Laporan Ekonomi Bulanan - Kadin Indonesia

kadin.indonesia.or.id

Laporan Ekonomi Bulanan - Kadin Indonesia

Kamar Dagang dan Industri IndonesiaLaporan Ekonomi BulananJuli 2006Sekretariat Kamar Dagang dan Industri IndonesiaolehErna ZethaDR. Tulus TambunanMenara Kadin Indonesia 29 th FloorJl. HR. Rasuna Said X-5 Kav. 2-3 Kuningan – Jakarta Selatanwww.kadin-indonesia.or.id


INDIKATOR EKONOMINo Indikator 2002 2003 2004 2005 20061 Nilai PDB Harga Konstan Tahun 2000 (Rp triliun) 1,506.10 1,579.60 1,660.60 1,749.60 447.4 (1)2 Pertumbuhan PDB (%) 4.38 4.88 5.13 5.6 4.59 (1)3 Inflasi (%) 10.03 5.06 6.4 17.11 3.33 (2)4 Total Expor (USD milyar) 57.0 55.6 69.7 85.57 46.92 (3)5 Expor Non Migas (USD milyar) 44.9 43.1 54.1 66.32 36.51 (3)6 Total Impor (USD milyar) 31.2 29.5 46.2 57.55 28.84 (3)7 Impor Non Migas (USD milyar) 24.8 22.6 34.6 40.16 19.87 (3)8 Neraca Perdagangan (USD milyar) 25.8 26.1 23.5 28.02 18.08 (3)9 Neraca Transaksi Berjalan (USD milyar) 4.7 4.0 2.9 0.93 -10 Cadangan Devisa (USD milyar, ahir tahun) 32.0 36.3 35.93 34.72 41.13 (7)11 Posisi Utang Luar Negeri (USD milyar) 131.3 135.4 136.1 133.5 131.8 (8)12 Rupiah/USD (Kurs Tengah Bank Indonesia) 8,940 8,330 9,355 9,830 9,070 (7)13 Total Penerimaan Pemerintah (Rp triliun) 299.0 340.7 407.5 516.2 539.4 (*)14 Total Pengeluaran Pemerintah (Rp triliun) 244.0 258.1 306.1 542.4 559.3 (*)15 Defisit Anggaran (Rp triliun) -23.2 -37.7 -17.4 -26.18 -19.9 (*)16 Uang Primer (Rp triliun) 138.3 136.5 199.7 239.8 247.7 (4)17 Uang Beredar (Rp triliun)a. Arti Sempit (M1) 191.9 207.6 253.8 281.9 282.4 (4)b. Arti Luas (M2) 883.9 911.2 1,033.50 1,203.20 1,237.5 (4)18 Dana Pihak Ketiga Perbankan (Rp triliun) 845.0 866.3 965.1 1,134.10 1,172.0 (5)19 Kredit Perbankan (Rp trilioun) 365.4 411.7 553.6 689.7 699.9 (5)20 Suku Bunga (% per tahun)a. SBI satu bulan 12.9 8.1 7.4 12.75 12.25 (6)b. Deposito 1 bulan 12.8 7.7 6.4 11.98 11.63 (5)c. Kredit Modal Kerja 18.3 15.8 13.4 15.92 16.25 (5)d. Kredit Investasi 17.8 16.3 14.1 15.43 15.89 (5)21 Persetujuan Investasi- Domestik (Rp triliun) 25.3 16.0 36.80 50.58 66.99 (3)- Asing (Rp triliun) 9.7 6.2 10.3 13.58 5.98 (3)22 IHSG BEJ 424.9 742.5 1,002.20 1,162.60 1,351.7 (7)23 Nilai Kapitalisasi Pasar BEJ (Rp triliun) 268.4 411.7 679.9 758.4 901.0 (4)Source: BPS, BI and JSX1) Triwulan I 5) Posisi akhir Mei 20062) Januari – Juli 2006 6) Posisi 26 Juli 20063) Januari – Juni 2006 7) Posisi akhir Juli 20064) Posisi akhir Juni 2006 8) Posisi akhir triwulan I 2006*) dalam APBN 2006Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 – Kamar Dagang dan Industri Indonesia 2


Perkembangan Ekonomi IndonesiaAnalisa BulananOleh Sekretariat KADIN Indonesia Erna Zetha and DR. Tulus TambunanPenasehat Ahli JETRO Yojiro OGAWA and Shoji MAEDAKADIN IndonesiaJuli 2006Meskipun stabilitas maro ekonomi kembali dicapai dengan menguatnya rupiah dan berkurangnya tekanan inflasi,namun memasuki semester kedua tahun 2006 ini hampir sebagian besar kalangan dunia usaha dihinggapi perasaanpesimis. Tiga paket kebijakan ekonomi yang telah dikeluarkan pemerintah seolah-olah tidak memberi dampak yangberarti karena belum terlihat implementasinya secara nyata. Adanya hambatan pada birokrasi dan kurangnyadukungan dari berbagai pihak menyebabkan program-program pemerintah dalam ketiga paket kebijakan tersebutbanyak yang tidak bisa dijalankan sebagaimana mestinya. Hal ini menyebabkan upaya pemerintah untukmemperbaiki iklim investasi belum menunjukkan hasil yang nyata.Tidak kunjung terciptanya iklim investasi yang kondusif memang merupakan masalah yang sangat krusial dewasaini. Pemerintah sendiri seperti telah kehilangan sebagian energinya untuk mendorong gairah investasi yangkembali merosot sepanjang tahun 2006 ini. Niat baik pemerintah untuk memberantas korupsi tidak terdugamenjadi batu sandungan bagi pembangunan ekonomi belakangan ini. Akibat dianggap tidak jelasnya kriteriapenyelewengan yang digunakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menduga praktek korupsi padasuatu proyek, menyebabkan sebagian besar proyek-proyek pemerintah tidak dikerjakan sebagaimana yang telahdiprogramkan.Tidak berjalannya proyek-proyek pemerintah menyebabkan anggaran belanja dalam APBN tidak terealisasisebagaiman mestinya sehingga tidak menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi. Kondisi inilah yang nampaknyamenjadi salah satu penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi selama semester pertama tahun 2006. Ditambahdengan rendahnya penyaluran kredit perbankan, maka dapat dipastikan bahwa kegiatan ekonomi belum bergeraksecara memadai. Dari target pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang sebesar 18 persen untuk tahun2006, kenyataannya baru mencapai 1,5 persen dalam periode Januari – Mei 2006. Keinginan Bank Indonesia agarpenyaluran kredit investasi dan kredit modal kerja semakin meningkat juga belum terwujud. Dalam periode Januari– Mei 2006 pertumbuhan kredit investasi hanya sebesar 1,6 persen dan kredit modal kerja sebesar 1,8 persen.Sementara itu gairah investasi yang menurun tidak saja disebabkan tingginya biaya investasi karena tingginya sukubunga kredit, tetapi juga disebabkan maraknya bencana alam di berbagai wilayah Indonesia dalam enam bulanterakhir ini. Rusaknya infrastruktur jalan raya di banyak tempat menjadikan para investor berfikir dua kali untuksegera menanamkan modalnya untuk suatu kegiatan produksi. Apalagi kondisi dewasa ini juga tidak ditunjang olehinfrastruktur kelistrikan yang memadai. Meskipun realisasi investasi masih meningkat sekitar 12,1% selamasemester pertama 2006, namun menunjukkan perlambatan karena pada periode yang sama tahun 2005 realisasiinvestasi bertumbuh sebesar 43,1%. Dalam hal ini pertumbuhan penanaman modal asing menurun sangat berartidari sebesar 69,5% pada semester pertama 2005 menjadi hanya sekitar 4,8% pada semester pertama 2006.Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 – Kamar Dagang dan Industri Indonesia 3


Realisasi Investasi (Izin Usaha Tetap) PMDN dan PMAInvestasi1 Jan – 30 Juni 2006/ 1 Jan – 30 Juni 2005/Pertumbuhan (%)P Investasi (Rp triliun) P Investasi (Rp Triliun) P IP M D N 96 11.19 113 7.85 -15.04 42.5534.05 32.5P M A 487 424(US$ 3,51 milyar)(US$ 3,35 milyar)14.86 4.77Total 583 45.24 537 40.35 8.57 12.12Catatan: Kurs 1 dollar AS = Rp 9.700 (patokan APBN 2006)Perkembangan Pasar Uang dan Pasar ModalTerjadinya bencana alam dapat dikatakan tidak berpengaruh pada stabilitas nilai tukar rupiah dan indeks hargasaham di pasar modal dalam negeri. Penguatan nilai tukar rupiah yang terjadi di akhir Juni 2006 terus berlanjut dihampir sepanjang bulan Juli 2006. Meski sempat melemah di pertengahan Juli 2006 sebagai dampak meroketnyaharga minyak dunia ke posisi US$ 78 per barrel, namun dapat dikuatkan kembali ke posisi Rp 9.070 per dollarpada 28 Juli 2006. Dengan demikian dilihat dari posisi month to month nilai tukar rupiah menguat sekitar 2,5persen atau sebesar Rp 230 per dollar.Grafik 1Kurs Tengah Rupiah & Indeks Harga Saham GabunganJanuari 2006 - 31 Juli 20068,4001,600Rp/US$8,6008,8009,0009,2009,400Rupiah/US$IHSG9,6009,80010,0002-Jan-0617-Jan-061-Feb-0615-Feb-061-Mar-0615-Mar-0629-Mar-0619-Apr-063-May-0618-May-065-Jun-0619-Jun-063-Jul-0617-Jul-0631-Jul-061,5001,4001,3001,2001,1001,000Terjaganya stablitas rupiah ini diharapkan dapat menjamin terjaganya stabilitas ekonomi makro secara keseluruhandengan berkurangnya tekanan terhadap laju inflasi. Meskipun kondisi sektor riil masih jauh dari membaik,setidaknya stabilitas nilai tukar dapat menjadi pegangan bagi dunia usaha untuk melakukan investasi. Apalagidengan adanya sinyal dari Bank Indonesia bahwa suku bunga perbankan cukup mempunyai ruang untukditurunkan lebih lanjut, dan Bank Indonesia optimis bahwa dalam semester kedua tahun 2006 ini ekspansipenyaluran kredit akan ditingkatkan untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Desakan dunia usaha danpemerintah agar Bank Indonesia terus menurunkan tingkat suku bunga diharapkan menjadi pertimbangan pentingbagi Bank Indonesia untuk tidak terlalu konservatif untuk mempengaruhi tingkat bunga perbankan.Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 – Kamar Dagang dan Industri Indonesia 4


Sementara itu, meskipun sempat terimbas kenaikan harga minyak di pertengahan bulan Juli lalu, namun trenkenaikan harga saham dalam negeri terus berlanjut sejalan dengan membaiknya gairah pasar modal dunia. Pada31 Juli 2006 indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tercatat berada pada level 1.351,65atau naik sekitar 3,2 persen atau 41,39 poin dari level 1310,26 pada akhir Juni 2006. Walaupun masih jauh beradadi bawah level 1.553 yang dicapai pada 11 Mei 2006, namun tren kenaikan harga saham yang masih terusberlanjut memasuki bulan Agustus 2006 telah menentrankan para pelaku pasar.Perkembangan Laju InflasiAngka inflasi bulan Juli 2006 yang sama dengan inflasi bulan Juni 2006 (sebesar 0,45 persen) memunculkanoptimisme di kalangan pelaku usaha. Dengan inflasi kumulatif Januari-Juli 2006 yang hanya mencapai 3,33 persen,yang lebih rendah dari inflasi kumulatif pada periode yang sama tahun 2005, maka besar harapan angka inflasiuntuk seluruh tahun 2006 akan berada di bawah angka 8 persen.20Grafik 2Inflasi Kumulatif (%)2005 - 2006 (Januari - Juli)181614Kumulatif 2005Kumulatif 200612%10865.09423.330JanuaryFebruaryMarchAprilMayJuneJulyAugustSeptemberOctoberNovemberDecemberDilihat menurut kelompok pengeluaran, kelompok barang yang memberikan sumbangan terbesar pada inflasi Juli2006 adalah kelompok bahan makanan, yaitu sebesar 0,99 persen. Kenaikan harga beras selama bulan Juli lalumenjadi penyebab utama tingginya angka inflasi pada kelompok bahan makanan, dimana sumbangan kenaikanharga beras mencapai 0,05 persen dan merupakan penyumbang sepuluh persen terhadap total inflasi bulan Juli2006. Sementara itu terjadinya kenaikan biaya sekolah di bulan Juli menyebabkan inflasi pada kelompokpendidikan, rekreasi, dan olah raga menjadi penyumbang inflasi kedua terbesar, yaitu sebesar 0,69 persen.Suku BungaStabilnya tingkat inflasi sampai pertengahan tahun 2006 ini telah memungkinkan Bank Indonesia menurunkan sukubunga acuan atau BI rate ke level 11,75 pada 8 Agustus lalu. Dengan penurunan BI rate sebesar 50 basis poin dariposisi sebelumnya yang 12,25, maka hal ini merupakan penurunan yang terbesar sejak Bank indonesia menerapkaninflation targetting dalam kebijakan moneternya. Kondisi ini didukung tidak saja oleh menurunnya tekanan inflasidalam negeri dan stabilnya nilai tukar rupiah, tetapi juga oleh faktor eksternal, yaitu berupa berhentinya kenaikansuku bunga The Fed sejak akhir Juni 2006.Penurunan BI rate ini dilihat oleh banyak pihak sebagai tanda-tanda mulai terjadinya percepatan pertumbuhanekonomi pada semester II 2006. Penurunan suku bunga ini menjadikan kondisi makro ekonomi semakin kondusifuntuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Tantangan yang terbesar saat ini adalah bagaimana mempercepatrealisasi investasi dan belanja negara. Karena dari sisi moneter, Bank Indonesia sudah melakukan berbagai upayauntuk mendorong penurunan suku bunga kredit, meskipun tidak secara langsung bisa dinikmati kalangan duniausaha. Yang paling cepat akan merasakan dampak penurunan BI rate ini adalah sektor industri barang-barangkonsumsi, seperti industri otomotif dan properti, karena diperkirakan penurunan ini akan berdampak cukup besarLaporan Ekonomi Bulan Juli 2006 – Kamar Dagang dan Industri Indonesia 5


pada kredit konsumsi. Hal ini pada gilirannya akan memacu tingkat konsumsi masyarakat dan dapat mempercepatkenaikan angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan III 2006 ini.Grafik 3Suku Bunga SBI, Deposito dan Kredit Modal KerjaJanuari 2003 - Juli 2006 (%)19%171513Kredit Modal Kerja16.2512.251111.639SBI 1 Bulan75Deposito 1 BulanJan. 04Mar. 04May. 04July. 04Sept. 04Nov. 04Jan. 05Mar. 05May. 05July. 05Sept. 05Nov. 05Jan.06Mar.06May. 0626 Juli.06Perkembangan EksporPerkembangan ekspor di bulan Juni 2006 kembali mencatatkan rekor nilai ekspor tertinggi sepanjang sejarahperekonomian Indonesia. Setelah nilai ekspor bulan Mei 2006 mencapai sebesar US$ 8,34 milyar, maka nilaiekspor bulan Juni lebih tinggi lagi, yaitu mencapai US$ 8,48 milyar atau lebih tinggi 1,7 persen dari nilai eksporbulan Mei 2006. Dengan demikian, selama semester I 2006 nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 46,92 milyar ataunaik 15,14 persen dari nilai ekspor pada periode yang sama tahun 2005, yang sebesar US$ 40,75 milyar.Dalam periode ini kenaikan ekspor migas tetap lebih tinggi dari kenaikan ekspor non migas yaitu masing-masing17,8 persen dan 14,4 persen. Ekspor migas meningkat dari US$ 8,83 milyar pada semester I 2005 menjadi US$10,4 milyar pada semester I 2006, yang tetap terkait dengan tingginya harga minyak di pasar internasional, yangbelakangan ini sempat mencapai sekitar US$ 78 per barel. Pada periode tersebut ekspor minyak mentah naiksebesar 11,98 persen, sementara kenaikan ekspor hasil minyak dan gas masing-masing mencapai 30,95 persen dan20,23 persen.Sementara itu ekspor non migas meningkat sebesar 14,4 persen dari US$ 31,92 milyar pada semester I 2005menjadi US$ 36,51 milyar pada semester I 2006. Peningkatan ekspor non migas sebesar itu terutama disebabkanoleh meningkatnya ekspor sektor pertambangan dan lainnya sebesar 25,43 persen dan sektor pertanian sebesar23,5 persen, sedangkan peningkatan ekspor sektor industri hanya sebesar 12,54 persen.Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 – Kamar Dagang dan Industri Indonesia 6


Grafik 4Nilai Ekspor, Januari - Mei 2006(Juta US$)50,000US$ Juta40,00030,00020,00031,918.036,513.7Non-migasMigas10,0008,830.610,405.10Jan-Juni 2005 Jan-Juni 2006Note : Ekspor total naik sekitar 15,14%.Seperti halnya pada bulan Mei 2006, melonjaknya nilai ekspor di bulan Juni 2006 juga disebabkan olehmeningkatnya harga komoditas ekspor Indonesia, terutama pada sektor pertambangan dan sektor pertanian,diantaranya adalah minyak sawit mentah (CPO), kakao dan batu bara. Jika pada tahun 2004 harga CPO rata-ratasekitar Rp 3.389 per kg, dan pada tahun 2005 menjadi Rp 3.739 per kg, maka dalam semester I 2006 naik lagimenjadi Rp 3.903 per kg.Oleh karena itu peningkatan ekspor yang lebih didukung oleh meningkatnya harga komoditi di pasar duniaketimbang kenaikan volume ekspor, jelas bukan indikasi dari adanya peningkatan daya saing secara keseluruhan.Kondisi ini sesuai dengan penilaian International Institute for Management Development yang menempatkanIndonesia di urutan ke-60 dari 61 negara yang disurvei dalam hal daya saing. Dengan kondisi yang demikiansangatlah wajar jika pemerintah tidak terlalu optimis dalam menetapkan target pertumbuhan ekspor untuk tahun2006. Pemerintah tetap berpegang pada rencana jangka panjang dan menengah yang menetapkan pertumbuhanekspor nasional untuk tahun 2006 akan berada di sekitar 8%-13%.Perkembangan ImporNaiknya nilai impor bulan Juni 2006 sebesar 12 persen terhadap nilai impor bulan Mei 2006 menyebabkan total nilaiimpor selama semester I 2006 mencatat kenaikan sekitar 1,31 persen terhadap total nilai impor semester I 2005.Dengan nilai impor sekitar US$ 5,67 milyar pada Juni 2006, maka total nilai impor pada semester I 2006 mencapaiUS$ 28,84 milyar. Dalam hal ini impor migas naik sekitar 12,8 persen, sedangkan impor non migas masihmengalami penurunan sebesar 3,14 persen. Naiknya harga minyak di pasar dunia dan meningkatnya kebutuhanBBM dalam negeri membawa dampak terhadap naiknya impor migas sebesar 26,3 persen di bulan Juni 2006, danhal ini terutama disebabkan naiknya impor hasil minyak yang mencapai 50,65 persen pada bulan Juni 2006.Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 – Kamar Dagang dan Industri Indonesia 7


Grafik 5Perkembangan Nilai Ekspor dan Nilai Impor Indonesia(US$ Milyar)9085.6US$ Milyar8070605040302053.441.7EksporImpor48.8 48.727.324.062.1 61.056.3 57.233.531.031.332.471.646.557.540.728.546.928.81001997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Jan -Juni2005Jan -Juni2006Dilihat dari golongan penggunaan barang, dalam periode tersebut hanya impor barang konsumsi dan barang modalyang masih meningkat, yaitu masing-masing 12,1 persen dan 3,75 persen, sedangkan impor bahan baku tetapmengalami penurunan sekitar 0,18 persen. Terjadinya penurunan impor bahan baku pada periode tersebut secarakeseluruhan memang mengindikasikan turunnya kegiatan produksi selama semester I 2005, sehingga ada kalanganyang menganggap bahwa kondisi ini sangat kontradiktif dengan peningkatan nilai ekspor yang cukup berarti,terutama dalam dua bulan terakhir ini.504540353025201510502.7226.024.782.25Grafik 6Impor Menurut Golongan Barang(US$ Milyar)23.88 24.234.832.654.412.9025.874.313.7736.316.094.6344.698.282.1622.252000 2001 2002 2003 2004 2005 Jan-Juni20054.052.4222.224.20Jan-Juni2006Barang Konsumsi Bahan Baku Barang ModalTetapi, sesungguhnya kondisi ini justeru seiring dengan peningkatan nilai ekspor dan memperlihatkan bahwa geliatsektor riil sudah ada dengan kenaikan impor bahan baku/penolong yang mencapai hampir 20 persen pada bulanLaporan Ekonomi Bulan Juli 2006 – Kamar Dagang dan Industri Indonesia 8


Juni 2006. Pada bulan Juni 2006 impor baha baku mencapai US$ 4,61 milyar, sedangkan pada bulan Mei 2006baru sebesar US$ 3,84 milyar. Sementara itu impor barang konsumsi dan impor barang modal selama bulan Juni2005 mencatat penurunan masing-masing 18,5 persen dan 9,5 persen.Ketenaga KerjaanSalah satu dampak dari belum membaiknya sektor riil adalah tingginya tingkat pengangguran di Indonesia.Meskipun angka pengangguran per Februari 2006 lebih rendah dari angka pengangguran November 2005 – sepertidipublikasikan oleh BPS – namun sesungguhnya hal itu tidaklah mencerminkan adanya perbaikan kondisi ketenagakerjaan Indonesia. Tingkat pengangguran terbuka (Open Unemployment) -- yang merupakan rasio antara jumlahpengangguran terbuka dengan jumlah angkatan kerja – pada dasarnya justeru meningkat jika dibandingkandengan posisi pada Februari 2005 atau bahkan Agustus 2004. Jika pada Agustus 2004 dan Februari 2005 jumlahpengangguran mencapai 10,3 juta jiwa dan 10,9 juta jiwa, dan tingkat pengangguran terbukanya adalah 9,9persen dan 10,3 persen, maka pada Februari 2006 jumlah pengangguran naik menjadi 11,1 juta jiwa 10,4 persen.Rincian2004 20052006Agustus Februari November FebruariPenduduk Usia 15 Tahun Ke Atas (Juta Jiwa) 153.9 155.5 158.5 159.3Angkatan Kerja (Juta Jiwa) 104.0 105.8 105.9 106.3a. Bekerja 93.7 94.9 94.0 95.2b. Tidak Bekerja (Penganggur Terbuka) 10.3 10.9 11.9 11.1Bekerja Tidak Penuh /Setengah Menganggur (Juta Jiwa) 27.9 29.6 28.9 29.9a. Sukarela 14.5 15.3 15.0 15.7b. Terpaksa 13.4 14.3 13.9 14.2Bukan Angkatan Kerja (Juta Jiwa) 50.0 49.7 52.6 53.0Jumlah Pengangguran (Juta Jiwa) 38.2 40.5 40.8 41.0Tingkat Pengangguran Terbuka/TPT (%) 9.9 10.3 11.2 10.4Sumber: Badan Pusat StatistikPerkembangan Ketenaga-kerjaan IndonesiaMeskipun tingkat pengangguran terbuka di bulan Februari 2006 lebih rendah dari tingkat pengangguran padaNovember 2005 yang mencapai 11,2 persen, namun sudah tentu tidak bisa dikatakan lebih baik. Melonjaknyaangka pengangguran pada November 2005 merupakan akibat dari kebijakan pemerintah pusat yang menaikkanharga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebanyak dua kali pada tahun 2005, yaitu pada bulan Maret dan bulan Oktober.Naiknya harga BBM tidak saja menyebabkan hancurnya daya beli masyarakat karena melonjaknya harga barangbarang,tetapi juga telah menyebabkan sebagian masyarakat kehilangan pekerjaan karena terpuruknya sektorusaha. Tutupnya sebagian usaha di sektor industri kecil dan larinya investasi ke luar negeri menyebabkanterpuruknya sektor produksi riil sejak triwulan IV 2005. Sebagai akibatnya adalah melonjaknya tingkatpengangguran terbuka di Indonesia.Jika ada penurunan tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2006, hal itu dimungkinkan karena terjadinyapenyesuaian dalam pola kerja masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang sebelumnya bekerja penuh kemudianberpindah menjadi bekerja tidak penuh (setengah pengangguran), dan ada pula sebagian dari masyarakat yangsebelumnya tidak bekerja kemudian menjadi bekerja namun dengan status sebagai setengah pengangguran. Halini ditunjukkan oleh jumlah penduduk setengah pengangguran per Februari 2006 yang mengalami peningkatan jikadibandingkan dengan posisi sebelumnya. Jika pada November 2005 jumlah penduduk yang tergolong setengahpengangguran baru sekitar 28,9 juta orang, maka pada Februari 2006 naik mencapai 29,9 juta jiwa, atau terjadipeningkatan sebanyak 1 juta jiwa.This report is for use by professional and business investors only and has been prepared for information purposes and is not an offer to sell or a solicitation to buyany institution. The information herein was obtained or derived from sources that we believe are reliable, but whilst all reasonable care has been taken to ensure Thisreport is for use by professional and business investors only and has been prepared for information purposes and is not an offer to sell or a solicitation to buy thatstated facts are accurate and opinions fair and reasonable, we do not represent that it is accurate or complete and it should not be relied upon as such. All opinionsand estimates included in this report constitute our judgment as of this date and are subject to change without notice. This document is for the information of clientsonly and must not be copied, reproduced or mare available to others.Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 – Kamar Dagang dan Industri Indonesia 9

More magazines by this user
Similar magazines