Views
7 months ago

Binder MO 157

13 CEO PILIHAN ELVYN G.

13 CEO PILIHAN ELVYN G. MASASSYA MEMBAWA IPC MENUJU WORLD CLASS PORT Diberi amanah menjabat Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC sejak April 2016 bukanlah menjadi hal baru bagi Elvyn G. Masassya. Sudah banyak makan asam garam dalam memimpin perusahaan sebelumnya, menjadikannya tahu betul apa yang harus dilakukan pada Pelindo II. Tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan bulan, Elvyn mampu mendongkrak kinerja perusahaan. Ya, bersama timnya, ia berjibaku, bekerja ekstra keras membawa IPC menjadi perusahaan pelabuhan berkelas dunia. Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto/Istimewa Wawancara Eksklusif Elvyn G. Masassya Saat ditemui Men’s Obsession akhir Januari lalu, Elvyn tampak sangat bugar. Ia tampil sederhana dengan kemeja putih polosnya, namun tanpa menghilangkan aura sang pemimpin. Senyuman manis dan sikap ramah yang ditunjukkan selama sesi wawancara sungguh menjadikan waktu sesi wawancara yang berlangsung selama lebih kurang satu jam ini, tak terasa. Terlebih keindahan pemandangan suasana pelabuhan dari kaca jendela ruang kerjanya yang berada di lantai 7 gedung Pelindo II membawa pengalaman baru yang jarang sekali ditemui. “Bagus yah pemandangannya. Ini kalau malam seperti di Hongkong,” ucap Elvyn seraya tersenyum. Ya, di tangan Elvyn, pelabuhan Tanjung Priok kini tak lagi menyeramkan, melainkan sudah tertata sangat rapih. Elvyn bercerita, sejak awal memimpin pada April 2016 lalu, ia berpikir keras bagaimana membuat jasa pelabuhan ini menjadi satu sektor yang reputable, tak hanya untuk skala nasional namun internasional. Karena menurutnya, fungsi pelabuhan sebagai tempat keluar masuknya arus barang, ekspor impor internasional, merupakan potret wajah Indonesia. Untuk itu, Elvyn melakukan berbagai langkah strategis pada IPC yang terangkum pada empat hal utama, yakni, meneruskan yang sudah baik (going concern), meluruskan yang belum lurus (governance), menyelesaikan yang belum selesai (pending matters/outstanding issues), dan mengerjakan yang belum sempat dikerjakan (business development). Selanjutnya, ia melakukan pembenahan internal yang diawali dari penajaman vision dan membuat roadmap untuk 5 tahun (2016 – 2020). “Vision kita pertajam menjadi pengelola pelabuhan kelas dunia yang unggul dalam operasional dan pelayanan dengan kata kunci visi hanya tiga, world class, excellent at operations, excellent at services. Dan untuk sampai ke world class port itu saya menyiapkan roadmap untuk lima tahun mendatang dimulai dari tahun 2016. Saya kembangkan menjadi 5 tahapan yang dimulai pada 2016 ini dengan tahapan yang kita sebut sebagai fase fit in infrastructure, artinya adalah bussiness prosesnya harus benar, sistemnya harus benar, prosedur harus 64 | | FEBRUARI 2017

ada sebagai satu korporasi. Dan di 2016 itu, kita menyelesaikan lebih kurang 246 SOP, dan kita melaksanakan 240 rencana kerja, dalam 8 bulan sampai Desember 2016. Alhamdulillah sudah selesai,” terang Elvyn. Setelah itu, 2017 ini dilanjutkan dengan tahapan yang disebut fase enhancement, yakni peningkatan kapasitas, peningkatan kualitas, dan peningkatan performance. Lalu 2018 fase establishment atau pemantapan, 2019 fase sustainable superior performance. Dan 2020 menjadi world class port. Untuk menuju world class port, tentu tak sekadar lips service. Beberapa terobosan yang dilakukan Elvyn antara lain pembenahan dalam bidang teknologi. Elvyn percaya, bahwa di era modern ini sebuah korporasi modern harus berbasis IT. Untuk itu, ia meluncurkan inovasi-inovasi terkini berbasis teknologi. “Jadi port ini pun dalam bentuk world class nanti, adalah menjadi digital port, pelabuhan digital yang bisnis prosesnya itu banyak menggunakan teknologi,” katanya. Terdapat empat sistem berbasis IT, yakni Integrated Billing System (IBS) termasuk di dalamnya adalah cash management, yaitu segala urusan dokumentasi dan pembayaran hanya bisa di satu tempat. Kemudian terminal operating system, yakni pengelolaan terminal yang lebih rapih. Sistem ini bermanfaat untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi kegiatan di terminal, termasuk monitoring aktivitas pelayanan kepada pengguna jasa. Sementara dalam konteks speed, ada Inaportnet, untuk proses administrasi kedatangan dan keberangkatan kapal yang dilakukan secara online termasuk transparansi pelayanan kapal di Tanjung Priok. “Jadi kita tahu kapan kapal datang merapat ke pelabuhan, berapa barang yang dibongkar. Dengan cara ini berarti kan speednya lebih cepat.” ucap Elvyn. Kemudian sistem autogate merupakan salah satu cara untuk mempercepat arus ekspor dan impor barang dari dan ke luar negeri melalui pelabuhan Tanjung Priok maupun terminal-terminal petikemas di cabang-cabang lain secara bertahap. Tak hanya itu, di bawah kepemimpinan Elvyn, kinerja korporasi juga menorehkan hasil membanggakan. Tengok saja pendapatan perusahaan pada 2016 lalu, Pelindo II meraih revenue kurang lebih Rp.8,7 triliun, meningkat sebesar 15% dari tahun sebelumnya, dan EBITDA mencapai Rp.2,9 triliun. Sementara pencapaian lainnya, bisa dilihat dari volume atau jumlah kontainer yang keluar masuk di IPC. Pada 2016 lalu, terdapat kurang lebih 6juta container dalam setahun. Perusahaan juga berhasil meraih score Kriteria Perusahaan Kinerja Unggul (KPKU) sebesar 530, melebihi score yang ditargetkan pemegang saham sebesar 490. Kemudian dari sisi governance, perusahaan juga berhasil mencapai angka yang ditargetkan, sebesar 85. Belum lagi segudang penghargaan yang diraih IPC atas prestasi-prestasi di 2016. Memimpin dengan CINTA Untuk mencapai perusahaan menjadi World Class Port, Elvyn tentu menyadari dibutuhkan kerja ekstra dengan dukungan teamwork yang kuat. Untuk itu, ia juga membangun culture baru di perusahaan yang ia sebut CINTA (Customer centric, Integrity, Nationalism, Teamwork, dan Action). “Customer centric, karena ini perusahaan jasa maka yang paling tinggi adalah customer, tanpa customer kita nggak bisa apa apa, jadi harus fokus pada customer. Integrity, nggak mungkin korporasi itu bisa hebat kalau kita nggak punya integrity. Nationalism, apa yang kita kerjakan ini sebagai kepentingan negara. Teamwork, nggak mungkin kerja sendiri sendiri, harus ada teamwork. Action, nggak bisa ngomong doang tapi harus ada action. Nah ini jadi soul, jadi ruh, dan soul inilah kemudian membuat kita bisa mengerjakan rencana kerja, membuat kita bisa mengimplementasikan strategi-strategi dan SOP,” Elvyn menjelaskan. Ya, Elvyn percaya betul bahwa sebuah organisasi atau korporasi itu baru bisa hidup jika dia punya soul, dan soul itu adalah culture. Dan melalui CINTA inilah culture perusahaan ia bangun. n FEBRUARI 2017 | | 65

Let’s Play • 1
Edisi 220 • 13 Februari 2011 - Mirror UNPAD
20150209_MajalahDetik_167
majalah-mdp-edisi-II
Let’s Play • 1
SEASON 4
Sriwijaya Magazine Februari 2018