Sirikit Syah - Kemenag Jatim

jatim.kemenag.go.id

Sirikit Syah - Kemenag Jatim

Sirikit SyahMenulis itu Medium Dakwah yang Sangat EfektifCinta kerap membuat orang menjadi tak kritis pada yangdicinta. Tapi itu tak berlaku bagi Sirikit Syah. Meski cintanyapada profesi jurnalis bagai laut dan birunya, tapi dirinya begitukritis terhadap dunia jurnalisme yang membesarkannya.Nama Sirikit memang cukup dikenal publik. Apalagi diaseorang jurnalis senior yang telah melanglang buana di berbagainegara. “Jurnalisme.. mula-mula bukan dunia yang saya citacitakansih. Tapi entah kenapa justru bidang inilah yang mengantarkansaya hingga menjadi seperti ini,” tukasnya datar.Hernani Sirikit, MA – yang lebih dikenal sebagai SirikitSyah, sejak kecil memang tak pernah bermimpi untuk menjadiseorang pewarta. Yang diangankannya waktu itu justru profesiguru. Itulah pasalnya, selepas menyelesaikan studinya di SMA,langsung mendaftarkan diri ke Fakultas Pendidikan Bahasa danSeni (FPBS) Jurusan Sastra Inggris IKIP Surabaya – yang kiniberubah menjadi Unesa.Impian pun telah berbenih kenyataan. Setelah lulus ditahun 1984, tak tanggung-tanggung Prof. Dr. Budi Darma (RektorIKIP Surabaya waktu itu) langsung menawari Sirikit untukmengajar di almamaternya. Namun entahlah, kenyataan mimpiitu justru dibuyarkannya sendiri. Sebab dia tiba-tiba saja merasatertantang dengan dunia jusnalistik. Maka dimulailah profesiwartawan di harian Surabaya Post.Anehnya, dia begitu jatuh cinta pada profesi barunyatersebut. Baginya, profesi wartawan dirasakan telahmemberikan banyak pelajaran hidupyang sangat berarti. “Tak saja berupaberagam informasi yang bisadiserap, tapi lebih dari itu.. pengalamandan networking juga terbukalebar,” ujar ibu dua anak inibersemangat.Tak puas dengan media cetak, Sirikit pun merambah kemedia pertelevisian. Bermula sebagai seorang reporter, laludipercaya menjadi produser, hingga sebagai koordinator liputanwilayah Indonesia Timur untuk SCTV dan RCTI – yang saatitu kedua station bersatu dalam program berita Seputar Indonesia.Tak berselang lama, akhirnya dia beralih ke News DepartemenSCTV sebagai reporter, script editor, koordinator liputan, produserprogram berita, hingga asisten manajer.Dan waktu pun tak henti berjalan. Namun adakah kesibukanjurnalis telah membuatnya benar-benar alpa pada mimpiyang pernah digambar sewaktu kecil? Sirikit Syah dengan cekatanmenampik. Sebab dia tak merasa telah meninggalkan duniamengajar sepenuhnya. Baginya, menjadi wartawan sama mulianyadengan menjadi pendidik. “Selain sebagai sarana informasi,kontrol sosial dan hiburan, pers juga berperan untuk mengedukasimasyarakat melalui suguhan berita dan fakta,” kata penulis buku’Rambu-rambu Jurnalistik’ ini dengan mimik serius. “Apalagipers merupakan pilar keempat pendidikan setelah keluarga,sekolah, dan masyarakat,” kilahnya.Namun apa boleh dikata, suara hati adalah nurani kejujuranyang tak gampang dipungkiri. Setelah bertahun-tahun menggelutimedia cetak dan elektronik, terbesitlah niatan tulus untuk membagiilmu jurnalisme kepada para mahasiswa. Maka sejak tahun1996 Sirikit bermula merealisasikan mimpinya secara nyata.Tak tanggung-tanggun, dia mengajar hampir di semua perguruantinggi di Surabaya yang memiliki Jurusan Ilmu Komunikasiatau prodi Jurnalistik.Nama Sirikit pun bertengger mulai di Fakultas Ilmu KomunikasiUK Petra Surabaya, Fakultas Dakwah IAIN SunanAmpel Surabaya, STIKOSA AWS dan juga Universitas Airlangga.Tak saja mengajar program S1, tapi juga di Pascasarjanakonsentrasi Komunikasi dan Ilmu Hukum dan Pembangunan.“Saya tidak bisa memungkiri, inilah mungkin yang namanyapanggilan jiwa sebagai pengajar yang sesungguhnya,” tutur Masterbidang Komunikasi dari Westminster University, Londonini sambil melepas tawa lirih.Meski wanita berjilbab – lantaran tersentakmalu saat meliput kegiatan NU – ini sibuk terjun dikampus, namun itu tak membuat mahasiswa programDoktoral Pascasarjana Unesa ini menghapusjejaknya di media massa. Terbukti, sambil mengajardia pun masih membagi waktu menjadi korespondenHarian The Jakarta Post dan juga sebagai editorThe Brunei Times – sebuah harian di BruneiDarussalam.Tak semata itu saja. Pada tahun 1999 peraihanugerah Warga Surabaya Teladan versiRadio Suara Surabaya ini, juga mulai dilandakerisauan atas tidakan semena-mena mediamassa dalam pemberitaan pasca reformasi.Pers begitu bebas dan liar tanpa kendali.Tak sedikit isi pemberitaan yang membahayakanpublik.Wanita yang banyak mengisi seminardi dalam maupun luar negeri ini pun,lantas menggagas berdirinya sebuah LembagaKonsumen Media; MediaWatch.Hingga tahun 2003, dirinya didapuk men-Sirikit Syah bersama suami tercinta34 MPA 315 / Desember 2012


Bersama Panda Nababan (RCTI) dan Andy F Noya (Metro TV)dalam satu kesempatanjadi direktur lembaga yang mengawasi media tersebut. Inilahsikap fair dari seorang Sirikit Syah. Meski dirinya dibesarkandi dalam dunia media, namun bisa bersikap kritis terhadap mediaitu sendiri.Menurutnya, media boleh saja mengawasi pemerintah danmasyarakat. Tapi media pun harus juga diawasi. “Sebab jikaada orang salah makan, mungkin korbannya hanya yang makansaja. Tapi jika ada orang salah konsumsi berita, efeknya bisamengakibatkan perkelahian hingga peperangan,” papar AnggotaKehormatan Pusat Hak Asasi Manusia (Pusham) UniversitasSurabaya ini mengingatkan.Kedewasaan dan keterbukaan sikap Sirikit semacam itu,tak bisa dilepaskan dari masa kanaknya. Dia terlahir dan dibesarkandi daerah Jl. Melati Surabaya – sekarang daerah di belakangGrand City Mall - 53 tahun silam. Sejak bocah dirinyasudah berbaur dengan orang-orang Belanda, China, Jawa, Ambon,Batak dan etnis lainnya. Lingkungan hidup seperti itulah,yang membuat pandangan-pandangannya tak berkacamata kuda.Sirikit kecil sudah terbiasa melihat tetangga Bataknya yangmenyembelih babi dan anjing di sebelah rumahnya. Itu merupakanpemandangan yang lumrah-lumrahsaja, meski keluarganya sebagai pemelukIslam. Meski diakuinya, cukup sulitmerasakan suasana keberagaman laiknyaorang Muslim lainnya. “Kami kalaumencari masjid cukup jauh sampaidi daerah Kanginan,” ungkap anak keenamdari 13 bersaudara (6 saudara kandung,4 saudara tiri, dan 2 saudara seibu)ini sambil menerawang ke masa silamnya.Keberadaan keluarga besar inilah,yang membuat orangtuanya tak sempatmengajarkan agama. Ayahnya seorangPeduli. Mendidik generasi muda dengan skill menulisPerwira Angkatan Laut, yang meninggal semasa Sirikit masihberusia tiga tahun. Dan ibunya terpaksa menjanda 29 tahundengan 7 anak. Pesan ibunya yang tak pernah terlupakan; jadilahorang baik yang senantiasa menebar kebaikan. “Saya belajarshalat dan mengaji di sekolah. Kesadaran itupun baru munculketika saya duduk di bangku SMA,” ucapnya jujur.Semasa usia SMA itulah, wanita yang memiliki hobi menulissejak SD ini banyak bergaul dengan seniman Bengkel Mudadan Dewan Kesenian Surabaya. Dia pun berkenalan dengansejumlah seniman dan budayawan seperti Gombloh, Leo Kristi,Franky Sahilatua, WS. Rendra dan Emha Ainun Najib. “CakNun dulu waktu masih muda sering mampir rumah saya. BahkanGombloh dulu sering makan dan menginap juga,” kenangnyatentang karibnya itu.Pertemuannya dengan para seniman dan budayawan itulah,yang semakin mengasah keterampilan Sirikit dalam menulispuisi maupun cerpen. Sewaktu mahasiswa malah memperolehbimbingan langsung dari begawan sastra Budi Darma. Dialahyang senantiasa mengilhami Sirikit dalam menulis. Pada tahun1997, dirinya berhasil menerbitkan buku ‘Harga Perempuan’.“Karya ini begitu berarti bagisaya. Ini kumpulan cerpenpertama saya yang amat bernuansaperempuan,” tandasnyasumringah.Sederet karya SirikitSyah yang telah terbit: MediaMassa di Bawah Kapitalisme(kumpulan esai tentang mediamassa, 1999), Muhammad; ABiography (terjemahan daribuku Karen Arsmstrong,2001), Budaya, Media, danPolitik di Indonesia (terjemahanbuku David T. Hill &Bersama Rachmaida danKrishna Sen, berjudul Culture,Krishna Sen.Media, and Politics in NewOrder Indonesia, 2002),Di depan masjid di Isfahan. Memotret dengan Kata-kata(kumpulan puisi, 2005),Sensasi Selebriti (kumpulan cerpen, 2007), Rambu-rambuJurnalistik (2011) dan Watch the Dog! (kumpulan esai, 2012).Dengan kepiawaiannya dalam hal tulis-menulis, dia punmerintis sebuah sekolah menulis ‘Sirikit School of Writing’.Dengan adanya lembaga tersebut, wanita yang ingin segeramenunaikan ibadah haji ini berharap mampu melahirkan penulispenulisyang mendakwahkan Islam dan mengangkat harkat danmartabat manusia. Dengan menulis pun gairah Kebangkitan Islambisa disuarakan. “Karena itu harus ada lebih banyak penulis,kolumnis dan kritikus dari kalangan Muslim. Sebab menulis itumerupakan medium dakwah yang sangat efektif,” tandasnya.•MPA 315 / Desember 201235

More magazines by this user
Similar magazines