Views
3 months ago

BUKU_RPI_1

Kegiatan Pelaksana

Kegiatan Pelaksana Lokasi Hasil Kajian lanskap hutan pada berbagai kondisi DAS Kajian lanskap hutan pada berbagai kondisi DAS BPK Aek Nauli BPK Ciamis Sumatera Utara Citandui Hulu Jawa Barat Ciseel Jabar Jawa Barat Kemit, Jawa Tengah Kondisi kawasan hutan relatif masih bagus kondisinya tetapi tidak lepas dari adanya tekanan terhadap perubahan lahan. Kepadatan penduduk rata-rata 796,25 jiwa/ km 2 Pendapatan rata-rata masyarakatnya masih rendah. Kriteria yang dapat digunakan adalah penggunaan lahan (indikatornya: penutupan oleh vegetasi, erosi dan perubahan penutupan lahan), Tata air (debit sungai, kejadian banjir), sosial (tekanan penduduk terhadap lahan) dan ekonomi (tingkat pendapatan dan produktivitas lahan) Luas tutupan hutan 20,73%; faktor sosial ekonomi yang mempunyai keeratan hubungan dengan keberadaan hutan adalah kepadatan agraris tinggi dan ketergantungan terhadap lahan sedang. PDRB rendah Luas tutupan hutan 25%; tingkat kepadatan agraris sedang; PDRB rendah Kesimpulan umum: Faktor biofisik dan faktor sosial ekomi yang mempunyai korelasi yang kuat terhadap keberadaan lanskap hutan adalah curah hujan, kelerengan, kepekaan tanah terhadap erosi, kepadatan agraris dan ketegantungan terhadap lahan. Kesimpulan umum: kondisi tutupan hutan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi dari sektor pertanian selama periode 2001- 2012. Kondisi riil: Kepadatan penduduk secara geografis (desa yang masuk DAS) (2012) 1.232 jiwa/km2; Rata-rata jumlah RT petani per tahun di wilayah DAS (2000-2011) 68%; Kontribusi sektor pertanian terhadap (2012) PDRB 38,73%; Pertumbuhan ekonomi per tahun dari sektor pertanian (2001-2012) 3,25%; Pendapatan per kapita dari sektor pertanian (2012) Rp 1.014.307,-; Volume debit air rata-rata per tahun (2002- 2012) 24,28 milyar m3/th; Curah hujan rata-rata per tahun (2003-2012) 3.175 mm/ th; Luas tutupan hutan BPDAS 43,54% 58 • Matrik Hasil Penelitian

Kegiatan Pelaksana Lokasi Hasil Puspijak Jawa Tengah; Jawa Timur Integrasi multiple strategi ke dalam multilevel manajemen lanskap Analisis persepsi multipihak terhadap lanskap hutan Analisis Padu Serasi Tata Ruang Daerah dengan Tata Guna Hutan Analisis Persepsi Multipihak Terhadap Lanskap Hutan BPK Palembang Puspijak Puspijak Sumatera Selatan Belitong; Bali Lampung; Bali Perlu dibentuk badan khusus di tingkat pusat dan daerah yang bertanggung jawab dalam pengelolaan DAS bersifat lintas instansi yang dengan menggabungkan bagian/ kegiatan dari berbagai kementerian terkait (Kehutanan, Pertanian, Pekerjaan Umum, Dalam Negeri, dan Lingkungan Hidup) sehingga kegiatan masyarakat dalam rehabilitasi dan pelestarian juga tidak terkotak2. Sekitar hutan lindung Bukit Jambul, Sub Das Lematang, Kota Pagar Alam. Akar permasalahan makin rusaknya lanskap hutan ini adalah karena terjadi kesenjangan persepsi antarparapihak, baik antarkelompok masyarakat pengguna lahan maupun dengan pemerintah terhadap nilai penting eksistensi hutan dan rendahnya pengetahuan usahatani berwawasan lingkungan, serta berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pelaksanaannya kegiatan paduserasi antara RTRW dengan TGH sudah mengikuti peraturan yang ada dan mencerminkan good governance. Perlu penyederhanaan persyaratan permohonan paduserasi dan kejelasan batas waktu penyelesaiannya Dalam pengelolaan DAS, factor dan indicator terpenting berturut-turut menurut stakeholder DAS Tulang Bawang adalah factor ekologi dengan indicator iklim mikro, factor ekonomi dengan indicator pendapatan masyarakat, factor social dengan indicator penyelesaian konflik lahan, dan factor kelembagaan dengan indicator ketersediaan dana. Sedangkan stakeholder DAS Tukad Ayung menyatakan bahwa factor ekonomi menjadi prioritas dengan indicator utama nilai guna lahan, factor ekologi dengan indicator stabilitas iklim mikro, factor social dengan indicator pelibatan partisipasi masyarakat, dan factor kelembagaan dengan indicator kesiapan institusi. Sintesis Penelitian Integratif Manajemen Lanskap Hutan Berbasis DAS • 59