun penting untuk diingat dalamimplementasi scaffolding adalah bahwa pertama,kebutuhan terhadap scaffloding datang dariinisiatif anak; karena kalau bukan datang darianak, scaffolding akan berubah menjadi suatuinterferensi terhadap proses belajar anak. Suatuinterferensi terhadap proses belajar anakdisadari atau tidak akan menyemaikan sifatketergantungan yang akan menimbulkankesulitan yang lebih besar lagi di masa depan.Yang kedua, scaffolding sesuai dengan pesanpendidikan Vygotsky adalah menyediakan64 Jurnal Pendidikan Penabur - No.08/Th.VI/Juni 2007


Scaffolding pada Program Pendidikan Anak Usia Dinilingkungan sosial yang kaya dengan aktifitasyang berada dalam zona perkembangan terdekatanak dan kesempatan yang melimpah untukbermain peran (make-believe play). Situasi belajaryang baik akan mereduksi peran guru (teachercentered) dan meningkatkan kemandirian belajaranak (student centered); sedemikian hinggamuncul suasana yang merangsang tumbuhnyasifat pembelajaran dengan disiplin diri tinggiuntuk tingkat pendidikan yang lebih lanjutkelak.Daftar PustakaBerk, Laura E. (2006). Child development 7 thEdition. USA: Pearson InternationalEditionCollins, A., Brown, J. S., & Newman, S. (1989).Cognitive apprenticeship: Teaching the craftof reading, writing, and mathematics. In L.B. Resnick (Ed.). Knowing, learning, andinstruction: Essays in honor of Robert Glaser.Hillsdale, NJ: Lawrence ErlbaumAssociates, IncRogoff, Barbara (1995,1998,2003). Observingsociocultural activity on three planes:Participatory appropriation, guidedparticipation, and apprenticeship. In J.V.Wertsch, P. del Rio, & A. Alvarez (Eds.),Sociocultural studies of the mind (pp. 139-164). New York, NY: CambridgeUniversity PressVygotsky, L.S. (1962). Thought and language.Cambridge, MA: MIT Press. (Originalwork published 1934)Vygotsky, L.S. (1978). Mind in society: Thedevelopment of higher psychologicalprocesses. Cambridge, MA: HarvardUniversity PressWilson, B., & Cole, P. (1994, April). Aninstructional-design review of cognitiveteaching models. Paper presented at themeeting of the American EducationalResearch Association, Chicago, ILwww.edb.utexas.edu/csclstudent/dhsiao/theories.html#apprentice (pembacaantanggal 15 Mei 2007)Jurnal Pendidikan Penabur - No.08/Th.VI/Juni 200765

More magazines by this user
Similar magazines