Views
6 months ago

EBOOK BENTARA TRIWULAN II 2017

Saya juga menyadari

Saya juga menyadari bahwa dalam kerajaan Asas, di mana Allah adalah satu-satunya kuasa, tidak dapat ada kekosongan. Tidak ada yang tidak pada tempatnya. Tidak ada yang tidak berguna. Tidak ada kekacauan. Kita menyelaraskan pikiran dengan Asas melalui doa yang dalam dan penuh pembaktian. Dalam doa, kita melihat melampaui keadaan insani untuk menyadari dan menetapkan kesejahteraan kita dalam kasih Allah Ibu-Bapa kita. Dan setelah melabuhkan diri dalam penjagaan yang kuat dan lemah lembut itu, maka kita dalam posisi yang baik untuk mendengarkan dengan penuh perhatian bimbingan ilahi yang akan membantu kita mengambil tindakan yang bijaksana. Kita selalu berada dalam “posisi” mencerminkan kebaikan Allah yang tidak berhingga. Hal ini tidak bergantung kepada pekerjaan, perilaku orang lain, perekonomian yang tidak stabil, atau lokasi geografis. Kita tidak mencari “posisi” yang baru, melainkan tempat di mana kita dapat menyatakan kebaikan Allah dengan lebih baik. Dalam syairnya “Jaga dombaku,” Mary Baker Eddy menulis: SuaraMu kudengarkan, Jangan ‘ku sesat; Kau kuturut gembira Biar jalanku b’rat. (Buku Nyanyian Ilmupengetahuan Kristen, no 304) Jalan di depan kita mungkin kelihatannya berat. Mungkin kita ragu apakah kita telah mengambil jalan yang benar. Hampir sepanjang jalan kita mungkin merasa takut. Tetapi, jika kita percaya kepada Allah saat berdoa, kita dapat merasa yakin akan dibimbing ke arah yang benar. Sebagai contoh, beberapa tahun yang lalu saya bekerja di perusahaan iklan dengan gaji yang baik. Meskipun demikian saya merasa terusik karena tugas saya mencakup beberapa segi yang menurut saya secara etis diragukan dan juga karena sulit mendapatkan tempat tinggal yang sesuai. Setiap hari saya berdoa mengenai keadaan tersebut, berusaha menyadari bahwa satusatunya tempat saya yang benar—baik di kantor maupun di rumah—adalah di mana saya mempunyai kesempatan yang besar untuk menyatakan talenta-talenta yang dikaruniakan Allah kepada saya.

Saya merasa yakin dapat menyerahkan hal ini dengan aman di tangan Allah, meskipun saat itu saya merasa terdorong untuk memperbaiki riwayat pekerjaan saya dan membuat daftar perusahaan di kota yang jauh letaknya, yang rasanya merupakan tempat yang lebih menyenangkan untuk bekerja dan tinggal. Tanpa terduga, beberapa bulan kemudian, tugas saya berakhir. Tetapi berkat perencanaan yang didukung intuisi rohaniah itu, saya dapat segera mengirimkan surat lamaran, termasuk riwayat pekerjaan yang sudah diperbaharui, ke berbagai perusahaan yang ada di daftar saya, dan terbang ke kota itu. Setibanya di kota tersebut, ketika pertama kali menelpon, orang yang menerima telpon saya berkata, “Anda telah memilih minggu terburuk selama sepuluh tahun untuk mendapatkan posisi yang anda inginkan.” Selanjutnya orang itu menceritakan tentang sebuah perusahaan besar yang telah menghentikan pengiklanan produk dan menghapus seluruh departemen periklanannya. Dua agen iklan langganan perusahaan tersebut juga terpaksa memberhentikan sejumlah pegawainya. Alhasil, saat itu ada sekitar 100 orang yang memiliki keahlian seperti saya, yang tanpa pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan seperti yang saya inginkan—dan mereka semua memiliki koneksi di kota di mana saya merupakan pendatang baru. Itu merupakan saat yang berat bagi saya. Apakah doa saya untuk memperoleh bimbingan tidak cukup? Apakah saya kurang cermat mendengarkan apa yang kelihatannya seperti ide yang benar? Sungguh berat menerima saran bahwa “langkah” saya sesat, dan sungguh sulit untuk berpikir saya dapat “gembira” atas apa yang seakan merupakan “jalan yang berat.” Untuk mendapatkan kedamaian, dengan tekun saya merenungkan suatu pernyataan dari buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan,yang menyerukan kepada semua orangagar “. . . bersatu dengan Budi yang esa, untuk mengganti pendapat tentang nasib dengan paham yang benar tentang bimbingan Allah yang tidak dapat salah, dan dengan demikian menjadikan nyata keselarasan” (hlm. 424). Saya tahu saya tidak tunduk kepada hukum nasib, melainkan kepada hukum bimbingan Allah.

Edisi Februari 2017
Sriwijaya Magazine Maret 2017