BUKU STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI DAN PENGOLAHAN PASCA PANEN JAGUNG

ippunk

Program pembangunan sektor pertanian di Sulawesi Selatan, khususnya
jagung termasuk prioritas utama untuk dikembangkan yang ditargetkan produksi
dapat mencapai 1,5 juta ton pada tahun 2009. Namun, yang menjadi
permasalahan adalah umumnya petani kurang menggunakan benih unggul,
ketersediaan sarana dan prasarana penampungan hasil terutama pada sentra
produksi, dan belum optimalnya teknologi pengelolaan pasca panen

STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI DAN

PENGELOLAAN PASCA PANEN JAGUNG

DI SELAWESI SELATAN

Diterbitkan oleh:

Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah

( BALITBANGDA )

Provinsi Sulawesi Selatan

2010


STRATEGI PENINGKATAN PRODUKSI DAN PENGELOLAAN

PASCA PANEN JAGUNG DI SELAWESI SELATAN

Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2009 yang menguraikan tentang

usaha peningkatan produksi dan produktifitas komoditi jagung

di Sulawesi Selatan.

Tim Peneliti:

Ketua: Dr.Ir. Muhibuddin, M.Sc

Anggota; Dr. Ir. Aylee S. Alamsyahputra, MSc.,

Ir. Abri, MP, dan Ir. Abriana, MP.

Editor/penyelaras akhir: Ir. H. Muh. Haruna Saleh, MM.

Diterbitkan atas dukungan dan kerjasama:

Dinas Pertanian Tanaman Pangan Prov.Sulsel,

Dewan Riset Daerah Prov. Sulsel, Pemerintah Kabupaten Bone,

Pinrang, Bantaeng, Jeneponto dan Gowa.

Cetakan Pertama, Januari 2010

Hak Cipta@2010

Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah

Provinsi Sulawesi Selatan

Hak Cipta dilindungi undang-undang

Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini

tanpa izin tertulis dari penerbit

ISBN: 978-602-8400-21-3

ii


KATA PENGANTAR

Hasil produksi jagung merupakan salah satu komoditas unggulan yang banyak

dibutuhkan masyarakat di negeri ini baik sebagai subtitusi bahan makanan pokok

maupun sumber bahan pakan ternak. Jagung sebagai tanaman rakyat di daerah ini

juga telah memberi sumbangan dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat

pedesaan yang kini diupayakan pencapaian produksinya hingga 1,5 juta ton oleh

Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan. Perwujudan pelaksanaan kegiatan program

tersebut oleh instansi teknis terkait maka diperlukan adanya data dan informasi yang

akurat agar program tersebut dapat mencapai sasaran dan tujuan secara tepat dan

cepat.

Mendukung program tersebut maka dalam tahun anggaran 2009 telah

dilaksanakan kegiatan penelitian yang berjudul “Strategi peningkatan produksi dan

pengelolaan pasca panen di Sulawesi Selatan)”, oleh Badan Penelitian dan

Pengembangan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan melalui kerjasama lembaga

penelitian Universitas “45” Makassar.

Berbagai permasalahan yang harus diungkap sehubungan peningkatan

produksi jagung yang berkesinambungan di daerah ini, semoga hasil laporan

kegiatan penelitian ini dapat memberi informasi seperti yang yang diharapkan oleh

semua stakeholders. Meskipun demikian masih ditemui adanya beberapa

kekurangan dalam isi laporan ini, untuk itu saran dan kritik dari semua pihak

merupakan bahan yang juga sangat diharapkan agar kegiatan penelitian selanjutnya

dapat lebih disempurnakan.

Sebagaimana harapan kami pada pelaksanaan penelitian tersebut, semoga

hasil kesimpulan yang diperoleh dan rekomendasi kebijakan yang diusulkan kepada

Bapak Gubernur Sulawesi Selatan mendapat respon positif dan bermanfaat bagi

masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan.

Makassar , Nopember 2009

Kepala Badan,

Ir. H. Muhammad Idrus Hafid

Pangkat: Pembina Tk.I

NIP: 19540917 198203 1 005

iii


iv

ABSTRAK

Program pembangunan sektor pertanian di Sulawesi Selatan, khususnya

jagung termasuk prioritas utama untuk dikembangkan yang ditargetkan produksi

dapat mencapai 1,5 juta ton pada tahun 2009. Namun, yang menjadi

permasalahan adalah umumnya petani kurang menggunakan benih unggul,

ketersediaan sarana dan prasarana penampungan hasil terutama pada sentra

produksi, dan belum optimalnya teknologi pengelolaan pasca panen

Tujuan penelitian ini adalah : a) Menganalisis hambatan produksi jagung

dengan menjaga kesinambungan dalam penggunaan benih unggul di kalangan

petani, b) Mengidentifikasi ketersediaan sarana dan prasarana penampungan hasil

jagung pada daerah sentra produksi dan c) Menetapkan strategi dalam upaya

meningkatkan produksi dan mengoptimalkan teknologi pengelolaan pasca panen

jagung di tingkat petani.

Penelitian ini dilaksanakan dari Juni sampai November 2009 pada 5 (lima)

kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Pinrang, Bantaeng, Jeneponto,

Bone, dan Gowa. Sampel diambil secara acak (Random Sampling) dari rumah

tangga petani jagung, pedagang jagung dan pedagang sarana dan prasarana

produksi jagung sebanyak 200 sampel. Model Analisis yang digunakan adalah

analisis Structural Equation Modelling (SEM) dengan perangkat lunak Excel 2007,

SPSS 11, LISREL versi 88 dan analisis SWOT.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa a) Faktor-faktor yang menyebabkan

petani kurang menggunakan benih unggul sehingga menghambat peningkatan

produksi jagung di Sulawesi Selatan adalah harga benih unggul hibrida yang relatif

mahal dan tidak terjangkau serta sering tidak tersedia dalam volume dan waktu

yang tepat di pasaran pada saat dibutuhkan petani, b) Ketersediaan sarana dan

prasarana penampungan hasil jagung pada daerah sentra produksi jagung di

Sulawesi Selatan terutama di tingkat petani kurang tersedia dan tidak memadai

karena masih dilakukan secara tradisionil, dengan kapasitas penyimpanan yang

terbatas dengan teknik yang sederhana, baik dari sisi penjagaan, mutu, maupun

keamanan, dan c) Strategi yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi dan

mengoptimalkan teknologi pengelolaan pasca panen jagung di tingkat petani di

Sulawesi Selatan adalah peningkatan dan perbaikan manajemen produksi,

terutama ketersediaan benih unggul hibrida dan faktor penunjang penampungan

hasil jagung terutama saat panen raya.

Kata kunci : strategi, peningkatan produksi, pasca panen


v

ABSTRACT

Agricultural sector development program in South Sulawesi, especially

maize, including the main priorities for development of production targeted to

reach 1.5 million tons in 2009. However, the problem is generally less farmers

using superior seeds, availability of shelter facilities and infrastructure especially

in centers of production, and non optimal management of post-harvest

technology.

The purpose of this study are: a) Analyzing the maize production constraints

in maintaining continuity in the use of superior seeds among farmers, b) Identify

the availability of shelter facilities and infrastructure in areas of corn production

centers, and c) Establish a strategy in an effort to increase production and

management technology to optimize the post-corn harvest at farmers' level.

The study was conducted from June to November 2009 at 5 (five) districts in

South Sulawesi, namely Pinrang, Bantaeng, Jeneponto, Bone and Gowa.

Samples taken at random (Random Sampling) of the corn farmer households,

corn merchants and traders of infrastructure facilities and corn production of 200

samples. Analysis model used is the analysis of Structural Equation Modeling

(SEM) with the software Excel 2007, SPSS 11, LISREL 88 version and SWOT

analysis.

The results showed that a) The factors that cause farmers to use seeds

less superior that inhibit the increase in maize production in South Sulawesi is

superior hybrid seed price is relatively expensive and not affordable and often

are available in the volume and timing in the market when farmers needed,

b) The availability of shelter facilities and infrastructure of central regions of

maize in maize production in South Sulawesi, especially at the level of farmers is

less available and not adequate because it is still done in traditional, with limited

storage capacity with a simple technique, both in the security, quality and safety,

and c) Strategies that must be done to improve production and optimize the

post-harvest management technologies in the level of maize farmers in South

Sulawesi is increased and improved production management, especially the

availability of superior hybrid seeds and the factors supporting the shelter,

especially when the results of the corn harvest.

Keywords: strategy, increasing production, post-harvest


vi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL……………………………………………………...

KATA PENGANTAR…………………………………………...............

ABSTRAK .......................................................................................

ABSTRACT ....................................................................................

DAFTAR ISI………………………………………………………….......

DAFTAR TABEL………………………………………………………...

DAFTAR GAMBAR……………………………………………………..

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................

BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………….. 1

A. Latar Belakang…………………………………………………. 1

B. Perumusan Masalah…………………………………………… 6

C. Tujuan Penelitian……………………………………………….. 6

D. Manfaat Hasil Penelitian……………………………………….. 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………….. 8

A. Landasan Teoritis................................................................... 8

1. Agroekologi Jagung .......................................................... 8

2. Manajemen Produksi Jagung ........................................... 9

3. Kelembagaan Perbenihan dan Peranan Benih dalam

Peningkatan Produksi Jagung ......................................... 10

4. Pengelolaan Pasca Panen Jagung ................................. 12

5. Prospek Bisnis Komoditas Jagung ................................. 19

6. Prospek Pengembangan Agroindustri Jagung ................. 21

7. Kebutuhan Investasi Agroindustri Jagung ......................... 21

8. Alsintan Jagung ................................................................ 22

9. Aspek Kelembagaan sebagai Faktor Pendukung

Manajemen Produksi dan Pengelolaan Pasca Panen ...... 23

B. Kerangka Pemikiran.............................................................. 26

C. Definisi Operasional dan Konseptual Variablel...................... 28

D. Hipotesis................................................................................ 29

i

ii

iv

v

vi

viii

ix

x


vii

BAB III. METODE PENELITIAN....................................................... 30

A. Lokasi dan Waktu................................................................... 30

B. Populasi dan Sampel.............................................................. 30

C. Indikator / Parameter Penelitian ............................................ 31

D. Pendekatan / Model Analisis................................................... 32

1. SEM .................................................................................... 32

2. SWOT ................................................................................. 35

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................... 39

A. Deskripsi Provinsi Sulawesi Selatan …………………………. 39

B. Keragaan Jagung Lokasi Penelitian dan Sasaran Produksi

Sulawesi Selatan Tahun 2009 ................................................. 44

C. Karakteristik Responden Petani Jagung ……………………. 46

D. Hasil Uji Kecocokan Model …………………………………….. 52

1. Uji Kecocokan Seluruh Model ........................................... 52

2. Uji Validitas ........................................................................ 53

E. Analisis Pemecahan Masalah ………………………………… 58

F. Strategi untuk Pengembangan Faktor-Faktor yang

Mempengaruhi Peningkatan Produksi dan Pengelolaan

PascaPanen Jagung di Sulawesi Selatan …………………... 60

BAB V. KESIMPULAN, SARAN, REKOMENDASI, DAN IMPLIKASI

KEBIJAKAN .............................................................................. 68

A. Kesimpulan ............................................................................... 68

B. Saran .............................................................................................. 68

C. Rekomendasi Kebijakan ................................................................ 69

D. Implikasi Kebijakan ......................................................................... 69

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 71

LAMPIRAN ……………………………………………………………. ………. 73


viii

Tabel

DAFTAR TABEL

T e k s

Halaman

1. Luas areal panen, luas panen, produktifitas, produksi jagung.

Sul-sel Tahun 2003 -2007………………………………………………. 3

2. Peluang pengembangan jagung di sul-sel…………………………….. 4

3. Kelayakan usaha tani jagung hibrida perhektar………………………. 20

4. Kebutuhan mekanisasi pertanian untuk mendukung

budidaya jagung................................................................................. 23

5. Jumlah responden untuk setiap Desa/Kelurahan ............................. 30

6. Variabel, Indikator dan Parameter Penelitian..................................... 32

7. Tahapan-tahapan dalam Analisis Model Struktural ........................... 33

8. Good of Fit Index untuk evaluasi model ........................................... 35

9. Produksi Tanaman Pangan dan Hrtikultura Sulawesi Selatan .......... 38

10. Luas, Persentase Luas Kecamatan, Luas Panen dan Produksi

Jagung Kabupaten PinrangTahun 2008............................................ 39

11. Luas, Persentase Luas Kecamatan, Luas Panen dan Produksi

Jagung Kabupaten BantaengTahun 2008 ........................................ 40

12. Luas, Persentase Luas Kecamatan, Luas Panen dan Produksi

JagungKabupatenJenepontoTahun2008.......................................... 41

13. Luas, Persentase Luas Kecamatan, Luas Panen dan Produksi

Jagung Bone Tahun 2008 ............................................................... 42

14. Luas, Persentase Luas Kecamatan, Luas Panen dan Produksi

Jagung Bone Tahun 2008 ............................................................... 43

15. Produksi Jagung Kabupaten Pinrang, Bantaeng, Jeneponto,

Bone, dan Gowa Tahun 2004 – 2008 ............................................. 44

16. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Umur ..................... 47

17. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ........... 48

18. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Produktif.... 48

19. Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Usahatani

Jagung ............................................................................................ 49

20. Karakteristik Responden Berdasarkan Skala Usaha......................... 50


ix

21. Karakteristik Responden Berdasarkan Produksi yang Dihasilkan..... 50

22. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan per Tahun......... 50

23. Uji GOF (Gooddness Of FIT ) …………………………………………. 52

24. Uji Validitas Variabel Ketersediaan Benih Unggul (X1)

terhadap Variabel Endogen Manajemen Produksi (MP)................... 53

25. Uji Validitas Variabel Penampungan Hasil (X2) terhadap Variabel

Endogen Faktor Penunjang (FP) ...................................................... 54

26. Uji Validitas Variabel Teramati (Y) terhadap variabel Eksogen

Peningkatan Produksi (PP) .............................................................. 54

27. Uji Validitas Variabel Teramati (Y) terhadap Variabel Eksogen

Pengolahan Pasca Panen (PPn) ..................................................... 55

28. Hasil Analisis Uji Variabel Laten Faktor Penunjang (FP), Manajemn

Produksi (MP), Peningkatan Produksi (PP) dan Pengolahan

Pascapanen (PPn).......................................................................... 56

29. Analisis SWOT Aspek Manajemen Produksi/Ketersediaan

Benih Unggul ................................................................................... 61

30. Analisis SWOT Aspek Penunjang/Sarana dan Prasarana

Penampungan Hasil ........................................................................ 62

31. Analisis SWOT Aspek Pengelolaan Pasca Panen ......................... 64


ix

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR

T e k s

HALAMAN

1. Pohon Industri Jagung …………………………………………….......... 18

2. Peta Jalan (Road map) Program Pengembangan Industri Jagung ... 20

3. Kerangka Pemikiran ……………………………………….................. 27

. 4. Model Struktur Hubungan Antar Variabel ………………................... 34

5. Keragaan Produksi Jagung Kabupaten Pinrang, Bantaeng,

Jeneponto, Bone, dan Gowa Tahun 2004 – 2009 ………………........ 44

6. Bagan Sasaran Produksi Jagung Sulawesi Selatan Tahun 2009 .... 46

7. Diagram Path analisis SEM .............................................................. 56


BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jagung merupakan salah satu komoditas utama tanaman pangan yang

prospektif untuk dikembangkan dan dimasyarakatkan, karena perannya sangat

srategis dalam pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia, mengingat

komoditas ini sebagai kontributor terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto

(PDB) setelah padi dalam sub-sektor tanaman pangan. Disamping itu, jagung

mempunyai fungsi multiguna, baik untuk konsumsi langsung maupun sebagai

bahan baku utama industri pakan serta industri pangan, memiliki keunggulankeunggulan

dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya, karena termasuk

golongan padi-padian sumber energi dan sebagai makanan pengganti dengan nilai

gizi yang tinggi dibandingkan komoditas lainnya.

Program agropolitan berbasis jagung sebagai unggulan merupakan solusi

terbaik bagi pengembangan jagung yang berskala ekonomi, berkualitas,

berkelanjutan. Mengingat akan terbentuknya kesatuan wilayah sentra produksi,

berjalannya seluruh sistem agribisnis, tumbuh dan berkembangnya agroindustri

(hulu dan hilir), terpenuhinya kebutuhan konsumsi serta meningkatnya

kesejahteraan petani dan keluarga sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli

Daerah (PAD).

Upaya pengembangan jagung perlu diikuti dengan upaya peningkatan

citra jagung, partisipasi industri hulu maupun hilir, dan promosi secara

berkelanjutan. Dengan demikian, diharapkan jagung sebagai pangan pokok

alternatif dapat bersaing dengan pangan impor, sehingga pengembangan jagung

perlu didukung oleh kemampuan petani dalam menerapkan teknologi dan efisiensi

penggunaan faktor produksi yang mencakup penyediaan benih unggul, budidaya

tanaman yang sederhana dan praktis, serta pengelolaan pasca panen yang

berorientasi pasar.

Prospek pasar jagung, baik di pasar domestik maupun pasar dunia sangat

cerah. Pasar jagung domestik masih terbuka lebar, mengingat sampai saat ini

produksi jagung Indonesia belum mampu secara baik memenuhi kebutuhan, yaitu


aru sekitar 90% (BPS, 2008). Meningkatnya permintaan jagung dunia terutama

dari negara-negara Asia akibat pesatnya perkembangan industri peternakan

di negara tersebut dan relatif turunnya pasar jagung dunia (13% dari total produksi

jagung dunia) menunjukkan bahwa pasar jagung dunia sangat terbuka lebar bagi

para eksportir baru (BPPP, 2007).

Sekalipun semua biaya diperhitungkan, ternyata usahatani jagung

terutama yang menggunakan varietas hibrida tetap memberikan keuntungan yang

cukup menarik bagi petani (Rp. 884 ribu – 2,1 juta per ha pada tingkat B/C berkisar

1,24-1,50). Selain menguntungkan, produksi jagung di Indonesia juga mampu

bersaing dengan jagung impor, ditunjukkan oleh nilai DRCR (Domestic Resource

Cost Ratio)


Tabel 1. Luas Areal Panen, Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Jagung

Tahun 2004-2008

Tahun Luas Area Luas area Produktivitas Produksi

Tanam (ha) Panen (ha) (ku/ha) (ton)

2004 216.445 192.462 34,36 661.265

2005 221.500 206.569 34,18 705.990

2006 215.831 206.387 33,73 696.085

2007 290.291 262.436 36,96 969.955

2008 323.436 284.964 41,94 1.196.064

Sumber: BPS 2008; dan sumber-sumber lain.

Tabel 1 menunjukkan masih rendahnya produktivitas jagung di Sulawesi

Selatan selama lima tahun terakhir, di bawah potensi produksi yang dapat

mencapai 8-10 ton/ha (BPPP, 2007). Hal ini disebabkan antara lain karena

penggunaan benih unggul yang masih rendah dikalangan petani, dimana peranan

benih sebagai salah satu komponen produksi sangat penting dalam kapasitas

sebagai penentu produktivitas, sehingga perlu diupayakan dapat memenuhi lima

tepat, yaitu tepat waktu, jenis, mutu, jumlah dan tersedia dilokasi dengan harga

yang terjangkau oleh petani. Selain itu, yang menjadi permasalahan selama ini

adalah terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana penampungan hasil pada

sentra produksi dan belum optimalnya pemanfaatan teknologi pengolahan pasca

panen di tingkat petani.

Komoditas jagung termasuk salah satu prioritas utama untuk

dikembangkan dalam program pembangunan sektor pertanian Propinsi Sulawesi

Selatan yang tercantum dalam Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah,

dengan target pencapaian produksi 1,5 juta ton pipilan kering pada tahun 2009.

Namun permasalahan lain yang dihadapi petani selain yang kemukakan di atas

adalah rendahnya produktivitas, meningkatkan alih fungsi lahan, adanya gangguan

OPT, fenomena iklim, rendahnya kualitas hasil, belum adanya kontinuitas hasil,

lemahnya kelembagaan pertanian, kurangnya akses permodalan, dan tidak

stabilnya harga (DTPSS, 2007).

Pengembangan komoditas jagung di Sulawesi Selatan tidak semata-mata

untuk mendukung diversifikasi pangan nasional dan penyangga pangan di KTI,


tetapi diarahkan sebagai komoditas industri. Dengan menjadikan jagung sebagai

komoditas industri, maka secara tidak langsung akan terjadi proses pembelajaran

kepada petani (learning process) untuk mengikuti aturan main di dunia industri

sehingga akan terjadi perubahan mindset dari peasant ke farmer.

Di Sulawesi Selatan, daerah yang memiliki potensi terbesar dalam

pengembangan jagung di Sulawesi Selatan di tunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Peluang Pengembangan Jagung di Sulawesi Selatan

Potensi Areal Peluang

No Kabupaten

Tanam (ha) Tanam (ha) Pengembangan (ha)

1 Gowa 40.000 27.441 12.559

2 Takalar 6.500 6.217 283

3 Jeneponto 43.500 41.632 1.868

4 Bantaeng 40.000 30.607 9.393

5 Bulukumba 45.000 33.667 11.333

6 Selayar 40.000 3.536 36.464

7 Sinjai 20.000 12.518 7.482

8 Bone 112.500 41.412 71.088

Jumlah 347.500 197.030 150.470

9 Kab. Lain 80.000 32.523 47.477

Total 427.500 229.553 197.947

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangaan dan Hortikultura Sul-Sel 2008 dan

sumber-sumber lain.

Berdasarkan data pada Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa Sulawesi

Selatan sebagai salah satu sentra pengembangan jagung di Kawasan Timur

Indonesia mempunyai potensi ± 427.500 ha, telah dimanfaatkan 229.553 ha

(53,7%) sehingga masih ada peluang 197.947 ha (46,3%) untuk peningkatan

produksi. Dalam rangka pencapaian sasaran produksi 1,5 juta ton pada tahun

2013 diperlukan dukungan berbagai kegiatan seperti : penggunaan benih jagung

varietas hibrida, ketersediaan sarana dan prasarana, terutama penampungan hasil

jagung pada sentra produksi; pemanfaatan teknologi pengolahan pasca panen,

pengadaan dan perbaikan mekanisme subsidi pupuk, penggunaan Alsintan,


perbaikan infrastuktur usahatani, pengendalian OPT, penguatan kelembagaan

perbenihan, penyuluhan, pendampingan, mekanisasi kegiatan produksi, dan

pengaktifan kelompok tani.

Selama ini telah dilakukan usaha peningkatan produktivitas dan produksi

jagung dan telah memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan, tetapi

peningkatan produktivitas dan produksi belum menunjukkan keberhasilan

seutuhnya, terutama dalam peningkatan kualitas hidup petani. Peningkatan

produktivitas belum menjamin terjadinya peningkatan kesejahteraan petani,

selama petani hanya mampu menjual hasil panennya dalam bentuk bahan mentah.

Pemasaran hasil dalam bentuk bahan mentah, memiliki beberapa kelemahan

diantaranya : nilai tambahnya rendah, mudah rusak, daya simpan terbatas, dan

konsistensi mutu sulit dijamin. Lemahnya daya saing komoditas Indonesia selama

ini karena hanya mengandalkan keunggulan komparatif dengan kelimpahan

sumberdaya alam dan tenaga kerja tak terdidik (factor–driven), sehingga produk

yang dihasilkan didominasi oleh produk primer atau bersifat natural recourcesbased

dan unskilled-labor intensive.

Kegiatan pascapanen merupakan bagian integral dari pengembangan

agribisnis jagung, yang dimulai dari aspek produksi bahan mentah sampai

pemasaran produk akhir. Peran kegiatan pascapanen sangat penting, karena

merupakan salah satu sub-sistem agribisnis yang mempunyai peluang besar

dalam upaya meningkatkan nilai tambah produk agribisnis. Dibandingkan dengan

produk segar, produk olahan mampu memberikan nilai tambah yang sangat besar.

Selama ini penanganan hasil panen, masih lemah dengan tingginya tingkat

kehilangan hasil panen jagung.

Kebijaksanaan penanganan pasca panen diarahkan pada upaya

mengurangi kehilangan hasil, baik kualitas maupun kuantitas, memperbaiki

penyimpanan produk, dan pengolahan hasil terutama untuk meningkatkan nilai

tambah produk dan meningkatkan kesempatan berusaha. Berbagai studi

menyebutkan bahwa susut pasca panen jagung di Sulawesi Selatan berkisar

antara 15-23% (Fransiscus, 2003; Gurnar, 2003). Indikasi ini menunjukkan

penangananan pasca panen belum dilaksanakan secara intensif. Dengan


demikian, apabila pasca panen dapat ditangani lebih intensif maka kita dapat

meningkatkan persediaan jagung dengan jalan menekan kehilangaan tersebut

sehingga potensi produksi jagung yang dapat diamankan melalui pasca panen

akan semakin besar.

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka perlu

dilakukan penelitian dan pengkajian tentang “Strategi Peningkatan Produksi dan

Pengelolaan Pasca Panen Jagung di Sulawesi Selatan”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang,

dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

a. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan petani kurang menggunakan benih

unggul sehingga menghambat peningkatan produksi jagung?

b. Bagaimana ketersedian sarana dan prasarana penampungan hasil jagung

pada daerah sentra produksi jagung?

c. Strategi apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi dan

mengoptimalkan teknologi pengelolaan pasca panen di tingkat petani ?

C. Tujuan

Berdasarkan uraian pada latar belakang dan rumusan masalah, maka

tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini:

a. Menganalisis hambatan produksi jagung dengan menjaga kesinambungan

dalam pengggunaan benih unggul di kalangan petani;

b. Mengidentifikasi ketersediaan sarana dan prasarana penampungan hasil

jagung pada daerah sentra produksi;

c. Menetapkan strategi dalam upaya meningkatkan produksi dan mengoptimalkan

teknologi pengelolaan pasca panen jagung di tingkat petani.


D. Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini antara lain sebagai

berikut:

a. Menambah wawasan dan pengetahuan petani tentang teknik budidaya dan

peningkatan pengelolaan pasca panen untuk menunjang peningkatan

pendapatan petani jagung.

b. Menunjang program instansi teknis terkait mengenai tehnik budidaya dan

model inovasi dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas tanaman

jagung di Sulawesi Selatan.

c. Menunjang peningkatan pendapatan daerah (APBD) dengan adanya

peningkatan produktifitas tanaman dan kualitas produk jagung, sesuai standar

mutu yang telah ditentukan.


A. Landasan Teori

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Agroekologi Jagung

Jagung (Zea mays, L.) termasuk dalam famili rumput-rimputan dan

menurut jenisnya dapat dibagi dalam 4 golongan, yaitu : a) Dent corn (jagung gigi

kuda – Zea mays identata), b) Flint corn Jagung mutiara – Zea mays indurata),

c) Sweet corn (Zea mays saccharata) (Badia dan Bangun, 2005)

Jagung di Indonesia umumnya ditanam di dataran rendah, baik ditegalan,

sawah tadah hujan maupun sawah irigasi. Sebagian juga dibudidayakan di dataran

tinggi (1000-1800 m) di atas permukaan laut. Tanah yang sesuai adalah gembur

dan subur, sebab tanaman jagung memerlukan aerasi dan drainase yang baik.

Tanah lempung berdebu paling sesuai bagi pertumbuhan jagung. Kemasaman

tanah yang terbaik untuk jagung sekitar 5,5 – 7,0. Tanah kemiringan 8% masih

dapat ditanami jagung dengan arah barisan tegak lurus terhadap miringnya tanah

untuk mencegah erosi yang terjadi pada saat turun hujan lebat (Badia dan Bangun,

2005). Faktor iklim paling penting dalam budidaya jagung adalah jumlah dan

distribusi dari cahaya matahari dan curah hujan, temperatur, kelembaban dan

angin. Temperatur optimum untuk pertumbuhan jagung adalah antara 23 0 – 27 0 C,

tetapi pada umumnya temperatur jarang menjadi faktor pembatas. Namun curah

hujan dan kelembaban sering menjadi pembatas (Anonim, 1999).

Waktu tanam yang baik pada di tegalan sebaiknya ditanam pada awal

musim hujan, pengolahan tanah sebaiknya dilakukan jauh sebelum tanam,

sehingga tanah dalam keadaan siap tanam pada waktu hujan sudah mulai turun.

Terlambatnya penanaman jagung menyebabkan tanaman terserang penyakit bulai

(Downy mildew) dan dapat menyebabkan kegagalan total. Penanaman jagung di

tegalan dapat pula dilkukan pada musim marengan/saat musim hujan akan

berakhir (Februari – April) (Anonim, 1999). Di tanah sawah biasanya jagung

ditanam dala tiga musim yaitu sebelum musim penghujan ditanam, pada musim

marengan setelah padi musim penghujan dipanen dan juga pada musim kemarau

(Anonim, 1999).


Pada waktu pengolahan, keadaan tanah hendaknya tidak terlampau basah

tetapi harus cukup lembab sehingga mudah dikerjakan dan tidak lengket, sampai

tanah menjadi gembur. Pada tanah-tanah berpasir tidak diperlukan pengolahan

tanah yang intensif. Pada tanah-tanah berat dengan kelebihan air diperlukan

saluran pembuangan untuk menghindarkan terjadinya genangan air (Ikomang,

2004).

Jarak tanam jagung tergantung varietas, bagi varietas yang berumur

dalam (± 110 hari), ditanam dengan jarak tanam 100 x 40 cm (± 50.000

tanaman/ha). Varietas yang berumur tengahan (80-90 hari), ditanam dengan jarak

tanam 75 x 20 cm (± 70.000 tanaman/ha), dan varietas yang berumur genjah

(70-80 hari), ditanam dengan jarak tanam 50 x 20 cm (200.000 tanaman/ha).

Tanaman jagung tidak akan memberikan hasil maksimal jika unsur hara yang

diperlukan tidak cukup tersedia. Pemupukan dapat meningkatkan hasil panen

secara kuntitatif maupun kualitatif. Pemupukan nitrogen merupakan kunci utama

dalam usaha meningkatkan produksi. Pemupukan fosfat dan kalium bersamasama

dengan nitrogen akan memberikan hasil yang lebih baik (Badia dan Bangun,

2005)

2. Manajemen Produksi Jagung

Manajemen produksi tanaman jagung pada hakekatnya selalu berusaha

mengembangkan sistem kegiatan dan sistem produksi yang sistematis, efektif,

efisien, dan serasi, untuk mencapai hasil secara ideal atau optimal dimana telah

menyatu di dalamnya juga sistem pemantauan dan evaluasi, sehingga melalui

sistem tersebut perbaikan sistem pengelolaan yang baik merupakan tuntutan

(Sutidjo, 2006). Maka sistem produksi tanaman jagung secara optimal yang

berkesinambungan, dipengaruhi oleh faktor-faktor kegiatan atau bagian kegiatan

(sub-sistem) yang saling berpengaruh.

Sistem budidaya tanaman atau sistem kegiatan produksi tanaman jagung

adalah pemanfaatan lahan, iklim, varietas, alat-alat, modal, tenaga kerja,

kemampuan pengelolaan dari petani pemasaran dan sebagainya yang saling

berpengaruh. Jadi, tujuan utama produksi tanaman jagung adalah produksi


maksimum yang berkesinambungan yang dipengaruhi aspek produksi yang dapat

dirumuskan :

Y = f (E, G, C),

dimana :

E = lingkungan : tanah, iklim, pengelolaan, dan sebagainya

G = Genotife : Jenis tanaman/varietas

C = Teknik budidaya, alat=alat dan sebagainya.

Secara detail rumus tersebut dapat dilanjutkan menjadi :

Y = f (T, I, V, K, P, A, dll)

dimana :

T = Tanah/lahan, I = Iklim, V = Varietas, K = Kultur reknik, P = Pengelolaan,

A = alat-alat. Jadi produkssi tanaman jagung adalah kegiatan (sistem) budidaya

tanaman jagung yang melibatkan faktor-faktor produksi (sus-sistem) T, I, V, K, P, A

dan sebagainya untuk memperoleh hasil maksimum secara berkesinambungan

3. Kelembagaan Perbenihan dan Peranan Benih dalam Peningkatan Produksi

Jagung

Salah satu faktor penting dalam peningkatan produksi jagung adalah

ketersediaan benih, baik kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini menyangkut antara

lain kejelasan sumber benih, pengadaan, sertifikasi, dan distribusinya.

Kebijaksanaan pembenihan sebelumnya adalah memanfaatkan dan memperkuat

sistem pembenihan yang telah ada dengan semakin meningkatnya partisipasi

swasta disertai peningkatan bimbingan, pembinaan dan pengawasan mutu yang

intensif oleh pemerintah.

Dalam rangka peningkatan kemampuan kelembagaan perbenihan jagung

(DEPTAN, 2007), maka perlu : a) dilaksanakan secara terkoordinasi antara dinas

Pertanian Tanaman Pangan tingkat Propinsi (Subdin Produksi) dengan Balai Benih

Palawija, b) Petugas perbenihan melaksanakan penangkaran Benih pokok

Palawija (BD-BP) di lahan Balai Benih, namun apabila tidak memungkinkan

pelaksanaannya dapat juga dilahan BBU atau lahan penangkar terpilih dengan


imbingan dan tanggung jawab dari BBI, c) Benih Sumber (BS/BD) yang

digunakan disesuaikan dengan kebutuhan benih di daerah/lokasi, d) Pengadaan

benih direncanakan secara cermat sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan

semaksimal mungkin dan tepat waktu oleh penangkar terplilih di wilayah setempat,

dengan demikian maka kebutuhan akan Benih sumber (BP) maupun BR)

di masing-masing daerah manjadi tanggungjawab sepenuhnya daerah, e) Metode

penangkaran benih jagung sesuai dengan anjuran perbanyakan produksi Benih

Pokok (BD ke BP) di masing-masing daerah, f) Benih pokok (BP) yang dihasilkan

sebagian disalurkan kepada penangkar terpilih dalam rangka memperkuat

kelembagaan perbenihan guna diperbanyak menjadi Benih Sebar (BR), dan

g) Produksi benih pokok yang tidak memenuhi standar mutu benih harus

dilaporkan sebab-sebabnya.

Lembaga-lembaga pembenihan sangat besar peranannya dalam

mengembangkan tanaman pangan disamping unsur-unsur agronomi lainnya

(Pengelolaan tanah, perbaikan tata air, pemupukan, pengawetan tanah, pola

tanam). Walaupun unsur-unsur agronomi tersebut telah diusahakan dengan

teknologi yang semestinya, tetapi jika benihnya tidak baik, maka produksi yang

diharapkan sangat sulit dicapai, bahkan tidak jarang menggagalkan hasil tanaman

tersebut. Kuantitas dan kualitas produk yang selalu diidam-idamkan para petani

jagung, hanya dapat dicapai apabila benihnya merupakan benih unggul atau benih

yang memperoleh seritifikat.

Benih yang memenuhi tandar mutu ditandai dengan Label Benih

Bersertifikat yang dikeluarkan oleh Sub Direktorat Pembinaan Mutu Benih Balai

Pengawasan Mutu Benih Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). Bagi

benih bersertifikat ditetapkan kelas-kelas benih sesuai dengan urutan keturunan

dan mutunya, antara lain penetepannya sebagai berikut (Kamil 1979; Sadjad,

1993) :

a. Benih Penjenis (BS) adalah benih yang diproduksi oleh dan di bawah

pengawasan Pemulia Tanaman yang besangkutan atau instansinya, dan harus

merupakan sumber untuk perbanyakan benih dasar.


. Benih Dasar (BD) adalah turunan pertama dari Benih Penjenis (BS) atau Benih

Dasar yang diproduksi di bawah bimbingan yang intensif dan pengawasan

yang ketat, sehingga kemurnian varietas yang berkualiats tinggi dapat

terpelihara.

c. Benih Pokok (BP) adalah turunan dari Benih Penjenis atau Benih Dasar yang

diproduksi dan dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas maupun tingkat

kemurnian varietas memenuhi standar mutu yang ditetapkan dan telah

disertifikasi.

d. Benih Sebar adalah turunan dari Benih Penjenis, Benih Dasar atau Benih

Pokok yang diproduksi dan dipelihara sehingga identitas dan tingkat

kemurnian varietas dapat mmenuhi standar mutu benih yang ditetapkan dan

telah disertifikasi.

4. Pengelolaan Pasca Panen Jagung

Pascapanen jagung meliputi semua proses kegiatan pengeringan jagung

(tongkol, dan pipil), pemipilan, pembersihan, sortasi/pengkelasan mutu

pengeringan biji dan pengolahan hasil.

a. Pengeringan

Tujuan pengeringan adalah untuk menurunkan kadar air agar

memudahkan pemipilan dan meningkatkan daya simpan. Pengeringan dibedakan

dua macam yaitu, pengeringan jagung tongkol dan jagung pipil. Pengeringan

bentuk tongkol berkelobot maupun kelobot dapat dilakukan dengan cara

menghampar atau menggantungnya. Pengeringan cara hamparan jagung kelobot,

tongkol tanpa kelobot dan pipilan masing-masing membutuhkan waktu 91, 87,

57 jam untuk menurunkan kadar air dari 38% menjadi 12%. Pengeringan jagung

berkelobot dapat mengurangi keretakan (Anonim, 1999). Dari ketiga bentuk

pengeringan tersebut, keretakan terkecil terjadi pada pengeringan berkelobot.

Pengeringan jagung dapat dilakukan dengan sinar matahari dan pengering buatan.

Pengeringan jagung pipil untuk menurunkan kadar air sampai 17%.

Pengeringan jagung pipil sebaiknya dilakukan pada ketebalan paling tinggi 3 cm,


dibalik dengan garpu kayu setiap setengah jam dan diletakkan di atas alas plastik.

Manfaat/keuntungan pengeringan jagung, antara lain : a) Umur simpan biji jagung

bertambah, b) Viabilitas (tingkat pertumbuhan) benih dapat dipertahankan, c) Nilai

ekonomi (harganya) meningkat, dan d) Pengangkutan biji jagung lebih mudah dan

ongkos angkut berkurang.

Teknologi pengeringan jagung selama ini masih dikerjakan secara

tradisional. Panen jagung dilakukan secara manual (dipetik), kemudian jagung

dipipil untuk merontokkan biji jagung dari tongkolnya. Pengeringan biji masih

dilakukan dengan mengandalkan teknik penjemuran di bawah sinar matahari

dengan beralaskan tikar atau terpal yang digelar di halaman rumah atau jalan desa.

Pengeringan jagung dengan alat pengering dapat memperbaiki mutu

jagung karena waktu pengeringan yang lebih singkat. Penggunaan alat pengering

ini sebenarnya telah dikenal oleh sebagian pedagang jagung. Alat pengering yang

telah dikenal tersebut adalah jenis pengering Lister Dryer dan Flat Bed Dryer.

Pengering tipe flat bed ini banyak digunakan perusahaan jagung untuk orientasi

ekspor(Suyono, 2002).

b. Pemipilan

Jagung tongkol berkadar 17-18% selanjutnya dipipil. Pada tingkat kadar air

tersebut, tongkol jagung dapat dipipil secara manual maupun secara mekanis

(dengan mesin pemipil). Proses pemipilan umumnya sudah dilaksanakan dengan

memanfaatkan alat pemipil, baik pemipil mekanis maupun bermotor Alat pemipil

jagung bermotor ini digerakkan dengan motor disel atau motor listrik. Kapasitas

dapat mencapai 1-2 ton/jam dan hasil pipilan memenuhi standar kualitas yang

memenuhi syarat.

c. Pembersihan

Pembersihan dapat dilakukan dengan udara, saringan atau mgnit yang

berfungsi memisahkan biji jagung dari benda-benda seperti pasir dan logam,

tongkol atau biji-bijian asing, biji pecah, debu dan bahan-bahan lain yng tidak

dikehendaki. Disamping itu, dapat dilakukan degan cara ditampi atau di ayak.


d. Sortasi dan Pengkelasan Mutu

Pengkelasan bertujuan untuk menggolongkan jagung pipil yang telah

disortir ke dalam kelas-kelas mutu tertentu yang biasanya disesuaikan dengan

standar atau permintaan pasar. Dengan pengkelasan ini akan mempermudah

dalam penentuan harga jual dan pemasarannya.

Faktor-faktor penentu mutu jagung ada tiga macam yaitu, persyaratan

kualitatif, kuantitatif dan persayaratan kimiawi :

- Persyaratan kualitatif meliputi : Biji jagung harus bebas dari hama dan penyakit,

Biji jagung harus bebas dari bau busuk, asam, bau asing lainnya, Biji jagung

harus bebas dari bahan kimia yang membahayakan seperti insektisida dan

fungisida, Memiliki suhu normal.

- Persyaratan kuantitatif meliputi : Kadar air maksimm 14%, Butir pecah maksimal

1%, Butir rusak maksimal 12%, Kotoran/benda asing maksimal 1%, dan Butir

warna lain maksimal 1%.

- Persyaratan kimiawi : Tidak mengandung aflatoxin. Dalam tata niaga

perdagangan jagung diharapkan berpedoman pada SNI-01-3920-1995.

e. Penyimpanan

Penyimpanan jagung biasanya dilakukan dalam kapasitas gudang yang

terbatas dengan teknik penyimpanan yang belum memadai dari sisi penjagaan

mutu, keamanan maupun masa simpan. Penyimpanan dapat dilakukan di atas

para-para atau dalam karung.

- Penyimpanan di atas para-para :

Penyimpanan jagung bentuk tongkol berkelobot dapat dilakukan di atas parapara

dan dilangit-langit rumah yang dilengkapi dengan kawat anti tikus. Parapara

di atas dapur dapat memperoleh asap dari pembakaran kayu sewaktu

masak di dapu yang meninggalkan residu yang bersifat anti terhadap bakteri,

jamur maupun serangga.


- Dalam karung :

Dalam bentuk pipilan, jagung dapat disimpan dalam karung goni, karung plastik,

bakul besar dan kotak kayu . Bahkan dalam jumlah yang besar dapat disimpan

dalam bentuk curah di dalam gudang atau silo-silo. Penyimpanan dalam bentuk

pipilan sebaiknya kadar airnya di atur setelah mencapai 13-14%. Karena kadar

air di atas 14% merupakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan jamur. Wadah

yang digunakan sebaiknya di bersihkan terlebih dahulu, bila perlu di semprot

dengan cair insektisida. Tanpa teknologi penyimpanan yang memadai,maka

pengembangan ekspor jagung ke pasar internasional akan mengalami hambatan.

f. Pengolahan Hasil

Sebagai bahan yang mengandung sekitar 70% pati, 10% protein, dan 5%

lemak, jagung mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi

beragam produk dan berbagai jenis usaha (BPPP, 2003). Jagung memiliki potensi

sebagai bahan pangan untuk keperluan industri makanan, minuman, kimia dan

industri lainnya. Dari 100 kg jagung dapat di hasilkan 64-67 kg pati, 27-30 bungkil,

3,5-4 kg minyak jagung dan sejumlah makanan ternak, gluten, serat dan

sebagainya. Tepung jagung dapat di manfaatkan pula untuk pembuatan berbagai

makanan tradisional, campuran dengan tepung jenis seralia lainnya.

Beberapa olahan makanan dari jagung secara skala rumah tangga antara

lain: Pembuatan beras jagung, Pembuatan tepung jagung, Ceriping jagung, Keripik

jagung, Kue jagung coklat, Kue putu jagung, Podeng jagung, Lapis jagung, Kue

pelepo jagung, Kue pisang jagung, Kue dadar, Cake marmar, Pisang goreng

tepung jagung, Kue bangket, Kue bika, kue resoles jagung, Jenang jagung , Apem

jagung dan Kue donat

Teknologi pengolahan untuk biji jagung utuh berpotensi membawa jagung

ke dalam berbagai usaha, baik untuk produksi pakan maupun produksi pangan

seperti corn-flake, popcorn, tepung jagung dan sebagainya (Earle, 2007).

Sebaliknya, berbagai teknologi pengolahan lainnya juga berpotensi menjadikan

jagung sebagai bahan baku dalam usaha pengolahan produk turunan parsial dari

jagung, seperti usaha produksi pati, protein maupun lemak (minyak) jagung dan


produk turunan masing-masing. Jagung juga berpotensi diusahakan dalam bentuk

utuh tanpa diolah. Meskipun usaha ini berpeluang tidak mendapatkan nilai tambah

yang besar akibat pengolahan, prospek usaha ekspor biji jagung relatif cukup baik.

Terbukanya pasar jagung dunia sebesar 77–90 juta ton per tahun

merupakan peluang bagi Indonesia untuk mengisi segmen pasar tersebut. Dengan

potensi jagung nasional, maka pengembangan agribisnis jagung di masa depan

dapat diarahkan pada pengembangan ekspor jagung dan pengembangan

agroindustri pati jagung (Wirakartakusumah dan Hariyadi, 2008).

Teknologi pengolahan pati jagung pada skala kecil-menengah di Indonesia

sejauh ini belum dikenal. PT Suba Indah Tbk yang beroperasi pada kapasitas

1.000 ton per hari merupakan industri pati jagung dalam negeri yang paling dikenal

saat ini. Berbagai alat, seperti Centrifuge Separator untuk pemisahan pati-protein,

Hydrocyclone untuk pencucian pati, Peeler Centrifuge untuk penirisan pati,

Vacuum Drum Filter, Evaporator, Flash dan Bundle Dryer, Grind Miller, Screen dan

lain-lain, sangat diperlukan dalam proses ini. Dengan dukungan seperangkat

teknologi ini, maka industri pengolah jagung tidak hanya akan memperoleh pati

jagung (BBKP,2001). tetapi juga beragam produk samping yang bernilai tambah

cukup tinggi. Dengan kapasitas produksi 1.000 ton biji jagung per hari dan 250 hari

kerja per tahun, maka akan diolah 250.000 ton jagung. Jika rendemen pati

mencapai 60–65%, maka akan diperoleh 150.000-1 62.500 ton pati yang telah

dipasok. Dengan demikian masih terdapat 800.000 ton hingga 850.000 ton lagi per

tahun yang menjadi pangsa pasar pati jagung (Suyono, 2002). Dengan potensi

seperti ini, maka pengembangan komoditas jagung ke arah usaha produksi pati

memiliki prospek yang cukup cerah. Hampir seluruh bagian dari tanaman jagung

mempunyai potensi nilai ekonomis, buah jagung pipilan, sebagai produk utamanya

merupakan bahan baku utama (50%) industri pakan, selain dapat dikonsumsi

langsung dan sebagai bahan baku industri pangan. Daun, batang, kelobot,

tongkolnya dapat dipakai sebagai pakan ternak dan pemanfaatan lainnya

(Hardiansyah dan Martianto, 2002). Demikian juga dengan bagian lainnya jika

dikelola dengan baik berpotensi mempunyai nilai ekonomi yang cukup menarik,

seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.


5. Prospek Bisnis Komoditas Jagung

Pengembangan usahatani jagung diarahkan terutama untuk

mengembangkan usahatani komersial. Upaya yang perlu ditempuh dalam

mendukung kebijaksanaan tersebut antara lain : a) Mengembangkan informasi

pasar dan kemudian ditingkatkan menjadi informasi peramalan harga (market

intelegent), b) Merumuskan harga dasar dan memantau pelaksanaannya,

c) Mengusahakan kerjasama saling menguntungkan antara pengusaha/pabrik

pengolah dengan petani, d) Mengadakan rintisan pemasaran ke daerah/pasar baru

dan promosi pasar dan pameran.

Pengembangan usaha pada industri hulu (penangkaran benih) dan industri

hilir (pabrik pakan) untuk mendukung pengembangan jagung di Indonesia cukup

menguntungkan. Contoh usaha penangkaran benih jagung yang dilakukan petani

plasma PT. Sang Hyang Sri di Sulawesi Selatan mampu memberikan keuntungan

Rp 6,6 juta/ha pada tingkat B/C=2,84 (Wirakartakusumah dan Hariyadi, 2008).

Kinerja industri pakan di tiga lokasi (Lampung, Bogor dan Bandung) menunjukkan

bahwa usaha industri pakan ayam baik untuk pakan ayam petelur (starter, grower,

dan layer) maupun pakan ayam pedaging (starter dan finisher) cukup

menguntungkan pada tingkat R/C = 1,08–1,30. Usaha ini diperkirakan akan

semakin menguntungkan jika kapasitas terpakai bisa mendekati kapasitas

terpasang melalui penyediaan jagung dalam negeri secara berkelanjutan

(Hardiansyah dan Martianto, 2002).

Pada Tabel 3 ditunjukkan bahwa usahatani jagung yang menggunakan

varietas hibrida akan memberikan keuntungan yang cukup besar untuk setiap

hektarnya yang diusahakan pada lahan sawah dan lahan kering di Sumatera Utara,

Lampung, dan JawaTimur.


Tabel 3 . Kelayakan Usahatani Jagung Hibrida per Hektar

A. Produksi

Uraian

Sumatera Utara Lampung Jawa

Timur

Lahan

Sawah

Lahan

Kering

Lahan

Sawah

Lahan

Kering

Lahan

Sawah

1. Produksi (kg) 6.508 6.957 4.966 4 .685 6.755

2. Nilai (Rp000) 5.987 5.572 4.569 4 .310 6.215

B. Total Biaya (Rp) 4.100 3.491 3.685 3 .100 5.195

C. Keuntungan 1 887 2.081 884 1 210 1.020

R/C 1,46 1,60 1,24 1,39 1,20

TIP (Kg/ha) 456,8 4 358,7 405,2 369.7 5.646,4

TIH (Rp/kg) 630,0 501,8 742,0 661,7 769,1

Toleransi penurunan (%) 31,52 37,35 19,35 28,07 16,41

Sumber : (BPPP, 2007)

Keterangan : TIP : Titik Impas Produksi dan TIH : Titik Impas Harga

Kini, jumlah penggunaan jagung untuk pakan lebih dari 50%, dan sisanya

untuk industri pangan, konsumsi langsung, dan penggunaan lainnya. Dalam

program jangka pendek, pengembangan industri jagung melalui intensifikasi

(dengan memperluas penggunaan benih hibrida) dan ekstensifikasi diharapkan

mampu untuk swasembada terutama untuk memenuhi industri pakan dan pangan.

Sementara dalam program jangka menengah, selain swasembada jagung,

Indonesia juga diharapkan sebagai eksportir serta sekaligus mengembangkan

industri pati jagung, dan dalam program jangka panjang juga mengembangkan

industri yang berbasis pati jagung seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.


Pati

Olahan Pati

Pati

Jagung

Pakan

Pangan

Pakan

Pangan

2005 2010 2015 2025

Gambar 2. Peta jalan (Road map) program pengembangan industri jagung

6. Prospek Pengembangan Agroindustri Jagung

Indonesia diperkirakan akan mengalami kelebihan produksi jagung

sebesar 620.660 ton pada tahun 2009 dan 2,04 juta ton pada tahun 2015, maka

fokus pengembangan komoditas jagung dalam 5 tahun ke depan seyogyanya

diarahkan berdasarkan arus permintaan dan kemampuan (daya saing) yang

dimiliki produk (Soekirman, 2007). Terbukanya pasar jagung dunia sebesar 77–90

juta ton per tahun merupakan pasar yang sangat menantang. Peluang ini menjadi

lebih besar mengingat adanya gejala penurunan pasokan jagung oleh Amerika dan

Cina akibat peningkatan kebutuhan dalam negeri mereka. Produksi jagung

di masa depan bisa saja sepenuhnya diarahkan pada pemenuhan pasar ekspor.

Di sisi lain, seluruh kelebihan produksi dapat juga diarahkan sebagai bahan baku

pengolahan pati jagung.

Perkembangan industri pangan dan non pangan seperti industri sorbitol,

kertas, tekstil dan kayu lapis di Indonesia memberikan peluang lain bagi

pengembangan komoditas jagung. Selama ini, berbagai industri di atas dikenal


sebagai konsumen utama pati. Kebutuhan pati secara nasional berkisar antara

1,5–2,0 juta ton per tahun. Kebutuhan pati domestik ini umumnya masih dipenuhi

oleh pati singkong (tapioka) domestik maupun impor (BPPP, 2007).

Produk pati di Indonesia terutama diserap oleh industri krupuk/cracker

(25%), pemanis (15%), mi instan dan berbagai roti (20%), sorbitol (9%), kertas

(7%), dan sisanya untuk berbagai industri lainnya. Berdasarkan karakteristiknya,

pati jagung tidak mampu menggantikan peran tapioka di dalam produksi krupuk.

Namun untuk produk yang lain, pati jagung potensial mensubstitusi terigu maupun

tapioka dari 20-100%. Jika pati jagung menggantikan 10% saja dari penggunaan

yang lain, maka akan terdapat sekitar 0,3 - 1,0 juta ton pati jagung yang diperlukan

per tahun (Soekirman, 2007).

7. Kebutuhan Investasi Agroindustri Jagung

Hasil studi analisis menunjukkan bahwa kebutuhan investasi untuk dapat

melakukan ekspor jagung sebesar 8% total produksi per tahun pada kurun waktu

tahun 2005– 2009 diperlukan dana sebesar Rp. 69,07 Triliun. Komponen investasi

yang termasuk dalam perhitungan ini meliputi biaya pembukaan lahan baru, litbang

pemerintah, penyuluhan, pengadaan traktor, pompa air, hand sprayer, pemipil,

pengering flat bed, gudang, penangkar benih, litbang swasta, sumur bor, dan

modal kerja. Sementara itu untuk pengembangan industri pati jagung, surplus

produksi tahun 2009 adalah setara dengan 2,5 kali kebutuhan PT Suba Indah per

ahun (250.000 ton) (BPPP, 2007). Oleh sebab itu, usaha pengembangan industri

pati jagung dapat dilakukan dengan mengembangkan 1–2 unit pengolah baru

sejenis PT Suba Indah, tanpa mengurangi pangsa pasokan bahan baku maupun

pasar industri yang sudah ada. Jika langkah ini ditempuh, maka kebutuhan

investasinya mencapai Rp. 80–160 miliar. Studi kelayakan industri PT Suba Indah

menyatakan bahwa untuk mengembangkan industri pati jagung pada 5 tahun yang

lalu (1999-2000) diperlukan dana 40 miliar rupiah. Dengan asumsi bahwa laju

inflasi 10% per tahun, maka per unit pengolahan pati jagung pada tahun 2009

diperlukan 80 miliar rupiah (BPPP, 2007). Dana tersebut meliputi pembelian lahan,

alat-alat, pembangunan pabrik dan silo serta modal kerja. Sedangkan dana untuk


sosialisasi dan promosi pati jagung dan produk lainnya tidak termasuk dalam

cakupan investasi tersebut.

8. Alsintan Jagung

Teknologi budidaya jagung tidak hanya memerlukan traktor, pompa dan

thresher, tetapi juga penyiang, sprayer, dan Alsintan budidaya lainnya. Pada saat

sekarang teknologi mekanisasi untuk pembibitan, penanaman (transplanter),

penyiangan (power weeder) dan pemanen (reaper) penggunaannya masih

terbatas, namun pada masa mendatang jika infrastruktur terbangun, kapasitas

adopsi dan kelembagaan sudah mulai berubah seiring dengan semakin langkanya

tenaga kerja di sub-sektor tanaman pangan, teknologi tersebut akan berkembang

dengan baik. Optimasi dan efisiensi mekanisasi panen dan pasca panen. Sumber

pertumbuhan lain yang dapat digali adalah menekan susut panen dan pasca

panen yang belum optimal dilaksanakan. Indikasi ini menunjukkan betapa

penanganan pasca panen masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara

lainnya. Sangat terasa kurang diperhatikan adalah besarnya kehilangan pada saat

panen sampai dengan penggilingan dan penyimpanan. Sebagai gambaran untuk

komoditas jagung di Indonesia ditargetkan adanya peningkatan dalam

penggunaan traktor, alat tanam, dan Alsintan pasca panen pada Tahun 2010 yang

ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Kebutuhan Mekanisasi Pertanian untuk Mendukung Budidaya Jagung.

No

Jenis Alsintan

Tahun 2005

Kapasitas Kebutuhan Kekurangan

Harga

Alsintan

(Rp Juta)

Estimasi

Kebutuhan

Alsintan

(Unit)

Tahun 2010

Estimasi

Kebutuhan

Investasi

(Rp Juta)

1 Traktor roda 2 2) 25 139.887 139.887 16 174.859 2.797.736

2 Pompa air 3) 15 116.572 116.572 1,75 145.715 255.002

3 Alat tanam 4) 53 13.197 13.197 7,5 6.496 123.721

4 Hand sprayer 5) 6 582.862 582.862 0,25 728.577 182.128

5 Pemipil 6) 120 20.400 20.400 9,00 22.660 202.936

6 Dryer 7) 60 29.143 29.143 53,5 32.371 1.731.841

Sumber : (BPPP, 2007)


Keterangan :

1) Total luas panen jagung di Indonesia tahun 2005 sebesar 3.504.234 hektar, Statistik

Pertanian 2005.(Tidak tersedia data tentang jumlah dan jenis alat mesin untuk budidaya

dan prosesing jagung).

2) Asumsi 100% pekerjaan dilakukan dengan menggunakan alsintan

3) Asumsi 50% pekerjaan dilakukan dengan menggunakan alsintan

4) Asumsi 20% pekerjaan dilakukan dengan menggunakan alsintan

5) Asumsi 100% pekerjaan dilakukan dengan menggunakan alsintan

6) Asumsi 70% pekerjaan dilakukan dengan menggunakan alsintan

7) Asumsi 50% pekerjaan dilakukan dengan menggunakan alsintan

Estimasi secara umum didasarkan pada peningkatan intensifikasi penggunaan

Alsintan dan peningkatan produktifitas yang diasumsikan oleh Balai Komoditas.

9. Aspek Kelembagaan sebagai Faktor Pendukung Manajemen Produksi

dan Pengelolaan Pasca Panen

Hal yang perlu mendapatkan perhatian secara khusus, untuk

mendukungmanajemen produksi dan pengelolaan pasca panen jagung adalah

masalah lemahnya kelembagaan dalam sistem pengembangan mekanisasi

pertanian. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan jika mekanisasi pertanian harus

disiapkan sebagai mesin penggerak revitalisasi (engine of revitalization) (BPPP,

2007), antara lain :

a. Lembaga/Asosiasi Petani

Lembaga petani perlu dibangun dengan tujuan untuk memberikan

pelayanan kepada petani-petani yang merupakan anggotanya, serta melobi

pemerintah dalam hal kepentingan usahatani. Melalui lembaga pertanian ini

diharapkan dapat tercipta komunikasi antara pemerintah dengan petani sehingga

petani dapat menyalurkan aspirasi dan kepentingannya dengan lebih baik.

Lembaga seperti ini hendaknya dibangun atas inisiatif petani, bukan dari

pemerintah.

b. Kebijakan Perdagangan Alsintan

Pengadaan, distribusi dan penggunaan Alsintan dipengaruhi oleh

kebijakan perdagangan. Pemerintah perlu menciptakan iklim perdagangan yang

kondusif dengan menaikkan proteksi terhadap impor alsintan, terutama terhadap

negara yang melakukan dumping. Kebijakan proteksi ini selain dapat mendorong


perkembangan industri Alsintan dalam negeri juga dapat memberikan proteksi

terhadap petani sebagai konsumen. Alsintan produksi luar seringkali tidak sesuai

untuk digunakan di Indonesia karena kondisi lahan dan ergonomis yang berbeda.

Selain itu, pemerintah juga perlu memeratakan distribusi alsintan di seluruh

wilayah Indonesia. Salah satu caranya yaitu dengan tidak memberikan bantuan

Alsintan hanya pada satu jenis Alsintan tertentu atau di daerah tertentu saja.

Distribusi Alsintan harusnya disesuaikan dengan kebutuhan Alsintan di tiap

wilayah.

c. Penelitian dan Pengembangan

Penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh pihak swasta saja

tidak cukup. Pemerintah harus meningkatkan riset dan pengembangan yang

dilakukan melalui lembaga pemerintah yang ada seperti BBP Mektan dan LIPI

serta membina kerjasama antara lembaga riset pemerintah, swasta, universitas

dan asing. Dengan demikian inovasi teknologi dapat lebih ditingkatkan dan

menguntungkan semua pihak. Dalam penelitian dan pengembangan yang

dilakukan, perlu juga diciptakan penghubung antara peneliti dengan petani.

Penghubung ini selain bertugas untuk mendemonstrasikan teknologi baru kepada

petani dan meningkatkan kesadaran petani akan pentingnya teknologi, juga

berfungsi sebagai sarana bagi petani untuk menyampaikan mengenai jenis

alsintan apa yang dibutuhkan dan tingkat mekanisasi seperti apa yang diharapkan.

Jadi melalui penghubung ini dapat tercipta feed back bagi penelitian selanjutnya.

d. Kredit

Selama ini kesulitan perolehan kredit selalu menjadi kendala bagi petani

dalam usaha pengembangan usahatani. Menurut Nuswantara (2003), untuk

mengatasi kendala ini, pemerintah perlu mempersiapkan upaya pembentukan

Bank pertanian. Bank pertanian hendaknya terletak di daerah-daerah sentra

produksi pertanian, terutama di pedesaan dan kota-kota kecil yang mudah

dijangkau petani. Melalui bank pertanian diharapkan dapat memberi kemudahan

bagi petani dalam memperoleh kredit, baik itu sebagai modal usaha maupun untuk


pembiayaan aktivitas pertanian. Kredit yang diberikan jangan dibatasi pada jenis

Alsintan tertentu karena ini akan mempengaruhi pilihan petani terhadap Alsintan

yang akan digunakan. Petani harus diberikan kebebasan dalam memilih Alsintan

yang diinginkan dan yang sesuai dengan kebutuhannya.

e. Lembaga Pelatihan dan Pendidikan

Petani Indonesia pada umumnya berpendidikan rendah. Untuk

mengintroduksi teknologi baru maka diperlukan pelatihan dan pendidikan agar

petani mampu mengoperasikan Alsintan dengan baik dan aman. Pelatihan dan

pendidikan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan

ketrampilan petani sehingga dapat mengembangkan diri di sub sektor lain maupun

di bidang agroindusri, serta memajukan cara berpikir petani.

f. Fasilitas Produksi dan Perbaikan Lokal

Kondisi lahan di tiap daerah berbeda-beda. Dengan melakukan produksi

lokal maka produksi dapat dilakukan secara spesifik sesuai dengan kondisi lahan

setempat dan mengurangi biaya transportasi ke petani. Selain itu, penyerapan

tenaga kerja di desa juga dapat ditingkatkan.

g. Penyediaan Jasa Penyewaan Mesin

Dengan penyediaan jasa penyewaan mesin, petani kecil yang tidak

sanggup membeli Alsintan dapat tertolong. Mereka dapat menggunakan mesin

dan mendapatkan manfaat dari mesin tanpa harus mengeluarkan biaya besar

untuk membelinya. Selain itu, petani yang berfungsi sebagai kontraktor dapat

mendapatkan manfaat ganda. Mereka dapat memperoleh keuntungan dari

pemanfaatan mesin maupun dari penyewaan mesin. Usaha jasa penyewaan

Alsintan oleh kelompok tani dan KUD kurang menguntungkan karena rendahnya

profesionalisme dan pengelolaan yang kurang baik. Karena itu, kemampuan

manajemen kelompok tani atau KUD perlu ditingkatkan agar mampu mendapatkan

keuntungan dari usaha sewa jasa yang dilakukan. Untuk mendukung


perkembangan lembaga-lembaga tersebut di atas, maka peran pemerintah

sangatlah penting. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah baik itu

di bidang mekanisasi pertanian, pertanian secara umum, perdagangan,

perindustrian, keuangan, keagrariaan, maupun ketenagakerjaan dan pendidikan

diharapkan dapat diselaraskan dalam mendukung perkembangan mekanisasi

pertanian di Indonesia.

B. Kerangka Pemikiran

Peningkatkan produksi jagung guna memenuhi kebutuhan dalam negeri

telah banyak dilakukan, meskipun hasil yang dicapai belum cukup

menggembirakan. Persoalan manajemen produksi (menyangkut teknologi

penggunaan varietas unggul, cara bercocok tanam yang lebih baik, pengelolaan

hara dan tanah, serta cara penanggulangan hama penyakit), belum seperti yang

diharapkan. Selain itu, berbaga faktor penunjang (seperti sarana dan prasarana

penampungan hasil) selayaknya terjamin di kalangan petani, sehingga harapan

peningkatan produksi dapat tercapai, serta pengelolaan pasca panen jagung dapat

dilakukan secara optimal yang diarahkan untuk mengurangi kehilangan hasil, baik

secara kualitas maupun kuantitas. Berdasarkan hal tersebut maka disusun

kerangka pemikiran seperti pada Gambar 3.


Manajemen

Produksi (MP)

Faktor

Penunjang (FP)

Peningkatan

Produksi (PP)

Pengelolaan

Pasca Panen

(PPn)

Kebijakan Peningkatan

Produksi dan

Pengelolaan Pasca Panen

Jagung di Sulawesi

Selatan

Gambar 3. Kerangka Pemikiran


C. Definisi Operasional dan Konseptual Variabel

Beberapa definisi operasional berkaitan dengan penelitian ini dapat

dikemukakan seperti berikut :

1. Manajemen produksi adalah sistem pengembangan dan pemanfaatan

sumberdaya melalui upaya manusia yang dengan modal, teknologi, dan

sumberdaya lainnya menghasilkan jagung guna memenuhi kebutuhan

manusia secara lebih baik.

2. Benih unggul tanaman adalah unsure tanaman jagung yang merupakan

varietas hasil seleksi yang teruji mutu perkembangan vegetative maupun

generatifnya yang digunakan untuk memperbanyak dan/atau

mengembangbiakkan tanaman jagung.

3. Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) adalah semua organisme yang dapat

merusak, mengganggu kehidupan, atau menyebabkan kematian tanaman

jagung.

5. Kondisi sosial-ekonomi petani adalah variabel-variabel sosial dan ekonomi yang

mempengaruhi kinerja usahatani jagung.

6. Kelembagaan adalah kegiatan pengorganisasian sistem agribisnis jagung

dengan tujuan agar keterkaitan antara sistem agribisnis jagung dapat

berinteraksi dengan baik.

7. Agribisnis adalah Suatu kegiatan bisnis jagung yang secara utuh dan

profesional terkait mulai dari proses budidaya, pengolahan, penyimpanan,

pasca panen, grading, pengepakan, hingga proses pemasaran.

8. Pengelolaan pasca panen, meliputi : Pengeringan, Pemipilan, Pembersihan,

Sortasi/Pengkelasan mutu, Penyimpanan, dan Pengolahan hasil jagung.

9. Peningkatan produksi, meliputi ; Peningkatan luas tanam, Peningkatan

produktivitas, dan Peningkatan intensitas penanaman.

10. Faktor penunjang, meliputi : Pemasaran, Kelembagaa, Program pemerintah,

Lemabaga keuangan, sosek petani, Infrasruktur usahatani, Penyuluhan,

Pendampingan, dan Pembentukan / pengaktifan kelompok tani.


11. SWOT adalah Analisis dengan melihat kekuatan, kelemahan, peluang, dan

ancaman dengan memperhitungkan kondisi eksternal dan internal yang ada

dan akan terjadi pada masa akan datang.

D. Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran dan tujuan yang ingin dicapai maka

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

a. Manajemen produksi terutama ketersediaan benih unggul (yang memenuhi

tepat waktu, jenis, mutu, jumlah, dan harga) berpengaruh signifikan terhadap

peningkatan produksi jagung di Sulawesi Selatan.

b. Faktor penunjang terutama sarana dan prasarana penampungan hasil jagung

kurang tersedia pada daerah sentra produksi jagung di Sulawesi Selatan.

c. Perbaikan manajemen produksi (ketersediaan benih unggul) dan faktor

penunjang (sarana dan prasarana penampungan hasil) merupakan strategi

dalam upaya meningkatkan produksi dan mengoptimalkan teknologi

pengelolaan pasca panen jagung di tingkat petani di SulawesiSelatan.


III.

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada lima kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu:

di Kabupaten Pinrang, Bantaeng, Jeneponto, Bone, dan Gowa. Daerah ini dipilih

karena merupakan sentra produksi atau termasuk daerah penghasil jagung

terbesar di Sulawesi Selatan. Penelitian dilaksanakan selama 6 (enam) bulan,

yaitu mulai bulan Juni sampai November 2009.

B. Populasi dan Sampel

Sumber data penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Untuk

perolehan data primer, pada setiap kabupaten dipilih satu kecamatan dan pada

setiap kecamatan dipilih dua desa/kelurahan. Dari tiap desa, sampel diambil

secara acak (Random Sampling) dari rumah tangga petani jagung, pedagang

jagung dan pedagang sarana dan prasarana produksi.

Kriteria pengambilan

sampel, yaitu populasi < 100 diambil 25 % dan > 100 diambil 10-15% (Arikunto,

1998), dari populasi petani jagung, pedagang jagung dan pedagang sarana dan

prasarana produksi jagung, yang dijadikan responden. Dengan demikian, jumlah

sampel dalam penelitian ini setiap desa bervariasi yang berasal dari 10

desa/kelurahan. Dengan cara pengambilan sampel yang demikian, distribusi dan

jumlah sampel pada tiap kabupaten dapat dilihat pada Tabel 3 berikut :

Tabel 5. Jumlah Responden untuk Setiap Desa/Kelurahan.

Kabupaten Kecamatan Desa/Kelurahan Jumlah

Pinrang Batu Lappa Kassa

Watangkassa

Bantaeng Pajukukkang Baruga

Papan Loe

Jeneponto Kelara Tallo Utara

Tallo Selatan

Bone Sibulue Manjalling

Bori Matangkasa

Gowa Bajeng Bajeng

Bajeng Barat

20 orang

20 orang

20 orang

20 orang

20 orang

20 orang

20 orang

20 orang

20 orang

20 orang


Teknik pengumpulan data primer dikumpulkan dari petani jagung (responden)

secara langsung dengan metode survai, wawancara dan observasi berdasarkan

instrumen dalam kuisioner.

Data sekunder yang dikumpulkan mencakup data yang diperoleh dari

pihak kelurahan/desa, Laporan Dinas Pertanian, Kantor Statistik Kabupaten hingga

pemerintah kabupaten yang kemudian diolah berdasarkan tujuan penelitian

termasuk pula data-data yang bersumber dari dokumen (pustaka) sebagai

referensi dan informasi yang diperoleh dari instansi terkait .

C. Indikator/Parameter Penelitian

Penelitian ini menggunakan empat variabel, yaitu dua variabel Independen,

satu variabel dependen, dan satu variabel antara. Variabel Independen terdari dari

Faktor Manajemen Produksi (MP) (Ketersediaan Benih Unggul) dan Faktor

Penunjang (FP) (Penampungan Hasil). Variabel Dependen adalah Pengelolaan

Pasca Panen, dan variabel antara adalah Peningkatan Produksi (PP).

Berdasarkan operasionalisasi variabel, dapat dirumuskan kuisioner penelitian yang

terdiri atas :

(1) Karakteristik manajemen produksi jagung

(2) Karakteristik Pengelolaan Pasca panen jagung

(3) Faktor Penunjang dalam manajemen produksi dan pengelolaan pasca

panen jagung yang mendukung kegiatan usahatani jagung

(4) Peningkatan produksi dan pengelolaan pasca panen jagung

(5) Karakteristik kondisi sosial-ekonomi petani jagung

Strategi dan model pengembangan peningkatan produksi dan pengelolaan

pasca panen jagung di Sulawesi Selatan dapat ditentukan dengan mengukur

parameter-parameter pembentuknya (Tabel 6).


Tabel 6. Variabel, Indikator dan Parameter Penelitian

Variabel Indikator Parameter

Manajemen Produksi (MP)

Faktor Penunjang (FP)

Peningkatan Produksi (PP)

Pengelolaan Pasca

Panen (PPn)

Ketersediaan benih

Unggul (X1)

Penampungan hasil (X2)

Produksi meningkat (Y1)

Pemipil (Y2)

Pembersihan (Y3)

Sortasi/Pengkelasan

Mutu (Y4)

Pengeringan (Y5)

Pengolahan hasil (Y6)

Tepat waktu

Tepat jenis

Tepat mutu

Tepat jumlah

Tepat harga

Para-para

Dalam karung

Silo-silo

Produktivitas meningkat

Luas panen meningkat

Manual

Mekanis/mesin pemipil

Udara

Saringan

Ditampi/diayak

Kualitatif

Kuantitatif

Kimiawi

Dengan sinar matahari

Pengering buatan/Dryer

Beras jagung

Tepung jagung

dll

D. Pendekatan/Model Analisis

Model Analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisis Structural

Equation Modelling (SEM), dan analisis SWOT, sebagai berikut :

1. SEM

Pengujian model dengan menggunakan Structural Equation Modelling

(SEM), terdapat tujuh langkah yang ditempuh. (Hair et al., 1988; Ferdinand, A.

2002), yaitu seperti pada Tabel 7 berikut :


Tabel 7. Tahap-tahapan dalam Analisis Model Struktural

Tahapan

Kegiatan

1 Pengembangan sebuah model berbasis teori

2 Menyusun path diagram untuk menyatakan hubungan

kausalitas

3 Konversi diagram alur ke dalam persamaan struktur dan

model pengukuran

4 Memilih matrik input dan model/teknik estimasi

5 Menilai problem identification

6 Evaluasi goodness of fit

7 Interpretasi dan modifikasi model

Model analisis Stuctural Equation Modeling

merupakan gabungan dari

model regresi dan analisis jalur. Alasan digunakannya model Stuctural

Equation Modelling pada penelitian ini dengan pertimbangan bahwa Stuctural

Equation Modelling memberikan metode langsung berkaitan dengan hubungan

ganda secara simultan sekaligus memberikan efesiensi analisis statistika dan

kemampuannya untuk menguji hubungan komprehensif dan memberikan

suatu bentuk transisi analisis confirmatory. Model diagram jalur dari masingmasing

variabel dan indikator dalam penelitian dapat digambarkan sebagai

berikut :

X1

MP

Y1

Y2

Y3

PP

PPn

a

Y4

X2

FP

Y6

Y5

Gambar 4. Model Struktur Hubungan Antar Variabel


Selanjutnya model jalur hubungan antar variabel penelitian yang tampak pada

Gambar 4, diterjemahkan ke dalam persamaan struktural yang menunjukkan

pengaruh antara variabel Faktor Penunjang (FP), dan Manajemen Produksi (MP),

terhadap variabel Peningkatan Produksi (PP) dan Pengelolaan Pasca Panen

(PPn), sebagai berikut :

Peningkatan Produksi = β 1 FP + β 2 MP + ζ 1

Pengelolaan Pasca Panen = η 1, Peningkatan Produksi + ζ 1

Dimana :

β = Koefisien jalur yang menegaskan pengaruh dari variabel independen ke

variabel dependen.

η = Koefisien jalur yang menegaskan pengaruh dari variabel independen ke

variabel independen lainnya.

ζ (Zeta) = Error Term

Tabel 8. Good of Fit Index untuk Evaluasi Model

Chi-Square Menguji apakah Covariance populasi yang

diestimasi samadengan Covariance sample

(apakah model sesuai dengan data). Bersifat

sangat sensitive untuk sample besar (di atas 200)

Probability Uji signifikan terhadap perbedaan matriks

Covariance data dan matriks Covariance yang

diestimasi

RMSEA Mengkompensasi kelemahan Chi-Square pada

sample besar

GFI

Menghitung proporsi tertimbang varians dalam

matriks sample yang dijelaskan oleh matriks

Covariance popilasi yang diestimasi (analog

dengan R 2 dalam regresi berganda)

Diharapkan

Kecil

0,05

0,08

0,90

AGFI GFI yang disesuaikan terhadap DF 0, 90

CMIND/DF Kesesuaian antara data dan model 2. 00

TLI

Pembandingan antara model yang diuji terhadap 0,95

base line model

CFI Uji kelayakan model yang tidak sensitive 0,94

terhadap besarnya sample dan kerumitan model

Sumber: Ferdinand, A. (2002)


Analisis Structural Equation Modelling (SEM) lebih istimewa dibandingkan

dengan uji lainnya, karena merupakan gabungan model regresi dan analisis jalur.

Pada penelitian ini, digunakan beberapa perangkat lunak untuk mengolah data,

yaitu Excel 2007, SPSS (Statistical Product and Service Solution) 11, dan LISREL

(Linear Structural Relationships) versi 8.8. Data mentah yang diperoleh dari

kuesioner yang kembali dan layak diolah, direkap dengan bantuan perangkat lunak

Excel 2007 dan SPSS 11. Selanjutnya, data indikator per variabel diolah dengan

metode CFA melalui perangkat lunak LISREL versi 8.8.

2. SWOT

Metode pengamatan ditinjau dari aspek kekuatan, kelemahan, peluang

dan ancaman, dengan mempertimbangkan kondisi eksternal dan internal yang ada

dan akan terjadi pada masa akan datang. Hasil SEM dan SWOT digunakan untuk

menentukan strategi dan model peningkatan produksi dan pengelolaan pasca

panen jagung di Sulawesi Selatan.


IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Provinsi Sulawesi Selatan

Provinsi Sulawesi Selatan terletak antara 0 0 12 0 -8 0 LS dan 116 0 48 ’ – 122 0

36’ BT, yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah utara dan

Teluk Bone serta Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah timur. Sebelah Barat dan

Selatan masing-masing Selat Makassar dan Laut Flores. Jumlah sungai yang

mengairi wilayah Sulawesi Selatan tercatat sekitar 65 aliran sungai dengan jumlah

aliran terbesar di Kabupaten Luwu, yakni 25 aliran sungai. Sungai terpanjang

tercatat ada satu sungai yakni Sungai Saddang yang mengalir meliputi Kabupaten

Tator, Enrekang, Pinrang, dan Polmas, panjang sungai tersebut 150 km.

Di Sulwesi Selatan terdapat empat danau yakni Danau Tempe dan

Sidenreng Rappang yang berada di Kabupaten Wajo, serta Danau Matana dan

Towuti yang berlokasi di Kabupaten Luwu. Jumlah gunung tercatat sebanyak

7 gunung dengan gunung tertinggi adalah Gunung Rantemario dengan ketinggian

3.470 m di atas permukaan laut. Luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan tercatat

46.108,55 km 2 yang meliputi 20 Kabupaten dan 3 Kota dengan 296 kecamatan

dan 2.884 desa/kelurahan.

Berdasarkan data BPS tahun 2008, jumlah penduduk Sulawesi Selatan

adalah 7.629.138 jiwa yang terdiri atas laki-laki 3.738.401 jiwa dan perempuan

3.890.737 jiwa, tersebar di 23 kabupaten/kota dengan jumlah penduduk terbesar

1.223.530 jiwa mendiami Kota Makassar. Secara keseluruhan jumlah penduduk

berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin

laki-laki. Hal tersebut tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari

100. Hanya di daerah Kabupaten Gowa, Enrekang Luwu, Tana Toraja, Luwu Utara,

dan Luwu Timur yang menunjukkan angka rasio jenis kelamin lebih besar dari 100,

yang berarti penduduk laki-laki di enam daerah tersebut lebih besar dari jumlah

penduduk perempuan.

Jika ditinjau dari aspek persebaran penduduk, penyebaran penduduk

di Sulawesi Selatan belum merata, terbukti Kota Makassar yang hanya memiliki

luas wilayah 175,77 km 2 merupakan daerah terpadat penduduknya. Selanjutnya,


penduduk usia kerja (penduduk yang berumur 10 tahun ke atas, terdiri dari

angkatan kerja dan bukan angkatan kerja) di Sulawesi Selatan pada tahun 2007

berjumlah 5.257.238 jiwa. Dari seluruh penduduk usia kerja, yang masuk menjadi

angkatan kerja berjumlah 3.005.723 jiwa. Dari jumlah tersebut tercatat 370.308

orang dalam status mencari pekerjaan. Dilihat dari aspek lapangan usaha,

sebagian besar penduduk Sulawesi Selatan bekerja di sektor pertanian yang

berjumlah 1,469.418 orang atau 55,76% dari jumlah penduduk yang bekerja.

Kondisi iklim di Sulawesi Selatan banyak dipengaruhi oleh kondisi

geografis wilayah antara pantai timur dan pantai barat yang dibatasi oleh dua

pegunungan utama, yaitu pegunungan Latimojong dan Lompobattang. Kedua

pegunungan ini membagi wilayah sulawesi Selatan menjadi dua sektor dengan

pola musim yang berbeda, yakni sektor timur dan sektor barat. Pola musim

di sektor barat adalah musim hujan pada periode Oktober-Maret dan musim

kemarau periode April-September. Sebaliknya di sektor timur, musim hujan jatuh

pada periode April-September dan musim kemarau pada Oktober-Maret .

Daerah-daerah yang termasuk ke dalam wilayah sektor barat adalah

Kabupaten Selayar,Jeneponto,Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, Barru,

Pare-pare, Enrekang, dan Tator. Wilayah sektor timur meliputi Kabupaten Luwu,

Pinrang, Sidrap,Wajo, Bone, Soppeng, Sinjai, Bulukumba, dan Bantaeng.

Kabupaten Bulukumba, Luwu, dan Pinrang adalah daerah yang sebagian

wilayahnya juga termasuk sektor timur yang disebut sebagai daerah peralihan.

Pola iklim tersebut sangat mengutungkan bagi pengembangan produksi tanaman

pangan dan holtikultura, sehingga Sulawesi Selatan tidak pernah mengalami

paceklik bahan pangan pertanian karena musim tanam dapat berlangsung

sepanjang tahun secara bergantian.

Tipe iklim di Sulawesi Selatan menurut oldeman adalah tipe iklim A, B, C,

D, dan E dengan curah hujan bervariasi dari satu tempat ke tempat yang lain yang

secara garis besar terbagi atas :

a. 1000-2000 mm per tahun meliputi daerah sebelah utara garis yang garis yang

menghubungkan kota Barru dan Watampone sampai daerah Kabupaten Tator

dan sebagian Kabupaten Jeneponto.


. 2000-3000 mm per tahun sebagian daerah utara, yaitu Kabupaten Tator, Luwu,

dan sebagian daerah utara, yaitu Kabupaten Tator, Luwu, dan sebagian di

kota Pare-pare, Barru, Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Takalar, Gowa, dan

Makassar.

c. Di atas 3.000 mm per tahun sebagian lainnya Kabupaten Pangkep dan Maros.

Provinsi Sulawesi Selatan memiliki potensi dan kekayaan yang cukup

besar untuk digarap dan dimanfaatkan secara baik, khususnya sektor pertanian.

Hal ini terlihat dari luas wilayah Sulawesi Selatan sebesar 46.108,55 km 2 memiliki

potensi seperti ditunjukkan pada Tabel 9.

Tabel 9. Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Selatan

Tahun 2008

No. Komoditi Luas Panen (Ha) Produksi (Ton)

01 Padi 719.846 3.365.509

02 Jagung 284.964 1.195.064

03 Kedelai 14.189 22.242

04 Ubi kayu 32.852 567.749

05 Ubi jalar 5.029 54.303

06 Kacang tanah 36.776 41.759

07 Kacang hijau 23.490 28.554

Jumlah 1.117.146 5.275.180

Sumber: BPS 2008; dan sumber-sumber lain.

Selanjutnya penelitian ini dilaksanakan pada lima kabupaten yang ada

di Provinsi Sulawesi Selatan. Berikut dapat dijelaskan tentang keadaan umum

lokasi penelitian pada lima kabupaten tersebut.

1. Kabupaten Pinrang

Wilayah administrasi Kabupaten Gowa antara 3 0 19’, 13’ – 4 0 10’30 0 Lintang

Selatan dan hingga 199 0 26.30’- 119 0 47’20 0 Bujur timur. Berada di daerah tengah

Sulawesi Selatan, di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja.


Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten enrekang dan Sidenreng Rappang,.

Sebelah selatan berbatasan dengan Kotamadya Pare-Pare sedangkan bagian

baratnya dengan Kabupaten Polewali Mamasa dan Selat Makassar.

Luas wilayah Kabupaten Pinrang adalah 1.961,77 Km 2 , secara

administrasi pemerintah Kabupaten Pinrang terbagi menjadi 12 Kecamatan yang

terdiri dari 104 Desa/Kelurahan, yang merupakan salah satu wilayah penghasil

jagung di Sulawesi selatan dengan produksi sebesar 13.718 ton dengan luas

panen 390,4 Ha (Tabel 10).

Tabel 10. Luas, Persentase Luas Kecamatan, Luas Panen dan Produksi

Jagung Kabupaten Pinrang Tahun 2008

No Kecamatan Luas (Km 2 ) Persentase Luas Produksi

(%) Panen (Ha) (Ton)

01 Suppa 74.20 3,78 84 295

02 Mattirosompe 96.99 4,94 2 7

03 Lanrisang 73,01 3,72 7 24

04 Mattiro Bulu 132.49 6,75 10 35

05 Watang Sawitto 58,97 3,01 - -

06 Palateang 37,29 1,90 29 101

07 Tiroang 77,73 3,96 15 53

08 Patampanua 136,85 6,98 1073 3771

09 Cempa 90,30 4,60 348 1223

10 Duampanua 291,86 14,88 537 1887

11 Batulappa 158,99 8,10 1670 5870

12 Lembang 733,09 37,37 129 453

Jumlah 1.961,09 100,00 3.904 13.718

Sumber: BPS 2008; dan sumber-sumber lain.

2. Kabupaten Bantaeng

Kabupaten Bantaeng secara geografis terletak ± 120 km arah selatan Kota

Makassar Ibu Kota Propinsi Sulawesi Selatan dengan posisi 5 0 21’13” – 5 0 35’26”

Lintang Selatan dan 119 0 51’42”- 120 0 05’27” Bujur Timur. Terletak di daerah pantai


yang memanjang pada bagian barat dan timur kota yang salah satunya berpotensi

untuk perikanan.

Kabupaten Bantaeng dengan ketinggian antara 0–1350 di atas permukaan

laut merupakan wilayah yang terluas atau 29,6% dari luas wilayah seluruhnya dan

terkecil adalah wilayah dengan ketinggian dari permukaan laut 0-23 m dpl atau

hanya 10,3% dari luas wilayah. Luas daerah dan persentase luas kecamatan, yang

merupakan salah satu wilayah penghasil jagung

di Sulawesi selatan dengan

produksi sebesar 177.748 ton dengan luas panen 33.569 Ha (Tabel 11).

Tabel 11. Luas, Persentase Luas Kecamatan, Luas Panen dan Produksi

Jagung Kabupaten Bantaeng Tahun 2008

No Kecamatan Luas Persentase Luas Produksi

(Km 2 ) (%) Panen (Ha) (Ton)

01 Bissapu 32,84 8,30 4.423 22.314

02 Bantaeng 28,85 7,29 5.076 27.796

03 Tompobulu 76,99 19,45 1.323 6.794

04 Ulu Ere 67,29 17,00 4,454 23.936

05 Pa’jukukkang 48,9 12,35 3.496 19.078

06 Ermerasa 45,01 11,37 4.565 23.081

07 Sinoa 43,00 10,86 6.154 33.287

08 Gantarang Keke 52,95 13,38 4.078 22.054

Jumlah 395,83 100,00 33.569 177.748

Sumber: BPS 2008; dan sumber-sumber lain.

3. Kabupaten Jeneponto

Kabupaten Jeneponto terletak antara 5 0 23’12” – 5 0 42’1,2” Lintang Selatan

dan 119 0 29’12”- 119 0 56’44,9” Bujur Timur. Berbatasan dengan Kabupaten Gowa

dan Takalar di sebelah utara, Kabupaten Bantaeng di sebelah Timur, Kabupaten

Takalar di sebelah Barat dan Laut Flores di sebelah Selatan. Luas wilayah

Kabupaten Jeneponto tercatat 749,79 km 2 yang meliputi 11 Kecamatan,

merupakan salah satu wilayah penghasil jagung di Sulawesi Selatan, dengan

produksi sebesar 172.604 ton dengan luas panen 40.184 Ha (Tabel 12).


Tabel 12. Luas, Persentase Luas Kecamatan, Luas Panen dan Produksi

Jagung Kabupaten Jeneponto Tahun 2008

No Kecamatan Luas Persentase Luas Produksi

(Km 2 ) (%) Panen (Ha) (Ton)

01 Bangkala 121.82 16,25 6.252 28.257

02 Bangkala Barat 152,96 20,40 6.961 31.916

03 Tamalatea 67,58 7,68 3.521 10.725

04 Bontoramba 88,30 11,78 4.156 17.194

05 Binamu 69,49 9,27 2.693 10.744

06 Turatea 53,76 7,17 2.735 12.665

07 Batang 33,04 4,41 695 2.055

08 Arungkeke 29,91 3,99 499 2.802

09 Tarowang 40,68 5,43 1.888 5.870

10 Kelara 43,95 5,86 5.524 27.967

11 Rumbia 58,30 7,78 5.260 22.409

Jumlah 749,79 100,00 40.184 172.604

Sumber: BPS 2008; dan sumber-sumber lain.

4. Kabupaten Bone

Kabupaten Bone merupakan salah satu kabupaten di pesisir timur Propinsi

Sulawesi Selatan yang berjarak sekitar 174 km dari Kota Makassar. Secara

astronomis letak dalam posisi antara 4013’5 o 06 Lintang Selatan dan antara

119 0 42’12”- 120 0 40” Bujur Timur dengan batas-batas wilayah, sebelah utara

berbatasan dengan Kabupaten Wajo dan Soppeng, Sebelah Selatan berbatasan

dengan Kabupaten Sinjai dan Gowa, Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk

Bone, dan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bone.

Luas wilayah Kabupaten Bone tercatat 4.559.00 km 2 yang meliputi 27

Kecamatan, merupakan salah satu sentra wilayah penghasil jagung di Sulawesi

Selatan, dengan produksi sebesar 40.370 ton dengan luas panen 170.388 Ha

(Tabel 13).


Tabel 13. Luas, Persentase Luas Kecamatan, Luas Panen, dan Produksi

Jagung Kabupaten Bone Tahun 2008

No Kecamatan Luas

(Ha)

Persentase

(%)

Luas

Panen (Ha)

Produksi

(Ton)

01 Bontocani 463,35 10,16 112 299

02 Kahu 189,90 4,16 1.031 4.593

03 Kajuara 124,13 2,72 2.194 6.043

04 Salomekko 84,91 1,86 407 1.506

05 Tonra 200,32 4,39 199 673

06 Patimpeng 130,47 2,86 629 2.439

07 Libureng 344,25 7,55 1.541 8.431

08 Mare 263,50 5,78 692 3.484

09 Sibulue 155,80 3,42 1.202 4.654

10 Cina 147,20 3,24 1.312 5.885

11 Barebbo 114,20 2,50 2.182 6.673

12 Ponre 293,00 6,43 888 2.415

13 Lappariaja 138,00 3,03 2.192 5.856

14 Lamuru 208,00 4,56 1.866 4.836

15 Tellu Limpoe 318,10 6,98 628 1.154

16 Bengo 164,00 3,60 759 2.448

17 Ulaweng 161,67 3,55 2.000 5.837

18 Palakka 115,32 2,53 1.086 5.459

19 Awangpone 110,70 2,43 1.188 4.570

20 Tellu Siattinge 159,30 3,49 5.746 30.978

21 Amali 119,13 2,61 4.169 22.770

22 Ajangale 139,00 3,05 2.448 11.734

23 Dua boccoe 144,90 3,18 3.463 18.089

24 Cenrana 143,60 3,15 452 1.537

25 Tanete R. barat 53,68 1,18 914 4.295

26 T.Riattang 23,79 0,52 399 1.881

27 T. R.Timur 48,88 1,07 671 1.849

Jumlah 4.559.00 100,00 40.370 170.388

Sumber: BPS 2008; dan sumber-sumber lain.


5. Kabupaten Gowa

Wilayah administrasi Kabupaten Gowa antara 12 0 33, 19’ hingga 13 0 15.17’

Bujur timur dan 5 0 5’ hingga 5 0 34.7’ Lintang Selatan. Berada di daerah selatan dari

Sulawesi Selatan, di sebelah utara berbatasan dengan Kota Makassar dan

Kabupaten Maros.

Bulukumba dan Bantaeng.

Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai,

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten

Takalar dan Jeneponto sedangkan bagian barat dengan Kota Makassar dan

Takalar. Wilayah Kabupaten Gowa terdiri dari 18 kecamatan dan 167

desa/kelurahan dengan luas sekitar 1.883,33 km 2 atau sama dengan 3,01% dari

luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

Merupakan salah satu sentra wilayah

penghasil jagung di Sulawesi Selatan dengan luas lahan 37.036 dengan produksi

177.245 ton (Tabel 14).

Tabel 14. Luas, Persentase Luas Kecamatan, Luas panen dan Produksi

Kabupaten Gowa Tahun 2008

No Kecamatan Luas

(Km 2 )

Persentase

(%)

Luas

Panen (Ha)

Produksi

(Ton)

01 Bontompo 30,39 1,61 357 1.780

02 Bontonompoi

Selatan

29,24 1,55 1.835 9.182

03 Bajeng 60,09 3,19 354 1.771

04 Bajeng Barat 19,04 1,01 115 575

05 Pallangga 48,24 2,56 251 1.256

06 Barombong 20,67 1,10 93 457

07 Sombaopu 28,09 1,49 217 1.079

08 Bontomarannu 52,63 2,79 2.010 10.050

09 Pattalassang 84,96 4,51 406 2.030

10 Parangloe 22126 11,75 1.226 6.141

11 Manuju 91,90 4,88 1.018 5.093

12 Tinggimoncong 142,87 7,59 789 3.943

13 Tombolo Pao 251,82 13,37 1.101 5.507

14 Parigi 132,76 7,05 366 1.826

15 Bungaya 175,53 9,32 4.370 21.869

16 Bontolempangan 142,46 7,56 3.019 15.080

17 Tompobulu 132,54 7,04 8.008 40.041

18 Biringbulu 218,84 11,62 12.180 60.921

Jumlah 1.883,33 100,00 37.036 188.596

Sumber: BPS 2008; dan sumber-sumber lain.


B. Keragaan Jagung Lokasi Penelitian dan Sasaran Produksi Sulawesi

Selatan Tahun 2009

Berdasarkan data lima tahun terakhir (2004–2008), produksi jagung di

Sulawesi Selatan, khususnya pada lima kabupaten (Pinrang, Bantaeng, Jeneponto,

Bone, dan Gowa) lokasi penelitian menunjukkan fluktuasi produksi, seperti yang

ditunjukkan pada Tabel 15 dan Gambar 5.

Tabel 15. Produksi Jagung Kabupaten Pinrang, Bantaeng, Jeneponto,

Gowa tahun 2004 - 2008

Bone dan

Produksi (ton)

No Kabupaten

2004 2005 2006 2007 2008

1 Pinrang 1.050 2.397 1.642 8.594 13.718

2 Bantaeng 127.211 138.071 96.038 156.958 177.748

3 Jeneponto 129.179 123.046 164.290 147.393 172.604

4 Bone 67.530 95.571 71.942 129.314 170.388

5 Gowa 116.938 103.636 129.745 175.308 188.596

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sul-Sel 2009.


Pruduksi (ton)

210,000

195,000

180,000

165,000

150,000

135,000

120,000

105,000

Pinrang

Bantaeng

Jeneponto

Bone

Gowa

129,179

127,211

116,938

138,071

123,046

103,636

164,290

129,645

96,038

175,303

152,958

147,393

129,314

188,596

177,748

172,604

170,630

90,000

75,000

67,530

95,571

71,942

60,000

45,000

30,000

15,000

1,050 2,397 1,642

8,594

13,718

0

2004 2005 2006 2007 2008

Tahun

Gambar 5. Keragaan Produksi Jagung Kabupaten Pinrang, Bantaeng,

Jeneponto, Bone, dan Gowa Tahun 2004- 2008

Berdasarkan data pada Tabel 15 dan Gambar 5 menunjukkan terjadinya

fluktuasi produksi dan terjadi peningkatan produksi pada dua tahun terakhir

(2007-2008). Keberhasilan ini perlu diikuti dengan upaya-upaya untuk

mempertahankan dan meningkatkan produksi secara berkesinambungan, guna

mewujudkan target produksi yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Sulawesi

Selatan.

Peningkatan produksi

tersebut merupakan hasil dari peningkatan luas

panen, hasil per hektar dan peningkatan intensitas tanam. Peningkatan hasil per

hektar disebabkan karena adanya penerapan teknologi yang lebih baik melalui

kegiatan intensifikasi. Dengan demikian, masih terbuka peluang melalui berbagai

upaya peningkatan produksi, misalnya peningkatan produktivitas dan ekstensifikasi

dengan meminimalkan permasalahan yang selama ini menjadi kendala

peningkatan produksi, misalnya penggunaan benih unggul yang masih rendah di


kalangan petani, baik kuantitas maupun kualitas; terbatasnya ketersediaan sarana

dan prasarana penampungan hasil pada sentra produksi; dan belum optimalnya

pemanfaatan teknologi pengolahan pasca panen jagung di tingkat petani dan

berbagai tantangan lain, seperti terjadinya konversi dan degradasi lahan subur;

semakin terbatasnya ketersediaan air pengairan dan sumber air; perubahan iklim

akibat pemanasan global; banyaknya infrastruktur pertanian yang rusak, terutama

prasarana irigasi dan pendangkalan bendungan; sempitnya kepemilikan lahan

usaha tani; masih kurangnya akses kredit modal usaha bagi petani; adanya

kecendrungan meningkatnya gangguan hama penyakt; dan semakin

meningkatnya harga sarana produksi, Alsintan, energi dan upah tenaga kerja tinggi,

di sisi lain modal petani terbatas (DPTPSS, 2008).

Berdasarkan data luas panen, produktivitas, dan produksi jagung Sulawesi

Selatan tahun 2007 dan 2008 (Tabel 1), dan target produksi 1, 5 juta pada tahun

2009, maka pada tahun 2009 diperlukan peningkatan luas panen 49.656 hektar

(14,84%), produktivitas 2,89 kuintal/hektar (6,45%), dan peningkatan produksi

303.936 ton (20,26%), seperti pada Gambar 6 berikut :

KONDISI 2007

Luas panen : 262.436 Ha

Produktivitas : 36.96 Ku/Ha

Produksi : 969.085 Ton

KONDISI 2008

Luas panen : 284.964 Ha

Produktivitas : 41,94 Ku/Ha

Produksi : 1.196.064 Ton

KONDISI YANG

DIHARAPKAN 2009

Luas panen

: 334.620 Ha

Produktivitas : 44,83 Ku/Ha

Produksi

: 1.5 Juta Ton PK

PENINGKATAN

Luas panen : 49.656 Ha (14,84%)

Produktivitas : 2,89 Ku/Ha (6,45%)

Produksi : 303.936 Ton

(20,26%)

Gambar 6. Sasaran Produnnksi Jagung Sulawesi Selatan Tahun 2009

Gambar 6. Sasaran Produksi Jagung Sulawesi Selatan Tahun 2009


Untuk memenuhi sasaran produksi jagung Sulawesi Selatan 1,5 juta ton

pipilan kering tahun 2009, maka diprakirakan diperlukan luas tanam 352.232

hektar, dengan target luas panen 334.620 hektar (95% dari luas tanam, seperti

pada Gambar 6). Jika setiap hektar dibutuhkan 15 kg benih, maka diperlukan

sekitar 6.283.480 ton benih hibrida. Kebutuhan pupuk untuk jagung adalah urea

± 3,3 ton/ha, SP-36 ± 10 ton/ha, KCl ± 20 ton/ha, dan ZA ± 20 ton/ha, maka

dengan luas tanam 352.232 untuk provinsi Sulawesi Selatan dibutuhkan masingmasing

pupuk urea : 839.932 ton, 35.223 ton, KCl 17.612 ton, dan ZA 17.612 ton.

Apabila harga jagung di tingkat petani rata-rata Rp 2.200/kg, maka kontribusi

program peningkatan produksi jagung 1,5 juta ton pipilan kering terhadap

perputaran uang pada 23 Kabupeten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009

sebesar Rp 3.300.000.000.- (Tiga miliar tiga ratus juta rupiah).

C. Karakterisitik Responden Petani Jagung

1. Umur.

Tingkat umur petani jagung sangat bervariasi, dan salah satu faktor yang

berpengaruh dalam meningkat produksi tanaman jagung adalah umur petani.

Semakin tinggi umur sesorang maka kemampuan untuk melakukan suatu usaha

akan semakin berkurang, jika dibandingkan dengan sesorang yang umurnya jauh

lebih muda. Variasi umur dari masing-masing responden petani jagung dapat

dilihat dalam Tabel 16.

Tabel 16. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Umur

No Umur ( Tahun) Frekuensi (Orang) Persentase (%)

1 < 31 38 19,0

2 31 - 40 68 34,0

3 41 - 50 61 30,5

4 51 - 60 23 11,5

5 > 60 10 5,0

Jumlah 200 100,00

Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2009.


Tabel 16 menunjukkan bahwa yang melakukan budidaya tanaman jagung

umumnya dilakukan tenaga kerja yang masih produktif. Standar produktif yang

berlaku di Indonesia yang dikemukakan oleh Wirosuharjo (1981) bahwa umur yang

produktif adalah 15 sampai 64 tahun. Akan tetapi jumlah petani jagung yang

berumur 31 sampai 40 tahun memiliki persentase yang paling tinggi yaitu

sebanyak 68 orang atau 34 persen, kemudian berikut pada umur 41 sampai 50

tahun berjumlah 61 orang atau 30,5 persen, sedangkan yang paling rendah

persentasenya yaitu berada pada umur lebih dari 60 tahun yang jumlah petaninya

10 orang atau 5,0 persen.

2. Tingkat Pendidikan.

Tingkat produktifitas kerja seseorang dalam suatu usaha salah satunya

sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang dimiliki. Individu yang memiliki tingkat

pendidikan yang lebih tinggi biasanya lebih mudah dalam menjalankan suatu

usaha karena sudah memiliki perencanaan yang matang mengenai resiko yang

akan ditanggung serta keuntungan yang akan didapatkan. Tingkat pendidikan dari

masing-masing petani jagung dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Pendidikan Frekwensi

Persentase

(Orang)

(%)

1 Sarjana 4 2,0

2 SMA 54 27,0

3 SMP 57 28,5

4 SD 85 42,5

5 Tidak Sekolah 0 0

Jumlah 200 100,00

Sumber : Data Primer Diolah, 2009.

Tabel 17 menunjukkan persentase pendidikan petani jagung pada tingkat

SD yang paling tinggi dengan jumlah 85 orang atau persentase 42,5 persen,

kemudian disusul dengan tingkat SMP sebanyak 57 orang atau 28,5 persen.


Sedangkan tingkat pendidikan yang paling rendah petani jagung yaitu sarjana

yang hanya berjumlah 4 orang dengan persentase 2,50 persen.

3. Jumlah Tenaga Produktif

Tabel 18 menunjukkan persentase jumlah tenaga produktif petani jagung

yang paling tinggi yang memiliki masing-masing indikator jumlah tenaga produktif

(1-2) dan (3-4) dengan jumlah 87 orang atau 43,5 persen. Sedangkan yang paling

rendah adalah Jumlah tenaga produktif (7-8) dan (9-10) dengan jumlah 3 orang

atau 1,5 persen.

Tabel 18. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tenaga Produktif

No Tenaga Produktif Frekwensi Persentase

(Orang)

(Orang)

(%)

1 1 - 2 87 43,5

2 3 - 4 87 43,5

3 5 - 6 20 10,0

4 7 - 8 3 1,5

5 9 - 10 3 1,5

Jumlah 200 100,00

Sumber : Data Primer Diolah, 2009.

4. Pengalaman Usaha Tani Jagung.

Pengalaman merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung

pengembangan usaha tani jagung. Pengalaman dalam usaha tani jagung

merupakan faktor yang cukup menunjang seorang petani dalam meningkatkan

produktifitas dan kemampuan kerjanya dalam usaha tani jagung. Disamping itu,

pengalaman dalam usaha tani jagung juga sangat memberikan dampak terhadap

tingkat pendidikan yang cukup, dan akan terampil dalam mengelola usaha.

Pengalaman usaha tani jagung rata-rata masih rendah hal ini dapat dilihat pada

Tabel 19.


Tabel 19. Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Usaha

Tani Jagung

No Pengalaman Usaha Tani

(tahun)

Frekuensi

(Orang)

Persentase

(%)

1 1 - 5 83 41,5

2 6 - 10 54 27,0

3 11 - 15 20 10,0

4 16 - 20 22 11,0

5 > 21 21 10,5

Jumlah 200 100,00

Sumber : Data Primer Diolah, 2009.

Tabel 19 menunjukkan bahwa umumnya petani jagung belum memiliki

pengalaman yang cukup lama dalam usaha tani jagung, persentase pengalaman

usaha tani jagung yang paling tinggi berada pada 1 sampai 5 tahun sebanyak 83

orang dengan persentase sebesar 41,5 persen, selanjutnya pengalaman usaha

tani dari rentang 6 sampai 10 tahun berjumlah 54 orang dengan persentase 27

persen.

Sedangkan yang terendah adalah petani jagung yang memiliki

pengalaman selama 21 ke atas yang berjumlah 21 orang atau 10,5 persen.

5. Skala Usaha

Skala usaha tani jagung yang dikembangkan oleh masing-masing petani

bervariasi, hal tersebut ditunjukkan pada Tabel 20.

Tabel 20. Karakteristik Responden Berdasarkan Skala Usaha

No Skala Usaha (ha) Frekwensi Persentase

(Orang)

(%)

1 < 0,5 75 37

2 0,6 - 1 64 34

3 1,1 - 1,6 24 12,0

4 1,7 - 2,2 25 12,5

5 > 2,3 7 3,5

Jumlah 200 100,00

Sumber : Data Primer Diolah, 2009.


Berdasarkan Tabel 20 dapat dijelaskan bahwa rata-rata petani jagung

di Sulawesi Selatan memiliki lahan yang sempit. Adapun skala usaha yang paling

tinggi dari data distribusi frekuensi < 0,5 sebanyak 75 orang atau persentase 37 %,

kemudian disusul pada skala usaha 0,6-1 dengan jumlah petani 64 orang

persentase 34 %. Selanjutnya skala usaha >2,3 yang paling rendah yaitu 7 orang

atau 3,5 %.

6. Produksi

Produksi jagung yang diperoleh petani jagung yang diperoleh masingmasing

petani bervariasi, hal tersebut ditunjukkan pada Tabel 21.

Tabel 21. Karakteristik Responden Berdasarkan Produksi yang

Dihasilkan

No Produksi Frekwensi Persentase

(kg)

(Orang)

(%)

1 9000 32 16

Jumlah 200 100,00

Sumber : Data Primer Diolah, 2009.

Produksi yang dihasilkan sangat bervariasi tergantung pada luas lahan

atau skala usaha yang dimiliki, akan tetapi rata-rata produktifitas yang dihasilkan

sangat rendah. Berdasarkan Tabel 20 menunjukkan bahwa produksi (5000 - 6900

kg) yang tertinggi dihasilkan oleh 62 petani jagung atau sekitar 31 persen dengan

skala usaha (1,1 - 1,6 ha), kemudian disusul produksi (3000 - 4900 kg) yang

dihasilkan 36 orang persentase 18 persen. Sedangkan yang paling rendah adalah

produksi (> 9000) yang hanya diperoleh petani jagung sekitar 32 orang atau 16

persen dari 200 populasi yang dijadikan sampel.


7. Pendapatan Per Tahun

Karakteristik petani jagung berdasarkan indikator rata-rata penghasilan

dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan per tahun

No

Pendapatan

Frekwensi Persentase

(Rp)

(Orang)

(%)

1 < 6.900.000 73 36,5

2 7.000.000 - 9.900.000 52 26,0

3 10.000.000 - 12.900.000 36 18,0

4 13.000.000 - 15.000.000 8 4,0

5 > 15.000.000 31 15,0

Sumber : Data Primer Diolah, 2009.

Jumlah 200 100,00

Berdasarkan Tabel 22, dapat dijelaskan bahwa rata-rata penghasilan

petani jagung di Sulawesi Selatan per tahun yaitu Rp < 6.900.000 berjumlah 73

orang dengan persentase 36,5 persen, kemudian diikuti oleh 52 responden atau

26,0 persen yang berpenghasilan rata-rata Rp. 7.000.000 sampai Rp.

9.900.000. Selanjutnya hanya 8 orang atau 4,0 persen petani yang memiliki

penghasilan Rp. 13.000.000-15.000.000 dan 31 orang 15 persenyang memiliki

penghasilan Rp. >15.000.000. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata penghasilan

petani jagung di Sulawesi Selatan masih tergolong rendah karena rata-rata

luas/skala usaha yang dimiliki sangat terbatas dan tingkat pengelolaan yang

bersifat tradisional sehingga produktivitasnya masih rendah.

D. Hasil Uji Kecocokan Model

1. Uji kecocokan seluruh model

Uji kecocokan dari seluruh model atau overall model fit berkaitan dengan

analisis terhadap GOP (Goodness Of Fit) statistik dengan menggunakan program

LISREL. 8.8 ini dapat dilihat pada Tabel 23.


Tabel 23. Uji GOF (Goodness Of Fit).

Target-Tingkat Hasil

Ukuran GOF

Kecocokan Estimasi

Chi- Square Nilainya kecil 55.80

P > 0,05 0,0029

NCP Nilai yang kecil 25.80

Interval Interval yang sempit 8.59

50.82

RMSEA < 0,08 0,066

P ( close fit ) < 0,05 0,16

ECVI

AIC

CAIC

Nilai yang kecil dan

Dekat dengan ECVI

saturate

Nilainya yang kecil

dan dekat dengan

AIC Saturate

Nilai yang Kecil dan

dekat dengan CAIC

saturate

M* 0,55

S* 0,6

I* 0, 53

M* 105.80

S* 110.00

I* 126.26

M* 213.26

S* 346.41

I* 169.24

Tingkat

Kecocokan

Kurang Baik

Kurang Baik

Baik

Baik

Baik

Kurang Baik

NFI > 0.90 0.46 Kurang Baik

NNFI > 0.90 0.32 Kurang Baik

CFI > 0.90 0.31 Kurang Baik

IFI > 0.90 0.64 Kurang Baik

RFI > 0.90 0.19 Kurang Baik

CN >200 176.74 Kurang Baik

GFI > 0.90 0.95 Baik

Sumber : Data Primer Diolah, 2009.

Berdasarkan Tabel 23 dapat dilihat bahwa hasil analisis GOF bahwa

terdapat 9 ukuran Goodness Of Fit (GOF) yang menunjukkan kecocokan yang

kurang baik dan 4 ukuran yang menunjukkan kecocokan yang baik. Nilai chisquare

p –value sebesar 0.0029 < 0,05 cenderung lebih kecil, maka untuk

memperbaiki kerakteristik chi-square tersebut maka harus dilihat nilai RMSEA dan

DFI. Suatu model dikatakan Fit atau cocok dengan data apabila model mampu


menghasilkan nilai RMSEA yang kecil mendekati nol. Para ahli merekomendasikan

nilai RMSEA maksimum sebesar 0,05 sampai 0,08 sebagai ukuran dasar dan nilai

0,90 sebagai batas minimal untuk mengatakan model Fit dengan data (Kusnendi,

2008). Berdasarkan nilai RMSEA 0,90 maka dapat

disimpulkan bahwa kecocokan dari keseluruhan model.

2. Uji Validitas.

a. Manajemen Produksi (MP)

Uji validitas Ketersediaan Benih Unggul (X1), terhadap variabel endogen

Manajemen Produksi (MP) ditunjukkan pada Tabel 24.

Tabel 24. Uji Validitas Variabel Ketersediaan Benih Unggul (X1) terhadap Variabel

Endogen Manajemen Produksi (MP)

Variabel Endogen

MP

Kesimpulan

Variabel Teramati SLF*>0,5 Nilai T>2 Validitas

Ketersediaan

Benih Unggul (X1)

0,86 3,06 Valid

Sumber : Data Primer Diolah, 2009

Berdasarkan

Tabel 24 dapat dijelaskan bahwa besarnya nilai loading

faktor pada variabel Ketersediaan Benih Unggul (X1) terhadap variabel endogen

Manajemen Produksi (MP), nilai loading yaitu 0,86 untuk Ketersediaan Benih

Unggul (X1) yang berarti secara statistik valid dalam mengukur Manajemen

Produksi (MP) karena lebih besar dari nilai standar loading yaitu >0,5, dan nilai T

(T Value) juga lebih besar yaitu 3,06 dari nilai standar T (>2). Hal ini menunjukkan

bahwa kesimpulan validitas untuk tahapan ini adalah baik atau valid.

b. Faktor Penunjang (FP)

Uji validitas sarana prasarana Penampungan Hasil (X2), terhadap variabel

endogen Faktor Penunjang (FP), ditunjukkan pada Tabel 25.


Tabel 25. Uji Validitas Variabel Penampungan Hasil (X2) terhadap Variabel

Endogen Faktor Penunjang (FP)

Variabel Laten

Variabel Teramati

FP

SLF*>0,5 Nilai T>2

Kesimpulan

Validitas

Penampungan Hasil (X2) 2,02 2,31 Valid

Sumber : Data Primer Diolah, 2009

Berdasarkan

Tabel 25 dapat dijelaskan bahwa besarnya nilai loading

factor pada variabel sarana prasarana Penampungan Hasil (PNH) terhadap

variabel endogen Faktor Penunjang (FP), nilai loading yaitu 2,02 untuk sarana

prasarana Penampungan Hasil (X2) yang berarti secara statistik valid atau

signifikan dalam mengukur Faktor Penunjang (FP) karena lebih besar dari nilai

standar loading yaitu >0,5, dan nilai T (T Value) juga lebih besar yaitu 2,31 dari

nilai standar T (>2).

tahapan ini adalah baik atau valid.

Hal ini menunjukkan bahwa kesimpulan validitas untuk

c. Peningkatan Produksi (PP)

Berdasarkan Tabel 26 dapat dijelaskan bahwa besarnya nilai loading

faktor pada variabel eksogen Peningkatan Produksi (PP), nilai loading yaitu 1,18

untuk indikator Produksi Meningkat (Y1) yang berarti secara statistik valid dalam

mengukur Peningkatan Produksi (PP) karena lebih besar dari nilai standar loading

yaitu >0,5, dan nilai T (T Value) juga lebih besar yaitu 8,15 dari nilai standar T

(>2). Hal ini menunjukkan bahwa kesimpulan validitas untuk tahapan ini adalah

baik atau valid. Uji validitas variabel teramati (Y1) terhdap variabel eksogen

Peningkatan {roduksi (PP) ditunjukkan pada Tabel 25.

Tabel 26. Uji Validitas Variabel Teramati (Y) terhadap variabel Eksogen

Peningkatan Produksi (PP)

Variabel Eksogen

PP

Kesimpulan

Variabel Teramati

SLF*>0,5 Nilai T>2

Validitas

Produksi meningkat (Y3) 1,18 8,15 Valid

Sumber : Data Primer Diolah, 2009


d. Pengelolaan Pasca Panen (PPn)

Uji validitas

Sortasi/Pengkelasan Mutu (Y4) dan Pengeringan (PNG)

terhadap variabel endogen Pengelolaan Pasca Panen (PPn) ditunjukkan pada

Tabel 27.

Tabel 27. Uji Validitas Variabel Teramati (Y) terhadap Variabel Eksogen

Pengolahan Pasca Panen (PPn)

Variabel Endogen

PPn

Kesimpulan

Variabel Teramati SLF*>0,5 Nilai T>2 Validitas

Sortasi/Pengkelasan

Mutu (Y4)

0,68 0,52 Valid

Pengeringan (Y5) 0,22 6,80 Tidak Valid

Sumber : Data Primer Diolah, 2009

Berdasarkan Tabel 27 dapat dijelaskan bahwa untuk variabel

Sortasi/Pengkelasan Mutu (Y4) besarnya nilai loading faktor terhadap variabel

eksogen Pengelolaan Pascapanen (PPn), nilai loading yaitu 0,68 untuk

Sortasi/Pengkelasan Mutu (Y4) yang berarti secara statistik valid dalam mengukur

Pengolahan Pascapanen (PPn) karena lebih besar dari nilai standar loading yaitu

>0,5, walaupun nilai T (T Value) lebih kecil yaitu 0,52 dari nilai standar T (>2).

Hal ini menunjukkan bahwa kesimpulan validitas untuk tahapan ini adalah baik

atau valid.

Untuk variabel Pengeringan (Y5) nilai loading 0,22 yang berarti secara

statistik kurang baik dalam mengukur Pengolahan Pascapanen (PPn) karena nilai

loding lebih kecil dari nilai standar loding yaitu (>0,5, ) walaupun nilai value lebih

besar 6,80 dari nilai standar T (>2).

Hal ini menunjukkan bahwa kesimpulan

validitasi untuk variabel Pengeringan (Y2) untuk mengukur variabel eksogen

Pengolahan Pascapanen (PPn) adalah kurang baik atau tidak valid.

c. Analisis Model Struktur Lengkap

Hasil pengujian dengan model persamaan struktural (structural equation

modeling) dengan program LISREL 8,8 menunjukkan bahwa seluruh kriteria yang

digunakan untuk menilai kesesuaian model telah memenuhi kriteria , oleh karena

itu model dapat diterima karena adanya kesesuaian antara model dengan data.


Dengan demikian, kofisien jalur dari masing-masing hubungan antara variabel

yang digunakan dalam penelitian disajikan untuk menguji hipotesis. Hasil analisis

SEM tahap akhir dapat dilihat pada Gambar 5, nilai koofisien jalur dapat dilihat

pada Tabel 28.

Tabel 28. Hasil Analisis Uji Variabel Laten Faktor Penunjang (FP), Manajemn

Produksi (MP), Peningkatan Produksi (PP) dan Pengolahan

Pascapanen (PPn).

No Variabel Laten Koefisien T Hitung Kesimpulan

Jalur

1 MP (X1) - PP 0,97 5,8 Signifikan

2 FP (X2) - PP 0,11 1,90 Tidak Signifikan

3 MP(X1)+FP(X2)–PP-PPn 1,08 7,70 Signifikan

Sumber: Data Primer Diolah, 2009

X1

0,86

MP

0,97

Y1

1,18

PP

0,043

PPn

0,68

Y4

0,096

X2

2,02

FP

0,11

Y5

0,22

Gambar 7. Diagram Path Analisis SEM

1. Pengujian Hipotesis Satu (H1)

Hasil Perhitungan menunjukkan bahwa variabel laten Manajemen

Produksi/Ketersediaan Benih Unggul (X1) memiliki pengaruh yang signifikan dan

positif terhadap terhadap variabel laten Peningkatan Produksi (PP). Hal ini terlihat

dari koofisien jalur yang bertanda positif 0,97 dengan nilai t-Velue 5,8. Nilai ini


lebih besar dengan yang disyaratkan yaitu dengan koefisien jalur lebih besar dari

0,50 sedangkan t-value lebih besar dari 2 dengan demikian hipotesis yang

menyatakan bahwa Manajemen Produksi/Ketersediaan Benih Unggul (X1)

berpengrauh signifikan terhadap Peningkatan Produksi (PP) telah terbukti.

Besarnya pengaruh langsung dari Ketersediaan Benih Unggul (X1) terhadap

Peningkatan Produksi (PP) sebesar 0,97 artinya bahwa setiap peningkatan

Ketersediaan Benih Unggul (X1) maka akan meningkatkan Peningkatan Produksi

(PP) sebesar 0,97 satuan.

2. Pengujian Hipotesis Dua (H2)

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa variabel Laten Faktor

Penunjang/Sarana dan prasarana Penampungan Hasil (X2) memiliki pengaruh

yang tidak signifikan terhadap variabel laten Peningkatan Produksi (PP). Hal ini

terlihat dari koefesien jalur dengan nilai 0,11 dan nilai t-value 1,90. Nilai ini lebih

kecil dengan yang disyaratkan yaitu kefesien jalur yang lebih besar dari 0,50

sedangkan t-velue lebih besar dari 2 dengan demikian hipotesis yang menyatakan

bahwa Faktor penunjang Penampungan Hasil (X2) berpengaruh signifikan

terhadap Peningkatan Produksi (PP) tidak terbukti, dimana nilai koefesien jalur

0,11 lebih kecil dari standar koefisen jalur yaitu 0,50.

3. Pengujian Hipotesis Tiga (H3)

Hasil Perhitungan menunjukkan bahwa variabel laten Manajemen

Produksi/Ketersediaan Benih Unggul (X1) dengan Faktor

Penunjang/Penampungan Hasil (X2) berpengaruh signifikan terhadap variabel

laten Peningkatan Produksi (PP). Hal ini terlihat dari koofisien jalur yang bertanda

positif 1,08 dengan nilai t-Velue 7,70. Nilai ini lebih besar dengan yang

disyaratkan yaitu koefisien jalur lebih besar dari 0,50 sedangkan t-value lebih

besar dari 2 dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa Manajemen

Produksi/Ketersediaan Benih Unggul (X1) dan Faktor Penunjang/Penampungan

Hasil (X2) secara bersama-sama berpenrauh signifikan terhadap Peningkatan

Produksi (PP) telah terbukti. Besarnya pengaruh langsung dari Ketersediaan


Benih Unggul (X1) dan Sarana-Prasarana Penampungan Hasil (X2) terhadap

Peningkatan Produksi (PP) sebesar 1,08 artinya bahwa setiap peningkatan

Ketersediaan Benih Unggul (X1) dan Sarana dan Prasaran Penampungan Hasil

(X2), akan meningkatkan Peningkatan Produksi (PP) sebesar 1,08 satuan.

D. Analisis Pemecahan Masalah

a. Permasalahan Pertama

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel Manajemen

Produksi terutama indikator Ketersediaan Benih unggul adalah faktor yang

berpengaruh terhadap peningkatan produksi jagung di Sulawesi Selatan.

Hasil analisis pada Tabel 24, 25, 26, dan 27 menunjukkan bahwa indikator

setiap variabel Manajemen Produksi Ketersediaan benih unggul, Faktor Penunjang

Penampungan hasil, Peningkatan Produksi, dan Pengelolaan Pasca Panen jagung

yang dipakai dalam model adalah valid/signifikan, kecuali indikator

Sortasi/Pengkelasan Mutu terhadap produksi dan pengelolaan pasca panen

jagung di Sulawesi Selatan. Dapat disimpulkan bahwa untuk memecahkan

masalah peningkatan produksi dan pengelolaan pasca panen jagung, pemerintah

harus mengatasi/menanggulangi masalah perbenihan yang terkait lima tepat, yaitu

tepat waktu, jenis, mutu, jumlah, dan tersedia dilokasi dengan harga yang

terjangkau oleh petani. Masalah yang paling sering menjadi hambatan petani di

daerah dalam aspek perbenihan tersebut dari lima aspek tersebut adalah tidak

tersedia benih di pasaran pada saat petani membutuhkan benih dan harga benih

yang relatif mahal di kalangan petani jagung. Masalah perbenihan ini sangat

penting karena merupakan komponen produksi hulu yang mempunyai peranan

strategis dalam tiga hal, yaitu peningkatan kuantitas hasil persatuan luas,

peningkatan mutu hasil, dan nilai ekonomis produk jagung. Ketiga hal tersebut

secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap peningkatan

kesejahteraan petani. Karena begitu pentingnya peranan benih dalam pertanian,

produksi dan distribusi benih sudah menjadi industri dan bisnis yang sangat besar.

Dengan demikian, untuk peningkatan produksi jagung di Sulawesi Selatan


pembenahan dari aspek perbenihan tersebut mutlak harus diperhatikan.

Kebijaksanaan perbenihan jagung pada masa akan datang, seyogyanya

memanfaatkan dan memperkuat sistem perbenihan yang telah ada dengan

semakin meningkatkan partisipasi swasta disertai bimbingan, pembinaan, dan

pengawasan mutu yang intensif oleh Pemerintah.

b. Permasalahan Kedua

Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis SEM dengan

perangkat lunak Excel 2007, SPSS 11 dan Lisrel 8.8, Faktor penunjang

ketersediaan Sarana dan prasarana Penampungan Hasil (PNH) jagung

berpengaruh signifikan terhadap Peningkatan Produksi (PP), terutama pada

daerah sentra produksi jagung.

Hasil tersebut menunjukkan/membuktikan bahwa model yang diajukan,

yang bertumpu pada sarana-prsarana penampungan hasil adalah model yang

berpengaruh terhdap peningkatan produksi dan pengelolaan pasca panen jagung

di Sulawesi Selatan. Selama ini penyimpanan jagung dilakukan dalam kapasitas

gudang yang terbatas dengan teknik penyimpanan yang kurang memadai dari sisi

penjagaan mutu, keamanan maupun masa simpan. Tanpa memperbaiki

penampungan dengan teknologi yang memadai, maka pengembangan mutu

jagung untuk orientasi pasar, baik pasar domestik maupun untuk ekspor ke pasar

internasional tidak akan tercapai. Selama ini tersedia fasilitas penampungan

berupa Silo-silo di daerah, tetapi tidak dimanfaatkan secara optimal oleh petani

karena jarak yang cukup jauh antara tempat penampungan /Silo-silo dengan lahan

petani dimana ia melakukan budidaya jagung.

c. Permasalahan Ketiga

Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator pasca panen, yaitu

Sortasi/Pengkelasan mutu (Y4) berpengaruh signifikan terhadap teknologi

Pengelolaan Pasca Panen (PPn) jagung. Hal tersebut dapat dipahami karena

aspek tersebut sangat berpengaruh terhadap mutu jagung yang dihasilkan setelah

panen. Sortasi dan pengkelasan mutu jagung, disortir ke dalam kelas-kelas mutu


yang disesuaikan dengan standar permintaan pasar, sedangkan pengeringan

adalah menurunkan kadar air untuk meningkatkan daya simpan. Teknologi

pengeringan selama ini dilakukan secara tradisional dengan mengandalkan teknik

penjemuran di bawah sinar matahari yang belalaskan terpal. Kebijaksanaan

penanganan pasca panen jagung terutama dalam memperbaiki penyimpanan

hasil panen diarahkan pada upaya mengurangi kehilngan hasil, baik secara

kualitas maupun kuantitas. Penanganan pasca panen bukan meningkatkan

produksi, tetapi menekan kehilangan hasil sehingga persediaan dapat ditingkatkan.

Pengalaman selama ini terjadi kehilangan hasil pada pasca panen sekitar 15% -

20%. Jadi, apabila kehilangan hasil dapat ditekan 1% saja, maka itu berarti

persediaan jagung meningkat 1%. Selanjutnya, strategi peningkatan produksi dan

pengelolaan pasca panen jagung di Sulawesi Selatan akan diuraikan lebih rinci

pada sub bab selanjutnya dengan analisis SWOT.

E. Strategi untuk Pengembangan Aspek-Aspek yang Mempangaruhi

Peningkatan Produksi dan Pengelolaan Pasca Panen Jagung di Sulawesi

Selatan

Untuk mengarahkan kebijakan dan program peningkatan produksi dan

pengelolaan pasca panen jagung, agar sasaran yang ditetapkan dapat dicapai,

maka perlu disusun strategi. Penyusunan strategi ini ditetapkan melalui tahapan

analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) (Lampiran 1), yang

mempengaruhi peningkatan produksi dan pengelolaan pasca panen jagung di

Sulawesi Selatan terhadap variabel Manajemen Produksi/Ketersediaan Benih

Unggul, Faktor Penunjang/Sarana dan prasarana Penampungsn Hasil,

Peningkatan Produksi (PP), dan Pengelolaan Pasca Panen (PPn) yang

diprioritaskan pengembangannya dari hasil analisis SEM serta data dan informasi

yang berkaitan dengan aspek tersebut.

Strategi-strategi pengembangan setiap aspek yang mempengaruhi

peningkatan produksi dan pengelolaan pasca panen jagung di Sulawesi Selatan

dari hasil analisis SEM dan SWOT tersebut adalah sebagai berikut :


a. Aspek Ketersediaan Benih

Table 28. Analisis SWOT Aspek Manajemen Produksi/Ketersediaan Benih

Unggul

Kekuatan (S) Kelemahan (W)

Pengetahuan petani

tentang benih unggul

cukup memadai **)

Harga benih unggul

masih tinggi **)

Jenis, mutu dan

Internal

Komitmen pemerintah jumlah benih masih

Provinsi/Kabupaten

terbatas *)

terhdap peningkatan

produksi jagung**)

Dukungan Tim teknis

Kerjasama

petani/kelompok

tani selama ini cukup

baik **)

Penggunaan benih

unggul masih rendah

*)

Ketersediaan benih

unggul dalam jumlah,

waktu yang tepat &

harga yang kurang

terjangkau petani *)

Permodalan petani

yang masih rendah

dalam pengadaan

Eksternal

benih unggul

Lemahnya

kelembagaan

perbenihan **)

Kurannya akses

permodalan petani

untuk membeli benih

unggul **)

Peluang (O) S-O W-O

Jagung memiliki potensi

pasar yang baik

(domestik & manca

negara)

Jagung sangat

dibutuhkan untuk pakan

ternak

Petani memiliki

keterampilan yang

memadai menerapkan

teknologi budidaya

sesuai perkembangan**)

Regulasi kelembagaan ,

perbenihan, permodalan

& Orientasi ekspor **)

Peningkatan bimbingan

dan penyuluhan kepada

petani tentang pentingnya

penggunaan benih unggul,

baik secara kuantitas

maupun kualitas

Penguatan kelembagaan

perbenihan di sentrasentra

produksi jagung

Peningkatan manajemen

produksi terutama

penyediaan benih unggul

untuk mendukung

peningkatan produksi dan

produktivitas jagung yang

berkelanjutan

Perbaikan kualitas

manajemen budidaya

untuk peningkatan

produksi dan mutu

jagung yang

dihasilkan agar dapat

menjadi sumber benih

pada penanaman

selanjutnya untuk

efisiensi pendanaan

petani

Peningkatan

dukungan

Dinas/Instansi terkait

dalam

pengadaan/pembelian

benih unggul pada

kelompok tani/petani

melalui bantuan kredit

lunak


ANCAMAN (T) S-T W-T

Tidak stabilnya harga Pembangunan pabrik

benih **)

pakan ternak hendaknya

Gangguan OPT &

didekatkan dengan

dampak penomena iklim

**)

Persaingan mutu benih

dari para produsen

benih **)

produsen jagung

Keterangan :

*) Hasil analisis data

**) Berbagai sumber

Strategi Pengembangan Manajemen Produksi/Ketersediaan Benih Unggul

Peningkatan bimbingan dan penyuluhan kepada petani tentang pentingnya

penggunaan benih unggul, baik secara kuantitas maupun kualitas

Penguatan kelembagaan perbenihan di sentra-sentra produksi jagung

Peningkatan manajemen produksi terutama penyediaan benih unggul

mendukung peningkatan produksi dan produktivitas jagung yang berkelanjutan

untuk

Perbaikan kualitas manajemen budidaya untuk peningkatan produksi dan mutu

jagung yang dihasilkan agar dapat menjadi sumber benih pada penanaman

selanjutnya untuk efisiensi pendanaan petani

Peningkatan dukungan Dinas/Instansi terkait dalam pengadaan/pembelian benih

unggul pada kelompok tani/petani melalui bantuan kredit lunak

Pembangunan pabrik pakan ternak hendaknya didekatkan dengan produsen

jagung.


. Aspek Sarana dan Prasarana Penampungan Hasil

Tabel 29. Analisis SWOT Aspek Penunjang/Sarana dan Prasarana

Penampungan Hasil

Kekuatan (S) Kelemahan (W)

Pemerintah Daerah Jumlah & kapasitas

Internal

semakin sadar pentingnya gudangan belum

pemberian kredit/pinjaman memadai di tingkat

bagi petani **)

petani **)

Penjagaan mutu, &

keamanan simpan

yang terbatas **)

Dukungan teknologi

penyimpanan masih

lemah **)

Aksesbilitas jalan

usaha tani kurang

mendukung ke tempat

penampungan *)

Masih kurangnya

akses kredit untuk

modal pembelian

benih

Eksternal

*)

Minimnya fasilitas

penyimpanan di

tingkat petani % masih

tradisional *)

Lokasi produksi

jagung menyebar &

jaraknya jauh dengan

lokasi penyimpanan &

angkutan mahal

Peluang (O) S-O W-O

Perbaikan

penampungan hasil **)

Pemberdayaan

Poktan/Gapoktan dalam

pengadaan

penampungan hasil

jagung **)

Tempat penyimpanan

ditempatkan dekat lokasi

produksi jagung

Peningkatan koordinasi

dan kerjasama antar aparat

Dinas Pertanian dengan

kelompok tani dalam hal

perencanaan, pengelolaan

penampungan hasil jagung

Peningkatan usaha-usaha

untuk peningkatan sarana

prasarana penampungan

hasil jagung

Perbaikan infrastruktur

untuk mempermudah

petani ke lokasi

penampungan hasil

jagung

Peningkatan dukugan

perbankan dalam

membantu petani

untuk pengadaan

fasilitas penampungan

hasil jagung


ANCAMAN (T)

Puncak panen jagung

pada saat curah hujan

tinggi, sehingga kualitas

jagung rendah

Perbedaan perencanaan

dan regulasi antar

daerah/kabupaten **)

S-T

Penciptaan iklim investasi

yang kondusif untuk

pembuatan

dan

penyewaan penampungan

hasil jagung

Strategi Pengembangan Faktor Penunjang/Sarana dan Prasarana

Penampungan Hasil

Tempat penyimpanan ditempatkan dekat lokasi produksi jagung

Peningkatan koordinasi dan kerjasama antar aparat Dinas Pertanian dengan

kelompok tani dalam hal perencanaan, pengelolaan penampungan hasil jagung

Peningkatan usaha-usaha untuk peningkatan sarana prasarana penampungan

hasil jagung

Optimalisasi pemanfaatan peralatan pasca panen di tingkat petani

Tempat penyimpanan ditempatkan dekat lokasi produksi jagung

Peningkatan koordinasi dan kerjasama antar aparat Dinas Pertanian dengan

kelompok tani dalam hal perencanaan, pengelolaan penampungan hasil jagung

Peningkatan usaha-usaha untuk peningkatan sarana prasarana penampungan

hasil jagung

Penciptaan iklim investasi yang kondusif untuk pembuatan dan penyewaan

penampungan hasil jagung terutama saat panen raya.


c. Aspek Pengelolaan Pasca Panen

Tabel 30. Analisis SWOT Aspek Pengelolaan Pasca Panen

Internal

Eksternal

Kekuatan (S)

Meningkatnya kesempatan

berusaha diversifikasi hasil

jagung **)

Penanganan pasca panen

yang lebih intensif *)

Kelemahan (W)

Belum intensifnya

penanganan pasca

panen jagung *)

Pengeringan masih

dilakukan secara

tradisional (sinar

matahari) *)

Masih terbatasnya

pengolahan hasil *)

Petani kutang memiliki

fasilitas pemipilan &

pengeringan karena

harga tidak terjangkau

Minimnya peralatan

pasca panen ditingkat

petani (dryer, corn

seller)

Peluang (O) S-O W-O

Optimalisasi pemanfaatan

peralatan pasca panen di

tingkat petani

Peningkatan koordinasi

dan kerjasama antar Dinas

terkait dengan kelompok

tani dalam hal

perencanaan, pengelolaan

Masih rendahnya

kualitas hasil

panen *)

Permintaan jagung

masih tinggi **)

Belum adanya

kontinuitas hasil **)

Kehilangan hasil dalam

pasca panen masih

dapat ditekan **)

Kesempatan kerja dapat

meningkat **)

Pengembangan

teknologi pengolahan **)

Pengamanan hasil masih

memungkinkan ** )

dan implementasi

penerapan teknologi pasca

panen

Peningkatan kerjasama

pengelolaan pasca panen

dengan sektor swasta

Pengujian adaptasi

teknologi pasca panen &

demonstrasi penggunaan

alat pasca panen, agar

dapat mendorong petani

menerapkan teknologi

pasca panen

Peningkatan mutu

pelayanan serta

pemenuhan kebutuhan

konsumen melalui

peningkatan kunatitas

dan kualitas hasil

panen jagung

Peningkatan

aksessibilitas pada

sentra produksi jagung

dan pengolahan

jagung

Penyediaan informasi

pasar yang efisien dan

efektif melalui

kerjasama pemasaran

untuk skala regional

dan nasional

Optimalisasi

pemanfaatan peralatan

pasca panen di tingkat

petani (dryer, corn

seller)


ANCAMAN (T)

Anjloknya harga jagung

karena mutu rendah ** )

Produk hasil olahan

jagung semakin banyak

dari luar provinsi **)

S-T

Peciptaan iklim investasi

yang kondusif melalui

penciptaan dan perbaikan

harga yang memberikan

kepastian berusahatani dan

keamanan bagi petani

Perbaikan kualitas

manajemen pengelolaan

usaha ke arah yang lebih

profesional untuk efisiensi

dan efektivitas usaha

pasca panen

Strategi Pengembangan Pengelolaan Pasca Panen

Optimalisasi pemanfaatan peralatan pasca panen di tingkat petani

Peningkatan koordinasi dan kerjasama antar Dinas terkait dengan kelompok tani

dalam hal perencanaan, pengelolaan dan implementasi penerapan teknologi

pasca panen

Peningkatan kerjasama pengelolaan pasca panen dengan sektor swasta

Pengujian adaptasi teknologi pasca panen & demonstrasi penggunaan alat

pasca panen, agar dapat mendorong petani menerapkan teknologi pasca panen

Peningkatan mutu pelayanan serta pemenuhan kebutuhan konsumen melalui

peningkatan kunatitas dan kualitas hasil panen jagung

Peningkatan aksessibilitas pada sentra produksi jagung dan pengolahan jagung

Penyediaan informasi pasar yang efisien dan efektif melalui kerjasama

pemasaran untuk skala regional dan nasional

Optimalisasi pemanfaatan peralatan pasca panen di tingkat petani (dryer, corn

seller)

Peciptaan iklim investasi yang kondusif melalui penciptaan dan perbaikan harga

yang memberikan kepastian berusahatani dan keamanan bagi petani

Perbaikan kualitas manajemen pengelolaan usaha ke arah yang lebih

profesional untuk efisiensi dan efektivitas usaha pasca panen

Secara khusus, dari penelitian ini di masing-masing daerah penelitian

dijumpai masalah spesifik dan harapan dari petani yang diharapkan menjadi bahan


ekomendasi instansi terkait untuk menentukan strategi pengembangan dan

peningkatan produksi jagung yang berkelanjutan (sustainable) di masa-masa akan

datang, yaitu :

a. Di Kabupaten Pinrang, kelompok tani/petani mengeluhkan permasalahan yang

selama ini menghambat peningkatan produksi jagung adalah harga pupuk dan

benih unggul yang mahal, pada saat dibutuhkan di tidak ada di pasaran.

Selain itu, harga hasil jagung tidak menentu dan anjlok setelah panen

menyebabkan petani seringkali mengalami kerugian. Mereka mendambakan

perhatian pemerintah daerah agar harga pupuk murah dan mudah didapat,

dan tersedia pada waktu dibutuhkan. Harga jagung agar terkendali dan ada

kepastian pasar. Pada saat sekarang harga pupuk relatif mahal dan kadangkadang

sulit didapat. Seringkali nanti tersedia pada saat tidak dibutuhkan lagi

dan harga hasil panen mereka tidak menentu. Diharapkan harapan mereka ini

dapat ditindaklanjuti oleh yang berwenang agar harapan mereka dalam

pengembangan/budidaya jagung dapat digeluti untuk menjamin kehidupannya.

b. Di Kabupaten Bantaeng, petani mengeluhkan harga benih unggul hibrida yang

mahal dan sering hilang di pasaran, juga harga jagung hasil petani harganya

murah sehingga kehidupan mereka semakin sulit. Selain itu, petani

mengeluhkan kesulitan mendapatkan/membleli pupuk dan obat-obatan

pertanian. Petani di daerah ini mengharapkan agar ada bantuan/pinjaman

benih dan pupuk dengan harga yang wajar.

c. Di Kabupaten Jeneponto, petani menilai bahwa permasalahan yang paling

mendasar dalam pengembangan jagung adalah keterbatasan air. Lahan

cukup luas, tetapi tergolong sawah tadah hujan. Pada waktu musim hujan,

tenaga kerja musiman yang berusaha yang mencari nafkah di Kota Makassar

mudik untuk bertani dan setelah selesai panen, kembali ke Makassar untuk

bekerja di sektor non-formal. Petani mengharapkan agar diusahakan mencari

sumber air tanah yang mampu dimanfaatkan sebagai sumber air. Selain itu,

benih yang mereka gunakan dalam budidaya jagung, baru dibayara/lunasi ke

pedagang setelah habis panen, sehingga harga benih yang mereka pakai

sangat tinggi dan penjualan hasil panennya harganya rendah.


d. Di Kabupaten Bone, petani mengeluhkan tanaman jagung mereka sering

diganggu ternak dan serangan ulat tongkol, serta kesulitan untuk memperoleh

pinjaman modal untuk membeli benih dan pupuk serta obat-obatan. Umumnya

pemberi kredit meminta jaminan/agunan dalam pemberian kredit, sedangkan

petani tidak memiliki aset yang dapat dijaminkan. Mereka berharap agar

mereka memperoleh pinjaman modal dari kredit usaha mikro dan kecil, bebas

jaminan dalam jumlah tertentu. Selain itu, mereka mengharapkan kemudahan

memperoleh pupuk dan jaminan harga jagung yang memadai, berimbang

dengan biaya produksi dan kebutuhan hidup keluarganya.

e. Di Kabupaten Gowa, petani mengharapkan dukungan peningkatan modal

petani dari pemerintah untuk dapat mengelola usahatani jagung dan bantuan

bibit/benih, harga pupuk yang terjangkau serta harga hasil panen jagung tetap

tinggi pada saat panen raya. Di samping itu, petani mengharapkan adanya

pembinaan pengelolaan usaha tani dan bercocok tanam jagung yang lebih

baik dan ekonomis


BAB V. KESIMPULAN, SARAN, REKOMENDASI, DAN IMPLIKASI

KEBIJAKAN

A. Kesimpulan

berikut :

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai

a. Faktor-faktor yang menyebabkan petani kurang menggunakan benih unggul

sehingga menghambat peningkatan produksi jagung di Sulawesi Selatan

adalah harga benih unggul hibrida yang relatif mahal dan kurang terjangkau

serta sering tidak tersedia dalam volume dan waktu yang tepat di pasaran

pada saat dibutuhkani.

b. Ketersediaan sarana dan prasarana penampungan hasil jagung pada daerah

sentra produksi jagung di Sulawesi Selatan, kurang tersedia dan tidak

memadai terutama di tingkat petani karena masih dilakukan secara tradisionil,

dimana kapasitas penyimpanan yang terbatas dengan teknik yang sederhana,

baik dari sisi penjagaan, mutu, maupun keamanan.

c. Strategi yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi dan

mengoptimalkan teknologi pengelolaan pasca panen jagung di tingkat petani

di Sulawesi Selatan adalah peningkatan dan perbaikan manajemen produksi

terutama ketersediaan benih unggul hibrida dan faktor penunjang

penampungan hasil jagung terutama saat panen raya.

B. Saran

a. Untuk pencapaian peningkatan produksi jagung di Sulawesi Selatan secara

berkelanjutan, agar terus diperkuat sistem perbenihan yang sudah ada dengan

melibatkan partisipasi swasta disertai peningkatan bimbingan, pembinaan dan

pengawasan mutu yang intensif oleh pemerintah

b. Diperlukan peningkatan berbagai usaha untuk peningkatan dan pengadaan

sarana dan prasarana penampungan hasil jagung, untuk penyelamatan hasil,

terutama saat panen raya.


c. Diperlukan perbaikan manajemen pengelolaan pasca panen jagung secara

intensif dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas hasil

(menekan kehilangan hasil), memperbaiki pengolahan hasil untuk

meningkatkan nilai tambah dari produk jagung, sehingga dapat meningkatkan

kesempatan berusaha di daerah.

C. Rekomendasi Kebijakan

Berdasarkan kesimpulan dan saran dalam penelitiani ini, maka

direkomendasi hal-hal sebagai berikut :

a. Perumusan harga dasar jagung dan memantau pelaksanaannya dengan

koordinasi dan kerjasama antar aparat Dinas Pertanian dengan Gapoktan

(Gabungan kelompok tani) untuk menjamin kepastian harga jagung seperti

yang dilakukan Pemerintah Provinsi Gorontalo.

b. Pengembangan benih komposit untuk dilakukan penangkaran oleh kelompok

tani karena harga benih komposit relatif lebih murah dan produktifitasnya

hampir sama dibandingkan dengan benih unggul hibrida.

d. Hendaknya Pemerintah mendirikan Bank Pertanian yang terletak di daerahdaerah

sentra produksi jagung yang mudah dijangkau petani, sehingga dapat

memberikan kemudahan bagi mereka dalam memperoleh kredit yang selama

ini menjadi kendala dalam mengembangkan usaha budidaya jagung.

e. Penguatan kelembagaan perbenihan dengan meningkatkan partisipasi swasta

disertai peningkatan bimbingan, pembinaan dan pengawasan mutu yang

intensif kepada Poktan/Gapoktan oleh Dinas terkait untuk mewujudkan

persyaratan mutu, tersedia dalam volume dan waktu yang tepat, harga yang

wajar, serta input produksi yang dibutuhkan efisien.

d. Koordinasi dan kerjasama antar aparat Pemerintah, Dinas Pertanian, dan

Poktan/Gapoktan dalam merencanakan lokasi sarana dan prasarana

penampungan hasil terutama Silo-silo, yang dekat dengan lokasi lahan petani,

sehingga dapat digunakan secara efisien dan efektif terutama pada saat panen

raya.


e. Kebijaksanaan perbaikan pasca panen untuk meningkatkan mutu hasil dan

peluang pemasaran produksi dan ekspor jagung, melalui pendekatan wilayah

yang didasarkan atas pertimbangan petani sebagai faktor dominan dan

pendekatan rekayasa tepat guna yang didasarkan atas faktor ekonomi dan

sosial petani.

D. Implikasi Kebijakan

Implikasi yang akan terjadi apabila rekomendasi kebijakan yang diusulkan

dalam penelitian ini dilaksanakan adalah :

a. Tercapainya peningkatan produksi jagung 1,5 juta ton pipilan kering pada tahun

2009 melalui optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pertanian yang akan

menunjang peningkatan riil pendapatan petani dan produksi jagung nasional

dalam rangka mencapai ketahanan pangan.

b. Terwujudnya strategi peningkatan mutu jagung melalui optimalisasi pengelolaan

pasca panen, sehingga akan meningkatkan peluang pemasaran (domestik dan

ekspor) yang menguntungkan.

c. Peningkatan produksi dan mutu jagung akan memberi peluang Sulawesi

Selatan sebagai pengekspor jagung yang akan menunjang peningkatkan

Pendapatan Asli Daerah (APBD).

d. Meningkatnya gairah petani dalam mengusahakan dan mengembangkan

komoditas jagung sebagai komoditas unggulan yang mengungtungkan secara

ekonomi dalam rangka meningkatkan ketahanan ekonomi wilayah berbasis

komoditas jagung dalam skala regional maupun nasional.


DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S. 2003. Refleksi 40 Tahun dan Perspektif Penganekaragaman Pangan

dalam Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional. Badan Bimas

Ketahanan Pangan Departemen Pertanian. Disampaikan dalam

Simposium Penganekaragaman Pangan, di Sheraton Bandara Hotel,

Jakarta 10 September 2003.

Anonim. 1999. Pedoman Teknis. Konsultan Manajemen dan Monitoring dan

Bantuan teknis Program Peningkatan Produksi Tanaman Pangan Melalui

Pengembangan Sarana Prasarana dan Kelembgaan Pertanian (SPL-

OECF INP-22). PT Kogas Driyap Konsultan dan Assosiasi.

Badia, G dan P, Bangun. 2005. Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman

Jagung terhadap Persiapan Tanam dan Sistem Pengendalian Gulma.

Dalam Prosiding Seminar Nasional V. Budidaya Pertanian Olah Tanah

konservasi. Bandar Lampung. 8-9 Mei 2005.

[BBKP] Badan Bimas Ketahanan Pangan. 2001. Rencana Strategis dan Program

Kerja Pemantapan Ketahanan Pangan Tahun 2001-2004. Departemen

Pertanian, Jakarta

[BPPP] Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Prospek dan Arah

Pengembangan Agribisnis: Rangkuman Kebutuhan Investasi, Edisi Kedua.

Departemen Pertanian.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2007. Sulawesi Selatan Dalam angka. Badan Pusat

Statistik Provinsi Sulawesi Selatan.

DEPTAN. 2007. Prosfek dan Arah Pengembangan Agribisnis Jagung. Balai

Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian,

Republik Indonesia.

[DPTPSS] Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sulawesi Selatan. 2008.

Departemen Pertanian, Republik Indonesia.

Earle, M.D. 2007. Innovation in The Food Industry. Trend in Food Science and

Tech. 8: 166-175.

Ferdinand, A. 2002. Structural Equation Modeling dalam Penelitian Manajemen :

Aplikasi Model-Model Rumit dalam Penelitian untuk Tesis2 dan Disertasi,

Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Fransiscus, W. 2003. Revitalisasi Penganekaragaman Pangan. Direktur PT ISM

Bogasari Flour Mills. Disampaikan dalam Simposium Penganekaragaman

Pangan, di Sheraton Bandara Hotel, Jakarta 10 September 2003.


Gurnar,I. 2003. Jagung Sebagai Pangan Pokok Alternatif Dalam

Penganekaragaman Pangan. Disampaikan dalam Simposium

Penganekaragaman Pangan, di Sheraton Bandara Hotel, Jakarta 10

September 2003.

Hardiansyah dan D. Martianto. 2002. Gizi Terapan. PAU Pangan dan Gizi. Bogor

I Komang, D.J. 2004. Pertumbuhan dan Hasil Jagung yang ditanam

dengan Kerapatan dan Orientasi Berbeda. Dalam : Agroteksos, Majalah

Ilmiah Pertanian. Volume 13 Nomor 4, Januari 2004.

Kamil. J. 1979. Teknologi Benih I. Penerbit Angkasa Raya. Bandung.

[PKMT] Pusat Kajian Makanan Tradisional IPB, 2007. Review Riset Iptek

Pertanian dan Pangan. Disampaikan dalam Simposium

Penganekaragaman Pangan, di Sheraton Bandara Hotel, Jakarta 10

September 2003.

Sadjad, S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. PT Gramedia Widiasarana. Indonesi.

Soekirman, 2007. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Jakarta.

Sutidjo, D. 2006. Pengantar Sistem Produksi Tanaman Agronomi. Jurusan

Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Tidak

dipublikasikan.

Suyono, A. G. 2002. Peta Pangan dan Program Penganekaragaman Pangan di

Indonesia, 1939-2002. Materi Pra Simposium Penganekaragaman

Pangan, disampaikan di Sheraton Bandara Hotel, Jakarta 10 September

2002.

Wirakartakusumah, M.A. dan P.Hariyadi. Technical Aspect of Food Fortification.

Food and Nutrition Bulletin. Vol. 19 Nomor 2.


LAMPIRAN


Lampiran 1. Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman (SWOT) yang

MempengarIuhi Peningkatant Produksi dan Pengelolaan Pasca Panen

Jagung

Aspek

I. Manajemen

Produksi

(Ketersediaan

benih unggul)

II.FaktorPenunjang

(Sarana

penampungan

hasil)

Kekuatan

(Strength)

Pengetahuan

petani

tentang

benih unggul

cukup

memadai **)

Kerjasama

petani/kelom

pok tani

selama ini

cukup baik

**)

Pemerintah

Daerah

semakin

sadar

pentingnya

pemberian

kredit/pinjam

anbagi

petani **)

Kelemahan

(Weakness)

Harga benih

unggul masih

tinggi **)

Jenis, mutu dan

jumlah benih

masih terbatas *)

Penggunaan

benih unggul

masih rendah *)

Ketersediaan

benih unggul

dalam jumlah,

waktu yang tepat

& harga yang

kurang

terjangkau petani

*)

Permodalan

petani yang

masih rendah

dalam

pengadaan benih

unggul

Lemahnya

kelembagaan

perbenihan **)

Kurannya akses

permodalan

petani untuk

membeli benih

unggul **)

Jumlah &

kapasitas

gudangan belum

memadai di

tingkat petani **)

Penjagaan mutu,

& keamanan

simpan yang

terbatas **)

Dukungan

teknologi

penyimpanan

masih lemah **)

Aksesbilitas

jalan usaha tani

kurang

mendukung ke

tempat

penampungan *)

Peluang

(Opportunity)

Jagung memiliki

potensi pasar

yang baik

(domestik &

manca negara)

Jagung sangat

dibutuhkan

untuk pakan

ternak

Petani memiliki

keterampilan

yang memadai

menerapkan

teknologi

budidaya sesuai

perkembangan**

)

Regulasi

kelembagaan ,

perbenihan,

permodalan &

Orientasi ekspor

**)

Petani/kelompok

tani respon

terhdap

berbagai

kebijakan

pemerintah **)

Peluang pasar

jagung masih

cerah **)

Perbaikan

penampungan

hasil **)

Ancaman

(Threath)

Tidak

stabilnya

harga benih

**)

Ketidakstabil

an harga di

pasaran *)


Kurangnya akses

permodalan *)

Teknik

penyimpanan

yang masih

tradisional *)

IV.Pengelolaan

Pasca Panen

Meningkatny

a

kesempatan

berusaha

diversifikasi

hasil jagung

**)

Penanganan

pasca panen

yang lebih

intensif *)

Belum

intensifnya

penanganan

pasca panen

jagung *)

Pengeringan

masih dilakukan

secara

tradisional (sinar

matahari) *)

Masih

terbatasnya

pengolahan hasil

*)

Petani kutang

memiliki fasilitas

pemipilan &

pengeringan

karena harga

tidak terjangkau

Masih rendahnya

kualitas hasil

panen

Permintaan

jagung masih

tinggi **)

Belum adanya

kontinuitas hasil

**

)

Kehilangan hasil

dalam pasca

panen masih

dapat ditekan **)

Kesempatan

kerja dapat

meningkat **)

Pengembangan

teknologi

pengolahan **)

Pengamanan

hasil masih

memungkinkan ** )

Anjloknya

harga jagung

karena mtu

rendah ** )

Produk hasil

olahan

jagung

semakin

banyak dari

luar provinsi

**)

Keterangan :

*) Hasil analisis data

**) Berbagai sumber


LAMPIRAN 2. Analisis SWOT Aspek Manajemen Produksi /Ketersediaan

Benih Unggul KBU)

Kekuatan (S) Kelemahan (W)

Eksternal

Internal

Pengetahuan petani

tentang benih unggul

cukup memadai **)

Kerjasama

petani/kelompok

tani selama ini

cukup baik **)

Harga benih unggul

masih tinggi **)

Jenis, mutu dan jumlah

benih masih terbatas *)

Penggunaan benih

unggul masih rendah *)

Ketersediaan benih

unggul dalam jumlah,

waktu yang tepat &

harga yang kurang

terjangkau petani *)

Permodalan petani

yang masih rendah

dalam pengadaan

benih unggul

Lemahnya

kelembagaan

perbenihan **)

Kurannya akses

permodalan petani

untuk membeli benih

unggul **)

Peluang (O) S-O W-O

Jagung memiliki potensi

pasar yang baik (domestik

& manca negara)

Jagung sangat dibutuhkan

untuk pakan ternak

Petani memiliki

keterampilan yang

memadai menerapkan

teknologi budidaya sesuai

perkembangan**)

Regulasi kelembagaan ,

perbenihan, permodalan &

Orientasi ekspor **)

Pembangunan pabrik

pakan ternak hendaknya

didekatkan dengan

produsen jagung

Peningkatan jumlah dan

mutu benih jagung hibrida

Peningkatan bimbingan

dan penyuluhan kepada

petani pentingnya

penggunaan benih unggul

Penguatan kelembagaan

perbenihan

Pemberian kredit lunak

petani untuk pembelian

Peningkatan efisiensi

produktivitas dan

kualitas produksi jagung

melalui adopsi teknologi

yang efisien dan efektif

Peningkatan

manajemen produksi

dan penyediaan benih

unggul untuk

mendukung

peningkatan produksi

dan produktivitas

jagung yang

berkelanjutan

Peningkatan dukungan

Dinas Pertanian dan


Penjagaan mutu, &

keamanan simpan ya

terbatas **)

benih unggul hibrida BUMN (Perhutani,

Inhutani) dalam

pengadaan benih di

tingkat petani

ANCAMAN (T) S-T W-T

Tidak stabilnya harga benih

**)

Persaingan mutu benih dari

para

produsen benih **)

Perbaikan kualitas

manajemen budidaya

jagung untuk peningkatan

produksi dan mutu jagung

yang dihasilkan

Peningkatan dukungan

Dinas/Instansi terkait

dalam pengadaan dan

bantuan benih pada

kelompok tani/petani.

LAMPIRAN 3. Analisis SWOT Aspek Penunjang/Sarana-Prasaran

Penampungan Hasil

Kekuatan (S) Kelemahan (W

Internal

Pemerintah Daerah semakin

sadar pentingnya pemberian

kredit/pinjaman bagi petani **)

Jumlah & kapasitas g

belum memadai di tin

petani **)

Dukungan teknologi

penyimpanan masih l

Eksternal



Aksesbilitas jalan usa

kurang mendukung k

penampungan *)

Kurangnya akses per

*)

Teknik penyimpanan

masih tradisional *)

Peluang (O) S-O W-O


Perbaikan penampungan hasil **)

Pemberdayaan Poktan/Gapoktan

dalam pengadaan penampungan

hasil jagung **)

Peningkatan koordinasi dan

kerjasama antar aparat Dinas

Pertanian dengan kelompok tani

dalam hal perencanaan,

pengelolaan penampungan hasil

jagung

Peningkatan usaha-usaha untuk

peningkatan sarana prasarana

penampungan hasil jagung

Perbaikan infrastruktu

mempermudah petan

lokasi penampungan

jagung

Peningkatan dukugan

perbankan dalam mem

petani untuk pengada

fasilitas penampungan

jagung

ANCAMAN (T)

Perbedaan perencanaan dan regulasi

antar daerah/kabupaten **)

S-T

Penciptaan iklim investasi yang

kondusif untuk pembuatan dan

penyewaan penampungan hasil

jagung

Lampiran 4. Analisis SWOT Aspek Pengelolaan Pasca Panen

Kekuatan (S) Kelemahan (W)

Internal

Meningkatnya

kesempatan berusaha

diversifikasi hasil jagung

**)

Penanganan pasca

panen yang lebih intensif

*)

Belum intensifnya

penanganan pasca

panen jagung *)

Pengeringan masih

dilakukan secara

tradisional (sinar

matahari) *)

Masih terbatasnya

pengolahan hasil *)

Eksternal

Petani kutang memiliki

fasilitas pemipilan &

pengeringan karena

harga tidak terjangkau

Peluang (O) S-O W-O

Masih rendahnya

kualitas hasil

panen *)

Permintaan jagung

Optimalisasi pemanfaatan

peralatan pasca panen di

tingkat petani

Peningkatan koordinasi

dan kerjasama antar

Peningkatan mutu

pelayanan serta

pemenuhan kebutuhan

konsumen melalui

peningkatan kunalitas


masih tinggi **)

Belum adanya kontinuitas

hasil **)

Kehilangan hasil dalam

pasca panen masih dapat

ditekan **)

Kesempatan kerja dapat

meningkat **)

Pengembangan teknologi

pengolahan **)

Pengamanan hasil masih

memungkinkan ** )

ANCAMAN (T)

Anjloknya harga jagung

karena mutu rendah ** )

Produk hasil olahan jagung

semakin banyak dari luar

provinsi **)

aparat Dinas Pertanian

dengan kelompok tani

dalam hal perencanaan,

pengelolaan dan

implementasi aspek

kebijakan Pemerintah

Daerah

Peningkatan kerjasama

pengelolaan pasca panen

dengan sektor swasta

Pengembangan Alsintan

S-T

Peciptaan iklim investasi

yang kondusif melalui

penciptaan dan perbaikan

harga yang memberikan

kepastian berusahatani

dan keamanan bagi petani

Perbaikan kualitas

manajemen pengelolaan

usaha ke arah yang lebih

profesional untuk efisiensi

dan efektivitas usaha

Pengembangan alih

teknologi pasca panen

jagung

dan kualitas hasil

panen jagung

Peningkatan

aksessibilitas pada

sentra produksi jagung

dan pengolahan jagung

Penyediaan informasi

pasar yang efisien dan

efektif melalui

kerjasama pemasaran

untuk skala regional

dan nasional


Gambar 1. Petani bersama peneliti pada saat sedang istirahat

jagung


Gambar 2. Peneliti sedang memperlihatkan jagung yang

habis panen didampingi petani jagung


Gambar 3. Ketua dan anggota peneliti sedang berfose setelah

wawancara Dengan petani jagung


Gambar 4. Gambar jagung saat sebelum panen jagung di lokasi

penelitian

More magazines by this user
Similar magazines