Pedoman Pengelolaan Program Gizi di puskesmas

suyatno.blog.undip.ac.id

Pedoman Pengelolaan Program Gizi di puskesmas

Pada tingkat kecamatan atau Puskesmas program perbaikan gizi merupakan salahprogram dasar puskesmas dari 7 (tujuh) program dasar yang ada, yaitu ProgramKesehatan Ibu dan Anak (KIA), Program Perbaikan Gizi, Program Kesehatan Lingkungan,Program Promosi Kesehatan, Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P),Program Pengobatan dan Program Spesifik Lokal. Berhasil tidaknya pelaksanaan ke tujuhprogram ini, semua tergantung dari pengelolaan atau penyelenggaraannya termasukpengelolaan program perbaikan gizi.Lima Langkah Pengelolaan Program Gizi PuskesmasPengelolaan program gizi di Puskesmas, sebenarnya telah diatur oleh program giziditingkat Kabupaten (Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota), namun demikian agar programperbaikan gizi di Kecamatan dapat langsung memberikan dampak pada tingkatkabupaten, seyogyanya harus di kelolah dengan baik. Ada lima langkah yang harus diperhatikan dalam pengelolaan program perbaikan gizi pada tingkat puskesmas sepertiyang diperlihatkan pada gambar berikutLIMA LANGKAH PENGELOLAAN PROGRAMPERBAIKAN GIZI DI PUSKESMASControling andEvaluationLangkah IIDENTIFIKASIMASALAHPlaningLangkah VPEMANTAUANDAN EVALUASILangkah IIANALISISMASALAHLangkah IVMELAKSANAKANPROGRAMPERBAIKAN GIZIActuatingLangkah IIIMENENTUKANKEGIATANPERBAIKAN GZIOrganisingLima langkah pengelolaan program perbaikan gizi di Puskesmas pada dasarnya samadengan langkah-langkah pada pedoman pengelolaann gizi yang dilakukan di TingkatKabupaten yang dikeluarkan Direktorat Bina Gizi Depkes RI, dimulai dari Langkahpertama yaitu Identifikasi Masalah, kemudian Langkah Kedua Analisis masalah. Langkahpertama dan kedua biasa dikenal dengan perencanaan (planing). Langkah Ketiga adalahPage 2


Menentukan kegiatan perbaikan gizi, langkah ini biasa juga dikenal atau disebut jugadengan pengorganisasian (organising). Langkah Keempat adalah melaksanakan programperbaikan gizi, langkah ini disebut juga dengan Pelaksanaan (actuating). Dan yangterakhir adalah Langkah Kelima yaitu pantauan dan evaluasi, langkah ini disebut jugadengan (controlling anda evaluation).Langkah Pertama Identifikasi MasalahDalan identifikasi masalah gizi, Langkah-langkah yang perludiperhatikan adalah mempelajari data berupa angka atauketerangan-keterangan yang berhubungan dengan identifikasimasalah gizi. Kemudian melakukan validasi terhadap data yangtersedia, maksudnya melihat kembali data, apakah sudah sesuaidengan data yang seharus dikumpulkan dan dipelajari. Selanjutnya mempelajari besarandan sebaran masalah gizi, membandingkan dengan ambang batas dan atau targetprogram gizi, setelah itu rumuskan masalah gizi dengan menggunakan ukuranprevalensi dan atau cakupan.Setelah masalah gizi teridentifikasi, kemudian dilanjutkan dengan penentuan prioritasmasalah, yang dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikuta. Tentukan prioritas masalah (P) yaitu dengan memperhatikan tiga komponenpenting yaitu Pentingnya masalah (I), Kelayakan teknologi (T), Sumber daya yangtersedia (R). Untuk mempermudah digunakan rumus P=I x T x R (Baca : “Pe” samadengan “I” kali “Te” kali “eR”)b. Nilainya dapat dibuat dengan beberapa kategori misalnya untuk “I” dipakai tigakategori yaitu nilai 1 dengan kategori kurang penting, nilai 2 dengan kategoripenting dan kategori 3 dinyatakan sangat penting.c. Untuk nilai “T” dipakai juga dengan tiga kategori yaitu nilai 1 adalah mudah, nilai duaadalah sulit, dan nilai tiga adalah sangat sulit. Dan untuk nilai “R” dapat dipakai “ya”dengan nilai 2 dan “Tidak” dengan nilai 1Sebagai contoh menentukan prioritas masalah gizi terhadap empat masalah gizi utama,Kurang Energi Protein (KEP), Gangguan Akibat kekurangan Yodium (GAKY), KurangVitamin A (KVA) dan Anemia Gizi, seperti yang diperlihatkan pada contoh tabel rumusanprioritas masalah. Prioritas masalah juga dapat dilihat dari komponen dari empatmasalah gizi utama misalnya gizi kurang dengan penyebab utamanya konsumsi kaloriPage 3


dan protein yang kurang, pola asuh yang salah dan tingginya penyakit infeksi (misalnyacacingan) pada anak balita.Rumus Prioritas masalahMasalah I T R P PrioritasKEP 5 2 2 20 IGAKY 3 3 2 18 IIKVA 3 1 2 6 IVAnemia Gizi 3 3 1 9 IIIKet.Nilai untuk INilai 5 = Sangat pentingNilai 3 = PentingNilai 1 = Kurang pentingNilai untuk TNilai 5 = Sangat sulitNilai 3 = SulitNilai 1 = mudahNilai untuk RJawaban ya = 2tdk = 1Untuk menentukan besaran dan sebaran masalah gizi, sebaiknya diketahui juga ambangbatas besaran masalah gizi, berikut disajikan ambang batas penentuan besaran masalahgizi berdasarkan prevalensi.AMBANG BATAS PENENTUAN BESARAN MASALAH GIZIBERDASARKAN PREVALENSIMASALAH GIZIBebasMasalahBERDASARKAN PREVALENSIMasalahRinganMasalahSedangMasalahBeratSUMBERDATAGIZI KURANG < 5% 5 - 9,9, % 10 - 19,9, % > 20 % PSGGIZI BURUK < 1% > 1% SurvailanseKEK WUS < 20% 20 - 30, % > 30, % Survei cepatANEMIA1. Ibu hamil < 15% 15 - 40, % > 40, % Survei cepat2. Balita < 15% 15 - 40, % > 40, % Kohort ibu3. WUS < 15% 15 - 40, % > 40, % Kohort balitaXEROPTHALMIA < 0,5% > 0,5% LB1, surveiBBLR < 5% 5 - 9,9, % 10 - 14,9, % > 15% Kohort bayiGAKI ( TGR ) < 5% 5 - 19,9, % 20 - 29,9, % > 30% Mapping GAKIGIZI LEBIH < 5% 5 - 9,9, % 10 - 19,9, % > 20%Survei CepatIMTPage 4


Disamping itu juga Ambang batas penentuan besaran masalah gizi berdasarkancakupan yang didasarkan pada standar pelayanan minimal sebagaimana yangdikeluarkan oleh Depkes RI sebagai berikut.1. Pemberian kapsul Yodium, untuk Anak Sekolah dan WUS (Wanita Usia Subur)cakupan harus 80%, ibu hamil/nifas cakupannya harus 100%2. Pemberian Vitamin A Dosis Tinggi pada balita termasuk usia 6-11 bulancakupanya harus 80 %, Ibu nifas cakupannya harus 100%.3. Pemberian tablet tambah darah untuk ibu hamil satu butir satu hari selama 90hari cakupannya harus 80%, pemberian sirup besi pada balita gizi buruk dengananemia gizi besi cakupannya harus 80%4. Penggunaan Garam Beryodium di tingkat Rumah Tangga cakupannya harus 90%.5. Pelayanan gizi buruk dengan perawatan standar, cakupannya harus 100%.6. Pemberian MP-ASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu) pada balita keluargamiskin cakupannya harus 100%7. Keluarga Sadar Gizi (Kadarsi) cakupannya harus 70%8. SKDN dengan indicator partisipasi masyarakat (D/S), Hasil Program (N/S), LiputanProgram (K/S), dan Hasil Penimbangan (N/D) masing-masing cakupannya harus80%, serta Persen Balita BGM di posyandu tidak boleh lebih dari 15 %.9. Kecamatan Bebas Rawan gizi cakupannya harus 100 % dengan skor aman diatas6 point.Standar Pelayanan Minimal (SPM) merupakan pelayanan yang mempunyai dampakterhadap penurunan prevalensi. Disamping itu dapat ditentukan Standar pelayananKecamatan ditentukan oleh rata-rata kecamatan (puskesmas) dari presentase desa dankelurahan.Contoh1. D/S Desa Paku = 60 %2. D/S Desa Mirring = 40 %3. D/S Desa Batetanga =50 %Bila Puskesmas hanya mempunyai tiga desa tersebut, berarti rata-rata Puskesmasadalah 50 %, ini merupakan target yang harus dicapai Desa Mirring karena cakupannyabaru 40%, diinterpretasikan sebagai daerah yang sangat perlu mendapatkan intervensi(diatasi). Bagi Desa Paku dan desa Batetanga yang cakupannya diantara rata-ratakecamatan dan target SPM harus terus ditingkatkan guna mencapai target SPM 80 %,interpretasinya sebagai daerah yang perlu diwaspadai.Page 5


PersenLangkah Kedua : Analisis MasalahAnalisis masalah didasarkan pada Penelaahan hasil identifikasidengan menganalisis faktor penyebab terjadinya masalahsebagaimana yang disebutkan diatas, tujuannya untuk dapatmemahami masalah secara jelas dan spesifik serta terukur,sehingga mempermudah penentuan alternatif masalah. Caranyadapat dilakukan dengan Analisis Hubungan, Analisis Perbandingan, AnalisisKecenderungan dan lain-lainLangkah-langkah analisis masalah dapat dilakukan sebagai berikut1. Tentukan masalah gizi yang menjadi prioritas disuatu wilayah (Desa)2. Lakukan telaahan pada faktor penyebab, dengan melihat berbagai data.3. Tetapkan wilayah (desa) yang menjadi prioritas dalam penanggulangan. ContohAnalisis kecenderungan dapat diketahui Trend meningkatnya prevalensi dariwaktu-kewaktu di suatu wilayah (desa), Trend menurunnya cakupanprogramdari waktu-kewaktu di suatu wilayah (desa)4. Desa dimana prevalensi masalah gizi trend tinggi atau cakupan program trendturun mendapat prioritas dalam program perbaikan gizi.Contoh berikut Analisis kecenderungan berdasarkan LAM (Local Area Monitoring) atausekarang diistilahkan PWS (Pemantauan Wilayah Setempat).Contoh Analisis Kecenderungan berdasarkan LAM10080Target SPM50Target Rata-rata KecDesa Paku Mirring Amss Bat Binuang% Kumulatif (Jan-Des)% bulan ini% Bulan lalutrendNo. Urut SasaranPada contoh LAM terlihat cakupan pelayanan program gizi per desa misalnya pemberianvitamin A pada balita, dicantumkan targetnya (target SPM), penting juga dicantumkanPage 6


Desa KuajangDesa Pakutarget rata-rata kecamatan sebagai target desa untuk mencapainya terutama cakupandesa yang masih berada di bawah rata-rata, hal ini dilakukan dengan prinsip tidakterlalu memaksakan peningkatan cakupan sampai mencapai target SPM tetapi dilakukansecara bertahap, sebaliknya bila tidak digunakan sebagai target, upaya peningkatannyaterlalu sulit untuk mencapai target SPM sehingga cenderung diabaikan.Pada gambar terlihat juga cakupan yang terdiri dari persen rata-rata kumulatif, persenbulan ini dan persen bulan lalu. Persen rata-rata kumulatif merupakan jumlahkeseluruhan cakupan perbulannya dibagi jumlah bulan misalnya cakupan bulan januari –Maret masing-masing 40, 50, 60 adalah jumlah keseluruhan 150 dibagi 3 bulan samadengan 50. Cakupan inilah yang diperlihatkan dalam bentuk tabel Batang LAM.Sementara Trend di perlihatkan pada cakupan bulan ini dan bulan lalu, ditulis “naik” bilacakupan bulan ini lebih besar dari bulan lalu, ‘Turun” bila cakupan bulan ini lebih kecildari cakupan bulan lalu.Yang sangat perlu diperhatikan dalam LAM selain wilayah dan waktu juga pentingadalah orang atau sasaran. Dalam LAM tidak perlu disebutkan jumlahnya karena sudahterlihat pada cakupan, tetapi yang ditulis adalah nomor urut sasaran. Kriteria penentuannomor urut sasaran didasarkan pada sasaran yang terbanyak merupakan nomor urut1(satu) dan seterusnya. Hal ini dilakukan karena LAM yang dibuat dapat dengan mudahdianalisis sebagai upaya untuk tindakan kewasapadaan dan keadaan yang perlu diatasi.Agar analisis pada LAM lebih terlihat focus, dapat juga disajikan bersandingan denganPETA, sebagai contoh dibawah ini disajikan peta berdasarkan LAM Kecamatan BinuangKabupaten Polewali Mandar.PETA BERDASARKAN LAMKECAMATAN BINUANGDesa BatetangaDesa MammiKel AmassanganDesa TonyamanDesa MerringDiatas TargetKeadaan yang perlu diwapadaiKeadaan yang perlu segera diatasiPage 7


Desa KuajangDesa PakuPada peta dapat diberi warna, warna hijau sebagai tanda cakupan telah berada diatastarget SPM, warna kuning sebagai keadaan yang perlu diwaspadai yaitu cakupan yangberada diantara Target SPM dan Rata-Rata Kecamatan (Puskesmas). Warna merahadalah keadaan yang perlu segera diatasi yaitu cakupan yang berada di bawah rata-ratakecamatan (puskesmas).Disamping Cakupan Kegiatan dapat disajikan dalam bentuk LAM dan Peta Cakupan,juga dapat disajikan berdasarkan prevalensi dalam suatu wilayah kecamatan. Sebagaicontoh disajikan dibawah ini peta berdasarkan prevalensi gizi kurang pada kecamatan.PETA BERDASARKAN PREVALENSIKECAMATAN BINUANGDesa BatetangaDesa MammiKel AmassanganDesa TonyamanDesa MerringBebasMasalahMasalahRinganMasalahSedangMasalahBeratGIZI KURANG < 5% 5 - 9,9, % 10 - 19,9, % > 20 %Peta berdasarakn prevalensi ini diberikan warnai sesuai dengan berat-ringannyamasalah gizi, warna hijau dapat diberikan pada keadaan gizi kurang yang prevalensinya< 5% (baca : dibawah 5 persen) yang menunjukkan keadaan bebas dari masalah gizikurang, demikian untuk masalah kurang gizi yang ringan, sedang dan berat dapatdiberikan warna masing-masing kuning, merah dan hitam.Langkah Ketiga : Menentukan Kegiatan Perbaikan GiziLangkah ini didasarkan pada analisis masalah di kecamatan yangsecara langsung maupun tidak langsung yang berkaitan denganupaya peningkatan status gizi masyarakat, sebagaimana yangdiperlihatkan dalam analisis LAM diatas. Langkah ketigapengelolaan program perbaikan gzizi ini dimulai dengan penetapantujuan yaitu upaya-upaya penetapan kegiatan yang dapat mempercepatpenanggulangan masalah gizi yang ada. Dalam menyusun tujuan di kenal dengan istilahPage 8


– Pelayanan gizi di di rumah– Pemantauan dan evaluasi• Biaya : identifikasi sumber dan besarnya biaya yang dibutuhkan• JadwalLangkah Keempat : Melaksanakan program perbaikan giziSetelah kegiatan perbaikan gizi tersusun, kemudian dilakukanlangkah-langkah yang terencana untuk setiap kegiatan. Jeniskegiatan yang akan dilakukan meliputi Advokasi, Sosialiasi,Capacity Buiding, Pemberdayaan Masyarakat dan keluarga,Penyiapan sarana dan prasarana, Penyuluhan Gizi dan PelayananGizi di Puskesmas maupun di Posyandu. Masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:1. ADVOKASI adalah proses mempengaruhi perilaku, opini dari pimpinan atauseseorang melalui penyampaian informasi. Dalam Advokasi yang perlu diperhatikanadalah penyajian besar dan luasnya masalah, siapa, dimana, konsekwensi,bagaimana menanggulangi, sarana yang diperlukan dan biaya yang diperlukan2. SOSIALISASI yaitu memasyarakatkan suatu informasi atau kegiatan dengan Tujuanguna memperoleh pemahaman yang baik sehingga dapat berperan aktif dalammenunjang pelaksanaan kegiatan. Program yang telah ditetapkan perludisosialisasikan kepada stakeholder.3. CAPACITY BUILDING yaitu Untuk mempersiapkan pelaksanaan program perlupeningkatan kemampuan petugas yang antara lain dapat dilakukan melalui minilokakarya puskesmas, pelatihan tehnis maupun manajerial sesuai kebutuhan.Misalnya Pelatihan kader,Pelatihan permberdayaan keluarga sadar gizi dan lainlain.4. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT dan PEMBERDAYAAN KELUARGA yaitu kegiatankegiatanyang diarahkan pada pemecahan masalaH gizi berdasarkan potensi yangdimiliki oleh masyarakat dan keluarga sendiri. Pemberdayaan masyarakat dapatdilakukan melalui revitalisasi posyandu, sedangkan pemberdayaan keluarga dapatdilakukan melalui revitalisasi UPGK (Usaha Perbaikan Gizi Keluarga) danPemberdayaan institusi.5. PENYIAPAN SARANA DAN PRASARANA misalnya KMS (kartu menujuh sehat), MateriKIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi), ATK (Alat Tulis Kertas) dan lain-lainPage10


6. PENYULUHAN GIZI, yaitu kegiatan yang ditujuhkan untuk memasyarakatkanpengetahuan gizi secara luas. Guna menanamkan sikap dan perilaku yangmendukung kebiasaan hidup sehat dengan makanan yang bermutu gizi seimbangbaik masyarakat pedesaan maupun perkotaan7. PELAYANAN GIZI POSYANDU DAN PUSKESMAS, yaitu kegiatan petugas gizi kepadainduvidu-induvidu yang membutuhkan layanan gizi. Pelayanan gizi di Posyandudiberikan pada pelayanan gizi di Posyandu misalnya Pemberian tablet tambah darahpada bumil, bufas, WUS serta sirup besi kepada balita, Pemberian kapsul vitamin Abalita dan bufas, Pemberian kapsul Yodium kepada WUS didaerah endemik sedangdan berat, Pemberian makanan tambahan penyuluhan dan pemulihan kepada balitadan bumil. Pelayanan Gizi di Puskesmas diberikan pada Pelayanan Gizi di Puskesmasmisalnya Pelayanan gizi profesional melalui POJOK GIZI, Penatalaksanaanpenanggulangan gizi buruk, Pemeriksaan Hemoglobin (Hb) bagi ibu hamil, ibu nifas,remaja putri, WUS (Wanita Usia Subur), Deteksi Dini gizi kurang dan buruk, KVA(Kurang Vitamin A) dan GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium). Pelayanan gizidapat juga diberikan pada Institusi tertentu yang membutuhkan pelayanan gizimisalnya di panti/Pusat Pemulihan Gizi.Langkah Kelima : Pemantauan dan EvaluasiKegiatan Pemantauan yang baik selalu dimulai sejak langkah awalperencanaan dibuat sampai dengan suatu kegiatan telah selesaidilaksanakan, sedangkan evaluasi hanya melihat bagian-bagiantertentu dari kegiatan yang dilaksanakan.PEMANTAUAN adalah Pengawasan secara periodik terhadap pelaksanaan kegiatanprogram perbaikan gizi dalam menentukan besarnya INPUT yang diberikan, PROSESyang berjalan maupun OUTPUT yang dicapai. Tujuannya untuk menindak lanjutikegiatan program SELAMA pelaksanaan kegiatan, dilakukan untuk menjamin bahwaPROSES pelaksanaan sesusai Action Plan dan jadwal.Kegiatan pemantauan dapat dilakukan melalui Sistem Pencatatan dan Pelaporantermasuk laporan khusus, Pelaksanaan Quality Assurance Pelayanan Gizi dan Unitpengaduan masyarakat. Hasil Kegiatan pemantauan kemudian dibuatkan lagi kegiatankegiatanTindak lanjut pemantauan yang dilakukan melalui Umpan balik, Supervisi danBimbingan tehnisPage11


EVALUASI adalah Suatu proses untuk mengukur keterkaitan, efektivitas, efisiensi dandampak suatu program, dilakukan dengan Tujuan Memperbaiki rancangan,Menentukansuatu bentuk kegiatan yang tepat, Memperoleh masukan untuk digunakan dalamPROSES perencanaan yang akan datang dan Mengukur keberhasilan suatu program.PenutupPengelolaan program gizi di Puskesmas, sebenarnya telah diatur oleh program giziditingkat Kabupaten (Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota), namun demikian agar programperbaikan gizi di Kecamatan dapat langsung memberikan dampak pada tingkatkabupaten, seyogyanya harus dibuatkan pedoman agar dapat di kelola dengan baik.Seperti hal Pengelolaan Program Gizi Kabupaten, ada lima langkah yang harus diperhatikan dalam pengelolaan program perbaikan gizi pada tingkat puskesmas yaituIdentifikasi Masalah, Analisis masalah, Menentukan kegiatan perbaikan gizi,melaksanakan program perbaikan gizi, Dan pantauan-evaluasi.Demikian pedoman pengelolaan program gizi, dirancang untuk para pelaksana gizi ditingkat puskesmas, juga dapat digunakan sebagai pedoman dalam pertanggung jawabanpelaksanaan program gizi di tingkat kecamatan.Page12

More magazines by this user
Similar magazines