Views
6 months ago

koran_sulindo_edisi_1

Budaya 14 Bung Karno

Budaya 14 Bung Karno Pembaru Penulisan Naskah Teater Bung Karno dibuang ke Ende mulai tahun 1934 sampai 1938. Usianya ketika itu masih 30-an tahun. Namun, pada priode inilah, Putra sang Fajar banyak melakukan perenungan dan pemikiran. Bung Karno dan Inggit Garnasih bersama keluarga serta sahabat di depan rumah pengasingan di Ende. BUNG Hatta dalam sebuah kesempatan pernah menga takan, Soekarno yang datang ke Ende adalah Soekarno yang «secara politik mati». Apa pasal? Sebelum dibuang ke Ende, Bung Karno dua kali dipenjara pemerintah kolonial Belanda. Pada 29 Desember 1929 malam, setelah berpidato di sebuah rapat akbar di Yogyakarta, beliau dan kawan-kawannya ditangkap dan kemudian dijebloskan ke penjara Banceuy, Bandung, mulai 30 Desember 1929. Dalam persidangan, pada 1 Desember 1930, pemilik nama kecil Kusno tersebut membacakan plei doinya yang terkenal itu, “Indonesia Menggugat”, yang juga memperlihatkan bacaannya yang luas. Ada kurang lebih 60 tokoh yang ucapan dan pemikirannya dikutip pria yang lahir 6 Juni 1901 itu dalam pembelaannya, antara lain Karl Marx, Karl Kautsky, Henriette Roland Holsts, Jean Jaures, Troelstra, Sneevliet, Sun Yat Sen, Mazzini, Sarojini Naidu, Mustafa Kamal, August de Wit, Snouck Hurgronje, dan Prof J Pieter Veth. Juga ada data mengenai jumlah luas tanah yang dikuasai perkebunan kolonial Belanda. Data tentang keuntungan yang dibawa pergi oleh perusahaan- Koran Suluh Indonesia 8 - 17 April 2016 perusahaan Belanda dan kapi talis asing lainnya dari tanah Hindia-Belanda juga ia paparkan dalam “Indonesia Menggugat”. Toh, pengadilan kolonial tak peduli soal itu. Hakim pun memutuskan vonis empat tahun penjara untuk Bung Karno karena dianggap terbukti meng ancam keamanan lewat aktivitasnya di Partai Nasional Indonesia. Dari Banceuy, ia lalu dipindahkan ke penjara Sukamiskin, juga di Bandung, penjara yang Bung Karno sendiri ikut merancang semasa baru lulus dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (seka rang Instiut Teknologi Ban dung). Beliau dimasukkan ke dalam sel TA 01 di lantai 2. Walau divonis empat tahun, Bung Karno menjalani kurungan hanya setahun. “Murid” dari Haji Omar Said Tjokro aminoto ini dibebaskan 31 Desember 1931. Tapi, kemudian, pada 23 Desember 1933 keluar surat keputusan dari pemerintah kolonial Belanda, yang menyatakan Soekarno harus diasingkan ke Kota Ende sebagai tahanan politik. Toh, meski berusia muda dan diberangus aktivitas politiknya serta diasingkan ke daerah terpencil pula, semangat juang Bung Karno tak padam. Elan vital-nya terus ia jaga dengan bermacam cara, antara lain dengan bertani, merenung mem baca, menulis, dan berdis kusi, selain lebih khusyuk ber ibadah. Bahkan, putra dari pasangan Raden Sukemi Sosro Dihardjo dan Ida Njoman Rai ini mendirikan kelompok tonil yang diberi nama Kelimoetoe Toneel Club, dengan dukungan tukang jahit, sopir, dan nelayan. Yang memberi nama perkumpulan ini adalah sang istri, Inggit Garnasih, diambil dari nama danau tiga warna yang ada di Flores. Perkumpulan sandiwara ini tampaknya bukan sekadar un tuk mengisi waktu luang, tapi lebih menjadi bagian dari stra tegi Bung Karno untuk mengorganisasi massa dan mem buka kesadaran bagi masya rakat sekitar. Apalagi, Keli moetoe Toneel Club bukan seka dar perkumpulan sandi wara, tapi merupakan organisasi yang memiliki anggaran dasar—yang mungkin pertama kali dilakukan oleh kelompok sandi wara amatir. Pada masa itu, pertunjukan teater memang sedang marak di beberapa kota besar di Hindia Belanda. Pada tahun 1925, misalnya, berdiri perkumpulan sandiwara Miss Riboet Orion di Batavia. Setahun kemudian, pada 21 Juni 1926, berdiri perkumpulan sandiwara Dardanella di Sidoarjo, Jawa Timur. Keduanya adalah kelompok sandiwara profesional, artinya berorientasi mencari keuntungan dan para pemain serta seluruh krunya mendapat bayaran. Kedua kelompok sandiwara ini juga sudah mulai menggunakan naskah atau skrip untuk pertunjukan mereka— yang menjadi salah satu ciri teater modern. Sebelum itu, di Surabaya telah ada juga Komedie Stamboel (demikian memang nama nya), yang berdiri tahun 1891. Kelompok ini didanai oleh kongsi orang Cina, yang kadang disebut “Tangul Angin clique” dan awalnya berfungsi seperti klub sosial untuk para pendananya (Matthew Isaac Cohen, 2006). Diperkirakan, julukan “stamboel” berasal dari Istanbul, Turki. Memang, pada awal berdirinya, cerita-cerita dari Timur Tengah seperti “Seribu Satu Malam” menjadi lakon andalan mereka. Menurut Cohen, hampir 90% persen dari cerita yang dipentaskan pada 10 bulan pertama mereka merupakan adaptasi dramatis dari kisah “Seribu Satu Malam” versi terjemahan Eropa. Suasana dan perabotannya juga mirip dengan dramaturgi dan teknologi teater Eropa akhir abad ke-19. Pada masa itu juga terkenal pertunjukan teater Parsi atau wayang Parsi, yang berasal dari Bombay, India, dan banyak mengelilingi Indonesia sejak 1883 (atau bahkan lebih awal). Lalu, di Sumatera Barat juga marak pertunjukan teater. Di Padang, menurut Dede Pramayoza (2013), pada awal abad ke- 20 sudah ada “gedung komidi”. “Di gedung itu, beberapa rombongan stambul yang ternama pada zamannya pernah mengadakan pementasan, antara lain Indra Bangsawan, Sri Dermawan, The Indra Tjahaja Ratoe Company, Komidi Kasim, Komidi Permata Stamboel, Sri Sumatra, dan beberapa lainnya,” tulis Pramayoza. Di kalangan indo Belanda juga berdiri kelompok sandiwara. Ini terbukti dengan adanya lakon berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno yang ditulis F. Wiggers pada tahun 1901, dengan bahasa Melayu Tinggi. Demikian juga di kalangan Cina peranakan. Salah seorang penulis Cina peranakan yang terkemuka pada masa itu adalah Kwee Tek Hoay, yang antara lain menulis lakon “Allah yang Palsoe” pada tahun 1919, “Korbannya Kong Ek” pada tahun 1926, dan “Boenga Roos dari Tjikembang” pada tahun 1927. Pada tahun 1926, anak seorang bankir berdarah Minang, Sumatera Barat, Roes tam Effendi, juga menulis lakon “Bebasari”. Kritikus sastra Boen S Oemarjati (1976) memandang lakon “Bebasari” sebagai awal perkembangan drama Indonesia. Boen S Oemarjati memandang hal tersebut dari perspektif sastra drama, bukan dari perspektif teater atau seni pertunjukan. sulindo.com Sulindo 1.indd 14 4/1/2016 1:02:59 pM

Budaya 15 Teater sebagai Media Politik Akan halnya Bung Karno di Ende menulis 12 naskah drama. Namun, sayangnya, 8 dari 12 naskah drama itu dinyatakan hilang, antara lain “Rendo”, “Joela Goebi”, “Koetkoetbi”, “Hantoe Goenoeng Boengkoek”, “Si Ketjil (Kleinduimpje)”, dan “Maha Iblis”. Yang berhasil diselamatkan adalah “Dokter Sjaitan”, “Aero Dijnamiet”, “Anak Haram Djadah”, dan “Rahasia Kelimpoetoe”. Seperti telah disinggung di atas, Bung Karno membentuk kelompok tonil atau sandiwara kemungkinan untuk mengorgani sasi massa. Karena, teater adalah kesenian kolektif, yang dikerjakan oleh lebih dari satu orang. Apalagi, naskah-naskah teater yang ditulis Bung Karno memiliki tokoh lebih dari satu. Jadi, masuk akal juga bila mengatakan Bung Karno meng gunakan media teater untuk menjalankan aktivitas poli tik nya plus menularkan ide-ide perjuangannya. Lihat saja lakon “Dokter Sjaitan” dan “Aero Dijnamiet”. Secara tematis, dua lakon ini sangat berbeda dengan kecenderungan yang ada dalam lakon-lakon sezamannya, katakanlah lakonlakon karya Kwee Tek Hoay dan karya Roestam Effendi— apalagi dengan lakon-lakon yang dibawakan Miss Riboet Orion dan Dardanella, yang memang dibuat lebih untuk tujuan komersial dan membuat penonton terhibur. Dalam dua lakon itu, Bung Karno berbicara mengenai perlunya kearifan manusia menyikapi kemajuan sains dan teknologi. Lakon “Dokter Sjaitan” mengangkat kisah Dokter MZK yang bereksperimen ingin menghidupkan mayat. Tokoh Dokter MZK memiliki adik, yang dokter juga, namanya Dokter Hayati. Suami Dokter Hayati, yang merupakan adik ipar dari Dokter MZK, juga dokter. Namanya Dokter Amir. Dari penciptaan tokohtokoh itu saja bisa dilihat apa yang ingin dibicarakan Bung Karno lewat lakon tersebut. Sang Penyambung Lidah Rakyat tampaknya ingin menciptakan suatu contoh keluarga ideal bagi bangsanya, yang mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya. Ini juga bisa dilihat di lakon “Aero Dijnamiet”, “Anak Haram Djadah”, dan “Rahasia Kelimoetoe”. Struktur dramatik lakon “Dokter Sjaitan” juga berbeda dengan struktur dramatik lakon-lakon sezamannya, yang cenderung mengikuti struktur plot Aristoteles, yakni ada bagian awal; bagian tengah, yang akan berakhir dengan klimaks, dan; bagian akhir, yang berupa penyelesaian masalah. “Dokter Sjaitan” langsung dimulai dari bagian tengah. Dalam cakapan awal lakon ini, Bung Karno sudah menyemai benih konflik. Bahasanya pun lugas, tidak seperti lakon-lakon sezamannya yang cenderung “berbunga-bunga”. Yang menarik, “Dokter Sjaitan” ditutup dengan akhiran yang terbuka (open ending). Ini juga tak lazim pada cara penulisan lakon zaman itu, bahkan dalam penulisan prosa— Armijn Pane menggunakan open ending dalam novel Belenggu, yang pertama kali diter bitkan tahun 1940 dan dinilai sebagai novel pembaru Indo nesia, salah satunya, ya, karena menggunakan open ending. Dengan open ending, Bung Karno boleh jadi tidak ingin penonton pementasan teaternya mendapatkan katarsis atau “pencucian jiwa” lewat keterlibatan emosionalnya de ngan tokoh-tokoh di atas pang gung, tapi ingin membuat pe non tonnya menyadari kondisi kehidupan yang ada di sekelilingnya. Jadinya, teater Bung Karno memang bukan semacam teater dramatik yang berlandaskan teori Aristoteles, tapi lebih lebih dekat ke konsep teater epik Bertolt Brecht dari Jerman. Tampak pula, visi Bung Karno ketika menulis lakonlakonnya adalah visi seorang sutradara, yang ingin membuat sebuah pertunjukan, bukan “sekadar” sebagai penulis nas kah atau menulis naskah drama terutama hanya untuk dibaca (closet drama), bukan dipentaskan. Meski tidak persis sama, pola itu juga bisa dilihat Bung Karno mem bentuk kelompok tonil un tuk mengorganisasi massa. pada tiga lakon yang lain. Di keempat lakon itu juga ada adegan-adegan aksi berupa perkelahian secara fisik—dalam “Dokter Sjaitan” berupa adegan Dokter MZK menghalangi Robor yang ingin menabrak sekelilingnya. Penciptaan adegan-adegan perkelahian ini tentu saja akan menjadi daya tarik tersendiri bagi suatu pertunjukan. Yang juga menarik, dalam “Aero Dijnamiet”, Bung Karno “memunculkan kembali” tokoh Dokter Amir. Dalam lakon ini, Dokter Amir melakukan transplantasi jantung dari tokoh Hartawan ke tokoh Insinyur Schakerilbahar. Sekali lagi, lakon ini dibuat pada pertengahan dekade 1930-an! Dengan meninjau empat lakon karyanya itu tidak berlebihan kiranya bila Bung Karno dimasukkan sebagai pembaru penulisan naskah teater modern di Indonesia. Namanya perlu dimasukkan ke dalam catatan sejarah teater modern di Indonesia. Meski dalam keempat lakon itu gagasan-gagasan tentang nasionalisme tidak begitu kentara terbaca, beliau jelas sekali ingin menyampaikan pesan betapa pentingnya pendidikan, betapa pentingnya melawan kebodohan, agar bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain.”Indonesia tidak akan dapat maju tanpa mempergunakan ilmu pengetahuan,” demikian kata Bung Karno puluhan tahun kemudian, tahun 1962, ketika menerima gelar doktor honoris causa dari almamaternya, Institut Teknologi Bandung. [Purwadi] KILAS Budaya Eka Kurniawan Kembali Mengguncang Dunia NAMA novelis Indonesia kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, Eka Kurniawan (41 tahun), kembali mendunia. Novel keduanya, Lelaki Harimau, yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dalam bahasa Inggris berjudul Man Tiger, masuk nominasi The Man Booker International Prize 2016. Novel Eka ini juga merupakan buku Indonesia pertama yang masuk dalam daftar nominasi ajang penghargaan sastra bergengsi dunia tersebut. Yang membanggakan juga, selain nama Eka dari Indonesia, dalam longlist penghargaan itu ada juga nama para penulis peraih Nobel Sastra, yakni Orhan Pamuk dan Kenzaburo Oe. Sebelumnya, lewat novel Lelaki Harimau juga, Eka Kurniawan pada 2015 lalu dinobatkan Jurnal Foreign Policy sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh di dunia. Eka dinilai berhasil menegaskan posisi Indonesia di peta kesusastraan dunia. Cantik Itu Luka, novel pertama Eka, telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa. Banyak kritikus dunia menyan dingkan novel ini dengan karya-larya Gabriel Garcia Marquez dan Fyodor Dostoevsky. Adalah Ben Anderson, salah seorang indonesianist ter ke muka, dan Tariq Ali, sastra wan kelas dunia, yang men dorong Eka Kurniawan untuk menerjemahkan karya-karya nya ke dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Setelah dtiterjemahkan ke dalam bahasa asing, Manusia Harimau dan Cantik Itu Luka bisa dinikmati para pembaca berbahasa asing. Dan, sejak beberapa tahun lalu, karya-karya Eka mulai menuai pujian dan penghargaan internasional. Pada pertengahan Maret lalu, novel terbarunya, yang diberi judul O, diluncurkan di Jakarta. Novel itu disebutsebut sebagai pembuktikan kejeniusan Eka Kurniawan sebagai penulis berkelas dunia. [Pur] LSF Akan Didirikan di Berbagai Daerah UNTUK mempercepat proses sensor, khusus nya film berbasis budaya daerah, Lembaga Sensor Film (LSF) akan membuka perwakilanperwakilan di luar Jakarta. Tenaga sensor di dae rah dinilai lebih kompeten karena lebih memahami budaya di daerahnya masing-masing sehingga sensornya lebih tepat. “Tahun ini diharapkan dapat menambah beberapa Ahmad Yani Basuki perwakilan LSF daerah,” kata Ketua LSF Ahmad Yani Basuki dalam konferensi pers “Peringatan 100 Tahun Sensor Film Indonesia” di Gedung Film, Jakarta, pertengahan Maret lalu. Perwakilan LSF daerah akan diberi kewenangan sensor film berdasarkan aturan yang diberikan LSF pusat. Namun, kebijakan sensor di daerah tidak akan banyak berbeda dengan LSF pusat. “Kalau perwakilan dae rah ragu-ragu bisa melapor ke pusat,” ujar Yani. Ia juga mengungkapkan, LSF kini bukan lagi «jagal film». Karena, proses penyensoran me libatkan diskusi dengan sineas atau pembuat iklan yang bersangkutan. “Kami berdialog. Bila ada revisi, perbaikannya diserahkan kepada pembuat film atau iklan yang disensor,” tutur Yani. [Pur] Koran Suluh Indonesia 8 - 17 April 2016 sulindo.com Sulindo 1.indd 15 4/1/2016 1:02:59 pM

Bisnis-Indonesia-Arah-Bisnis-dan-Politik-2014
no-02th-viiifebruari-2014
BBRI_Annual Report_2012
Pidato Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik Pada Pembukaan Kongres Ke-8
buku panduan.pdf - Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Inteligensia%20Muslim%20dan%20Kuasa
Edisi Mei -Juni Tahun 2008 per HAL - Elsam
Bab 2 - International IDEA
sentrIs
September 2012 - Commonwealth Bank
1. RINGKASAN EKSEKUTIF