13.07.2015 Views

hasil-hasil kegiatan inventarisasi dan evaluasi - Pusat Sumber Daya ...

hasil-hasil kegiatan inventarisasi dan evaluasi - Pusat Sumber Daya ...

hasil-hasil kegiatan inventarisasi dan evaluasi - Pusat Sumber Daya ...

SHOW MORE
SHOW LESS

You also want an ePaper? Increase the reach of your titles

YUMPU automatically turns print PDFs into web optimized ePapers that Google loves.

HASIL-HASIL KEGIATAN INVENTARISASI DAN EVALUASISUMBER DAYA BATUBARA TAHUN 2002Disusun Oleh :Eko Budi C, Sukardi, Eddy <strong>dan</strong> NananSubdit Batubara DIMSARIInventarisasi Batubara di Indonesia dilasanakan sebagai upaya pencarian <strong>Sumber</strong> Energi Nasionaluntuk mengetahui besarnya potensi sumber daya batubara secara lateral baik penyebaran kuantitasmaupun kualitas, berdasarkan Standar Nasional Indonesia.Data <strong>inventarisasi</strong> ini berguna sebagai dasar pemikiran dalam kebijakan nasional terhadappemanfaatan potensi sumber energi <strong>dan</strong> sumber daya secara nasional; serta untuk pemenuhankelengkapan Database DIM yang secara sistematis dapat di manfaatkan bagi semua pihak yangberkepentingan, baik kepentingan daerah maupun nasional.Inventarisasi batubara dibagi menjadi penelitian secara bersistem (berdasarkan cekungan geologi),lintas propinsi, pencarian data sekunder, <strong>dan</strong> uji petik. Sampai tahun 2002 <strong>inventarisasi</strong> bersistem dalamCekungan Sumatera Selatan sudah mencapai tahap akhir dengan keberadaan sumber daya sebesar21.335.612.000 ton, selanjutnya <strong>inventarisasi</strong> bersistem dilanjutkan dalam Cekungan Kutai diKalimantan Timur, dimulai dengan lokasi awal daerah Bontang (Lembar 1916-12) <strong>dan</strong> Sungai Santan(Lembar 1916-11), dari kedua daerah ini didapatkan sumber daya sebesar 346.531.737 ton. Pada<strong>inventarisasi</strong> lintas propinsi dilaksanakan pada 4 lokasi, yaitu Sungai Dareh (Sumbar-Riau), LubukSikaping (Sumbar-Riau), Rengat (Riau-Jambi) <strong>dan</strong> Tamiang Layang (Kalteng-Kalsel).ABSTRACTCoal inventory which is conducted by Directorate of Mineral Resources inventory (DMRI)basically is an effort to reveal Energy Resources in available in Indonesia. Inventory basically is aimed toequantity of Coal Resources and the quality. The data is useful for strategic national planning forutilization as well as National Coal Database. This data also could be useful either for regionalgovernment or coal companies.The inventory can be divided in to a systemic prosppection, preliminary exploration in provincialborder area secondary data collection and random checking. Until years 2002, systemic inventory ofSouth Sumatra Basin has completed a final phase and it is reported the resources found is of21,335,612,000 tons in aproximate. This year the sistematic prospecting program focused on Kutai Basin,East Kalimantan and initiated the exploration program on Bontang and Sungai Santan quadrangles. Theprogram reported coal resources of 346.531.737 ton from both areas.The preliminary exploration in the provincial border areas were carried out in four locations :Sungai Dareh, Lubuk Sikaping, Rengat and Tamiang Layang.Kolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 1


1. PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangSalah satu kebijaksanaan pemerintah dibi<strong>dan</strong>genergi adalah <strong>inventarisasi</strong> <strong>dan</strong> eksplorasi sumberdaya energi untuk menge tahui sumber daya yangada. Sebagaimana diketahui bahwa batubara adalahsalah satu sumber energi alternatif yang sangatberperan dalam beberapa dekade terakhir ini.Sebagai implementasi dari kebijaksanaan tersebut,maka pemerintah meman<strong>dan</strong>g perlu melakukan<strong>inventarisasi</strong> sumber daya batubara secara terusmenerus agar dapat mengetahui potensi yangterkandung didaerah yang diselidiki. Pada TahunAnggaran 2002 telah dipilih beberapa daerah untukdi<strong>inventarisasi</strong>.Untuk melaksanakan kebijaksanaan peme rintah<strong>dan</strong> sesuai dengan tugas pokok <strong>dan</strong> fungsinya makaDirektorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Mineral - SubDirektorat Batu bara telah melakukan <strong>inventarisasi</strong><strong>dan</strong> <strong>evaluasi</strong> endapan batubara di daerahpenyelidikan. Daerah <strong>inventarisasi</strong> <strong>dan</strong> <strong>evaluasi</strong>meliputi penyelidikan secara bersistem padabeberapa wilayah cekungan geologi di Indonesia<strong>dan</strong> pada wilayah yang menyangkut lintas propinsi.1.2 T u j u a nPenyelidikan ini dimaksudkan untuk melakukan<strong>inventarisasi</strong> keberadaan endapan batubara didaerah penyelidikan dengan tujuan untukmengetahui potensi sumber daya batubara <strong>dan</strong><strong>evaluasi</strong> akan penyebaran endapan batubara secaralateral baik korelasi antar singkapan maupun lapisanserta formasi pembawa batubara (coal bearingformation). Disamping itu, potensi <strong>dan</strong> kualitas darisumber daya batubara tersebut, dapat diman faatkansebagai sumber energi. Hasil dari penyelidikan inidiharapkan dapat menjadi dasar pemikiran akanpentingnya sumber daya bagi kepentingan Daerah<strong>dan</strong> Nasional. Kemudian data tersebut jugadibutuhkan untuk penyempurnaan <strong>dan</strong> penambahandata sumber potensi energi bagi kepentingandatabase <strong>dan</strong> pemutakhiran data secara digital, agardapat dimanfaatkan bagi semua pihak yangberkepentingan, yang di lakukan secara siste matis<strong>dan</strong> terpadu dalam suatu rangkaian sistem SIG(Sistem Informasi Geografis) <strong>dan</strong> informasiendapan bahan galian di Indonesia.1.3 K e g i a t a nPada Tahun Anggaran 2002 <strong>inventarisasi</strong>dilaksanakan pada beberapa wilayah lintaspropinsi <strong>dan</strong> <strong>inventarisasi</strong> bersistem dalambeberapa cekungan geologi di Indonesia.Pelaksanaan <strong>kegiatan</strong> berupa <strong>inventarisasi</strong>penyelidian umum (survei), pemetaan bahangalian, pengikatan titik ikat <strong>dan</strong> lintasan,pemboran inti, analisa laboratorium (fisika <strong>dan</strong>kimia) dari conto batuan <strong>dan</strong> <strong>inventarisasi</strong> datasekunder serta uji petik pada daerah tertentu.Keseluruhan penyelidikan dibiayai olehAnggaran DIK-S <strong>dan</strong> PIEBGMI tahun 2002.2. DAERAH PENYELIDIKANDaerah penyelidikan disusun berdasarkankriteria jenis <strong>kegiatan</strong>, yaitu InventarisasiBersistem, Inventarisasi Lintas Propinsi,Inventarisasi Data Sekunder <strong>dan</strong> Uji Petika. Inventarisasi BersistemInventarisasi pada penyelidikan initermasuk ke dalam Cekungan SumateraSelatan sebagai tahap akhir daripenyelidikan cekungan bersistem daricekungan tersebut, secara wilayah administratif terdiri atas :Daerah Tanjung Lubuk, Kabupaten OganKomering Ilir <strong>dan</strong> Kabupaten OganKomering Ilir <strong>dan</strong> Daerah Pagar Dewa,Kabupaten Ogan Komering Ilir ProvinsiSumatera Selatan (Gambar 1).Dalam Cekungan Kutai sebagai tahapawal dari penyelidikan cekunganbersistem, secara wilayah administratifterdiri atas :Daerah Sungai Santan, Kabupaten KutaiTimur <strong>dan</strong> Kabupaten Kutai Kartanegara,<strong>dan</strong> Daerah Bontang, Kabupaten KutaiKartanegara, Kutai Timur <strong>dan</strong> KotaBontang, Provinsi Kalimantan Timur(Gambar 2).Se<strong>dan</strong>g batas koordinat dari semuawilayah penyelidikan di atas adalahsebagai berikut :CEKUNGAN SUMATERA SELATANTanjung Lubuk ; Secara geografismenempati 3 o 30’00” sampai 3 o 45’ 00”Lintang Selatan <strong>dan</strong> 104 o 45’00” sampaiKolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 2


arah memanjang sumbu Pulau Sumatera.(Gambar 4).Kerangka stratigrafi daerahCekungan Sumatera Selatan padaumumnya dikenal satu daur besar(“megacycle”) pengendapan terdiri darifase transgresi yang diikuti fase regresi.Endapan batubara potensial sedemikianjauh hanya terdapat pada tingkatpertengahan siklus regresi mulai dari akhirFormasi Benakat berlanjut kepada FormasiMuara Enim yang bertindak sebagaiformasi pembawa batubara <strong>dan</strong> diakhirioleh pengendapan Formasi Kasai.Sesuai Peta Mendala batubaraSumatera Selatan (Shell, 1978) <strong>dan</strong> petageologi Lembar Palembang (Gafoer dkk.,1986) daerah penyelidikan secara umumditutupi oleh ke tiga formasi tersebut diatasdengan kedudukan selaras satu samalainnya, uraian singkat masing-masingformasi dari tua ke muda sebagai berikut :Formasi Lahat yang terbentuk sebelumtransgresi utama pada umumnyamerupakan sedimentasi non marin. Terdiridari endapan darat <strong>dan</strong> volkanik yaituaglomerat, tufa, batupasir <strong>dan</strong> breksidibagian bawah <strong>dan</strong> serpih tufaan <strong>dan</strong>batulanau dibagian atas. Hadirnya endapanvolkanik menunjukkan bahwa aktifitasvolkanik di busur volkanik sebelah baratcekungan sudah mulai intensif.Formasi Talang Akar merupakantransgresi yang sebenarnya <strong>dan</strong> dipisahkandari Formasi Lahat oleh suatu ketidakselarasan yang mewakili pengangkatanregional dalam Oligosen Tua Atas <strong>dan</strong>Oligosen Tengah. Sebagian dari formasiini adalah fluviatil sampai delta <strong>dan</strong> marin<strong>dan</strong>gkal. Bagian bawah formasi inidicirikan oleh batupasir kasar hinggasangat kasar dengan sisipan serpih <strong>dan</strong>batubara. Se<strong>dan</strong>gkan bagian atas berupaselang-seling batupasir <strong>dan</strong> serpih.Formasi Baturadja terdiri dari gampingyang sering merupakan terumbu yangtersebar.Formasi Gumai yang terletak diatasnyamempunyai penyebaran yang luas, padaumumnya terdiri dari serpih marin dalam.Formasi Air Benakat merupakanpermulaan endapan regresi <strong>dan</strong> terdiri daribatulempung dengan sisipan batupasirglaukonit yang kaya fosil foraminifera.Lingkungan pengendapan formasi iniadalah laut <strong>dan</strong>gkal.Formasi Muara Enim merupakan endapanrawa sebagai fase akhir regresi, <strong>dan</strong>terjadilah endapan batubara yang penting.Formasi Kasai di endapkan pada fase akhirregresi terdiri dari batulempung tufaan,batupasir tufaan, ka<strong>dan</strong>gkala konglomerat<strong>dan</strong> beberapa lapisan tipis batubara yangtidak menerus.Pensesaran batuan dasar mengontrolsedimen selama Paleogen. Stratigrafinormal memperlihatkan bahwapembentukan batubara hampir bersamaandengan pembentukan sedimen Tersier.3.1.2 Stratigrafi <strong>dan</strong> Kualitas EndapanBatubaraSebagaimana telah dikemukaansebelumnya bahwa seri sedimen pengisiCekungan Sumatera Selatan yangbertindak sebagai pembawa batubaraadalah Formasi Muara Enim.Dalam melakukan penyelidikanendapan batubara perhatian difocuskanterhadap daerah pelamparan FormasiMuara Enim yang diperkirakan dilalui olehjalur jalur singkapan batubara. Singkapanbatubara pada umumnya terdapat sebagaidasar sungai, jarang yang membentuktebing. Singkapan batuan sebagai intrasedimen sangat jarang ditemukan sehinggaagak sukar dilakukan korelasinya. Hal iniagaknya disebabkan oleh gradien aliransungai yang relatif kecil sehingga erosi kearah tegak lemah <strong>dan</strong> endapan sungaicukup tebal. Pembagian Formasi MuaraEnim menjadi 4 anggota berdasarkankelompok kandungan lapisan batubara olehShell, 1978 sangat membantupengkorelasian lapisan batubara karenabeberapa lapisan sekaligus bertindaksebagai pembatas anggota; apabila tidakditemukan batubara dalam hal ini endapanbatubara tidak berkembang makapembagian anggota dilakukan berdasarkankorelasi satuan ciri litologi batuan. Keempat anggota tersebut dari bawah ke arahatas dinamakan anggota M1, M2, M3 <strong>dan</strong>M4 .Formasi Muara Enim Anggota M1kontak selaras dengan Formasi AirBenakat. Dalam hal ini adalah dasarlapisan batubara terbawah (lapisan Keladi),Kolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 4


pada lapisan batubara yang menghilangatau tidak ada maka batasannya ditentukandari lapisan batupasir kaya akan glaukonit<strong>dan</strong> sisipan batubesian serta menunjukanpengaruh oksidasi kuat. Anggota ini terdiriatas perulangan batupasir, batulanau <strong>dan</strong>batulempung, warna batuan umumnya abuabukehijauan <strong>dan</strong> coklat kekuningan sertastruktur lentikular umum dalambatulempung. Anggota M1 mengandungdua lapisan batubara yaitu lapisan Keladi<strong>dan</strong> Merapi dengan singkapan yangdijumpai dalam jumlah sedikit <strong>dan</strong>umumnya tipis. Hasil dari pemboran padalembar 0913-52, 0913-61, 0913-63, 0913-64, 0913-43, 1013-41 <strong>dan</strong> 1013-13; tebalbatubara berkisar dari 0,50–1.20 m. Hasilanalisa batubara adalah nilai panas (CV)(daf) 6251–7009 kcal/kg , kandungansulphur total (St %) 0.43–1.24,kandungan abu (Ash %) 1.9–5.5.Anggota M2 batas bawahnyadiletakkan pada lapisan Petai akan tetapipada daerah sebelah utara kompleksCekungan Sumatera Selatan lapisan initidak berkembang hanya mempunyaikisaran ketebalan (0.2-3.00m) bahkan padasebagian lembar tidak dijumpai sehinggabatasnya adalah perulangan lapisan selangseling batulanau <strong>dan</strong> batulempung denganpola struktur lenticular atau paralellaminasi. Anggota M2 dibangun atasperselingan batulempung dengan batupasir<strong>dan</strong> batulanau serta mengandung 2 lapisanbatubara yang pelamparannya menerusyaitu Seam Suban <strong>dan</strong> Seam Mangus.Batulempung berwarna abu-abu tua–coklat tua, kompak, nodul batubesian.Batupasir berwarna abu-abu kehijauan–abu-abu tua , agak kompak berlapis baikstruktur silang siur dominan, berbuti halus–se<strong>dan</strong>g, mengandung material karbon <strong>dan</strong>glaukonitan. Batulanau berwarna abu-abukehijauan, kompak berlapis baik <strong>dan</strong>mengandung nodul-nodul batubesian.Lapisan batubara Suban berkisar(0,50–7.10 m) <strong>dan</strong> lapisan Mangus (0,85 –19.75 m). Pada lapisan batubara Mangussebagian lapisan batubara terbagi menjadidua lapis yang dicirikan oleh lapisan intrasedimen atau sisipan lempung tufaan <strong>dan</strong>batulanau serta mengandung mineral biotitterpudarkan.Hasil analisa batubara dari AnggotaM2 pada Seam Petai adalah nilai panas(CV) (daf) 5925–6578 kcal/kg, kandungansulphur total (St %) 0.82–2.58, kandunganabu (Ash %) 3.1–9.85. Seam Suban nilaipanas (CV) (daf) 6239–6804 kcal/kg,kandungan sulphur total (St %) 0.13–1.75, kandungan abu (Ash %) 1.6 – 10.0.Seam Mangus nilai panas (CV) (daf)5893–7486 kcal/kg , kandungan sulphurtotal (St %) 0.17–0.97, kandungan abu(Ash %) 1.3–14.97.Anggota M3 batas bawah beradapada atap lapisan Mangus <strong>dan</strong> batasatasnya pada lantai lapisan Kebon.Anggota dibangun oleh batupasirbatulempung. Batulempung berwarna abuabumuda sampai hijau tua <strong>dan</strong> coklat tua,kompak, struktur lenticular umum, banyakmengandung material karbon <strong>dan</strong> nodulnodulbatubesian. Lapisan batubaradijumpai 2 lapis yaitu lapisan batubaraBurung (0,70–9.60 m) <strong>dan</strong> lapisanBenuang (1.0–11.96 m). Batubaraberwarna hitam kecoklatan, kusam, agakgetas, sedikit mengandung nodul resin.Hasil analisa batubara dari Anggota M3pada Seam Burung nilai panas (CV) (daf)5681–6726 kcal/kg , kandungan sulphurtotal (St %) 0.19–0.55, kandungan abu(Ash %) 2.0–11.10. Seam Benuang nilaipanas (CV) (daf) 5950–6720 kcal/kg ,kandungan sulphur total (St %) 0.18 –1.01, kandungan abu (Ash %) 2.13–11.3Anggota M4 batas bawah diletakkanpada atap lapisan batubara Benuang <strong>dan</strong>batas atas pada atap lapisan batubara palingatas. Anggota dibangun oleh batupasir,batulempung <strong>dan</strong> beberapa lapisanbatubara. Batupasir umumnya berwarnaagak kebiruan-hijau, rapuh, berbutir haluskasar,berlapis. Kandungan materialvolkanik ke arah atas meningkat. Lapisanbatubara umumnya dijumpai 5 lapis yaitulapisan batubara Kebon (0,35–11.94 m),lapisan Babat/Benakat (0,90–29.74m),lapisan Gantung (1.87–35.42m) lapisanLematang (0,85–4,00 m) <strong>dan</strong> lapisan Niru(2.60–6.60m); tetapi diantara lapisanbatubara tersebut masih terdapat lapisanbatubara yang tidak menerus <strong>dan</strong> setempatmenghilang disebut lapisan gantung.Hasil analisa batubara dari Anggota M4pada Seam Kebon nilai panas (CV) (daf)Kolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 5


5846–6643 kcal/kg , kandungan sulphurtotal (St %) 0.20–0.47, kandungan abu(Ash %) 2.70–15.3; Seam Babat/Benakatnilai panas (CV) (daf) 5511–6604 kcal/kg,kandungan sulphur total (St %) 0.18–0.59, kandungan abu (Ash %) 1.7–11.5;Seam Gantung nilai panas (CV) (daf)6321 kcal/kg, kandungan sulphur total (St%) 0.32, kandungan abu (Ash %) 13.8 ;Seam Lematang nilai panas (CV) (daf)5786–6578 kcal/kg , kandungan sulphurtotal (St %) 0.19–0.60, kandungan abu(Ash %) 5.2–12.7 <strong>dan</strong> Seam Niru nilaipanas (CV) (daf) 6318–66460 kcal/kg,kandungan sulphur total (St %) 0.29–0.32, kandungan abu (Ash %) 2.1–15.6.3.1.3 <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> BatubaraDari beberapa penyelidikan sampaisekarang dapat di uraikan dalam bentuktabel sbb. :<strong>Sumber</strong> daya batubara <strong>hasil</strong> penyelidikanPTBA sebesar 5.505.000.000 ton.,se<strong>dan</strong>gkan <strong>hasil</strong> penyelidikan DIM sampaidengan tahun 2002 sebesar 15.830.612.000ton. Jumlah seluruh sumber daya batubaradi cekungan Sumatera Selatan adalah21.335.612.000 ton.Kolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 6


3.2 Inventarisasi Bersistem CekunganKutai3.2.1 Geologi RegionalCekungan Kuati merupakan suatucekungan sedimentasi Tersier. Di sebelahutara dibatasi oleh Tinggian Kuching, disebelah selatan dipisahkan terhadapCekungan Barito oleh suatutinggian yangdikenal sebagai Paternosfer Cross High(Gambar 5).Cekungan Kutai terbentuksebelum Eosen. Selama Eosen-OligosenBawah terjadi suatu penurunan yangmenyebabkan terjadinya proses genanglaut dari arah timur ke barat. Prosessedimentasi yang terjadi hampir secaraterus menerus mulai dari Tersier hinggasaat ini. Secara umum sedimentasi yangdi<strong>hasil</strong>kan adalah proses regresi yangberkembang ke arah timur, hal tersebutdicirikan dengan ditemukannya produksedimentasi yang cukup tebal, walaupunsecara lokal memungkinkan a<strong>dan</strong>yabeberapa siklus dari proses regresi <strong>dan</strong>transgresi.Fase regresi lebih mendominasi,sehingga dari data stratigrafimenunjukkan bahwa cekungan diisi daribarat ke timur secara berprogradasidengan sumbu ketebalan sedimenmaksimum diendapkan pada setiapjenjang Tersier yang bergeser secaraprogresif ke arah timur menumpang diatas sedimen laut dalam (Gambar 6).Gerard <strong>dan</strong> Oesterle (1973) maupunSchwartz <strong>dan</strong> lain-lain (1973)menginterpretasikan endapan dalam faseregresif ini sebagai endapan delta. Di sinifasies prodelta, delta front, delta-plainteradapat dalam urut-urutan vertikalsecara berganti-ganti. Delta tersebutberprogradasi ke arah laut, <strong>dan</strong> beberapakali mengalami proses transgresi yangmembentuk daur (siklus) kecil. Salahsatunya terjadi pada Miosen Awal,dimana kompleks delta mencapaipinggiran paparan. Di muka delta initerbentuk terumbu pinggiran paparan(shelf-edge-reefs) sebelum lerengkontinen outer shelf. Dalam daur regresibesar ini dapat dibedakan antara FormasiPulubalang, Formasi Balikpapan <strong>dan</strong>Formasi Kampung Baru, yang berumurMiosen sampai Pliosen.3.2.2 Stratigrafi <strong>dan</strong> Kualitas BatubaraFormasi pembawa batubara (CoalBearing Formation) yang terdapat didaerah Sungai Santan <strong>dan</strong> Bontang adalahFormasi Pamaluan (Tmp), FormasiPulubalang (Tmpb), Formasi Balikpapan(Tmbp) <strong>dan</strong> Formasi Kampung Baru(Tpkb). Namun yang lebih prospeksebagai formasi pembawa batubara adalahFormasi Pulubalang <strong>dan</strong> Balikpapan.Tatanan Stratigrafi daerah penyelidikandisusun dari tua ke muda sebagai berikut :Formasi Pamaluan (Tmp) dimana formasiini saling menjemari dengan FormasiBebuluh (Tmb), ditutupi selaras olehFormasi Pulubalang (Tmpb), Balikpapan(Tmbp) <strong>dan</strong> Formasi Kampung Baru(Tpkb) se<strong>dan</strong>gkan diatas formasi tersebutditutupi secara tidak selaras oleh endapanAlluvium (Qal)Hasil pemetaan geologi permukaan<strong>dan</strong> data pemboran inti, memperlihatkana<strong>dan</strong>ya suatu perubahan litologi, dimanasusunan batuan yang menempati daerahsebelah timur agak berbeda dengansusunan batuan yang berada di sebelahbarat.Berdasarkan pengamatan litologi <strong>dan</strong>tekstur primer batuan sedimen,menunjukan bahwa semakin kearah Baratukuran butir dari batupasir cenderunglebih mengasar, mencerminkan a<strong>dan</strong>yasuatu perubahan fasies dari laut <strong>dan</strong>gkalhingga darat.Oleh karena itu disebelah baratdaerah penyelidikan, <strong>kegiatan</strong>pembentukan endapan batubara kurangberkembang dibandingkan dengan disebelah Timurnya.Hasil analisis kimia dari beberapaconto batubara yang dianalisis denganbasis analisis kering (adb), menunjukan :Nilai Kalori (Calorific Value) berkisardari 3.910–7.335 cal/gr; Kandungan AirBebas (FreeMoisture) 1,8–8,8%;Kandungan Air Total (Total Moisture)6,8–20,4%; ZatTerbang (VolatileMatter)28,0–44,1%; Kadar Abu (Ash) 0,9–32,2%; KadarBelerang (Sulfur) 0,08–Kolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 7


3,75%; KarbonPadat (Fixed Carbon)29,2–51,0%; BeratJenis (Specific Gravity)1,30 – 1,61.3.2.3 <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Batubara Bontang <strong>dan</strong> Sungai SantanDari <strong>hasil</strong> penyelidikan didapatkan <strong>hasil</strong> sebagai berikut :L o k a s iBontang-Sungai SantanJumlah Singkapan 363 buahJumlah Bor Inti / kisaran 28 titik 40,40 - 70,20 m 1.422,45 mkedalaman / totalkedalamanFormasi Pembawa Pamaluan, Pulubalang, Balikpapan <strong>dan</strong> Kampung Baru.BatubaraFormasi PamaluanJumlah Lapisan7 buahKisaran Tebal (m) 0,25 - 2,50Formasi PulubalangJumlah Lapisan36 buahKisaran Tebal (m) 0,15 - 8,60Formasi BalikpapanJumlah Lapisan14 buahKisaran Tebal (m) 0,15 - 10,00Formasi Kampung BaruJumlah Lapisan1 buahKisaran Tebal (m) 2,50SUMBER DAYAF o r m a s i Pamaluan Pulubalang Balikpapan Kampung Baru<strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> (ton) 22.684.477 278.365.839 43.456.925 2.024.496Total <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> (ton) 346.531.7373.3 Inventarisasi Lintas Propinsi DaerahSungai DarehSecara tektonik berada pada padaCekungan Sumatera Tengah, dimana padazona graben pembentukan batubara terjadi<strong>dan</strong> perkembangannya dikontrol olehpenurunan daratan secara perlahan. Hal inimengakibatkan perluasan cekungansedimentasi terutama ke arah Timur <strong>dan</strong>Barat. Sejak pertengahan Miosen sedimentlaut <strong>dan</strong>gkal <strong>dan</strong> payau berkembang.Lapisan batubara dari Formasi Telisa <strong>dan</strong>Muara Enim berasal dari substansi organikyang terbentuk selama waktu itu di daerahrawa.Secara stratigrafi batuan tertuayang terdapat di daerah Sungai Darehadalah kelompok batuan metamorf <strong>dan</strong>metasedimen yang menempati bagian baratdaya lembar peta yang dinamakan FormasiKuantan. Ketidak selaras di atas kelompokbatuan dasar diendapkan Formasi TelisaBawah yang terdiri dari konglomerat,batupasir, batulanau <strong>dan</strong> sisipanbatulempung <strong>dan</strong> batubara. Batuan-batuanpembentuk formasi ini umumnyamengandung material volkanik berumurOligosen sampai Miosen Awal. Selaras diatasnya diendapkan Formasi Telisa Atasyang disusun oleh serpih, batupasir <strong>dan</strong>batulempung hijau.berumur Miosen Awal.Selanjutnya di daerah ini diendapkanFormasi Air Benakat yang terdiri dariperselingan batulempung, batupasir yangka<strong>dan</strong>gkala mengandung glaukonit <strong>dan</strong>serpih. Selaras di atas Formasi Air Benakatdiendapakan Formasi Muara Enim <strong>dan</strong>Formasi Kasai.Dari kelima formasi Tersier iniyang bersifat pembawa endapan batubaraadalah Formasi Telisa Bawah.Kolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 8


3.3.1 Potensi Batubara Daerah Sungai DarehSecara sistematis dapat di tabelkan sebagai berikut :L o k a s iSungai DarehB l o k Pedulangan Bukit TujuhJumlah Singkapan 45 buahJumlah Lapisan 3 buah 2 buahKisaran Tebal (m) Pedulangan : 2,5 – 4,1 m BukitTujuh-1 : 0,25 mTiu : 3,25 – 8,0 m BukitTujuh-2 : 0,8 mSiasam : 0,25 – 0,8 mKisaran Kemiringan 0 - 15 0Formasi Pembawa Telisa Bawah <strong>dan</strong> Muara Enim (tak ditemukan)Batubara<strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> (ton) 96.967.835 2.352.480Total <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> (ton) 99.320.3153.4 Inventarisasi Lintas Propinsi DaerahLubuk SikapingSecara tektonik berada pada padaCekungan Sumatera Tengah bagian baratdimana daerah penyelidikan <strong>inventarisasi</strong>termasuk ke dalam Cekungan Intramontan,sub-cekungan Kampar Kanan. Secarastratigrfai terdiri atas batuan PraTersier(Fm. Kuantan, Formasi Telukkido <strong>dan</strong>Intrusi Rokan) kemudian batuan Tersier(Fm. Pematang, Fm. Sihapas, Fm. Telisa<strong>dan</strong> Fm. Petani) <strong>dan</strong> endapan Kuarter (Fm.Minas <strong>dan</strong> Aluvium). Dan dari <strong>hasil</strong>penyelidikan Formasi Sihapas merupakanlapisan pembawa endapan batubara,dimana terdapat akumulasi endapanbatubara3.4.1 Potensi Batubara Daerah Lubuk SikapingSecara sistematis dapat di tabelkan sebagai berikut :L o k a s iLubuk SikapingB l o k Teratak TibawanJumlah Singkapan 11 buahJumlah Lapisan 2 buah 5 buahKisaran Tebal (m) 0,1 – 5,20 0,1 – 3,00Kisaran Kemiringan 7 - 71 0Formasi Pembawa SihapasBatubara<strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> (ton) 3.563.923 11.749.707Total <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> (ton) 15.313.6303.5 Inventarisasi Lintas Propinsi DaerahRengat (Pegunungan Tigapuluh)Secara tektonik terdiri atas batuansedimen berumur Tersier yang tersingkapsecara tidak selaras mengelilingi batuanKelompok Tigapuluh adalah batuansedimen dari Cekungan Sumatera Tengah<strong>dan</strong> batuan sedimen dari CekunganSumatera Selatan. Oleh karena ituPegunungan Tigapuluh dianggap sebagaipemisah atau batas antara CekunganSumatera Tengah di bagian Utara <strong>dan</strong>Cekungan Sumatera Selatan di bagianSelatan.Batuan paling tua di PegununganTigapuluh adalah Formasi Gangsal(Karbon). Secara tidak selaras diatasnyaterdapat Formasi Pengabuan menjariKolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 9


dengan Formasi Mentulu, (Perm).Kemudian Granit Akar (Yura). Kelompokbatuan ini dinamakan KelompokTigapuluh. Diatas Kelompok Tigapuluhtidak selaras diendapkan konglomerat <strong>dan</strong>batupasir dengan sisipan batulempung <strong>dan</strong>batubara (Eosen). Di bagian selatanPegunungan Tigapuluh (CekunganSumatera Selatan) oleh TO. Simajuntakdinamakan Formasi Lahat. DidalamFormasi Lahat tidak ditemukan sisipanbatubara.Diatas Formasi Kelesa Secaratidak selaras diendapkan Formasi Lakat(Utara) <strong>dan</strong> Formasi Talang Akar(Selatan). Kedua formasi ini merupakanformasi pembawa batubara yang berumurOligo-Miosen.Kemudian diendapkan FormasiTualang <strong>dan</strong> Gumai (Miosen Awal-Miosen Tengah), Formasi Air Benakat(Miosen Tengah-Miosen Akhir), yangsecara setempat terdapat batubara.Selanjutnya adalah Formasi Muara Enim(Mio-Pliosen). Secara tidak selarasdiatasnya adalahFormasi Kasai (Mio-Pliosen).Pada bagian utara Pegunungan Tigapuluhselain Formasi Kasai terdapat FormasiKerumutan (Mio-Pliosen) yang berumursama. Akhirnya endapan Kuarter (rawa,undak sungai, endapan kipas <strong>dan</strong> aluvium)Dan dari <strong>hasil</strong> penyelidikanFormasi Lakat, Talang Akar <strong>dan</strong> AirBenakat merupakan lapisan pembawaendapan batubara, dimana terdapatakumulasi endapan batubara.3.5.1 <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Batubara Daerah RengatSecara sistematis dapat di tabelkan sebagai berikut :L o k a s iR e n g a tB l o k Cemending Bernai Selensen Lawit AirBatang KritangJumlah Singkapan 8 buahJumlah Lapisan 1 buah 1 buah 2 buah 1 buah 1 buah 1 buahKisaran Tebal (m) 0,70 0,80 0,70 & 1,70 0,80 2,50 0,35–0,80Kisaran5 - 20 0KemiringanFormasi Pembawa Lakat, Talang Akar <strong>dan</strong> Air BenakatBatubara<strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> (ton) 204.680 155.440 5.877.900 464.400 3.857.000 1.022.250Total <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong>11.581.670(ton)3.6 Inventarisasi Lintas Propinsi DaerahTamiang LayangDaerah Tamiang termasukkedalam Cekungan/Sub Cekungan Baritodalam suatu sistem bagian dari CekunganKutai. Sub Cekungan Barito bagian Baratdi batasi oleh “Foreland Sunda”, sebelahUtara oleh Tinggian Kucing <strong>dan</strong> TinggianMangkalihat <strong>dan</strong> sebelah Timurdipisahkan dengan Sub Cekungan Pasiroleh Tinggian Meratus. Sedimen Tersierdalam cekungan ini relatif tipis, dimanacekungan ini khas asimetris dengansebelah barat dekat paparan Sundaterdapat paparan Barito dengankemiringan relatif datar, ke timur menjadicekungan yang dalam yang dibatasi olehsesar-sesar naik ke arah barat dariPegunungan Meratus yang merupakanbongkah naik (uplifted block).Batuan dasar dari Sub CekunganBarito adalah batuan PraTersier yangtermasuk dalam Satuan Batuan VolkanikKasale yang dikorelasikan dengan FormasiHaruyan (Kapur Atas), dimana diatasnyadiendapkan secara tidak selaras olehsedimentasi non-marin (fluviatil) dariFormasi Tanjung (Eosen) yang kemudiandiendapkan secara selaras dengantransgresi marin (Formasi Tanjung bagianKolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 10


Atas) <strong>dan</strong> berakumulasi dengan endapangamping Formasi Berai (Miosen Bawah)<strong>dan</strong> Montalat (Oligo-Miosen), <strong>dan</strong> diikutifase regresif Formasi Warukin (Miosen)<strong>dan</strong> Formasi Dahor (Pliosen). Makin kebarat lapisan semakin landai dengana<strong>dan</strong>ya sesar sungkup (overthrust) padablok Pra Tersier sebagai akibat daripengangkatan Pegunungan Meratus.Berdasarkan <strong>hasil</strong> penyelidikan dilapangan formasi pembawa endapanbatubara adalah Formasi Warukin,Montalat <strong>dan</strong> Tanjung.3.6.1 <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Batubara Daerah TamiangLayangSecara sistematis dapat di tabelkan sebagai berikut :L o k a s iTamiangLayangB l o k Kalamus Matarah Jangol DuyunJumlah Singkapan 22 buahJumlah Lapisan 1 buah 3 buah 7 buah 2 buahKisaran Tebal (m) 0,29 0,66-1,04 0,26-1,5 0,98-1,06Kisaran Kemiringan 4 - 30 0Formasi Pembawa Warukin, Montalat <strong>dan</strong> TanjungBatubara<strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> (ton) 1.165.720,723 16.647.128,692 39.155.633,810 2.479.294,007Total <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> (ton) 59.447.7773.7 Inventarisasi Data Sekunder <strong>dan</strong> UjiPetik Daerah NguritSecara geologi Kabupaten BaritoSelatan <strong>dan</strong> Barito Utara termasuk kedalampinggiran Cekungan Barito bagian Utarayang terbentuk pada Awal Tersier yangberbatasan dengan Cekungan HuluMahakam <strong>dan</strong> Cekungan Kutai. Batuandidalam Cekungan Barito dikelompokanmenjadi beberapa formasi batuan. Sebagaidasar cekungan adalah batuan berumur PraTersier yang terdiri dari batuan beku,batuan metamorf <strong>dan</strong> batuan meta sedimenData sekunder merupakan datadatabahan galian mineral di KabupatenBarito Selatan <strong>dan</strong> Barito Utara yangdiperoleh dari <strong>hasil</strong> penyelidikan terdahulu.Data-data tersebut dihimpun dari berbagaiinstansi seperti, Dinas Pertambangan <strong>dan</strong>Energi Kabupaten Barito Selatan diBuntok, Dinas Pertambangan,Perindustrian <strong>dan</strong> Perdagangan KabupatenBarito Utara di Muara Teweh, DinasPertambangan <strong>dan</strong> Energi ProvinsiKalimantan Tengah di Palangka Raya <strong>dan</strong>Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong>Mineral di Bandung.Dari <strong>hasil</strong> pendataan di KabupatenBarito Selatan ditemukan 9 komoditi yangterdapat di 28 lokasi, se<strong>dan</strong>gkan diKabupaten Barito Utara ditemukan 12komoditi yang tersebar di di 62 lokasi.Kisaran Angka Kualitas Batubara Daerah Ngurit <strong>dan</strong> LemoParameter yang dianalisisDaerah Ngurit Daerah LemoFree Moisture (%) ar 15,4 – 28,8 2,8 – 24,6Total Moisture (%) ar 22,2 – 34,7 5,2 – 26,9Inh. Moisture (%) adb 8,2 – 10,7 2,9 – 4,6Volatile Matter (%) adb 38,7 – 50,8 35,8 – 38,6Fixed Carbon (%) adb 36,7 – 45,7 42,7 – 51,7Ash Content (%) adb 2,0 – 5,9 5,8 – 15,6Calorific Value (cal/gr) adb 5775 - 6340 6030 - 7125SG 1,34 – 1,44 1,34 – 1,42St (%) adb 0,25 – 4,10 0,24 – 0,50Kolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 11


<strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Batubara Daerah Ngurit <strong>dan</strong> LemoLapisan Batubara<strong>Sumber</strong>Daerah Formasi Blok No. Tebal Panj. Lebar SGdaya (ton)Lap (m) (m) (m)1 1,10 1.000 245 1,44 388.080Montalat Belingau 2 1,00 4.000 170 1,40 952.000Ngurit3 0,60 2.000 325 1,39 542.100Malungai 1 1,38 4.500 300 1,30 2.421.9001 5,85 3.800 305 1,34 9.085.401Tangucin2 3,35 2.500 220 1,40 2.579.500Nyaung 1 2,60 3.000 170 1,30 1.723.800Tanjung1 2,00 1.500 195 1,30 760.500LemoJelutung2 1,50 1.500 195 1,30 570.375Layang 1 1,63 1.000 270 1,30 572.1301 2,50 1.000 175 1,30 568.750JuloiWarukin2 1,25 1.000 255 1,30 414.375Berioi 1 3,00 1.000 255 1,30 994.500Total<strong>Sumber</strong>daya (ton)4.304.08015.291.7061.977.6254. KESIMPULAN• Dari <strong>hasil</strong> penyelidikan <strong>inventarisasi</strong>Cekungan Sumatera Selatan sampaiTahun 2002 didapat sumber daya sebesar21.335.612.000 ton• Dari <strong>hasil</strong> penyelidikan <strong>inventarisasi</strong>Bontang-Sungai Santan (CekunganKutai) didapat sumber daya sebesar346.531.737 ton• Dari <strong>hasil</strong> penyelidikan <strong>inventarisasi</strong>Lintas Propinsi di tahun 2002 didapatsumber daya sebesar 185.63.392 ton• Dari <strong>hasil</strong> penyelidikan <strong>inventarisasi</strong> DataSekunder <strong>dan</strong> Uji Petik di tahun 2002didapat sumber daya sebesar 21.573.411tonKoesoemadinata, R.P., and Hardjono, 1977,Kerangka Sedimenter EndapanBatubara Tersier Indonesia, P.I.T IAGIke VIKoesoemadinata, R. P., Hardjono, Usna, I., andSumadirdja, H., 1978, Tertiary CoalBasins of Indonesia: United NationsESCAP, CCOP Technical Bulletin, v.12,p. 43 – 84.Robertson Research, 1974 ; Coal Resources ofIndonesia Vol. I.Standar Nasional Indonesia, 1998 : Klasifikasi<strong>Sumber</strong> daya <strong>dan</strong> Ca<strong>dan</strong>gan Batubara,Amandemen 1-SNI 13-5014-1998DAFTAR PUSTAKABemmelen RW. Van, 1949 ; The Geology ofIndonesia, Vol. 1, Government PrintingOffice, the Hague, NetherlandDe Coster, G.L., 1974, The geology of the Centraland South Sumatera basins : Proc.Indon. Petroleum Assoc. 3 rd Ann.Conv.,p. 244-225Diessel, C. F. K., 1992. Coal Bearing DepositionalSystems. Springer – Verlag, Berlin. 721pp.Kolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 12


Kolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 13


Kolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 14


Kolokium Direktorat Inventarisasi <strong>Sumber</strong> <strong>Daya</strong> Minera (DIM) TA. 2002 5 - 15

Hooray! Your file is uploaded and ready to be published.

Saved successfully!

Ooh no, something went wrong!