CASE 1 - Web Blog Agus Dwi Sasono

agusdwisasono.dosen.narotama.ac.id

CASE 1 - Web Blog Agus Dwi Sasono

estimasi peluang survive menunjukkan beberapa hal yang mempengaruhinya.Penelitian secara longitudinal telah pula dilakukan. Penelitian yangmengamati perusahaan-perusahaan dalam jangka panjang tersebutmenemukan penyebab kesulitan keuangan, situasi dan upaya yang dilakukan,upaya restrukturisasi hutang, model prediksi kesulitan keuangan, atribut tatakelola yang berkaitan, faktor yang meningkatkan peluang survive, dankebijakan-kebijakan yang dilakukan prusahaan kokoh dalam menghadapiserangan krisis.Antisipasi dan rekomendasi berdasarkan pengamatan sejarah danpenelitian akan diberikan pada akhir bagian satu. Hal ini dapat menjadimasukan bagi perusahaan.Definisi Kesulitan Keuangan PerusahaanKesulitan keuangan dimulai ketika perusahaan tidak dapat memenuhi jadwalpembayaran atau ketika proyeksi arus kas mengindikasikan bahwaperusahaan tersebut akan segera tidak dapat memenuhi kewajibannya(Brigham dan Daves, 2003). Ada beberapa definisi kesulitan keuangan, sesuaitipenya, yaitu economic failure, business failure, technical insolvency,insolvency in bankruptcy, dan legal bankruptcy (Brigham dan Gapenski, 1997).Berikut ini adalah penjelasannya:1. Economic failure Economic failure atau kegagalan ekonomi adalah keadaandimana pendapatan perusahaan tidak dapat menutupi total biaya, termasukcost of capitalnya. Bisnis ini dapat melanjutkan operasinya sepanjangkreditur mau menyediakan modal dan pemiliknya mau menerima tingkatpengembalian (rate of return) di bawah pasar. Meskipun tidak ada suntikanmodal baru saat aset tua sudah harus diganti, perusahaan dapat jugamenjadi sehat secara ekonomi.2. Business failure Kegagalan bisnis didefinisikan sebagai bisnis yangmenghentikan operasi dengan akibat kerugian kepada kreditur.3. Technical insolvency Sebuah perusahaan dikatakan dalam keadaantechnical insolvency jika tidak dapat memenuhi kewajiban lancar ketikajatuh tempo. Ketidakmampuan membayar hutang secara teknismenunjukkan kekurangan likuiditas yang sifatnya sementara, yang jikaDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 2


diberi waktu, perusahaan mungkin dapat membayar hutangnya dan survive.Di sisi lain, jika technical insolvency adalah gejala awal kegagalan ekonomi,ini mungkin menjadi perhentian pertama menuju bencana keuangan(financial disaster).4. Insolvency in bankruptcy Sebuah perusahaan dikatakan dalam keadaanInsolvent in bankruptcy jika nilai buku hutang melebihi nilai pasar aset.Kondisi ini lebih serius daripada technical insolvency karena, umumnya, iniadalah tanda economic failure, dan bahkan mengarah kepada likuidasibisnis. Perusahaan yang dalam keadaan insolvent in bankruptcy tidakperlu terlibat dalam tuntutan kebangkrutan secara hukum.5. Legal bankruptcy Perusahaan dikatakan bangkrut secara hukum jika telahdiajukan tuntutan secara resmi dengan undang-undang (Brigham danGapenski, 1997).Brigham dan Gapenski (1997) menjelaskan pula, ketidakmampuanperusahaan yang mengalami technical insolvency disebabkan masalah aruskas secara temporer. Biasanya masalah ini diselesaikan dengan restrukturisasihutang oleh para kreditur. Sedangkan pada insolvency in bankruptcy,masalahnya bersifat permanen dan dapat mengarah pada likuidasi bisnis.Brigham dan Gapenski memasukkan legal bankruptcy sebagai salah satu tipekesulitan keuangan. Namun literatur lain membedakannya. Misalnya Scott(1981) yang mengatakan bahwa perusahaan yang kesulitan memenuhikomitmen keuangannya tidak selalu mengarah kepada kebangkrutan (Low etal., 2001).Technical insolvency dalam Brigham dan Gapenski di atas sama denganequity insolvency menurut Altman (1983). Equity insolvency tergambar jikaperusahaan tidak dapat membayar hutangnya ketika jatuh tempo dalamkegiatan bisnis yang biasa. Insolvency in bankruptcy dalam Brigham danGapenski sama dengan bankruptcy insolvency menurut Altman (1983), dapatdilakukan dengan uji neraca, jika total aset perusahaan lebih kecil dari jumlahkewajiban. Di Amerika, legal bankruptcy diatur dalam Chapter 7 Bankruptcy Codetentang liquidation bankruptcy yang merinci prosedur dalam melikuidasiperusahaan. Dalam hal ini pengadilan menunjuk wali (trustee), yangmengumpulkan properti perusahaan, mengurangi kas, dan mendistribusikankelebihan pada kreditur dengan dasar pro rata dengan secepat dan seefisienDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 3


mungkin. Distribusi aset yang rapi dan adil kepada kreditur akan dapatmengurangi dampak negatif dari kegagalan bisnis.Untuk perusahaan kesulitan keuangan yang enggan menyerah dan berusahameraih survive, aturannya terdapat dalam Chapter 11 Bankruptcy Code.Perusahaan akan berusaha untuk meyakinkan kreditur agar membekukanklaimnya untuk sementara selagi perusahaan tersebut melakukan reorganisasidan membangun kembali operasi sampai diraih laba yang memuaskan.Pendekatan reorganisasi kebangkrutan ini dapat dilakukan berdasarkankemampuan perusahaan meyakinkan kreditur bahwa ia dapat berhasil di pasardengan mengimplementasikan strategi perencanaan baru. Ketikamenghasilkan laba, perusahaan dapat membayar kembali kreditur, barangkalisecara penuh. Jadi, chapter 11 Bankruptcy Code dilakukan jika ada peluangkemungkinan hidup jangka panjang secara nyata.Chapter 11 memberi waktu dan perlindungan bagi debitur perusahaanuntuk reorganisasi dan menggunakan pendapatan mendatang guna membayarkreditur. Perusahaan mungkin merestrukturiasi hutang, menutup divisi atautoko yang tidak profitable, menegosiasikan kembali kontrak pekerja,mengurangi kekuatan pekerjaan, atau mengajukan tindakan lain yang dapatmenciptakan bisnis yang lebih menguntungkan. Jika rencana disetujui kreditur,perusahaan akan diberi peluang lain untuk menghindari likuidasi dan lahirkembali dari kebangkrutan (Pearce dan Robinson, 2003).Bahasa hukum di Inggris agak berbeda dengan di Amerika. Bangkrutdigunakan untuk merujuk pribadi, sedang untuk perusahaan digunakan istilahinsolvensi (Franks dan Sussman, 2005).Di Indonesia kepailitan (failure) diatur dalam UU. No.1 tahun 1998,disebutkan bahwa debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditur dan tidakdapat membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan tidak dapatditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan yang berwenang, baikatas permohonan sendiri, maupun atas permintaan seorang atau lebihkrediturnya. Permohonan ini dapat juga diajukan oleh kejaksaan untukkepentingan umum.Definisi kesulitan keuangan menurut Peraturan Pencatatan SahamShanghai Stock Exchange (SHSE) dan Shenzhen Stock Exchange (SZSE)artikel 9.2.1 tahun 2001 adalah situasi keuangan yang tidak normal. Suatuperusahaan berada dalam keadaan situasi yang tidak normal bila perusahaantersebut menghadapi salah satu dari situasi-situasi ini, yaitu: laba bersihDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 4


selama dua tahun terakhir negatif, nilai saham bersih kurang dari face valuesaham dalam tahun terakhir, auditor memberi opini adverse atau disclaimerpada laporan keuangan tahun terakhir, nilai kepemilikan ekuitas yang diakuiauditor dan departemen terkait kurang dari nilai modal yang tercatat padatahun terakhir, dan situasi tidak normal lain berdasarkan pertimbangan ChinaSecurities Regulation Comission (CSRC), atau SHSE dan SZSE. Standarsituasi tidak normal tersebut menekankan profitabilitas dan penurunan kinerjayang sangat buruk. Namun, perusahaan-perusahaan publik di China yangstatus keuangannya sudah totally hopeless pun tidak dinyatakan bangkrutsecara undang-undang (Deng dan Wang, 2006).Definisi kesulitan keuangan dalam riset-riset awal disinonimkan dengankegagalan bisnis (misalnya Altman, 1968; Altman et al., 1977; Ball and Foster,1982; Moses dan Liao, 1987 dalam Turetsky dan McEwen, 2001). Tetapiperkembangan selanjutnya mengatakan bahwa kesulitan keuanganmempunyai beberapa karakteristik sehubungan dengan peristiwa antarakesehatan perusahaan dan kebangkrutan (Lau, 1987; Gilbert et al., 1990;Anyane-Ntow, 1991; dan Johnsen and Melicher, 1994 dalam Turetsky danMcEwen, 2001). Turetsky dan McEwen (2001) menggambarkan kesulitankeuangan sebagai rangkaian peristiwa keuangan yang merefleksikan berbagaimacam tingkatan corporate adversity.Suatu perusahaan sudah dapat dikatakan menderita kesulitan keuanganpada tahun pertama aliran kas kurang dari kewajiban jangka panjang yangjatuh tempo (Whitaker, 1999). Aliran kas didefinisikan sebagai pendapatanbersih ditambah beban-beban non kas.Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan umumnya mengalamipenurunan dalam pertumbuhan, kemampulabaan, dan aset tetap, sertapeningkatan dalam tingkatan persediaan relatif terhadap perusahaan yangsehat (Kahya dan Theodossiou, 1999). Di samping itu kesulitan keuangandapat juga dilihat dari melemahnya kondisi keuangan, kreditur yang mulaimengambil tindakan, pemasok yang mungkin tak mengirim bahan baku secarakredit, investasi modal yang menguntungkan mungkin harus dilepas, danpembayaran dividen yang terganggu (Keown et al., 1997).Penyebab Kesulitan Keuangan PerusahaanLizal (2002) mengelompokkan penyebab-penyebab kesulitan danmenamainya dengan Model Dasar Kebangkrutan atau Trinitas PenyebabDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 5


Kesulitan Keuangan. Menurut beliau, ada tiga alasan yang mungkin mengapaperusahaan menjadi bangkrut, yaitu:1. Neoclassical model Pada kasus ini kebangkrutan terjadi jika alokasisumber daya tidak tepat. Kasus restrukturisasi ini terjadi ketikakebangkrutan mempunyai campuran aset yang salah.Mengestimasi kesulitan dilakukan dengan data neraca dan laporan labarugi. Misalnya profit/assets (untuk mengukur profitabilitas), danliabilities/assets.2. Financial model Campuran aset benar tapi struktur keuangan salahdengan liquidity constraints (batasan likuiditas). Hal ini berarti bahwawalaupun perusahaan dapat bertahan hidup dalam jangka panjang tapi iaharus bangkrut juga dalam jangka pendek. Hubungan dengan pasar modalyang tidak sempurna dan struktur modal yang inherited menjadi pemicuutama kasus ini. Tidak dapat secara terang ditentukan apakah dalam kasusini kebangkrutan baik atau buruk untuk direstrukturisasi.Model ini mengestimasi kesulitan dengan indikator keuangan atauindikator kinerja seperti turnover/total assets, revenues/turnover, ROA,ROE, profit margin, stock turnover, receivables turnover, cash flow/ totalequity, debt ratio, cash flow/(liabilities-reserves), current ratio, acid test,current liquidity, short term assets/daily operating expenses, gearing ratio,turnover per employee, coverage of fixed assets, working capital, totalequity per share, EPS ratio, dan sebagainya.3. Corporate governance model Disini, kebangkrutan mempunyai campuranaset dan struktur keuangan yang benar tapi dikelola dengan buruk.Ketidakefisienan ini mendorong perusahaan menjadi out of the marketsebagai konsekuensi dari masalah dalam tata kelola perusahaan yang takterpecahkan.Model ini mengestimasi kesulitan dengan informasi kepemilikan.Kepemilikan berhubungan dengan struktur tata kelola perusahaan dangoodwill perusahaan.Aziz dan Dar (2006) menjelaskan beberapa tipe penyebab kebangkrutan yangdisajikan berikut ini:Dr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 6


Dr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 7


Sumber: Aziz dan Dar (2006).Option adalah klaim keuangan yang memberikan pemegangnya hakuntuk membeli (call option) atau menjual (put option) sebuah underlying asetdimasa depan pada harga exercise yang ditentukan terlebih dahulu. Merton(1974) mengakui bahwa model dapat diaplikasikan sebagai teori pricing untukkewajiban korporat secara umum. Option pricing sebagai model penilaianuntuk investasi dalam ketidakpastian, “real option” telah dikembangkan olehDixit dan Pindyck (1994).Dari uraian di atas tersirat bahwa kesulitan keuangan dapat ditinjau darikomposisi neraca - jumlah aset dan kewajiban, dari laporan laba rugi – jikaperusahaan terus menerus rugi, dan dari laporan arus kas – jika arus kasmasuk lebih kecil dari arus kas keluar. Sedangkan teori resiko kredit yangdipaparkan dapat diartikan bahwa kegagalan berhubungan dengan strukturmodal dan struktur modal berkaitan dengan kondisi ekonomi. Jika ekonomiburuk hutang akan meningkat karena tingkat bunga meningkat. Akhirnyaperusahaan akan gagal. Hal ini sesuai dengan uraian Copeland dan WestonDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 8


(1992) bahwa interest perlu dipertimbangkan sehubungan dengan perubahanhutang perusahaan yang beresiko dalam basis firm by firm. Metode umumuntuk menentukan resiko kegagalan hutang jangka panjang perusahaanadalah dengan merujuk rating bond yang disediakan oleh berbagai agensi,misalnya Moody’s Investors Service, Inc., Standard & Poor’s Corp., dan FitchInvestor Service.Dun & Bradstreet meneliti penyebab-penyebab kegagalan bisnis(Brigham dan Daves, 2003). Penyebab utama adalah faktor ekonomi (37,1%)dan faktor keuangan (47,3%), selain itu disebabkan oleh kelalaian,malapetaka, dan kecurangan (neglect, disaster, dan fraud), yaitu sebanyak14%, serta faktor-faktor lain yang tidak dirinci yaitu sebanyak 1,6%. Faktorekonomi meliputi kelemahan industri dan lokasi yang buruk. Faktor keuanganmeliputi hutang yang terlalu banyak dan modal yang tidak memadai.Pentingnya faktor-faktor yang berbeda ini bervariasi dari waktu ke waktu,bergantung beberapa hal seperti keadaan ekonomi dan tingkat suku bunga.Juga, kebanyakan kegagalan bisnis terjadi karena kombinasi sejumlah faktoryang membuat bisnis tidak dapat bertahan.Menurut statistik dari Dun & Bradstreet, 88% kegagalan bisnis disebabkankesalahan manajemen (management mistakes). Ada 12 hal yang kesalahanmanajemen tersebut, yaitu:1. going into business for the wrong reasons2. advice from familiy an friends3. being in the wrong place that the wrong time4. enterpreneur gets worn-out and or underestimated the timerequirements5. family pressure on time and money commitments6. pride7. lack of market awareness8. the enterpreneur falls in love with the product/business9. lack of financial responsibility and awareness10.lack of clear focus11.too much money12.optimistic/realistic/pessimisticDun dan Bradstreet juga menemukan penyebab-penyebab kegagalanbisnis per industri (Deva Industries, Inc., 1997). Tabel berikut ini menyajikanDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 9


persentase penyebab kegagalan bisnis menurut industri dari Dun danBradstreet tersebut.A. Pertanian, kehutanan, dan perikananB. PertambanganC. KonstruksiD. ManufakturE. Transportasi dan keperluan umumF. Perdagangan besarG. Perdagangan eceranH. Keuangan, asuransi, dan perumahanI. JasaDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 10


Sumber: Deva Industries, Inc. (1997)Penyebab umum kegagalan juga dikemukakan oleh Dylan (1996).Penyebab-penyebab tersebut diuraikan berikut ini:PasarPenurunan pasar (atau terlalu optimis)Peningkatan persainganKurang daya saingKeuanganOvertrading (perdagangan berlebih) atau satu proyek besarBanyak hutangKurang modalPengurusan kas yang tidak memadaiPengawasan tidak memadaiPengambilan uang berlebihanOperasionalLokasi bisnisTerlalu ambisi dalam memulai bisnisEstimasi biaya terlalu optimisManusiaBidang pengurusan tidak seimbang atau tidak memadaiKurang perhatian atau dorongan dari pemilik – manajerKurang kepemimpinan dan pengarahanRekruitmen tidak memadai atau tidak tepatFaktor-faktor kegagalan bisnis yang penting (menurut urutannya) telah pula ditelitioleh Deakin, 1991 (dalam Dylan, 1996), yaitu:1. Lack of knowledge of marketing2. Competing task demands from family/domestics sources3. Problems of outlets4. Lack of market awareness of product/service5. The costs of business premises6. Inappropriate business premises7. Insufficient mark-up8. Unacceptable risk9. Change in home circumstancesDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 11


10. Inappropriate size of premisesWruck (1990) dalam Whittaker (1999) mengatakan bahwa kesulitan keuanganterjadi akibat economic distress, penurunan dalam industri perusahaan, danmanajemen yang buruk. Manajemen yang buruk didefinisikan sebagaikecenderungan penurunan persentase pendapatan operasi perusahaan terhadappendapatan operasi industri dalam lima tahun terakhir.Penyebab kegagalan perusahaan lain yang dikemukakan para pakar adalah:tidak adanya atau kurangnya upaya mengawasi kondisi keuangan sehinggapenggunaan uang tidak sesuai dengan keperluan, akibatnya perusahaankekurangan uang untuk membayar gaji, membeli bahan baku, dan membayarhutang (Mackey, 1983); hutang yang berlebihan (highly leverage), kualitasmanajemen rendah, dan pegawai yang tidak jujur (Kaplan, 1993); modal tidakmencukupi, piutang lapuk, rugi bersih, aliran kas tidak mencukupi, kerugiankarena tuntutan undang-undang, manajer tidak berpengalaman, manajer tidakpandai, manajemen kredit yang tidak baik, perusahaan bermasalah, pembelianyang berlebihan, aset yang hilang, lokasi yang tidak sesuai, persaingan yangketat, penentuan harga tidak tepat, biaya penjualan yang tinggi (Fejerstein, 1996);serta kegagalan mengurus modal kerja (Robbie, Wright, dan Ennew, 1993).Selanjutnya dari kajian kualitatif Argenti (1976) ditemukan bahwa kegagalanadalah puncak dari urutan defect dan mistake yang akhirnya memberikansymptoms. Defect meliputi kecacatan dalam manajemen dan akuntansi. Defectdalam manajemen meliputi CEO yang autokrat, dualitas CEO dan ketua dewandirektur, dewan direktur pasif dan CEO tidak menyadarinya, komposisi dewandirektur tidak seimbang misalnya didominasi orang teknik atau didominasi orangkeuangan, direktur keuangan yang lemah dan kurangnya keahlian manajemen.Defect dalam akuntansi meliputi ketiadaan anggaran belanja atau pengawasanbiaya untuk menaksir varians dan lain-lain; tidak ada anggaran arus kas atau tidakdiperbaharui; tidak ada sistem biaya, biaya dan pembebanannya ke masingmasingoutput tidak diketahui; kurang mengikuti trend, produk yang ketinggalanzaman, pabrik yang usang; serta direktur-direktur tua dan menggunakanpemasaran cara lama. Mistake meliputi hutang yang tinggi sehingga dapatmenimbulkan kesulitan keuangan; overtrading – beban lebih cepat timbuldaripada dana yang masuk; serta modal dasar terlalu kecil atau tidak seimbangdengan ukuran dan jenis usaha. Sedangkan symptoms yang nampak meliputitanda keuangan seperti skor z yang menunjukkan perusahaan sudah dekat kemasa kegagalan; creative accounting, menyembunyikan tanda-tanda kegagalanDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 12


dari pihak kreditur dan bank dengan mempercantik akun-akun sepertimembesarkan nilai persediaan, menggunakan penyusutan yang lebih rendah, danlain-lain; kantor yang tidak rapi, gaji yang ketat, CEO yang “sakit”, turnoverpegawai yang tinggi, moral atau semangat yang rendah; dan tanda-tanda tutup(Fachrudin, 2004).Studi kasus menunjukkan bahwa financial difficulties biasanya terjadikarena serangkaian kesalahan, pengambilan keputusan yang tidak tepat, dankelemahan-kelemahan yang saling berhubungan yang dapat menyumbangsecara langsung maupun tidak langsung kepada manajemen. Sinyal-sinyalpotensi kesulitan keuangan biasanya nampak jelas melalui analisa rasio sebelumperusahaan benar-benar gagal (Brigham dan Daves, 2003).Pemilik bisnis dan analis luar mungkin menginterpretasikan kegagalan dengansangat berbeda. Dylan (1996) mengemukakan perbedaan tersebut sebagaimanaterlihat dalam tabel di bawah ini.Storey (1994) dalam Dylan (1996) menyampaikan pula faktor-faktor yangmempengaruhi kegagalan, yaitu:1. Umur perusahaan; semakin lama perusahaan berdiri, semakin kecilkemungkinan gagal2. Ukuran perusahaan; semakin besar perusahaan, semakin kecilkemungkinan gagal3. Pertumbuhan; perusahaan yang tumbuh lebih mungkin survive4. Kondisi ekonomi makro; tingkat kegagalan meningkat selama resesi5. Sektor; tingkat kegagalan tinggi pada beberapa sektor industri6. Manusia; ada bukti-bukti bahwa tingkat kegagalan berbanding terbalikDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 13


terhadap tingkat pendidikan, umur dan pengalaman terdahulu pemilik –manajer7. Tipe perusahaan; terdapat sedikit kegagalan dalam usaha waralaba8. Lokasi – tingkat kegagalan agak rendah di daerah pedesaan.Brigham dan Gapenski (1997) mengatakan bahwa semakin besar pembiayaandari hutang, dan semakin besar beban bunga tetap, semakin besar probabilitasbahwa penurunan earning akan mengarah kepada kesulitan keuangan, karena itusemakin tinggi probabilitas biaya kesulitan keuangan akan dikenakan. Jadi hutangdapat pula menyebabkan kesulitan keuangan.Tata kelola perusahaan yang buruk pada obligor-obligor besar BadanPenyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dapat pula menimbulkan kesulitankeuangan. Misalnya penggunaan dana kredit bukan untuk operasionalperusahaan (PT. Bentoel Prima dari Grup Rajawali), penyelewengan danapinjaman untuk kepentingan pemegang saham dan direktur utama (salah satuperusahaan dalam Group Tirtamas yaitu PT. Tirtamas Comexindo, akhirnyadipailitkan oleh BPPN tanggal 30 Desember 1999), penyelewengan danapinjaman bank untuk kepentingan anak-anak perusahaan (Grup Barito),penyelewengan untuk anak perusahaan dan proyek lain - bahkan ada indikasidana pinjaman digunakannya untuk membeli saham anak perusahaan saat rightissue-nya tak direspon pasar (Grup Dharmala), dan penyelewengan denganmembuat perusahaan fiktif atau paper company (Grup Ongko) (Faktor, 2000).Kesulitan juga terjadi karena kelalaian manajemen. Contohnya ketika manajemenlama PT. Indofarma Tbk membeli alat-alat kesehatan yang ketinggalan zamansehingga tidak dapat dijual sehingga akhirnya dihapusbukukan.Aksi menaikkan nilai atau mark-up atas jaminan hutang juga menimbulkanmasalah pada kesulitan. Terutama pada proses asset settlement dan cashsettlement oleh bank. Nilai jaminan lebih kecil dari nilai hutangnya. Hal ini terjadipada Grup Humpuss. Bahkan ada yang sama sekali tidak memiliki jaminan atashutang-hutangnya, seperti Grup Bakri yang kesulitan membayar kewajibannyayang berjumlah Rp 4,926 triliun kepada BPPN.Kesulitan keuangan yang diderita beberapa perusahaan manufaktur yangterdaftar di Bursa Efek Indonesia (dahulu Bursa Efek Jakarta) sejak 1997disebabkan oleh krisis ekonomi 1997. Pada saat itu kurs meningkat sangat pesat.Peningkatan dari 31 Desember 1996 sampai 31 Desember 1997 sebesar 1,95Dr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 14


kali. Padahal komposisi hutang bank dan lembaga keuangan lainnya padaperusahaan-perusahaan kesulitan keuangan tersebut cukup tinggi, yaitu 80,34%pada tahun 1996 dan 85,71% pada tahun 1997. Persentase hutang bank danlembaga keuangan lainnya dalam US$ terhadap jumlah hutang bank danlembaga keuangan lainnya dalam mata uang asing juga cukup tinggi, yaitu98,27% pada tahun 1996 dan 98,97% pada tahun 1997. Kerugian karena bebanbunga dan selisih kurs yang tinggi, dan mungkin juga biaya-biaya yang meningkatpada masa krisis menyebabkan profitabilitas perusahaan tersebut menjadinegatif. Tingginya hutang dan rendahnya profitabilitas menyebabkan kesulitankeuangan perusahaan.Akibat Kesulitan Keuangan PerusahaanKerugian utama perusahaan yang mempunyai tingkat hutang yang lebih tinggiadalah peningkatan resiko kesulitan keuangan, dan akhirnya likuidasi. Hal inimungkin mempunyai pengaruh merugikan bagi pemilik ekuitas dan hutang(NetTel Africa, 2002).Akibat kesulitan keuangan sebagai berikut:- Resiko biaya kesulitan keuangan mempunyai dampak negatif terhadapnilai perusahaan yang mengoffset nilai pembebasan pajak (tax relief) ataspeningkatan level hutang.- Jika pun manajer perusahaan menghindarkan likuidasi ketika kesulitan,hubungannya dengan supplier, pelanggan, pekerja, dan kreditor menjadirusak parah.- Suplier penyedia barang dan jasa secara kredit mungkin lebih berhati-hati,atau bahkan menghentikan pasokan sama sekali, jika mereka yakin tidakada kesempatan peningkatan perusahaan dalam beberapa bulan.- Pelanggan mungkin mengembangkan hubungan dengan suplier mereka,dan merencanakan sendiri produksi mereka dengan andaian adakeberlanjutan dari hubungan tersebut. Adanya keraguan tentang longevityperusahaan tidak menjamin kontrak yang baik. Pelanggan umumnyamenginginkan jaminan bahwa perusahaan cukup stabil untuk menepatijanji.Situasi kesulitan keuangan mungkin juga membuat pekerja kurang termotivasijika mereka merasa semakin gelisah dalam bekerja dan prospek untuk majusangat sedikit. Staf terbaik akan bersiap pindah posisi ke perusahaan yang lebihDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 15


aman.Bank dan pemberi pinjaman lain akan cenderung melihat dengan prejudicedeye atas pinjaman lanjutan yang diajukan perusahaan yang mengalami kesulitankeuangan - mengambil tindakan berjaga-jaga – dan ini dapat berlanjut selamabeberapa tahun setelah krisis berlalu.Manajemen merasa bahwa banyak waktu mereka terbuang dalam “apiperkelahian” – dari hari ke hari berhadapan dengan masalah likuiditas– danberfokus pada cash flow jangka pendek daripada kesejahteraan pemegang sahamjangka panjang (NetTel Africa, 2002).Kesulitan keuangan menimbulkan biaya tidak langsung dan langsung yang akandijelaskan berikut ini:Biaya tidak LangsungBiaya tidak langsung yang berhubungan dengan kesulitan keuangan dapatjadi lebih signifikan daripada biaya langsung nyata. Biaya ini umumnya tidaklangsung keluar dalam bentuk kas. Contoh biaya tidak langsung adalahketidakpastian dalam pikiran pelanggan sehubungan dengan perusahaan - lostsales (kehilangan penjualan), lost profits, lost goodwill; ketidakpastian dalampikiran supplier sehubungan dengan perusahaan ini - lost inputs, terminologiperdagangan yang lebih mahal; jika aset harus segera dijual maka harganya akansangat rendah; keterlambatan, pemaksaan legal, dan kekusutanpengorganisasian keuangan kembali mungkin membatasi tindakan manajemen,bertentangan dengan jalannya bisnis yang efisien; manajemen mungkin memberiperhatian berlebihan pada likuiditas jangka pendek, seperti memangkas R&D danpelatihan, mengurangi penjualan kredit dan tingkat persediaan; godaan untukmenjual bisnis sehat jika meningkatkan jumlah tunai, kehilangan semangat staf,kecenderungan untuk menguji pekerja alternatif; serta penawaran term kredit yangrendah ke pelanggan demi memelihara kas padahal ini berakibat pada usahapemasaran (NetTel Africa, 2002); pelanggan akan berfikir untuk membeli barangbarang,khususnya dari perusahaan penghasil barang-barang tahan lama, karenaketidakpastian jasa reparasi atau ketersediaan suku cadang dimasa depan(Brigham dan Gapenski, 1997); kehilangan proyek baru karena manajemenberkonsentrasi kepada penyelesaian kesulitan keuangan dalam jangka pendek,dan hilangnya nilai perusahaan saat manejer atau hakim melikuidasi perusahaanyang masih memiliki net present value positif (Hadad et al., 2003).Dr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 16


Biaya LangsungBiaya langsung kesulitan keuangan adalah biaya yang dikeluarkansehubungan dengan kesulitan. Contoh biaya langsung adalah fee pengacara, feeakuntan, fee pengadilan, waktu manajemen (NetTel Africa, 2002), tenagaprofessional lain untuk merestrukturisasi keuangannya yang kemudian dilaporkankepada kreditur, bunga yang dibayar perusahaan untuk pinjaman selanjutnyayang biasanya jauh lebih mahal (Hadad et al., 2003), beban administratif(Brigham dan Gapenski, 1997).Tanggapan terhadap Kesulitan Keuangan PerusahaanPerusahaan yang menghadapi kesulitan keuangan umumnya menanggapiatau merespon dengan tindakan-tindakan seperti pengurangan dividen (Turetskydan McEwen, 2001), pengurangan tenaga kerja, dan menutup pabrik atau divisi.Dalam hal ini juga ada kemungkinan bahwa direktur utama akan mengundurkandiri.Jensen (1989) mengatakan bahwa kesulitan keuangan memicu tindakanperbaikan manajemen untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Tindakanperbaikan manajemen dapat memulihkan dan memperbaiki nilai pasar industryadjusted perusahaan kesulitan keuangan bila kesulitan tersebut disebabkanmanajemen yang buruk, tetapi tidak bila kesulitan tersebut disebabkan economicdistress (Whitaker, 1999).Kesulitan keuangan juga menyebabkan penghentian operasi, pabrik, ataudivisi, pengurangan produksi, penundaan proyek tertentu, tidak dibayarnyadividen, auditor independen tidak memberikan pendapat atas laporan keuanganperusahaan, dan pengurangan jumlah karyawan (Fachrudin, 2007).Perusahaan dapat menyembunyikan kesulitan keuangan dengan windowdressing. Misalnya dengan mengalihkan hutang ke perusahaan se-group sepertiyang terjadi pada PT. Artika Optima Inti milik obligor Djayanti dalam upaya gopublic tahun 1997. Tahun 2000, setelah ketahuan, total hutang perusahaankepada BPPN sebesar Rp 2,89 triliun. Window dressing juga dilakukan denganmencatat penjualan yang tinggi pada akhir tahun sehingga diperoleh laba yangDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 17


tinggi. Namun pada awal tahun menurun drastis dengan alasan terjadi returpenjualan secara besarbesaran.Ini dilakukan PT. Indofarma (Yuliawati, 2004). Cara lain adalah dengantidak membukukan kerugian, seperti PT. Sekar Bumi yang mempunyai kerugiantransaksi derivatif sebesar Rp.233 miliar. Besarnya total hutang PT. Sekar Bumimenyebabkan Bursa Efek Jakarta melakukan delisting terhadap sahamnya padatanggal 14 September 1999 (Peng-408 BEJ 09-1999). Demikian juga PT. SekarLaut dari grup yang sama, Grup Sekar. Overstatement atas penyajian akunpenjualan dan piutang juga dapat dilakukan. Misalnya PT. Great RiverInternational, sebuah perusahaan manufaktur terbuka yang juga mengalamikesulitan keuangan, telah terbukti melakukan overstatement dalam laporankeuangan per 31 Desember 2003, dan melakukan penambahan aktiva tetapperseroan, khususnya yang terkait dengan penggunaan dana hasil emisi obligasi,yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya (Bapepam, 2005).Manipulasi laporan keuangan juga dilakukan di luar negeri. Contohnyaadalah skandal korporasi di Amerika Serikat seperti Enron, Xerox, WorldCom, danMerck. Sebelum skandal akuntansi yang mereka lakukan terungkap, umumnyarasio keuangan perusahaan tersebut baik dan kuat sehingga harga sahammenjadi tinggi. Begitu manipulasi tersebut terungkap, harga saham anjlok drastisdan akhirnya terjadi kebangkrutan seperti yang dialami WorldCom.Perusahaan kesulitan berupaya mengambil langkah-langkahrestrukturisasi. Namun sebagian restrukturisasi merubah status kepemilikan.Contohnya ketika hutang PT. Sekar Laut yang berjumlah Rp. 431,964 miliardirestrukturisasi berdasarkan persetujuan dan pengesahan Pengadilan NiagaSurabaya, sebahagian hutang dikonversi menjadi saham untuk krediturnya, yaituBank Sindikasi (76,2% saham) dan Bank Negara Indonesia (12,7% saham).Sedangkan saham yang dimiliki pemegang saham sebelumnya terdilusi sebagaiberikut: saham PT.Alamiah Sari terdilusi dari 64,3% menjadi 7,1%, saham pendiriterdilusi dari 7,1% menjadi 0,8%, dan saham masyarakat terdilusi dari 28,6%menjadi 3,2%. Kesulitan keuangan telah menjadikan pemegang saham mayoritasmenjadi minoritas sedangkan pihak luar menjadi pemilik, dan kepemilikan baru inibiasanya perusahaan atau orang asing.Dr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 18


Kinerja Semester I Indofarma Dipertanyakan8 September 2004Jakarta, Kompas – Kinerja Indofarma yang tercermin dalam laporan keuanganSemester I 2004 menimbulkan tanda tanya. Indofarma mencatatkan kenaikanpenjualan sebesar 37,6 persen, dari Rp 166 miliar menjadi Rp 229 miliar. Namun,di sisi lain, biaya pemasaran turun 24 persen dari Rp 54 miliar menjadi Rp 41miliar. Sementara biaya umum dan administrasi membengkak 15 persen, dari Rp23 miliar menjadi Rp 27 miliar.“Memang tampaknya kinerja membaik, rugi bersih berkurang dari Rp 34 miliarmenjadi Rp 12 miliar. Ini enggak masuk akal,” kata analis BNI Securities, R FitriMurniawati, di Jakarta, Selasa (7/9).Menurut Fitri, kalau dilihat dari sudut efektivitas, supaya penjualan naik mestidiikuti biaya pemasaran yang meningkat, seperti pembayaran upah untukkaryawan pemasaran dan lainnya. “Tidak mungkin penjualan langsung naikhanya setelah beberapa kali iklan produk muncul di televisi,” katanya.Secara logika, perusahaan harus menggenjot aktivitas pemasaran lebih dulusehingga biaya pemasaran meningkat, supaya kemudian dapat diperolehpeningkatan penjualan. Menurut Fitri, aktivitas pemasaran dan penjualan ini mestiseiring. Efisiensi itu terjadi kalau penjualan tumbuh 30 persen, sementara biayapemasaran hanya tumbuh 10 persen. “Sedangkan ini, penjualan naik sementaraongkos pemasaran malah turun. Ini mencurigakan, apakah nanti akan terjadi bomwaktu lagi, di mana pada akhir tahun tiba-tiba biaya pemasaran membengkak,”kata Fitri.Dari laporan beberapa perusahaan farmasi, menurut Fitri biaya distribusi yangditanggung perusahaan farmasi justru cenderung naik. Hal itu karena sekarang inidistributor tidak bersedia memegang persediaan banyak. Akan tetapi, sewaktuwaktuperusahaan farmasi dihubungi untuk ambil barang dalam jumlah banyak,barang harus tersedia. Dalam hal ini, distributor berniat mengurangi risikomemegang barang dalam jumlah besar terlalu lama.“Ini artinya apa? Perusahaan farmasi harus menanggung kenaikan biaya untukpenyimpanan,” katanya.PotensiMenurut Fitri, Indofarma sebenarnya memiliki potensi besar untuk bisnis obatDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 19


generik. Padahal, pangsa pasar obat generik sendiri masih sangat besar. Saat ini,dari Rp 17 triliun penjualan obat di Indonesia, porsi obat generik baru 10 persensaja, atau Rp 1,7 triliun. Padahal, di Asia pangsa pasar obat generik mencapai 20persen dari total penjualan obat, sementara di Amerika Serikat jauh lebih tinggilagi, sampai 60 persen. “Padahal, kapasitas produksi obat generik dari pabrikmilik Indofarma ini terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Karena memangIndofarma dari awal pendiriannya didesain memenuhi kebutuhan obat generik,”kata Fitri.Meski demikian, untuk meningkatkan konsumsi obat generik memang harusdidukung infrastruktur yang memadai. Dicontohkan, di Amerika Serikat konsumsiobat generik sangat tinggi karena didukung oleh perusahaan jasa asuransi yangmenekan pemegang premi untuk menggunakan obat generik. “Masyarakat kitamasih dibius oleh merek. Padahal, sebenarnya isinya sama saja. Untuk itu,masyarakat harus dicerdaskan bahwa manfaat dan kualitas obat generik itu samasaja dengan obat merek dagang,” katanya. (anv)RUPST – PT Indofarma (Persero) Tbk25 May 2012Bertempat di Ballroom A – HotelIntercontinental Mid Plaza Jakarta, Selasa, 15 Mei 2012, telah diselenggarakanRapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Indofarma (Persero) Tbk.Rapat dihadiri dan diwakili oleh sebanyak 2.541.540.000 saham atau mewakili82,005% dari 3.099.267.500 saham yang merupakan jumlah seluruh sahamdengan hak suara yang telah dikeluarkan oleh Perseroan.Agenda Pertama dan Kedua1. Menyetujui Laporan Tahunan Perseroan Tahun Buku 2011 danmengesahkan Laporan Keuangan Perseroan (Konsolidasian) TahunBuku 2011 sebagaimana pokok-pokok disampaikan oleh Direksimengenai keadaan dan jalannya Perseroan Tahun Buku 2011, yang telahDr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 20


diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Husni, Mucharam & Rasidi sesuaidengan laporannya Nomor : LAI/GA/12020, tanggal 26 April 2012 denganpendapat “wajar dalam semua hal yang material”.2. Menyetujui Laporan Kegiatan Program Kemitraan dan Bina LingkunganTahun Buku 2011 dan mengesahkan Laporan Keuangan ProgramKemitraan dan Bina Lingkungan Tahun Buku 2011 yang telah diaudit olehKantor Akuntan Publik Husni, Mucharam & Rasidi sesuai denganlaporannya Nomor: LAI/PKBL/GA/12013 tanggal 23 April 2012 denganpendapat ”wajar tanpa pengecualian”.3. Selanjutnya dengan disetujuinya Laporan Tahunan Perseroan Tahun Buku2011 dan Laporan Kegiatan Program Kemitraan dan Bina LingkunganTahun Buku 2011 serta disahkannya Laporan Keuangan Perseroan TahunBuku 2011 dan Laporan Keuangan Program Kemitraan dan BinaLingkungan Tahun Buku 2011, maka Rapat memberikan pelunasan danpembebasan tanggung jawab sepenuhnya (volledig acquit et decharge)kepada para anggota Direksi atas tindakan pengurusan Perseroan dananggota Dewan Komisaris atas tindakan pengawasan Perseroan yangtelah dijalankan selama Tahun Buku 2011, sepanjang tindakan tersebuttercermin dalam Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan PerseroanTahun Buku 2011 serta Laporan Kegiatan dan Keuangan ProgramKemitraan dan Bina Lingkungan Tahun Buku 2011 dan tidak bertentangandengan peraturan perundang-undangan.Agenda ketiga:Menyetujui penggunaan Laba Bersih Perseroan untuk Tahun Buku 2011 sebesarRp. 36.919.316.551,- (tiga puluh enam milyar sembilan ratus sembilan belas jutatiga ratus enam belas ribu lima ratus lima puluh satu rupiah) diperuntukkansebagai berikut :1. Dividen Tunai sebesar 0% (nol persen).2. Laba Ditahan sebesar 96% (Sembilan puluh enam persen) dari laba bersihatau sejumlah Rp. 35.442.543.889,- (tiga puluh lima milyar empat ratusempat puluh dua juta lima ratus empat puluh tiga ribu delapan ratusdelapan puluh sembilan rupiah).3. Alokasi Dana Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) sebesar4% (empat persen) dari laba bersih Tahun Buku 2011 atau sejumlah Rp.Dr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 21


1.476.772.662,- (satu milyar empat ratus tujuh puluh enam juta tujuh ratustujuh puluh dua enam ratus enam puluh dua rupiah), dengan rinciansebagai berikut :Program Kemitraan sebesar 2% (dua persen) dari laba bersih atau sebesarRp. 738.386.331,- (tujuh ratus tiga puluh delapan juta tiga ratus delapanpuluh enam ribu tiga ratus tiga puluh satu rupiah); danProgram Bina Lingkungan sebesar 2% (sembilan puluh enam persen) darilaba bersih atau sebesar Rp. 738.386.331,- (tujuh ratus tiga puluh delapanjuta tiga ratus delapan puluh enam ribu tiga ratus tiga puluh satu rupiah).Agenda Keempat:1. Menetapkan Gaji anggota Direksi dan honorarium anggota DewanKomisaris beserta tunjangan dan fasilitasnya untuk Tahun Buku 2012sama dengan gaji/honorarium Tahun Buku 2011.2. Menyetujui Total Tantiem bagi Direksi dan Dewan Komisaris untuk tahunbuku 2011 sebesar Rp. 924.000.000,- (sembilan ratus dua puluh empatjuta rupiah) atau setara dengan 2,5% (dua koma lima persen) dari LabaBersih, dengan ketentuan :Komposisi Tantiem bagi Direktur Utama, Direktur, Komisaris Utama danKomisaris sama dengan rumusan komposisi gaji/honorarium pada tahunbuku 2011.Pajak atas Tantiem menjadi beban yang bersangkutan.Agenda Kelima:Menyetujui dan melimpahkan wewenang kepada Dewan Komisaris untuk :1. Menunjuk Kantor Akuntan Publik untuk melaksanakan Audit Tahun Buku2012 yang mencakup audit Laporan Keuangan Konsolidasi Perseroanuntuk Tahun Buku 2012.2. Menunjuk Kantor Akuntan Publik untuk mengaudit penggunaan DanaProgram Kemitraan dan Bina Lingkungan Tahun Buku 2012.3. Menetapkan besaran imbalan jasa audit dan persyaratan penunjukanlainnya yang wajar bagi Kantor Akuntan Publik tersebut.Dr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 22


4. Menunjuk Kantor Akuntan Publik Pengganti dan menetapkan kondisi danpersyaratan penunjukannya, jika Akuntan Publik yang telah ditunjuktersebut tidak dapat melaksanakan atau melanjutkan tugasnya karenasebab apapun, termasuk tidak tercapai kata sepakat mengenai besaranimbalan jasa audit.Agenda Keenam.1. Menyetujui perubahan beberapa ketentuan Anggaran Dasar Perseroan,yaitu : (a) Pasal 18 ayat 2 tentang wewenang dan kewajiban Direksi dalampelaksanaan tugasnya. (b) Pasal 18 ayat 8 tentang perbuatan Direksi yangharus mendapatkan persetujuan tertulis Dewan Komisaris. (c) Pasal 23tentang Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan.2. Menyisipkan ketentuan mengenai Rencana Kerja dan Anggaran sertapelaporan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.3. Perubahan dan penyisipan dari keseluruhan Pasal-Pasal tersebut adalahsesuai dengan Matriks Perubahan Anggaran Dasar yang telah dibagikankepada para Pemegang Saham Perseroan.4. Pemberian kuasa kepada Direksi Perseroan dengan dengan hak substitusiuntuk menyatakan kembali keputusan dari Rapat ini berkenaan denganperubahan ketentuan Anggaran Dasar Perseroan dalam akta Notaris, danselanjutnya melaporkan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi ManusiaRepublik Indonesia, mendaftarkan dalam Daftar Perusahaan sertamengumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia sesuai denganperaturan perundang-undangan.Agenda Ketujuh1. Memberhentikan dengan hormat nama-nama tersebut di bawah ini sebagaianggota Dewan Komisaris Perseroan :a. Sdr. Azrul Azwar - sebagai Komisaris Utama/Komisaris Independenb. Sdr. Chalik Masulili – sebagai Komisarisc. Sdr. Mochmad Ichsani – sebagai Komisaris.d. Sdr. Nizar Yamani - sebagai Komisaris IndependenDengan ucapan terima kasih atas pengabdiannya selama memangkujabatannya tersebut.Dr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 23


2. Mengangkat nama-nama tersebut di bawah ini sebagai anggota DewanKomisaris Perseroan :a. Sdr. Supriyantoro - sebagai Komisaris Utamab. Sdr. Dumoly Freddy Pardede - sebagai Komisaris Independenc. Sdr. Kustantinah - sebagai Komisarisa3. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka susunan Dewan KomisarisPerseroan menjadi sebagai berikut :a. Sdr. Supriyantoro - sebagai Komisaris Utamab. Sdr. Dumoly Freddy Pardede - sebagai Komisarisc. Sdr. Marzuki Abdullah - sebagai Komisaris Independend. Sdr. Kustantinah - sebagai Komisaris IndependenPemberhentian dan pengangkatan anggota Dewan Komisaris dimaksud berlakuisejak ditutupnya Rapat tersebut.Materi Diskusi :1. Bagaimana kajian teoritis tentang kesulitan keuangan suatu perusahaan ?2. Mengapa Indofarma mengalami kesulitan keuangan ?3. Upaya apa yang dilakukan indofarma keluar dari kesulitan keuangan yangdihadapi ?Sumber bacaan :http://www.bumn.go.id/indofarma/publikasi/berita/rapat-umum-pemegang-sahamtahunan-rupst-pt-indofarma-persero-tbk-2/Dr. Agus Dwi Sasono.,SE.,MSi.,Ak Page 24

More magazines by this user
Similar magazines