www.isa-sociology.org/global-dialogue/

nasionaliskiri

v6i1-indonesian

kontradiksi ekologi kapitalisme, serta memberikan bantuan

sekadarnya kepada mereka yang paling terkena dampak

pemanasan global.

Namun dalam mengusulkan “perubahan sistem yang

melestarikan sistem,” para elite reformis tersebut beserta

mereka yang berasal dari kelas-kelas di bawahnya yang

mereka tarik ke proyek mereka, pun mulai mendorong

sesama elit yang lebih konservatif untuk membangun

pengorganisasian-kontra dan menghalangi reformasi dan

konsesi yang mereka usulkan sendiri. Akibatnya, mulai tahun

1980an jurang pemisah di antara para reformis pun

semakin mendalam.

Karena berhadapan dengan oposisi konservatif yang lebih

terorganisasi dan berpendirian teguh, beberapa orang

reformis yang kami namakan “reformis populis” - seperti

Fred Krupp dari Lembaga Dana Ketahanan Lingkungan

(EDF), Senator Al Gore dari Amerika Serikat dan banyak

pejabat, eksekutif, atau aktivis dari negara berkembang

dan sedang berkembang yang sehaluan – berpandangan

bahwa mereka hanya dapat mewujudkan reformasi dan

konsesi yang mereka usulkan dengan jalan mengambil

hati sesama elite dan membangun aliansi dengan mereka.

Untuk menempa aliansi ini, mereka mulai memperjuangkan

langkah pengaturan dalam negeri dan global yang

mengakomodasi tuntutan konservatif. Di panggung dunia,

mereka mulai memperjuangkan perjanjian internasional

yang menetapkan sasaran penurunan emisi lebih rendah

bagi negara-negara berkembang, yang memberikan kepada

mereka “keluwesan” lebih besar dalam mencapai

sasaran tersebut melalui perdagangan karbon dan mekanisme

pasar lain, dan membebaskan mereka dari kewajiban

untuk menyediakan alih finansial dan teknologi yang

berarti kepada negara-negara yang kurang berkembang.

Ketika konsesi-konsesi tersebut masih gagal meredam

perlawanan kaum konservatif, mereka bahkan mulai

memberikan lebih banyak konsesi-konsesi lagi dengan

mendorong perjanjian “bottom-up” [dari bawah ke atas]

yang lebih lemah lagi yaitu plegde-what-you-want (ikrarkan-apa-yang-anda-inginkan)

di Kopenhagen 2009 – yang

pada intinya perjanjian sejenis dengan yang diusulkan

kaum konservatif pada tahun 1990an dan pada intinya

perjanjian sama yang baru-baru ini disetujui di Paris, dengan

sedikit modifikasi, oleh pemerintah-pemerintah.

Namun beberapa “orang dalam” lain selama ini selalu

skeptik atau menjadi semakin skeptik terhadap strategi ini.

Akibat frustasi karena tidak mengalami kemajuan dalam

usaha mereka untuk mengubah sistem, para pejabat progresif

atau anggota pemerintah negara berkembang atau

sedang berkembang, yayasan, dan organisasi lingkungan

ini telah semakin berpandangan bahwa mereka hanya dapat

menyelamatkan proyek reformis bukan dengan beraliansi

dengan elite konservatif melainkan dengan “akar

rumput” atau dengan “rakyat di jalanan.”

Dalam sepucuk surat terbuka yang ditulis pada tahun

2010 setelah kaum konservatif mengalahkan lagi perundang-undangan

iklim hasil kompromi yang didorong oleh

kelompok-kelompok seperti EDF, Bill McKibben, direktur

1Sky (dan kemudian adalah pendiri 350.org), bergumentasi:

Kita harus melipatgandakan investasi kita dalam

pengembangan gerakan akar rumput […] Kita

berkeyakinan kuat bahwa suatu underinvestment

[investasi kurang memadai] yang berkepanjangan dan

bersifat merusak dalam pengorganisasian akar rumput

telah sangat melumpuhkan kemampuan kita untuk

memajukan kebijakan […] Dengan sendirinya ini bukan

pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu malam –

ini memerlukan kerja keras bertahun-tahun serta banyak

investasi waktu yang penuh kesabaran dan sumberdaya.

Argumen-argumen semacam ini telah semakin bergaung

di lingkar reformis. Dalam sebuah studi di tahun 2013,

yang ditugaskan oleh Lembaga Dana Keluarga Rockefeller,

yang disebarkan secara luas untuk mendiagnosis sebabsebab

kegagalan para pegiat lingkungan meloloskan usulan

mereka, Theda Skockpol, seorang sosiolog terkemuka,

pada intinya mengumandangkan kritik McKibben dan

orang-orang lain terhadap “insider politics” [politik orang

dalam] yang ditempuh oleh kelompok-kelompok seperti

EDF. Skocpol mendukung rekomendasi untuk membangun

“suatu gerakan populis yang luas.”

> Para Reformis di Jalanan

Sejalan dengan strategi tersebut, setidaknya setelah

akhir 2000an, para reformis populis telah “menggandakan”

“investasi” mereka di “pembangunan gerakan akar

rumput” dengan jalan meluangkan lebih banyak energi,

perhatian, dan sumberdaya untuk memobilisasi kelompok-kelompok

yang lebih-kurang sama dengan yang telah

diorganisasi kaum radikal di belakang proyek radikal mereka.

Untuk memikat kelompok-kelomopok ini, para reformis

mendukung konsesi-konsesi yang sebetulnya telah lama

didorong oleh kelompok radikal sebagai program “minimum”.

Oleh karenanya, walau mereka pada prinsipnya

belum tentu menolak pilihan pengaturan berbasis pasar

seperti perdagangan karbon, McKibben dan aktivis sehaluan

lainnya di Greenpeace dan organisasi lingkungan

lain telah mendukung peraturan “non-pasar” yang lebih

langsung seperti larangan tegas terhadap produksi bahan

bakar fosil yang akan secara langsung bermanfaat bagi

[kehidupan] komunitas lokal yang telah dirusak bahan bakar

fosil – suatu usulan untuk “membiarkan bahan-bahan

tersebut [minyak, batu bara, gas] tetap berada di dalam

tanah,” yang untuk pertama kali dipopulerkan oleh para

anti-kapitalis radikal.

Pada umumnya mereka telah menuntut perjanjian internasional

yang lebih berani dan ambisius dengan sasaran

penurunan emisi lebih tinggi untuk negara berkembang,

penghapusan sama sekali perdagangan karbon atau

pengetatan peraturan tentang hal tersebut, dan transfer

finansial dan teknologi yang berarti bagi kelompok-

-kelompok tersubordinasi. Oleh karena itu mereka pada

umumnya menentang perjanjian “bottom-up” Kopenhagen

2009 pledge-what-you-want dan telah menjadi lebih

>>

5

DG VOL. 6 / # 1 / MARET 2016

Similar magazines