Views
2 months ago

koran_sulindo_edisi_1

Lelaki tua itu berdiri

Lelaki tua itu berdiri di tengah pintu rumah seder hana, di sebuah peru mahan, di pingggir Kota Bekasi. Perawakannya sedang, agak membungkuk. Sebuah ka ca mata tebal menempel di wajah nya yang mengguratkan keramahan. “Perkenalkan, saya Satyagraha. Ayo, silakan ma suk,” katanya, sambil bersalaman. Sesaat kemudian ia pun mulai berkisah. Menjelang Pemilu 1955, pemilihan umum pertama setelah kemerdekan Indonesia, partai-partai politik bersiap, terutama dalam melakukan agitasi-propaganda. Hampir se mua partai besar di masa itu telah memiliki surat-kabar yang mendukung. Masjumi, misalnya, punya koran Abadi. PSI didukung Pedoman, yang dipimpin wartawan kawakan Rosihan Anwar. PKI punya organ resmi Harian Rakyat. Bahkan PSII (Partai Syarekat Islam Indonesia) menerbitkan Pemandangan. Hanya Partai Nasional Indonesia (PNI) yang belum punya media resmi. Harian Merdeka, yang dipimpin BM Diah, hanya menyatakan sebagai simpatisan. Kebijakan redaksionalnya tidak harus selalu sejalan dengan garis PNI. “Melihat kondisi ini, Pak Sidik Djojosukarto, yang saat itu menjabat Ketua Umum PNI, Koran Suluh Indonesia 8 - 17 April 2016 nasional Satyagraha Berkisah Tentang Sulindo dan Bung Karno Jejak sejarah Suluh Indonesia, sejak edisi perdana sampai edisi terakhir, ikut mewarnai dinamika sosial-politik di masanya. Satygraha juga menceritakan berbagai pengalaman meliput kegiatan Bung Karno. Bung Karno bercanda dengan wartawan yang meliput kegiatannya. memanggil beberapa pengurus DPP PNI untuk segera menerbitkan sebuah surat kabar yang merupakan organ partai. Tujuannya untuk meng antisipasi pemilu yang akan segera digelar,” kata Satyagraha. Dalam pertemuan itu diputuskan bahwa akan segera diterbitkan koran harian dengan nama Suluh Indonesia. Sebagai pemimpin umum ditunjuk M. Tabrani, salah seorang tokoh senior PNI yang juga digulis (orang yang pernah dibuang pemerintah kolonial Belanda ke Digul, daerah terpencil di Papua). Sedangkan pemimpin redaksi dijabat Sajuti Melik, yang juga digulis. “Saya diminta Pak Sajuti Melik menjadi redaktur pertama. Dalam praktiknya, saya merangkap sebagai reporter, korektor, dan lay-outer. Pak Sajuti, sebagai pemimpin redaksi, hanya menulis Tajuk. Saya hanya dibantu seorang wartawan bernama Hasan Gayo, yang pernah bekerja di surat kabar Indonesia Raya.” Jadi, di masa-masa awal penerbitannya, Suluh Indonesia hanya punya awak redaksi tiga orang: Sajuti Melik, Satyagraha, dan Hasan Gayo. Setelah persiapan beberapa bulan terbitlah Suluh Indonesia. Edisi perdana Suluh Indonesia, yang kemudian dikenal dengan nama singkatannya, Sulindo, terbit 1 Oktober 1953. “Edisi perdana Sulindo itu dicetak di percetakan milik Sutan Takdir Alisyahbana, di Jalan Ketapang. Hanya empat halaman hitam putih, oplag sekitar 75 ribu eksem plar. Dari sore sampai tengah malam, saya dan Hasan Gayo mempersiapkan layoutnya di percetakan. Pak Sajuti sempat mengecek ke percetakan, dan bilang: ‘lay-outnya kok seperti susunan batu bata’. Saya jawab: yang penting terbit dulu, Pak. Ha..ha…haa.” Sejak itu, Sulindo terbit setiap hari, Senin sampai Sabtu. Respon masyarakat cukup bagus. Sebagian koran didistribusi lewat cabang-cabang PNI di dae rah, sebagian lagi lewat agen-agen surat-kabar. Sajuti Melik menjadi pemimpin redaksi hingga Pemilu 1955 usai. Suasana kampanye pemilu, membuat pemasaran Sulindo melonjak. Oplag pun digenjot hingga 150 ribu eksemplar. Kata Satyagraha: “Di masa-masa kampanye pemilu, Suluh Indonesia secara jelas menun jukkan warnanya sebagai koran PNI. Semua kebijakan dan kegiatan partai disiarkan. Bahkan, lambang PNI, banteng segitiga, dipasang di halaman satu.” Hasilnya sukses besar: PNI keluar sebagai pemenang Pemilu 1955. Tak lama setelah pemilu, Sajuti Melik digantikan M. Su pardi. Tokoh terakhir ini seb e lumnya menerbitkan surat-kabar Nasional, yang juga berhaluan nasionalis. Tapi, hanya terbit setahun, dan kemudian bangkrut. Saat Supardi pindah ke Sulindo, ia membawa awak redaksinya, ada sepuluh orang. Satyagraha tetap menjadi redaktur pertama. Tak sampai setahun kemudian, Supardi diganti lagi oleh Manai Sophian, yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda DPP PNI. Dibawah kepemimpinan Manai Sophian, Sulindo hampir sepenuhnya menjadi corong partai. Satyagraha masih menjadi redaktur pertama. Dari Manai Sophian, pemimpin redaksi Sulindo beralih kepada Jusuf Muda Dalam. Satyagraha sempat mem protes pengangkatan Jusuf Muda Dalam kepada Sidik Djojosukarto. “Banyak yang tahu bahwa Jusuf Muda Dalam pernah menjadi anggota aktif PKI. Malah dia menduduki posisi penting di PKI, sebagai anggota tim verifikasi yang menentukan penempatan orangorang di jabatan penting di PKI. Tapi, Pak Sidik bilang, dia sudah ‘tobat’, dan kini masuk PNI.” Maka Satyagraha pun terpaksa menerima keputusan itu. Posisinya di Sulindo tetap sebagai redaktur pertama. Di awal tahun 1957, Mohamad Isnaeni—tokoh muda PNI yang sudah duduk sebagai anggota parlemen—diangkat menjadi pemimpin redaksi Sulindo. Bersamaan dengan itu, Satyagraha diangkat menjadi wakil pemimpin redaksi. Selama gonta-ganti pemimpin redaksi, Satygraha lah yang menjadi motor penggerak redaksi Sulindo sehari-hari. Tentunya dibantu para wartawan yang jumlahnya sudah cukup banyak. Selain mengelola Sulindo, Satygraha juga ditunjuk sebagai pemimpin redaksi Berita Minggu, koran yang hanya terbit setiap hari Minggu. Kan tor redaksi dan sebagian awak redaksinya sama dengan Sulindo. Maka, mulailah Satya graha mengubah Berita Minggu, menjadi koran yang mengangkat berita-berita populer yang terjadi ditengah masyarakat, dengan gaya penulisan populer pula. “Dengan gaya populer itu, Berita Minggu sangat digemari masyarakat. Oplagnya pernah 8 mencapai 350.000 eksemplar. Sampai-sampai kami kewalahan memenuhi permintaan agenagen koran. Dengan dana dari Berita Minggu itulah, kami bisa menopang penerbitan Sulindo setiap hari. Bahkan, belakangan bisa mendirikan percetakan sendiri di Kemayoran,” kenang Satyagraha. Pemberitaan Suluh Indonesia dan Berita Minggu tidak selalu sejalan dengan kemauan para pemimpin PNI. Suatu kali, misalnya, Satyagraha ditegur Hardi, SH, Wakil Ketua Umum PNI, karena memuat pendapatnya di halaman dua Sulindo. Sementara pada berita headline di halaman depan, Sulindo memuat pendapat Lucien Pahala, tokoh Presidium GMNI, tentang masalah yang sama dikemukakan Hardi. “Menu rut penilaian saya, pendapat Lucien Pahala yang lebih berbobot dan mendekati kebe naran. Karena itu, saya tampilkan di tulisan utama.” Wartawan Istana Suatu hari, Satyagraha diajak Sajuti Melik ke Istana Bogor, untuk bertemu Bung Karno. Itulah pertemuan pertama Satya graha dengan Bung Karno. Saat bertemu, Bung Karno langsung bertanya: “Kamu siapa?” “Satyagraha, bung. Wartawan Suluh Indonesia dan Berita Minggu.” “Oh… Aku sering baca tulisan kamu di Sulindo, juga Berita Minggu. Apik…apik…,” kata Bung Karno lagi. Lalu, percakapan berlangsung akrab. Bung Karno menanyakan kota asal Satyagraha, yang langsung dijawab: “Blitar, bung.” Mendengar itu, Bung Karno bertanya lebih lanjut tentang keluarganya. Ketika Satyagraha menyebut nama ibunya, Bung Karno langsung menyela: “Oh… kamu anaknya Tuti. Saya kenal keluarga ibu kamu.” Di akhir pembicaraan, Bung Karno bilang: “Mulai besok, dari Suluh Indonesia kamu yang meliput di istana ya.” Sejak itu, Satyagraha pun resmi menjadi “wartawan istana”, yang meliput berbagai ke giatan Presiden Soekarno, ter utama lawatan ke luar negeri. Ia, misalnya, pernah mengikuti lawatan Bung Karno ke Amerika Serikat, September 1960, untuk berpidato di depan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pida to berjudul To Build “....Menurut pengalaman saya, dalam pertemuan-pertemuan terbatas Bung Karno mau menerima kritik tajam sekalipun, bahkan yang menyangkut kehidupan pribadinya.” sulindo.com Sulindo 1.indd 8 4/1/2016 1:02:54 pM

nasional 9 The World a New itu mendapat sambutan meriah dari peserta sidang. “Sebagai bangsa Indonesia, saya bangga sekali melihat Bung Karno berpidato berapiapi di depan diplomat seluruh dunia. Apalagi, setelah pidato usai, tepuk-tangan bergemuruh di gedung PBB itu.” Dalam lawatan yang sama, Bung Karno juga menemui Presiden John F. Kennedy. Ke tika itu, Bung Karno sedang gencar-gencarnya meng - gelorakan kampanye pembebasan Irian Barat. “De ngan pintarnya Bung Karno memainkan diplomasi, sehingga Kennedy setuju dilakukan refe rendum di Irian Barat. Itu dilakukan Bung Karno dengan pendekatan pribadi kepada John Kennedy dan keluarganya.” Dari Amerika Serikat, Bung Karno mengunjungi Kuba. Ketika itu, Fidel Castro baru beberapa tahun berhasil me mimpin revolusi yang menjatuhkan rezim Batista. Dalam sebuah pertemuan yang sudah dijadwalkan, Castro terlambat hampir tiga jam. “Begitu bertemu, Bung Karno langsung memarahi Castro. Tapi, momen ini sengaja tidak diekspose media-massa, atas permintaan Bung Karno sendiri,” ujar Satya graha. Yang muncul di media-massa adalah bagaimana Castro meminta nasehat dari Bung Karno tentang bagaimana mem bangun kemandirian bangsanya. Saat di dalam negeri, Bung Karno juga akrab dengan para wartawan. Setiap Rabu pagi, Satyagraha dan beberapa “warta wan istana” lain biasa sarapan pagi bersama Bung Karno, di beranda belakang Istana Negara. “Nah, waktu sarapan bersama itulah, para wartawan memberikan masukan tentang berbagai soalsoal kenegaraan kepada Bung Karno. Kadang kami juga berdebat dengan Bung Karno tentang masalah-masalah politik. Menurut pengalaman saya, dalam pertemuan-per temuan terbatas seperti itu Bung Karno mau menerima kritik tajam sekalipun, bahkan yang menyangkut kehidupan pribadinya. Tapi, kalau dikritik di depan publik ataupun di mediamassa, beliau bisa marah.” Meski begitu, kadang pemberitaan Sulindo, membuat Bung Karno tak berkenan. Suatu hari, Satyagraha dipanggil Bung Karno karena tajuk rencana Sulindo yang ditulisnya meng kritik “aksi sepihak” yang marak dilakukan aktivis PKI di daerah-daerah. “Kamu sekarang sudah komunistofobia,” semprot Bung Karno. Tapi, setelah Satyagraha menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di lapangan, Bung Karno bisa menerima. Di awal tahun 1960- an itu PNI memang tengah ber tarung sengit dengan PKI. Agitasi dan aksi-aksi para aktivis PKI di daerah-daerah, terutama di pedesaan Jawa, banyak membawa korban para lurah dan camat, yang umumnya menjadi anggota PNI. Dilain waktu, Sulindo dan Berita Minggu memuat tulisan SK Trimurti berjudul Kambing Tua Makan Rumput Muda. Isinya mengkritik Bung Karno yang menikah lagi dengan Ibu Hartini. Keesokan harinya, Satyagraha dipanggil Kolonel Sugandi, ajudan Bung Karno. “Saya dimarahi, dan diberi surat tidak boleh datang ke Istana Negara selama tiga bulan. Surat itu ditandatangani Kolonel Sugandi sendiri.” Satyagraha menerima larangan tersebut. Selama tiga bulan ia tidak ke Istana Negara. Setelah tiga bulan berlalu, barulah ia meliput lagi ke istana. Saat ketemu, Bung Karno menegur: “Hei Satya, kemana saja kamu, kok lama nggak kelihatan.” “Lo, kan saya dilarang Pak Gandi masuk istana,” jawab Satyanegara. Mendengar itu, Bung Karno langsung memanggil Sugandi. Yang dipanggil membenarkan, tapi tidak menjelaskan mengapa Satyagraha dilarang masuk istana. “Jadi, sebenarnya Bung Karno tidak pernah membaca tulisan Bu SK Trimurti itu. Larangan itu cuma bikin-bikinan Kolonel Sugandi saja.” Dalam Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI),Februari 1959, di Lembang, Bandung, Satyagraha terpilih sebagai Sekretaris Jenderal. Ia masih dipercaya menduduki jabatan tersebut dalam Kongres PWI berikutnya di Makassar, Maret 1961, dan di Jakarta, Agustus 1963-- sampai saat Gerakan 30 September 1965 meletus. Selama tiga periode menjadi sekjen, ia mengalami tiga orang Ketua Umum PWI. Pertengahan tahun 1965, Satyagraha dipanggil Ali Sastroamidjojo, Ketua Umum PNI masa itu. “Saya diperintahkan menjadi wakil ketua panitia peringatan ulang tahun PNI yang jatuh beberapa bulan lagi. Ketua panitianya Bung Surachman, Sekjen PNI. Pak Ali berpesan acara itu harus lebih semarak daripada acara ulang tahun PKI, setahun sebelumnya. Massa yang hadir juga harus lebih banyak dari massa PKI.” Maka, Satyagraha bersama Surachman pun bekerja keras menggalang massa untuk hadir di acara ulang tahun PNI. Lokasi acaranya sudah ditetapkan: Stadiun Gelora Bung Karno. Satyagraha kebagian meng galang lewat media-massa, terutama Sulindo dan Berita Minggu. Sedangkan Surachman dan pimpinan organ PNI, menggalang massa di cabangcabang PNI di Jawa. Ketika hari H tiba, 4 Juli 1965, massa yang hadir di GBK membludak, sekitar 150.000 orang. Ketika Bung Karno naik ke podium untuk berpidato, kata pertama yang diucapkannya: “Ckkk… ckkk…Bukan main!” Tak lama setelah acara spektakuler itu terjadi Peristiwa Gerakan 30 September 1965, Satyagraha ditangkap aparat kea manan, lalu ditahan di penjara Salemba. Sejak ditahan, ia hanya bisa mendengar kabar tentang Bung Karno dari cerita yang didengarnya istrinya saat membesuk, atau dari cerita para sipir penjara. Hingga suatu siang, seorang sipir membawa koran terbitan hari itu yang memberitakan Bung Karno meninggal dunia, sehari sebelumnya: 21 Juni 1970. Satyagraha mengenangkan hari itu: “Mendapat kabar itu, saya tak bisa menahan tangis. Bung Karno, tokoh yang saya kagumi dan hormati itu telah wafat. Dan saya tak bisa ikut mengantar jenasah beliau ke tempat peristirahatan terakhir.” Imran Hasibuan dan Janfri Sihombing Senja Kala Seorang Wartawan Satyagraha Naik-turun jalan kehidupan memang tak bisa diduga. Di awal tahun 1965, Satyagraha ditunjuk DPP PNI sebagai pemimpin redaksi Sulindo, menggantikan Mohamad Isnaeni. Saat itu, ia juga masih menjabat Sekjen PWI. Usianya 34 tahun. Satya graha di tengah puncak karirnya sebagai wartawan. Tiba-tiba terjadi Peristiwa 30 September 1965, yang menjadi titik balik kehidupannya. Ter hitung 3 Oktober, Sulindo dan Berita Minggu, serta sejumlah suratkabar lainnya, dilarang terbit oleh tentara. Edisi terakhir Sulindo terbit 2 Oktober 1965. Dua minggu kemudian, per sisnya tanggal 18 Oktober, Satyagraha ditangkap aparat keamanan. “Saat itu saya dan John Lumingkewas (dari Presidium GMNI) mau menjemput Karim DP di tempat per sembunyiannya di Bandung. Begitu sampai di tempat itu, ternyata sejumlah tentara sudah ada disana. Akibatnya, saya dan John juga ikut ditangkap.” John Lumingkewas adalah Presidium GMNI, sedangkan Karim DP ketika itu menjabat Ketua PWI. Karim DP sempat buron karena namanya tercantum dalam Dewan Revolusi, yang diumumkan Letkol Untung— komandan G 30 S. Mereka—Satyagraha, Karim DP, dan John Lumingkewas— pun dibawa dengan jeep tentara ke Jakarta. “John ditu runkan di tengah jalan. Saya dan Karim langsung di bawa ke penjara Salemba. Saat itu sudah menjelang tengah malam. Kami ditempatkan di Blok N, masing-masing di satu sel. Karena kelelahan, saya langsung tertidur. Ketika bangun pagi, saya kaget sekali. Waktu mau mandi, saya ketemu Lerkol Untung, Kolonel Latief, dan Nyono. Ternyata Blok N meru pakan tempat tokoh-tokoh utama G 30 S ditahan.” Setelah pemeriksaan intensif selama sebulan, Satygraha kemu dian dipindahkan ke Blok Q, yang kebanyakan tahanannya adalah dari kalangan intelektual dan seniman. Di Blok Q ini mendekam tokoh-tokoh seniman, antara lain: Pramoedya Ananta Toer dan Sitor Situmorang. Sitor adalah salah seorang sastrawan terkemuka Indo nesia, yang juga Ketua Lem baga Kebudayaan Nasional (LKN)—organ kebudayaan PNI. Lima tahun Satgraha men dekam di penjara, tanpa pernah diadili. “Akibatnya, saya tak bisa menafkahi keluarga saya. Istri saya lah yang membanting-tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Alhamdulillah ketiga anak saya pendidikannya cukup bagus.” Keluar dari penjara, akhir tahun 1970, Satyagraha sempat bekerja di beberapa tempat. Antara lain, ia pernah bekerja cukup lama di PT Ciria Jasa, perusahaan jasa kontraktor yang didirikan Taufiq Kiemas bersama sejumlah mantan tokoh-tokoh GMNI. Kini, di masa senja hidupnya, Satyagraha tinggal sendirian di rumah sederhana, di pinggiran kota Bekasi. Ia tak mau menjadi beban anak-cucunya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengerjakan jasa penerjemahan buku dan dokumen berbahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. “Saya tak pernah menyesali apa yang pernah terjadi dalam hidup saya. Malah, saya bangga sudah pernah memberikan sumbangan pemikiran, lewat Suluh Indonesia, bagi kemajuan bangsa.” IH Koran Suluh Indonesia 8 - 17 April 2016 sulindo.com Sulindo 1.indd 9 4/1/2016 1:02:55 pM

Bisnis-Indonesia-Arah-Bisnis-dan-Politik-2014
Pidato Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik Pada Pembukaan Kongres Ke-8
Edisi Mei -Juni Tahun 2008 per HAL - Elsam
jurnal%20maarif%20vol%2010%20no%202%20-%202015
no-02th-viiifebruari-2014
Buku Menyongsong 2014-2019 highress
Inteligensia Muslim dan Kuasa - Democracy Project
Edisi Maret - April Tahun 2009 per HAL - Elsam
De Facto
Bab 4 - International IDEA
Daftar Isi
Koperasi Peduli Rakyat Sejahtera - Smecda
20150209_MajalahDetik_167
POST2015-Ketidakadilan_all
Buku-Inspirasi-Alumni-PPIA
Download - propatria - propatria.or.id | towards a democratic society