PENTINGNYA REINTERPRETASI ZAKAT DI ... - Kemenag Sumsel

sumsel.kemenag.go.id

PENTINGNYA REINTERPRETASI ZAKAT DI ... - Kemenag Sumsel

PENTINGNYA REINTERPRETASI ZAKATDI TENGAH PERUBAHAN SOSIALDrs. Kgs. H. M. Daud, M.Hi(Widyaiswara Madya BDK Palembang)ABSTRAKZakat merupakan salah satu unsur rukun Islam, sehingga termasukdalam kategori kewajiban yang bersifat ilzami, ijtibari (mutlak), olehkarena itu, pada saat yang bersamaan, zakat kemudian menjadi salahsatu landasan keimanan, yang dapat dijadikan sebagai indikatorkualitas keislaman, dan menjadi bukti komitmen solidaritas seorangmuslim dengan sesama muslim lainnya.A. PENDAHULUANSecara normatif, kewajiban zakat tidak saja berdimensi vertikal semata,tetapi lebih dan itu juga memiliki dimensi horizontal, pada dimensi vertikal, zakatmerupakan manifestasi dari ketaatan seorang hamba kepada Allah. Sedangkanpada dimensi horizontal, zakat dapat menimbulkan dan meningkatkan komitmensolidaritas antara sesama umat Islam. Dalam konteks ini, zakat merupakan salahsatu komponen yang menjadi instrumen keadilan sosial dan solidaritaskemanusiaan, yakni untuk menghilangkan ketidakadilan sosial.B. URGENSI REINTERPRETASI ZAKAT MENGHADAPI PERUBAHANSOSIALKemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat di zamanmodern ini telah membawa perubahan yang mendasar bagi pola kehidupan umatmanusia. Termasuk didalamnya masalah perekonomian dan sosialkemasyarakatan, juga telah mengalami perubahan yang signifikan. Berbagai objekzakat yang ditetapkan oleh ulama terdahulu sudah kurang relevan untukditerapkan saat ini, misalnya banyaknya berkembang jenis-jenis harta di zamanmodern ini yang belum termasuk sebagai objek zakat. Demikian juga denganmasalah sosial kemasyarakatan, seperti masalah kemiskinan yang semakinkompleks, menghendaki ditemukannya sistem pendayagunaan zakat yang lebih1


aik dan efisien agar tujuan yang ingin dicapai dalam penerapan ajaran zakatdapat diwujudkan. Sejalan dengan penjelasan tersebut, Louer tahun 1993menjelaskan bahwa seluruh aspek kehidupan sosial terus-menerus mengalamiperubahan yang berbeda hanya tingkat perubahannya, ada yang berjalan lambatdan ada yang berjalan cepat. Perubahan sosial menembus keberbagai tingkatkehidupan sosial, demikian juga dengan kebutuhan hidup manusia tentunya jugaberubah, sehingga segala aturan, norma dan hukum yang mengatur tentangkehidupan manusia, termasuk zakat tentunya harus bersifat dinamis, jika aturantersebut benar-benar diharapkan dapat eksis untuk menciptakan kemaslahatanumat manusia. Berdasarkan pemahaman tersebut, maka perubahan pada ajaranzakat pada tataran tehnis merupakan suatu keharusan, hal ini disebabkan karenakemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yangsignifikan baik di bidang perekonomian, sosial, politik dan budaya. Perubahanterhadap sistem perekonomian masyarakat tentunya mengharuskan penafsirankembali objek zakat, demikian juga perubahan terhadap struktur sosial, budayadan kebutuhan masyarakat tentunya juga mengharuskan penafsiran kembaliterhadap penentuan masing-masing delapan konsep asnaf.Meskipun Al-Qur’an adalah sumber pertama dan utama dalam ajaranIslam, namun tidak seluruh muatan ayat-ayatnya, terutama ayat-ayat hukum,sudah bersifat rinci (tafsili). Sebagian besar ayat-ayat masih bersifat global(ijmali) yang memerlukan penafsiran dan pengembangan makna lebih lanjutmelalui berbagai metode ijtihad. Pada dataran inilah diperlukan reinterpretasi jikasituasi dan kondisi zaman telah mengalami perubahan. Seperti misalnya dalammasalahan zakat yang menjadi bahasan dalam tulisan ini, Al-Qur’an hanyamenjelaskan perintah menunaikan zakat secara global, Al-Qur’an tidakmenyebutkan objek zakat secara rinci. Dalam surat Al-Taubah ayat 103,Al-Qur’an hanya memerintahkan mengambil harta zakat secara umum darimuzaki. Sedangkan dalam masalah sasaran zakat, Al-Qur’an hanya menjelaskandelapan golongan yang berhak menerima zakat juga secara global. Hal ini jelasmemberikan suatu kesan bahwa Al-Qur’an memberikan ruang yang besar kepadaumat Islam, khususnya ulama untuk menafsirkan ayat-ayatnya agar benar-benarmemberikan kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia yang dinamis.2


3) Institusi zakat dapat menambah atau meningkatkan permintaan dalam skalamakro ekonomi karena kaum fakir miskin memiliki kemampuan untukberbelanja, hal ini tentunya akan meningkatkan pertumbuhan investasi danekonomi.Untuk memaksimalkan hasil yang ingin dicapai tentunya dibutuhkan suatumetode yang baik, ekonomis, efisien dan transparan dalam pengumpulan danpendistribusian zakat. Untuk itulah diperlukannya campur tangan pemerintahdalam pengelolaan zakat disamping bantuan dari seluruh lapisan masyarakat.Seperti dalam perspektif sejarah, negara dapat menjadi tangan raksasa yang dapatmengumpulkan zakat dari tangan umat Islam yang kaya, sedangkan masyarakatakan menjadi kontrol bagi setiap kebijakan negara.Bahwa zakat berdampak positif dalam meningkatkan perekonomian umat.Di satu sisi zakat dapat meningkatkan investasi dari para pemilik modal, dan disisilain zakat dapat meningkatkan hartanya habis secara perlahan-lahan untukmembayar zakat, mereka tentunya akan lebih memiliki menginvestasikan harta(modalnya) untuk usaha komersil ataupun industri agar mereka dapat membayarzakat dari keuntungannya dan dapat meningkatkan hartanya. Bagi orang yangmenolak membayar zakat tentunya akan membelanjakan hartanya untuk membelibarang-barang baik perabotan, barang mewah maupun membangun rumah, hal initentunya akan memperlancar sirkulasi peredaran uang yang dapat berakibat padameningkatnya produksi suatu barang ataupun dapat membuka lapangan kerja bagisebagian orang.D. URGENSI ZAKAT DALAM MEMBANGUN KESALEHAN SOSIALSecara prinsipil zakat dapat dijadikan sebagai pintu masuk (gapura) bagiumat Islam jika memang mereka benar-benar dan sunguh-sungguh ingin berupayamenegakkan amanah kekhalifahannya dengan menegakkan keadilan dankesalehan sosial dalam kehidupan masyarakat.Pada prinsipnya ajaran zakat harus dipahami sebagai kewajiban bagi setiapumat Islam yang diperintahkan Allah SWT guna menegakkan keadilan dankesejahteraan sosial, karena hanya dengan pemahaman ini, zakat akan benar-benar4


perumusan kebijakan-kebijakan baru harus selalu dilakukan, baik insidentalmaupun terencana untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Khususevaluasi yang terencana (terprogram) baik mingguan, bulanan dan khususnyatahunan, ketika dilakukan tutup buku.E. KESIMPULANSeluruh aspek kehidupan sosial terus-menerus mengalami perubahan yangberbeda hanya tingkat perubahannya, ada yang berjalan lambat dan ada yangberjalan cepat. Perubahan sosial menembus berbagai tingkat kehidupan sosial,demikian juga dengan kebutuhan hidup manusia tentunya juga berubah, sehinggasegala aturan, norma dan hukum yang mengatur tentang kehidupan manusia,termasuk aturan tentang zakat tentunya harus bersifat dinamis. Jika aturan tersebutbenar-benar diharapkan dapat eksis untuk menciptakan kemaslahatan umatmanusia. Oleh karena itu, perubahan pada ajaran zakat pada tataran teknismerupakan suatu keharusan, seperti penafsiran kembali objek zakat, sasaran zakatdan mekanisme pengelolaan zakat.DAFTAR PUSTAKAAl-Qur’an Al-Karim.An-Na’im, Abdullah Ahmad, 1997, Dekonstruksi Syari’ah Ahli Bahasa AhmadSuaedy dan Amiruddin Arroni, Cetakan 2, Lks, Yogyakarta.Kuntowijoyo, 1998, Paradigma Islam : Interpretasi untuk Aksi, Cetakan 8, Mizan,Bandung.Manan, Abdul. tt. Teori dan Praktek Ekonomi Islam, Alih Bahasa M. Nastangin,Dana Bhaktiyasa, Jakarta.Mursyidi, 2003, Kuntansi Zakat Kontemporer, Cetakan I, Remaja Rosdakarya,Bandung.Qaradhawi, Yusup, 1991, Kiat Islam Mengentaskan Kemiskinan, Gema InsaniPers : Jakarta.6

More magazines by this user
Similar magazines