Tubuh Jendela

fosil73.files.wordpress.com

Tubuh Jendela

Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

2


Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

Home Basic Tubuh Jendela

Dengan Berkarya Kita Ada...!

Puji dan syukur tidak lupa kita kirimkan kehadirat

Tuhan YME, karena berkat rahmat dan karunia-Nya kita

masih diberi kesempatan untuk berkarya. Atas rahmat dan

kekuatan dari-Nya juga Tim Redaksi Tubuh Jendela telah

menerbitkan Buletin edisi perdana ini.

Setelah satu tahun berjalan, akhirnya Tubuh Jendela

sebagai sebuah komunitas yang menampung segala aspirasi

anggotanya, menerbitkan Buletin edisi perdana sebagai

wadah untuk mendokumentasikan karya. Tanggal 8 Maret

2011 ini tepat satu tahun berdirinya Komunitas Tubuh

Jendela. Bulan Maret bertepatan pula dengan diadakannya

acara GESIMA Fakultas Sastra Unand. Semoga ini menjadi

langkah awal untuk mengembangkan kreatifitas menjadi yang

lebih baik ke depannya.

Redaksi Tubuh Jendela

3

Daftar Isi

Home Basic jendela..................hal 2

Profil jendela............................hal 3

Artikel proses kratif dan eksistensi

pengarang ................................hal 4

Puisi Jendela.............................hal 6

Cerpen Anak………………….hal 8

Cerpen Bersambung................hal 9

Resensi Buku............................hal 10

Laman Photography................hal 12

DESAIN COVER : SURYA SELFIKA

Pembina: Alfa Noranda S. S, Pimpinan Redaksi: Maira Eka Sari, Sekretaris: Irmadani Firti, Bendahara:

Mega Nofria, Editor: Irmadani, Redaktur Buletin: Nasrul, Anggota : Eka Susanti, Surya Selfika, Agid

Sudarta, Riyon Fidwar, Salman Herbowo.

=======================================================================================


Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

Profil Jendela

Berawal dari pembicaraan sederhana tentang pola pikir teman-teman dan segala macam masalah

perkuliahan serta organisasi , adanya perbedaan kenyataan dengan harapan akhirnya tumbuh keinginan

membentuk keinginan kecil yang bisa mewadahi pemikiran dan kreatifitas. Pada 8 Maret 2010

Komunitas Tubuh Jendela hadir sebagai bentuk kelompok diskusi mengenai berbagai hal yang

bekaitan dengan perkuliahan, kepenulisan dan kebersamaan.

Sebelumnya kelompok diskusi ini tidak berbentuk komunitas hanya kelompok kecil yang memiliki

beberapa kesamaan fisi dan misi. Seiring berjalannya waktu timbul pemikiran-pemikiran baru,

sehingga terbentuklah komunitas Tubuh Jendela dengan kegiatan rutin diskusi dan pembedahan karya.

***

.

4

Karikatur : Salman Herbowo


Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

ARTIKEL

Proses Kreatif

Sebuah karya sastra tidak bisa dilepaskan

dari pengarangnya. Sebelum karya sampai

kepada pembaca, ia melewati proses yang cukup

panjang. Mulai dari munculnya dorongan

pertama untuk menulis, pengendapan ide,

penggarapan, sampai akhirnya tercipta sebuah

karya yang utuh dan siap dilempar kepada

publik.

Proses kreatif dapat digambarkan dalam

empat tahap. Pertama, tahap persiapan, yaitu

usaha yang dibuat untuk memahami dan

mengerti tentang kebutuhan personal. Individu

memberikan perhatian secara mendetail terhadap

objek sehingga dipahami secara utuh dalam

berbagai dimensi sudut pandang. Sudut pandang

meliputi kondisi fisik objek, kegunaan atau

manfaat, serta suasana atau situasi yang

terbentuk karena keberadaan objek. Kebutuhan

individu akan terkait dengan ketiga sudut

pandang secara parsial, kombinasi maupun

sebagai keutuhan. Sebagai contoh pada saat

melihat kursi di kelas, seorang siswa akan

memberikan perhatian dari sisi fisik. Apakah

bentuknya cukup mewakili sebuah kursi atau

tempat duduk dan apakah tidak ada bagian yang

membahayakan? Dari sudut pandang kegunaan

atau manfaat apakah kursi cukup kuat untuk

diduduki atau menahan berat badan siswa? Dari

sudut pandang suasana atau situasi yang tercipta

apakah posisi kursi tidak menghalangi siswa atau

guru berjalan, dan mendukung suasana kelas

yang nyaman.

Tahap kedua, inkubasi (pengeraman),

yaitu upaya untuk mengembangkan ide dari

perhatian yang diberikan untuk menjawab

persoalan yang dihadapi individu. Misalnya pada

saat sekolah memiliki ruangan dengan ukuran

tertentu yang harus menampung sejumlah siswa

untuk duduk dan menulis, maka bentuk dan

5

ukuran kursi seperti apa yang harus dibuat atau

dibeli sehingga memenuhi tujuan yang

diharapkan.

Tahap ketiga, wawasan yang membawa

individu pada pengertian baru. Artinya, terbuka

kemungkinan terjadi perubahan bentuk, ukuran

dan fungsi dari suatu objek untuk memenuhi

beberapa tujuan yang diharapkan. Contohnya

ruangan yang ada tidak memungkinkan diisi

dengan meja dan kursi karena akan membuat

siswa tidak leluasa bergerak. Yang dibutuhkan

adalah kursi yang juga berfungsi sebagai meja

dan tempat menyimpan barang atau tas, cukup

ringan untuk dipindahkan dan dirapihkan dengan

cara melipat kursi, mampu menahan beban

sebarat 30 – 50 kg dan tinggi 120 – 160 cm, serta

cukup memberi ruangan untuk bergerak keluar

dan duduk.

Tahap keempat, pengesahan atau

penemuan, yang menyadarkan individu tentang

ide kreatif pengesahan atau tingkat

implementasi. Upaya mewujudkan ide dalam

bentuk nyata.(dari berbagai sumber/ Me ‘07)


Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

Eksistensi Seorang Pengarang

Salah seorang kritikus sastra, Budi Darma (1981)

pernah berpendapat bahwa pengarang yang baik

adalah pengarang yang dapat menciptakan tradisi,

untuk itu seorang pengarang tentu mempunyai

gagasan yang orisinal. Selain itu pengarang juga

mempunyai kepribadian yang kuat. Tanpa

kepribadian yang kuat, pengarang hanya sanggup

menulis kata-kata yang akhirnya tanpa makna.

Pengarang sebagai pencipta karya sastra

menciptakan karya-karya yang beragam sesuai

dengan latar belakangnya. Masing-masing

pengarang memiliki ideologi atau azas tersendiri

dalam menciptakan sebuah karya sastra. Yakni

berupa dorongan sosial, latar belakang budaya

termasuk agama yang dianut oleh seorang

pengarang. Bahkan sebuah karya sastra juga

dipengaruhi oleh latar belakang zaman

pengarangnya.

Pertama, sastra dapat dipandang sebagai

suatu gejala sosial. Pada umumnya, dorongan

sosial melahirkan berbagai macam aktivitas

kehidupan, seperti aktivitas sosial, ekonomi,

politik, etik kepercayaan, dan lain-lain. Maka

dorongan sosial ini akhirnya mendorong

penciptaan karya sastra yang mau tidak mau

memperjuangkan berbagai bentuk aktivitas

sosial tersebut. Karya sastra yang ditulis pada

suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan

dengan norma-norma dan adat-istiadat zaman

itu. Nyoman Suparta misalnya, pengarang asal

Bali ini mengangkat kebudayaan daerahnya

dalam novelnya yang berjudul Kabut Sepanjang

Jalan. Dari karyanya tersebut memperlihatkan

bahwa pengarangnya mengangkat unsur budaya

daerahnya sendiri seperti menceritakan tradisi

serta kehidupan di Bali.

Kedua, latar belakang agama seorang

pengarang. Mangunwijaya (1982) berpendapat

bahwa kehadiran unsur religius dan keagamaan

dalam sastra adalah suatu keberadaan sastra itu

sendiri, bahkan sastra tumbuh dari sesuatu yang

bersifat religius. Oleh sebab itu, latar belakang

agama seorang pengarang berpengaruh terhadap

karya yang ditulis oleh pengarang tersebut.

Hamka, dengan karya-karyanya seperi Di Bawah

6

Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal

Van Der Wijck, banyak memasukkan unsurunsur

keagamaan karena seperti yang kita

ketahui Hamka adalah seorang yang memiliki

latar belakang agama yang kuat.

Ketiga, pada Puisi-Puisi Angkatan 20-an

dan Pujangga Baru, bila dihubungkan dengan

latar belakang zaman dan perjuangan pada waktu

itu, akan terlihat penghayatan terhadap

kemerdekaan yang tergambar dalam puisi-puisi

tersebut. Sastrawan Angkatan 45, salah satunya

Chairil Anwar dominan berbicara tentang

kemerdekaan, karena sesuai dengan zamannya

saat itu.

Selain latar belakang pengarangnya,

karya sastra lahir dari sumber pengalaman

sastrawan sendiri. Baik dalam bentuk

pengalaman lahiriah maupun pengalaman

batiniah. Beberapa pengarang besar seperti

Emile Zola, hidup bersama buruh tambang

sebelum menulis Germinal; Destoyeski bergaul

dengan orang-orang hukuman yang kemudian

pengalaman itu diangkat menjadi bahan untuk

sekian banyak novelnya. Shakespeare banyak

membaca buku sejarah, filsafat dan mitologi

Yunani kuno sebagai bahan penulisan karyakaryanya.

Sementara itu, sastrawan Indonesia

Pramoedya Ananta Toer, menulis di balik terali

besi. Karya besarnya Bumi Manusia lahir ketika

dia di penjara dan diasingkan di Pulau Buru.

Karya-karya fenomenalnya lahir karena

pengalaman batinnya yang kaya. Sedangkan R.A

Kartini, menulis tentang rasa marahnya atas

diskriminasi yang diterimanya selama sekolah,

melalui surat-surat yang dikirimkannya pada

sahabatnya di Belanda. Surat-surat tersebut

akhirnya dibukukan dan lahirlah karya yang di

beri judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pengarang yang baik biasanya dapat

menggarap bahan yang sifatnya pribadi menjadi

sesuatu yang universal. Secara sadar atau tidak

pengarang mengungkapkan peristiwa batiniah

kedalam karyanya untuk konsumsi mental dan

pikiran orang lain. Dalam membuat sebuah

karya, masing-masing pengarang memiliki ciri

khas tersendiri. (IDF ’07)


Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

HALAMAN SASTRA

Puisi Maira Eka Sari

Pulang

;pituah dari ayah tercinta

“Kau peri kecilku -perempuan

yang berselendang hujan-, ingatlah

sebanyak itu nan melambai, segenap

itu pula nan menanti. Semua

berbenah. Semua melangkah, Sayang!

Di setiap langkah dalam putaran

masa yang entah kapan

detik itu, tentunya

semua janji akan

tertepati. Jangan lagi ada takut

apalagi pilu di hulu

hatimu.

Jangan lagi menanti.

Semua berbenah, dan tentu ‘kan melangkah.”

Pituah ayah tak luntur di ingatan.

Padang, 020510

Puisi Nasrul SN

Mimpi Di Pucuk Cemara, Ada Aku Yang

Menantikan Senja

mimpi di pucuk cemara,

ada serentetan dedaunan berguguruan

dalam jalan menghembus angin

ada aku yang selalu menantikan azan

pucuk cemara, sunyi

ada aku yang menantikan sunyi

bersama burung gereja tua

dan lantunan anak panah serta serdadu tua renta

pucuk cemara, tepat senja

2010

7

Puisi Riyon Fidwar

Datang Kembali

aku datang padamu

membawa sepotong kain yang kupungut

dari malam, di sini aku menggerutu, sebab

sesaknya kain itu: membungkus

paru jantungku

aku pernah ingin kembali pada sejarah

namun rahim ibu terlalu sempit untuk kumasuki,

dan aku kembali padamu

membawa sepotong kain, dan

airmata

Puisi Surya Selfika

Malam yang Asing

Padang, 2011

dirundung sepi dalam tetesan hujan malam

seisak suara tangis mulai meruang dalam kelam itu

semuanya bermuara pada tangisanmu

tangisan yang begitu asing ku dengar

tapi

malam ini, tuan kesunyian tak mampu berkuasa

hendak apa yang beliau minta

hendak apa yang beliau sesalkan

semuanya kabur di malam itu

dengan butiran-butiran suci yang tak kunjung

berhenti

mengalir, membasuh dalam pipi tua beliau

lalu

semua sunyi sampai malam itu hilang

aku seorang diri

Padang, 15 November 2010


Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

Puisi Irmadani Fitri

Mata Air, Air Mata

Aku rindu mengecup matamu yang basah

mengelus bingkai senyummu

menghirup wangi peluhmu.

Matahari kurangkai dalam kelam

mencipta sosok bayangmu nan lembut.

Aku rindu mata air yang memancar dihatimu

mata air yang mengalir kehatiku

mata air yang mencipta kesejukan kalbu.

Matahari bertamu dipenghujung lelap

membayang wajahmu

memancar senyummu

bergetar rinduku merapal namamu.

Aku rindu air mata yang pernah jatuh untukku

rindu hangat dekap melepas keberangkatanku

lambaian tangan menuntun jalanku.

Ketika serumpun doa tumbuh dibibirmu

mata air memancar dikelopakmu

aku makin tak kuasa membendung rindu.

‘untuk ibuku yang selalu menunggu’

Puisi Nia Azda Oktavia

Riak Rindu

20 Maret 2010

Sepi mengantar pertemuan itu,

Kenapa hanya diam dan kemudian jadi keributan di

april ini

Bukan ku menyalahkan April,

Tapi riak kecil dimatamu yang sulit ‘tuk ku arungi itu

kemana?

Aku memang berkata pernah menyukainya dan

menikmatinya

Tapi kini riak itu hanya menghanyutkan dan mungkin

akan menenggelamkanku,

Kelak kau akan tau ranah rindu yang selalu ku tutup

jika kau tak ada itu memang terbuka untuk dirimu

Padang, 11042010

8

Puisi Salman Herbowo

Lirik-Lirik Para Elit

Nyanyian dusta terdengar lagi

Suara merdu hentikan kami

Alunan musik sirami panas hati

Sampai akhir nyanyian ini

Lirik-lirik itu terucap lagi

Reformasi

Demokrasi

Pasti..pasti..pasti!

Penyair-penyair menari di belakang kami

Kacung mereka hanya mengangguk dan menggeleng

Sang penyanyi merasa angkuh di tepi panggung

Tahukah semua?

Mereka telah terbelit benang putih

Lihat..

Skenario gombal dipentaskan

Penonton dibungkam lembaran merah

Rayuan semu dihembuskan

Hingga nanti

Pertunjukan lari ke pemakaman

Marapalam, 05 Maret 2011


Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

Cerpen Anak

Oleh Irmadani Fitri

Coklat dan Semut

Pada suatu sore yang cerah, di teras

sebuah rumah tampak seorang anak sedang

duduk santai melepas lelah. Umurnya enam

tahun. Ditangan anak itu terdapat sebungkus

makanan yang dinikmatinya sore itu. Namanya

koko. Sekilas namanya terdengar seperti nama

sejenis makanan ringan yang terbuat dari coklat,

dan yang dinikmati Koko saat itu adalah

sebungkus coklat.

Entah mengapa Koko sangat suka makan

coklat. Segala jenis makanan yang bernama

coklat akan dilahapnya dengan cepat. Entah

karena namanya tadi, atau ada sebab lain

sehingga membuat Koko kecanduan coklat. Bagi

Koko tiada hari tanpa makan coklat. Ibu dan

ayahnya juga heran melihat koko yang sangat

suka melahap coklat. Sebenarnya bagi mereka

tidak masalah kalau Koko suka makan coklat,

yang membuat kedua orangtua Koko khawatir

adalah akibat dari terlalu sering anaknya itu

memakan coklat.

Mereka sering menegur Koko bahwa

coklat itu tidak baik untuk kesehatan giginya.

Tapi Koko tidak peduli. Dia masih saja

meneruskan hobinya melahap coklat.

“Koko, kalau kamu terlalu sering makan

coklat gigimu bisa sakit. Kamu mau dibawa ke

dokter gigi, terus gigimu dicabut”. Tegur ibunya

pada suatu hari ketika Koko asik melahap coklat.

Tetapi Koko selalu saja ada alasan

apabila orangtuanya menegur seperti itu.

“Ah…nggak kok bu, gigi Koko kan kuat!

Buktinya sampai sekarang masih sehat-sehat

saja”, jawab Koko, lalu memperlihatkan giginya

yang pada saat itu berlepotan coklat.

Kebiasaan itupun terus berlanjut. Hingga

pada suatu malam, menjelang tidur Koko diamdiam

makan coklat di kamar. Coklat itu

dilahapnya sambil tiduran di atas kasur. Mulut

9

Koko terlihat penuh dengan coklat. Tidak lama

kemudian, Koko tertidur dengan pulasnya tanpa

menggosok gigi terlebih dahulu. Padahal

bibirnya masih berlumuran coklat.

Keesokan paginya ketika bangun tidur,

Koko merasa ada yang aneh dengan bibirnya.

Terasa gatal dan bengkak pada bibir sebelah

atasnya. Koko meringis setelah menggaruk

bibirnya yang bengkak itu. Rupanya coklat yang

tersisa di bibir Koko semalam membuat seekor

semut datang. Aroma coklat itu telah

mengundang semut singgah di bibir Koko lalu

menggigitnya.

Koko lalu menangis setelah melihat di

kaca bentuk bibirnya yang aneh. Rasa gatalnya

juga membuat Koko kesal dan mengadu pada

ayah dan Ibu. Ayag dan ibu Koko hanya bisa

menahan senyum ketika itu.

“Nah, sekarang Koko tau kan akibatnya

kalau sering makan coklat. Apalagi makannya

sebelum tidur dan Koko juga tidak gosok gigi

menjelang tidur. Makanya semut itu menggigit

bibir Koko”, kata ibu sambil masih menahan

senyum.

“Iya bu, Koko janji nggak makan coklat

lagi sebelum tidur”, Jawab Koko.

“Tapi Koko juga harus kurangi makan

coklat, janji ya pada ayah dan ibu! Yang

namanya janjii harus ditepati, Koko lihat kan

akibatnya”, ujar ayah Koko.

“Baik yah, pokoknya Koko janji mulai

saat ini akan dengar nasehat ayah dan ibu”, kata

Koko sambil mengangguk kemudian menggaruk

bibir bengkaknya yang gatal.

Sejak kejadian itulah Koko mulai

mengurangi melahap coklat.

6 Juni 2010

Jendela, tubuh sebuah kehidupan.


Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

Lelaki Tua di Bawah Rimbunan Terung

Cerpen Mega Nofria

*Pemenang III lomba Cerpen Balai Bahasa 2010

Entah apa lagi yang ada di benak lelaki

tua itu. Di usianya yang menginjak 70 tahun

masih saja dia memikirkan masalah dunia.

Bukannya duduk tenang berzikir di surau tapi

malah merangkak ke ladangnya dari matahari

yang masih enggan menampakkan sinarnya yang

kemilau sampai

matahari kembali

keperaduannya.

Dia memang

tinggal sendirian di

rumahnya. Istrinya yang

mulai sakit-sakitan ikut

anak tunggal mereka

yang tinggal di Jawa.

Entah kenapa dia tidak mau tinggal bersama

anak dan istrinya. Padahal kalau tinggal di sana

dia tidak perlu repot-repot mengurus ladangnya,

dia juga bisa menjaga istrinya di sana.

Sebenarnya walaupun tinggal sendiri dia

juga tidak perlu memikirkan biaya hidup untuk

dirinya sendiri karena tiap bulan anaknya

mengirimkan uang yang jumlahnya lebih dari

cukup untuk menghidupi dirinya seorang. Tetapi

tiap kali kirimannya datang dia akan

mengundang anak-anak yatim ke rumahnya dan

membagi-bagikan uang tersebut, tanpa

menyisakan sepeser pun untuknya. Tiap kali

10

ditanya kakek 5 orang cucu itu menjawab,

“Lebih nikmat makan dari hasil jerih payah

sendiri.”

Anwar Sadad, itu lah nama lengkap

kakek tua itu. Pandai sekali orang tuanya

mencarikan nama. Namanya diambil dari nama

salah seorang presiden Mesir. Tapi sehari-hari

kakek itu akrab dipanggil Tuk Nuar. Pagi-pagi

buta dia sudah terlihat di ladangnya. Mengurus

tanaman terung. Meskipun sudah tidak muda lagi

dia masih telaten mengurusnya.

Tangannya masih dingin. Jarang

sekali panen terungnya

mengalami gagal panen.

Sementara ladang terung

disekitarnya hampir tidak bisa

dipanen gara-gara diserang ulat.

Satu hal yang membuat warga

simpati adalah, tanaman

terungnya masih bisa berbuah

sampai 4 bulan lamanya, padahal biasanya

tanaman terung hanya bertahan 2 atau 3 bulan

saja.

Hari-harinya dilalui di bawah rimbunan

terung. Ladangnya bersih, tak secuil gulma pun

dibiarkannya tumbuh di ladangnya apalagi

sampai menjalar ke tanaman terungnya. Sering

warga melihatnya tertidur di bawah rimbunan

terung, mungkin karena kelelahan. Memang

tidak sepantasnya dia bekerja seperti itu lagi

mengingat usianya yang sudah sangat tua. Anak-


Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

anaknya sering membujuknya untuk tinggal

bersama mereka.

Menikmati usia tua diantara anak dan

cucu adalah dambaan setiap orang. Tapi tidak

baginya, dia tetap bersikukuh tinggal di desa

walaupun hidup seorang diri. Pernah suatu kali

anaknya berhasil membujuk dan membawanya

ke Jawa. Namun, tidak sampai sebulan dia sudah

minta pulang. Meskipun akan mati di rimbunan

tanaman terung dia rela dari pada tinggal di sana,

begitu katanya. Tapi tak pernah dia cerita sama

siapa pun apa yang membuatnya tidak betah

tinggal bersama dengan anaknya yang kaya raya

itu.

Siapa yang tidak mengenal Fuadi Sadad.

Gelarnya Sutan Rajo Kayo. Sesuai dengan

namanya, dia memang kaya. Dia juga disebut-

sebut sebagai perantau paling sukses di kota ini.

Namanya harum hingga ke pelosok kota.

Kedatangannya sangat ditunggu-tunggu

masyarakat desanya. Dia mengepalai beberapa

bank di Indonesia. Di kampungnya dia sangat

dielu-elukan, apalagi semenjak dia

merencanakan mendirikan mesjid megah di

tengah kampung. Tidak hanya rencana, proyek

pembangunan mesjid yang menelan biaya hingga

miliaran rupiah itu sudah dimulai.

Tiap bulan dia datang meninjau jalannya

pembangunan mesjid. Tiap bulan itu pula dia

mendatangi bapaknya, membujuk agar bapaknya

mau tinggal bersama dengannya. Tapi itu tak

pernah berhasil dilakukannya.“Percuma kamu

11

membujuk saya. Kamu pikir saya akan bahagia

dengan hartamu yang berlimpah itu?”

“Bukan begitu Pak. Bapak sudah tua,

siapa nanti yang akan menjaga Bapak kalau

Bapak sakit. Ibu juga sering sakit-sakitan gara-

gara memikirkan Bapak tinggal sendiri di sini.”

“Sudah, kamu tidak perlu memikirkan

saya. Saya bisa mengurus diri saya sendiri.

Bilang sama ibumu itu kalau dia tidak ingin

melihat saya di sini sendiri suruh dia pulang.”

Fuadi hanya bisa mengelus dada mendengar

perkataan bapaknya.

Beberapa bulan berlalu. Proses pembangunan

mesjid berjalan lancar. Diperkirakan mesjid

megah ini akan selesai sebelum Hari Raya Idul

Fitri tahun depan. Di persimpangan jalan dekat

mesjid itu didirikan, dibuatlah pengumuman

besar-besar bertuliskan “INSYAALLAH DI

SINI AKAN DIDIRIKAN MESJID RAYA

ANNUR. MOHON DOA RESTU.”

Masyarakat sudah membayang-bayangkan akan

sholat Id di mesjid termegah di kota ini. Maklum

saja, biasanya mereka melaksanakan sholat Id di

lapangan yang biasa dijadikan warga sebagai

tempat mengembalakan sapi atau kambing.

Bersambung………………………………….


Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

RESENSI BUKU

Berbekal Dua “Mantra” untuk Meraih Impian

Judul Buku : Ranah 3 Warna

Penulis : A. Fuadi

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Pertama, Januari 2011

Halaman : xiii + 473 hlm

Berbekal dua “mantra”

man jadda wajada (siapa

yang bersungguhsungguh

akan berhasil)

dan man shabara zhafira

(siapa yang bersabar akan

beruntung), Alif berjuang

mengejar segala

impiannya. Tamat dari

Pondok Madani, Alif

pulang ke kampung halamannya Maninjau

dengan masih menggenggam banyak impian.

Dengan meyakinkan dirinya, Alif menempuh

UMPTN setelah belajar keras untuk lulus ujian

persamaan SMA.

Berbagai macam strategi dilakukanya,

“Man jadda wajada! Mantra ini menjadi

motivasiku kalau sedang kehilangan semangat.

Bahkan aku teriakkan kepada diriku, setiap aku

merasa semangatku melorot. Aku paksa diriku

lebih kuat lagi. Aku lebihkan usaha. Aku

lanjutkan jalanku beberapa halaman lagi,

beberapa soal lagi, beberapa menit lagi. Going

the extra miles. I’malu fauqa ma’amilu.

Berusaha di atas rata-rata orang lain” (hal. 12).

Siapa yang menanam akan menuai yang

ditanam. Perjuangan Alif tak sia-sia, walaupun

bukan Teknik Penerbangan ITB seperti impian

awalnya, Jurusan Hubungan Internasional

Universitas Padjadjaran sudah digenggamannya.

Siapa sangka jurusan ini membawanya terbang

ke negeri Paman Sam, Amerika.

12

Di tengah menikmati masa kuliahnya,

Alif kembali dihadapkan dengan kematian

Ayahnya. Perang batin kembali berkecamuk

dalam dirinya, antara meneruskan kuliah atau

pulang ke kampung menjaga amak dan adikadiknya.

Dalam kondisinya yang semakin

terpuruk, Alif mendapat surat dari amaknya;

…Teguhkan hati untuk terus berjuang.

Selesaikanlah apa yang Ananda mulai, biar

amak yang memikirkan yang di kampong. Allah

bersama kita…. Perbanyaklah zikir dan sabar,

maka Tuhan akan membantu kita.” (hal.130)

Alif kembali teringat kata mutiara dari

Arab yang berbunyi: Man shabara zhafira.

Energi semangat Pondok Madani kembali

mengerubutinya. Menulis adalah jalan keluar

yang pas baginya. Dengan berguru pada

seniornya di Kampus, Alif menulis berbagai

artikel di media. Siapa sangka keahliannya di

bidang ini membawanya mendapatkan beasiswa

menjadi Duta Muda Bangsa ke Amerika.

Pengalaman-pengalaman luar biasanya berlanjut

di sana.

Novel Ranah 3 Warna ini merupakan

buku kedua dari trilogi Negeri 5 Menara. Novel

ini memperlihatkan betapa pentingnya

mempunyai mimpi dan yang lebih penting dari

itu adalah mewujudkannya. (IRMA ‘07)

***

Bagi kawan-kawan yang ingin karyanya

dimuat di Buletin Tubuh Jendela edisi

berikutnya, Tim Redaksi Tubuh Jendela

menyediakan ruang melalui Email:

tubuhjendela@gmail.com


Tubuh JENDELA NO. I / TAHUN I / MARET / 2011 Tubuh Jendela

13

Similar magazines