buletin tes

marselano

Buletin dari Barat 2


3

Buletin dari Barat


FORMALITAS REDAKSI

Lepaskan rantai yang membelenggu

Nyalakan api dan lenteramu

( Iga Masardi )

Berawal dari banyaknya sumbangan tulisan

dari KPP Pratama Semarang Barat di Majalah

Tugu Muda Kanwil DJP Jawa Tengah I

, maka muncul lah ide yang menyeruak dan

dengan renjana untuk membuat semacam

Buletin tersendiri untuk kantor ini dengan

gaya kami sendiri tentunya tidak terlalu formal

dan tidak terlalu brutal,.

Edisi perdana ini di rangkai disisa lelah

setelah hiruk pikuk periode pertama Tax

Amnesti yang memporak-porandakan berbagai

tatanan dalam kehidupan kita, toh demi

kepentingan bangsa dan negara,

Kamu Hebat Teman.....

John Scofield’s seorang gitaris Jazz kenamaan

he made some mistake in his solo, but he didn’t

care, setiap kesalahan dalam hidup makes us

a better human begitu katanya, begitu juga

dengan redaksi dan apalah namanya ini, jadi

kalo kita berharap akan adanya edisi berikut,

maka mari menulis.. atau setidaknya

mari berbuat sesuatu...

Saran, Kritik, Masukan dan Sumbangan Tulisan

Sangat Kami Nantikan

We re a cowboy, on a steel horse we ride

Akhir - akhir ini liar sekali jalan

hidup yang kita lalui, berat memang tapi

tanpa mengenal lelah

dengan semangat yang tiada habis kita

songsong tantangan yang menghadang

Art and Creativity : Mr Yanus ,

Shinta Agustin

Some Of Picture are Profesionally taken by

Bang Satriyo Berguitar dan Mr Popo,

Thanks Untuk Ibu Erna

Opini by Mas Adhi Melifica

Resep by Gaban Sakti

Mpok Can & -d-

Hai Anin

Lekas sembuh Soniya

KPP Pratama Semarang Barat

JL Pemuda No 1 B

Semarang


Buletin Dari Barat

Sebab ilmu adalah kuda liar,

dan menulis adalah tali kekangnya

Memories warm you up from the inside

And this is the place to keep our Memories

DAFTAR ISI

Hype Amnesti Pajak, All About Amnesti

Foto Besar Tax Amnesti 503 Hal 1

Tax Amnesti-Opini Hal 16

G 30 S Amnesti Pajak Hal 18

Kegiatan seru yang Out Of the Box dari Camping, lomba-lomba

basah dan aneh, segala bikin iklan layanan masyarakat

sampai kegiatan yang religius

Merajut Kenangan Di Kaki gunung Ungaran Hal 6

Agustus di Tengah Amnesti Hal 12

Kisah Cinta Sang Putri Angin Hal 22

Paradoks Generasi Hal 32

Lebih Akrab

Lebih Dekat dengan Ibu Erna Hal 11

Figur - Anin Hal 38

Ada yang Terlahir, ada yang Pergi, dan ada yang Terjatuh.....

Semoga Berikutnya hanya Berita Bahagia yang tertulis

di Kabar Pegawai ini...

Bayi- bayi Lucu Hal 37

Jatuhnya .... Hal 36

Mereka yang Pergi Hal 34

Extra

Pojok Gaban Sakti - Resep Hal 39

Galery Hal 40


Hal apakah yang akan kau khawatirkan jika kelak datang perpisahan?

Apakah rasa ketakutan akan tajamnya rindu yang menikam? Atau adanya rasa bosan atas rentangan

waktu yang mencipta jarak untuk bertemu? Ataukah, kekhawatiran jika ada ringkusan resah sebab

tak ada seseorang tuk berbagi kisah? Entahlah...

Tapi bagi kami, segala hal tentang ketakutan itu, berawal dari "hilangnya kebiasaan" . Sebab, pada

detik kami mendapat kabar tentang sebuah perpisahan, maka di detik yang sama kami merasakan

akan tiba saatnya sebuah kebiasaan, kelak menghilang...

People climb a mountain for different reasons. Beberapa terkadang, karena ingin eksis aja di Komunitas

Pecinta Alam yang baru digelutinya beberapa bulan. For pleasure, bagi yang sudah terlalu

jenuh menjalani rutinitas pekerjaan -5 hari dalam seminggu, 8 jam dalam sehari- yang membuatnya

selalu ingin muntah setiap memandangi tumpukan berkas-berkas jatuh tempo. Climb for work, bagi

sebagian orang yang memang adalah profesinya untuk selalu memantau, mengarahkan, dan terkadang

memberikan bantuan keselamatan bagi para climbers yang tersesat, terserang penyakit, atau

bahkan terancam jiwanya. Kali ini kami Para Pegawai KPP Pratama Semarang Barat, climb to the

mountain pass adalah bentuk kerinduan kami pada Dia, Sang Pelukis Semesta. Dan kini, walau tidak

bisa dikatakan sebagai kegiatan mendaki gunung, paling tidak kami dapat merasakan nuansanya.

Buletin dari Barat 6


Lereng gunung Ungaran pada ketinggian 1200mdpl. Umbul Sidomukti.

Kami memilih lokasi wisata alam itu, sebagai destinasi tempat acara pelepasan seseorang yang sangat special

dan penguatan mental untuk menghadapi program terbaru pemerintah serta demi rasa kebersamaan untuk

memenuhi target 2 Triliun Rupiah. Udara yang sejuk, hamparan sawah dan perkebunan hijau, gemericik air

yang mengalir di setiap sela bebatuan, dapat memberikan kesegaran bagi setiap jengkal kepenatan.

Jika sedang beruntung, mungkin di awal hari kami dapat menyaksikan fenomena alam yang sangat dramatis

: sunrise. Absolutelly, yakinlah bahwa semua sangat suka menikmati pemandangan ini di setiap detiknya.

Bermula saat matahari berada 18 derajat di bawah horizon, lalu munculnya garis putih di cakrawala yang

mengakhiri twilight, dan kemudian timbul semburat gradasi warna oranye, merah, dan hijau. Hingga akhirnya

matahari memuntahkan sinarnya secara penuh. Dinginnya malam, telah terganti dengan kehangatan pagi.

Malam semakin beranjak, deretan lampu-lampu kota yang terlihat di kejauhan nampak seperti tumpahan

bintang. Api unggun yang semakin meredup, membuat udara dingin seperti ujung jarum yang semakin

menusuki setiap inci pori-pori. Acara temu-pamit masih berlangsung. Masing-masing kami masih tampil

satu demi satu, menunjukkan performance nya. Acara ini, sungguh jauh dari aura kesedihan. Bu Aan, yang

diharapkan akan larut dan menangis tersedu-sedu atau paling tidak menitikkan air mata keharuan, malah

justru terbahak-bahak dan sering kali tertawa cekikikan menyaksikan kekonyolan kami. Berhari-hari kami

latihan, dan kini Umbul Sidomukti menjadi saksi, bahwa kami gagal dalam menjalankan misi.

Namun begitu, diatas segala keceriaan malam itu…tetap ada kekhawatiran yang selalu membayang : hilangnya

sebuah kebiasaan. Dan ada juga harapan yang mengiringi hal-hal baru yang akan terjadi...

Her signature laugh. Sesuatu yang kami suka dari Bu Aan. Terasa spontan, lepas, ringan, tidak dibuat-buat

dan...menular..!! Setiap melihat Bu Aan tertawa, banyak yang secara spontan ikut terbahak juga. Entah kenapa.

Ikut merasa senang saja. Senyumnya yang selalu ceria dan sikapnya yang penuh semangat, mengawali

pagi dengan sebuah sapaan riang. Selalu begitu. Bu Aan mengenali hampir semua pemilik nama di kantor

ini. Mulai dari Kepala Seksi dan supervisor, fungsional, Account Representative, Pelaksana, Cleaning Service,

Security hingga tukang parkir di halaman. All of us..!!

Making a surprise. Bagaimana caranya, seorang Kepala Kantor bisa begitu perhatian dengan hari lahir anak

buahnya? Bahkan hingga memberikan hadiah yang terbungkus kertas kado? Dan disertai dengan ucapan-ucapan

indah, sejuk serta memotivasi? Sedang kami saja…sering lupa dengan hari lahir teman di sebelah

meja. Kalau sudah begitu, bagaimana kami bisa tidak mencintainya secara penuh?

7

Buletin dari Barat


Inspiring Woman, ada yang menyebutnya demikian. Tidak berlebihan memang,

karena Bu Aan seakan selalu punya sejuta ide yang bahkan belum pernah

ada di kepala orang. Seperti, Ramadhan tahun ini yang sungguh berbeda.

Aura Ramadhan bahkan sudah terasa sebelum mereka memasukinya. Ide-ide

kebaikan berlompatan mendesak keluar, saling berlomba. Bu Aan berkali-kali

memberikan motivasi, agar setiap kesempatan yang diberi-Nya digunakan

untuk menebarkan kebaikan. Fastabiqul Khoirot.

Kadang terpikir, terbuat dari apakah gumpalan hati Bu Aan itu. Apakah

ia terbentuk dari lapisan helai bunga mawar, yang warna merahnya selalu

menularkan semangat menyala? Atau ia tercipta dari tawa bayi baru lahir –

seperti seorang peri kecil pengrajin, Tinker Bell – yang membuat siapapun

akan tersenyum saat menatap, bahkan sebelum dia berucap? Entahlah. Tapi

yang pasti, sejak kehadiran Bu Aan, suasana kantor menjadi jauh berbeda.

Dia membuat semua orang merasa satu keluarga. Membuat berbagai kegiatan

menyenangkan yang melibatkan semua di dalamnya. Nyaris tak ada gap antara

atasan dan bawahan, meskipun sikap penghormatan tetap terjaga. Maka

begitulah. Saat Bu Aan mendapatkan amanah baru untuk pindah bertugas di

Jakarta, semua sedih. Semua merasa kehilangan. Semua mengharap bahwa ini

hanya sekedar issue, yang akan segera tergerus dengan seiring waktu.

Dihari itu pun dua buah pengumuman muncul, ber susulan dan mengejutkan.

Diawali dengan adanya insentif yang membuat hati kami berbunga

kemudian hal yang sudah dapat diprediksi sebelumnya, lembur dihari minggu

demi Tax Amnesti yang juga ini membuat hati kami lebih berbunga lagi,

pun kami sudah siap menyongsong padatnya arus pekerjaan demi suksesnya

Tax Amnesti namun tidak ada salahnya sebelum itu semua dimulai kami

memanjakan diri dengan menyadari serta mengagumi ciptaan Nya dan

sambil berbagi cerita dan canda tawa. Ibu Erna , ibu Kepala Kantor Kami pun

dengan tenang memberikan semangat untuk menghadapi segala sesuatunya

terkait dengan Tax Amnesti ini, sukarelawan untuk piket dihari Minggu

pun dengan mudahnya didapat pada malam hari itu dan akhirnya dentuman

Kembang Api dan penerbangan Lampion harapan menutup malam dan kami

semua menuju ke Kemah kami masing – masing bersitirahat sejenak walaupun

enggan berpisah.

Saat malam telah menyelesaikan tugasnya secara penuh, dan sang surya

menebarkan kehangatan yang menyeluruh....seketika turunlah gerimis

yang meskipun segera menghantar hawa dingin, tetapi tetap tak mampu

membelenggu bara dan api semangat yang terlanjur terpatri secara kuat,

untuk kami menyongsong hari-hari yang hebat, kelak.....

Dan sungguh, ingatan kami akan hari ini tak akan pernah lerai berdebu...

Buletin dari Barat 8


Buletin dari Barat 10


Lebih Dekat Dengan Ibu Erna

Tak Kenal maka tak sayang adalah kata kata pembuka yang basi ketika harus

membuka sebuah tulisan wawancara, tapi mau bagai mana lagi, hehehe...

Tak Kenal Maka Kenalan ,well maybe thats a better sentece

kami berkesempatan berbincang - bincang dengan Ibu Kepala Kantor KPP

Pratama Semarang Barat Tercinta kita, tanpa birokrasi yang rumit hanya ketukan

di pintu dan salam hangat berliau langsung bersedia berbincang dengan

kami, Wawancara mengalun dengan seru banyak cerita-cerita menarik yang

meluncur dengan deras pagi itu, dan ini lah rangkumannya

Kesan pertama dari sosok ibu yang satu ini…? Tegas.

Gaya bicaranya yang lugas dan cenderung ceplas-ceplos, sungguh membawa nuansa tersendiri di

kantor kami. Seru..!!

Ibu Erna Sulistyowati. Beliau menjabat Kepala Kantor Pajak Pratama Semarang Barat sejak bulan

Syawal lalu. Semangatnya yang luar biasa, membuat kami harus terbiasa kerja cepat, efektif dan

efisien.

“ Awalnya, saya tidak mengira akan mutasi ke Semarang. Kaget, tentu saja. Sebab saya belum genap

2 tahun menjabat di KPP Pratama Surakarta. “ Ujar ibu cantik ini. “ Lagipula, program Tax Amnesy

juga belum selesai. Jadi ya, ini sangat mengejutkan. “ Lanjut beliau. “ Tapi atas semua ini, saya kemudian

introspeksi diri dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah. “

Ibu Erna Sulistyowati. Beliau menghabiskan masa kecil di Surabaya, dan masa remaja hingga kuliah

di kota Gudeg, Yogyakarta. Masa kerja lebih banyak dihabiskan di Kalimantan, setelah sebelumnya

pernah menduduki jabatan sebagai Kepala KPP Pratama Sintang, Kepala KPP Pratama Penajam,

Kepala KPP Pratama Surakarta hingga saat ini menjabat Kepala KPP Pratama Semarang Barat. Luar

biasa banyaknya pengalaman yang sudah beliau alami selama menjadi Kepala Kantor, khususnya

ketika masih di Kalimantan. Dimana secara kultur, masyarakat di sana masih memegang kuat adat

yang cenderung berbau mistis. Tentu, butuh kekuatan mental yang cukup tinggi -apalagi bagi seorang

wanita- untuk dapat mengemban amanah di sana dengan tidak mengabaikan kebijakan lokal

yang sudah ada. Ancaman dan intimidasi sudah pernah beliau alami, tetapi ketenangan sikap dan

ketegasan yang penuh dapat membuat segala permasalahan terselesaikan dengan baik.

Ibu Erna Sulistyowati. Berkali-kali beliau menekankan, bahwa KOMUNIKASI adalah unsur yang

sangat penting dalam menjalin sebuah hubungan. Meskipun kadang itu dianggap hal kecil, tapi

dampaknya bisa sangat signifikan untuk dapat menciptakan hubungan kerja yang kondusif. Ketika

berbicara masalah harapan yang ingin beliau capai di KPP Pratama Semarang Barat, jawabnya

adalah semoga apa yang beliau tuliskan di Time Capsule saat penyambutan beliau di Kaki Gunung

Ungaran dapat terwujud.

11

Buletin dari Barat


Perayaan Kemerdekaan

ditengah

Gebyar Amnesti KPP 503

ditambah 8 ditambah dan ditambah 45 sama dengan 70, dan begitu meriahnya perayaan HUT

RI ke 70 di KPP Pratama Semarang Barat..., tahun lalu, sementara tahun ini perayaan Hari Ulang

17 Tahun Kemerdekaan Bangsa Indonesia ke 71 sedikit tertutup oleh hingar bingar Amnesti Pajak,

bagaimana tidak, seluruh perhatian dan energy pegawai tercurah untuk mensukseskan program ini,

dari kedatangan Bpk Presiden Republik Indonesia Bapak Jokowi yang khusus datang ke Kota Semarang

untuk mensosialisasikan langsung program Amnesti Pajak yang pastinya menyita perhatian dan tenaga

para pegawai, alhasil dikemudian hari antusias para Wajib Pajak membludak dan banyak dari mereka

yang datang ke ruangan Tax Amnesti KPP Pratama Semarang Barat setiap harinya dan berbagai Sosialisasi

yang harus dilakukan sehingga secara tidak sadar moment 17 Agustus hampir saja terlewatkan oleh Kami,

namun berdasarkan desakan dari arus bawah khususnya kata-kata provokative di Group Whats App KPP

Pratama Semarang Barat dari Saudara Citra Juhara dan Idi Ardian yang menggugah hati nurani dari Bpk

Magiana selaku kasubag umum yang secara sigap menjawab risak dan rundung para pegawai yang ingin

terlibat dalam peringatan Kemerdakaan Republik Indonesia ini sayang nama terakhir yang menggugah hati

nurani Pak Magiana tidak terlihat ketika akhirnya acara 17 Agustus ini dapat dilaksanakan.

Pada tanggal 24 Agustus 2016 rapat singkat yang diadakan sore hari , yang diseting dengan nuansa rapat-rapat

kemerdekaan pada zaman dahulu kala memutuskan bahwa mau tidak mau gebyar peringatan

hari kemerdekaan tetap harus diadakan walupun tanggal 17 Agustus sudah lebih dari satu minggu terlewati,

rapat yang tanpa diiringi acara culik menculik seperti kejadian direngasdengklok silam akhirnya selesai

dilakukan dan hasilnya berbagai acara disusun dengan penuh perdebatan demi kemeriahan peringatan

hari kemerdekaan, maka di tanggal 26 Agustus 2016 seluruh pegawai KPP Pratama Semarang Barat sudah

hadir di Aula pada pukul 07.00 untuk sarapan bersama dan diikuti oleh rangkaian acara jalan sehat yang

diselenggarakan oleh Kanwil DJP Jawa Tengah I dan dengan iringan Marching Band dari Tentara Nasional

Indonesia yang dengan gelegarnya membakar semangat para peserta jalan sehat maka dimulailah rangkaian

acara peringatan HUT RI ke 71.

Buletin dari Barat 12


Setelah merasa sehat dengan berjalan para peserta

kembali ke lapangan belakang gedung KPP

Pratama Semarang Barat untuk mengikuti tiga

buah rangkaian lomba yang diadakan dengan

tema Colourful Wet and Fun dan tidak lupa

kami menyiapkan tim yang tetap berajaga demi

kelancaraan pelayanan untuk Wajib Pajak dan

pelayanan amnesti pajak, hampir seluruh pegawai

tanpa kecuali berpartisipasi.

Table Cloth Water Volley Ball Game

Jenuh dengan permainan Voli biasa..? Bukan,

kami memang sepertinya kurang ahli dalam

permainan Voli sebenarnya jadi dengan sedikit

modifikasi maka disulaplah permainan Voli

dengan menggunakan taplak meja sebagai media

penangkap dan pelempar bola dan menggunakan

bola yang terbuat dari balon yang berisikan air,

peraturan dasarnya mirip-mirip bola voli dengan

adaptasi sesuka hati yang penting pecah dan basah,

permainan ini didesaign untuk mempererat

kerja sama dan mengasah strategi yang mungkin

bisa di aplikasikan pada pelaksaaan pekerjaan

sehari-hari dan khususnya untuk kesukesesan

amnesti pajak, pada pertandingan ini Tim dari

Pelayanan yang dimotori oleh Mbak Mpok Can

dan Vokalis Anyar dari Band IT 503 Dewi Nawan

Putri dengan mengandalkan service maut dan

smash bertenaga mampu mengungguli Tim

Pemeriksaan dan Penagihan yang mengandalkan

gerak tipu dan dropshot dashyat oleh trouble

maker pada hari itu yaitu soudara Fahim Rosyidi

pada pertandingan Final, Ibu Kepala Kantor

KPP Pratama Semarang Barat Ibu Erna juga

sempat ikut bertanding mewakili Tim Kasuki

pada pertandingan Semi Final walaupun tanpa

pandang bulu Tim Kasuki tetap gagal melaju ke

babak final.

13

Buletin dari Barat


Dogde Water Ball Game

Permainan ini dirancang untuk meluapkan emosi

dan segala perasaan gundah yang mungkin bersemayam di

dada para pegawai yang pada akhirnya dengan riang gembira

para peserta bebas saling bertukar serangan dengan

peluru air untuk mengeliminasi para anggota tim lawan,

tanpa peraturan yang jelas pertandingan berjalan dengan

absurd dan lapangan permainan pun halai balai, beberapa

peserta sudah mulai basah kuyup entah karena terkena peluru

air, atau karena keisengan para peserta lainnya, karena

sering kali akhir-akhir ini kata-kata kita harus ikhlas terdengar

lirih dan kali ini adalah ikhlas untuk berbasah-basah

ria tanpa harus marah atau kecewa, pada pertandingan kali

ini lagi lagi Ibu Erna ikut ambil bagian dalam perlombaan

namun kali ini Tim Waskon IV yang menjadi lawannya dalam

pertandingan nampak ragu untuk mengarahkan peluru

airnya ke arah Ibu Kepala Kantor kami tercinta ini sehingga

pertandingan berjalan dengan cukup alot, namun blunder

fatal dari bendahara Kang Asep yang super duper iseng

dihari itu menyebabkan gagalnya Tim Kasuki menjuarai

Dogde Water Ball Game kali ini.

Blind Water Chess

Sejatinya permainan ini dirancang untuk saling

mengadu strategi dalam menentukan langkah dan taktik

sehingga mungkin bisa menciptakan Grand Master handal

seperti GM Utut Adianto namun apa daya tingkat keriangan

dan kegembiraan dalam memperingati Hari Kemerdekaan

Indonesia ke 71 ini sudah memuncak di antara para peserta

dan penonton sehingga perlombaan ini menjadi sedikit kisruh

dan larut dalam suka cita, guyuran air dan taburan holi

powder warna-warni membuat tingkat keseriusan permainan

ini menurun drastis, Ketua Forum AR Saudara Sunaryo

yang biasanya menjadi bulan-bulanan dalam segala hal

dan khususnya masalah perjodohan sehingga menyebabkan

dirinya lelah jiwa dan raga, kali ini mejadi aktor utama

dalam meriahnya perlombaan ini, tidak kenal lelah dirinya

melakukan manuver-manuver liar sepanjang pertandingan

berlangsung entah berapa orang yang telah menjadi korban

saat itu. Pada akhirnya tidak jelas siapa yang menjadi

pemenang dalam pertandingan ini, yang penting semua

peserta dan penonton berbahagia dan bisa ikhlas menerima

segala sesuatunya.

Buletin dari Barat 14


Setelah hampir semua basah kuyup dan berwarna

warni akhirnya lomba di akhiri, tidak lupa

sesi Foto bersama di depan Backdrop Pantai

yang pada akhirnya tidak terlihat dan kemudian

tidak lupa seluruh pegawai dengan kesadarannya

sendiri memungut sampah yang berserak dilokasi

dan sebisa mungkin mengembalikan lapangan

yang sudah “pecah” ke kondisi semula dan akhirnya

dengan komando MC yang disayangi oleh

seluruh pegawai KPP Pratama Semarang Barat

SoniYa Nazaalal Luthfi dan MC yang dituakan

Ndoro Gentur ,.. segala kegiatan hari itu ditutup

dengan Tepuk Semarang Barat yang legendaris

dan tidak lupa pekik kemerdekaan yang menggema

di pagi hari itu untuk menyampaikan rasa

terimakasih kami kepada para pejuang yang

memberikan kami kebebasan dihari ini...,

Merdekaaaaa ....!!!!

15

Buletin dari Barat


Opini Amnesti Pajak: Kita Hebat Teman

"Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah menandatangani Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor

144/PMK.02/2016 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Atas Pencapaian Kinerja di

Bidang Cukai.

Dalam PMK ini ditegaskan, insentif atau bonus diberikan setiap tahun anggaran berdasarkan asas kewajaran

yang disesuaikan dengan bentuk upaya yang dilakukan dalam pencapaian kinerja di bidang cukai."

Itulah sepenggal kutipan berita di salah satu media sosial, yang segera ramai diperbincangkan di internal DJP.

Urusan dapur memang selalu menjadi hal sensitif, tak terkecuali dapur tetangga. Namun jika mau menelisik

lebih dalam, sebenarnya terdapat benang merah antara Amnesti Pajak dengan perbincangan dapur tetangga

di internal DJP.

Periode pertama Amnesti Pajak di akhir September 2016, yang cukup menyita perhatian publik serta menguji

tenaga, fokus dan kesabaran pegawai DJP dalam melayani antusiasme Wajib Pajak mengikuti Amnesti

Pajak.

Buletin dari Barat 16


Demi meladeni antusiasme Wajib Pajak mengikuti program pemerintah ini, banyak Kantor Pelayanan Pajak

membuka layanan hingga dinihari, yups hingga dinihari, dan yang membedakan dengan kantor atau instansi

lainnya yang harus membuka layanan hingga larut malam yaitu mereka menerapkan shift masuk atw pulang

kantor, maka pegawai DJP demi mensukseskan program amnesti pajak ini membuka layanan amnesti pajak

hingga antrian tuntas, dengan menambah jam kerja pegawai. Bener-bener sesuai dengan slogan anda puas

kami lemas.

Usai kegilaan di periode pertama Amnesti Pajak, apresiasi langsung dari Presiden Jokowi langsung disambut

pegawai dengan harapan adanya insentif di bulan Oktober, namun harapan tersebut langsung dimentahkan

oleh petinggi lapangan banteng dan tak lama kemudian justru terbit PMK tentang insentif kepada Bea Cukai,

terkait capaian kinerja institusi.

Sebenarnya perbincangan internal DJP mengusik insentif tetangga, bukan melulu mengusik nominal rupiah

yang tidak diperoleh. Lebih dari itu, pertanyaan di benak insan DJP, bahwa apakah pernyataan "Kami Hebat"

baru sekedar pengakuan di internal DJP saja? Apakah di forum eksternal kita pun berani lantang menyatakan

bahwa kita hebat. Bukan untuk sebuah arogansi, namun lebih ke harga diri, bahwa capaian kinerja DJP akan

bias jika hanya diukur dengan persentase realisasi target yang bias, karena semua mahfum, bahwa menyusun

angka proyeksi di APBN hanyalah asumsi, meskipun itu sebuah professional assumption sekalipun. Di lain

pihak, ketika proyeksi APBN meleset, maka angka penerimaan pajak adalah yang paling alot dan terakhir

untuk direvisi pemerintah karena memang merupakan salah satu komponen vital dalam postur APBN kita.

So, ketika Amnesti Pajak dengan begitu banyak kendala di awal pelaksanaannya, dengan begitu banyak

yang pesimis dan pencibir program ini, dan ketika capaian program ini di periode pertama saja sudah jauh

melebihi ekspetasi seorang pakar professonal assumption sekaliber Agus Martowardojo, maka sungguh mengusik

insan DJP, ketika seorang petinggi lapangan banteng, entah berdasarkan instruksi atau opini pribadi

menyatakan bahwa capaian Amnesti Pajak tidak berarti bahwa pegawai DJP mendapatkan insentif.

Begitu menyentak harga diri, at least buat saya pribadi sih.., ketika eksternal Kemenkeu mengapresiasi hingga

Bapak Agus Martowardojo pun harus mengakui bahwa Amnesti Pajak ternyata memiliki imbas positif terhadap

ekonomi makro Indonesia, justru internal Kemenkeu cenderung acuh dengan capaian Amnesti Pajak.

So, mari perlihatkan Kita Hebat terutama dari pihak luar, insentif hanya salah satunya, ke depan begitu berharap

DJP lebih bisa mandiri menentukan target penerimaan yang lebih realistis, pun kalo hal tersebut masih

sekedar utopia, ajukan perubahan klausul Perpres.37/2015 tentang Tukin, sehingga nilai Tukin minimal yang

diperoleh pegawai DJP tidak lebih kecil dari nilai Tukin yang diterima sebelum Perpres No.37 tahun 2015 ini.

Selanjutnya semoga revisi Undang undang KUP yang sudah di depan mata ini, benar-benar membuat slogan

"Kita Hebat" tidak hanya sekedar pengakuan dari kita untuk kita saja, namun menjadi

pengakuan dari pihak luar kepada DJP atau entah berubah nama apa kelak, bahwa,

"Kita memang Hebat ".

17

Buletin dari Barat


G 30 S Amnesti Pajak

Setelah Ribuan Surat terkirim, ribuan Konsultasi

kami layani, puluhan atau mungkin sudah

ratusan Sosialisasi kami selenggarakan.

Berbagai cara serta upaya kami lakukan agar syiar

Amnesti Pajak dapat tersebar seluas-luasnya

dan akhirnya titik kulminasi dari periode pertama

Amnesti Pajak mulai tampak di depan mata kami.

Menginjak minggu terakhir dibulan September

dengan semangat dan tanpa berelegi kami bersiap

menyusun rencana dan perubahan yang diperlukan,

jadwal piket yang dirasa sudah tidak memadai

untuk memberikan pelayanan yang prima, di rombak

sedemikian rupa. Menambah beban..? iya, jujur

saja waktu piket para kawan kawan yang hebat ini

semakin terkuras untuk melakukan pelayanan terkait

Amnesti Pajak, bagai mana lagi konon negara

ini sangat membutuhkan tenaga dan pikiran kami.

Inovasi dan upaya kami lakukan sebisa kami untuk

menyukseskan Amnesti Pajak ini, dimulai dari adanya

Pegawai yang cukup hmm…. agak sulit menemukan

kata yang tepat untuk mendeskripsikan tingkah

Pegawai yang satu ini, yang jelas dia mengangkat dirinya

sendiri sebagai Manager TA dan menuliskan

sendiri Tupoksinya, toh ternyata apa yang dilakukannya

dirasa sangat membantu Tim dan disetujui serta

memperoleh apresiasi penuh dari semua anggota

Tim TA, mengatur berbagai kendala dalam hal jadwal

piket, sarana dan prasarana terkait Amnesti Pajak,

dan menanggulangi Wajib Pajak yang membutuhkan

perhatian lebih ( marah-marah gak jelas, gak mudengan,

dan berbagai kasus lainnya ). Terinspirasi oleh

sang Manager dadakan, lagi lagi seorang Pegawai

mengangkat dirinya sendiri menjadi Kapten TA, jabatan

Kapten ini diawali dari adanya berbagai penafsiran

mengenai masalah peraturan TA sehingga Pegawai

ini memutuskan untuk menguliti secara sangat

amat mendalam sekali ( yah ini adalah hiperbolic se

hiper-hipernya ) dan kemudian dia mendeklarasikan

jabatan Kapten TA dan menginstruksikan bahwa

semua perdebatan dan masalah yang muncul

terkait Peraturan harus bermuara ke dirinya sehingga

para Wajib Pajak tidak mendapatkan perlakuan

yang berbeda terkait peraturan yang berlaku.

Pada tanggal 29 September 2016 diawali dengan

apel bersama di Aula tercinta KPP Pratama Semarang

Barat, Ibu Kepala Kantor kami tercinta, Ibu

Erna Sulistyowati memberikan kata –kata pengobar

semangat dan pada akhirnya bukan kata – kata saja

yang beliau berikan, pun dengan tumpukan antrian

Berkas TA yang menggunung :D berkali-kali beliau

menyempatkan diri turun langsung ke gelanggang

untuk menyongsong para Wajib Pajak yang datang

bagaikan air bah, dan Apel pagi itu kami Akhiri dengan

Doa yang sangat khusyuk dari Bpk Uung yang

sungguh memberikan santapan Rohani bagi kami

semua. Selain Manager dan Kapten ada satu lagi

sekelompok pegawai yang membentuk Kelompok

Penyuplai Ransum, yang diketuai oleh Ibu Yuliani

Purwaningrum yang memang menjabat sebagai

Menteri Pencernaan di KPP Pratama Semarang

Barat , karena sungguh ditengah tumpukan Wajib

Pajak dan Berkas Amnesti Pajak, kesehatan kami

harus tetap di perhatikan. Maka, jadilah Kelompok

Penyuplai Ransum ini setiap dua atau tiga jam

sekali menyediakan berbagai santapan yang mampu

menopang stamina para pegawai. Berbagai macam

jenis makanan dan minuman tersaji dengan ciamik

dari awal sampai akhir euforia Amnesti Pajak gelombang

pertama ini. Tanggal 29 September 2016 ini

diakhiri di pukul 21.00, iya jam sembilan malam..!!

Buletin dari Barat 18


ini adalah beberapa kejadian yang cukup membekas

dihari itu :

1. Ada Wajib Pajak Expatriat, entah dari belahan

dunia mana yang berbahasa inggris saja sulit, sehingga

Em Ali Ef sebagai Penerima mengalami Cultural

Shock dan membutuhkan bantuan penerjemah bahasa

Isyarat yang dengan sangat baik bisa di perankan oleh

Hana yang bertindak sebagai Penghubung waktu itu

2. Adanya Wajib Pajak Wanita yang datang ke

Kantor di dampingi oleh Suaminya namun mereka

terpisah entah bagaimana ceritanya. Namun

setelah Ibu Wajib Pajak tersebut memperoleh Tanda

Terima TA, suami dari ibu tersebut menghilang,

mungkin menyublim entah kemana tidak dapat

dihubungi dan tidak dapat ditemukan, di setiap

Sudut Kantor sudah kami bantu telusuri, akhirnya

setelah puluhan menit berlalu sang Ibu yang kebingungan

memutuskan untuk pulang, semoga Rumah

Tangga mereka baik-baik saja pada akhirnya….

3. CD yang tertukar dan dianggap menghilang,

ada-ada saja Wajib Pajak yang satu ini, dan

ada ada saja tingkah sang Manager TA, CD nya

tertukar oleh diri Wajib Pajak sendiri namun menyalahkan

petugas, lalu CD nya ketemu dan dianggap

hilang padahal sudah ada di petugas...

jadi malu sendiri sang Wajib Pajak pada akhirnya

4. Upaya penipuan tanda terima SPT Tahunan

2015 yang terbongkar, berkat kejelian petugas TPT berkas

TA yang di sertai tanda terima SPT Tahunan 2015

fiktif dapat terbongkar, bagaimana tidak KOP Tanda

terima dari KPP X namun penanda tangan adalah

pegawai KPP Y, mau coba-coba lagi Pak Penipu….??

5. Masih banyak kisah lainnya yang tidak kalah

seru sebenarnya di tanggal 29 September 2016

ini tapi mari berlanjut ke tanggal 30 September 2016

Belum habis lelah kami setelah Sabtu dan Minggu

Lembur , lalu Senin sampai Rabu meninggalkan kantor

pukul 19.00 dan di tanggal 29 September 2016

pukul 21.00 kami baru beranjak dari Kantor. Kami

para peneliti dan ketua tim peneliti yang kebanjiran

tumpukan berkas yang ada, dan deadline yang sudah

menunggu didepan mata, namun tanggal 30 September

2016 ini tidak dapat diundur satu detik pun,.

19

Buletin dari Barat


Kembali Ibu Kepala Kantor Kami mencoba mengobarkan

bara yang melalap kami penuh sehingga menjadi

selaksa lentera yang memberikan panasea kepada

kami semua dalam mengawali hari ini. Berbagai daya

dan upaya dilakukan, semua ikut terlibat, bahkan para

pegawai yang tidak masuk Tim TA mengajukan diri

menjadi sukarelawan. Sungguh kami tidak rela berpangku

tangan melihat kawan kami berjuang dengan

susah payah mungkin begitu pemikiran mereka, dihari

terakhir ini. Tidak ada lagi jadwal yang baku bagi kami,

setiap saat kami siap saling bahu membahu, jabatan

Manager dan Kapten pun disandang beberapa orang di

hari terakhir ini, semua maju kemedan perang walaupun

menjadi penyokong dari belakang , menyemangati,

menyiapakan dan mengganti berbagai hal dan berbagai

sarana, sekedar memberikan pijitan ringan, atau

hanya dengan memberikan senyuman penyemangat

bagi kami yang tenggelam dalam lelah menjadi pelabuhan

tempat menyandarkan raga sejenak. Kelompok

Penyuplai Ransum bekerja dengan penuh dedikasi,

sokongan dari Paguyuban Pegawai pun sangat membantu

dengan pengadaan terapis pijat untuk para pegawai

dapat terwujud dengan sedikit mengejutkan walaupun

pada akhirnya terapisnya juga membutuhkan

pijatan karena terlalu lelah memijat kami semua :D

Antusias para Wajib Pajak dihari terakhir ini sebenarnya

tidak kami apresiasi, sungguh kenapa harus

menunggu hari terakhir dan menumpuk kenapa tidak

dari kemarin saja bapak ibu yang kami hormati

datang kemari, sehingga kami bisa memberikan pelayanan

yang jauh lebih baik ketimbang hari terakhir

ini. Bukan karena lelah kami, tapi kami merasa seharusnya

bisa lebih baik melayani para bapak dan ibu

jika tidak berjejalan dan tumpah di hari terakhir ini,

sungguh. Pun waktu berlalu…. sarapan, cofee break

dhuha, makan siang , buah buahan siang hari , ransum

menjelang sore, makan sore, dan pada akhirnya

makan malam dan kudapan malam sudah tersaji bagi

kami, namun arus Wajib Pajak tidak menunjukan kata

surut, jangan kasih kendor... meminjam istilah yang sedang

trend di ibu kota sana..., sayangnya tenaga kami

terbatas dan kami sadar sebagian dari kami bukanlah

superman, ada ibu-ibu yang ditunggu oleh bayi mungilnya

dirumah, ada juga para ayah yang menyandang

status PJKA sehingga mau tak mau perlahan kekuatan

kami tergerus oleh beberapa kepentingan yang tidak

dapat dielakan. Situasi yang kurang lebih sama ketika

Raja Leonidas memimpin segelintir pasukannya kemedan

perang melawan pasukan Xerxes yang tidak

terhingga jumlahnya.. seperti itulah kami diwaktu itu

Buletin dari Barat 20


Ketika terbit instruksi dari Kanwil bahwa KPP harus siap

melayani Wajib Pajak hingga malam berganti pagi dan hal

ini disampaikan oleh Ibu Kepala Kantor Kami di Group

WA sungguh bukan kami tidak ingin membalasnya dengan

menunjuk diri kami sebagai sukarelawan, namun tidak

sempat jari ini menyentuh smartphone. Dan sebenarnya

sudah tertanam tekad di sebagian kami yang tidak memiliki

halangan untuk pantang pulang sebelum semua berkas

selesai, dengan segenap daya dan upaya akhirnya seluruh

berkas hampir selesai di penghujung hari, hanya tersisa dua

Wajib Pajak yang bermasalah, yang satu adalah konsultan

yang kebingungan sendiri merasa bahwa masih ada satu

tanda terima yang belum diberikan kepadanya, namun ketika

kami bantu membongkar semua berkas dan menghitung

kembali tanda terima dengan jumlah berkas Wajib Pajak

yang di bawanya, justru tanda terimanya lebih dari cukup..

dan tambah bingung lah konsultan tersebut.. jelas kesalahan

tidak ada di pihak kami... , sementara Wajib Pajak yang satu

dengan sedikit memaksa meminta dengan sangat berkasnya

diterima hari itu , dengan banyaknya ketidak lengkapan

yang ada di berkas Wajib Pajak tersebut sungguh kesabaran

yang teramat sangat dimiliki oleh Kapten di saat itu.

Dan akhirnya di pukul 00.30 semua selesai, sempat berwefie

ria dan kemudian yang masih sanggup mengendarai

kendaraannya pulang kerumah dan sebagian besar tertidur

begitu saja di Ruangan Help Desk dan menyisakan cerita

betapa dashyat nya tingkat desible dari dengkuran Citra

Juhara dan yang mulia Pak Winoto. Kata Selesai masih

jauh dan perjuangan KPP semarang Barat masih ada sekian

ratus milyar lagi penerimaan yang masih harus dicapai,

biarlah tangisan dari Konsultan yang disebabkan oleh

ketegasan dan kegigihan hati dari Kapten Sunaryo menjadi

pertanda bahwa perjuangan kita baru saja dimulai.....

The Last Man Standing

21

Buletin dari Barat


Dzulhijjah, adalah sebuah napak tilas perjalanan kisah romantisme Ibrahim, Sarah, Hajar

dan Ismail. Kisah cinta yang berujung pada keyakinan yang utuh dan penyerahan diri secara

penuh. Bahwa cinta pada sesuatu yang fana, tak kan pernah berusia lama. Sebab sejatinya

cinta, adalah saat seorang hamba melepaskan segala hasrat yang dimiliki untuk kemudian

berlari menuju Pemiliknya yang hakiki.

Begitupun halnya yang dilakukan oleh seluruh umat Islam di bumi ini. Melakukan ibadah

haji sebagai napak tilas kisah tersebut. Bagi yang belum mampu melaksanakannya, maka

mereka menapak tilasinya dengan melakukan kurban.

KPP Pratama Semarang Barat pun tidak ketinggalan dalam hal ini. Di saat beberapa pegawainya

melaksanakan ibadah haji, sebagian besar lainnya melaksanakan ibadah kurban. Bersama-sama,

bergotong-royong, bersegera untuk membuktikan cinta sejati pada Pemilik cinta

yang hakiki. Kegiatan kurban dilakukan di area lahan parkir belakang kantor, pagi hari tanggal

14 September 2016. Mulai dari penyembelihan hewan kurban, pembagian daging kurban

hingga ditutup dengan makan siang bersama. Semua dilakukan dengan khidmat.

Setiap tahun, ibadah ini selalu kami lakukan, namun adakah yang tahu kisah cinta dengan

perjuangan yang penuh, di balik ini semua…? Maka inilah romantisme itu…

*********

Buletin dari Barat 22


Duta Besar Bangsa Utara yang licik dan

sombong itu berkata dengan tatapan bengis

"Penduduk di negara Bangsa Utara tidak

ada yang mengerti tentang agama Hanif

yang engkau anut. Mereka tidak mengenal

tuhan yang lebih tinggi daripada raja mereka,

Awameleh yang digdaya dan berkuasa.

Kemuliaan dan kebesaran hanyalah milik

Awameleh. Buktinya, hari ini kami menang

atas kaummu. Saranku kepadamu adalah

sebaiknya engkau sesegera mungkin

mengganti keyakinanmu, atau setidaknya

lidahmu, agar sesuai dengan kepercayaan

Bangsa Utara. "

Gadis belia yang diajak bicara itu, adalah

seorang putri raja yang tertawan. Tanah

kelahirannya hanya tinggal puing. Seluruh

keluarga, kerabat dan bangsanya telah

lenyap. Hanya dia satu-satunya jiwa yang

tersisa dari kaum Col Mirleri. Semua tinggal

kenangan dalam rintihan kekalahan.

Gadis belia itu, kini menjadi tawanan dari

kaum yang dikalahkan dalam perang. Walau

begitu, meski secara fisik dia terpasung,

tetapi jiwanya bebas merdeka. Dengan

keberanian yang penuh, dan tatapan menghunus

lawan bicara, dia lantang berkata

kepada Sang Duta :

" Kemuliaan dan kemenangan yang sebenarnya,

hanyalah milik Allah! "

Gadis belia itu, sungguh sama sekali tidak

menunjukkan rasa gentar pada siapa yang

ada di hadapannya. Tangan Duta Besar

Utara itu menggenggam kuat cemeti berujung

besi. Siapa saja yang sengaja membantahnya,

harus bersiap merasakan panasnya

cemeti di raga. Tapi tidak demikian bagi gadis

itu. Dibalik kulit hitamnya, izzah terpancar

kuat. Sorot matanya yang tajam, seolah

menyatakan siapa dirinya : cerdas dan tegas.

"Hai wanita yang lidahnya pedas! Kehidupan

baru yang akan engkau lalui

dalam kekuasaan rajaku, adalah bukan

kehidupan menyenangkan seperti yang

engkau bayangkan, melainkan kehidupan

yang penuh dengan perintah kematian

setiap saatnya. Kehidupan setelah ini,

bagaikan meniti di atas jalan sebilah

pedang yang tajam." Duta Besar itu membalasnya

dengan kejam.

Meski kini gadis itu telah menjadi budak

dari seorang raja zalim -yang tidak lagi

memiliki hak untuk bicara, tidak memiliki

hak asasi sebagai manusia, bahkan sekedar

hak untuk merasa malu- gadis itu tetap

memiliki keyakinan yang utuh dan kuat.

Bahwa, Tuhan nya tak akan pernah lupa.

Bertahun-tahun, gadis belia itu menjalani

hari-hari kelam yang penuh dengan

tekanan, hinaan dan siksaan sebagai seorang

budak. Sungguh jauh berbeda dari

kehidupannya dahulu, saat dirinya masih

dikelilingi oleh orang-orang yang ia cintai.

Saat masih bebas bermain dan berlari

melintasi lembah bersama seekor kijang

sahabatnya. Saat ia masih leluasa memacu

kuda, hingga syal yang terlilit di lehernya,

berkibar tertiup angin. Begitu cepat dan

lincah larinya, sampai-sampai kaumnya

memberi ia julukan Putri Angin.

Hingga kemudian takdir-Nya berkata lain.

Setelah sekian lama terkungkung dalam

penjara istana, akhirnya raja Awameleh

menghadiahkan ia pada seorang putri

cantik rupawan : Sarah. Yang memiliki

warna mata hijau seperti zamrud, kulit

putih seperti susu, dan senyuman yang

mampu meruntuhkan hati siapapun yang

melihatnya.

Bersama putri Sarah, gadis itu tidak

pernah merasa sebagai budak. Meskipun

kesehariannya, dialah yang melayani

seluruh kebutuhan sang putri. Segala ke-

23

Buletin dari Barat


aikan, kesantunan, kemuliaan akhlak, dan

kelembutan Putri Sarah, membuat gadis itu

bersumpah. Bahwa ia, akan selamanya setia.

Dia mencintai Sarah, lebih dari apapun.

Bahkan dirinya sendiri, telah ia azzamkan

untuk mengabdi. Kebahagiaan sang putri,

adalah bahagiaannya juga. Kesedihan sang

putri, adalah deritanya juga. Harapan-harapan

sang putri, juga selalu dimasukkan dalam

setiap doa dan sujud panjangnya. Pun,

impian puncak dari sebuah pernikahan :

memiliki seorang putra sebagai penerus

keluarga.

Sarah dan Ibrahim telah menikah puluhan

tahun. Meski cinta mereka tak lekang, buah

hati masihlah menjadi harapan. Gadis belia

itu sangat tahu, bahwa seluruh pusat dari

do'a nya, haruslah itu.

Dan Tuhan, memang sedang menguji cinta

mereka....

Hingga kembali, takdir-Nya berkata lain.

Sarah, sang putri cantik yang sangat ia puja,

memohon kepadanya agar bersedia menjadi

hadiah bagi Cintanya.

"Aku menginginkan kebahagiaan Nabiku.

Aku menginginkan agar sahabat hidupku

dapat tersenyum lega untuk masa depannya.

Engkau adalah rasa terima kasihku

kepadanya. Engkau adalah tanda cinta dan

kerelaanku kepadanya. Engkau, adalah

taman bunga yang aku hadiahkan kepada

suamiku tercinta, Nabi Ibrahim. " Walau

sedikit bergetar, Sarah tetap berkata lembut

dengan tatapan hangat. Dan gadis belia itu

tahu, bahwa ini bukanlah sekedar keinginan

Sarah untuk mengorbankan dirinya

serta mengikis egonya sebagai wanita. Juga,

bukan sekedar keinginan Ibrahim untuk

memiliki anak sebagai penerus risalah

kenabian. Berkali-kali Ibrahim menolak,

berkali-kali pula Sarah meyakinkannya

dengan penuh. Ini adalah titah Illah yang

harus mereka taati. Maka begitulah, kecintaan

yang sangat terhadap yang fana, pasti

akan sirna. Karena Dia akan selalu menguji,

seberapa besar kecintaan makhluk terhadap

Khaliqnya.

Pernikahan mulia itupun terjadi. Gadis

belia itu tak putus memanjat syukur. Tuhannya

tidak hanya memerdekakan status

dirinya dari seorang budak, tapi juga telah

memuliakannya dengan menjadi pendamping

seorang Nabi.

Putri Sarah yang anggun, cantik, matang,

cerdas dan penuh kelembutan. Betapapun

dirinya berusaha kuat untuk tetap ridho

terhadap titah Nya, namun cintanya yang

penuh terhadap Ibrahim, membuat ia sering

menangis sepanjang malam. Dan gadis

belia yang lincah, tegas, pemberani dan

kadang meledak-ledak itu, tahu betul jika

putri pujaannya sedang bersedih. Sungguh,

ia bersumpah, akan melakukan apapun

yang ia bisa, agar sang putri bahagia. Tapi,

hatinya yang kinipun diselimuti cinta yang

penuh terhadap Ibrahim, membuat ia selalu

merindukannya sepanjang malam. Dua

cinta yang bermuara sama.

Dan Tuhan, memang sedang menguji cinta

mereka....

Hingga akhirnya saat segala do'a yang

terpanjat itu dikabulkan, semua bersyukur.

Semua luap dalam kebahagiaan. Sang putri

sangat berbinar melihat seorang bayi yang

lahir dari rahim bekas budaknya, sahabatnya,

istri kekasihnya. Bayi laki-laki yang

tampan dan sehat : Ismail.

Hewan ternak siap untuk dikurbankan,

segala makanan dihidangkan, puji-pujian

dilantunkan. Sungguh, hari itu penuh dengan

kegembiraan dan rasa syukur.

Wanita muda itupun bahagia, melihat sang

putri kembali tersenyum dan tertawa. Bayi

Ismail, tak pernah lepas dari dekapan Sarah,

kecuali saat dia ingin menyusu ibunya.

Buletin dari Barat 24


Tapi kembali, Tuhan ingin menguji

cinta dan ketaatan mereka. Masih begitu

singkat kebahagiaan berdetak, Ibrahim

mendapat titah, untuk membawa istrinya

dan bayi Ismail ke sebuah gurun pasir

tak berujung (kelak bernama Mekkah al

Mukarromah). Sepanjang mata memandang,

yang terlihat hanyalah hamparan

padang tandus, bebatuan cadas, debu

dan pasir gurun. Tak ada kehidupan di

sana, bahkan lumutpun enggan bertumbuh.

Panas dan gersang. Perjalanan

panjang dan melelahkan, dari Palestina

menuju Mekkah dilalui mereka dengan

diam seribu bahasa. Wanita muda itu tak

berani berkata. Dia hanya memeluk bayinya

erat. Jika memang ini adalah perintah-Nya,

untuk apa ada segala tanya?

Dulu aku sebatang kara sebagai seorang

budak. Tak dikenal, tak diperhatikan.

Dan kini, aku juga akan pergi dan tinggal

seorang diri. Apa bedanya? Siapalah aku,

hingga berani memasuki kehidupan seorang

Nabi? Hanya Tuhan yang kini aku

miliki. Hanya Dia tempat segala pinta.

Berkali-kali wanita muda itu menyemangati

dirinya.

Ibrahim kemudian meninggalkan mereka

berdua di gurun pasir tak berbatas

itu. Tanpa menatap, tanpa berkata-kata.

Hatinya pilu, karena sebagian dari dirinya

tertinggal di sana. "Wahai suamiku,

mengapa engkau meninggalkan kami di

tempat seperti ini? Ismail sedang sakit,

dan dia kehausan. Apakah ini adalah

perintah dari Tuhanmu?" Wanita muda

itu bertanya, untuk sekedar meneguhkan.

"Ya, benar. Ini adalah perintah Tuhanku."

Ibrahim menjawab singkat, masih tanpa

menatap. Kemudian bersiap menderap

pergi.

"Baiklah, jika benar ini adalah perintah-Nya,

aku yakin, Dia tak akan pernah

menyia-nyiakan kami." Wanita muda itu

berkata dengan tegas dan penuh percaya

diri.

Tangis bayinya yang memecah kemudian, mengalihkan

sekejap lamunannya. Dia terkesiap,

melihat bayinya yang pucat dan lemah karena

kehausan. Segala yang ada pada dirinya, kini

hanya terpusat pada satu arah : air.

Tatapan wanita muda itu, menyapu sekeliling,

sungguh berharap menemukan air disana. Resah

kini telah meringkusnya.

Pertama kali ia berlari :

Di kejauhan ia melihat sesuatu yang berkilau,

mungkinkah... genangan air yang terbias sinar

matahari? Penuh harap ia berlari menaiki bukit

agar dapat meluaskan pandangannya. Pun,

harapan melihat adanya sekelompok musafir

yang berkenan singgah. Diatas bukit itu, ia

masih melihat kilau yang sama. Tampak bening

dan menyegarkan. Gegas dipacu langkahnya,

menuruni lembah dengan harap yang membuncah.

Sampai disana, ia terpaku. Sebab yang

dilihatnya tadi hanyalah fatamorgana di gurun

pasir yang berdebu.

Kedua kali ia berlari :

Wanita muda itu kembali berlari menaiki bukit.

Dengan kaki yang terbakar, ia masih berharap

Tuhannya memberi jalan keluar. Diatas bukit

itu, ia akhirnya menangis. Tuhan, tidaklah aku

berlari melainkan untuk mengejar rahmat-Mu.

Di kejauhan, ia melihatnya bayinya terdiam

tenang. Tergesa ia kembali turun, untuk memastikan

bahwa Ismail baik-baik saja.

Ketiga kali ia berlari :

Wanita itu kembali dihantui rasa takut yang

kian menjadi. Tuhan, haruskah aku berteriak

sekeras-kerasnya? Akankah ada orang yang

melewati hamparan gurun tak berpenghuni

ini? Dan kembali ia menangis.

Tuhan, Engkau pemilik setiap tetes air yang

menjadi penyambung hidup setiap makhluk-Mu,

sungguh, kami sangat membutuhkan

Karunia-Mu.

Tuhan, berikanlah kemudahan kepadaku dan

juga putraku.

Tak henti wanita itu melantun doa. Saat ia

berada di puncak bukit, seluruh penjuru langit

telah berubah merah seperti api, seolah telah

menangis meneteskan air mata darah. Seo-

25

Buletin dari Barat


lah seisi langit juga ikut menengadahkan

wajahnya menghadap Rabb Penguasa alam

untuk bersama-sama berdoa. Berucap

"aamiin" dalam setiap doa yang ia panjatkan.

Keempat kali ia berlari :

Hitam adalah namaku. Hitam adalah warna

tempatku berbagi rahasia hati di sepanjang

perjalanan yang penuh dengan penderitaan

yang mencabik-cabik hatiku. Hitam telah

membuatku menjerit pedih dan juga membuatku

terbakar sehingga memaksa diriku

untuk berjuang.

Tuhan! Sungguh Engkau Maha kuat!

Sedangkan diriku adalah hamba-Mu yang

ringkih, lemah, lagi hidup sebatang kara.

Putraku Ismail, adalah hamba-Mu juga

yang masih bayi, lemah, dan tak berdaya.

Karena itu, sungguh kami sangat membutuhkan

pertolongan-Mu.

Wanita muda itu sampai kembali ke kaki

bukit dengan napas terengah dan lisan

yang terus memohon kepada Tuhan. Ia

mendapati bayinya sudah tertidur. Mungkin

karena terlalu lelah menangis atau

karena tubuhnya tidak kuat lagi di menahan

haus di bawah terik matahari.

Kelimakali ia berlari :

Dari atas bukit, wanita muda itu kelak akan

melihat seperti apakah keadaan derajat rela

itu. Takdir kehidupan telah menempanya

dari satu ujian ke ujian yang lain sehingga

kini tiba saatnya untuk menyerahkan

segalanya. Tuhan, janganlah Engkau jadikan

kesalahan yang telah aku perbuat

sebagai hukuman. Sungguh, Engkau adalah

Zat yang Maha Pengasih.Kini dia kembali

berlari untuk yang kesekian kalinya. Seolah

segalanya telah terhapus dari kehidupannya

selain untuk berlari. Tak ada lagi yang

diinginkannya sekarang selain Ismail,

putranya. Ia begitu merindukan suara

tangisnya.

Keenamkali ia berlari :

Kini wanita itu berhenti berharap akan

adanya rombongan musafir yang mungkin

dapat menyelamatkannya. Dia juga berhenti

berteriak-teriak, dan mencoba agar ada

yang mendengar suaranya. Dia merasa setiap

menyandarkan harapannya pada sesuatu

demi mendapatkan jalan keluar, setiap itu

pula semuanya sirna. Karena itulah, kini ia

mulai mencari keselamatan kepada penggenggam

keselamatan itu sendiri, Tuhannya,

yaitu agar Dia rela dengannya dan juga

putranya. Tuhan, sungguh selain dari kerelaan-Mu,

tidaklah ada artinya dunia dan

segala isinya. Aku tidak akan menangis lagi.

Ketujuhkali ia berlari :

Di kejauhan, wanita itu melihat pancaran

cahaya yang berkilau mengenai pandangan

kedua matanya. Ia perhatikan Ismail

tersenyum sembari menggerak-gerakkan

kedua tangannya ke udara. Ia juga mengetuk-ngetukkan

kedua tumitnya ke dalam

pasir. Saat itu juga terdengar suara lirih,

seperti suara air yang mengalir. Atas kuasa

Tuhan, hamparan pasir terbelah menjadi

tiga belahan. Mungkin karena terbentur

oleh ketukan kedua tumit Ismail. Air mengalir

dari dalam belahan tanah pasir itu.

Bahkan, derasnya air itu mengalir hingga

langsung membuat genangan. Tuhan!

Sungguh, Engkau adalah Zat yang Maha

Mendengar setiap doa. Engkau Maha Melihat,

Maha Melindungi satiap hamba-Mu

yang berada dalam kesulitan.

Gegas wanita itu berlari sekencang-kencangnya

menuju ke tempat Ismail ia tinggalkan.

Saat itu juga ia benar-benar melihat

air yang mengalir dari dalam tanah bekas

ketukan kedua tumit Ismail. Segera, dengan

semangat penuh ia menggali pasir tempat

air itu memancar dan membuat kubangan

agar air berkumpul hingga tidak meresap

kembali ke dalam tanah.

Begitulah. Kerelaan dan keberserahan diri

adalah derajat tertinggi dari keimanan. Ketika

Ridho Tuhan didapat, maka terbukalah

segala pintu keberkahan dan rahmat. Maka

setelah itu, segala keajaiban berdatangan

dalam kehidupannya. Begitu cepat, begitu

tak terduga. Jika segala kuasa berada penuh

dalam genggaman-Nya, lalu siapalah yang

sanggup mengingkarinya?

Buletin dari Barat 26


Sumber mata air yang tidak pernah berhenti mengalir, hewan ternak yang selalu datang tiba-tiba,

rombongan musafir yang singgah secara terus-menerus, membuat daerah tandus ini berubah demikian

pesat hingga menjadi sebuah kota yang ramai, makmur dan terkenal hingga ke penjuru negeri.

Bertahun-tahun wanita itu hidup bersama anaknya dengan masih menyimpan kerinduan yang tak

pernah berkurang terhadap Ibrahim. Rindunya seperti bebatuan gurun yang tersiram terik matahari

sepanjang hari. Terbakar dan semakin terbakar. Hampir setiap malam wanita itu memimpikan

kekasihnya, dan di setiap pagi yang menjelang ia selalu berharap kekasihnya akan datang. Sungguh,

kerinduan adalah kepedihan dan kehausan yang nyata baginya. Dan Ismail, ia tumbuh menjadi anak

yang cerdas, tampan dan sholeh. Senyumnya, matanya, semua gerak-geriknya sangat mirip dengan

Ibrahim. Sosok kekasihnya itu seolah terpantul jelas pada Ismail. Membuat rindunya yang tak pernah

lekang itu, semakin meradang. Semakin panjang penantian, cintanya semakin bermekaran.

“Ibu, tolonglah, jangan engkau menangis. Insya Allah, ayah akan datang. Sungguh, aku telah bermimpi.

Beliau sedang menuju kemari.” Ismail tersenyum menghibur saat melihat wanita yang sangat

dicintainya itu menangis menanggung rindu.

Dan memang kembali, Tuhan ingin menguji cinta, kepasrahan dan ketaatan mereka. Ibrahim datang

untuk mengentaskan rindu. Saat pertemuan menjadi pelepas dahaga cinta, saat bahagia melingkupi

mereka, Ibrahim kembali mendapat titah dari Tuhan-Nya. Kali ini, ia diperintahkan untuk mengurbankan

anak kesayangannya, yang bertahun-tahun sudah ia nantikan pertemuan dan kehadirannya.

Ismail saat itu masih remaja, tapi sikap kepasrahan dan ketaatannya telah terpancar jelas. Berulangkali

Ibrahim diilhamkan mimpi, berulangkali pula kegelisahan selalu melingkupi hati. Saat ia merasa begitu

berat menanggung bongkahan beban, justru yang keluar dari lisan Ismail adalah selaksa kekuatan.

27

Buletin dari Barat


“Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi

bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?...”(QS.

Ash-Shaffat : 102)

“Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu,

insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang

sabar.”(QS.Ash-Shaffat : 102)

“Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak

sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak

terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah

lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun

sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu

akan turut berduka. Tajamkanlah pedang dan goreskan segera

di leherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu

bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada ibu agar menjadi

kenangan baginya.”

Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Ibrahim lantas

menjawab “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah

Allah adalah engkau, wahai putraku tercinta!”

Cinta Ibrahim telah demikian kuat dan teruji, hingga akhirnya

Tuhan berfirman “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian

yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor

sembelihan yang besar.”(QS.Ash-Sfaffat : 106).

Maka demikianlah. Ketaatan yang disertai dengan kerelaan

dan keberserahan diri yang penuh adalah derajat tertinggi dari

keimanan. Ketika Ridho Tuhan didapat, maka terbukalah segala

pintu keberkahan dan rahmat. Ibrahim sudah ditakdirkan

untuk menjadi kekasih Tuhan, Khaliilullah. Sehingga, segala hal

di dunia yang dia cinta akan memantik cemburu-Nya. Ibrahim

selalu takut untuk mencintai sesuatu, sebab jika sudah begitu,

maka ia harus bersiap untuk mengorbankan apa yang dicintainya.

Lalu, bagaimana halnya dengan sang Putri Angin? Sudah lama ia

melupakan namanya. Sebab, yang ia tahu adalah bahwa dirinya

orang asing yang tidak memiliki keluarga dan juga tanah air.

Ia sebatang kara dan tak memiliki siapa. Ia adalah batu kecil

di tengah lautan, yang apabila ombak bertiup dengan kencang

dia terombang-ambing, terlempar kesana kemari tanpa pegangan.

Ia adalah kurban dari sebuah bukti cinta. Hingga saat sang

malaikat bersayap di padang tandus itu berucap “ Hajar! Tuhan

Maha Mendengar mu!”, ia tersentak dan tersadar.

Bahwa ia adalah Hajar.

Buletin dari Barat 28


Hajar adalah ilmu, pergerakan, rasa penasaran,

khayalan, cinta untuk melakukan perjalanan

yang akan membuat kaki-kaki kuda

pun bersimpuh lelah. Hajar adalah kecepatan,

angin, dan aksi. Dialah penghubung

antara al-Quds dan Mekkah. Hajar adalah

Shafa dan Marwa. Hajar adalah usaha dan

jerih-payah. Hajar adalah wanita yang menemukan

lautan di balik hamparan gurun

padang pasir. Hajar adalah Zamzam.

Referensi : Sibel Eraslan “sang Ratu ZamZam”, Hadist, Siroh Nabi

29

Buletin dari Barat


Buletin dari Barat 30


MOTO PELAYANAN

31

Buletin dari Barat


Paradoks Generasi

Sebuah Iklan Layanan Masyarakat yang dibuat oleh Tim Kreatif KPP Pratama Semarang Barat...

Karena tidak bisa diceritakan dan di edar tayangkan maka biarlah foto yang berbicara

Buletin dari Barat 32


Kita mengatakan Tidak Pada Korupsi

Tapi Kita Mewariskan Ketidak Jujuran

33

Buletin dari Barat


MEREKA YANG DIPERCAYA MENGEMBAN

AMANAH BARU DI TEMPAT BARU

KAROMA ALI WARDANA

EXTENSIFIKASI

AR KPP PRATAMA SEMARANG TIMUR

Ini adalah mutasi ke 7 dalam 10 tahun masa kerja saya, 2 tahun

saya berada di KPP Pratama Semarang Barat dibawah kepemimpinan

3 Orang Kepala Kantor yang kesemuanya Luar Biasa

Banyak hal yang saya pelajari , dan berbagai pengalaman yang saya

dapat yang sangat berkesan adalah ketika Kepala Seksi Eksten waktu

itu Pak Bawana di Sekap didalam Gudang Wajib Pajak karena

tidak membawa Surat Tugas yang ternyata saya pegang dan saya

berada di luar Gudang.. maafkan saya Pak...

Pesan kepada Adik -adik exten semangat, kalian lebih baik dari

saya

We Must Proud To Be Extener Coz We Are Powefull.......

M ALI FATHKAN

EXTENSIFIKASI

AR KPP PRATAMA KUDUS

Setelah belasan tahun berkeliling Jawa Tengah, akhirnya kembali

juga ke kota Kudus, mungkin rejeki si jabang bayi, adiknya Gandrung

dan Beben yang sebentar lagi muncul ke dunia ini

Yang berkesan di Semarang Barat adalah ketika berada di Seksi Pelayanan,

betul betul bekerja keras waktu itu..., sementara di Exten

juga berkesan karena kali ini saya bisa menikmati Pekerjaan dan

berada di posisi duduk strategis dekat dengan Soniya dan Utari,

bahgianya selama di Semarang Barat, Otak Kanan saya bekerja

sama kerasnya dengan Otak Kiri saya

Pesan saya cuma Satu : mohon CURPATUM di Romadhon Besok

Tetap dijalankan

Buletin dari Barat 34


NEIRA ANDRIANI KURNIASARI

PELAYANAN

AR KPP PRATAMA PEKALONGAN

Wanita menawan ini pernah mengharumkan nama KPP Semarang

Barat di perlombaan Kartini tingkat Kanwil, entah juara berapa

waktu itu namun bagi kami dia selalu juara satu.

Pada mutasi kali ini yang membuatnya sedih hanya karena harus

jau dari Suami dikala sedang mengandung anak kembar, namun

senang karena dapat pelajaran dan pengalaman baru

Selama satu tahun 5 bulan di Semarang Barat semua pegawainya

Kompak, dan kekeluargaan yang kental serta penuh semangat

Pesan buat semua tetap semangat menikmati pekerjaan selagi bisa

dan buat Umi kalo bisa tukeran yukkkk......

UMI NURUL JANNAH

UMUM / PDG

AR KPP PRATAMA JEPARA

Hiks.... Hikssss...

Hiks.. hiksss hikssss....hiksssssss

35

Buletin dari Barat


Jatuhnya..............

Jumat tanggal 2 September 2016 nampaknya akan berlalu seperti hari biasanya bagi para pegawai di KPP

Pratama Semarang Barat, masih ditengah riuh rendah geliat Amnesti Pajak Gelombang pertama, rutinitas

berjalan seperti biasa, Piket Amnesti bagi mereka yang namanya terpampang dalam lampiran Nota Dinas,

dan kegiatan Sosialisasi Amnesti Pajak yang di lakukuan oleh Seksi Extensifikasi berjalan dengan baik dihari

itu, sore pun berlalu dan aktivitas rutin menjelang akhir pekan berjalan normal bagi mereka yang tidak

kebagian piket di hari sabtu dan minggu.

Namun menjelang malam beradar kabar samar dari Pak Yani Kepala Seksi Extensifikasi yang menyanyakan

siapa yang stand by di Semarang karena kebetulan beliau sudah berada di Kudus dan membutuhkan

bantuan, kemudian kembali dengan penuh kode datang balasan dari beberapa teman yang menyatakan

bahwa beberapa sudah di TKP, Situasi Aman, Menunggu Keluarga datang, dan kode –kode lainnya, ternyata

lambat laun terungkap bahwa telah terjadi tragedi, sebuah musibah menimpa salah seorang rekan kerja

di KPP Pratama Semarang Barat, Soniya Nazaalal Luthfi mengalami kecelakaan sepeda motor di sore hari

saat dalam perjalanan pulang dari kantor menuju kos, untungnya kecelakaan ini terjadi di depan Rumah

Sakit Tentara sehingga bisa dengan mudah mendapatkan pertologan, walaupun pada akhirnya kabar duka

tentang patahnya tulang tangan kiri menyayat hati kami semua tapi lagi-lagi untungnya tidak ada hal yang

lebih parah yang terjadi. Entah karena terlalu lelah setelah berhari-hari melakukan Sosialisasi Amnesti Pajak

disana sini atau hal yang lainnya namun pada akhirnya tidak ada siapapun yang disalahkan. Karena tidak

ada sanak keluarga yang berada di Semarang pun kamilah Keluarga baginya, siap membantu menolong

apapun yang dibutuhkan, tim kecil dengan sigap berada di Rumah Sakit sesegera mungkin ketika kejadian

tersebut, well thats what a friends are for, to help you when needed.

Yang tersisa dari kejadian ini adalah pelajaran bagi kita semua, safety riding, pakailah Helm SNI seperti

Soniya ketika mengendarai motor jangan lupa di kaitkan pengamanya, begitu juga ketika mengendarai

mobil, seat belt is a must.., berkonsetrasi ketika berkendara, istirahat lah ketika lelah,... pun lebih lanjut

bersyukurlah karena kadang kita lupa bersyukur akan nikmatnya sehat yang diberikan,

Teruntuk Soniya doa kami semua keluarga besar KPP Pratama Semarang Barat untuk kesembuhan dirimu,

mungkin tidak akan kembali seperti semula, the wound will leave a mark maybe, ada banyak kata kata

penyemangat yang bertebaran bagi hambaNya yang tertimpa musibah sungguh and i even cant pick the

coolest one for you, but nevertheless tetap semangat ya....

Buletin dari Barat 36


Selamat bayi-bayi lucu

anggota keluarga baru

GILANG MAHARDIKA SAPUTRO

11 AGUSTUS 2016

DIANA RAHMAWATI

RASIYA FAUZIAH KAMILA

19 JUNI 2016

ENI RAKHMAWATI

NAUFAL ALTARA NAIZAR

15 SEPTEMBER 2016

PRIMA DEDY PERMANA

AIRLANGGA SATYA ADINATA

30 MEI 2016

WATINI

37

Buletin dari Barat


FIGUR

Anindyah Prastiti yang biasa dipanggil Anin dan di KPP Pratama Semarang Barat memiliki Code

Name Loket 3 ini lahir pada tanggal 1 April 1989 dan menghabiskan sebagian dari masa hidupnya di kota

Semarang , anak kedua dari tiga bersaudara ini ( oh ya adik lelaki nya Anin ini ternyata seorang anggota

Kopasus.. gak penting ya). Walupun sempat tenggelam dalam sepi ditengah hiruk pikuk dan keriuhan keluarga

besar KPP Pratama Semarang Barat, sampai akhirnya pada suatu waktu canda dan selera humornya

menyeruak ke ranah publik dan menimbulkan keramaian yang membuatnya menjadi seleb for a week.

Pegawai TPT Terbaik KPP Pratama Semarang Barat semester satu tahun 2016 (yakin lah kita bahwa

ini memang karena etos kerja dari Anin dan bukan karena hiburan yang dipersembahkannya

kepada kita semua lewat candanya waktu itu), anak kemarin sore di lingkungan KPP Pratama

Semarang Barat fresh dan segar, lulusan Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas

Diponegoro ditahun 2013 ini mengaku merasa dirinya “ Keren “ dapat bekerja dan mengabdikan

dirinya di Direktorat Jenderal Pajak walupun sebagai andalan Seksi Pelayanan di TPT dirinya

secara jujur mengatakan bahwa sering kali merasa lelah dan sulit menemukan ruang untuk

beristirahat dan berinteraksi dengan teman – teman dari seksi lainnya tapi pekerjaan di TPT memberikan

pembelajaran tentang dasar-dasar yang dibutuhkan untuk menjadi Pegawai DJP yang handal.

Walaupun terbalut dengan wajah catik dan sendu serta terbungkus dengan aroma Feminim ternyata Wanita

yang sedang dekat dengan sesorang namun belum menutup pintu hatinya terhadap calon yang lain ini

ternyata penggemar berat olah raga kaum lelaki, ya Sepak Bola.. beberapa kali ajakan menghabiskan malam

minggu ditolak hanya karena Tim Favoritnya Arsenal akan bertanding dan dia harus menyaksikannya

di layar kaca, Mesut Ozil dan Thiery Henri adalah pemain kesukaanya sepanjang masa,, sementara itu

untuk menemani harinya sering kali hentakan musik dan desahan merdu dari Grup Band Maroon Five

menyemangati hari-harinya, pun bukan berarti Anin adalah gadis tomboy, berbagai drama korea yang hapening

bisa membuat luluh hatinya di akhir pekan atau di tengah malamnya yang sepi terkadang juga nada

nada lucu dari Yoona SNSD yang sekilas memang mirip dengan Anin ini menghapus sendu di wajahnya.

Harapanya kedepan adalah terus bisa mengembangkan dirinya belajar dan belajar lebih lagi, menjadi Account

Representative atau Fungsional Pemeriksa adalah rencana jalan yang akan ditempuhnya, Kuliah Lagi

adalah target terdekatnya saat ini, selain menemukan Adam Levine nya sendiri untuk melengkapi hidupnya.

Semangat terus Anin... Come On Young Goonersssss...

Buletin dari Barat 38


By Gaban Sakti

Olesan:

2 sendok makan mentega

Cara membuat:

Campur tepung dengan yeast (Bahasa Keren dari Ragi) dan gula, tuangi telur, aduk

sampai merata.

Beri tambahan susu sedikit demi sedikit sambil aduk hingga terbentuk adonan yang

licin.

Diamkan sekitar 15 menit.

Olesi cetakan poffertjes dengan mentega. Taruh di atas api sedang hingga panas. Tuangi

adonan, taburi sedikit keju parut.

Setelah bagian sisinya mengering, tetapi bagian tengah masih basah. Beri tambahan

sedikit adonan lalu balikkan adonan hingga terbentuk bulatan seperti bola.

Masak hingga seluruhnya kecokelatan. Angkat, hidangkan hangat.

Untuk 30 buah

39

Buletin dari Barat


Galeri


EDISI BERIKUT

Gebyar Pertandingan Olah Raga

Menyambut Hari Keuangan

Juara Apa Saja yang berhasil di sabet

oleh KPP Pratama Semarang Barat..?

Bagai Mana Keseruannya...?

Ada 5 Orang Pegawai Baru

Kenalan Yuk.......

Amnesti Pajak Periode Kedua

Apa Kabar ya.. Sepi sepi aja sepertinya..

....... %..? semoga lebih dari 100

apa dan bagaimana strategi kita di

tahun depan..?demi optimalnya

penerimaan ..?

Buletin dari Barat 42


43

Buletin dari Barat


Buletin dari Barat 44

Similar magazines