BUDAYA RESISTENS SISWA TERHADAP ... - Kemenag Sumsel

sumsel.kemenag.go.id
  • No tags were found...

BUDAYA RESISTENS SISWA TERHADAP ... - Kemenag Sumsel

2panjang; ketiga, protes terhadap biaya sekolah yang terlalu mahal; keempat, protespenggelapan terhadap sekolah dan aktifitas korupsi; kelima, protes terhadapkebijakan mutasi guru yang dianggap bagus dan diidolakan; keenam memintapergantian terhadap kepala sekolah. (Douglash, 2000: 37).Resistensi siswa sering ditemukan di beberapa sekolah umum dan tidakterkecuali dengan Madrasah Aliyah di Palembang. Resistensi itu biasanyadilakukan terhadap guru, kepala madrasah dan juga terhadap berbagai kebijakaninternal yang dikeluarkan oleh madrasah. Tentu masing-masing siswa disetiapsekolah berbeda dalam mengekspresikan resistensinya. Hipotesis kebanyakanorang bahwa, siswa Madrasah Aliyah akan lebih santun dan Islami dalammelakukan resistensi atau demonstrasi ketimbang sekolah umum. Alasannyasangat logis dan realistis mengingat kuantitas materi pembelajaran keagamaanyang diajarkan di madrasah jauh lebih padat dan sfesifik.Beberapa paragraf di atas yang mendasari perumusan dari masalahmasalahyang berkaitan ”Bagaimana budaya resistensi dan kreativitas siswa dalammentaati displin sekolah dalam hal ini Madrasah”. Oleh karena itu secara rincirumusan grand question tersebut akan diturunkan menjadi sub questions, sebagaiberikut, (1). Apakah bentuk pendisiplinan yang diberlakukan oleh sistemMadrasah Aliyah 2 Palembang, dengan menggunakan kebijakan sekolah danpengawasan langsung mampu benar-benar mendisiplinkan dan mematuhkan siswa(2). Bagaimana pola disiplin sebagai resistensi kreativitas siswa untukmenjalankan peraturan termasuk kurikulum (3). Bagaimana penegakan disiplinsiswa dalam ranah realitas sosial yang ada di Madrasah, (4). Bagaimana resistensiMadrasah terhadap perubahan dan kebijakan apa yang dilakukan oleh Madrasah,serta (5). Bagaimana model belajar dan pembelajaran yang meningkatkankreativitas dan kompetensi siswa di Madrasah.II. Resistensi Siswa dan Disiplin SekolahAda beberapa hal yang menjadi penyebab munculnya protes terhadapkebijakan sekolah. Majemuknya latar belakang siswa yang menyebabkanmunculnya siswa tawuran, seks bebas, membolos, akan menggugat berbagai pola


3korektif dan disiplin sekolah seperti yang digambarkan di atas menimbulkanbeberapa pertanyaan. Sejauhmana penjara mempunyai nilai-nilai pedagogisterhadap para narapidana, sehingga ketika bebas, mereka mempunyai kekuatan,ketrampilan bahkan berguna dalam masyarakat?.James Scott, melihat bahwa tindakan resistensi yang dilakukan setiapharinya, akan mempunyai efek yang siginifikan. Seperti sebuah sinar infra yangjika mengenai tubuh tidak terasa, namun jika terkena secara berkesinambunganakan berakibat buruk pada tubuh manusia. Ia menyebutnya sebagaiInfrapolitics.(James Scott, 1990: 183-4 dan 199-201).. Tindakan ini dilakukanmanusia ketika melawan aparatus negara yang dianggap hegemonik dan dominandalam mendisiplinkan dan menertibkan individu (Stephen Duncombe, 2002: 89-98).Hadari Nawawi (1985) menyebutkan “disiplin atau tata tertib diartikansebagai kesediaan mematuhi ketentuan berupa peraturan-peraturan yang secaraeksplisit perlu juga mecakup sangsi-sangsi yang akan diterima jika terjadipelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tersebut. Menurut SoegengPrijodarminto (1992) bahwa disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta danterbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilaiketaatan, kepatuhan, kesetiaan, ketenteraman, ketearturan, dan ketertiban. Dalamkaitannya dengan disiplin kerja, Siswanto (1989) mengemukakan disiplin kerjasebagai suatu sikap menghormati, menghargai patuh dan taat terhadap peraturanperaturanyang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggupmenjalankannya dan tidak mengelak menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggartugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Sementara itu, Jerry Wyckoffdan Barbara C. Unel, (1990) mendefinisikan disiplin sebagai suatu proses bekerjayang mengarah kepada ketertiban dan pengendalian diri.Dari beberapa pengertian yang diungkapkan di atas tampak bahwa disiplinpada dasarnya merupakan tindakan manajemen untuk mendorong agar paraanggota organisasi dapat memenuhi berbagai ketentuan dan peraturan yangberlaku dalam suatu organisasi, yang di dalamnya mencakup: (1) adanya tata


4tertib atau ketentuan-ketentuan; (2) adanya kepatuhan para pengikut; dan (3)adanya sanksi bagi pelanggarWeisgerber (1971) menegaskan bahwa keragaman dan karakteristikbelajar siswa kreatif ini dapat langsung dikaitkan dengan program-program belajaryang nyata. Karena itu, harus dipertimbangkan kecepatan dan kreativitas siswadalam belajar, minat siswa terhadap bahan pelajaran, keluwesan serta keluasanbahan, dan alat-alat pembantu proses belajar mengajar yang akan dipakai sertapenciptaan lingkungan yang kondusif.Kreativitas merupakan salah satu potensi manusiawi yang ada pada diriindividu dengan derajat yang dapat bervariasi dari individu yang lainnya. Moreno,Bischof (dalam Khatena 1982) melihat kreativitas bersifat universal dan mewujudmelalui berbagai bentuk dalam kehidupan sehari hari, dan kreativitas itu bukanlahmilik para cendekia, ahli atau seniman semata-mata.Konsep kreativitas sebagaimana telah diungkapkan para ahli terdahulusenada dengan ungkapan Supriadi (1994:7) bahwa kreativitas merupakankemampuan seseorang untuk melahirkan suatu yang baru, baik berupa gagasanmaupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.Sedangkan Guilford (Sundberg, 1977, Kathena, 1982) mengisyaratkan kreativitasdan inteligensi itu tidak sama. Ditegaskan inteligensi berkaitan dengankemampuan berpikir, kreativitas, dikaitkan dengan kemampuan berpikirdivergent. Kemampuan berpikir divergent atau kreativitas memiliki empat ciri,berkenaan dengan:a. Kelancaran (fluency), adanya ide yang banyak dan luas, kaya dalamperbendaharaan kata dan cara-cara menyampaikan sesuatu.b. lKeluwesan (flexibility), digunakannya ide-ide dan cara-cara baru dalammenangani permasalahan.c. Keaslian (originality), dipikirkannya ide-ide, dan kemungkinan-kemungkinanyang tidak biasa atau ganjil.d. Elaborasi (elaboration), dipakainya berbagai rincian dalam mengemukakansesuatu atau merespon.


5Sejalan dengan Guilford, Blishen (1970) menyebutkan kreativitas meliputiciri keluwesan, keaslian dan kepekaan (sensitivy) dalam merespon terhadap ideatau situasi. Carin & Sund (1978) menambahkan ciri lain yaitu kepekaan,sehingga selengkapnya menjadi kelancaran, keluwesan, keaslian, elaborasi, dankepekaan.III. Model Pengembangan Kreativitas : Resistensi Peraturan SekolahGibs (1972) menemukan kreatifitas dalam organisasi dapat dikembangkandengan menambah kepercayaan, komunikasi yang bebas dan terarah, penentuandiri sendiri, dan pengurangan pengawasan yang terlalu ketat. Hasil studi Gibsrelevan untuk proses pendidikan. Untuk memperbesar timbulnya kreatifitas dalampengajaran, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:1. Mengembangkan kepercayaan yang tinggi kepada siswa dan mengurangitimbulnya rasa takut siswa.2. Memberi semangat kepada siswa untuk suatu komunikasi ilmiah yang bebasdan terarah.3. Memperkenalkan siswa untuk menentukan sendiri sasaran dan evaluasiterhadap dirinya sendiri.4. Pengawasan jangan terlalu. ketat (kaku) dan otoriter.Implikasi dari isyarat tersebut menuntut guru dalam proses belajarhendaknya membantu siswa menjadi manusia dengan sikap terbuka, tidakmengancam, menerima dan menyukainya, mengurangi rasa takut, dan membantumereka menemukan identitasnya dengan membangun self consept. Siswa yangdibekali positive self concept akan berani mengarungi hidup, percaya pada dirisendiri, dan tidak mudah putus asa. Pada saat individu tumbuh, ia akan menjadisemakin kokoh, semakin berani mengambil resiko, dan dengan demikian ia lebihmeungkin untuk menjadi kreatif. Menjadi kreatif adalah ciri manusia yangberharga, lebih-lebih dalam era globalisasi sangat dituntut manusia-manusiakreatif.Penumbuhkembangan kreativitas siswa, guru harus menjadi kreatif dalammerencanakan metode, penugasan, dan sebagainya, di sarnping penyediaan dan


6penataan lingkungan yang kondusif. Konsep dan pengembangan kreativitasmenurut Utami S.C. Munandar (dalam Harian Kompas, hal IV, tanggal 13September 1996) bisa dilakukan dengan bertitik tolak dari apa yang dinamakanpendekatakan 4P yakni pribadi, pendorong, proses dan produk. Aspek pribadimenekankan pada pemahaman siswa adalah pribadi yang unik. Oleh karenanya,pendidik haruslah menghargai bakat dan minat yang khas dari setiap siswa. Ituberarti, siswa perlu diberi kesempatan dan kebebasan mewujudkannya.Aspek pendorong, yakni suatu kondisi yang memungkinkan siswaberperilaku kreatif Sedang kreativitas sebagai proses lebih menekankan lebihmenekankan pada pernahaman kemampuan siswa menciptakan sesuatu yang baru,paling tidak menemukart hubungan-hubungan jawaban antar berbagai unsur.Ketiga asepk inilah akhirnya menentukan kualitas produk kreativitas.Aspek produk, pada anak yang masih dalam proses pertumbuhan, aspekkreativitas sebagai proses perlu mendapat penekanan jangan terlalu menuntutproduk kreativitas yang memenuhi standar tertentu, hal itu akan mengurangikenikmatan anak berkreasi.Pengembangan kreativitas siswa di sekolah menurut Dedi Supriadi(1994:122) ditinjau dari sudut keilmuan, guru seyogianya memiliki kecakapan,keterampilan, dan motivasi. Ketiga aspek ini akan terwujud di dalam perilaku.Pengembangan kreativitas itu melalui siklus priode-priode tertentu: formatif-->Embrionik --> produktif non produktif.Program pengembangan kreativitas yang dapat diberikan. kepada siswa(Dedi Supriadi, 1994, Amin, 1993, Prayitno, 1991) yaitu: (a) menciptakan rasaaman kepada siswa untuk mengekp:resikan kreativitasnya, (b) mengakui danmenghargai gagasan-siswa, (c) menjadi pendorong bagi siswa untukmengkomunikasikan dan mewujudkan gagasannya, (d) mernbantu siswamernahami divergensinya dalam berpikir dan bersikap, dan bukan masalahmenghukumnya, (e) memberikan peluang untuk mengkomunikasikan gagasannya,dan (f) memberikan informasi mengenai. peluang yang tersedia.


7IV. Disiplin Siswa dengan “Cinta”Merealisasikan pembelajaran atau mendidik siswa MAN 2 guru-gurumenganggap disiplin berarti mengajari siswa untuk belajar mematuhi aturan dantata tertib dalam kehidupan bersama entah dalam lingkungan keluarga,masyarakat, atau Madrasah.Dari hasil temuan dilapangan baik guru, kepala madrasah dan penguruskomite mengatakan, di tengah situasi dilematis begini, agar mendisiplinkan akanbisa efektif, kiat-kiat berikut perlu disimak.1. Siswa Merasa DicintaiKebutuhan dasar setiap siswa adalah dicintai dan diterima tanpa syarat.Siswa benar-benar merasakan bahwa gurunya mencintai dirinya melalui tindakannyata sehari-hari yang terungkap lewat kata-kata ataupun perbuatan. Ketikakebutuhan dasar ini terpenuhi, siswa cenderung berpikir positif dan kooperatifdengan guru. Dengan merasa dicintai, siswa akan menerima tindakanpendisiplinan dan hukuman secara positif. Mereka percaya bahwa apapun yangdilakukan guru atau guru di Madrasah demi kebaikan dirinya.Sebaliknya, jika siswa merasa tidak dicintai dan tidak diterima, apa punyang dilakukan guru cenderung dinilai secara negatif. Secara naluriah siswa punbereaksi terhadap tindakan pendisiplinan, bisa berupa perlawanan, protes, atausikap tak acuh. Pendisiplinan tanpa didasari rasa cinta hanya melahirkankemarahan, kebencian, dan balas dendam pada diri siswa.2. Tetapkan Aturan BersamaJika aturan ini disepakati bersama, masing-masing anggota keluarga akanberusaha memberikan komitmen dengan senang hati, bagi yang terpaksamelanggar pun hukuman bisa dijalankan tanpa diwarnai amarah dan kebencian.Aturan-aturan yang dibuat dalam keluarga, Madrasah atau Madrasah dandisepakati bersama akan menjadi media belajar bagi siswa dan siswa untukmenumbuhkan sikap sosialitas dan tanggungjawab. Guru dan guru pun tidak harusmemaksakan otoritasnya karena aturan dengan sendiri sudah berfungsi sebagaialat pendisiplinan.


83. Siswa Tahu KesalahanKetika beberapa pertanyaan wawancara tentang resistensi disiplin diMadrasah tentang disiplin ini diajukan, maka yang dapat disimpulkan adalahsiswa itu harus tahu dulu kesalahannya baru dihukum atau merealisasikanhukuman, inilah beberapa pernyataan guru dan siswa jika disimpulkan, ketikasiswa atau siswa melakukan tindakan negatif, ada beberapa hal yang perludipertimbangkan. Pertama, apakah siswa atau siswa sengaja atau tanpa unsurkesengajaan. Kedua, apakah siswa atau siswa menyadari kesalahannya atau tanpapenyesalan sedikit pun. Tindakan pendisiplinan mutlak perlu dan paling kerasdiberikan jika siswa sengaja dan tidak menyesali perbuatannya. Jika siswa atausiswa sengaja tetapi menyesali perbuatannya, berarti siswa atau siswa mau belajardari kesalahan.4. Bukan Amarah dan EmosiTak jarang tindakan pendisiplinan didorong oleh rasa marah dan suasanaemosional karena harga diri dan kewibawaan guru terasa dirongrong, ataufrustrasi menghadapi perlawanan siswa. Jika hal ini yang terjadi, tindakanpendisiplinan tentu tidak efektif bahkan bisa menjadi bumerang di kemudian hari.Guru terlebih dulu perlu introspeksi, apakah masih dikuasai emosi dan amarah,dan apakah tindakan Anda masih rasional, semata-mata demi kepentingan dankebaikan siswa atau tidak.5. Hargai PerubahanSering timbul kesan pada diri siswa bahwa guru bisanya hanya melihatkekurangan dan kurang bisa menghargai hal yang positif. Ketika siswa melakukantindak negatif, baru guru bereaksi, tetapi ketika siswa menunjukkan perilakupositif tak ada penghargaan apa pun. Penggunaan kata "selalu" atau "tidak pernah"membuat siswa merasa tak dihargai, misalnya "Kamu selalu malas!" atau "kamutidak pernah nurut sama guru!". Apakah selamanya si siswa malas dan tak pernahbarang sekali pun menuruti perintah? . Perlakuan guru yang negative thinkingakan menimbulkan reaksi yang negatif pula. Karena itu, hargailah setiapperubahan positif sekecil apa pun karena pada dasarnya setiap orang butuhdihargai dan diakui. Berhentilah membuat daftar kekurangan siswa, dan mulai


9mencatat kelebihan-kelebihannya kendati belum seperti yang Anda harapan.Pujian dan kata-kata pendukung disertai sentuhan fisik tetap merupakan stimulusyang efektif bagi siswa.6. Lihat Keunikan PribadiTak ada manusia yang sama persis. Karenanya, setiap pribadi adalah unik,tiada duanya. Kelemahan tindakan pendisiplinan adalah sifatnya yang seragamsehingga tidak memandang keunikan pribadi. Bagi si A cukup diberi peringatankeras perilakunya bisa dikendalikan, namun si B mungkin dengan pukulan punbelum mempan. Bagi seseorang, hukuman tertentu benar-benar menakutkan,namun bagi yang lain hukuman yang sama justru menjadi hiburan. Maka, guruharus bijak memilih tindakan pendisiplinan yang tepat untuk masing-masingsiswa sesuai dengan keunikan pribadinya.Menghadapi siswa yang berperilaku buruk, guru tak bisa membuat ukuranpenilaiannya sendiri sebagai orang dewasa. Siswa umur dua tahun yang egoisadalah normal karena ia sedang belajar otonomi sehingga tak perlu dimarahi ataudianggap sebagai tidak memiliki rasa sosial. Pun siswa remaja yang cenderungmenentang bukan berarti sedang melawan guru, dalam dirinya sedangberlangsung proses identifikasi diri, ingin diakui sebagai pribagi yang independen.Karena itu, guru mesti melihat secara positif setiap bentuk perlawanan yangdilakukan siswa, bukan sebagai ungkapan "Aku berani sama kamu" sehinggaperlu dihantam dan dijinakkan, melainkan sebagai dambaan hatinya yangterdalam, "Cintailah aku, terimalah aku, dan hargailah aku!" Dengan demikian,guru pun terdorong untuk melakukan tindakan cinta, kendati dalam bentukpendisiplinan.V. Disiplin sebagai Resistensi Kreativitas SiswaDisiplin Madrasah adalah usaha Madrasah untuk memelihara perilakusiswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilakusesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di Madrasah. MenurutWikipedia (1993) bahwa disiplin Madrasah “refers to students complying with acode of behavior often known as the school rules”. Yang dimaksud dengan aturan


10Madrasah (school rule) tersebut, seperti aturan tentang standar berpakaian(standards of clothing), ketepatan waktu, perilaku sosial dan etika belajar/kerja.Pengertian disiplin Madrasah kadangkala diterapkan pula untukmemberikan hukuman (sanksi) sebagai konsekuensi dari pelanggaran terhadapaturan, meski kadangkala menjadi kontroversi dalam menerapkan metodependisiplinannya, sehingga terjebak dalam bentuk kesalahan perlakuan fisik(physical maltreatment) dan kesalahan perlakuan psikologis (psychologicalmaltreatment), sebagaimana diungkapkan oleh Irwin A. Hyman dan Pamela A.Snock dalam bukunya “Dangerous School” (1999).Berkenaan dengan tujuan disiplin Madrasah, Maman Rachman (1999)mengemukakan bahwa tujuan disiplin Madrasah adalah : (1) memberi dukunganbagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang, (2) mendorong siswamelakukan yang baik dan benar, (3) membantu siswa memahami danmenyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan halhalyang dilarang oleh Madrasah, dan (4) siswa belajar hidup dengan kebiasaankebiasaanyang baik dan bermanfaat baginya serta lingkungannya.Membicarakan tentang disiplin Madrasah tidak bisa dilepaskan denganpersoalan perilaku negatif siswa. Perilaku negatif yang terjadi di kalangan siswaremaja pada akhir-akhir ini tampaknya sudah sangat mengkhawarirkan, seperti:kehidupan sex bebas, keterlibatan dalam narkoba, gang motor dan berbagaitindakan yang menjurus ke arah kriminal lainnya, yang tidak hanya dapatmerugikan diri sendiri, tetapi juga merugikan masyarakat umum. Di lingkunganinternal Madrasah pun pelanggaran terhadap berbagai aturan dan tata tertibMadrasah masih sering ditemukan yang merentang dari pelanggarantingkat ringan sampai dengan pelanggaran tingkat tinggi, seperti : kasus bolos,perkelahian, nyontek, pemalakan, pencurian dan bentuk-bentuk penyimpanganperilaku lainnya.Tentu saja, semua itu membutuhkan upaya pencegahan danpenanggulangganya, dan di sinilah arti penting disiplin Madrasah.Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lainfaktor lingkungan, keluarga dan Madrasah. Tidak dapat dipungkiri bahwaMadrasah merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk dan


11mempengaruhi perilaku siswa. Di Madrasah seorang siswa berinteraksi denganpara guru yang mendidik dan mengajarnya. Sikap, teladan, perbuatan danperkataan para guru yang dilihat dan didengar serta dianggap baik oleh siswadapat meresap masuk begitu dalam ke dalam hati sanubarinya dan dampaknyakadang-kadang melebihi pengaruh dari orang tuanya di rumah. Sikap dan perilakuyang ditampilkan guru tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari upayapendisiplinan siswa di Madrasah.Brown dan Brown mengelompokkan beberapa penyebab perilaku siswayang indisiplin, sebagai berikut :1. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru2. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh Madrasah; kondisi Madrasah yangkurang menyenangkan, kurang teratur, dan lain-lain dapat menyebabkanperilaku yang kurang atau tidak disiplin.3. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa , siswa yang berasal darikeluarga yang broken home.4. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh kurikulum, kurikulum yang tidakterlalu kaku, tidak atau kurang fleksibel, terlalu dipaksakan dan lain-lain bisamenimbulkan perilaku yang tidak disiplin, dalam proses belajar mengajar padakhususnya dan dalam proses pendidikan pada umumnya.Sehubungan dengan permasalahan di atas, seorang guru harus mampumenumbuhkan disiplin dalam diri siswa, terutama disiplin diri. Dalam kaitan ini,guru di MAN 2 harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut :1. Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya; setiap siswaberasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai karakteristik yangberbeda dan kemampuan yang berbeda pula, dalam kaitan ini guru harusmampu melayani berbagai perbedaan tersebut agar setiap siswa dapatmenemukan jati dirinya dan mengembangkan dirinya secara optimal.2. Membantu siswa meningkatkan standar prilakunya karena siswa berasal dariberbagai latar belakang yang berbeda, jelas mereka akan memiliki standardprilaku tinggi, bahkan ada yang mempunyai standard prilaku yang sangatrendah. Hal tersebut harus dapat diantisipasi oleh setiap guru dan berusaha


12meningkatkannya, baik dalam proses belajar mengajar maupun dalampergaulan pada umumnya.3. Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat; di setiap Madrasah terdapataturan-aturan umum. Baik aturan-aturan khusus maupun aturan umum.Perturan-peraturan tersebut harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengansebaik-baiknya, agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang mendorongperilaku negatif atau tidak disiplin.Beberapa prinsip yang dikemukakan oleh guru MAN 2 mengemukakanstrategi umum merancang disiplin siswa di MAN 2, yaitu : (1) konsep diri; untukmenumbuhkan konsep diri siswa sehingga siswa dapat berperilaku disiplin, gurudisarankan untuk bersikap empatik, menerima, hangat dan terbuka; (2)keterampilan berkomunikasi; guru terampil berkomunikasi yang efektif sehinggamampu menerima perasaan dan mendorong kepatuhan siswa; (3) konsekuensikonsekuensilogis dan alami; guru disarankan dapat menunjukkan secara tepatperilaku yang salah, sehingga membantu siswa dalam mengatasinya; danmemanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah; (4)klarifikasi nilai; guru membantu siswa dalam menjawab pertanyaannya sendiritentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilainya sendiri; (5) analisistransaksional; guru disarankan guru belajar sebagai orang dewasa terutama ketikaberhadapan dengan siswa yang menghadapi masalah; (6) terapi realitas; Madrasahharus berupaya mengurangi kegagalan dan meningkatkan keterlibatan. Guru perlubersikap positif dan bertanggung jawab; dan (7) disiplin yang terintegrasi; metodeini menekankan pengendalian penuh oleh guru untuk mengembangkan danmempertahankan peraturan; (8) modifikasi perilaku; perilaku salah disebabkanoleh lingkungan.Perbincangan tentang mutu pendidikan di kalangan masyarakat seringmengerucut menjadi semacam "tesis" yang menyebutkan "semakin baik disiplinsiswa ditegakkan di sebuah Madrasah, semakin bermutulah Madrasah itu".Selanjutnya, perbincangan seru menyebutkan contoh-contoh, misalnya Madrasahyang sebagian (besar) siswanya suka tawuran pastilah Madrasah itu tidak bermutu


13karena kedisiplinan siswa tidak ditegakkan di Madrasah itu. Ditemukan beberaparambu-rambu atau hal yang disepakati adalah :1. Kebijakan pendidikanKajian kebijakan pendidikan secara garis besar umumnya difokuskan ketiga komponen utama, yakni (a) pemerataan, (b) efisiensi, dan (c) mutu.Pemerataan secara umum dimaknai sebagai kesempatan memperoleh pendidikan,yang diukur melalui persamaan kesempatan, yaitu sejauh mana akses terhadappendidikan telah merata; dan keadilan kesempatan yang mengukur apakahkesempatan memperoleh pendidikan telah sama dinikmati oleh berbagaikelompok yang berhak.2. Disiplin = bermutu?Pemaknaan terhadap disiplin sering kali terbatas pada empat alur pikirberikut: upacara, ketaatan, sanksi, dan permodelan. Segala macam upacara,termasuk di dalamnya apel, dipandang sebagai prasyarat utama penegakandisiplin. Karena itu, upacara menjadi sangat penting sehingga pelanggaran yangdilakukan oleh seseorang ketika/dalam upacara dianggap sebagai pelanggaranfatal/berat. Ukuran ketaatan seorang murid ada di sana, dan barangsiapamelanggar, sanksi akan menyertainya. Di banyak Madrasah, alur pikir seperti itumenciptakan permodelan. Artinya, pola atau upaya penegakan disiplin sepertiitulah yang dianggap paling baik.Menyarikan konsep Paulo Freire (dalam buku Madrasah, Kapitalismeyang Licik, 1998), disebutkan di sana bahwa pembelajaran adalah menguras rasaingin tahu siswa. Kalau guru selama bersama-sama murid terus berusahamenguras rasa ingin tahu siswa, niscaya tidak akan ada satu murid pun yangterlambat, membolos, atau ogah-ogahan dan dari sanalah mutu pendidikan pastiakan meningkat. Alhasil, tidak ada satu siswa pun yang tidak disiplin. Jadi,disiplin itu buah dari pembelajaran, bukan prasyarat untuk pembelajaran; sejauhpembelajaran itu bermutu karena rasa ingin tahu siswa untuk membangun maknaterpenuhi tuntas, sejauh itu dapat dipastikan disiplin siswa meningkat tajam.Realitas sosial yang beranggapan bahwa disiplin hanya untuk upacara saja,dan tidak penting untuk kehidupan sehari-hari, memang telah mencoreng-moreng


14pemaknaan atas disiplin itu sendiri. Orang secara sendiri-sendiri memaknaidisiplin sesuai dengan cita rasa dirinya sendiri. Bagi yang cita rasanyamengatakan mengantre itu baik, ia masih akan bertindak mengantre setiap kalidalam kerumunan massa; sebaliknya jangan berharap sedikit pun bagi orang yangsecara individual sudah kehilangan cita rasa pribadinya.Faktor-faktor yang menyebabkan resistensi Madrasah pada perubahanteknologi ini dapat diambil beberapa dari pendapat Kreitner & Kinicki, yaitu :1. Kebiasaan. pada dasarnya, manusia adalah mahluk yang hidup dari kebiasaanyang dibangunnya karena dengan demikian manusia lebih mudah menjalanihidup yang dirasa sudah cukup kompleks. Begitu dihadapkan pada perubahan,maka manusia cenderung enggan merubah kebiasaannya.2. Ketakutan terhadap munculnya dampak yang tak diinginkan. Perubahanmenimbulkan ketidak-pastian, karena perubahan membuat seseorang bergerakdari suatu situasi yang sudah diakrabi menuju pada situasi yang asing dantidak dia pahami. Akibatnya orang merasa cemas bahwa ujung-ujungnyaperubahan akan merugikan dirinya.3. Faktor-faktor ekonomi. turunnya penghasilan, kenaikan gaji tidak sesuaiharapan, naiknya biaya transport adalah faktor-faktor ekonomi yang memicuresistensi. Bila dampak ekonominya dirasa cukup nyata, maka resistensikaryawan terkait pada perubahan akan makin menguat.4. Rendahnya kepercayaan dalam situasi kerja. Pimpinan atau manajer yangmembangun relasi kerja dengan bawahan atas dasar ketidakpercayaan lebihbesar kemungkinannya menghadapi resistensi dari bawahannya bila tibasaatnya dia menggulirkan perubahan. Sementara pimpinan yang mempercayaibawahannya akan mengupayakan perubahan secara terbuka, jujur danpartisipatif. Di sisi lain, bawahan yang dipercaya oleh atasannya menunjukkanupaya yang lebih baik dan memandang perubahan sebagai sebuah peluang.Singkatnya, kepercayaan/ketidak-percayaan dalam relasi kerja bersifat timbalbalik.5. Takut mengalami kegagalan. Proses perubahan yang bersifat menekanmemunculkan keraguan pada karyawan akan kemampuannya untuk


15melakukan pekerjaan dengan baik. Keraguan ini lambat laun akan mengikiskepercayaan dirinya dan melumpuhkan pertumbuhan dan perkembangandirinya.6. Hilangnya status atau keamanan kerja. Penggunaan teknologi atau sistimadministrasi baru dalam pekerjaan akan mempercepat proses kerja. Namuntidak jarang bisa mengakibatkan berkurangnya pekerjaan. Dampak inilah yangdikhawatirkan. Buat sebagian besar orang, hilangnya pekerjaan berartihilangnya status dan juga hilangnya penghasilan. Tak heran selalu ada sajamereka yang resisten pada perubahan.7. Tidak ada manfaat yang diperoleh dari perubahan. Seseorang menunjukkanresistensi pada perubahan bila dirinya tidak memperoleh manfaat sedikitpunbila melakukan perubahan.Sangat diperlukan adanya perubahan mekanisme kegiatan sehari-hari dilingkungan Madrasah namun sudah siapkan terjadi dimana banyak sivitasakademika yang sudah berkurang kemauan untuk berubah kegiatan sehari-hari.Kesatuan visi akan mendongkrak dukungan terhadap upaya perubahan yangdigulirkan dan juga meredam resistensi. Agar bisa efektif mengelola perubahan,diperlukan kemampuan untuk menciptakan keterpaduan antara anggotaorganisasi, sumber daya, gagasan, peluang, dan tuntutan-tuntutan.Visi penting, dan kreatifitas bahkan lebih penting. Namun, kemampuanmenyusun rencana sistematis untuk penyediaan sumber daya, dukungan,pelatihan, dan SDM guru merupakan inti semua program perubahan. Para sivitasakademika terkait perlu dukungan agar mampu mengatasi stres, kecemasan danketidakpastian selama proses perubahan. Model-model belajar agar memahamibenar bagaimana siswa belajar yang efektif, dan model pembelajaran yang bisadipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, materi, fasilitas,dan guru itu sendiri dengan tidak resisten pada peraturan dan kreativitas yang adapada diri sisiwa MAN 2 sendiri.1. Kompetensi Siwa secara UmumKompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudahpembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman, penalaran, aplikasi,


16analisis, observasi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, koneksi, komunikasi,inkuiri, hipotesis, konjektur, generalisasi, kreativitas, pemecahan masalah),kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri, pengelolaansuasana hati, pengendalian impulsi, motivasi aktivitas positif, empati), dankemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakupkemampuan argumentasi, presentasi, prilaku). Istilah psikologi kontemporer,kompetensi/kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik,terutama kognitif) disebut dengan hard skill, yang berkontribusi terhadap suksesindividu sebesar 40%. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan denganafektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian,sosialisasi, dan pengendalian diri disebut dengan soft skill, yang berkontribusisukses individu sebesar 60%. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligusperingatan bagi kita semua.2. Model-Model Belajar di MAN 2 secara UmumModel-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagaicara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran, baik di kelas ataupun dalamkehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua.Dengan memahami model-model belajar ini, diharapkan para guru (kita semua)dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapatdicapai secara efektif.Ada berbagai model belajar yang diterapkan guru baik senior maupunyunior di MAN2 tersebut, terutama guru-guru yang telah mengikuti pelatihanpembelajaran efektif atau pembelajaran baru serta guru yang jenjang strata S2,beberapa model yang diterapkan dan yang diketahui tetapi belum diterapkannyatersebut adalah sebagai berikut :1. Peta PikiranBuzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolahinformasi melalui mengamati, membaca, atau mendengar tentang sesuatu halberbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep, kata kunci), tidak parsialterpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap.


17Sebagai contoh, kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri, makaakan terkait dengan kata lain secara fungsional, seperti gemuk, supir bajay, kocak,sederhana, atau ke tokoh lain Oneng, Ema, Ucup, Hindun, dan lain-lain denganmasing-masing karakternya.Dalam bidang studi keahlian guru, misalnya ambil satu materi dalampelajaran Matematika, Akuntansi, Agama, atau yang lainnya. Silakan buat (tulisgambar)peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. Tulisan ataugambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map).Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran,mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Belajar denganmenghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif, di samping bahasa yangdigunakan menggunakan gaya bahasa penulis. Mengingat hal itu, sajian gurudalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep, gurumembumbuinya dengan narasi yang kreatif.2. Kecerdasan GandaGoldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak, sebagai instrumenkecerdasan, terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dankecerdasan emosional pada otak kanan. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak(flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bilaterjadi tuntutan banyak. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alatkecerdasan yang sifatnya logis, sekuensial, linier, rasional, teratur, verbal, realitas,ide, abstrak, dan simbolik. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengankecerdasan yang sifatnya acak, intuitif, holistic, emosional, kesadaran diri, spasial,musik, dan kreativitas. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektualberkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasanemosional sebesar 40%, siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya.Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakankecerdasan ketiga, yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasanfitrah yang berkenaan dengan nilai-nilai kehidupan beragama. Sebagai orangberagama, kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini, bukankah


18ada ikhtiar dan ada pula taqdir, ada do’a sebagai permintaan dan harapan, danibadah lainnya.3. MetakognitifKemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan, tergantung darivariabel meta kognitif, yaitu kondisi individu, kompleksitas, pengetahuan,pengalaman, manfaat, dan strategi berpikir. Holler, dkk. (2002) mengemukakanbahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu, monitoring, danregulasi.Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karenamemuat unsure analisis, sintesis, dan evaluasi sebagai cikal bakaltumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. Oleh karena itupelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatihkemampuan metakognitif ini, tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yangdangkal.4. KomunikasiSiswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa, siswadengan fasilitas belajar, ataupun dengan guru. Kemampuan komunikasi setiapindividu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan danmembentuk kepribadiannya, ada individu yang memiliki pribadi positif dan adapula yang berkpribadian negatif.5. Kebermaknaan BelajarDalam belajar apapun, belajar efektif (sesuai tujuan) semestinyabermakna. Agar bermakna, belajar tidak cukup dengan hanya mendengar danmelihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab,berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi).Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakantiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilahteladan bagi siswanya), ing madyo mangun karso (dalam pembelajaranmembangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk), tutwuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skillsehingga mereka menjadi pribadi mandiri). Dengan perkataan lain, pembelajaran


19adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006, dan bukan dengankegiatan mengajar.Selanjutnya, Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989)mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. Jikabelajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%, dari mendengar20%, dari melihat 30%, mendengar dan melihat 50%, mengatakan-komunikasimencapai 70%, da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besamencapai 90%.6. KonstruksivismeDalam paradigma pembelajaran, guru menyajikan persoalan danmendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi,berhipotesis, berkonjektur, menggeneralisasi, dan inkuiri dengan cara merekasendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Sehingga jenis komunikasiyang dilakukan antara guru-siswa tidak lagi bersifat transmisi sehinggamenimbulkan imposisi (pembebanan), melainkan lebih bersifat negosiasi sehinggatumbuh suasana fasilitasi.Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran, danmemang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme, karenapembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalammembangun pengetahuan. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal,Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfullconstructivism), yaitu: konsistensi internal, keterpaduan, kekonvergenan,refeleksi-eksplanasi, kontinuitas historical, simbolisasi, koherensi, tindak lanjut,justifikasi, dan sintaks (SOP).7. Prinsip Belajar AktifAda dua jenis belajar, yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif).Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi, menggunakankesempatan untuk meraih manfaat, berupaya terlaksana, dan partisipatif dalamsetiap kegiatan. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapatmelihat adanya kesempatan belajart, mengabaikan kesempatan, membiarkansegalanya terjadi, menghindar dari kegiatan.


20Untuk membelajarkan siswa MAN 2 sesuai dengan cara-gaya belajarmereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagaimodel pembelajaran. Dalam prakteknya, guru MAN 2 selalu ingat bahwa tidakada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Olehkarena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslahmemperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yangtersedia, dan kondisi guru itu sendiri.Oleh karena itu salah satu cara untuk menciptakan suasana yang nyamandan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami danmelaksanakan model belajar yang dilakukan siswa, komunikasi positif yangefektif, dan model pembelajaran yang inovatif.VI. PenutupMadrasah dituntut untuk mematuhi peraturan yang dibuat oleh Madrasahdemi kelancaran proses belajar mengajar tetapi kenyataannya masihbanyak siswa yang bertingkah laku tidak sesuai dengan peraturan yang di buatoleh Madrasah. Banyak siswa yang tidak bisa mengendalikan dirinya yang selalumelanggar tata tertib Madrasah.Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lainfaktor lingkungan, keluarga dan Madrasah. Tidak dapat dipungkiri bahwaMadrasah merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk danmempengaruhi perilaku siswa. Di Madrasah seorang siswa berinteraksi denganpara guru yang mendidik dan mengajarnya. Sikap, teladan, perbuatan danperkataan para guru yang dilihat dan didengar serta dianggap baik oleh siswadapat meresap masuk begitu dalam ke dalam hati sanubarinya dan dampaknyakadang-kadang melebihi pengaruh dari orang tuanya di rumah. Sikap dan perilakuyang ditampilkan guru tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari upayapendisiplinan siswa di Madrasah.Pengawasan secara efektif terhadap penyelenggaraan satuan pendidikandalam kondisi sekarang ini sangat penting dilakukan. Melalui pengawasan akandapat dideteksi sedini mungkin hambatan-hambatan yang dihadapi dalam


21pelaksanaan program-program pendidikan di Madrasah, sehingga dapat dicarikansolusi untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Artinya dengan pengawasanyang efektif akan dapat menjamin program-program pendidikan yangdilaksanakan di Madrasah mencapai sasaran yang diinginkan.Resistensi terhadap perubahan kemudian bukan ditemukan dalam individu,tetapi dalam realitas yang dikonstruksikan oleh individu. Partisipan yangmempunyai perbedaan realitas yang dikonstruksikan akan mempunyai sense yangberbeda terhadap diri mereka dan dunianya. Hasilnya, mereka akan menempuhtindakan yang berbeda, dan menunjukkan bentuk resistensi yang berbeda,tergantung pada realitas dimana mereka hidup. Resistensi kemudian dipahamisebagai sebuah respon terhadap suatu inisiatif perubahan, suatu respon hasilpercakapan yang membentuk realitas dimana individu hidup.


22BIBLIOGRAFIAnderson, Benedict. Language and Power: Exploring Political CulturesinIndonesia. Ithaca: Cornell University Press. 1990.Ary Ginanjar Agustian, Emotional Spritual Quotient (ESQ). Jakarta: Arga. 2002.Bruce Joyce, dkk., Models of Teaching (Eigth Edition), Allyn and Bacon Pearson,Boston, 2009 (Copyright).Burton, L The Constructivist Classroom Education in Profile. Perth: Edith CowanUniversity. 1993.Buzan, Tony , Use Both Sides of Yoru Brain, 3rd ed. New York: Penguin Books.1989.Carin, A. & Sund, R.B. Creative Questioning and Sensitive ListeningTechniques.- A Setf Concept Approach. Columbus: C.E. Merril Publ.Coy. 1978.DePorter, Bobbi dan Hernacki, Mike. Quantum learning. Bandung: Kaifa. 2002.DePorter, Bobbi dan Reardon, Mark. Quantum teaching. Bandung: Kaifa. 2002.Dedi Supriadi. Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek. Bandung:Alfabeta. 1994.Dembo, H.M. Teachingfor Learning. Santa Monica, California: GoodyearPublishing Company, Inc. 1977.Duncombe, Stephen. “James Scott, From Weapons of the Weak” dalam CulturalResistance Reader, Verson, London-New York, 2002.Dryden, Gordon dan Vos, Jeannette. Revolusi cara belajar. Keajaiban pikiran.Bagian I. Bandung: Kaifa. 2002._________. Revolusi cara belajar. Sekolah masa depan. Bagian II. Bandung:Kaifa, 2002b.Foucault, Michel. Discipline and Punish. The Birth of Prison. Translated AlanSheridan, Penguin Books, 1999.----------------------Foucault Live. ChSemiotexte, 1984.14. On Attica. Ed. Sylvere Lotringer.


23Gardner, Howard. Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. NewYork: Basic Bools. 2007.Khatena, J. Educational Psychology of The Gifted. New York: John Wiley &Sons. 1982.Mohammad Amin. Peranan Kreativitas Dalam Pendidikan. Analisis Pendidikan,No. 3 Tahun IV. Jakarta: Depdikbud. 1983.Muhadjir, Noeng. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Teori PendidikanPelaku Sosial Kreatif. (Edisi V). Yogyakarta: Rake Sarasin. 2001.Orlich, D. C. Teaching strategies. A guide to better instruction. Toronto: D. C.Heath and Company. 1985.Pelessier, Catherine. “The Anthropology of Teaching and Learning”, AnnualReview of Anthropology, vol 20, 1991Paul Suparno. Filsafat konstruktivisme dalam pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.1997.Prayitno. Komponen dan Tolok Ukur Kreativitas (Laporan penelitian, Studi Awaldi Sumatera Barat). IKIP Padang. 1991.Read, D.A. Creative Teaching in Health. New York: The McMillan Company.1971.Robert N. Lussier. Human Relations In Organizations: A Skill-BuildingApproach, Third Edition. USA: Mc. Graw Hill Companies, Inc., 1996.Roestiyah, N. K. Masalah-Masalah Ilmu Keguruan. Jakarta: Bina Aksara, 1982.Sanapiah Faisal. Penelitian kualitatif: dasar-dasar dan aplikasi. Malang: YayasanAsih Asah Asuh, 1990.Shiraishi, Saya. Young Heroes. The Indonesian Family in Politics. Southeast AsiaProgram. Cornell University, 1997.Scott, James. Domination and the Arts of the Resistance. Yale University Press,1990.Untung dkk, Buku Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan Proses PembelajaranMAN 2 Palembang. Palembang: MAN 2, 2006.Utami Munandar. Harian Kompas, halaman 10, Tanggal 2 September 1996.

More magazines by this user
Similar magazines