prospek perkembangan ekspor dan investasi tetap di ... - Active

kadin.indonesia.or.id

prospek perkembangan ekspor dan investasi tetap di ... - Active

Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammePOLICY PAPER, DESEMBER-II 2012PROSPEK PERKEMBANGAN EKSPOR DANINVESTASI TETAP DI INDONESIA 2013Daftar IsiTeam○ ○ ○ ○ ○ ○ ○○ ○ ○ ○ ○ ○○Pendahuluan 1○ ○ ○ ○ ○ ○○Faktor-faktor Penentu Pertumbuhan Ekspor 1○ ○ ○ ○ ○ ○Faktor-faktor Penentu Investasi 17○○ ○ ○ ○ ○ ○○Catatan Akhir: Prospek Bagus 2013 23○ ○ ○ ○ ○ ○○Daftar Pustaka 28i


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeTeamPenulis :Tulus TambunanSteering Commitee1. Hariyadi B. Sukamdani2. Emirsyah Satar3. Maxi Gunawan4. Rahardjo JamtomoActive Team1. Didik J. Rachbini - Executive Director2. Tulus Tambunan - Senior Economist and Project Team Leader3. Rasidin Sitepu - Junior Economist4. M. Hakim - Legal Councel5. Yohanna M.L Gultom - Social Scientist6. Aslim Nurhasan - PR Professional/ExpertTulisan ini merupakan hasil pemikiran Tim Advokasi Program ACTIVE.Pertanyaan yang berkaitan dengan tulisan ini dapat diajukan kepada Tim ACTIVE Kadin Indonesiadi info.active@kadin-indonesia.co.idi


1. PendahuluanSejak krisis keuangan Asia 1997/98 hinggasekarang ini pengeluaran rumah tangga(konsumsi swasta) memegang peranan kuncisebagai motor penggerak pertumbuhan produkdomestik bruto (PDB) Indonesia. Ini tidak salah,namun untuk pertumbuhan ekonomi nasionaljangka panjang konsumsi swasta sebagai faktorpenentu utama bisa menjadi sebuah masalahbesar. Pembentukan modal tetap bruto(investasi jangka panjang) adalah motor utamapenggerak pertumbuhan ekonomi nasionaljangka panjang. Stok barang dan jasa yangdiperdagangkan (dijual di pasar) suatu saat akanhabis dan berarti perlu produksi baru danvolumenya akan terus bertambah mengikutipertumbuhan penduduk dan peningkatanpendapatan riil per kapita. Untuk itu diperlukaninvestasi baik untuk menambah mesin ataumengganti yang ada dengan yang baru danmemperluas tempat produksi (pabrik, gudang,dan gedung perkantoran). Selain itu, denganjumlah penduduk yang begitu banyak yangberarti suplai tenaga kerja yang akan terusbertambah setiap tahun, Indonesia sudah pastiakan sangat membutuhkan investasi tetap.Demikian juga halnya dengan ekspor, khususnyaekspor non-migas, terutama lagi ekspormanufaktur sangat krusial bagi perekonomianIndonesia, bukan saja untuk peningkatankesempatan kerja secara keseluruhan (lewatketerkaitan produksi ke belakang dan ke depanantara industri ekspor dan sektor-sektorekonomi lainnya), tetapi juga sebagai sumberutama pendapatan devisa (menggantikan peranpinjaman luar negeri), karena yang terakhir iniIndonesia sangat perlukan untuk pembayaranbarang-barang impor kebutuhan dalam negeriyang Indonesia belum mampu membuatnyaatau akan kurang efisien untuk diproduksi didalam negeri.Berdasarkan pemikiran di atas tersebut,tujuan utama dari policy paper ini adalahmeninjau kembali perkembangan investasitetap dan ekspor Indonesia dalam beberapatahun belakangan ini, dan kondisi dari faktorfaktorpendukungnya (atau yangmempengaruhi perkembangan tersebut).Berdasarkan hasil tinjauan kembali tersebut,dan berdasarkan pandangan-pandangan/opinisejumlah narasumber yang dikutip dari mediamasa, policy paper ini menjabarkan prospekperkembangan investasi tetap dan eksporIndonesia tahun 2013.2. Faktor-faktor penentuPertumbuhan Ekspor2.1. Pembahasan Kerangka TeoriPertumbuhan dan perkembangan(diversifikasi pasar serta produk danpendalaman) ekspor dipengaruhi secarabersamaan oleh banyak faktor, yang menurutsifatnya (endogen/bisa dikontrol versuseksogen/tidak bisa dikontrol) bisadikelompokkan ke dalam dua kategori, yaknifaktor-faktor di sisi permintaan dan faktorfaktordi sisi penawaran (Gambar 1). Faktorfaktordi sisi permintaan bersifat eksogen bagiIndonesia, termasuk perubahan harga di pasarinternasional untuk semua produk yangIndonesia ekspor. Karena menurut laporantahunan dari WTO, berdasarkan sumbangannyaterhadap nilai total ekspor dunia, Indonesiahingga saat ini tidak termasuk negara-negaraeksportir penting untuk hampir semua barangdan jasa yang diperdagangkan secarainternasional. Jadi dalam perdagangan dunia,Indonesia bukan penentu harga, melainkanprice taker. Pemerintah Indonesia hanya bisamempengaruhi harga dalam mata uang asingdari produk-produk ekspor Indonesia lewatperubahan kurs rupiah (devaluasi ataurevaluasi).Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programme1


Gambar 1: Faktor-faktor Penentu Daya Saing dan Kinerja Ekspor di Tingkat Makro (Negara)Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeSisi PenawaranSDM: kualitas & upahTeknologi & kemampuaninovasiPendanaanBahan baku/SDAInfrastruktur & logistikIndustri pendukungEnerjiInformasiKebijakan ekspor-imporKebijakan sektoralEksporKebijakan/kesepakataninternasional/regional/bilateralSumber: dikutip dari Gambar 1 di Tambunan dan Sitepu (2012).Faktor-faktor yang bersifat endogen bagiIndonesia adalah dari sisi penawaran yangmeliputi sumber daya manusia (SDM),ketersediaan/penguasaan teknologi dankemampuan melakukan inovasi di tingkatperusahaa, pendanaan yakni ketersediaanpinjaman dan skim-skim pendanaan ekspor danimpor dari sektor perbankan dan lembagakeuangan lainnya, ketersediaan bahan bakubukan hanya dalam arti jumlah tetapi jugakualitas dan harga (walaupun untuk faktor satuini sifat endogennya terbatas), infrastruktur danlogistik dalam kuantitas dan kualitas,pembangunan industri-industri pendukung yangmembuat komponen, barang-barang modal danperantara dan mengolah bahan baku (di dalamSisi PermintaanPermintaan Luar Negeri (LN)Jumlah penduduk LNPendapatan LNKebijakan/peraturanpemerintahHarga LNKurs rupiahmodel “berlian” mengenai konsep daya saingekonomi dari M. Porter, industri pendukungtermasuk diantara empat pilar utama dayasaing), enerji dalam kuantitas, kualitas danharga, ketersediaan informasi, dan kebijakankhusus ekspor.Yang membuat faktor-faktor di sisipenawaran ini semakin kompleks dari sudutpandang kebijakan pemerintah adalah bahwamasing-masing dari faktor-faktor tersebutmewakili sektor masing-masing, dan ini berartiberbagai kebijakan sektoral secara tidaklangsung juga berpengaruh terhadap tingkatdaya saing dan kinerja ekspor. Misalnya dalamhal SDM: kebijakan dari Kementerian2


Pendidikan turut serta mempengaruhiketersediaan pekerja-pekerja terampil siappakai bagi perusahaan-perusahaan eksportir.Demikian juga, UU Perburuhan sangatmempengaruhi kondisi pasar tenaga kerja diIndonesia yang berarti juga daya saingperusahaan-perusahaan eksportir, khususnyayang padat karya, seperti industri tekstil danpakaian jadi dan industri alas kaki. Demikian jugakebijakan moneter, misalnya dalam penentuansuku bunga pinjaman atau nilai tukar rupiah,sangat berpengaruh terhadap kegiatan ekspor.Tingkat suku bunga yang terlalu tinggi membuatbiaya produksi meningkat yang berartimengurangi daya saing harga dari eksporIndonesia, yang selanjutnya menurunkanpermintaan dunia terhadap ekspor Indonesia.Nilai tukar rupiah yang terlalu tinggi jugamembuat daya saing harga dari ekspor Indonesiamenurun relatif dibandingkan harga dari produkyang sama buatan negara lain.Selain dibedakan menurut sifatnya sepertiyang diuraikan di atas tersebut, faktor-faktoryang mempengaruhi tingkat daya saing dankinerja ekspor bisa juga dibedakan menuruttingkatnya, yakni pada tingkat makro dantingkat mikro. Di tingkat makro adalah yangtelah dibahas tersebut di atas, yakni faktorfaktordi sisi permintaan dan sisi penawaranyang mempengaruhi daya saing dan kinerjaekspor nasional secara keseluruhan.Sedangkan di tingkat mikro adalah mengenaidaya saing ekspor dari sebuah perusahaansecara individu. Tingkat daya saing sebuahperusahaan tercerminkan dari tingkat dayasaing dari produk yang dihasilkan olehperusahaan tersebut. Dalam gilirannya, dayasaing dari perusahaan tersebut ditentukan olehbanyak faktor, tujuh diantaranya yang sangatpenting adalah: keahlian atau tingkatpendidikan pekerja, keahlian pengusaha,ketersediaan modal, sistem organisasi danmanajemen yang baik (sesuai kebutuhanbisnis), ketersediaan teknologi, ketersediaaninformasi, dan ketersediaan input-inputlainnya seperti enerji, bahan baku, dan lainnya(Gambar 2).Gambar2.Daya Saing Produk dan Faktor-Faktor Utama Penentunya di Tingkat PerusahaanKeahlianPekerjaDaya Saing ProdukDaya Saing PerusahaanFaktor-faktor Penentu Daya Saing PerusahaanKetersediaanmodalKetersediaaninformasiAdvancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeKeahlianpengusahaOrganisasi danmanajemen yang baikKetersediaanteknologiKetersediaaninput lainnyaSumber: dikutip dari Gambar 2 di Tambunan dan Sitepu (2012).3


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeDua faktor pertama tersebut adalah aspekSDM, yang mana, keahlian pekerja tidak hanyadalam teknik produksi (antara lan disainproduk dan proses produksi), tetapi juga teknikpemasaran dan dalam penelitian danpengembangan (R&D). Sedang keahlianpengusaha terutama adalah wawasan bisnis,dan yang dimaksud di sini adalah wawasanmengenai bisnisnya dan juga lingkunganeksternalnya (antara lain perkembangan saatini dan ke depan dari pasar ekspor yangdilayani dan juga dari pasar-pasar eksporlainnya yang belum dilayani, kondisipersaingan (termasuk calon-calon pesaingyang akan muncul), dan segala macamperaturan pemerintah atau dunia (sepertidalam konteks World Trade Organisation(WTO) dalam perdagangan internasional)mengenai perdagangan, produksi daninvestasi di bidang bisnisnya. Sedangkan yangdimaksud dengan lingkungan eksternalnyaadalah kebijakan-kebijakan ekonomi umumseperti kebijakan moneter, kebijakan fiskal,dan kebijakan perdagangan luar negeri,kecenderungan dari perubahan seleramasyarakat, perubahan sosial-budaya yangbisa mempengaruhi dalam jangka panjangpermintaan atau persepsi pembeli(masyarakat) terhadap produknya, dan lainlain).Wawasan pengusaha yang luas jugasangat penting bagi inovasi, dan bukan lagirahasia umum bahwa inovasi merupakan kunciutama daya saing. Bahkan banyak literaturmenyatakan bahwa banyak faktor yangmenentukan kemampuan perusahaanmelakukan inovasi, diantaranya adalahkreativitas pengusaha, dan yang terakhir ini,pada gilirannya, ditentukan oleh wawasannyamengenai bisnis yang ditekuninnya (Shahid,2007).2.2. Bukti empiris2.2.1 Kondisi dari Beberapa FaktorPendukungSalah satu sumber yang menunjukkankondisi dari sejumlah faktor penentu dayasaing Indonesia adalah laporan tahunan dariWorld Economic Forum. Dalam menganalisisdaya saing global dari sebuah negara/ekonomi,WEF mengelompokkan sejumlah faktor kedalam tiga kolompok (tiga sub-indeks).Pertama, persyaratan-persyaratan dasar sepertikelembagaan, infrastruktur, kondisi (stabilitas)ekonomi makro dan tingkat pendidikan sertakesehatan masyarakat. Faktor-faktor inidianggap sebagai motor utama penggerakproses/pertumbuhan ekonomi. Secara empiris,faktor-faktor ini sudah terbukti berkorelasipositif terhadap pertumbuhan ekonomi.Kelompok kedua adalah faktor-faktor yang bisameningkatkan efisiensi (atau produktivitas)ekonomi seperti pendidikan tinggi danpelatihan (kualitas sumber daya manusia),kinerja pasar yang efisien, dan kesiapanteknologi di tingkat nasional maupunperusahaan secara individu, dan luas pasardomestik. Kelompok ketiga adalah faktorfaktorinovasi dan kecanggihan proses produksidi dalam perusahaan yang secara bersamamenentukan tingkat inovasi suatu negara.Laporan WEF untuk periode 2012-2013menunjukkan posisi Indonesia di peringkat 50(dari 144 negara) yang berarti relatif memburukdibandingkan periode sebelumnya (2011-2012)yakni di peringkat 46 (dari 142 negara), atauuntuk periode 2010-2011 di peringkat 44 (dari139 negara). Selanjutnya, peringkat Indonesiauntuk masing-masing faktor penentu daya saingdapat diihat di Tabel 1.Selain itu, di dalam survei, para responndenyakni pimpinan perusahaan/ceo dari semuaskala usaha dan di sektor-sektor besar(berdasarkan pangsa PDB) seperti industri,pertanian, pertambangan dan perdaganganditanya mengenai kendala-kendala utama yangmereka hadapi dalam menjalankan usaha diIndonesia. Hasilnya menunjukkan bahwamasalah paling serius adalah birokrasipemerintah yang tidak efisien, disusul di4


Tabel 1: GCI versi WEF dari Indonesia, 2012-2013Persyaratan dasar (40%)1.Kelembagaan2.Infrastruktur3.Stabilitas ekonomi makro4.Kesehatan dan pendidikan dasarPendorong efisiensi (50%)5.Pendidikan tinggi dan pelatihan6.Efisiensi pasar barang dan jasa7.Efisiensi pasar tenaga kerja8.Kecanggihan pasar keuangan9.Kesiapan teknologi10.Luas pasar domestikFaktor-faktor inovasi dan kecanggihan (10%)11.Kecanggihan bisnis12.InovasiSumber: WEF (2012)peringkat kedua dan ketiga oleh, masingmasing,masalah korupsi dan kurangnyainfrastruktur. Salah satu yang menyolot dariTabel 1 di atas tersebut adalah buruknya posisiIndonesia dalam hal infrastruktur. Memangfaktor ini hingga saat ini masih merupakan salahsatu penghambat serius bagi peningkatan dayaCIPeringkat (dari 144 negara)505872782570587363120saing global Indonesia, baik dalam perdagangan(khususnya ekspor) maupun dalam menarikinvestasi asing, khususnya penanaman modalasing (PMA). Berikut, beberapa gambar dantabel di bawah ini bisa memberikan fakta yangleibih jelas mengenai kondisi infrastruktur ditanah air.Gambar 3Peringkat Dunia Negara-negara ASEAN untuk Infrastruktur Versi WEF, 2012708516404239Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeSumber: dikutip dari Gambar 2 di Tambunan (2012) (data: WEF, 2012).5


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeGambar 4Peringkat dan Skor Infrastruktur Indonesia Versi WEF, 2009-2012Sumber: dikutip dari Gambar 3 di Tambunan (2012) (data: WEF, beberapatahun terakhir).Tabel 2. Peringkat Indonesia untuk Infrastruktur Menurut Komponen Versi WEF, 2012No Komponen Nilai Peringkat123456789Kualitas infrastruktur secara keseluruhanKualitas jalanKualitas infrastruktur jalan kereta apiKualitas infrastruktur pelabuhanKualitas infrastruktur transportasi udaraKetersediaan tempat duduk pesawat terbang kilometers/minggu, juta orangKualitas listrikPembelian/pendaftaran telefon bergerak (seluler)/100 pendudukJalur telefon tetap/100 penduduk3,73,43,23,64,21.794,93,9Sumber: dikutip dari Tabel 1 di Tambunan (2012) (data: WEF, beberapa tahun terakhir).Demikian juga untuk logistik, kondisiIndonesia sangat buruk. Logistics PerformanceIndex (LPI) tahun 2010 dari Bank Duniamenempatkan Indonesia pada posisi ke 75 dari150 negara yang disurvei. LPI Indonesiamengalami penurunan dari tahun 2009 yangberada pada posisi 43 (berarti sempat membaikdibandingkan peringkat pada tahun 2007 yaknike 47). Biaya logistik di Indonesia memangsangat tinggi, hal tersebut dapat dilihat dariperingkat dunia di mana Indonesia berada di97,715,9929051104892093peringkat 92 dari total 150 negara. Semakinbesar persentase biaya logistik terhadap PDBmencerminkan semakin rendah tingkat efisiensilogistik. Menurut harian Kompas November2011 1 ,di Indonesia, biaya logistik sekitar 17persen dari total biaya produksi, dibandingkanMalaysia hanya 8 persen, Filipina 7 persen, danSingapura 6 persen. Dari data biaya logistiknasional tahun 2010, nilai bisnis logistikIndonesia diperkirakan Rp 1.402 triliun, atausekitar 26 persen dari total PDB, dan Asosiasi90781 Harian Kompas, “Infrastruktur. Logistik dan Daya Saing”, Ekonomi, Rabu, 16 November 2011, halaman 17.6


Perusahaan Jasa Ekspres Indonesiamemperkirakan bahwa pada tahun 2011 bisnislogistik sekitar Rp 9,9 triliun, atau tumbuh 10persen dari tahun 2010. Sebenarnya, 26 persen itumenunjukkan ada sedikit perbaikan, karenamenurut Bank Dunia pada tahun 2007persentasenya adalah 30 (Gambar 5). Satucontoh, biaya pergudangan (inventory carryingcost) sekitar Rp 421 triliun, biaya transportasi Rp841 triliun, dan biaya administrasi Rp 140 triliun.Gambar 5.Biaya Logistik (% PDB) menurut beberapa negara, 2007Sumber: dikutip dari Rachbini (2012) (data: Bank Dunia, 2010)Sedangkan menurut harian KompasDesember 2012 2 , biaya logistik di Indonensiamencapai 25 persen dari total nilai barang yangdiperdagangkan. Angka itu jauh lebih tinggidibandingkan AS (10%), Jepang (10-11%), danNegaraSingapuraJepangASMalaysiaTaiwanKoreaSelatanChinaThailandIndonesiaVietnamFilipinaIndiaTabel 3: Indeks Perdagangan Beberapa Negara, 2012Peringkatsemuakategori118232429345657586872100Peringkat subkategoriAkses pasar Administrasiperbatasan1986032101115108591741141301820393125454765947277Sumber: dikutip dari harian Kompas (lihat cacatan kaki no.2).Korea Selatan (16%). Buruknya logistik daninfrastruktur Indnesia dalam kaitannya denganperdagangan luar negeri dapat juga dilihat diTabel 3 yang dikutip dari harian Kompas tersebutyang menunjukkan kemampuan sebuah negaraInfrastrukturtransportasi dankomunikasi11415201911484677569184Lingkunganperusahaan526423022574576776910724Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programme2 Harian Kompas, “Biaya Logistik 25 Persen”, Ekonomi, Rabu, 26 Desember 2012, halaman 177


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programmemelakukan perdagangan luar negeri. Menurutkedua harian Kompas tersebut, penyebabtingginya biaya logistik di Indonesia tersebutantara lain adalah: (i) kondisi pelabuhanpelabuhanlaut di dalam negeri yang masihburuk hingga saat ini; (ii) buruknyainfrastruktur dan sistem transportasi. Antreanpanjang truk yang sering terjadi di pelabuhanMerak menjadi salah satu contoh konkret, (iii)regulasi yang terlalu banyak mengaturretribusi serta pungutan-pungutan liar, dantidak diragukan lagi, hal ini menjadi sangatserius sejak diterapkannya otonomi daerahdan desentralisasi fiskal, and (iv) panjangnyamata rantai distribusi. Misalnya containertujuan Eropa harus melalui Singapura atauMalaysia dulu.Dalam hal upah, akhir-akhir ini terlihatbahwa desakan para pekerja akan kenaikanupah semakin besar. Seperti di DKI Jakarta UMRRp 1.2 juta/bulan telah berubah menjadi Rp. 2.2juta/perbulan. Tentu ini menjadi bebantambahan yang besar bagi industri, dan yangpasti kenaikan upah ini akan menekan dayasaing industri karena biaya yang semakin besar.Dengan memakai sebuah model ekonometrisederhana, Tabel 4 memperlihatkan dampakdari kenaikan upah terhadap kinerja industri.Dalam simulasi ini scenario yang ditetapkanadalah peningkatan upah sebesar 10 persen.Tabel 4. Dampak Kenaikan Upah terhadap Kinerja Industri ManufakturEndogen Satuan BaselineSkenario Upah Naik 10 %Nilai %∆Output Rp Triliun 2,208.33 2,198.87 -0.428Export Rp Triliun 589.75 579.88 -1.674Jumlah Tenaga Kerja Ribu Orang 4,501 4,483 -0.399Permintaan Energy Juta Liter 35,323.24 35,090.47 -0.659Pada Tabel 4 terlihat bahwa kenaikan upahsebesar 10 persen berdampak pada penurunanoutput sebesar 0.42 perse. Penurunan outputini akan searang dengan menurunkan kinerjaekspor sebeasr 1.67%. Rendah kinerja industryyang ditunjukkan oleh turunnya ekspor danoutput, maka industry akan meresponnyadengan mengurangi permintaan akan tenagakerja sebesar 0.39 persen atau turun sebesar232 orang. Penurunan ini dapat berupakurangnya serapan tenaga kerja baru ataupunpermberhentian tenaga kerja (PHK). Tentu sajahal ini akan mendorong peningkatanpengangguran secara nasional.Dalam hal energi, sektor industri masihmendominasi konsumsi energi, denganpemakaian sebesar 329,7 juta SBM (setara barrelminyak) atau 49,86% dari total konsumsi energinasional. Di tempat kedua, sektor transportasimenyumbang konsumsi sebesar 226,6 juta SBM(32.26%). Sementara rumah tangga danbangunan komersial masing masingmenggunakan 81,5 juta SBM (10,31%) dan 29,1juta SBM (3,62%).Tren peningkatan permintaan energi dariindustri dari tahun ke tahun merupakan suatutantangan dalam penyediaan pasokan energiuntuk sektor industri di Indonesia, dalam rangkauntuk mendukung industri yang beroreantasiekspor (Gambar 6). Saat ini terdapat sekitar 10perusahaan yang menggunakan energi terbesardi Indonesia, adalah (1) PT Krakatau Steel (besi8


aja), (2) PT Panca Citra Wira Brothers (tekstil),(3) PT Semen Gresik (semen), (4) PT GTPetrochem Industri (kimia), (5) PT MulyaKeramik Indah Raya (keramik), (6) PT PetrokimiaGresik (kimia), (7) PT Semen Padang (semen),(8) PT Colorindo Aneka Chemicals (kimia), (9)PT Golden Island Texstile Ind (tekstil), dan (10)PT Sugih Brothers (tekstil). Konsumsi energi jugadi sektor Industri terlihat dari tahun ke tahunmengalami peningkatan. Sehingga menjadisuatu signal bagi pemerintah untuk menyediakanpasokan yang cukup bagi industri di Indonesia.Gambar 6.Konsumsi Energi Final Berdasarkan Sektor, 2006-2010 (BOE)Sumber: Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2011Berdasarkan Data Industri Besar Sedang(Survei IBS), terlihat bahwa input yangdigunakan dalam porses produksi adalah tenagakerja, bahan baku dan pelumas, bahan bakupenolong, listrik dan non listrik, dan inputlainnya. Komponen pengeluaran terbesar diIndustri secara agregat adalah biaya untuk bahanbaku penolong sebesar 644,93 trilun (76.67%),kemudian diikuti oleh biaya tenaga kerjasekitar 77.95 triliun (9.27%), dan bahan bakardan pelumas Rp 30,52 (3.63%). Lebih lengkapkomponen biaya dan proporsi biayaditampilkan pada Tabel 5 dan Tabel 6. Sehinggamenjadi isu penting tenaga kerja, bahan bakudan bahan bakar menjadi isu utama dalamproses industrialisasiTabel 5. Komponen Biaya Industri di Indonesia, (Rp Triliun)Input Produksi 2006 2007 2008 2009Tenaga Kerja 77.95 70.45 82.81 82.70Bahan Bakar dan Pelumas 27.81 39.18 45.38 39.07Bahan Baku Penolong 644.93 797.22 1,028.48 1,039.59Listrik dan Non Listrik 26.90 33.24 35.80 36.66Lainnya 60.87 132.72 149.46 134.96Total 838.46 1,072.81 1,341.93 1,332.97Sumber: IBS, 2006-2009Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programme9


Tabel 6. Share per Jenis Biaya terhadap Total Biaya Industri di IndonesiaAdvancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeKomponen Biaya 2006 2007 2008 2009 RerataTenaga Kerja 9.27 6.57 6.17 6.20 7.05Bahan Baku 3.63 3.65 3.38 2.93 3.40Bahan Baku Penolong 76.67 74.31 76.64 77.99 76.40Listrik dan Non Listrik 3.20 3.10 2.67 2.75 2.93Lainnya 7.24 12.37 11.14 10.12 10.22Total Share 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00Sumber: IBS, 2006-2009Hingga tahun 2009, porsi penggunaan bahanbakar dan pelumas bagi industri mencapai 39.07Triliun. Dimana komponen energi terbesardisumbangkan oleh bahan bakar Solar sekitar Rp71,387.15 miliar, sedangkan pengeluaranIndustri untuk energi terbesar kedua adalahbatubara, yaitu Rp. 17.040,86 miliar. Hal inimenunjukkan bahwa input produksi yangberasal dari bahan bakar dan pelumas bagiindustri cukup penting dalam rangka untukmeningkatkan daya saing industri di Indonesia.Nilai pengeluaran energi dan proporsiberdasarkan jenis energi yang digunakanIndustri di Indonesia ditampilkan pada Tabel 7.Tabel 7. Biaya dan Proporsi Berdasarkan Jenis Energi yang digunakan Industri di IndonesiaJenis Energy 2006 2007 2008 2009 TotalPremiumRp Miliar 1,265.05 2,422.29 2,347.18 2,407.72 8,442.24% 4.55 6.18 5.17 6.16 5.57Solar Rp Miliar 13,605.96 19,300.65 21,391.18 17,089.36 71,387.15% 48.92 49.27 47.14 43.74 47.14Minyak TanahBatu BaraGasLPGRp Miliar 283.97 877.11 405.64 378.38 1,945.11% 1.02 2.24 0.89 0.97 1.28Rp Miliar 3,201.88 3,569.70 5,476.05 4,793.24 17,040.86% 11.51 9.11 12.07 12.27 11.25Rp Miliar 2,001.01 3,275.39 2,267.32 3,148.57 10,692.30% 7.19 8.36 5.00 8.06 7.06Rp Miliar 278.85 612.09 548.66 925.88 2,365.47% 1.00 1.56 1.21 2.37 1.56Lainya Rp Miliar 5,799.75 7,263.14 10,938.53 8,396.69 32,398.11% 20.85 18.54 24.11 21.49 21.39PelumasRp Miliar 1,376.10 1,854.70 2,003.55 1,928.86 7,163.21% 4.95 4.73 4.42 4.94 4.73Total Rp Miliar 27,812.58 39,175.07 45,378.11 39,068.69 151,434.45% 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00Sumber: IBS, 2006-200910


2.2.2 Perkembangan EksporData resmi menunjukkan bahwa padatahun 2012 (hingga November) neracaperdagangan luar negeri (NPLN) Indonesiamengalami defisit sebesar 4,8 miliar dollar AS(Tabel 8). Dilihat per bulannya, secara kumulatif,nilai ekspor Januari-November 2012 mencapai174,76 miliar dollar AS atau turun sekitar 6,25persen (Tabel 9). Menurut sektor, ekspor hasilindustri mengalami penurunan 4,64 persen,demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnyamerosot hampir 9,30 persen. Sedangkan eksporhasil pertanian meningkat sebesar 10,05 persen.Tabel 8 Nilai Perdagangan Luar Negeri Indonesia, 2009-2012 (miliar dollar AS)UraianEkspor: -non-migas-migasImpor: -non-migas-migasSurplus/defisit: -non-migas-migasKeterangan: * hingga November.Nilai2009 2010 2011 2012*97,519,077,819,019,70.0129,728,0108,227,421,50,6162,041,6136,640,725,4Sumber: Litbang Kompas (diolah dari data BPS), dikutip dari harian Kompas, Sabtu, 5/1/2013BulanJanuariFebruariMaretAprilMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovember(Ekonomi, halaman 17).Tabel 9 Ekspor-Impor Indonesia Menurut Bulan Selama 2012 (miliar dollar AS)NilaiEkspor Impor NPLN15,5715,7017,2516,1716,8315,4416,0914,0515,9015,6416,4414,5514,8716,3316,9417,0416,7316,3513,8115,3517,2116,920,91,02 (0,9;0,1)*0,83 (1,0; -0,1)0,93 (1,4; -0,5)-0,76 (-0,2; -0,6)-0,21 (-0,5;0,3)-1,29 (-0,8;-0,5)-0,26 (-0,4;0,1)0,23 (0,7;-0,5)0,55-1,57-0,48Keterangan: * (non-migas; migas)Sumber: Litbang Kompas (diolah dari data BPS), dikutip dari harian Kompas, Rabu, 3/10/2012(Ekonomi,halaman 17), dan Kamis, 3/1/2013 (Ekonomi, halaman 17).140,834,0137,238,83,5-4,8Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programme11


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeMenurut negara tujuan, Cina, Jepang danAmerika Serikat (AS) masih merupakan tiganegara tujuan utama ekspor Indonesia. Ekspornonmigas Indonesia pada Oktober 2012 ke tigapasar tersebut masing-masing mencapaiUS$1.821,8 juta, US$1.418,4 juta dan US$1.154,0juta, dengan peranan ketiganya mencapai 34,66persen. Penurunan ekspor nonmigas Oktober2012 jika dibandingkan dengan September2012 terjadi ke sebagian besar negara tujuanutama, yaitu India sebesar US$199,3 juta;Singapura sebesar US$85,1 juta; Malaysiasebesar US$54,1 juta; Korea Selatan sebesarUS$41,4 juta; Jepang sebesar US$38,7 juta; ASsebesar US$25,6 juta; Jerman sebesar US$4,2juta; dan Inggris sebesar US$1,2 juta Sebaliknya,ekspor ke Cina mengalami peningkatan sebesarUS$144,5 juta, diikuti Australia sebesar US$97,5juta; Taiwan sebesar US$47,8 juta; Thailandsebesar US$7,5 juta; dan Perancis sebesar US$5,0juta. Sementara, ekspor ke Uni Eropa (27negara) pada Oktober 2012 mencapai US$1.482,3juta. Secara keseluruhan, total ekspor ketigabelas negara tujuan utama di atas turun 1,58persen (Tabel 10).Tabel 10. Ekspor Nonmigas Indonesia Menurut Negara Tujuan Januari–Oktober 2012Sumber: BPS, 201212


Secara sederhana, besarnya pengaruh darifaktor-faktor penentu ekspor terhadappertumbuhan ekspor Indonesia, terutama nilaitukar rupiah terhadap mata uang asing darinegara tujuan ekspor dan pendapatan (yangdiwakili oleh produk domestik bruto/PDB) dinegara tujuan ekspor, dapat dianalisis secaraempiris dengan model permintaan akan eksporyang difungsikan dengan nilai tukar dan PDBdisembilan (9) negara di dunia, yang secaramatematik dituliskan sebagai berikut:EXP = λ NER log( PDBW9) + εlog(it)0i+ λ1ilog(t)+ λ2idimanaEXP itNER itPDBW9 it= nilai ekspor di provinsi i pada tahunke t= nilai tukar rupiah terhadap dollarpada tahun ke t= PDB di 9 negara dunia pada tahunke t (yaitu AS, Uni Eropa, Singapura,Malaysia, Perancis, Jerman,Inggris, Cina dan Jepang).Dengan memakai data panel eksporIndonesia menurut provinsi, hasil estimasimodel ekspor daerah diperlihatkan diLampiran. Untuk variabel nilai tukar (NER)diperlakukan sama untuk setiap provinsi,sementara PDB dari 9 negara di duniadiperlakukan berbeda untuk setiap provinsi.Dapat dilihat bahwa nilai koefisien determinasiadalah sebesar R 2 =0.99, yang dapatdiintepretasikan bahwa 99% variasi di dalamekspor daerah dijelaskan oleh nilai tukar (NER)dan PDB di 9 negara tujuan ekspor. Responperubahan ekspor daerah terhadap perubahanpendapatan atau PDB sembilan negara terebutadalah elastis di setiap daerah, dalam artibahwa kenaikan PDB dari sembilan negaratersebut sebesar 1%, cateris paribus, akanititmeningkatkan permintaan akan ekspor lebih dari1%, dan secara statistik berbeda nyata dengannol. Berdeda halnya dengan respon perubahanekspor terhadap perubahan nilai tukar rupiahadalah inelastis. Artinya perubahan nilai tukarsebesar 1%, akan meningkatkan ekspor kurangdari 1%.Prospek ekspor Indonesia ke depan,menurut Menteri Perdagangan Gita Wirjawan(dikutip dari harian Kompas, Kamis, 3/1/2013),pada tahun 2013 diperkirakan NPLN Indonesiadiperkirakan masih akan defisit. Proyeksi inididasarkan pada kondisi ekonomi global yangjuga diperkirakan masih akan buruk. Lebihrincinya, pada tahun 2013 diperkirakanpermintaan dunia akan ekspor dari negaranegaraberkembang, termasuk Indonesia, masihakan lemah dan harga dari sejumlah komoditasprimer di pasar global juga masih akan melemahakibat merosotnya permintaan dunia. Dan yangterakhir ini sangat berarti bagi Indonesiamengingat bahwa sekitar 65,2 persen dari totalekspor Indonesia adalah komoditas-komoditaspertambangan, termasuk dinataranya: (i) batubara yang harganya di pasar internasionalmerosot tajam dari 130 dollar AS per ton ke 60-70dollar AS per ton, (ii) CPO yang harganya (rataratadi Rotterdam, Belanda) juga menurun darisekitar 1.200 dollar AS per ton pada awal tahun2012 (atau 1.126,1 dollar AS (Rp 10,8 juta) padatahun 2011) menjad 999,7 dollar AS (atau Rp 9,6juta) per ton belakangan ini, dan (iii) karet yangsemula harganya 4 dollar AS per kg. turun menjadi2,6 dollar AS per kg. (Kompas, Kamis, 3/1/2013; 9/1/2013) (Gambar 7).Menurut Kompas 3 , Gabungan PengusahaKelapa Sawit Indonesia (GAPKI), merosotnyapermintaan dunia terhadap CPO akan terusberlangsung selama kuartal pertama 2013.Walaupun volume ekspor CPO Indonesia tahunAdvancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programme3 Harian Kompas, “Biodiesel Solusi Sawit”, Ekonomi, Rabu, 9 Januari 2013, halaman 18.13


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeGambar 7Pergerakan Harga Beberapa Komoditas Strategis Indonesia, 2012(dollar AS per ton)Sumber: Litbang Kompas (diolah dari data Kementerian Perdagangan, Kementerian ESDM, danInternational Rubber Consortium), dikutip dari harian Kompas, Rabu, 9/01/2013(Ekonomi, halaman 18).tahun 2012 mencapai 18,1 juta ton senilai 21,6miliar dollar AS (Rp 208,5 triliun), naik dariekspor tahun 2011 senilai 19 miliar dollar AS (Rp171 triliun).Jika diurut nilai ekspor Indonesia per bulandan ditarik trennya sejak tahun 2011 hinggaNovember 2012, maka jelas bahwa nilai totalekspor Indonesia terus menurun. Pada bulanAgustus 2011 nilai total ekspor Indonesiatercatat sebanyak 18,65 miliar dollar AS dan padabulan November sebanyak 16,44 miliar dollarAS (Gambar 8).Gambar 8Perkembangan Nilai Total Ekspor Indonesia, Agustus 2011-November 2012 (miliar dollar AS)Sumber: Litbang Kompas (diolah dari data BPS), dikutip dari harian Kompas,Selasa, 2/10/2012 (Ekonomi, halaman 17).14


Sektor yang menunjukkan kinerja baikdalam ekspor adalah pertanian. Tidak kelihatanadanya dampak dari krisis ekonomi zone euroterhadap ekspor pertanian Indonesia. Memangdalam nilai menurun karena harga dari sejumlahkomoditas pertanian di pasar ekspor menurunnamun dalam volume terus bertambah. Padatahun 2007 nilainya tercatat 3.657,78 juta dollarAS dan pada tahun 2012 (hingga Oktober)tercatat 4.664, 30 juta dollar AS (Gambar 9).Namun menurut Menteri Pertanian Suswonoyang dikutip dari harian Kompas, Sabtu, 29Desember 2012 (Ekonomi, halaman 18), padatahun 2013 negara-negara tujuan eksporpertanian Indonesia seperti China, AmerikaSerikat, sejumlah negara Eropa, dan India akanmengalami pertumbuhan ekonomi yanglambat. Oleh sebab itu, neraca perdaganganpertanian Indonesia pada tahun 2013 diproyeksitidak akan jauh berbeda dengan pencapaiantahun 2012, dengan proyeksi surplus 16,7 miliardollar AS hingga paling besar 22,8 miliar dollarAS. Menurut data dari Kementerian Pertanian(dikutip dari Kompas yang sama), sampaidengan September 2012, surplus neracaperdagangan produk pertanian mencapai 16,93miliar dollar AS. Yang mengalami defisit adalahsubsektor tanaman pangan 4,44 miliar dollar AS,subsektor hortikultura 1,16 miliar dollar AS, dansubsektor peternakan 1,67 miliar dollar AS.Gambar 9: Perkembangan Nilai Ekspor Pertanian Indonesia, 2007-2012* (juta dollar AS)Keterangan: * hingga OktoberSumber: Litbang Kompas (diolah dari data Kementerian Perdagangan dan BPS), dikutipdari harian Kompas, Sabtu, 29/12/2012 (Ekonomi, halaman 18).Namun demikian, walaupun nilaimengalami penurunan pada tahun 2012dibandingkan 2011, ekspor industri pengolahannonmigas selama tahun 2012 menjadi andalandan diyakini akan tetap berperan penting bagipertumbuhan ekonomi nasional pada tahun2013. Sepeti yang dapat dilihat di Gambar 10,produk-produk andalan untuk ekspor adalahpengolahan kelapa/kelapa sawit, tekstil, besibaja, mesin-mesin, otomotif, pengolahankaret, elektronika, bubuk kertas dan kertas,pengolahan tembaga, timah dan lainnya.Salah satu produk lainnya itu yangpertumbuhannya sangat baik adalah mebel yangmenurut Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia(ASMINDO), selama Januari-September 2012pertumbuhan ekspornya sekitar 6,9 persen,atau nilainya mencapai 1,4 miliar dollar AS danhingga akhir tahun 2012 nilai ekspornyadiproyeksi mencapai 1,8 miliar dollar AS atauAdvancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programme15


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeGambar 10 Ekspor Industri Pengolahan Nonmigas Indonesia Menurut Kelompok Barang,September 2012 (%).Sumber: Litbang Kompas (diolah dari data Kementerian Perindustrian), dikutip dari harianKompas, Selasa, 18/12/2012 (Ekonomi, halaman 20).pertumbuhannya mencapai 8-10 persen.Ekspor mebel Indonesia sempat memburukpada tahun 2011 yang nilainya tercatat 1,76miliar dollar AS atau turun sekitar 10 persendari nilai ekspor tahun 2010 4 .Melemahnya NPLN membuatperkembangan nilai transaksi berjalan neracapembayaran Indonesia (NPI), yang terdiri daritransaksi barang, dan jasa (ekspor dan impor),dan pendapatan, dan transfer berjalan, jugamelemah. Seperti yang dapat dilihat di Gambar11, hingga triwulan (Tw) III tahun 2011 transaksiberjalan Indonesia masih positif; namun setelahitu cenderung terus defisit.Gambar 11: Perkembangan Transaksi Berjalan NPI 2010-2012 (juta dollar AS)Sumber: Litbang Kompas (diolah dari data BI), dikutip dari harian Kompas,Sabtu, 29/12/2012 (Ekonomi, halaman 17).4 Harian Kompas, “Ekspor Mebel Tumbuh di Tengah Krisis”, Ekonomi, Rabu, 9 Januari 2013, halaman 18. Menurut ASMINDO yangdikutip dari harian Kompas ini, karena Eropa sedang krisis ekonomi dan ekonomi AS sedang lesuh, maka pengusaha mebel Indonesiapada tahun 2013 akan lebih fokus pada pasar ASEAN. Selama ini perhatian kurang pada pasar ASEAN yang membuat pangsa pasarregional ini di dalam total ekspor mebel Indonesia kurang dari 10 persen atau hanya sekitar 90 juta dollar AS selama periode2012. ASMINDO menargetkan ekspor mebel ke ASEAN bisa tembus 150 juta dollar AS.16


3. Faktor-faktor PenentuInvestasi3.1. Pembahasan Kerangka TeoriSecara umum, lingkungan bisnis atau usahadapat didefinisikan sebagai kondisi-kondisi yangberlaku yang bisa mendorong atau, sebaliknya,menghambat perkembangan dan pertumbuhankegiatan-kegiatan usaha di semua sektor, atau,faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatankegiatandari sebuah perusahaan (http//www.quantum3.co.za/ CI%20Glossary).Berdasarkan literatur (a.l. Mathew, 2009), Secaraumum, sesuai sifatnya dilihat dari sisiperusahaan atau pelaku usaha, lingkungan usahabisa dibedakan antara lingkungan internal, atauyang terjadi di dalam sebuah perusahaan yangsepenuhnya bisa dikontrol oleh perusahaan, danlingkungan eksternal, yang terjadi di luarperusahaan yang sama sekali tidak bisadipengaruhi oleh perusahaan. Elemen-elemendari lingkungan internal adalah manusia, yaknipekerja dan pimpinan, material atau bahan baku,modal baik untuk pembiayaan kegiatan usahasehari-hari (modal kerja) maupun untukperluasan usaha (modal investasi), mesin danperalatan produksi (yang mengandung teknologitertentu) dan proses atau sistem manajemenyang diterapkan. Walaupun faktor-faktortersebut bisa dikontrol sepenuhnya olehperusahaan, dalam kenyataan sehari-hari,faktor-faktor tersebut tidak tertutup daripengaruh dari lingungan eksternal. Misalnya,ketentuan upah minimum bisa berdampaknegatif terhadap kondisi keuangan perusahaan,yang berarti menciptakan lingkungan internalyang tidak kondusif lewat faktor tenaga kerja.Atau contoh lainnya, kelangkahan bahan bakuseperti yang pernah dialami oleh produsenprodusenmeubel dari rotan akibat kebijakanpemerintah waktu itu yang memperbolehkanekspor rotan mentah menciptakan lingkunganinternal yang tidak kondusif lewat faktormaterial.Sedangkan lingkungan usaha eksternalterdiri dari enam elemen besar, yaknipemerintah, faktor-faktor legal, faktor-faktorgeo-fisik, faktor-faktor politik, faktor-faktorsosial-budaya, dan faktor-faktorkependudukan atau demografi. Ke enamelemen ini sama sekali tidak bisa dipengaruhioleh perusahaan secara individu; bahkanfaktor-faktor geo-fisik sama sekali diluarkontrol manusia. Selanjutnya, seperti yangdiperlihatkan oleh Gambar 2, ada dua macamlingkungan eksternal, yakni lingkungan mikro,yakni yang berhubungan langsung dengankegiatan sebuah perusahaan atau berpengaruhlangsung terhadap kegiatan sebuah usaha,yang disebut juga lingkungan operasi, dan,lingkungan makro yang mempengaruhi tetapitidak berkaitan langsung dengan kegiatansebuah perusahaan.Lingkungan eksternal mikro terdiri daripemasok bahan baku, alat-alat produksi, danlainnya; pembeli (masyarakat dan usaha; dalamdan luar negeri), perantara (dalam pemasaran,distribusi dan pendanaan); dan masyarakat/publik (termasuk media). Sedangkan linkunganeksternal makro terdiri dari dua kelompokbesar, yakni ekonomi dan non-ekonomi (Gambar12). Lingkungan eksternal makro dari aspekekonomi memiliki tiga sub-elemen kunci yaknikondisi perekonomian masyarakat (diantaranyaadalah tingkat pendapatan rata-rata masyarakat,kesenjangan dalam distribusi pendapatan,jumlah orang miskin, rasio antara kelompokmasyarakat menengah-bawah dan kelompokmasyarakat atas, dll.), kebijakan-kebijakanekonomi (diantaranya yang paling pentingadalah kebijakan fiskal-moneter, kebijakanperdagangan luar negeri, kebijakan investasi,kebijakan harga, kebijakan industri dan sektorsektorlainnya) dan sistem ekonomi (terbuka vs.tertutup; liberal vs. proteksi), dan (2) nonekonomiseperti politik, sosial-budaya, alam,teknologi, demografi, dan internasional.Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programme17


Gambar 12 Lingkungan Usaha EksternalAdvancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeMikroPemasokPembeliPerantara pemasaranPublikDari uraian di atas dapat disimpulkan bahwalingkungan usaha yang dihadapi olehperusahaan-perusahaan di suatu ekonomisangat dipengaruhi oleh banyak faktor secarabersamaan, dan prosesnya bisa sangat komplekskarena sebagian besar dari faktor-faktortersebut tidak berdiri sendiri melainkan salingmempengaruhi. Misalnya, sistem ekonomi yangdianut oleh sebuah negara sangat ditentukanoleh sistem politik yang dianut oleh negaratersebut, bahkan tidak lepas dari pengaruh darisosial-budaya masyarakatnya. Dalammenganalisis motivasi dibalik keinginanIndonesia selama ini untuk tetap bergabung didalam kelompok ASEAN dan APEC, harus jugadilihat sistem politik yang dianut Indonesiaselama ini dan juga sosial-budaya masyarakatIndonesia yang memang sudah sejak era prakolonialisasisangat terbuka dengan bangsabangsalain di dunia. Demikian juga dalammenganalisis kenapa di Indonesia selama inidalam membuka suatu usaha baru memerlukanlebih banyak waktu dan biaya dan prosedurnyalebih ruwet dibandingkan dengan di, misalnyaExternalEkonomi1. Ekonomi Masyarakat2. Kebijakan Ekonomi3. Sistem Ekonomi4. Infrastruktur & Logistik5. Perbankan6. Perusahaan7. Asuransi8. Pasar Uang & ModalNon-Ekonomi1. Politik2. Sosbud3. Teknologi4. Alam5. InternasionalMakroSingapura. Sistem pemerintahan khususnyaaspek birojrasinya dan sosial budayamasyarakat Indonesia (serius vs. tidak serius,komitmen vs. tidak komitmen, disiplin vs. tidakdisiplin, etos kerja rendah vs. tinggi, danlainnya) harus merupakan dua variabel penting(bahkan variabel kunci) di dalam analisisnya.Faktor-faktor eksternal makro tersebutsangat menentukan daya saing sebuah wilayah/daerah dalam menarik investasi dari luar.Menurut Piter (2002) indikator penentu dayasaing daerah adalah perekonomian daerah,keterbukaan, sistem keuangan, infrastrukturdan sumber daya alam, ilmu pengetahuan danteknologi, sumber daya manusia, kelembagaan,governance dan kebijakan pemerintah, sertamanajemen dan ekonomi makro.Perekonomian daerah merupakan ukurankinerja secara umum dari perekonomian makro(daerah) yang meliputi penciptaan nilai tambah,akumulasi kapital, tingkat konsumsi, kinerjasektoral perekonomian, serta tingkat biayahidup. Indikator keterbukaan merupakanukuran seberapa jauh perekonomian suatu18


daerah berhubungan dengan daerah lain yangtercermin dari perdagangan daerah tersebutdengan daerah lain dalam cakupan nasional daninternasional. Indikator sistem keuanganmerefleksikan kemampuan sistem finansialperbankan dan non-perbankan di daerah untukmenfasilitasi aktivitas perekonomian yangmemberikan nilai tambah. Sistem keuangansuatu daerah akan mempengaruhi alokasi faktorproduksi yang terjadi di perekonomian daerahNilai tambah, investasi,Tanungan, konsumsi AkhirKinerja Sektoral, Biaya Hiduptersebut. Infrastruktur dalam hal ini merupakanindikator seberapa besar sumber daya sepertimodal fisik, geografi, dan sumber daya alamdapat mendukung aktivitas perekonomiandaerah yang bernilai tambah. Ilmu pengetahuandan teknologi mengukur kemampuan daerahdalam ilmu pengetahuan dan teknologi sertamenerapnya dalam aktivitas ekonomi yangmeningkatkan nilai tambah (Gambar 13).Gambar 13. Indikator Utama Penentu Daya Saing DaerahInternasionalisasi, Perdagangan \Internasional,Investasi Asing, Perdagangan Antar DaerahNilai tambah, investasi,Tanungan, konsumsi AkhirKinerja Sektoral, Biaya HidupPerekonomian Daerah Keterbukaan Sistem KeuanganSumber DayaManusiaLarakteristik Penduduk,Ketenaga Kerjaan, Pendidikan, KualitasHidup, Perilaku dan Nilsi SosialSumber: Abdullah, (2002).Infrastruktur fisik, informasi danKomunikasi, Sumber Daya AlamInfra Struktur & SumberDaya AlamKelembagaanKarakteristik Penduduk, KetenagaKerjaan, Pendidikan, Kualitas Hidup,Perilaku dan Nilsi SosialIndikator sumber daya manusia dalam kalini ditujukan untuk mengukur ketersediaan dankualitas sumber daya manusia. Kelembagaanmerupakan indikator yang mengukur seberapajauh iklim sosial, politik, hukum, dan aspekkeamanan maupun mempengaruhi secarapositif aktiviatas perekonomian daerah.Indikator Governance dan kebijakanpemerintah dimaksudkan sebagai ukuran dariDAYA SAING DAERAHKegiatan Penelitian SDM di BidangTeknologiIlmu Pengetahuan danTeknologiGovermance & KebikanPemerintahPendidikan, Biaya Tenaga Kerja, KinerjaPerusahaan, Eksistensi Manajemen,Budaya PerusahaanManajemen &Ekonomi MikroProduktivitas, Biaya Tenaga Kerja,Kinerja Perusahaan, EkonomiManajemen, Budaya Perusahaankualitas administrasi pemerintahan daerah,khususnya dalam rangka menyediakaninfrastruktur fisik dan peraturan-peraturandaerah. Dalam indikator manajemen danekonomi makro pengukuran yang dilakukandikaitkan dengan pertanyaan seberapa jauhperusahaan di daerah dikelola dengan cara yanginovatif, menguntungkan dan bertanggungjawab.Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programme19


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programme3.2. Bukti empiris3.2.1. Indeks Iklim InvestasiDi tingkat provinsi, iklim investasi menuruthasil survei KPPOD dan BKPM diperlihatkan diGambar 14. Seperti telah dijelaskansebelumnya, iklim investasi atau iklim usahadipengaruhi oleh berbagai faktor kompleksyang terkait satu sama lain, dengan derajatpengaruh berbeda antar faktor. Dalam surveiKPPOD dan BKPM tersebut, ditetapkansembilan indikator pemeringkatan iklim usahadi provinsi, yakni: (1) kelembagaan pelayananSulawesi UtaraJawa TengahKalimantan SelatanGorontaloSulawesi SelatanJawa TimurKalimantan TimurKepulauan RiauKalimantan BaratBaliACEHDKI. JakartaKalimantan TengahJambiJawa BaratBangka BelitungSulawesi TengahRiauSumatera SelatanSumatera BaratBantenLampungMalukuD.I. YogyakartaMaluku UtaraPapuaNTBNTTSulawesi BaratSumatera UtaraBengkuluSulawesi TenggaraPapua Baratpenanaman modal, (2) promosi investasidaerah, (3) komitmen pemda, (4) infrastruktur,(5) akses lahan usaha, (6) tenaga kerja, (7)keamanan usaha, (8) kinerja ekonomi daerah,dan (9) peranan dunia usaha dalamperekonomian daerah.Salah satu temuan pokok dari surveitersebut adalah dimana terdapat 4 (empat)provinsi luar pulau Jawa mendominasi 5peringkat teratas, dan hanya satu provinsi dipulau Jawa yang selama ini menjadi pusataktivitas ekonomi yang berhasil. provinsiGambar 14: Peringkat Iklim Investasi di Wilayah Indonesia.Indeks Iklim Investasi0 10 20 30 40 50 60 70 80Sumber: KPPOD dan BKPM, 2008.20


Sulawesi Utara, terdiri dari 13 Kabupaten/Kotadengan dan memiliki potensi pariwisata,perikanan dan perkebunan, menempatiperingkat tertinggi untuk nilai total indeks ikliminvestasi. provinsi Sulawesi Utara dinilai baikdi seluruh indicator penilaian, utamanya padaindikator akses lahan (82,51), komitmen Pemdadalam pengembangan dunia usaha (72,85) dankelembagaan IPMP (72,59). Dengan akses lahanyang mudah, didukung komitmen Pemda dalammengembangkan dunia usaha dankelembagaan pelayanan investasi menjaminhadirnya iklim usaha yang baik. Provinsi PapuaBarat menempati peringkat terendah indeksiklim investasi daerah, hal ini dicerminkankarena rendahnya fasilitas infrastruktur, akseslahan yang kurang mendukung, dan keamananberusaha yang belum terjamin. RendahnyaKurang iklim investasi secara simultanmembuat kinerja ekonomi daerah kurangmaksimal, dan sulit merangsang keterlibatanswasta dalam perekonomian daerah yangkurang.Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeSumber: Sitepu K, (2012)21


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammePerhitungan indeks daya saing daerahdilakukan oleh Sitepu (2012) denganmenggunakan 50 indikator yangdikelompokkan menajdi empat indicatorutama pembentuk daya saing daerah yaitu (1)perekonomian daerah dengan bobot (2)Fasilitas Wilayah/Infrastruktur dengan bobot(3) Iklim investasi dengan bobot dan, (4)Sumberdaya manusia. Indeks daya saingdaerah tertinggi terdapat diprovinsi DKIJakarta yaitu sebesar 62.04. Kontribusi indeksdaya saing daerah Provinsi DKI Jakarta terbesardisumbangkan oleh Sumberdaya Manusia danfasilitas infrastruktur. Lima provinsi terbesaryang memiliki daya saing yang baik relativeterhadap provinsi lainnya adalah DKI Jakarta,DI Yogyakarta, Bali, Kalimantan Timur danKepulauan Riau. Hanya delapan provinsi yangmemiliki daya saing di atas Nasional, yaitu (1)Provinsi DKI Jakarta, (2) DI Yogyakarta, (3) Bali,(4) Kalimantan Timur, (5) Kepulauan Riau, (6)Aceh, (7) Jawa Barat, dan (8) ProvinsiKalimantan Selatan. Provinsi lainnya masihdibawah indeks daya saing nasional dengan nilaiindeks sebesar 43.84. Secara lengkap indeksdaya saing daerah ditampilkan pada Gambar 14.3.2.2. Perkembangan PMA dan PMDNBerdasarkan informasi dari BadanKoordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasiinvestasi tetap tahun 2012 mencapai Rp 313,2triliun atau 110,5 persen dari target. MenurutBKPM, ini menjadi modal positif untuk menujutarget tahun 2013 senilai Rp 390 triliun ataumeningkat 24,6% dari realisasi tahun 2012. Lebihrincinya, realisasi investasi tetap selamaperiode Januari-Desember 2012 terdiri dariPMDN sebanyak Rp 92,2 triliun dan PMA Rp 221,0triliun atau 24,6 miliar dollar AS 2 .Masing-masingnaik dibandingkan realisasi tahun 2012. Berikut,Tabel 11 menjabarkan rincian dari realisasi PMAdan PMDN menurut lima besar sektor usaha danwilayah.Tabel 11 Realisasi PMA dan PMDN menurut Lima Besar Sektor Usaha dan Wilayah, 2012PMDN (Rp triliun):1) industri makanan2) industri mineral nonlogam3) pertambanganSektor4) tanaman pangan dan perkebunan5) transportasi, gudang dan telekomunikasiPMA (miliar dollar AS)1) pertambangan2) transportasi, gudang dan telekomunikasi3) industri kimia dasar, barang kimia & farmasi4) industri logam dasar, barang logam, mesin & elektronik5) industri alat angkutan & transportasi lainnyaRp11,2Rp 10,7Rp 10,5Rp 9,6Rp 8,64,32,82,82,51,8WilayahPMDN (Rp triliun):1) Jawa Timur2) Jawa Barat3) DKI Jakarta4) Kalimantan Timur5) Jawa TengahPMA (miliar dollar AS)1) Jawa Barat2) DKI Jakarta3) Banten4) Jawa Timur5) Kalimantan TimurRp 21,5Rp 11,4Rp 8,5Rp 5,9Rp 5,84,24,12,72,32,0Sumber: BKPM, dikutip dari Harian Kompas, lihat catatan kaki no 5.5 Harian Kompas, “Rekor Nilai Investasi”, Ekonomi, Rabu, 23 Januari 2013, halaman 19.22


Tabel 12. Investasi Tetap di Pulau Jawa dan di Luar Pulau Jawa, 2007-2012PMA ( mil. Dollar AS)-Jawa-Luar JawaPMDN (Rp tril.)-Jawa-Luar JawaSumber: BKPM, dikutip dari Harian Kompas, lihat catatan kaki no 5.Jika dilihat dari tahun 2007, pertumbuhaninvestasi tetap setiap tahun, khususnya PMA,di wilayah di luar pulau Jawa cenderungsemakin besar. Misalnya, pada tahun 2007 nilaitotal PMA di pulau Jawa tercatat sekitar 8,50miliar dollar AS dibandingkan hanya sekitar1,84 miliar dollar AS di wilayah di luar Jawa.Pada tahun 2012, PMA di luar pulau Jawatercatat sebanyak 10,90 miliar dollar AS, yangberarti suatu peningkatan sebesar 492,4%(Tabel 12).Realisasi PMA berdasarkan asal negarameliputi Singapura 4,9 miliar dollar AS, Jepang2,5 miliar dollar AS, Korea Selatan 1,9 miliardollar AS, AS 1,2 miliar dollar AS, dan Mauritiussekitar 1,1 miliar dollar.4. Catatan Akhir: ProspekBagus 2013?Berbicara soal prospek ke depan, prospekperkembangan investasi tetap khususnya PMAdi Indonesia jauh lebih baik dibandingkanprospek ekspor Indonesia untuk periode 2013.Alasannya sederhana, ekspor Indonesia sangatdipengaruhi oleh kondisi perekonomian globaljangka pendek, dan hingga saat iniPeriode2007 2008 2009 2010 2011 20128,501,8418,6716,2113,571,307,828,139,371,4425,7716,4411,504,7235,1425,4812,327,1537,1838,8213,6610,9052,6939,49perekonomian global masih belum pulihsepenuhnya dari krisis ekonomi global 2008/09dan masih dibayangi oleh krisis hutang zonaeuro yang masih berlangsung hingga saat ini.Apalagi melihat kenyataan bahwa diversifikasipasar ekspor Indonesia masih sangat rendah,yakni masih sangat tergantung pada tiga negarayakni China, AS dan Jepang, yang sangat rapuhterhadap ketidakstabilan ekonomi di Eropa.Sedangkan perkembangan positif dari arusmasuk PMA dan pertumbuhan PMDN dalambeberapa tahun terakhir menjadi alasan untukoptimis mengenai pertumbuhan investasitetap di Indonesia pada tahun 2013. Rasaoptimis ini didukung oleh sejumlahperkembangan positif menjelang akhir tahun2012, diantaranya kebijakan penyuntikan danake pasar domestik Amerika Serikat (AS) olehbank sentralnya (The Federal Reserve), akanadanya dana segar yang akan dikucurkan di zonaEuro, dan rencana pemerintah Jepang untukmengapresiasi mata uangnya, yen. Kebijakanterakhir ini berarti produk-produk buatanJepang dalam mata uang asing misalnya USdollar akam mahal, dan akan mendorongperusahaan-perusahaan di Jepangmemindahkan pabrik-pabrik mereka kenegara-negara lain, termasuk Indonesia.Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programme23


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeNamun demikian, pertumbuhan investasitetap di Indonesia juga akan sangatdipengaruhi oleh banyak faktor lain yangmemberikan kepastian bagi setiap investordan yang mempengaruhi biaya produksi diIndonesia, yakni antara lain korupsi tinggi,inefisiensi birokrasi, ruwetnya prosespembebasan lahan, tidak adanya kepastiaanhukum, dan masalah perburuhan, khususnyamengenai penentuan atau kewajiban upahminimum dan peraturan mengenaioutsourcing, dan buruknya infrastruktur sertamahalnya biaya logistik.Misalnya, seperti yang pernah dikabarkanoleh Harian Kompas (Selasa, 7 Agustus 2012,halaman 20), pengusaha China akan segeramenginvestasikan uangnya sebanyak Rp 8,6triliun di sektor perminyakan dan mineral(berupa kilang minyak dan pabrik peleburanbauksit) di Kepulauan Riau. Investasi iniantara lain mengantisipasi kebijakanpemerintah Indonesia mengenai pelaranganekspor mineral mentah (dalam bentuk batuanyang mengandung pasir silika dan bijihbauksit) pada tahun 2014 nanti. Juga (masihmenurut Harian Kompas yang sama itu), BadanPengusahaan (BP) Batam mencatat delapan(8) perusahaan mendaftar berinvestasi diBatam, yang berasal dari Singapura (dibidangperkapalan, tekstil dan pengolahan logam),Malaysia, Korea Selatan, dan Ukraina(dibidang ekspor dan impor) dengan jumlahinvestasi tercatat 8,4 juta dollar AS. Namunbaik Kepulauan Riau secara umum maupunBatam secara khusus masih mengalamibanyak persoalan yang bisa mengancamkelangsungan arus masuk PMA terutamadalam hal pembebasan lahan dan kepastianhukum. Misalnya (masih menurut HarianKompas yang sama tersebut), ada investasisenilai 2 miliar dollar AS akhirnya bataldilaksanakan di Batam karena tidak dapatlahan. Sedangkan dalam hal kepastian hukumadalah terutama pada proses perizinan 6 .Masalah-masalah di atas tersebut yangmembuat Indonesia selama ini masih belummerupakan negara paling disukai untukberinvestasi. Menurut Harian Kompas, Sabtu12 November 2011, penilaian 1.000 CEO dariwilayah Asia Tenggara dan lainnya di duniadalam survei “Global Capital ConfidenceBarometer Ernst & Young 2011”, negara yangpaling menarik untuk berinvestasi di AsiaPasifik baik dari respons dunia maupunrespons di Asia Tenggara adalah China, disusulkemudian oleh India, Australia dan Malaysia,dan Singapura (Tabel 13). Berdasarkanpenilaian dari responden dunia, Indonesiaberada di peringkat ke enam, sedangkanberdasarkan penilaian dari responden AsiaPasifik, Indonesia berada di peringkat 5.Namun demikian, hasil survei lainnya yaknisurvei daya saing ASEAN untuk periode 2011-2012 yang dilakukan oleh Lee Kuan Yew Schoolof Public Policy dan National University ofSingapore, yang dikutip oleh Harian Kompas,Selasa 20 November 2012, menyebutkanbahwa Indonesia dengan segalakekurangannya yang ada masih tetap dinilaipaling menarik untuk investasi dibandingkandengan 9 negara anggota ASEAN lainnya. Duafaktor utama yang membuat masih bagusnyaposisi Indonesia tersebut adalah pasardomestik yang paling besar dan SDM serta SDAyang paling banyak di kawasan ASEAN.6 Hasil sebuah survei dari International Financial Cooperation (IFC) mengungkapkan bahwa banyak daerah di Indonesia mempersulitperizinan. Bahkan, peringkat kemudahan berinvestasi di daerah khusus seperti di Batam lebih buruk daripada misalnya Yogyakarta(Harian Kompas, “China Investasi Rp 8,6 Triliun”, Ekonomi, Selasa, 7 Agustus 2012, halaman 20).24


Tabel 13: Negara Yang Paling Menarik Untuk Berinvestasi di Asia Pasifik, 2011Sumber: Earnst and Young 2011 (dikutip dari Harian Kompas, “Indonesia Kalah Menarik”, Ekonomi, Sabtu, 12November 2011, halaman 17).LampiranPeringkat Respons Dunia Peringkat Respons Asia Tenggara12345678910ChinaIndiaAustraliaSingapuraMalaysiaIndonesiaVietnamJepangKorea SelatanFilipinaHasil Estimasi Model Ekspor Daerah IndonesiaDependent Variable: LOG(EXP?)Method: GLS (Cross Section Weights)Date: 12/15/12 Time: 12:14Sample: 2000 2010Included observations: 11Number of cross-sections used: 34Total panel (unbalanced) observations: 365Convergence achieved after 11 iterationsVariable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.C -13.28152 0.665101 -19.96919 0.000012345678910ChinaIndiaMalaysiaSingapuraIndonesiaVietnamAustraliaThailandFilipinaTaiwanAdvancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeLOG(NER) 0.111750 0.061079 1.829606 0.0682_00--LOG(GDPW9) 2.547941 0.050694 50.26165 0.0000_11--LOG(GDPW9) 2.174736 0.053424 40.70694 0.000025


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeVariable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob._12--LOG(GDPW9) 2.260560 0.050702 44.58516 0.0000_13--LOG(GDPW9) 2.068705 0.052190 39.63784 0.0000_14--LOG(GDPW9) 2.287465 0.051432 44.47583 0.0000_15--LOG(GDPW9) 2.073169 0.050919 40.71544 0.0000_16--LOG(GDPW9) 2.190997 0.050694 43.21964 0.0000_17--LOG(GDPW9) 1.954180 0.050672 38.56501 0.0000_18--LOG(GDPW9) 2.146526 0.050827 42.23204 0.0000_19--LOG(GDPW9) 2.051719 0.051078 40.16832 0.0000_21--LOG(GDPW9) 2.232082 0.050500 44.19954 0.0000_31--LOG(GDPW9) 2.412946 0.050715 47.57850 0.0000_32--LOG(GDPW9) 2.369740 0.050935 46.52494 0.0000_33--LOG(GDPW9) 2.327481 0.050826 45.79322 0.0000_34--LOG(GDPW9) 2.086364 0.050690 41.15909 0.0000_35--LOG(GDPW9) 2.370163 0.050715 46.73479 0.0000_36--LOG(GDPW9) 2.266034 0.051152 44.30004 0.0000_51--LOG(GDPW9) 2.138047 0.050865 42.03336 0.0000_52--LOG(GDPW9) 2.054045 0.051048 40.23789 0.0000_53--LOG(GDPW9) 1.996383 0.050784 39.31141 0.0000_61--LOG(GDPW9) 2.100193 0.050760 41.37531 0.0000_62--LOG(GDPW9) 2.051424 0.050909 40.29574 0.0000_63--LOG(GDPW9) 2.150972 0.050784 42.35490 0.0000_64--LOG(GDPW9) 2.355653 0.050719 46.44479 0.0000_71--LOG(GDPW9) 2.054748 0.051226 40.11158 0.0000_72--LOG(GDPW9) 1.959326 0.050691 38.65257 0.0000_73--LOG(GDPW9) 2.144651 0.051213 41.87724 0.0000_74--LOG(GDPW9) 1.952931 0.051838 37.67346 0.0000_75--LOG(GDPW9) 1.749717 0.052307 33.45077 0.0000_76--LOG(GDPW9) 1.813941 0.050881 35.65066 0.0000_81--LOG(GDPW9) 1.814329 0.050705 35.78173 0.000026


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob._82--LOG(GDPW9) 1.867554 0.050728 36.81502 0.0000_91--LOG(GDPW9) 1.991468 0.050728 39.25755 0.0000_92--LOG(GDPW9) 2.157470 0.051498 41.89455 0.0000Weighted StatisticsR-squared 0.999859 Mean dependent var 20.66050Adjusted R-squared 0.999844 S.D. dependent var 17.29227S.E. of regression 0.215656 Sum squared resid 15.30102F-statistic 66857.79 Durbin-Watson stat 0.760650Prob(F-statistic) 0.000000Unweighted StatisticsR-squared 0.987575 Mean dependent var 9.275817Adjusted R-squared 0.986253 S.D. dependent var 1.839354S.E. of regression 0.215657 Sum squared resid 15.30111Durbin-Watson stat 0.365516Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) Programme27


Advancing Indonesia’s Civil Society in Trade and Investment Climate (ACTIVE) ProgrammeDaftar PustakaKomite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah dan Badan Koordinasi Penanaman Modal. 2008.Pemeringkatan Iklim Investasi 33 Provinsi di Indonesia Tahun 2008. KPPOD dan BKPM, Jakarta.IndonesiaMathew, Mercy (ed.) (2009), Case Studies on Business Environment – Vol. 1, IBS Case DevelopmentCenter, Andhra Pradesh, India.Sitepu, Rasidin (2012). Peranan Daya Saing Dalam Meningkatkan Investasi Daereh. Policy PaperNo.11, Nopember 2012, Tim ACTIVE, Kadin Indonesia dan European Union, Jakarta: KadinIndonesia.Tambunan, Tulus T.H. (2011), “DAYA SAING GLOBAL INDONESIA: WORLD ECONOMIC FORUM 2011-2011”, Center for Industry, SME and Business Competition Studies, USAKTI, JakartaTambunan, Tulus T.H. (2011), “Perkembangan UMKM di Indonesia: Apakah Mereka Digerakkan olehJiwa Kewirausahaan?”, Center for Industry, SME and Business Competition Studies, USAKTI,JakartaTambunan, Tulus T.H. (2012), “Infrastruktur dan Logistik di Indonesia: Kondisi, Kendala dan SolusiAlternatif”, Policy Paper No.8, September 2012, Tim ACTIVE, Kadin Indonesia dan EuropeanUnion, Jakarta: Kadin Indonesia.Tambunan, Tulus T.H. dan Rasidin Sitepu (2012), “Ekspor dan Daya Saing”, Policy Paper No.2, Maret2012, Tim ACTIVE, Kadin Indonesia dan European Union, Jakarta: Kadin Indonesia.WB&IFC (2010), Doing Business in Indonesia 2010, Washington, D.C.: The World Bank and TheInternational Financial Corporation.WB&IFC (2012), Doing Business in Indonesia 2012, Washington, D.C.: The World Bank andWEF (2012), The Global Competitiveness Report 2012-2013, Geneva: World Economic Forum.28

More magazines by this user
Similar magazines