1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan ...

digilib.sunan.ampel.ac.id

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan ...

A. Latar Belakang Masalah

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu usaha sadar dalam rangka untuk

mendewasakan dan membina seseorang agar mampu bertanggung jawab

dalam kehidupan secara moral. Suatu yang tinggi merupakan tujuan utama dan

tertinggi dari pendidikan Islam dan bukanlah sekedar mengajarkan kepada

siswa apa yang tidak diketahui oleh mereka, tapi lebih dari itu yaitu

menanamkan fadhilah, membiaskan bermoral tinggi, sopan santun Islamiyah,

tingkah perbuatan yang baik sehingga hidup ini menjadi suci, kesucian disertai

dengan keikhlasan. 1

Pendidikan akhlak berusaha menciptakan situasi dan kondisi

sedemikian rupa, sehingga siswa terdorong dan tergerak jiwa dan hatinya

untuk berprilaku dan beradab, atau sopan santun yang baik sesuai dengan

harapan lembaga pendidikan.

Pendidikan akhlak sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh lembaga

dalam rangka untuk membentuk dan membina t}abi’at, budi pekerti yang

baik, mulia, dan terpuji. Sedangkan pembentukan akhlak yang baik dikalangan

pelajar dapat dilakukan dengan latihan-latihan berbuat baik, taqwa, berkata

benar, menepati janji, ikhlas dan jujur dalam bekerja, tahu kewajiban,

1

AM. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta : Bulan Bintang.

1990, hal 105

1


membantu yang lemah, berdikari, selalu bekerja dan tahu harga waktu. 2

Sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Ahmad Amin, bahwa akhlak

ialah kebiasaan kehendak. 3 Sehingga untuk menuju pada kepribadian yang

luhur, tidak bisa langsung jadi, namun perlu adanya latihan-latihan yang

terencana dalam kehidupan serba teratur dan disesuaikan dengan norma –

norma yang ada. Jadi segala gerak gerik, tingkah laku, waktunya tidak ada

yang terluangkan kecuali untuk berbuat kebajikan. 4

Peranan pendidikan akhlak dalam kehidupan manusia ini sangat

penting. Pentingnya motifasi pelajaran akhlak tidak saja dirasakan oleh siswa

di madrasah, tetapi juga dalam berkeluarga dan bermasyarakat, bahkan

dirasakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Kehidupan dalam

sosial Islam yang menegaskan bahwa keabadian, kemakmuran, dan ketahanan

suatu bangsa terletak pada kehidupan moralnya. Apabila hancur suatu bangsa,

akan hancur pula negaranya”. 5

Faktanya, banyak kita jumpai perilaku masyarakat yang tidak

mencerminkan akhlak yang mulia. Setiap hari, dari negeri kita tercinta ini

muncul berita korupsi, aborsi, seks bebas, penyalahgunaan narkoba,

pertengkaran antar sekolah, pencopetan, pembunuhan orang tua oleh anaknya

sendiri atau sebaliknya pemerkosaan anak oleh orang tuanya dan tindakan-

tindakan lain yang cenderung merusak dan tentu saja mengarah pada akhlak

2 Ibid, hal 106

3 Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2002, hal 2

4 Muhaimin MA, Dkk, Ilmu Pendidikan Islam. Surabaya: PT Karya Abadi Tama, 1993, hal 125

5 Anwar Mas’ari, Akhlak Al-Qur’an. Surabaya : Bina Ilmu, 1990, hal 7

2


yang tercela. Semua itu, salah satunya disebabkan oleh derasnya arus

westernisasi dan informasi.

Apalagi beberapa bulan kemarin tepatnya hari sabtu 23 Februari 2010

muncul kasus tentang adanya game porno yang menjalar ke kota besar lewat

media elektronik semisal HP dan Play Station yang banyak meresahkan orang

tua dan para guru yang berobyek pada usia anak SMP dan SMA, Kepala Dinas

Pendidikan Kota Surabaya Drs. H. Sahudi, MPd mengatakan jika peredaran

game porno ini sudah sangat memprihatinkan di kalangan siswa, pihaknya

akan melakukan proteksi lewat sekolah. Caranya, menginstruksikan sekolah

agar menerapkan full day school atau sekolah sehari penuh, mengintensifkan

pemberian pendidikan agama dan moral, dan membuat kegiatan

ekstrakurikuler yang positif. 6 Game ini dianggap sebagai salah satu faktor

menurunnya moral (akhlak) remaja, bisa mempengaruhi prestasi pelajar,

khususnya MTs Al Fatich Surabaya.

Bertitik tolak dari penjelasan di atas, penulis tertarik dan terdorong

untuk meneliti tentang strategi yang dilakukan sekolah dalam memberikan

pendidikan akhlak kepada para siswa di MTs Al Fatich Tambak Osowilangun

Surabaya, dan lembaga ini merupakan lembaga jalur sekolah yang berada di

bawah naungan Kementerian Agama dan lembaga pendidikan Ma’arif NU

sehingga garis-garis besar program pengajaran diterbitkan oleh pimpinan

wilayah lembaga pendidikan Ma’arif NU Jawa Timur.

6 Agus Santoso, ” Pelajar dan Game Porno ” Artikel Harian Surya, Sabtu 13 April 2010, Hal.7

3


MTs Al Fatich Tambak Osowilangun berada di lingkungan Pondok

Pesantren, siswanya berasal dari berbagai daerah yang mempunyai kehidupan

atau latar belakang sosial budaya yang beraneka ragam. Hal ini bisa saja

menjadi masalah bagi sekolah terutama yang berkaitan dengan pelajaran

akhlak dan kegiatan rutinitas di sekolah maupun di pesantren yang tidak biasa

dilakukan di lingkungannya atau di rumahnya seperti kewajiban melakukan

puasa sunat senin kamis, bangun sholat malam dan lain-lain. Untuk

merealisaikan program pembinaan akhlak ini dibutuhkan strategi yang dapat

membangun pendidikan akhlak khususnya di MTs Al Fatich Tambak

Osowilangun Surabaya. Pada saat ini tidak sedikit anak usia sekolah yang

terlibat dalam kasus kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan dan lain

sebagainya, karena kurangnya pembinaan akhlak dalam diri anak. Dengan

memasukkan pelajaran akhlak dalam kurikulum tersendiri, MTs Al Fatich

Tambak Osowilangun berusaha mendidik serta memberi bekal pada siswa

agar tidak mudah terpengaruh dengan budaya luar jika mereka berada di luar

lingkungan pesantren atau dalam kehidupan bermasyarakat.

Dari sinilah motifasi pelajaran akhlak sangat penting dan juga

diperlukan untuk menumbuhkan dan membina insan yang berbudi luhur lahir

dan batin, baik dalam hubungannya kepada Allah, diri sendiri, sesama

manusia dan lingkungannya, serta untuk membina pribadi yang bertanggung

jawab dan disiplin terhadap peraturan-peraturan dan tata tertib yang berlaku

baik di pesantren, sekolah maupun di masyarakat.

4


Oleh karena itu, untuk mengetahui strategi yang diterapkan di MTs Al

Fatich Tambak Osowilangun Surabaya, maka penulis tertarik untuk

mengadakan penelitian ini, yang penulis tuangkan dalam bentuk tesis yang

berjudul ”Strategi Sekolah dalam Pendidikan Akhlak Siswa” ( Studi

Kasus di MTs Al Fatich Surabaya ).

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah tersebut di atas, penulis mengambil beberapa

rumusan masalah sebagai berikut:

1. Strategi apa yang digunakan oleh MTs Al Fatich Surabaya dalam

pendidikan akhlak siswa ?

2. Bagaimana mengaplikasikan strategi pendidikan akhlak siswa di MTs Al

Fatich Surabaya ?

3. Apa faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pendidikan akhlak

siswa di MTs Al Fatich Surabaya ?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan :

1. Untuk mengetahui konsep dan strategi pendidikan akhlak siswa di MTs Al

Fatich Surabaya.

2. Untuk mengetahui bentuk aplikasi konsep dan strategi pendidikan akhlak

siswa di MTs Al Fatich Surabaya.

5


3. Menemukan faktor-faktor pendukung dan penghambat pendidikan akhlak

di MTs Al Fatich Surabaya.

D. Manfaat Penelitan

1. Secara teoritis, diharapkan penelitian ini menghasilkan teori tentang

strategi ideal sekolah dalam pendidikan akhlak.

2. Secara praktis diharapkan memberi manfaat sebagai berikut:

a. Bagi sekolah, sebagai bahan masukan untuk memecahkan

permasalahn-permasalahan yang berkaitan dengan peningkatan

kualitas pendidikan akhlak siswa.

b. Bagi akademis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

sumbangan pemikiran bagi perkembangan pendidikan, khususnya

pendidikan akhlak

c. Dapat menjadi acuan bagi peneliti berikutnya yang lebih mendalam

E. Penjelasan Judul

dengan topik dan masalah pada medan kasus lain untuk memperoleh

perbandingan sehingga memeperkaya penelitian ini.

Supaya tidak terjadi kesalahfahaman dan kekurangjelasan dalam

memaknai judul tesis ini, maka perlu dijelaskan maksud judul sebagai berikut.

1. Strategi

Strategi berasal dari bahasa Yunani strategos atau strategeus

dengan kata jamak strategi. Strategos berarti jenderal, namun dalam

6


Yunani kuno, sering berarti perwira negara (state officer) dengan fungsi

yang luas. Pendapat yang lain mendifinisikan strategi sebagai kerangka

kerja (frame work), teknik dan rencana yang bersifat spesifik atau khusus.

Strategi adalah rencana cermat tentang suatu kegiatan guna meraih suatu

target atau sasaran. 7

2. Pendidikan

Secara etimologis, pendidikan berasal dari kata didik yang

mendapat awalan pe- dan akhiran –an yang berarti proses, perbuatan, cara

mendidik, pelihara dan ajar. 8 Istilah pendidikan diterjemahkan ke dalam

bahasa Inggris dengan education yang berarti pengembangan atau

bimbingan. Dalam bahasa Arab istilah ini sering diterjemahkan dengan

tarbiyah yang berarti pendidikan. 9

Dalam konteks Islam, istilah pendidikan kadang kala digunakan

dengan kata tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Tarbiyah kata dasarnya adalah

rabba berarti mendidik, membesarkan, mengasuh, berkembang dan

meningkat (tumbuh). 10

Zakiah Daradjat mengartikan pendidikan dengan suatu usaha dan

kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam menyampaikan

pelajaran, memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi

7

Peter Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, (Jakarta, Modern English Press, 2002),

1463

8

Tim Penyusun Kamus Pusat, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 204; Agus Basri, Pendidikan Islam

sebagai Penggerak Pembaharuan Islam, (Bandung: al-Ma’arif, 1984), 19.

9

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 1994), 1, Zakiah Daradjat, Ilmu

Pendidikan Islam, cet. III (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), 25.

10

Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, cet. III (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990), 138 ,Luis

Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah wa al-‘Alam (Beirut: Dar> al-Mashriq, 1986), 247.

7


motivasi dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung

pembentukan kepribadian peserta didik. 11

Azyumardi Azra memaknai pendidikan sebagai suatu proses

penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan dan memenuhi

tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efesien. Pendidikan lebih sekedar

pengajaran, pendidikan lebih menekankan pada pembentukan kesadaran

dan kepribadian anak didik disamping transfer ilmu dan keahlian. 12

3. Akhlak

Akhlak ditinjau dari segi bahasa berasal dari bahasa Arab bentuk

jamak dari khuluq berarti “budi pekerti”, “perangai”, “tingkah laku” atau

“tabiat” 13 Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlaq adalah “kebiasaan

berkehendak” 14 . Menurut istilah akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam

jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan

mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. 15

Menurut pengertian sehari-hari umumnya akhlaq disamakan

dengan budi pekerti, kesusilaan, sopan santun. 16 Khulq merupakan

gambaran sifat batin manusia, akhlak merupakan gambaran bentuk lahir

manusia, seperti raut wajah dan body. Dalam bahasa Yunani pengertian

khalq ini dipakai kata ethicos atau ethos, artinya adab kebiasaan, perasaan

11

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, 27, Bandingkan; Mohamad Ali, "Reorientasi

Makna Pendidikan: Urgensi Pendidikan Terpadu," dalam Marzuki Wahid, dkk, Pesantren Masa

Depan (Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), 171.

12

Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Ciputat:

Kalimah, 2001), 5-4.

13

Luis Ma’luf, al-Munjid fi al-Lughah wa al-‘Alam, 194.

14

Ahmad Amin, Kitab al-Akhla>q ( Kairo: Da>r al-Kutub al-Misri>yah, 1914), 15.

15

Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din Vol. 3 (Beirut:Dar al-Kutub al-Islamiyah, tt), 56.

16

R. Ibrahim , dkk, Ilmu dan aplikasi Pendidikan (Bandung: PT. Imperial Bakti Utama, 2007), 20.

8


atin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethicos kemudian

berubah menjadi etika. 17

4. MTs Al Fatich

MTs Al Fatich adalah sebuah madrasah yang terletak di kelurahan

Tambak Osowilangun kecamatan Benowo Kota Surabaya.

Adapun maksud dari judul di atas adalah usaha dan kegiatan yang

dilakukan oleh MTs Al Fatich yang meliputi kepala madrasah, guru mata

pelajaran aqidah akhlak, dewan guru, kepala tata usaha beserta staf dalam

memberikan pendidikan akhlak kepada siswa siswinya. Pendidikan itu

meliputi pemberian contoh tauladan yang baik, melatih keterampilan

berbuat dalam bentuk pembiasaan, memberi motivasi dan menciptakan

lingkungan madrasah yang mendukung pembentukan kepribadian peserta

didik agar mereka memiliki akhlak yang terpuji.

Penelitian ini lebih menekankan pada pendidikan akhlaq dalam

bentuk pemberian contoh teladan yang baik dari seluruh tenaga pendidik

dan kependidikan dan penciptaan lingkungan yang mendukung

tumbuhnya nilai-nilai akhlaq yang baik pada diri anak selama mereka

berada di lingkungan MTs Al Fatich. Penelitian ini tidak memfokuskan

pada penyampaian materi mata pelajaran aqidah akhlak yang terjadwal

dua jam dalam satu minggu untuk masing-masing kelas.

F. Penelitian Terdahulu

17 Nasir, Tinjauan Akhlaq (Surabaya: al-Ikhlas, 1991), 14.

9


Sebenarnya banyak penelitian telah dilakukan berkaitan dengan

akhlak, tetapi karena begitu luasnya kajian akhlak yang bisa dipotret dari

berbagai sudut pandang, sehingga penulis juga tertarik untuk ikut memotret

satu sisi dari kajian akhlak. Sepanjang penelusuran penulis, ada beberapa

penelitian yang memiliki kedekatan sudut pandang dengan penelitian ini,

antara lain :

1. Tesis yang ditulis oleh Ach. Asy’ari MD. dengan judul “Pendidikan

Akhlaq di Kalangan Putra Putri Tokoh Islam (Studi Kasus Di Kabupaten

Sampang)”. Dalam penelitian ini Asy’ari lebih menekankan penelitiannya

kepada kepedulian para tokoh Islam di Kabupaten Sampang terhadap

pendidikan akhlaq putra-putri mereka dan strategi yang mereka lakukan

dalam upaya penanaman nilai-nilai akhlak. Dari hasil penelitian ditemukan

bahwa para tokoh Islam di Sampang memiliki perhatian yang baik

terhadap pendidikan akhlak putra-putrinya. 18

2. Tesis dengan judul “Pendidikan Moral di madrasah Mu’allimin

Kelurahan Cokromenggalan Ponorogo”. Dari hasil penelitian ini,

Masykur mengemukakan bahwa pendidikan moral yang dilaksanakan

untuk mewujudkan perilaku siswa yang terpuji hendaknya didukung oleh

beberapa faktor, yakni; lingkungan sekolah, lingkungan keluarga dan

lingkungan masyarakat. 19 Dalam penelitian ini Masykur lebih

18 Ach. Asy’ari MD, “Pendidikan Akhlaq di Kalangan Putra Putri Tokoh Islam (Studi Kasus di

Kabupaten Sampang)” (Tesis--IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2009).

19 Ali Masykur, “Pendidikan Moral di Madrasah Mu’allimin Kel. Cokromenggalan Ponorogo”,

(Tesis-- IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2005).

10


menetikberatkan penelitiannya pada pelaksanaan pendidikan moral atau

akhlak dalam bentuk mata pelajaran yang diberikan di dalam kelas.

3. Tesis dengan judul ”Pendidikan Moral Dalam Perspektif Hamka”, oleh

Munawir. Dalam tulisan ini Munawir mengungkapkan bahwa pemikiran

Hamka tentang moral memiliki pandangan yang komprehensif. Menurut

Hamka pendidikan moral pada hakekatnya merupakan inti dari

keseluruhan aktivitas pendidikan. Karenanya strategi internalisasi moral

merupakan strategi yang sangat tepat dalam melaksanakan pendidikan

moral, sebab dalam strategi internalisasi ini mengandung makna bahwa

pendidikan moral mengandung makna pendidikan implisit dan eksplisit. 20

Menurut hemat penulis, tesis yang pertama adalah tesis yang

membahas tentang pendidikan akhlaq yang dilangsungkan dalam

keluarga tokoh agama Islam. Tesis kedua adalah membahas tentang

pendidikan moral (akhlak) di madrasah dalam konteks pendidikan terbatas

hanya pada pendidikan atau pengajaran yang disampaikan di dalam kelas.

Tesis ketiga membahas atau mengkaji tentang pemikiran pendidikan moral

dalam perspektif Hamka. Sedangkan penelitian yang akan penulis

ketengahkan adalah berkenaan dengan upaya yang dilakukan oleh seluruh

komponen madrasah baik tenaga pendidik atau kependidikan dalam bentuk

pemberian contoh (tauladan) dan penciptaan lingkungan madrasah sebagai

perwujudan pengamalan nilai-nilai akhlak yang telah diajarkan dalam

20

Munawir, “Pendidikan Moral dalam Perspektif Hamka” (Tesis--IAIN Sunan Ampel, Surabaya,

2000).

11


entuk teori oleh guru aqidah akhlak, dan juga menjelaskan gambaran

bagaimana strategi dalam mendidik akhlak siswa khususnya di MTs Al

Fatich Surabaya, yang berada madrasah ini satu atap dengan Pondok

Pesantren yang mayoritas siswanya adalah santri pondok pesantren Al

Fatich.. Walaupun penelitian ini sama meneliti tentang tema akhlak atau

moral, sasaran penelitiannya berbeda.

G. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian dan Pendekatan

Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan

menggunakan metode penelitian deskriptif–kualitatif dengan pendekatan

fenomenologi. Deskriptif adalah penelitian suatu kelompok manusia,

suatu obyek, suatu sistem pemikiran atau suatu kasus peristiwa pada masa

sekarang, bertujuan untuk membuat gambaran secara sitematis, faktual

dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat sifat serta hubungan antara

fenomena yang diselidiki. 21 Metode deskriptif ini juga berkaitan dengan

pengumpulan data untuk memberikan gambaran atau penegasan suatu

konsep atau gejala juga menjawab pertanyaan sehubungan dengan obyek

penelitian pada saat ini. 22

Penelitian ini termasuk pada penelitian kualitatif, karena sifat data

yang dikumpulkan bercorak kualitatif, bukan menggunakan kuantitatif

yang menggunakan alat-alat pengukur. Menurut Arikunto, penelitian

21 Moh. Nazir, Metodologi Penelitian (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988), 63.

22 Sumanto, Methode Penelitian Sosial dan Pendidikan, (Yogyakarta: Anda Offset, 1990), 8.

12


kualitatif merupakan penelitian non-hipotesis, sehingga dalam langkah

penelitiannya tidak memerlukan rumusan hipotesis. 23

Data dan sumber data dalam penelitian ini diambil dalam situasi

alami dengan mempertimbangkan konteks di mana fenomena itu terjadi.

Karena itu, penelitian ini menggunkan pendekatan fenomenologis, dalam

arti berusaha menemukan kembali pengalaman dasar berupa nilai nilai

dasar dari upaya penanaman nilai akhlak bagi peserta didik. Jika dikaitkan

dengan masalah yang akan diteliti, maka penelitian ini hanya

mendiskripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variabel yang diteliti

tanpa menggunakan hipotesa. Di dalamnya terdapat upaya untuk

mendeskripsikan ,mencatat, menganalisa dan mengiterpretasikan masalah

yang diteliti. 24

2. Sumber Data

Penelitian ini dilakukan dengan penggalian data secara mendalam

dengan berbagai teknik pengumpulan data. Adapun sumber data diambil

dari subyek penelitian, dalam hal ini adalah segala pihak yang terlibat

dalam proses pendidikan di MTs Al Fatich Surabaya, di antaranya; kepala

kadrasah, dewan guru, tenaga administrasi, wali murid, pengurus yayasan

dan komite MTs Al Fatich Surabaya.

3. Teknik Pengumpulan Data

Beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah:

23

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,

2006), 147.

24

Mardalis, Metode Penelitian, Suatu pendekatan Proposal (Jakarta: Bumi Aksara 1999, 26.

13


a. Observasi

Pengumpulan data dengan cara ini adalah dengan cara

pengamatan langsung dengan tanpa menggunakan alat bantu. 25 Dalam

hal ini pengamatan yang dilakukan, dapat berupa pengamatan yang

terstruktur maupun tak terstruktur (eksploratori). Sedangkan berkaitan

dengan posisi peneliti dalam hubungannya dengan subyek penelitian

(sumber data), dipilih teknik pengamatan terlibat. Peneliti bersosialisasi

di lingkungan sebagai bagian integral dari lingkungan dimaksud. 26

Dengan demikian diharapkan berbagai informasi akan terungkap, dan

mudah didapatnya, demikian pula keakuratan data lebih terjamin.

Meskipun seorang peneliti di sini harus melepas semua subyektifitas

yang dimilikinya.

b. Inteview

Teknik ini akan memberikan informasi unik dengan struktur

bahasa yang unik pula. Dalam penggunaan teknik ini, maka susunan

kalimat dari narasumber dibiarkan apa adanya, untuk memberikan

aksentuasi pada jawaban responden sebagaimana adanya. 27

Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak

terstruktur, yaitu wawancara yang penelitinya hanya membuat garis

besar arah pembicaraan, 28 agar memungkinkan penggalian informasi

25 Moh Nazir, Metode Penelitian, , 175.

26 Setya Y. Sudikan, Metode Penelitian Pendidikan (Surabaya: UNESA Unipress, 2001), 175.

27 Sanapiah Faisol, Metode Penelitian Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1982), 215.

28 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, , 227.

14


yang lebih mendalam dan detail, serta menunjang posisioning peneliti

sebagai teman.

Variasi yang mungkin dilakukan hanyalah bentuk wawancara

semi struktur, yaitu dengan pengajuan serentetan pertanyaan dasar yang

sudah terstruktur sederhana di awal, dengan dilanjutkan pendalaman

yang secara murni tidak terstruktur

Adapun orang yang diwawancarai adalah pihak yang terlibat

dalam pelaksananaan pendidikan akhlak di MTs Al Fatich Surabaya,

seperti; Kepala sekolah, dewan guru, pengurus yayasan, komite

madrasah dan orang tua siswa.

c. Dokumentasi

Dalam hal ini peneliti bermaksud mencari sumber-sumber data

berupa catatan, buku maupun dokumen yang berhubungan dengan

obyek penelitian.

4. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan upaya mencari makna dari penomena dan

ungkapan responden kemudian menata secara sistematis catatan hasil

observasi, wawancara dan sebagainya untuk memberikan pemahaman

kepada peneliti tentang beberapa hal yang bersangkutan dengan

pendidikan akhlak di MTs Al Fatich Surabaya. Analisa data dilakukan

15


sebagai upaya mencari hal-hal (faktor-faktor) yang berhubungan dengan

pendidikan akhlak agar dapat menghasilkan uraian data yang valid.

Analisis data akan terus dilakukan selama proses penelitian

berlangsung. Ini dimaksudkan agar peneliti tidak kehilangan nilai kehasan

situasional dari setiap data yang ada. Adapun langkah-langkah dalam

analisis data adalah sebagai berikut:

a. Reduksi data

Merupakan proses pemilihan, pemutusan perhatian pada

penyederhanaan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-

catatan lapangan. Reduksi data berlangsung terus-menerus selama

penelitian berlangsung. 29

b. Display

Adalah proses pengumpulan data sehingga memudahkan

dalam menganalisa. Beberapa data yang ada disusun dalam satuan dan

diberikan kode sesuai dengan tema. 30

c. Kritik

Adalah proses penelitian secara mendalam dan hati-hati

terhadap obyek penelitian data, karena tidak menutup kemungkinan

akan terjadinya perkembangan dan ditemukannya hal-hal yang baru. 31

d. Pengambilan kesimpulan dan verifikasi

29

Imam Suprayoga dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial – Agama (Bandung: Remaja

Rosdakarya, 2001), 192-193.

30

Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2002), 190.

31

Noeng Muhajir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001), 109.

16


Hal ini dalah merupakan langkah akhir dari analisa data,

setelah langkah ini selesai peneliti mulai mengolah data. 32 Dalam

analisis, kegiatan pengumpulan data, reduksi data, penyajian dan

penarikan kesimpulan merupakan proses siklus yang berlangsung terus

menerus. Selain itu juga dilakukan analisis perbandingan atas

pertimbangan kondisi harapan dan kenyataan, sehingga diketahui

tingkat penyimpangan data dari pola idealitasnya. 33

5. Tempat Penelitian

Tempat penelitian adalah Madrasah Tsanawiyah Al Fatich Jl.

Tambak Osowilangun 98. Kelurahan Tambak Osowilangun, Kecamatan

Benowo, Kota Surabaya Propinsi Jawa Timur.

H. Ruang Lingkup Pembahasan

Mengingat luasnya skope permasalahan yang tercakup dalam

penelitian ini, maka menurut hemat penulis perlu adanya pembatasan masalah

dalam proses penelitian ini, sehingga diharapkan akan tercipta penelitian yang

terfokus pembahasan, ruang lingkup pembahasan berkisar pada strategi yang

dilakukan madrasah dalam pembelajaran pendidikan akhlak siswa di MTs Al

Fatich Surabaya.

F. Sistematika Pembahasan

32 Lexy J Moleong, Metodologi, 190.

33 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, 257-258.

17


Sistematika pembahasan ini menunjukkan mata rantai pembahasan dari

awal hingga akhir, terdiri dari enam bagian yang di susun secara sistematis

dengan perincian bab demi bab sehingga lebih mudah untuk dipahami.

Bab I adalah merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang,

perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, penegasan judul, metode

penelitian, ruang lingkup pembahasan, penelitian terdahulu serta sistematika

pembahasan.

Bab II adalah tinjauan umum tentang strategi Pendidikan, Bab II ini

meliputi: Pengertian strategi, ruang lingkup pendidikan akhlak, metode

pembinaan akhlak, pendidikan akhlak terpadu di madrasah, faktor-faktor yang

mempengaruhi pendidikan akhlak.

Bab III adalah deskripsi Obyek Penelitian. Di dalamnya diuraikan :

Profil lokasi penelitian, profil sekolah, Strategi pendidikan akhlak di MTs Al

Fatich, Pelaksanaan pendidikan akhlak di MTs Al Fatich.

Bab IV adalah deskripsi Pendidikan Akhlak di MTs Al Fatich dan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya : Di dalamnya diuraikan : Strategi

pendidikan akhlak di MTs Al Fatich, Aplikasi konsep dan strategi pendidikan

akhlak di MTs Al Fatich, Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat

pendidikan akhlak di di MTs Al Fatich.

Bab V adalah penutup berisi kesimpulan dan saran. Adapun yang

terakhir dari Tesis ini lampiran-lampiran serta daftar pustaka

18

More magazines by this user
Similar magazines