TUKIJO LEADERSHIP 2

g.kencana

TUKIJO Leadership

1


Transformasi Tukijo

Banyak orang mengagumi kilau mutiara. Namun tak

banyak orang yang tahu bagaimana proses

pembentukannya. Sebelum menjadi mutiara, tubuh seekor

kerang di dasar laut dimasuki sebutir pasir. Kerang itu kesakitan.

Berusaha untuk mengeluarkannya. Tapi pasirnya tidak bisa keluar

dari cangkang. Hingga kerang itu kemudian mengeluarkan getah

dari perut untuk membalut pasir yang melukainya. Hingga bertahuntahu.

Sampai pada akhirnya, terbentuklah menjadi mutiara yang

cantik dan sangat berharga.

Ada proses

panjang dan

berliku yang

telah

dilaluinya.

Tak berlebihan jika perjalanan Ir. Tukijo

saat ini sebagai Direktur Utama Waskita Karya

Realty bisa juga dianalogikan seperti mutiara.

Banyak orang yang mengenalnya. Terlebih orang-orang

yang begelut di bidang properti

dan konstruksi. Kiprah dan dedikasi Tukijo

memang tak perlu diragukan. Ia sudah 35

tahun mengabdi di Waskita Karya. Bahkan

telah menduduki berbagai jabatan strategis

dan penuh prestasi. Jadi sangat wajar jika

memungkinkan dirinya dikenal banyak

kalangan. Namun tak banyak orang yang

mengetahui, bahwasanya jabatan dan

kehidupan yang diperolehnya saat ini,

bukanlah didapatkan dengan sederhana. Ada

proses panjang dan berliku yang telah

dilaluinya.

2 TUKIJO Leadership


Mungkin tak banyak orang mengira, bahwa sejatinya jiwa

kepemimpinan Tukijo bukanlah pembawaan dari lahir. Terlebih jika

melihat bagaimana saat ia memimpin sebuah rapat di kantor, atau

saat negosiasi dengan klien. Tukijo terkenal sangat tegas, lihai dalam

bernegosiasi, piawai membawa suasana, dan mampu

menggerakkan anak buah yang dipimpinnya dengan efektif untuk

mencapai target perusahaan. Faktanya, sosok Tukijo selagi kecil

adalah pribadi yang pemalu. Ia selalu mengambiltempat duduk di

belakang saat sekolah. Hingga saat mendaftar sekolah ke STM

(Sekolah Teknik Mesin) pun, ia masih ditemani dan digandeng orang

tuanya.

TUKIJO Leadership

3


Di sekolahan prestasi Tukijo juga tak begitu menonjol. Nilainilainya

biasa saja, rata- rata, tak ada yang luar biasa. Sewaktu

lulus SD (Sekolah Dasar) ia bahkan tak lulus mendaftar ke SMP

(Sekolah Menengah Pertama) selagi semua teman-temannya

berhasil—karena terkendala nilainya. Hingga terpaksa Tukijo

kemudian melanjutkan ke ST (Sekolah Teknik) sendiri. Dan sertamerta

cita-cita Tukijo yang ingin menjadi guru pun juga pupus

seiring melanjutkan ke ST,

pasalnya untuk menjadi guru

harus melanjutkan ke Sekolah

Pendidikan Guru (SPG), dan

untuk bisa melanjutkan ke

SPG, harus dari SMP dan ke

SMA (Sekolah Menengah

Atas).

Menjadi

pribadi

pekerja keras,

ulet, tekun,

dan mandiri.

Melihat perjalanan

pendidikan formal Tukijo

sedari kecil memang tak

tampak

bakat

kepemimpinannya. Tapi di

luar pendidikan formal,

mentalnya telah ditempa,

seakan dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di masa dewasa.

Sedari SD Tukijo sudah terbiasa bekerja keras. Ia rajin membantu

orang tuanya beternak. Ia biasa bekerja mengantar hewan ke

tempat jagal. Ia bekerja di sawah membalikkan tanah yang baru

dibajak. Selain itu Tukijo juga biasa berjualan es lilin keliling

4 TUKIJO Leadership


kampung. Dari semua pengalaman itu, mental kerja keras Tukijo

memang sudah teruji.

Semasa ST Tukijo juga sudah terbiasa membantu tetangganya

seorang kontraktor untuk mengelas, menata bata, merangkai, dan

apa pun yang ditugaskan. Pada saat libur sekolah, ia kerap diajak

untuk melihat dan meninjau proyek. Sekali waktu ia juga pernah

ditugaskan oleh tetangganya itu untuk membantu pekerjaan

membuat pintu air di tempat yang jauh, seperti ke Pati, Demak,

Wonogiri, hingga Klaten. Setiap kali bersama dengan

tetangganya, Tukijo selalu menyempatkan untuk bertanya-tanya hal

yang belum dipahami, hingga sedikit banyak kemudian jadi

mengerti tentang proyek yang dikerjakan.

Di masa remajanya Tukijo juga banyak terjun ikut mengurus

sawah yang digarap oleh ayahnya. Ia biasa mencangkul dan

memetik padi di sawah di sela aktivitas sekolah. Semua itu

dilakukan oleh Tukijo dengan senang hati dan tanpa beban. Dari

apa yang dikerjakannya, ia bisa mendapatkan uang, dan bisa

membantu meringankan ekonomi keluarga. Namun pelajaran

sangat berharga yang bisa dipetik dari semua yang

dikerjakannya itu, Tukijo menjadi pribadi pekerja keras, ulet, tekun,

dan mandiri.

***

Periode selanjutnya adalah periode Tukijo belajar dan

mengasah ketrampilan. Semua dimulai dari kerja di CV Tridarma,

Tukijo bekerja sebagai mandor bangunan. Ia memandori

beberapa pekerjaan pembuatan pintu-pintu air di daerah

TUKIJO Leadership

5


Baturetno, Wonogiri, Demak, dan Kudus. Selain itu proyek

pembuatan talang air di daerah Wonogiri dan pembangunan SMA

Negeri Gemalong.

Selang setelah mengerjakan proyek di CV Tridarma, Tukijo

bergabung di CV Budi. Ia mengerjakan beberapa pekerjaan

pembuatan MCK dan jalan-jalan setapak di daerah Pasar Gede

dan Pasar Legi. Namun naas, sebagai mandor Tukijo salah

perhitungan upah pekerja. Para pekerja yang seharusnya diupah

2500 rupiah, dihitung Tukijo sebesar 1500 rupiah. Terpaksa ia pun

harus menutupi kekurangannya.

Pengalaman kesuksesan dan kegagalan itu menjadi pondasi

awal Tukijo untuk memimpin. Tanpa ia sadari telah mengasah

keterampilannya dalam mengatur pekerja dan memperhitungkan

proyek yang dikerjakannya. Semua pengalaman Tukijo itu pun menjadi

modal saat memutuskan kerja secara profesional di Pontianak,

dengan bergabung di PT. Civil Arcithectur Engineering (CAE).

Tugas pertama Tukijo di PT CAE adalah sebagai pengawas

di proyek dermaga pelabuhan Pontianak, Kalimantan Barat,

merombak dermaga kecil yang ada di pelabuhan tersebut

menjadi lebih besar, agar kapal-kapal dengan tonase dan

berkapasitas lebih besar dapat merapat. Tukijo bertugas untuk

mengamati, mengoreksi, dan memastikan proses pembangunan

sesuai dengan rencana perusahaan, baik dari rencana gambar

bangunan, kualitas bangunan, hingga pembiayaannya. PT CAE

saat itu kebetulan bekerjasama dengan Waskita Karya sebagai

kontraktor proyek.

6 TUKIJO Leadership


Di proyek pertamanya itu Tukijo mulai menunjukkan

karakternya yang tegas dan petarung. Ia sangat fokus mengawal

proyek agar dilaksanakan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Tak boleh melenceng sedikitpun. Bahkan jika ada hal yang salah

dan melenceng, Tukijo tak segan untuk menegur dan

menyampaikan apa yang dianggapnya benar. Namun semua itu

dilakukan semata-mata di pekerjaan. Di luar pekerjaan Tukijo tetap

sebagai pribadi yang hangat dan menjalin hubungan baik,

sehingga para pekerjanya tetap merasa nyaman dengannya.Tugas

Tukijo sebagai pengawas proyek dermaga bisa dijalankan dengan

sukses. Seiring dengan keberhasilannya itu, namanya pun menjadi

baik di hadapan rekan- rekan kontraktor dan Waskita Karya.

***

Tahap berikutnya Tukijo banyak belajar bagaimana bersikap

saat mengalami kegagalan.

Pada tahun 1983 karena PT CAE bangkrut, Tukijo memastikan

bergabung dengan Waskita Karya setelah diberikan saran salah

seorang pegawai di Waskita. Tepat sebulan setelah Tukijo bekerja,

April 1983, ia pun langsung ditugaskan sebagai staf proyek

mengerjakan Bendung Merowi di daerah transmigran yang

lokasinya sangat jauh, sekitar 200-an km dari kota Pontianak.

Tukijo sebagai staf proyek bertugas mengawasi sekaligus

terjun langsung dalam pembangunan bendungan. Kepala proyek

menghendaki pembangunan bendung dilakukan secara open cut.

Jadi seluruh tanah di daerah bendung dikeruk, lalu tepinya

TUKIJO Leadership

7


dipasang batu. Anak sungai yang seharusnya bermuara di

bendung tersebut kemudian dibendung dengan tumpukan tanah

terlebih dahulu agar tak menggenangi sungai.

Beberapa teknisi berpengalaman juga diundang saat

mengerjakan proyek itu, baik dari Lampung maupun Jawa, atas

pertimbangan bendung Merowi adalah bendung pertama yang

dibangun di sekitaran Kalimantan Barat, dan di samping itu,

kontur tanah Pontianak polos, bahan material dan batuannya juga

tidak begitu banyak. Material dulu memang belum secanggih

sekarang. Bahan material impor masih sulit. Jadi dengan medan

seperti itu, tidak mudah untuk membuat bendung. Dibutuhkan

teknisi berpengalaman untuk mengerjakannya.

Namun naas, proyek pertama yang ditangani Tukijo gagal.

Baru sekitar dua atau tiga bulan Tukijo bertugas, air sudah

menggenangi seisi bendung. Padahal tanah dasar bendung belum

tergali sepenuhnya. Tukijo dan kawan-kawan pun akhirnya bekerja

keras menyalakan semua pompa untuk menguras bendung.

Cobaan proyek Bendung Merowi tak terhenti sampai di situ.

Material di pasaran sangat langka. Adapun untuk mendapatkan

dari daerah lain biaya transportasi menuju ke Bendung Merowi

sangat mahal. Di samping itu juga membuat banyak jalan yang

hanya sekadar dari tanah jadi ambles. Perjalanan pun jadi semakin

lama dan membuat upah para sopir semakin mahal.

Kepala proyek mencoba meminimalisir biaya yang semakin

membengkak dengan mengaspal jalan menuju ke bendung. Tapi

ternyata itu bukanlah solusi yang tepat. Biaya yang ditanggung

8 TUKIJO Leadership


Waskita untuk membangun jalan raya jadi lebih besar. Proyek pun

jadi molor pengerjaannya. Di lain sisi, Waskita juga banyak

mendapat kecaman dari masyarakat maupun pemerintah karena

jalanan rusak. Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kalimantan Barat

bahkan memberikan surat peringatan karena dianggap merugi

cukup signifikan secara finansial dan molor cukup lama.

Dari kegagalan proyek Bendung Merowi itu, Tukijo belajar

banyak hal. Di antaranya dalam menentukan metode pengerjaan

harus dipertimbangkan dengan matang di samping juga harus

dilengkapi dengan estimasi biaya yang tepat saat tender.

Pasca proyek Bendung Merowi Tukijo dimutasi ke kota

Pontianak, ditempatkan di bagian pengendali unit Kalimantan Barat

sebagai seorang staf. Ia ditugaskan menangani administrasi proyek

di kantor unit, sehingga setiap hari harus berjibaku dengan

laporan-laporan proyek, termasuk laporan proyek Bendung

Merowi.

Tugas menjadi staf pengendali administrasi proyek memang

tidak mudah. Selang tidak lama di bagian itu, Tukijo pun kembali

dimutasi. Ia ditugaskan sebagai pelaksana proyek pembangunan

Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Pontianak.

Tugas Tukijo dalam proyek SUPM adalah mengawasi dan

melakukan supervisi, serta koordinasi dalam pembangunannya.

Selain juga termasuk tugas administratif lain layaknya mengantar

surat, menghitung volume material, serta ragam pemberkasan dan

dokumen internal. Namun, lagi-lagi Tukijo belum bisa menjalankan

tugasnya dengan baik. Ia kecolongan. Di bulan keempat saat ada

TUKIJO Leadership

9


inspeksi mendadak dari atasan dan konsultan pengawas

pembangunan ketahuan, Tukijo ternyata alpa membaca gambar

dan membiarkan seluruh pekerja konstruksi membangun gedung

secara terbalik. Seharusnya lapangan berada di dalam kompleks

dan seluruh gedung menghadap ke lapangan, membelakangi jalan

raya. Tapi Tukijo dan para pekerja proyek justru melakukan

sebaliknya.

Sebagai pelaksana Tukijo pun sadar bahwa ia harus selalu

memerhatikan proyek yang diawasinya. Harus mengamati

gambar perencanaan, spesifikasi, dan juga mataangin untuk

menentukan arah bangunan. Pengalaman itu pun menjadi

pelajaran penting bagi Tukijo.

Ibarat masuk jatuh ke lubang satu, jatuh lagi ke lubang

berikutnya. Begitulah perjalanan Tukijo masa-masa awal di

Waskita Karya. Pasca proyek SUPM, ia ditugaskan sebagai staf

pelaksana pembangunan gudang Bulog. Namun lagi-lagi di

proyek itu Tukijo mendapatkan cobaan. Bahkan kali ini cukup

berat. Satu kayu tiang pancang yang ditata di dalam gudang

goyah. Tak lama kemudian tiang itu pun roboh dan menimpa salah

seorang pekerja. Tukijo dan kawannya yang lain berusaha

menyelamatkan pekerja itu, mengangkat tiang yang menimpanya,

dan melarikannya ke rumah sakit. Tapi ternyata pekerja itu tetap

tidak tertolong. Sesampainya di rumah sakit ia tidak selamat.

Proyek Dolog yang dimulai pada pertengahan 1986,

akhirnya selesai pada awal 1987, karena banyak kemudahan.

Terhitung relatif cepat, mengingat ukuran depot logistik yang

10 TUKIJO Leadership


menjadi guru, untuk menjadi

dosen.

terhitung besar. Namun kecelakaan yang

menyebabkan korban nyawa itu tetap

menjadi pelajaran besar bagi Tukijo. Ia

menyadari bahwa pekerjaannya sangat

beresiko dan penuh pertaruhan nyawa.

Sejak itu, ia pun berpikir dan berharap untuk

tidak selamanya bekerja di lapangan. Ia juga

tidak ingin kelak ada keturunannya yang

bekerja penuh resiko seperti dirinya. Karena

itulah, ia kemudian memutuskan untuk

melanjutkan kuliah agar bisa mendapatkan

posisi yang lebih baik, atau bisa melanjutkan

cita-citanya yang sempat pupus, yaitu dari

Pasca pengerjaan

proyek Dolog, Tukijo

ditugaskan kembali sebagai

staf pengendalian di kantor

Waskita Karya, masih

terletak di kantor Pontianak.

Ibarat pepatah, pucuk dicinta

ulam pun tiba. Kembali di

kantor, itulah harapan yang

diinginkan Tukijo. Dengan

demikian, keinginannya

melanjutkan kuliah pun

terwujud. Akhirnya, ia

melanjutkan di Teknik Sipil

Universitas Panca Bhakti

Pontianak, kampus yang

kebetulan tak jauh dari

kantornya.

***

Pada saat di akhir masa

akhir studi, Tukijo ditugaskan

menangani megaproyek

jalan raya yang

menghubungkan Sungai

Pinyuh di ujung barat, hingga

Anjungan, Bengkayang, dan

TUKIJO Leadership 11


Para pemimpin tidak lahir begitu saja. Mereka

tumbuh dan berkembang di dalam ilmu,

ketrampilan dan sikapnya, sehingga pada

akhirnya menjadi pemimpin yang hebat

Singkawang. Jalan sepanjang seratus kilometer yang kemudian

menjadi jalan provinsi.Kali itu Tukijo ditugaskan sebagai

pelaksana. Berbekal pengalaman pekerjaan yang cukup dan

tambahan ilmu dari bangku perkuliahan, ia berhasil menuntaskan

tugasnya dengan baik. Meski medannya rawa-rawa dan semak

belukar, ada tuntutan jalan tersebut harus bisa bertahan di segala

cuaca, tak jadi hambatan berarti bagi Tukijo. Ia sukses

menyelesaikan megaproyek itu selama satu tahun.

Setahun kemudian Tukijo dipindahkan lagi ke proyek jalan

yang lebih jauh dan terpencil, tepatnya di proyek jalan pararel

perbatasan dari Kabupaten Sanggau hingga Jagoi dan

Bengkayang. Kali itu ia ditugaskan sebagai pelaksana dan

pengawas proyek. Medan proyek sangat sulit. Bahkan dalam

pembuatan jalan harus memecah gunung dengan dinamit. Di

samping itu, material juga langka. Tapi proses pengerjaannya

berjalan dengan lancar selama dua tahun penuh.

Setahun sebelum megaproyek itu selesai, Tukijo juga

sempat ditugaskan dalam pembangunan Jembatan Kartiasa di

Kabupaten Sambas, menghubungkan dua tanah yang telah lama

dipisahkan oleh Sungai Kapuas, dengan bentang jembatan 500

meter. Proyek itu tak berlangsung lama, tapi karena terkendala

12 TUKIJO Leadership


pendanaan yang terbatas. Jadi bukan atas kesalahan Tukijo

sebagai kepala proyek.

Setelah itu Tukijo langsung mendapatkan proyek baru

selepas menjadi pelaksana di proyek jembatan, yaitu

pembangunan jalan raya Sosok-Sanggau-Sintang. Medannya kali

itu jauh lebih menantang, menerobos rimba Kalimantan. Namun

nilai kontraknya saat itu milyaran rupiah. Sebagai pelaksana

proyek untuk menangani aspal itu, Tukijo melakukan pekerjaan

berat, yaitu meledakkan bukit batu dan memecah batu dengan

crusher. Ia berhasil melakukannya dengan baik. Aspal pun bisa

dibangun sepanjang Sosok, Sanggau, hingga Sintang.

***

Sekilas gambaran bagaimana proses pembentukan jiwa

kepemimpinan Tukijo di atas turut membenarkan apa yang

dikatakan oleh Marilyn Katzenmeyer dan Gayle Moller, bahwa,

“para pemimpin tidak lahir begitu saja. Mereka tumbuh dan

berkembang di dalam ilmu, ketrampilan dan sikapnya, sehingga

pada akhirnya menjadi pemimpin yang hebat.” Tukijo terus belajar

dari apa yang dijalani, termasuk dari kegagalan- kegagalan yang

dialami. Tak hanya belajar dari pengalaman, ia juga memantapkan

keilmuan di bangku pendidikan formal dengan kuliah, di

samping ia juga terusmengasah ketrampilan dalam bekerja dan

senantiasa bersikap positif atas semua yang dilakukan.

Meminjam istilah dari Kubik Leadership, proses

berkembangnya jiwa kepemimpinan Tukijo tidak lain karena terus

meningkatkan apa yang disebut sebagai ‘valensi’. Valensi berasal

TUKIJO Leadership

13


dari bahasa Latin ‘valentia’ yang berarti kekuatan (power) atau

kapasitas (capacity). Jadi valensi bisa diartikan sebagai ‘takaran’

atau ‘bobot’ yang mewakili kapasitas seseorang. Tukijo senantiasa

meningkatkan valensinya dengan senantiasa terus belajar dan

memperbaiki diri.

Tangga Kepemimpinan Tukijo

Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi

manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan

memimpin.

~ Davis and Filley

Satu di antara lain hal yang menarik dari Tukijo selama

bergabung di Waskita Karya adalah proses jenjang karirnya yang

dilalui dari tahap demi tahap dengan telaten. Ia bergabung di

Waskita mulai jadi staf, kepala seksi, kepala proyek, kepala bagian,

wakil kepala divisi, kepala divisi, wakil direktur utama anak

perusahaan, hingga jadi direktur utama anak perusahaan.

“Mungkin hanya saya di Waskita yang berkarir benar-benar

naik tangga tahap demi tahap. Yang lain rata-rata langsung bisa

loncat-loncat,” jelas Tukijo. Namun meski demikian, beberapa

jabatan yang sempat diduduki oleh Tukijo tak selalu lama. Ada

yang hanya setahun, beberapa bulan, dan bahkan ada yang hanya

satu bulan, yaitu saat jadi Wakil Direktur Waskita Karya Realty.

Setelah itu ia langsung diangkat menjadi Direktur Utama.

14 TUKIJO Leadership


“Padahal sebelumnya tidak ada jabatan Wakil Direktur.

Mungkin di sejarah Waskita, nggak akan ada Wakil Direktur lagi,”

kata Tukijo sembari tertawa mengisahkan.

Jika mengacu definisi pemimpin dari Davis dan Filley,

sejatinya Tukijo benar-benar posisinya jadi pemimpin di Waskita

Karya adalah saat menduduki suatu posisi manajemen, yaitu mulai

sejak menjadi Kepala Bagian Pengendalian Divisi Gedungpada

tahun 2008, menjadi Kepala Bagian Pengendalian Divisi I pada

tahun 2009, menjadi Kepala Unit Gedung G2 Surabaya tahun 2010,

Bagian Divisi I pada tahun

2011, Wakil Kepala Divisi I, hingga menjadi Kepala Divisi

Gedung pada tahun 2013, Kepala Divisi Regional IV, Kepala Divisi

II pada tahun 2015, dan menjadi Direktur Utama Waskita Karya

TUKIJO Leadership

15


Realty sejak tahun 2016 sampai sekarang. Adapun jabatan

sebelumnya sebagai seorang staf, kepala seksi, dan kepala

proyek, adalah sebagai bentuk melakukan suatu pekerjaan

memimpin di lingkup yang kecil.

Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi pada dasarnya

mencakup dua aspek, yaitu; fungsi administrasi, meliputi kegiatan

mengadakan formulasi kebijaksanakan administrasi dan

menyediakan fasilitasnya, dan fungsi sebagai top manajemen,

meliputi kegiatan planning, organizing, staffing, directing, commanding,

controling, dan sebagainya.

Proses tangga jabatan kepemimpinan yang dilakukan oleh

Tukijo juga turut membuahkan manfaat baginya. Dengan naik

tahap demi tahap, akhirnya ia menjadi tahu semua dari A sampai

Z. Hal itu turut menjadi bekal yang sangat berarti baginya pada

saat telah menduduki jabatannya sekarang sebagai Dirut Waskita

Karya Realty.

Di lain sisi, cobaan yang dilewati Tukijo saat menduduki

jabatan juga tidak fatal dan membuatnya berat menjalani.

Cobaan-cobaan itu datang juga sesuai dengan kapasitas yang

dimiliki oleh Tukijo dan sesuai tanggung jawab yang menyertai

jabatannya. Sehingga layaknya seperti jabatan yang dilaluinya

secara tahap demi tahap, cobaan yang dilewati oleh Tukijo

kapasitasnya juga tahap demi tahap, mulai dari cobaan kecil-kecil,

hingga cobaan besar. Namun, berbekal dari kenyangnya

pengalaman Tukijo bekerja, seiring dengan jabatannya di jajaran

manajer, resiko masalah yang bisa timbul di proyek pun bisa

16 TUKIJO Leadership


diminimalisir olehnya. Terlebih ia tipikal orang yang mau belajar

dari kegagalan atasannya atau orang lain.

Dari gambaran di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwasanya,

apa yang dikatakan oleh Valerie Sokoloski memang benar, bahwa,

“Pemimpin tidak lahir begitu saja. Kepemimpinan dipelajari dan

dikembangkan. Proses itu dimulai sejak awal hidup kita dengan

diri kita sendiri sebagai Individu.” Tukijo menjadi bukti nyata,

bahwa dengan belajar dan mau mengembangkan diri, meski

sedari kecil tak tampak bakat kepemimpinannya, akhirnya bisa

berproses dengan baik menjadi pemimpin di Waskita Karya Realty.

“Pemimpin tidak lahir begitu saja.

Kepemimpinan dipelajari dan

dikembangkan. Proses itu dimulai

sejak awal hidup kita dengan diri

kita sendiri sebagai Individu.”

TUKIJO Leadership

17

More magazines by this user
Similar magazines