Views
6 months ago

RADAR BEKASI EDISI 9 APRIL 2018

SHOW SELEBRITIS

SHOW SELEBRITIS selebritis RADAR DEPOK 10 SENIN, 9 APRIL 2018 SENIN, 9 APRIL 2018 5 Radar Depok Update @radardepok Gandeng Konsultan Zombi Reuni Z Karya Soleh Solihun JAKARTA – Film komedi buatan sineas Indonesia makin beragam. Setelah subgenre detektif sempat booming, kini ada subgenre baru yang diangkat. Yakni, zombie outbreak. Ala-ala Zombieland atau Shaun of the Dead. Komika Soleh Solihun berkolaborasi dengan Monty Tiwa untuk membuat film berjudul Reuni Z yang akan tayang pada Kamis (12/4). Reuni Z (mengingatkan kita pada film Brad Pitt World War Z, ya!) merupakan kolaborasi kedua Soleh dan Monty. Sebelumnya, mereka menggarap film komedi Mau Jadi Apa? rilisan Starvision. Reuni Z berkisah tentang sekumpulan alumnus SMA Zenith yang mengadakan reuni. Acara yang semula meriah berubah mencekam ketika salah seorang di antara mereka berubah menjadi zombi karena virus. Konsep cerita reuni dengan bumbu komedi dan zombi adalah ide Soleh bersama kedua rekannya, Khalid Kashogi dan Agasyah Karim. Mereka bertiga menjadi penulis naskah. Soleh yang menggemari film-film zombi menilai, di Indonesia film semacam itu belum banyak. ’’Apalagi, yang ada unsur komedinya,’’ kata Soleh setelah skrining dan konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Kamis (5/4). Film dikerjakan Rapi Films. Soleh pernah bekerja sama dengan produser Sunil Samtani dalam film Hangout. Sama dengan Hangout yang menawarkan kelucuan dan ketegangan, Sunil ingin kembali membawa hal serupa lewat film zombi. ’’Humor yang dikemas dengan nuansa tegang itu bikin film lebih asyik dan seru ditonton,’’ tutur Sunil. Sebelum Soleh mengerjakan Reuni Z, ada satu syarat yang diminta Sunil. Yaitu, jajaran cast lintas generasi. Alhasil, film itu dipenuhi aktor dan aktris yang populer di berbagai dekade. Aktor senior diwakili Henky Solaiman. Era 90-an diwakili Dian Nitami dan suaminya, Anjasmara. Dari dekade 2000-an, ada Surya Saputra, Ayushita, Tora Sudiro, dan Dinda Kanyadewi. Lantas, pendatang baru yang terlibat adalah Kenny Austin dan Cassandra Lee. Lalu, siapa yang memerankan para mayat hidup? Soal ini, Soleh tidak mau setengahsetengah. Bagi dia, totalitas film zombi dimulai dengan mencari pemeran ekstra yang oke. Dia lantas mengajak komunitas Kompi Zombie. Para anggota komunitas itulah yang menjadi pemeran ekstra untuk para zombi. Soleh juga menggandeng konsultan zombi Erik Kairupan untuk memberikan masukan. Menurut Soleh, Erik sangat paham tentang seluk-beluk zombi sebelum ditampilkan di layar lebar. Mulai koreografi, pergerakan dan cara jalan, penularan virus, hingga make-up dan efek visual. ’’Ini penting. Soalnya, kalau zombi dibikin asal-asalan, jadi kurang terasa nuansa zombie outbreak-nya,’’ ujar Soleh. Sebagai bahan referensi, Soleh memilih film Shaun of the Dead (2004). Menurut dia, film arahan Edgar Wright itu sangat cerdas. Ia masuk nominasi BAFTA dan Saturn Awards. Komedi ala Soleh yang satire bakal menjadi pembeda. Meski, adegan-adegan khas zombie outbreak seperti kejar-kejaran dan pengepungan zombi tetap ada. Di akhir film, Soleh dan Monty memberikan ending terbuka yang masih berhubungan dengan menyebarnya virus zombi. Sangat khas film-film zombi Hollywood. Kalau Reuni Z bisa sukses secara materi, bukan tidak mungkin akan dibuat sekuelnya. ’’Semoga makin banyak film Indonesia yang mengangkat tema zombi,’’ tandas Soleh. (len/c14/na) Kumpulkan ’’Bensin’’ DJ Dipha Barus yang Perfeksionis Menuju Grammy Si Hemat dan Sehat SELAIN perfeksionis saat bekerja, Dipha Barus terkenal dengan gaya hidupnya yang terbilang sehat. Ketika perform, Dipha hanya minta disediakan air putih dan pisang. Dia tidak minum minuman beralkohol. Setelah perform yang sering selesai pada larut malam, Dipha lebih memilih langsung istirahat ketimbang nongkrong. Dipha juga rutin berolahraga setiap hari dan menjaga pola makan. ’’Saya menjalaninya karena nyaman dengan itu. Kalau orang lain melihatnya dan ingin mencoba, silakan,’’ tuturnya. Bersama beberapa rekan seperti Bams dan Andien, Dipha membikin bisnis kuliner Fit Lo-Kal yang berangkat dari konsep makan sehat tapi nggak boring. Rasanya pun relevan bagi banyak orang. ’’Sama halnya kayak musik aja. Nggak biasa, tapi relevan,’’ kata Dipha, lantas tersenyum. Dipha mengaku bukan orang yang boros. ’’Kehidupan saya cuman di studio, nge-gym, nge-DJ,’’ jelasnya. Lebih dari 50 persen pendapatannya dia tabung. Demi tujuan utamanya, Grammy Awards. Di dalam keluarga, sulung dua bersaudara itu amat dekat dengan sang mama. Ayahnya sudah berpulang pada 2007. Di kala senggang, Dipha sering meluangkan waktu dengan mama. Pergi ke gereja bareng, lalu makan bersama. ’’Mama juga sering nonton saya perform,’’ ujar Dipha. (nor/c14/nda) Electronic dance music (EDM) menggeliat di tanah air. Sosok Dipha Barus, 32, mencuat sebagai salah seorang DJ dan produser musik yang karyanya paling ditunggu. Apa yang membuat sosok Dipha istimewa? SETELAH malang melintang dari panggung EDM tanah air hingga internasional, Dipha Barus mengeluarkan single pertamanya pada 2016, No One Can Stop Us. Lagu kolaborasinya dengan Kallula tersebut dengan cepat melejit ke berbagai chart musik. Juga, mengantar musisi kelahiran 4 Januari 1986 itu meraih Karya Produksi Electric Dance Music Terbaik AMI Awards 2016. Setahun berikutnya, lewat lagu All Good feat Nadin, Dipha lagi-lagi dianugerahi AMI Awards 2017. Lagu tersebut masuk 50 Global Track versi Spotify, rekor baru bagi musisi Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Juga, memuncaki chart di empat negara Amerika Latin, yaitu Meksiko, Ekuador, Bolivia, dan Spanyol. Tahun ini DJ yang kerap tampil di Seattle, Los Angeles, dan New York itu kembali menghadirkan karya terbaru. Pekan lalu (30/3) dia mengenalkan single Money Honey (Count Me In) saat membuka konser The Chainsmokers Live in Jakarta. Kali ini Dipha menggandeng Monica Karina. Khas Dipha, lagu-lagunya selalu punya pesan dan makna yang dalam. Money Honey mengandung motivasi tentang kerja keras. Untuk mengerjakan apa yang dicintai, mencintai apa yang dikerjakan, dan tidak mudah mengeluh. Pesan lagu itu relevan dengan kehidupan anak muda 301011 hingga membuatnya digandeng PermataBank dan LINE TODAY dalam campaign #CountMEin. ’’Kami ingin orang yang dengar nggak cuman dengerin aja, tapi harapannya bisa meresap ke hati karena dibikinnya juga pakai hati,’’ ujar Dipha saat dijumpai di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis sore (5/4). Untuk musiknya, Dipha memasukkan unsur-unsur budaya. Baik dari negeri sendiri maupun unsur Latin. Di antaranya, ada rindik dari Bali hingga sound gitar Latin. Dipha memang memiliki basis pendengar yang cukup besar di negaranegara Amerika Latin sejak single All Good dirilis. Money Honey (Count Me In) sejak dirilis diputar di beberapa chart negara Amerika Latin. Di antaranya, Meksiko, Brasil, dan Cile. Juga, di be berapa negara Asia seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Tiongkok, dan Taiwan. Setelah semua capaian tersebut, Dipha tetap menjadi Dipha yang apa adanya, humble, dan terus konsisten menghasilkan karya yang kaya makna. Dia tidak cepat berpuas diri. ’’Belum puas kalau belum dapat Grammy (terse nyum). Dari kecil saya selalu mikir, mungkin nggak ya (dapat Grammy)?’’ ungkapnya. Dipha lantas mengutip quote Kanye West yang artinya, ketika yakin, kita sudah menang. ’’Ini seka rang lagi ngumpulin ’bensin’ buat menuju Grammy,’’ lanjutnya. Di kalangan sesama rekan musisi maupun mereka yang pernah berkolaborasi, Dipha dikenal perfeksionis. Salah satunya adalah Monica. ’’Bener banget. Mungkin karena dia selalu pengin kasih karya yang terbaik. Sampai detik-detik terakhir, ada aja yang direvisi,’’ kata alumnus jurusan film yang digaet Dipha lewat direct message Instagram tersebut. Dipha yang berada di sampingnya terbahak. ’’Tim gue udah paham. Gue bisa tiba-tiba ganti aransemen, padahal sudah mau rilis,’’ jelasnya. Di setiap pembuatan lagu, Dipha butuh penda laman. ’’Pas lagi nunggu ojek atau antre busway, saya putar di earphone sambil dibayangin. Ini kalau orangorang denger di earphone mereka, feelnya bakal sama nggak ya?’’ katanya. Wow, seperfeksionis itu! Well, apakah Dipha juga perfeksionis dalam memilih pasangan? ’’Emm... sebenarnya yang penting satu sih. Bisa diajak memecahkan masalah barengbareng,’’ tuturnya, lantas tersenyum. Ah, kalau begitu, siapa nih yang siap menerima tantangan Dipha? (nor/c14/nda)

satelit bekasi raya SENIN, 9 APRIL 2018 11 DOK/RADAR BEKASI ILUSTRASI: Salah seorang warga saat melakukan proses perekaman KTP-El. Perumahan Grand Tarumajaya, Desa Pahlawan Setia, Kecamatan, Tarumajaya hingga saat ini belum memiliki KTP Kabupaten Bekasi, meskipun sudah bermukim selama 4 tahun. Himbauan Kades Dicuekin Warga Warga Diminta Segera Urus KTP-El TARUMAJAYA - Meski sudah tinggal lebih dari 4 tahun lamanya, namun 90 persen wa rga di Perumahan Grand Tarumajaya, Desa Pahlawan Setia, Kecamatan, Tarumajaya, Ka bupaten Bekasi masih memegang Kartu Tanda Pendu duk (KTP) DKI Jakarta. Menurut ketua RW 009 Perumahan Grand Tarumajaya Suparjo, sebanyak 102 Kepala Ke luarga (KK) warga Grand Tar umajaya belum memiliki KTP Kabupaten Bekasi, melainkan KTP DKI Jakar t a. “Dari 102 KK tersebut yang su dah memiliki KTP Kabupaten Bekasi sendiri ya baru sekitar sepuluh kepala keluarga mas. Kalau suami istri berarti ada sekitar 20 orangan saja yang be r KTP Kabupaten Bekasi. Ar tinya 90 persen warga Perumahan Grand Tarumajaya RT 004 RW 009 disini masih ber KTP DKI,” terngnya. Sementara itu, Kepala Desa Pahlawan Setia, Kecamatan Ta rumajaya, Zaenal Ab idin me ngaku, bersama pegawai de sa yang lain sebe narnya sudah se ri ng meng himbau ag ar wa rga yang sudah enam bu lan atau satu tahun lebih ti n gg al di Peru mahan Grand Ta ru ma jaya ini mestinya su da h be r-KTP Kabupaten Be ka si. “Dalam berbagai pertemuan baik secara formal maupun non formal, sudah ada himba uan kepada warga Pe ru mahan Grand Tarumajaya un tuk Mutasi KTP. Namun de ngan berbagai alasan me re ka ratarata banyak alasan da n pertimbangan soal surat-s u rat seperti STNK dan se ba gainya, sehingga mereka se b agian besar enggan mutasi KT P,” ungkapnya belum lama ini. Padahal kalau Mutasi KTP, masih kata Kades, yang beruba h itu hanya alamat di KTP se suai domisili tinggal me reka se mentara nomor induk ke pen dudukan tidak be ru bah. “Sehingga dalam pen gur usan su rat-surat yang di Jakarta meng acu pada NIK tersebut. Tapi NIK di KTP mereka ya berubah, karena nerb eda al a m at dan domisili,” im buh n y a. “Pertanyaan kemudian, apaka h puluhan warga Grand Ta rumajaya itu selamanya sta tusnya sebagai tamu, karena se cara yuridis KTP masih Jakarta,” sambungnya. Dengan kata lain, kata Zaenal, ke beradaan mereka di Peruma han Grand Tarumajaya atau di Desa Pahlawan Setia se bagai tamu u tuk saat ini. “Dan tanggung jawab hukum ke beradaan mereka menjadi ta nggung jawab Ketua RT dan K etua RW di Jakarta tempat mer eka berasal,” tukas nya. Zaenal sudah berkali-kali menghimbau kepada warga diperumahanGrand Taru majaya tersebut, agar segera mu ngkin mengurus KTP mereka menjadi alamat domisili se karang, Kanupaten Bekasi. Te tapi naasnya, himbauan dari Kades tersebut seakanak an tak dihiraukan oleh warga diperumahan tersebut. “Saya juga sudah puluhan kalinyuruh warga ganti sece petnya KTP mereka. Tapi ng gak ada yang mendengarin pe r kataan saya sama sekali, pa ling hanya sekedar satu atau dua warga saja yang dengerin,” tan dasnya.(cr37) KESEHATAN Sarden Masih Dijual di Warung BEKASI UTARA – Sebanyak 27 merek produk sar den terjangkit parasit cacing dan diberhentikan peredarananya oleh Badan Pengawas Obat dan M akanan (BPOM). Terpantau di beberapa mini market seperti Indomart, Alfamart dan Alfamidi di Bekasi tidak la gi menjual makanan olahan kaleng tersebut. Terl ihat di keranjang tempat sarden terpampang pun sudah lagi tak nampak si Maya, Abc, Botan da n King Sarden. Salah satu Kasir Indomaret Bulak Perwira, Adel mengatakan , sarden yang di isukan mengandung ca cing tersebut sudah 2 pekan terakhir ditarik pe r­ edaranya.“Katanya sih mengandung cacing, m a kanya ditarik dari sananya,” ucapnya Minggu (8/ 4). Dirinya juga nenuturkan belum tahu pasti kapan Sarden mulai beredar lagi di minimarket. Namun meskipun sudah tidak beredar, lanjut Adel masih saja ada pembeli yang mencarinya. “Meski udah di tarik, tapi beberapa ibu-ibu suka ada yang nanya sarden, paling kita jelasin ajah k al o ada isu yang mengandung cacing itu,” ucap ny a. Sementara itu, berbeda dari minimarket, warung Kecil di Perumahan VMI Perwira masih menjual sa rden kaleng bermerek Maya, ABC dan Bo ta n. Seorang pemilik warung, Mamay, mengakui tahu mengenai isu bahwa sarden mengandung cacing, namun dirinya telah menyetok sarden di warungnya sebelum isu tersebut merebak. “Saya sih belum terlalu percaya kalo sarden ada cacingnya, takutnya cuma hoaks, makanya saya masih jual, soalnya masih banyak juga yang beli sarden,” tuntasnya. (dyt/gob) PBB Teluk Pucung Terjunkan Tim Opsir BEKASI UTARA – Untuk mempermudah warga da lam melaksanakan kewajibannya membayar Pa jak Bumi dan Bangunan (PBB), kelurahan Tel uk Pucung menerjunkan tim Operasi Sisir (O p­ si) dengan mendatangi warga secara lan gsu ng. Operasi sisir atau jemput bola tersebut dengan mengunjungi wilayah RW02, RW03, RW10, RW26, RW37, RW25, RW13 dan RW06 . Lurah Teluk Pucung Muhammad AR mengaku, dengan cara seperti ini warga makin mudah membayar PB B. “Warga tidak lagi repot mndatangi kantor ke lurahan untuk membayar PBB, tapi cukup di secretariat RW saja. Karena, kami menerjunkan tim untuk menagih PBB. Denga seperti ini, pe la yanan kepada masyarakat makin opti ma l,”t eg asnya. Sementara, Ketua RW 003 Kelurahan Teluk Pucung, Sodikin mengaku sangat terbantu dengan pr ogram jemput bola tersebut. Dengan seperti in i, menurutnya, warga yang enggan membaya PP B jadi tergerak untuk melaksanakan kewa jib an nya. “Warga tidak perlu repot-repot ke kantor kelu ra han. Kami sangat terbantu dengan program in i, pe layanan menjadi lebih cepat,”tandasnya. (c r38) TAMBUN UTARA – Jajaran pe ng urus Jawara Jaga Kampung (Jajaka) Bekasi, mengajak salah satu dosen Universitas Indonesia Ade Armando ber diskusi. Hal in i terkait postingan Ade Armando di akun media so sial yang di nilai mencidrai u mat muslim, be lum lama in i. Ketua DPP Jajaka Nusantara Damin Sada mengaku, ajakan ber dialog secara langsung kepada Ade Armando bert u ju an untuk menghindari fitnah da n perdebatan terbuka di me dia sosial yang berpotensi menimbu lkan kegaduhan dan ge sekan di tengah masya ra k at. “Saya akan mengajak Ade Armando untuk bertemu dan berdialog langsung, baik terbuka maupun tertutup. Hari ini tim saya akan mengirimkan surat ke UI (Universitas Indone sia-red), untuk meminta wa ktu kepada yang bers angku tan ketemu, kapan dan dima na tempatnya, saya siap da tang,” kata Damin kepada Ra dar Bekasi. Tokoh masyarakat Bekasi Bekasi memiliki salah satu pakaian khas bekasi yang tidak dimiliki oleh daerah lain, yakni Kembang Gede. Seperti apa? Laporan: Kukuh Prakoso Cikarang Timur Sebagai wilayah yang kaya akan sejarah dan budaya, Beka si memiliki pakaian khas pe ngantin, Kembang Gede. Pa kaian tersebut perbaduan Be tawi dan Bekasi. Penasehat Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpri) Kabupaten Bekasi, Nur Haety mengatakan Secara ke seluruhan, kembang gede menyerupai pakaian pengantin Betawi. Pengantin pria mengguna kan peci sedangkan wanita me ngenakan siangko atau cadar yang menutupi waj ah. Namin, kembang gede memiliki kekhasan tersendiri, terlebih pada bagian aksesori s nya. Setiap aksesori pun memiliki makna. Pada pakaian pe ngantin wanita kembang gede mengenakan konde cucu ng yang dipasang di kepala. Ko nde dipasang dengan cara di ikatkan menggunakan tali yang ditarik dari kiri ke kanan. Cara pemasangan ini me ngandung arti bahwa kehidupan Jajaka Ajak Ade Diskusi ini menegaskan, ajakan untuk be rtemu Ade Armando terse but bukan tantangan untuk me m buat perhitungan secara fisik atau semacamnya, tapi per temuan untuk berdialog se bagai sesama muslim dan ses ama anak bangsa. “Saya harap masyarakat juga jangan salah menafsirkan, saya mau ketemu Ade Armando bukan untuk ngajak duel. Ini ajakan pertemuan untuk ber dialog,” tegas Ketua Umum Ja jaka Nusantara ini. Sementara itu, dalam postingan terbaru di akun Facebookbnya, Sabtu lalu, Ade Ar mando meminta Damin Sada memberikan bukti yang menunjukkan bahwa dirinya men diskreditkan nilai-nilai ke- Islaman. Ade Armando ju ga menyebut dirinya tidak per nah merasa menghina Isl am. “Pak Damin Sada tolong beri kan bukti yang menun ju k kan sa ya men dis kre ditkan nilai-nilai keislaman. Kalau sa ya memang menghina Islam, tentu saya layak dilaknat Allah. Tapi saya tidak DOK/RADAR BEKASI LUSTRASI: Ketua Jajaka Nusantara Damin Sada (tengah), saat memberikan sambutan dalam sebuah acara komunitas belum lama ini. Dia mengajak Ade Armando untuk berdiskusi terkait postingannya di akun media sosial belum lama ini. pernah merasa menghina Islam. Ba rang kali Bapak bisa tunjukkan ke sa la han saya? Saya khawatir k alau Bapak ternyata tidak b i sa membuktikan tuduhan Bapak terhadap saya, Bapak sendiri ISTIMEWA/RADAR BEKASI KEMBANG GEDE: Salah seorang model saat memamerkan pakaian khas bekasi Kembang Gede dalam Festival Bridal bertajuk ‘Romantic Wedding Song Band Competition’ belum lama ini. yang akan dilaknat Allah.” tulis Ade Armando dalam status Facebook nya. (Cr37) Mengenal Pakaian Khas Bekasi Kembang Gede Mirip Pakaian Betawi, Banyak Mengandung Filosofi ke rap berawal dari kesakitan na mun pada akhirnya bakal berujung pada kebaikan. “Konde ini juga memiliki tiga dimensi yakni dimensi alam, uhrawi dan insan, sehingga kal au kita amenjalankan pe ri n tah agama insya Allah akan m e­ nggapai kemurnian,” kata dia. Kemudian jajagoan, aksesori yang juga dipasang pada kepa la wanita. “Kalau di Betwai di namakan burung hong. Kena pa disebut jajagoan? Karena Be kasi ini banyak sekali peju ang-pejuang, banyak orang ja go,” kata Nur. “Jajagoan juga melambangkan aya m jago yang pintar mencari rej eki, diharapkan penganten mudah menggapai rizki. Jajagoan ada empat yang dise matkan yang berarti empat m ata angin. Diharapkan pe nga ntin bisa mencari rezeki ke segala arah,” kata dia melan ju t kan. Kemudian pada pakaian pria di pasangi parang, yang melambang kan kekuatan. “Pada dasar nya kuat dari segala godaan da lam pernikahan. Pada saat me ngarungi rumah tangga ja ngan mendengar bisikan ki ri kanan,“ kata dia. Dikatakan Nur, selama ini bu sana pengantin Bekasi kerap di samakan dengan busana pe ngantin Betawi. Maka dari itu, sejak tahun 2004, para pe rias mulai melakukan peng ga lian sejarah untuk pengentahui kekhasan Bekasi. Pe ngg alian menghabiskan waktu, se diktinya tiga tahun. “Setelah melalui proses penggalian, kami perjuangkan agar diakui. Alhamdulillah pada 2007 kembang gede dibakukan di tingkat Kabupaten Bekasi. Tidak berhenti sampai di situ, kami selalu berupaya agar pengantin Bekasi diketahui khalayak ramai. Hingga pada 2014 busana pengantin Bekasi dibakukan di tingkat nasional,” kata dia. “Ha rapan saya justru para pe jabat, misalkan menikahkan ana knya, atau saudaranya, ha rusnya pakai kembang gede biar jadi contoh bagi ma syarakat. Pakaian khas ini harus ter us diperkenalkan,” kata Nur Ha eti kepada Radar Bekasi, belum lama ini.(*)

Edisi Maret - April Tahun 2009 per HAL - Elsam
Sriwijaya Magazine April 2018
Sriwijaya Magazine April 2017
TRINIL Edisi 2 / 2016
Kembara PLUS online edisi April 2014