Tak Mau Jadi Pemanah Tanpa Anak Panah - Kemenag Jatim

jatim.kemenag.go.id

Tak Mau Jadi Pemanah Tanpa Anak Panah - Kemenag Jatim

Dra. Hj. Ucik Nurul Hidayati, MPdI

Tak Mau Jadi Pemanah Tanpa Anak Panah

Siapa tak kenal Nyai Hj. Ucik

Setiap Minggu siang wajahnya

menghiasi TV9 menyapa pemirsa

melalui acara bertajuk “Apa Kata Bu

Nyai”. Di luar itu, pemilik nama lengkap

Dra. Hj. Ucik Nurul Hidayati,

MPd.I ini rutin berkeliling ke berbagai

pelosok daerah untuk berdakwah.

Tak hanya dalam negeri, melainkan

sudah meramba hingga ke luar negeri.

34 MPA 319 / April 2013

Saban Shubuh Nyai Hj. Ucik

punya ritual khusus; menjadi imam

shalat Shubuh bagi para santri dan

membaca istighatsah secara berjamaah.

“Ini tidak pernah saya tinggalkan.

Sebab saya menyadari, waktu saya

lebih banyak mendatangi berbagai

tempat untuk ceramah,” tutur pengasuh

pondok pesantren putri Al Islahiyah

Pasuruan ini.

35 tahun sudah istri KH. Abdul

Aziz Hadrawi ini memberikan ceramah

ke berbagai daerah. Terkadang sehari

bisa di sembilan tempat yang berbeda.

Namun rata-rata empat hingga

tujuh kali sehari. Maklum, jika baru

dini hari dirinya dapat melepas penat

dengan leluasa. “Saya sudah bertekad

untuk mengabdikan diri bagi

umat. Keluarga juga sangat

memakluminya,”

ucap ibu satu anak ini

penuh syukur.

Wanita kelahiran

Pasuruan 14 Pebruari

1963 ini, memang

sejak bocah

sudah merambah ruang

publik. “Saya

ingat betul ketika itu

masih sekolah TK.

Saya membacakan

shalawat Badar di

atas gendongan ibu

di sebuah acara pengajian,”

kenang

putri pasangan

(alm.) H. Sutamak

Umar Faruq dan

(almh.) Hj Lailatul

Arofah ini.

Pada usia lima tahun,

nama Ucik kecil sudah

dikenal masyarakat

sekitar Wonorejo Pasuruan.

Dirinya biasa diminta

untuk melantunkan

ayat suci al-Qur-

’an atau “shalawatan”.

Yang menggemaskan,

kala itu

Ucik membacakan

ayat suci al-Qur’an

di atas panggung

dengan polos dan tanpa mengenakan

kerudung. “Maklum, masih anakanak.

Toh waktu itu kan belum ada

jilbab,” kata lulusan SDN Sambisirah

Wonorejo Pasuruan ini berkilah.

Lantas dia nyatri di pondok pesantren

putri Al Islahiyah Singosari,

sambil meneruskan studinya di SMP

Islam Al Ma’arif Singosari. Sebagai

remaja, gaya berpakaiannya berubah

pula. Di sana dirinya mulai mengenal

busana jilbab. Skill qira’ahnya juga

berkembang, lantaran bisa belajar

langsung kepada KH. Bashori Alwi.

Saat itu, sebagai qari’ah namanya pun

cukup berkibar di seantero Malang.

Julukan sebagai qari’ah cilik telah

tersematkan di pundaknya.

Pada tahun 1978, saat menginjakkan

kaki di bangku kelas 1 SMA

Islam Al Ma’arif, dirinya mulai mengenal

dunia da’i. Ibu dari Iffa Nazmi

Maryam ini berlatih khithabah ketika

nyantri di pesantren asuhan KH.

Mahfudz Kholil dan Hj. Hasbiyah

Hamid. Setiap pekan memang ada

agenda wajib khithabah. Menjelang

gilirannya tiba, dirinya berlatih keras

menghafalkan materi yang hendak

disampaikan. “Meski sempat nervous,

tapi tak mengecewakan. Jokejoke

yang saya lontarkan mendapat

sambutan luar biasa,” ucap penggemar

berbagai jenis seni ini dengan

bangga.

Seminggu berselang, tak disangka

tiba-tiba datang undangan

ceramah dari pesantren di daerah Turen

Malang. Tak tanggung-tanggung,

Kafilah Jawa Timur dalam MTQ

Nasional tahun 1983 ini didapuk sebagai

penceramah tunggal. “Anehnya,

joke-joke saya tak memperoleh

respon. Ya.. mungkin karena dari teks

sehingga terasa kering dan hambar,”

imbuhnya sambil tertawa renyah.

Sejak itulah permintaan ceramah

terus berdatangan – meski dirinya

masih berstatus santri. Setelah kuliah

di IAIN Sunan Ampel Surabaya, undangan

ceramah pun membanjirinya.

Bahkan sampai ke Jawa Tengah dan

pulau Bali. Dengan jam terbang yang

tinggi, skill ceramahnya semakin


Dra. Hj. Ucik Nurul Hidayati, M.Pd.I saat menyampaikan tausiyah bagi

masyarakat Surabaya

terasah. Joke-joke dan guyonan kreatifnya

kerap membuat tawa pemirsa.

Tentu saja dirinya tak mau mengedepankan

joke-joke saja. Sebab

yang terpenting, adalah isi dakwahnya.

Joke hanya selingan untuk menyegarkan

suasana. Yang utama,

adalah isi ceramah. Oleh karenanya,

dia tak sepakat dengan guyonan

yang melenceng dari isi materi dakwah.

“Apalagi guyonan-guyonan

yang terkesan vulgar,” ucap wanita

humoris ini menandaskan.

Bagi wanita yang pernah qira’ah

saat kunjungan Presiden Mesir Ziaul

Haq ke IAIN Sunan Ampel Surabaya

ini, joke dan guyonan diperlukan agar

isi ceramah bisa lebih mudah tersampaikan.

Sebab berdakwah juga

harus bisa membahagiakan masyarakat.

“Dengan humor kan membuat

orang bahagia. Nah, ketika orang merasa

bahagia, mereka lebih gampang

menerima isi dakwah,” terang wanita

yang awalnya bercita-cita menjadi

dokter ini.

Apalagi dunia dakwah saat ini

dihadapkan pada makin melemahnya

kadar keimanan pada pribadi masyarakat.

Terbukti kian rapuhnya berbagai

bidang kehidupan baik sosial,

politik, ekonomi dan budaya. Lantaran

itulah, di setiap ceramahnya

selalu ditekankan pentingnya pendidikan

keimanan dalam keluarga. Dengan

banyaknya keluarga yang menitikberatkan

pada pendidikan keimanan,

niscaya bisa melahirkan solusi

atas segala permasalahan di negeri

ini.

Di sisi lain, dengan banyaknya

bermunculan da’i-da’i dadakan – di

televisi khususnya, menyebabkan

profesi da’i menjadi sorotan. “Seorang

da’i yang seharusnya mampu

menggerakkan umat untuk lebih mendekatkan

diri kepada agama, disinyalir

telah dibajak untuk kepentingan

sesaat,” tengarainya.

Padahal seorang da’i, tuturnya,

harus siap menerima kenyataan yang

enak maupun tak enak. Tak sedikit

peristiwa tak nyaman yang dialaminya.

Pernah suatu ketika dirinya diundang

ke Banyuwangi. Setelah perjalanan

tujuh jam, sampailah di tempat

tujuan. Tapi ternyata yang ada cuma

sepi. Sang tuan rumah pun terlelap

sudah. “Secara lahiriah memang terjadi

mis-komunikasi. Tetapi secara

bathiniah, ini harus dijadikan sebagai

pengingat diri,” simpulnya. “Pernah

juga setelah mengisi ceramah, mobil

rusak dan harus turun mesin dengan

biaya yang tak sedikit. Saya pun langsung

beristighfar, barangkali tersisa

niatan kotor di hati,” ucap mantan pengurus

PW Muslimat Jawa Timur ini

lirih.

Untuk itulah, setiap da’i haruslah

memiliki kekuatan ruhani yang

mumpuni. Sebab tugas dakwah itu

teramat berat. Tak mungkin jika sekedar

megandalkan kekuatan lisan tanpa

dibarengi aplikasi secara haliyah.

“Da’i tanpa amal nyata, laksana pemanah

tanpa anak panah. Saya tidak

ingin demikian,” tandas wanita yang

tiap bulan Ramadhan memberikan

taushiah di KJRI Hongkong ini mengingatkan.

“Kita harus selalu berdoa,

agar untaian kata yang terucap mampu

menjadi jalan hidayah bagi orang

lain,” imbuhnya mewanti-wanti.• pri

MPA 319 / April 2013

35

More magazines by this user
Similar magazines