Views
8 months ago

BUKU_RPI_1

disesuaikan serta

disesuaikan serta ditambahkan beberapa indikator lain yang menggambarkan keterkaitan aspek sosial ekonomi keberadaan hutan dalam suatu DAS. Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk (satuan jiwa) yang tercatat tinggal di dalam suatu luas wilayah DAS tertentu (satuan km2). Kepadatan penduduk menjadi indikasi tekanan terhadap lahan secara umum. Data jumlah penduduk dapat diperoleh dari publikasi resmi BPS atau statistik desa setempat. Data luas DAS dapat diperoleh dari pencatatan resmi BPDAS yang menbawahi wilayah DAS tersebut atau melalui analisis peta/citra/GIS. Klasifikasi kepadatan penduduk terkait dengan penguasaan lahan pertanian (mengacu pada UU Nomor 56 PRP Tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian) adalah: 1. Sampai 50 jiwa/km2 à tidak padat 2. 51-250 jiwa/km2 à kurang padat 3. 251-400 jiwa/km2 à cukup padat 4. 401 jiwa/km2 ke atas à sangat padat Persentase rumah tangga pertanian adalah rasio jumlah rumah tangga dengan mata pencaharian di sektor pertanian dibandingkan dengan jumlah rumah tangga total dalam wilayah DAS tertentu. Kedua data jumlah rumah tangga tersebut dapat diperoleh dari publikasi resmi BPS atau statistik desa setempat. Persentase rumah tangga pertanian mengindikasikan ketergantungan terhadap lahan pertanian sekaligus kebutuhan air untuk budidaya pertanian. Akses untuk mencapai fasilitas publik adalah total panjang jalan (satuan km) dalam wilayah DAS tertentu. Akses ini mengindikasikan peluang terjadinya alih fungsi lahan karena kemudahan orang dan kendaraan untuk mencapai suatu lokasi. Data ini dapat diperoleh dari publikasi resmi BPS atau statistik desa setempat. Kearifan/nilai lokal masyarakat adalah peraturan/nilai/norma baik tertulis atau tidak tertulis yang dilaksanakan masyarakat setempat untuk menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungan sekitarnya. Data ini dapat diperoleh dari wawancara dengan penduduk/tokoh masyarakat/pemerintah desa. Tingkat pendapatan adalah pendapatan per kapita dari sektor pertanian (satuan Rp/kapita/tahun) yang merupakan sektor primer dalam pembangunan ekonomi yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan lahan dan air. Tingkat pendapatan dari sektor pertanian mencerminkan kesejahteraan penduduk dari suatu wilayah DAS yang kebanyakan tergantung pada sektor pertanian. Data mengenai pendapatan ini dapat diperoleh dari publikasi resmi BPS yakni pendapatan daerah regional regional bruto (PDRB) dari sektor pertanian yang meliputi sub sektor pertanian tanaman pangan, tanaman perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perkebunan. PEMODELAN TRADE-OFF Dalam manajemen ruang, seringkali terjadi trade off antar kepentingan manusia dengan kepentingan untuk menjaga kelestarian alam. Untuk menghindari terjadinya hal ini 86 • Petunjuk Teknis Penentuan Luas Hutan Optimal Berbasis Respon Hidrologi

maka perlu untuk memasukkan variable-variabel baik yang menyangkut biofisik maupun sosial ekonomi ke dalam suatu model sehingga diharapkan tidak terjadi ketimpangan antara keduanya.Dalam optimasi lahan, kedua faktor tersebut dapat disatukan dengan memasukkan faktor sosial ekonomi seperti produktivitas lahan dan nilainya ke dalam persamaan optimasi. Variabel yang terkait dengan optimasi penggunaan lahan yang dapat digunakan adalah : 1. Besaran erosi yang dapat diperbolehkan 2. Besaran erosi dari setiap penggunaan lahan yang ada 3. Produktivitas lahan dari masing-masing penggunaan lahan 4. Harga jual dari setiap produk dari lahan 5. Faktor pembatas, seperti proyeksi pertamabahan penduduk, pertambahan perumahan, kebutuhan lahan sawah dan faktor pembatas lainnya. 1. Variabel Biofisik dan Sosial Ekonomi Salah satu variable biofisik yang dapat digunakan adalah volume debit sungai dengan pertimbangan bahwa hutan memiliki fungsi hidrologis sehingga kondisi hutan yang baik akan mempengaruhi kontinuitas penyediaan air di wilayah DAS tersebut. Produksi air dari suatu DAS dapat berupa air permukaan dan air bawah tanah. Di sini yang digunakan adalah hasil air permukaan yang mengalir mengingat datanya sudah tersedia, sementara data air bawah tanah belum tentu tersedia. Data debit sungai diambil dari Stasiun Pengukuran Aliran Sungai (SPAS) yang merupakan outlet sungai utama dari wilayah hutan DAS tersebut. Data tersebut dikonversikan menjadi volume debit satu tahun dengan mengalikannya dengan jumlah hari dalam satu tahun, jumlah jam dalam satu hari, dan jumlah detik dalam satu jam. Variable sosial ekonomi yang digunakan adalah produk domestik regional bruto (PDRB) sektor pertanian yang melingkupi desa-desa dalam wilayah DAS tersebut. Nilai PDRB sektor pertanian meliputi seluruh nilai yang berasal dari lima sub sektor, yakni pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Nilai PDRB yang digunakan adalah PDRB atas dasar harga konstan (ADHK). Penggunaan PDRB ADHK dimaksudkan untuk menghilangkan pengaruh inflasi sehingga dapat diperbandingkan pertumbuhan ekonomi riilnya dari tahun ke tahun. PDRB sektor pertanian dipilih dengan pertimbangan bahwa hasil air dari kawasan hutan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi produksi sektor pertanian. Selain itu, variabel tersebut dipilih karena lebih mudah didapatkan daripada luas lahan pertanian dan hasil produksinya yang datanya tidak tersedia secara periodik. Tahapan untuk memperoleh nilai PDRB sektor pertanian di wilayah DAS tertentu dilakukan dengan mengalikan jumlah penduduk tiap desa dengan PDRB per kapita dari sektor pertanian di kecamatan yang melingkupi desa tersebut kemudian menjumlahkan semuanya untuk memperoleh nilai PDRB pada tahun tertentu. Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi pustaka dari berbagai laporan dan statistik. Sumber data bisa berasal dari BPDAS, BPKH, BIG, BPS pusat, BPS Provinsi, Sintesis Penelitian Integratif Manajemen Lanskap Hutan Berbasis DAS • 87