Riset: Kesetaraan Gender (II) - UNDP

undp.or.id

Riset: Kesetaraan Gender (II) - UNDP

NEWSLETTER HAL 6Komersialisasi Berita KriminalProgram-program berita kriminaldi Indonesia semakin marak! Janganditanya mengapa, karena mungkintidak ada yang tahu. Jangan ditanyaapa alasan pengambilan gambar danpenyuntingan gambarnya sedemikiangamblang, karena mungkin tidak adayang perduli. Yang ada hanyalahpertanyaan di kepala, mengapa program-programberita dengan carapenayangan seperti yang selama inikita saksikan masih dilanjutkan?Penyajian berita-berita kriminaltanpa memperdulikan etika penyiaranini akan berhenti bila korban pembunuhanatau bunuh diri adalah keluargatercinta pemilik televisi, parapemimpin redaksi dan para jurnalisbaik yang sedang di rumah maupundi kantor yang sedang menikmatimakan siang.Kepekaan Kita dan Anak-anakSilakan bertanya pada diri sendiri.Apakah kepekaan kita terhadap kejahatansemakin lama semakin rendah?Apa yang menjadi penyebabnya? Jikatayangan berita kriminal dalam sejumlahprogram yang sengaja dikhususkanuntuk berita seperti inilahpenyebabnya, mengapa kita selaludiam. Bukankah kebiasaan menontonprogram seperti ini bisa merusakkepekaan kita terhadap arti hidup?Jika orang dewasa saja bisa merasajengah, bagaimana dengan anak-anakkita? Mereka mungkin bisa menganggaptindakan kejahatan seperti pembunuhandan bunuh diri adalah halyang wajar. Membunuh kepekaananak-anak ini sama halnya denganmenenggelamkan masa depan bangsaini kedalam kegelapan.Saya sering membayangkan negaraini mempunyai asosiasi orang tuapenonton televisi Indonesia yangpada waktu tertentu mengadakandiskusi nasional. Diskusi dihadiri olehpresiden, para orang-tua, pemiliktelevisi, pemimpin redaksi dan representatifdari AC Nielson. Akan baiksekali jika kemudian diskusi nasionalini ditayangkan ulang dihadapan parajurnalis televisi pembuat berita-beritakriminal ini. Bisa jadi akan ada pengumumannominasi berita kriminal diakhir acara tersebut.KomersialisasiYang lebih mengganggu adalahprogram-program berita tersebutdiberi judul yang menurut sayadibuat-buat. Pemilihan slot penayanganjuga pada siang hari, sekitar menjelanghingga tengah hari. Ada tigahal mengapa pengelola usaha televisimelakukan hal ini. Pertama, merekasangat sadar bahwa televisi merupakansumber utama hiburan rataratabangsa kita. Kedua, tengah hariada jam yang tepat untuk menontontelevisi bagi masyarakat pekerja.Ketiga adalah hukum supply and demand.‘How to visualize Crime Stories’; DosenTamu Kriminologi UI ; doc. SBMSupply—DemandMengapa orang menonton beritaberitakriminal? Banyak artikel yangmenjabarkan alasan orang tertarikmendengar atau menonton beritakriminal. Ini bukan hal yang baru.Rasa takut bisa dihibur, digelitik danini bisa menjadi lahan bisnis. Wahanamenyeramkan di Dufan semakinseram dan semakin banyak dikunjungidemikian juga dengan pemakaianobat-obatan psikotropika.Siapa sebenarnya pelaku kriminalpersoalan ini? Apakah justru pemilikpemiliktelevisi dan para pemimpinredaksi? Jika memang bukan merekamengapa berita-berita itu tetap sepertiitu? Untuk mendramatisir sebuahberita, banyak stasiun televisi sengajamengambil stock gambar dan melatarbelakangiberita itu denganmusik atau lagu.School for Broadcast Media berusahamemerangi praktik-praktikseperti ini. Dalam setiap pelatihanbaik di stasiun televisi nasional maupundi SBM kami selalu menekankanbahwa integritas dan tanggungjawabkita sebagai jurnalis harus tetap dipertahankan.SBM telah meluluskansekitar 400 siswa dengan pesan ini.Institusi pendidikan yang setuju danmenerapkannya sejauh ini adalahFakultas Kriminologi UI.Jurnalisme TelevisiRichard V Ericson, profesor Universityof British Columbia, Canada,dalam bukunya “How Jurnalists VisualizeFact” mengatakan bahwa gambar-gambardalam program-programberita khususnya berita-berita kriminalsengaja dibuat sedemikian rupauntuk meningkatkan rasa percayabahwa itu adalah fakta. Praktik komunikasiseperti ini mengaburkanperbedaan antara fakta, nilai, informasi,pengetahuan dan literary properties.“How Journalists Visualize Fact”Richard V. Ericson is principal ofGreen College and professor of Sociologyand Law, University of BritishColumbia.Abstract:: Fact is a product of thecommunication practice of journalists.Journalists rarely have the resources oracces to penetrate their sources’ imformationalworlds to establish facts independently.Moreover, the norms of objectivityin journalism often precludeefforts to establish facts independent ofsources’ accoutns. Therefore, journalistsvisualize the fact value of a storyon the basis of a source’s fake valueas an authoritative, normative witnesssto event.s While televisionvisuals offers a greater capacity forbelievalibility, the need for an orderlyvisual narrative leads to stagednews, evens, retakes, reenactments,use of stock footage, and other fakes.These communication practices blurdistinctions between fact, value, information,and knowledge and haveliterary properties. Like literary fiction,news requires the willing suspensionof disbelief in order to have itsknowledge accepted. This importantliterary character of news may be fadingas the news institution breaks downinto segmented markets and specializedinformation services.Patar SimatupangPrograms Development Manager

More magazines by this user
Similar magazines