Views
5 months ago

koran_sulindo_edisi_1

Persona 10 DPP PDI

Persona 10 DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri Demokrasi, Lelang Buku, dan Rekor Dibully DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bungah. Dalam acara peluncuran buku ‘Megawati dalam Catatan Wartawan: Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat’, dua pekan lalu itu, Presiden RI kelima itu tak berhenti tersenyum. Sesekali, ia tertawa lepas. “Para wartawan ini dulu mengintil saya terus. Padahal, waktu itu saya sedang ditekan pemerintah (Orde Baru),” kata Megawati, saat memberi sambutan di acara tersebut. Sesaat kemudian, Ketua Umum PDI Perjuangan itu bercerita tentang masa-masa ia berjuang menegakkan demokrasi di awal tahun 1990-an. Sebagaimana diketahui pada Kongres Luar Biasa Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Surabaya, Desember 1993, Megawati terpilih secara de facto sebagai ketua umum. Di awal 1994, pemerintah mengakui kepemimpinannya. Tapi, hanya beberapa tahun kemudian, rezim Orde Baru berupaya menjegal kepemimpinan Megawati. Puncaknya, terjadilah penyerbuan kantor PDI di Jalan Diponegoro 58, Jakarta, 27 Juli 1996. Kisah di sekitar peristiwa itu direkam dengan cermat oleh para wartawan yang meliput saat itu, kemudian diungkap dalam buku. Salah satu wartawan asing yang hampir setiap hari mengintili Megawati Soekarnoputri adalah Tomohiko Otsuka, kepala koresponden surat kabar berbahasa Jepang, Mainichi Shimbun. “Ibu Mega menyadari jika saya selalu berada dekat dengannya, intel tidak dapat berbuat apa-apa terhadap diri saya, karena mereka tidak ingin membuat masalah dengan Ibu Mega,” ungkap Otsuka. Buku Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat merupakan kumpulan tulisan sejumlah wartawan yang meliput dari dekat kegiatan Megawati Soekarnoputri di masa-masa tekanan rezim Orde Baru. Di akhir acara, Megawati memberikan surprise dengan melelang buku tersebut. “Ayo bapak-bapak, ibu-ibu, gotongroyong untuk para wartawan. Mereka mau mencetak bukunya lebih banyak lagi,” kata putri sulung Bung Karno tersebut. Hasil lelang bukunya ternyata luar biasa, dana yang terkumpul mencapai Rp 2,275 miliar. Hampir semua pejabat dan pengusaha yang hadir di acara tersebut menyumbangkan dana. “Nah, kalau gotong-royong begini kan bagus,” kata Megawati. Tapi, tak semua pejabat diizinkan Megawati ikut lelang buku. Salah satu yang ditolak ikut lelang adalah Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. “Kalau saya sebut yang satu itu (Ahok), saya akan di-bully lagi oleh sampingannya. Kalau ada (kategori) rekor MURI (Museum Rekor Indonesia), mungkin saya ini sudah dapat rekor dibully,” jelas Megawati dari atas panggung. “Sampingan” yang dimaksud Megawati adalah para relawan yang berhimpun dalam Teman Ahok. Ahok sendiri merasa penolakan Megawati saat lelang buku itu hal yang wajar. “Saya lebih kenal ibu Mega. Menurut saya biasa aja. Ibu Mega baik-baik saja,” katanya. Malah, Ahok menilai Megawati sebagai sosok yang polos sehingga apa yang dibicarakan dan raut mukanya akan sama dengan apa yang ada di dalam hatinya. Saat itu, menurut Ahok, Megawati sempat tersenyum dengan cara yang khas seperti biasanya. Menurut dia, dari senyuman Megawati tersebut tidak menyiratkan rasa ketidaksukaan terhadap Ahok. Kalau Ahok saja bisa memahami Megawati Soekarnoputri, semestinya para “sampingan”nya juga bisa ya. Irwan Akbarsyah Koran Suluh Indonesia 8 - 17 April 2016 sulindo.com Sulindo 1.indd 10 4/1/2016 1:02:57 pM

Persona 11 Istimewa NADINE Chandrawinata sangat bangga dengan apa yang dimiliki Indonesia. Budaya, keindahan alam, serta kearifan lokal yang ada di Indonesia, menurut mantan Puteri Indonesia tahun 2005 ini, sangat kaya. “Indonesia punya semua. Makanya, ketika ada tawaran film yang bercerita tentang Indonesia atau nuansa Indonesia-nya, saya akan langsung terima. Saya pasti akan bilang ‘iya’, apalagi kalau dikemas dengan baik, oleh sutradara yang bagus, kemudian PH-nya tahu mau dibawa ke mana. Kenapa tidak?” ujarnya. Sejumlah film yang pernah dibintangi Nadine dalam beberapa tahun terakhir ini memang tak lepas dari tradisi budaya dan kekayaan alam yang ada di daerah-daerah di Untuk Indonesia, Nadine Chandrawinata Tak Akan Menolak Nusantara. Film yang ia sedang selesaikan sekarang pun begitu, film “Seven Summit”. Film semidokumenter ini mengambil lokasi di Gunung Kerinci, Semeru, Rinjani, Gunung Raya-Kalimantan, Gunung Latimojong- Sulawesi, Gunung Binaiya di Pulau Seram-Maluku, dan Cartenz Pyramid di Papua. Dalam film ini, Nadine ikut mendaki bersama sejumlah pendaki lain. “Sebenarnya, syutingnya sudah satu tahun, tapi onoff. Dan sekarang ini sudah masuk ke gunung ketujuh, yakni Cartenz,” kata perempuan lajang berusia 32 tahun ini. Mendaki gunung bukan masalah bagi Nadine. Sejak memandu program acara “My Trip My Advanture” di salah satu stasiun televisi swasta, Nadine sudah terbiasa dengan aktivitas pendakian gunung atau bahkan olahraga berat. Karenanya, ia mengaku, pendakiannya ke puncak Cartenz sudah sangat ia tunggu-tunggu. “Apalagi, kabarnya, salju di puncak Cartenz sudah semakin menipis karena dampak pemanasan global. Makanya, saya harus segera ke sana,” kata kakak dari artis kembar Marcell dan Mischa ini. [Galuh] SETELAH merilis film Jingga pada pertengahan Februari lalu, sutradara dan produser film Lola Amaria sudah akan menyiapkan lagi film terbarunya. Namun, perempuan lajang berusia 38 tahun ini belum bersedia memberi bocoran lebih lengkap lagi. “Yang pasti, saya tetap mengejar idealisme saya, tanpa menghilangkan ciri saya,” kata Lola Amaria. Lebih lanjut Lola menga takan, film punya peran yang penting untuk mengedukasi atau sebagai pembelajaran bagi khalayaknya-nya. Karena itu, tetap dibutuhkan riset yang panjang untuk pembuatan sebuah film. “Setiap proses yang saya jalani, saya mendapatkan banyak hal. Dan setiap pro duksi punya tantangan masingmasing. Begitupun dengan film Jingga, yang bicara tentang kehidupan anak muda pe nyandang tunanetra. Meski ringan dibanding film-film saya sebelumnya, mengangkat cerita tentang ini tidak mudah. Karena, saya berusaha film Jingga juga bisa dinikmati penyandang disabilitas,” tuturnya. Film-film yang disutradarai dan yang diproduseri Lola memang memiliki cerita yang beragam. Namun, secara garis besar, tema yang banyak diangkat ke dalam filmnya adalah tema-tema sosial. Pada tahun 2010 lalu, misalnya, Lola merilis film Minggu Pagi di Victoria Park, sebuah film yang menceritakan tentang kehidupan para perempuan tenaga kerja Indonesia di Hong Kong. Lalu, tahun 2014, Lola menyutradarai film Negeri tanpa Telinga, sebuah film bergenre komedi satir tentang politik dan korupsi. Lola Amaria Mengejar Idealisme “Saya punya banyak ide di kepala yang ingin saya realisasi ke dalam film. Setiap hari saya dapat inspirasi. Seperti film Jingga, saya terinspirasi dari seorang penyandang tunanetra yang berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga ke jenjang S-3,” ujar perempuan kelahiran 30 Juli 1977 ini. Tak sekadar memaparkan kehidupan remaja penyandang tunanetra, film Jingga yang merupakan film keenamnya ini juga sekaligus ingin menyentil pemerintah dan juga masyarakat. Masih minimnya fasilitas umum yang ramah bagi penyandang disabilitas turut disuarakan dalam film ini. “Ya, itu memang salah satu pesan yang mau saya sampaikan di film itu,” kata Lola. [Galuh] Istimewa Koran Suluh Indonesia 8 - 17 April 2016 sulindo.com Sulindo 1.indd 11 4/1/2016 1:02:58 pM

Bisnis-Indonesia-Arah-Bisnis-dan-Politik-2014
Inteligensia Muslim dan Kuasa - Democracy Project
Buku Menyongsong 2014-2019 highress
Pidato Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik Pada Pembukaan Kongres Ke-8
Download - propatria - propatria.or.id | towards a democratic society
analisis dokumentasi hak asasi manusia - Elsam
prospek penegakan ham - Elsam
ASASI Edisi Juli - Agustus Tahun 2008.pdf - Elsam
Edisi Mei -Juni Tahun 2008 per HAL - Elsam
20140707_MajalahDetik_136
herlambang-perkembangan-peraturan-peruuan
pergolakan-pemikiran-islam-ahmad-wahib
preview-selamat-datang-presiden-jokowi
seakan-kitorang-setengah-binatang
E-Magazine|Free
geospasial-desember-2012