Views
3 months ago

BUKU_RPI_1

dapat memberikan

dapat memberikan kepastian sinyal bagi pengambil keputusan agar dapat melakukan intervensi yang tepat. Aspek sosial-budaya yang bervariasi dari satu lokasi ke lain tempat, kondisinya yang terus berkembang dan bersifat dinamis merupakan tantangan dalam membangun ukuran-ukuran yang sifatnya terukur. Salah satu indikator yang dapat diukur adalah keberadaan konflik serta resolusi penanganannya. Hal yang sebaliknya juga dapat dilakukan dalam konteks partisipasi masyarakat dan kaitannya dengan serapan tenaga kerja di dalam kegiatan kehutanan. Adanya kesamaan persepsi dari para pengguna hutan dalam hubungannya dengan tujuan melestarikan hutan merupakan indikator penting yang perlu mendapat perhatian dari pengelola lanskap hutan. Aliran manfaat dari hutan yang dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat setempat merupakan salah satu indikator ekonomi. Aspek equiti, keadilan dan pemerataan ini penting dalam konteks pemanfaatan sumberdaya alam. Maraknya konflik lahan yang muncul akhir-akhir ini dikarenakan persoalan akses yang menegasikan masyarakat setempat dan lebih memprioritaskan masyarakat dari luar untuk memanfaatkan sumberdaya alam. Selanjutnya adanya insentif pendanaan untuk melestarikan hutan merupakan indikator penting yang perlu dibangun dalam hubungannya dengan manajemen lanskap. Insentif tersebut harus mampu mendorong pelestarian kebun-kebun campuran, agroforestry yang selama ini menjadi asset penting dan modal sosial pemersatu kelompok masyarakat. Penelitian yang dilakukan di Jawa Timur berhasil mengidentifikasi hubungan antara parameter lanskap dengan parameter ekonomi . Parameter lanskap didekati dengan melakukan pengukuran terhadap landuse riel yang ada di lapangan atau lokasi penelitian. Tahapan yang dilakukan adalah menentukan kelas penggunaan lahan atau landuse, yang dalam penelitian meliputi pemukiman,perkebunan (sayuran,apel, kentang, dll), hutan, serta kebun campuran atau agroforestry. Skoring dilakukan untuk menentukan hubungan antar kelas penggunaan lahan (dalam bentuk prosentase). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara tingkat pendapatan masyarakat dengan pola penggunaan lahan, serapan tenaga kerja dan potensi hutan. Di lokasi penelitian, secara umum tingkat pendapatan petani majoritas rendah dan tersebar di seluruh kelas lahan hingga mencapai proporsi lebih dari 71 %. Hal ini mengindikasikan tingginya tingkat kemiskinan petani di wilayah tersebut. Selain itu, penggunaan lahan sawah, tanaman semusim pada tegalan dan pekarangan belum mampu mengangkat tingkat pendapatan petani. Sehubungan dengan itu maka perlu dipertimbangkan kemungkinan untuk memperkenalkan pola penggunaan lahan alternatif yang selain mampu meningkatkan pendapatan petani juga mendorong kelestarian lingkungan serta penurunan tingkat erosi dan sedimentasi. Konsep penggunaan lahan dengan memanfaatkan kombinasi antara tanaman keras dan tanaman semusim merupakan salah satu pilihan. Pendekatan agroforestry ini terutama banyak dikembangkan pada lahan yang memiliki kemiringan 32 • Analisis Hasil Penelitian

tinggi. Konsep kebun campur dengan mengkombinasikan tanaman buah-buahan dengan tanaman kebun dalam jangka panjang akan menjamin kontinyuitas pendapatan petani. Konsep agroforestry ini dapat dipadu dengan wisata alam, dimana kaidah konservasi tanah (misalnya tidak merusak kontur) masih tetap dipertahankan. Gambar 4. Gambar. Lanskap Agroforestry di Bali dan Malang Daerah hulu DAS umumnya merupakan lokasi dimana lanskap hutan masih terjaga kelestariannya melalui adat istiadat dan kearifan masyarakat setempat. Di daerah DAS Cidanau, tutupan lahan berhutan tersebut umumnya merupakan campuran antara pepohonan dengan kebun buah-buahan yang membentuk struktur hutan tropis. Hingga saat ini masyarakat masih memiliki ketergantungan terhadap lahan dengan bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan yang dikembangkan secara tradisional. Budaya yang terjadi hingga saat ini, masyarakat masih memiliki kecenderungan mengonversi hutan rakyat dan kebun campuran menjadi kawasan pemukiman dan budidaya pertanian. Bahkan, di Cagar Alam Rawa Danau bagian hulu sungai pun telah terjadi perambahan seluas ± 845,13 ha oleh 1.497 orang yang digunakan sebagai lahan pertanian. Hal ini mengakibatkan berkurangnya lahan terbuka hijau sehingga limpasan air permukaan semakin besar dan berkurangnya laju infiltrasi pada tanah. Hasil analisis GIS mengindikasikan bahwa desa di DAS Cidanau dengan rata-rata pendapatan tinggi pada umumnya memiliki areal persawahan, pertanian lahan kering dan hutan tanaman yang luas (Desa Citasuk, Batukuwung, Padarincang, Ciomas, Sukadana, Pondok Kaharu, Sukarena, Citaman dan Ujung Tebu). Adapun desa-desa yang didominasi oleh hutan sekunder, hutan tanaman dan pertanian lahan kering memiliki rata-rata pendapatan desa yang rendah (Desa Barugbug, Cipayung, Bugel, Kramat Laban, Cibojong, Ramea, Panjang Jaya, Cikumbuen, Lebak, Cisitu). Sintesis Penelitian Integratif Manajemen Lanskap Hutan Berbasis DAS • 33