GRATIS

kasmusers

unplugID-1

INSPIRASI DAN EDUKASI . DIPERSEMBAHKAN OLEH

GRATIS

1

JAN-FEB 2016

MAJALAH

ALAT MUSIK

DAN MUSISI

TOLERANSI TERHADAP RIDER

KOMUNITAS

Mesin Music Club ITS

STUDIO

Studio Soeara Madjoe

REVIEW

Yamaha THR100H Dual


MENJAGA TATANAN INDUSTRI

DENGAN BUDAYA PARTISIPASI

Selamat datang 2016, selamat datang Masyarakat Ekonomi Asean. Pada tajuk rencana edisi

perdana Unplug ini, pertama-tama saya mewakili segenap tim AVL Times yang tersebar di beberapa negara

Asia dan Eropa mengucapkan terimakasih kepada Anda semua, seluruh insan yang terlibat dalam industri

alat musik Indonesia. Mulai dari studio rehearsal yang menyembul di antara pematang sawah, mobil pickup

yang mengangkut musisi “organ tunggal” dan PA System-nya, festival band 17-an, selebaran bertuliskan

“dicari alat musik” yang menempel di tiap sudut kota, hingga berseliwerannya penunggang sepeda motor

yang menggendong gigbag. Pemandangan inspiratif seperti itulah yang membuat kita merasa berada di

rumah.

Budaya partisipasi adalah tema skripsi saya, yang jika boleh saya kemukakan lagi mengutip

Schaffer dalam Bastard Culture (Amsterdam University Press, 2011), adalah budaya yang lahir akibat

perkembangan media yang semakin interaktif sehingga konsumen dapat berubah menjadi produsen.

Sebuah budaya yang memungkinkan konsumen ikut berpartisipasi dalam proses produksi. Dan budaya

ini dituding sebagai salah satu penyebab media-media yang mengandalkan oplah cetak sebagai ujung

tombaknya mulai gulung tikar.

Agar budaya partisipasi dapat memberi manfaat bagi semua pihak, maka perlu adanya kolaborasi

massa. Budaya ini harus dikelola, bukan dibiarkan mubazir atau malah dihentikan (karena percuma).

Menurut Tapscott dan Williams (Wikinomics: How Mass Collaboration Changes Everything:2006), cara

perusahaan modern untuk sukses adalah dengan berpegang teguh pada empat prinsip : keterbukaan,

kebersamaan, berbagi, bertindak global.

Di majalah Unplug ini, saya mencoba terbuka dan berkolaborasi terhadap konten-konten yang belum

pernah dimuat di media musik (seperti komik), serta melibatkan insan akademis (seperti mahasiswa).

Dengan semangat kebersamaan, Unplug akan melibatkan seluruh insan industri hingga ke end-user dengan

memberdayakan komunitas-komunitas lintas genre dan lintas instrumen. Media online seperti yang

sekarang kita gunakan merubah format majalah cetak menjadi lebih mudah dibagikan dan menciptakan

efisiensi bagi semua kalangan. Dengan harapan, konten-konten pada majalah ini dapat menghancurkan

hambatan geografis dan fisik sehingga menjadi global.

Tidak ada yang meragukan potensi industri alat musik di Indonesia. Melihat contoh Korg Pitchblack

(yang sudah terjual 20 juta unit secara global), membuktikannya dengan penjualan di Indonesia adalah

peringkat 1 dibandingkan negara lain. Sehingga, adalah suatu hal yang mengherankan bahwa media musik

di Indonesia bisa dihitung dengan jari bukan?

Nah, saat melakukan proses brainstorming dengan senior saya di kampus, Erick Erawan yang

menjabat salah satu manager di media lifestyle terkemuka dan pernah menyabet pemain bass terbaik di

kampus, media tentang musik memang sulit karena cakupannya terlalu luas. Padahal, media saat ini harus

berfokus pada niche informasi dengan memiliki keunikan konten. Akhirnya, saya muncul dengan gagasan

media yang khusus mengenai alat musik. Sehingga dengan Unplug, publik lintas genre dapat terakomodasi

dengan berangkat dari satu tema : alat musik.

Berpredikat sebagai satu-satunya media tentang alat musik populer berbahasa Indonesia, saya

rasa inilah momen yang tepat untuk membuktikan pada dunia bahwa industri musik pada umumnya dan

industri alat musik pada khususnya di Indonesia dapat senantiasa memberikan inspirasi bagi seluruh

lapisan masyarakat. Akhir kata, dengan segala kerendahan hati saya selalu terbuka terhadap pertanyaan,

kritik, dan saran. Dan bagi Anda yang juga tertarik dengan dunia Pro Audio, video, dan tata cahaya, silahkan

akses AVL Times Indonesia.

Good luck untuk Joey Alexander. Harapan dan cita-cita Indonesia ada di genggaman tanganmu, nak.

Salam hangat,

Aryo Prionggo S.I. Kom.

Pemimpin Redaksi


DAFTAR ISI

Vol. 1 / Jan-Feb 2016

THE PANEL

klik

Penerbit / CEO

Clarence Anthony

avltimes@gmail.com

klik

klik

This Issue…

Profile

NAIF Toleran Terhadap Rider

Mengupas sepak terjang

KORG di Indonesia

Arif Hidayat dan Geliat Ahay

Drums

Studio

Studio Soeara Madjoe

Komunitas

Mesin Music Club ITS

Teknik

Bagaimana bersuara seperti

Chris Wolstenholme

klik

Event

Berbeda-beda merek, pada

akhirnya satu kiblat sound juga

Line 6 sambangi Bogor

Melodia hadir di Yogyakarta

Mengenal sistem digital wireless

Line 6

Review

Rockwell RMB 32

Yamaha THR 100 H Dual

Unplug Series

Vienetta : Feat The Stupid Aliens

Pemimpin Redaksi

Aryo Prionggo

aryoprionggo@gmail.com

Kontributor

Danu Wisnu Wardhana

Naufal Elroissi

Cover Photo

MP Photography

Iklan dan Promosi:

Indonesia

aryoprionggo@gmail.com

International

avltimes@gmail.com

Account

Bank Danamon: 10738656

Dipersembahkan oleh

Peringatan: Semua isi dilindungi, Tidak ada bagian dari isi majalah yang bisa direproduksi atau digunakan tanpa izin tertulis dari penerbit: C.A. Editorial Consultants (Singapore).

Semua informasi yang terdapat dalam majalah ini hanya sebagai informasi saja. Dan sejauh yang kami ketahui, informasi tersebut benar saat akan dipublikasikan. Ide, komentar,

dan pendapat yang dikemukakan dalam publikasi ini adalah semata-mata dari penulis, narasumber, lembaga pers, serta produsen dan tidak mewakili pandangan editor atau penerbit.

Kami melakukan segala upaya untuk memastikan keakuratan dan kejujuran baik dari sisi editorial maupun konten dari iklan pada saat dipublikasikan. Namun penerbit tidak

bertanggung jawab atas ketidaktepatan atau kerugian yang dapat terjadi. Pembaca disarankan untuk menghubungi produsen dan/atau retailer secara langsung berkaitan dengan

harga produk/jasa sebagaimana dimaksud dalam majalah ini. Jika Anda mengirimkan materi kepada kami, Anda secara otomatis memberikan C.A. Editorial Consultants lisensi

untuk mempublikasikan kiriman Anda secara keseluruhan atau sebagian dalam semua edisi majalah, termasuk edisi berlisensi di seluruh dunia dan dalam format fisik atau digital di

seluruh dunia.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . event 4

BERBEDA-BEDA MEREK, PADA AKHIRNYA

SATU KIBLAT SOUND JUGA

PARADE PEDAL, INSTRUMEN, DAN AKSI VISUAL DI MUSE NIGHT

ADALAH HAL LUMRAH JIKA SEKELOMPOK PENGGEMAR BAND MENGADAKAN

GATHERING. KITA BISA MELIHAT ADA KOMUNITAS PENGGEMAR YANG SERING

MENGADAKAN KEGIATAN KUMPUL BARENG ATAU MALAM TRIBUTE SEPERTI YANG

DILAKUKAN OLEH PARA PENGGEMAR KOES PLOES, BEATLES, DAN LAIN

SEBAGAINYA. TAPI TANPA MENGECILKAN REPUTASI FANBASE LAINNYA, BISA

DIKATAKAN FANBASE MUSE DI INDONESIA MEMBAWA KONSEP “NGE-FANS”

KE LEVEL YANG LEBIH GILA.

Jika kita beranggapan dedikasi fans

untuk sebuah band adalah dengan dudukduduk

manis mendiskusikan album,

pengaruh kultural, atau kehidupan pribadi

musisi pujaan, maka aksi puluhan anggota

Muse Indonesia Fans Club di event bertajuk

Muse Night 13 Desember lalu seakan

menunjukkan cara menjadi fans dari sebuah

band. Dari sore hingga larut malam, tidak

kurang dari dua belas band membawakan

lagu-lagu Muse dari album awal, Showbiz,

yang terbaru Revolt, dan termasuk lagulagu

dari B-sidenya. Diakui Richy selaku

penggagas event, komunitas dari grup

Facebook yang berjumlah lebih dari 11.000

anggota ini memang kerap membicarakan

sound dari band yang dibentuk sejak 1994

ini. “Terutama lebih sering sound bass-nya

Chris Wolstenholme ya, karena pemain bass

pada umumnya jarang pakai efek aneh-aneh

seperti dia,” jelasnya.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . event 5

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Karena kerap berdiskusi tentang

sound, maka tidaklah mengherankan

jika pada hari itu seluruh band selain

menampilkan performa terbaiknya, juga

berlomba-lomba memaksimalkan gear yang

mereka punya. Sangat menarik melihat

mobilitas pergerakan para personil band

yang hilir mudik dengan pedalboard,

instrumen, simbal, dan bahkan amplifiernya

masing-masing. Dan disini terlihat apa

arti dari komunitas. Semua orang, termasuk

Richy yang juga merupakan admin dari grup

tersebut, ikut membantu mulai proses

soundcheck hingga lalu lintas panggung.

Cerminan konsep gotong royong pun

semakin terlihat saat beberapa band saling

meminjamkan personel-nya ke band lain,

sehingga additional player dadakan pun

bermunculan. Tidak hanya itu, bahkan

sebuah pedalboard bass pun ikut dipakai

bergantian oleh beberapa band. “Kota-kota

lain sudah sering mengadakan acara

jamming & gathering seperti ini. Mungkin

saran untuk kota lain agar bisa

mengembangkan dan lebih

menyebarluaskan ke masyarakat,”

ujar Richy.

Cort MBC-1 Jadi Primadona

Salah satu ikon dari Muse tentu saja

adalah Manson yang digunakan Matt

Bellamy. Namun dengan statusnya sebagai

gitar butik buatan Inggris, tentu saja produk

buatan Hugh Manson di Inggris ini tidak bisa

dibandrol dengan harga murah. Untungnya,

sejak tahun lalu Cort bekerja sama dengan

Manson untuk membuat MBC-1 dengan

harga yang jauh lebih terjangkau.

Bak gayung bersambut, Cort

Cort MBC-1 mampu memuaskan penggemar Muse

MBC-1 terbukti laris manis dengan

hampir setengah band yang tampil pada

Muse Night menggunakannya. “Itu Cort

signature-nya Matt Bellamy asli mantab,

clarity jelas dan tebal. Karakternya untuk

bawain lagu-lagu Muse dapat banget. Paling

hanya butuh sedikit setup saja untuk

meningkatkan playability,” ujar Richy

menunjuk produk yang dibuat di Indonesia

itu.

Seperti Muse, gitaris dari band Glorious juga menggunakan

Korg Kaoss Pad (lingkar biru). Bahkan termasuk laser berwarna

hijau untuk memberikan efek visual. Tampak di kiri dua buah

pedalboard bass dengan masing-masing memiliki pedal distorsi

Human Gear Animato yang juga digunakan oleh

Chris Wolstenholme (lingkar merah).

Serbuan Multiefek Digital

Pembahasan menarik yang tidak akan

ada hentinya adalah saat membahas efek

yang digunakan oleh Matt Bellamy dan

Chris Wolstenholme. Dengan gear list yang

berbeda-beda setiap album (karena tiap

album Muse memang memiliki konsep

sound tersendiri), terdapat tantangan besar

untuk meniru gear dari dua personel Muse

tersebut. “Untuk dapetin sound unik seperti


unplug . event 6

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Chris, para bassist menjadi tertantang dan

ingin mengkoleksi gear ala Chris secara

lengkap. Makanya, bisa dilihat di acara tadi

banyak bassist yang ngeluarin koleksi

efeknya, hehehe,” ujar Richie sambil

mengakui bahwa untuk gear Matt Bellamy

yang cenderung lebih mahal dan lebih

banyak mengandalkan rack system,

kebanyakan gitaris menggunakan multiefek

digital. “Dari multiefek tadi, biasanya kita

tambahin Digitech Whammy. Saya sendiri

menggunakan Zoom G5, sejak pakai ini

tidak ngelirik produk lain karena semua ada

dalam satu paket. Ada Tube Booster untuk

bagian lead, ada 3D Pedal untuk variasi

Whammy yang digabung efek lainnya,”

tambahnya.

Dari Zoom generasi lawas seperti GFX hingga G5 yang terbaru,

si legenda Korg AX1500 dan si sejuta umat Line 6 X3 Live.

Multiefek digital merajalela di panggung Muse Night

Sesuai dengan pengakuan Richy,

multiefek digital pada malam itu memang

merajalela. Dengan banyaknya band yang

tampil bergantian, ini adalah solusi praktis.

“Agar optimal, untuk settingan-nya

disesuaikan dengan karakter masing-masing

pickup gitar, karena setiap gitar beda-beda

karakternya,” demikian sedikit tips dari

Richy. Dari Zoom G5, Richy menyarankan

efek-efek yang digunakan untuk lagu Muse

adalah Fuzz Face, Booster, Delay, Reverb,

Auto Wah, Phaser, Whammy Pitch Shifter,

Tremolo, dan tentu saja ZNR (noise

reduction).

Ramai-Ramai Mengejar Sound Bass

Idaman

Kerap dianggap salah satu bassist

dengan sound terbaik, Chris Wolstenholme

menjadi panutan para bassist yang hadir

di Muse Night. Untuk mencapai sound itu

dengan tingkat keberhasilan tinggi, tentu

diperlukan gear yang sebisa mungkin

mendekati apa yang digunakan oleh Chris.

Jika para gitaris sudah cukup beruntung

dengan kehadiran Cort MBC-1, berbeda

dengan nasib para bassist.

Status, merek asal Inggris, masih

mempertahankan konsep butiknya sehingga

lebih banyak orang berfokus pada

pedalboard dan amplifier. Untungnya,

Chris juga pernah terlihat menggunakan

Fender Jazz Bass. Sehingga tidak salah jika

beberapa anggota Muse Indonesia Fanclub

menggunakan Jazz Bass, salah satunya

Archie yang pada malam itu tampil bersama

The Avenue dan Musikecil. “Gue pakai

Fender Jazz Bass American Vintage ’75

Reissue yang bridge-nya diupgrade pakai

Leo Quan Badass agar sound-nya lebih

modern,” jelas Archie yang bahkan sengaja

membawa Markbass Little Mark III dan

kabinet Marshall DBS 7041. “Sebenernya

setup gue juga termasuk kabinet Gallien-

Krueger 115MBX, tapi karena kemarin

konsep acaranya baru

sebatas jamming, jadi

tidak perlu dibawa

semua lagipula nanti

suara bass gue jadi

dominan banget

hahaha,” tambahnya.

Salah satu yang menarik perhatian

adalah tersembulnya sebuah Human

Gear Animato pada pedalboard Archie.

“Pedalboard gue isinya TC Electronic

Polytune, custom blender untuk mixing

sinyal dry & wet, Boss OC-2, Boss LS-2,

Digitech Bass Synth Wah, EHX Russian

Big Muff Pi, dan Human Gear Animato,”

ujarnya.


unplug . event 7

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Archie (tengah), dan Human Gear Animato dengan ciri khas

casing besar berwarna kuning pucat yang menyita perhatian

Human Gear Animato memang bukan

sembarang produk. Pedal distorsi ini dibuat

secara butik di Jepang sehingga tidak

mudah mendapatkannya di sembarang toko.

“Pada dasarnya gue emang fanboy-nya

Chris, hahaha. Jadi wajar dong kalo gue

ngulik efek yang dia pakai karena menurut

gue Chris adalah bassist dengan sound

terunik di dunia. Ternyata efek distorsi

utama dia adalah Human Gear Animato

yang ternyata untuk pesen harus email

langsung owner-nya di Jepang. Alhasil

gue bela-belain beli deh meski harganya

selangit juga. Setelah sampai, suaranya

benar-benar persis apa yang kebayang dan

enak banget di kuping gue,” jelas Archie

yang juga merupakan pemain bass

additional band Brand New Eyes. Dengan

Human Gear Animato ini juga Archie

melakukan rekaman dengan Brand New

Eyes.

Mentang-mentang tergabung di

komunitas Muse, ternyata investasi Archie

tidak hanya untuk lagu Muse semata. “Lebih

ke personal taste, kok. Gue emang udah

jatuh cinta sama distorsinya Animato ini.

Sama kayak gue beli Markbass, gue suka

banget karena ampli ini tidak merubah

karakter Jazz Bass gue,”. Tapi tidak bisa

dipungkiri, tergabung di komunitas yang

getol membahas produk membuat banyak

orang ikut “keracunan” karena semakin

melek akan sound. “Contohnya ada temen

gue yang ikut pesen Animato juga setelah

gue,” tambah Archie.

Sedikit tips dari Archie untuk mengulik

sound ala Chris, “Prinsip dasar Chris tuh ada

tiga kombinasi karakter, Fuzz, Distortion,

dan Synth. Kalau merk sesuaikan saja

dengan budget masing-masing. Buat yang

mau mulai, saran gue sih berburu EHX

Russian Big Muff Pi, setelah itu kita bisa

kembangkan dari situ,” tutupnya.

Backline Dadakan

Pada awalnya, backline (penyediaan

alat musik dan amplifier panggung) Muse

Night akan di-support oleh pihak tertentu.

“Pada detik-detik akhir kami baru diberitahu

bahwa backline itu harus diambil sendiri

ke kantor mereka, sedangkan tidak ada

transportasi yang siap pada saat itu

sehingga kami menyewa secara dadakan

seperangkat backline,” jelas Richy.

Meski amplifier gitar (Hughes &

Kettner Vortex, Laney LV300) dan bass

(Laney RB9) cukup memadai, namun

drumkit Mapex 4 piece-nya tidak dilengkapi

oleh cymbal set yang dalam kondisi layak.

Beberapa bagian yang dalam kondisi layak.

Beberapa bagiannya sudah terlihat sobek.

Untungnya, beberapa drummer dari bandband

utama seperti Musikecil dan Bring Me

menunjukkan profesionalisme-nya dengan

membawa snare dan cymbal set pribadi.

Membawa cymbal set pribadi merupakan sikap profesional yang

terpuji seperti yang dilakukan oleh Bring Me dan Musikecil


unplug . event 8

UNDUH MAJALAH DIGITAL KAMI DI

WWW.AVLTIMES.COM

WWW.CAEDITORIAL.COM/ATI

Meskipun status Morgan Nicholls

hanya sebagai additional dari Muse, namun

membuat para penggemar Muse sadar

bahwa band ini memang mengandalkan

permainan synthetizer dan piano yang kaya.

Sehingga, banyak diantara band-band

pengisi Muse Night yang menggunakan

sequencer. Selain sequencer, kita juga

dapat melihat keyboard arranger PSR S950

dan Roland Juno Gi standby di panggung

yang itu semua bukanlah termasuk paket

dari rental. “Keyboard Yamaha merupakan

pinjaman dari band Glorious dan Roland

Juno Gi milik Bring Me, Muser (sebutan bagi

penggemar Muse-red) kan saling

meminjamkan alat. Positifnya jadi lebih

kenal dan dekat,” jelas Richy.

Komunitas Muse Indonesia Fans

Club ternyata memang peduli dengan

anggotanya. Bagi yang tertarik bergabung

namun belum punya alat, Richy punya

solusi.

“Sering aja dateng ke acara dan tanya-tanya

sama yang punya alat. Kita semua bisa

terbiasa memakai alat-alat ini juga karena

sering jamming bareng jadi tahu fungsi dan

settingan-nya,” tutupnya.

Sikap mulia dari Bring Me dan Glorious yang merelakan

keyboardnya menjadi backline

Contact Person @twitter:

@MuserIndonesia

twitter.com/muserindonesia

12.000+

GRATIS DOWNLOAD


unplug . event 9

LINE 6 SAMBANGI BOGOR

MELEK EFEK DIGITAL BERSAMA DENNY CHASMALA

BOGOR MEMANG DIKENAL SEBAGAI KOTA HUJAN, TERMASUK PADA 12

DESEMBER LALU PUN REPUTASI ITU TETAP TERBUKTI OLEH CUACANYA YANG

BASAH SEJAK PAGI HINGGA MENJELANG SORE. NAMUN BELUM JUGA HUJAN

TERSEBUT BENAR-BENAR REDA, SELASAR ERAFONE MEGASTORE GANTIAN

DIHUJANI OLEH JAJARAN LINE UP TERBARU LINE 6. LAMBAT LAUN KERUMUNAN

PENGUNJUNG, TERMASUK DARI KOMUNITAS BOGOR GUITAR FUNATIC (BGF),

LANGSUNG BERKUMPUL DAN MEMBANJIRI LOKASI.

Saat Yamaha memutuskan untuk menaungi

Line 6 tahun lalu, kita dibuat penasaran

akan seperti apa Line 6 diarahkan

khususnya di Indonesia. Ternyata meskipun

Line 6 termasuk merk yang sudah punya

nama di sini, Yamaha malah terlihat lebih

serius dan menggunakan pendekatan

‘jemput bola’ dengan blusukan langsung ke

masyarakat. Alih-alih mengadakan pameran

di mall atau menyebar undangan untuk

datang ke sebuah aula, Line 6 tidak

dijadikan ‘anak rumahan’. “Saya lihat untuk

Line 6 memang perlu untuk merangkul dan

terlibat langsung dengan masyarakat,” ujar

Bhagas Raditya selaku chief promotion &

event dari Yamaha. Menggotong amplifier

DT25, Amplifi, Firehawk, dan HD500, line up

tersebut diajak nongkrong bareng BGF di

Bogor, 50 Kilometer lebih dari markas

mereka di Jakarta.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . event 10

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Sesaat sebelum materi dimulai, BGF sudah

memenuhi venue

Secara tidak sengaja, pengunjung dapat membandingkan

Line 6 dengan beberapa produk kompetitor

BGF sendiri merupakan komunitas

yang baru berdiri 1-2 tahun belakangan

tepatnya Agustus 2014, namun terbukti

cukup sering mengadakan kegiatan. Jumlah

anggota di grupnya pun hampir mencapai

lima ratusan orang. Diakui oleh Fikri, salah

satu penggagas event yang bertajuk “Kupas

Dawai : Simple Steps to Optimize Your

Sound&Equipment” ini, bahwa BGF sangat

membutuhkan kegiatan edukatif serupa.

“Saya harus akui lebih banyak pembicaraan

di komunitas ini adalah tentang sound gitar,

dan bagi saya Line 6 sudah tidak diragukan

lagi kualitas multiefeknya,” jelasnya.

Kompetitor Ikut Nimbrung

Silih berganti anggota BGF

memanaskan suasana, silih berganti pula

mereka membawa multiefek masing-masing

dari berbagai brand termasuk gitar pun

hanya pembicara Denny Chasmala yang

menggunakan Yamaha Pacifica 611H

(bahkan terdapat amplifier JCM milik rental

sound juga). Seringkali malah seluruh

multiefek dari merk-merk tersebut tetap

dibiarkan tergeletak bersebelahan. Hal ini

agak kontras dibandingkan event-event

serupa yang biasanya secara ekslusif

mengharamkan merk lain, namun ini

benar-benar menunjukkan keberanian

dan kejujuran Line 6.

“Memang situasi ini tidak bisa dihindarkan,

tapi kami percaya diri dengan kualitas Line

6. Biarkan masyarakat yang menilai,” ujar

Bhagas.

Meskipun terdapat dua buah multiefek

dari brand kompetitor yang dibawa oleh

anggota BGF, namun terdapat juga Line 6

X3 Live. Entah ini milik siapa, multiefek

yang sebenarnya sudah termasuk produk

lawas (karena sudah dihentikan produksinya

alias discontinued) ini membuktikan

reputasinya sebagi produk favorit

masyarakat Indonesia dengan banyaknya

anggota BGF yang secara bergantian

menggunakannya. Seakan sudah lihai dan

khatam, seluruh performer mampu

mengoptimalkan fitur-fitur X3 Live.

Sepertinya semua orang tahu cara menggunakan X3 Live


unplug . event 11

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Materi Interaktif

Sesuai dengan tajuk utamanya, materi

dengan pembicara Denny Chasmala ini tentu

sudah dapat kita prediksikan yaitu membuat

sound gitar dari produk Line 6. Namun

sayang karena keterbatasan waktu,

pembahasan lebih banyak berkutat pada

multiefek digital dengan Firehawk dan POD

HD500X. Padahal, malam itu Line 6

membawa serta amplifier DT25 dan Amplifi

yang tidak dibahas sedetail dua multiefek

tadi.

Seakan sudah jodoh, venue di Erafone

Megastore sebagai salah satu jaringan gerai

ponsel dan gadget di Indonesia ikut terlibat.

Mungkin kita semua sudah maklum bahwa

Line 6 Firehawk dan Amplifi memang

memiliki fitur-fitur yang dapat dikontrol

melalui aplikasi ponsel pintar. Dengan cerdik

pula Erafone menyediakan ponselnya untuk

mendemonstrasikan kemampuan itu.

Padahal diakui oleh Fikri, pemilihan lokasi

ini tidaklah disengaja. “Setelah beberapa

kali mengadakan kegiatan di cafe dan

studio, kami mendapatkan tawaran lokasi

ini dari Erafone. Saya pikir tidak ada

salahnya mencoba suasana baru,”

ungkapnya.

Pengunjung mencoba mengakses fitur-fitur Firehawk

dengan smartphone.

Produk-produk Line 6 terbukti mampu

menyedot perhatian pengunjung dan BGF

dilihat dari antusiasme dan pertanyaan-

pertanyaan yang dilontarkan kepada Denny

Chasmala, yang mayoritas memang seputar

membuat live sound yang optimal.

“Multiefek-multiefek Line 6 ini mampu

membuat sound yang tebal karena

memungkinkan kita menggunakan dua buah

karakter yang berbeda dan dikeluarkan

secara stereo, sehingga penting untuk

berkoordinasi dengan sound engineer

juga,” terangnya.

Perhatikan sepasang kabel XLR pada Firehawk dan HD500X,

sistem stereo inilah yang diandalkan Denny Chasmala

Sayang sekali kedua speaker aktif

milik rental mengalami masalah pada

tweeter sehingga produk tersebut

didemonstrasikan hanya menggunakan

sebuah speaker saja secara mono. Tapi

cukup mengagumkan karena sound tetap

terasa tebal. Terdapat perbedaan sangat

signifikan dengan X3 Live versi lawas.

Dengan masalah itu pun Denny Chasmala

tetap berhasil memberikan materi yang

interaktif dengan partisipasi pengunjung

yaitu pada saat dia memberikan beberapa

alternatif sound dan mempersilahkan

pengunjung memilih sound yang terbaik.

Interaksi ini semakin terasa saat penonton

menggunakan aplikasi pada ponsel Line 6

untuk membantu Denny Chasmala membuat

sound dan bahkan menyetem Yamaha

611H-nya.


unplug . event 12

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Penonton Lintas Kalangan

Meskipun area venue tidak terlalu

luas, namun ada hikmah tersendiri di

baliknya. Pernahkah kita sampai kepikiran

sebuah event alat musik di area gerai

ponsel? Kupas Dawai edisi kedua ini

ternyata mampu menyatukan berbagai

pihak. Dengan pengguna smartphone di

Indonesia sebanyak 55 juta orang, tentu

saja acara ini menarik perhatian pengunjung

gerai tersebut bahkan termasuk anak-anak.

Di antara pengunjung, kami berhasil

menemui Taufik pemilik sebuah studio

rental setempat yang mengaku terkesima

dengan Firehawk. “Paling berkesan bagi

saya adalah Firehawk, kemampuannya

dikendalikan melalui smartphone sangat

menarik dan harganya masih masuk akal,”

ujar Taufik dengan penuh antusias.

Meski secara skala dan jumlah

pengunjung tidak semasif jika digelar di

pusat perbelanjaan, namun kita dapat

melihat bahwa hampir seluruh pengunjung

pada malam itu sudah terspesifikasi sebagai

opinion leader yang memiliki kekuatan

untuk mempengaruhi keputusan pembelian.

Di antara audiens, terdapat dealer lokal.

Termasuk dealer produk ponselnya sekalian

“Pastinya untuk tahun 2016 kami

berencana akan lebih banyak acara serupa

yang lebih dekat ke masyarakat seperti ini.

Kami juga ingin lebih banyak bekerja sama

dengan komunitas-komunitas yang ada di

Indonesia, jadi silahkan hubungi kami,”

tutup Bhagas.

Website :

www.id.yamaha.com

www.line6.com

DAPATKAN APLIKASINYA

SEKARANG

KINI ANDA BISA MENDAPATKAN

AVL TIMES DAN UNPLUG DI PONSEL ANDA


unplug . event 13

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

MELODIA HADIR DI YOGYAKARTA

Melodia, salah satu gerai alat-alat

musik dan pro audio terkemuka di

Indonesia, pada 6 November lalu baru

saja membuka cabangnya di Yogyakarta.

Merk-merk seperti Digitech, Electro

Harmonix, Mooer, dan masih banyak

lagi sebenarnya sudah cukup mudah

didapatkan di dealer-dealer resmi di seluruh

Indonesia. Namun, seperti yang dikatakan

Kongko bangun Pambudi sebagai Supervisor

Marketing Communication Melodia, ada

beberapa produk high end atau butik

yang lebih sulit dijumpai seperti Mesa

Engineering, ENGL, Carvin, PRS Guitars

yang buatan USA, dan beberapa lainnya.

“Selama ini orang dari luar Jakarta dan

sekitarnya kan kesulitan untuk mencoba

produk-produk high end tersebut, padahal

budaya Melodia adalah memberikan akses

kepada masyarakat untuk nyobain produkproduk

yang ada, terlepas mau beli atau

tidak itu urusan belakangan.”


unplug . event 14

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Kehadiran Melodia di

Yogyakarta sendiri tidak diputuskan

dengan terburu-buru. Beberapa

riset termasuk melalui sosial media

dilakukan oleh tim Melodia.

“Ternyata animo luar biasa datang

dari Yogyakarta. Sebenarnya

Bandung juga merupakan kandidat

kuat, namun kami rasa jaraknya

masih terlalu dekat dengan Jakarta.

Sedangkan kota Yogyakarta

memberikan akses yang mudah

bagi masyarakat kota besar di

sekitarnya seperti Solo dan

Semarang,” jelas Kongko.

Tanggapan masyarakat Yogya

setelah grand opening ternyata

diluar dugaan. “Rupanya

masyarakat Yogyakarta memang

sudah menunggu-nunggu gerai

Melodia yang menyajikan produkproduk

yang tidak biasa. Bukan

yang itu-itu saja. Oleh karena itu,

kami tidak akan bentrok dengan

dealer kami di kota ini karena

memang produk dan pengalaman

berbelanjanya berbeda.”

Menjelaskan pengalaman

berbelanja tersebut, Kongko

menjelaskan bahwa event-event

yang rutin diselenggarakan di

Melodia Jakarta juga akan ada di

Melodia Yogya sehingga diharapkan

membuat lebih ramai industri alat

musik di kota gudeg tersebut.

“Kami yakin lokasi Gejayan ini

sangat strategis, kami juga siap

melayani karakteristik masyarakat

Yogya yang ndagel (humoris-red)

dan nyeni,” tutupnya. Masih

menurut Kongko, Melodia berharap dapat

mengatasi tantangan di masa yang akan

datang seperti produk yang semakin banyak

serta jumlah customer yang juga semakin

bertambah dengan kehadiran cabang baru

ini. Selamat berbelanja, Yogyakarta!

www.melodiamusik.com

www.instagram.com/melodia_jog


unplug . event 15

MENGENAL SISTEM DIGITAL WIRELESS LINE 6

MENGKRITIK SISTEM WIRELESS KONVENSIONAL

DENGAN PRODUK UNGGULAN

DARI MASALAH REGULASI FREKUENSI, NOISE, KUALITAS SUARA, HINGGA

GANGGUAN INTERFERENSI, SISTEM WIRELESS MEMILIKI BEBERAPA

TANTANGAN. PADAHAL, WIRELESS ADALAH KEBUTUHAN UTAMA DALAM SETIAP

LIVE SHOW. BAGI LINE 6, MENGGUNAKAN DIGITAL WIRELESS ADALAH SYARAT

MUTLAK UNTUK MENJAWAB TANTANGAN-TANTANGAN TERSEBUT.

Menurut Line 6, produk gitar wireless juga harus kokoh.

Tampak Yasuo dengan receiver G50 yang terbuat dari logam

Desember lalu, terdengar berita

akan adanya pelatihan bagi para

sales di berbagai outlet resmi Line 6

tentang wireless system. Meskipun

pelatihan ini ditujukan khusus untuk

para sales, tapi rasanya sayang

jika kita tidak ikut nimbrung karena

pembicaranya adalah Sales

Manager Line 6 Asia Pasifik, Yasuo

Matsunaka. Apalagi, perdebatan

“wireless vs kabel” selalu menjadi

bahasan menarik di antara kita

semua.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . event 16

Ternyata, Yasuo menjelaskan bahwa

sistem wireless dalam konteks alat musik

dapat dibagi menjadi analog dan digital.

Jika kita melihat trend yang semakin kuat

di setiap acara live show saat semua orang

mengabadikan penampilan artis dari

ponselnya, itu bisa menjadi ancaman serius

bagi sistem analog wireless karena sinyal

akan berebutan. Dengan sistem digital

wireless yang diadopsi Line 6, sinyal akan

diubah menjadi data digital sehingga

tidak terganggu oleh sinyal-sinyal lain

di sekitar kita. “Sistem Line 6 didesain

oleh Guy Coker, yang sejak 1997 mulai

mengembangkan teknologi ini. Kini, line

up Line 6 sudah merupakan generasi

keempat,” jelas Yasuo.

Wireless Dengan Simulasi

Dikenal sebagai salah satu pencetus

konsep digital modelling, Line 6 tidak hanya

menanamkan konsep itu di multiefeknya.

Seri Relay yang merupakan wireless guitar

dan microphonenya pun diberikan konsep

serupa. Untuk seri Relay, terdapat fitur

cable tone yang memungkinkan kita memilih

karakter suara dari berbagai panjang kabel.

“Semakin panjang kabel gitar, maka

tone-nya akan semakin kehilangan

brightness. Tapi jika kabelnya pendek,

seperti yang terjadi pada sistem wireless,

maka tone-nya jadi makin bright. Karakter

ini tidak biasa didengar oleh gitaris yang

selalu menggunakan kabel. Sehingga,

dengan adanya fitur cable tone, kita dapat

memiliki tone gitar layaknya pakai kabel,”

inilah jawaban Yasuo mengenai gitaris

yang

selalu

merasa

kabel

adalah

tone

terbaik.

Selain itu, diperkenalkan juga Line 6 Relay

G70 terbaru yang memiliki fitur lebih

komplit seperti tuner, DI Output, AB

Switcher, hingga Gain Booster.

“Sedangkan

bagi pemain

bass, banyak

sekali yang

menyukai

seri Relay

bahkan

hingga di

Line 6 G70 dengan desain baru

dan fitur lebih lengkap

situasi

rekaman

karena

mereka mendapatkan sound senatural

mungkin,” tambahnya. Untuk microphonenya,

beberapa produk Line 6 seperti XD-V75

menanamkan simulasi microphonemicrophone

terkenal dari mulai Shure, AKG,

Sennheiser, Audix, dan Audio Technica.

Meski pelatihan berlangsung singkat,

para sales tampak sumringah dan percaya

diri akan produk-produk ini. Seperti

misalnya Ruli dari Nuansa Musik, “Untuk

wireless gitar dan bass-nya mungkin tidak

akan mengalami kompetisi seketat

microphone karena cukup segmented, tapi

yang paling berkesan bagi saya adalah

microphone XD-V75 nya yang benar-benar

bagus,”. Para sales yang sudah dilatih inilah

yang akan melayani kita di gerai Line 6.

Jadi, ada baiknya agar kita mencoba

mendengar saran dari mereka sebelum

memilih

produk

wireless

yang tepat

bagi

kebutuhan.

XD-V75 juga memiliki simulasi microphone

instrumen seperti Shure SM57

Relay G30 (kiri) dan G50 (kanan), Perhatikan knob cable tone-nya

Website : www.line6.com

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . profile 17

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

NAIF TOLERAN

TERHADAP RIDER

MALANG MELINTANG DI INDUSTRI HIBURAN SEJAK 1995, NAIF TENTU SUDAH MASUK

DALAM JAJARAN BAND PAPAN ATAS INDONESIA. NAMUN BEGITU, TAHUKAH ANDA BAHWA

NAIF MASIH DENGAN SENANG HATI MENERIMA TAWARAN TAMPIL DI PANGGUNG-

PANGGUNG PENTAS SENI (PENSI) SEKOLAH DENGAN TECHNICAL RIDERS YANG CUKUP

WAJAR? KINI UNTUK PERTAMA KALINYA NAIF BUKA-BUKAAN TENTANG RIGNYA KEPADA

KITA SEMUA.

Ditemui di Viky Sianipar Music Centre pada

akhir November lalu, kami berhasil

mencegat NAIF beserta rekan-rekan kerja

pendukung produksinya yang sedang

mempersiapkan diri untuk proyek kolaborasi

dengan arahan Viky Sianipar. Band yang

lahir dari kampus seni kebanggaan ibukota,

Institut Kesenian Jakarta, masih tampil

kompak dengan formasi sejak tahun 2003

yaitu David (vokal), Emil (bass), Pepeng

(drum), dan Jarwo (gitar). Sama seperti

gayanya pada saat live, wawancara kami

yang cukup singkat ternyata tetap penuh

oleh suasana jenaka.


unplug . profile 18

Ditemui di Viky Sianipar Music Centre pada akhir November lalu, kami berhasil

mencegat NAIF beserta rekan-rekan kerja pendukung produksinya yang sedang

mempersiapkan diri untuk proyek kolaborasi dengan arahan Viky Sianipar. Band

yang lahir dari kampus seni kebanggaan ibukota, Institut Kesenian Jakarta, masih

tampil kompak dengan formasi sejak tahun 2003 yaitu David (vokal), Emil (bass),

Pepeng (drum), dan Jarwo (gitar). Sama seperti gayanya pada saat live,

wawancara kami yang cukup singkat ternyata tetap penuh oleh suasana jenaka.

Sebagai band yang lahir dan tumbuh

di lingkungan kampus, adakah

keuntungan dari itu?

David : Ya, kami semua tidak hanya teman

ngeband, tapi juga teman bermain. Jadi

akhirnya lama-lama keterusan main band.

Emil : Karena kampus kami kampus seni,

maka kami banyak bantuan kreatifitas dari

temen-temen juga. Kakak kelas, adik kelas,

teman seangkatan, semua saling support.

Dan sebaliknya kita juga support band-band

lainnya seperti The Upstairs atau White

Shoes And The Couples Company.

Banyak band-band baru yang memulai

karir dengan meng-cover lagu-lagu

NAIF seperti di Youtube, bagaimana

tanggapan NAIF atas fenomena ini?

Emil : Seharusnya mereka menggunakan

waktunya untuk melakukan hal-hal lain

daripada meng-cover lagu kami, contohnya

belajar atau meng-cover lagu lain.

David : Meng-cover coklat buku pelajaran

atau meng-undercover kejahatan korupsi.

Emil : Pokoknya jangan meng-cover lagulagu

Naif, wasting time. Kalau mereka lebih

bagus, maka kita bagaimana?

David : Terus mereka dong yang maju?

Hahaha...

Apa sih sebenernya konsep musik dari

NAIF?

David : Pop! Pop ringan.... semi berat.

Sepanjang karir apakah konsep itu

pernah ada yang berubah?

Serentak : Tidak ada..!

David : ...pengennya yang simple aja

lah lagunya.

Apakah audiensnya yang berubah?

Emil : Oh iya! Tadinya masih sekolah

sekarang sudah kawin, sudah ibu-ibu.

SMA 1 Makassar yang dulu pertama kali

ngundang NAIF ke Makassar, waktu kemarin

kesana lagi sudah pada bawa anak.

David : Bahkan mungkin udah jadi kepala

sekolahnya....(tiba-tiba menjadi lebih

serius)..jadi ya be-regenerasi, bagusnya

sih yang dulu emang udah pada dewasa,

tapi anak sekarang tetap bisa menerima.

Terbukti kita masih sering manggung di

acara anak sekolah.

Emil : Dulu awalnya emang rata-rata cuma

penggemar vintage yang suka sama NAIF,

ya. Atau anak kampus yang pengen genre

yang berbeda dari yang mainstream pada

saat itu. Tapi sekarang anak-anak SMA atau

bahkan SMP bisa kok nyanyi bareng kita.

Pepeng : Masih bisa mengapresiasi juga.

Terakhir, pernahkah ada tawaran

endorsement?

Naif : Pernah sih, tapi belum pernah ada

yang cocok dengan term nya. Kalau ada

tawaran dari produk yang kami suka seperti

yang saat ini kami pakai dan nyaman

dengan kontraknya, ya akan

dipertimbangkan.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . profile 19

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Bedah Rig NAIF

David pasrah dengan DI Box apapun yang

disediakan.

Sebenarnya membawa DI Box sendiri tapi

hanya dikeluarkan saat DI Box panggung

bermasalah. “Sayang”, ujar David.

David, Emil, dan Jarwo menggunakan pick

custom buatan krunya, Musdalifah, dengan

ukuran 1 mm.

Jarwo dan Emil men-set ekualisernya flat.

Tidak ada yang menyukai in-ear monitor.

“Interaksinya enggak ada”, menurut Emil dan

David mengaku tidak keluar power-nya.

Adit, teknisi gitar Jarwo, kerap diledek “curang”

oleh sesama teknisi dari band lain karena

simple-nya setup Jarwo.

Strap Jarwo dimodifikasi agar transmitter

wireless Line 6 G50 dapat dengan cepat

dibongkar pasang.

Untuk tipe microphone David tidak

menjelaskan tipenya, “Karena kami beli

sendiri, kok. Tidak di-endorse..hahaha.

Tapi yang jelas gue nyaman dengan merk

Shure”. Sempat di-endorse suatu merk

untuk gitar akustik, kini David lebih nyaman

sendirian. “Untuk gitar lebih suka dan lebih

nyaman pakai akustik karena lebih mudah

DAVID

memainkannya. Sekarang pakai produk

Gretsch White Falcon dan Rancher

Falcon lebih karena gue suka dengan

penampilannya. Wuiiih banget. Gue sering

berdiskusi juga dengan Jarwo tentang

gitar. Ngomong-ngomong gue juga lagi

mengidamkan Gibson Hummingbird”.


unplug . profile 20

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

EMIL

Sudah sejak lama Emil memang

identik dengan Rickenbacker 4003 berwarna

hitam, “Kesan visualnya panjang, cocok

dengan badan gue yang gede.” Sedangkan

untuk rekaman, beberapa bass digunakan

untuk memenuhi kebutuhan lagu. “Beberapa

lagu yang standar gue pakai Fender Deluxe

Special Precision Bass, sedangkan saat ingin

tone yang agak middle dan kasar gue pakai

Epiphone Allen Woody Rumblekat. Makanya

dipakailah Rickenbacker untuk live karena

jangkauan frekuensinya lebih luas. Untuk

Rickenbacker ini semua pickup terpakai,

dan justru pickup bridge lebih sering gue

pake untuk lagu-lagu yang soft ”.

Jika melihat video penampilan NAIF,

Emil juga kerap tampil dengan Ampeg SVT

4-PRO dan kabinet 8x10”. Kombinasi head

dan kabinet itulah yang kerap Emil minta

sebagai rider, “Buat gue lebih clear, dan

sesuai kebutuhan di panggung agar lebih

kenceng aja sih. Kalau untuk rekaman pakai

4x10” saja sudah cukup. Untuk head sih

sebenarnya gue lebih suka Ampeg SVT

Classic, tapi lebih sering adanya SVT-4PRO,

ya enggak apa-apa”.

Uniknya, bahkan tidak ada tuner

sekalipun di dekat kaki Emil. “Tuner pakai

Boss, biasa. Gue tuning dulu sebelum live.

Enggak ada apapun di lantai, paling tadi

dibawain clip tuner sama kru. Cuma gue

hampir enggak pernah ada masalah dengan

seteman atau tuning kok”.


unplug . profile 21

PEPENG

Selain membawa seluruh cymbal-set

nya sendiri, Pepeng tidak meminta suatu

merk drumset tertentu dari rider. “Yang

pasti kondisi harus layak pakai. Di masa lalu

memang sempat minta merk-merk tertentu,

tapi seiring berjalannya waktu saya ingin

lebih fleksibel saja”. Tentang double pedal,

untuk NAIF ternyata banyak gunanya.

Selain karena kebutuhan lagu yang

memiliki sesi solo seperti “David Pepeng

Emil Jarwo”, double pedal juga dibawa

untuk gig yang durasinya lama sebagai

penutup atau bahkan bisa menjadi antisipasi

saat ada masalah di panggung.

”Pernah suatu ketika beater sebelah

kanan lepas pada saat live. Daripada kosong

ya gue isi pake sebelahnya aja..hahaha..”.

Antisipasi sepertinya merupakan kunci

sukses dalam band yang memiliki toleransi

tinggi terhadap technical rider seperti NAIF.

Contoh konkritnya adalah memiliki kru yang

handal. Untuk menghindari drumhead yang

tidak layak pakai, Pepeng membawa

drumhead Evans sendiri dan di tune pada

saat soundcheck. “Itu kerjaan teknisi gue

tuh, karena dia memang udah hapal

settingan gue jadi tinggal hajar aja”.

Snare Mapex / Premier

Tama Iron Cobra

Double Pedal

Custom stick bahan maple,

round wooden tip

(1) Hihat Zildjian Z

Sabian HHX 16

(2) Meinl Crash 18

(3) Paiste Ride 24

(4) Splash Meinl 8

(5) Splash Paiste 10

JARWO

Mengaku musik NAIF membutuhkan

sound gitar yang natural, rig Jarwo sangat

sederhana. “Saya pakai multiefek sejak

sering trouble di ampli. Kalau dulu kan

modelnya gitar harus dicolok ke ampli.

Sekarang gue cari yang simple sajalah”.

Itulah Jarwo, setup nya sekalem

orangnya. Hanya sebuah Digitech RP500

yang dicolok ke return ampli, bukan input.

“Multiefek sekarang udah punya semua

yang gue butuhin. Paling sering gue pakai

simulasi dari Vox AC15 dengan ekualiser di

set flat semua. Output ke front of house

juga dicampur dengan Direct Out yang

keluar dari XLR Out-nya RP500, tanpa

panning left/right dijadikan mono”. Untuk

amplifier, panitia cukup menyiapkan

amplifier “sejuta umat” Marshall JCM 2000

atau JCM 900.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . profile 22

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

JARWO

Mengenai gitar utamanya, Jarwo

bahkan dengan jujur menjelaskan, “Itu

stratocaster abal-abal engga jelas dari

Mojokerto. Sebenernya kalau buat live saya

engga pilih-pilih gitar. Saya pakai apa yang

ada aja (yang dibawakan oleh teknisi

gitarnya, Adit – Red). Kalau untuk rekaman

baru saya cari-cari sound, untuk lagu yang

sederhana gue pakai gitar yang suaranya

sederhana”. Gauge senar yang digunakan

Jarwo adalah 10-52, bukan 10-46 standar.

Hal ini diakuinya agar mendapatkan

karakter yang lebih keluar dan menonjolkan

low-nya. “Dulu pernah pakai 0.08 tapi kalau

di-bending, yaaah ... suka kelewatan ...

hahaha”. Dan pada saat rekaman inilah

Jarwo baru benar-benar menggunakan

amplifier. “Pilihan saya biasanya Marshall

JTM45, Fender Pro Junior, Vox, atau

Marshall JCM 2000”.

Website :

www.naifband.com


unplug . profile 23

MENGUPAS SEPAK TERJANG

KORG DI INDONESIA

MENGUSUNG MISI PELESTARIAN BUDAYA INDONESIA

SIAPA SANGKA AWAL KEMUNCULAN KORG DI INDONESIA PADA AWAL 1980-AN

JUSTRU TIDAK LANGSUNG MULUS. DIANGGAP PRODUK MAHAL DAN HANYA

DIGUNAKAN OLEH KALANGAN ATAS, PERLU INISIATIF DARI DISTRIBUTOR

INDONESIA UNTUK MEYAKINKAN PUSAT AGAR LEBIH SERIUS MENGGARAP PASAR

KEYBOARD ARRANGER. USULAN ITU TERBUKTI TEPAT KARENA KINI KEYBOARD

ARRANGER KORG MENGGAET LEBIH DARI 30 PERSEN MARKET SHARE

Begitulah Patricia Dharmawan

(General Manager PT Mahkota Musik

Indonesia) selaku distributor yang mewakili

Korg Indonesia saat mengawali cerita

perjalanan Korg hingga akhirnya diterima di

seluruh pelosok Indonesia seperti saat ini.

“Korg didirikan oleh orang-orang yang

sangat hi-tech, cenderung ingin fokus di

terobosan-terobosan teknologi baru. Hal ini

membuat awalnya mereka beranggapan

keyboard arranger bukanlah arena Korg.

Namun setelah mendapati fakta bahwa

arranger juga mendapatkan pasar yang

menjanjikan, Korg sangat serius melayani

segmen ini,” ungkapnya.

Korg memang beberapa kali

melakukan inovasi cerdas dengan mampu

melihat peluang. Salah satu yang paling

dikenang oleh Patricia adalah saat

menjelang munculnya seri Triton.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . profile 24

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

“Pada waktu itu banyak pengamat industri

yang meramalkan bahwa masanya keyboard

sudah habis. Semua orang akan beralih ke

keyboard controller. Namun Korg tidak

percaya dan tetap menggelontorkan

beberapa seri Triton sekaligus. Alhasil saat

kompetitor lain tengah memikirkan

peralihan pasar menuju controller, Triton

kami melenggang tanpa hambatan dan

meraih penjualan luar biasa,”. Korg

memang benar, era

dimana semua orang

menggunakan

controller dan laptop

tak kunjung terjadi.

Korg Triton, popularitasnya hingga ke serial animasi K-On

Berawal Dari IS35, Menjadi Pa

Bertarung di segmen arranger bukan

perkara mudah. Pengguna keyboard

arranger yang didominasi oleh orang-orang

yang menggeluti bisnis organ tunggal

membuat produk ini sangat sensitif terhadap

perilaku masyarakat. Alhasil, kompetisi di

kelas keyboard arranger menjadi seru

karena setiap pabrikan melakukan konsep

branding yang berbeda-beda menyesuaikan

khalayaknya.

Hal ini dipahami betul oleh Patricia,

yang menuturkan bahwa salah satu kunci

menggaet Pasar arranger adalah konten

tradisional. “Awalnya kami memasukkan

konten-konten tradisional sekitar awal tahun

2000-an ke dalam Korg IS 35, sayangnya

IS 35 ini hanya bertahan selama satu tahun

karena tiba-tiba Korg pusat memutuskan

untuk membuat sebuah keyboard dengan

platform yang sama dan update by

software. Jadilah seri Pa lahir dari konsep

itu. Dan kami mulai lebih serius lagi di

Pa ini,”

Alasan kuat dibalik hadirnya Pa Series

dengan style tradisional adalah selain untuk

mendorong industri musik di masing-masing

daerah atau negara distribusi, juga untuk

mencegah terjadinya black market.

Campur tangan Korg Indonesia terhadap IS 35 (kiri)

melahirkan Pa series (kanan)

Pada masa saat Korg Pa 50 dipasarkan

(sekitar tahun 2004-2005), Korg Indonesia

melaporkan komplain terkait adanya

aktifitas pasar gelap (produk yang beredar

tanpa melalui distributor resmi) tersebut ke

Korg pusat dan ditanggapi dengan serius.

Pasar gelap tersebut juga terjadi akibat

perbedaan harga jual antara negara satu

dengan lainnya.

Akhirnya, solusi lahir dengan

keputusan masuknya style tradisional

yang ternyata terus dipertahankan dan

dikembangkan hingga hari ini. “Sehingga

setiap negara memiliki produk Korg yang

khas. Misalnya, Korg Pa yang dijual di

Indonesia berbeda kontennya dengan yang

di Turki atau India,” jelas Patricia yang

mengenai proses lokalisasi ini.

Hendra selaku Brand Manager Korg

menambahkan, lokalisasi tersebut justru

sudah lebih dahulu dilakukan oleh Korg

Indonesia. “Kita sudah lebih dahulu

melakukan lokalisasi dengan IS 35 tadi.

Karena pada saat itu kami merasa suara

tabla bawaan dari IS 35 berbeda dengan

tabla yang biasa didengar oleh masyarakat

Indonesia, sehingga kami mengakalinya

dengan memproses ulang data MIDI IS 35,”

jelasnya. Apa yang dilakukan oleh Korg

Indonesia terhadap IS 35 ini ternyata

dianggap ide brilian oleh Korg pusat di

Jepang. Meskipun demikian, hanya negaranegara

yang memenuhi target penjualan

tertentu lah yang diberikan lokalisasi ini.

Sekedar catatan, Indonesia menduduki

peringkat pertama untuk penjualan seluruh

produk Korg di Asia dan peringkat tujuh

di dunia.


unplug . profile 25

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Patricia Dharmawan,

“Lokalisasi senjata ampuh

melawan black market,”

Secara khusus Hendra

menambahkan bahwa

salah satu kualitas

penting yang membuat

Korg Pa mampu

berbicara banyak

adalah style yang

terkandung dalam

produknya berasal dari

sampling instrumen sungguhan. “Dari

instrumen sungguhan itu lalu kami merekam

loop-nya, yaitu satu pola permainan utuh.

Inilah yang membuat suaranya realistis,”

Hendra membandingkan dengan metode

pembuatan sound secara sintetis yang tidak

melibatkan sumber instrumen aslinya.

“Berbeda dengan secara sintetis,

keuntungan menggunakan sampling adalah

suaranya tidak terdengar mesin dan

dinamikanya lebih terasa karena kami

menggunakan the real thing. Bukan sekedar

mirip-miripan lagi,”

Keyboard Sebagai Komoditas Yang

Stabil

Meninjau dinamika ekonomi

yang terjadi beberapa tahun terakhir,

Patricia tidak menampik bahwa beberapa

alat musik mengalami gangguan. Namun,

dia menyatakan keheranannya terhadap

penjualan keyboard yang tidak terpengaruh.

Patricia malah menyoroti situasi menarik

yaitu gejala “pedang bermata dua” dari

penggunaan internet. “Kami diuntungkan

karena product knowledge masyarakat

kota besar menjadi semakin tinggi,

namun kontras dengan masyarakat yang

penggunaan internetnya rendah. Mereka

jadi lebih loyal terhadap produk-produk

model lawas karena tidak mengikuti

perkembangan line-up terbaru,” ujar Patricia

yang senantiasa menjawab tantangan ini

dengan melakukan brand activation

langsung ke daerah-daerah terpencil untuk

memperkenalkan Korg ke para pelaku

usaha organ tunggal.

Dengan melihat langsung tanggapan

pasar di daerahnya masing-masing, Patricia

tidak menyangka justru Pa 600 yang

notabene untuk segmen menengah keatas

mendapat sambutan positif di daerahdaerah

tersebut. “Saat kita yang tinggal di

kota resah mengenai gejolak ekonomi, yang

di desa seakan tidak terkena dampak apaapa,

makanya saya bilang keyboard paling

stabil,”. Hendra juga menambahkan, “Para

pemain organ tunggal itu jangan dikira

orang sembarangan, mobilnya mewahmewah.

Ini karena organ tunggal sudah

menjadi profesi, setiap akhir pekan pasti

mereka main di acara pernikahan,”. Menurut

pengamatan Patricia dan Hendra, tinggi

rendahnya harga yang dipatok para pelaku

organ tunggal ditentukan oleh spesifikasi

keyboard yang digunakan, bukan dari

performa sang musisi.

Namun bukan

berarti Pa 300

yang lebih murah

tidak laku. Ada

momen tertentu

Style yang begitu

dicintai musisi organ tunggal

yang tidak

sengaja

mendongkrak penjualan. Saat tulisan ini

diketik pada bulan Desember 2015, Pa 300

sedang mengalami kenaikan permintaan.

“Ini karena produk kompetitor sedang habis

stoknya,” ujar Patricia.

Berdasarkan catatan Hendra, selama

ini wilayah penjualan keyboard arranger

yang terbaik secara nasional adalah di

Surabaya. Menurutnya, hal ini dikarenakan

Kota Pahlawan itu merupakan pintu gerbang

menuju Indonesia Timur. “Orientasi orang

Indonesia Timur jika belanja itu ke

Surabaya,”. Dirinya juga mengakui bahwa

wilayah-wilayah Indonesia Timur memang

belum dioptimalkan sepenuhnya oleh Korg

karena tingginya biaya untuk mengirim

tenaga product specialist dari Jakarta.

“Meskipun demikian, Manado dan Makassar

penjualannya bagus sekali. Saya menduga


unplug . profile 26

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

ada faktor budaya dari masyarakatnya yang

suka membuat acara. Setiap cafe ada

keyboardnya,” tambahnya.

Agenda 2016

Mengusung brand sebesar Korg,

Patricia memaparkan fungsi dan tugasnya

untuk senantiasa menumbuhkan demand.

Patricia menekankan bahwa aktifitas

komunikasi pemasaran harus sejalan

dengan dealer. “Setiap kami mengadakan

acara promosi ke daerah tertentu pasti kami

menggandeng dealer setempat. Dengan

melibatkan dealer, kami mengangkat

reputasi dan kredibilitas outlet-outlet lokal

karena masyarakat akan melihatnya sebagai

acara mereka,” jelas Patricia. Konsep

kelokalan inilah yang memang dipandang

oleh Hendra sebagai niche market-nya Korg

di Indonesia. Hendra mengklaim, “Tulang

punggung kami memang ada di musik

tradisional. Saya lihat kompetitor sudah

mencoba mengikuti tapi itu hanya musik

pop yang diberi instrumen tradisional, bukan

the real thing,” Sebagai jawaban atas

manuver kompetitor, Korg Indonesia dalam

waktu dekat akan meluncurkan seri Pa

terbaru, Pa 4X yang mereka sebut sebagai

“The Super Arranger”. “Kami sudah

menyiapkan konten yang meliputi 34

Korg siap mengarungi 2016 dengan

The Super Arranger

provinsi di

Indonesia, dari

sebelumnya 21

provinsi,” ujar

Hendra. Masih ada

beberapa hal yang

menjadi PR bagi Korg Indonesia. Menurut

Patricia, dirinya akan lebih menggali dan

mempelajari pasar untuk kebutuhan

bermusik keluarga. “Karena seri Pa kami

masih didominasi oleh pengguna

profesional. Sehingga, dalam waktu dekat

kami akan memproduksi lagu anak-anak

dengan musik gubahan Ibu Kasur, yang

bisa diiringi oleh style-style tradisional

Indonesia,” tuturnya.

Hendra menyimpulkan bahwa Korg,

khususnya pada seri arranger, mengusung

misi untuk melestarikan tradisi dengan cara

yang tidak tradisional. “Caranya dengan

mengawetkan konten-konten yang tadi kami

sebutkan. ‘Kan sayang jika sampai punah,

nah kami ingin menumbuhkan kecintaan

terhadap musik Indonesia dari keyboard.

Kenapa keyboard, karena keyboard adalah

hiburan keluarga,”. Hendra juga

menekankan bahwa produk keyboardnya

sebagai alat musik modern tidak berusaha

menggantikan alat musik tradisional, “Kami

ingin anak-anak dapat mengakrabi suara

alat musik tradisional sekaligus bentukbentuk

musiknya,”

Penjualan Pitchblack Di Indonesia

Menduduki Peringkat Pertama Dunia

Ade Himernio,

“Kualitas yang bicara”

Korg

Pitchblack

Jika kita perhatikan beberapa tahun

terakhir, ada sebuah pedal tuner dengan

kemasan stompbox yang mendadak

pamornya melejit, Korg Pitchblack.

“Kami tidak punya strategi khusus untuk

Pitchblack. Kualitas yang bicara,” ujar Ade

Himernio yang menjabat sebagai Marketing

Communication Korg. Ade menjelaskan,

yang membuat Pitchblack disukai oleh

masyarakat Indonesia selain dari

akurasinya adalah kemasannya yang

praktis, mulai dari stompbox hingga clip

tuner. Korg memang sudah mengalihkan

produk gitarnya ke sister company-nya,

Vox. Namun tidak untuk tuner Pitchblacknya.

“Tuner Pitchblack membuat banyak

gitaris tersadar bahwa inilah yang mereka

butuhkan selama ini,” tambah Ade.


unplug . profile 27

ARIF HIDAYAT DAN GELIAT AHAY DRUMS

PESONA KAYU INDONESIA DALAM DRUMKIT SOLID SHELL

BERAWAL DARI BISNIS STUDIO RENTAL, JUAL BELI ALAT MUSIK, DAN REPARASI

DRUM, KETEKUNAN ARIF HIDAYAT KINI BERBUAH MENJADI AHAY DRUMS. MESKI

BARU DILAHIRKAN EMPAT TAHUN LALU, AHAY LANGSUNG MENGGEBRAK DENGAN

BERBAGAI PRODUK UNIK YANG TIDAK BIASA DIJUMPAI DI PASARAN.

Singkat cerita, begitulah Ahay

diciptakan Arif. Tentu kita sudah maklum

jika dibalik cerita itu pasti ada proses

perjuangan yang panjang. Meski pernah

menjalani peran sebagai karyawan swasta

hingga pegawai negeri, namun ternyata

bisnis rental studio yang dirintisnya sejak

tahun 90-an lah yang membuka jalan

menuju industri alat musik. “Saya

mengawali karir di dunia pertambangan

hingga cadangan emas di tempat saya

bekerja habis dan ditawarkan transfer ke

perusahaan lain. Namun saya lebih memilih

kuliah Ilmu Hukum di Jakarta sambil

menggunakan uang pesangonnya untuk

membuka studio rental tersebut di Bekasi,

bernama Fokus. Tahun segitu masih Rp

3000/jam,” kenang Arif yang mengawali

pendidikan akademisnya di Kimia Analisis.

Namanya juga studio rental, Arif

seringkali terlibat jual beli alat musik bekas.

“Suka ada orang menawarkan alat musik

dalam kondisi rusak, lalu saya perbaiki dan

jual lagi. Itu dilakukan sambil kuliah,”. Arif

mengenang, pada waktu itu media jual beli

alat musik yang sangat efektif adalah surat

kabar Pos Kota karena memang belum ada

internet. “Terutama hari Sabtu atau Minggu,

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . profile 28

adalah saat tepat untuk memasang iklan.

Lama kelamaan, bisnis jual beli alat musik

bekas ini jauh lebih berkembang dan saya

tutup studionya,” tambah Arif.

Nampaknya Arif memang dari awal

sudah ingin menekuni dunia drum, sehingga

masih teringat hasil karyanya saat berkutat

di bisnis jual beli tersebut. “Pernah suatu

ketika saya dapat drum Rolling Concert

Series. Tom-nya dari 8”, 10”, 12”. Floor 15”

dan 18”, Bass drumnya 24”x2. Itu ‘kan bisa

dibuat jadi dua drumkit, lagipula ruang

studio saya yang hanya 3x5 meter persegi

tidak muat. Setelah saya jual untungnya

jadi berlipat ganda,” ujarnya sambil tertawa.

Reparasi Drum Dari Rumah Hingga

Ke Eropa

Didukung oleh banyaknya peluang

bisnis dan berbekal rasa cintanya terhadap

drum membuat Arif getol melahirkan

kembali drum-drum yang rusak. Inilah awal

mula Arif membuat drum sendiri “Kalau

drum rusak, paling sering ‘kan hanya

masalah part yang termakan usia seperti

lug, bracket, atau strainer. Dulu saya

belanja part tersebut di Tiga Putera Pasar

Baru, tidak banyak yang tahu bahwa

mereka menjual part drum,” rujuknya.

Jika masalah part ada solusi tersebut, lain

halnya dengan body/shell. “Saya terinspirasi

saat melihat pembuatan contra bass, yaitu

saat mereka menggulung triplek untuk

dijadikan body-nya. Sehingga mulailah saya

ikutan membuat drum shell dari triplek yang

digulung. Meski masih apa adanya, jadilah

Picollo yang saya jual Rp 150.000,”

jelas Arif.

Arif, menunjukkan

shell Rosewood

berkonstruksi

Stave Block,

memulai Ahay

dari reparasi

drum merk-merk

lain

Saat era Reformasi dimulai, Arif

sempat vakum dari dunia musik karena

dipercaya sebagai pegawai negeri untuk

membangun provinsi Bangka Belitung

hingga akhirnya kembali lagi ke Jakarta

pada tahun 2008. Uniknya, Arif malah

mencoba membuat simbal dari industri

gamelan. Demi mempelajari pembuatan

dan teknik peleburan gong, Arif berkelana

ke Jogja, Solo, dan Klaten. “Saya takjub

dengan simbal Turki. Teknik peleburan

mereka berangkat dari kebutuhan militer di

Jaman Perunggu, dan usaha saya membuat

simbal dengan berangkat dari gong gagal,”

Belum berhasil di simbal, Arif mengalihkan

perhatiannya kembali ke drum. Tapi kali

ini dengan metode pembuatan standar

internasional yaitu berinvestasi ke mesin

bubut. Setelah melihat-lihat drum dengan

konstruksi solid, Arif mencoba membuatnya

dan jadilah Snare prototype pertama Ahay.

Tahap pembuatan shell solid jenis Stave Block

Joint dibentuk dengan cara

diluncurkan ke mata gergaji

yang berputar

Joint dilem hingga

menjadi shell

Shell memasuki tahap

pengecatan dan finishing

Shell

memasuki

ruang

quality

control

Joint disusun seperti puzzle

hingga membentuk shell

Bagian tepi shell diberi

lekukan (bevelling)

Shell

diberi

lubang-lubang untuk

hardware, tampak sebuah

shell dari kayu Rosewood

Siap dikemas dan

dikirim ke outlet

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . profile 29

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

“Dan berkat bantuan Facebook, seluruh

dunia tahu bagaimana saya bekerja dan apa

hasilnya. Akhirnya dari tahun 2011 saya

sudah ekspor,” jelas Arif yang lebih lanjut

menjelaskan bahwa permintaan-permintaan

ekspor datang dari Eropa karena pasar

tersebut jenuh dengan produk drum yang

bahannya itu-itu saja.

Bahkan kegiatan ekspor ini berawal

dari riset bersama dengan pembuat drum

dari Austria dan membuka jalan Arif

memasarkan brand ABD/Denish kesana.

“Saya menjawab tantangan atas pasar yang

jenuh itu dengan menawarkan produk drum

berbahan kayu Merbau berkonstruksi multiply.

Terkadang kami bungkus outer shellnya

dengan veneer Rosewood, pasar Eropa

suka corak Rosewood,” jelas Arif. Kiprahnya

ini berhasil mendatangkan investor pada

tahun 2014 lalu.

Secara keseluruhan, Ahay Drums

adalah sebuah perusahaan yang memiliki

beberapa merek di line-up-nya. Selain Ahay

sebagai flagship dengan konstruksi solid

shell-nya dan ABD/Denish yang merupakan

riset bersama Austria, masih ada Denish dan

Redd. Redd sendiri dikhususkan untuk

memproduksi shell dengan material akrilik,

yang baru saja diluncurkan oleh Arif tahun

2015 lalu. “Untuk ABD/Denish sementara ini

masih ekspor ke Eropa, karena pricing-nya

belum cocok untuk market di Indonesia,”

jelasnya.

Denish, line up low end pun dibuat di fasilitas yang sama dengan Ahay

Manajemen Terpusat

Meski diakui Arif bahwa respon pasar

sejauh ini memuaskan, namun jajaran tim

manajemen perusahaannya tidak ingin

terlena. “Karena kami pernah terkendala

dengan aktifitas distribusi. Kami merasa

lebih efektif memegang kendali distribusi

sendiri. Kami perusahaan Indonesia, maka

seharusnya kami sendiri yang langsung

melayani para outlet Ahay di Indonesia.

Distributor saya adanya di luar negeri,”

Arif juga mengungkapkan bahwa sejak 2016

ini strategi distribusi dan pemasaran di

Indonesia menjadi tanggung jawab Ahay

sendiri demi penyebaran yang lebih lancar.

Termasuk berurusan dengan endorsement,

merchandise, hingga merintis franchise

sekolah musiknya.

Meskipun Denish dan Redd lebih

ditujukan untuk pasar low end, namun Arif

ingin menjamin bahwa kualitasnya tetap

terbaik di kelasnya. Dengan alasan inilah

Arif tidak membuatnya di negeri tirai bambu

meski secara ongkos produksi lebih murah.

“Toh misalnya saya buat 100 produk dengan

kualitas yang nilainya sembilan, dengan

saya buat 1000 produk dengan kualitas 6,

ternyata profitnya sama saja. Waktu yang

terbuang juga sama saja,” jelasnya.

Untuk tahun 2016 ini Arif

mengungkapkan bahwa strateginya untuk

di Indonesia akan

lebih digenjot ke

Denish dan Redd.

Sedangkan Ahay

lebih diprioritaskan

promosinya ke luar

negeri. Tujuannya

adalah membangun

prestis dan brand

image dari Ahay

sehingga

menambah

kebanggaan bagi

para pengguna

True solid shell, si kelas wahid Ahay.


unplug . profile 30

Customer Care Dan Service Centre

Sebagai Ujung Tombak

Arif mengklaim bahwa Ahay dibangun

dengan pendekatan yang berbeda dengan

brand-brand- lain pada umumnya. Hal

pertama yang disebut Arif adalah garansi

1 tahun dan after

sales service selama

5 tahun, salah

satunya adalah

jaminan ketersediaan

spare part.

Memperlakukan produknya bagaikan anak

sendiri, Ahay bahkan memiliki akte kelahiran

Berangkat dari kesedihan Arif melihat

fakta bahwa belum ada drummer Indonesia

yang memiliki signature series sendiri, Arif

ingin seluruh artis endorsee-nya

menggunakan produk Ahay yang sesuai

dengan ciri khas masing-masing. Tidak

heran jika saat ini Ahay berhasil menggaet

sekitar empat puluh endorsee.

Namun yang tidak biasa adalah

adanya garansi sound. “Artinya ketika

pelanggan memesan ke divisi Ahay

Customshop namun sound yang diinginkan

tidak tercapai, bisa refund 100 persen,” ujar

Arif. Dari aspek ini kita bisa melihat

kesungguhan Ahay memperlakukan setiap

pelanggannya benar-benar menjadi anggota

keluarga. “Memang garansi sound yang saya

terapkan dikritik oleh para pembuat drum

lain di luar negeri. Tapi saya yang tahu

pangsa pasar dan selera tipikal drummer

Indonesia. Sayalah pembuatnya. Saya yang

mengalami sendiri proses riset dari mulai

kekerasan kayu, serat kayu, usia kayu, dan

karakteristik suara setiap kayu dari Red

Mahogany, Rosewood, Ebony, Merbau, dan

sebagainya,” Arif merujuk pada saat

drummer mengungkapkan kebutuhan tonenya,

Arif sudah tahu frekuensi apa yang

dibutuhkan untuk lebih dominan dan bahan

apa yang tepat untuk merepronya.

Sehingga, Arif tidak ingin ada campur

tangan lakban, muffler, bantal di dalam bass

drum, gel, atau apapun karena setiap

produknya sudah “jadi” secara sound.

Shell dengan

ukiran seperti

ini dilakukan

oleh divisi Ahay

Customshop

Berangkat dari jasa reparasi drum

(dan masih menjalankan Bengkel Drum

Jakarta), Arif sangat memahami betapa

para musisi sangat mencintai gear-nya

dan menginginkan performa terbaik dari

investasi mereka. “Saya punya target

pribadi bahwa 15 menit adalah waktu

maksimal yang dibutuhkan untuk proses

soundcheck drum saya,” kata Arif mantap.

Pada saat wawancara ini dilakukan, sesekali

pandangan Arif tertuju pada ponselnya.

Arif menantikan laporan dari Cokelat yang

pada saat bersamaan sedang live perdana

menggunakan drumkit Ahay. Hanya demi

melegakan hatinya bahwa target itu

tercapai. “Saya biasa menelpon ke sound

engineer di front of house yang sedang live

hanya sekedar menanyakan apakah ada

kendala dengan drumnya, biasanya cukup

5 menit sudah jadi,”. Bahkan jika Arif

menemukan produknya muncul di situs

jual beli, seringkali dirinya menelpon sang

penjual untuk mengetahui alasannya.

“Sejauh ini untungnya karena motif ekonomi

atau ingin upgrade ke tipe Ahay yang lebih

tinggi, bukan karena tidak puas,”.

Arif menjelaskan, tantangan

berkecimpung di industri alat musik

Indonesia adalah menemukan titik tengah

dari perilaku konsumen yang maunya paling

bagus dan paling murah. Namun Arif merasa

bersyukur karena terbukti bekal ilmu yang

ditekuni sejak kuliah menuntunnya.

“Termasuk saat ini saya sedang

mengembangkan shell jenis metal casting,

saya perlu kembali lagi ke latar belakang

kimia saya,” tutup Arif.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . studio 31

STUDIO SOEARA MADJOE

KOLEKSI PREAMP BERBEDA UNTUK MEMILIH CITARASA

BERANGKAT DARI KECINTAANNYA PADA MUSIK DAN TEKNOLOGI YANG DIPICU

OLEH RASA PENASARAN DALAM MENDAPATKAN HASIL YANG MAKSIMAL, STUDIO

SOEARA MADJOE DAPAT DIKATAKAN MEWAKILI SEBUAH USAHA YANG TIDAK

SEMATA-MATA DIKAITKAN NILAI INVESTASI

Pemiliknya, Ir.Anjar Prabowo (Bowo) adalah

seorang arsitek yang ketika menjadi

mahasiswa arsitektur Universitas Gajah

Mada membentuk kelompok musik

mahasiswa "Jaran Goyang". Ternyata,

lambat laun passion itu berbuah menjadi

sebuah studio profesional di kawasan

Bintaro.

Bersama Donni selaku studio

engineer, Soeara Madjoe yang

‘mengorbankan’ salah satu kamar di rumah

pribadi Bowo menjadi semacam

laboratorium untuk menguji peralatan baru

yang bahkan belum didistribusikan di

Indonesia. Ini semua tak lepas dari hasrat

mereka yang memang gemar

bereksperimen. Karena Soeara Madjoe lahir

dilandasi oleh semangat yang tulus, Bowo

tidak terlalu memikirkan prospek bisnis

sebagai tujuan utamanya. Sehingga kita

tidak akan pernah menemui promosi di

media manapun. Namun dengan rekam

jejak serta banyaknya klien yang sudah

ditangani, rasanya sayang jika Soeara

Madjoe tidak kita munculkan (untuk

pertamakalinya) di media.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . studio 32

Dalam melakukan aktivitas, Donni dipandu speaker monitor

Yamaha NS10 (hitam) cocok dengan selera mixing musik

Indonesia dipadu dengan produk Focal Twin 6 dan Auratone

Membuka percakapan, Bowo

menjelaskan bahwa semua berawal dari

rasa penasarannya untuk memproduksi

musik dengan software MIDI. “Awalnya saya

ingin mainan MIDI, jadi pada tahun 1998

saya beli Korg X3 sebagai kontroler untuk

memakai Cakewalk, tapi ternyata pada saat

itu suara MIDI kurang bagus, lalu setahun

kemudian beralih ke Roland VS2480 Digital

Studio Workstation yang suaranya bagus,

analog, tapi ternyata hardisknya lemah,

begitu terjadi crash hilang semua datanya,”

Setelah sekian lama mempelajari

jenis-jenis konverter, Soeara Madjoe

memutuskan melakukan investasi standar

studio pada saat itu dengan memakai

konverter Echo Layla. “Tidak lama kemudian

tiba-tiba saya dapat kontrak untuk merekam

Erik, rekan duet Melly Goeslaw di

soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta,

dan hasilnya saya belikan Lavry Blue yang

dipakai sampai sekarang,” kenangnya. Lavry

Blue inilah yang mengawali Soeara Madjoe

membuka bisnisnya di industri musik

Indonesia hingga dikenal dari mulut ke

mulut.

Memburu Produk Neumann

Studio Soeara Madjoe semakin

berkembang setelah merekrut Donni, yang

juga merupakan kerabat dekat Bowo, selaku

studio engineer. Dengan kehadiran Donni,

setiap hari Bowo mulai memperlakukan

Soeara Madjoe sebagai sarana eksperimen

sambil menerima klien-klien di antaranya

Andra & The Backbone, KLA Project, Ari

Lasso, Maia, Duo Maia, Seventeen, dan

masih banyak lagi. “Hampir semuanya yang

populer sudah pernah mastering atau mixing

di sini kecuali artis dari label Musica seperti

Noah,” ujar Bowo yang saat ini sedang

mengerjakan proyek solo Andy Bayou.

Hasil dari bisnisnya membuat Soeara

Madjoe secara bertahap meningkatkan

investasi peralatannya hingga saat ini Bowo

merasa untuk sementara sudah cukup. “Tapi

saya masih ingin sekali Neumann U67. Saya

banyak sekali memakai produk Neumann

termasuk yang TLM67, tapi U67 itu memang

langka,” ujarnya. Menurutnya, karakter

vokal pria pada kebanyakan musik

mainstream Indonesia masih “kurang lakilaki”.

“Yang bisa mensimulasikan dengan

baik hanya U67. Neumann U87 dan TLM103

kurang, M149 apalagi,” jelas Bowo yang

selain masih ingin melengkapi koleksi

Neumann-nya, juga penasaran dengan

produk microphone Peluso. Berbeda dengan

tipikal studio pada umumnya, Soeara

Madjoe tidak memiliki kaca perantara.

Menurut pengalaman Bowo, hal ini

membantu penyanyi berkonsentrasi

terutama bagi yang kurang berpengalaman

dalam rekaman. “Biasanya mereka kurang

lepas ekspresinya atau tegang jika ada kaca.

Dulu memang ada kaca di sini tapi karena

alasan itu saya tutup,” tambahnya.

Koleksi Microphone

Soeara Madjoe

antara lain sepasang

AKG C460B

(atas,hitam),

sepasang Neumann

KM184 (atas,silver),

dan dari kanan ke

kiri Shure SM7B,

EHX RH-R1, 2x

Neumann U87,

Neumann M149,

Rode K2, dan

Neumann TLM67

(bawah)

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . studio 33

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Pantang Direct Demi Sound Gitar Tebal

Mengaku gemar bereksperimen

dengan setup dan gear berbeda, Bowo

mengaku secara khusus lebih tertarik

mendalami sound gitar. Menurutnya,

amplifier sangat berpengaruh sehingga

dirinya rela memelihara beberapa produk

sekaligus. Khusus untuk sound gitar

modern, Soeara Madjoe mempekerjakan

head-head kelas atas seperti Mesa Boogie.

“Untuk karakter modern tersebut saya

membunyikan tiga buah amplifier sekaligus

yaitu Single Rectifier, Dual Rectifier, dan

Triple Rectifier lalu ditodong bersamasama,”

seraya menyebutkan bahwa sebuah

ENGL Powerball II juga dimilikinya bahkan

sejak belum didistribusikan secara resmi.

“Jika menggunakan metode direct, bentuk

waveform-nya akan menjadi squarewave

sehingga vokalnya nanti akan tenggelam.

Prinsip ini memang banyak diperbedatkan

oleh para pelanggan saya disini, kalau sudah

begitu terserah mereka saja tapi bagi saya

sound todong tetap yang terbaik,” ujar Bowo

diselingi candanya yang mengibaratkan

sound gitar hasil metode direct bagaikan

suara lalat.

Dengan menggunakan metode todong,

Dalam merekam gitar, Soeara Madjoe pantang direct

Demi mencapai ketebalan sound gitar

pula, Bowo sangat menghindari metode

perekaman secara direct. Menurutnya,

sound gitar harus berasal dari proses

perekaman amplifier menggunakan

microphone (todong).

Soeara Madjoe pernah

melakukan rekaman dengan lima buah

amplifier sekaligus, seperti saat bekerja

bersama Andra & The Backbone. “Saya ragu

akan ada yang mampu menyamai ketebalan

sound gitarnya Andra & The Backbone.

Selain karena menggunakan lima buah

ampli, microphone Shure SM57 yang kami

gunakan sudah dimodifikasi oleh Tabfunkenwek

sehingga membuat mic ini lebih

seimbang frekuensinya. Harus begitu karena

saat menggunakan banyak ampli, mic-nya

harus se-flat mungkin,” klaim Bowo.

Menggunakan metode todong, tentu

sebuah amplifier juga melibatkan kabinet

speaker. Menurut Bowo, impedansi juga

berpengaruh besar. Kabinet dengan nilai 8

ohm, ideal untuk blocking. Sedangkan untuk

single note lebih cocok di 16 ohm karena

frekuensi high dan karakter petikannya

“lebih dapat”.


unplug . studio 34

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

SKEMA TRACKING

Besarnya investasi untuk sound drum

lah yang membuat Bowo lebih serius

menekuni sound gitar di studionya. Dari

sekian banyak teknik untuk tracking yang

pernah dilakukan, Bowo memang mengaku

belum begitu puas untuk sound drum

karena ruangan studionya yang kecil. Selain

drum-nya sendiri harus prima (secara

khusus Bowo menyebut Pearl Master Series

sebagai produk yang dia sukai), belum lagi

masalah player. “Menurut saya Yoyok masih

menjadi drummer rock terbaik di Indonesia.

Energinya luar biasa. Kalau jazz Budi

Haryono, groove nya enak,”

ujar Bowo seraya

menyebutkan bahwa break

event point studionya baru

terjadi di tahun 2010.

Banyak Preamp,

Banyak Citarasa

Tentang banyaknya

preamp koleksinya, Bowo

memang mengakui seiring

waktu dia lebih menyukai

kegiatan mixing dan

mastering karena musisi

semakin banyak yang

memiliki fasilitas tracking

sendiri. Dirinya juga meramalkan bahwa

studio rumahan seperti Soeara Madjoe akan

semakin bermunculan termasuk studiostudio

khusus mixing dan mastering. “Saya

merekomendasikan agar studio berinvestasi

ke preamp, kompresor, dan microphone.

Saya tidak pernah investasi ke ekualiser

karena penggunaannya menurut saya

membuat lagu menjadi tipis,” saran Bowo.

Banyaknya preamp dan kompresor

koleksinya berguna untuk membentuk

citarasa produksinya, yang dibagi oleh

Bowo menjadi American dan British.

Bowo menyebut perbandingan nuansa

album Oasis atau Beatles dengan Earth,

Wind & Fire.

Lalu menurut Donni, studio engineer

Soeara Madjoe yang disapa oleh Ahmad

Dhani sebagai Don I Bart, yang dimaksud

citarasa American adalah nuansa yang

cenderung ke arah modern. Cirinya adalah

instrumennya lebih tertata, vokalnya “tidak

lepas-lepas” dan lebih in your face.

Sedangkan citarasa British lebih ke arah

vintage dengan nuansa live yang lebih

terasa. “Tapi bisa saja dalam satu produksi

kita memakai beberapa jenis preamp,

tergantung lagunya mau diarahkan

kemana,” tambahnya.

SKEMA MIXING


M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

unplug . studio 35

SKEMA MASTERING

Selama bekerja bersama Soeara

Madjoe dan menghadapi berbagai klien,

Donni menganggap seluruh musisi berbedabeda

dan memiliki keunikan tersendiri.

“Semua ada tantangannya, misalnya untuk

Rock harus rapi dan rapat, sementara untuk

genre Melayu harus dibuat “ngampung”

dengan cara vokalnya tidak dibuat rich, ke

arah tahun 70-an,” jelasnya. Sedangkan

untuk konsep Djent yang masih menjadi

kontroversi apakah sudah dapat dikatakan

genre, baik Bowo dan Donni sepakat sudah

ada tanda ke arah sana.

Untuk menuju citarasa modern,

Soeara Madjoe menggunakan produk API

dan Millenia Media, sedangkan untuk

vintage memilih produk Chandler, Neve, dan

Great River. Karena menggunakan banyak

peralatan yang belum didistribusikan di

Indonesia pada saat dibeli, otomatis produkproduk

tersebut beroperasi di tegangan 110

Volt yang justru menurut Bowo lebih enak

hasilnya. Untuk antisipasi, selain diberi label

stiker bertuliskan tegangan yang diperlukan,

peralatan tersebut juga tidak pernah dibawa

keluar studio. “Dulu sempat ada yang salah

colok, tapi untung hanya kena sekringnya,”

kenang Bowo yang merasa Soeara Madjoe

lah studio pertama yang menggunakan API

dan Neve di Indonesia. “Sehingga studio

saya kerap menjadi rujukan saat suatu

distributor akan memasukkan produk

baru,” tutupnya.

Kontak Soeara Madjoe :

lancarmulya@gmail.com


unplug . komunitas 36

BELAJAR, NONGKRONG, DAN JAMMING

BERSAMA MESIN MUSIC CLUB INSTITUT

TEKNOLOGI SEPULUH NOVEMBER

Oleh Danu Wisnu Wardhana

UMUMNYA, MAHASISWA JURUSAN TEKNIK MESIN DIANGGAP IDENTIK DENGAN

DUNIA OTOMOTIF YANG KESEHARIANNYA TIDAK JAUH DARI TUMPAHAN OLI,

RODA GIGI, RANTAI SEPEDA MOTOR, DAN SEBAGAINYA. NAMUN ANGGAPAN

TERSEBUT TERBUKTI SALAH.

Diawali dengan nongkrong dan

jamming bareng, pada tahun 1999 para

mahasiswa Teknik Mesin Institut Teknologi

Sepuluh November (ITS) Surabaya dengan

passion yang sama, membentuk sebuah

klub musik.

Membutuhkan lima tahun, tepatnya

pada tanggal 19 Oktober 2004, klub

tersebut akhirnya diresmikan sebagai

organisasi mahasiswa bernama “Mesin

Music Club” atau biasa disingkat MMC.

Namun penantian itu terbayar setelah

MMC mendapatkan studio latihan sendiri

pada tahun 2006, setelah pihak jurusan

memberikan bantuan berupa ruangan

dan peralatan band.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . komunitas 37

Struktur organisasi dan piagam kegiatan MMC

Menurut Fajar yang merupakan ketua

MMC periode 2015/2016, MMC memiliki visi

dan misi untuk menjadikan mahasiswa

teknik mesin ITS berprestasi dibidang seni

musik, baik di lingkup internal maupun

eksternal. Struktur keanggotaannya pun

jelas, dengan seluruh mahasiswa S1 sebagai

anggota dan staf serta pengurus inti yang

diseleksi setiap tahun.

Berbagai kegiatan pendukung visi dan

misi tersebut antara lain menyelenggarakan

event musik lingkup kampus maupun

lingkup Surabaya dengan konsep yang

berbeda setiap tahunnya. Selain itu, secara

rutin juga diadakan kegiatan jamming dan

pelatihan berupa teori musik dan cara

memainkannya.

Namanya juga mahasiswa, MMC juga

bahkan turut mengadakan kegiatan belajar

bersama terutama menjelang ujian dan

kuis. Dengan demikian selain hobi yang

tersalurkan, nilai akademis mahasiswa

diharapkan juga turut terjaga.

Sadar memiliki kebutuhan finansial

untuk menjaga MMC tetap lestari, peralatan

studio latihan tersebut juga kerap disewa

oleh teman-teman dari jurusan lain untuk

event-event diluar lingkungan teknik mesin.

Namun hal inilah yang menyebabkan

beberapa alat musik harus diganti karena

pemakaian yang kurang terkontrol. Proses

upgrade tersebut didanai dari hasil

penyewaan alat, donasi jurusan, dan hasil

keuntungan event.

Adrian, Kepala Divisi Inventaris

2015/2016, menjelaskan gear yang saat ini

digunakan di studio MMC. Untuk gitar

elektrik, digunakan Washburn X-20.

“Kelebihan gitar ini menurut saya pada

konfigurasi pickup Humbucker-Single-Single,

sehingga sangat versatile untuk berbagai

genre terutama rock dan metal. Selain itu

harganya terjangkau dan perawatannya

termasuk mudah dengan playability yang

nyaman,” papar Adrian.

Untuk mendukung performa dan tone

gitar tersebut, MMC memilih multiefek

digital Korg Toneworks AX3G yang

merupakan versi simple dari AX3000G.

“Dengan 16 macam drive, bagi kami sudah

mumpuni untuk genre rock dan metal, dan

harganya terjangkau dompet mahasiswa.”

Pada bass digunakan Squier Vintage

Modifier Jazz Bass, dengan pickup single

coil dari Duncan Design. Dengan tone yang

condong ke low-mid ala Jazz Bass dan neck

yang slim C-shaped, menjadikan bass

tersebut nyaman dimainkan untuk berbagai

macam situasi.

Sementara itu, MMC masih setia

menggunakan keyboard Yamaha PSR540.

”Saya akui keyboard ini memiliki banyak

variasi style, sehingga cocok untuk studio

MMC. Selain itu harganya terjangkau serta

awet dengan perawatan yang benar.”

Studio MMC yang peralatannya kerap disewa oleh

mahasiswa jurusan lain

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . komunitas 38

Untuk drum, MMC menggunakan

Drumset Sonor Force 507 dengan tambahan

Crash 16”, Ride 20”, dan Hi-hat 12” dari

Zildjian. Untuk kick pedal single

menggunakan Giblatar, dan double pedal

menggunakan Maxtone.

Bicara mengenai pengetahuan tentang

instrumen dan perawatannya, baik Adrian

dan Fajar sepakat bahwa mahasiswa dan

komunitas musik di lingkup kampus ITS

sangat membutuhkan pencerdasan lebih

lanjut. Minimnya informasi alat musik,

terutama merk lokal yang berkualitas,

menyebabkan kurangnya diskusi tentang

instrumen itu sendiri. “Biasanya nama besar

artis mempengaruhi reputasi dari brand

produknya, sehingga suatu diskusi tentang

alat musik dimulai dari diskusi mengenai

gear yang dipakai oleh seorang artis,” jelas

Fajar tentang faktor yang mempengaruhi

keputusan pembelian mereka.

Fajar (kiri) dan Adrian (kanan) merasa MMC sangat

membutuhkan edukasi mengenai produk berkualitas

Penulis sebagai alumni kepengurusan MMC

yakin, dengan semakin berkembangnya

komunitas mahasiswa di bidang seni musik

akan berakibat positif terhadap

perkembangan industri alat musik di

Indonesia. Karena tidak bisa dipungkiri lagi

bahwa akademisi pun juga turut menjadi

pasar potensial yang selama ini penulis

merasa belum dioptimalkan oleh distributor

alat musik yang ada di Indonesia.

FUN FACT

Seluruh mahasiswa teknik mesin ITS

S1 reguler dianggap anggota MMC

secara otomatis.

Kepengurusan terdiri dari 8 pengurus

inti dan 24 staf.

MMC menggunakan amplifier buatan

Indonesia dengan merk Prima Nada

Musika (bass dan gitar) dan Lexus

KBX100 (keyboard).

M Effect, salah satu event lomba dan festival band

yang diselenggarakan oleh MMC

Oleh: Danu Wisnu

Wardhana

Kepala Divisi Inventaris

Mesin Music Club masa

jabatan 2012/2013

http://mmcits.blogspot.co.id/

Twitter: @MMC_Crew

Instagram: @mmc_its

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

ABOUT THE AUTHOR


unplug . teknik 39

BAGAIMANA MENGHASILKAN SOUND

SEPERTI CHRIS WOLSTENHOLME?

Oleh Naufal Elroissi

Siapa yang nggak tahu lagu Hysteria?

Seorang bassist pasti pernah dengar lagu

ini, atau minimal pernah tahu lagu ini.

Bahkan untuk anak band tahun 2003-an,

sampai ada bercandaan kalo “lu itu baru

bisa dibilang jago kalo bisa mainin bassnya

Hysteria.” Wew!

Bassline legendaris dengan sound

effect bass yang ‘wah’ menjadi pembuka

dari lagu ini. Membuat siapapun yang

mendengarnya langsung tahu kalau lagu

ini adalah Hysteria, ciptaan band asal

Devon, Inggris, MUSE.

Sound bass bergelimang efek menjadi

ciri khas dari Chris Wolstenholme, pencabik

bass dari band yang telah menelurkan 7

album studio ini. Dalam artikel kali ini,

saya akan membahas bagaimana kita bisa

mencoba mengimitasi sound Chris, tentunya

dengan budget yang jauh lebih murah

daripada membeli semua rig yang dimiliki

Chris! Yang pasti, agar lebih afdol, yang

saya tulis kali ini berdasarkan pengalaman

saya sendiri serta pengamatan saya

terhadap rekan-rekan bassist yang juga

penggemar MUSE.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . teknik 40

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Mulai dari mana?

Well, untuk awalnya, alangkah baiknya

kalau kita tahu dulu, gear apa saja yang

paling sering digunakan oleh Chris.

Sehingga kita nggak membuang-buang

uang dan waktu secara percuma.

Fender Jazz Bass

Walau bass yang dimiliki Chris nggak hanya

jazz bass, tetapi dengan versatility yang

dimiliki bass ini, menjadikan karakternya

mudah diarahkan kemana saja, termasuk

ke arah sound Muse. nggak harus Fender,

yang penting berkonfigurasi jazz bass.

EHX Big Muff Pi Black Russian

Ini adalah efek fuzz utama

Chris. Nyawa dari sound

bass fuzz-nya Muse.

Berhubung efek ini sudah

discontinue, jadi lumayan

susah dicari di pasaran.

Alternatifnya bisa cari

bekasnya di situs jual beli alat-alat musik,

atau bahkan Ebay. Harganya cukup gelap

belakangan ini, yang pasti sudah mencapai

angka satu juta keatas.

Human Gear Animato Distortion

Efek ini merupakan efek distorsi utama

Chris, butik buatan Jepang. Nggak dijual

bebas, hanya dibuat jika ada pesanan.

Suara dari pedal ini paling kentara di

lagu “Starlight” (setelah

digabung octaver), “Hyper

Music”, dan bahkan

“Hysteria”. Efek ini jarang

standalone, lebih sering diblend

dengan Big Muff agar

menghasilkan frekuensi

low, mid, serta high yang wet sekaligus.

Mau? Siapin aja dana lima jutaan buat

datengin efek ini ke Indonesia.

Boss OC-2 Octaver

EHX Octave Multiplexer

Sesuai namanya, efek ini

berfungsi untuk menurunkan

nada ke satu oktaf (atau

bahkan 2) lebih rendah dari

nada yang kita mainkan.

Menghasilkan sound yang

lebih berat. Harga berkisar

400-600 ribu (OC-2 Taiwan),

800 ribu-1 juta (EHX), 1 juta

(OC-2 Jepang).

Digitech Bass Synth Wah

Sebenarnya efek ini

hanya digunakan untuk

satu lagu saja, yaitu

Hysteria. Tetapi karena

lagu Hysteria sudah

terlalu melegenda,

bahkan menjadi

trademark sound Muse,

maka saya rasa tak ada

salahnya bila ini saya

masukkan ke dalam

salah satu efek utama Chris. Harganya

cukup terjangkau, nabung aja sampai

terkumpul 600 ribu-1 juta.

Akai Deep Impact

Pedal synthesizer tergokil untuk bass yang

pernah diciptakan. Merupakan barang

langka, karena dulunya underrated, dijual

sangat mahal dengan casing plastik

murahan.

Sekarang? Dicaricari

seantero dunia.

Harga? Kalo ga

perlu-perlu amat

mending beli

motor matic deh,

langsung lunas lagi.


unplug . teknik 41

Sansamp PSA-1

Rack preamp yang digunakan Chris,

digunakan untuk menghasilkan sound mild

overdrive. Sudah discontinued, Harga di

pasaran bekas mulai dari 3 jutaan, atau beli

versi barunya PSA-1.1 dengan harga sekitar

7 jutaan.

Marshall DBS 7400

Meski sudah beralih

ke Markbass,

Marshall DBS 7400

ini berperan penting

dalam 20 tahun

pembentukan

karakter sound bass

Muse. Sound ala Marshall yang dirancang

khusus untuk bass, sound British yang warm

dengan tingkat deep yang sangat dalam.

Harga? 11-12 sama Akai Deep Impact.

Tetapi karena ini adalah head ampli, harga

segitu masih terbilang 'wajar'.

Mahal ya?

Nggak semua orang beruntung. Nggak

semuanya bisa beli sama persis dengan apa

yang menempel di rig-nya Chris. Nah, itulah

tujuannya dibuat tulisan ini. Meniru sound

Chris dengan budget seminim mungkin!

1. Pakai multiefek digital

Demi meminimalisir dana, digital multieffect

merupakan salah satu jawaban simpel.

Beberapa multiefek saat ini sudah mampu

mereplika sound-sound pedal terkenal

dengan sangat baik. Sebut saja Zoom B3,

B1xon, jajaran Line 6, dan lain sebagainya.

Tetapi banyak yang lebih sreg dengan

Zoom, karena sound distorsinya lebih cadas.

Lalu, mengapa di gambarnya ada Big Muff

juga? Itu pedalboard saya dulu ketika awalawal

covering Muse hehehe, kurang puas

pakai sound fuzz bawaan Zoom B1x, alhasil

digabung deh!

Dalam multiefek, banyak sekali yang bisa

dikulik. Mulai dari amp simulator, preamp,

atau bahkan efek-efek Chris yang esensial

yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

Tak perlu malu menggunakan multiefek,

apalagi didukung dengan teknologi yang

jauh lebih berkembang dibandingkan dulu.

2. Gunakan Pedal Substitusi

Banyak efek yang Chris gunakan yang

harganya diluar nalar manusia berkantong

pas-pasan. Salah satu solusinya lagi adalah

menggunakan efek substitusi yang memiliki

karakter suara yang sama atau minimal

mirip.

Pedal substitusi ini gampang-gampang

susah. Terkadang substitusinya sendiri juga

sudah langka. Solusi lainnya? Ada di poin 3.

Tetapi sebelumnya, kita akan bahas poin

ini terlebih dahulu.

Gunakan multiefek digital sebagai langkah awal

Animato Distortion

bisa ditukar dengan

Digitech Hardwire

CM-2, Vintage Pro

Co Rat, ataupun

Boss OS-2, tinggal

disesuaikan selera

dan mana yang

menurut kita lebih cocok saja.

Vintage Pro Co Rat

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . teknik 42

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Boss OC-2 karena sudah langka, bisa

menggunakan EHX Octave Multiplexer yang

juga digunakan Chris, atau Boss OC-3.

Kenapa pedal-pedal ini? Bukan pedal octave

lain yang ada di pasaran? Karena pedal

octave yang disebutkan

disini cenderung 'dirt'

ketika dinyalakan.

Beberapa pedal merk

lain octavernya

cenderung clean, yang

menurut saya kurang

cocok dengan sound

Muse.

EHX Octave Multiplex

Sansamp PSA-1 bisa ditukar dengan

Sansamp Bass Driver DI (BDDI). Walaupun

harganya sama, tetapi Sansamp BDDI lebih

ringkas untuk dibawa karena berbentuk

pedal. Alternatif lebih murahnya adalah

dengan menggunakan produk dalam negeri

bermerek Cora Bass DI yang bisa dibilang

kloningan Sansamp BDDI. Cukup untuk

meniru sound ampli tabung.

Akai Deep Impact adalah pedal synth. Synth

yang dihasilkan cenderung seperti envelope

filter. Simak saja lagu “Apocalypse Please”

di bagian breakdown, “I Belong To You”

bagian song. Bisa diakali dengan

menggunakan pedal filter lain. Paling simpel

adalah memaksimalkan pedal Digitech Bass

Synth Wah. Konsekuensinya, harus puterputer

knob kalo mau pake settingan lain.

Wajib dicatat settingannya biar nggak lupa.

Alternatif lain yang sedikit mahal adalah

Line 6 FM4. Chris sebenarnya juga memakai

pedal ini, tetapi hanya untuk sweep filter di

intro “Sunburn” live. Maka dari itu tak saya

masukkan ke pedal yang esensial diatas.

Kelebihan efek ini adalah bisa save hingga

4 preset. Kelemahannya adalah cukup

mahal dan boros tempat di pedalboard.

Opsi lainnya adalah gunakan pedal filter

sesungguhnya seperti Electro-harmonix

Q-tron. Chris sempat memakai pedal ini

walaupun tidak lama.

Line 6 FM4

3. Gunakan Efek Kloningan

Yup, dengan harga rata-rata dibawah satu

juta, builder efek di Indonesia sudah handal

untuk menciptakan kloningan efek-efek

terkenal yang ada di dunia. Sebut saja

Trooper, Infect, ERV, Fatmac, dan lain

sebagainya.

Cukup sebutkan efek apa yang ingin ditiru,

lalu ingin seperti apa tampilan pedalnya, dan

perubahan apa saja yang kita inginkan

dalam efek itu. Akan lebih baik jika kita

sudah cukup mengerti dengan karakter yang

ingin dikejar.

Infect Blender

Cora Bass DI

Efek-efek seperti Big

Muff, Animato,

octaver, filter, serta

preamp cukup banyak

dibuat kloningannya,

jadi cukup aman untuk

meminta mereka

membuatkan efek

yang dipakai Chris.

Rekomendasi saya?

Infect (n.b. : saya

tidak disponsori).


unplug . teknik 43

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

4. Pedal Blender

Mungkin banyak yang belum tahu apa itu

blender. Bukan, bukan untuk membuat

jus. Saya tahu ini jayus, baiklah. Pedal

blender fungsinya adalah mencampur

efek-efek yang kita taruh dalam effect

loop yang tersedia di pedalnya, dengan

sinyal dry bass kalian. Simpelnya, ada suara

efek dan suara asli bass yang terdengar

dari speaker kalian nantinya, jadi seperti

memakai dua ampli sekaligus.

Kenapa perlu pedal ini? Karena pedal-pedal

yang digunakan Chris kebanyakan adalah

efek gitar. Bahkan Big Muff Russian aslinya

adalah efek gitar. Animato juga efek gitar.

Apa yang salah dengan efek gitar digunakan

di bass? Ah tak ada yang salah. Cuma saja

low frekuensi kita jadi nggak kedengeran

lagi. Loh ga nge-bass dong? Nah! Thump

yang hilang ketika dipasangkan efek-efek

gitar akan tetap ada dengan bantuan pedal

blender ini.

Chris tidak menggunakan pedal

ini. Tetapi ia punya 3 ampli

yang menyala bersamaan

dan routing system

yang rumit.

Pedal blender ini

memudahkan kita untuk

mengejar sound Chris yang

deep dan juga lebar secara

frekuensi. Selain buatan lokal, ada juga

buatan pabrikan bermerk dengan harga

yang cukup fantastis. Sebut saja Xotic

X-Blender.

Nah, itulah cara-cara 'meringkas' sound

legendaris Chris Wolstenholme menjadi

lebih ekonomis. Sebagai penutup, saya

akan memajang beberapa pedalboard yang

memang ditujukan untuk meniru sound

Chris tersebut. Pedalboard tersebut

merupakan milik teman-teman saya,

sekaligus ada punya saya juga. Hehehe.

(Referensi : musewiki.org)

Pedalboard 1 (credit : Hanif Shidqi)


unplug . teknik 44

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Pedalboard 2

(Credit : Iman Ramadhan)

Pedalboard 5 (Credit : Afga Afif)

Pedalboard 3

(Credit : Iman Ramadhan)

Pedalboard 6

Pedalboard 4

(Credit : Iman Ramadhan)

ABOUT THE AUTHOR

Oleh : Naufal Elroissi

Pernah aktif di beberapa band covering, terutama Muse.

Kebetulan bisa nulis artikel juga, karena sesuai dengan

jurusan di kampus LSPR.

Bisa dihubungi di naufalelroissi@gmail.com


unplug . review 45

Rockwell RMB 32

Tidak Hanya Soal Warna-Warni

KALI INI ROCKWELL BENAR-BENAR AKAN BERANI TAMPIL BERBEDA UNTUK MENYAMBUT

2016. KEBERANIAN ITU DITUNJUKKAN DENGAN MUNCULNYA PURWARUPA RMB32 INI.

DENGAN DESAIN FINISHING-NYA YANG BERWARNA-WARNI, RMB32 AKAN LANGSUNG

MUDAH TERLIHAT DI ANTARA BASS LAINNYA DI TOKO. TAPI SEBELUM BASS INI BEREDAR

DI OUTLET-OUTLET TERDEKAT DI SEKITAR KITA, ROCKWELL MENGIRIMKAN RMB32 INI

KEPADA KAMI UNTUK DIULAS SECARA MENDALAM, DAN TERNYATA MEMANG BUKAN

HANYA WARNANYA YANG UNIK.

Secara kasat mata, kita bisa lihat

bahwa RMB 32 menggunakan material

fretboard yang jarang digunakan Rockwell

selama ini, Maple. Bukan berarti Maple

adalah kayu terbaik untuk fretboard sebuah

bass, namun fakta bahwa cukup jarang

menemukan bass dengan bahan ini di

bawah 3 jutaan bisa jadi nilai lebih bagi

RMB 32 karena calon pembeli akan memiliki

semakin banyak alternatif. Namun jangan

khawatir untuk yang lebih suka fretboard

Rosewood. Berdasarkan spesifikasi dapat

kita lihat adanya indikasi bahwa RMB 32

akan tersedia versi Rosewoodnya juga.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . review 46

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Desain

Karena faktor inilah yang akan paling

banyak dibicarakan orang-orang begitu

melihat RMB 32, maka tidak ada salahnya

jika penampilan RMB 32 menjadi yang

pertama kita ulas. Yang menarik selain

pemilihan warna pelanginya, metode

finishing bass ini cukup transparan sehingga

serat kayunya tetap terlihat. Hal ini adalah

sebuah langkah jitu karena berhasil

mengesankan RMB32 lepas dari kesan

norak. Sehingga, di samping warnanya yang

semarak, masih ada kesan elegan dengan

mempertahankan serat kayu Swamp Ash

yang memang dikenal indah.

Sayangnya, bentuk dari body-nya

tidak memiliki benang merah dengan

headstock. Padahal, bentuk body tersebut

mengingatkan kita pada bass-bass butik

buatan Eropa atau Amerika dengan harga

selangit. Upaya Rockwell untuk tidak lagi

bermain aman dengan desain unik ini patut

diapresiasi. Mari berharap jika saat tiba

waktunya RMB 32 untuk dijual ke seluruh

Indonesia, pihak Rockwell lebih

memperhatikan detail-detail kerapihan

terutama pada sudut-sudut sambungan

antar bagian. Alangkah lebih baik lagi jika

tersedia pilihan warna lain yang lebih

solid/polos.

Playability

Bicara tentang playability, tentu

perhatian kita langsung tertuju pada feel

pada necknya. Dengan neck yang di-finish

glossy, ternyata jemari kita masih mampu

bertumpu dengan nyaman, kecuali bagi

pemain yang seringkali melalukan teknik

slide, mungkin perlu lebih sering melap

keringat pada bagian neck ini.

Set-up yang pada RMB 32 pada

tulisan kali ini seakan sudah disiapkan untuk

para penggila slap. Mungkin bisa membuat

kita teringat TM Stevens, salah satu pemain

bass dengan teknik slap terbaik, pernah

memiliki signature series dengan warna

serupa RMB 32. Meskipun merk lain, sih.

Dengan action (ketinggian senar) yang tidak

terlalu rendah, lagu Can’t Stop dari Red Hot

Chili Peppers mampu diterjemahkan dengan

baik. Selama dimainkan, kami tidak merasa

perlu melakukan set-up action, apalagi

trussrod-nya segala.

Bahkan bagian belakang dan tutup cover baterai juga dibuat sewarna


unplug . review 47

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I

Pickup misterius Richard Miller

Berpindah ke bagian body, lekukanlekukan

pada bagian tepi membuat RMB32

terasa smooth. Meskipun body RMB 32

menjadi tipis dan sangat ringan, kita akan

tetap merasa bobot body dan neck masih

cukup seimbang. Pasti ini berkat

penempatan neck joint nya yang tepat.

Soundcheck

Jangan mengira ini adalah produk

yang memang ‘menjual tampang doang’.

Apalagi mengingat harganya nya bermain

di bawah 3 jutaan, kita tidak bisa terlalu

menuntut fitur macam-macam. Sehingga

dapat dibayangkan betapa terkejutnya

kami saat membuka cover belakang dan

menemukan sebuah baterai 9 Volt.

Rupanya RMB 32 menggunakan preamp

aktif sehingga kita dapat mengeksplorasi

tone pada bass ini.

Sayangnya kami tidak terdapat keterangan

cukup atas fungsi dari kelima knob-nya.

Dugaan terbaik adalah, kita dapat

menemukan sebuah master volume,

ekualiser 3 band (treble, bass, middle),

dan alih-alih switch, RMB 32 menggunakan

sebuah knob balancer untuk memilih pickup

yang dominan. Namun pembaca tidak perlu

khawatir, semestinya Rockwell akan

mencantumkan seluruh fungsi tersebut

dengan jelas pada website mereka saat

tiba waktunya RMB32 meluncur nanti.

Preamp aktif dan knob balancer ini juga

merupakan konfigurasi elektronik yang

jarang kita temukan pada produk di

kelasnya. Dalam pengujian, kami

menggunakan amplifier Gallien Krueger

700RB dengan kabinet 4x10 masih dengan

merk yang sama. Dengan seluruh knob

ekualiser yang flat, tone dapat terdengar

dengan jelas. Bahkan, seluruh knobnya

sensitif.


unplug . review 48

Fun Fact

Volute joint adalah metode penyambungan neck ke headstock

menggunakan dudukan berbentuk huruf “V”

Volute joint meninggalkan sedikit tonjolan di bawah nut, dan

memberikan kestabilan yang baik namun cukup kompleks untuk dibuat

Ternyata selain playabilitynya yang

menunjang permainan slap, karakter sound

dari RMB 32 juga mengikuti karena secara

keseluruhan karakter nya dapat kita

kategorikan ke arah mid-high yang punchy.

Gain yang besari layaknya karakter bass

modern. Belum ada banyak informasi

mengenai pickup Richard Miller ini karena

kalau di google malah tidak nyambung

dengan alat musik. Tapi toh meskipun

nama ini hanya gimmick sekalipun,

RMB 32 sudah berhasil merepresentasikan

sound modern.

Cavity tershielding dengan

baik oleh

copper foil

lebih dari itu. Material body menggunakan

Swamp Ash, pilihan fretboard Maple dan

tidak lupa dengan binding berwarna putih,

ditambah dengan sirkuit aktif pula.

Selain kita harus mengakui keberanian

Rockwell atas desain yang eksentrik untuk

mengawali semangat tahun baru ini,

mungkin ada keberanian lain dalam hal

pricing yang sulit ditandingi di kelasnya

karena sangat terjangkau. RMB 32

merupakan produk yang wajib dicoba

bagi yang bosan atas produk yang itu-itu

saja tapi dengan budget yang belum

se-kontroversial niatan tersebut.

Rating

Sound : 80

Playability : 75

Desain : 70

Harga : 85

Verdict

Dapat dimaklumi jika tiba-tiba kita

ingin membentuk band reggae karena

melihat warna bass ini. Tapi secara

keseluruhan, RMB32 dapat diapresiasi

Spesifikasi

Body : Swamp Ash

Neck : Maple dengan volute neck joint system

Fingerboard : Maple/Rosewood

Trussrod : Double Action

Radius Fingerboard : 14”

Electronik : 3 Band custom Richard Miller

Pickup : Richard Miller

Hardware : Custom Rockwell

Price list : Rp. 2.850.000

Website :

www.russelrockwell.com

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . review 49

Yamaha THR 100H Dual

Tonggak Baru Di Kelas Amplifier Modelling

YAMAHA MERILIS AMPLIFIER GITAR? TENTU SAJA HAL INI CUKUP MENGEJUTKAN MENGIN-

GAT MASIH BANYAK DIANTARA KITA YANG MUNGKIN TIDAK MENGETAHUI BAHWA YAMAHA

SEBENARNYA PERNAH MEMBUAT AMPLIFIER, BAHKAN EFEK DIGITAL SEPERTI DGSTOMP

JAUH SEBELUM MEREKA MEMBELI LINE 6. NAH, KITA MENDAPAT KEHORMATAN UNTUK

MENJAJALNYA SEBELUM RESMI DIJUAL DI SINI.

Kesan butik langsung terlihat saat

melihat dan menyentuh permukaan chassisnya.

Material yang keseluruhannya logam

membuatnya seakan berkata “bawalah saya

ke panggung!” Padahal, head ini tergolong

ringan. Dengan adanya kombinasi warna

putih dan lubang-lubang ventilasi, THR 100H

Dual juga memberikan kesan solid dan

elegan. Kesan tersebut akan semakin kuat

saat amplifier ini dalam keadaan “On”

karena tiga buah lampu berwarna merah

turut menyemarakkan amplifier solid state

ini, seakan-akan ini adalah amplifier tabung.

Bukti lain bahwa head amp ini dibuat

dengan sangat serius adalah pada perhatian

khusus dari Yamaha terhadap hal-hal detail

seperti knob. Seksi ekualiser diwakili oleh

knob berwarna putih berbentuk segi enam,

sedangkan pada knob booster, diwakili oleh

sebuah knob model chicken head berwarna

hitam. Percaya atau tidak, secara psikologis

ternyata metode ini membuat kita lebih

cepat memahami fungsi dasar amplifier ini.

Sebelum memulai, perlu diingat

bahwa ini adalah review dari sebuah

purwarupa yang akan dijual di Indonesia,

fitur seperti USB dan Direct Out XLR-nya

tidak diulas. Harga-nya pun baru dapat kita

kira-kira dari situs jual beli luar negeri

seperti “sweetwater.com” karena memang

belum resmi dijual di sini pada saat artikel

ini ditulis.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . review 50

Bahkan terdapat cooling fan di bagian belakangnya

Fitur

Sekilas melihat susunan knob-knob

yang berderet, kita mungkin berasumsi

amplifier ini memiliki banyak kontrol.

Padahal, sebenarnya amplifier ini hanya

terdiri dari dua buah channel yang dibuat

identik. Dengan memiliki dua buah input,

kita bahkan dapat menggunakan dua buah

gitar dengan masing-masing sound yang

independent.

Namun pastinya hal itu akan sangat

jarang kita temui mengingat pada saat ini

setiap gitaris pasti menggunakan atau

membawa amplifier masing-masing. Oleh

karena itu, kedua input ini lebih masuk akal

untuk dioptimalkan bagi kita yang ingin

memiliki tone yang kaya. Ya, hanya dengan

sebuah gitar saja yang dimasukkan ke Input

1, kita dapat memproduksi suara hasil

gabungan channel 1 dan channel 2! Apalagi

footswitch-nya juga menyediakan fitur

tersebut.

Footswitch yang ergonomis untuk di pedalboard

Satu lagi yang unik adalah hadirnya

presence yang biasanya hanya dapat ditemui

di amplifier tabung. Namun ternyata

tidak hanya itu. Melihat ke panel belakang,

kita malah menemui pilihan jenis tabung

seperti 6V6, EL34, EL84, 6L6, KT88 dan

kelas amplifier A atau AB. Terakhir, kita

dapat memilih daya

yang dikeluarkan

dengan rentang 25

Watt, 50 Watt, atau

100 Watt. Kami

punya keyakinan

kuat bahwa apa

yang dilakukan oleh

Yamaha ini belum

pernah dilakukan

4 kilogram masih masuk akal

diangkat dengan dua jari

oleh amplifier solid

state manapun.

Soundcheck

Jika melihat knob paling kiri,

maka kita akan paham bahwa pada

dasarnya konsep THR 100H Dual adalah

modeling amp. Terlihat dari pilihan sound

yang seakan sudah terkategorisasi seperti

solid, clean, crunch, lead, dan modern. Agar

matching, amplifier ini kita review secara

ekslusif dengan Yamaha AES 620. Pilihan

clean, crunch, dan lead-nya yang cukup

serbaguna. Apalagi, kita diberikan segudang

alternatif dengan pilihan tabung dan kelas

amplfiernya. Kelas amplifier AB terasa lebih

kalem dibandingkan kelas A.

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . review 51

Sedangkan pilihan tabung sebenarnya tidak

terlalu signifikan. Perubahan karakter yang

lebih drastis dapat kita rasakan pada knobknob

ekualisernya yang sangat sensitif.

Namun, perhatian utama kita mungkin

akan lebih tertuju pada saat menggabungkan

channel 1 dengan channel 2. Banyak

tone baru yang mungkin belum pernah kita

dengar sebelumnya saat menggabungkan

karakter drive yang lembut dengan yang

modern, atau dengan yang clean sekalipun.

Inilah mengapa Yamaha menaruh embelembel

“Dual” pada produk ini.

Saran untuk penggila distorsi, ada

baiknya meletakkan pedal booster atau

malah pedal distorsi favorit sebelum input

karena THR 100H Dual hanya menyediakan

sebuah sound hi-gain yaitu modern. Seakan

Yamaha masih belum percaya diri dengan

karakter gaharnya, atau mungkin produk ini

memang bukan target pasarnya. Tapi yang

jelas, setelah berjam-jam bermain dengan

produk ini,

sepertinya

model crunch

dan lead-nya

yang memang

akan lebih

banyak

Channel 1 Aktif

menarik calon

pembeli.

Untuk reverbnya

terlihat

seperti

pemanis saja

karena

kontrolnya

Channel 2 Aktif

memang tidak

banyak,

namun untuk

kualitas

suaranya

masih cukup

berguna.

Channel 1+2 Aktif

THR 100H Dual sudah dipersiapkan

dengan speaker cabinetnya yang dijual

terpisah, yaitu THRC 112 atau THRC 212.

Kedua kabinet ini mampu menerjemahkan

semua keinginan kita dengan grill cloth

(kain penutup speaker)-nya sangat modis

dan mewah. Hanya saja, footswitch-nya

memang tidak menyediakan pilihan untuk

karakter modeling-nya.

Verdict

Desain yang cantik, fisik yang ringan,

dan memiliki segudang fitur sepertinya

sudah cukup untuk merekomendasikan

sebuah amplifier. Namun

untuk yang satu ini kita

akan menemukan lebih

dari itu. Selain memiliki

kemampuan mereproduksi

banyak tone, bisa

jadi kita dapat menggunakan

amplifier ini untuk

Elegan dan garang

dalam satu kemasan

Rating

Fitur : 80

Sound : 79

Desain : 95

Spesifikasi

Tipe : Solid state

Jumlah Channel : 2

Total Power : 100 Watt

Reverb : Ada

Ekualiser : 3 band

Amp Modelling : 5

Input : 2 x ¼ Inchi jack instrument

Output : 2 x ¼ TS (ke speaker)

: 1 x 1/8 (headphone)

: 2 x XLR

Efek Loop : Ada

Tinggi : 12,5 cm

Panjang : 44,5 cm

Lebar : 25 cm

Berat : 4 kg

Harga : Belum diresmikan

menggoda iman pecinta

ampli tabung di luar sana.

Website :

www.id.yamaha.com

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . gear

INFO

PRODUK

Ahay Solid Java

Rosewood Drumset

Mengusung konstruksi solid yang mewah,

Ahay berusaha memberikan kebanggaan

dengan memilih bahan kayu Rosewood

(sonokeling) asli Indonesia. Dan karena

Ahay berkonsep customshop, pilihan

diameternya pun melimpah. Produk ini

tersedia dalam balutan glossy atau natural

satin untuk finishing-nya.

Spesifikasi

Bahan : Javan Rosewood

Konstruksi Shell: Solid Stave Block

Hardware : Ahay Classic Tube Lugs,

Fancy Throw Off, Classic Bass Drum Spurs,

Elegant Bass Drum Mount, Lightweight

Floor Tom Legs

Harga List : Rp 25.000.000

Website :

http://ahaydrum.wix.com/ahaydrums

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . gear

INFO

PRODUK

Egnator Tweaker 40

Ampli Tabung 40 Watt

Sebuah amplifier 40 Watt yang memiliki 2

channel yang bekerja dengan sepasang

tabung power 6L6 dan tiga buah tabung

preamp 12AX7. Meskipun bermain di kelas

Watt menengah, Tweaker 40 memiliki

banyak kombinasi suara berkat sebelas

mini switch-nya.

Spesifikasi

Daya : 40-Watt

Tabung : 2 x 6L6 dan 3 x 12AX7

Kontrol : Bass, Middle & Treble

Switch Voicing : AC, British, atau American

Jumlah Channel : 2

Fitur Independent : Volume & Gain, switch

Tight & Bright Voice, switch Vintage / Modern

Amp, selektor Clean / Hot, switch Mid Cut

Effect Loop : Buffered dengan selektor level

Dimensi : 21 cm x 47 cm x 20 cm

Berat : 10 kg

Harga list : Rp 11.160.000

Website :

www.egnateramps.com/EgnaterProducts/Tweaker/Tweaker40/Tweaker40.html

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . gear

INFO

PRODUK

G&L Tribute Fallout

Inspirasi Vintage Terlahir Kembali

Line up terbaru dari G&L yang terinspirasi

oleh produk lawas mereka di tahun 80-an,

yaitu G&L SC-2 namun dengan sejumlah

penyesuaian agar dapat memenuhi selera

masa kini. Jadi bisa dibilang G&L Fallout

sebenarnya adalah produk reissue, namun

dengan harga yang terjangkau.

Tersedia pilihan warna merah, hitam,

dan biru muda.

Spesifikasi

Konstruksi : Bolt-on

Skala : 25 1/2"

Pickup : G&L AP4285B P-90 di neck dan

G&L AW4470B humbucker di bridge

Kayu Body : Mahogany

Kayu Neck : Hard-rock Maple dengan

fretboard Rosewood

Lebar Nut : 41,25 mm

Neck Radius : 12" / 304,8 mm

Neck Profile : Medium C

Fret : 22 Medium Jumbo, Nikel

Tuning Key : 18:1

Bridge : G&L Saddle Lock

Kontrol : 3-Position Pickup Selector,

Volume, Tone dengan Push/Pull Coil Tap

Harga list : Rp 6.500.000

Website :

www.glguitars.com/instruments/TributeSeries/guitars/fallout/index.asp

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . gear

INFO

PRODUK

H.B.E. Hematoma

Pedal Efek Bass

Salah satu pedal yang dipakai oleh Chris

Wolstenholme dari Muse, Hematoma adalah

pedal efek bass 2 channel bass yang terdiri

dari sebuah preamp dan sebuah overdrive.

Preamp dan overdrive ini dapat dipakai

secara terpisah atau dikombinasikan.

Preamp-nya memiliki kontrol Pre-gain

untuk mem-boost hingga 5db. Sedangkan

overdrive-nya memiliki kontrol Gain, Level,

dan Tone dan juga sebuah kontrol EQ Shift

yang menghasilkan tone yang lebih warm

dan smooth saat diaktifkan.

Spesifikasi

Kontrol : Gain, Tone, Level, EQ Shift,

Pre-gain, Overdrive On/Off (Overdrive),

Pre-gain On/Off (Preamp)

Dimensi : 9 cm x 11,7 cm x 2,22 cm

Harga List : Rp 2.294.000

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . gear

INFO

PRODUK

Line 6 XD-V75

Bagi vokalis, tentu saja microphone wireless

merupakan kebutuhan pokok. Sesuai

kodrat-Nya, setiap suara manusia diberkahi

karakter tone yang berbeda-beda sehingga

memilih microphone yang sesuai dengan

karakter kita merupakan proses yang

memakan waktu. Namun bagi yang ingin

praktis, Line 6 XD-V75 sudah memberikan

10 karakter microphone dari merek-merek

terkemuka di dunia. Bagusnya, Line 6

memiliki fitur Lock Mode agar settingan

kita tidak sengaja berubah saat live.

Spesifikasi

Jarak : 300 feet (+/- 100 Meter)

Jumlah Channel : 14

Tipe Wireless : Digital Wireless Generasi

Keempat

Tipe Handheld : Dynamic, Cardioid Polar

Pattern

Material Handheld : Logam, dengan kapsul

microphone dapat diganti

Display LCD : Channel yang digunakan,

atatus baterai, model microphone

Harga List : Rp 9.700.000

Website :

http://line6.com/xd-v75/

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . gear

INFO

PRODUK

Tech 21 Fly Rig 5

Multiefek Analog

Dengan panjang hanya 30 Centimeter,

Fly Rig 5 dari Tech 21 mengemas lima

efek gitar andalan Tech 21, yang terdiri

dari sebuah clean boost, overdrive ala

Plexi, emulator ampli tabung yang diambil

dari SansAmp, sebuah spring reverb, dan

tape delay.

Fly Rig 5 memungkinkan kita membawa

sebuah pedalboard full analog dengan

format praktis.

Spesifikasi

Material : Casing dan Footswitch Logam

Konektor : ¼ “ High Impedance Input

: ¼ “ Low Impedance Output

Dimensi : 29,2 cm x 6,35 cm x 3,175 cm

Berat : 527 gram

Harga list : Rp 4.700.000

Website :

www.tech21nyc.com/products/sansamp/flyrig.html

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug . gear

INFO

PRODUK

Yamaha Reface Series

Koleksi Keyboard Klasik Dalam Format Mini

Yamaha melakukan gebrakan dengan

meluncurkan empat buah mini keyboard

sekaligus. Segmen mini keyboard yang

sebelumnya cenderung identik dengan

keyboard synthesizer, kini semakin variatif

karena Yamaha dari keempat line-up yang

diberi nama Reface Series ini mencakup

Reface CP yang memiliki suara-suara piano

elektrik seperti Yamaha CP80. Tersedia

juga Reface DX (FM Synth), Reface YC

(organ), dan Reface CS (analog modelling

synthesizer).

Spesifikasi

Amplifier : 2 x 2 watt

Speaker : 2 x 3 cm

Penggunaan Daya : 6 watt

Usia baterai : Sekitar 5 jam

Dimensi : 53 cm x 6 cm x 17,5 cm

Berat : 1,9 kg

Jumlah Tuts : 37, Initial Touch

Harga list : Rp 5.950.000

Website :

http://id.yamaha.com/id/products/musicalinstruments/keyboards/synthesizers/reface/?mode=series#tab=product_lineup

M A J A L A H A L A T M U S I K D A N M U S I S I


unplug 59


unplug 60

Similar magazines