Views
8 months ago

BUKU_RPI_1

1. Dimensi Biofisik dari

1. Dimensi Biofisik dari penggunaan lahan: deskripsi lanskap, karakterisasi DAS, karakterisasi DTA (Paimin dkk, 2012) 2. Dimensi institusi: organisasi lokal, persepsi aktor, hubungan kekuasaan, aturan formal dan informal, kebijakan alokasi dan penggunaan lahan, tenure arrangements 3. Dimensi ekonomi dan sosial budaya: adat, nilai-nilai, industri dan sistem pengelolaan hutan Kerangka konseptual ini dipakai untuk memandu penelitian dan pemahaman dinamika lanskap diformulasikan dalam dalam gambar berikut: Penggunaan Lahan dan Perubahan Penggunaan Lahan (LULUCF) Dimensi biofisik dari penggunaan lahan (geologi, tanah, topografi, dll) Dimensi Institusi (organisasi lokal, persepsi aktor, hubungan kekuasaan, aturan formal dan non formal, kebijakan alokasi dan penggunaan lahan, Tenure arrangements) Dimensi ekonomi dan sosial budaya (adat , nilai-nilai, industry pertanian, sistem pertanian, dll Deskripsi Lanskap Institusi Persepsi dan Visi Stakeholder Skenario dan Perencanaan Penggunaan Lahan Fungsi Lingkungan dan Nilainilai lingkungan Negosiasi skenario dan trade-off perubahan penggunaan lahan Diadaptasi dari anonimus, 2007 Strategi kebijakan (DSS) optimasi fungsi hutan dan distribusi luas hutan optimal 24 • Metode Sintesis

Bab 5 Analisis Hasil Penelitian 5.1 Model Penataan Ruang dan Penatagunaan Hutan Berbasis DAS Peran hutan di dalam DAS yang menyangkut aspek hidrologi untuk mengatur tata air bersifat kompleks, sehingga digambarkan dalam suatu model yang sederhana agar dapat ditelusuri perilakunya secara kuantitatif. Menurut Pawitan (1995) yang dikutip oleh Sunandar (2014), hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi adanya aliran massa/ energi berupa masukan dan keluaran serta suatu sistem simpanan. Penggunaan model dalam hidrologi menurut Harto (1993) dalam Sunandar (2014) antara lain sebagai berikut: a) peramalan (forecasting) menunjukkan besaran maupun waktu kejadian yang dianalisis berdasar cara probabilistik; b) perkiraan (predicting) yang mengandung pengertian besaran kejadian dan waktu hipotetik (hipotetical future time); c) sebagai alat deteksi dalam masalah pengendalian; d) sebagai alat pengenal (identification) dalam masalah perencanaan; e) ekstrapolasi data/informasi; f ) perkiraan lingkungan akibat tingkat perilaku manusia yang berubah/meningkat; dan g) penelitian dasar dalam proses hidrologi. Model penatagunaan hutan berbasis DAS yang ada dibangun dari Tata Guna Hutan Kesepakan (TGHK) yang disusun melalui kesepakatan tiga Kementerian (Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertanian dan Menteri Kehutanan) di tahun 1983. Model ini membagi lahan di Indonesia sebagai kawasan hutan dan non-kawasan atau areal penggunaan lain (apl). Pengelolaan hutan dilakukan berdasar fungsi hutan yang ditetapkan oleh Pemerintah dan dibagi menjadi fungsi lindung, fungsi produksi serta fungsi konservasi. Dengan diterbitkannya UU Tata Ruang no 24/1992 yang diperbaharui dengan UU 26/2007, penatagunaan hutan yang ditunjuk melalui TGHK ditinjau ulang dan diharmonisasikan dengan kondisi lapangan terkini. Penelitian integratif yang mendukung model penataan ruang dan pentagunaan hutan dilakukan melalui empat kegiatan, yaitu: Review status riset manajemen lanskap hutan; Kajian regulasi penggunaan kawasan hutan untuk kegiatan pertambangan; Kajian Lanskap Hutan pada berbagai kondisi DAS; Analisis paduserasi Tata Ruang Daerah dengan Tata Guna Hutan. Sintesis Penelitian Integratif Manajemen Lanskap Hutan Berbasis DAS • 25