Views
5 months ago

BUKU_RPI_1

Hasil penelitian dari 11

Hasil penelitian dari 11 lokasi das menunjukkan bahwa proporsi penutupan hutan umumnya berada di bawah luas hutan minimal yang dipersyaratkan oleh pasal 18 UU Kehutanan, yaitu seluas minimal 30%. Hal ini berlaku juga bagi kategori das yang dipertahankan, dengan perkecualian tiga (3) lokasi das yang penutupan hutannya di atas syarat minimal, yaitu das Kemit, das Serayu Hulu serta das Sumbawa. A. Proporsi penutupan hutan dan kepadatan penduduk pada Kategori DAS yang dipulihkan 1. Asahan (Sumatera Utara) 24,25% 733 jiwa/km2 2. Baturusa (Bangka Belitung) 2,13% 182 jiwa/km2 3. Tulang Bawang (Lampung) 2,79% 43 s/d 902 jiwa/km2 4. Ciliwung ( Jawa Barat) 9,5% 597 s/d 5.185 jiwa/km2 B. Proporsi penutupan hutan dan kepadatan penduduk pada Kategori DAS yang dipertahankan 1. Cidanau ( Jawa Barat) 26,04% 1.220 jiwa/km2 2. Citanduy ( Jawa Barat) 20,73% 923 s/d 1.577 jiwa/km2 3. Ciseel ( Jawa Barat) 14% 680 s/d 1.329 jiwa/km2 4. Kemit ( Jawa Tengah) 51,76% 1.232 jiwa/km2 5. Serayu Hulu ( Jawa Tengah) 84,14% jiwa/km2 6. Tukad Ayung (Bali) 16,35% 526 jiwa/km2 7. Sumbawa (NTB) 50% 62 jiwa/km2 Peran hutan yang menyangkut aspek hidrologi untuk mengatur tata air bersifat kompleks, namun demikian dapat digambarkan dalam model yang sederhana untuk dapat menelusuri perilakunya secara kuantitatif. Model sederhana yang diajukan digambarkan sebagai berikut (Sunandar 2014): xvi • Ringkasan Eksekutif

Metode yang digunakan untuk mendapatkan penggunaan lahan optimal ada beberapa tahapan, yaitu: 1. Penentuan Kelas Kemampuan Lahan 2. Penentuan Erosi Yang Dapat Ditoleransi 3. Penentuan nilai ekonomi lahan 4. Penentuan Fungsi Tujuan Model 5. Optimasi Spasial Aplikasi SWAT (Soil and Water Assessment Tool) dapat digunakan untuk menentukan luas hutan optimal berbasis respon hidrologis. Aplikasi ini menggunakan input data series minimal 10 tahun termasuk data tentang kelas kemampuan lahan. Mengingat ketersediaan data dengan presisi dan akurasi yang tinggi masih langka, maka penggunaan model individual atau komposit merupakan opsi yang relevan. Tutupan hutan optimal dinilai berdasarkan kombinasi aspek hasil air, potensi erosi dan sosial ekonomi secara komposit. Dengan demikian, luas tutupan hutan optimal untuk masing-masing daerah tidak akan sama, tergantung karakteristik biofisik dan sosial-ekonomi dari aspek penggunaan lahan. Sintesis Penelitian Integratif Manajemen Lanskap Hutan Berbasis DAS • xvii