MEMBANGUN TEORI DEMOKRASI ISLAM

abad.demokrasi.com
  • No tags were found...

MEMBANGUN TEORI DEMOKRASI ISLAM

l i m D e m o k r a t i sDi gi t am o k r a t i s . c o mlEdisi 004, Oktober 2011Review BukuSeraya mengutip pernyataan deTocqueville di atas, buku iniditulis dengan maksud menguraiketegangan Islam dan demokrasi.Bagi penulisnya, ini bukan hanyasoal kesarjanaan, tapi juga moral danpersonal. Nader Hashemi adalahseorang sarjana berkebangsaanKanada, dan kini bekerja sebagaigurubesar ilmu politik pada JosefKorbel School of InternationalStudies, University of Denver,Amerika Serikat. Dia belakangansering tampil di media-media massapopuler, termasuk diwawancaraiberbagai stasiun televisi mengenaidemokratisasi yang kini berlangsungdi banyak negara di Timur Tengahdan Afrika Utara, dan baru-baru inimenerbitkan The People Reloaded:The Green Movement and theStruggle for Iran’s Future (2011).Sebagai seorang Muslim dan pecintademokrasi, dia kecewa pada narasiyang umum beredar mengenai Islamdan demokrasi. Dalam buku ini,yang berasal dari disertasinya diUniversitas Toronto, Kanada, dia3


Edisi 004, Oktober 2011Review Bukuberdarah-darah dalam perkataan danperbuatan mereka, kata Hashemi, takjauh beda dari apa yang dilakukanTaliban dan kalangan ekstremislainnya di dunia Islam hari-hari ini.Jika kesamaan-kesamaan bisa ditarikantara apa yang dulu terjadi diBarat dan apa yang kini berlangsungdi dunia Islam, kita juga dapatmelihat sejumlah kemungkinanbagaimana kalangan agama, termasukkelompok ekstremnya, bisa memberisumbangan kepada demokratisasi,baik langsung atau tidak. Salah satupelajaran itu adalah bahwa kaumekstremis agama bisa berlaku sebagaisemacam bidan bagi berlangsungnyaproses demokratisasi. Itu antaralain terjadi ketika perilaku fanatikatau ekstremis menjadi semacamkatalisator yang memberi petunjukbahwa perubahan harus terjadi, jikakita tak mau mati. Dengan kata lain,bahkan ekstremisme dan fanatismepun pada akhirnya adalah sebuahpelajaran buruk yang harus dihindari.Hashemi percaya pada siklus regressi,perbaikan, dan pembaharuan.na a k a t s u p r e Pw w w. m u s l i m d eDi vi si M u s6


Edisi 004, Oktober 2011Review Bukul i m D e m o k r a t i sDi gi t am o k r a t i s . c o mlPada Bab II, Hashemi beralihkepada kemungkinan agama sebagaisumber positif bagi demokrasi.Dia memokuskan perhatian padapandangan Locke tentang agama,dengan mengutip pernyataannyaini: “For obedience is due in thefirst place to God, and afterwardsto the Laws.” Parhatikan bahwa,kata Hashemi, pandangan itu,yang menomorsatukan titah Tuhandaripada hukum sekular, tidak datangdari seorang Ayatullah Khomeini,tetapi seorang John Locke, salahsatu pemikir terpenting, jika bukanbapak, liberalisme modern. Inimengisyaratkan bahwa menjadireligius dan demokrat pada saat yangbersamaan bukanlah sesuatu yangmustahil.Sekarang, kata Hashemi, baikkalangan sekularis maupun kalanganIslamis yang pro- dan antidemokrasidi dunia Islam sama-samamendasarkan diri pada penafsirantertentu terhadap sumber-sumberkeagamaan. Dia menyabut fenomenaini sebagai “duel ayat.” Soalnya7


Edisi 004, Oktober 2011Review Bukuadalah sejauhmana kalangan prodemokrasiberhasil memenangkanduel ini, dan membuka ruang bagidemokratisasi lebih jauh.Sesudah melihat kemungkinansumbangan agama di atas, pada babketiga Hashemi beralih kepada soalsekularisme. Dia mendiskusikanpandangan umum bahwa sekularismeadalah sesuatu yang wajib ada (sinequa non) bagi demokrasi liberal.Bagi Hashemi, dan dia jelas benar,di sinilah terletak ketegangan palingna a k a t s u p r e Pw w w. m u s l i m d eDi vakut antara agama dan demokrasi.Dia tak langsung menentang hal ini,tapi mencatat satu fakta penting:sementara di Barat sekularismedikaitkan dengan perkembanganperkembanganpositif, di dunia Islamhal itu diasosiasikan dengan agendaagendakolonial/imperialis, rezimrezimopresif, dan sikap bermusuhanterhadap agama seperti dicontohkanoleh versinya yang lebih kaku diPerancis (laïcité).i si M u sDari latar belakang ini, yangdiperlukan sekarang, menurut8


Edisi 004, Oktober 2011Review Bukul i m D e m o k r a t i sDi gi t am o k r a t i s . c o mlHashemi, adalah hubungan yangmemadai antara sekularismedan demokrasi liberal. Inimengantarkannya pada pembahasanmengenai beragam bentuksekularisme. Pada titik ini,dia menemukan bahwa konsepilmuwan politik Alfred Stepantentang “toleransi kembar” sangatmenjanjikan. Jantung konsepStepan, yang menyatakan bahwa baiklembaga-lembaga agama maupunnegara harus saling mengakui danmenghargai kebebasan dan batasnyamasing-masing (dengan kata lain:toleransi kembar), membukakemungkinan paling besar bagikedua belah pihak untuk salingmengakomodasi.Pada bagian akhir bukunya, yangdapat disebut sumbangan khususnya,Hashemi menawarkan dibangunnyasekularisme “asli” versi Islam,berdasarkan “toleransi kembar”model Stepan dan reformasimenyeluruh atas pemikiran Islam.Studi-studi kasusnya dari Iran,Turki dan Indonesia menunjukkan9


Edisi 004, Oktober 2011Review Bukubahwa ada perdebatan serius di sanamenyangkut perlunya perumusanulangpemikiran sosial dan politikdari dalam, dalam cara-cara yangsejalan dengan warisan ajaran Islam.Ini semua bukan modal yang sedikit.Buku ini menawarkan cara pandangbaru terhadap masalah kompatibilitasIslam dan demokrasi. ArgumenHashemi secara langsung danmeyakinkan menentang argumenyang esensialis dan ahistoris,tapi populer, mengenai “Islamsebagai pengecualian” (Islamisexceptionalism) seperti yangdikembangkan sejarawan BernardLewis. Hashemi juga menolak tegaskonsepsi ilmuwan politik SamuelHuntington yang juga populermengenai “benturan peradaban”(clash of civilizations) yang secaralangsung menghadap-hadapkanIslam dan Barat. Dengan melihatkesejajaran antara sejarah Baratdan Islam, Hashemi justru inginmengajak para pembacanya untukmemandang masalah ini sebagaina a k a t s u p r e Pw w w. m u s l i m d eDi vi si M u s10


Edisi 004, Oktober 2011Review Bukumasalah manusia bersama dan harusdipecahkan bersama.l i m D e m o k r a t i sDi gi t am o k r a t i s . c o mlArgumen Hashemi akan memperolehtantangan baik dari kubu liberalmaupun Islamis. Bagi sebagiankalangan liberal, dia akan dipandangsebagai terlalu banyak meletakkandasar demokrasi liberal pada agama.Sebaliknya, kalangan Islamis akanmempertanyakan asumsi-asumsi yangmendasari mengapa demokrasi liberaldianggap sebagai model tatakelolasosial-politik yang paling baik.Tapi karya ini jelas akan disambutgembira oleh kalangan Muslimdemokrat yang sudah gerah baikterhadap konservatisme Islam, yangdi banyak negara seperti Mesir danYaman mendukung otoritarianisme,maupun Islamisme, yang di negaranegaraseperti Iran dan Sudanmenjadi alasan bagi pembangunanteokrasi. Selanjutnya, merekamenunggu dari Hashemi dan sarjanasarjanaMuslim lain yang bekerjadalam arah yang serupa, misalnya11


Edisi 004, Oktober 2011Review BukuAbdullahi Ahmed An-Na`im,elaborasi lebih jauh dari prinsipprinsipdasar tentang Islam dandemokrasi yang sudah mereka susun.P e r p u s t a k a a nw w w. m u s l i m d e© 2011Review Buku ini diterbitkan oleh DivisiMuslim Demokratis.Jika Anda berminat mendapatkan buku(ebook) yang direview, silakan isiform permintaan.Di vi si M u sKode buku: NHI00112

More magazines by this user
Similar magazines