Views
6 months ago

EBOOK BENTARA TRIWULAN II 2017

seorang kawan,

seorang kawan, menyebabkan perasaan duka cita yang sama seperti kalau kawan itu betul-betul meninggal. Kita mengira, bahwa duka kita disebabkan oleh kehilangan kita. Suatu berita yang lain, yang membetulkan kekhilafan itu, menyembuhkan duka cita kita, dan kita insaf bahwa penderitaan kita semata-mata adalah akibat kepercayaan kita. Demikian jugalah dengan semua kesedihan, penyakit, dan maut. Pada suatu waktu akan kita insafi, bahwa tidak ada alasan untuk berduka cita, lalu kebijaksanaan ilahi akan dipahami. Kesesatan, bukan Kebenaran, mendatangkan segala penderitaan di bumi.” (hlm. 386). Meskipun di sini Ny. Eddy merujuk kepada berita yang tidak benar, bukan hanya dari sudut pandang rohaniah tetapi juga bagi pandangan insani—karena orang yang diberitakan itu tidak meninggal—menurut pendapat saya konsep “berita yang salah” itu berguna untuk diingat saat kita menghadapi kesaksian kejahatan di dalam hidup kita sendiri atau di dunia. Ungkapan itu dapat mengingatkan kita, bahwa jika dipahami dengan benar dari sudut pandang rohaniah, yang disangkakan sebagai tindakan kejahatan sesungguhnya tidak memiliki dasar dalam kesejatian, karena tidak berasal dari Allah. Dan hal ini benar, tidak peduli besarnya atau kuatnya bukti yang disajikan penanggapan kebendaan untuk mendukung pernyataan kejahatan. Maka, boleh dikatakan, setiap berita tentang kejahatan dapat dipandang sebagai berita yang salah. Beberapa tahun yang lalu saya mempunyai pengalaman yang membantu saya untuk melihat hal ini dengan lebih jelas. Saat itu saya bekerja untuk suatu perusahaan kecil yang manangani pembangunan perumahan. Salah satu tugas saya adalah mengkoordinasi layanan nasabah, sebagai penghubung dengan pemilik rumah dan menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi pada rumah mereka. Saya ingat mendapat pemberitahuan dari pegawai kami bahwa ada “nasabah yang bersemangat”—seorang pemilik rumah yang mereka gambarkan dengan bahasa khusus dan mereka yakin tidak akan berhenti memberi saya masalah. Saya tertawa mendengar laporan tersebut, tetapi secara tidak sadar menerima pikiran bahwa suatu saat saya akan menghadapi masalah dengan wanita itu. Tidak lama sesudah itu, saya mendapat telpon dari wanita tersebut. Dengan cepat pembicaraannya berubah menjadi umpatan terhadap perusahaan dan pegawai kami, sebelum ia tiba-tiba mengakhiri pembicaraan. Saya terkejut dengan serangan yang membakar perasaan itu, tetapi saya tahu bahwa adalah tugas saya untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Saat itu saya menghadapi suatu pilihan. Boleh dikatakan saya dapat menerima “berita yang salah,”—yang nampak sebagai wanita yang penuh kemarahan serta kebencian. Atau saya dapat berpaling dalam doa kepada Allah, mengakui sifat wanita itu yang sesungguhnya sebagai anak Allah yang terkasih, yang hanya mampu menyatakan kelemahlembutan Ibu-Bapa ilahi, Kasih. Saya berdoa. Dan ketika saya siap untuk menelponnya kembali, telpon berdering. Ternyata wanita itu lagi. Sekarang dia tenang dan rendah hati, siap bekerja sama dengan saya untuk mendapatkan solusi bagi masalah-masalah pada rumahnya. Kuasa Kristus telah mendorong saya untuk mengenali keakuannya yang rohaniah dan sebenarnya sebagai pernyataan Allah, dan hal ini menghapuskan keadaan pikiran yang tidak wajar serta penuh kebencian, yang tidak merupakan bagian dari dirinya yang sesungguhnya. Dampak doa langsung terasa dan bersifat permanen. Kami menjalin hubungan yang ramah dan kooperatif dengan wanita tersebut selama masa garansi, yang berlangsung selama dua tahun. Pengalaman ini merupakan batu loncatan bagi saya untuk penerapan yang lebih luas. Ketika menghadapi berita tentang kejadian di dunia atau setempat yang tidak baik— apakah itu penyakit, bencana, kekerasan, korupsi—secara mental saya namai laporan itu “berita yang salah.” Meskipun ada bukti kebendaan untuk menunjang pernyataannya, hal itu tidak mempunyai dasar dalam fakta rohaniah. Sesungguhnya saya dihadapkan pada pilihan yang sama seperti yang terjadi di kantor saya: Apakah saya akan menerima sebagai sesuatu yang meyakinkan, kesaksian bahwa kejahatan itu suatu kesejatian yang tidak dapat saya atasi atau kendalikan, atau apakah saya tetap teguh dalam keyakinan bahwa kebaikan Allah itu mahakuasa dan selalu hadir dan bahwa saya dapat membuktikan fakta ini, meskipun dalam cara-cara yang sederhana? Jika kita membiarkan kesempurnaan rohaniah sebagai standar kita—yakni apa yang kita terima sebagai yang benar-benar sejati—kita tidak dapat dihipnotis untuk mempercayai dongeng tentang kehidupan yang didasarkan pada penanggapan kebendaan, dengan demikian kita dapat lebih banyak membantu umat manusia melalui doa. Tetapi menerima secara pasif bahwa dosa dan penderitaan itu wajar dan tak terhindarkan tidak dapat mendatangkan kesembuhan bagi pikiran seseorang atau dunia, dan kita menjadi bulan-bulanan pendapat umum.

Ebook Anak.Kecil Pemalu Gede Jangan Malu-Maluin
ii
Ebook Anak.wahidin halim koleksi - Bimtek Pengelolaan ...
Puisi-Esai-Kemungkinan-Baru-Puisi-Indonesia-ebook
Ebook Rusunawa - SKPD Pemerintah Kota Batam
TravelXpose.com - Edisi Maret 2017
Informasi Arsitektur ITB 2017
Sriwijaya Magazine April 2017