Views
2 months ago

TamaT - Majalah Detik

majalah detik

seni & hiburan musik

seni & hiburan musik ‘‘ Kami seperti anggur yang makin tua makin enak -Philip Bailey- istimewa ‘‘ Album Last Days and Time-1972 Sudah 40 tahun Earth Wind and Fire berkarya. Ratusan lagu dibuat, sederetan hits duduk di puncak tangga, tur demi tur, dan bongkar pasang personel mereka rasakan. Dari album pertama Last Days and Time pada 1972, Earth Wind and Fire mulai dikenal sebagai grup RnB berbasis jazz dan gospel dari kota Chicago, AS. Grup ini didirikan Maurice White pada 1969 dengan personel awal Verdine White (bergabung pada 1970), Don Whitehead, Wade Flemons, Sherry Scott (vokal), Michael Beal (gitar), Chet Washington (saxophone), Alex Thomas (trombon), dan Yackov Ben Israel (perkusi). Ternyata waktu tidak melapukkan namanya. Terbukti selama empat dekade Earth Wind and Fire terus exist. Lagu-lagunya jadi lagu wajib band-band kafe di seluruh dunia, termasuk Indonesia, dan dibawakan dari generasi ke generasi. Personel terakhir grup ini adalah Verdine White (gitar) , Philip Bailey (vokal dan perkusi), dan Ralph Johnson “Kami seperti anggur yang makin tua makin enak,” kata Philip Bailey suatu hari. Menandai 40 tahun berkarier, Earth Wind and Fire menghelat 40 th Anniversary World Tour 2012. Indonesia kebagian disambangi pada Rabu malam 28 Maret 2012 di Tennis Indoor Stadium Senayan, Jakarta, negara pertama dalam rangkaian tur sebelum ke Singapura, Bangkok, dan Australia. Sejumlah 3.600 tiket dengan banderol Rp 600 ribu hingga Rp 3 juta terjual habis. Baru kali ini mereka tampil di Indonesia. Sekadar informasi, grup yang datang ke Java Jazz tahun 2005 itu bukan Earth Wind and Fire, melainkan Earth Wind and Fire Experience yang khusus menyanyikan lagu- Majalah detik 9 - 15 april 2012

seni & hiburan musik Konser Earht Wind and Fire di Tennis Indoor Senayan Munady/detikfoto lagu Earth Wind and Fire. Tanpa opening act, tiga laki-laki senior ini tampil selama dua jam. Panggung penuh. Ada 14 musisi lain yang jadi pendukung. Boogie Wonderland jadi pembuka hangat. Lagu legenda 1979 dari era disko, rambut kribo, dan celana cutbrai. Ketiganya muncul berderet, sama-sama berbaju putih, menyanyi dengan koreografi yang pas, khas 70-an. Penonton yang umumnya berusia 40-an dan 50- an tahun, bahkan tak sedikit yang membawa anak remaja mereka, sontak bertepuk tangan riuh, dan bergoyang. Boogie Wonderland jadi terowongan waktu bagi mereka kembali ke era diskotek, saat pulang terpaksa lewat jendela, dan berteman majalah remaja. Boogie Wonderland bersambung dengan Sing A Song yang populer pada 1976. Verdine White tampil atraktif dengan basnya, Philip Bailey kalem memainkan perkusi, dan Ralph Johnson penuh semangat menggebuk drum. Lantas berturut-turut Shining Star, Serpentine Fire, dan lagu tanpa lirik Sun Goddess. Semuanya bertempo medium beat. Pada lagu berikutnya, Philip berjalan dari tepi panggung menuju ke tengah sambil memainkan kalimba, alat musik asal Afrika yang dimainkan dengan cara menggetarkan lidah besinya menggunakan ibu jari. Permainan Philip itu jadi pembuka Kalimba Song. Musik pentatonik ini berpadu manis mengiringi lagu Majalah detik 9 - 15 april 2012

Majalah detik - Institut Teknologi Telkom
majalah detik - Institut Teknologi Telkom
LADY GAGA PERKENALKAN EMMA MENTERI AGUS ... - Harian detik
majalah kredibel edisi-01-2011 - LKPP
Download Majalah - MPR RI /a
Majalah Santunan edisi Juli 2010 - Kementerian Agama Prov Aceh
Majalah Santunan edisi Oktober 2010 - Kementerian Agama Prov ...
Majalah%20ICT%20No.11-2013
Majalah ICT No.26-2014
MAJALAH ALUMNI UI EDISI 14