GEMA BNPB

bnpb.go.id

GEMA BNPB

LAPORAN UTAMAPenganugerahanGlobal Championfor Disaster Risk Reductiondari PBB kepada Presiden RIresiden RI Dr. Susilo BambangPYudhoyonomenerimapenganugerahan Global Championfor Disaster Risk Reduction (DRR)dari Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon diBali International Convention Center, Nusa Dua,Bali (19/11). Penganugerahan ini berlangsungpada hari terakhir penyelenggaraan KonferensiTingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-19. SBYmerupakan tokoh pertama di dunia yangdianugerahi Global Champion for Disaster RiskReduction oleh PBB dalam rangka penguranganresiko bencana sebagai prioritas nasional pascaterjadinya tsunami yang melanda Asia pada 26Desember 2004.Pengakuan ini sebenarnya telah diberikanpada saat berlangsungnya 3 rd Session GlobalPlatform DRR yang diselenggarakan padabulan Mei 2011 di Jenewa. Pada saat ituSekjen PBB mengumumkan bahwa PresidenRI mendapatkan penghargaan sebagaiGlobal Champion for Disaster Risk Reduction.Namun karena berhalangan hadir, PerwakilanKhusus Sekjen PBB di bidang PenguranganResiko Bencana (PRB), Margareta Wahlströmmenyerahkan “Letter of Recommendation”kepada Kepala Badan Nasional PenanggulanganBencana (BNPB), Dr. Syamsul Maarif, mewakiliPresiden RI dalam hal penanggulangan bencana.Penganugerahan Global Champion for DRR inidisaksikan beberapa kepala negara, menteri dan2.500 undangan dari 160 negara.Sehubungan dengan penyerahan penghargaantersebut, Presiden RI bertemu denganPerwakilan Khusus Sekjen PBB di bidang PRBdi Jenewa pada Juni 2011. Namun demikianpenganugerahan belum dapat dilakukan karenapada saat itu forum pertemuan dianggap kurangtepat dan Pemerintah Indonesia mengusulkanagar penyerahan tropi dilakukan di Indonesia.Penganugerahan tropi ini tidak terlepas peranPemerintah Indonesia dalam membangunsistem nasional penanggulangan bencana danPRB sebagai salah satu strateginya dengan visiyang ingin diwujudkan yaitu “KetangguhanBangsa dalam Menghadapi Bencana”. Selamamasa pemerintahan Presiden RI Dr. SusiloBambang Yudhoyono dan pasca tsunami yangterjadi di Asia tahun 2004, Indonesia dinilai telah4 GEMA BNPB - November 2011


mengimplementasikan upaya-upaya PRB secarasignifikan. Hal ini dibuktikan dengan berbagaipencapaian positif, antara lain:Bersamaan dengan dimulainya pelaksanaanHyogo Framework for Action (Kerangka AksiHyogo) 2005 – 2015, Indonesia juga mulaimembangun Sistem Nasional PenanggulanganBencana, mulai dari legislasi, kelembagaan,perencanaan, pendanaan dan pengembangankapasitasnya, agar penyelenggaraanpenanggulangan bencana, termasukpengurangan risiko bencana, dapat berjalansecara terpadu dan menyeluruh.Berbagai capaian yang telah dilakukan Indonesiatermasuk lahirnya Undang Undang No. 24Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana,terbentuknya Badan Nasional PenanggulanganBencana dan Badan Penanggulangan BencanaDaerah di tingkat provinsi dan berbagaikabupaten/kota, tersusunnya Rencana NasionalPenanggulangan Bencana (2010-2014), RencanaAksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana(2010-2012), dimasukkannya pengelolaanbencana ke dalam RPJMN (2010-2014) sebagaisalah satu prioritas pembangunan nasional, dansebagainya.Bentuk komitmen Indonesia terhadap HFAjuga diwujudkan dengan terbentuknyaPlatform Nasional Pengurangan Risiko Bencana(Planas PRB) yang merupakan wadah bagipara pemangku kepentingan PRB (media,organisasi masyarakat, pemerintah, akademis,lembaga usaha dan organisasi internasional)untuk bersinergi dalam PRB karena PRB adalah“everybody’s business”. Di tingkat lokal, beberapaforum PRB juga sudah dibentuk.Pemerintah terus berupaya mendukungkemajuan penanggulangan bencana di tingkatdaerah termasuk dengan pembuatan petapetarisiko untuk digunakan dalam menyusunrencana pembangunan hingga penguatankelembagaan melalui penyusunan rencanakontinjensi dan pelatihan-pelatihan untukkesiapan tanggap darurat.Upaya untuk membangun ketangguhanterhadap bencana di tingkat komunitastelah dilakukan oleh berbagai organisasimasyarakat/NGOs dalam bentuk CommunityBased Disaster Risk Reduction (CBDRR) projects.CBDRR dilakukan dengan pemahamanbahwa komunitas/masyarakat lokal memilikikearifan dan pengetahuan lokal. Oleh karenaitu mereka adalah pihak yang tepat dalammengidentifikasikan ancaman dan risiko yangdihadapi serta upaya mitigasi yang diperlukanuntuk mengantisipasinya.Sistem peringatan dini untuk berbagai ancamantelah dibangun, seperti system peringatan dinitsunami (INA TEWS), gunung meletus, banjir,dan tanah longsor.Upaya untuk mengarusutamakan PRB kedalampendidikan juga sudah dimulai sejak 2008.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,GEMA BNPB - November 2011 5


“Penghargaan ini adalahsuatu bentuk pengakuan duniaakan kerja keras berbagai pihak diberbagai bidang yang terkait denganpenanggulangan bencana di Indonesia,khususnya PRB.”dengan didukung berbagai komponen yangbergerak dalam bidang pendidikan danpengurangan risiko bencana, menyusun strategiuntuk pengarusutamaan PRB dalam bentukmodul ToT yang dapat digunakan sebagaipanduan bagi para guru dalam menjelaskanmengenai ancaman, pengetahuan dasar tentangpengurangan risiko bencana, kesiapsiagaan,dan sebagainya.Indonesia juga berpartisipasi dalam kampanyeglobal “One million safe schools and hospitals”,dimana sejumlah 13.500 sekolah dan 133rumah sakit di Indonesia berkomitmen untukmembangun sekolah dan rumah sakit yangaman dari bencana.Komitmen Pemerintah untuk penguranganrisiko bencana juga ditandai denganmeningkatnya pendanaan untuk PRB dalamlima tahun terakhir, terutama dana PRB yangmeningkat secara signifikan yaitu 2,14 juta USDpada tahun 2010 menjadi 21,4 juta USD padatahun 2011.Indonesia, sebagai laboratorium untukpenanggulangan bencana, juga telah menjadireferensi bagi negara lain: berbagai delegasidari negara lain telah dating ke Indonesia untukbelajar mengenai kemajuan/capaian Indonesiadalam PRB dan PB dan ingin melakukan/menggunakan upaya yang serupa dengan yangtelah digunakan oleh Indonesia (contohnyaData dan Informasi Bencana Indonesia/DIBI,Platform Nasional PRB, Undang Undang No.24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, dansebagainya).Capaian Indonesia dalam bidang penguranganrisiko bencana menunjukkan pentingnyakemitraan dalam mengimplementasikan PRB.Di bawah arahan dan koordinasi BNPB, berbagaimitra PRB, seperti Safer Communities forDisaster Risk Reduction (SCDRR), Global Facilityfor Disaster Risk Reduction (GFDRR), Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction(AIFDR), DIPECHO, JICA, United Nations CountryTeam, UN ISDR, dan lainnya., turut memberikankontribusi yang signifikan bagi kemajuan PRB diIndonesia.6 GEMA BNPB - November 2011


Upaya-upaya dalam mempromosikan PRBdan kesadaran bersama dalam PRB secaraberkelanjutan dilakukan secara giat oleh badanpenanggulangan bencana dan stakeholder,termasuk sektor swasta, civil society, dankomunitas di seluruh Indonesia. Melihatkenyataan bahwa masyarakat terpencil seringkali menjadi kelompok yang rentan sebagaidampak bencana, sehingga kesadaran akan PRBperlu mendapatkan perhatian utama.Upaya dan kerja keras Pemerintah Indonesia inidibantu melalui kerjasama teknis dengan mitrainternasional, khususnya UNISDR, UNDP, AIFDR,Bank Dunia, JICA, dan negara-negara donor.Sementara itu, insitutsi nasional, LSM, universitasdan sektor swasta juga sangat mendukungdalam mewujudkan tindakan-tindakan dalamPRB.Sementara itu, dalam sambutan Presiden RIyang telah direkam dan ditampilkan padapertemuan 3 rd Session of Global Platform forDisaster Risk Reduction, Presiden RI menyatakanbahwa penghargaan ini adalah suatu bentukpengakuan dunia akan kerja keras berbagaipihak di berbagai bidang yang terkait denganpenanggulangan bencana di Indonesia,khususnya PRB. Berikut beberapa pandanganPresiden RI sehubungan dengan kerangkadalam PRB, khususnya di Indonesia.Pertama, kita perlu mengubah paradigma.Dari reaktif menjadi pro-aktif, dari penanganandarurat menjadi pengurangan resiko, dan daripemerintah menjadi urusan bersama.Kedua, kita perlu membangun penanggulanganbencana yang komprehensif dan mencakupsemua aspek pembangunan nasional. Indonesiasedang menyelesaikan peta risiko bencana padatahun ini sehingga dapat membantu dalamperencanaan dan kesiapsiagaan di tingkatprovinsi.Ketiga, kita perlu membentuk karakter akanrasa aman secara nasional; pencegahan dankesiapsiagaan lebih penting daripada respondalam manajemen bencana .Keempat, pemerintah tidak dapat melakukanpenanggulangan bencana sendiri, masyarakatjuga harus terlibat. Indonesia juga telahmembentuk Badan Penanggulangan BencanaDaerah yang siap dalam penanganan darurat.Kelima, pentingnya kepemimpinan di tingkatlokal. Dalam bencana tentunya terdapat masalahkomunikasi dan logistik, peran aktor di tingkatlokal sangat penting. Disinilah diperlukan


kepemimpinan di tingkat lokal yang profesionaldan ahli dalam pengelolaan bencana.Dan terakhir, pentingnya tetap menjunjungtinggi kearifan lokal. Hal tersebut ditunjukkanketika masyarakat di Pulau Simeuluemenghadapi dahsyatnya tsunami pada tahun2004. Masyarakat setempat menuju ke tempatyang lebih tinggi ketika melihat tanda-tandaakan terjadinya tsunami seperti digambarkandalam pengetahuan lokal yang diajarkan olehnenek moyang mereka.Dalam sambutan penerimaan penghargaantersebut, Presiden SBY menyatakan bahwapenghargaan ini adalah suatu bentukpengakuan dunia akan kerja keras berbagaipihak di berbagai bidang yang terkait denganpenanggulangan bencana di Indonesia,khususnya PRB.Sebagai salah satu negara paling rawanbencana, bangsa Indonesia haruslah mampuhidup harmoni dengan risiko bencana. Artinyamanajemen PRB harus menjadi bagian dalam8 GEMA BNPB - November 2011


dan kerjasama yang lebih besar dalampenanggulangan bencana. Bulan Juni 2011,Presiden SBY telah mengumumkan dalam WorldEconomic Forum khususnya kerjasama di bidangbencana di antara negara-negara dunia ketiga.Program nasional, inisiatif di tingkat regional danglobal tidak hanya pada kesiapsiagaan tetapijuga membangun solidaritas antar bangsa.Ini semua diperlukan dalam rangka membangunketangguhan bangsa dan masyarakat dalammenghadapi bencana. PRB harus dimasukkanke dalam seluruh sendi pembangunan nasionalagar risiko dari bencana dapat diturunkan dankesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan.10 GEMA BNPB - November 2011


PROFIL bincang-bincangMuhammad Ohoe Sinapoy, SE, MBAIndonesia BanggaMemiliki BNPBengawali karir sebagai aktivisMorganisasi kemahasiswaan Kosgoro,yang bernaung di bawah PartaiGolkar, pria yang mempunyai namalengkap Muhammad Oheo Sinapoy, S.E.,MBA,memulai karier sebagai pengurus teras Golkardi Sulawesi Tenggara. Pengalaman selama initelah membawa berkah tersendiri hingga terjunke dalam dunia penanggulangan bencana. Saatini, beliau menjabat sebagai anggota dewanterhormat dari Komisi VIII DPR RI.Dari awal mula, Oheo sudah menasbihkan diriterjun ke panggung politik. Beliau berpendapatbahwa perubahan dan pengabdian kepadanegara dapat dilakukan tanpa harus menjadipegawai negeri sipil (PNS). Pengabdian itudibuktikan Oheo dengan mengemban amanatrakyat sebagai anggota DPR RI. Dari usia 25tahun sudah terlibat di Partai Golkar dan setelah4-5 tahun mengabdi, dipercaya terlibat dikepengurusan DPD Golkar mewakili daerahnya,Sulawesi Tenggara. Pada saat itulah beliaubanyak belajar dari para senior seperti AkbarTandjung, Agung Laksono dan Jusuf Kalla. Diusia muda, Oheo sengaja ditempa sebagai kaderuntuk menjadi seorang politisi handal olehseniornya.Tahun 2004 saat Jusuf Kalla menjadi KetuaUmum Golkar, pria kelahiran 23 November 1971ini dipercaya menjadi Ketua Umum DepartemenPekerjaan Umum dan Kesejahteraan Rakyat, dikepengurusan partainya. Karena penunjukkanitu, diutuslah Oheo untuk pergi ke Jepang danmempelajari tentang manajemen evakuasibencana. Di sana dia juga mempelajari tentangbencana yang dilihat dari sisi geografis dangeologis selama 3 bulan.“Bencana di Jepang menjadi aktivitas sosialGEMA BNPB - November 2011 11


memiliki sistem UU yang mengaturtentang penanggulanganbencana. Sehingga Indonesiamenjadi referensi utama daribeberapa negara di Asiauntuk menciptakan UUkebencanaan” ujar lulusanWolverhampton-Inggrisini.“Dari negara Cina,jika dibandingkandengan UU kita,mereka masih parsialtidak terintegrasiseperti UU kita. UUNo. 24 kita sudahtermaktub untukm e n y e l a m a t k a nmanusia dari segalabencana, sangatterintegrasi betuluntuk sebuah aktivitasm e n y e l a m a t k a numat manusia,menyelamatkan asetnegara, memperkuatmotivasi bangsayang tegar dan kuatdari segala aspek”,tambahnya.“Bencana itu berkahdari Tuhan, kita harussiap berhadapan denganbencana yang haruskita hadapi. Karena kitasudah memiliki semuanya,kekuatan alam yang besar,memiliki BNPB, memilikimasyarakat yang tangguh.Sehingga bencana apapun yangdatang, kita mampu bertahan danmampu menghadapinya menjadibangsa yang tangguh dan kuat. Karenaitu sesuai dengan filosofi hidup saya:“Sebaik-baik manusia adalah manusia yangbermanfaat bagi orang lain”, ucap Ayah dari 3putri ini menutup pembicaraan.GEMA BNPB - November 2011 13


FOKUS BERITAPENTINGNYAKUALITASSDMDALAMPENANGGULANGANBENCANAurun waktu lima tahun terakhir,KIndonesia telah melakukanbeberapa pencapaian signifikandalam pengurangan resikobencana (PRB). Salah satu pencapaian tersebutterdapat pada penguatan Sistem NasionalPenanggulangan Bencana yang mencakuplegislasi, institusi, peningkatan kapasitas,pendanaan, dan perencanaan. Di samping itu,Indonesia juga telah memiliki Undang-UndangNomor 24 Tahun 2007 tentang PenanggulanganBencana dan diikuti dengan pembentukanBadan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB), suatu kelembagaan di tingkat nasionalsetingkat kementerian, pada tahun 2008.Pemerintah Pusat tidak hanya membentukbadan ini di tingkat pusat tetapi juga mendorongpemerintah provinsi dan kabupaten/kota untukmembentuk Badan Penanggulangan BencanaDaerah (BPBD). Saat ini BPBD telah terbentuk di33 provinsi dan 351 di tingkat kabupaten/kota.Undang-undang penanggulangan bencanatelah memberikan mandat kepada BNPBuntuk menjalankan peran dan fungsikomando, koordinasi, dan pelaksana dalampenanggulangan bencana. Dengan latarbelakang ini, BNPB harus memiliki sumber dayamanusia (SDM) yang terampil dan profesionaldalam melakukan tugas dan tanggung jawab.Memahami akan SDM yang dibutuhkan, BNPBtelah mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhanuntuk memperoleh pelatihan dan meningkatkanprofesionalitas, serta memperluas pengetahuanmanajemen bencana, dengan fokus padarespon tanggap darurat dan kesiapsiagaan.Pelatihan Manajemen di Lingkungan BNPBDilatarbelakangi hal tersebut, BNPB yangbekerjasama dengan lembaga-lembagaPerserikatan Bangsa-bangsa (PBB), PemerintahAustralia (AusAID) dan Australia-IndonesiaFacility for Disaster Reduction (AIFDR)meyelenggarakan pelatihan manajemenuntuk pejabat BNPB dan BPBD. Pelatihanmanajemen bencana ini memiliki tujuansebagai berikut: (1) me-review peran dan fungsiBNPB dalam manajemen bencana, khususnyapada koordinasi, assessment, respon, dankesiapsiagaan untuk misi, logistik, koordinasi14 GEMA BNPB - November 2011


sipil militer, serta komunikasi media danpublik; (2) Mendiskusikan pembelajaran dankeberhasilan dalam penanggulangan bencanadi Indonesia dan juga negara-negara lain; (3)Menyusun buku panduan lapangan (handbook)tanggap darurat; (4) Menyediakan modulpelatihan untuk lingkungan BNPB dan BPBD.Pelatihan manajemen di lingkungan BNPB yangdibuka pada tanggal 28 Juli 2011 dikuti oleh 30pejabat eselon I dan II BNPB dan diselenggarakandi Jakarta Pusat. Pelatihan berlangsung selama7 hari ini terbagi dalam 2 sesi; sesi pertamapada tanggal 28-30 Juli 2011 dan sesi keduapada tanggal 10-13 Agustus 2011. Sementaraitu dalam sambutan pembuka, Kepala BNPB,Syamsul Maarif mengatakan bahwa tujuandari kegiatan ini adalah untuk meningkatkanprofesioanlisme baik institusi maupunsumberdaya yang ada di dalamnya, dengantujuan untuk meningkatkan pelaksanaanpenanggulangaan bencana di negara ini.“Pelaksanaan penanggulangan bencana yanglebih baik akan dapat menekan secara signifikankerugian yang ditimbulkan, baik hilangnyanyawa manusia, maupun kerugian materil dannon materil”, tambah Syamsul Maarif.Dalam pelatihan ini, pejabat eselon I dan IIdibagi dalam enam kelompok diskusi yangdilakukan secara terbuka untuk memberikanmasukan akhir dalam rangkaian penyusunanGEMA BNPB - November 2011 15


ancangan buku panduan lapangan tanggapdarurat. Buku panduan ini merupakan adopsidari buku panduan lapangan United NationsDisaster Assessment and Coordination (UNDAC)dan disesuaikan dengan undang-undang danperaturan yang berlaku dan konteks situasiterkait kebencanaan di Indonesia. Beberapapanduan yang akan dibahas antara lain adalahPeranan BNPB dalam Koordinasi, KoordinasiLapangan, Media dan Komunikasi Publik, KajiCepat Bencana, Tanggap Darurat dan Langkahawal Tugas Lapangan, Koordinasi Sipil-Militer,Logistik Pada Masa Bencana.Peningkatan sumberdaya manusia di BPBDPelatihan manajemen ini pun berlanjut bagiKepala BPBD provinsi seluruh Indonesia.Pelatihan ini berlangsung pada tanggal 5 sampaidengan 11 Oktober 2011 dan bertempat diJakarta Pusat. BNPB tetap bekerja sama denganlembaga-lembaga PBB - UNOCHA, UNDP, WFP,FAO, dan UNICEF, AusAID, dan AIFDR. Pelatihanmanajemen di tingkat provinsi sangat pentingmengingat pembentukan BPBD yang relatifbaru serta kebutuhan peningkatan kapasitasbagi para pejabat.Menurut Kepala BNPB, Syamsul Maarif, sikapleadership perlu digarisbawahi. Hal ini sangatdibutuhkan dalam melakukan koordinasi ketikaterjadi bencana. Kepala BPBD diharapkanlebih powerful sehingga mekanisme komando,koordinasi, dan pelaksana dapat berlangsungdengan baik. Ini dicontohkan pada saat16 GEMA BNPB - November 2011


difokuskan pada peningkatan kapasitaskhususnya terkait dengan kesiapsiagaan danmasa tanggap darurat.Materi yang diberikan sangat komprehensif dansaling mendukung satu sama lain. Apa yangtelah diberikan memperkaya pengalaman yangselama ini telah dipraktekkan oleh peserta baikdi lingkungan BNPB dan BPBD. Di samping itudiberikan juga materi yang bersifat teori sepertiprinsip kemanusiaan, tantangan dan dilemadalam tindakan kemanusiaan, kerjasama sipilmiliter,dan konteks budaya lokal.Dari semua materi yang diberikan, materimengenai leadership merupakan kekuatanyang harus dimiliki oleh pemimpin-pemimpindi BNPB dan BPBD. Leadership dan koordinasisangat berkaitan, hal ini mengingat tidak hanyaada satu organisasi yang melakukan tindakankemanusiaan. Banyak aktor, baik itu pihakPemerintah Indonesia, pemerintah atau militerasing, LSM, donor, swasta, maupun masyarakatingin membantu dalam memberikan bantuankemanusiaan. Oleh karena itu leadershipseorang pemimpin dalam berkoordinasisangat dibutuhkan dalam setiap langkah dantindakan baik itu dalam bidang kesiapsiagaan,tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi,logistik, administrasi dan pendanaan, maupunpengendalian dan pengawasan. PemikiranKepala BNPB mengatakan bahwa sikapleadership yang melekat pada setiap pemimpinmerupakan bagian dari profesionalitas. SyamsulMaarif menambahkan bahwa profesionalitasdapat terwujud apabila 3 (tiga) kriteria dapatterpenuhi, antara lain skills, social responsibility,dan spirit of corp.Pada akhir pelatihan baik di lingkungan BNPBdan BPBD, para peserta yang dinyatakanberhasil dalam pelatihan ini mendapatkanpenyematan emblem emas (gold medal)yang menyatakan tingkatan tertinggi dalampenguasaan pengetahuan dan keterampilandalam penanggulangan bencana di Indonesia.18 GEMA BNPB - November 2011


FOKUS BERITABNPBBANGUNSIGABpa itu Sistem Informasi KesiapsiagaanABencana (SIGAB)? SIGAB merupakanaplikasi yang berbasis WebGIS danpemanfaatan aplikasi dapat diaksesmelalui internet. Beberapa data atau informasiyang termuat dalam aplikasi ini antara lain dataprofil wilayah, kependudukan, sumber dayapenanggulangan bencana, serta lokasi saranadan prasarana. SIGAB memanfaatkan ‘googlemap’ sebagai peta dasar; sementara itu petaadministrasi memanfaatkan data Badan PusatStatistik (BPS), sedangkan peta sungai dan jalanmenggunakan peta Bakorsurtanal.Ketersediaan SIGAB dapat mendukungkesiapsiagaan penanggulangan bencana didaerah. Melalui aplikasi ini, para aktor, khususnyaBadan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD), dapat memastikan upaya yang cepat,tepat, efektif dan efisien dalam menghadapikejadian bencana sehingga korban dan dampakbencana dapat diminimalkan. Di samping itu,para aktor tersebut dapat juga melakukaninventarisasi sumber daya yang siap dimobilisasiserta menyiapkan lokasi-lokasi evakuasi apabilabencana terjadi di suatu wilayah.Dalam aplikasi SIGAB, beberapa menudapat diakses antara lain deskripsi wilayah,kependudukan, sumber daya, dan peta.Sementara pada menu kependudukandapat diklasifikasikan ke dalam sub menuyang terkait dengan resiko kebencanaan,seperti jumlah penduduk, penduduk miskin,tingkat pendidikan, penyandang cacat, matapencaharian, dan tingkat pendapatan perkapita. Pada menu sumber daya, beberapa submenu terdiri dari personil, alat-alat komunikasi,peralatan mesin dan non mesin, serta logistik.Dan pada menu peta ditampilkan beberapasub menu, seperti peta administrasi, sarana danprasarana, kependudukan, dan rawan bencana.Data atau Informasi disajikan dalam bentuk datastatistik dan spasial, sehingga diharapkan dapatmempermudahkan dalam menganalisisnya.Sosialisasi dan Bimbingan Teknis SIGABSaat ini data dan informasi Kabupaten Solok diProvinsi Sumatera Barat dan Kabupaten Cianjurdi Jawa Barat dapat diakses dalam situs SIGAB.GEMA BNPB - November 2011 19


Kabupaten Cianjur dan Solok dipilih sebagaipilot project dengan pertimbangan bahwakeduanya mempunyai tingkat kerawanan danrisiko bencana yang tinggi. Untuk kabupatenSolok, survey dilakukan di Kecamatan LembahGumanti, Lembang Jaya, Kubung, DanauKembar, dan Gunung Talang. Sedangkandi Kabupaten Cianjur survey dilakukan diKecamatan Sindang Barang, Pacet, dan Cibeber.Dalam meningkatkan kualitas data dan informasiyang terdapat pada aplikasi ini, Pusat Data,Informasi, dan Humas BNPB menyelenggarakansosialisasi sekaligus bimbingan teknis aplikasiSIGAB bagi petugas pengelola data BPBDprovinsi, kabupaten, dan kota di ProvinsiSumatera Barat dan Jawa Barat. Pelaksanaankegiatan diselenggarakan pada tanggal 17 -19 Oktober 2011 di Kota Padang dan tanggal24 – 26 Oktober 2011 di Kota Bandung. KepalaPusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, SutopoPurwo Nugroho, yang didampingi Kepala BPBDProvinsi setempat dan Kepala Bidang InformasiBNPB, Neulis Zuliasri, membuka sosialisasi danbimbingan teknis di kedua kota tersebut. Padaacara pembukaan, Kepala Pusat Data, Informasi,dan Humas secara simbolis menyerahkan petakesiapsiagaan kepada pemerintah daerahsetempat.Tujuan dari kegiatan sosialisasi dan bimbinganteknis antara lain:• Memperkenalkan sekaligus launchingaplikasi SIGAB yang dapat digunakansebagai sumber informasi bagi pemerintahpusat dan daerah dalam upaya pencegahandan kesiapsiagaan untuk penanggulanganbencana.• Menyiapkan sumber daya manusia yangmemiliki kemampuan dan ketrampilan20 GEMA BNPB - November 2011


dalam penggunaan aplikasi SIGAB dan GIS.• Pengimplementasian aplikasi SIGAB diKabupaten/Kota yang ada di ProvinsiSumatera Barat dan Jawa Barat.Kegiatan Sosialisasi dan Bimbingan Teknis di KotaPadang, dihadiri oleh BPBD Provinsi dan 19 BPBDKabupaten/Kota yang terdiri dari Mentawai,Pesisir Selatan, Solok, Sijunjung, Tanah Datar,Padang Pariaman, Agam, Lima Puluh Kota,Pasaman, Solok Selatan, Dharmasraya, PasamanBarat, Kota Padang, Kota Solok, Kota Pariaman,Sawahlunto, Padang Panjang, Bukit Tinggi,dan Payakumbuh. Sementara di Kota Bandungpeserta yang hadir berasal dari BPBD ProvinsiJawa Barat dan BPBD Kabupaten/kota terdiridari dari Ciamis, Tasik, Garut, Banjar, Sukabumi,Cianjur, Bogor, Kuningan, Majalengka, Bandung,Bandung Barat, Karawang.Materi sosialisasi dan bimbingan teknis meliputipengenalan dan pemanfaatan aplikasi SIGAB,inventarisasi data sarana dan prasarana,pengenalan admin aplikasi SIGAB, GIS danpemetaan, serta penggunaan alat GPSMateri sosialisasi dan bimbingan teknis meliputipengenalan dan pemanfaatan aplikasi SIGAB,inventarisasi data sarana dan prasarana,pengenalan admin aplikasi SIGAB, GIS danpemetaan, serta penggunaan alat GPS.Melalui bimbingan teknis, petugas pengolahdata diajak untuk mempraktekkan secaralangsung pengambilan data di lapangan. Datayang telah diperoleh dan dianalisis tersebutkemudian dapat dimasukkan ke aplikasi SIGAB.Melalui SIGAB, inventarisasi sumber dayadapat dipetakan secara spasial. Diharapkanaplikasi ini dapat digunakan sebagai salah satualat untuk menganalisa penilaian awal risikobencana. Pusat Data, Informasi, dan Humas akanmelanjutkan sosialisasi dan bimbingan teknisSIGAB untuk provinsi-provinsi yang lain.Sistem Informasi KebencanaanSIGAB yang dapat diakses di alamat websitesigab.bnpb.go.id merupakan bagian dari sisteminformasi kebencanaan yang dikembangkanPusat Data, Informasi, dan Humas. Saat ini telahterbangun sistem informasi kebencanaan,seperti portal BNPB, geospasial, data informasibencana Indonesia (DIBI), dan sistem informasigeografis. Semua ini merupakan sisteminformasi kebencanaan yang nantinya dapatdiakses oleh publik yang memiliki kepentingandi bidang kebencanaan. Dengan ketersediaansistem informasi kebencanaan yang canggihdan baik, masyarakat luas diharapkan dapatmengakses informasi dan sebagai literaturterkait kebencanaan sehingga visi membangunbangsa tangguh menghadapi bencana dapatterwujud.GEMA BNPB - November 2011 21


FOKUS BERITAadan Nasional PenanggulanganBBencana bekerjasama denganUnited Nations Office for theCoordination of Humanitarian Affairs(UNOCHA) dan Australia-Indonesia Facility forDisaster Reduction (AIFDR) menyelenggarakanpelatihan “Koordinasi dan Kaji Cepat dalamPenanggulangan Bencana”. Sebanyak 45 pesertadari BNPB dan Badan Penanggulangan BencanaDaerah (BPBD) bertemu dalam pelatihan yangberlangsung pada tanggal 18 sampai dengan22 November 2011 di Hotel Pramesthi Bogor,Provinsi Jawa Barat.Pelatihan ini wujud nyata BNPB dalammewujudkan visinya “MembangunKetangguhan Bangsa dalam MenghadapiBencana.” Ini senada yang dengan apa yangdisampaikan oleh Kepala Pusat Pendidikandan Pelatihan BNPB, Drs. Muhtaruddin, M.Sidalam sambutan pembukaan. “Hal ini diperkuatdengan adanya Undang-Undang tentangPenanggulangan Bencana Nomor 24 Tahun 2007.Kelemahan dari BPBD adalah belum melakukanmapping terhadap daerah rawan bencanasecara lengkap. Peningkatan SDM sangatdibutuhkan dalam mendukung BPBD. Upayapengurangan resiko bencana memerlukankerjasama yang menyeluruh dari semuapihak, baik pemerintah/aparatur, masyarakatmaupun dunia usaha”, ungkap Muhtaruddin.Ditambahkan bahwa Pemerintah tidak akanmampu melakukan upaya pengurangan resikobencana atau penangulangan bencana hinggapada tataran akar rumput tanpa didukung olehberbagai pihak. Disini peran aparatur sangatdiperlukan dalam rangka mendorong peranserta masyarakat untuk melakukan upaya-upayapengurangan resiko.Dalam pelatihan ini, para peserta diberikanpelatihan berupa kegiatan outbound (outdoor)dan pengajaran di kelas (indoor). Pada haripertama, para peserta dibagi menjadi enamkelompok. Pembagian kelompok dibagi secaraacak, hal ini dilakukan agar setiap peserta dapatBNPB Adakan PelatihanKoordinasi Dan Kaji Cepat22 GEMA BNPB - November 2011


mengenal peserta lainnya. Dilanjutkan denganice breaking, berupa permainan interaktifyang melibatkan koordinasi gerak tubuh dansuara antar sesama anggota kelompoknya.Para peserta begitu antusias dalam mengikutipermainan tersebut.Pengajaran berupa materi dalam prinsip dasarmanajemen bencana, para pengajar berasaldari unit kedeputian BNPB. Para peserta yangmendengarkan materi itu, begitu kritis, berkalikalimereka mengangkat tangan ke atas.Bertanya tentang sistem penanganan bencanayang cepat dan efektif dalam mengurangibencana.Simulasi Bencana di Malam HariPara peserta begitu menikmati pelatihanini, sesekali canda gurau mewarnai kegiatanpelatihan dan suara tawa geli melihat rekantimnya yang bertindak konyol dalam melakukangerakan-gerakan yang diperintahkan olehinstruktur. Tak terasa hari mulai gelap, sesuaijadwal para peserta kembali ke kamarnya,beristirahat, sholat dan mandi. Saat pukul 07.00malam, peserta kembali berkumpul di ruangmakan. Beberapa peserta, masih ada yang asyikbercerita tentang kegiatan pelatihan tadi siang,sambil sesekali mengunyah makanan.Ketika pukul 02.00 dini hari panita pelatihanmemberikan beberapa lembar kertas yangdiselipkan di bawah pintu kamar para peserta.Ketika jam menunjukkan pukul 02.40, suaraketukan bertubi-bertubi memecahkankesunyian suasana malam. Para peserta begitupanik, wajah bingung hinggapi para peserta.Mereka membaca kertas yang diselipkan dibawah pintu. Dengan terburu-buru, berkemasdan lari-lari menuju ruang pertemuan. Dalambeberapa menit para peserta sudah terkumpul.Mereka segera diberangkatkan menuju lokasisimulasi latihan bencana.Dalam simulasi itu, para pesera harusberkoordinasi di semua posko yang terdapatdi lokasi tersebut, posko tersebut adalah poskoBNPB, BPBD, UN-OCHA, AIFDR dan instansi yangterkait.Tak terasa, sudah siang hari, peserta sudahbanyak yang menemukan posko, merekamencatat laporan dari posko yang merekatemui mengenai perkembangan bencanagunung lokon yang terjadi di Sulawesi. Akhirdari pencarian posko, peserta melaporkanperkembangan bencana yang terjadi. Dalamsimulasi itu juga, dibuat adanya tokoh dari“Tidak boleh asal-asalan, harus mengetahui rumus 5w+1H, apa yang terjadi, dimana kejadian itu,kapan terjadinya, siapa korban bencana itu, kenapa terjadi bencana itu dan bagaimana penanganannya”GEMA BNPB - November 2011 23


Menteri Kesra dan Kepala BNPB yang berkunjungke posko peserta, bermaksud menanyakanbagaimana laporan bencana yang diperolehtadi. Kemudian, pertanyaan yang dikemukakanapakah data yang diperoleh valid, benar-benarriil dan dapat dipertanggungjawabkan.Hari ketiga dalam pelatihan ini, adanyawawancara yang dilakukan presenter dari TVOne, yaitu Ira Koesno, Bilqis dan Alfito. Padaawalnya para peserta banyak yang menolak,karena mereka takut diwawancarai, karena bisasalah ucap, salah sikap dan lainnya. Namunketika dijelaskan bahwa wawancara ini adalahhal penting dalam menunjang penampilandan kredibilitas narasumber. Para pesertapun akhirnya mau diwawancarai denganberusaha tenang ketika diwawancari. Parapresenter TVOne sibuk menulis data wawancarasedangkan panitia sibuk merekam dan memfotopara peserta sebagai dokumentasi.Hari terakhir, adanya evaluasi terhadapwawancara kemarin, bagaimana posisi tubuhyang baik, intonasi suara ketika diwawancaridan gerakan mata. Peserta tertawa, ketikadiperlihatkan kesalahan-kesalahan yangdilakukan oleh rekan-rekannya. Ira Koesnoselaku, presenter dari TV One, mengatakan,sudah biasanya orang akan gugup,melakukan gerakan-gerakan yang aneh ketikadiwawancarai. “Untuk mengantisipasinya, kitaharus membiasakan diri ketika diwawancara,sekali-kali cobalah latihan dengan rekan dikantor, bayangkan bila bencana sedang terjadi,apa yang harus dikatakan, apa yang dilakukan”,ujar Koesno.Koesno menambahkan bahwa sesuatu yangperlu diingat adalah rumusan dalam menjawabberita. “Tidak boleh asal-asalan, harusmengetahui rumus 5w+1H, apa yang terjadi,dimana kejadian itu, kapan terjadinya, siapakorban bencana itu, kenapa terjadi bencana itudan bagaimana penanganannya”, ujar Koesno.Para peserta menganggukan kepala, merekamenuliskan perkataan Koesno.Pada penutupan pelatihan ini, dihadiri olehDeputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, DodiRuswandi dan Kepala Pusat Pendidikan danPelatihan Penanggulangan Bencana BNPB. DodiRuswandi menuturkan, “Apa yang kita dapatdari pelatihan ini, hendaknya kita praktekkan,dengan itu kita benar-benar memberi teladandan inspirasi bagi semua orang, bahwa yangnamanya penanganan bencana, memerlukankerjasama dan koordinasi yang baik.”24 GEMA BNPB - November 2011


FOKUS BERITAPELATIHAN DANPENGEMBANGANRELAWANBerbasis Dunia Usahaenanggulangan bencana diPIndonesia melibatkan peranpemerintah, civil society, dandunia usaha. Hal ini ditegaskandalam Undang-undang Nomor 24 Tahun2007 tentang Penanggulangan Bencana.Disebutkan dalam pasal 28 UU No. 24 Tahun2007 mengenai peran lembaga usaha bahwalembaga ini mendapatkan kesempatan dalampenyelenggaraan penanggulangan bencana,baik secara tersendiri maupun bersama denganpihak lain. Di samping itu, keterlibatan lembagausaha atau dunia usaha ditampilkan dalamlambang Badan Nasional PenanggulanganBencana (BNPB) dengan segitiga biru.Lembaga usaha memiliki peran yang sangatstrategis dalam penanggulangan bencanakarena melalui Corporate Social Responsibility(CSR) pembangunan berkelanjutan yangmenjadi perhatian utama dapat terhambatapabila terjadi suatu bencana di tanah air.Lembaga usaha melihat pembangunanberkelanjutan tersebut selalu terkait dengankepedulian terhadap masyarakat danlingkungan. CSR merupakan suatu konsep yangmenjelaskan bahwa organisasi memiliki suatutanggung jawab terhadap konsumen, karyawan,pemegang saham, komunitas dan lingkungandalam segala aspek operasional perusahaan.BNPB menyambut peran aktif yangditawarkan oleh pihak lembaga usaha dalampenanggulangan bencana di Indonesia. Peranaktif tersebut dapat dimanfaatkan sebagaisinergi kekuatan bersama dalam memberikansumber daya dalam penanggulangan bencana.Sumber daya tersebut dapat berupa penyediaanrelawan penanggulangan bencana dengankualifikasi tertentu. Pemikiran Kepala BNPB,Syamsul Maarif menyebutkan bahwa sangatpenting adanya relawan dengan spesialisasitertentu seperti dapur umum, rescue, logistik,trauma healing, atau pun shelter.Dalam kerangka tersebut, DirektoratPemberdayaan Masyarakat Badan NasionalPenanggulangan Bencana (BNPB) telahmenyelenggarakan dua pelatihan di tempatyang berbeda. BNPB menggelar pelatihanpertama bagi relawan, khususnya dalam upayapeningkatan kualitas dan kapasitas mereka,pada 25 – 28 Juli 2011, bertempat di Bogor, JawaBarat. Pelatihan tersebut mengangkat tema“Fasilitasi dan Pengembangan Relawan BerbasisDunia Usaha”. Sementara itu, pelatihan kedua25 GEMA BNPB - Maret 2011GEMA BNPB - November 2011 25


Lembaga usahamemiliki peran yangsangat strategis dalampenanggulangan bencanakarena melalui Corporate SocialResponsibility pembangunanberkelanjutan yang menjadiperhatian utama dapatterhambat apabilaterjadi suatu bencanadi tanah air.diselenggarakan pada tanggal 7 – 10 September2011 di Bandung.Pada kedua pelatihan tersebut, beberapalembaga usaha yang terlibat antara lain PTBakrie & Brother, PT Telkom, PT Pelni, PLN Peduli,Artha Graha Peduli, PT Pelindo II, PT PasifikSatelit Nusantara, SAR Astra, PT Jasa Raharja,PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, PT NindyaKarya (Persero), PT Bakti Artha Reksa Sejahtera(Bars), PT Jasa Marga, Cikini Rescue, Kadin DKI, PTLontar papyrus pulp & paper industry, PT AraraAbadi, Tzu Chi, PT Kalimantan Subur Permai,Parahita, PT Maligi Permai Industrial Estate, PTBank Sinarmas, PT Tarunacipta Kencana, PTSmart.tbk, PT. Asuransi Sinar Mas, PT Sari PerkasaAgung, PT Pindo Deli Karawang, PT AsuransiMaipark, PT Maligi Permai Industrial Estate,Parahita Diagnostic Center, PT Jasa Marga, PTPertamina, PT Rajawali Nusantara Indonesia, RSIslam Jakarta Pondok Kopi, SAR Astra, serta PTIndomaret.Peserta di luar lembaga usaha yang turuthadir antara lain dari Badan PenanggulanganBencana Daerah (BPBD), antara lain dari ProvinsiJawa Barat, Provinsi Lampung, Provinsi SulawesiTenggara, Provinsi Banten, Provinsi KalimantanTengah, Provinsi Jambi, Provinsi Nusa TenggaraBarat, Provinsi Kalimantan Selatan, ProvinsiSulawesi Tengah, Provinsi DKI Jakarta, ProvinsiBali, Provinsi Sumatera Barat, Provinsi KalimantanBarat, Provinsi D.I. Yogyakarta, Provinsi SumateraUtara, Provinsi Jawa Tengah, Provinsi SulawesiSelatan, serta Kabupaten Bandung Barat.Deputi Bidang Pencegahan dan KesiapsiagaanBNPB, Sugeng Triutomo, menjelaskan bahwapelatihan ini dimaksudkan untuk memberikanbekal, menyamakan persepsi, bahkan padasaatnya nanti memberikan standardisasi bagipelaku penanggulangan bencana terutamapara relawan dunia usaha, yang akan bersamasamaPemerintah dalam upaya menanggulangibencana. Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikandan Pelatihan BNPB, Mukhtaruddin, menekankanbahwa BNPB memberikan peluang pelibatandunia usaha, dalam proses penanggulanganbencana, baik dalam tahap pra bencana,tanggap darurat, dan pasca bencana. Di sisilain, Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB,Ir. H. Medi Herlianto, menggarisbawahi bahwadalam penanggulangan bencana masih banyaklembaga usaha melakukan upaya bantuan yang26 GEMA BNPB - November 2011


tergolong konvensional (relawan yang kurangterlatih) dan banyak berlomba-lomba membukadompet bencana tapi hal itu belumlah cukup.Sebenarnya, sektor lembaga usaha dapatmemainkan peran perintis dalam memimpindan mendukung masyarakat, seperti membantumasyarakat atau BPBD melakukan pelatihan,membantu masyarakat meningkatkanketahanan terhadap bencana, memfasilitasi PB,dan membantu investasi.Apa yang dilakukan oleh dunia usaha melaluiCSR-nya diharapkan bahwa kegiatan yangdilakukan harus disesuaikan dengan kebijakanpenyelenggaraan penanggulangan bencana.Hal tersebut disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 pasal 29.Disebutkan juga bahwa lembaga usahaberkewajiban menyampaikan laporan kepadapemerintah dan/atau badan yang diberi tugasmelakukan penanggulangan bencana sertamenginformasiakannya kepada publik secaratransparan serta berkewajiban mengindahkanprinsip kemanusiaan dalam melaksanaakanfungsi ekonominya dalam penanggulanganbencana.Acara pelatihan relawan selama 4 hariini mengangkat beberapa materi terkaitkebencanaan antara lain materi wajib danmateri inti. Materi wajib antara lain (1) konsepsidan karakteristik bencana, (2) Sistem nasionalpenanggulangan bencana, dan (3) Perspektifdan implementasi relawan. Materi inti meliputi(1) Penyelenggaraan dapur umum dan huniansementara, (2) Pemberdayaan masyarakat, (3)Peran relawan dalam tanggap darurat, (4) Peranrelawan saat pemulihan, (5) Peran relawan dalamlogistik dan peralatan, (6) Radio komunikasidalam penanggulangan bencana, (7) Pencariandan evakuasi korban, (8) Pertolongan pertama,(9) Pendampingan psikososial, (100 Navigasidalam penanggulangan bencana, dan (10)Jungle survival. Pelaksanaan pelatihan dilakukandengan dinamis dengan bantuan fasilitator.Metode pelatihan dilakukan dengan dinamikakelompok, diskusi kelompok, serta paparandiskusi kelompok.


LIPUTAN KHUSUSWUJUDKANRELAWANYANG TANGGAP,TANGKAS, DANTANGGUHeputi Bidang Pencegahan danDKesiapsiagaan Badan NasionalPenanggulangan Bencana Ir. SugengTriutomo, DESS, mewakili KepalaBNPB Syamsul Maarif, yang sedang dalamperjalanan dari Sumatera Barat, membuka secararesmi acara “Gelar Relawan PenanggulanganBencana Tahun 2011” di Bumi Perkemahan KiaraPayung, Kecamatan Jatinangor, KabupatenSumedang, Provinsi Jawa Barat, Jumat sore(14/10). Acara tersebut akan berlangsung selama3 (tiga) hari mulai tanggal 14 - 16 Oktober 2011.Dalam kata sambutan Syamsul Maarif yangdibacakan oleh Sugeng Triutomo mengatakan,“Kita dapat bersama-sama bertemu dalam acaraGelar Apel Gabungan Relawan PenanggulanganBencana dari lembaga usaha dan organisasimasyarakat. Saya mengucapkan terima kasihdan selamat datang di Bumi Perkemahan KiaraPayung, Jatinangor ini di sela-sela kesibukanpara relawan sehingga dapat hadir dalam acaraini.”Menurut Syamsul Maarif bahwa wilayahIndonesia berada di daerah yang sangatrawan bencana, baik bencana alam maupunbencana sosial. Berbagai bencana silih bergantimengguncang Indonesia, seperti saat ini ada16 gunung api dengan status “Waspada” dan5 gunung dengan kondisi “Siaga” dan yangterakhir gempa bumi di Bali. Untuk itu upayaupayapenanggulangan bencana denganpenguatan dalam mengurangi risiko bencanamenjadi sangat penting, khususnya di daerahdaerahrawan bencana.“Peran relawan yang diandalkan dalampenanggulangan bencana selama ini sudahsangat eksis, terutama dalam masa tanggapdarurat. Peranan relawan yang cukup signifikan,kecepatan dan semangat dalam melakukan aksipenanggulangan bencana. Hampir 80% upayapenanangan darurat dilakukan oleh masyarakatitu sendiri, termasuk oleh para relawan. Selainitu juga diharapkan para relawan dalam upaya28 GEMA BNPB - November 2011


penanggulangan bencana dapat lebih berperandalam fase sebelum bencana, pada saat terjadibencana hingga pasca bencana. Ada beberapatantangan sehubungan dengan peran relawan,seperti koordinasi, kompetensi, prosedur tetap(protap), jaringan dan kemitraan. Oleh karena ituBNPB menganggap perlu untuk mewujudkanrelawan yang tanggap, tangkas dan tangguhdalam penanggulangan bencana, “kata SyamsulMaarif seperti yang dibacakan oleh SugengTriutomo.Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB MediHerlianto, sebagai Ketua Panitia Gelar RelawanPB melaporkan, “Tujuan pelaksanaan acaraGelar Relawan PB ini antara lain (1) Membangunkoordinasi yang baik dan efektif antar-relawan,(2) Meningkatkan pemahaman dan ketrampilanrelawan sesuai keahlian bidang PB, dan (3)Meningkatkan kesiapsiagaan dan ketrampilanrelawan melalui simulasi lapangan PB.” MediHerlianto melanjutkan bahwa sasaran kegiatanini adalah Terjalinnya koordinasi yang baikdan efektif antar-relawan penyelenggaraanGelar Relawan, Meningkatnya pemahaman,kemampuan dan keterampilan relawan terkaitdalam penyelenggaraan PB dan Meningkatnyakesiapsiagaan relawan dan aparatur terkaitdalam PB.“Acara dengan tema ‘Relawan Menjadi PilarPenting dalam Penanggulangan Bencana’ inidiikuti oleh sekitar 400 peserta relawan PB yangberasal dari 25 organisasi sosial masyarakatdan 16 lembaga usaha, 6 perguruan tinggi danInstansi Pemerintah dari Jakarta dan Jawa Barat,“kata Medi Herlianto.Acara dalam Gelar Relawan PB ini meliputi (1)Apel Siaga gelar relawan, (2) Diskusi Cluster,(3) Pembelajaran cluster relawan, (4) SimulasiPB, (5) Sertifikasi relawan, (6) Api unggundan Refleksi Kegiatan, serta (7) Informasi danmedia komunikasi. Pada acara ini juga terdapatpameran kebencanaan yang diikuti olehlembaga usaha dan organisasi serta instansipemerintah dan perguruan tinggi denganmenampilkan beberapa informasi kebencanaandan peralatan pendukung kebencanaan.GEMA BNPB - November 2011 29


LIPUTAN KHUSUSPelajaranBerhargadi TimurNusantara“Saudara-saudara saya mendapat tugas menjadi komandantanggap darurat atau dikenal dengan sebutan IncidentCommander (IC). Dalam keadaan seperti ini, penunjukkanIncident Commander adalah mutlak karena ditujukan untukmengendalikan semua kegiatan dalam penanganan danpenanggulangan bencana agar berjalan dengan efektif danefisien. Oleh karena itu saya kumpulkan saudara-saudara di sinidan saya tunjuk staf-staf saya dengan perannya dalam tanggapdarurat ini. Perlu diketahui bahwa, pada fase tanggap daruratini akan berjalan selama 2 minggu atau 14 hari terhitung daritanggal 28 September 2011 hingga 11 Oktober 2011. Apabila dilapangan terjadi perkembangan lebih lanjut, maka masa tanggapdarurat dapat berubah”.aragraf di atas merupakan cuplikanPnarasi yang dituturkan olehKomandan Pangkalan AngkatanLaut atau Danlanal, Kol. Suroso,pada Geladi Pos Komando Tanggap Daruratpenanggulangan bencana gempa bumi dantsunami di Maumere. Geladi ini berlangsungpada 26 September 2011 di Maumere,Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.Selama 24-28 September 2011, BNPB melakukanserangkaian kegiatan sosialisasi, pra latihan,geladi posko, geladi evakuasi masyarakat dansekolah, geladi lapangan, dan bakti sosial diMaumere. Maumere dipilih sebagai lokasilatihan, karena pengalaman kejadian tsunamidi Maumere 12 Desember 1992. Pada pukul13.29 Wita saat itu terjadi gempabumi 7,5 SR,dipicu oleh gempa tektonik akibat penunjamanlempeng Eurasia dan Indo-Australia yang terletakdi Utara Maumere, Laut Flores. Selang 5 menitkemudian disusul tsunami ketinggian 36 meter30 GEMA BNPB - November 2011


yang mencapai 300 meter ke daratan. Korban2.100 orang meninggal, 500 orang hilang, 447orang luka, 90.000 ribu rumah hancur dan 90%struktur bangunan hancur. Pertimbangan lainadalah tingginya risiko ancaman gempabumidan tsunami, sebab Maumere berbatasanlangsung dengan Flores Thrust.Tujuan GeladiKepala Badan Nasional PenanggulanganBencana (BNPB), DR. Syamsul Maarif, M.Si,GEMA BNPB - November 2011 31


membuka secara resmi pelaksanaan GeladiKesiapsiagaan menghadapi ancaman GempaBumi dan Tsunami di Maumere, KabupatenSikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).Geladi ini sebagai bentuk kesiapsiagaan yangtelah disusun oleh Kedeputian Pencegahan danKesiapsiagaan BNPB yang bekerjasama denganBPBD Provinsi NTT serta BPBD KabupatenSikka serta melibatkan juga kementerian/lembaga termasuk TNI dan Polri dan pemangkukepentingan yang meliputi asosiasi pemerintahdaerah, lembaga swadaya masyarakat,organisasi profesi dan pihakswasta, media sertapublik yang lebihluas dalampenanggulangan bencana. Kegiatan inidirangkaikan dengan bakti sosial dalam bentukpelayanan kesehatan dan perbaikan lingkunganuntuk mengurangi kerentanan bencana.Sesuai tema “Membangun Masyarakat danAparat yang Tangguh dalam menghadapiGempabumi dan Tsunami”, maka tujuanutama penyelenggaraan geladi ini adalahmeningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaanbagi aparat pemerintah maupun nonpemerintahpada semua tingkatan, khususnya32 GEMA BNPB - November 2011


Kabupaten dan Provinsi Nusa Tenggara Timurterhadap ancaman gempabumi dan tsunami,serta membangun komitmen bersama untukmeningkatkan upaya pengurangan risikobencana.Skenario GeladiSecara geografis Provinsi Nusa Tenggara Timurmerupakan daerah yang sangat rawan terhadapgempabumi, baik gempabumi tektonik maupungempabumi vulkanik. Berdasarkan catatansejarah, kejadian gempabumi disusul dengantsunami dalam waktu ±5 menitsetelahnya di ProvinsiNusa Tenggara Timur terjadi pada 12 Desember1992 di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Ende.Dengan sangat terbatasnya waktu yang tersediauntuk evakuasi, di mana tsunami diperkirakanakan sampai garis pantai dalam ±5 menit, makakemampuan masyarakat dan aparat setempatdalam memahami daerahnya dan bertindakuntuk melakukan evakuasi mandiri secaracepat dan menuju arah dan tempat yang amanakan menjadi kunci utama pengurangan risikoterkena bencana tsunami. Melalui diskusi warga,disepakati suatu kearifan lokal berupa seruan“Edo!! Edo!!” sebagai penanda agar masyarakatsegera lari ke tempat yang lebih tinggi setelahterjadinya gempabumi.GEMA BNPB - November 2011 33


Geladi LapanganSebagai puncak dari rangkaian kegiatangeladi, maka pada tanggal 28 September2011 diadakan geladi lapangan sebagai suatumetode latihan simulasi peran dan fungsidalam manajemen penanggulangan bencana,terutama dalam tahap tanggap darurat yangmelibatkan mobilisasi seluruh kapasitassumber daya yang ada untuk menunjukkankemampuan operasional, sesuai RencanaOperasi Geladi (ROG)yang telah disusundengan penekananpada demo/simulasi yangmenggambarkan proses dan mekanismetanggap darurat bencana.Geladi lapangan dilaksanakan di LapanganPatisomba ±14 km dari kota Maumeredan dibuka oleh Kepala Badan NasionalPenanggulangan Bencana. Kegiatan diikutioleh ±800 orang pelaku dari SKPD terkaitKabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur,dan BNPB melalui tim Satuan Reaksi CepatPenanggulangan Bencana Wilayah Timur, danmasyarakat sekitar Lapangan Patisomba ±104orang sebagai penimbulsituasi dan first responder.Run-down simulasim e n a m p i l k a n34 GEMA BNPB - November 2011


erjenjangnya tingkatan penanganandarurat bencana, dengan PemerintahKabupaten sebagai pelaku utama, danPelaku Provinsi dan Pusat merapatsebagai pendamping. Demo/simulasimeliputi operasi darat, laut, dan udara.Operasi darat antara lain berupa SARdan Urban SAR, penyiapan shelter/hunian sementara untuk pengungsi,evakuasi korban, dan layanan medis.Operasi SAR laut diperagakan oleh TNI-AL, Pos SAR Maumere, dan masyarakatnelayan. Operasi udara menampilkanSAR oleh Helikopter Super Puma TNIdan dropping logistik (Cargo DeliverySystem—CDS dan Helly Box) olehpesawat Hercules C-130 TNI-AU.Pengerahan alutsista TNI inimerupakan suatu bentukkerjasama sipil militer (Civil–MilitaryCoordination) dalam PenyelenggaraanPenanggulangan Bencana diIndonesia sesuai arahan Presidenbahwa keterlibatan TNI dan POLRIdalam penanggulangan bencanamerupakan suatu hal yang tidak bisaditinggalkan karena TNI juga memilikitugas selain perang. Bertindak sebagaiIncident Commander dalam geladilapang ini adalah Danlanal MaumereKol. Laut Soeroso."Tujuan utamapenyelenggaraan geladiini adalah meningkatnyakewaspadaan dan kesiapsiagaanbagi aparat pemerintah maupunnon-pemerintah pada semuatingkatan, khususnya Kabupatendan Provinsi Nusa TenggaraTimur terhadap ancamangempabumi dan tsunami, sertamembangun komitmen bersamauntuk meningkatkanupaya penguranganrisiko bencana. "Bakti Sosial Bagi MasyarakatSetempatBakti sosial ini terselenggara ataskerjasama BNPB dengan beberapakementerian/lembagasertaorganisasi internasional. Kegiatanyang berlangsung di beberapa tempatdi Kabupaten Sikka ini dimulai denganpenyerahan simbolis bantuan vaksinanti rabies (VAR) dari KementerianKesehatan kepada Dinas KesehatanKabupaten Sikka sebanyak 800 vialuntuk 200 kuur. Khitanan massaljuga diberikan bagi 24 anak dariwilayah kerja Puskesmas Wolomarang.Sementara itu, KementerianKehutanan menyerahkan 5 jenis bibittanaman sebagai bantuan programpenghijauan atau greenbelt bagiGEMA BNPB - November 2011 35


masyarakat pesisir. Kelompok masyarakat pesisirpenerima bantuan ini meliputi Wuring, Hewuli,Wailiti, Wolomarang, Kota Uneng, Kabor, Beru,Wairotang, Waioti berupa bibit mangrove (3.500bibit), kelapa (5.500 bibit), ketapang (2.500 bibit),sukun (10.000 bibit), dan waru (1.500 bibit).Penentuan jenis bantuan berupa vaksinkarena ketersediaan vaksin yang terbatas danpeningkatan jumlah kasus penyakit rabies diKabupaten Sikka. Di sisi lain, penyerahan bibittanaman mangrove dimaksudkan sebagaipenghijauan sekaligus pelindung abrasi ataugelombang pasang di sekitar wilayah pesisir.36 GEMA BNPB - November 2011


LIPUTAN KHUSUSSRC PBDemonstrasi Simulasi Bencanandonesia terletak di daerah tropisIdengan kondisi topografi yangbervariasi dari dataran, perbukitandan pegunungan yang sangat rawanterhadap bencana hidrometrologi seperti angintopan, banjir dan longsor pegunungan dankebakaran hutan. Selama bulan Januari 2010 sajatercatat sekitar 100 gempa diatas 5 Skala Richter,karena itu Indonesia sangat membutuhkansistem mitigasi bencana terpadu. PosisiIndonesia merupakan negara yang beradapada pertemuan 3 lempeng utama dunia yaitulempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik yangsetiap waktu dapat berpotensi menimbulkanbencana geoleogi berupa gempa, tsunami dankeruntuhan gunung api dan mempunyai 129gunung api aktif.Dalam arahan Presiden yang disampaikan padasidang kabinet Indonesia Bersatu II tanggal5 November 2009, maka disana disampaikanbahwa pemerintah akan membentuk suatustandby force penanggulangan bencana yangdilengkapi dengan tim medis, tim penangananlistrik, tim penanganan komunikasi dan gerakcepat dengan melibatkan seluruh instansi/lembaga terkait, TNI dan POLRI. SRC-PB ini harussudah dapat dikerahkan dalam hitungan jamsetelah bencana dimana dikoordinasikan dandikomando oleh BNPB.Dibentuknya SRC-PB adalah membantu Pemdadi dalam melakukan tindakan-tindakan yangcepat tanggap darurat di daerah yang terkenabencana, berupa bantuan teknis, peralatanmaupun dukungan logistik terhadap bencana diluar kemampuan Pemda dalam penanganannya.SRC-PB tingkat nasional merupakan gabungandari berbagai instansi/lembaga/organisasitingkat pusat yang dibentuk guna memberikandukungan awal secara cepat dan tepat kepadadaerah baik propinsi maupun kabupaten/kota yang terkena bencana pada saat-saatawal tanggap darurat terutama pada periodeGEMA BNPB - November 2011 37


"Keberadaan sistemmitigasi bencana akanmembuat pemerintahdan masyarakatmemiliki adaptasi danantisipasi yang lebihbaik terhadap perilakualam."panik. SRC-PB tingkat nasional ada dua denganpangkalan di pangkalan Udara TNI AU HalimPerdanakusumah Jakarta untuk wilayah barat,dan Lanud TNI AU Abd Saleh untuk wilayahtimur. SRC-PB wilayah barat melayani bantuantanggap darurat di wilayah Sumatra, Kalimantan,Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sedangkanwilayah timur akan melayani tanggap daruratdi kawasan Jawa Timur, Sulawesi, Maluku, NusaTenggara, dan Papua.Saat ini 2 unit SRC-PB telah difungsikan yaitu satudari pangkalan udara TNI Halim Perdana Kusumauntuk wilayah barat dan di Lanud Abdul RahmanSaleh di Jawa Timur untuk wilayah timur. SRC-PBdi wilayah barat akan melayani bantuan tanggapdarurat untuk wilayah Sumatera, Kalimantan,Jawa Tengah dan Jawa Barat, sedangkan diwilayah timur melayani Jawa Timur, Sulawesi,Maluku, Bali, Nusa Tenggara serta Papua. SRC-PB ini berkekuatan masing-masing 550 personilyang berasal dari 14 instansi dan didukung olehlebih dari 3000 personil dari 19 instansi lainnyayang siap diberangkatkan setiap saat setelahmenerima perintah dari BNPB begitu terjadibencana. SRC-PB bertugas pada awal bencanadan selalu berkoordinasi dengan Pemda.Beberapa tugas yang diemban SRC-PB antaralain:• Melakukan pengkajian kerusakan dankebutuhan secara cepat• Pengendalian situasi darurat bencanatermasuk pembuka jalan.• Pencarian, penyelamatan dan evakuasi.• Pelayanan kesehatan, pengungsian danhunian sementara.• Penyaluran logistik dari titik penerimaan kesasaran• Pemulihan segera fungsi sarana danprasarana vital• Pengaturan bantuan dan relawan dalamdan luar negeri• Mengkoordinasikan dukungan pusat sesuaitugas instansi K/L terkait.Keberadaan sistem mitigasi bencana akanmembuat pemerintah dan masyarakat memilikiadaptasi dan antisipasi yang lebih baik terhadapperilaku alam. BNPB sebagai Center of Excellentpenanggulangan bencana di Indonesia.Dalam kegiatannya melakukan upaya-upayatanggap darurat dan rehabilitasi rekonstruksipasca bencana. Untuk memfasailitasi sertamengintegrasikan kegiatan pengurangan risikobencana dibentuk SRC-PB.Simulasi BencanaTugas SRC-PB yaitu melakukan pelatihan dalamhal peningkatan kemampuan personil di daerahdan penyelenggaraan pemantauan bencanadi daerah. Oleh karena itu BNPB mengadakangelar dan demonstrasi SRC-PB, pada hari Rabu(16/11/ 2011), bertempat di Malang, Jawa Timur.38 GEMA BNPB - November 2011


Dalam pidatonya, kepala BNPB, SyamsulMaarif, menegaskan, peningkatan kapasitasmerupakan prioritas BNPB dalam membangunSRC-PB sangat diperlukan. “Melalui simulasiini, aparat dan masyarakat akan terbiasa untukmenghadapi bencana. Faktor yang terpentingdalam pertolongan terhadap korban bencana,adanya kecepatan, yaitu penanggulanganbencana harus dilaksanakan secara cepat,karena menyangkut penyelamatan jiwamanusia. Profesional, dilaksanakan denganmenggunakan standar kompetensi yangberlaku dengan mengutamakan keselamatan.Fleksibilitas, adanya pelayanan yang konsisten,disesuaikan dengan kondisi yang ada dalammengelola kejadian bencana di lokasi, tanpamemandang faktor penyebab, ukuran, lokasidan kompleksitas bencana. Akuntabilitas yangtransparan, tindakan yang dilaksanakan dapatdipertanggungjawabkan secara etik dan hukum.Mengakhiri pidatonya, Syamsul menuturkan,bencana dapat terjadi sewaktu-waktu,hendaknya kita selalu siap siaga untukmenghadapi bencana.”Dalam simulasi ini, personel SRC PB berjumlah550 orang terdiri dari berbagai instansi terkaitdengan inti dari TNI 222 orang dan Polri 51, sertaBNPB, Kemkes, Kemsos, PU, Basarnas, PMI danrelawan. Khusus untuk wilayah Timur di motorioleh instansi gabungan antara Nasional danPemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur.Dalam simulasi tersebut, masyarakat dan aparatdiajak memahami karakteristik bencana tsunamidan gempa bumi. Dengan sangat terbatasnyawaktu yang tersedia untuk evakuasi, dimanatsunami diperkirakan akan sampai garis pantaitidak lebih dari 10 menit. Dengan kerusakan yangluar biasa, maka diperlukan penanganan cepatdari tim SRC PB untuk melakukan recovery awal,yaitu dengan membangun sistem komunikasidarurat, pembangunan posko evakuasi awalbaik darat, laut dan udara.Dari simulasi tersebut, adanya metode latihantaktis dengan pasukan yang bertujuan melatihpara personil/aparat pemerintah yang memilikifungsi komando dalam merencanakan operasi,bagaimana menerapkan taktik dan teknikoperasi dalam menerapkan prosedur dan carakerja yang berlaku di komando Tanggap DaruratBencana.39 GEMA BNPB - Maret 2011


PROFILPengalamanyang tak terlupakandan mencekam dalampenanganan bencanaadalah sewaktu sayaditugaskan MenkoKesra atas perintahPresiden RI membawauang cash sebanyak 2karung dengan jumlahRp 6 milyar pada harikedua setelah gempaNias tahun 2005Drs. Bintang Susmanto, Ak. MBAInspektur UtamaMEMBANGUN DIRIMELALUI PENGABDIANDAN LOYALITASTERHADAP PEKERJAAN


intang Susmanto, atau biasaBdisapa ‘Pak Irtama’ adalah PejabatInspektur Utama BNPB. Pak Irtamayang berpenampilan tinggi besardan gagah ini dikenal ramah namun tegas.Kehidupan sehari-hari beliau tidak terlepasdari hobi bermain musik, olah raga, dan seni.Pak Irtama dikaruniai tiga anak - Muhamad VibiSyahriza, Putri Meutia Nurfadhila, dan ShabrinaKartika Putri, dari pernikahannya dengan VidyMeyda Husfadila. Pria kelahiran Jakarta 53 tahunlalu ini senantiasa menyumbangkan suaraemasnya pada setiap acara formal atau informalkantor. Dan pada saat bergaul pun, Pak Irtamajuga tidak membeda-bedakan status sosialatau jabatan, sering berdialog dengan satpam,hingga suatu saat seorang satpam curhat padaPak Irtama agar dapat diangkat dari pegawaihonorer menjadi pegawai negeri sipil (PNS).Curhat satpam itu pun kemudian didengar danditindaklanjuti hingga diusulkannya satpamyang telah bekerja lama ini sebagai PNS.Awal Karier Pak IrtamaBintang Susmanto sejak mahasiswa sudah aktifdalam berbagai kegiatan organisasi sepertisenat mahasiswa Sekolah Tinggi AkuntansiNegara (STAN), resimen mahasiswa Jayakarta,atau President of Indonesian Student Associationdi University of Miami pada saat melanjutkanpendidikan S2 di Amerika Serikat. BintangSusmanto juga menjalani profesi sebagai dosenperguruan tinggi swasta dan memberikan kuliahpada program pascasarjana Magister Akuntansidan Magister Manajemen serta Instruktur DiklatInternal Auditor. Saat ini Bintang Susmantosedang mengikuti pendidikan S3 dalam prosespenyusunan disertasi sebagai kandidat doktor.Karir PNS Bintang Susmanto yang saat inimemiliki Golongan Pangkat IV/d, dimulaisejak tahun 1980 pada saat mengikutipendidikan kedinasan di STAN yang beradadi bawah naungan Departemen Keuangan.Bintang Susmanto bekerja pertama kali padaDirektorat Jenderal Pengawasan KeuanganNegara (DJPKN) yang berada dalam lingkunganDepartemen Keuangan setamat menyelesaikanpendidikan Diploma III Akuntansi STAN padatahun 1981. Sambil bekerja, Pak Irtama jugaGEMA BNPB - November 2011 41


meneruskan pendidikan S1 pada FakultasEkonomi Universitas Indonesia denganmengambil jurusan Manajemen. Setelahbekerja selama 3 tahun sebagai Ajun AkuntanDJPKN, Pak Irtama kembali masuk bangkukuliah kedinasan meneruskan pendidikanDiploma IV Akuntansi STAN pada tahun 1984.Pada tahun 1987 Pak Irtama menyelesaikanpendidikan secara bersamaan baik padaProgram D IV Akuntansi STAN maupun padaProgram S1 Fakultas Ekonomi UniversitasIndonesia jurusan Manajemen, kemudianlangsung bekerja kembali sebagai Akuntanpada Perwakilan Badan Pengawasan Keuangandan Pembangunan (BPKP) Propinsi Lampung.Setelah bekerja selama 3 tahun sebagai AkuntanBPKP, Pak Irtama memperoleh beasiswa dariWorld Bank untuk melanjutkan pendidikanProgram S2 di Amerika Serikat pada tahun 1990.Pak Irtama mengikuti pendidikan S2 ProgramMaster of Business Administration (MBA)spesialisasi Accounting pada University of Miamidi Florida, Amerika Serikat. Selesai menamatkanpendidikan S2 tersebut pada tahun 1992 pakIrtama kembali ke tanah air dan bekerja kembalidi BPKP Pusat. Tahun 1993 Pak Irtama diangkatsebagai Pejabat Eselon IV pada Deputi BidangPerencanaan dan Analisa BPKP, kemudian padatahun 1996 dipromosikan sebagai PejabatEselon III pada Perwakilan BPKP Propinsi Maluku.Pada tahun 1999 Bintang Susmanto ditarik BPKPPusat ke Jakarta sebagai Pejabat Eselon III padaDeputi Bidang Pengawasan BUMN BPKP. Tahun2002 mutasi sebagai Pejabat Eselon III padaDeputi Pengawasan Instansi Pemerintah BidangPolsoskam BPKP. Pada tahun 2004 BintangSusmanto diminta untuk diperbantukan ataudipekerjakan di Kementerian KoordinatorBidang Kesra, dimana setahun kemudianpada tahun 2005 dipromosikan sebagaiPejabat Eselon II di Kementerian KoordinatorBidang Kesra selaku Inspektur. Setelah BadanNasional Penanggulangan Bencana (BNPB)terbentuk, pada tahun 2008 Bintang Susmanto42 GEMA BNPB - November 2011


dipromosikan sebagai Pejabat Eselon I BNPBselaku Inspektur Utama.Pengalaman Kerja dengan LatarKebencanaanDengan latar belakang pendidikan akuntansi,bisnis, dan manajemen serta pengalamansebagai Auditor selama 31 tahun telahmembentuk karakter Bintang Susmanto yangteliti dan tegas didukung oleh teknik komunikasiyang andal serta jiwa seni yang lugas dalammenggeluti tugas selaku Inspektur Utama BNPB.Pengalaman menangani bencana juga sudahdilaksanakan sejak di Kementerian KoordinatorBidang Kesra sebelum masuk BNPB. Dalampenanganan bencana gempa bumi dan tsunamiAceh dan Nias, Bintang Susmanto ditunjuk MenkoKesra selaku Atasan Langsung Bendahara DanaMasyarakat Posko Bencana Alam Gempa Bumidan Tsunami Aceh dan Nias. Selain itu BintangSusmanto juga aktif dalam tugas SupervisiBantuan Dana Rehabilitasi dan Rekonstruksiuntuk daerah-daerah yang mengalami bencana,Supervisi Bencana Kelaparan Yahukimo,Supervisi Konflik Sosial Poso dan Sampit,Supervisi Penanganan Pengungsi Timor Timur,dan atas perintah Presiden oleh Menko Kesraditunjuk sebagai Ketua Tim Lintas Sektoral untukmelakukan verifikasi terhadap isu nasionaltentang bencana kelaparan di Kabupaten Sikka,Nusa Tenggara Timur. Berikut sedikit ceritatentang pengalaman selama di KabupatenSikka. Hasil verifikasi lapangan yang dilakukanTim Pemerintah Pusat yang dipimpin BintangSusmanto dengan didampingi Sekda KabupatenSikka menemukan bahwa tidak terjadi bencanakelaparan di Kabupaten Sikka, yang terjadiadalah adanya gagal panen tanaman coklat yangmengakibatkan berkurangnya penghasilanpenduduk Kabupaten Sikka yang bertanamcoklat yang kalau tidak dibantu, merekatidak mampu membeli makanan, sehinggaterancam kelaparan. Karena isu bencanakelaparan di Kabupaten Sikka sudah menjadiisu nasional yang beritanya juga manjadikonsumsi Internasional yang bisa merusak citraIndonesia di mata internasional, pada waktu ituBintang Susmanto meminta Bupati Sikka untukmelakukan klarifikasi di hadapan wartawanmedia cetak dan elektronik tentang keadaanyang sesungguhnya. Tindak lanjut yangdiusulkan Bintang Susmanto pada waktu ituadalah pada jangka pendek Pemerintah Pusatdan Pemerintah Propinsi NTT mengirimkanbantuan beras kepada Pemerintah KabupatenSikka, jangka menengah mengatasi hama yangmenyerang tanaman coklat, dan jangka panjangmeningkatkan ketahanan pangan KabupatenSikka. Laporan Hasil Verifikasi juga disampaikanoleh Menko Kesra kepada Presiden RI pada rapatkabinet.Penjaga Karung Uang Rp 3 MilyarPengalaman lain yang tak terlupakan danmencekam dalam penanganan bencana adalahsewaktu Bintang Susmanto ditugaskan MenkoKesra atas perintah Presiden RI membawa uangcash sebanyak 2 karung dengan jumlah Rp 6milyar pada hari kedua setelah gempa Niastahun 2005. Dari jumlah Rp 6 milyar tersebut,Rp 1 milyar diberikan ke Pemerintah KabupatenTapanuli Selatan, Rp 3 milyar dibawa ke GunungSitoli untuk diserahkan kepada PemerintahKabupaten Nias, Rp 2 milyar dikembalikan keJakarta dimasukkan kembali ke rekening PoskoBencana Gempa Bumi dan Tsunami Aceh danNias. Bintang Susmanto bersama Bakrie Beckdan Sugeng Tri Utomo dengan menumpanghelikopter yang digunakan untuk mengangkutkorban bencana berangkat dari Sibolga keNias dan diturunkan di lapangan sepakboladi Gunung Sitoli dengan membawa karunguang sejumlah Rp 3 milyar tanpa ada yangmenjemput atau mengawal, kemudian BakrieBeck dan Sugeng Tri Utomo, saat ini sebagaiDeputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan,pergi mencari kendaraan untuk disewauntuk membawa karung uang dari lapangansepakbola ke kantor pemda yang jaraknyacukup jauh. Bintang Susmanto tinggal sendirianGEMA BNPB - November 2011 43


di tengah lapangan sepakbola menunggu danmenjaga karung uang berisi uang cash sejumlahRp 3 milyar yang diletakkan di sampingnyadengan dikelilingi ratusan masyarakat Niasselama 1 jam sampai Bakrie Beck dan SugengTri Utomo datang kembali bersama truk yangdisewa. Tidak dapat dibayangkan seandainyamasyarakat yang berkerumun di sekelilingBintang Susmanto menjarah uang cash tersebut,karena beberapa saat sebelumnya ada gudanglogistik yang dijarah walau dijaga aparat. BintangSusmanto hanya berpasrah diri sambil berdoakepada Allah SWT agar uang sejumlah Rp 3 milyaryang dijaganya aman.Penghargaan dari NegaraBintang Susmanto pada tahun 1996 memperolehpenghargaan dari Presiden RI berupa tandakehormatan Satyalancana Karya Satya X berwarnaperunggu, dan pada tahun 2001 memperoleh tandakehormatan Satyalancana Karya Satya XX berwarnaperak. Pada 1 Desember 2011 ini Bintang Susmantomengabdi pada negara secara terus menerusselama 31 tahun sehingga sudah dapat diusulkanlagi untuk memperoleh penghargaan berupatanda kehormatan Satyalancana Karya Satya XXXberwarna emas dari Presiden RI atas pengabdiandan loyalitasnya bekerja secara terus menerusselama 30 tahun pada negara Republik Indonesiadengan menunjukkan kesetiaan, pengabdian,kecakapan, kejujuran, dan kedisiplinan.44 GEMA BNPB - November 2011


TEROPONGPeningkatanKualitasLaporanKeuanganBNPBNPB dalam penanggulanganBbencana antara lain menganutprinsip cepat dan tepat sertatransparan dan akuntabilitasdalam pertanggungjawaban penggunaananggaran yang diterima dari AnggaranPendapatan dan Belanja Negara, maksudnyaadalah jangan sampai setelah selesaimenangani bencana timbul bencana berikutnyayaitu harus berurusan dengan aparat penegakhukum terkait dengan pertanggung jawabanpenggunaan dana penanggulangan bencanayang tidak sesuai dengan ketentuan peraturanperundang undangan yang berlaku.Pertanggung jawaban penggunaan anggarantelah dilaksanakan sesuai ketentuan yangberlaku diantaranya untuk pembiayaanAPBN berdasarkan Permenkeu Nomor 134/PMK.06/2005 tentang Pedoman PembayaranPelaksanaan APBN,Perdirjen Perbendaharaannomor 66/Pb/2005 tentang MekanismePembayaran atas Beban APBN dan untukPengadaan barang dan jasa berpedomanpada Perpres nomor 54 Tahun 2010 tentangPengadaan Barang dan Jasa.Lain dari itu jugadiatur secara internal sesuai payung hukum yangsudah ada dalam bentuk Peraturan Kepala BNPB(Perka BNPB),Petunjuk Teknis dan ketentuanlainnya antara lain : Perka BNPB nomor 08tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan danPertanggung Jawaban Keuangan atas BebanAnggaran dan Pendapatan Belanja Negara(APBN) dan lain sebagainya.Sebagai pelaksanakan ketentuan pasal 55 ayat2.a UU nomor 1 tahun 2004 yaitu menyusun danmenyampaikan laporan keuangan yang meliputiLaporan Realisasi Anggaran (LRA),Neraca danCatatan Atas Laporan Keuangan (CaLK), BNPBtelah menyusun Laporan keuangan mulaitahun 2007,2008,2009 dan 2010. Atas LaporanKeuangan tersebut telah diaudit oleh BPK RIdengan produk Laporan Hasil Pemeriksaan BPKRI, meliputi 3 (tiga) laporan yaitu:• Laporan Hasil Atas Laporan Keuangandengan memberikan Opini.• Laporan Hasil Pemeriksaan Atas SistemPengendalian Intern (SPI) .• Laporan Hasil Pemeriksaan Atas KepatuhanTerhadap Peraturan Perundangundangan.Perkembangan opini Laporan Keuangan BNPBberdasarkan Laporan hasil Pemeriksaan BPKGEMA BNPB - November 2011 45


RI adalah : Laporan Keuangan Tahun 2007,2008, dan tahun 2009 dengan opini Disclaimer.Laporan Keuangan Tahun 2010 dengan opiniWajar Dengan Pengecualian.Sesuai ketentuan pasal 12 Peraturan DirjenPerbendaharaan Nomor 65/PB/2010 tentangPedoman Penyusunan Laporan KeuanganKementrian Negara/Lembaga, LaporanKeuangan BNPB telah mengungkapkan tindaklanjut atas temuan BPK RI dalam catatan laporankeuangan serta rekening pemerintah yangdikelolanya,Pencerminan kualitas Laporan Keuangan yangbaik dapat dilihat dari pemberian opini atas hasilpemeriksaan Laporan Keuangan oleh badanpemeriksa yang bebas dan mandiri. Peningkatankualitas laporan Keuangan BNPB adalahmeningkatkatnya opini BPK atas hasil auditLaporan Keuangan BNPB tahun 2010 yang barumendapat opini Wajar Dengan Pengecualian(WDP) menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)atas Laporan Keuangan BNPB tahun 2011 yangakan diaudit BPK pada awal tahun 2012.Hal ini menjadi komitmen jajaran BNPB mulaidari puncuk pimpinan tertinggi sampai jajaranpelaksana atau pegawai yang terendah,karenaLaporan Keuangan BNPB yang baik akanmenjadi contoh terbaik bagi mitra dibawahnyakhususnya BPBD Provinsi/Kabupaten/kotadalam pengelolaan keuangan dan kinerja.Langkah langkah dalam meningkatkan opiniLaporan Keuangan BNPB Tahun 2011 menjadiWajar Tanpa Pengecualian (WTP) adalah sebagaiberikut :• Komitmen semua pimpinan dan semuajajaran BNPB untuk memperbaiki kinerjadan pelayanan publik.• Identifikasi permasalahan berdasarkantemuan Audit BPK RI Tahun 2010 dan tindaklanjutnya dengan membuat Rencana Aksi(Action Plan) berupa Daftar Kegiatan YangHarus Dilakukan Dalam Rangka PenyusunanLaporan Keuangan BNPB tahun 2011.Sangat berpotensi pengaruh terhadap opini(sudah harus diselesaikan) - 13 langkah.• Dapat berpotensi pengaruh terhadap opini(harus dipantau pelaksanaanya) - 24 langkah.Tidak berpengaruh terhadap opini tetapiada unsur kerugian negara - 11 langkah.• Tidak berpengaruh terhadap opini dantidak terdapat unsur kerugian negara - 10langkah.• Agar Laporan Keuangan BNPB Tahun 2011dapat memperoleh opini WTP dari BPK RI,minimal harus menyelesaikan 37 langkahyang telah teridentifikasi sebelum akhirDesember 2011.• Melakukan pengawalan atas RencanaAksi (Action Plan) tersebut oleh Tim KerjaPeningkatan LaporanKeuangan BNPBTahun 2011 menjadi WTP.• Menjaga Akuntabilitas PertanggungjawabanKeuangan tahun berjalan tahun 2011agar tidak terjadi temuan berulang sesuaihasil pemeriksaan tahun sebelumnya sertameningkatkan daya serap anggaran.• Minta bantuan BPKP dan atau DepartemenKeuangan untuk melakukan pendampinganpenyusunan Laporan Keuangan Tahun2011.• Atas Laporan Keuangan yang telah disusunoleh Biro Keuangan sebelum ditandatangani oleh Kepala BNPB dilakukan rivieuoleh Inspekorat BNPB, sesuai PeraturanMenteri Keuangan Nomor 41/PMK.09/2010tentang Standar Riview atas LaporanKeuangan Kementerian Negara/Lembaga.Peningkatan kualitas laporan keuangan BNPBdalam pelaksanaan good governance untukkeberhasilan penanganan bencana di Indonesiasangat penting dan perlu mendapat dukungandari semua pihak utamanya dari jajaran BNPBserta mitra kerja BNPB yang mengelola danaatau penerima bantuan dari BNPB dalam bentukpenyelesaian pertanggung jawaban penerimaandan penggunaan dana penanggulanganbencana secara cepat,tepat, transparan danakuntabel. Pencerminan Peningkatan LaporanKeuangan salah satunya dapat dilihat atasLaporan Keuangan BNPB Tahun 2011 yangakan diperiksa oleh BPK RI dapat diberikan opiniterbaik yaitu Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).Peningkatan Laporan Keuangan tersebut dapatterwujud dengan melakukan langkah langkahmenuju opini WTP seperti telah diungkapkandiatas.46 GEMA BNPB - November 2011 GEMA BNPB - Maret 2011 46


Diterbitkan oleh:BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANAJl. Ir. H. Juanda No. 36 Jakarta Pusat 10120Telp. 021-3458400 Fax. 021-3458500www.bnpb.go.idEmail : contact@bnpb.go.idFacebook : www.facebook.com/bnpb.indonesiaTwitter : @BNPB_Indonesiahttp://twitter.com/BNPB_IndonesiaYoutube : BNPBIndonesiahttp://www.youtube.com/user/BNPBIndonesiaISSN 2088-6527

More magazines by this user
Similar magazines