Komik Seri Bung Karno
Komik seri tahun 1901-1945 berisi 36 halaman ini menceritakan kisah hidup Bung Karno sejak lahir hingga terpilih menjadi Presiden pertama RI pada 18 Agustus 1945. Diawali gambar situasi Surabaya yang menjadi kota kelahiran Soekarno semasa kolonial. Di kota pelabuhan itulah kedua orang tua Soekarno bermukim setelah hijrah dari Bali.??Detail kisah hidup Soekarno sejak kecil juga disampaikan dalam komik. Ida Ayu Nyoman Rai, ibunda Soekarno perempuan gigih pekerja keras memberinya bekal nilai-nilai kesatriaan melalui kisah Perang Puputan, Bali. Komik juga menyuguhkan sejarah pendidikan Soekarno di Eerste Inlandsche School atau Sekolah Dasar Bumiputra dan Europeesche Lagere School (ELS) di Mojokerto.??Saat menginjak usia 14 tahun, H.O.S. Tjokroaminoto menempa langsung kesadaran berorganisasi Soekarno. Tjokroaminoto adalah guru dari para pendiri bangsa. Soekarno kerap diajak Tjokroaminoto menemaninya ke berbagai pertemuan Sarekat Islam. Diam-diam Soekarno menyimak gaya berpidato Tjokroaminoto. Kemampuan Soekarno menuangkan ide dan pemikiran juga tersalurkan. Ia mulai menulis untuk Oetoesan Hindia dengan nama samaran Bima, tokoh epos Mahabharata. Edisi contoh Oetoesan Hindia sudah beredar pada 5 Desember 1912.
Komik seri tahun 1901-1945 berisi 36 halaman ini menceritakan kisah hidup Bung Karno sejak lahir hingga terpilih menjadi Presiden pertama RI pada 18 Agustus 1945. Diawali gambar situasi Surabaya yang menjadi kota kelahiran Soekarno semasa kolonial. Di kota pelabuhan itulah kedua orang tua Soekarno bermukim setelah hijrah dari Bali.??Detail kisah hidup Soekarno sejak kecil juga disampaikan dalam komik. Ida Ayu Nyoman Rai, ibunda Soekarno perempuan gigih pekerja keras memberinya bekal nilai-nilai kesatriaan melalui kisah Perang Puputan, Bali. Komik juga menyuguhkan sejarah pendidikan Soekarno di Eerste Inlandsche School atau Sekolah Dasar Bumiputra dan Europeesche Lagere School (ELS) di Mojokerto.??Saat menginjak usia 14 tahun, H.O.S. Tjokroaminoto menempa langsung kesadaran berorganisasi Soekarno. Tjokroaminoto adalah guru dari para pendiri bangsa. Soekarno kerap diajak Tjokroaminoto menemaninya ke berbagai pertemuan Sarekat Islam. Diam-diam Soekarno menyimak gaya berpidato Tjokroaminoto. Kemampuan Soekarno menuangkan ide dan pemikiran juga tersalurkan. Ia mulai menulis untuk Oetoesan Hindia dengan nama samaran Bima, tokoh epos Mahabharata. Edisi contoh Oetoesan Hindia sudah beredar pada 5 Desember 1912.
Transform your PDFs into Flipbooks and boost your revenue!
Leverage SEO-optimized Flipbooks, powerful backlinks, and multimedia content to professionally showcase your products and significantly increase your reach.
I
Prananda Prabowo
Di masa kolonial, Surabaya adalah kota perniagaan yang ramai<br />
selain Sunda Kelapa di Batavia. Pemerintah kolonial Hindia Belanda<br />
menjadikan Surabaya sebagai kota Pelabuhan Utama, sebagai<br />
Collecting Center, pelabuhan untuk pengumpulan dan pengiriman<br />
produk perkebunan ke Eropa.<br />
Tahun 1899, Raden Soekemi Sosrodihardjo sekeluarga pindah<br />
mengajar dari Bali ke Surabaya. Soekemi mengajar di Sekolah<br />
Rendah di Jalan Sulung, Surabaya<br />
1
Raden Soekemi Sosrodihardjo bersama istrinya, Ida Ayu Nyoman Rai dan anak<br />
perempuannya tinggal di kampung Pandean, kawasan Peneleh, di Jalan Pandean<br />
IV/40, Surabaya.<br />
Menjelang fajar, 6 Juni 1901, Ida Ayu Nyoman Rai melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi itu diberi nama Koesno. Namun<br />
Koesno sering jatuh sakit dan menurut kepercayaan Jawa, Koesno harus berganti nama dan pisah tinggal sementara dari<br />
orangtuanya. Maka, Koesno diganti namanya menjadi Soekarno<br />
Raden Soekemi sangat memperhatikan perkembangan<br />
anaknya terutama pendidikan.<br />
Ia memasukkan Soekarno ke Eerste Inlandsche School<br />
(Sekolah Dasar Bumiputra), kemudian memindahkannya ke<br />
Europeesche Lagere School (ELS) di Mojokerto<br />
2
Ia mengajarkan Soekarno untuk menyayangi makhluk hidup, binatang dan lingkungan. Suatu ketika Soekemi menegur Soekarno<br />
karena menjatuhkan sarang burung.<br />
Masih<br />
ingatkah kau arti katakata:<br />
Tat Twan Asi, Tat Twam Asi<br />
yang pernah kuajarkan?<br />
Dia adalah aku dan aku adalah dia;<br />
engkau adalah aku dan aku<br />
adalah engkau<br />
Bukankah<br />
engkau sudah<br />
diperintahkan untuk<br />
melindungi makhluk Tuhan?<br />
Coba katakan padaku apa<br />
sebenarnya hakekat<br />
burung dan telur<br />
itu?<br />
Mereka<br />
adalah ciptaan Tuhan,<br />
Ibunda Soekarno adalah seorang<br />
pekerja keras yang gigih. Ia<br />
berusaha mencukupi kebutuhan<br />
keluarga dengan menghemat<br />
pengeluaran, membeli padi<br />
yang ditumbuk sendiri sehingga<br />
menjadi beras<br />
Sedangkan Ayahanda<br />
Soekarno adalah seorang<br />
yang tegas dan disiplin.<br />
Suatu kali Soekarno<br />
pulang membawa ikan hasil<br />
memancing untuk ibunya,<br />
namun Ayah memarahinya<br />
karena pulang terlalu sore<br />
Sang Ibu juga kerap bercerita tentang<br />
kisah perjuangan para leluhurnya<br />
misalnya kisah Perang Puputan<br />
Selain sang ibu, terdapat perempuan lain yang begitu menyayangi<br />
Soekarno, perempuan itu bernama “SARINAH”.<br />
kasih sayang Sarinah-lah yang memberikan<br />
pesan mendalam bagi Soekarno untuk selalu<br />
mencintai rakyat jelata.<br />
3
Waktupun berjalan. Di usia 14 tahun, sang ayah mengirim Soekarno<br />
kembali ke Surabaya untuk melanjutkan sekolah<br />
Nak, teruskanlah sekolahmu<br />
ke Hoogere Burger School<br />
Surabaya. Di sana tinggallah di<br />
rumah kawanku, Haji Oemar Said<br />
Tjokroaminoto.<br />
Mulanya di rumah H.O.S Tjokroaminoto, Soekarno sering<br />
merasa sepi. Ia mengisi waktunya dengan membaca buku saja.<br />
4
Dua tahun kemudian, di usia 16 tahun, Soekarno<br />
bergabung dalam perkumpulan politiknya yang pertama,<br />
TRI KORO DHARMO. Perkumpulan ini kemudian berubah<br />
menjadi JONG JAVA.<br />
Jong Java aktif mengembangkan<br />
kebudayaan dengan mengajarkan tari<br />
Jawa dan gamelan. Namun Soekarno<br />
berusaha membuat organisasi itu<br />
berlandaskan kebangsaan.<br />
Dalam suatu rapat JONG JAVA tahun 1921 Soekarno menegaskan arti penting simbol dari kepribadian Indonesia.<br />
Lambang itu berupa penutup kepala yang disebut peci dan umumnya dikenakan oleh rakyat jelata. “Peci” berasal<br />
dari bahasa Belanda “petje” (kupiah/ topi kecil). Sejak itu, peci populer di kalangan kaum pergerakan para pejuang<br />
kemerdekaan.<br />
5
Kian hari Soekarno kian dekat dengan H.O.S Tjokroaminoto. Ia kerap diminta menemaninya ke pertemuanpertemuan.<br />
Diam-diam Soekarno memperhatikan gaya pidato H.O.S Tjokroaminoto.<br />
Soekarno mulai menulis untuk majalah “OETOESAN HINDIA”, dengan nama samaran<br />
BIMA, seorang tokoh pewayangan epos Mahabharata.<br />
10 Juni 1921. Soekarno lulus dari HBS dan berencana melanjutkan sekolah<br />
ke negeri Belanda. Namun sang ibu tegas-tegas menolak rencana itu.<br />
Jangan<br />
sekali-kali kau lupakan, Nak.<br />
Tempatmu, nasibmu, pusakamu,<br />
adalah di kepulauan ini.<br />
Tidak!<br />
Tidak bisa.<br />
Anakku tidak akan pergi ke<br />
Negeri Belanda!<br />
6
3 Juli 1920, Technische Hooge School (sekarang, Institut<br />
Teknologi Bandung), diresmikan oleh Gubernur Jenderal Jhr.<br />
Mr. J.P. Gaaf Van Limburg. Ini merupakan pendidikan tinggi<br />
teknik pertama di Hindia Belanda yang menjadi idaman pemuda<br />
saat itu untuk melanjutkan pendidikan tinggi.<br />
Bandung, tahun 1921. Soekarno mendaftarkan diri ke<br />
Technische Hooge School (THS), mengambil jurusan<br />
teknik sipil. Di sinilah, Soekarno berkenalan dengan tokohtokoh<br />
pergerakan bangsa seperti: Douwes Dekker, Tjipto<br />
Mangunkusumo dan lain-lain.<br />
Semasa di Bandung, Soekarno sering meluangkan waktu untuk<br />
bertemu dan berdialog dengan masyarakat.<br />
Suatu ketika Soekarno berjalan-jalan di Desa Cibintinu,<br />
di selatan Bandung dan bertemu dengan seorang petani<br />
miskin bernama Marhaen. Pak Marhaen hidup pas-pasan<br />
dengan keluarganya dari mengolah sepetak tanah.<br />
Soekarno merasa begitu banyak buruh, nelayan dan<br />
pedagang keliling miskin di sekitarnya. Mereka semua<br />
adalah “Marhaen”.<br />
7
Tahun 1926, Soekarno lulus dari THS dan bergelar<br />
Insinyur<br />
Namun Soekarno menolak bekerja di<br />
perusahaan pemerintah kolonial Hindia<br />
Belanda dan memilih membuka biro arsitek<br />
bersama Ir. Anwari. Ia menerapkan ilmu<br />
arsitek-nya dengan membangun beberapa<br />
rumah di Bandung.<br />
4 Juli 1927. Bersama Mr. Sartono, Mr. Soenarjo, Ir.<br />
Anwari dan lain-lain. Soekarno mendirikan Persyarikatan<br />
Nasional Indonesia. Program utama: mencapai Indonesia<br />
Merdeka. Perkumpulan ini kemudian dikenal dengan nama<br />
Partai Nasional Indonesia.<br />
Pada Tahun 1927 itu pula, Soekarno mempelopori<br />
berdirinya PPPKI (Permufakatan Partai-partai<br />
Politik Kemerdekaan Indonesia) gabungan<br />
organisasi dan partai politik yang berjuang untuk<br />
Kemerdekaan Indonesia.<br />
8
Soekarno aktif menyebarkan gagasan PNI yaitu<br />
Indonesia Merdeka, dalam berbagai kesempatan.<br />
karena kegiatan politiknya maka tahun 1930<br />
pemerintah kolonial Hindia Belanda menangkap<br />
Soekarno dan menjebloskannya ke penjara<br />
Banceuy bersama Gatot Mangkoepradja, Maskoen<br />
Soemadiredja dan R. Soepriadinata. 8 bulan kemudian<br />
pemerintah kolonial menyeret mereka ke hadapan<br />
pengadilan kolonial (Landraad).<br />
Selama dalam tahanan, tiap malam Soekarno menulis. Ia<br />
menjadikan kaleng tadah pembuangan hajat sebagai alas<br />
untuk menulis naskah pledoi (pembelaan).<br />
9
10<br />
Tahun 1930, Rakyat berkumpul mengikuti sidang Soekarno<br />
dan kawan-kawan di pengadilan kolonial (Landraad), Bandung.
Pembelaan Soekarno bukanlah pledoi atas nama pribadi atau partai, namun suatu pembelaan atas nama rakyat Indonesia.<br />
Pledoi itu diberinya judul “Indonesia Menggugat”.<br />
Dalam pidatonya, Soekarno membeberkan cara kerja kolonialisme dan imperialisme memperkaya diri yang sekaligus<br />
memiskinkan rakyat negeri jajahan secara sistematis dan tajam.<br />
Pledoi “Indonesia Menggugat” (Indonesie Klaagt Aan) menggugah dunia Internasional, maka para ahli<br />
hukum Eropa mendesak pemerintah Kolonial Hindia Belanda untuk meringankan hukuman Soekarno dan<br />
teman-temannya.<br />
11
Tanggal 22 Desember<br />
1930, Soekarno divonis<br />
hukuman penjara selama<br />
4 tahun dan ditahan di<br />
penjara Sukamiskin,<br />
Bandung oleh pengadilan<br />
pemerintah kolonial<br />
Hindia Belanda.<br />
“Segera setelah aku<br />
masuk, rambutku dipotong<br />
pendek sampai hampir<br />
botak dan aku disuruh<br />
memakai pakaian tahanan<br />
berwarna biru pakai<br />
nomor di belakangnya.”<br />
Dalam penjara, Soekarno terus mengikuti<br />
perkembangan politik pergerakan dan mulai mendalami<br />
agama Islam. Hukuman Soekarno dipotong 2 tahun dan<br />
dibebaskan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda<br />
Setelah keluar dari penjara Sukamiskin, Soekarno<br />
bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo).<br />
15 Juni 1932. Soekarno menerbitkan sebuah majalah<br />
bernama "Fikiran Ra’jat". Ia bertindak sebagai<br />
pemimpin redaksinya.<br />
Terbit sekali seminggu, majalah politik ini memakai<br />
slogan: Kaoem Marhaen! Inilah Madjallah Kamoe! Fikiran<br />
Ra’jat ditujukan kepada pembaca kalangan marhaen yang<br />
hanya bisa membaca dan menulis. Di sini Soekarno juga<br />
menggambar karikatur memakai nama samaran, Soemini.<br />
12
Maret 1933, Soekarno melepas lelah beberapa hari di<br />
Pegunungan Pengalengan, Bandung, setelah melakukan perjalanan<br />
ke Jawa Tengah untuk membangkitkan semangat rakyat.<br />
Soekarno menulis risalah “Mentjapai Indonesia Merdeka”<br />
Risalah ini berbicara tentang busuknya sistem politik pintu<br />
terbuka imperialisme dan mengutuk seluruh sistem kolonialisme<br />
Risalah “Mentjapai Indonesia Merdeka” terbit<br />
awal April 1933. Risalah ini memiliki kesamaan<br />
yang kuat dengan pembelaannya di depan<br />
pengadilan kolonial tahun 1930. Tulisan ini kian<br />
membuat pemerintah kolonial penasaran.<br />
13
Tahun 1934, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda<br />
kembali menangkap Soekarno dan mengasingkannya<br />
ke Ende.<br />
Rumah pengasingan Soekarno dan keluarga di Ende Flores, milik<br />
Haji Abdullah Amburawu. Di tempat ini Soekarno berkebun sayur<br />
mayur khas Priangan seperti kubis, kacang panjang, dan buncis.<br />
Di Ende, Soekarno mengembangkan minatnya pada seni. Ia<br />
mendirikan kelompok sandiwara Kelimoetoe Toneel Club.<br />
Beberapa karya drama ciptaannya, antara lain “Dr. Syetan”<br />
dipentaskan di gedung Imaculata, gedung milik gereja Katolik.<br />
Drama ini merupakan intepretasi Soekarno dari film Hollywood,<br />
“Dr. Frankenstein” yang mengisahkan seorang yang telah mati<br />
hidup kembali. Ini merupakan simbol Indonesia yang bangkit<br />
kembali dari tidur panjang. Pementasan ini menjadi pusat<br />
perhatian masyarakat setempat dan orang-orang Belanda.<br />
14
Empat tahun kemudian, Soekarno dipindah dari Ende ke Bengkulu. Soekarno tinggal di Jalan Anggut Atas (sekarang, Jalan<br />
Soekarno-Hatta). Rumah pengasingan Soekarno dan keluarga adalah milik pedagang keturunan Tionghoa, Tjang Tjeng<br />
Kwat yang dipinjam oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Rumah pengasingan tersebut yang memiliki dua kamar tidur<br />
terletak di pinggir kota Bengkulu.<br />
September 1939, Soekarno<br />
diangkat sebagai Ketua Dewan<br />
Pengajaran Muhammadiyah<br />
cabang Bengkulu, aktif<br />
dalam Komite Pembangun<br />
Masjid Jamik dan mengajar<br />
murid perempuan Taman<br />
Siswa. Soekarno bersama<br />
temannya, Oey Tjeng<br />
Hien alias Abdul Karim<br />
(pengurus Muhammadiyah)<br />
mendirikan perusahaan meubel<br />
“Sukamerindu”, Soekarno<br />
bertindak sebagai desainer<br />
furniturnya.<br />
Soekarno juga<br />
membentuk kelompok<br />
sandiwara, Monte Carlo,<br />
yang menghasilkan<br />
beberapa naskah<br />
tonneel, seperti<br />
Rainbow (Poetri<br />
Kencana Boelan),<br />
Hantoe Goenoeng<br />
Boengkoek, Si Ketjil<br />
(Klein Duimpje), dan<br />
Chungking Djakarta.<br />
15
PETA<br />
PENGASINGAN<br />
SOEKARNO<br />
ENDE - BENGKULU<br />
ENDE 1934 -1938<br />
Soekarno diasingkan ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.<br />
Ia berlayar selama 8 hari dengan kapal Jan Van Riebeeck,<br />
dari Surabaya dan dikawal dua orang polisi pemerintah<br />
kolonial Hindia Belanda. Soekarno beserta keluarganya tiba<br />
di Ende tanggal 17 Februari 1934 dan langsung dimasukkan<br />
dalam tahanan rumah milik pemerintah kolonial Hindia<br />
Belanda. Namun akhirnya ia tinggal di rumah Haji Abdullah<br />
Amburawu.<br />
BENGKULU 1938 - 1942<br />
Dari Ende, Soekarno dipindahkan ke Bengkulu, setelah M.<br />
H Thamrin melayangkan protes kepada pemerintah kolonial<br />
Hindia Belanda di Volksraad, saat mengetahui Soekarno sakit<br />
malaria di Ende.<br />
Pemerintah kolonial Hindia Belanda memenuhi tuntutan M. H.<br />
Thamrin. Soekarno diputuskan diasingkan ke Bengkulu, kota<br />
terpencil di pantai barat Sumatera. Akhir Februari 1938<br />
Soekarno beserta keluarganya dibawa naik kapal KPM De<br />
Klerk ke Surabaya, kemudian dinaikkan kereta api ke Batavia,<br />
dan seterusnya ke Merak. Dari kota penyeberangan di bagian<br />
barat Jawa itu Soekarno yang dikawal ketat polisi pemerintah<br />
kolonial Hindia Belanda diseberangkan ke Bengkulu naik kapal<br />
KPM, Sloet van den Beele.<br />
16<br />
Soekarno ditempatkan di sebuah rumah yang terletak di<br />
Jalan Anggut Atas (sekarang, Jalan Soekarno-Hatta). Rumah<br />
pengasingan Soekarno dan keluarga adalah milik pedagang<br />
keturunan Tionghoa, Tjang Tjeng Kwat. Rumah pengasingan<br />
tersebut memiliki dua kamar tidur terletak di pinggir kota.<br />
September 1939, Soekarno diangkat sebagai Ketua Dewan<br />
Pengajaran Muhammadiyah cabang Bengkulu, aktif dalam Komite<br />
Pembangun Masjid Jamik dan mengajar murid perempuan Taman<br />
Siswa. Soekarno juga bekerja di perusahaan meubel temannya,<br />
Oey Tjeng Hien alias Abdul Karim, yang pindah dari Bintulu ke<br />
Bengkulu untuk memangku pengurus Muhammadiyah.
Soekarno membentuk Kelompok Tonil (Kelompok Teater)<br />
dengan nama Kelimoetoe Toneel Club. Nama kelompok ini<br />
diberikan oleh Ibu Inggit Garnasih yang terinspirasi dari nama<br />
danau tiga warna yang terletak di timur Kota Ende. Soekarno<br />
menulis sekitar 13 naskah sandiwara yang hampir semuanya,<br />
secara tersirat maupun tersurat, berisi semangat kebangsaan<br />
dan nasionalisme di antaranya : Rahasia Kelimutu (dua seri),<br />
Tahun 1945, Nggera Ende, Amuk, Rendo, KutKuthi, Maha Iblis,<br />
Anak Jedah, dan Dokter Setan. Soekarno bisa mementaskan<br />
toneelnya di gedung Societeit Imaculata, milik Gereja Katolik,<br />
karena mempunyai kedekatan dengan para pastor; Pastur<br />
Johanes Bouma, SVD dan Pastur Gerardus Huijtink, SVD.<br />
Melalui kelompok inilah, Soekarno mendidik dan mengobarkan<br />
semangat perjuangan menuju Indonesia merdeka dikalangan<br />
masyarakat Ende. Ini pun strategi Soekarno untuk<br />
mengelabui pengawasan polisi Belanda.<br />
Dalam sepi semasa di Ende, pagi setelah shalat subuh,<br />
Soekarno berjalan menuju pantai dan duduk di atas sebuah<br />
batu, di bawah rindangnya pohon sukun. Perlahan-lahan<br />
terbersit dalam benaknya lima sila dari Pancasila. Namun<br />
Soekarno tidak menciptakan sendiri Pancasila yang kala<br />
itu disebutnya sebagai “lima butir mutiara”. Ia menggali,<br />
merenungkan, segala hal yang ada di dalam kehidupan bangsa<br />
Indonesia yang tengah berjuang untuk merdeka.<br />
Permenungan di bawah pohon sukun bercabang lima telah<br />
mengilhami penggalian lima sila yang menjadi dasar negara<br />
Indonesia merdeka. Renungan tentang Pancasila menjadi<br />
modal utama perjuangan kemerdekaan serta kehidupan<br />
Indonesia merdeka di kemudian hari.<br />
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda berniat untuk membawa<br />
Soekarno ke Australia, melalui Padang. Namun kota Padang<br />
terlanjur diduduki tentara pendudukan Jepang, maka Belanda<br />
meninggalkan Soekarno di Kota Padang. Selama tinggal<br />
sementara di Padang, Soekarno didekati tentara pendudukan<br />
Jepang untuk bekerjasama. Namun Soekarno juga harus<br />
menguatkan hati rakyat menghadapi kesewenangan tentara<br />
pendudukan Jepang. Tentara pendudukan Jepang kemudian<br />
meminta Soekarno ke Jakarta menemui Jenderal Jepang.<br />
Juni 1942, Soekarno menyetujui tawaran Jenderal Hitoshi<br />
Imamura seorang panglima tentara Jepang (Seiko Shikikan)<br />
di Jawa, untuk bekerja sama dengan tentara pendudukan<br />
Jepang. Untuk itu Soekarno bertolak ke Jakarta, dari<br />
Bukittinggi melalui Bengkulu dan Palembang. Segera<br />
setibanya, Soekarno bertemu dengan Mohammad Hatta dan<br />
Sutan Sjahrir untuk mengatur siasat menghadapi tentara<br />
pendudukan Jepang. Mereka bersepakat berbagi tugas<br />
membawa Indonesia menuju kemerdekaan.<br />
17
Pada tanggal 16 April 1943, Soekarno<br />
bersama Mohammad Hatta, Ki Hajar<br />
Dewantara dan K.H Mansur membentuk<br />
Badan Pusat Tenaga Rakyat<br />
Soekarno dan Mohammad Hatta bekerjasama dengan Jepang<br />
secara terbuka sebagai siasat kemerdekaan Indonesia.<br />
Sementara Sutan Sjahrir bergerak di bawah tanah. Soekarno<br />
menggunakan tawaran tentara pendudukan Jepang untuk<br />
membangkitkan semangat rakyat dalam mempersiapkan<br />
Kemerdekaan Indonesia.<br />
Bersama Gatot Mangkoepradja, temannya semasa di penjara tahun<br />
1930, Soekarno membentuk Pembela Tanah Air (PETA), sebagai cikal<br />
bakal Tentara Nasional Indonesia.<br />
18
Dwi tunggal Soekarno – Hatta mempersiapkan<br />
kemerdekaan Indonesia, dengan berbagai taktik dan<br />
strategi.<br />
14 September 1944, barisan Pelopor dibentuk sebagai bagian<br />
dari Jawa Hokokai. Barisan Pelopor tersebut dipimpin Soekarno<br />
untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.<br />
Soekarno aktif menggelorakan semangat dalam<br />
mencapai kemerdekaan Indonesia di semua kalangan.<br />
19
1 Juni 1945, Soekarno melahirkan istilah Pancasila yang menjadi dasar negara dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-usaha<br />
Persiapan Kemerdekaan (BPUPK).<br />
Soekarno menggunakan badan bentukan Jepang itu untuk membulatkan tekad Merdeka. Pidato di hari Jumat pagi tersebut<br />
diterima oleh sidang dan di masa akhir persidangan BPUPKI, sila-sila dalam Pancasila itu disahkan, masuk dalam Pembukaan<br />
Undang-Undang Dasar 1945:<br />
Ketuhanan Yang Maha Esa,<br />
kemanusiaan yang adil dan beradab,<br />
persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,<br />
serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.<br />
20
"Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah<br />
menyiarkan semboyan Indonesia merdeka, bahkan<br />
sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita mempunyai<br />
semboyan INDONESIA MERDEKA SEKARANG.<br />
Bahkan 3 kali sekarang, yaitu Indonesia Merdeka<br />
sekarang, sekarang, sekarang!"<br />
21
Rumah Djiaw Kie Siong di Dusun Bojong, Rengasdengklok, Karawang,<br />
yang dekat dengan markas PETA digunakan oleh para pemuda<br />
menahan Soekarno, Fatmawati beserta anaknya dan Hatta.<br />
16 Agustus 1945, pukul 3 pagi, para pemuda mendesak<br />
Soekarno dan Hatta untuk mempercepat proklamasi<br />
kemerdekaan Indonesia. Soekarno dan Hatta menolak<br />
permintaan tersebut dan diculik oleh sejumlah pemuda<br />
ke Rengasdengklok.<br />
Menjelang malam Soekarno dan Hatta dijemput pulang<br />
ke Jakarta oleh Achmad Soebardjo<br />
Tiba di Jakarta, mereka<br />
meminjam rumah Laksamana<br />
Maeda, Kepala Kantor<br />
Penghubung antara Angkatan<br />
Laut dan Angkatan Darat<br />
Jepang, untuk merumuskan<br />
naskah proklamasi Kemerdekaan<br />
Indonesia. Jalan Imam Bonjol<br />
No.1 Jakarta Pusat.<br />
Soekarno, Hatta dan Achmad<br />
Soebardjo merumuskan naskah<br />
proklamasi. sementara anggota<br />
BPUPK dan para pemuda<br />
menunggu di teras rumah<br />
Tahun 1944, Fatmawati<br />
Soekarno menjahit bendera<br />
Merah Putih, saat mengandung,<br />
dengan menggunakan mesin<br />
jahit tangan.<br />
Bendera Merah Putih inilah yang dikibarkan<br />
saat proklamasi kemerdekaan Indonesia<br />
dibacakan Soekarno di kediamannya, pada 17<br />
Agustus 1945.<br />
22
Sebelum membacakan naskah proklamasi Soekarno sempat berpidato dihadapan 300 orang,<br />
dengan penuh semangat dan berapi-api<br />
“Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah<br />
air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun…Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar<br />
mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri.”<br />
P R O K L A M A S I<br />
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan<br />
Indonesia.<br />
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan<br />
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.<br />
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05“<br />
Atas bama bangsa Indonesia<br />
Soekarno / Hatta<br />
Soekarno<br />
memanjatkan<br />
rasa syukurnya<br />
kepada Tuhan<br />
Yang Maha Kuasa<br />
atas kemerdekaan<br />
Indonesia.<br />
23
24<br />
Pengibaran Sang Saka Merah<br />
Putih dilakukan oleh Abdul Latief<br />
Hendraningrat, yang diiringi lagu<br />
Indonesia Raya, tanpa musik.
Panitia Persiapan Kemerdekaan<br />
Indonesia (PPKI) bersidang<br />
mensahkan Undang-Undang<br />
Dasar 1945, dan menetapkan<br />
Soekarno sebagai Presiden<br />
dan Mohammad Hatta sebagai<br />
Wakil Presiden. Pengangkatan<br />
ini dikukuhkan pada 29<br />
Agustus 1945 oleh Komite<br />
Nasional Indonesia Pusat.<br />
31 Agustus 1945. Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Maklumat Pemerintah<br />
mengenai Salam Nasional bangsa Indonesia, Salam Pancasila, yang berlaku mulai 1<br />
September 1945.<br />
Memiliki tata cara: 1. Mengangkat tangan kanan setinggi telinga, 2. Jari lima bersatu, yang<br />
bermakna bahwa Indonesia telah merdeka, dan; 3. Lalu diikuti dengan suara mengguntur<br />
mengucapkan salam nasional, Merdeka!<br />
“Aku menetapkan supaya setiap warga negara Republik memberi salam kepada orang lain<br />
dengan mengangkat tangan, membuka lebar kelima jari sebagai pencerminan lima dasar<br />
negara dan meneriakkan, Merdeka!”<br />
25
LINI MASA 1901-1945<br />
22 Januari 1909<br />
Soekemi dipindah tugas ke<br />
Mojokerto sebagai mantri<br />
guru (kepala sekolah) di<br />
Eerste Indlandsche School/ EIS<br />
(Sekolah Dasar Bumiputra).<br />
Soekarno kembali tinggal<br />
bersama ayah ibunya dan<br />
dimasukan ke sekolah<br />
tempat Soekemi ditugaskan.<br />
Di EIS, Soekarno bersekolah<br />
hingga kelas empat.<br />
6 Juni 1901<br />
Soekarno dilahirkan di Jalan Pandean IV/40, Peneleh, Surabaya. Anak<br />
dari pasangan guru, Raden Soekemi Sosrodihardjo (Probolinggo,<br />
Jawa Timur) dan kerabat seorang bangsawan di Singaraja, Bali, Ida<br />
Ayu Nyoman Rai Srimben. Semula, Raden Soekemi memberi nama<br />
putranya yang lahir saat fajar menyingsing, Koesno Sosrodihardjo.<br />
Namun karena sering sakit-sakitan, sesuai dengan kebiasaan orang<br />
Jawa, namanya diganti menjadi Soekarno.<br />
Enam bulan setelah kelahiran Soekarno, 28 Desember 1901, keluarga<br />
Soekemi pindah ke Ploso, Jombang. Selama di Jombang, Soekarno<br />
dan kakak perempuannya, Soekarmini sering sakit, sehingga mereka<br />
sempat tinggal di rumah kakek dan neneknya, Raden Hardjodikromo<br />
di Tulungagung, Jawa Timur. Sebagai guru, Soekemi dipindah tugas<br />
lagi ke Sidoarjo. Di kota ini, Soekarno bersekolah di Sekolah Angka<br />
Dua (Ongko Loro), sekolah dasar yang diperuntukkan bagi anakanak<br />
Bumiputra dengan lama pendidikan 3 tahun. Karena sering<br />
sakit-sakitan, Soekarno diminta kakek neneknya untuk tinggal dan<br />
bersekolah di Tulungagung.<br />
Juni 1911<br />
Soekemi memindahkan<br />
Soekarno ke Europeesche<br />
Lagere School (ELS),<br />
sekolah dasar Eropa<br />
yang menggunakan<br />
bahasa Belanda sebagai<br />
bahasa pengantar untuk<br />
memudahkannya diterima di<br />
Hoogere Burger School (HBS).<br />
Di ELS, Soekarno duduk di<br />
kelas tiga sebab bahasa<br />
Belandanya dinilai kurang<br />
lancar. Setelah empat tahun<br />
(1911-1915) Soekarno tamat<br />
dari ELS dengan ijazah Klein<br />
Ambtenaar Diploma (ijazah<br />
untuk dapat menjadi<br />
pegawai negeri).<br />
26
29 September -<br />
6 Oktober 1918<br />
Selain aktif di Jong Java<br />
cabang Surabaya, Soekarno<br />
sering menemani Haji Oemar<br />
Said Tjokroaminoto dalam<br />
pertemuan-pertemuan atau<br />
rapat akbar Sarekat Islam (SI).<br />
Soekarno ikut menghadiri<br />
kongres nasional ketiga SI di<br />
Surabaya.<br />
1915<br />
Soekarno masuk HBS Surabaya<br />
dan indekos di rumah Raden<br />
Haji Oemar Said Tjokroaminoto,<br />
ketua Sarekat Islam (SI), di Gang<br />
Peneleh VII Nomor 29 dan 31.<br />
Di rumah indekos ini, Soekarno<br />
berkenalan dengan tokoh-tokoh<br />
pergerakan dan memulai proses<br />
magang politik. Di tahun yang<br />
sama, Tri Koro Darmo (Tiga<br />
Tujuan Mulia) cabang Surabaya<br />
berdiri, Soekarno yang saat itu<br />
menjadi pelajar HBS bergabung<br />
dengan organisasi ini. Pada<br />
tahun 1918, Tri Koro Darmo<br />
berganti nama menjadi Jong Java<br />
dengan maksud bisa merangkul<br />
para pemuda dari Sunda,<br />
Madura dan Bali. Dalam rapat<br />
pleno tahunan yang diadakan<br />
Jong Java cabang Surabaya,<br />
Soekarno menolak berbicara<br />
dengan bahasa Belanda dan<br />
mempromosikan egalitarianisme<br />
dalam masyarakat Jawa dengan<br />
cara berbicara bahasa Djawa<br />
Ngoko (rendahan). Di Jong Java,<br />
Soekarno juga mengusulkan<br />
majalah organisasi tersebut<br />
diterbitkan dalam bahasa<br />
Melayu, bukan dalam bahasa<br />
Belanda.<br />
21 Januari 1921<br />
Artikel Soekarno yang ditulis<br />
bersama SP. Soedarjo terbit di<br />
halaman depan koran Oetoesan<br />
Hindia milik Sarekat Islam (SI).<br />
Tanggal 7 April 1921, Soekarno<br />
kembali menulis artikel bertajuk<br />
“intellectueelen”. Soekarno aktif<br />
menulis artikel politik melawan<br />
kolonialisme Belanda. Di koran<br />
milik SI, Soekarno menulis<br />
sekitar 500 artikel dan komentar<br />
memakai nama pena Bima,<br />
nama yang diambil dari tokoh<br />
pewayangan epos Mahabharata.<br />
10 Juni 1921<br />
Soekarno lulus dari Hoogere<br />
Burger School (HBS) dan<br />
bermaksud melanjutkan<br />
pendidikan ke sekolah tinggi di<br />
Belanda. Namun, Ibundanya<br />
tidak setuju dengan niat tersebut.<br />
“Pergi ke luar negeri<br />
memerlukan biaya yang<br />
sangat besar…aku ingin<br />
supaya engkau tinggal<br />
di sini, di antara bangsa<br />
sendiri. Jangan lupa sekalikali<br />
nak, bahwa tempatmu,<br />
nasibmu, pusakamu adalah<br />
di kepulauan ini”.<br />
Juli 1921<br />
Soekarno mendaftari ke<br />
Technische Hooge School<br />
(THS), sekarang Institut<br />
Teknologi Bandung,<br />
mengambil jurusan teknik<br />
sipil. Ia indekos di rumah<br />
Haji Sanoesi, anggota SI dan<br />
sahabat Tjokroaminoto.<br />
Disinilah Soekarno bertemu<br />
dengan Inggit Ganarsih.<br />
27
Pertengahan 1922<br />
Soekarno sempat cuti kuliah<br />
selama tujuh bulan dan pada<br />
1922 mendaftar kembali. Di<br />
Bandung, Soekarno berinteraksi<br />
dengan tokoh-tokoh pergerakan<br />
seperti Dr. Douwes Dekker (Dr.<br />
Danudirja Setiabudi), dan Tjipto<br />
Mangunkusumo. Saat kuliah<br />
di THS Bandung, Soekarno<br />
merumuskan teori perjuangan<br />
Marhaenisme, diambil dari<br />
nama seorang petani, Marhaen.<br />
“Seorang Marhaen adalah<br />
orang yang memiliki alatalat<br />
yang sedikit, orang kecil<br />
dengan milik kecil, dengan<br />
alat-alat kecil, sekadar<br />
cukup untuk dirinya sendiri.<br />
Bangsa kita yang puluhan<br />
juta jiwa, yang sudah<br />
dimelaratkan, bekerja bukan<br />
untuk orang lain dan tidak<br />
ada orang bekerja untuk<br />
dia. Tidak ada pengisapan<br />
tenaga seorang oleh orang<br />
lain. Marhaenisme adalah<br />
Sosialisme Indonesia dalam<br />
praktik,” kata Soekarno.<br />
29 November 1925<br />
Soekarno bersama Mr. Iskaq Tjokrohadisoerjo, dr. Tjipto<br />
Mangunkusumo, Abdoel Moeis, dan Ir. Anwari mendirikan Algemene<br />
Studie Club (ASC) Bandung, yang menjadi cikal bakal Perserikatan<br />
Nasional Indonesia (PNI).<br />
25 Mei 1926<br />
Soekarno dinyatakan lulus ujian<br />
insinyur spesialis di bidang teknik<br />
jalan raya, konstruksi pelabuhan,<br />
dan pengairan. Pada Dies Natalis<br />
ke-6 THS Bandung tanggal 3<br />
Juli 1926 Soekarno diwisuda<br />
bersama delapan belas insinyur<br />
lainnya. Prof. Dr. Jacob Clay<br />
selaku ketua fakultas saat itu,<br />
menyatakan “Terutama penting<br />
peristiwa itu bagi kita karena ada<br />
di antaranya 3 orang insinyur<br />
orang Jawa”. Mereka adalah<br />
Soekarno, Anwari, dan Soetedjo,<br />
selain itu ada seorang lagi<br />
dari Minahasa yaitu Johannes<br />
Alexander Henricus Ondang.<br />
26 Juli 1926<br />
Soekarno bersama teman<br />
seangkatannya di THS,<br />
Ir. Anwari mendirikan<br />
biro arsitek. Biro ini tak<br />
berkembang, karena keduanya<br />
lebih sibuk dengan kegiatan<br />
politik. Tahun 1929, biro<br />
arsitek tersebut bubar,<br />
karena Soekarno ditahan oleh<br />
pemerintah kolonial Hindia<br />
Belanda. Sebelum mendirikan<br />
biro arsitek Soekarno sempat<br />
mengajar matematika dan<br />
sejarah di sekolah Yayasan<br />
Ksatrian yang diselenggarakan<br />
oleh Dr. Danudirja Setiabudi.<br />
Oktober 1926<br />
Soekarno memimpin surat<br />
kabar berkala Indonesia Moeda.<br />
Harian yang terbit tiap bulan<br />
ini dibuat oleh Algemeene<br />
Studie Club Bandung. Soekarno<br />
menulis artikel “Nasionalisme,<br />
Islam, dan Marxisme” yang<br />
terbit dalam tiga nomor<br />
berturut-turut di majalah<br />
Studieclub Bandung, Indonesia<br />
Moeda. Soekarno menyerukan<br />
kerjasama yang erat di antara<br />
tiga golongan ini.<br />
28
4 Juni 1927<br />
Soekarno bersama Mr. Sartono,<br />
Ir. Anwari, Mr. Soenarjo,<br />
Mr. Iskaq Tjokroadisoerjo,<br />
dr. Boediarto, dr. Samsi<br />
Sastrowidagda, Soedjadi dan Jan<br />
Tilaar mendirikan Perserikatan<br />
Nasional Indonesia (PNI) di<br />
Bandung, partai politik dengan<br />
program utama mencapai<br />
kemerdekaan Indonesia. Dewan<br />
pengurus terbentuk dengan<br />
diketuai oleh Soekarno, Iskaq<br />
sebagai sekretaris merangkap<br />
bendahara, sedangkan<br />
anggotanya antara lain, Anwari,<br />
Samsi, Sartono dan Soenarjo.<br />
Saat mendeklarasikan PNI,<br />
Soekarno menyatakan bahwa<br />
anggota ASC otomatis menjadi<br />
anggota PNI. Pada kongres<br />
1928, gerakan tersebut<br />
memproklamasikan diri sebagai<br />
partai, dengan nama baru:<br />
Partai Nasional Indonesia.<br />
17 Desember 1927<br />
Permufakatan Perhimpunan<br />
Perhimpunan Politik<br />
Kebangsaan Indonesia<br />
(PPPKI) terbentuk atas inisiatif<br />
Soekarno. Perhimpunan ini<br />
terdiri dari 7 organisasi politik,<br />
yaitu: PNI, PSI, Boedi Oetomo,<br />
Pasundan, Sarekat Sumatra,<br />
Kaum Betawi dan Algemeene<br />
Studie Club. Belakangan<br />
Sarekat Madura, Perserikatan<br />
Celebes dan Tirtajasa Banten<br />
ikut bergabung. Tahun<br />
1933, nama Permufakatan<br />
Perhimpunan-perhimpunan<br />
Politik Kebangsaan Indonesia<br />
diganti dengan Persatuan<br />
Perhimpunan-perhimpunan<br />
Politik Kemerdekaan Indonesia.<br />
29 Desember 1929<br />
Usai menghadiri pertemuan<br />
kongres kedua PPPKI di Solo<br />
dan meninjau cabang-cabang<br />
PNI, Soekarno ditangkap<br />
pemerintahan kolonial Hindia<br />
Belanda bersama tokoh PNI<br />
lainnya di Yogyakarta. Mereka<br />
dituduh merencanakan<br />
pemberontakan kepada<br />
pemerintah kolonial Hindia<br />
Belanda. Esok harinya, Soekarno<br />
berserta R. Gatot Mangkoepradja<br />
(Sekretaris II PNI Pusat) dan<br />
Maskoen (Sekretaris II Cabang<br />
Bandung) dibawa ke Bandung<br />
dan dijebloskan ke penjara<br />
Banceuy. Selain Soekarno<br />
dan Gatot Mangkoepradja,<br />
Maskoen Soemadiredja,<br />
anggota PNI cabang Bandung,<br />
R. Soepriadinata, juga ditangkap<br />
dan ditahan di penjara tersebut.<br />
18 Agustus-22 Desember 1930<br />
Setelah ditahan selama<br />
delapan bulan, Soekarno,<br />
Gatot Mangkoepradja,<br />
Maskoen Soemadiredja<br />
dan Soepriadinata diadili di<br />
Landraad (pengadilan negeri)<br />
Bandung. Mereka dibela oleh<br />
pengacara-pengacara dari<br />
PPPKI, di antaranya Mr. Sartono,<br />
Mr.Iskaq Tjokrohadisurjo, Mr.<br />
Soejoedi, Mr. Sastro Moeljono,<br />
dan R. Idih Prawiradipoetra.<br />
Tanggal 1 dan 2 Desember<br />
1930, Soekarno membacakan<br />
naskah pembelaan yang diberi<br />
judul “Indonesia Menggugat”.<br />
Soekarno membeberkan secara<br />
sistematis dan tajam bagaimana<br />
kolonialisme dan imperialisme<br />
bekerja memperkaya diri<br />
sekaligus memiskinkan rakyat<br />
negara kolonial.<br />
29
22 Desember 1930<br />
Soekarno divonis hukuman<br />
penjara selama 4 tahun oleh<br />
pengadilan pemerintah kolonial<br />
Hindia Belanda. Sementara<br />
Gatot dihukum 2 tahun penjara,<br />
Maskoen 20 bulan penjara dan<br />
Soepriadinata 15 bulan penjara.<br />
Soekarno, Gatot, dan Maskoen<br />
menjalani masa penahanannya di<br />
penjara Soekamiskin.<br />
1931<br />
Naskah “Indonesia Menggugat”<br />
(Indonesie Klaagt Aan) ditulis Soekarno<br />
di sel sempit berukuran 1,5 meter<br />
x 2 meter diterbitkan di Eropa.<br />
Pledoi tersebut menggugah dunia<br />
internasional dan banyak ahli hukum<br />
di Eropa mendesak pemerintah<br />
kolonial Hindia Belanda meringankan<br />
hukuman Soekarno dan temantemannya.<br />
31 Desember 1931<br />
Hukuman Soekarno dipotong<br />
dua tahun dan dibebaskan.<br />
Selama Soekarno di penjara, PNI<br />
telah membubarkan diri lantaran<br />
pemerintah Kolonial Hindia<br />
Belanda mencap sebagai partai<br />
terlarang. Tak lama kemudian<br />
berdiri 2 partai baru yaitu, Partai<br />
Indonesia (Partindo) didirikan<br />
oleh Mr. Sartono dan PNI Baru,<br />
pimpinan Mohammad Hatta-<br />
Sutan Sjahrir.<br />
2 Januari 1932<br />
Soekarno menghadiri rapat<br />
Kongres Indonesia Raya di<br />
Surabaya. Dalam rapat itu,<br />
Soekarno menghimbau tentang<br />
persatuan nasional dalam PPPKI.<br />
Tahun 1932<br />
Sekeluarnya dari penjara<br />
Soekamiskin Bandung, Soekarno<br />
kembali membangun biro<br />
arsitek bersama Ir. Roosseno<br />
Soerjohadikoesoemo. Saat<br />
itu, Soekarno mengerjakan<br />
rancangan rumah-rumah yang<br />
hendak dibangunnya, sedangkan<br />
Roosseno membuat hitungannya<br />
(kalkulasi). Biro Insinyur Soekarno<br />
& Roosseno yang bertempat di Jl.<br />
Banceuy No. 18 Bandung, sempat<br />
merancang beberapa rumah<br />
tinggal di Bandung.<br />
1 Agustus 1932<br />
Soekarno resmi bergabung<br />
menjadi anggota Partindo dan<br />
berusaha dan mengusahakan fusi<br />
antara Partindo dengan PNI baru.<br />
15 Juni 1932<br />
Soekarno menerbitkan<br />
koran baru bernama Fikiran<br />
Ra’jat dan bertindak sebagai<br />
pemimpin redaksinya. Terbit<br />
sekali seminggu, koran<br />
politik ini mengambil slogan:<br />
Kaoem Marhaen! Inilah<br />
Madjallah Kamoe! Fikiran<br />
Ra’jat diperuntukkan untuk<br />
pembaca luas di kalangan<br />
marhaen. Terutama mereka<br />
yang hanya bisa membaca<br />
dan menulis. Dalam majalah<br />
ini Soekarno berbicara cara<br />
mencapai Indonesia Merdeka.<br />
Selain menulis, Soekarno juga<br />
menggambar karikatur memakai<br />
nama samaran, Soemini.<br />
14-19 April 1933<br />
Soekarno terpilih sebagai ketua<br />
Partindo dalam kongres kedua<br />
partai ini di Surabaya.<br />
Maret 1933<br />
Soekarno melepas lelah<br />
beberapa hari di Pegunungan<br />
Pengalengan, Bandung, setelah<br />
melakukan perjalanan ke Jawa<br />
Tengah untuk membangkitkan<br />
semangat rakyat. Di tempat<br />
ini Soekarno menulis risalah<br />
“Mencapai Indonesia Merdeka”<br />
yang diterbitkan oleh Haji Umar<br />
Ratman, Bandung, pada April.<br />
Risalah Mencapai Indonesia<br />
Merdeka berbicara tentang<br />
busuknya sistem politik pintu<br />
terbuka imperialisme dan<br />
mengutuk seluruh sistem<br />
kolonialisme.<br />
30
1 Agustus 1933<br />
Soekarno kembali ditangkap<br />
untuk kedua kalinya. Soekarno<br />
ditangkap di depan rumah<br />
MH. Thamrin di Batavia usai<br />
menghadiri rapat pengurus<br />
eksekutif Partindo.<br />
28 Maret 1933<br />
Gubernur Jenderal, pemimpin<br />
tertinggi pemerintahan kolonial<br />
di Hindia Belanda atas dasar<br />
exorbitante rechten, wewenang<br />
istimewa untuk mengenakan<br />
sanksi kepada setiap<br />
pembangkang berupa interneering<br />
(pengasingan di tanah kolonial)<br />
atau externeering (pembuangan<br />
ke luar wilayah) mengeluarkan<br />
surat pengasingan Soekarno ke<br />
Ende, Nusa Tenggara Timur.<br />
17 Februari 1934<br />
Soekarno beserta rombongan meninggalkan Bandung dengan kereta api menuju Surabaya untuk<br />
kemudian naik kapal barang Van Riebeek menuju Ende. Selama di Ende, Soekarno rajin mempelajari<br />
Islam, membaca buku Islam serta melakukan korespondensi dengan A. Hassan, tokoh organisasi<br />
Persatuan Islam (Persis) yang ada di Bandung. Surat menyurat antara keduanya berlangsung sejak 1<br />
Desember 1934 hingga 17 Oktober 1936. Surat-surat Soekarno tersebut kemudian diterbitkan oleh<br />
Ahmad Hassan menjadi buku berjudul “Soerat-Soerat Islam dari Ende.” Soekarno diasingkan ke Ende<br />
selama 4 tahun (1934 -1938).<br />
14 Februari 1938<br />
Pemerintah kolonial Hindia Belanda memutuskan<br />
Soekarno akan dipindahkan ke Bengkulu.<br />
Soekarno dan rombongan berangkat dari Ende<br />
ke Bengkulu pada 30 April 1938. Di Bengkulu<br />
Soekarno diasingkan selama 4 tahun (1938 -<br />
1942). Seperti di Ende, di Bengkulu, Soekarno<br />
juga membentuk kelompok sandiwara, Monte<br />
Carlo. Di sini Soekarno menghasilkan beberapa<br />
naskah tonneel, seperti Rainbow (Poetri Kencana<br />
Boelan), Hantoe Goenoeng Boengkoek, Si Ketjil<br />
(Klein Duimpje), dan Chungking Djakarta. Di<br />
Bengkulu, Soekarno masuk menjadi anggota<br />
Muhammadiyah dan mengajar di sekolah<br />
Muhammadiyah. Soekarno juga aktif menulis di<br />
koran Panji Islam milik Muhammadiyah.<br />
31
1942<br />
Setelah Jepang mengalahkan Belanda tahun 1942, Soekarno dibawa<br />
ke Jakarta. Awalnya, Belanda ingin membawa Soekarno ke Australia<br />
dengan kapal yang disiapkan di Padang. Namun rencana tersebut<br />
gagal, karena tentara Jepang telah menguasai daerah tersebut.<br />
Juni 1942, Soekarno menyetujui<br />
tawaran Jenderal Hitoshi<br />
Imamura seorang panglima<br />
tentara Jepang (Seiko Shikikan)<br />
di Jawa, untuk bekerja sama<br />
dengan tentara pendudukan<br />
Jepang. Perjalanan Soekarno dari<br />
Bukittinggi melalui Bengkulu,<br />
Palembang, hingga akhirnya<br />
tiba di Jakarta. Segera setelah<br />
tiba, Soekarno bertemu dengan<br />
Mohammad Hatta dan Sutan<br />
Sjahrir untuk mengatur siasat<br />
menghadapi tentara pendudukan<br />
Jepang. Mereka bersepakat<br />
berbagi tugas membawa<br />
Indonesia menuju kemerdekaan.<br />
29 April 1945<br />
Badan Penyelidik Usaha-usaha<br />
Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI)<br />
didirikan dan beranggotakan 59<br />
orang, dimana Soekarno dan<br />
Mohammad Hatta tercatat sebagai<br />
anggotanya. Badan ini diketuai<br />
Radjiman Wedyodiningrat.<br />
16 April 1943<br />
Soekarno membentuk badan<br />
Pusat Tenaga Rakyat (Putera).<br />
Putera dipimpin oleh Soekarno,<br />
Mohammad Hatta, Ki Hajar<br />
Dewantara dan K.H. Mas<br />
Mansur. Keempat tokoh itu<br />
dikenal dengan sebutan Empat<br />
Serangkai. Akhir tahun 1943<br />
Putera dibubarkan.<br />
1 Juni 1945<br />
Soekarno melahirkan istilah<br />
Pancasila yang menjadi dasar<br />
negara dalam rapat Badan<br />
Penyelidik Usaha-usaha<br />
Persiapan Kemerdekaan<br />
Indonesia (BPUPKI). Dalam<br />
rapat itu juga disepakati Undangundang<br />
Dasar 1945 sebagai<br />
konstitusi negara Indonesia.<br />
1 Maret 1944<br />
Tentara pendudukan Jepang<br />
membentuk Jawa Hokokai<br />
(Himpunan Kebaktian Rakyat<br />
Jawa) sebagai pengganti Putera<br />
dan Soekarno ditunjuk sebagai<br />
penasehat utamanya<br />
32
7 Agustus 1945<br />
Panitia Persiapan Kemerdekaan<br />
Indonesia (PPKI) dibentuk,<br />
beranggotakan 27 orang dan<br />
diketuai oleh Soekarno.<br />
14 September 1944<br />
Soekarno memimpin Barisan<br />
Pelopor yang dibentuk tentara<br />
pendudukan Jepang. Organisasi<br />
semi milter ini merupakan<br />
bagian dari Jawa Hokokai.<br />
16 Agustus 1945<br />
Para pemuda mendesak<br />
proklamasi secepatnya. Soekarno<br />
dan Hatta menolak tuntutan<br />
pemuda untuk memproklamasikan<br />
Indonesia dengan alasan belum<br />
mendapat kepastian menyerahnya<br />
Jepang dalam perang dan<br />
menghindari terjadi pertumpahan<br />
darah. Soekarno dan Hatta<br />
diculik oleh para pemuda dan<br />
membawanya ke Rengasdengklok.<br />
Menjelang malam Soekarno dan<br />
Hatta dijemput pulang ke Jakarta<br />
oleh Achmad Soebardjo. Soebardjo<br />
berhasil menyakinkan para<br />
pemuda untuk tidak terburu-buru<br />
memproklamasikan kemerdekaan.<br />
Tiba di Jakarta, mereka meminjam<br />
rumah Laksamana Maeda, Kepala<br />
Kantor Penghubung antara<br />
Angkatan Laut dan Angkatan<br />
Darat Jepang, untuk merumuskan<br />
naskah proklamasi Kemerdekaan<br />
Indonesia. Soekarno, Hatta dan<br />
Soebardjo berembuk merumuskan<br />
naskah Proklamasi.<br />
9 - 14 Agustus 1945<br />
Soekarno, Mohammad Hatta<br />
dan Rajiman Wedyodiningrat<br />
diundang Marsekal Terauchi<br />
ke Dalat, di bagian utara<br />
Saigon, Vietnam. Kembali<br />
dari Dalat, saat mendarat di<br />
Jakarta pada 14 Agustus 1945,<br />
Soekarno menyatakan bahwa<br />
kemerdekaan Indonesia tidak<br />
perlu menunggu jagung berbuah<br />
karena akan terlaksana sebelum<br />
jagung berbunga.<br />
17 Agustus 1945<br />
Di kediamannya, Jalan Pengangsaan Timur 56, Soekarno membacakan<br />
naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya bendera<br />
Merah Putih yang telah dijahit oleh Fatmawati Soekarno dikibarkan,<br />
yang disertai lagu Indonesia Raya tanpa iringan musik.<br />
18 Agustus 1945<br />
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersidang<br />
mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945, dan menetapkan Soekarno<br />
sebagai presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden.<br />
Pengangkatan ini dikukuhkan pada 29 Agustus 1945 oleh Komite<br />
Nasional Indonesia Pusat.<br />
33
34<br />
Ir. Soekarno atau yang dikenal oleh rakyat Indonesia dengan nama <strong>Bung</strong> <strong>Karno</strong><br />
dalam lembar sejarah tata Negara Indonesia, tercatat sebagai Presiden<br />
Republik Indonesia yang pertama. Namun sesungguhnya peran <strong>Bung</strong> <strong>Karno</strong> dalam<br />
perjuangan pembentukan bangsa Indonesia jauh lebih luas. Beliaulah bersama Drs.<br />
Moh. Hatta yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dengan membacakan<br />
naskah proklamasi kemerdekaan, pada tanggal 17 Agustus 1945. Beliau<br />
membangkitkan, dan memberikan jati diri bangsa, serta meletakkan dasar Negara<br />
Republik Indonesia, melalui pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945. <strong>Bung</strong> <strong>Karno</strong> adalah<br />
Bapak Bangsa Indonesia.
36