30.10.2021 Views

Jendela Geosaintis Ed.IX - Oktober 2021

Jendela Geosaintis Edisi Oktober 2021 terbit dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-93 yang jatuh pada Kamis (28/10) lalu. Sejarah telah menunjukkan bahwa pemuda memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, terutama dari kalangan geosaintis. Saat ini, pemuda Indonesia memiliki peluang yang besar untuk menjadi pemimpin perubahan dalam era digital seperti sekarang ini.

Jendela Geosaintis Edisi Oktober 2021 terbit dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-93 yang jatuh pada Kamis (28/10) lalu. Sejarah telah menunjukkan bahwa pemuda memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, terutama dari kalangan geosaintis. Saat ini, pemuda Indonesia memiliki peluang yang besar untuk menjadi pemimpin perubahan dalam era digital seperti sekarang ini.

SHOW MORE
SHOW LESS

You also want an ePaper? Increase the reach of your titles

YUMPU automatically turns print PDFs into web optimized ePapers that Google loves.


JENDELA GEOSAINTIS

OKTOBER 2021

SEJARAH

Sumpah Pemuda yang diperingati setiap

tanggal 28 Oktober lahir sebagai bentuk ikrar dari

pemuda-pemudi Indonesia. Ikrar tersebut

merupakan hasil putusan dari Kerapatan

Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II yang

digelar dua hari yaitu pada tanggal 27-28 Oktober

1928. Kongres ini digagas oleh Perhimpunan

Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi

yang beranggotakan pelajar dari seluruh

Indonesia. Kongres tersebut juga dihadiri oleh

organisasi-organisasi pemuda lainnya seperti

seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong

Bataks Bond, Pemoeda Indonesia, Jong

Islamieten Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun, Jong

Ambon, dan Pemuda Kaum Betawi.

Pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 1928

sebelum penutupan kongres, rumusan hasil

kongres diucapkan oleh para pemuda Indonesia

sebagai Sumpah Setia.

Pertama

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku

bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Kedua

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku

berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung

bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sumber: https://museumsumpahpemuda.kemdikbud.go.id/

2 SEJARAH


TIM REDAKSI

DEWAN PENGARAH

Muhammad Burhannudinnur

Muhammad Addiansyah

Rahmat Hidayat

PIMPINAN REDAKSI

Siti Rofikoh

REDAKSI PELAKSANA

Sofia Salsabila

PENATA GRAFIS

Afriyanto

REPORTER

Teguh Samudera P

SELAMAT DATANG

DI JENDELA GEOSAINTIS

Halo! Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda

pada tanggal 28 Oktober, Divisi Media dan Jurnalistik Forum

Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) mempersembahkan Jendela

Geosaintis edisi ke-IX dengan tema “Muda Berkarya”. Tim redaksi

kali ini terdiri dari sekumpulan pemuda dengan berbagai

macam latar belakang geosaintis baik di industri maupun

akademisi. Kami berharap artikel yang tersaji dalam edisi ini

dapat memberikan wawasan tambahan terhadap isu geosains

di sekitar kita. Kami hadirkan pula tokoh inspiratif muda yang

hingga kini masih terus mempopulerkan isu kebumian lewat

tulisan-tulisan ringannya di sosial media.

Jendela Geosaintis edisi ini sekaligus menjadi media

perkenalan kami pengurus baru FGMI 2021 – 2023 dibawah

kepemimpinan Mas Addin, juga Pak Burhan sebagai penasihat.

Semoga di kepengurusan ini, Jendela Geosaintis dapat semakin

aktif mempopulerkan geosains sehingga geosains dapat

dinikmati juga dimengerti oleh semua kalangan.

Saya mewakili tim redaksi mengucapkan terima kasih atas

saran dan dukungan rekan-rekan semua yang memotivasi kami

untuk terus berusaha memberikan yang terbaik untuk para

pembaca. Selamat membaca dan terus berkarya!

Salam,

Siti Rofikoh

Pimpinan Redaksi

EDITOR

Jundiya Al Haqiqi

Haiyin H. Amania

KONTRIBUTOR

Muhammad Zelandi

Angga Jati Widiatama

Sofia Salsabila

Baniarga Prabowo

Siti Rofikoh

Kania Pinasti Soleha

Jundiya Al Haqiqi

Forum Geosaintis Muda Indonesia

FGMI TV

fgmindo

Redaksi menerima tulisan maupun karya lain

yang berkaitan dengan isu kebumian maupun

topik lainnya. Pengajuan karya, masukan

mengenai majalah, maupun pertanyaan dapat

menghubungi Jendela Geosaintis lewat

redaksi.fgmi@gmail.com

EDITORIAL

3


Pemuda hari ini

harus turun tangan,

berkarya nyata

menjawab semesta

Indonesia.

- Najwa Shihab

Photo by Bisma Mahendra on Unsplash


JENDELA GEOSAINTIS

OKTOBER 2021

DAFTAR ISI

1

SEJARAH

Sumpah Pemuda

28 Oktober 1928

Hal. 2

7 Hal.

PANDEMI COVID-19

Perspektif Ilmu Kebumian

Kania Pinasti Soleha

18-19

2

EDITORIAL

Prakata

Tim Redaksi

Hal. 3

ARIE FREDERIK LASUT

8

Pahlawan Nasional di Bidang

Pertambangan dan Geologi

Jundiya Al Haqiqi

Hal. 20-21

3

Hal.

FGMI MENTORING PROGRAM

Membentuk Geosaintis Muda

yang Kompeten

M. Zelandi

6-7

9

Hal.

GEO STUDENT COMPETITION 2021

Geosciences Today and for the Future:

Creating Harmonious State between

Environment and Human Society

22

BINCANG-BINCANG BERSAMA MAS JATI

4

Menulis dengan Sederhana,

Menjadi Diri Sendiri

Siti Rofikoh & Sofia Salsabila

Hal. 8-10

10

KEPENGURUSAN FGMI

Periode 2021-2023

Bersahabat dengan Geosains

Hal. 23-26

5

Hal.

INVESTIGATION ASSESSMENT

Mengenal Bencana Tanah Longsor

dan Teknologi Penanganannya

Baniarga Prabowo

11-14

11

Hal.

BERITA FGMI

Virtual Geotour Series

Kolaborasi FGMI dan HMGI

Sandbox Geosaintis Muda 2021

27-29

DETEKSI DINI LONGSORAN

6

LERENG TAMBANG

Menggunakan Teknologi Radar

Siti Rofikoh

Hal. 16-17

DAFTAR ISI

5


JENDELA GEOSAINTIS

OKTOBER 2021

FGMI MENTORING PROGRAM

Membentuk Geosaintis Muda Indonesia yang Kompeten

eiring makin pesatnya per-

Ssaingan dalam dunia kerja khususnya

di bidang geosains, lulus

hanya dengan ijazah saja tidak cukup

untuk diterima masuk kerja. Belum lagi

saat sudah bekerja, kita juga dituntut

untuk selalu berkembang dan produktif.

Untuk menjawab masalah itu, Forum

Geosaintis Muda Indonesia (FGMI) hadir

dengan kegiatan dalam bentuk mentoring

untuk para geosaintis muda, yaitu

FGMI Mentoring Program. Kegiatan

yang baru pertama kali dilaksanakan

FGMI ini mengusung tagline “Crafting a

well-rounded young Geoscientist for

Indonesia”, dengan tujuan membantu

para geosaintis muda mengembangkan

potensi diri masing-masing yang berguna

saat sudah bekerja. Berikut beberapa

hal menarik tentang FGMI Mentoring

Program 2021.

Mengasah Soft Skill dan

Hard Skill Peserta

Secara spesifik, FGMI Mentoring Program

ini dirancang agar peserta memahami

hal-hal yang diperlukan dalam

dunia kerja terutama bidang geosains,

mulai dari bagaimana persiapan mencari

kerja, cara mengembangkan diri

sampai dengan cara membuat personal

branding. Selain itu, peserta juga bisa

mendapatkan tips dan trik menarik dari

para mentor sekaligus bagaimana cara

mereka bisa bergabung di tempat mereka

bekerja saat ini dan juga pengalaman

mereka sebagai praktisi.

Dibimbing oleh Mentor

yang Berpengalaman

FGMI Mentoring Program memiliki

kriteria-kriteria khusus dalam mencari

mentor. Selain dilakukan screening yang

ketat, para mentor juga dipilih karena kapabilitas

dan kesediaan mereka untuk

membimbing para mentee. Mereka juga

masih muda, namun sudah memiliki

rekam jejak yang bagus. Mentor-mentor

yang dipilih saat ini bekerja di perusahaan-perusahaan

besar di Indonesia

seperti Pertamina, Semen Indonesia,

Freeport dll.

Satu Peserta Satu Mentor

Kegiatan FGMI Mentoring Program

kali ini dikemas dalam format mentoring,

d e n g a n m a s i n g - m a s i n g m e n te e

(sebutan untuk peserta) dipasangkan

dengan 1 mentor. Jadi, peserta bisa mendapatkan

bimbingan langsung dari mereka

serta bisa secara eksklusif menanyakan

berbagai hal mengenai pengalaman

mereka bekerja di industri. Di

batch 1 ini, FGMI Mentoring Program

hanya menerima 15 pasangan mentoring

yang telah diseleksi dari ratusan

pendaftar.

Materinya Bukan Hanya

Tentang Pengembangan Diri

Selain diskusi 4 mata dengan mentor,

FGMI Mentoring Program juga memiliki

kegiatan lain yang juga membantu

peserta dalam mengembangkan potensi

dirinya. Seperti diskusi bersama HR

dari industri, membuat CV yang berkualitas,

sampai latihan presentasi dengan

artikel yang peserta buat dari program

mentoring ini.

Muhammad Zelandi

Institut Teknologi Bandung

6 ARTIKEL


Lima Bidang yang Tersedia

Berbicara soal pilihan bidang yang

tersedia, FGMI Mentoring Program

membuka 5 bidang geosains yang bisa

dipilih. Bidang-bidangnya meliputi

Perminyakan, Pertambangan, Energi

Terbarukan, Geowisata serta Geoteknik,

Kebencanaan, dan Lingkungan. Peserta

bisa memilih 3 dari 5 bidang yang tersedia

sesuai dengan prioritasnya. Salah

satu penilaian bagi peserta adalah alasan

dibalik pemilihan bidang-bidang tersebut.

Sarana Networking dan

Sounding Untuk Peserta

Hal yang tidak kalah penting dari

kegiatan FGMI Mentoring Program ini

adalah menambah relasi atau network

untuk peserta. Selain mendapatkan materi

dari mentor yang berpengalaman,

peserta juga bisa mendapatkan relasi

dari sesama mentee dan bisa menjadi

sarana diskusi mengenai dunia industri.

Setelah FGMI Mentoring Program ini

berakhir, harapannya para peserta menjadi

individu yang lebih siap dan percaya

diri karena telah dibekali dengan skill

yang dibutuhkan.

“ Mentoring is

a brain to pick,

an ear to listen,

and a push in

the right

direction.

- John C. Crosby

7


BINCANG-BINCANG BERSAMA MAS JATI

Menulis dengan Sederhana, Menjadi Diri Sendiri

Oleh : Siti Rofikoh & Sofia Salsabila

Tulisan-tulisan beliau kerap kali muncul pada lini masa Sobat Geosains terutama

lewat Instagram. Beliau menulis sejak SMA, bermula dari menulis cerita pendek

juga puisi. Membiasakan menulis sewaktu organisasi di BEM, himpunan,

organisasi di luar kampus, hingga saat ini menjadi pengajar dalam Program Studi

Teknik Geologi di Institut Teknologi Sumatera (ITERA), kegiatan tersebut terus

berlanjut. Cerita-cerita beliau banyak memuat seputar fenomena kebumian juga

pengalaman lapangan sesuai dengan latar belakang beliau yang bermula dari geologi.

Terinspirasi dari Pak Andang Bachtiar dan (Alm.) 'Pakde' Rovicky Dwi Putrohari, Angga

Jati Widiatama atau yang kerap kali dipanggil Mas Jati oleh rekan-rekannya, memilih

menulis sebagai salah satu media untuk melepas penat.

Angga Jati Widiatama

Tidak banyak yang menyalurkan stres dengan menulis,

kenapa akhirnya memilih untuk menulis dan apa yang

membuat menulis itu menarik sehingga dapat menjadi

stress-reliever?

Saya terinspirasi dari salah satu kutipan dari Ibnu Batutah

bahwa, “Saat berkelana, kita seringkali dibuat kagum. Tetapi

seiring berjalannya waktu, pengalaman akan mengubah

anda menjadi seorang pencerita atau penutur”. Hal ini yang

membekas karena kita sebagai geologist selalu bepergian

ke tempat baru, bertemu orang-orang baru. Pengalaman

baru tersebut mungkin akan membuat kita kaget, kagum,

takjub, mungkin kita terpesona. Pengalaman tersebut yang

akan memperkaya diri kita. Dalam pengalaman saya, banyak

sekali hal-hal yang tidak saya sadari selama melakukan

perjalanan. Tetapi, saat semuanya sudah berlalu ternyata

ada banyak yang dapat direnungkan dan dapat diambil

sebagai pelajaran. Hal itulah yang menarik dan menjadi

motivasi bagi saya untuk Menuturkan kembali berbagai

pengalaman dalam bentuk cerita. Melihat tempat baru,

bertemu orang-orang juga membuat kita bisa mengambil

gambar, tidak harus selalu lewat fotografi. Karena dalam

fotografi, memang satu foto bisa memberikan sejuta cerita.

Namun, cerita tersebut terbentuk sesuai dengan referensi

orang yang melihat foto tersebut. Kalau melalui cerita yang

ditulis, kita sebagai penulis bisa menceritakan suatu fokus

pada hal yang ingin kita sampaikan.

Apakah kebiasaan menulis itu bermula dari mencari

data, membaca referensi, baru muncul ide dan dikembangkan

sebagai topik ataukah sebaliknya? Kenapa

akhirnya memilih untuk mempopulerkan geologi?

Setiap orang tentunya memiliki pilihan yang berbeda. Berdasarkan

pengalaman saya, kalau kita mencari sesuatu malah

nggak ketemu. Semisal kita sengaja mencari referensi

untuk tema A atau B, tetapi saat membaca malah ketemu

cerita C atau D yang ternyata nggak kalah menarik. Hal ini

sering terjadi saat kita fokus ingin menceritakan sesuatu,

tapi kita malah belok ketemu cerita lain yang tidak kalah

menarik. Jadi, tidak ada patokan pasti apakah saya harus

dapat ide dulu baru cari literasi atau sebaliknya karena

kedua ini seperti sebuah siklus. Intinya, dalam mencari ide

cerita yang saya lakukan adalah observasi. Observasi bisa

dalam artian membaca buku, mengamati alam, atau dengan

bertemu orang-orang sekeliling kita. Kenapa akhirnya

memilih untuk mempopulerkan geologi? Karena saat kita

dikenal sebagai mahasiswa geologi baik adik-adik maupun

teman-teman sering memiliki banyak pertanyaan tentang

fenomena kebumian. Hal-hal yang menurut kita sederhana,

tetapi bagi orang lain dapat menjadi sesuatu yang membingungkan.

Selain rasa penasaran, ada juga mitos dan legenda

yang ditanyakan sehingga mau tidak mau saya harus

menjelaskan legenda atau kepercayaan masyarakat dari

sudut pandang dan konteks ilmiah. Tugas saya maupun

kita sebagai akademisi karena kita berkecimpung dalam

dunia pendidikan adalah dengan ikut serta mencerdaskan

kehidupan bangsa. Sebisa mungkin kita mencoba menggali

makna dari setiap cerita, dongeng, hingga mitos dari

suatu wilayah yang ada hubungannya dengan dunia kegeologian

atau kebumian yang dapat diungkap fakta atau

penjelasan ilmiahnya. Ini yang mengarahkan saya bahwa

geologi harus memberikan manfaat dan salah satu yang

dapat saya berikan kepada masyarakat adalah memberi

penjelasan ilmiah yang mampu dicerna masyarakat.

8


Tulisan-tulisan banyak yang memuat seputar rumor

yang beredar dalam masyarakat dan dijelaskan dari

sudut pandang geologi. Bagaimana cerita tersebut bisa

terpikir sebagai bahan tulisan?

Sumber dari topik tersebut bisa darimana saja, bisa dari

pengalaman. Salah satunya pada tulisan yang membahas

perihal Jawa dengan Sunda, itu menjadi pengalaman

pribadi sewaktu menempuh studi S2 di Bandung. Kalimatkalimat

sejenis, “Pulang ke Jawa, Mas?” yang banyak ditanyakan

sewaktu akan mudik. Hal ini juga dialami temanteman

saya saat menempuh studi di Jawa Tengah saat

mereka akan kembali ke kampus setelah berlibur dengan

pertanyaan, “Mau berangkat ke Jawa, Mas?”. Padahal mereka

masih berasal dari Jawa Barat yang secara geografis

masih dalam Pulau Jawa, tetapi ternyata secara tatanan

geologi sudah berbeda mikrokontinen. Selain itu, berbagai

fenomena seperti Merapi, atau mud volcano yang menjadi

pertanyaan orang-orang. Ada beberapa sumber cerita berasal

dari kejadian aktual, akumulasi pengalaman, atau saat

saya menemukan hal baru saat membaca jurnal atau karya

orang lain yang tiba-tiba terbesit.

Salah satu contoh pengalaman baru yang berkaitan dengan

pengetahuan itu adalah pada tulisan asal nama

Sulawesi. Kalau orang asing mengenal Sulawesi dengan

nama Celebes atau Celebesi. Ini ternyata bukan kesalahan

orang Belanda maupun Portugis yang menyebut Sulawesi

itu Celebesi. Ternyata nama tersebut berasal dari Bahasa

Bugis. Sewaktu menempuh studi, saya memiliki teman

orang Bugis dan dari situ saya mulai belajar Bahasa Bugis.

Kemudian, saat ditelusuri lebih lanjut risetnya di Sulawesi

yang terkenal apa, ternyata nikel. Dari situ mulai dilihat lagi

kaitannya dengan hal lain. Kerajaan Luwu ternyata merupakan

bagian dari Majapahit. Mereka menyuplai logam

juga senjata. Tulisan tentang hal ini merupakan kombinasi

dari pengalaman, kemudian dipertemukan dengan sumber

ilmu yang tidak terduga dan bisa dihubungkan benang

merahnya dengan keberadaan sumber daya alam. Hal

tersebut bukan sesuatu yang direncanakan, sempat

terpikir, tetapi perlu waktu lama bisa bulanan hingga tahunan

untuk bisa menjelaskan hal tersebut.

Kumpulan tulisan Mas Jati di blog pribadinya

https://anggajatiwidiatama.wordpress.com

Apakah ada salah satu cerita favorit, baik itu berkesan

dalam pengerjaannya atau mungkin karena cerita tersebut

menjadi kesukaan orang banyak?

Kalau memilih salah satu judul, tidak ada yang menjadi

cerita favorit dan saya tidak pernah memberi peringkat. Namun,

kalau cerita seperti apa yang saya sukai untuk ditulis

yaitu yang mengaitkan antara geologi dan manusia. Salah

satunya, apakah kamu tahu kenapa kakek dan nenek kita

kalau sebelum membangun rumah memilih untuk memasukkan

kayu dalam kolam atau lumpur terlebih dahulu?

Dari daerah asal saya, kayu tersebut dimasukkan dalam kolam,

empang, atau sawah tujuannya agar awet. Ternyata,

saat kayu tersebut direndam terjadi pertukaran ion. Getahgetah

keluar dan ada partikel berukuran halus yang masuk.

Partikel yang masuk ini kita kenal berupa lempung. Lempung

itu kalau kita lihat lagi merupakan pecahan batuan,

dan batuan terdiri dari mineral yang dalam kasus ini banyak

mengandung Na, K, dan Cl. Garam dan peristiwa pertukaran

partikel ini yang membuat kayu bisa lebih awet dari

pengaruh serangga. Kekayaan kebudayaan yang menurut

nenek moyang kita adalah hal umum dan biasa, sebenarnya

dapat dijelaskan dalam sudut pandang ilmiah.

Jalan panjang yang ditempuh mulai dari inspirasi

hingga berbuah tulisan di tengah-tengah kesibukan

pula. Mulai dari 30 hari bercerita hingga 100 hari bercerita.

Apakah ada tips untuk Sobat Geosains agar konsisten

menulis?

Hal paling dasar untuk menulis adalah cari hal yang dekat

dengan kita atau hal yang kita sukai. Kalau diperhatikan,

tulisan-tulisan saya bersumber dari yang tidak jauh. Saya

dari Jawa, kalau diamati banyak sekali tulisan saya tentang

Jawa dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Saya

suka gunung api, sehingga akan banyak tulisan seputar

gunung api. Selain itu, saya suka tentang kebudayaan

sehingga dengan senang hati saya mengulik atau mengupas

suatu kebudayaan yang dikaitkan dengan geologi.

Contohnya pada salah satu tulisan tentang rumah adat di

Nias yang memiliki teknologi tahan gempa.

Selain itu, tips berikutnya adalah observasi. Jika alam sudah

memberikan pertanda baik berupa bencana atau sejenisnya,

manusia atau leluhur kita pasti belajar. Hasil dari rasa

dan karsa nenek moyang selalu terwujud dalam kebudayaan,

salah satunya ada yang berupa tutur. Kalau dirunut

lagi, Astronesia adalah bangsa penutur atau pencerita. Sekian

banyak peninggalan berupa dongeng, legenda, juga

perubahan teknologi tepat guna. Hal-hal tersebut adalah

bagian yang sebenarnya dekat dengan kehidupan juga

sering kita gunakan dan selalu menjadi hal yang menarik

untuk diperbincangkan. Karena kalau bicara spesifik

tentang geologi terus-menerus bisa saja menjadi hal yang

membosankan dan belum tentu semua orang paham. Agar

bahan obrolan bisa selalu bergulir, kita harus menyesuaikan

9


diri dengan berusaha menghubungkan fenomena di

masyarakat dengan bahasa geologi tetapi dengan pembawaan

yang ringan dan sederhana.

Oleh karena itu, bahan tulisan harus dekat dengan kita agar

bisa konsisten menulis. Baik tema yang dekat dengan kita,

ataupun hal yang kita sukai. Setelah itu baru kita menceritakan

dengan bahasa yang sederhana.

Ada pesan-pesan untuk Sobat Geosains yang masih

ragu untuk menulis, punya ide tetapi belum berani memulai?

Mencari kesempurnaan dalam menulis agar dipuji itu melelahkan.

Pada beberapa titik, saya pernah merasa suatu

tulisan itu sangat bagus, apabila dilihat dari sisi analisis

geologinya mendalam, studi literaturnya banyak, tetapi

ternyata tidak begitu digemari di sosial media. Ada tulisan

yang sederhana, literaturnya terbatas, tapi respon dari masyarakat

sangat tinggi. Karena itu, menceritakan dengan

bahasa yang mudah dipahami adalah kunci yang utama.

Namun, jangan sampai kenikmatan awal menulis bergeser

menjadi ‘menulis karena tuntutan pembaca’ atau tinggirendahnya

interaksi di sosial media. Motivasi itu harus

berasal dari diri kita sendiri, jangan sampai dari luar kita.

Paling penting tulis dulu tanpa memikirkan apakah tulisan

ini salah atau terlalu receh. Baik itu satu paragraf, satu

kalimat, atau bahkan hanya satu frasa saja yang penting

seluruhnya ditulis. Kita tidak tahu seberapa jauh tulisan

tersebut akan berkembang. Ide itu bisa menyebar, bisa

berkembang dengan sendirinya tanpa perlu kita paksa.

Saya mengutip salah satu nasihat dari role-model saya, yaitu

Almarhum 'Pakde' Rovicky yang dulu juga dinasehatkan

kepada saya. Beliau berpesan, “Jangan takut menulis, tulis

aja dulu. Apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita rasakan,

fenomena yang kita amati, coba dituliskan dan jangan

takut salah. Karena dalam sains, salah adalah hal yang biasa.

Ada hipotesis, ada dugaan, dan ada pembuktian. Jangan

ragu. Kita punya kemampuan observasi, kita punya pendapat,

tuliskan dulu.”

Tips untuk berani mulai menulis berikutnya adalah mencari

komunitas yang dapat membuat kita menjadi konsisten

atau rajin menulis. Salah satu yang berperan dalam hidup

saya adalah tagar 30 hari bercerita. Tantangan ini berupa

ajakan bercerita satu bulan penuh di awal tahun. Sejak awal

2017 saya mulai bercerita di awal tahun, kemudian 2018 juga

hanya mengikuti tagar tersebut. Pada tahun 2019 mulai bertambah

dan tidak hanya 30 hari bercerita. Kemudian pada

2020 saya mengikuti tantangan tersebut, tapi terasa seperti

masih ada yang menggantung saat selesai. Akhirnya berlanjut

menjadi 100 hari bercerita. Sepanjang 2020 itu juga

cenderung fluktuatif. Ada bulan-bulan rajin menulis, tetapi

ada juga yang dari 30 hari hanya dapat menulis dua cerita.

Perubahan suasana hati itu wajar, tetapi jangan lupa

dengan niat awal kita menulis. Ceritakan dengan cara anda,

ceritakan dengan gaya anda, ceritakan dengan sederhana

agar dapat member manfaat bagi masyarakat.

“ Ceritakan dengan cara anda,

ceritakan dengan gaya anda,

ceritakan dengan sederhana

agar dapat memberi manfaat

bagi masyarakat.

10


INVESTIGATION ASSESSMENT

Mengenal Bencana Tanah Longsor dan Teknologi Penanganannya

Baniarga Prabowo

Universitas Gadjah Mada

encana alam yang sering muncul di Indonesia adalah tanah bergerak atau

Btanah longsor. Tanah longsor dapat terjadi oleh beberapa faktor, baik

internal maupun eksternal. Tanah longsor atau tanah bergerak sering kali

terjadi dan terekspos pada daerah pemukiman dan dapat memakan korban jiwa.

Tanah longsor atau tanah bergerak pada dasarnya adalah aktivitas alam yang

terjadi karena alam perlu menyeimbangkan kondisi kestabilan pada suatu

morfologi. Penanganan bencana longsor telah dilakukan oleh beberapa organisasi

sehingga menciptakan gagasan baru dalam penanganan bencana tanah longsor,

termasuk teknologi yang dapat membantu proses monitoring tanah longsor.

Umumnya, bencana geologi seperti tanah longsor akan memberikan tanda-tanda

yang dapat dideteksi sebelum terjadi. Penggunaan teknologi yang tepat dalam

penanganan bencana geologi merupakan bentuk mitigasi bencana geologi salah

satunya adalah tanah longsor. Harapannya, korban jiwa yang mungkin timbul

maupun kerusakan infrastruktur karena bencana tanah longsor dapat dicegah

sedini mungkin.

MENGENAL TANAH LONGSOR

Longsor (landslide) adalah gerakan material pembentuk

lereng ke arah bawah (downward) atau ke arah luar

(outward) lereng. Material pembentuk lereng tersebut dapat

berupa massa batuan induk, lapisan tanah, timbunan

buatan manusia atau kombinasi berbagai jenis material

tersebut. Gerakan turun material lereng berupa tanah,

massa batuan karena pengaruh gaya gravitasi tersebut dapat

melalui medium air, angin atau es. Meskipun jarang terjadi,

gerakan tersebut juga dapat terjadi tanpa ada medium

pembawa melainkan karena faktor gravitasi saja. Hal tersebut

dimungkinkan jika material penyusun lereng telah

mengalami pelapukan lanjut sehingga sudah tidak lagi terkonsolidasi

(Kurniawan, 2008).

Tanah longsor terjadi dikarenakan bertambahnya

massa pada tanah, kemiringan dan terdapatnya bidang

luncuran. Pada waktu musim kemarau yang panjang, tanah

akan menjadi sangat kering dan berpori, sehingga pada

waktu terjadi peralihan musim dari kemarau ke hujan,

tanah akan cenderung menyerap banyak air dan akan

mengisi pori-pori tanah yang terbentuk waktu musim

kemarau (Tongkukut, 2018). Banyaknya air yang terserap di

dalam pori-pori tanah ini meningkatkan potensi terjadinya

tanah longsor di daerah tersebut.

Pembangunan serta pengembangan pertanian yang

semakin maju pada saat ini menimbulkan banyak dampak

positif pada sektor ekonomi dan sosial budaya. Sayangnya,

pemotongan bukit untuk pembangunan jalan, penebangan

hutan guna pengembangan lahan pertanian juga

dapat mengubah bentang alam. Perubahan ini menjadikan

keseimbangan terganggu, gaya ikat lapisan batuan berkurang,

terbentuknya bidang gelincir pada area antar lapisan,

yang dapat mengakibatkan tanah longsor. Salah satu

faktor penyebab longsoran yang sangat berpengaruh adalah

bidang gelincir atau bidang geser. Pada umumnya tanah

yang mengalami longsoran akan bergerak di atas bidang

gelincir tersebut.

Tanah longsor dibagi menjadi (Anonim, 2008) :

Ÿ Longsoran translasi: gerakan massa tanah dan batuan di

tebing dengan bidang gelincir rata atau bergelom-bang

landai.

Ÿ Longsoran rotasi: gerakan massa tanah dan batuan pada

bidang gelincir cekung.

Ÿ Pergerakan blok (longsoran translasi blok batu): perpindahan

batuan pada bidang gelincir rata atau lurus.

Ÿ Runtuhan batu: batuan atau material yang bergerak ke

bawah dengan jatuh bebas. Biasanya terjadi di lereng

terjal, seperti yang ada di daerah pantai.

Ÿ Rayapan tanah: jenis tanah longsor yang lamban bergerak

dan lama. Biasanya dapat diamati saat pohon atau

rumah mulai miring atau retak perlahan ke arah bawah.

Ÿ Aliran bahan rombakan: massa tanah bergerak didorong

oleh air, sehingga kecepatan longsor tergantung

pada volume air, tekanan air, dan seberapa miring

lerengnya. Jenis tanah longsor ini dapat diamati

pada daerah aliran sungai di sekitar gunung merapi, saat

berlangsung longsoran lahar dingin.

11


Jenis Jenis Longsor (Anonim, 2008)

Seperti yang telah disebutkan di atas, ada beberapa faktor

yang menyebabkan terjadinya tanah longsor. Hujan lebat

di daerah lereng terjal yang memiliki tanah tidak padat

menciptakan kombinasi yang tepat untuk terjadinya tanah

longsor. Tanah tidak padat biasanya tersusun dari tanah

lempung, tanah liat, atau batuan tidak masif seperti batuan

gunungapi atau batuan sedimen berpasir. Selain itu, faktor

lainnya yang juga mempengaruhi adalah jenis tata lahan,

erosi, penggundulan hutan, dan adanya beban tambahan

seperti bangunan yang semakin menambah gaya pendorong

terjadinya tanah longsor.

TEKNOLOGI PENDETEKSI TANAH LONGSOR

Bencana tanah longsor biasanya sulit untuk dicegah,

namun sebagai seorang geosaintis, ilmu yang kita pelajari

dapat digunakan untuk mendeteksi terjadinya tanah longsor.

Penerapan dari ilmu yang dimiliki oleh geosaintis diwujudkan

dalam bentuk beberapa teknologi untuk studi

monitoring dan investigasi bidang kebumian dan kebencanaan

tanah longsor.

Ekstensometer

Ekstensometer adalah sebuah perangkat yang digunakan

untuk mendeteksi besar kecil pergeseran permukaan

tanah. Ekstensometer berfungsi sebagai alat pendeteksi

dan pengukur adanya pergerakan ataupun pergeseran

permukaan tanah dalam orde millimeter. Ekstensometer

telah banyak digunakan untuk deteksi tanah longsor

karena harganya yang murah dan penggunaannya yang

mudah. Sehingga ekstensometer sangat cocok sebagai alat

dalam sistem peringatan dini tanah longsor.

Ekstensometer

Accelerometer

Accelerometer merupakan alat yang digunakan untuk

mengukur percepatan. Percepatan kecepatan dan percepatan

koordinat merupakan dua hal yang berbeda. Percepatan

koordinat adalah rentang dari perubahan kecepatan,

sementara percepatan adalah akselerasi yang terukur dari

aslinya. Dalam prediksi tanah longsor, accelerometer dapat

mengukur kemiringan dan berperan sebagai geophone.

12


Accelerometer juga dapat digunakan untuk analisis vibrasi

ketika terjadi perpindahan yang mendadak ataupun yang

sangat pelan. Accelerometer akan memberikan nilai yang

sesuai dalam suatu tegangan listrik. Saat kondisi normal

nilai X, Y, dan Z dari accelerometer tidak akan berubah. Akan

tetapi ketika terjadi perubahan perpindahan, output X akan

berubah dari -0.3 sampai -0.7 g, Y axis berubah dari 0 sampai

1 yang menunjukan terjadinya tanah longsor.

Hygrometer

Tiltmeter

Tiltmeter merupakan alat pengukur deformasi gunung

yang berfungsi untuk mendeteksi pengembungan atau

pengempisan tubuh sebuah gunung. Tiltmeter juga

digunakan untuk mengukur kemiringan pada suatu struktur

di permukaan tanah.

Accelerometer

Rain Gauge

Rain gauge biasanya digunakan dalam bidang meteorologi

dan hidrologi untuk mengukur intensitas hujan

dalam durasi waktu tertentu. Satuan pengukuran dari intensitas

hujan adalah milimeter. 1 milimeter pengukuran

oleh rain gauge ekuivalen dengan 1 liter hujan per meter².

Hujan yang lebat termasuk dalam faktor utama pemicu terjadinya

tanah longsor. Dengan demikian rain gauge sangat

penting sebagai alat dalam sistem prediksi tanah longsor.

Inclinometer

Inclinometer merupakan peralatan yang dapat digunakan

untuk memantau pergerakan yang terjadi di bawah

permukaan tanah. Inclinometer biasa dimanfaatkan dalam

deteksi pergerakan tanah longsor, pergerakan di dalam terowongan,

pergerakan di tanggul dan sebagainya.

Hygrometer

Hygrometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur

kadar air di atmosfer. Alat pengukur kelembaban ini

juga bergantung pada pengukuran beberapa besaran lain,

seperti tekanan, suhu, perubahan listrik atau mekanik dalam

suatu zat ketika uap air terserap. Dengan perhitungan

dan kalibrasi, kelembaban dapat diukur dengan menggunakan

semua besaran-besaran di atas. Sensor kelembaban

tanah menghitung kadar air volumetrik di tanah.

Dengan demikian, higrometer tanah juga sangat penting

sensor untuk memprediksi longsor mengingat keadaan

kelembaban tanah tiap waktu tidaklah sama.

Inclinometer

13


Penggunaan teknologi-teknologi yang telah disebutkan

di atas memiliki beberapa keuntungan, diantaranya

adalah menghemat waktu, biaya dan tenaga serta efisiensi

yang dirasakan dalam melakukan monitoring dan pengolahan

data. Sayangnya, alat-alat tersebut perlu dilakukan

pemantauan manual secara kontinyu untuk mengurangi

dampak atau hal yang tidak diinginkan.

Bencana longsor dapat menimbulkan banyak dampak

negatif, terutama korban jiwa dan kerugian materi. Sebagai

negara yang rentan akan bencana, termasuk tanah longsor,

sudah seperlunya kita sebagai seorang geosaintis menyadari

pentingnya melakukan studi monitoring tanah longsor

menggunakan teknologi sebagai tindakan preventif untuk

meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan bencana

tersebut. Pemanfaatan teknologi dengan wawasan kebumian

dan kebencanaan telah banyak dikembangkan oleh

banyak institusi dan kelompok sehingga alat tersebut dapat

memberikan peranan yang baik.

Sumber:

Ÿ Kurniawan, L. (2008). Kajian penilaian bahaya tanah

longsor provinsi sumatera utara. Jurnal Sains dan

Teknologi Indonesia, 10(2), 90-98.

Ÿ Tongkukut, S. H., & Tamuntuan, G. H. (2018). Investigasi

Bidang Gelincir Tanah Longsor Menggunakan Metode

Geolistrik Konfigurasi Dipol-dipol Sebagai Upaya

Mitigasi Bencana Alam di Kabupaten Minahasa. Jurnal

MIPA, 7(2), 33-36.

Ÿ Anonim, 2008, Pengenalan Gerakan Tanah,

http://www.esdm.go.id/publikasi/lainlain/doc_download

/489-pengenalan-gerakan-tanah.html, diakses

06/09/2021.

Ÿ Yusuf, Faris.2018. Teknologi Instrumentasi dan Sensor

Dalam Pendeteksian Tanah Longsor.

https://sensornetwork.mipa.ugm.ac.id/2018/08/22/113/,

diakses 07/09/2021.

Longsor tipe debris flow yang terjadi di Gunung Pancar pada 1 Januari 2020.

14


“ Kalau bukan anak bangsa ini yang

membangun bangsanya, siapa lagi?

Jangan saudara mengharapkan orang lain

yang datang membangun bangsa kita.

- BJ Habibi

Photo by Tusik Only on Unsplash


Deteksi Dini Longsoran Lereng Tambang

Menggunakan Teknologi Radar

Siti Rofikoh

PT Indo Muro Kencana

ada kegiatan penambangan,

Psetiap kondisi ketidakstabilan

lereng dapat menimbulkan

potensi bahaya bagi keselamatan

pekerja. Ketidakstabilan lereng juga

dapat mengganggu aktivitas produksi

dan menimbulkan kerugian. Mengingat

kondisi ketidakstabilan lereng sangat

berpengaruh terhadap keselamatan

manusia dan kerusakan alat, akan

menjadi penting untuk mengetahui

p re d i ks i wa k t u ke j a d i a n l o n g s o r

sehingga risiko dari bahaya dapat diminimalisir.

Dalam membuat desain tambang

yang aman, efisien, dan profitable,

penting untuk mempertimbangkan

faktor parameter geologi dan geoteknik

material penyusun lereng. Beberapa

faktor yang harus diperhitungkan yaitu

struktur geologi, parameter massa

batuan, serta kondisi hidrologi (Stacey,

2007). Namun dalam kenyataannya,

meskipun lereng telah didesain mengikuti

parameter tersebut, longsor

masih dapat terjadi. Hal ini disebabkan

oleh kompleksitas kondisi geologi dan

variasi parameter geoteknik dari setiap

massa batuan itu sendiri, aktivitas

seismik, serta cuaca ekstrem yang tidak

terprediksi.

Melalui pengetahuan yang tepat dari

perilaku deformasi massa batuan, bahaya

longsoran di lereng tambang dapat

diminimalisir. Pada umumnya, longsoran

akan memberikan tanda terlebih

dahulu sebelum terjadi dan hal ini dapat

dideteksi secara lebih cepat dan akurat

dengan monitoring. Terdapat beberapa

metode monitoring lereng yang umum

digunakan dalam industri pertambangan,

diantaranya dengan visual

monitoring, crack meter pin, ekstensometer,

prisma monitoring, GPS, maupun

dengan radar.

Radar (radio detection and ranging)

merupakan suatu sistem pendeteksi

objek menggunakan gelombang elektromagnetik

untuk mengidentifikasi

jarak, arah, serta kecepatan. Metode

kerja yang sama kemudian diterapkan

untuk membaca pergerakan lereng.

Radar akan memberikan gelombang

transmisi dan dipantulkan kembali

sebagai gelombang datang yang

memiliki amplitudo dan fase. Amplitudo

dan fase inilah yang kemudian diproses

menjadi data pergerakan, kecepatan,

serta akselerasi dari lereng yang di

monitor.

Berbeda dengan prisma monitoring

yang datanya terbatas hanya pada crest

pit dimana prisma tersebut ditempatkan,

radar dapat memberikan data

mengenai pergerakan di seluruh lereng

tambang yang menjadi jangkauan

gelombangnya secara real time dan

menerus.

16


Cara Kerja Radar (Sumber: Understanding SSR, courtesy of GroundProbe)

Metode Prediksi Longsor

Hingga saat ini, keruntuhan massa

batuan yang sangat cepat maupun

longsoran yang bergerak lambat tetap

tidak bisa dicegah dengan teknologi

secanggih apapun. Meski demikian,

perkiraan waktu keterjadiannya dapat

diprediksi terlebih dahulu dengan

mengenali pola pergerakan lereng itu

sendiri.

Sejak 1980 berbagai penelitian telah

dilakukan untuk mengembangkan

metode prediksi waktu longsoran di

lereng tambang terbuka, salah satunya

yang paling popular digunakan adalah

teori Fukuzono (1985). Fukuzono

membuat perhitungan prediksi waktu

longsoran dengan skala laboratorium

yang kemudian dibuktikan oleh Rose

dan Hungr (2007) pada skala pit

menggunakan data prisma monitoring

konvensional. Pada dekade setelahnya,

metode yang sama kemudian dikembangkan

dengan data real time

dari pemantauan lereng menggunakan

teknologi radar.

Fukuzono dalam teorinya membandingkan

waktu pergerakan massa

tanah atau batuan dengan kecepatan

yang kemudian dikenal sebagai invers

velocity. Metode ini melakukan ekstrapolasi

linear dari tren data yang ada

hingga dapat diproyeksikan dan berpotongan

dengan sumbu horizontal.

Perpotongan inilah yang kemudian

diinterpretasikan sebagai kemung-

kinan waktu longsoran. Meskipun terlihat

sederhana, tingkat akurasi dari gambarkan longsor akan terjadi di-

window yang digunakan. Hal ini meng-

prediksi waktu longsoran ini sangat antara jangka waktu dari keempat time

bergantung pada kerapatan dan validitas

data, serta kapabilitas seorang alat juga pekerja pada area yang

window tersebut dan proses evakuasi

Geotech Engineer untuk menentukan terpengaruh dapat segera dilakukan.

kapan tren data dapat diproyeksikan Dengan mengetahui karakteristik

sehingga prediksi waktu longsoran deformasi lereng dan membuat prediksi

waktu longsor yang tepat, bahaya

dapat dihitung.

Sebagaimana dalam fungsi fisika longsoran lereng tambang dapat diminimalisir.

Kerugian akibat rusaknya

dimana kecepatan merupakan perbandingan

akumulasi pergerakan dari alat, kecelakaan kerja hingga kematian,

dua waktu yang berbeda, prediksi serta pertimbangan penu-tupan

waktu longsoran akan memberikan tambang juga dapat dihindari.

nilai yang berbeda sesuai dengan time

Prediksi waktu longsoran menggunakan 4 time window berbeda. Prediksi jatuh pada

17 September 2021 pukul 2:24, 2:52, 3:43, atau 3:50 (Sumber: Data pribadi)

Longsor terjadi pada 17 September 2021 pukul 2:31 (Sumber: Data pribadi)

17


PANDEMI COVID-19

Perspektif dari Ilmu Kebumian

ada tanggl 30 Januari 2020,

Psalah satu badan PBB di

bidang kesehatan umum yaitu

Organisasi Kesehatan Dunia (World

Health Organization) mendeklarasikan

wabah yang dikenal sebagai pandemi

COVID-19 sebagai darurat kesehatan

yang menjadi perhatian Internasional.

Virus ini telah menghasilkan respons

sosial yang dramatis di seluruh dunia,

dan sebagian besar telah mengakibatkan

penutupan seluruh aktivitas

sosial, pergerakan, dan akses ke

layanan.

Ilmuwan bumi memiliki potensi

untuk memanfaatkan pengalaman

dan pengetahuan mereka untuk

mengontekstualisasikan dampak dari

pandemi COVID-19 ini dengan mengembangkan

pendekatan inovatif

untuk mengurangi efeknya, dan untuk

melihat peluang di antara banyak

tantangan global dan efek samping

dari pandemi ini.

Dalam konteks ini, beberapa perspektif

ilmu bumi tentang pandemi

COVID-19 yang mungkin berguna.

Kania Pinasti Soleha

Sampoerna Kayoe

Penutupan universitas,

pembelajaran jarak jauh, dan

ketahanan pendidikan

Pembuatan dan berbagi materi pengajaran

'virtual' di dunia geologis lebih

banyak. Hal ini sebetulnya memungkinkan

para geosaintis untuk melihat

dan menganalisis lebih banyak dunia

(secara virtual) dari pada sebelumnya.

Meskipun tidak adanya kegiatan lapangan,

pengayaan bumi digital ini dapat

meningkatkan pengetahuan global

dengan cara yang sebelumnya tidak

mungkin, termasuk potensi untuk berbagi

materi dan pengalaman virtual

lebih luas antar lembaga.

Menggunakan tantangan

COVID-19 untuk meningkatkan

aksesibilitas sains

Pembatalan konferensi geosains

tatap muka, lokakarya, dan pertemuan

konsultasi telah mendorong banyak

orang untuk mencari solusi digital untuk

berpartisipasi dalam acara ini.

Manfaat penting dapat mencakup

peningkatan aksesibilitas virtual konferensi

dan lokakarya bagi para ilmuwan

18


ataupun komunitas yang mungkin

tidak mampu melakukan perjalanan.

Selain meningkatkan keragaman konferensi

untuk manfaat yang lebih luas,

menyediakan akses sains yang lebih

baik ke negara berkembang sangat

penting untuk memungkinkan para

pemimpin sains baru untuk memimpin

upaya memerangi perubahan iklim

dan mengurangi risiko bencana.

Perspektif mendalam dan

memanfaatkan pengurangan

kebisingan dan polusi manusia

Pengurangan aktivitas manusia di

pusat kota besar telah mengurangi

kebisingan seismik, memungkinkan

beberapa seismolog untuk menganalisis

aktivitas seismic dengan lebih

baik dalam rentang frekuensi tinggi

yang sama dengan kebisingan.

Menganalisis pengurangan polusi

udara perkotaan terkait dengan pengurangan

aktivitas manusia akibat

dampak pembatasan aktivitas saat

COVID-19 dapat memberi kita contoh

apakah memungkinkan emisi bisa

diturunkan.

Tanggapan terkait COVID-19 ini memiliki

dampak yang besar termasuk

pada sektor pariwisata dan lambat laun

menimbulkan krisis ekonomi berkepanjangan.

Saat ini jutaan orang masih

terkena dampak COVID-19 dan sangat

membutuhkan uluran tangan dari

berbagai pihak untuk meringankan

penderitaan mereka.

Melalui aksi tanggapnya, FGMI merespons

bencana non-alam tersebut,

FGMI melakukan program FGMI Care

untuk meringankan beban penderitaan

bagi anggota FGMI yang terdampak

COVID-19 dengan memberikan

bantuan asupan penguat imun.

Adanya program FGMI Care diharapkan

dapat memberikan asupan

penguat bagi anggota FGMI yang

secara menyebar di Indonesia. Bantuan

asupan terdiri dari vitamin, dan makanan.

Bantuan dikirimkan langsung ke

alamat anggota FGMI yang terdampak.

Referensi:

https://speakingofgeoscience.org/2020/04/03/lookin

g-for-another-perspective-on-the-covid-19-

pandemic-earth-science-might-help/

19


ARIE FREDERIK LASUT

Pahlawan Nasional di Bidang Pertambangan dan Geologi

Profil

Ÿ

Ÿ

Ÿ

Arie Frederik Lasut

Nama Lengkap

Tempat Lahir

Organisasi

: Arie Frederik Lasut

: Desa Kapataran, Tondano, Minahasa,

: Sulawesi Utara

Tanggal Lahir : Sabtu, 6 Juli 1918

Pendidikan

Ÿ Hollands Inlandsche School, Tondano (selesai 1931)

Ÿ Kweekschool atau Sekolah Guru, Ambon (1931-1933)

Ÿ Hollands Inlandsche Kweekschool, Bandung (1933-1934)

Ÿ Algemeene Middelbare School, Jakarta (1934-1937)

Ÿ

Ÿ

Ÿ

Ÿ

Ÿ

Geneeskundige Hooge School atau Sekolah Tinggi

Kedokteran, Jakarta (1937-1938)

Bekerja di Departemen Van Economische Zaken atau

Departemen Urusan Ekonomi (1938)

Technische Hooge School atau Sekolah Tinggi Teknik,

Bandung (1939)

Sempat mengikuti Korps Opsir Cadangan atau Corps

Reserve Officer (CORO), Bandung

Bekerja di Dienst van den Mijnbouw atau Dinas

Pertambangan

Ketua Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS)

cabang Bandung dan Magelang

Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)

Anggota delegasi Indonesia dalam perundingan

Linggarjati dan Roem-Royen

Biografi

Arie Frederik Lasut merupakan pahlawan nasional yang

berjasa di bidang geologi dan pertambangan. Pengetahuannya

pada kedua bidang tersebut ia peroleh ketika menempuh

pendidikan dengan beasiswa dari Dienst van den

Mijnbouw (Jawatan Pertambangan) sebagai asisten geolog.

Pada masa pendudukan Jepang, Lasut juga bekerja sebagai

asisten geolog di Chorisitsu Chosayo (Jawatan Geologi)

di Bandung.

Walaupun berada di bawah pendudukan Jepang, banyak

dari kegiatan pertambangan dan penelitian geologi

yang Lasut ikuti baik yang melanjutkan kegiatan Belanda

maupun pembukaan sumber-sumber baru. Lasut dan R.

Sunu Sumosusastro merupakan ahli pertambangan yang

mengetahui betul rahasia pertambangan dan geologi pada

masa itu. Pemikirannya yang begitu maju meyakini bahwa

pendudukan Jepang ini hanya bersifat sementara, sehingga

perlu adanya tenaga-tenaga muda untuk mengambil

alih tugas pertambangan dan geologi. Oleh karena

itu, Lasut aktif dalam memimpin gerakan pemuda

khususnya di lingkungan Jawatan Geologi.

Pada bulan September 1945, Presiden Republik Indonesia

mengeluarkan pengumuman untuk mengambil alih

badan-badan dan lembaga-lembaga dari tangan Jepang.

Jawatan Geologi berhasil dikuasai oleh pihak Indonesia

setelah melalui perundingan dengan pihak Jepang. Kemudian

didirikanlah Jawatan Tambang dan Geologi yang

berpusat di Bandung dengan R. Ali Tirtosuwirjo sebagai

Kepala Kantor Pusat, R. Sunu sebagai Kepala Bagian Geologi,

A. F. Lasut sebagai Kepala Bagian Perusahaan, dan

Slamet Pambudi sebagai Kepala Urusan Umum. Pada

tanggal 16 Maret 1946, A. F. Lasut ditunjuk sebagai Kepala

Jawatan Tambang dan Geologi.

“ Kini, peristiwa pengambilalihan

Chorisitsu Chosayo (Jawatan Geologi)

tanggal 28 September 1945 di Bandung

oleh A. F. Lasut dan tokoh-tokoh

pertambangan lainnya diperingati

sebagai Hari Jadi Pertambangan dan

Energi.

Pada masa revolusi Indonesia, kantor pusat Jawatan

yang semula berada di Bandung, sempat dipindahkan ke

Tasikmalaya, Magelang, Solo dan Yogyakarta. Selama pusat

Jawatan Tambang dan Geologi berada di Magelang, Lasut

sempat membuka sekolah selama enam bulan yaitu:

Sekolah Pertambangan Geologi Menengah dan Sekolah

Pertambangan dan Geologi Tinggi. Sekolah yang didirikan

oleh Lasut pada akhirnya harus dibubarkan ketika pusat

Jawatan dipindahkan ke Yogyakarta dikarenakan adanya

agresi militer Belanda.

20


Posisi Belanda yang semakin kuat dalam perang,

membuat sektor pertambangan juga menjadi incaran

termasuk dokumen-dokumen pertambangan dimana

Jawatan Pertambangan saat itu dipimpin oleh A. F. Lasut.

Pemerintah Republik Indonesia saat itu juga turut andil

dalam melindungi Lasut dan dokumen-dokumen tersebut

dari incaran Belanda. Rasa kebangsaan yang tertanam

dalam diri Lasut membuat ia selalu menolak tawaran

kerjasama dengan Belanda.

Karena gagal dalam usaha untuk memperoleh

dokumen-dokumen pertambangan RI, akhirnya pemerintah

Belanda memutuskan untuk menyingkirkan A. F.

Lasut. Pada tanggal 7 Mei 1949, Lasut dibawa oleh tiga orang

serdadu KNIL dari rumahnya. Lasut kemudian ditembak di

daerah Pakem, sekitar 7 kilometer di utara Yogyakarta. Atas

jasa-jasanya yang besar dalam menyelamatkan pertambangan

dan dokumen-dokumen pada masa awal kemerdekaan

Indonesia, Lasut kemudian dianugerahi gelar

Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Keputusan

Presiden Republik Indonesia Nomor 012/TK/Tahun 1969

tanggal 20 Mei 1969.

Peranan A. F. Lasut di Bidang Pertambangan

Pada tahun 1946, kegiatan Jawatan Tambang dan

Geologi meliputi bagian umum, geologi, teknik geologi,

labora-torium, hukum, dan inspeksi tambang serta bagian

perusahaan.

Urusan perpetaan geologi telah melakukan pengukuran

topografi dan penyelidikan geologi di daerah Tirtomoyo

(Wonogiri dan Surakarta) untuk kepentingan perusahaan

tambang tembaga Tirtomoyo; Jalen (Tulungagung dan

Kediri) untuk perusahaan tambang batu bara Jalen; dan

Karangkobar (Purwokerto) berkaitan dengan tambang minyak

tanah di daerah Gunung Gintung.

Urusan gunung api dimana terdapat aktivitas pemantauan

di beberapa lokasi seperti Gunung Tangkubanperahu,

Kawah Papandayan, Gunung Cereme, Gunung

Merapi, Gunung Kelud, dan Kawah Ijen. Selain itu, terdapat

perencanaan mengenai mitigasi bencana gunung api.

Urusan kartografi menyumbangkan tenaga dalam

pembuatan peta-peta daerah pertempuran di Jawa Barat.

Urusan teknik geologi telah melakukan pengerjaan

Waduk Cibuduk, tanah uruk Kampung Blok Sieuneun, tanah

uruk Kampung Kondang, dan Bendungan K. Sampean.

Urusan pemboran artesis menyeleseikan sumur lama di

Panarukan, Sumur Eretan Wetan, dan Eretan Kulon di

Indramayu yang mulai dilakukan penggalian sumur bor.

Urusan penyelidikan analitis bekerja seperti biasa saat di

Tirtomoyo, kemudian terhenti setelah pindah ke Surakarta.

Bagian hukum dan inspeksi tambang meneruskan

undang-undang lama karena ketidakcukupan tenaga ahli.

Perusahaan tambang yang diizinkan untuk meneruskan

usahanya adalah perusahaan-perusahaan yang telah berdiri

sejak zaman Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan. Selain

itu, izin untuk usaha baru harus diketahui oleh Pusat

Jawatan Tambang dan Geologi.

Bagian perusahaan tambang belum dapat bekerja

pada masa pendudukan Jepang dikarenakan segala urusan

tambang diselenggarakan oleh badan-badan Jepang.

Setelah kekuasaan pemerintahan berada di tangan Indonesia,

urusan pekerjaan tambang seperti Umbilin dan

Bukitasam dikembalikan seperti semula.

Tambang-tambang yang diusahakan di Pulau Jawa dan

Madura diantaranya:

Ÿ Minyak di daerah Cepu dan Bongas (Cirebon)

Ÿ Batu bara di Bayah, Cisaat, Ngandeng, dan Jalen

Ÿ Emas dan perak di Cikotok dan Cikondang

Ÿ Mangan di Kliripan dan Karangtunggal

Ÿ Belerang di Rawahputih dan Gunung Sawal

Ÿ Timah di Gunung Parang

Ÿ Tembaga di Tirtomoyo

Ÿ Fosfat di Karangbolong

Ÿ Tras di Taju dan Gunung Dewi

Ÿ Kaolin di Karaha

Ÿ Repindi di Nagrek

Ÿ Gips di Bojonegoro

Ÿ Karosit di Ciater

Ÿ Serta perusahaan kapur di Tuban, Ponorogo, Pacitan

dan Sampang

Tambang-tambang yang diusahakan di Pulau Sumatera

meliputi:

Ÿ Batu bara di Umbilin, Bukitasam, dan Logas

Ÿ Timahputih di Bangka, Biliton, Singkep, dan pabrik

semen di Indarung (Padang)

Ÿ Minyak di Aceh, Sumatera Utara yang meliputi daerah

Rantau, Perlak, Julu Rayen, Pase, Paluh Tabuhan, Pulau

Panjang, Arubasi, Gebang, Telaga Said, dan Darat; Riau di

Aermolek, Balaipungut, dan Minas; Jambi di Plaju,

Sungai Gerong, dan Prabumulih.

Pada tanggal 29 Mei 1947, bagian perusahaan dipisahkan

dari Jawatan dengan nama “Badan Eksploitasi Tambang

Negara” dan berkedudukan di Magelang. Pada akhir

tahun 1947, A. F. Lasut masih menjabat sebagai Kepala

Jawatan.

Urusan pendidikan yang didirikan akhir Desember 1946

memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli

yang masih kurang. Namun urusan ini sempat terhenti

karena adanya agresi militer Belanda.

Agresi militer yang kembali dilakukan Belanda pada

tahun 1947, membuat RI kehilangan beberapa tambang di

Pulau Sumatera. Usaha pertambangan di daerah-daerah

yang tidak diduduki Belanda tetap diteruskan, sedangkan

usaha pertambangan di pulau-pulau Indonesia lainnya saat

itu belum dapat terjangkau oleh Jawatan Tambang dan

Geologi. Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, sektor

pertambangan turut andil dalam menunjang sektor ekonomi

dan pertahanan. Jawatan Tambang dan Geologi yang

dipimpin oleh A. F. Lasut memberikan kontribusi besar dalam

usaha perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sumber:

Safwan, M. (1976). Arie Frederik Lasut: Pahlawan Nasionbal. Jakarta: Proyek

Biografi Pahlawan Nasional, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

21


JENDELA GEOSAINTIS

OKTOBER 2021

UPCOMING EVENT

Geo Student Competition (GEOSC) 2021

Geo Student Competition (GEOSC) 2021 kali ini

dilaksanakan di Semarang dengan tuan rumah yaitu

SM-IAGI Universitas Diponegoro. Tema yang diusung

adalah “Geosciences Today and for the Future:

Creating Harmonious State between Environment

and Human Society”.

Tema tersebut dilatarbelakangi oleh sejumlah

fenomena dan isu kebumian yang terjadi dan

diproyeksikan akan menjadi tantangan Indonesia

pada tahun-tahun berikutnya. Setidaknya ada

sejumlah fenomena dan isu kebumian di beberapa

tahun ke belakang yang berkenaan dengan tema

tersebut, diantaranya pembangunan infrastruktur

dan pemindahan Ibukota Negara (IKN), aktivitas dan

bencana geologi di sekitar wilayah perkotaan dan

pemukiman, kebutuhan akan energi dan bahan

galian, pencemaran lingkungan, dinamika geopolitik,

serta sejumlah proyeksi tantangan nasional

maupun global yang berkaitan dengan aspek

kebumian.

Tema tersebut diusung sebagai wujud implementasi

dan peran geosains untuk menemukan

solusi terhadap tantangan tersebut melalui ide dan

gagasan yang merupakan hasil kajian teruji peserta

GEOSC 2021. Luaran dari kegiatan ini berupa

rancangan konsep maupun purwarupa berkualitas

yang akan diusulkan kepada stakeholders, sehingga

hal tersebut dapat menjadi kontribusi mahasiswa

dan geosaintis muda Indonesia atas tantangan

kebumian di Indonesia.

Foto bersama panitia GEOSC 2020

pada acara Virtual Gathering Night

yang dilaksanakan di Lampung

dengan tuan rumah yaitu SM-IAGI

Universitas Lampung dan SM-IAGI

Institut Teknologi Sumatera.

22

UPCOMING EVENT


FORUM GEOSAINTIS MUDA INDONESIA

KEPENGURUSAN PERIODE

2021-2023


BADAN PENGURUS HARIAN

Rahmat Hidayat

Sekretaris Jendral

Sekar Indah Tri Kusuma

Sekretaris

Muhammad Addiansyah

Ketua FGMI

Atikah Nurina Sari

Bendahara

DIVISI SM-IAGI

Reza Rizky Kurniawan

Staf Divisi

Winda Nur Afni

Staf Divisi

Ivan Ibrahim

Staf Divisi

Mega Nur Giti

Staf Divisi

Arthur Gemas P N

Staf Divisi

Putri Pertiwi

Staf Divisi

Zaimatus Sa’diyah

Staf Divisi

M. Azmi Caesardi

Wakil Ketua Divisi

M. Farid Wajdi

Staf Divisi

Awang Subang Negara

Ketua Divisi

Maman Sudarman

Staf Divisi

M. Hafizh Syafi’i

Staf Divisi

Noor Arif Sultan B

Staf Divisi

Sitti Novatri Sifu

Staf Divisi

Luki Ardhianto

Staf Divisi

Muhammad Hafidh

Staf Divisi

24


DIVISI SOSIAL DAN HUBUNGAN

KEMASYARAKATAN

Agin Setiawan

Staf Divisi

Muhammad Faris H

Staf Divisi

Asri Wiguna Pratiwi

Staf Divisi

Farida Dwi Aryati

Staf Divisi

Kania Pinasti Soleha

Wakil Ketua Divisi

M. Adjie Pamungkas

Staf Divisi

Yudhistira Ade Adhyaksa

Ketua Divisi

Diky Aulia

Staf Divisi

Fitriarini Budiningsih

Staf Divisi

Wan Azmi Syah Lubis

Staf Divisi

Maulani Rukya

Staf Divisi

Nabila Alifa Putri Harfi

Staf Divisi

Ryan Putra Pakpahan

Staf Divisi

DIVISI RISET DAN TEKNOLOGI

Adillah Alfatinah

Staf Divisi

Aditya Rizky Wibowo

Staf Divisi

Bagaskara Wahyu P P

Staf Divisi

Baniarga Prabowo

Staf Divisi

Erina Prastyani

Wakil Ketua Divisi

Okinawa Rikenata A. I.

Staf Divisi

Topan Ramadhan S

Ketua Divisi

Khusmia Karin

Staf Divisi

Muhammad Fariz A J

Staf Divisi

Eka Fitriani

Staf Divisi

Reza Utama Darmawan

Staf Divisi

Indah Sasmita Octavia

Staf Divisi

25


DIVISI GEOPRENEURSHIP

Almira Mahsa

Fadlan Atmaja N

Albar Karismawan

Muhammad Naufal Syafrun

Wakil Ketua Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Faris Primayudha

Dhara Adhnandya K

Fachry Muhammad

Fitriansyah Putri

Muhammad Faris A

Ketua Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

DIVISI EDUKASI DAN PROFESI

Purnaning Tuwuh Triwigati

Ketua Divisi

Muhammad Zelandi

Jalu Bias Firdausi

Sava Sintya Larasati

M. Irsyad Hibatullah

Wakil Ketua Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Alfian Gilang Gumelar

Dewi Ayu Swastika

Putri Dwi Afifah

Dakhlan M Zainuri

Muhammad Sabdar

Staf Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

DIVISI MEDIA KREATIF

Haiyina H. Amania

Irfan Tsany Rahmawan

Garindra Yogiswara

Teguh Samudera P

Wakil Ketua Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Jundiya Al Haqiqi

Afriyanto

Sofia Salsabila

Mei Neri Ningsih

Siti Rofikoh

Ketua Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

Staf Divisi

26


JENDELA GEOSAINTIS

OKTOBER 2021

BERITA FGMI

Virtual Geotour Series

orum Geosaintis Muda Indonesia melalui Divisi

FEdukasi dan Keprofesian memiliki program kerja

untuk menyelenggarakan kegiatan yang menyokong

bidang pendidikan dan keprofesian. Salah satu program

yang dijalankan adalah Virtual Geotour Series. Konsep

dari kegiatan ini adalah berwisata secara daring pada objekobjek

geologi yang tersebar di Indonesia melalui platform

zoom dan google earth. Para peserta diajak untuk menikmati

keindahan dari objek wisata yang dikunjungi sekaligus

memahami terutama informasi geologi yang ada.

Kegiatan ini dipandu oleh narasumber dengan latar

belakang bukan hanya dari geosains saja, tetapi juga lingkungan

hingga sosial dan budaya. Kehadiran narasumber

dari Pengda IAGI, BRIN, pegiat dan komunitas pariwisata

sangat membantu dalam terlaksananya acara Virtual Geo-

tour Series ini.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Forum

Geosaintis Muda Indonesia dengan Geotur Batur, Bumi

Edukasi Indonesia, dan Seksi Mahasiswa-Ikatan Ahli Geologi

Indonesia. Kegiatan yang sudah terlaksana meliputi Virtual

Geowisata Gunung Batur, Bali; Geopark Ranah Minang,

Sumatera Barat; Geowisata Pulau Ternate, Maluku Utara;

dan Geopark Karangsambung Karangbolong.

Indonesia masih memiliki banyak daerah yang berpotensi

untuk dijadikan objek wisata di bidang kebumian.

Dengan adanya pembatasan kegiatan wisata sebagai

akibat pandemi COVID-19 seperti saat ini, diharapkan

program-program seperti ini bisa hadir untuk menambah

wawasan masyarakat umum mengenai wisata kebumian

yang ada di Indonesia.

Virtual Geowisata Gunung Batur dalam rangka

Hari Anak Nasional tanggal 25 Juli 2021

Geopark Ranah Minang, Sumatera Barat

Geowisata Pulau Ternate, Maluku Utara

Geopark Karangsambung Karangbolong

BERITA FGMI

27


JENDELA GEOSAINTIS

OKTOBER 2021

BERITA FGMI

Kolaborasi FGMI dan HMGI

Kunjungan lembaga virtual antara HMGI dan FGMI

Geophysics Goes to School x FGMI Mengajar

Edukasi terkait bencana banjir tahunan di Putussibau

imulai sejak hari Rabu (18/8), Forum Geosaintis

DMuda Indonesia mulai melakukan kerja sama

dengan Himpunan Mahasiswa Geofisika Indonesia

atau yang biasa disingkat HMGI. Kolaborasi ini bertujuan

untuk menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi

dalam rangka sosialisasi ilmu kebumian, mendorong

kemajuan ilmu kebumian, juga meningkatkan publikasi

ilmiah dan populer yang terwujud menjadi berbagai

program menarik.

Program pertama yang hadir adalah Research Group

Mentoring HMGI x FGMI yang dibuka pada September lalu.

Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa geofisika

Indonesia untuk menghasilkan karya tulis diikuti dengan

workshop maupun mentoring selama program berlangsung.

Dalam program kolaborasi ini, FGMI akan mengambil

persan sebagai research mentor.

Selain kegiatan ini, kedua organisasi juga menyelenggarakan

kegiatan GGTS (Geophysics Goes to School).

Meskipun dalam kondisi pandemi seperti saat ini, GGTS x

FGMI Mengajar akan menyambangi Sobat Geosains dari

tingkatan SMA/MA/sederajat di berbagai wilayah secara

daring. Bukan hanya membahas seputar organisasi, tetapi

siswa juga mendapat wawasan seputar geosains baik dari

sisi pekerjaan tetapi juga beragam fenomena kebumian

yang terjadi.

Kolaborasi HMGI x FGMI tentunya tidak berhenti sampai

di situ. Bagi Sobat Geosains yang ingin menggali lebih

lanjut seputar kebumian, bermacam-macam e-lecture

akan hadir. Program ini merupakan edukasi yang dirancang

secara digital berbentuk video berisi materi yang berhubungan

dengan bidang geofisika, baik berupa tutorial

pengolahan data maupun topik lain yang masih relevan.

Tidak ketinggalan, siniar atau podcast HMGI x FGMI juga

siap menemani hari-harimu kedepannya. Program ini

nantinya akan diunggah melalui kanal informasi masingmasing

organisasi dengan topik bahasan terkait geofisika

mulai dari perkuliahan, studi lanjut hingga karir. Jadi, nantikan

berbagai agenda menarik dari kami!

28


JENDELA GEOSAINTIS

OKTOBER 2021

BERITA FGMI

Sandbox Geosaintis Muda (SGM) 2021

Presentasi pitch deck Sandbox Geosaintis Muda 2021

andbox Geosaintis Muda 2021 merupakan program

Stalent mapping untuk menciptakan startup baru

dengan mengumpulkan individu-individu yang

mempunyai ide, passion, dan semangat dalam berbisnis

terutama dari kalangan geosaintis. Program ini merupakan

inisiasi dari Divisi Geopreneurship FGMI sebagai rangkaian

acara dari Wirausaha Muda Geosains (WMG) yang

bertujuan untuk mewadahi talent – talent dalam membuat

tim startup dengan ide produk yang viable.

Sandbox Geosaintis Muda 2021 telah melalui beberapa

rangkaian acara mulai dari pendaftaran, introduction,

ignition, mini pitching, hingga presentasi pitch deck. Tahap

pendaftaran sebagai tahap paling awal dari acara SGM 2021

memberikan gambaran mengenai ide-ide bisnis yang ingin

dibangun oleh peserta hingga posisi yang diminati dalam

startup.

Peserta kemudian diberi materi core studies pada tahap

introduction yang dilanjutkan dengan ignition day berupa

pemberian materi oleh narasumber. Materi yang diberikan

terkait dengan product development, financial management,

marketing, dan human capital. Selain itu, terdapat

juga sharing session dengan peserta WMG 2021 mengenai

sektor usaha geosains yang bisa dikembangkan. Rangkaian

tahapan ini akan memberikan bekal bagi peserta untuk

mengembangkan ide bisnis serta komposisi tim yang ingin

dibentuk.

Tahap terakhir dari program ini adalah pembentukan

tim, penyusunan pitch deck dan presentasi. Pitch deck

merupakan presentasi singkat untuk menjelaskan sekilas

ide bisnis yang ingin dikembangkan. Dalam Sandbox

Geosaintis Muda 2021, luaran dari pitch deck setidaknya

memiliki beberapa komponen meliputi pendahuluan,

masalah, solusi, segmentasi pasar, kompetisi, tim hingga

financials plan. Setelah program ini, tim yang sudah

terbentuk memiliki kesempatan untuk mengikuti program

selanjutnya yaitu Geopreneur Accelerator Program (GAP).

29


SELAMAT HARI

SUMPAH

PEMUDA

28 OKTOBER 2021


“Hanya ada 2 jenis anak muda di dunia

Mereka yang menuntut perubahan

Mereka yang menciptakan perubahan

Silakan pilih perjuanganmu.”

- Pandji Pragiwaksono dalam

“NASIONAL.IS.ME”


KONTAK KAMI

(021) 83702848 – 83789431

Email: sekretariat@fgmi.iagi.or.id

Web: www.fgmi.iagi.or.id

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!