Inteligensi Embun Pagi (Nukilan)

deelestari

Nukilan dari Supernova episode 6: Inteligensi Embun Pagi. Penulis: Dee Lestari. Terbit Februari 2016, oleh Bentang Pustaka.

SUPERNOVA

Episode: Inteligensi

Embun Pagi

KEPING 45

Waktu bergulir tergesa hari itu, menyulap senja menjadi

malam yang hadir terlampau awal. Langit sore

terasa lebih muram dari biasanya, lebih gelap dari

seharusnya. Awan kelabu pekat membola di pucukpucuk

Andes dan tak menyisakan semburat matahari

jingga yang semestinya menyapu halus siluet pegunungan.

Gio merasakan mendung yang sama dalam hatinya.

Dengan langkah ragu, ia turun dari bus yang

mengantarkannya ke Pisaq, kota yang berdiri sebagai

gerbang pembuka lembah suci Urubamba. Karena

tuntutan pekerjaannya di biro perjalanan, tak terhitung

berapa kali sudah ia bolak-balik dari Cusco ke

Lembah Urubamba. Namun, perjalanannya kali ini

berbeda. Gio melangkah dalam gelap. Tak tahu harus

menuju ke mana dan menemui siapa.

Seorang curandero akan menemukan Anda, demikian

pesan pria misterius bernama Amaru yang

menemuinya beberapa hari lalu di Cusco. Ada ratusan

curandero tersebar di daerah situs Inca ini, dari


yang tulen hingga gadungan. Wisata spiritual adalah

primadona di Lembah Urubamba, menjadikannya

lahan produktif bagi para curandero yang bertugas

sebagai pemandu ke alam roh. Tidak sedikit pun Gio

pernah tertarik. Tidak juga hari ini. Ia datang hanya

untuk menguji pesan dari Amaru.

Di mulut terminal, Gio mengencangkan tali ranselnya

sambil menengok ke arah langit. Gerimis tipis

mengecupi wajahnya. Arakan kabut kini meliputi pemandangan.

Awan seakan bergegas turun ke bawah,

menelan rakus pegunungan dan lembah, termasuk

tempatnya berdiri. Mendung mengepung Gio dari

segala penjuru. Dalam hatinya, sangsi bertumbuh

dan membesar.

“Chawpi Tuta.”

Perhatian Gio langsung mendarat. Panggilan itu

terlalu spesifik untuk ia abaikan. Suara itu terlalu akrab

untuk ia lewatkan.

Dari lalu-lalang manusia yang bergerak menyibak

kabut, seseorang menyeruak ke hadapannya. Perempuan

bertubuh pendek dengan siluet lebar. Perempuan

itu lalu mencopot topi sombrero cokelat yang

menutupi rambut hitam berkepang dan sebagian

wajahnya. Napas Gio tertahan. “Mama?” desisnya.

Chaska Pumachua, perempuan Quechua yang

sudah dianggapnya ibu sendiri, berdiri di hadapannya

seperti ajudan yang siap menjemput. Tidak ada

pelukan menghambur yang biasanya terjadi setiap


kali mereka bertemu. Chaska hanya tersenyum kaku,

sebelah tangan memegang topi, sementara sebelah

lagi tersimpan di dalam kantong mantel, memandang

kasihan seperti menyesali dosa yang Gio tak

pernah tahu.

Rangkaian fakta, pertanyaan, dan kecurigaan,

menyambung seketika di kepala Gio. Chaska tinggal

di Vallegrande, Bolivia. Sementara putra tunggalnya,

Paulo, tinggal di Cusco bersama Gio. Bagaimana

mungkin Chaska tahu-tahu muncul di Peru tanpa

memberi kabar sebelumnya kepada Paulo? Kepadanya?

“Aku harus membawamu menemui seseorang,”

Chaska berkata.

“Apa hubungan Mama dengan Amaru? Kalian saling

kenal?” tanya Gio lantang.

“Kuceritakan di jalan. Mari.” Satu tangan Chaska

menjulur meraih lengan Gio. Senyum hangat terbit

di wajahnya. “Cuaca ini tidak mengizinkan kita berlama-lama,

Chawpi Tuta. Perjalanan masih panjang.

Seorang curandero sudah menunggumu.”

Gio merasa tak punya pilihan lain. Pesan dari

Amaru masih perlu diuji.

***

Kertuk kerakal yang tergilas ban terdengar dari lantai

mobil yang berguncang. Jip putih dengan tenaga

penggerak empat roda itu melaju di atas jalanan ber-


kelok yang mendaki perbukitan ke arah reruntuhan

Pisaq, bagian dari rangkaian situs Inca Citadel, jauh

meninggalkan pusat kota.

Chaska mengemudi dengan tenang dan terampil

menembus kabut. Gio selalu merasa Chaska adalah

pengemudi mobil yang jauh lebih baik darinya dan

Paulo. Namun, hatinya tetap tidak tenang. “Mama,

ke mana kita sebenarnya? Daerah situs sudah tidak

bisa dimasuki lagi jam segini.”

“Kita tidak masuk. Dia yang keluar dari sana. Kita

cuma menjemput,” jawab Chaska.

“Bagaimana Mama tahu aku berangkat ke Pisaq?

Tahu dari mana jadwal busku?”

“Amaru.”

Tidak mungkin, bantah Gio dalam hati. Sejak

kunjungan Amaru di Cusco, dirinya dan Amaru belum

pernah bertemu lagi. Ia bahkan tidak memberi

tahu siapa pun mengenai detail perjalanannya ke

Urubamba, termasuk kepada Paulo yang memang

sedang tidak di rumah saat ia berangkat.

“Sejak hari apa Mama di Peru?”

“Kemarin.”

“Paulo tahu?”

“Tidak.”

“Paulo kenal Amaru?”

Chaska melepaskan pandangannya sejenak dari

jalan, menatap Gio sambil tersenyum samar. Muka

iba itu muncul lagi. “Belum,” katanya pelan, “belum

saatnya.”


“Sementara aku sudah?” Gio menyahut cepat.

“Kita tidak bertemu dengan kebetulan. Perkenalanmu

dengan Paulo, denganku, segalanya terlihat

seperti peristiwa acak, tapi tidak. Aku sudah tahu siapa

kamu sebelum kita berkenalan,” Chaska berkata.

“Amaru sudah memberitahuku.”

“Siapa Amaru sebenarnya?”

“Kami menyebut Amaru dan kaumnya: para Pembebas.

Mereka selalu ada di sini. Mengawasi.”

“Mengawasi apa?”

“Orang-orang seperti kamu.”

“Aku?”

“Kita tidak sama, Chawpi Tuta. Wujud kita serupa,

tapi kamu punya tugas tertentu seperti mereka.

Kalian datang dan pergi ke Bumi ini dengan satu tujuan

yang berulang-ulang. Kami menyebut kalian… Los

Precursores. Para Peretas.”

Semua informasi itu terdengar asing di kuping

Gio. Chaska membuatnya seperti makhluk angkasa

luar. “Peretas? Meretas apa?” cecar Gio.

Chaska menggeleng. “Info itu tidak boleh datang

dariku.”

Gio teringat empat batu berbungkus kain belacu

yang ada di dalam ranselnya. Dengan hadirnya Chaska

yang tak terduga, segalanya bertambah misterius

dan kusut.


SUPERNOVA

Episode: Inteligensi

Embun Pagi

KEPING 47

Pagi bahkan belum bergulir menjadi siang di Kota

Bandung. Namun, ruang dan waktu sudah sedemikian

terdistorsi bagi Elektra dan Bodhi. Keduanya terduduk

bersisian di atas karpet, termenung memandang

ruang kosong.

Ekor mata Bodhi bergerak, melirik perempuan

mungil di sampingnya. Beberapa menit lalu, perempuan

bernama Elektra adalah orang asing baginya.

Kini, Bodhi merasa Elektra lebih tahu banyak tentang

dirinya dibanding siapa pun di muka Bumi hanya

dalam beberapa saat tangan mereka bersentuhan.

Sudah terlalu banyak kegilaan yang Bodhi saksikan

seumur hidupnya, dari mulai hantu berwajah rusak

hingga pratinjau api neraka, tapi belum pernah ia

mengalami perjalanan seperti tadi.

“Sesi terapi kamu biasanya berapa lama?” tanya

Bodhi, disela beberapa kali deham. Ia tak nyaman

menjadi orang yang harus memecah keheningan duluan.

“Empat puluh lima menit sampai sejam.” Elektra

menjawab dengan nada yang sama gamangnya.


Bodhi melirik jam di dinding. “Masih setengah

jam lebih sebelum orang-orang di luar curiga.”

Elektra menjawab dengan gumaman. Tak sampai

sepuluh menit waktu yang ia habiskan dengan Bodhi

sejak pria itu masuk ke ruang praktiknya hingga mereka

tersungkur bersamaan. Sepuluh menit sesudahnya

mereka habiskan terduduk diam.

“Apa yang kamu ingat?” tanya Bodhi lagi.

“Kita… kamu… kayak punya wujud lain. Di tempat

itu kamu disebut Akar. Kamu panggil saya Petir.

Tempat itu namanya….”

“Asko?”

“Ya. Asko. Terus, saya lihat ada perempuan di

sana. Dia bilang, namanya Bintang Jatuh. Ada semacam…

rumah… bangunan… ada enam.”

“Kamu ingat dia bilang apa?”

Elektra menggeleng. “Kita terlempar lagi, nggak

tahu ke mana. Semuanya serba abu-abu, terbalikbalik,

nggak jelas.”

“Persis sama,” desis Bodhi. “Kamu mengalami

dan melihat yang persis sama. Bagaimana bisa?”

“Bodhi, saya perlu bilang sesuatu.” Elektra menggeser

duduknya menghadap Bodhi. “Ada satu hal

yang sebetulnya sama sekali nggak nyambung sama

penyembuhan, tapi belakangan bisa saya akses, saya

juga nggak ngerti gimana caranya karena semua kejadiannya

spontan. Barusan berulang lagi dengan

kamu.”


Bodhi langsung ikut mengubah posisi duduknya

berhadapan dengan Elektra. Bersiap menyimak dengan

kesungguhan.

“Tapi, jangan ketawain kalau kedengarannya

aneh.”

Bodhi mengangkat dua jarinya. “Janji. Saya sudah

biasa sama yang aneh-aneh.”

Elektra menahan napas sejenak. “Saya bisa baca

pikiran orang.”

“Oh.”

“Ya, gitu.”

“Terus?”

“Ya, sudah.”

“Kalau itu saya juga bisa. Kadang-kadang.”

“Oh, ya?” Elektra terpana. “Eh, sebentar. Maksud

saya begini. ‘Pikiran’ mungkin bukan istilah yang paling

tepat. Saya bisa mengakses memori lewat sentuhan.

Apa yang saya lihat tadi kemungkinan besar

cuma memori kamu.”

“Artinya?”

“Artinya, kita mungkin nggak mengalaminya bareng.

Bisa jadi saya cuma lihat memori kamu. Lewat

kamu. Makanya bisa persis sama.”

“Asko, Akar, Petir, Bintang Jatuh, dan semua

yang tadi itu, adalah memori? Masa lalu?”

“Mungkin.”

“Kalau bukan?”

“Ya, bisa saja, sih. Tapi, rasanya kok, terlalu… apa,

ya?”

“Aneh?”


Perlahan, Elektra mengangguk.

Bodhi meraih tasnya yang tergeletak di pojok ruangan.

Ia mengeluarkan sebuah agenda bersampul

kulit cokelat yang sudah dekil, dari dalamnya secarik

lipatan kertas ia buka ke hadapan Elektra. “Saya punya

bukti lain.”

Elektra menerima selembar kertas itu, membacanya

cepat.

“Surat itu nggak sengaja saya temukan di komputer

warnet, saya cuma baca judul dokumennya. Akar.

Nggak tahu kenapa, saya tergerak buka dan baca.

Saya selalu merasa surat ini ditujukan buat saya. Lihat,

apa yang ditulis di sana: Asko, Akar, Petir.”

Elektra membacanya ulang kemudian melipatnya

lagi. “Oke. Ini aneh.”

“Saya belum pernah mendengar ‘Asko’ sampai

saya baca surat itu. Semua yang kita alami tadi, belum

pernah kejadian sebelumnya di hidup saya.”

“Mungkin memori—apa, kek—kehidupan lampau?

Di surat itu kan tertulis 2500 tahun. Kan, katanya

orang bisa reinkarnasi….”

“Saya besar di wihara, Etra. Saya tahu apa itu reinkarnasi.

Tapi, surat ini baru saya temukan dua bulan

lalu. Ada orang dari 2500 tahun yang lalu ngetik

surat ini di warnet di Jakarta, gitu?”

Elektra cuma bisa menggelengkan kepala sambil

mengangkat bahu.

“Tadi kamu sempat bilang, kamu suka petir.

Kamu nggak merasa ada hubungannya? Kalau buat


saya, ini terlalu aneh kalau disebut kebetulan.” Bodhi

menyorongkan kedua tangannya. “Mungkin

kamu harus pegang tangan saya lagi.”

Elektra langsung beringsut mundur. “Jangan. Please.

Percaya sama saya, ini demi keselamatan kamu

sendiri. Kadang-kadang saya spontan bisa nyetrum

orang kalau lagi nggak stabil. Dan sekarang, saya merasa

sangat nggak stabil. Oke?”

Bodhi tak menduga reaksi keras Elektra. “Sori.

Saya nggak bermaksud menekan kamu atau bikin

kamu stres,” ucapnya lembut. Ia memungut suratnya

dan menyisipkannya kembali ke dalam buku. “Dari

kecil, saya punya banyak banget pertanyaan tentang

diri saya sendiri. Pergi ke macam-macam tempat, ketemu

macam-macam orang. Pertanyaan-pertanyaan

saya bukannya terjawab, malah tambah banyak.

Yang saya alami barusan, biarpun nggak jelas dan bikin

tambah bingung, itulah petunjuk terkuat seumur

hidup saya. Jawaban yang saya cari ada di Asko dan

saya bakal cari cara kembali ke sana, biarpun tanpa

bantuan siapa-siapa.”

“Bodhi, saya sebetulnya kepingin bantu kamu….”

“Nggak apa-apa.”

“Kita masih punya waktu. Mungkin saya bisa bantu

kamu soal lainnya? Kalau kamu ada keluhan kesehatan,

saya bisa bantu periksa. Pasti ada tujuannya

Bong nyuruh kamu ke sini.”

“Masalah saya bukan kesehatan, Etra. Bong tahu

itu,” jawab Bodhi sambil bangkit berdiri, meraih ranselnya.

“Saya yakin kamu juga tahu.”

More magazines by this user
Similar magazines