Views
4 months ago

BUKU_RPI_1

Tabel 5. Jenis dan

Tabel 5. Jenis dan sumber data penelitian. No Jenis Data Sumber Data 1 Data kondisi hutan dan DAS : citra satelit, peta DAS, tutupan lahan, penggunaan lahan, fungsi kawasan hutan, geologi, kontur, curah hujan, debit, erosi, dll. 2 Kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kependudukan : Pendapatan per KK, pendidikan, mata pencaharian, PDB, jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhan penduduk, dll. Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Dinas Kehutanan tingkat Provinsi, dan Kabupaten, BPS, BMKG, dll. BPS, BPS Kabupaten, Dinas Kehutanan, masyarakat Analisa data dilakukan untuk mengetahui struktur lanskap, struktur sosial-budaya dan ekonomi, serta integrasi kedua struktur tersebut. Struktur lanskap dianalisis dengan menggunakan analisa spasial (GIS) untuk mengidentifikasi elemen-elemen lanskap antara lain: luas tutupan lahan, perubahan tutupan lahan, hubungan antara kepadatan penduduk dan tutupan lahan, fungsi kawasan hutan, lahan kritis, erosi dan debit, hubungan antara rata-rata pendapatan desa dan tutupan lahan, fungsi kawasan hutan serta lahan kritis. Struktur sosial-budaya dan ekonomi dari suatu lanskap dianalisa dengan metode PALA, Participatory Landscape Assessment, yang dikembangkan oleh ICRAF. Integrasi dilakukan terhadap kedua pendekatan tersebut yang selanjutnya dianalisa secara deskriptif. Dalam hubungannya dengan peningkatan perekonomian masyarakat yang berada di sekitar wilayah hutan, manajemen lanskap berkontribusi mengidentifikasi kantong-kantong kemiskinan di sekitar wilayah hutan yang potensial mengakibatkan perambahan dan deforestasi. Melalui pengembangan produk komoditas non-kayu diharapkan pengangguran di sekitar wilayah hutan dapat diserap menjadi tenaga kerja yang produktif. Metode integrasi struktur spasial dengan struktur sosial-budaya dan ekonomi menghasilkan informasi tentang proses perubahan penggunaan lahan yang terjadi di lokasi penelitian. Proses tersebut dapat direfleksikan sebagai kriteria dan indikator yang akan menjadi sinyal atau pertanda bagi manajemen untuk melakukan intervensi guna melestarikan lanskap hutan. Kriteria dan indikator pengelolaan lanskap hutan pada suatu DAS dapat terlihat pada gambar dan diagram berikut : 30 • Analisis Hasil Penelitian

Tabel 6. Kriteria dan Indikator Pengelolaan Lanskap Hutan pada Suatu DAS Kriteria Parameter Keterangan Sosial Budaya Ekologi Ekonomi Kepadatan penduduk Pendidikan Menghitung perbandingan jumlah penduduk yang berdomisili di suatu wilayah dengan luas wilayah tsb Tingkat Kepedulian masyarakat terhadap program pengelolaan lanskap hutan berkelanjutan Adat Istiadat · Adat istiadat (custom). Pelanggar dikucilkan · Kebiasaan (folkways). Pelanggar didenda dengan pesta adat. · Tata kelakuan (Mores). Pelanggar biasanya ditegur ketua adat/orang lain · Cara (usage) pelanggar dicemooh · Tidak ada hukuman Debit air sungai Q= Qmax/Qmin CV = coef, variation < 30 > 30 Kandungan sedimen Kadar sedimen dalam air sungai < 1000 mg/l > 1000 mg/l Erosi Pengukuran dengan alat Spas – sistem pengukuran aliran sungai Tingkat pendapatan Tingkat kesejahteraan Pendapatan per kapita per tahun Membandingkan kondisi masyarakat dengan kriteria WB Korelasi dengan Pengelolaan Lanskap hutan Semakin tinggi kepadatan penduduk tekanan terhadap lahan hutan semakin tinggi Semakin tinggi pendidikan kepedulian terhadap manfaat keberadaan hutan semakin tinggi Adat istiadat mengatur perilaku masyarakat dan berdampak pada keberlanjutan pengelolaan lanskap hutan Semakin bagus ekosistem hutan, semakin tinggi debit air dan fluktuasi semakin rendah Semakin rendah tutupan lahan hutan semakin tinggi tingkat sedimentasi Semakin rendah tutupan lahan hutan semakin tinggi tingkat sedimentasi erosi Semakin rendah nilai kontribusi hutan terhadap pendapatan masyarakat semakin tinggi tingkat kerusakan hutan Semakin rendah nilai kontribusi hutan terhadap kesejahtreaan masyarakat semakin tinggi tingkat kerusakan hutan Tabel di atas menunjukkan bahwa dari sisi ekologis, indikator yang mencerminkan terjadinya perubahan lanskap hutan dapat disajikan secara kuantitatif, hal ini direfleksikan melalui terjadinya perubahan debit air, kandungan sedimen serta tingkat erosi. Indikator tersebut di atas dapat digunakan sebagai sinyal atau pertanda bagi pihak manajemen untuk melakukan berbagai koreksi, baik melalui pendekatan revegetasi maupun melalui pendekatan teknik sipil. Indikator tersebut perlu diperkaya dengan penghitungan kandungan stok karbon hutan serta penurunan tingkat emisi di level lanskap. Sedangkan indikator yang perlu diperhatikan dalam manajemen lanskap dari aspek sosial-budaya dan ekonomi masih bersifat kualitatif dan perlu dikuantifikasikan untuk Sintesis Penelitian Integratif Manajemen Lanskap Hutan Berbasis DAS • 31